Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENELITIAN

RESPONS ADAPTASI KLIEN DENGAN FRAKTUR EKSTREMITAS BAWAH SELAMA MASA RAWATAN DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN DAN RSU DR. PIRNGADI MEDAN
Sugi Hariana*, Yessi Ariani**

ABSTRAK Fraktur merupakan terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh cedera. Selama masa perawatan, klien dengan fraktur ekstremitas bawah melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada diri, lingkungan disekitarnya, kebutuhan fungsi fisiologis, konsep diri, peran dan interdependensi dalam mempertahankan homeostasis (keseimbangan), yang dapat menghasilkan perilaku respons adaptif atau respons maladaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa rawatan dengan menggunakan desain deskriptif eksplorasi. Sampel diambil dari klien yang mengalami fraktur ekstremitas bawah yang telah dirawat minimal 1 minggu di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan dengan jumlah responden sebanyak 12 orang. Penentuan jumlah sampel berdasarkan total sampling selama sebulan. Pengumpulan data dilakukan mulai tanggal 14 Juni sampai 8 Juli 2006. Pengolahan data menggunakan program SPSS versi 12.0. Dari hasil penelitian data diketahui bahwa sebanyak (50,0%) responden berada pada kelompok umur 18-25 tahun. Mayoritas responden adalah laki-laki (75,0%), berpendidikan SMU (41,7%), pekerjaan wiraswasta (58,3%), tidak berpenghasilan (41,7%) dan lama masa perawatan selama 3 minggu (33,3%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa rawatan di RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan menghasilkan respons adaptif yaitu fungsi fisiologis (58,3%), konsep diri (91,7%), peran (100%) dan interdpendensi (91,7%). Secara umum diketahui respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan 100% adalah adaptif. Penelitian ini mempunyai sampel yang terbatas sehingga untuk penelitian selanjutnya perlu dipertimbangkan untuk mengambil sampel dari rumah sakit dan waktu yang lebih lama yang sehingga jumlah sampel yan diperoleh lebih banyak dan hasilnya lebih representatif. Kata kunci: respons adaptasi, fraktur ekstremitas bawah

Penulis adalah * Mahasiswa Program Profesi Keperawatan PSIK FK USU ** Staf Pengajar Keperawatan Medikal Bedah PSIK FK USU

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 56 Universitas Sumatera Utara

LATAR BELAKANG Perawat memandang individu sebagai suatu keseluruhan yang utuh atau suatu individu yang holistik, bukan merupakan golongan dari bagian-bagian dan proses-proses (Kozier & Erb, 1995). Dimana dalam teori ini organisme yang hidup dipandang sebagai hasil interaksi dan kesatuan dari keseluruhan bukan sekedar jumlah dari bagian-bagiannya. Gangguan terhadap suatu bagian merupakan gangguan bagi keseluruhan sistem. Ketika mengaplikasikan pada manusia dan kesehatan, konsep ini menekankan kenyataan bahwa perawat harus menjaga identitas diri dari keseluruhan individu dan harus berusaha memahami hubungan dari bagian-bagian individu di bawah keseluruhan bagian-bagiannya secara bersamaan (Krieger, 1981 dalam Kozier & Erb, 1995). Individu sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual sebagai satu kesatuan yang utuh memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi terhadap perubahan diri dan lingkungan sehingga individu selalu berinteraksi terhadap perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungannya. Untuk mampu beradaptasi setiap individu akan berespons terhadap kebutuhan fisiologis, keamanan dan kenyamanan, cinta mencintai, harga diri dan aktualisasi diri, dan individu selalu berada dalam rentang sehat-sakit yang berhubungan dengan koping yang efektif dalam memelihara proses adaptasi (Roy, 1980 dalam Hidayat, 2004). Perawat juga harus mengingat interaksi dan hubungan individu dengan lingkungan luar dan yang lain berkaitan dengan individu dan sistem. Sebagai contoh seorang perawat membantu klien dengan fraktur ekstremitas bawah yang dirawat selama masa rawatan dalam beradaptasi terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan konsep diri yang positif, serta kebutuhan akan kemampuan

