Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, epifisial plate, sendi, baik bersifat total maupun parsial. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma, dimana terdapat gaya berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada monopouse (Reeves, Roux, Lockhart, 2001). Tibia merupakan tulang panjang yang paling sering mengalami cedera, mempunyai permukaan subkutan yang paling panjang, sehingga paling sering terjadi fraktur terbuka. Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam tingkat yang berbeda, daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik pendek, biasanya pada tingkat yang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit, cedera langsung akan menembus atau merobek kulit di atas fraktur. Apabila kulit diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup (sederhana). Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling lazim. Banyak diantara fraktur itu disebabkan oleh trauma tumpul, dan resiko komplikasinya berkaitan langsung dengan luas dan tipe kerusakan jaringan lunak. Pada fraktur dan dislokasi pergelangan kaki biasanya kaki tertambat di tanah sementara momentum tubuh terus ke depan, pasien dapat tersandung pada rintangan yang tak diduga-duga atau tangga, atau masuk ke dalam cekungan kecil di tanah, atau jatuh dari tempat tinggi.
1

Terjadinya fraktur akan berpengaruh besar terhadap aktifitas penderita khususnya yang berhubungan dengan gerak dan fungsi anggota yang mengalami cidera akibat fraktur. Berbagai tingkat gangguan akan terjadi sebagai suatu dampak dari jaringan yang cedera, baik yang disebabkan karena patah tulang maupun dikarenakan kerusakan jaringan lunak disekitar fraktur atau luka bekas infeksi saat dilakukan pembedahan.

1.2 Perumusan Masalah Bagaimana etiologi, klasifikasi, pemeriksaan fisik, diagnosis, dan penatalaksanaan fraktur ?

1.3 Tujuan Mengetahui etiologi, klasifikasi, pemeriksaan fisik, diagnosis, dan penatalaksanaan fraktur ?

1.4 Manfaat 1.4.1 Menambah wawasan mengenai penyakit bedah orthopedi khususnya fraktur. I.4.2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah orthopedi.

BAB II STATUS PENDERITA


2.1 Identitas Penderita Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Agama Alamat Status perkawinan Suku Tanggal MRS No. Reg : Ny.K : 43 tahun : Perempuan : IRT : Islam : Kepanjen : Menikah : Jawa : Kamis, 14 Maret 2013 pukul : 11.00 WIB : 315054

2.2 Anamnesa (Tanggal 14 Maret 2013) Keluhan utama : Nyeri tungkai bawah kanan

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke Poli Orthopedi RSUD Kanjuruhan dengan keluhan nyeri tungkai bawah kanan sejak 1 bulan yang lalu sebelum MRS. Nyeri dirasakan sekitar pergelangan kaki kanan setelah jatuh dari kamar mandi dan mengalami kesulitan saat berjalan. Pasien memiliki riwayat trauma pada tanggal 27 februari, saat akan berdiri pasien merasakan tungkai bawah kanan berbunyi kretek, jika dibuat berjalan sedikit nyeri. Kemudian 4 hari setelah bunyi kretek, pasien terpeleset di kamar mandi dengan posisi duduk, kedua kaki lurus. Sejak saat itu pasien tidak bisa berjalan, jika dibuat menumpu kaki kanan sangat nyeri. Pasien mengira hanya mengalami keseleo biasa, tetapi setelah 3 kali

pijat tidak ada hasilnya, kaki pasien semakin bengkak. Pasien juga mengaku sering merasa linu-linu, jika di pijat akan merasa baikan. Setelah terjatuh di kamar mandi pasien sadar dan tidak mengalami pusing, mual, ataupun muntah. Pasien tidak mengalami gangguan BAK ataupun gangguan BAB. Riwayat penyakit dahulu Riwayat trauma sebelumnya disangkal Pasien tidak pernah menjalani operasi sebelumnya Riwayat penyakit Asam urat (+) Riwayat tekanan darah tinggi (+)

Riwayat pengobatan Selama nyeri pasien mengkonsumsi obat anti nyeri yang diperoleh dari dokter umum. Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan untuk DM. Pasien mengkonsumsi obat-obatan untuk hipertensi. Pasien tidak menggunakan kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama.

Riwayat Keluarga Trauma Operasi DM Hipertensi (-) (-) (-) (-)

2.3 Pemeriksaan Fisik Status Lokalis : Regio cruris dextra Look : Luka (-), Deformitas (+) : terdapat penonjolan abnormal dan

angulasi minimal ke arah medial, oedem (+), warna kulit sama dengan sisi kirinya. Perdarahan aktif (-).

Feel

: Suhu rabaan hangat, nyeri tekan setempat (+), krepitasi (+),

NVD (neurovasculer disturbance) (-), kapiler refil time < 2 detik (+), arteri dorsalis pedis teraba. Move : Gerakan aktif dan pasif terhambat, gerakan fleksi cruris

dextra terhambat dan nyeri saat digerakkan, False of movement (+).

