Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

Prolaps rektum merupakan suatu keadaan turunnya rektum melalui anus.

Prolaps rektum jarang ditemukan bahkan jarang dibahas, tetapi jumlah kasus yang sebenarnya tidak diketahui karena jarang dilaporkan khususnya bila terjadi pada daerah terpencil.Prolaps rektum lebih sering terjadi pada orang dewasa dan bayi.Prolaps rektum atau prosidensia yang lengkap pada orang dewasa biasanya terjadi pada perempuan, terutama pada perempuan usia di atas 60 tahun. Prolaps rectum yang berupa keluarnya seluruh tebal dinding rectum harus dibedakan dari prolaps mukosa yang dapat terjadi pada hemoroid intern. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa umumnya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intra abdomen. Penunjang rectum terdiri dari mesenterium dorsal, lipatan peritoneum, berbagai fasia, dan m. levator rectum. Bagian puborektum dari m. levator melipatkan rectum sehingga rectum dan anus membentuk sudut tajam. Prolaps rectum pada anak ditemukan sebagai kelainan bawaan atau karena kebiasaan menahan fesesnya. Pada orang dewasa, prolap kadang disebabkan oleh cedera m.puborektalis atau paralisis otot panggul.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFENISI Prolaps rektum adalah turunnya rektum melalui anus. Dalam hal ini terjadi penonjolan mukosa rektum atau seluruh dinding rektum. Prolaps rektum yang bersifat sementara dan hanya mengenai lapisan rektum (mukosa), sering terjadi pada bayi normal, mungkin karena bayi mengedan selama defekasinya dan jarang berakibat serius. Prolaps rektum yang bersifat sementara hanya meliputi mukosa dan biasanya hanya terlihat penonjolan beberapa centimeter. Pada orang dewasa, prolaps lapisan rektum cenderung menetap dan bisa memburuk, sehingga lebih banyak bagian dari rektum yang turun.Prolaps rektum yang lengkap disebut prosidensia. Paling sering terjadi pada wanita di atas usia 60 tahun. 2. EPIDEMIOLOGI Prolaps rektum jarang ditemukan bahkan jarang dibahas, tetapi jumlah kasus yang sebenarnya tidak diketahui karena jarang dilaporkan khususnya bila terjadi pada daerah terpencil.Lebih sering terjadi pada orang dewasa dan bayi. Prosidensia atau prolaps rektum yang lengkap pada orang dewasa biasanya terjadi pada perempuan. Pada bayi, prolaps rektum biasanya terjadi pada bayi di bawah tiga tahun khususnya pada tahun pertama kehidupan. 3. ANATOMI REKTUM Secara anatomis, rektum berada setinggi vertebrae sakrum ke-3 sampai ke garis anorektal. Secara fungsional dan endoskopis, rektum dibagi menjadi bagian
2

ampula dan spinchter. Bagian spinchter disebut juga annulus hemoroidalis, dikelilingi oleh muskulus levator ani dan fascia coli dari fascia supra ani. Bagian ampula terbentang dari vertebra sakrum ke-3 sampai diafragma pelvis pada insersio muskulus levator ani. Panjang rektum berkisar antara 10-15 cm dengan keliling 15 cm pada bagian rectosigmoid junction, dan 35 cm pada bagian yang terluas yaitu ampula. Pada manusia, dinding rektum terdiri dari 4 lapisan, yaitu: 2,3 mukosa, submukosa, muskularis (sirkuler dan longitudinal), serta lapisan serosa.