melakukan peran dan fungsi secara optimal dalam memelihara integritas diri (Kozier & Er, 1995). Menurut Hanley & Belfus (2005), klien yang mengalami gangguan pada muskuloskeletal (fraktur) akan menimbulkan respons dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya dan lingkungan disekitarnya serta mempengaruhi diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Pelayanan komprehensif merupakan pelayanan klien secara total dan pelayanan kesehatan holistik berkembang bagi konsep holisme. Kesehatan holistik melibatkan individu secara total, keseluruhan status kehidupannya dan kualitas hidupnya dalam berespons terhadap perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungannya (Smith, 1984 dalam Kozier & Erb, 1995). Sehingga perawat dapat memberikan pelayanan secara tepat dan efektif untuk membantu klien dalam beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi disekitarnnya. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebakan oleh cedera. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung, misalnya yang sering terjadi benturan pada ekstremitas bawah yang menyebabkan fraktur pada tibia dan fibula dan juga dapat berupa trauma tidak langsung misalnya jatuh bertumpu pada tangan yan menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah (Sjamsuhidajat, 1997). Menurut Handayani (1998) trauma muskuloskeletal, khususnya fraktur memerlukan pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif. Asuhan terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar klien yang teranggu dan menceah mengurangi komplikasi terutama immobilisasi. Pendidikan kesehatan juga dapat diberikan untuk mencegah cidera lebih lanjut sehingga klien secara bertahap dapat mengoptimalkan fungsi bio-psikososio-spiritualnya.

57

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 Universitas Sumatera Utara

Perubahan yang terjadi pada klien fraktur dan lingkungan sekitarnya mempengaruhi klien tersebut berespons dalam beradaptasi untuk mempertahakan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya (Flynn & Heffron, 1984). Sebagai sistem adaptif, klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan di rumah sakit akan merespons terhadap perubahan yang ada di lingkungannya yang akan selalu menunjukkan perilaku adaptif dan maladaptif. Apabila kemampuan merespons lingkungan tersebut baik, maka perilaku klien fraktur tersebut akan menunjukkan perilaku adaptif, akan tetapi jika kemampuan dalam merespons lingkungan kurang baik, maka perilaku klien fraktur tersebut akan menunjukkan perilaku maladaptif (Helson, 1964 dalam Roy, 1984). Agar respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan menghasilkan perilaku respons adaptif dan berfungsi secara optimal, maka klien harus mampu berespons secara positif terhadap beberapa stressor dan beradaptasi terhadap permintaan atau perubahan. Adaptasi membutuhkan respons aktif dari klien yang bersangkutan (Potter & Perry, 1993). Dalam memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang tepat dan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan klien, maka seorang perawat harus mampu mengetahui bagaimana respons yang dihasilkan oleh klien dalam beradaptasi terhadap perubahan diri dan lingkungan sekitarnya. Hal inilah yang mendasari perlunya dilakukan penelitian tentang respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi eksplorasi

yang bertujuan untuk mengidentifikasi respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa rawatan di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi pada penelitan ini adalah klien dengan fraktur esktremitas bawah selama masa perawatan di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan total sampling yaitu pengambilan sampel dari seluruh jumlah populasi yang ada sesuai dengan kriteria sampel yang telah ditentukan terlebih dahulu. Kriteria yang telah ditentukan untuk subjek penelitian yaitu klien laki-laki atau perempuan, usia 17-60 tahun, mengalami fraktur ekstremitas bawah, dapat baca, telah dirawat minimal 1 minggu dan bersedia menjadi sampel dalam penelitian. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut sebagai tempat penelitian karena merupakan rumah sakit pendidikan, lokasi rumah sakit yang mudah dijangkau, rumah sakit rujukan dan tersedianya klien dengan fraktur ekstremitas bawah. Selain itu, penelitian tentang respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa rawatan belum pernah dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan. Pertimbangan Etik Penelitian Peneliti menyerahkan langsung lembar persetujuan penelitian kepada responden, agar responden mengetahui maksud dan tujuan penetilitian. Jika repsonden bersedia diteliti maka terlebih dahulu harus menandatangani lembar persetujuan (informed consent), dan bila responden tidak dapat menulis tanda tangan pada lembar persetujuan, responden

