Anda di halaman 1dari 78

SKRIPSI

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN KUSTA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENYAKITNYA DI RUMAH SAKIT DR. TADJUDDIN CHALID MAKASSAR TAHUN 2009

Disusun Oleh :
NURSIA WABULA C121 08 516

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010

SKRIPSI

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN KUSTA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENYAKITNYA DI RUMAH SAKIT DR. TADJUDDIN CHALID MAKASSAR TAHUN 2009

Diajukan Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar

OLEH : NURSIA WABULA C 121 08 516

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010

HALAMAN PERSETUJUAN

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN KUSTA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENYAKITNYA DI RUMAH SAKIT DR. TADJUDDIN CHALID MAKASSAR

Skripsi ini diterima dan disetujui untuk dipertahankan didepan penguji

Tim Pembimbing

Pembimbing I

Pembimbing II

Nurhaya Nurdin, S.Kep.,Ns., MN

Arnis Puspitha, S.Kep., Ns

Mengetahui : Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar

Dr. dr. H. ILHAM JAYA PATELLONGI, M.Kes NIP : 19580128 198903 1 002

ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN KUSTA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENYAKIT KUSTA DI RUMAH SAKIT Dr. TADJUDDIN CHALID MAKASSAR TAHUN 2010

Yang disusun dan diajukan oleh :

NURSIA WABULA C 121 08 516

Telah dipertahankan di depan panitia ujian skripsi Pada hari : Kamis, 4 Februari 2010 Dan telah dinyatakan memenuhi syarat

Tim Penguji

1. Ariyanti Saleh, SKP., M.Kes 2. Andriani S.Kep.,Ns.,M.Kes 3. Nurhaya Nurdin, S.Kep.,Ns.,MN 4. Arnis Puspitha,S.Kep., Ns

(.......................................................) (.......................................................) (.......................................................) (.......................................................)

Mengetahui

An. Dekan Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Prof. Dr. dr. Suryani Asad, M.Sc.,Sp.GK Nip : 19600504 198601 2 002

Dr. dr. H.IlhamjayaPatellongi,M.Kes NIP : 19580128 198903 1 002

iii

ABSTRAK
Nursia Wabula. Analisis Hubungan Pengetahuan dan Sikap Pasien Kusta dengan Upaya Pencegahan Kecacatan Penyakitnya di Rumah Sakit Dr.Tadjuddin Chalid Makassar. Dibimbing oleh Nurhaya Nurdin dan Arnis Puspitha. (x+55 halaman+6 tabel+8Lampiran+24kepustakaan). Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang masih menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis, tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga, termasuk petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan kecacatan yang ditimbulkannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap pasien kusta tentang upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap pasien kusta tentang upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar,2009. Desain penelitian ini adalah Cross sectional study dengan populasi adalah seluruh penderita kusta yang dirawat dirumah sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar pada bulan November-Desember 2009, sampel sebesar 30 responden, dengan tehnik pengambilan sampel total sampling dan dilaksanakan dari tanggal 24 November-15 Desember 2009. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan wawancara langsung pada responden. Data disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berpengetahuan baik 14 responden (46,7%), yang berpengetahuan kurang 16 responden (53,3%). yang memiliki sikap positif 20 responden (66,7%) yang bersifat negatif 10 responden (33,3%), yang upaya pencegahan kecacatan baik 18 responden (60,0%), upaya pencegahan kurang 12 responden (40,0%), Berdasarkan hasil uji statistik gambaran pengetahuan dan sikap pasien kusta tentang upaya pencegahan kecacatan penyakitnya dengan nilai P = 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 telah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya. Pasien kusta yang mendapat perawatan di rumah sakit Dr. Tadjuddin Chalid sebagian besar memiliki pangetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap upaya pencegahan kecacatan penyakitnya. Dari hasil penelitian diatas disarankan agar Pusat-pusat pelayanan kesehatan yang menyediakan sarana pengobatan penyakit perlu menetapkan konsep yang menjadi acuan dalam penyuluhan, sehingga masyarakat maupun penderita kusta khususnya mempunyai gambaran yang sama dan benar tentang kusta. Kata Kunci: Pengetahuan, sikap, Pencegahan kecacatan kusta.

vi

Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya jualah sehingga sehingga dapat tersusun skripsi dengan judul Analisis Hubungan Pengetahuan dan Sikap Pasien Kusta Dengan Upaya Pencegahan Kecacatan Penyakitnya di rumah sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar. Dalam penyusunan sripsi ini banyak di jumpai kendala-kendala, namun berkat bimbingan serta arahan dari pembimbing, akhirnya penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Penghagraan dan terimakasih penulis haturkan kepada: 1. Prof. Dr.Irawan Yusuf, PhD. Selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
2.

DR. dr. Illhamjaya Patellongi, M.Kes selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar.

3.

Ibu Nurhaya Nurdin, S,Kep, Ns, MN selaku pembimbing satu dan Ibu Arnis Puspitha, S.Kep, Ns Selaku pembimbing dua penyusunan skripsi ini.

4.

Ariyanti Saleh, SKP, M.Kes dan Andriani S.Kep, Ns, M.Kes selaku penguji skripsi ini.

5.

Bapak/ibu staf pengajar PSIK FK-UNHAS yang telah turut memberi dukungan kepada penulis.

6.

Orang tua tercinta serta kakak dan adik-adikku yang telah memberi bantuan, dukungan, dorongan dan terutama doa dalam proses pendidikan.

vi

7.

Kakak iparku (Mas Edi) yang telah memberi dorangan moril dan materi kepada penulis selama mengikuti pendidikan.

8. Sahabat-sahabatku (Eva, Nani, Mia, Noken, dll), dan teman-temanku dari Ternate yang ikut memberi bantuan dan motivasi dalam proses pendidikan hingga pembuatan skripsi ini. 9. Terima kasih pula pada seseorang yang telah membuatku lebih dewasa dan membuatku banyak tahu. 10. Dan semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini yang belum saya senutkan satu per satu. Semoga skripsi ini dapat menjadi acuan dalam penelitian, dan mendapat respon positif dari pihak-pihak terkait. Dan akhirnya penulis harapkan adanya saran dan kritik konstruktif dari semua pihak.

Makassar, Januari 2010

Peneliti

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........ i HALAMAN PERSETUJUAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii ABSTRAK....... iv KATA PENGANTAR...... v DAFTAR ISI . vii DAFTAR TABEL .. ix DAFTAR LAMPIRAN ...... x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang.... 1 B. Rumusan Masalah ...... 4 C. Tujuan Penelitian ... 4 D. Manfaat Penelitian .... . 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Penyakit Kusta .. 6

B. Tinjauan Umum Tentang Upaya Pencegahan Kecacatan Kusta . 19 C. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan dan Sikap ..... 22 BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep ... 30 B. Hipotesa.... 30 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian .. 31 B. Tempat dan Waktu Penelitian ..... 31 C. Populasi dan Sampel ... 31 D. Variabel Penelitian .. 32 E. Alur Penelitian . 35 F. Pengolahan Data dan Analisa Data .. 36 G. Etika Penelitian . 37

vii

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .... 38 B. Pembahasan .. 45 C. Keterbatasan Penelitian ... 52 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan . 54 B. Saran ..... 54 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6

Lembar permohonan menjadi responden Lembar persetujuan menjadi responden Kuisioner penelitian Master data penelitian Hasil data spss Surat keterangan telah melakukan penelitian.

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Tabel Karakteristik Responden ....... 40 Tabel 5.2 Tabel Distribusi Berdasarkan Pengetahuan ..... 41 Tabel 5.3 Distribusi Berdasarkan Sikap .. 42 Tabel 5.4 Tabel Distribusi Upaya Pencegahan Kecacatan ..... 43 Tabel 5.5 Hubungan Pengetahuan dan Upaya Pencegahan... 44 Tabel 5.6 Hubungan Sikap dan Upaya Pencegahan ..... 45

ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang masih menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis, tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negaranegara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara itu dalam memberi pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan ekonomi pada masyarakat. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga, termasuk petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan/ pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan kecacatan yang ditimbulkannya (Depkes RI, 2006). Menurut Word Health Organization (WHO) dalam Weekly

Epidemiological Record bahwa Indonesia ditemukan 21.538 kasus, sedangkan di dunia kasus yang dilaporkan 312.036, dan jumlah kasus baru pada pertengahan tahun 2008 dilaporkan dari 121 negara sebanyak 249.007 kasus (Weekly Epidemiological Record, 2009). Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya propinsi Sulawesi Selatan oleh karena prevalensinya yang masih cukup tinggi. Penderita kusta yang dilaporkan di Sulawesi Selatan pada tahun 2007 sebanyak 1.351 orang yang terdiri dari 224 penderita tipe Pausi Basiler (PB) dan 1.127 tipe Multi Basiler (MB). Sementara untuk tahun 2008,

jumlah penderita Kusta yang terdaftar sebanyak 1.148 orang yang terdiri dari 117 penderita tipe PB dan 1.031 tipe MB. Terjadi penurunan penemuan penderita sebesar 17,68%, jika dibandingkan dengan jumlah penderita pada tahun 2007. Jumlah penderita 3 (tiga) kabupaten/kota, terbanyak ditemukan di Kab. Bone sebanyak 181 orang (15,76%), Kota Makassar sebanyak 163 orang (14,19%), dan Kab. Jeneponto sebanyak 91 orang (7,9%) (Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, 2008). Rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar merupakan rumah sakit kusta regional untuk kawasan Indonesia bagian timur. Pada tahun 2007 dengan jumlah penderita rawat jalan 1749 orang, rawat inap 867 orang dengan tingkat kecacatan tangan 1085 orang, kaki 1267 orang, mata 228 orang. Pada tahun 2008 dengan jumlah penderita rawat jalan 1813 orang, rawat inap 968 orang, dengan tingkat kecacatan tangan 1005 orang, kaki 1077 orang dan mata 33 orang (P2 Kusta RSK Daya, 2008). Banyaknya kasus kecacatan yang ditemukan di lapangan yang seharusnya sudah mendapat pelayanan rehabilitasi di rumah sakit, namun pada kenyataannya belum dapat dirujuk. Akibat penundaan penanganan tersebut dapat berimplikasi pada kompleksnya penanganan dikemudian hari. Berdasarkan naskah akademik peningkatan status rumah sakit kusta regional Makassar tercatat pasien kusta dengan tipe Lepromatous Borderline (BL) dari tahun 2005 sampai tahun 2007 memiliki persentase yang cukup tinggi, dibandingkan dengan tipe lainnya. Walaupun tipe ini pada tahun 2007 mengalami penurunan jumlah dari 344 menjadi 325 pada tahun 2006 namun masih

mengkhawatirkan, hal ini menunjukan bahwa kesadaran mereka untuk segera berobat sedini mungkin masih sangat kurang, selain itu juga karena pengetahuan mereka untuk mengenal gejala awal masih sangat kurang sehingga mereka terlambat untuk datang berobat. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Tarusaray dan Halim (1997), tentang kecacatan pasien kusta di rumah sakit kristen (RSK) Sitalana, Tangerang menunjukan bahwa dari 1156 penderita kusta di unit rawat jalan RSK sitalana selama bulan maret 2006 sebagai berikut: Pasien baru yang cacat adalah 48 dari 113 orang (74,34%), sedangkan pasien lama yang cacat adalah 761 dari 1040 orang (73,17%), laki-laki lebih banyak cacat yaitu 618 dari 809 orang (76,39%), dan wanita 227 dari 344 orang (65,99%), kecacatan banyak terjadi pada usia produktif 19-55 tahun (76,10%). Perilaku indifidu/keluarga, terhadap suatu penyakit tergantung dari pengetahuan, sikap, dan tindakan individu tersebut, apabila pengetahuan individu terhadap suatu penyakit tidak atau belum diketahui, maka sikap dan tindakan dalam upaya pencegahan penyakit pun terkadang terabaikan (Notoatmodjo, 2007). Penderita kusta dengan gejala dini belum menderita cacat dan kalau segera diobati proses penyakitnya terhenti dan penyakitnya sembuh tanpa cacat. Jadi cacat kusta dapat dicegah dengan segera memulai pengobatan sebelum cacat timbul karena kerusakan saraf perifer yang permanen (Amirudin, 2001). Bertolak dari latar belakang, penulis tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan dan sikap pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya.

