Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KULTUR IKAN HIAS

Tekhnologi Budidaya Ikan Mas Koi

OLEH:

IKA RAHMA DEWI ( L 221 12 276 )

BUDIDAYA PERAIRAN JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Ikan Koi termasuk ke dalam golongan ikan carp (karper). Ikan koi pertama kali dikenal pada dinasti Chin tahun 265 dan 316 Masehi. Koi dengan keindahan warna dan tingkah laku seperti yang kita ketahui saat ini, mulai dikembangkan di Jepang, 200 tahun yang lalu, di pegunungan Niigata oleh petani Yamakoshi. Pemuliaan yang dilakukan bertahun-tahun menghasilkan garis keturunan yang menjadi standar penilaian koi. Beberapa varietas yang tersebar ke seluruh dunia digolongkan Asosiasi Koi Jepang (en Nippon Airinkai) menjadi 13 kelompok antara lain: Bekko, Utsurinomo, Asagi-Shusui, Goromo, Kawarimono, Ogon dan Hikari-moyomono. Sedangkan 5 golongan utama yaitu Kohaku, Sanke, Showa, Hirarinuji dan Kawarigoi. Nilai koi tergantung dari ukuran, bentuk serta keseimbangan pola dan intensitas warna kulit. Koi terbaik adalah yang memiliki intensitas, keseimbangan dan kejernihan warna terbaik. Membeli koi kecil sebaiknya dipilih yang memiliki kepala terbesar, biasanya akan tumbuh menjadi ikan dengan tubuh besar. Bentuk yang paling baik adalah seperti torpedo. Taksonomi koi adalah sebagai berikut: Philum : Chordata Kelas : Actinopterygii Ordo : Cyprinoformes Famili : Cyprinidae Genus : Cyprinus Spesies: Carpio Ikan koi di Indonesia merupakan ikan hias favorit dan banyak digemari masyarakat luas karena tubuhnya yang mempesona dan harganya relatif tidak terlalu mahal. Ikan koi sekarang ini masih menjadi salah satu komoditas perdagangan yang cukup baik dalam bidang perikanan (Effendy, 1993). Selama ini kegiatan budidaya (pembenihan dan pembesaran) ikan koi cenderung dilakukan secara mandiri, atau bila ada kerjasama biasanya pemilik modal hanya memberi pinjaman dalam bentuk uang, sehingga mengikat petani pembenih sebagai peminjam. Petani pembenih akan menjual benih ikannya ke pendeder atau

bakul dengan harga yang berfluktuasi dan pendeder membeli benih kepada pembenih dengan keputusan harga lebih kuat di tangan pembenih.

1.2.Rumusan Masalah 1. Bagaimana tekhnik pembudidayaan ikan koi? 2. Bagaimana tekhnik pembesaran ikan koi? 1.3.Tujuan 1. Untuk mengetahui tekhnik pembudidayaan ikan koi 2. Untuk mengetahui tekhnik pembesaran ikan koi.

BAB II PEMBAHASAN

A. tekhnik pembudidayaan ikan koi a. seleksi induk Syarat utama induk adalah calon induk sudah matang kelamin dan matang tubuh. Matang kelamin artinya induk jantan sudah menghasilkan sperma dan induk betina sudah menghasilkan telur yang matang. Matang tubuh artinya, secara fisik mereka sudah siap menjadi induk-induk produktif. Syarat lain fisiknya prima, tidak cacat. Sirip-siripnya lengkap, juga sisiknya. Gerakannya anggun, seimbang , tidak loyo. Umur jantan minimal 2 tahun, betina minimal 3 tahun. Betina lebih besar dibandingkan jantan, perutnya terlihat lebih besar dibandingkan punggung. Jantan sebaliknya, lebih langsing dan perutnya rata jika dilihat dari punggung. Sirip induk jantan siap kawin akan muncul bintik-bintik putih (Anonim.2011). Seekor induk betina berpasangan dengan 2 atau 3 induk jantan. Jika seekor betina hanya diberi seekor jantan di kolam pemijahan dan tak disangka jantannya ngadat, gagallah pemijahan. Dengan menyediakan stok jantan lebih dari satu, kegagalan pemijahan bisa dihindari(Anonim.2011). Disarankan untuk tidak menggunakan stok induk yang paling bagus, karena keturunannya biasanya jelek. Anak keturunannya belum tentu sebagus induknya. Yang dipijahkan sebaiknya koi biasa saja, tetapi masih memiliki sifatsifat unggul, seperti warnanya pekat. Pada saat seleksi benih, nantinya bisa dipilh mana yang bagus dan mana yang diafkir(Anonim.2011).