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 58 Universitas Sumatera Utara

menyatakan secara lisan dan jika responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya dan untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh responden. Lembar tersebut hanya diberi nomor kode nomor tertentu. Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti dan hanya digunakan untuk penelitian. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang disusun dengan berpedoman pada tinjauan pustaka. Instrumen ini terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu kuesioner data demografi dan kuesioner respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan. Pengumpulan Data Setelah mendapat izin penelitian, peneliti menjelaskan tujuan penelitian kepada responden dan bila responden setuju untuk menjadi sampel penelitian, maka peneliti mengajukan surat pesetujuan responden untuk ditandatangani. Setelah itu peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner secara teliti dan cermat serta tidak ada hal-hal yang terlewatkan. Peneliti juga mengingatkan responden untuk mengisi kuesioner sesuai dengan apa yang dialami/dilakukan oleh responden. Setelah diisi, kuesioner dikumpulkan kembali oleh peneliti dan diperiksa kelengkapannya. Apabila ada kuesioner yang tidak lengkap, maka dilengkapi pada saat itu juga. Analisa Data Dilakukan dengan program SPSS versi 12.0. Hasil analisa data baik data demografi, dan respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentasi.

HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden Data yang diperoleh menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia 18-25 tahun sebanyak 6 orang (50%), pada kelompok usia 26-33 tahun sejumlah 3 orang responden (25%). Berdasarkan jenis kelamin mayoritas responden adalah laki-laki sebanyak 9 orang (75%), status responden yang tidak menikah sebanyak 7 orang (58,3%), mayoritas responden beragama Islam sebanyak 10 orang (83,3%), dan bersuku Batak sebanyak 6 orang responden (50%). Sedangkan tingkat pendidikan responden mayoritas lulusan adalah SMU sebanyak 5 orang (41,7%), disamping itu terdapat 7 orang responden (58,3%) bekerja sebagai wiraswasta dan 4 orang responden (33,3%) telah dirawat selama masa rawatan 3 minggu di rumah sakit. Tabel 1. Distribusi frekuensi dan persentasi karakteristik responden di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan (n = 12)
Karakteristik Responden Usia 18 25 tahun 26 33 tahun 32 40 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Status Tidak menikah Menikah Agama Islam Kristen Suku Jawa Batak Aceh Pendidikan SD SMP SMU Sarjana Pekerjaan Tidak bekerja Ibu rumah tangga Wiraswasta Frekuensi 6 3 3 9 3 7 5 10 2 4 6 2 2 4 5 1 4 1 7 Persentasi 50,0 25,0 25,0 75,0 25,0 58,3 41,7 83,3 16,7 33,3 50,0 16,3 16,7 33,3 41,7 8,3 33,3 8,3 58,3

59

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 Universitas Sumatera Utara

Karakteristik Responden Penghasilan perbulan Tidak ada < Rp. 700.000,Rp. 700.000,Rp. 700.000 1.000.000,> Rp. 1.000.000,Lama masa rawatan 1 minggu 2 minggu 3 minggu 1 bulan

Frekuensi 5 3 2 1 1 3 3 4 2

Persentasi 41,7 25,0 16,7 8,3 8,3 25,0 25,0 33,3 16,7

PEMBAHASAN Adaptasi merupakan suatu proses perubahan yang menyertai individu dalam berespons terhadap perubahan yang ada di lingkungan dan dapat mempengaruhi kebutuhan baik secara fisiologis maupun psikologis yang akan menghasilkan perilaku adaptif. Hasil dari perilaku adaptifini dapat berupa semua respons dengan berusaha mempertahankan keseimbangan dari suatu keadaan (Hidayat, 2004). Flynn & Heffron (1984), menyatakan bahwa respons adaptasi merupakan reaksi individu yang dihasilkan dengan adanya suatu proses penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi dengan adanya suatu proses penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi pada diri individu, lingkungan dan hal-hal lain dalam kehidupan yang berlangsung secara terus menerus selama kehidupan dan respons yang dapat dihasilkan dapat berupa adaptif atau maladaptif. Hasil penelitian ini menunjukkan respons adaptasi terhadap fungsi fisiologis, mayoritas (83,3%) responden tidak dapat melakukan aktivitas apapun selama dirawat, hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Pakpahan (1996) bahwa klien fraktur dengan pemasangan gips atau traksi lebih cenderung immobilisasi di tempat tidur dan mengurangi aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya pergerakan pada daerah yang patah, hal ini sehubungan dengan proses penggabungan tulang (consolidasi) yang terjadi secara terusmenerus selama 6-12 minggu. Menurut Potter & Perry (1992) bahwa immobilisasi dan kurangnya aktivitas pada klien dapat mempengaruhi sistem sirkulasi darah, hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa (66,7%) responden merasa sering kebas pada kaki yang patah. Potter & Perry (1992) menyatakan bahwa secara fisiologis sistem tubuh akan berespons terhadap stimulus-stimulus yang mempengaruhi terjadinya stres dan klien dengn immobilitas yang lama cenderung

