Anda di halaman 1dari 26

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Luar Sekolah

Oleh :

Angga Wijanarko Ayu Rahmawati Tirto

15010110120022 15010110130096

Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro 2013

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pendidikan adalah hak warga negara, tidak terkecuali pendidikan di usia dini merupakan hak warga negara dalam mengembangkan potensinya sejak dini. Berdasarkan berbagai penelitian bahwa usia dini merupakan pondasi terbaik dalam mengembangkan kehidupannya di masa depan.Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya.Selain itu pendidikan di usia dini dapat mengoptimalkan kemampuan dasar anak dalam menerima proses pendidikan di usia-usia berikutnya. Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan pemberian sangat

terdekat

diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Dengan terbitnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), keberadaan pendidikan usia dini diakui secara sah. Hal itu terkandung dalam bagian tujuh, pasal 28 ayat 1-6, di mana pendidikan anak usia dini diarahkan pada pendidikan pra-sekolah yaitu anak usia 0-6 tahun. Dalam penjabaran pengertian, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisidiknas menyatakan bahwa: Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut: 1. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini 2. Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini 3. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini 4. Hakekat Perkembangan Anak Usia Dini 5. PAUD Formal dan PAUD Informal 6. Pembelajaran pada anak usia dini

C. Tujuan Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 2. Memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Luar Sekolah Melatih mahasiswa untuk dapat mengembangkan keterampilan yangdimilikinya. 3. Melatih mahasiswa dalam pengalaman langsung atau tidak langsung dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

D. Manfaat 1. Setelah membaca makah ini diharap para pembaca mengerti mengenai PAUD secara lebih mendalam 2. Pembaca dapat mengaplikasikan teori tentang PAUD di kehidupan sehari-hari 3. Bagi orang tua diharapkan memberikan panduan dan arahan anak semenjak usia dini. 4. Bagi orang tua dan masyarakat diharapkan ikut berperan aktif dalam pelaksanaan program PAUD.

E. Metode Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data sebagai isi makalah ini. Metode yan digunakan diantaranya : 1. Studi Pustaka Metode ini meliputi pengumpulan data melalui literatur yang sesuai dengan tema makalah tersebut. 2. Pengumpulan Data Mengumpulkan data-data hasil pencarian tim penulis melalui

berbagai media informasi untuk memperkaya isi makalah ini.

BAB II ISI
A. Pengertian, Fungsi, Karakteristik Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) dijelaskan bahwaPendidikan Anak UsiaDini (PAUD)adalah jenjang suatu pendidikan sebelum

jenjangpendidikan

dasar yangmerupakan

upaya pembinaanyang

ditujukan bagianak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan pertumbuhan melalui dan pemberianrangsangan pendidikanuntuk membantu anak memiliki

perkembangan jasmanidanrohaniagar

kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. PAUD diartikan sebagai segenap upaya pendidik (orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya) dalam memfasilitasi perkembangan dan belajar anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun melalui penyediaan berbagai pengalaman dan rangsangan yang bersifat mengembangkan, terpadu, dan menyeluruh sehingga anak dapat bertumbuh-kembang secara sehat dan optimal sesuai dengan nilai dan norma kehidupan yang dianut. Dalam konteks perkembangan anak, PAUD memiliki lima fungsi dasar, yakni: 1. Pengembangan potensi 2. Penanaman dasar-dasar aqidah keimanan 3. Pembentukan dan pembiasaan perilaku yang diharapkan 4. Pengembangan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan 5. Pengembangan motivasi dan sikap belajar yangt positif (Solehudin, 2000) Beberapa karakteristik anak usia dini, antara lain 1. Anak bersifat unik 2. Anak bersifat egosentris 3. Anak bersifat aktif dan energik

4. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal 5. Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang 6. Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan 7. Anak senang dan kaya dengan fantasi 8. Anak masih mudah frustasi 9. Anak masih kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu 10. Anak memiliki daya perhatian yang pendek 11. Anak bergairah untuk belajar dan banyak belajar dari pengalaman 12. Anak semakin menunjukkan minat kepada teman Karakteristik PAUD, antara lain 1. Relatif tidak terstruktur 2. terintegrasi 3. kontekstual 4. melalui pengalaman langsung 5. melalui suasana bermain yang menyenangkan 6. responsif

B. Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini 1. Landasan yuridis Pada pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atasperlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Sedangkan pasal 28 C ayat 2 dinyatakan bahwa setiap anak berhak menegmbangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Selanjutnya berdasarkan UU RI Nomor.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab I, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan

kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa (1) pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidika dasar, (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal; (3) Pendidikan Anak usia dini jalur pendidikan formal TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan formal; KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai Pendidikan Anak Usia Dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Berdasarkan UU RI Nomor.23 Tahun 2002 Pasal 9 ayat 1 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pendidikan dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. 2. Landasan filosofis dan religi Pendidikan dasar pada anak usia dini seharusnya berdasarkan pada nilai-nilai filosofis dan religi yang dipegang oleh lingkungan yang berada disekitarnya. Pendidikan agama menekankan pada pemahaman tentang agama serta bagaimana agama akan diamalkan dan diaplikasikan dalam tindakan serta perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai agama disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Selain itu

pendidikan anak usia dini juga harus disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut oleh lingkungan sekitar yang meliputi faktor budaya, keindahan, kesenian, dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang dapat

dipertanggungjawabkan. 3. Landasan keilmuan dan empiris

Pendidikan Anak Usia Dini harus meliputi aspek keilmuan yang bisa menunjang kehidupan anak dan terkait dengan perkembangannya. Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis yang artinya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa disiplin ilmu lainnya. Dalam mengembangkan potensi belajar anak, maka harus diperhatikan aspek-aspek pengembangan yang akan dikembangkan berdasrkan disiplin ilmu yang telah diintegrasikan. Berdasarkan dari aspek pedagogis, pada usia dini merupakan masa awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Agar pertumbuhan dan perkembangan individu maksimal dan optimal, maka dibutuhkan suatu situasi dan kondisi lingkungan yang kondusif, serta adanya upaya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Berdasarkan segi empiris, PAUD sangat penting, antara lain menjelaskan bahwa pada waktu manusia lahir, kelengkapan organisai otak yang siap dikembangkan serta diaktualisasikan mencapai tingkat perkemabnagn potensi tertinggi, tetapi hasil riset membuktikan bahwa hanya 5% dari potensi otak itu yang terpakai. Hal itu disebabkan kurangnya stimulasi yang mengoptimalkan fungsi otak.

C. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini Tujuan PAUD yang ingin dicapai adalah untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman orang tua dan guru serta pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan dan perkembangan anak usiadini. Secara khusus tujuan yangingin dicapai, adalah : 1. Dapat mengidentifikasi perkembangan fisiologis anak usia dini dan mengaplikasikan hasil idntifikasi tersebut dalam pengembangan fisiologis yang bersangkutan. 2. Dapat memahami perkembangan kreativitas anak usia dini dan usahausaha yang terkait dengan pengembangannya 3. Dapat memahami kecerdasan jamak dan kaitannya dengan

perkembangan anak usia dini

4. Dapat memahami arti bermain bagi perkembangan anak usia dini 5. Dapat memahami pendekatan pembelajaran dan aplikasinya bagi pengembangan anak usia kanak-kanak. Tujuan pendidikan anak usia dini secara umum adalah

mengembangkan berbagai potensi anak usia dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Secara khusus kegiatan pendidikan bertujuan agar : 1. Anak mampu melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan Ciptaan Tuhan dan mencintai sesama. 2. Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halu, dan gerakan kasar serta menerima rangsangan sensorik. 3. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berpikir dan belajar 4. Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat 5. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masayarakat dan menghargai keragaman sosial dan budaya serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, kontrol diri, dan rasa memiliki 6. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan serta menghargai hasil karya yang kreatif

Selain itu, tujuan pendidikan anak usia dini adalah : 1. Untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan dimasa dewasa 2. Untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah

3. Intervensi

dini

dengan

memberikan yang

rangsangan tersembunyi

sehingga yaitu

dapat dimensi

menumbuhkan

potensi-potensi

perkembangan anak (bahasa, intelektual, emosi, sosial, motorik,konsep diri, minat, dan bakat) 4. Melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak

D. Hakekat Perkembangan Anak Usia Dini Perkembangan merupakan proses yang bersifat kualitatif, dimana awal perkembangan akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, apabila terjadi hambatan pada perkembangan di tahap awal maka perkembangan di tahap berikutnya juga akan terhambat. Setiap anak yang lahir diberi lebih dari satu bakat, sehingga mereka perlu diberi pendidikan yang sesuai dengan perkembangannya agar mereka mampu menyatakan diri, berekspresi, berkreasi dan menggali potensi-potensi atau bakat-bakat lainnya yang tersembunyi dalam diri anak tersebut.Paradigma pendidikan pada anak usia dini, seharusnya berorientasi atau berpusat pada anak (student centered) dan secara perlahan berusaha menyeimbangkan dengan pendidikan yang beorientasi pada guru. Berdasarkan aspek perkembangannya, anak dapat belajar secara optimal apabila kebutuhan fisiknya dapat terpenuhi serta aman dan nyaman secara psikologis.