Gambar 1. Anatomi rektum

Gambar 2. Vaskularisasi arteri rektum Vaskularisasi daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis superior, media, dan inferior. Arteri hemoroidalis superior (arteri rektalis superior) merupakan kelanjutan dari arteri mesentrika inferior, arteri ini memiliki 2 cabang yaitu dekstra dan sinistra. Arteri hemoroidalis media (arteri rektalis media) merupakan cabang dari arteri iliaka interna, dan arteri hemoroidalis inferior (arteri rektalis inferior) merupakan cabang dari arteri pudenda interna.4 Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis interna dan berjalan ke arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior untuk selanjutnya melalui vena lienalis dan menuju vena porta. Vena ini tidak memiliki katup, sehingga tekanan dalam rongga perut atau intraabdominal sangat menentukan tekanan di dalam vena tersebut. Hal inilah yang dapat menjelaskan terjadinya hemoroid interna pada pasien-pasien dengan kebiasaan sulit buang air besar dan
4

sering mengejan. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke vena pudenda interna, untuk kemudian melalui vena iliaka interna dan menuju sistem vena kava.4

Gambar 3. Vaskularisasi Vena pada Rektum Persarafan rektum terdiri dari sistem simpatik dan parasimpatik. Serabut simpatik berasal dari pleksus mesenterikus inferior yang berasal dari lumbal 2, 3, dan 4 yang berfungsi mengatur emisi air mani dan ejakulasi. Sedangkan untuk serabut parasimpatis berasal dari sakral 2, 3, dan 4 yang berfungsi mengatur fungsi ereksi penis dan klitoris serta mengatur aliran darah ke dalam jaringan. Hal ini menjelaskan terjadinya efek samping dari pembedahan pada pasien-pasien dengan

karsinoma rekti, yaitu berupa disfungsi ereksi dan tidak bisa mengontrol buang air kecil atau miksi.5 Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Proses defekasi terjadi baik secara disadari (volunter), maupun tidak disadari (involunter) atau refleks. Gerakan yang mendorong feses ke arah anus terhambat oleh adanya kontraksi tonik dari sfingter ani interna yang terdiri dari otot polos dan sfingter ani eksterna yang terdiri dari otot rangka. Sfingter ani eksterna diatur oleh N. Pudendus yang merupakan bagian dari saraf somatik, sehingga ani eksterna berada di bawah pengaruh kesadaran kita (volunter).

Proses defekasi diawali oleh terjadi refleks defekasi akibat ujung ujung serabut saraf rectum terangsang ketika dinding rectum teregang oleh massa feses. Sensasi rectum ini berperan penting pada mekanisme continence dan juga sensasi pengisian rectum merupakan bagian integral penting pada defekasi normal. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut : pada saat volume kolon sigmoid menjadi besar, serabut saraf akan memicu kontraksi dengan mengosongkan isinya ke dalam rectum. Studi statistika tentang fisiologi rectum ini mendeskripsikan tiga tipe dari kontraksi rectum yaitu : 1. Simple contraction yang terjadi sebanyak 5 10 siklus/menit ; 2. Slower contractions sebanyak 3 siklus/menit dengan amplitudo diatas 100 cmH2O ; dan 3. Slow Propagated Contractions dengan frekuensi amplitudo tinggi. Distensi dari rectum menstimulasi reseptor regang pada dinding rectum, lantai pelvis dan kanalis analis. Bila feses memasuki rektum, distensi dinding rectum mengirim signal aferent yang menyebar melalui pleksus mienterikus yang merangsang terjadinya gelombang peristaltik pada kolon desenden, kolon sigmoid dan rectum sehingga feses terdorong ke anus. Setelah gelombang peristaltik mencapai anus, sfingter ani interna mengalami relaksasi oleh adanya sinyal yang menghambat dari pleksus mienterikus; dan sfingter ani eksterna pada saat tersebut mengalami relaksasi secara volunter,terjadilah defekasi.Pada permulaan defekasi, terjadi peningkatan tekanan intraabdominal oleh kontraksi otototot kuadratus