Respons Adaptasi Klien dengan Fraktur Extremitas Bawah Selama Masa Rawatan Berdasarkan hasil penelitian pada umumnya respons klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan adalah adaptif bahkan untk respons adaptsi peran 12 responden adalah 100% adaptif, untuk respons adaptasi fungsi fisiologis 7 responden (58,3%) adaptif, respons adaptasi konsep diri 11 responden (91,7%) adaptif dan respons adaptasi interdependensi 11 responden (91,7%) adaptif. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawahselama msa rawatan adalah 100% menghasilkan respons adaptif (Tabel 2). Tabel 2. Distribusi dan persentase respons daptasi berdasarkan respons adaptif dan maladaptif (n:12)
Respons Adaptasi Fungsi Fisiologis Konsep Diri Peran Interdepndensi Adaptif (n%) 7 (58,3) 11 (91,7) 12 (100) 11 (91,7) Maladaptif (n%) 5 (41,7) 1 (8,3) 0 (0) 1 (8,3)

Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan respons adaptasi klien dengan fraktur secara umum (n = 12).
Respons Adaptasi Kliendengan Fraktur Esktremitas Bawah Selama Masa Rawatan Adaptif Maldaptif Jumlah 12 (100%) 0 (0)

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 60 Universitas Sumatera Utara

untuk terjadi stres dan dampak yang dapat dilihat dari reaksi tubuh terhadap stimulusstimulus yang ada mempengaruhi fungsi dari kebutuhan dsar tubuh (nutrisi, cairan, eliminasi, dan istirahat) pernyataan ini sesuai dengan hari penelitian bahwa (75,0%) responden merasa selera makan menurun selama dirawat, (66,7%) responden merasa terganggu untuk buang air kecil/besar seama dipasang alat-alat dikaki, dan (58,3%) respoden merasa sulit tidur selama dirawat. Untuk respons adaptasi konsep diri sebanyak (50,0%) responden merasa kurang percaya diri bila berhadapan dengan orang lain, hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Stuart & Sundeen (1998), seseorang yang mengalami perubahan pada diri mencakup persepsi, perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh, fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat inidan masa lalu mempengaruhi sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar sehingga dapat menimbulkan rasa kurang percaya diri dalam berhubungan interpersonal, (41,7%) responden mudah tersinggung dan mudah marah, (33,4%) responden merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada kaki yang patah, dan hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Hidayat (2004), jika seseorang sakit maka terjadi perubahan dari perilaku norma antara lain menarik diri, tidak mau memikirkan orang lain (egosentris), dan memiliki reaksi emosional yang tinggi (menangis,mudah tersinggung, dan mudah marah). Hal ini juga bisa dikaitkan dengan hasil penelitian (25,0%) responden menyatakan bahwa mereka tidak berharga lagi sejak menglami patah tulang, namun (75%) responden menyatakan masih berharga sejak mengalami patah tulang, dan (8,3%) responden merasa setelah terjadi patah tulang pada kaki, istri/suami/keluarga tidak menyukai lagi. Hal ini menurut Kozier & Erb (1995)

