Anda di halaman 1dari 18

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN
Kromatografi Lapis Tipis
Buah Mali-mali (Leea aquleata)

OLEH:
KELOMPOK VIII
NURUL MUTMAINNAH

(N111 10 905)

ISMAWATI

(N111 10 252)

ERWINDA DESRIANI AR

(N111 10 131)

IKA MERDEKAWATI

(N111 10 300)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Berbagai metode kromatografi memberikan cara pemisahan paling kuat
di laboratorium kimia. Gagasan dasarnya sederhana untuk dipahami,
caranya beragam, mulai dari cara sederhana sampai yang agak rumit dari
segi kerja dan peralatan, dan metode ini dipakai untuk setiap jenis senyawa.
Metode ini pemanfaatannya secara luas untuk pemisahan analitik dan
preparatif.
Kromatografi lapis tipis adalah suatu teknik pemisahan cara lama,
digunakan secara luas, terutama dalam analisis campuran yang rumit dari
sumber alam. Kromatografi lapis tipis lebih unggul bila sejumlah kondisi
pemisahan yang berbeda-beda diperlukan untuk menangani penetapan
kadar seluruh cuplikan, karena sejumlah bejana pengembang yang berisi
berbagai sistem pelarut dapat lebih hemat dipakai. Keuntungan lain, tiadanya
gangguan pelarut pada penyelidikan secara fotometri karena pelarut sebagai
fase gerak telah diuapkan.
Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan cara mengotak-atik
langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul, pada sistem kromatografi,
campuran yang akan dipisahkan ditempatkan dalam keadaan sedemikian

rupa sehingga komponen-komponennya harus menunjukkan dua dari ketiga


sifat tersebut yaitu kelarutan, adsorbsi, dan keatsirian.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami cara-cara pemisahan komponen
kimia dari suatu ekstrak buah tanaman mali-mali (Leea aquleata) dengan
menggunakan kromatografi lapis tipis.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Memisahkan dan mengidentifikasi komponen kimia dari suatu ekstrak
buah tanaman mali-mali (Leea aquleata) dengan metode KLT.
I.3 Prinsip Percobaan
Pemisahan komponen kimia yang terkandung dalam suatu ekstrak buah
tanaman mali-mali (Leea aquleata) dengan metode KLT berdasarkan
kecepatan partisi dan adsorbsi dari zat uji kedalam eluen dengan parameter
nilai Rf melalui identifikasi noda yang terbentuk di bawah sinar UV dengan
panjang gelombang 254 dan 366. Mempertegas bentuk noda kembali
dengan penyemprotan H2SO4.
.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


Kromatografi lapis tipis adalah metode kromatografi cair yang paling
sederhana. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan
perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada
kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah
fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen
campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran.
Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan
komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.(2)
Pada Kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas serupa dalam hal
fase diamnya berupa lapisan tipis dan fase geraknya mengalir karena kerja
kapiler. Perbedaannya dalam sifat dan fungsi fase diam. Pada KLT, fase cair
lapisan tipis (tebal 0,1-2 mm) yang terdiri dari bahan padat yang dilapiskan
kepada permukaan penyangga datar yang biasanya terbuat dari kaca, tapi
dapat pula terbuat dari pelat polimer atau logam. Lapisan melekat kepada
permukaan dengan bantuan bahan pengikat, biasanya CaSO 4 atau amilum
(pati) (1).
Pada KLT, zat penyerap merupakan lapisan tipis serbuk halus yang
dilapiskan pada lempeng kaca, plastik atau logam secara merata, umumnya

digunakan lempeng kaca. Lempeng yang umumnya dapat dianggap sebagai


kolom kromatografi terbuka dan pemisahan yang tercapai dapat didasarkan
pada adsorbsi, partisi atau kombinasi kedua efek, tergantung dari jenis zat
penyangga, cara pembuatan dan jenis pelarut yang digunakan (2).
KLT dengan lapis tipis penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan
senyawa polar. Perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan bercak
dengan harga Rf yang identik dan ukuran hampir sama, dengan menotolkan
zat uji dan baku pembanding pada lempeng yang sama. Perbandingan visual
ukuran bercak yang dapat digunakan untuk memperkirakan kadar secara
semikuantitatif (2).
Titik tempat campuran ditotolkan pada ujung pelat atau lembaran
disebut titik awal dengan cara menempatkan cuplikan itu disana disebut
penotolan. Garis depan pelarut adalah bagian atas fase gerak atau pelarut
ketika ia bergerak melalui lapisan, dan setelah pengembangan selesai ,
merupakan tinggi maksimum yang diperoleh pelarut. Perilaku senyawa
tertentu di dalam sistem kromatografi tertentu dinyatakan dengan harga Rf.
Angka ini diperoleh dengan membagi jarak yang ditempuh oleh bercak linarut
dengan jarak yang ditempuh oleh garis depan pelarut. Keduanya diukur dari
titk awal dan harga Rf beragam mulai dari 0 sampai 1 (1).
Ada dua metode kuantitasi analit dalam KLT (cocok untuk bahan anti
radioaktif). Pertama melibatkan sejumlah cara pengukuran langsung pada
lempeng

