Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fisika adalah ilmu pengetahuan eksperimental, dimana berupa ilmu yang memahami segala sesuatu tentang gejala alam melalui pengamatan atau observasi dan memperoleh kebenarannya secara empiris melalui panca indera. Dalam melakukan eksperimen kita memerlukan pengukuran pengukuran. Karena itu, pengukuran merupakan bagian yang sangat penting dalam proses membangun konsep-konsep fisika. Pengamatan suatu gejala secara umum tidak lengkap apabila tidak ada data yang didapat dari hasil pengukuran. Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur yang sedang kita bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka, berarti kita mengetahui apa yang sedang kita bicarakan itu. Hasil dari pengukuran selalu mengandung dua hal ,yakni kuantitas atau nilai dan satuan. Sesuatu yang memiliki kuantitas dan satuan dinamakan besaran. Untuk mengukur setiap besaran telah diciptakan alat ukurnya masing masing.Sehubungan demgan hal tersebut maka untuk lebih mengetahui cara menggunakan dan menetukan hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukurnya masing masing maka diadakanlah percobaan Pengukuran Dasar.

B. Tujuan Penelitian
Mempelajari cara pembacaan skala pada alat-alat ukur Mengetahui perbedaan ketelitian alat ukur pada masing-masing objek Mengetahui massa masing-masing objek Mengetahui massa jenis masing-masing objek

BAB II DASAR TEORI


Dalam fisika dan teknik, pengukuran merupakan aktivitas yang membandingkan kuantitas fisik dari objek dan kejadian dunia-nyata. Atau membandingkan antara suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis yang dijadikan acuan. Dan alat ukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian tersebut. Hasil pengukuran selalu mengandung dua hal, yakni: kuantitas atau nilai dan satuan. Sesuatu yang memiliki kuantitas dan satuan tersebut dinamakan besaran. Berbagai besaran yang kuantitasnya dapat diukur, baik secara langsung maupun tak langsung, disebut besaran fisis, misalnya panjang dan waktu. Tetapi banyak juga besaran-besaran yang dikategorikan non-fisis, karena kuantitasnya belum dapat diukur, misalnya cinta, bau, dan rasa. Besaran panjang yang merupakan jarak antara 2 titik dapat di ukur dengan alat ukur seperti mistar, jangka sorong dan micrometer sekrup.Pengukuran besaran panjang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagaia alat ukur, misalnya menggunakan mistar,jangka sorong, atau dapat pula dengan menggunakan micrometer sekrup. 1. Mistar Pada pengukuran dengan menggunakan mistar yang diperhatikan adalah titik nol mistar harus tepat pada salah satu ujung benda yang diukur.Pembacaan skala pada mistar harus tegak lurus pada skala yang ditunjuk, agar tidak terjadi kesalahan. Mistar biasanya digunakan untuk mengukur benda yang panjangnya kurang dari 50 cm atau 100 cm.Tingkat ketelitiannya 0,5 mm ( x 1 cm). Satuan yang tercantum dalam mistar adalah cm, mm, serta inchi. 2. Jangka Sorong Setiap jangka sorong memiliki skala utama (SU) dan skala bantu atau skala nonius (SN). Pada umumnya, nilai skala utama = 1 mm, dan banyaknya skala nonius tidak selalu sama antara satu jangka sorong dengan jangka sorong lainnya.. Sebuah jangka sorong baru dapat digunakan jika nilai skala terkecilnya (NST) telah diketahui, yaitu dengan menggunakan persamaan. 3. Mikrometer Sekrup Mikrometer sekrup digunakan untuk mengetahui ukuran panjang yang sangat kecil dan mempunyai tingkat ketelitian sampai dengan 0,01 mm. Mikrometer sekrup memiliki dua bagian skala mendatar (SM) sebagai skala utama dan skala putar (SP) sebagai skala nonius.NST micrometer sekrup dapat ditentukan dengan cara yang sama prinsipnya dengan jagka sorong. Dengan N = jumlah skala nonius. Hasil pengukuran dari suatu micrometer dapat ditentukan dengan cara membaca penunjukan bagian ujung skala putar terhadap skala utama dan garis horisontal (yag membagi dua skala utama menjadi skala bagian atas dan bawah) terhadap skala putar.Pada umumya micrometer sekrup memiliki NST skala mendatar (skala utama) 0,5 mm dan jumlah skala putar (nonius) sebanyak 50 skala.

