Anda di halaman 1dari 19

BAB I

A. PENDAHULUAN Di penghujung abad lalu, Indonesia mengalami perubahan besar yaitu proses reformasi ekonomi dan demokratisasi dalam bidang politik. Tidak begitu lama kemudian, tepatnya pada tahun 2000, para pemimpin dunia bertemu di New York dan menandatangani Deklarasi Millenium yang berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan. Komitmen tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal sebagai Millenium Development Goals (MDGs). Pencapaian sasaran MDGs menjadi salah satu prioritas utama bangsa Indonesia. Pencapaian tujuan dan target tersebut bukanlah semata-mata tugas pemerintah tetapi merupakan tugas seluruh komponen bangsa. Sehingga pencapaian tujuan dan terget MDGs harus menjadi pembahasan seluruh masyarakat

B. RUMUSAN MASALAH Permasalahan-permasalahan yang kemudian dijadikan rumusan masalah adalah sebagaib berikut : Bagaimana sejarah dari MDGs? Apakah tujuan dari MDGs? Bagaimana perkembangan MDGs di Indonesia?

C. TUJUAN Dalam menentukan tujuan, tentu mengacu pada rumusan masalah dengan harapan makalah ini lebih sistematis dalam penyajiannya. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebgai berikut : Mengetahui sejarah MDGs Memahami tujuan MDGs Mengetahui perkembangan MDGs di Indonesia

BAB II

A. Sejarah MDGS Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global, dideklarasikan Konperensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Dasar hukum dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa Nomor 55/2 Tangga 18 September 2000, (A/Ris/55/2 United Nations Millennium Development Goals). Semua negara yang hadir dalam pertemuan tersebut berkomitment untuk mengintegrasikan MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani penyelesaian terkait dengan isu-isu yang sangat mendasar tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia, perdamaian, kemanan, dan pembangunan

B. Tujuan MDGs 1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrim Pemberantasan kemiskinan dan kelaparan ekstrim merupakan salah satu dari tujuan MDGs. Hal ini disebabkan karena dua kondisi tersebut dapat menghambat kemajuan sumber daya manusia. Kita tidak bisa menampik bahwa kita hidup butuh uang. Ketika kita mempunyai uang yang cukup maka kita dapat memanfaatkan uang tersebut untuk membeli kebutuhan pokok. Jika kebutuhan pokok tersebut dipenuhi maka kita dapat hidup dengan nyaman. Tujuan pertama MDGs (Stalker, 2008) memiliki beberapa target a) Menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadi setengahnya antara 1990-2015 diantaranya, berdasarkan angka kemiskinan tahun 1990 yaitu 15,8% maka pencapaian target pada tahun 2015 angka kemiskinan menunjukan 7,5%. b) Menyediakan seutuhnya pekerjaan yang produktif dan layak, terutama untuk perempuan dan kaum muda. Indikator pencapaian target tersebut yaitu: 1) Pertumbuhan PDB per proposisi jumlah pekerjaan/produktivitas pekerja. 2) Rasio pekerja terhadap populasi. 3) Proposisi pekerja yang hidup dan kurang dari $ 1 per hari. 4) Proposisi pekerja yang memiliki rekening pribadi dan anggota keluarga bekerja terhadap jumlah pekerja total.

c) Menurunnya

proposisi

penduduk

yang

menderita kelaparan menjadi

setengahnya antara tahun 1990 dan 2015.

2.

Mewujudkan Pendidikan Dasar untuk semua Kualitas sumber daya manusia akan meningkat/membaik jika mereka mengenyam pendidikan, paling tidak mengenyam pendidikan dasar yaitu pendidikan wajib 9 tahun. Target dari tujuan kedua MDGs (Stalker, 2008)adalah memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak di manapun, baik laki-laki maupun perempuan, akan bisa menyelesaikan pendidikan dasar secara utuh. Indikator keberhasilan ditentukan berdasarkan tingkat partisipasi di sekolah dasar, kelulusan, dan

angka melek huruf.

3.