b. pematangan gonad induk (alami dan buatannya) Ikan koi umumnya mencapai ukuran induk pada umur dua atau tiga tahun. Tidak ada perlakuan khusus dalam pematangan induk, untuk memacu pematangan induk yang dilakukan adalah pemberian pakan dengan takaran dan kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh induk. Syarat utama induk adalah calon induk sudah matang kelamin dan matang tubuh. Matang kelamin artinya induk jantan sudah menghasilkan sperma dan induk betina sudah menghasilkan

telur yang matang. Induk jantan matang kelamin bila perutnya diurut akan mengeluarkan cairan berwarna putih pekat, sperma. Sedangkan induk betina dilihat dari ukuran perut yang membesar dan warna lubang genital kemerahan. Matang tubuh artinya, secara fisik mereka sudah siap menjadi induk-induk produktif. Syarat lain fisiknya prima, sirip lengkap, sisik lengkap dan tidak cacat, gerakan anggun dan seimbang, serta tidak loyo. Betina lebih besar dibandingkan jantan, perutnya terlihat lebih besar dibandingkan punggung. Jantan sebaliknya, lebih langsing dan perutnya rata jika dilihat dari punggung. Secara morfologi fisik tersebut induk betina dan jantan relatif sulit dibedakan, tetapi perbedaan tersebutdapat dilihat pada Gambar 13 (perut betina terlihat besar dan perut jantan lebih langsing). Ikan betina yang perutnya terlalu besar tidak selalu mencerminkan jumlah telur yang banyak, terutama jika induk tersebut memiliki kandungan lemak tubuh yang berlebih. Kandungan lemak tersebut dapat dikarenakan pemberian pakan yang kurang cocok. Penanggulangan yang biasa dilakukan petani koi untuk menangani masalah ini adalah dengan mempuasakan induk betina pada air hangat dengan menggunakan heater sampai perutnya tidak terlalu besar dan setelah itu induk siap dipijahkan. (a) induk betina (b) induk jantan

c. pemijahan(alami dan buatannya) Kolam pemijahan tidak mungkin menjadi satu dengan kolam taman. Kolam pemijahan harus mempunyai pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air tersendiri.Selain itu, seluruh kolam harus diplester dan bisa dikeringkan dengan