B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalahnya sebagai berikut: Bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahuinya hubungan pengetahuan dan sikap pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar. 2. Tujuan khusus a. Diketahuinya hubungan pengetahuan pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar. b. Diketahuinya hubungan sikap pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar. D. Manfaat penelitian 1. Bagi masyarakat Sebagai bahan informasi dan masukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang penyakit kusta dan dapat mencegah kecacatan akibat penyakit kusta. 2. Bagi pendidikan Sebagai masukan untuk pengembangan ilmu khususnya mengenai penyakit kusta dan upaya pencegahan kecacatannya.

3. Bagi keperawatan Mampuh mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan sikap pasien kusta terhadap upaya pencegahan kecacatan penyakitnya. 4. Bagi peneliti Sebagai acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya, dan merupakan proses belajar mengajar dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang metode penelitan khususnya penyakit kusta. 5. Bagi responden Diharapkan agar responden dapat mengerti bahwa kecacatan yang ditimbulakan akibat penyakitnya dapat disembuhkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan diuraikan mengenai konsep teori yang mendasari atau mendukung penelitian ini, berdasarkan landasan teori yang meliputi konsep tentang penyakit kusta, konsep tentang upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta, konsep tentang pengetahuan dan sikap. A. Tinjauan Umum Tentang Penyakit Kusta a. Devenisi Penyakit Kusta Istilah kusta berasal dari bahasa sangsekerta, yakni kushtha yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874, sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen ( zulkifli, 2003). b. Etiologi Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium lepra (M. leprae) yang pertama kali menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran napas bagian atas, sistim retikuloendotelia, mata, otot, tulang dan testis (Amirudin dalam Harahap, 2000). c. Sifat Kuman Mycobacterium leprae merupakan salah satu kuman yang berbentuk basil dengan ukuran 3-8 Um x 0,5 Um, tahan asam dan alkohol. Penelitian dengan mikroskop elektron tampak bahwa M. leprae mempunyai dinding yang terdiri

atas 2 lapisan, yakni lapisan padat terdapat pada bagian dalam yang terdiri atas peptidoglikan dan lapisan transparan pada bagian luar yang terdiri atas lipopolisakarida dan kompleks protein-lipopolisakarida. Dinding polisakarida ini adalah suatu arabinogalaktan yang diesterifikasi oleh asam mikolik dengan ketebalan 20nm. Tampaknya peptidoglikan ini mempunyai sifat spesifik pada M.leprae, yaitu adanya asam amino glisin, sedangkan pada bakteri lain mengandung alanin. M. leprae ini merupakan basil gram positif karena sitoplasma basil ini mempunyai struktur yang sama dengan basil gram positif yang lain yaitu mengandung DNA dan RNA (Wicaksono, 2008). d. Cara Penularan Cara penularan yang pasti belum diketahui, tetapi menurut sebagian ahli melalui saluran napas (inhalasi) dan kulit (kontak langsung yang lama dan erat). Kuman mencapai permukaan kuit melalui folikel rambut, kelenjar keringat dan diduga juga melalui air susu ibu. Tempat implantasi tidak selalu menjadi lesi pertama. Timbulnya penyakit kusta pada seseorang tidak mudah sehingga tidak perlu ditakuti. Hal ini bergantung pada beberapa faktor antara lain sumber penularan, kuman kusta, daya tahan tubuh, sosial ekonomi dan iklim. Sumber penularan adalah kuman kusta utuh (solid) yang berasal dari pasien kusta tipe MB (Multi Basiler) yang belum diobati atau tidak teratur berobat. Insiden tinggi pada daerah tropis dan sub tropis yang panas dan lembab. Kusta dapat menyerang pada semua umur, anak-anak lebih rentan dari pada orang dewasa. Frekuensi tertinggi pada orang dewasa ialah umur 25-

35 tahun, sedangkan pada kelompok anak umur 10-12 tahun (Mansjoer, et.al.,2000). e. Gambaran Klinis Manifestasi klinis penyakit kusta biasanya menunjukan gambaran yang jelas pada stadium yang lanjut, dan diagnosa cukup ditegakkan dengan pemeriksaan fisik saja. Penderita kusta adalah seorang yang menunjukan gejala klinis kusta dengan atau tanpa pemeriksaan bakteriologis dan memerlukan suatu pengobatan. Gejala dan keluhan penyakit kusta tergantung pada multipkasi dan diseminata kuman M.Leprae, respon imun penderita terhadap kuman M.Leprae, komplikasi yang diakibatkan oleh kerusakan saraf perifer. Ada tiga tanda kardinal yang kalau salah satunya ada sudah cukup untuk menetapkan diagnosis dari penyakit kusta yakni: 1. Lesi kulit yang anastesi Makula atau plakat atau nodul dengan hilangnya rasa raba, rasa sakit dan suhu yang jelas. Kelainan lain yang spesifik berupa perubahan warna dan tekstur kulit, serta kelainan pertumbuhan rambut. 2. Penebalan saraf perifer Penebalan saraf sangat jarang ditemukan kecuali pada penyakit kusta. Pada daerah endemik kusta, penemuan adanya penebalan saraf perifer dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis. 3. Adanya M.Leprae Hanya penyakit yang dapat diinvasi secara masif di daerah dermis dan mukosa hidung oleh basil M.Leprae, yang dapat ditunjukan dengan apusan

sayatan kulit atau korekan mukosa hidung. Kelainan kulit dapat berupa makula hipopigmentasi, eritema, infiltrat atau nodul. Jumlah lesi bisa satu, beberapa atau hampir mengenai seluruh tubuh, dapat simetris atau asimetris. Bisa ditemukan gangguan pembentukan keringat dan

kerontokan rambut akibat kerusakan saraf otonom. Gangguan saraf dapat terjadi mulai dari hiperstesi sampai anastesi, gangguan rasa terhadap temperatur dan akhirnya hilang sara sakit. Saraf perifer yang paling sering terlihat adalah nerfus ulnaris, nerfus medianus, nerfus radialis, nerfus pereneus komunis, nerfus tibialis posterior, nerfus tibialis anterior, nerfus aukularis magnus dan nerfus supra orbital. Adanya kerusakan saraf dipengaruhi oleh: M leprae menyerang tubuh yang bersuhu tubuh rendah, saraf superfisialis mudah terkena trauma, adanya reaksi imunitas tubuh, saraf superfisialis terletak dekat artikularis, meningkatnya tekanan interaneural menimbulkan iskemia pada saraf, timbul udem dan infiltrasi sel kedalam saraf sehingga saraf terkena, saraf superfisialis yang terletak dalam kanalis saling bersilangan, sehingga saraf yang rusak karena trauma akan merusak saraf sekitarnya (Amiruddin, 2001). f. Klasifikasi penyakit kusta Adapun klasifikasi yang dipakai dalam bidang penelitian adalah klasifikasi menurut Ridlei dan Jopling yang mengelompokkan penyakit kusta menjadi lima kelompok berdasarkan gambaran klinis, akteriologis, histopatologis, dan imunologis. Sekarang klasifikasi ini secara luas dipakai di klinik dan pemberantasan.

10

Tipe Tuberkuloid (TT) Lesi ini mengenai baik kulit maupun saraf. Lesi kulit bisa satu atau beberapa, dapat berupa macula atau plakat, batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regrisi atau central healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis. Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot dan sedikit rasa gatal. Adanya infiltrasi tuberkuloid dan kurang atau tidak adanya basil merupakan tanda adanya respon imun pejamu yang adekuat terhadap basil kusta. Gramuloma epiteloid ini terdapat pada sebagian besar atau seluruh dermis yang dikelilingi oleh infiltrasi limfosit yang meluas. Granuloma sering meluas ke sel basal epidermis sehingga tidak ada daerah kelam sunyi (clear zone) dan dapat berpenetrasi ke dermis bagian bawah. Pada berkas saraf dapat terjedi nekrosis kaseosa di daerah dermis. M.leprae positif pada sebagian besar kasus. BTA tidak ditemukan, tetapi dapat ditemukan dalam jumlah yang kecil dengan biopsy pada tepi lesi yang aktif. Tipe Borderline Tuberkuloid (BT) Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT yakni berupa macula atau plakat yang sering disertai lesi satelit dipinggirnya, tetapi gambaran

hipopigmentasi, kekeringan kulit tidak jelas seperti pada tipe TT. Adanya gangguan saraf tidak seberat TT. Lesi satelit biasanya ada dan letaknya dekat saraf perifer yang menebal. Sitologi dan komposisi dari pada granoloma biasanya susah dibedakan dengan tipe TT, tapi ini bisa dilihat

11

dengan adanya zona subepidermal walaupun sangat sempit. Granuloma dapat dibedakan dengan tipe BB dengan melihat adanya limfosit pada zona perifer atau adanya sel raksasa yang kadang-kadang terdapat dalam jumlah yang banyak. Sel magrofak menunjukan derajat yang berfariasi mulai dari deferensiasi epiteloid sampai sel raksasa. BTA didapat dalam jumlah sedikit pada serabut yang terkena. Uji lepromin positif tapi tidak terlalu kuat. Tipe Borderline (BB) Merupakan tipe yang tidak stabil dari semua spektrum penyakit kusta. Disebut juga sebagai bentuk demorfik dan bentuk ini jarang dijumpai. Lesi dapat berbentuk macula infiltrat. Permukaan lesi dapat mengkilat, batas lesi kurang jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe BT dan cenderung simetris. Yang paling spesifik yaitu adanya sel epiteloid yang difus dan tersebar kedalam granuloma dan tidak terfokus dalam zona sel epiteloid, sel epiteloid menjadi lebih besar tetapi tidak sebesar pada tipe BT, tanpa sel raksasa langerhans. Limfosi sedikit dan berkelompok. Saraf tampak normal. Reaksi mitsuda negatif dan uji transformasi limfosit sangat lemah atau negatif. Tipe Borderline Lepromatous (BL) Secara klasik lesi dimulai dengan makula. Awalnya dalam jumlah sedikit dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan. Makula disini lebih jelas dan berfariasi bentuknya. Walau masih kecil, papel dan nodus lebih jelas tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan beberapa nodus nampaknya