E. PAUD Formal dan PAUD Informal 1. PAUD Formal PAUD Formal yaitu program pendidikan untuk anak usia dini (4-6 tahun) yang dilakukan secara terprogram berdasarkan kurikulum ajar yang telah disusun oleh Ditjen PLS. Beberapa contoh yang termasuk ke dalam PAUD Formal adalah Taman Kanak-Kanak. Taman Kanak-kanak (TK) 1. Pengertian

Taman kanak-kanak merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anakusia dini pada jalur pendidikan formal yang

menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun. 2. Peserta didik Anak usia 4-6 tahun yang dibagi ke dalam dua kelompok belajar yang berdasarkan usia yaitu kelompok A untuk usia 4-5 tahun, dan kelompok B untuk usia 5-6 tahun 3. Tenaga pendidik Yang menjadi tenaga pendidik pada PAUD formal yaitu mereka yang memiliki latar belakang pendidikan guru TK (PGTK) serta kualifikasi dibidangnya.

2. PAUD Non-Formal PAUD Non-formal yaitu sekolah untuk anak usia dini yang

diselenggarakan untuk mendorong kesiapan anak dalam proses belajar di usia sekolah berbasis keluarga. Model pengajaran yang dilakukan memiliki kurikulum yang lebih disesuaikan untuk anak usia 2-4 tahun, dengan mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, emosional. Contoh dari PAUD Non-Formal adalah Taman Penitipan Anak Taman Penitipan Anak 1. Pengertian Taman penitipan anak merupakan bentuk PAUD non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak. Selain itu, taman penitipan anak juga sebagai wahana pendidikan dan kesejahteraan anak sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu selama orang tua mereka tidak punya cukup banyak waktu dalam mengasuh.

2. Tujuan - Meningkatkan keyakinan dalam beragama - Mengembangkan budi pekerti dalam kehidupan anak

- Mengembangkan sosialisasi dan kepekaan emosional - Meningkatkan disiplin melalui kebiasaan hidup - Mengembangkan komunikasi dalam kemampuan berbahasa - Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman melalui

kemampuan daya pikir - Mengembangkan koordinasi motorik halus dan kreativitas dalam keterampilan serta seni - Meningkatkan kemamppuan motorik kasar dalam kesehatan jasmani 3. Peserta didik Anak yang berusia 0-4 tahun yang orang tuanya sedang bekerja Anak usia 0-6 tahun yang tidak mendapatkan layanan pendidikan anak usia dini Peserta didik yang sekurang-kurangnya berusia 3 bulan-6 tahun dan berjumlah 5 orang atau lebih (kecuali anak yang berkebutuhan khusus) 4. Tenaga pendidik Memiliki kualifikasi akademik minimal SLTA sederajat Mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini Memahami dan menyayangi anak Memahami tahapan tumbuh kembang anak Memahami prinsip-prinsip pendidikan anak usia dini

5. Rasio pendidik :pengasuh 0-12 bulan = 1 orang : 2 bayi 13-36 bulan = 1 orang : 4 anak 37-60 bulan = 1 orang : 8 anak 61-72 bulan = 1 orang : 10 anak