Mendorong Kesetaran Gender dan Pemberdayaan Perempuan Masalah kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sedang

digalangkan. Posisi perempuan menjadi pusat perhatian. Pemberdayaan perempuan di segala lini kehidupan sangat diharapkan. Kita ketahui bahwa perempuan adalah tiangnya negara. Karena ditangan perempuan, generasi bangsa ini dilahirkan dan dididik. Target yang ditentukan oleh tujuan ketiga MDGs(Stalker, 2008) yaitu menghilangkan ketimpangan gender ditingkat pendidikan dasar dan lanjutan, lebik baik pada tahun 2005, dan di semua jenjang pendidikan paling lambat tahun 2015. Indikator keberhasilan ditentukan berdasarkan: a) Rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di pendidikan dasar, lanjutan, dan tinggi. b) Rasio melek huruf anak perempuan terhadap anak laki-laki usia 15-24 tahun. c) Sumbngan anak perempuan dalam berupah dalam sektor non pertanian. d) Proporsi perempuan di dalam perlemen.

4.

Menurunkan angka kematian anak Angka kematian anak masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan faktor ekonomi dan faktor pendidikan. Tujuan keempat dari MGDs ini melalui target(Stalker, 2008), diantaranya menentukan angka kematian bahkan sebesar dua pertiganya antra tahun 1990 dan 2005. Indikator keberhasilan target tersebut adalah: a) b) Angka kematian anak dibawah lima tahun. Proporsi anak usia satu tahun yang mendapatkan imunisasi campak.

5.

Meningkatkan kesehatan ibu

Perjuangan ibu yang paling besar saat melahirkan. Nyawa seorang ibu bisa jadi taruhanya. Untuk itu kesehatan ibu perlu diperhatikan. Target dari tujuan kelima MDGs (Stalker, 2008) adalah: a) Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990 dan 2005. Indikator target ini berdasarkan proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan reproduksi. b) Menyiapkan dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada tahun 2015. Indikator target ini tingkat penggunaan alat kontrasepsi oleh wanita usia 15-49 tahun dan tingkat perawatan anternal.

6.

Memerangi HIV dan AIDS, malaria, serta penyakit lainnya Target dari tujuan keenam MDGs (Stalker, 2008) adalah: a) Menghentikan dan mulai membalikkan tren penyebaran HIV dan AIDS pada tahun 2015. b) Tersedianya akses universal untuk perawatan terhadap HIV/AIDS bagi yang memerlukan pada tahun 2010. c) Menghentikan dan mulai membalikkan kecenderunagn penyebaran malaria dan penyakit-penyakit lainya pada tahun 2015.

7.

Memastikan kelestarian lingkungan Lingkungan dapat mengakibatkan bencana bagi manusia ketika tidak dilestarikan. Oleh karena itu, pembangunan sumber daya manusia perlu adanya pelestarian lingkungan secara berkesinambungan. Target dari tujuan ketujuhMDGs (Stalker, 2008) adalah: a) Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan kedalam kebijaksanaan dan program negara serta mengakhiri kerusakan sumber daya alam. 1) Proporsi lahan berupa tutupan hutan. 2) Rasio kawasan lindung untuk mempertahankan keragaman hayati. b) Mengurangi laju hilangnya beragam hayati dan mencapai pengurangan yang signifikan pada tahun 2010. c) Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses yang berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar pada tahun 2015. d) Pada tahun 2010 telah mencapai perubahan signifikan dalam kehidupan (setidaknya) 100 juta penghuni kawasan kumuh.

8.

Mengembangkan kemitraan global untuk pembangun

Beberapa asumsi, diantaranya perdagangan, bantuan, utang Internasional dan lain-lain. Target dan indikator tujuan akhir ini bertujuan untuk negara-negara maju. Hal ini dikarenakan negara-negara maju agar membantu negara-negara termiskin dalam mencapai tujuan-tujuan MDGS lainnya. Salah satu target yang menjadi bagian tujuan ke-8 MDGs adalah lebih jauh mengembangkan sistem perdagangan dan keuangan yang terbuka, berbasis peraturan, mudah diperkirakan, dan tidak diskriminatif. Setiap tujuan menetapkan satu atau lebih target serta masing-asing sejumlah indikator yang akan diukur tingkat pencapaiannya atau kemajuannya pada tenggat waktu hingga tahun 2015. Secara global ditetapkan 18 target dan 48 indikator. Meskipun secara glonal ditetapkan 48 indikator namun implementasinya tergantung pada setiap negara disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan ketersediaan data yang digunakan untuk mengatur tingkat kemajuannya. Indikator global tersebut bersifat fleksibel bagi setiap negara.