12

memeluk pada bagian tengah. Tanda-tanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi, hipopigmentasi, berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih cepat muncul dibanding tipe LL dengan penebalan saraf yang dapat teraba pada tempat predileksi. Nampak bentuk granuloma dari magrofak yang tidak berdiferensiasi. Vakuolisasi sel sedikit dan dapat ditemukan sedikit magrofak dengan sel busa dan dapat atau tanpa sel busa. biasanya uji mitsuda negatif. Tipe lepromatous (LL) Jumlah lesi sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritem, mengkilat, berbatas tidak tegas dan tidak ditemukan gangguan anastesi dan anhidrosi pada stadium dini. Distribusi lesi khas yakni di wajah, dahi, pelipis, dagu, cuping telinga, sedangkan di badan mengenai bagian belakang yang dingin, lengan, punggung tangan dan permukaan ekstensor tungkai bawah. Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif, cuping telinga menebal, garis muka menjadi kasar dan cekung, membentuk fasies leonine yang dapat disertai madarosis, iritis dan keratitis. Lebih lanjut dapat terjadi deformitas pada hidung. Dapat dijumpai pembesaran kelenjar limfe, orkitis yang selanjutnya dapat menjadi atrofi testis. Kerusakan saraf dermis menyebabkan gejala sticking and glove anaesthesia. Bila penyakit ini menjadi progresif makula dan papula baru muncul, sedangkan lesi yang lama menjadi plakat dan nodul. Pada stadium lanjut serabut-serabut saraf mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anastesi dan pengecilan otot-otot tangan dan kaki. Tampak

13

granuloma magrofak tanpa sel epiteloid dan sangat sedkit limfosit. Ditemukan granuloma yang terdiri atas histiosit yang menunjukan perubahan degenerasi lemak yang berfariasi dengan dibentuknya sel-sel busa. Makrofag dengan sitoplasma yang berbusa atau vakuolisasi disebut sebagai sel lepra atau sel Virchow. Potongan saraf yang tampak

berbentuk kulit bawang tanpa infiltrasi sel atau dapat normal. Uji mitsudat negativ (Amiruddin, 2001). Dari sisi medis, Kusta diklasifikasikan berdasarkan banyak faktor, hal tersebut bertujuan untuk mempermudah cara penanganan dari penyakit kulit ini. 1. Kusta Pausibasilar (PB) Tanda-tandanya: Bercak putih seperti panu yang mati rasa, artinya bila bercak putih tersebut disentuh dengan kapas, maka kulit tidak merasakan sentuhan tersebut, ciri-cirinya seperti : Permukaan bercak kering dan kasar, Permukaan bercak tidak berkeringat, Batas (pinggir) bercak terlihat jelas dan sering ada bintil-bintil kecil. Kusta tipe kering ini kurang/tidak menular, namun apabila tidak segera diobati akan menyebabkan cacat. Umumnya, orang mengira bercak putih seperti tanda-tanda di atas adalah panu biasa, sehingga pemeriksaan pun tidak segera dilakukan sebelum akhirnya orang tersebut telah mengalami Kusta pada level lebih lanjut. Sehingga, pemeriksaan dan pengobatan semenjak dini ke Puskesmas atau pun Rumah Sakit terdekat pun

14

sangat dianjurkan. Pengobatan kusta tipe PB ini cenderung lebih sebentar daripada tipe basah. 2. Kusta Multibasilar (MB) Tanda-Tandanya: Bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, pada permukaan bercak sering ada rasa bila disentuh dengan kapas. Pada permulaan tanda dari tipe kusta basah sering terdapat pada cuping telinga dan muka. Kusta tipe basah ini dapat menular, maka bagi yang menderita penyakit tipe kusta tipe basah ini harus berobat secara teratur sampai selesai seperti yang telah ditetapkan oleh dokter. Namun, umumnya kendala yang dihadapi adalah pasien tidak mentaati resep dokter, sehingga selain mereka tidak menjadi lebih baik, mereka pun akan resisten terhadap obat yang telah diberikan. Untuk Kusta MB ini menular lewat kontak secara langsung dan lama

(http://www.surabaya-ehealth). g. Pengobatan Dalam hal pengobatan pada penderita penyakit kusta, adalah tujuan yang harus dicapai untuk menyembuhkan penderita kusta dan mencegah timbulnya cacat. Pada penderita tipe pausi basiler yang berobat dini dan teratur akan cepat sembuh tampa menimbulkan cacat. Akan tetapi bagi penderita yang sudah dalam keadaan cacat permanen pengobatan hanya dapat mencegah cacat yang lebih lanjut. Bila penderita kusta tidak makan obat secara teratur, maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali,

15

sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan syaraf yang dapat memperburuk keadaan. Dalam pengobatan penyakit kusta ini perlu juga diperhatikan pemutusan mata rantai penularan dari penderita kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain. Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta, sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh, dan tanda-tanda penyakit menjadi kurang aktif dan akhirnya hilang. Dengan hancurnya kuman, maka sumber penularan dari penderita terutama tipe multi basiler (MB) (H i s w an i , 2 0 0 1 ). Prinsip pengobatan a. Pemberian obat antireaksi. Obat yang dapat di gunakan adalah aspirin, klorokuin, prednisone dan prednisolon sebagai anti inflamasi. Dosis obat yang digunakan sebagai b eri k u t : Aspirin 600-1200 mg yang diberikan tiap 4 jam 4-6 kali sehari. Klorokuin 3x150 mg/hari Prednison 30-80 mg/hari, dosis tunggal pada pagi hari sesudah makan atau dapat juga diberikan secara dosis terbagi misalnya 4x2 tablet/hari, berangsur-angsur diturunkan 5-10 mg/2 minggu setelah terjadi respon maksimal Untuk melepas ketergantungan pada kortikosteroid pada reaksi tipe II dibutuhkan talidomid. Dosis talidomid 40 mg/hari yang berangsurkeorang lain t erp u t u s

16

angsur diturunkan sampai 50 mg/hari. Tidak dianjurkan untuk wanita usia subur karena talidomid bersifat teratogenik. Sampai dua minggu pasien diperiksa ulang untuk melihat keadaan klinis. Bila tidak ada perbaikan, maka dosis prednisone yang diberikan dapat dilanjutkan 3-4 minggu atau dapat di tinggikan (misalnya dari 15 mg menjadi 20 mg sehari). Setelah ada perbaikan dosis diturunkan. Untuk mencegah ketergantungan terhadap steroid dapat diberikan klofazimin. Klofazimin hanya diberikan pada reaksi tipe II (ENL kronis). Dosis Klofazimin ditinggikan dari dosis pengobatan kusta. Untuk orang dewasa 3x100 mg/hari selama satu bulan. Bila reaksi sudah berkurang, maka klofazinin itu diturunkan menjadi 2x100mg/hari, selama satu bulan. Setelah reaksi, pengobatan kembali ke dosis semula, yaitu 50 mg/hari. b. Pemberian analgetik dan sedatif Obat yang digunakan sebagai analetik adalah aspirin, parasetamol dan antimon. Aspirin masih merupakan obat terbaik dan termurah untuk mengatasi nyeri (aspirin digunakan sebagaii anti inflamasi dan analgetik). Menurut WHO (1990), parasetamol juga dapat digunakan sebagai analgetik. Sedangkan antimon digunakan pada reaksi yipe II ringan untuk mengatasi rasa nyeri sendi dan tulang, kini jarang dipakai karena kurang efektif dan toksik. Dosis obat yang digunakan sebagai berikut: Aspirin : 600-1200 mg yang diberikan tiap 4 jam , 4-6 kali sehari.

17

Parasetamol : 300-1000 mg yang diberikan secara selang seling, maksimum 30ml. c. Obat-obatan kusta diteruskan dengan dosis yang tidak di ubah. Untuk semua tipe reaksi, bila tidak ada kontra indikasi semua obat anti kusta dosis penuh harus tetap diberikan. Usaha-usaha rehabilitasi meliputi medis, okupasi, kejiwaan dan sosial. usaha medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh antara lain operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna kembali ke asal, fungsinya dapat diperbaiki. Terapi kejiwaan berupa bimbingan mental diupayakan sedini mungkin pada setiap pasien, keluarga, dan masyarakat sekitarnya. Rehabilitasi sosial bertujuan untuk memulihkan fungsi sosial ekonomi pasien sehingga menunjang kemandiriannya (Masjoer, et al.,2000). h. Penatalaksanaan Reaksi Reaksi kusta adalah suatu episode akut dalam perjalanan kronis penyakit kusta. Reaksi ini dapat terjadi pada pasien sebelum mendapat pengobatan, selama pengobatan, dan sesudah pengobatan. Namun sering terjadi pada 6 bulan sampai satu tahun setelah memulai pengobatan. Jenis-jenis reaksi kusta: a. Reaksi tipe I (reaksi reversal, reaksi upgrading, reaksi borderline). Terjadi pada pasien tipe borderline disebabkan meningkatnya kekebalan seluler secara cepat. Pada reaksi ini terjadi pergeseran tipe kusta ke arah PB. Faktor pencetusnya tidak diketahui secara pasti, diperkirakan ada hubungan dengan reaksi hipersensitifitas tipe lambat.

18

Gejala klinis reaksi tipe I berupa perubahan lesi kulit, neuritis (nyeri tekan pada saraf) dan gangguan keadaan umum pasien Penata laksanaannya a) Pemberian anti reaksi. Aspirin dan talidomid bisa digunakan untuk reaksi ringan. Bila dianggap perlu dapat diberikan klorokuin selama 3-5 hari. b) Istirahat/imobilisasi. Berobat jalan dan istirahat di rumah. c) Pemberian analgetik dan sedatif. Pemberian analgetik dan obat penenang bila perlu. d) Obat-obat kusta diteruskan dengan dosis tidak diubah. b. Reaksi tipe II (reaksi Eritema Nodusum leprosum) Reaksi ini terjadi pada pasien tipe MB dan merupakan reaksi humoral, dimana basil kusta yang utuh maupun tidak utuh menjadi antigen. Tubuh akan membentuk antibody dan komplemen sebagai respon adanya antigen. Reaksi komplemen ini terjadi antara antigen, antibadi dan komplemen. Komplemen imun ini dapat mengendap antara lain di kulit berbentuk nodul yang dikenal sebagi eritema nodul leprosun (ANL), mata (iridosiklitis), sendi (arthritis) dan saraf (neuritis) dengan disertai gejala konstitusi seperti deman dan malaise, serta komplikasi pada organ tubuh lainnya. Penatalaksanaanya a) Pemberian obat anti reaksi. Pada reaksi berat diberikan prednisone dalam dosis tunggal atau terbagi.