2.5 Resume Perempuan 43 tahun datang dengan keluhan Nyeri tungkai bawah kanan sejak 1 bulan yang lalu sebelum MRS. Nyeri dirasakan sekitar pergelangan kaki kanan setelah jatuh dari kamar mandi dan mengalami kesulitan saat berjalan. Pada pemeriksaan fisik regio cruris dextra didapatkan pada Look : deformitas minimal terdapat penonjolan abnormal dan angulasi minimal ke arah medial, disertai oedema minimal. Pada Feel didapatkan : Suhu rabaan hangat, nyeri tekan setempat, terdapat krepitasi, kapiler refil time < 2 detik, arteri dorsalis pedis teraba. Pada Move didapatkan : gerakan aktif dan pasif terhambat serta nyeri saat digerakkan. False of movement (+).

2.6 Diagnosa Kerja Close Fraktur Cruris Isolated Dextra

2.7 PLANNING DIAGNOSA Planning pemeriksaan 1. Foto Rontgen: Rontgen Cruris dextra AP-lateral dan Rontgen Thoraks 2. Laboraturium : DL: Hb, LED, Leukosit, Diff Count, CRP Faal Ginjal: Ureum, kreatinin Faal hepar : SGOT,SGPT, albumin Faktor pembekuan darah : PT, APTT

3. EKG
5

2.8 PLANNING TERAPI 1. Non-Operatif a. Non-Medikamentosa o Imobilisasi b. Medikamentosa o Analgetik 2. Operatif o Reposisi terbuka dan fiksasi interna : ORIF

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Anatomi Regio Cruris Dalam hal ini penulis akan membahas beberapa sistem yaitu: 1) sistem tulang, 2) sistem sendi, 3) sistem otot, 4) sistem syaraf, 5) sistem darah. A. Sistem Tulang 1). Tulang Tibia Tulang tibia terdiri dari tiga bagian yaitu epyphysis proksimalis, diaphysis dan epiphysis. Epiphysis proksimalis terdiri dari dua bulatan yaitu condilus medialis dan condilus lateralis. Pada permukaan proksimal terdapat permukaan sendi untuk bersendi dengan tulang femur disebut facies articularis superior yang ditengahnya terdapat peninggian disebut eminentia intercondyloidea. Di ujung proksimal

terdapat dataran sendi yang menghadap ke lateral disebut facies articularis untuk bersendi dengan tulang fibula. Diaphysis mempunyai tiga tepi yaitu margo anterior, margo medialis, dan crista interosea disebelah lateral. Sehingga terdapat tiga dataran yaitu facies medialis, facies posterior dan facies lateralis. Margo anterior di bagian proksimal menonjol disebut tuberositas tibia. Pada epiphysis distalis bagian distal terdapat tonjolan yang disebut

malleolus medialis, yang mempunyai dataran sendi menghadap lateral untuk bersendi dengan talus disebut facies malleolus lateralis. Epiphysis distalis mempunyai dataran sendi lain yaitu facies articularis inferior untuk dengan tulang talus dan incisura fibularis untuk bersendi dengan tulang fibula.

2). Tulang fibula Tulang fibula terletak disebelah lateral tibia mempunyai tiga bagian yaitu epiphysis proksimalis, diaphysis dan
7

epiphysis distalis. Epiphysis

proksimalis membulat disebut capitulum fibula yang kearah proksimal meruncing menjadi apex kapituli fibula. Kapitulum fibula mempunyai dataran sendi yaitu facies artycularis capituli fibula untuk bersendi dengan tulang fibula. Diaphysis mempunyai empat crista yaitu Krista lateralis, Krista medialis, Krista anterior, Krista interosea, dan tiga dataran yaitu facies medialis, facies lateralis, facies posterior. Epiphysis distalis kebelakang agak membulat dan sedikit keluar

disebut malleolus lateralis. Disebelah dalam terdapat dataran sendi yang disebut facies artycularis malleolus lateralis. Disebelah luar terdapat suatu sulcus disebut sulcus tendo musculi tendo perineum dan dilalui tendo otot peroneus longus dan peroneus brevis.

Gambar 2.1 Tulang Tibia dan Fibula kanan tampak depan (Putz, 2000) Keterangan gambar : 1. Tulang fibula 2. Tulang tibia

Gambar 2.2 Tulang tibia dan fibula dilihat dari belakang (Spalteholtz, 1987)

Keterangan gambar: Tulang tibia: 1. Facies articularis superior condylus lateralis 2. Facies articularis superior condylus medialis 3. Condylus medialis 4. Linea musculi solei 5. Foramen Nutricium Tulang fibula: 1. Apex caoitalis fibulae 2. Caput fibulae 3. Facies posterior 4. Crista medialis