seperti

pengukuran

luas,

perbandingan

keterlihatan,

atau

densitometri. Kedua melibatkan pergerakan analit dari lempeng, diikuti


dengan tahap kuantitasi. Masing-masing metode mempunyai keuntungan
dan kerugian dan mempunyai kedudukan tersendiri dalam KLT kuantitatif.
Teknik ini terutama ditekankan pada densitometri (3).
Nilai Rf adalah karakteristik suatu komponen sehingga dapat
membedakan satu dengan lainnya, nilai Rf dipengaruhi oleh beberapa faktor
di antaranya:(5)
a.

Pelarut yang digunakan

b. Bahan pengemban (jenis dan ketebalan lapisan).


c. Suhu.
d. Kejenuhan ruangan akan pelarut.
e. Kelembaban udara.
f. Konsentrasi dan komposisi larutan yang diperiksa.
g. Panjang trayek migrasi.
h. Senyawa asing dan pencemaran pelarut.
i. Ketidakhomogenan lempeng.
Pengukuran berlangsung sebagai berikut:

Rf =

Pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang


ditambahkan kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour ketika

diberikan sinar ultraviolet (UV). Itu berarti jika menyinarkannya dengan sinar
UV, akan berpendar. Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada
kromatogram berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika
dilihat dengan mata. Itu berarti bahwa menyinarkan sinar UV pada
lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan posisi
bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.(5)
Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon
dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun,
pada permukaan jel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH. Jadi,
pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. Permukaan
jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan
hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana
halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol. (4)
Ketika pelarut mulai membasahi lempengan, pelarut pertama akan
melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada
garis dasar. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada lempengan
kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut.
Bagaimana cepatnya senyawa-senyawa dibawa bergerak ke atas pada
lempengan, tergantung pada:
1. Kelarutan senyawa dalam pelarut. Tergantung pada besar atraksi antara
molekul-molekul senyawa dengan pelarut.

2. Senyawa melekat pada fase diam, misalnya jel silika. Tergantung pada
bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan jel silika. Senyawa yang
dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat pada jel silika lebih kuat
dibanding senyawa lainnya hanya dapat mengambil bagian interaksi van
der Waals yang lemah. Kita mengatakan bahwa senyawa ini terjerap lebih
kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan merupakan pembentukan
suatu ikatan dari satu substansi pada permukaan.(4)
Penyerapan pada kromatografi lapis tipis bersifat tidak permanen,
terdapat pergerakan yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada
permukaan jel silika dan yang kembali pada larutan dalam pelarut. Dengan
jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan selama waktu
terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap pada jel silika-untuk
sementara waktu proses penjerapan berhenti-dimana pelarut bergerak tanpa
senyawa. Itu berarti bahwa semakin kuat senyawa dijerap, semakin kurang
jarak

yang

ditempuh

ke

atas

lempengan.

Bagaimanapun,

hal

ini

memungkinkan senyawa-senyawa tidak terpisahkan dengan baik ketika anda


membuat kromatogram. Dalam kasus itu, perubahan pelarut dapat
membantu dengan baik termasuk memungkinkan perubahan pH pelarut.(2)
Kromatogram pada KLT merupakan nodanoda yang terpisah setelah
visualisasi dengan cara fisika atau kimia. Visualisasi cara fisika yaitu dengan
melihat

noda

kromatogram

yang

mengabsorbsi

radiasi

berfluoresensi dengan radiasi UV pada 254 nm atau 366 nm (6).