19

b) Istirahat/imobilisasi. imobilisasi lokal pada anggota tubuh yang mengalami neuritis, bila memungkinkan pasien dirawat inap di rumah sakit. c) Pemberian analgetik dan sedatif. d) Obat-obat kusta diteruskan dengan dosis tidak di ubah. Hal-hal yang mempermudah terjadinya reaksi kusta adalah stress fisik (kondisi lemah, menstruasi, hamil, setelah melahirkan, pembedahan, sesudah mendapat imunisasi, malaria) dan stres mental. Perjalanan reaksi dapat berlangsung sampai tiga minggu. Kadang berulang dan berlangsung lama (Amiruddin, 2001). B. Upaya Pencegahan Kecacatan Kusta Tujuan umum pencegahan cacat adalah : Jangan sampai ada cacat yang timbul atau bertambah berat setelah penderita terdaftar dalam program pengobatan dan pengawasan (Depkes RI, 2008,p.23). Menurut WHO (1980) batasan istilah dalam cacat Kusta adalah: 1. Impairment: segala kehilangan atau abnormalitas struktur atau fungsi yang bersifat psikologik, fisiologik, atau anatomik, misalnya leproma,

ginekomastia, madarosis, claw hand, ulkus, dan absorbsi jari. 2. Dissability: segala keterbatasan atau kekurangmampuan (akibat impairment) untuk melakukan kegiatan dalam batas-batas kehidupan yang normal bagi manusia. Dissability ini merupakan objektivitas impairment, yaitu gangguan pada tingkat individu termasuk ketidakmampuan dalam aktivitas sehari-hari, misalnya memegang benda atau memakai baju sendiri.

20

3. Handicap: kemunduran pada seorang individu (akibat impairment atau disability) yang membatasi atau menghalangi penyelesaian tugas normal yang bergantung pada umur, seks, dan faktor sosial budaya. Handicap ini merupakan efek penyakit kusta yang berdampak sosial, ekonomi, dan budaya. 4. Deformity: kelainan struktur anatomis 5. Dehabilitation: keadaan/proses pasien Kusta (handicap) kehilangan status sosial secara progresif, terisolasi dari masyarakat, keluarga dan temantemannya. 6. Destitution: dehabilitasi yang berlanjut dengan isolasi yang menyeluruh dari seluruh masyarakat tanpa makanan atau perlindungan (shelter)

(http://www.surabaya-ehealth). Cacat yang timbul pada penyakit Kusta dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu: 1. Kelompok pada cacat primer, ialah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respon jaringan terhadap kuman Kusta. Pada mata terjadi kelainan tetapi tidak kelihatan dan visus sedikit berkurang akibat kusta, pada kaki dan tangan ada anasesi tetapi tidak ada cacat atau kerusakan yang kelihatan. 2. Kelompok cacat sekunder, cacat sekunder ini terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kerusakan saraf (sensorik, motorik, otonom). Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur, sehingga dapat menimbulkan gangguan mengenggam atau berjalan, juga memudahkan terjadinya luka. Pada mata ada lagophthalmus, visus sangat terganggu akibat kusta, pada kaki dan

21

tangan ada cacat/kerusakan yang kelihatan misalnya ulkus, jari-jari tangan kiting, kaki simper (Depkes RI, 2008). Pencegahan cacat Kusta jauh lebih baik dan lebih ekonomis daripada penanggulangannya. Pencegahan ini harus dilakukan sedini mungkin, baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien itu sendiri dan keluarganya (Amiruddin, 2005). Upaya pencegahan cacat terdiri atas: 1. Untuk upaya pencegahan cacat primer meliputi: diagnosis dini, pengobatan secara teratur dan akurat serta diagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi 2. Upaya pencegahan sekunder meliputi: perawatan diri sendiri untuk mencegah luka, latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur, bedah rekonstruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat tekanan yang berlebihan, bedah septik untuk mengurangi perluasan infeksi, sehingga pada proses

penyembuhan tidak terlalu banyak jaringan yang hilang, perawatan mata, tangan dan atau kaki yang anestesi atau mengalami kelumpuhan otot. Prinsip yang penting pada perawatan sendiri untuk pencegahan cacat kusta adalah pasien mengerti bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat risiko terjadinya luka, pasien harus melindungi tempat risiko tersebut (dengan kaca mata, sarung tangan, sepatu, dll), pasien mengetahui penyebab luka (panas, tekanan, benda tajam dan kasar), pasien dapat melakukan perawatan kulit (merendam, menggosok, melumasi) dan melatih sendi bila mulai kaku,

22

penyembuhan luka dapat dilakukan oleh pasien sendiri dengan membersihkan luka, mengurangi tekanan pada luka (http://www.surabaya-ehealth). Pencegahan ini harus dilakukan sedini mungkin baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien itu sendiri dan keluarganya. Disamping itu perlu mengubah pandangan yang salah dari masyarakat, antara lain bahwa kusta identik dengan deformitas (kelainan struktur anatomis) dan disability (ketidak mampuan dalam aktifitas hari-hari) (Depkes RI, 2008). C. Tinjauan Umun Tentang Pengetahuan dan Sikap Masih banyak penderita kusta tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai penyakit kusta, baik mengenai timbulnya penyakit, penularan penyakit, pencegahan penyakit, pengobatannya dan cacat yang ditimbulkannya. Hal ini di buktikan dengan pencapaian persentase tingkat kecacatan penderita kusta yang pada tahun 2000 hanya sebesar 67,69%. Angka ini relatif masih rendah bila dibandingkan dengan target RFT (Release From Treatment) rate nasional (peningkatan kecacatan) sebesar 90%, sehingga diperlukan upaya meningkatkan penyuluhan melalui media radio, televisi, buku, majalah dan pamflet yang komunikatif, sederhana dan dapat diterima masyarakat di daerah sehingga dapat mengubah perilaku (dalam hal ini upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta) . Beberapa penelitian terdahulu, misalnya di Kabupaten Kuningan menunjukan bahwa tingkat kecacatan penderita kusta (1993) mencapai 18,80%, kemudian di Kabupaten Tangerang menunjukan bahwa tingkat kecacatan penderita kusta (1993) mencapai 21,60%. Berdasarkan kenyataan ini, maka dilakukan penelitian yang mengkaji penyebab meningkatnya kecacatan penderita kusta yang

23

sebenarnya dari penderita kusta, yang terdiri dari variabel umur penderita kusta, jenis kelamin penderita kusta, pekerjaan penderita kusta, pendidikan penderita kusta, pengetahuan, sikap dan keyakinan penderita tentang penyakitnya, ketersediaan obat di puskesmas, peran petugas kesehatan dan peran keluarga dalam pengobatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara pengetahuan penderita kusta, sikap,

ketersediaan obat di puskesmas, dan peran petugas kesehatan dengan kejadian cacat pada penderita kusta (Harjo, 2000). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mukminin (2008), menunjukkan adanya hubungan antara jenis kusta, keteraturan berobat dan keterlambatan berobat dengan terjadinya cacat pada penderita kusta. Dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang sangat mendalam. Tidak hanya pada penderita kusta sendiri tetapi pada keluarga, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari konsep perilaku penerimaan penderita kusta terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi ini penderita kusta menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan menyebabkan kecacatan. Akibat anggapan yang salah ini penderita kusta merasa putus asa, sehingga tidak tekun untuk berobat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kenyataan bahwa penyakit kusta mempunyai kedudukan yang khusus diantara penyakit lain (Zulkifli, 2003). Tinggi rendahnya pengetahuan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku klien tentang pemahaman penyakit kusta. Pengetahuan adalah merupakan hasil

24

dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek terentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan masyarakat diperoleh melalui mata dan telinga. Bloom dikutip dalam Notoatmodjo (2007), membagi perilaku manusia kedalam tiga domain, ranah atau kawasan yakni kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam perkembangannya teori bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehata yakni: 1. Pengetahuan ( Knowledge) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tidakan seseorang. Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyia 6 tingkatan. a. Tahu ( Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (rekal) sesuatu yang lebih spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah di terima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

25

b.

Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampun untuk mengartikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tapi masi di dalam satu struktur organisasi, dan masi ada kaitan satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

26

f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditemukan sendiri atau menggunakan keriteria yang sudah ada (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan tentang kusta banyak diperoleh tergantung dari seberapa banyak seseorang terekspos dengan pengetahuan tersubut misalnya banyak mendengar, melihat dan mengikuti penyuluhan yang dilakukan petugas kesehatan atau tokoh masayarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fajar (2002), di Kabupaten Gresik, menunjukan bahwa ada hubungan antara faktor sosial budaya seperti, pengetahuan, kepercayaan, sikap, nilai dan kebiasaan dengan upaya pencegahan kecacatan pada penderita kusta. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penilitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut. Mengukur pengetahuan seseorang tentang apapun hanya dapat diukur dengan membandingkan orang resebut dalam kolompoknya dalam arti luas. Akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pengetahuan ialah apa yang telah diketahui dan mampuh diingat setiap orang setelah mengalami, menyaksikan, mengamati atau diajarkan sejak ia lahir sampai dewasa khususnya setelah ia melalui pendidikan formal dan nonformal.

27

2. Sikap Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2007). Pada tahun 1888 Lange dikutip dalam Azwar (2003), menggunakan istilah sikap dalam bidang eksperiment mengenai respon untuk menggambarkan kesiapan objek dalam menghadapi stimulus yang datang tiba-tiba. Sikap adalah suatu pola perilaku atau kesiapan antisipasi predispoisi untuk menyesuaikan dalam situasi sosial. Kemudian Krischt dikutip dalam Azwar (2003), juga menyebutkan bahwa sikap juga menggambarkan suatu kumpulan keyakinan yang selalu mencakup aspek evaluative, sehingga sikap selalu dapat di ukur dalam bantuk baik dan buruk atau negative, dan Mann dikutip dalam Azwar (2003), menyatakan bahwa sikap adalah merupakan produk sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsangan yang diterimanya. Mengikuti skema traidik struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yakni komponen kognitif (cognifive), komponen afektif (efectif), komponen konatif (conative) atau perilaku. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu pemilik sikap, komponen afektif merupakan kepercayaan yang menyangkut aspek emosional, dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berprilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang.

28

Menurut Newcomb dikutip dalam Notoatmodjo (2007), salah seorang psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksanaan motifasi tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu merupakan reaksi tertutup bukan merupakan reaksi terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Seperti halnya pengetahuan sikap ini terdiri dari beberapa tingkatan. a. Menerima (receiving), diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima atau memperhatikan stimulus yang diberikan (objek) b. Merespon (respnding), Memberi jawaban apabila ditanyakan, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. c. Menghargai (Valuing), Mengajak orang lain untuk mengajarkan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. d. Bertanggung jawab (responsible), Bertanggng jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Dalam bagian lain Allport (1954) dikutip dalam Notoatmadjo (2007), menjelaskan bahwa sikap itu merupakan tiga komponen pokok yaitu : a. Kepercayaan (Keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek c. Kecenderungan untuk bertindak.

29

Dalam rangka menghadapi sikap manusia harus mengerti betul untuk dapat mengubah sikap kearah positif dan menguntungkan. Dalam hal ini perlu adanya stimulus yang dapat meyakinkan individu secara efektif merubah sikap. Salah satu aspek yang penting guna memahami sikap manusia adalah masalah pengungkapan (assessment) dan pengukuran (measurement) sikap.