bahwa seseorang dengan harga diri yang rendah sering merasa tidak dicintai dan sering mengalami depresi dan ansietas. Untuk respons adaptasi peryataan mayoritas (91,7%) responden merasa optimis untuk sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga, hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Suliswati (2005), rasa optimis, harapan, dan rasa saling menyayangi dan mengasihi merupakan ciri-ciri seseorang dengan konsep diri positif. Sebanyak (58,3%) responden menyatakan tidak setuju merasa tidak berdaya lagi dengan kondisi seperti ini dan menurut Muktadin (2002) penerimaan berbagai keadaan hidup merupakan keyakinan/pandangan positif yang dapat menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting untuk membentuk koping seseorang dalam menghadapi keadaanya. Menurut penelitian Baldree, Murphy dan Power (1982) juga melaporkan yang sama bahwa salah satu metode koping yang sering digunakan oleh individu adalah mempertahankan pengendalian terhadap situasi melalui penerimaan situasi tersebut danterhadap keadan yang lebih baik, namun penelitian tersebut tentang tingkat, jenis dan keparahan stressor dan metode koping terhadap stres yang umum terjadi (Yani,1997). Selanjutnya mayoritas (83,3%) responden berharap dapat berjalan kembali seperti dulu, mayoritas (83,3%) responden berharap dapat bekerja dan beraktivitas kembali, dan hal yang paling menarik dimana mayoritas (83,3%) responden semakin sering berdoa semenjak mengalami patah tulang, hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Potter & Perry (1992) bahwa setiap orang mempunyai dimensi spiritual yang dapat berupa kepercayaan akan sesuatu yang maha besar, perasaan menyatu dengan alam dan dunia sebagai suatu kesatuan serta perasaan positif akan tujuan dan makna kehidupan dimana kepercayaan-kepercayaan atau

61

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 Universitas Sumatera Utara

sikap-sikap tersebut dapat menjadi sumber kekuatan untuk beradaptasi terhadap terjadinya stres. Kebanyakan orang akan memikirkan upaya mencari dan mengandalkan dukungan spiritual sebagai sutu koping individual, sesungguhnya kepercayaan terhadap Tuhan dan spititual diidentifikasikan oleh individu sebagai cara yang paling penting bagi dirinya dalam mengatasi suatu stressor yang berkaitan dengaan proses kesehatan atau sebagai metode yang sangat penting dan sering digunakan dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, serta dukungan spiritual juga membuat individu mampu mentoleransi keteganganketegangan terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan (Chesler & Brbarin, 1987 dalam Friedman, 1998). Hasil penelitian respons adaptasi interdependensi menunjukkan (50,0%) responden mengharapkan perhatian dan dukungan dari keluarga dan orang di sekitar. Menurut Friedman (1998), sistem pendukung yang diberikan oleh keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan sosial yang dipandang anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses untuk keluarga. Demikian halnya Taylor (1995), menyatakan bahwa seseorang dengan dukungan sosial keluarga yang tinggi dapat mengalami penurunan level stres dan kemudian menimbulkan koping terhadap stres selanjutnya tercipta keberhasilan dalam beradaptasi. Sarasson & Pierce (1991 dalam Baron & Byrne, 2000) dukungan sosial yang diberikan oleh orang lain merupakan kenyamanaan fisik dan psikologis sedangkan dukungan sosial dari anggota keluarga menolong untuk menurunkan efek negatif stres pada kualitas hidup. Mayoritas (83,3%) responden sering berbagi rasa dengan pasien lain yang ada disekitarnya, hasil ini sesuai dengan pendapat Weisman, (1997) dalam Keliat, 1980 menyatakan salah satu koping yang

biasa digunakan oleh individu untuk menangani stres adalah kebersamaan dengan berbagai ras dan mengungkapkan perasaannya dengan berbicara kepada orang lain. Dan hal yang sama juga diungkapkan oleh Hartman dan Aird (1983, dalamFriedman, 1998) bahwa keterlibatan keluarga yang bermakna dan bernilai bagi klien merupakan cara lain bagi klien dan keluarga melakukan ungkapan bersama. Interaksi yang terjadi secara berulang-ulang dalam proses sosial dalam keluarga akan memelihara identitas diri dan berbicara secara intim tentang mereka sendiri dan persoalan-persoalan mereka terbukti penting bagi kesehatan psikologis pada saat stres. Hal ini dapat dilihat dari hasi penelitian bahwa sebanyak (66,7%) responden merasa senang bila keluarga datang, mayoritas (91,7%) responden sangat mencintai keluarga, dan (75,0%) responden berharap keluarga selau ada didekatnya. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa respons yang dihasilkan oleh klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa perawatan adalah (100%) menghasilkan respons adaptif. Hasil penelitian ini sesuai dengan empat model adaptasi Roy yang dimiliki oleh setiap individu untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam hidup antara lain fungsi fisiologis, konsep diri yang positif, peran, dan interdependensi, Bila keempat model adaptasi ini terpenuhi dengan baik maka respons yang dapat dihasilkan dalam proses beradaptasi terhadap perubahan dapat berupa perilaku adaptif dan bila keempat model adaptasi ini tidak terpenuhi dengan baik maka sebaliknya akan menghasilkan respons perilaku maladaptif (Roy, 1984). KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 12 responden menunjukkan