6. Facies interosseus 7. Margo intercosseus 8. Margo medialis 9. Suleus malleolaris 10. Malleolus medialis

5. Margo posterior 6. Malleolus lateralis 7. Facies artcilaris malleoli

B . Sistem Otot Tabel 2.1 Otot-otot penggerak tungkai bawah bagian belakang 1 Otot Origo m. gastrocnemius - Planum popliteum 1. - Caput mediale di atas condilus - Caput lateral medialis - Bagian atas dan condylus lateralis 2 m. soleus - Bagian belakang femoralis capitallum fibulae dan bagian atas facies pasterior capitullum fibulae dan septum intermus culare posterior 3 m. tibialis posterior Membrana Interossea Fibula Tibia No Insertio Inervasi Fungsi Plantar Bagian N. tibialis fleksi kaki belakang (VS1, VS2) - Fleksi os.calcaneus sendi lutut Bagian posterior calcaneus N. tibialis - Plantar (VS1, VS2) fleksi kaki pada sendi pergelang an kaki

-Tuberositas N. tibialis os.Nacularis (VL5, VS1) Os.Coneiforme os.Cuboideum basis metatarsal 2,3,4

- Plantar fleksi kaki pada sendi pergelang an kaki - Inversi kaki - Plantar fleksi sendi pergelang an kaki - Fleksi sendi lutut

m. plantaris

Bagian bawah linea -Bagian N. tibialis posterior os. (VL5,VS1) supracondilaris dan os. planum Calcaneus popliteum femoris

(Spalteholz, 1987)

10

Tabel 2.2. Otot-otot penggerak tungkai bawah bagian lateral No Otot Origo Insertio Ivervasi 1 m.peroneus - Condylus - sisi lateral N.peroneus lateralis tibia os. longus superificialis - Capitulum cuneiforme (VL4,VS1) fibulae mediale - 2/3 - basis bagian os.metatars atas al lateralis ke I corpus tibulae 2 m.peroneus - 2/3 bagian - tuberositas n. peroneus bawah brevis superficialis os.Meta fibulae (VL4,VS1) tarsal ke 5 lateralis (Spalteholz, 1987) Tabel 2.3 Otot-otot penggerak tungkai bawah bagian depan No Otot Origo Insertio Invervasi 1 m. extensor digitorum longus Sisi lateral - keempat tibiae jari - facies kaki lateral anterior corpus fibulae membran a interossea - bagian lateral - sisi medial condylus cuneiforme lateralis tibia medialis - 2/3 corpus basis os I tibia bagian atas - membrana medial -

Fungsi Plantar fleksi kaki Eversi kaki

Plantar fleksi Eversi kaki

Fungsi

n.peroneus ekstensi jari profundus kaki

m. tibialis anterior

n.peroaeus profundal

ekstensi kakipada semi pergelan gan kaki - inversi

11

m. extensor hallucis longus

- pertengahan -facies n. -ekstensi medial facies profundus ibu jari kaki superior anterior fibularis (VL4-VS1) -ekstensi basis pada phalanx pergelangan -phalanx kaki distalis ibu -inversi jari kaki kaki

(Spalteholz, 1987) 1) Otot penggerak sendi lutut a) Otot penggerak fleksi lutut antara lain : musculus biceps femoris, musculus semi tendi nosus, semi membranosus. b) Otot penggerak ekstensi lutut antara lain : musculus vastus lateralis, vastus intermedius, musculus vastus medialis, musculus rectus femoris. c) Otot penggerak eksorotasi lutut antara lain : musculus biceps femoris, musculus extensor fascialata, musculus gastrocnemius caput medialis. d) otot penggerak endorotasi lutut antara lain : musculus semitendinosus, musculus semimembranosus, musculus gracilis, musculus popliteus, musculus gastrocnemius caput lateral. 2) Otot penggerak sendi ankle. a) Otot penggerak plantar fleksi antara lain : musculus Gastrocnemius, musculus hallucis Soleus, musculus Plantaris, musculus Fleksor

longus,musculus Tibialis posterior, musculus peroneus

longus, musculus peroneus brevis. b) Otot penggerak dorsi fleksi antara lain : musculus Tibialis anterior, musculus extensor digitorum longus, musculus peroneus tertius, musculus extensor hallucis longus. c) Otot penggerak inversi antara lain : musculus Tibialis anterior, musculus Tibialis posterior, musculus fleksor hallucis brevis. d) Otot penggerak eversi antara lain : musculus peroneus longus, musculus peroneus brevis,

12

1 2

4 6 7

Gambar 2.3 Otot tungkai bawah kanan tampak depan (Putz, 2000) Keterangan gambar: 1. m. Fibularis (peroneus) longus 5. m. Extensor hallucis brevis 2. m. Tibialis anterior 6. m. Fibularis brevis 3. m. Gastrocnemius 7. m. Extensor digitorum longus 4. m. Soleus 8. m. Extensor hallucis longus