Sesungguhnya sikap dapat di pahami lebih dari pada sekedar seberapa favorable atau seberapa tidak favorablenya perasaan seseorang, lebih dari pada sekedar seberapa positif atau seberapa negatifnya. Sikap dapat diungkapkan dan dipahami dengan dimensinya yang lain. Pengukuran dan pemahaman terhadap sikap, idealnya harus mencakup semua dimensi (arah, intensitas, keluasan, konsistensi dan spontanitasnya). Tentu saja hal itu sangat sulit untuk dilakukan, bahkan merupakan hal yang mustahil. Belum ada atau tak akan pernah ada instrument pengukuran sikap yang dapat mengungkap semua dimensi itu sekaligus. Banyak diantara skala yang digunakan dalam pengukuran sikap hanya mengungkapkan dimensi arah dan dimensi sikap saja, yaitu dengan hanya menunjukan kecenderungan sikap positif atau negatif dan memberi tafsiran mengenai derajat kesejutuan terhadap respon individu. Berbagai tehnik dan metode telah dikembangkan oleh para ahli guna mengungkapakan sikap manusia dan member interpretas yang v a l i d (Azwar, 2003).

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESA A. Kerangka Konsep Dalam Penelitian ini kerangka konsep yang diambil adalah bagaimana pasien kusta mempunyai pengetahuan dan sikap terhadap upaya pencegahan kecacatan penyakitnya. Untuk memudahkan pemahaman, maka secara sederhana hubungan antar variable penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

Variabel Independen Pengetahuan Sikap

Variabel Dependen

Upaya pencegahan Kecacatan penyakit kusta

B. Hipotesa 1. Ada hubungan antara pengetahuan pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar
2. Ada hubungan antara sikap pasien kusta dengan

upaya

pencegahan

kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar

BAB IV METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang di gunakan peneliti adalah metode penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional study, dimana pengukuran variabel subjek dilakukan secara bersamaan dalam satu populasi, yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan, sikap dan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta serta hubungan antara pengetahuan, sikap dengan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar. B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar yang merupakan rumah sakit kusta regional Indonesia Timur, pada bulan November sampai Desember tahun 2009. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien kusta yang sedang dirawat di rumah sakit Tajudin Chalid Makassar. yang berjumlah 70 orang 2. Sampel Sampel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pasien kusta yang sedang dirawat di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar, dengan tehnik pengambilan sampel adalah total sampling. Dimana jumlah sampel sangat

32

tergantung dengan jumlah pasien kusta yang sedang dirawat selama kami melakukan penelitian. a. Kriteria inklusi 1) Penderita kusta tipe PB yang di rawat pada bulan november 2009 di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar 2) Bersedia menjadi responden 3) Pasien pria dan wanita yang berumur 15-50 tahun yang mendapat perawatan di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar. 4) Pasien kusta yang cacat sekunder yang meliputi cacat mata, tangan dan kaki 5) Pasien kusta yang mampu merawat lukanya sendiri b. Kritera Eksklusi 1) Pasien kusta tipe MB 2) Pasien kusta yang putus obat dan stop obat 3) Pasien yang mengalami cacat bukan karena penyakit kusta D. Variabel Penelitian 1. Identifikasi variabel Variabel adalah karakteristik subjek penelitian yang berubah dari satu subjek ke subjek lainnya, sehingga variabel dapat pula disebut karakteristik suatu benda atau objek. Menurut fungsinya dalam konteks penelitian secara keseluruhan khususnya dalam hubungan antar variabel terdapat beberapa jenis yaitu :

33

a. Variabel dependen Yang menjadi variabel dependen pada penelitian ini adalah upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta. b. variabel independen Yang menjadi variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap pasien kusta terhadap upaya pencegahan penyakit kusta. 2. Defenisi operasional dan kriteria objektif a. Pengetahuan Pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan pasien kusta untuk mengetahui tentang konsep penyakit, cacat yang ditimbulkan dan upaya untuk mencegah cacat pada kusta, yang diukur dengan skala Guttman dengan menggunakan kuesioner tipe multi choice yang terdiri dari 10 pertanyaan dengan penilaian sebagai berikut, apabila jawaban benar, maka nilainya 2 dan apabila jawabannya salah , maka nilainya 1, dengan nilai mean 15, dengan kriteria objektif sebagai berikut: baik : bila responden menjawab pertanyaan dengan skor 15

kurang : bila responden menjawab pertanyaan < 15 b. Sikap Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah komitmen pasien kusta dalam upaya pencegahan kecacatan akibat penyakitnya yang di ukur

34

dengan menggunakan skala Likert. Untuk pertanyaan sikap terdiri dari 10 pertanyaan dengan penilaian sebabai berikut : Setuju Ragu-ragu Tidak setuju :3 :2 :1

Hasil skor tertinggi skor tertinggi 30 dan skor terendah 10, dengan nilai mean 20, dengan kriteria objektif sebagai berikut : Positif : bila responden menjawab dengan skor 20 Negatif : bila responden menjawab pertanyaan dengan skor ,< 20 c. Upaya pencegahan Yang di maksud dengan upaya pencegahan dalam penelitian ini adalah upaya yang dilakukan pasien kusta untuk mencegah kececetan akibat penyakitnya yang di ukur dengan skala Guttman, dengan menggunakan kuesioner tipe multi choice yang terdiri dari 10 pertanyaan dengan penilaian sebagai berikut, apabila jawaban benar maka nilainya 2 dan apabila jawabannya salah, maka nilainya 1, dengan nilai mean 15, dengan kriteria objektif sebagai berikut: baik buruk : bila responden menjawab pertanyaan dengan skor 15 : bila responden menjawab pertanyaan < 15

35

E. Alur penelitian
Melakukan survei awal tentang penyakit kusta

Mengajukan usulan penelitian tentang pengetahuan dan sikap pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya

Mengumpulkan kepustakaan yang terkait dengan judul penelitian dan menyusun proposal

Mengurus ijin penelitian

Memilih sampel yang memenuhi kriteria inklusif

Mengukur tingkat pengetahuan dan sikap pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan akibat penyakitnya

Analisa data (uji statistik Chi Square)

Penyajian data

Kesimpulan

36

F. Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan data a. Editing Setelah data terkumpul, maka dilakukan pemeriksaan kelengkapan data, kesinambungan dan keseragaman data b. Koding Dilakukan untuk memudahkan pangolahan data yaitu dengan memberikan simbol-simbol atau kode dari setiap jawaban responden. c. Tabulasi Mengelompokkan data dalam bentuk tabel, yaitu tabel distribusi pengaruh antara variabel independen dan dependen. 2. Analisa data Setelah melalui tahap-tahap di atas, selanjutnya dilakukan analisa data: a. Analisa univariat Analisa univariat dilakukan secara deskriptif terhadap setiap variabel dari hasil penelitian. Analisa ini menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap variabel yang diteliti dan untuk mengolah data menggunakan komputer program SPSS versi 15. b. Analisa bivariat Dilakukan untuk mengetahui korelasi antara variabel bebas dan variabel tergantung dengan menggunakan uji statistik Chi square (X2) yang bertujuan untuk menguji perbedaan proporsi antara 2 atau lebih kelompok.

37

Dengan tingkat keamanaan () < 0,05 dan untuk mengolah data menggunakan komputer program SPSS versi 15. G. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu mendapat adanya rekomendasi dari institusinya atas pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada institusi/lembaga tempat penelitian dan dalam pelaksanaan penelitian tetap memperhatikan masalah etik meliputi : 1. Informed Consent (lembar Persetujuan) Lembar persetujuan yang diberikan pada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi. 2. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode. 3. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi dari responden dijamin, peneliti hanya melaporkan data tertentu sebagai hasil penelitian.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan dari tanggal 24 November sampai tanggal 15 Desember tahun 2009 bertempat di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar yang merupakan rumah sakit kusta regional untuk kawasan Indonesia bagian timur yang dibangun berdasarkan surat keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia dengan nomor 568/Menkes/SK/XII/1982. Berdasarkan hasil rekapitulasi poliklinik kusta jumlah kunjungan pada 2009 sebanyak 2159 orang yang terdiri dari penderita rawat jalan 1509 orang, rawat inap 657 orang. Pengobatan dan perawatan diklasifikasikan sesuai klasifikasi Ridley dan Jopling tipe TT, BT, BB, BL dan LL, Namun untuk memudahkan pelaksanaan perawatannya dibagi menjadi dua, yakni kusta Pausibasilar (PB) atau kusta tipe kering terdiri atas tipe TT, BT dan kusta Multibasilar (MB) atau kusta tipe basah terdiri atas tipe BB, BL, LL. Populasi penelitian adalah semua penderita kusta yang dirawat di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar pada bulan November dan Desember 2009 berjumlah 70 orang, yang terdiri dari tipe MB 37 orang dan tipe PB 33 orang. Data pada penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan menggunakan angket (kuesioner) yang disebarkan kepada semua sampel. Pasien yang dijadikan sampel diberikan lembar kuesioner dan menjawab semua

39

pertanyaan pada kuesioner tersebut. Sampel yang tidak dapat memegang alat tulis dibantu dengan membacakan pertanyaan pada kuesioner dan menulis jawabannya sesuai dengan jawaban yang diberikan. Data yang diperoleh adalah data primer langsung dari responden yang meliputi data demografi responden, konsep penyakit kusta serta komitmen

responden dalam upaya pencegahan kecacatan akibat penyakitnya. Sampel pada penelitian ini adalah pasien tipe PB, berjenis kelamin lakilaki dan perempuan dan berusia antara 15-50 tahun. Besar sampel yang diperoleh selama penelitian berjumlah 30 responden. Dari hasil pengolahan data yang dilakukan, maka berikut ini akan disajikan analisa univariat dan bivariat. a. Analisis Univariat 1. Deskriptif Karakteristik Responden Dibawah ini diuraikan karakteristik responden secara rinci pada tabel berikut:

40

1). Data Demografi


Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Data Demogtafi Pasien Kusta yang Mendapat Perawatan di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar November-Desember Tahun 2009 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Umur 15-25 thn 26-35 thn 36-45 thn 46-50 thn Jumlah Pekerjaan Tukang parkir Tani Sopir Tidak bekerja Jumlah Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA Jumlah Lama Menderita Kusta 1-5 thn 6-10 thn 11-15thn 16-20 thn > 20 thn Jumlah Sumber : Data Primer November-Desember 2009 8 12 1 8 1 30 26,7 40,0 3,3 26,7 3,3 100,0 4 11 11 4 30 13,3 36,7 36,7 13,3 100,0 3 6 6 15 30 10,0 20,0 20,0 50,0 100,0 8 7 10 5 30 26,7 23,3 33,3 16,7 100,0 17 13 30 56,7 43,3 100,0 Frekuensi (f) Persentase (%)

41

Tabel 5.1 diatas menunjukkan distribusi responden menurut jenis kelamin, dimana responden yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 17 responden (5 6 , 7 %) dan perempuan berjumlah 15 responden (43,3%). Untuk distribusi responden menurut kelompok umur, dimana sebagian besar responden berumur 36-45 tahun sebanyak 10 responden (33,3%), umur 1525 tahun sebanyak 8 responden (26,7%), umur 26-35 tahun 7 responden (23,3%), dan umur 46-50 tahun sebanyak 5 responden (16,7%). Distribusi responden menurut pekerjaan, sebagian besar responden tidak bekerja yaitu 15 responden (50%), sopir 6 responden (20%), tani 6 responden (20%), tukang parkir 3 responden (10%). Distribusi responden menurut pendidikan, responden yang berpendidikan dasar 22 responden (73,4%), yang berpendidikan lanjutan 4 responden (13,3%), dan yang tidak sekolah 4 responden (13,3%). Distribusi responden berdasarkan lama menderita penyakit kusta, penderita kusta yang paling lama lebih dari 20 tahun sebanyak 1 responden (3,3%). 2). Variabel Independen a. Pengetahuan
Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Pasien Kusta yang dirawat di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar November - Desember Tahun 2009 Pengetahuan Baik Kurang Jumlah Sumber : Data primer November-Desember 2009 Frekuensi 16 14 30 Persentase 53,3 46,7 100,0

42

Tabel diatas menunjukkan distribusi responden menurut pengetahuan responden tentang konsep penyakit kusta. Dari hasil penelitian didapatkan jumlah responden yang berpengetahuan baik sebanyak 16 responden (53,3%), dan yang berpengetahuan kurang sebanyak 14 responden (46,7%). b. sikap

Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Pasien Kusta yang dirawat di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar November-Desember Tahun 2009 Sikap Frekuensi 20 10 30 Persentasi 66,7 33,3 100,0

Positif Negatif Jumlah Sumber : Data primer November-Desember 2009

Tabel diatas menunjukan distribusi responden menurut sikap responden tentang komitmennya dalam upaya pencegahan kecacatan penyakitnya. Dari hasil penelitian didapatkan jumlah responden yang bersikap Positif sebanyak 20 responden (66,7%), negatif 10 responden (33,3%).