C. Perkembangan MDGs di Indonesia 1. Indikator MDGs di Indonesia Sebagai salah satu negara yang ikut menanda tangani deklarasi MDGs, Indoonesia mempunyai komitment untuk melaksanakannya serta menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan program pembangunan nasional baik jangka pendek, menengah, dan panjang. Pada hakikatnya setiaptujuan dan target MDGs telah sejalan dengan program pemerintah jauh sebelum MDGs menjadi agenda pembangunan global dideklarasikan. Pada setiap era pemerintahan Presiden Republik Indoneisa sejak awal kemerdekaan merumuskan kebijakan pembangunan yang bertujuan untuk mewujudkan kemakmuran rakyat sesuai dengan kondisi di era masing-masing. Gambaran Potret dari kemakmuran rakyat diukur melalui berbagai indikator seperti bertambah tingginya tingkat pendapatan penduduk dari waktu ke waktu, kualitas pendidikan dan derajat kesehatan yang membaik, bertambah banyaknya penduduk yang menempati rumah layak huni, lingkungan permukiman yang nyaman bebas dari gangguan alam dan aman. Penduduk mempunyai kesempatan untuk mengakses sumber daya yang tersedia, lapangan kerja yang terbuka untuk semua penduduk, terbebas dari kemiskinan dan kelaparan. Pencapaian setiap indikator pembangunan baik di bidang sosial dan ekonomi dapat diketahui melalui dokumen-dokumen resmi pemerintah seperti data yang dikeluarkan pada pidato kenegaraan menjelang HUT Kemerdekaan, publikasi resmi indikator ekonomi dan indikator sosial dari Badan Pusat Statistik (BPS), dan dokumen resmi lainnya dari setiap instansi pemerintah.

Publikasi khusus tentang laporan pembangunan pencapaian MDGs untuk pertama kalinya diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia pada bulan Februari 2004 yang kemudian dimutakhirkan pada bulan November 2007 sebagai publikasi kedua. Pada penerbitan pertama karena keterbatasan data, tujuan 8 MDGs belum dihitung, namun beberapa indikator pada tujuan 1 hingga 7 mengalami penambahan disesuaikan dengan kebutuhan menjadi 41 indikator. Sementara itu pada publikasi kedua tujuan 8 MDGs telah dihitung dengan melakukan beberapa modifikasi sehingga

jumlah indikator keseluruhan mencapai 59 indikator.


Indikator Tujuan Target 2004 Tujuan 1: Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannnya di bawah $1 per hari menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015 1. Proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional 2. Proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari $1 per hari 3. Kontribusi quantil pertama penduduk berpendapatan terendah terhadap konsumsi nasional 2007 1. Persentase penduduk dengan pen-dapatan di bawah US$ (PPP) per hari 2. Persentase penduduk dengan tingkat konsumsi di bawah garis kemiskinan nasional 3. Indeks kedalaman kemiskinan 4. Indeks keparahan kemiskinan 5. Proporsi konsumsi penduduk termiskin (kuantil pertama) Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015 Tujuan 2: Mencapai pendidikan dasar untuk semua Target 3: Memastikan pada tahun 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar 6. Angka partisipasi murni di sekolah dasar 7. Angka partisipasi murni sekolah lanjutan pertama 8. Proporsi murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas 5 9. Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar 10. Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar 11. Angka melek huruf 15-24 tahun Tujuan 3: Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015 12. Ratio anak perempuan terhadap lakilaki di tingkat sekolah dasar, lanjutan dan tinggi yang diukur melalui angka partisipasi murni anak oerempuan terhadap anak laki-laki 13. Ratio melek huruf perempuan terhadap laki-laki usia 15-24 tahun yang diukur melalui angka melek huruf 11. Rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat pendidikan dasar, lanjutan dan tinggi, yang diukur melalui angka partisipasi murni anak perempuan terhadap anak laki-laki (%) 12. Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki usia 15-24 tahun, yang diukur melalui angka melek huruf perempuan/laki-laki )indeks paritas melek huruf gender) (%) 8. Angka partisipasi murni (APM) sekolah SD/MI (7-12 tahun) 9. Angka partisipasi murni (APM) SMP/MTs (13-15 tahun) 10. Angka melek huruf usia 15-24 tahun 4. Prevalensi balita kurang gizi 5. Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (2.100 kkal/kapita/hari) 6. Persentase anak-anak berusia di bawah 5 tahun yang mengalami gizi buruk (sever underweight) 7. Persentase anak-anak berusia di bawah r tahun yang mengalami gizi kurang (moderate underweight)