Tenaga pendidik pada PAUD informal yaitu tenaga pendidik profesional yang berkualifikasi sebagai guru PAUD yang memiliki latar pendidikan yang memadai, keahlian dalam bidang pengembangan dan

pendidikan anak usia dini serta memiliki komitmen dalam menjalankan tugasnya sebagai guru PAUD. Hasil Seminar Nasional dan Workshop tentang PAUD yang diselenggarakan oleh Ditjen Pendidikan Luar Sekolah Th 2003, menyimpulkan bahwa para educator atau tenaga pendidik professional dan semi-profesional dalam pendidikan Anak Usia Dini direkomendasikan untuk memiliki sejumlah kompetensi yaitu kompetensi akademik, professional, personal, dan sosiointerpersonal (social). 3. PAUD In-Formal Paud informal merupakan pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Peserta didik anak usia 2-4 th.Contoh dari pengembangan paud informal adalah Pos Paud Pos Paud Pengertian Pos Paud merupakan salah satu jenis dari Satuan Paud Sejenis (SPS) yaitu lembaga pendidikan di luar Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain, dan Tempat Penitipan Anak. Fungsinya adalah memberikan pendidikan bagi anak sejak dini mengenai sikap, perilaku, perasaan, kecerdasan, sosial dan fisik sebagai bekal penyesuaian diri dengan lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Pos Paud sendiri merupakan pengembangan program PAUD informal yang diintegrasikan dengan kegiatan Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu), Bina Keluarga Balita (BKB) dan program layanan anak usia dini lain yang telah berkembang di masyarakat, seperti Taman Pendidikan Al Qur`an, atau layanan terkait lainnya. Di dalam Posyandu, terdapat sistem pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan kualitas manusia dengan kelompok anak usia dini sebagai sasaran utama. Namun, pelayanan posyandu masih didominasi pelayanan bidang kesehatan seperti pelayanan imunisasi, perbaikan gizi serta pelayanan kesehatan ibu dan anak,

tanpa ada hal-hal edukatif seperti permainan yang terarah yang di berikan pada saat menunggu giliran. Oleh karena itu, pengintegrasian pelayanan posyandu dengan program PAUD merupakan langkah yang efektif dan efisien untuk menciptakan balita yang sehat dan cerdas. Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan Pos Paud yaitu Kader PKK, orang tua warga belajar, tokoh masyarakat, dinas kesehatan, Badan Kordinasi Keluarga Berencana (BKKBN), serta Dinas Pendidikan. Pos Paud dikelola dengan prinsip dari oleh dan untuk masyarakat dan dibentuk atas kesepakatan masyarakat dan dikelola berdasarkan azas gotong royong, sukarela, dan kebersaman. Pos Paud ini harus mudah dan murah untuk dilaksanakan tetapi berkualitas karena sasaran utamanya adalah keluarga kalangan ekonomi miskin dengan tidak menarik iuran atau menarik dengan jumlah yang sangat kecil. Namun pada kenyataannya, Para pengajar Pos Paud seringkali memerlukan uang untuk membina peserta didiknya. Masalah ini mungkin bisa ditutupi dengan melakukan permintaan sumbangan kepada beberapa pihak di masyarakat yang bisa membantu. Melihat realita di masyarakat yang notabene masih terdapat keluarga ekonomi miskin, Pos Paud sangatlah diperlukan. Hal ini memerlukan kerjasama dari berbagai pihak baik orang tua, tokoh masyarakat, maupun pemerintah agar anak didik sebagai generasi penerus akan tidak mengalami ketertinggalan. F. Pembelajaran pada anak usia dini Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya pengembangan kurikulum secara kongkrit berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya (Sujiono dan Sujiono, 2007 :206) 1. Hakikat program pembelajaran Bennett Finn dan Cribb menjelaskan pada dasarnya pengembangan program pembelajaran adalah pengembangan sejumlah pengalaman belajar

melalui kegiatan bermain yang dapat memperkaya pengalaman anak tentang berbagai hal seperti cara perpikir tentang diri sendiri, tanggapan pada pertanyaan, dapat memberikan argumentasi untuk mencari berbagai alternatif. Selain itu, hal ini membantu anak-anak dalam mengembangkan kebiasaan dari setiap karakter yang dapat dihargai oleh masyarakat serta mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia orang dewasa yang penuh tanggung jawab. Unsur utama dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini adalah bermain. Pendidikan awal pada masa kanak-kanak diyakini memiliki peran yang amat vital bagi pertumbuhan dan pengembangan selanjutnya, Albercht dan Miller berpendapat bahwa dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini seharusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan berkreaktifitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator, saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. 2. Tujuan dan fungsi program pembelajaran Catron dan Alen berpendapat bahwa tujuan program pembelajaran yang utama adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif. Kurikulum bagi anak usia dini haruslah memfokuskan pada perkembangan yang optimal pada seorang anak melalui lingkungan sekitarnya yang dapat menggali berbagai potensi tersebut melalui permainan serta hubungan dengan orang tua atau orang dewasa lainnya. Selanjutnya mereka berdua berpendapat bahwa seharusnya kelas kelas bagi anak usia dini merupakan kelas yang mampu menciptakan suasana kelas yang kreatif dan penuh kegembiraan bagi anak. Tujuan program pembelajaran adalah membantu melakukan dasar ke arah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahap berikutnya untuk mencapai tujuan program pembelajaran tersebut diperlukan strategi