lumborum, muskulus rectus abdominis, muskulus obliqus interna dan eksterna, muskulus transversus abdominis dan diafraghma. Muskulus puborektalis yang mengelilingi anorectal junction kemudian akan relaksasi sehingga sudut anorektal akan menjadi lurus. Perlu diingat bahwa area anorektal membuat sudut 900 antara ampulla rekti dan kanalis analis sehingga akan tertutup. Jadi pada saat lurus, sudut ini akan meningkat sekitar 1300 1400 sehingga kanalis analis akan menjadi lurus dan feses akan dievakuasi. Muskulus sfingter ani eksterna kemudian akan berkonstriksi dan memanjang ke kanalis analis. Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi sfingter ani eksterna yang berada di bawah pengaruh kesadaran ( volunteer ). Bila defekasi ditahan, sfingter ani interna akan tertutup, rectum akan mengadakan relaksasi untuk mengakomodasi feses yang terdapat di dalamnya. Mekanisme volunter dari proses defekasi ini nampaknya diatur oleh susunan saraf pusat. Setelah proses evakuasi feses selesai, terjadi Closing Reflexes. Muskulus sfingter ani interna dan muskulus puborektalis akan berkontraksi dan sudut anorektal akan kembali ke posisi sebelumnya. Ini memungkinkan muskulus sfingter ani interna untuk memulihkan tonus ototnya dan menutup kanalis analis. . 4. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI PROLAPS REKTUM Prolaps rektum disebabkan oleh kelemahan ligament dan otot-otot yang mempertahankan bentuk rektum.Pada sebagian besar orang dengan prolaps rektum, terdapat kelemahan musculus sfingter ani. Penyebab pasti kelemahan

ligamen dan otot-otot rektum tidak diketahui; akan tetapi, prolaps rektum biasanya dihubungkan dengan kondisi berikut. o Usia lanjut o Masa konstipasi yang lama o Diare lama o Mengedan lama saat defekasi o Kehamilan o Fibrosis kistik o Chronic obstructive pulmonary disease o Pertusis o Sclerosis multiple o Paralysis (paraplegi) Ada dua teori yang berhubungan dengan prolaps rectum yaitu:
1.

Teori pertama, prolaps rektum merupakan hernia yang meluncur keluar menyeberang ke dalam fascia pelvicum.

2.

Teori kedua menyatakan bahwa prolaps rektum berawal dari intususepsi circumferensial interna pada rektum yang mulai 6-8 cm proximal berbatasan dengan anus.

Umumnya gambaran anatomi tertentu pada prolpas rektum ditemukan saat operasi. Gambaran anatomi tersebut mencakup fatulous atau kelemahan sfingter anus dengan m. levator diastasis, cul-de-sac douglasi anterior yang dalam, fiksasi rektum posterior yang tidak bagus sepanjang mesenterium rektum, pembesaran

rectosigmoid. Gambaran anatomi ini pada dasarnya tidak dapat dijelaskan penyebabnya. 5. PENYEBAB PROLAPS REKTUM Pada anak Kelainan bawaan Gangguan faal sfingter Meningokel Agenesia sacrum

Malformasi anorektal setelah anoplastik/rektoplastik vesika ektopik Otot dasar panggul hipotonik Obstipasi

Pada dewasa Kurangnya daya tahan jaringan/ system penunjang rectum pascabedah perineum atau alat kelamin perempuan Kelainan neurologic Kelemahan otot Usia lanjut Keadaan gizi kurang Peninggian tekanan intra abdomen

10

6. KLASIFIKASI Prolaps rektum dikategorikan sesuai dengan tingkat keparahan, mencakup: 1) Prolaps internal, rektum telah prolaps, tapi tidak terlalu jauh keluar melalui anus. Juga dikenal sebagai prolaps tidak lengkap. 2) Prolaps mukosa, hanya lapisan mukosa rektum menonjol melalui anus. 3) Prolaps eksternal, seluruh ketebalan rektum menonjol melewati anus. Juga dikenal sebagai prolaps lengkap. Dapat menjadi prolaps inkarserata ataupun strangulata.