perempuan/laki-laki (indeks paritas melek 13. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) huruf gender) 14. kontribusi perempuan dalam kerja upahan di sektor pertanian 15. Proporsi kursi di DPR yang diduduki perempuan perempuan (%) 14. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan (%) 15. Kontribusi perempuan alam pekerjaan upahan (%) 16. Tingkat daya beli (purchasing power parity, PPP) pada kelompok perempuan (%) 17. Proporsi perempuan dalam lembaga-lembaga public (legislative, eksekutif, dan yudikatif) (%) Tujuan 4: Menurunkan angka kematian anak Target 5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 16. Angka kematian Balita 17. Angka kematian bayi 18. Proporsi anak di bawah 1 tahun di imunisasi campak sebelum usia 1 th. 18. AKB per 1000 kelahiran hidup 19. AKABA per 1000 kelahiran hidup 20. Anak usia 12-23 bulan yang diimunisasi campak (%)

1990 dan 2015 Tujuan 5: Meningkatkan kesehatan ibu Target 6: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara 19902015 Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya Target 7: 22. Prevalensi HIV dikalangan ibu hamil 19. Angka Kematian ibu 20. Proporsi pertolongan persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih 21. Angka pemakaian kontrasepsi 21. AKI per 100.000 kelahiran hidup 22. Proporsi kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan (%) 23. Proporsi wanita 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan atau memakai alat KB (%) 24. Prevalensi HIV dan AIDS (%) 25. Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko

Mengendalikan penyebaran yang berusia antara 15-24 tahun HIV/AIDS dan mulai menurunya jumlah kasus baru pada tahun 2015

23. Penggunaan kondom pada hubungan tinggi (%) seks berisiko tinggi 24. Penggunaan kondom pada pemakai kontrasepsi 25. Persentase anak muda usia 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS 26. Penggunaan kondom pada pemakai kontrasepsi (%) 27. Persentase penduduk usia muda 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan komprehensif tantang HIV/AIDS (%)

Target 8: Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunya jumlah malaria dan penyakit lainnya pada tahun 2015

26. Prevalensi malaria dan angka kematiannya 27. Persentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria 28. Persentase penduduk yang mendapat penanganan malaria secara efektif 29. Prevalensi tuberkolosis dan angka kematian penderita tuberkolosis dengan sebab apapun selama pengobatan OAT 30. Angka penemuan penderita tuberkolosis BTS positif baru 31. Angka kesembuhan tuberkolosis

28. Prevalensi malaria per 1 000 penduduk 29. Prevalensi tuberculosis per 100 000 penduduk 30. Angka penemuan pasien tuberculosis BTA positif baru (%) 31. Angka keberhasilan pengobatan pasien tuberculosis (%)

Tujuan 7: Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup

Target 9: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional

32. Proporsi luas lahan yang tertutup hutan 33. Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan 34. Energi yang dipakai (setara barel minyak) per PDB (jutaan rupiah) 35. Emisi CO 2 (kg per kapita) 36. Jumlah konsumsi zat perusak ozon (metrik ton) 37. Proporsi penduduk berdasarkan bahan baker untuk memasak 38. Proporsi penduduk yang menggunakan kayu baker dan arang untuk memasak

32. Rasio luas kawasan tertutup pepohonan verdasarkan hasil pemotretan Staelit Landsat terhadap luas daratan (%) 33. Rasio kawasan tertutup pepohonan berdasarkan luas kawasan hutan, kawasan lindung, dan kawasan nonservasi termasuk kawasan perkebunan dan hutan rakyat terhadap luas daratan (%) 34. Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan (%) 35. Rasio luas kawasan lindung perairan (marine protected area) terhadap luas daratan (%) 36. Jumlah emisi karbondiogsida (CO 2) (metrik ton) 37. Jumlah konsumsi bahan perusak ozon (BPO) (ton) 38. Rasio jumlah emisi karbondioksida (CO 2) terhadap jumlah penduduk Indonesia (%) 39. Jumlah penggunaan energi dari berbagai jenis (setara barel minyak, SBM, (a) Fosil dan (b) Non-fosil 40. Rasio pengguna energi (total) dari berbagai jenis terhadap Produk Domestic Bruto (%) 41. Penggunaan energi dari berbagai jenis secara absolud (metrik ton)

Target 10: Penurunan sebesar

39. Proporsi penduduk dengan akses sumber air minum yang terlindungi dan

42. Proporsi rumah tangga terhadap penduduk dengan berbagai criteria sumber sir (total) (%) 43. Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai criteria sumber air (perdesaan) (%) 44. Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai criteria sumber air (perkotaan) (%) 45. Cakupan pelayanan perusahaan daerah air minum (KK) 46. Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yg layak (total) (%) 47. Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perdesaan) (%) 48. Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perkotaan) (%)

separuh, proporsi penduduk berkelanjutan tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015 40. Proporsi penduduk dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak

Tujuan 8: Mengembangkan kerja sama global utuk pembangunan

Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020 Target 12: Membangun sistem perdagangan dan keuangan yang terbuka, teratur, dapat diprediksi dan bebas dari diskriminasi

41. Proporsi rumah tangga dengan status 49. Proporsi rumah tangga yang memiliki atau rumah milik atau sewa menyewa rumah (%)

50. Rasio antara jumlah ekspor dan impor dengan PDB (%) 51. Rasio antara kredit dan tabungan (LDR) Bank Umum (%) 52. Rasio antara kredit dan tabuingan (LDR) Bank Perkreditan Rakyat (%)

Target 13: Menangangi kebutuhan khusus dari negara-negara kurang berkembang (termasuk akses tarif dan kuota) perdanganan untuk ekspor dari negara kurang berkembang; memperkuat program bantuan untuk negara-negara dengan hutang besar dan membatalkan hutang bilateral; dan bantuan pembangunan pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan Target 14: Menangani kebutuhan khusus negara-negara berkembang yang dibatasi daratan dan negara-negara kepulauan (melalui program aksi yang berkelanjutan bagi negara-negara kepulauan). Target 15: Menangani hutang negaranegara berkembang secara komprehensif dengan menggunakan ukuran nasional dan internasional dengan tujuan untuk menciptakan hutang yang berkelanjutan dalam jangka panjang 53. Rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB 54. Debt-to-Service Ratio (DSR) -

Target 16: bekerjasama dengan negara-nagara berkembang, untuk membangun dan mengimplementasikan strategi untuk kelayakan dan produktivitas kerja untuk remaja -

55. Tingkat pengangguran usia muda (15-24 tahun) 56. Tingkat pengangguran usia muda (15-24 tahun) menurut jenis kelamin 57. Tingkat pengangguran usia muda (15-24 tahun) menurut provinsi

Target 17: Bekerja sama dengan perusahaan farmasi untuk menyediakan akses terhadap obat yang -

terjangkau Taget 18: Bekerjasama dengan sektor swasta untuk memperluas teknologi informasi dan komunikasi 58. Persentase rumah tangga yang memiliki telepon dan telepon seluler 59. Persentase rumah tangga yang memiliki computer personal dan mengakses internet melalui komputer

2. Proyek Monitoring MDGS Kerjasama BPS-UNICEF Program kerja sama Pemerintah Republik Indonesia dengan UNICEF yang tertuang dalam Country Program Action Plan (CPAP), 2006-2010 salah satu di antaranya mencakup pelaksanaan kegiatan minitoring MDGs. Kegiatan minitoring ini dilimpahkan pelaksanaannya oleh pemerintah melalui BAPPENAS kepada BPS. Fokus kegiatan dalam rangka kerja sama ini adalah Peningkatan Pelayanan Sosial Terdesentralisir untuk Anak-anak dan Perempuan melalui Pemantauan MDGs di tingkat Kabupaten di Indonesia. Hal ini merupakan misi UNICEF di setiap negara. Mengukur kemajuan yang dicapai terkait dengan peningkatan pelayanan sosial dimaksud membutuhkan data yang senantiasa tersedia, tersajikan tepat waktu dengan kondisi data yang mutakhir serta terjamin kebenarannya. Namun belum semua data yang dibutuhkan, khususnya terkait dengan data MDGs tersedia terutama di tingkat kabupaten/kota. Menyadari masih lemahnya kondisi pendataan di daerah, maka perlu dibangun penyempurnaan sistem pendataan yang lebih baik agar jenis data yang dibutuhkan senantiasa tersedia. Sejak diberlakukan sistem desentralisasi, pemerintah telah mengalokasikan dana yang relatif besar di kabupaten/kota, namun belum disertai dengan dukungan data untuk pengalokasiannya di tingkat lokal sebagai acuannya. Pengalokasian dana dan sumber daya yang tepat memerlukan dukungan data di tingkat kabupaten/kota, dan bahkan hinga wilayah terkecil. Di era desentralisasi ini setiap kabupaten/kota dituntut untuk meningkatkan kemampuannya menyediakan data yang dibutuhkan untuk perencanaan pembangunan. Setiap kabupaten/kota supaya mengembangkan kapasitasnya untuk membangun sistem pendataan yang lebih sempurna, sehingga data dan informasi yang dihasilkan terpercaya dan dipertanggung jawabkan keabsahannya sebagai rujukan perencanaan. Sementara itu laporan pencapaian indikator MDGs yang diterbitkan pemerintah tahun 2004 dan 2007 masih bersifat makro (nasional dan provinsi). Penyajian pada level makro ini masih belum memadai. Penyajian indikator pada tingkat nasional memang penting sebagai laporan di tingkat internasional, untuk mengetahu sejauh mana komitmen yang telah disepakati telah berhasil dilaksanakan, dan sebagai bahan perbandingan antara negara.