C. Sistem Sendi 1). Sedi Lutut Sendi lutut adalah sendi yang komplit yang melibatkan empat tulang yaitu os femur, os tibia, os patella, serta os fibula. Lutut terdiri dari dua persendian yang berada dalam satu kapsul yaitu sendi tibiofemoral dan sendi patellofemoral (Norkin, femoralis lateralis 1995). Tibiofemoral dibentuk oleh condylus

dan medialis yang berbentuk cembung dengan tibia

plateu yang berbentuk cekung. Sendi patellofemoral dibentuk oleh facies patellaris tulang femur dengan tulang patella. Pada sendi lutut terdapat meniscus yang berbentuk bulan sabit. Berfungsi sebagai penyebar pembebanan, ada dua yaitu meniscus lateralis
13

dan meniscus medialis (Kapanji, 1987). Terdapat bursa yang merupakan suatu kantong yang berisi cairan yaitu bursa suprapatellaris, supra

subtendinosus, bursa intrapatellaris dan bursa prepatellaris subcutanea. Ligament yang memperkuat sendi lutut yaitu ligament collateral mediale, ligament collateral lateral, ligament cruciatum posterior dan ligament cruciatum anterior. LGS lutut secara pasif umumnya antara 130 dan 140. Hiperekstensi antara 5 sampai 10 masih dalam batas normal

( Williams, 1985). Secara aktif untuk fleksi 120 sampai 130 dan ekstensi (Palmer, 1990). Disamping sendi tibiofemoral dan sendi patellofemoral masih ada sendi ketiga yaitu sendi tibiofiburalis proksimal. Sendi ini tidak termasuk ke dalam sendi lutut karena secara fungsional lebih cendrung termasuk sendi pergelangan kaki. (de Wolf, 1990).

14

Gambar 2.4 Otot tungkai bawah kanan tampak belakang (Putz, 2000) Keterangan gambar : 1. m. Gastrocnemius lateralis 2. m. Gastrocnemius medialis 3. m. Gastrocnemius tendo 4. m. Soleus

15

2). Sendi pergelangan kaki Sendi pergelangan kaki terdiri dari tiga persendian, yaitu (1) tibiofibularis distalis, (2) sendi talocruralis dan (3) subtalar (Norkin, 1995). Sendi tibiofibularis distal dibentuk oleh incisura fibularis tibia dengan facies articularis fibula. Sendi tibiofibularis proksimal dan distal diperkuat oleh membrana interoseus yang terletak antara tibia dan fibula sendi talocruralis dibentuk oleh ujung distal tulang fibula yang membentuk permukaan

cekung dengan talus yang permukaanya cembung. Sendi subtalar dibentuk oleh tulang talus dan calcaneus.

D. Sistem Syaraf Sistem persyarafan pada tungkai atas berasal dari plexus sacralis mensyarafi otot-otot pada sekitar tungkai atas. a. Sistem persyarafan tungkai atas 1) Nervus femoralis

Merupakan cabang tersebut dari cabang plexus lumbalis. Nervus ini bersisi dari tiga bagian plexus anterior yang berasal dari n. Lumbalis (L2, 3 dan L4). Nervus tersebut muncul dari tepi lateral musculus Psoas di dalam abdomen dan berjalan kebawah diantara m. Psoas dan M Iliacus.

Ia terletak dibelakang fascia iliaca dan memasuki paha lateral terhadap arteri femoralis dan selubung femoral dibelakang ligamen inguinale dan berakhir dibawah ligamen inguinale dan pecah menjadi divisi anterior dan posterior. Nervus femoralis mensyarafi semua otot ruas anteroir paha (Sneel, 1997). 2) Nervus obturatorius

Nervus obturatorius berasal dari plexus lumbal (L2, 3 dan 4) dan muncul pada tepian m. Psoas didalam abdomen ia berjalan kebawah dan kedepan pada dinding lateral pelvis untuk mencapai bagian atas foramen obturatorium, hal ini pecah
16

menjadi

devisi anterior

dan

posterior.

Devisi

anterior

memberi

cabang-cvabang muscular pada m.

Brachialis, m. Adductor brevis dan adductor longus. Sedang devisi posterior mensarafi articularis genus dan memberi cabang-cabang muscular kepada m. Obturatorius externus, adductor magnus (Chusid, 1991). 3) Nervus gluteal superior dan inferior superior dan inferior, melalui bagian atas cabang plexus dan bawah sacralis foramen

Nervus gluteal meninggalkan pelvis

ischiadicus majus diatas musculus piriformis. Dan bagian bawah foramen isciadicus mensarafi tensorfacialata, m. Gluteus minimus serta gluteus meximus (Sneel, 1993). 4) Nervus ischiadicus

Nervus ischiadicus merupakan cabang plexus sacralis (L4, 5 dan S1, 2, 3) meningggalkan longum regio glutealis menuju kebawah sepanjang caput

m. Biceps

femoris. Setelah sampai pertengahan paha

pada bagian posterior ditutupi oleh tepian m. Biceps femoris dan m. Semimembranosus yang berdekatan. Nervus ini terletak pada apex posterior m. Adductor magnus pada sepertiga pada bagian paha bawah kemudian berahkir dan pecah menjadi n. Tibialis dan n. Peroneus communis. Nervus ischiadicus pecah menjadi terminal pada bidang lebih tinggi pada bagian atas paha, regio gluteal bahkan didalam pelvis (Chusid, 1991).