43

3). Variabel Dependen Distribusi responden tentang upaya pencegahan penyakit kusta

Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Upaya Pencegahan Kecacatan Penyakitnya Pasien Kusta yang dirawat di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar November-Desember Tahun 2009 Upaya pencegahan Baik Kurang Jumlah Sumber : Data primer November-Desember 2009 Frekuensi 18 12 30 Persentase 60,0 40,0 100,0

Tabel diatas menunjukkan distribusi responden tentang upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar, responden yang upaya pencegahan penyakitnya baik sebanyak 18 responden (60%), dan upaya pencegahannya kurang sebanyak 12 responden (40%). B. Analisis Bivariat 1. Hubungan Pengetahuan Dengan Upaya Pencegahan Kecacatan Adapun untuk mengetahui hasil analisis hubungan pengetahuan dengan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta mengunakan uji statistik Chi

square, maka dapat dilihat pada tabel berikut:

44

Tabel 5.5 Hubungan Pengetahuan dengan Upaya Pencegahan Kecacatan Penyakit Kusta di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar November Desember Tahun 2009 Pengetahuan Upaya Pencegahan Kurang N Baik Kurang Jumlah 1 11 12 % 6,3 78,6 40,0 N 15 3 18 Baik % 93,8 21,4 60,0 N 16 14 30 % 100 100 100 55,0 0,000 Jumlah OR (95%CI)

Nilai P

Sumber : Data Primer November-Desember 2009

Pada tabel 5.5 diatas, memperlihatkan bahwa ada sebanyak 3 responden (21,4%) yang berpengetahuan kurang tetapi upaya pencegahannya baik, sedangkan diantara 16 responden (100%) yang berpengetahuan baik hanya 1 responden (6,3%) yang upaya pencegahannya kurang. Hasil uji statistik didapatkan nilai P = 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta. Kemudian dari hasil analisis diperoleh OR = 55 artinya responden yang berpengetahuan baik 55 kali lebih baik upaya pencegahan kecacatannya dibandingkan yang berpengetahuan kurang baik. 2. Hubungan Sikap Dengan Upaya Pencegahan Kecacatan

45

Tabel 5.6 Hubungan Sikap dengan Upaya Pencegahan Kecacatan Penyakit Kusta di Rumah Sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar Periode November Desember 2009 Sikap Upaya Pencegahan Kurang N Positif Negatif Jumlah 3 9 12 % 15 90 40 N 17 1 18 Baik % 85 10 60 N 20 10 30 % 100 100 100 51 0,000 Jumlah OR (95%CI) Nilai P

Sumber : Data Primer November-Desember 2009

Pada tabel 5.6 diatas, memperlihatkan bahwa ada 1 responden (10%) yang bersikap negatif tetapi upaya pencegahan kecacatannya baik, sedangkan diantara 17 responden (85%) yang bersikap positif ada 3 responden (15%) yang upaya pencegahan kecacatannya kurang. Dari hasil Fisher Exact Test diperoleh nilai P = 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta. Kemudian dari hasil analisis diperoleh OR = 51 artinya responden yang bersikap setuju upaya pencegahan kecacatannya 51 kali lebih baik dibandingkan yang bersikap ragu-ragu. B. Pembahasan Hasil penelitian berdasarkan jenis kelamin dari 30 responden,

menunjukkan bahwa yang paling banyak berjenis kelamin laki-laki 17 responden (56,7%) dan perempuan 13 responden (43,3%). Sejalan dengan distribusi penyebaran kusta menurut jenis kelamin, sebagian besar negara didunia kecuali dibeberapa negara di Afrika menunjukan bahwa laki-laki lebih banyak terserang kusta dari pada perempuan. Relatif

46

rendahnya kejadian kusta pada perempuan karena faktor lingkungan atau faktor biologis (Depkes RI, 2006). Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tarusaray (1997) tentang kecacatan pasien kusta di RSK Sitalana Tangerang menunjukkan hasil laki-laki (76,40%) lebih banyak dari perempuan (65,99%). Berdasarkan umur, responden yang paling banyak menderita kusta pada golongan umur 36-45 tahun 10 responden (33,3%), dan yang paling sedikit pada umur 46-50 tahun 5 responden (16,7%). Teori mengatakan frekuensi tertinggi penyakit kusta berada pada kelompok umur dewasa, sementara penelitian yang dilakukan oleh Amiruddin (2005), menunjukan bahwa frekuensi terbanyak pada kelompok umur 15-29 tahun. Sebagian besar penelitian melaporkan distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan pada prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden karena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui. Dengan kata lain kejadian penyakit berdasarkan umur pada saat ditemukan dari pada saat timbulnya penyakit. Penyakit kronik seperti kusta, informasi berdasarkan data prevalensi dan data umur pada saat timbulnya penyakit tidak menggambarkan resiko yang spesifik (Depkes RI, 2006). Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hasil penelitian menunjukan dari 30 responden 3 responden (10%) bekerja sebagai tukang parkir, 6 responden (20%) bekerja sebagai petani, 6 responden (20%)

47

sebagai sopir dan sebagian besar responden tidak bekerja yaitu 15 responden (50%). Yang dimaksud dengan tidak bekerja disini adalah sebagian besar responden yang tidak bekerja berjenis kelamin perempuan dan hanya tinggal di rumah, ada yang sebagai ibu rumah tangga dan sebagian lagi anak sekolah yang putus sekola. Perkembangan penyakit pada diri penderita bila tidak ditangani secara cermat dapat menimbulkan cacat dan keadaan ini menjadi halangan bagi penderita kusta dalam kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka juga tidak dapat berperan serta dalam pembangunan bangsa dan negara (Hiswani, 2001). Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah yang kurang atau belum memahami arti penting dari kebersihan lingkungan, status gizi yang rendah dan kebiasaan hidup yang tidak sehat. Walaupun demikian penelitian yang dilakukan oleh Sommerfelt et all (1990) dikutip dalam amiruddin (2005), di India tidak terdapat hubungan yang bermakna antara prevalensi kusta dengan malnutrisi, kemiskinan dan kebodohan. Penelitian tersebut hanya mendapatkan hubungan antara prevalensi kusta dengan mal nutrisi pada anak usia dibawah empat tahun. Berdasarkan pendidikan responden yang tidak sekolah 4 responden (13,3%), responden yang berpendidikan SD 11 responden (36,7%),

48

berpendidikan SMP 11 responden (36,7%) dan responden yang berpendidikan SMA 4 responden (13,3%). Hal ini disebabkan selain himpitan ekonomi, mereka terpaksa harus putus sekolah karena merasa malu akibat dikucilkan dari teman-temannya yang menganggap penyakit yang di deritanya sebagai kutukan aib dan tidak bisa disembuhkan. Hasil wawancara dari salah seorang responden yang menderita kusta sejak duduk di bangku kelas dua SMP mengatakan ia terpaksa putus sekolah karena malu dikatakan menderita penyakit kutukan dan tidak bisa disembuhkan. Responden tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kali terinfeksi kuman kusta. Jika ditanyakan tentang lama menderita kusta responden menjawab dengan kurang lebih. Yang paling lama menderita 6-10 tahun berjumlah 12 responden (40%), kemudian 16-20 tahun berjumlah 8 responden (26,7%), 1-5 tahun 8 responden (26,7%), dan yang paling rendah lebih dari 20 tahun 1 responden (3,3%). Mereka mengetahui terinfeksi kuman kusta sejak timbul reaksi dan atau telah berobat ke dokter. Sejak itulah mereka menghitung berapa lama menderita kusta. Seperti kita ketahui bahwa masa inkubasi kuman kusta berfariasi dari 6 bulan sampai 40 tahun. Hal ini yang mempengaruhi ketidaktahuan penderita kusta sejak kapan mereka menderita penyakit kusta. Selain itu beberapa responden mengatakan pertama kali mereka merasa tebal pada kulit yang nantinya akan berkembang menjadi luka dalam beberapa tahun dan tidak ada tanda seperti panu yang mati rasa.

49

1. Gambaran pengetahuan dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar tahun 2009 Pada hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada 3 responden (21,4%) yang berpengetahuan kurang baik tetapi upaya pencegahannya baik, disebabkan karena mereka mendapat bimbingan hal ini

seperti perawatan luka,

menggosok kulit yang tebal dengan menggunakan batu apung, menggosok dan memijat-mijat jari tangan atau kaki yang mulai kaku, dari rumah sakit kusta untuk mencegah kecacatan akibat penyakitnya agar tidak bertambah parah. Sedangkan diantara 16 responden (100%) yang berpengetahuan baik

hanya 1 responden (6,3%) yang upaya pencegahannya kurang. Hal ini disebabkan karena malas dan tidak mau mengikuti program pengobatan. Sesuai dengan hasil observasi peneliti membuktikan bahwa responden no 15 malas merawat dirinya dan tidak mau minum obat sendiri kecuali di awasi oleh perawat. Hasil uji statistik didapatkan nilai P = 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007), yang mengatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (dalam hal ini upaya pencegahan kecacatan). Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Fajar (2002), di Kabupaten Gresik, menunjukan bahwa ada hubungan antara faktor sosial budaya seperti,