Di dalam suatu negara penyajian secara makro belum menggambarkan keadaan yang sesungguhnya terjadi. Kondisi geografis yang sangat luas seperti Indinesia yang terdiri dari beribu pulau, bergam etnis dan budaya akan sangat berpengaruh. Untuk itu diperlukan penyajian indikator MDGs pada tingkat mikro (kabupaten/kota atau kecamatan) sehingga diperoleh gambaran yang sesungguhnya terjadi, seperti tingkat disparitas yang terjadi. Dengan demikian para perencana dan perumus kebijakan akan relatif mudah mengidentifikasi daerah-daerah yang masih tertinggal dan memerlukan prioritas pembangunan. Membangun dan menyempurnakan sistem pendataan di setiap kabupaten/kota adalah tidak semudah membalik telapak tangan. Langkah awal perlu diidentifikasi jenis data dan indikator yang diperlukan serta disepakati metode pengukuran, keseragaman konsep yang dipakai, dan sebagainya. Langkah berikutnya adalah meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam menangani pendataan sejak dari perencanaan, pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisis hingga deseminasi hasilnya. Dilihat dari sumber data yang tersedia saat ini terdiri dari 2 yaitu, 1) data yang dihasilkan dari BPS melalui sensus dan survei sebagai data statistik dasar, dan 2) bersumber dari produk administrasi setiap instansi/dinas. Sementara itu data yang tersedia secara rutin kecuali sensus (10 tahun sekali) cakupannya masih terbatas pada tingkat kabupaten/kota. Data produk administrasi masih banyak mengandung kelemahan baik dilihat dari cakupannya, penyajian yang terlambat, dan sering manghasilkan data estimasi yang diragukan metodologinya. Membangun dan menyempurnakan sistem pendataan di tingkat kabupaten/kota secara menyeluruh dan serentak tanpa memperoleh model yang tepat adalah tidak ideal. Kondisi ketersediaan data di setiap kabupaten/kota yang saat ini berjumlah sekitar 480 sangat berbeda-beda. Untuk itu terlebih dahulu diperlukan suatu model yang tepat untuk menjadi acuan dan prototype yang dapat diaplikasikan. UNICEF yang mendapatkan dukungan data dari Canadian International Development Agency (CIDA) terlebih dahulu melakukan uji coba untuk mendapatkan suatu model pendataan melalui Proyek Monitoring MDGs. Uji coba ini dilaksanakan di 5 kabupaten yaitu Bantaeng, Takalar, dan Bone di Provinsi Sulawesi selatan, Mamuju dan Polewali Mandar di Provinsi Sulawesi Barat.

Tujuan Proyek Monitoring MDGs

1. Mengembangkan model pendekatan secara ilmiah yang mudah dicontoh untuk perbaikan dan penyempurnaan sistem data dan informasi di kabupaten/kota

terpilih, baik penyediaan data melalui survei dan pencatatan administrasi serta manajemen pengelolaan data, 2. Meningkatkan kapasitas SDM lokal dalam membangun, mengelola, dan memanfaatkan data untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi program, khususnya yang terkait dengan data MDGs, 3. Menggalang komitmen politik dan kesadaran mengenai pentingnya memanfaatkan data yang berkualitas untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi program yang diwujudkan dalam komitmen untuk menyediakan pembiayaan pendataan di kabupaten/kota, dan 4. Mempromosikan model perbaikan dan penyempurnaan sistem pendataan berdasarkan pengalaman di 5 kabupaten uji coba sebagai prototype pendataan untuk dikembangkan dan dicontoh oleh seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan di seluruh Indonesia.