sempurna. Luas kolam pemijahan bervariasi. Untuk kolam sempit dapat menggunakan kolam seluas 3-6 m2 dengan kedalaman 0,5 m. Lokasi kolam cukup mendapatkan sinar matahari, tidak terlalu ribut, terlindung dari jangkauan anak-anak dan binatang peliharaan lain. Jika mungkin, sediakan juga kolam penetasan telur dan perawatan benih. Kolam penetasan, bentuknya bisa persegi panjang atau bulat. Kalau kolam bulat, diameternya antara 1,5-2 m. Satu kolam lagi jika ada, yaitu kolam untuk menumbuhkan pakan alami yang dipakai untuk lmensuplai pakan benih jika kuning telurnya telah habis. Kedalaman kolam sekitar 30 cm. Luas kolam antara 6-10 m2, cukup memadai. Bagi yang memiliki uang cukup, dinding kolam bisa dilapis vinil yaitu bahan yang biasa untuk membuat bak fiberglass. Dengan lapisan vinil, kolam-kolam tersebut lebih terjamin kebersihannya dan efek dari semen bisa dihilangkan. Induk yang baik adalah yang memiliki pola warna bervariasi yang cerah simetris dengan bentuk tubuh seperti terpedo dengan berat badan minimal 1 kg. Kebanyakan pembudidaya memilih untuk membeli koi berkualitas baik untuk calon induk dengan ukuran 5-8 cm yang harganya murah untuk dibesarkan menjadi induk. Secara alami, carp memijah pada musim semi dan menjadi matang gonad dengan menaikkan suhu air. Induk jantan dan betina ditempatkan dalam wadah terpisah (untuk menghindari bertelur yang tidak diinginkan) dan tidak diberi pakan selama beberapa hari. Koi dapat memijah secara alami dan buatan yaitu dengan rangsangan hormon yang disuntikkan pada tubuh induk betina untuk mempercepat proses pembuahan. Penyuntikan Pituitary Gland (PG, nama dagang ovaprim) dengan dosis 0,2 mg/kg bobot ikan untuk satu kali penyuntikan. Ovulasi akan terjadi 10 jam setelah penyuntikan. Sistem pemijahan tanpa

pengurutan/stripping ini disebut pemijahan semi alami yang lebih aman karena tanpa melukai ikan. Bila ikan sulit melakukan pemijahan alami sehingga perlu bantuan proses pembuahan buatan, maka dilakukan pengurutan telur dan sperma (stripping) yang merupakan pilihan terakhir. Induk betina dalam sekali pemijahan dapat menghasilkan 75.000 telur/kg berat badan. Perbandingan jumlah induk dalam proses pemijahan adalah 2 betina dan 1 jantan. Biasanya telur yang dikelurkan oleh induk betina menempel pada substrat (injuk) yang segera dibuahi

oleh sperma jantan. Setelah telur dibuahi sebaiknya dipisahkan dari induk, dengan memindahkan induk dari wadah pemijahan atau sebaliknya telur yang diangkat dan dipindahkan kedalam wadah penetasan.

d. fertilisasi(pembuahan) Pembuahan atau fertilisasi merupakan asosiasi gamet, dimana asosiasi ini merupakan mata rantai awal dan sangat penting pada proses fertilisasi. Rasio pembuahan sering digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi kualitas telur. Penggabungan gamet biasanya disertai dengan pengaktifan telur. Selama fertilisasi dan pengaktifan, telur-telur ikan teleostei mengalami reaksi kortikal. Kortikal alveoli melebur, melepaskan cairan koloid, dan selanjutnya memulai pembentukan ruang periviteline. Terjadinya fertilisasi yang telah dilaksanakan, untuk mengamati terjadinya fertilisasi secara jelas, maka kita pilih terlebih dahulu gambar telur mana yang mengalami matang telur. Matang telur atau telur yang siap dibuahi, mengenai ciri yang paling terlihat adalah inti sel yang berada di pinggir atau mengarah pada dinding (mikrofil). Ternyata setelah diamati pada layar mikroskop, masuknya sperma ke dalam sel telur melalui lubang mikrofil, terjadinya sangat cepat sekali sehingga hanya beberapa dari kita yang benar-benar melihatnya. Sesaat setelah salah satu dari ribuan sperma masuk kedalam ovum, maka dalam telur terjadi suatu perubahan atau pengembangan. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik): gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi. Fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan kehidupan di darat): sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul dengan fertilisasi. Setelah pembuahan, telur itu membentuk membran fertilisasi untuk merintangi pemasukan sperma lebih lanjut. Kadang-kadang sperma itu diperlukan hanya untuk mengaktivasi telur