pembelajaran bagi anak usia dini yang berorientasi pada: (1) tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentangan usia anak, (2) materi yang diberikan harus mengacu dan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak (DAP = Developmentally Approriate Practice), (3) metode yang dipilih seharusnya bervariasi sesuai dengan tujuan kegiatan belajar dan mampu melibatkan anak secara aktif dan kreatif serta menyenangkan, (4) media dan lingkungan bermain yang digunakan haruslah aman, nyaman dan menimbulkan ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup berksplorasi, (5) evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah rangkaian sebuah asesmen melalui observasi partisipsif terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, dan diperbuat. 3. Fungsi program pembelajaran Program pembelajaran memiliki sejumlah fungsi diantaranya (1) untuk mengembangkan untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya, (2) mengenalkan anak dengan dunia sekitar, (3) mengembangkan sosialisasi anak, (4) mengenalkan peraturan dan disiplin pada anak, (5) memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya. Oleh karena itu tujuan program pembelajaran pada anak usia dini adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh berdasarkan berbagai dimensi perkembangan anak usia dini baik perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri pada lingkungannya serta untuk pertumbuhan dan perkembangan pada tahapan berikutnya. 4. Model pembelajaran anak usia dini Pembelajaran anak usia dini memiliki dua jenis model yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan berpusat pada anak, pembelajaran yang berpusat pada guru diprakarsai oleh Pavloc, Skinner, dan para tokoh bahavioris lainnya. Adapun pembelajaran yang berpusat pada anak di prakarsai oleh Piaget, Eriksin, dan Isaacs.

a. Teori behavioris Skinner mengemukakan bahwa seluruh perilaku manusia dapar di jelaskan atau diamati sebagai respon yang terbentuk dari berbagai stimulus yang pernah diterimanya dari lingkungan. b. Teori perkembangan Ahli psikologi perkembangan melihat bahwa anak memiliki motivasi diri yang dimiliki isejak lahir untuk menjadi mampu. Motivasi kemampuan inilah yang kemudian dipandang oleh para ahli psikologi sebgai dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada anak, dengan menghargai seluruh proses perkembangan yang dimiliki oleh anak dan berkembang sesuai dengan ritme yang dimiliki masingmasing anak, dengan menciptakan lingkungan dan menyediakan peralatan yang menyediakan kesempatan pada anak untuk belajar dan berkembang. Para ahli psikologi telah menemukan pola dan tahapan dalam perkembangan yang berasal dari pengendalian yang muncul dari dalam diri anak, seperti kognitif, sosio-emosional, dan perkembangan fisik. Melalui pengetahuan ini dapat diciptakan lingkungan berlajar yang berbasis bermain untuk anak sehingga dapat mendukung perkembangan anak. Metode pembelajaran dengan menggunakan permainan memberikan kesempatan dan kebebasan pada anak untuk mengemukakan

pemikirannya, mereka mengemukakan pemikirannya sendiri dan mengidentifikasikan kegiatannya. Segala sesuatu yangmunculnya dari diri anak dikembangkan menjadi sebuah kurikulum. Aspek yang terpenting dalam metode yang berdasarkan permainan adalah kebebasan anak dalam bermain. Kebaikan dari kurikulum berdasarkan pembelajaran memandang kebutuhan anak sebagai kebutuhan individu yang unik dan bernilai. Sedangkan pembelajaran yang berpusat pada guru atau dikenal dengan istilah pengajaran langsung di mana guru atau instruktur

memberikan petunjuk atau instruksi langsung tentang apa yang harus dilakukan oleh anak, dan guru mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri anak. Pada dasarnya khusus pada anak usia dini haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini, berikut ini : 1. Proses kegiatan belajar anak usia dini harus dilaksanakan berdasarkan prinsip belajar bermain 2. Proses kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dalam linkungan yang kondusif dan inovatif baik diruangan ataupun di luar ruangan 3. Proses kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dengan pendekatan tematik dan terpadu 4. Proses kegiatan belajar anak usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluruh dan terpadu.