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 62 Universitas Sumatera Utara

bahwa respons adaptasi klien dengan fraktur ekstremitas bawah selama masa rawatan di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan, seluruh responden (100%) respons yang adaptif dan tidak ada responden yang memiliki repon yang maladptif, sehingga klien dengan fraktur ekstremitas bawah dapat beradaptasi secara adaptif terhadap perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungan disekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari konsep diri yang dimiliki klien fraktur serta masa perawatan yang rata-rata lebih dari satu minggu mempengaruhi klien untuk lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungan sekitarnya. Saran untuk penelitian selanjutnya Penelitian ini hanya dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan dengan jumlah sampel sebanyak 12 orang responden, hal ini disebabkan keterbatasan waktu dari peneliti. Oleh karena itu pada penelitian selanjutnya perlu dipertimbangkan untuk mengambil sampel dari rumah sakit yang lain sehingga jumlah sampel yang diperoleh lebih banyak sehingga lebih respresentatif. Saran untuk Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan dan Rumah sAkit Umum Dr. Pirngadi Medan. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa klien fraktur ekstremitas bawah yang dirawat selama masa perawatan di rumah sakit menghasilkan respons adaptif dalam penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungan sekitarnya. Disarankan untuk para perawat di rumah sakit tersebut agar dipertahankan hubungan komunikasi terapeutik dengan klien fraktur, selain itu perawat dapat mengidentifikasi respons yang adaptif atau maladaptif, sehingga perawat mampu mempertahankan respons klien yang adaptif dan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA Admin, (2005), Fraktur dan dislokasi. Di buka pada: 26 Maret 2006, dari http://indofirstid.com/situs/index .php?option=comconten&tasak=vi ew &id=70&itemid=72. Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian: suatu pendekatan praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta. Brockopp, D. Y. (1999). Dasar-dasar riset keperawatan. Ahli Bahasa, Yasmin, A., Anik, M. Jakarta: EGC. Berger, K. J. & Williams, M. B. (1992). Fundamental of nursing. Collaborating for optimal health. Connecticut: Appleton & Lange. Burns, N. & Grove, S. K. (1993). The practice of nursing research: conduct, critique and utilization. (2thEd). Philadelphia: W.B. Saunders Co. Callhoum, J. F., & Acocela, J. R. (1990). Psikologi tentang penyesuaian dan hubungan kemanusiaan (terjemahan). Semarang: IKIP Semarang Pers. Dempsey, P. A & Dempsey, A. D. (2002). Riset keperawatan: Buku ajar dan latihan. (edisi 4). Jakarta: EGC. Departemen Kesehatan R.I. (1989). Sinopsis dasar-dasar keperawatan. Jakarta: Pustaka pendidikan tenaga kesehatan. Dicson, R. A & Wright, V. (1992). Integrated clinical science Musculoskeletal disease.William Heincman Medical Book London Ltd Flynn, J. B & Heffron,P. B. (198). Nursing from cencep to practice. United Stated of America: Aprentice-Hall Publishing and Communication Co. Haney & Befus, Inc (2005) Patients adaptive experiences of returning to work following muskuloskeletal disorder: A mixe design study. Dibuka pada: 27 Maret 2006 dari http:/proquest.umi.com/pdweb?did= 938158261&6&Fmt=4&cientd=639 28 &RQT=309&Vname=PQD.

63

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 Universitas Sumatera Utara

Kozier, B & Erb. (1995). Fundamental of nursing: Concept, proses & practice. California: Addison Wesly Publishing. Lewis (2000). Medical surgical nursing, assesment and managemant of clinical problem, (edition 5). Philadelphia: Mosby. Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta; Rineka Cipta.

Pakpahan, R. H. (1996). Penyembuhan fraktur dan gambaran histologisnya. Bagian Ilmu Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Potter, P. A & Perry, A. G (1993). Fundmental of nursing: Concept, process and practice (3rdEd). Phildelphia. Mosby Co. Purwadrminta. (1980). Kamus bahasa Indonesia. Jakarta: Balai pustaka. Roy, S. C. (1984). Introduction to nursing; An adaptation model (2nd ed). New Jersey: Prentice-hall, Inc.

Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 2, November 2007 64 Universitas Sumatera Utara