Gambar 3. Prolaps Rektum 7. GAMBARAN KLINIS Salah satu gejala awal dari prolaps rektum rasa tidak nyaman di sekitar anorektum selama defekasi.Kesulitan dalam memulai defekasi, sensasi defekasi terhambat, perasaan defekasi tidak lancar di mana terasa masih tersisa feses merupakan gejala awal yang umum terjadi pada prolaps rektum.Awalnya, massa

11

keluar dari anus hanya setelah defekasi dan biasanya masuk kembali saat pasien berdiri. Kemudian massa terlihat lebih menonjol lagi terutama saat terjadi ketegangan otot dan manuver valsava seperti bersin dan batuk.1,6 Sebagaimana perkembangan penyakit, rektum yang menonjol kemudian tidak dapat lagi masuk atau memendek secara spontan, sehingga penderita mungkin harus memasukkannya secara manual.Kondisi ini mungkin lebih lanjut sampai pada tahap di mana rektum yang menonjol keluar tidak dapat masuk lagi dan menjadi prolaps terus-menerus. Ada perbedaan klinis prolaps rektum pada anak dan orang dewasa.Pada anak dengan prolaps rektum umumnya mempunyai susunan anatomi yang normal.Mukosa rektum keluar saat defekasi dan masuk kembali tanpa menimbulkan nyeri, kadang tanpa dorongan tangan.Pada sebagian pasien, mukosa yang prolaps tersebut tidak dapat kembali walau didorong. Hal ini akan menimbulkan udem, nyeri, dan kadang berdarah. Pada orang dewasa, awalnya prolaps masih kecil dan makin lama bertambah besar. Prolaps tambah besar karena udem, sehingga makin besar dan tidak dapat dimasukkan lagi karena rangsangan dan bendungan mukus serta keluarnya darah.Sfingter anus menjadi longgar dan hipotonik sehingga terjadi inkotinensia feses. Pada pemeriksaan stadium permulaan terdapat penonjolan mukosa konsentrik. Penderita dengan prolaps rektum dapat ditemukan gejala-gejala meliputi penonjolan massa dari rektum, nyeri saat buang air defekasi, keluar lendir atau

12

darah dari massa yang menonjol, inkontinensia feses, dan pada massa prolaps yang lebih besar biasanya penderita kehilangan keinginan untuk defekasi.

Gambar 4. Prolaps Rektum 8. DIAGNOSA 1,6 a. Anamnesa. Nyeri/rasa tidak enak saat defekasi, panggul terasa penuh, selalu ingin defekasi, kadang juga sulit, sekresi lendir dan darah banyak, kadang diare berkepanjangan, massa keluar dari anus, adanya sulkus antara rektum dan anus, inkontinensia alvi b. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, stadium permulaan massa yang menonjol terlihat lipatan mukosa konsentrik radier, seluruh ketebalan dinding dapat dirasakan, mukosa merah muda dan mengkilat. Pemeriksaan fisik juga mungkin tampak ulserasi rektum dan penurunan tonus sfingter anus. Pada keadaan kronis sering ditemukan lendir akibat iritasi. Gejala yang dikeluhkan penderita harus dikonfirmasi pada pemeriksaan fisik dengan menyuruh penderita duduk di toilet dan mengedan, dimana setelah itu

13

seharusnya rektum prolaps.Jika tidak prolaps dengan mengedan, maka dilakukan prosedur fosfat enema untuk merangsang prolaps. Pada anakanak, dapat digunakan gliserin supositoria sebagai pengganti fosfat enema. Pemeriksaan anorektal cukup untuk diagnosis ketika rektum menonjol dari anus di mana paling mudah ditemukan pada prolaps retum lengkap. c. Pemeriksaan Penunjang. Laboratorium Tidak ada gambaran laboratorium yang spesifik pada prolaps rekti. Kadang peningkatan kadar leukosit, penurunan hemoglobin. Barium Enema Evaluasi kolon untuk menyingkirkan kelainan primer pada kolon yang dapat menyebabkan prolaps Video Defecography ( Colonic Transit Study ) Untuk menentukan prolap internal atau prolap mukosa (parsial/ intusussepsi) bila tidak ada keluhan atau gejala yang jelas. Material/kontras radiopaque/barium dimasukkan ke dalam rectum, perhatikan keluarnya kontras saat defekasi Test Manometri Menilai beratnya kerusakan fungsi otot-otot sfingter ani. Sering ditemukan penurunan tekanan sfingter ani internus dan tidak adanya kemampuan reflek penahan dari anorektal. Test ini masih

diperdebatkan dan beberapa ahli tidak merekomendasikan test ini.