e. penetasan telur (alami dan buatan) Telur yang sudah dibuahi akan menetas setelah 24-48 jam tergantung suhu. Selama penetasan, kepadatan telur adalah 1 kg per 5 liter air. Larva yang baru menetas belum memerlukan pakan selama 3-4 hari, karena masih mempunyai kantong kuning telur. Menjelang kuning telur habis, perlu diberikan pakan alami berupa naupli artemia atau pakan alami lainnya yang seukuran. Kemudian secara bertahap dapat diberikan pakan buatan berupa butiran kering(pellet). Dalam 5 hari sesudahnya 1 juta larva memerlukan 7 kg artemia, atau sekitar 0,5-2 kg per hari. Pada tahap ini larva ditebar pada kepadatan 20-40 larva/liter. Untuk menghasilkan 1 juta fingerling memerlukan sekitar 25kg telur artemia. Sintasan selama 9 hari adalah 50-80%. Ikan yang seberat 10 mg dapat dijual seharga US$ 0,25 atau sekitar Rp. 2.500,-. Larva yang berbobot 0,25 g diberikan pakan buatan (butiran) kering dan dapat didederkan ke kolam hingga ukuran fingerling (2 gram). Pendederan terbagi atas 2 tahap yaitu pendederan I selama 2 bulan pemeliharaan hingga larva mencapai ukuran fingerling (2-3 cm). Pendederan II dilakukan dalam kolam yang diolah untuk menumbuhkan pakan alami dan dilakukan seleksi dan penjarangan (mengurangi kepadatan). Penjarangan bertujuan untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi ikan koi. Seleksi bertujuan untuk mendapatkan ikan Koi berkualitas baik. Waktu yang diperlukan dari telur hingga mencapai ukuran fingerling (2 gram) adalah 6-8 minggu dengan nilai sintasan (SR) 55%. Sedangkan untuk mencapai ukuran 5-8 cm diperlukan waktu 4 bulan. Kualitas ikan koi (pola dan warna) bergantung dari tetuanya. Dari hasil seleksi ukuran fingerling, yang afkir mencapai 25-50%. Dari 1 juta telur dapat dihasilkan 225.000-338.000 ekor fingerling berkualitas baik (2233 %). f. perawatan larva (alami dan buatan) Larva yang baru menetas langsung dipelihara di kolam penetasan (inkubasi) telur, tidak dipindahkan ke kolam lain. Pemeliharaan larva dilakukan hingga mencapai ukuran benih 1,5 cm selama + 25 hari. Setelah pemeliharaan, benih tersebut akan ditebar ke dalam kolam pendederan pertama.

Pemberian Pakan Larva tidak diberi pakan dari luar hingga kuning telur habis (+ umur 5 hari). Saat umur 5 hari dilakukan penjarangan larva untuk mencegah kematian masal karena jumlah yang terlalu padat. Penjarangan dilakukan dengan membagi larva yang ada ke dalam dua kolam pemeliharaan larva. Pada umur 5-8 hari larva tersebut sudah definitif dan dapat dikatakan sebagai benih. Selama 4 hari ini, benih sudah diberi pakan berupa kuning telur bebek setiap 2 hari sekali. Pemberian pakan ini dilakukan dengan mencampur 2 butir kuning telur yang sudah direbus dengan 4 liter air, kuning telur dihancurkan sampai halus dan membentuk campuran. Kemudian campuran air dengan kuning telur tersebut disebarkan ke dalam kolam pemeliharaan benih secara merata. Dan pada umur 825 hari benih (hingga panen) diberi pakan berupa cacing sutera secara ad-libitum. Penambahan cacing sutera dilakukan 2 hari sekali. Pengelolaan Kualitas Air Wadah pemeliharaan larva adalah wadah yang sama dengan kolam pemijahan dan inkubasi telur. Jadi, sejak pemijahan hingga pemeliharaan larva tidak dilakukan pergantian air, hanya dilakukan penambahan air hingga ketinggian 60 cm untuk memelihara larva. Penambahan air dilakukan 2 kali dalam selama 1 siklus karena terjadi penyusutan, contohnya akibat evaporasi. Aerasi dihidupkan untuk menjaga suplai oksigen. Hama dan Penyakit Pada Pemeliharaan Larva dan Benih Hama yang menjadi pengganggu pada pemeliharaan telur hingga larva antar lain ikan kecil, larva capung, keong, dan kodok bangkok (Gambar 19). Ikanikan kecil yang menjadi hama selama pemeliharaan larva berasal dari sisa benih siklus sebelumnya yang tertinggal setelah proses pembersihan wadah atau masuk bersama enceng gondok. Ukurannya lebih besar daripada larva-larva yang ada. Ikan-ikan kecil ini dapat memakan larva dalam jumlah besar. Penanggulangannya adalah dengan mengeluarkan ikan-ikan kecil tersebut menggunakan serok. Menurut Dart dan Iwan (2006), ukuran larva capung atau dragon-fly larvae (Odonata sp.) dapat mencapai 2 cm. Biasanya larva ini masuk kolam bersama dengan tanaman air karena tempat persembunyiannya di akar tanaman atau terbenam dalam kotoran kolam. Makanannya berupa larva ikan sehingga sangat