UV

atau

Pada prinsipnya penampakan noda pada UV 254 adalah flouresensi


dari lempeng KLT tersebut sedangkan dalam UV 366 lempeng KLT menjadi
gelap sedangkan noda akan berfluoresensi. Pada UV 254 lempeng akan
berfluoresensi dan noda akan tampak menjadi gelap. Hal ini disebabkan
karena adanya daya interaksi antara sianr UV dengan indikator fluoresnsi
yang terdapat pada lempang. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan
emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ktika elektron yang
tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi
kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi. (5)
Sedangkan pada UV 366 noda akan berfluoresensi dan lempeng akan
tampak gelap. Penampakan noda pada UV 366 disebabkan karena adanya
daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh
auksokrom yang adapada noda tersebut. (5)
Pada saat disemprot menggunakan H 2SO4, pada prinsipnya yaitu
untuk mengoksidasi solute-solut organik yang akan nampak sebagai bercak
hitam sampai kecoklat-coklatan, sehingga noda dapat terdeteksi. (5)
Troubleshoot pada KLT, yaitu:
1. Noda yang berekor.
2. Kesalahan partisi
3. Penotolan yang terlalu tebal
4. Ekstrak yang terlalu kental.

BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan


III.1.1 Alat
Botol Eluen, Gelas Chamber, Gelas Vial, Gelas Ukur, Lampu UV
254/366, Lempeng kromatografi (silika gel), Penotol, Penyemprot KLT, dan
Pinset.
III.1.2 Bahan
Air suling, Asam Sulfat 10%, Ekstrak Sampel, Eluen, Etanol 95 %,
Kertas saring, dan Plat KLT GF254.
III.2 Cara Kerja
III.2.1 Persiapan Lempeng KLT dan Sampel
Disiapkan alat dan bahan. Diaktifkan lempeng KLT di oven pada suhu
105o-110oC selama 1 jam. Digunting lempeng sesuai ukuran yang
dikehendaki (biasanya ukuran 2 X 8 cm). Ditandai batas bawah dan batas
atas dengan pensil dengan ukuran 1 cm dan 0,5 cm. Dimasukkan fase
gerak/eluen ke dalam chamber sampai kira-kira ketinggian kurang dari 1 cm.
Dijenuhkan chamber dengan menggunakan kertas saring. Dilarutkan ekstrak
yang telah dipartisi (ekstrak butanol jenuh air dan heksan) dan ekstrak awal

ke dalam pelarut yang sesuai sampai diperoleh kepekatan yang sesuai, di


dalam botol vial. Ditotolkan ekstrak sampel pada batas bawah lempeng
dengan menggunakan pipa kapiler. Dimasukkan ke dalam chamber yang
telah dijenuhkan dengan eluen. Dibiarkan lempeng terelusi sampai batas
atas, kemduian angkat dan keringkan.
III.2.2 Identifikasi KLT
Diamati noda yang muncul dengan menggunakan penampak noda
lampu UV 254/366 nm dan H2SO4 10%. Dicatat warna noda yang muncul
dan hitung nilai Rf.

BAB VI
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Tabel Pengamatan


a. Eluen
Heksan : Etil =
Sampel
Ekstrak buah
tanaman mali-mali
(Leea aquleata)

Kode Noda
Awal
Larut Butanol
Larut Hexan

Nilai Rf
1.17

Warna Noda
UV 254 UV 366
Coklat
Coklat
Coklat
Coklat
Coklat
Coklat

b. Eluen
Heksan : Etil =
Sampel
Ekstrak buah
tanaman mali-mali
(Leea aquleata)

Kode Noda
Awal
Larut Butanol
Larut Hexan

Nilai Rf
1.17

Warna Noda
UV 254 UV 366
Coklat
Coklat
Coklat
Coklat
Coklat
Coklat

IV.2 Gambar Profil KLT


a. Eluen Heksan : Etil =
Pada UV 366

Pada UV 254

IV.3

Perhitungan nilai Rf
Jarak yang ditempuh oleh noda
Rf =
Jarak yang ditempuh oleh eluen

a. Eluen Heksan : Etil =


b. Eluen Heksan : Etil =

BAB V
PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dilakukan pemisahan komponen kimia yang