14

Test Sitz Marker Test ini digunakan untuk meyakini patensi kolon yang berguna dalam menentukan apakah diperlukan tindakan reseksi kolon.

Rigid Proctosigmoidoscopy Untuk menemukan adanya ulkus rectum yang soliter, yang terjadi hampr 10-25%. Jika ditemukan ulkus tunggal atau multiple pada dinding anterior rectum, daerah ini sebaiknya diangkat dan sering menimbulkan perdarahan.
2,3

9. DIAGNOSIS BANDING1 Dalam mendiagnosis prolaps rektum harus diperhatikan beberapa gejala yang hampir sama dengan hemoroid. Pada prolaps rektum dan hemoroid keduanya terjadi penonjolan pada anus.Akan tetapi pada hemoroid penonjolannya dapat di atas linea dentate atau di bawahnya dan penonjolan berupa benjolan kebiru-biruan sementara pada prolaps rektum penonjolannya terlihat berupa mukosa merah muda mengkilat.Perdarahan pada prolaps rektum jarang, hanya kadang diketahui jika rektum telah turun di anus beberapa bulan sampai tahun.Prolaps mukosa kadang tampak hampir mirip dengan prolaps polip bertangkai atau papil rektum hipertrofik. Pada anak-anak, ujung distal dari invaginasi dapat menonjol ke luar anus sehingga kadang dianggap dapat tampak sebagai prolaps rektum. Akan tetapi, keadaan ini dapat dibedakan dengan memasukkan jari dibedakan dengan

15

memasukkan jari di antara dinding anus yang keluar dengan cincin anus tempat adanya rongga dalam. 10. PENANGANAN Konservatif. Prolaps rekti dini pada anak-anak, prolaps rekti interna ( hemoroid ) dan prolaps rekti mukosa yang masih dini dapat diberikan obat-obat yang dapat melembutkan feses atau laksansia, diet tinggi serat. Reposisi manual dilakukan dengan ataupun tanpa sedasi ringan atau local anestesi menggunakan jelly. Pemberian sukrosa atau gula dapat dilakukan untuk membentuk jaringan granulasi permukaan mukosa yang diharapkan dapat mengurangi udem. Bila reposisi tidak berhasil, prolap rekti udem dan tidak viable akibat inkarserata/strangulasi, dilakukan tindakan reseksi. Pembedahan. Pembedahan prolap rekti dilakukan dengan pendekatan abdominal, perineal maupun laparoscopy. Prosedur abdominal memiliki resiko kekambuhan yang minimal namun morbiditas tinggi. Pasien usia lanjut ( pasien yang memiliki masa hidup lebih pendek dan keadaan umum yang buruk ) sebaiknya dilakukan pendekatan perineal karena resiko morbiditas yang rendah, sedangkan pasien usia muda ( pasien yang memiliki masa hidup lebih panjang dan keadaan umum baik ) sebaiknya dilakukan pendekatan abdominal.

16

Pendekatan Perineal. Tehnik Mukosal Sleeve Resection ( Delome Procedure ) Eversi rectum . Pasien dalam posisi litotomy, rektum di tarik keluar menggunakan forcep Babcock melalui anus secara perlahanlahan, sampai lapangan operasi jelas. Injeksi local anestesi pada submukosa. Setelah rectum dieversikan, injeksi lidokain 0,5%, bupivacain 0,25%, dan epinephrine yang sudah diencerkan secara melingkar/sirkuler (sirkumferensial) sedalam 1-1,5 cm diatas linea dentate. Insisi mukosa melingkar/sirkuler ( sirkumferensial ). Insisi mukosa secara melingkar/sirkuler dengan menggunakan cauterisasi, dengan bantuan klamp di empat posisi untuk memudahkan tindakan. Diseksi/pisahkan mukosa dari otot rektum secara hati-hati dengan menggunakan cauter dengan bantuan jari yang dimasukkan kedalam rongga rektum untuk memudahkan traksi rektum dan mencegah diseksi terlalu tebal. Plikasi otot- rektum dengan jahitan sirkuler ke dinding rektum. Reseksi mukosa rektum dan lakukan anastomose mukosamukosa, setelah dijahit mukosa akan kembali ke posisi snatomis secara spontan.