merugikan. Dalam sehari saja bisa kehilangan banyak larva ikan. Pemberantasan hama ini dengan diserok karena mudah dilihat, lalu dimusnahkan. Bila jumlahnya terlalu banyak, pemberantasannya dengan pemberian insektisida Sumithion 0,01 ml/l air. Selain itu, pemberantasan bias dengan pengurasan kolam hingga bersih. Setelah dikeringkan, kolam dapat diairi untuk digunakan kembali. Pemanenan Benih Setelah pemeliharaan selama + 25 hari, benih telah mencapai panjang ratarata 1,5 cm. Pada saat itulah dilakukan pemanenan benih. Pemanenan benih dilakukan pada sore hari. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan serok berbentuk segitiga dan memiliki salah satu sisi yang melebar. Selain serok tersebut, digunakan pula serok berukuran lebih kecil dengan ukuran jaring 0,5 mm sampai 1 mikron (Gambar 20). Proses pemanenan dilakukan dengan menyeser seluruh benih yang terdapat di dalam kolam pembenihan menggunakan serok, lalu benih tersebut dimasukkan ke dalam ember. Benih di dalam ember dapat dibawa langsung atau dipindahkan ke dalam plastik packing terlebih dahulu sebelum diangkut ke kolam pendederan untuk dipelihara lebih lanjut. B. tekhnik pembesaran a. wadah pemeliharaan Ikan koi secara alami hidup di air deras sehingga membutuhkan air jernih dan berkadar oksigen tinggi. Pemeliharaan ikan koi yang terbaik adalah di kolam sehingga mudah mendapatkan makanan alami dan sinar matahari untuk merangsang pewarnaan tubuh. Kolam sebagian dinaungai karena sinar matahari yang terlalu banyak menyebabkan suhu air kolam meningkat dan air kolam menjadi keruh akibat blooming fitoplankton. Koi berukuran kecil dapat ditempatkan di akuarium, walaupun ini tidak dapat menjadi habitat permanen. Bila dipelihara dalam kelompok, koi akan belajar untuk tidak mengganggu ikan yang berukuran sama, tetapi memakan ikan yang lebih kecil. Koi suka menggali dasar kolam sehingga menyebabkan akar tanaman rusak. b. pengelolahan kualitas air

Air merupakan media hidup dan mempengaruhi kualitas tampilan ikan koi sehingga perlu mendapat perhatian. Kualitas air untuk mendukung perkembangan koi secara optimum adalah sebagai berikut: v suhu air berkisar 24-26oC,v pH 7,2-7,4 (agak basa), v oksigen minimal 3-5 ppm, v CO2 max 10 ppm, v nitrit max 0,2. Air yang digunakan harus terdeklorinisasi atau sudah disaring dan diendapkan 24 jam. Air yang digunakan untuk pemijahan dan penetasan telur sebaiknya memiliki kandungan oksigen dan suhu yang stabil. Untuk menjamin tersedianya oksigen dapat digunakan aerator, sedangkan suhu pada bak pemijahan diusahakan sama dengan suhu air kolam dengan tingkat perbedaan (fluktuasi) kurang dari 5oC.