17

Gambar 2.5 Nerve peroenus communis L4,5 dan S1,2 (Chusid, 1991) Keterangan gambar 2.5 : 1. Sciatic nerve 2. Comon peroneal nerve 3. Deep peroneal nerve 4. M. tibialis anterior 5. Supervicial peroneal nerve 6. M. extensor digitorium longus

Gambar 2.6 Nerve tibialis L4,5 dan S1,3 (Chusid, 1991) 7. M. Peroneus longus 8. M. extensor hallucis longus 9. M. peroneus brevis 10. M. peroneus tertius 11. M. extensor digitorium brevis 12. Sural nerve

Keterangan gambar 2.6: 1. Sciatic nerve 9. M. flexor hallucis nerve 2. Comon peroneal nerve 10. Comon peroneal nerve 3. M. gastrocnemius 11. Medial sural cutaneous nerve 4. M. popliteus 12. Lateral sural cutaneous nerve 5. M. plantaris 13. Sural nerve 6. M. soleus 14. Medial plantar nerve 7. M. tibialis posterior 15. Lateral plantar nerve 8. M. gigitorium longus

E. Sistem Pembuluh Darah a. Pembuluh darah arteri Arteri membawa darah keluar dari jantung menuju tubuh dan arteri ini selalu membawa darah segar berisi oksigen, kecuali arteri pulmonare yang membawa darah kotor yang memerlukan oksigenasi. Pembuluh darah arteri pada tungkai antara lain: 1) Arteri femoralis Arteri femoralis memasuki bagian paha melalui bagian lutut belakang dari ligamentum inguinale dan merupakan lanjutan dari arteri iliaca external. Dan terletak dipertengahan antara SIAS (Spina Iliaca
18

Anterior Superior) dan symphysis pubis (Sneel, 1993). Arteri femoralis merupakan pemasok darah utama bagian tungkai, berjalan menurun hampir vertikal ke tuberculum adductor femoralis dan berakhir pada lubang otot magnus dengan memasuki spatica poplitea sebagai arteri poplitea.

Gambar 2.7 Pembuluh darah vena pada tungkai bawah dilihat dari belakang (Spalteholtz, 1987) Keterangan gambar: 1. V. provundum femoris 3. V. saphena magna 2. V. popliteum 4. V. saphena parva

Gambar 2.8 Pembuluh darah arteri pada tungkai bawah (Carola, R, 1990)

19

Keterangan gambar: 1. Common iliac artery 2. Internal iliac artery 3. External iliac artery 4. Femoral artery 5. Deep (profunda) femoral artery 6. Popliteal artery 7. Anterior tibial artery 8. Proneal artery

9. Posterior tibial artery 10. Lateral plantar artery 11. Plantar arterial artery 12. Medial plantar artery 13. Dorsal metatarsal arteries 14. Dorsal artery of foot 15. Perforating branch of personal artery 16. Anterior tibial arterior

3.2. Fraktur 3.2.1 Definisi Fraktur Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang disebabkan karena rudapaksa (Jong&Sjamsuhodajat,2005) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Fraktur ekstremitas bawah adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang terjadi pada ekstremitas bawah yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung, misalnya sering terjadi benturan pada ekstremitas bawah yang menyebabkan fraktur pada tibia dan fibula.

3.2.2 Penyebab Fraktur Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat: 1. Peristiwa trauma
20

Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat yang terkena, jaringan lunaknya juga pasti rusak. Bila terkena kekuatan tak langsung, tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. 2. Fraktur kelelahan atau tekanan Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau fibula atau metatarsal, terutama pada atlet, penari, dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh. 3. Fraktur patologik Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit Paget). Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam tingkat yang berbeda; daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik pendek, biasanya pada tingkat yang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit; cedera langsung akan menembus atau merobek kulit diatas fraktur. Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling lazim. Banyak diantara fraktur itu disebabkan oleh trauma tumpul, dan resiko komplikasinya berkaitan langsung dengan luas dan tipe kerusakan jaringan lunak. Tscherne (1984) menekankan pentingnya menilai dan menetapkan tingkat cedera jaringan lunak: C0 = kerusakan jaringan lunak sedikit dengan fraktur biasa C1 = abrasi dangkal atau kontusio dari dalam C2 = abrasi dalam, kontusio jaringan lunak dan pembengkakan, dengan fraktur berat
21

C3 = kerusakan jaringan lunak yang luas dengan ancaman sindroma kompartemen.