17

Tehnik Perineal Rektosigmoidektomy. Setelah dieversi dan dilakukan anestesi lokal pada mukosa rektum, mukosa rektum di insisi 1-1,5 cm dengan cauter pada perbatasan dengan sidmoid dan linea dentata secara melingkar, sampai tampak lemak perirektal dan mesorektal ( a,b,c ). Mobilisasi rektum dengan menggunakan klamp, ligasi dan pisahkan pembuluh darah dari mesorektum. Saat redundan rektum dan sigmoid telah dimobilisasi secara adekuat, maka kantong hernia peritoneum ditutup dan dijahit, kemudian dilakukan reseksi redundan kantong hernia untuk menghindari intusussepsi anterior. Levatorplasty dilakukan untuk membentuk sudut yang tepat dari otot dasar pelvis untuk penanganan inkontinensia dan menghindari herniasi sehingga rekurensi dapat dicegah. Tindakan ini dapat dilakukan dari anterior ke rektum, posterior ke rektum atau kedua-duanya. Transeksi proksimal rektum dan anastomosis. Identifikasi rektum redundan dan mesorektum yang akan direseksi. Transeksi dimulai dengan membebaskan dinding usus besar dibagian superior dan menempatkan satu jahitan pada ujung terluar rongga rektum. Transeksi dilanjutkan pada bagian inferior untuk membentuk menjadi empat area, dan dilakukan jahitan kedua. Dengan menarik kedua jahitan tersebut,

18

dilakukan jahitan tambahan pada daerah yang tersisa untuk menandai keempat kuadran. Pendekatan Transabdominal. Open Rektopeksi ( Frykman-Goldberg Procedure ). Insisi didaerah midline atau pfannenstiel di bawah umbilikus, ekplorasi bagian pelvis dan amankan strutur abdomen lainnya. Mobilisasi sigmoid dengan insisi refleksi peritoneum,

identifikasi pembuluh darah gonad dan ureter lalu amankan, kemudian lanjutkan insisi di rektouterina atau rektovesica di kanan dan kiri rektum. Transeksi kolon sigmoid bagian proksimal dan penempatan stapler anvil. Daerah simoid kolon descenden dipisahkan dengan jaringan sekitarnya lalu letakkan klemp di proksimal dan distal sigmoid. Kemudian dilakukan reseksi pada kedua klemp tersebut lalu dijahit dengan benang prolene 2.0 pada ujung masing-masing klemp. Pemisahan mesenterium sigmoid, dengan preservasi dan ligasi pembuluh darah. Mobilisasi rektum dan pemisahan dengan ligamentum. Dilakukan anastomosis colorektal ( rektopeksi prosedure ).

19

Laparoscopy Rektopeksi Lakukan penempatan trocar, di infraumbilikus atau

supraumbilikus (tehnik open hasson) untuk penempatan kamera. Dilakukan pneumoperitonium kemudian tambahkan 2 trocar dilateral abdomen. Mobilisasi sigmoid dan rektum, pisahkan dan amankan pembuluh darah mesenterium Transeksi intracorporal rektum pada rektosigmoid junction. Transeksi ektracorporal proksimal usus. Anastomose colorektal ( rektopeksi ).

Laparoscopy Mess Rektopeksi. Invalon Sponge Repair ( Well Procedure ).