c. pengelolahan pakan Koi adalah bottom feeder (pemakan di dasar) dan omnivora (pemakan segala). Meski demikian ia biasa makan apa saja yang bisa dimakan, seperti pucuk daun, atau berburu cacing di dasar sungai. Maka inilah guna dari sungut yang ada pada mulut ikan. Pakan buatan untuk pembesaran koi dapat diberikan dalam bentuk butiran (pellet). Sumber protein utama adalah formulasi kombinasi antara bahan nabati (misalnya tepung kedelai, tepung jagung, tepung gandum, tepung daun, dll) dan bahan hewani (seperti; tepung ikan, tepung kepala udang, tepung cumi,kekerangan dll) serta multivitamin dan mineral seperti Ca, Mg, Zn, Fe, Co sebagai pelengkap pakan(Abid.2012). Kualitas pakan sangat menentukan tampilan warna sebagai daya tarik ikan koi sendiri, sehingga banyak upaya telah dilakukan dengan menggunakan bahan pakan yang mengandung zat pigmen seperti karotin (warna jingga), rutin (kuning) dan astasantin (merah). Zat-zat tersebut terkandung pada tubuh hewan dan tumbuhan tertentu seperti wortel mengandung zat karotin; sedangkan ganggang, chlorella, kubis, cabai hijau mengandung rutin; spirulina, kepiting, udang mengandung astasantin. Para pembudidaya saat ini tidak perlu lagi menyiapkan pakan sendiri karena sudah tersedia di pasaran pakan koi yang sudah di formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan zat untuk pembentukan warna ikan koi(Abid.2012). Pakan alami atau pakan

hidup misalnya cacing darah, cacing tanah, daphnia, cacing tubifex cocok diberikan pada benih koi (hingga bobot 50 g/ekor) karena lebih mudah dicerna oleh benih sesuai dengan kondisi sistem pencernaan, selain itu koi juga dapat memakan phitoplankton dalam kolam(Abid.2012). Jumlah pakan diberikan berdasarkan jumlah ikan (bobot biomassa) dalam kolam dengan kisaran kebutuhan 3-5 % per-hari, dengan frekuensi pemberian 2-3 kali per-hari hal ini juga disesuaikan dengan kondisi ikan dan media air pemeliharaannya. Menurut pengalaman dan penelitian bertahun tahun, ditemukanlan bahan bahan aktif yang dapat ditambahkan untuk membuat warna koi lebih cemerlang. Koi yang dipelihara di kolam Lumpur ternyata memiliki kualitas warna yang lebih cemerlang dibandingkan dengan yang dipelihara di kolam tembok. Ternyata ikan loi tersebut banyak menyantap ganggang yang memang tumbuh di Lumpur. Ganggang yang dimakan koi mengandung banyak zat karoten. Maka kalau anda ingin menambah warna ikan lebih cemerlang beri makan krill, paprika, dan daun marigold, semuanya dapat anda campurkan dalam makanannya. Banyak makanan sumber karoten ini sudah dalam bentuk extract sehingga mudah dicampurkan dengan pellet atau roti (Abid.2012). d. pengelolahan hama dan penyakit Hama yang terdapat di lingkungan sekitar kolam dan dapat mengganggu pemeliharaan induk ikan koi antara lain ular, belut, ucrit (ulat dengan dua capit di kepala), kutu ikan, kepiting sawah, dan cacing jarum (Gambar 11). Sedangkan Penyakit pada ikan koi bermacam-macam, antara lain Koi Herpes Virus (KHV) yang disebabkan virus, kutu ikan yang disebabkan oleh parasit Argulus sp., Lernea (cacing jangkar), ada juga yang berupa ulcer (borok), kerusakan insang dan organ lain, serta pembengkakan pada perut. Penyakit yang disebabkan KHV sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Oleh karena itu, penanggulangan ikan yang terkena KHV adalah dengan memisahkan ikan yang terserang KHV dari kolam pemeliharaan induk agar tidak menular pada ikan lainnya. Serangan hama berupa kutu ikan biasanya ditangani dengan perendaman dalam larutan abate dengan dosis 3-5gr dalam 10L air (0,3-0,5 ppt) selama 24 jam atau dengan Diphterex berdosis 0,5-1,0 ppm selama 24 jam. Pengobatan bisa dengan garam