Hasil Kegiatan Proyek Monitoring MDGs

Proyek monitoring MDGs telah mengidentifikasi indikator-indikator yang dibutuhkan di 5 kabupaten uji coba dan melaksanakan serangkaian pelatihan untuk memberikan pengetahuan kepada staf yang mengelola pendataan dalam rangka peningkatan kapasitas pengelola data di daerah. Selama pelaksanaan proyek telah berhasil dibuat 12 seri buku MDGs yang terdiri dari: 1. 4 buku hasil kegiatan studi oleh konsultan (Buku Seri MDGs nomor: 1, 2, 3, dan 7). 2. 7 buku panduan kegiatan pendataan dimulai dari perencanaan survei hingga analisis data hasil survei oleh tim yang dikoordinir konsultan dan Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, BPS (Buku Seri MDGs nomor: 4, 5, 6, 8, 9, 10, dan 11). 3. 1 buku hasil analisis hasil survei MDGs tingkat kecamatan di 5 kabupaten uji coba oleh konsultan (Buku Seri MDGs Nnomor 12). Di samping ke 12 buku tersebut juga telah diterbitkan poster, leaflet, dan booklet tentang MDGs.

Produk Proyek Monitoring MDGs

1. Indikator MDGs

Usulan 5 kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat

2. Buku Hasil Studi

Seri MDGs Nomor 1 "Upaya Pemantauan dan Evaluasi Program Pelayanan Sosial Ibu dan Anak melalui Indikator Pembangunan Milenium di Indonesia"

Seri MDGs Nomor 2 "Pengembangan Metode Sampling untuk Mendapatkan Estimasi Indikator MDGs Tingkat Kecamatan"

Seri MDGs Nomor 7 "Pemetaan dan Penyempurnaan Alur Data Sektoral untuk Pemantauan Pencapaian Sasaran Pembangunan Milenium Indonesia"

3. Buku Panduan

Seri MDGs Nomor 4 "Metode Survei MDGs Tingkat Kecamatan"

Seri MDGs Nomor 5 "Panduan Penyusunan Materi Rancangan Survei untuk Para Perancang Survei MDGs Tingkat Kecamatan"

Seri MDGs Nomor 6 "Panduan Penyusunan Program Pengolahan (Entri dan Tabulasi)"

Seri MDGs Nomor 8 "Panduan Analisis Data Hasil Survei"

Seri MDGs Nomor 9 "Pedoman Penguatan dan Penyempurnaan Data sektoral"

Seri MDGs Nomor 10 "Penyusunan Data Base dan Pemetaan Menggunakan Software DevInfo"

Seri MDGs Nomor 11 "Pedoman Pengolahan Menggunakan Software SPSS"

4. Buku Analisa Hasil Survei MDGs

Seri MDGs Nomor 12 "Analisis Komprehensif Hasil Survei MDGs Tingkat Kecamatan"

3. Usaha mempercepat tercapainya MDGs di Indonesia Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempercepat tercapainya MDGs di Indonesia, beberapa di antaranya adalah : a. Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrim Usaha yang dilakukan :

Kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat miskin yang berkelanjutan yang menjadi dasar untuk menyediakan lapangan kerja produktif, termasuk bagi kaum miskin

Menciptakan Lapangan Kerja Seluas-luasnya Melalui Investasi dan Perluasan Usaha Memperbaiki Kondisi dan Mekanisme Hubungan Industrial untuk Mendorong Kesempatan Kerja dan Berusaha Menciptakan Kesempatan Kerja Melalui Program-program Pemerintah Meningkatkan Kualitas Pekerja Meningkatkan akses penduduk miskin, terutama anak balita dan ibu hamil untuk memperoleh makanan yang aman dan bergizi cukup serta mendapatkan intervensi pelayanan lainnya seperti suplementasi gizi

Meningkatkan ketahanan pangan pada tingkat daerah terutama untuk mengurangi diparitas ketahanan pangan antar daerah

b. Mewujudkan Pendidikan Dasar untuk semua Memastikan bahwa mekanisme pembiayaan pendidikan lebih pro-masyarakat miskin untuk lebih menjamin terwujudnya pembiayaan pendidikan yang adil Meningkatkan efekti vitas, efi siensi, dan akuntabilitas pelaksanaan program BOS Mempercepat dan memperluas layanan PAUD (Program Pendidikan Anak Usia Dini) yang holistik dan terintegrasi terutama di daerah pedesaan atau di daerah tertinggal Perbaikan kurikulum dan perbaikan kualitas belajar-mengajar Mempercepat peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan guru