3.2.3 Klasifikasi fraktur tulang 1) Klasifikasi klinis a. fraktur tertutup disebut juga closed fracture. Tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan lingkungan luar. b. fraktur terbuka disebut juga compound fracture. Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari luar). Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustilo, Merkow dan Templeman (1990): Grade I - Panjang luka < 1 cm - Biasanya berupa tusukan dari dalam kulit menembus ke luar - Kerusakan jaringan lunak sedikit - Fraktur biasanya berupa fraktur simpel, transversal, oblik pendek atau sedikit komunitif Grade II Laserasi kulit > 1 cm Tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau avulsi kulit Kerusakan jaringan sedang Sedikit kontaminasi dari fraktur

Grade III Kerusakan jaringan lunak hebat Kontaminasi hebat Dibadi menjadi 3 subtipe:
22

IIIA : Jaringan lunak cukup untuk menutup fraktur , Fraktur bersifat segmental atau komunitif hebat IIIB: Trauma hebat dengan kerusakan dan kehilangan jaringan, pendorongan periosteum, tulang terbuka, kontaminasi hebat , Fraktur bersifat komunitif hebat IIIC: Fraktur terbuka yang disertai kerusakan arteri dan saraf tanpa memperhatikan tingkat kerusakan jaringan lunak. c. Fraktur dengan komplikasi Fraktur yang disertai komplikasi seperti infeksi, mal-union, delayed union, non-union. 2) Klasifikasi Radiologis a. Berdasarkan Lokasi Fraktur dapat terjadi di berbagai tempat pada tulang seperti pada diafisis, metafisis, epifisis, atau intraartikuler. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka dinamakan fraktur dislokasi. b. Berdasarkan konfigurasi D i l i h a t d a r i g a r i s f r a k t u r n ya , d a p a t d i b a g i m e n j a d i t r a n s v e r s a l (mendatar), oblik (miring), atau spiral (berpilin). Jika terdapat lebih dari satu garis fraktur, maka dinamakan kominutif.

3.2.4

Fraktur Tibia fibula Fraktur adalah suatu keadaan dikontinuitas jaringan struktural pada tulang tibia dan fibula ( Silvia Anderson Price, 1995 ) Fraktur cruris adalah terputusnya kontiunitas tulang tibia dan fibula ( Purnawan junaidi 1982 ) Fraktur terbuka adalah terputusnya kontiunitas tulang yang diakibatkan oleh trauma beberapa fraktur sekunder dan proses penyakit seperti osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang patologis ( Barbara Engram, 1999 ; 136 ).
23

Ada 2 tipe dari fraktur cruris yaitu 1. Fraktur intra kapsuler : yaitu terjadi dalam tulang sendi panggul dan kapsula o Melalui kapital fraktur o Hanya dibawah kepala femur o Melalui leher dari femur 2. Fraktur ekstra kapsuler o Terjadi di luar sendi dan kapsul melalui trokanter cruris yang lebih besar atau yang lebih kecil pada daerah intertrokanter o Terjadi di bagian distal menuju leher cruris tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokanter terkecil Selain 2 tipe di atas ada lebih dari 150 klasifikasi fraktur diantaranya 5 yang utama adalah : 1. Incomplete : Fraktur yang hanya melibatkan bagian potongan menyilang tulang satu sisi patah yang lain biasanya hanya bengkok (green stick) 2. Complete : Garis fraktur melibatkan seluruh potongan

menyilang dari tulang dan fragmen tulang biasanya berupa tempat 3. Tertutup (simple) : Fraktur tidak meluas melewati kulit

4. Terbuka ( complete ) : Fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit dimana potensial untuk terjadi infeksi 5. Patologis : Fraktur terjadi pada penyakit tulang ( seperti kanker, osteoforosis ) dengan tak ada trauma hanya minimal.

24

3.2.5

Diagnosis Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis

lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik yang baik, namun sangat penting untuk dikonfirmasikan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk membantu mengarahkan dan menilai secara objektif keadaan yang sebenarnya. A. Anamnesa Penderita biasanya datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi ditempat lain. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian atau jatuh dikamar mandi pada orang tua,

penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan pada pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olah raga. Penderita biasanya datang karena nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain. B. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya: Syok, anemia atau perdarahan. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis (penyakit Paget).

Pada pemeriksaan fisik dilakukan: Look (Inspeksi) - Deformitas: angulasi ( medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi,perpendekan atau perpanjangan).
25

- Bengkak atau kebiruan. - Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak). - Pembengkakan, memar dan deformitas mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh. Kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera itu terbuka (compound). Feel (palpasi) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan: - Temperatur setempat yang meningkat - Nyeri tekan; nyeri tekan yang superfisisal biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang. - Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati. - Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku. - Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan. Move (pergerakan) - Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif. - Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya. - Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf. 3. Pemeriksaan Penunjang Sinar -X
26

Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta eksistensi fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis. Tujuan pemeriksaan radiologis: Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi. Untuk konfirmasi adanya fraktur. Untuk mengetahui sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya. Untuk mengetahui teknik pengobatan. Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak. Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstraartikuler. Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang. Untuk melihat adanya benda asing.