BAB III ANALISIS KASUS

A. Kasus

Dipaksa Calistung Saat PAUD, Anak Bisa Jadi Tak Suka Baca Saat Besar

Jakarta Pendidikan membaca-menulis-berhitung hendaknya tidak dipaksakan untuk diajarkan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga menjadi tes saringan masuk SD. Bila dipaksakan, dikhawatirkan bisa membuat sang anak tak gemar membaca saat beranjak besar. "Nggak layak, mestinya anak itu tidak boleh dipaksa membaca," kata Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listiyarti, saat berbincang di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jl Kalibata Timur IVD, Jakarta, Rabu (6/6/2012). Retno menilai syarat kemampuan membaca untuk masuk SD sebagai bentuk pemaksaan kepada anak untuk belajar membaca saat PAUD. Anakanak, Retno menambahkan, tak boleh dipaksa untuk bisa membaca. Menurutnya, memaksa anak untuk membaca pada usia tertentu, seperti di usia TK dan PAUD, bisa menimbulkan ketidaksukaan anak untuk membaca di masa depan. "Secara psikologis pada usia tertentu mereka dipaksa membaca, mereka kan jadinya terpaksa ya, makanya mereka jadinya nggak suka membaca," ujarnya. Retno mengatakan dampak ketidaksukaan membaca terlihat dari rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Menurut penelitian yang pernah dia baca, minat baca anak Indonesia tergolong mengenaskan. "Peringkat kita digolongkan sebagai tragedi nol buku. Rata-rata yang dibaca anak Indonesia per tahunnya hanya 27 halaman. Jauh dari peringkat

pertama Finlandia yang membaca 300 halaman dalam 5 hari. Jangan-jangan gara-gara ini (dipaksa membaca)," paparnya. Lebih jauh, Retno mengatakan pemaksaan belajar membaca dapat menghambat pertumbuhan otak kanan anak. "Dari penelitian yang saya baca juga, pemaksaan membaca pada usia tertentu akan mempengaruhi perkembangan otak kanan anak, memang kita mau anak kita terbunuh kreativitasnya?" tuturnya. Oleh karena itu ia meminta agar SD meninjau ulang syarat kemampuan calistung untuk masuk SD. Menurutnya kemampuan calistung harus diajarkan secara perlahan pada usia yang tepat. "Belajarnya harus pada usia yang tepat," imbuhnya. Pendapat Retno ini menanggapi kasus Gatot R yang putranya tidak masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN, setingkat SD) di Kebayoran karena harus menghadapi ujian calistung. "Ada banyak, ada belasan anak dari TK anakku yang tidak masuk karena memang dari TK-nya tidak diajari baca-tulis-hitung," kata Gatot dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (5/6/2012). Gatot jengkel bukan tanpa dasar. Dia sudah mencari peraturan yang mengatur tentang masuk sekolah, utamanya SD atau MI negeri milik pemerintah. PP 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Berikut sebagian bunyi PP 17 tahun 2010 itu yang ditelusuri detikcom: Pasal 69 (5) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain. Pasal 70 (1) Dalam hal jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua.

(2) Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan. (3) Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Gatot gusar karena PP itu ternyata tidak dijalankan oleh satuan penyelenggara pendidikan itu.

Sumber http://news.detik.com/read/2012/06/06/163410/1934518/10/dipaksacalistung-saat-paud-anak-bisa-jadi-tak-suka-baca-saat-besar

B. Analisis kasus Pendidikan menulis membaca dan berhitung tidak selayaknya diberikan kepada anak usia dini karna jika dipaksakan membaca, anak akan kurang memiliki minat untuk membaca di masa mendatang dan itu sangat berpengaruh untuk masa depan anak itu sendiri. Secara psikologis jika anak di masa kecil dipaksa membaca maka saat dia besar ia ingin merasakan kebebasan dan tanpa paksaan dari orang-orang terdekat yang memaksanya membaca. Kemudian, pemaksaan membaca itu dapat menghambat