dikandung oleh ekstrak buah tanaman mali-mali (Leea aquleata) dengan
menggunakan metode kromatografi lapis tipis berdasarkan kecepatan partisi
dan adsorbsi dari zat uji ke dalam eluen dengan parameter Rf dari noda yang
terbentuk. Lempeng yang digunakan menggunakan adsorben yang terbuat
dari silika gel.
Peralatan yang digunakan pada KLT ini meliputi suatu lempeng tipis.
Dengan batuan alat ini bahan sorben dapat dibuat rata pada pelat dan dapat
dilapiskan dengan ketebalan yang diinginkan. Pelat ini memungkinkan
sejumlah larutan diperiksa dan larutan pembanding ditotolkan pada titik awal.
Selain pelat juga digunakan bejana kromatografi dari bahan tembus cahaya
dengan tutup rapat. Bejana dilapisi kertas saring dan sejumlah kecil fase
gerak dituangkan untuk penjenuhan kertas dan pada dasar bejana diisi
dengan pelarut pengembang setinggi kurang dari 1 cm. Ditutup dan dibiarkan
jenuh dengan eluen. Eluen yang dipilih adalah heksan dan etil. Digunakan
dua pelarut yang berbeda, dengan tujuan agar pemisahan dapat terjadi
secara optimal karena daya elusi campuran dua pelarut ini dapat mudah
diatur sedemikian rupa. Heksan bersifat nonpolar, dan etil bersifat polar.

Oleh karena itu, heksan diharapkan dapat menarik noda yang bersifat
nonpolar, dan etil dapat menarik noda yang bersifat polar.
Adsorben yang paling banyak digunakan dalam kromatografi lapis
tipis adalah silika gel dan aluminium oksida. Silika gel umumnya
mengandung bahan tambahan kalsium sulfat untuk mempertinggi daya
lekatnya. Silika gel digunakan sebagai adsorben untuk kromatografi
senyawa-senyawa netral, asam dan basa. Selain itu silika gel mempunyai
efek pemisahan melalui proses adsorbsi dan partisi.
Larutan zat uji ditotolkan 1 cm dari bawah dan minimum 0,5 cm dari
sisi pelat, sedemikian rupa sehingga terjadi noda teratur yang maksimum
berdiameter 6 mm, tetapi pada percobaan ini syarat tersebut tidak
diperhatikan sehingga lempeng yang digunakan lebarnya sangat kecil.
Penotol yang digunakan sebaiknya berdiameter 0,1 mm 1 mm, sehingga
larutan zat uji yang digunakan juga sesuai dengan apa yang diinginkan.
Setelah ditotolkan, pelat diuapkan agar . Lalu pelat diletakkan vertikal
dalam bejana kromatografi dan titik awal harus tetap berada disebelah atas
permukaan fase gerak. Bejana ditutup dan didiamkan hingga fase gerak
mencapai batas atas. Jika fase gerak sudah melewati trayek yang diberikan
dalam monografi, pelat dikeluarkan dari bejana dan dikeringkan di udara.
Tahap terakhir yang dilakukan adalah peneteksian bercak. Hal ini
dilakukan dengan dua cara, yaitu pengamatan dibawah lampu UV dengan
panjang gelombang 254 nm dan 366 nm dan penyemprotan dengan H 2SO4.

Tujuan penyemprotan yaitu untuk mengoksidasi solute-solut organik yang


akan nampak sebagai bercak hitam sampai kecoklat-coklatan.
Pada pendeteksian dibawah sinar UV 254, lempeng akan berpendar
dan noda akan gelap. Hal ini karena terjadinya interaksi antara sinar UV dan
indicator yang ada pada lempeng, sedangkan pada UV 366, lempeng akan
gelap dan nod akan berpendar. Disini terjadi interaksi antara sinar UV
dengan gugus kromofor yang ada pada sampel. Gugus kromofor merupakan
gugus/atom yang dapat menangkap sinar UV atau tampak.
Harga Rf merupakan parameter karasteristik kromatografi kertas dan
kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu
senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran
karasteristikdan reproduksibel. Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan
antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal.
Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi nilai Rf, maka
kesalahan dalam melakukan peraktikum ini tetap mesti ada. Misalnya suhu
udara pada saat praktikum dan kelembaban udara.

BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini adalah nilai Rf yang
diperoleh dari hasil pengamatan adalah pada ekstrak heksan sebesar 1.17

VI.2 Saran
Diharapkan alat-alat di laboratorium dapat dilengkapi sehingga
praktikum dapat berjalan dengan efektif dan efesien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gritter, J.R., dkk. 1991. Kromatografi. Bandung: Penerbit Institut


Teknologi. Hal. 1, 6, 8.
2. Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. Hal. 45, 46, 50, 1002
3. Munson, J.R..1991. Analisis Farmasi, Bagian B. Surabaya: Airlangga
University Press. Hal. 125, 128.
4. http://www.scribd.com/mobile/doc/58564555?
query=kromatografi+lapis+tipis. Diakses tanggal 20 April 2012
5. http://www.scribd.com/mobile/doc/34478497?
query=kromatografi+lapis+tipis. Diakses tanggal 20 April 2012
6. Mulja, M., Suharman. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya: Airlangga

University Press