50

pengetahuan, kepercayaan, sikap, nilai dan kebiasaan dengan terjadinya kecacatan pada penderita kusta. Berdasarkan hasil penelitian dan pendapat yang telah dikemukakan, maka dapat dikatakan bahwa pada hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan tersebut. Semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang penyakit semakin kuat motivasinya untuk menjaga kesehatan agar tetap sehat termasuk hubungannya dengan pencegahan kecacatan. 2. Gambaran sikap dengan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar tahun 2009 Pada analisis bivariat memperlihatkan bahwa ada 1 responden (10%) yang bersikap negatif tetapi upaya pencegahan kecacatannya baik, hal ini disebabkan karena responden tinggal dalam lingkungan rumah sakit sudah satu tahun dan akhirnya terbiasa mengikuti kebiasaan panderita kusta lainnya yang mendapat perawatan di rumah sakit. Sesuai hasil obserfasi peneliti membuktikan bahwa responden no 20 meskipun malas mengurut jari tangannya yang mulai kaku tetapi terpaksa mengurutnya karena diberitahu sama perawatnya kalau tidak mau urut jarinya yang mulai kaku berarti ai mau kalau jarinya kelak di amputasi. Sedangkan diantara 20 responden (100%) yang bersikap positif hanya 3 responden (15%) yang upaya pencegahan kecacatannya kurang. Hal ini disebabkan karena responden sudah tua dan kurang motivasinya untuk merawat dirinya. Sesuai hasil obserfasi responden no 9, 11, 18 yang berumur 46-50

51

tahun membuktikan bahwa responden sudah tua dan tidak mampu lagi merawat dirinya. Dan hasil wawancara dari responden no 9 mengatakan bahwa beliau sudah tua sudah punya istri dan anak, keluarganya menerima keadaannya apa adanya jadi beliau pasrah pada penyakitnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Rahmi (2009), yang menggambarkan makin tinggi usia seseorang makin rendah motifasinya untuk berbuat. Dari hasil Fisher Exact Test diperoleh nilai P = 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan upaya pencegahan kecacatan penyakit kusta. Kemudian dari hasil analisis diperoleh OR = 51 artinya responden yang bersikap setuju upaya pencegahan kecacatannya 51 kali lebih baik dibandingkan yang raguragu. Sikap yang baik dapat dilihat dari perilaku pencegahan kecacatan. Sesuai dengan pendapat Asrul (2000), bahwa seseorang akan sadar dan mengerti serta mau melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan kesehatan bila ia memiliki pengetahuan yang baik yang akan mempengaruhi sikap dalam berperilaku. Hal ini bisa disebabkan karena sikap dipengaruhi oleh faktor perilaku, pengalaman serta informasi dari petugas kesehatan maupun dari media lainnya. Seperti perilaku responden yang rajin berobat dan merawat dirinya, pengalaman responden yang menunjukkan bahwa ternyata penyakit kusta bisa

disembuhkann dan cacat yang ditimbulkannya dapat di cegah, dan informasi

52

dari petugas kesehatan yang menyatakan bahwa kusta bukan penyakit kutukan, kusta dapat disembuhkan asalkan rajin berobat, serta dukungan dari media lainnya yang mempromosikan tentang usaha-usaha pencegahan kecacatan penyakit kusta. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Bruna (2000), sikap mempunyai kecenderungan atau kesediaan untuk berbuat atau memberikan baik positif maupun negatif terhadap objek atau sesuatu. Dari hasil penelitian dan pendapat yang dikemukakan, maka dapat dikatakan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan tersebut yaitu jika seseorang memiliki sikap yang baik, maka upaya pencegahan kecacatannya cenderung baik. C. Keterbatasan penelitian Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian. Keterbatasan dalam penelitian yang dihadapi peneliti adalah: 1. Keterbatasan waktu, waktu yang ada sangat terbatas disebabkan penelitian dilakukan bersamaan dengan jadwal perkuliahan di kampus, mengakibatkan observasi yang dilakukan tidak maksimal, sehingga hasil yang diperoleh kurang sempurna. 2. Keterbatasan sampel Sampel pada penelitian ini hanya terbatas pada pasien kusta tang mendapat perawatan di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar, sehingga kurang representatif untuk mewakili seluruh penderita kusta, ada juga beberapa

53

pasien yang menolak untuk menjadi responden karena merasa malu dengan apa yang dialaminya. 3. Penelitian ini merupakan pengalaman pertama bagi peneliti. Tentunya banyak kekurangan dan keterbatasan dalam hal tehnik pengumpulan, analisia dan interpretasi hasilnya.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar ditarik kesimpulan : 1. Pasien kusta yang mendapat perawatan di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar sebagian besar memiliki pangetahuan yang baik terhadap upaya pencegahan kecacatan penyakitnya. 2. Penderita kusta yang mendapat perawatan di rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar memiliki sikap yang positif terhadap upaya pencegahan kecacatan akibat penyakitnya. 3. Berdasarkan hasil uji statistik Chi square, gambaran pengetahuan dan sikap pasien kusta tentang upaya pencegahan kecacatan penyakitnya dengan nilai P = 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 telah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya. B. Saran Berdasarkan kesimpulan, maka diharapkan agar petugas kesehatan yang ada dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap penderita kusta agar upaya pencegahan kecacatan berhasil dilakukan sehingga program pemberantasan dapat terwujud. Adapun usaha yang dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap diantaranya:

55

1. Pusat-pusat pelayanan kesehatan yang menyediakan sarana pengobatan penyakit perlu menetapkan konsep yang menjadi acuan dalam penyuluhan, sehingga masyarakat maupun penderita kusta khususnya mempunyai gambaran yang sama dan benar tentang kusta. 2. Kiranya disediakan waktu khusus terutama bagi penderita kusta yang upaya pencegahan kecacatannya kurang baik untuk diberi penyuluhan yang sejelasjelasnya, sehingga kesadaran untuk mencegah kecacatan akibat penyakitnya dapat tumbuh dengan baik. 3. Bagi penderita kusta kiranya jangan merasa bosan untuk berobat, terus bersabar dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk penyembuhan penyakitnya 4. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian jangan bersamaan dengan waktu kuliah di kampus agar obserfasi yang dilakukan maksimal dan memberi hasil yang sempurna. 5. Sebaiknya peneliti selanjutnya meneliti dengan sampel yang lebih besar lagi agar hasilnya bisa representatif mewakili seluruh penderita kusta yang ada.

DAFTAR PUSTAKA Amiruddin M D. (2001). Penyakit Kusta. Cetakan Pertama. Hasanuddin Universiti Perss: Makassar Amiruddin M D. (2005). Penyakit Kusta Di Indonesia; Masalah Penanggulangannya. Jurnal Medika Nusantara. Vol 5. Hasanuddin Universiti Perss: Makassar Asrul M. (2000). Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Keteraturan Berobat Di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. Skripsi. Sekolah tinggi ilmu kesehatan muhammadiyah program studi ilmu keperawatan: Tasikmalaya Azwar S. (2003). Sikap Manusia. ed. 2. Pustaka Pelajar : Yokyakarta Burna A. (2000). Ilmu Perilaku. Sagung Seto: Jakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Cetakan XVIII. Depkes RI: Jakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Kebijakan Pemberantasan Penyakit Kust, [e-book], diakses tanggal 25 oktober 2009, dari: < http://www. depkes.go.id/downloads/Kusta.pdf> Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan. (2008). Derajat Kesehatan di Sulsel tahun 2008, [e-book], diakses tanggal 22 juli 2009. dari <http://datinkessulsel.wordpress.com/2009/07/22/derajat-kesehatan-disulsel-tahun-2008/> Harjo. (2000). Faktorfaktor yang Berhubungan dengan Ketidakteraturan Berobat Penderita Kusta di Kabupaten Majalengka Tahun 1998-2000. diakses tanggal 14 Oktober2009dari <http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=92369> Fajar N A. (2002). (Analisis Faktor Sosial Budaya dalam Keluarga yang Mempengaruhi Pengobatan Dini dan Keteraturan Berobat pada Penderita Kusta). diakses tanggal 14 Oktober 2009. dari <http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=jkpkbppk-gdl-res-2002fajar2c-1309-kusta&q=kusta> Harahap M. (2000). Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta

Hidayat A A. (2009). Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisa Data, Salemba Medika: Jakarta Hiswani. (2001). Kusta Salah Satu Penyakit Menular Yang Masih Dijumpai di Indonesia, [e-book], diakses tanggal 6 Sepember 2009, dari < http ://library.usu.ac.id/donload/fkm-kiswani2.pdf>. Mukminin L. (2008). Analisis Faktor Risiko Kecacatan pada Penderita Kusta di Propinsi Gorontalo. Skripsi. Universitas Negri Gorontalo: Gorontalo Mansjoer A., Suprohaita, Wardani, W, I. & Setiowulan, W. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, ed. 3, jillid II, Media aesclapius, FK-UI: Jakarta Ngatimin R. (2003). Ilmu Perilaku Kehesatan. Yayasan PK-3 Makassar, UNHAS: Makassar Notoatmodjo S. (2007). Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku, Cetakan Pertama, PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam. (2003). Konsep & Penerapan Motodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, ed. 1, Salemba Medika: Jakarta Rahmi N (2009). Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Motifasi Mahasiswa Melanjut Pendidikan di PSIK-FK UNHAS. Skripsi. UNHAS : Makassar Rumah Sakit Kusta Daya. (2008). Naskah Akademik Peningkatan Status Rumah Sakit: Makassar Rumah Sakit Kusta Daya. (2008). laporan P2 Kusta RSK Daya: Makassar Surabaya ehealth. (2009). Memahami Seluk-Beluk Penyakit Kusta. Diakses tanggal 14 oktober 2009. dari < http://www.surabayaehealth.org/administrator/berita/memahami-seluk-beluk-penyakit-kusta>. Tarusaraya p, Halim P W. (1997). Penelitian Kecacatan Pasien Kusta di RSK Sitalana Tangerang. diakses tanggal 12 mei 2009. dari <http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05PenelitianKecacatanPasienKustadi RSKSitanala117.pdf/05PenelitianKecacatanPasienKustadiRSKSitanala117.h tml> Weekly Epidemiological Record. 2009.Global Leprosy Situation (Online). Diakses tanggal 30 Oktober 2009. dari < http://wwwsearo-who.int/linkFiles?GLP_REH 33.pdf>.

Zulkifli .(2003). Penyakit kusta dan Masalah Yang Ditimbulkannya, [e-book], diakses tanggal 6 September 2009. dari < http://library.usu.ac.id/ download/fkm/fkm-zulkifli2.pdf>.

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth : Calon Responden

Dengan Hormat, Yang bertanda tangan dibawah ini adalah Mahasiswa Program Ners Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar :

Nama Nim Alamat

: Nursia Wabula : C12108516 : Jln perintis kemerdekaan BTN wesabbe blok C/42

Akan mengadakan penelitian dengan judul : Analisis Hubungan Pengetahuan dan Sikap Pasein Kusta dengan Upaya Pencegahan Kecatan

Penyakitnya di Rumah Sakit Dr. Tajduddin Chalid Makassar Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merungikan bagi Saudara sebagai Responden. Kerahasiaan informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Jika saudara tidak bersedia menjadi responden, maka tidak ada ancaman bagi saudara dan keluarga. Jika saudara telah menjadi responden dan terjadi hal-hal merugikan, maka saudara diperbolehkan mengundurkan diri untuk tidak berpartisipasi dalam penelitian ini. Apabila saudara menyetujui, maka saya mohon kesediaan saudara untuk menandatangani Lembar Persetujuan dan Menjawab Pertanyaan-pertanyaan yang saya sertakan pada surat ini. Atas perhatiaan dan kesedian saudara responden, saya ucapkan terima kasih.