pertumbuhan otak kanan anak karna dengan

membaca anak tidak dapat

berkreatifitas dan hanya selalu bertindak sesuai dengan buku yang ia baca. Calistung juga harus diterapkan perlahan kepada anak dengan usia yang tepat agar otak anak dapat berkreasi dan bekerja secara normal. Usia golden age memanglah periode optimal dalam pembelajaran anak. Namun, bukan berarti anak harus dijejali dengan berbagai pengetahuan dan dipaksa untuk menguasai ketrampilan tanpa memperhatikan taraf

perkembangan individual anak yang bersangkutan. Anak seharusnya mendapatkan kesempatan yang luas untuk memperoleh rangsangan dan

pengalaman belajar yang mendorong terjadinya proses aktivitas mental dan fisik melalui cara yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan anak. Dengan begitu, anak tidak akan merasa terbebani dalam menjalaninya. Pembelajaran yang seharusnya diterapkan alam PAUD Pembelajaran yang seharusnya di terapkan pada anak usia dini adalah pembentukan kreatifitas motorik anak yang biasanya menggunakan alat-alat bantu seperti : 1. Memasang mata pada boneka yang dapat di bongkar pasang 2. Memasukan bentuk bentuk buah kedalam kotak dengan kotak yang dibolongi sesuai bentuk buah dan warnanya 3. Bermain di halaman dengan pengawasan orang tua atau gurunya agar anak dapat belajar dengan alam dan mendapat pengalaman dari apa yang ia lakukan 4. Lebih memprioritaskan keinginan anak agar otak anak dapat berkembang dengan alami Semua itu merupakan contoh dari model pembelajaran dengan permainan. Pembelajaran yang tepat bagi anak usia dini adalah pembelajaran dengan permainan. Dengan model pembelajaran tersebut, anak memiliki kesempatan mereka dan kebebasan untuk mengemukakan sendiri dan

pemikirannya,

mengemukakan

pemikirannya

mengidentifikasikan kegiatannya. Permainan yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain, dan dukungan orang dewasa dapat membantu anak berkembang secara optimal. Selain itu, permainan juga dapat berfungsi sebagai sarana mensosialisasikan diri anak ke dalam masyarakat. Dengan permainan, anak mendapatkan kesempatan untuk mengenal aturan-aturan, mematuhi norma dan larangan, berlaku jujur, setia, sertaterasah

kreatifitasnya. Selain itu. Pemerintah juga seharusnya turut serta mengatur dengan tegas tentang pembelajaran PAUD yang seharusnya, termasuk dalam aturan masuk ke Sekolah Dasar. Tegas di sini dalam arti tidak hanya mengatur

tetapi juga melaksanakan dan menjalankannya dengan baik serta mengevaluasi dalam praktek di lapangan. Dengan begitu, kasus-kasus anak yang tidak mendapatkan Sekolah dasar tidak akan terjadi lagi dan anak tetap mendapatkan hak wajib belajar 9 tahun yang dimilikinya.

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan Dari penjelasan makalah diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya.Selain itu pendidikan di usia dini dapat mengoptimalkan kemampuan dasar anak dalam menerima proses pendidikan di usia-usia berikutnya. Pendidikan anak usia dini (PAUD) jika diselenggarakan dengan berpedoman pada ketentuan yang telah digariskan oleh otoritas pendidikan nasional serta kaidah-kaidah yang berlaku universal bagi tumbuh kembang dan kebutuhan dasar anak di usianya, akan membawa dampak yang baik bagi pekembangan anak.

B. Saran Dari uraian di atas, maka penulis dalam hal ini mengajukan beberapa saran antara lain: 1. Perlu adanya pengembangan yang lebih optimal terhadap pendidikan anak usia dini, baik yang dilakukan oleh pemerintah, keluarga maupun masyarakat. Masa prasekolah yang disebut dengan masa keemasan perkembangan intelektual seharusnya dijadikan dasar bagi upaya meningkatkan kemajuan pendidikan di Indonesia. 2. Sosialisasi tentang pentingnya pendidikan anak usia dini harus terus dilakukan, karena berdasarkan data yang ada angka partisipasi kasar masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini masih sangat rendah.

3. Kualifikasi pendidik anak usia dini harus terus ditingkatkan baik kualifikasi akademisnya maupun dalam bentuk pelatihan dan penataran lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Mutiah,Diana.2010.Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta : kencana http://perpustakaan.kemdiknas.go.id/download/Pendidikan%20Karakter%20pada%20PA UD.pdf (diunduh pada 20 September 2012)

Sumber: Tim Pengembang ilmu pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT Imtima