Pemeriksaan dengan sinar-X harus dilakukan dengan ketentuan Rules of Two: Dua pandangan Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X tunggal dan sekurang-kurangnya harus dilakukan 2 sudut pandang (AP & Lateral/Oblique). Dua sendi Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami fraktur atau angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain juga patah, atau suatu sendi

27

mengalami dislokasi. Sendi-sendi diatas dan di bawah fraktur keduanya harus disertakan dalam foto sinar-X. Dua tungkai Pada sinar-X anak-anak epifise dapat mengacaukan

diagnosis fraktur. Foto pada tungkai yang tidak cedera akan bermanfaat. Dua cedera Kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari 1 tingkat. Karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar-X pada pelvis dan tulang belakang. Dua kesempatan Segera setelah cedera, suatu fraktur mungkin sulit dilihat, kalau ragu-ragu, sebagai akibatresorbsi tulang, pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari kemudian dapat memudahkan diagnosis. Pencitraan Khusus Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu dinyatakan apakah fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana yang terkena dan lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri. Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu penyembuhan fraktur, misalnya penyembuhan fraktur transversal lebih lambat dari fraktur oblik karena kontak yang kurang. Kadang-kadang fraktur atau

keseluruhan fraktur tidak nyata pada sinar-X biasa.Tomografi mungkin berguna untuk lesi spinal atau fraktur kondilus tibia. CT atau MRI mungkin merupakan satu-satunya cara yang dapat membantu, sesungguhnya potret transeksional sangat penting untuk visualisasi fraktur secara tepat pada tempat yang sukar. Radioisotop
28

scanning berguna untuk mendiagnosis fraktur-tekanan yang dicurigai atau fraktur tak bergeser yang lain.

3.2.6

Teknik Penanganan

Penatalaksanaan Fraktur : Non Operatif 1. Reduksi Reduksi adalah terapi fraktur dengan cara mengantungkan kaki dengan tarikan atau traksi. 2. Imobilisasi Imobilisasi dengan menggunakan bidai. Bidai dapat dirubah dengan gips dalam 7-10 hari, atau dibiarkan selama 3-4 minggu. 3. Pemeriksaan dalam masa penyembuhan Dalam penyembuhan, pasien harus di evaluasi dengan pemeriksaan rontgen tiap 6 atau 8 minggu. Program penyembuhan dengan latihan berjalan, rehabilitasi ankle, memperkuat otot kuadrisef yang nantinya diharapkan dapat mengembalikan ke fungsi normal

Operatif Penatalaksanaan Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu: a. Absolut - Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak, sehingga memerlukan operasi dalam penyembuhan dan perawatan lukanya. - Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk memperbaiki jalannya darah di tungkai. - Fraktur dengan sindroma kompartemen. - Cidera multipel, yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas pasien, juga mengurangi nyeri. b. Relatif, jika adanya: - Pemendekan
29

- Fraktur tibia dengan fibula intak - Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama Adapun jenis-jenis operasi yang dilakukan pada fraktur tibia diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Fiksasi eksternal a. Standar Fiksasi eksternal standar dilakukan pada pasien dengan cidera multipel yang hemodinamiknya tidak stabil, dan dapat juga digunakan pada fraktur terbuka dengan luka terkontaminasi. Dengan cara ini, luka operasi yang dibuat bisa lebih kecil, sehingga menghindari kemungkinan trauma tambahan yang dapat memperlambat kemungkinan penyembuhan. Di bawah ini merupakan gambar dari fiksasi eksternal tipe standar.

b. Ring Fixators Ring fixators dilengkapi dengan fiksator ilizarov yang menggunakan sejenis cincin dan kawat yang dipasang pada tulang. Keuntungannya adalah dapat digunakan untuk fraktur ke arah proksimal atau distal. Cara ini baik digunakan pada fraktur tertutup tipe kompleks. Di bawah ini merupakan gambar pemasangan ring fixators pada fraktur diafisis tibia.

30

c. Open reduction with internal fixation (ORIF) Cara ini biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang mencapai ke metafisis. Keuntungan penatalaksanaan fraktur dengan cara ini yaitu gerakan sendinya menjadi lebih stabil. Kerugian cara ini adalah mudahnya terjadi komplikasi pada penyembuhan luka operasi. Berikut ini merupakan gambar penatalaksanaan fraktur dengan ORIF.

31

d. Intramedullary nailing Cara ini baik digunakan pada fraktur displased, baik pada fraktur terbuka atau tertutup. Keuntungan cara ini adalah mudah untuk meluruskan tulang yang cidera dan menghindarkan trauma pada jaringan lunak. Di bawah ini adalah gambar dari penggunaan intramedullary nailing.

2. Amputasi Amputasi dilakukan pada fraktur yang mengalami iskemia, putusnya nervus tibia dan pada crush injury dari tibia.

3.2.6

Komplikasi

1) Infeksi Infeksi dapat terjadi karena penolakan tubuh terhadap implant berupa internal fiksasi yang dipasang pada tubuh pasien. Infeksi juga dapat terjadi karena luka yang tidak steril. 2) Delayed union Delayed union adalah suatu kondisi dimana terjadi penyambungan tulang tetapi terhambat yang disebabkan oleh adanya infeksi dan tidak tercukupinya peredaran darah ke fragmen.

32

3) Non union Non union merupakan kegagalan suatu fraktur untuk menyatu setelah 5 bulan mungkin disebabkan oleh faktor seperti usia, kesehatan umum dan pergerakan pada tempat fraktur. 4) Avaskuler nekrosis Avaskuler nekrosis adalah kerusakan tulang yang diakibatkan adanya defisiensi suplay darah. 5) Mal union Terjadi pnyambungan tulang tetapi menyambung dengan tidak benar seperti adanya angulasi, pemendekan, deformitas atau kecacatan. 6) Trauma saraf terutama pada nervus peroneal komunis. 7) Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan ini biasanya disebakan karena adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah.