4. Neraca Ohauss Setiap benda tersusun dari materi. Jumlah materi yang terkandung dalam masing-masing benda disebut massa benda. Dalam SI, massa menggunakan satuan dasar kilogram (kg). Massa benda diukur dengan menggunakan neraca lengan, salah satu jenis neraca lengan yaitu neraca lengan Ohaus tipe 311 gram. Neraca ini mempunyai 4 lengan, masing- masing lengan mempunyai batas ukur dan NST yang berbeda beda. Untuk menggunakan neraca ini terlebih dahulu ditentukan NST masing masing lengan kemudian dijumlahkan dengan penunjukan lengan neraca yang digunakan.

BAB III METODE PERCOBAAN


A. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan meliputi: 1. Mistar 2. Jangka Sorong 3. Micrometer Sekrup 4. Neraca Ohauss 5. 5 jenis kubus berbeda : Alumunium, Besi, Kayu, Kuningan, Tembaga.

B. Cara Kerja
a. Menggunakan Mistar 1. Siapkan mistar dan balok kecil yang akan diukur volumenya. 2. Ukur panjang, lebar, dan tinggi balok menggunakan mistar. Dalam pengukuran perhatikan titik nol mistar harus tepat pada salah satu ujung balok. 3. Perhatikan penunjukan skala pada mistar yang berimpit dengan ujung balok lainnya.Pembacaan skala pada mistar harus tegak lurus pada skala yang ditunjuk, agar tidak terjadi kesalahan. 4. Dari data yang diperoleh hitung pula volume balok. Menggunakan Jangka Sorong 1. Ambil sebuah jangka sorong kemudian tentukan nilai skala utama dan hitung jumlah skala noniusnya. 2. Tentunkan NST dari jangka sorong yag anda gunakan. 3. Ukurlah panjang, lebar,dan tebal dari balok tersebut. 4. Catatlah hasilnya pada hasil pengamatan. Dari data yang diperoleh hitung pula volume balok. Menggunakan Mikrometer Sekrup 1. Ambil sebuah mikrometer kemudian tentukan nilai skala utama dan hitung jumlah skala noniusnya.Tentunkan NST mikrometer yang anda gunakan. 2. Letakkan benda di antara kedua poros penjepit, kemudian putarlah silinder pemutar perlahan-lahan hingga ujung kedua poros menyentuh permukaan benda, seperti terlihat pada gambar dibawah: 3. Setelah ujung kedua poros menyentuh permukaan benda, putarlah skrup pemutar (ratchet) secara perlahan-lahan hingga terdengar bunyi klik. Bunyi itu menandakan bahwa kedua ujung poros telah menjepit benda secara akurat( jangan memaksa menggerakkan poros penjepit menggunakan silinder pemutar ketika ujung poros telah menjepit benda, hal ini dapat merusak sistem ulir di dalam mikrometer skrup) 4. Bacalah penunjukan skala yang ditunjukkan oleh mikrometer skrup,.catat hasilnya pada hasil pengamatan.

b.

c.

d.

Menggunakan Neraca Ohauss 1. Tentukan NST masing masing lengan neraca Ohauss. 2. Pastikan dahulu bahwa neraca dalam keadaan setimbang. Bila belum setimbang, buatlah setimbang dulu dengan cara memutar sekrup peyeimbang/pengenol. 3. Letakkan benda di atas piring neraca. 4. Geserlah anak timbangan, dimulai dari yang paling besar, berikutnya yang kecil-kecil, hingga neraca setimbang kembali. 5. Bacalah skala yang ditunjukkan oleh neraca, dan catat hasilnya pada hasil pengamatan.