dapur sebanyak 2-3% selama 10-15 menit (Anonim, 2009). Kolam pemeliharaan induk dapat juga diberikan desinfeksi dengan cara mengeringkan kolam, kemudian dilakukan penebaran FASTAC

e. panen yang terdiri dari : 1. berdasarkan warna Warna koi yang dianggap bagus adalah yang benar-benar cemerlang. Artinya Jika dalam seekor koi terdapat warna putih, maka putihnya harus benarbenar putih tanpa ada gradasi kehitam-hitaman. Demikian pula Jika pada koi terdapat warna merah, maka merahnya harus mencolok, tidak boleh kemerahmerahan. Hitam pun demikian. Inilah yang sering dipakai untuk membedakan antara koi lokal dengan harga lokalnya dibandingkan koi impor dengan harganya yang selangit. Koi lokal umumnya warnanya belum sempurna benar, lain dengan koi impor yang sudah tidak diragukan lagi. Selain gradasi warna, bercak atau titik yang tidak layak tidak boleh ada. Misalnya saja pada bagian badan yang berwarna putih bersih tidak boleh ada setitik pun warna merah atau warna hitam. Masing-masing warna harus terpisah secara nyata, dan masing-masing mempunyai hidang yang berbeda. Antara warna merah, putih, hitam, dan warna lain harus terpisah dan tidak boleh bercam-pur. Bintik putih pun tidak boleh hadir pada bidang yang berwarna merah ataupun hitam. Jika kita temukan koi yang tubuhnya diselimuti selaput putih, itu merupakan pertanda bahwa koi sedang kedinginan.

2. berdasarkan ukuran Tabel Tingkat Pertambahan Panjang Ikan Koi Umur Koi 0 tahun 0,5 tahun 1 tahun Panjang 0,7 cm 13 cm 23,3 cm

1,5tahun 2 tahun 2,5 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun 7 tahun 8 tahun

32,1 cm 39,5 cm 45,8 cm 51,1 cm 59,3 cm 65,2 cm 69,4 cm 72,5 cm 74,6 cm

Tabel Hubungan Antara Panjang Koi dengan Berat Koi Panjang 1 inch 5 inch 10 inch 15 inch 20 inch 25 inch 30 inch 35 inch 3. berdasarkan pola Semua tanda-tanda dalam tubuh koi haruslah seimbang. Bagian putih pada mulut dan bagian ekor paling penting. Kepala yang membentuk huruf seharusnya ideal, tapi yang berbentuk unik yang sering dibutuhkan. Dua bagian yang menjadi pusat penilaian adalah bagian kepala dan bahunya dan daerah ekor. Daerah kepala dan punggung jauh lebih penting dibandingkan daerah ekor. Warna merah pada kepala harus lebar dan tegas. Garis putih pada leher sangat diharapkan sekali pada seekor Kohaku. Pada daerah ekor yang sangat diharapkan Berat 0,001 Kg 0,09 Kg 0,69 Kg 2,3 Kg 5,6 Kg 10,9 Kg 18,8 Kg 29,8 Kg