Penanganan Post Operatif. Pasien yang dilakukan pendekatan perineal dengan komplikasi nyeri yang minimal dan waktu perawatan relative pendek. Pasien dipuasakan 12-24 jam, kemudian diberikan cairan per oral secara bertahap sampai diet yang teratur. Fungsi usus lebih cepat pulih dan pasien dapat dipulangkan 24-72 jam setelah operasi. Sedangkan pada pasien dengan pendekatan transabdominal biasanya memiliki keluhan illeus dan nyeri. Diberikan cairan intravena dan nutrisi parenteral sampai ada tandatanda kembalinya fungsi usus normal, maka diet per oral dapat diberikan. Pasien yang dilakukan anastomose sebaiknya diberikan

20

makanan rendah serat selama 2-3 minggu untuk menghindari konstipasi. Pasien yang tidak dilakukan anastomose, dapat diberikan diet tinggi serat segera mungkin. 11. KOMPLIKASI Prolaps rektum dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada rektum seperti ulserasi mukosa dan pendarahan.Prolaps inkarserata di mana rektum tidak dapat masuk lagi juga menjadi penyulit dari prolaps rektum.Selanjutnya dapat terjadi prolaps strangulata di mana aliran darah ke rektum terhambat. Pada akhirnya dapat terjadi gangrene dan nekrosis pada rektum.Tingkat kekambuhan pasca operasi mencapai 15%, pada jenis operasi apapun. 12. PROGNOSIS Jika dilakukan penanganan tepat waktu, sebagian besar penderita yang telah menjalani operasi tidak mengalami gejala atau hanya sedikit kekambuhan prolaps rektum pasca operasi. Akan tetapi, beberapa faktor, seperti umur, tingkat keparahan prolaps, tipe operasi, dan keadaan umum penderita, mempengaruhi kualitas dan kecepatan pemulihan penderita. 13. PENCEGAHAN Diet serat tinggi dan banyak mengkonsumsi buah-buahan dapat mengurangi resiko konstipasi.Mengedan selama defekasi perlu

dihindari.Seseorang dengan diare kronik, konstipasi, atau hemoroid harus segera berobat untuk menghindari terjadinya prolaps rektum.Latihan-latihan yang memperkuat otot sfingter ani dapat juga membantu mencegah terjadinya prolaps rektum.
21

BAB III KESIMPULAN

Prolaps rektum adalah turunnya rektum melalui anus.Dalam hal ini terjadi penonjolan mukosa rektum atau seluruh dinding rektum.Prolaps rektum diklasifikasikan menjadi prolaps internal disebut juga prolaps tidak lengkap, prolaps mukosa, dan prolaps eksternal disebut juga prolaps lengkap. Terapi prolaps rektum tergantung tingkat keparahannya.Pada bayi dan anak-anak, sebagian besar dilakukan penanganan konservatif dan jarang dilakukan pembedahan.Sedangkan pada orang dewasa yang sering mengalami prolaps rektum lengkap, terapi dilakukan dengan pembedahan. Bila dilakukan penganan secara tepat maka tingkat kekambuhan prolaps rektum sangat kecil atau hampir tidak ada.Akan tetapi, hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan penderita itu sendiri. Makan makanan serat tinggi dan banyak mengkonsumsi buah-buahan merupakan cara terbaik untuk menghindari terjadinya prolaps rektum.

22

DAFTAR PUSTAKA 1. Syamsuhidajat R. De jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2004 2. Tim pengajar anatomi. Situs Abdominis. laboratorium anatomi histologi fakultas kedokteran universitas airlangga; 2001 3. Snell RS. 2004. Clinical Anatomy 7th ed. Lippincott Williams & Wilkins.USA. 4. Schwartz, Shires, Spencer. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2000 5. Gray P, Borley N. At Glance Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: Erlangga; 2006 6. http://ml.scribd.com/doc/59682193/Prolaps-Rektal-Dan-Wasir 7. Sabiston. David C. Buku Ajar Bagian 2. Jakarta: EGC; 1996 8. http://ilmubedah.info/prolap-recti-20110219.html 9. http://www.emedicinehealth.com/rectal.prolapse/article.em.htm

23

Anda mungkin juga menyukai