BAB IV HASIL PENGAMATAN

Berikut ini adalah data yang didapat dari hasil pengukuran beberapa jenis balok. NO 1 Nama Bahan Alumunium Alat Ukur Mistar Jangka Sorong Mikrometer Sekrup Neraca Ohauss Mistar Jangka Sorong Mikrometer Sekrup Neraca Ohauss Mistar Jangka Sorong Mikrometer Sekrup Neraca Ohauss Mistar Jangka Sorong Mikrometer Sekrup Neraca Ohauss Mistar Jangka Sorong Mikrometer Sekrup Neraca Ohauss Panjang 1,9 cm 2,010 cm 2,048 cm 21,3 gr 2 cm 2,010 cm 2,044 cm 87,8 gr 1,8 cm 2,010 cm 2,005 cm 4,7 gr 1,9 cm 2,010 cm 2,042 cm 63,7 gr 1,9 cm 2,010 cm 2,004 cm 64,3 gr 6,8 cm 8,121 cm 8,050 cm 9,5 gr/ cm 7,920 gr/ cm 7,990 6,8 cm 8,121 cm 8,514 cm 9,4 gr/ cm 7,843 gr/ cm 7,481 gr/ cm 5,8 cm 8,121 cm 8,060 cm 0,8 gr/ cm 0,580 gr/ cm 0,583 gr/ cm 8 cm 8,121 cm 8,540 cm 11 cm 10,81 gr/ cm 10,30 gr/ cm Massa Volume 6,8 cm 8,121 cm 8,590 cm Massa Jenis 3,1 gr/ cm 2,623 gr/ cm 2,480 gr/ cm

Besi

Kayu

Kuningan

Tembaga

BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Hasil pengukuran dengan menggunakan mistar dapat ditentukan dengan cara melihat penunjukan skala yang berimpit dengan salah satu ujung benda yang diukur,dimana titk nol mistar harus tepat pada ujung benda laainnya. 2. Hasil pengukuran dengan menggunakan jangka sorong dapat ditentukan dengan cara membaca penunjukan angka 0 pada skala nonius terhadap skala utama dan skala nonius yang keberapa yang tepat berimpit atau segaris dengan skla utama. 3. Hasil pengukuran dengan menggunakan micrometer dapat ditentukan dengan cara membaca penunjukan bagian ujung skala putar terhadap skala utama dan garis horizontal (yang membagi 2 skala utama ) terhadap sumbu putar. 4. Hasil pengukuran dengan menggunakan neraca ohauss 311 gram dapat ditentukan dengan cara terlebih dahulu menentukan NST alat masing masing lengan neraca yang digunakan. 5. Hasil pengukuran dengan menggunakan stopwatch dapat ditentukan dengan cara membaca skala mulai dari penunjukan jarum menit kemudian jarum detik atau sekon.

B. SARAN
1. Sebaiknya pada pengukuran menggunakan mistar pembacaan skala dilakukan secara tegak lurus pada skala yang ditunjuk, untuk mengurangi kesalahan. 2. Sebaiknya dalam melakukan praktikum, praktikan lebih berhati hati dalam menggunakan alat ukur, untuk menghindari kerusakan. 3. Hendaknya dalam melakukan pengukuran dilakukan secara berulang ulang(pengukuran berganda) untuk mendapatkan hasil pengukuran yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Sumarsono, Joko. 2008. Fisika : Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Jawa Barat. Umar, Efrizon. 2004. Fisika dan Kecakapan Hidup. Bandung : Ganeca Exact.

Website:
Fisikazone.com Myislamblog.blogspot.com Scribd.com Wikipedia.com