3.2.7

Prognosis Menurut Soeharso (1993), fraktur dapat disembuhkan atau disatukan

kembali fragmen-fragmen tulangnya melalui operasi. Namun ada sebagian jenis fraktur yang sulit disatukan kembali fragmen-fragmen yaitu fraktur pada tulang ulna, tulang radius, tulang fibula dan tulang tibia. Fraktur pada daerah elbow, caput femur dan cruris dapat menyebabkan kematian karena pada daerah tersebut dilewati saraf besar yang sangat berperan dalam kehidupan seseorang. Prognosis fraktur tergantung dari jenis fraktur, usia penderita, letak, derajat keparahan, cepat dan tidaknya penanganan. Prognosis pada pasca operasi fraktur cruris 1/3 tengah tergantung pada jenis dan bentuk fraktur, bagaimana operasinya, dan peran dari fisioterapi. Prognosis dikatakan baik jika penderita secepat mungkin dibawa ke rumah sakit sesaat setelah terjadi trauma, kemudian jenis fraktur yang diderita ringan, bentuk dan jenis perpatahan simple, kondisis umum pasien baik, usia pasien relative
33

muda, tidak terdapat infeksi pada fraktur dan peredaran darah lancar. Penanganan yang diberikan seperti operasi dan pemberian internal fiksasi juga sangat mempengaruhi terutama dalam memperbaiki struktur tulang yang patah. Setelah operasi dengan pemberian internal fiksasi berupa plate and screw, diperlukan terapi latihan untuk mengembalikan aktivitas fungsionalnya. Pemberian terapi latihan yang tepat akan memberikan prognosis yang baik bilamana (1) quo ad vitam baik jika pada kasus ini tidak mengancam jiwa pasien, (2) quo ad sanam baik jika jenis perpatahan ringan, usia pasien relative muda dan tidak ada infeksi pada fraktur, (3) quo ad fungsionam baik jika pasien dapat melakukan aktivitas fungsional, (4) quo ad cosmeticam yang disebut juga dengan proses remodeling baik jika tidak terjadi deformitas tulang. Dalam proses rehabilitasi, peran fisioterapi sangat penting terutama dalam mencegah komplikasi dan melatih aktivitas fungsionalnya.

34

DAFTAR PUSTAKA

Adams, C. J, 1992; Outline of Fracture Including Joint Injuries; Tenth edition, Churchill Livingstone.

Appley, A. Graham, Louis Solomon, 1995; Terjemahan Ortopedi, dan Fraktur Sistem Appley; Edisi Ketujuh, Widya Medika, Jakarta.

Basmajian, John, 1978; Therapeutic Exercise.; Third edition, The William and Wilkins, London.

Chusid, JG, 1993; Neuro Anatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional. Edisi empat, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

De Wolf, A,N, 1994; Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh. Cetakan Kedua, Hauten Zeventen.

Data RSO Dr. Soeharso Surakarta, 2005; Jurnal Penderita Fraktur Cruris; RSO Dr. Soeharso Surakarta.

Ekawati, Indriana Dani. 2008. Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kasus Post Fraktur Cruris 1/3 Tengah Dextra Dengan Pemasangan Plate and Screw Di Bangsal Bougenville Rumah Sakit Orthopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Karya Tulis Ilmiah. Diakses pada tangal 8 November 2011.

Garrison, S. J, 1996; Dasar-dasar Terapi Latihan dan Rehabilitasi Fisik; Terjemahan Hipocrates, Jakarta. Kisner, Carolyn and Lynn Callby, 1996; Therapeutic Exercise Fundation and Techniques: Third edition , FA. Davis Company, Philadelphia.

35

Mahyudin, Lestari. 2010. Fraktur Diafisis Tibia. (http://www.Belibis17.tk. Diakses pada tanggal 7 November 2011.

Norkin, C. C, Joice and White, 1995; Measurement of Joint Motion a Guide to Goniometry; Second edition, F. A Davis Company, Philadelpia.

Norkin and White, 1995; Measurement of Joint Motion a Guide to Goniometry; Second Edition, F.A Davis Company , Philadelpia.

Russe, OA ,& John JG , 1975; International SFTR Method Of Measuring and Receding Joint Motion: First Edition, Hans Hubber Publishers Bern Stuttgart Vienna, Switzerland.

Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang Lamumpatue. Sabilla, Harini. 2011. Fraktur Kruris Tertutup.

http://www.scribd.com/doc/49565121/BAB-II. Diakses pada tanggal 8 November 2011.

Sjamsuhidajat R, Jong W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi II. Jakarta: EGC.

Skinner, Harry B. 2006. Current Diagnosis & Treatment In Orthopedics. USA: The McGraw-Hill Companies.

Snell, Richard. S, 1998. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Bagian 2.Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

36