Peneliti,

NURSIA WABULA C12108516

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini bersedia menjadi Responden dalam penelitian yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Program Pendidikan Ners Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang bernama Nursia Wabula/C12108516 dengan Judul : Analisis Hubungan Pengetahuan dan Sikap Pasien Kusta dengan Upaya Pencegahan Kecacatan Penyakitnya di Rumah Sakit Tadjuddin Khalid Makassar. Saya memahami penelitian ini dimaksudkan untuk kepentingan ilmiah dalam rangka penyusunan skripsi bagi peneliti dan tidak merugikan saya, serta jawaban yang saya berikan akan dijaga kerahasiaannya. Dengan demikian, secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun, saya berpartisipasi dalam penelitian ini.

Makassar, 2009

()

LEMBAR KUESIONER Judul Penelitian : Analisis Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Pasien Kusta Dengan Upaya Pencegahan Kecacatan Penyakitnya di Rumah Sakit Tadjuddin Chalid Makassar Tahun 2009

a. Tanggal Penelitian b. Nomor Responden c. Nama Responden d. Jenis Kelamin e. Umur f. Pekerjaan g. Pendidikan h. Alamat

: : : : : : : :

i. Lama Menderita Kusta : Petunjuk 1. Mohon dengan hormat bantuan dan kesediaan Bapak/Ibu/Sdr(i), untuk menjawab seluruh pertanyaan. 2. Berilah tanda silang (x) pada pertanyaan yang anda anggap paling sesuai. Pertanyaan A. Pengetahuan 1. Penyakit kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh? a. infeksi dan menimbulkan cacat b. Kutukan tuhan c. Keturunan d. Mematikan 2. Penyakit kusta disebabkan oleh : a. Guna-guna b. Gangguan Setan c. Kuman penyakit

d. Kutukan 3. Penyakit kusta dapat ditularkan melalui : a. Makanan b. Minuman c. Tranfusi darah d. Kontak kulit yang lama dengan penderita kusta 4. Kuman kusta pertama kali menyerang : a. Paru-paru b. Hati c. Kulit d. Ginjal 5. Tanda-tanda penyakit kusta yaitu : a. Batuk-batuk selama 3 bulan b. Adanya bercak putih seperti panu yang mati rasa c. Demam d. Sakit tulang 6. Bila terdapat tanda-tanda penyakit kusta, hal yang harus kita lakukan adalah : a. Melapor ke petugas kesehatan b. Dibiarkan saja c. Berobat ke dukun d. Tidak melakukan apa-apa 7. Pengobatan penyakit kusta dilakukan oleh: a. Dukun b. kiyai c. Tabib d. Dokter 8. Untuk mencegah kecacatan sebaiknya mengikuti pengobatan : a. Secara teratur dan akurat b. Seenaknya saja c. Sesekali d. Semauku

9. Cara mencegah penyakit kusta adalah............ a. Tingkatkan kebersihan diri dan lingkungan b. Imunisasi c. Menguras bak mandi d. Tidak melakukan apa-apa 10. Perawata diri sendiri untuk sendi yang mulai kaku adalah : a. Membiarkan sampai sembuh sendiri b. Melatih menggerakkan sendi supaya tidak kaku c. Menggaruknya sampai luka d. Mengikatnya dengan kain

B. Sikap

No 1

Pertanyaan Penyakit kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman dan dapat di sembuhkan. Mencegah cacat kusta jauh lebih baik dari pada

Setuju

Ragu- Tidak ragu setuju

mengobatinya. Untuk mengobati penyakit kusta, sebaiknya penderita dibawah ke dokter untuk berobat Untuk menghindari terjangkit dengan kuman

penyebab penyakit kusta, kita harus menjaga kebersihan.

Kuman kusta dapat di tularkan lewat makanan dan minuman

Kusta menyerang siap saja olehnya itu saya harus menjaga kesehatan.

Jari yang sudah bengkok karena cacat kusta perlu diurut lurus agar sendi tidak menjadi kaku

Menghindari tempat-tempat yang kotor/kuman merupakan upaya pencegahan penyakit kusta

Penyluhan tentang kusta perlu di lakukan walaupun kusta penyakit lama

10

Menurur anda seandainya di lingkungan yang anda tempati ada seorang yang memderita kusta. Hal yang harus kita lakukan adalah

melaporkannya ke patugas keshatan

C.

Upaya pencegahan 1. Pemeriksaan mata untuk melihat apakah ada kototan atau kemerahan sebaiknya dilakukan setiap: a. Setiaphari b. 2 hari sekali c. 3 hari sekali d. 4 hari sekali 2. Mata perlu dilundungi dari kekeringan dan debu dengan cara: a. Berkedip sekuatnya b. Memcucinya dengan air c. Memakai kaca mata d. Memutupinya dengan plester

3. Cara mencegah kecacatan penyakit kusta (otot yang mulai kaku) adalah:.. a. Tingkatkan kebersihan diri dan lingkungan b. Melatih otot yang mulai kaku c. Imunisasi d. Menyediakan obat kusta di rumah 4. Memeriksa tangan untuk mencari tanda luka seperti kemerahan, kulit melepuh dan luka sebaiknya dilakukan : a. Setiap hari b. 2 hari sekali c. 3 hari sekali d. 4 hari sekali 5. Bagaimana anda merawat tangan anda yang mati rasa ? a. Rendam dalam air digin selama jam lalau di gosok dengan minyak b. Ditusuk-tusuk dengan jarum supaya berdarah c. Dipanasi d. Tidak melakukan apa-apa 6. Anda seorang penderira kusta dan mengalami luka apa yang anda lakukan terhadap luka anda : a. Menutupinya dengan dedaunan b. Merawat dan membersihkannya c. Dibiarkan saja d. Digaruk 7. Bila ada daerah yang luka sebaiknya : a. Dirawat b. Dibiarkan c. Digaruk d. Diobati dengan dedaunan 8. Luka sebaiknya dirawat setiap ? a. Pagi hari b. Siang hari

c. Sore hari d. Pagi dan sore hari 9. Kaki yang mati rasa perlu dilindungi dengan menghindar dari panas dan benda-benda yang tajam dan kasar dengan cara: a. Menjenur b. Mamakai alas kaki c. Menyikat d. Tidak memakai alas kasi 10. Bila luka anda bengkak dan berbau apa yang anda lakukan? a. Melapor kedokter untuk diobati b. Menutupinya c. Membiarkannya sapai senbuh sendiri d. Tidak melakukan apa-apa Sumber : syair79.files.wordpress.com/2009/09/lampiran-dokumn

MASTER TABEL
No Inisial Jenis Kelamin 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 K H SD M N H NH SA ST M NK HN S WM A KD T LM KD RJ DS DT M RJ AB BN RH PD LB B Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Umur 39 thn 40 thn 45 thn 31 thn 27 thn 50 thn 18 thn 45 thn 50 thn 31 thn 50 thn 50 thn 13 thn 26 thn 15 thn 19 thn 28 thn 50 thn 40 thn 36 thn 43 thn 39 thn 25 thn 40 thn 40 thn 20 thn 27 thn 30 thn 25 thn 20 thn Pekerjaan Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tani Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tidak bekerja Tani Tidak bekerja Tidak bekerja Sopir Tani Sopir Sopir Tani Sopir Sopir Tani Tukang Parkir Tani Sopir Tukang Parkir Tukang Parkir Pendidikan SMP SMP Tidak Sekolah SD SMA SD SMA Tidak Sekolah SMA Tidak Sekolah SD SD SMP SMP SMP SMA SMP Tidak Sekolah SD SD SD SD SMP SD SD SMP SMP SD SMP SMP Alamat Makassar Makassar Takallar Makassar Bulukumba Goromtalo Bulukumba Makassar Makassar Maros Makassar Bulukumba Makassar Maros Maros Maros Makassar Makassar Maros Makassar Makassar Makassar Bulukumba Bulukumba Maros Maros Takallar Kalimantan Gorontalo Bulukumba Lama Menderita 1 20 thn 2 20 thn 2 7 thn 2 6 thn 2 10 thn 2 20 thn 2 12 thn 2 10 thn 2 40 thn 2 5 thn 2 10 thn 2 10 thn 1 5 thn 2 2 thn 1 5 thn 2 5 thn 2 2 thn 1 20 thn 2 10 thn 1 10 thn 1 20 thn 2 20 thn 2 10 thn 2 20 thn 2 20 thn 2 5 thn 1 10 thn 2 10 thn 2 7 thn 1 5 thn 1 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 3 1 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 4 2 2 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 5 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 Pengetahuan 6 7 8 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 2 9 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 10 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 Jml 18 20 20 19 13 14 16 18 19 17 19 14 13 17 20 20 14 14 14 14 14 18 18 20 19 14 14 14 13 14 KTG Baik Baik Baik Baik Kurang Kurang Baik Baik Baik Baik Baik Kurang Kurang Baik Baik Baik Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang Baik Baik Baik Baik Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang 1 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 1 1 1 3 3 2 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 4 3 1 2 3 3 2 3 3 2 3 2 1 3 3 2 3 2 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 2 3 5 3 2 2 2 3 3 3 3 1 3 3 1 3 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 1 1 3 3 2 3 6 1 1 1 3 3 3 2 3 1 3 3 1 3 2 2 1 3 2 2 2 3 1 2 3 1 1 3 3 2 2 Sikap 7 8 1 1 3 3 1 1 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 3 2 1 1 3 3 3 3 2 2 1 2 2 2 2 3 3 2 2 1 3 2 1 1 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 1 3 2 9 1 3 1 3 3 2 3 2 1 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 1 2 2 2 3 1 2 3 2 1 2 10 1 3 1 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 1 3 3 3 1 3 Jml 19 25 18 29 27 27 27 28 19 27 26 19 30 25 24 19 23 22 25 19 24 19 20 27 18 22 28 28 18 25

MASTER TABEL
KTG Negatif Positif Negatif Positif Positif Positif Positif Positif Negatif Positif Positif Negatif Positif Positif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Positif Negatif Positif Positif Positif Negatif Positif 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 3 2 2 1 2 1 1 2 1 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 4 2 2 1 2 1 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 5 2 2 1 2 2 1 2 1 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 Upaya_Pencegahan 6 7 8 9 10 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 Jml 20 19 14 18 16 16 17 17 20 18 12 14 12 16 13 12 17 14 12 15 14 11 20 19 16 16 18 18 14 13 KTG Baik Baik Kurang Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Kurang Kurang Kurang Baik Kurang Kurang Baik Kurang Kurang Baik Kurang kurang Baik Baik Baik Baik Baik Baik Kurang Kurang

Ket : A. Jenis Kelamin 1. laki-laki 2. Perempuan

B. Umur 1. 15-25 thn 2. 26-35 thn 3. 36-45 thn 4. 46-50 thn

C. Pekerjaan 1. PNS 2. Tukang Parkir 3. Tani 4. Sopir 5. Tidak Kerja


2

D. Pendidikan 1. Tidak Sekolah 2. SD 3. SMP 4. SMA

E. Alamat 1. Makassar 2. Bulukumba 3. Maros 4. Takalar 5. Lain-lain

F. Lama Menderita 1. 1-5 thn 2. 6-10thn 3. 11-15 thn 4. 16-20thn 5. >20