adalah warna putih yang bersih, tidak kehitam-hitaman. Pola warna yang keiihatan berat pada daerah ini sungguh tidak diharapkan. Warna merah yang buram misalnya, sangat tidak diharapkan hadir pada daerah ini. Corak merah-hitam di tubuh koi yang berwarna putih harus seimbang dan artistic. Artinya warna tertentu tak boleh hanya membungkus satu sisi saja dari tubuh koi. Keseimbangan pola merah di atas warna putih harus menjadi pertimbangan utama, meski boleh saja polanya saling melangkahi, atau bersambungan. Dapat dipahami jika banyak orang memilih pola yang belang / saling melangkahi, karena warna merah-putih di pola ini terlihat bisa saling mengisi. Sanke dengan pola hi yang bersambungan dari kepala hingg ekor dikenal sebagai aka sanke. Jenis ini kurang disukai, karena warna merah yang terlalu dominan membuatnya nampak berat. Jika ada bagian putih yang memisahkan ekor dengan warna merah yang ada di dekat ekor, maka jenis inilah yang digemari. Tanda merah di bibir koi (disebut kuchibeni) menjadi nilai tambah jika ia meningkatkan penampilan koi secara keseluruhan. Sanke yang bagus memiliki corak merah di bagian kepala, tapi harus tanpa warna hitam sama sekali. Pola di kepala ini haruslah sedikit membentang melewati mata tapi tidak boleh menyentuh hidung atau bibir, menyisakan bagian putih di ujung kepala. Jika kepala sepenuhnya berwarna merah (disebut menkaburri), koi akan terlihat seperti memakai kerudung dan ini dianggap negatif. Namun demikian, beberapa koi bisa tetap terlihat bagus meski memiliki pola tersebut.

BAB III PENUTUP

3.1. Simpulan Ikan Koi termasuk ke dalam golongan ikan carp (karper). Ikan koi pertama kali dikenal pada dinasti Chin tahun 265 dan 316 Masehi. Ikan koi di Indonesia merupakan ikan hias favorit dan banyak digemari masyarakat luas karena tubuhnya yang mempesona dan harganya relatif tidak terlalu mahal. Ikan koi sekarang ini masih menjadi salah satu komoditas perdagangan yang cukup baik dalam bidang perikanan Selama ini kegiatan budidaya (pembenihan dan pembesaran) ikan koi cenderung dilakukan secara mandiri, atau bila ada kerjasama biasanya pemilik modal hanya memberi pinjaman dalam bentuk uang, sehingga mengikat petani pembenih sebagai peminjam. Petani pembenih akan menjual benih ikannya ke pendeder atau bakul dengan harga yang berfluktuasi dan pendeder membeli benih kepada pembenih dengan keputusan harga lebih kuat di tangan pembenih.

DAFTAR PUSTAKA Abid, M. SH . Tips budidaya ikan koi. : http://datapendidik.blogspot. com/2012/06/tips-budidaya-ikan-koi.html#ixzz2oUC5aij0. Diakses pada Kamis, 26 Desember 2013, pukul 22.13 WITA. 2011. Cara pemijahan ikan koi. http://carabudidayaternak. blogspot.com/2011/02/cara-pemijahan-ikan-koi.html. Diakses pada Kamis, 26 Desember 2013, pukul 22.13 WITA.

Anonim.

https://docs.google.com/file. Diakses pada Kamis, 26 Desember 2013, pukul 22.13 WITA.


Firdaus, Rahmat. 2010. Cara budidaya ikan koi. www.bacaebook.com.pdf. Diakses pada Kamis, 26 Desember 2013, pukul 19.32 WITA.

KATA PRNGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan limpahan rahmat dan karunia-Nyalah sehingga penulis masih sempat menyelesaikan Tugas Makalah ini sebagai prasyarat dari proses Belajar Mengajar. Semoga makalah Tekhnologi budidaya ikan koi ini dapat bermanfaat sebagai mana mestinya kepada setiap pembaca. Namun penulis menyadari bahwa makalah yang telah disusun ini masih mempunyai kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritikan yang membangun dari segala pihak sangat penulis butuhkan.

Makassar, 26 Desember 2013

Penulis