c. Mendorong Kesetaran Gender dan Pemberdayaan Perempuan Peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan, melalui harmonisasi peraturan perundangan dan pelaksanaannya di semua tingkat pemerintahan, dengan melibatkan seluruh pemangku kepenti ngan Perlindungan perempuan terhadap berbagai ti ndak kekerasan, melaluiupayaupaya pencegahan, pelayanan, dan pemberdayaan Mengupayakan perlindungan sosial bagi kelompok perempuan yang bekerja di kegiatan ekonomi informal. Meningkatkan kualitas pekerja dan calon tenaga kerja perempuan

d. Menurunkan angka kematian anak Kebijakan dan strategi kesehatan di Indonesia difokuskan pada intervensiintervensi inti yang meliputi : imunisasi, MTBS, intervensi gizi pada anak, penguatan peran keluarga, dan peningkatan akses terhadap fasilitas kesehatan Menekankan pemberian ASI secara eksklusif dan pemberian makanan pelengkap yang sesuai Mendukung tumbuh kembang anak melalui penyediaan informasi bagi keluarga dan masyarakat tentang pemberian makanan, perawatan anak, dan upaya memperoleh layanan kesehatan e. Meningkatkan kesehatan ibu Peningkatan pelayanan outreach berbasis fasilitas dengan meningkatkan kualitas dan jumlah puskesmas, PONED, PONEK5 , rumah sakit sayang ibu dan bayi serta revitalisasi posyandu. Peningkatan akses layanan keluarga berencana melalui pengembangan jaringan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu termasuk pelayanan kesehatan reproduksi remaja dan pelayanan KB berkualitas dengan perhatian khusus pada daerah miskin dan tertinggal. Memperkuat fungsi bidan desa, termasuk kemitraan dengan tenaga kesehatan swasta dan dukun bayi serta memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat seperti melalui posyandu dan poskesdes. Memperkuat sistem rujukan, untuk mengatasi masalah siaga terlambat

danmenyelamatkan nyawa ibu ketika terjadi komplikasi melalui perawatan yang memadai tepat pada waktunya. Mengurangi hambatan finansial melalui: PKH (Program Keluarga Harapan), Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). f. Memerangi HIV dan AIDS, malaria, serta penyakit lainnya Meningkatkan akses pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi dan

menghadapi epidemi yang ada, melalui : (i) peningkatan jumlah fasilitas perawatan, pengobatan serta konseling dan tes HIV yang berkelanjutan; (ii) penguatan kemampuan menerapkan upaya pencegahan, protokol-protokol

pengendalian penyakit dan infeksi; dan (iii)peningkatan cakupan seluruh program pencegahan dan pengobatan termasuk peningkatan cakupan ARV; (iv) mengembangkan panduan nasional untuk pengarusutamaan HIV/AIDS, dan penyesuaian terhadap kondisi setempat; (v) peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengendalian HIV/AIDS; (vi) perencanaan sumber daya manusia

yang mengakomodasi meluasnya epidemi HIV/AIDS yang akan menuntut terpenuhinya keterampilan manajemen dan peningkatan permintaan akan layanan. Meningkatkan mobilisasi masyarakat untuk meningkatkan upaya pencegahan, perawatan dan pengobatan HIV dan AIDS pada populasi rentan, melalui: (i)penyediaan layanan KIE terhadap infeksi HIV dan mencegah penularannya; (ii) pelaksanaan penjangkauan terhadap masyarakat pada kelompok paling berisiko serta mencakup tes HIV, konseling dan layanan pengobatan serta perawatan di pusat rawat jalan dan lokasi-lokasi serupa, termasuk fasilitas kesehatan keliling dan mendorong peran serta masyarakat; (iii) peningkatan cakupan penggunaan kondom; (iv) mengurangi prasangka di lingkungan para petugas kesehatan, di masyarakat, dan di antara para pasien; (v) pengembangan lingkungan yang lebih kondusif untuk mengurangi stigma dan diskriminasi, ketidaksetaraan gender dan pelanggaran Hak Asasi Manusia demi terlaksananya program penanggulangan HIV/AIDS. g. Memastikan kelestarian lingkungan Untuk mengatasi laju deforestrasi, pada tahun 2008 pemerintah telah meningkatkan luas area hutan yang dilindungi dan kawasan lindung perairan secara signifi kan. Pemberantasan illegal logging diberbagai daerah dilakukan untuk mempertahankan luas kawasan hutan dan kawasan konservasi tersebut. Pemerintah juga mencanangkan gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan kri s. Selain itu, pemerintah mensosialisasikan serta memberikan insensif fiskal maupun nonfi skal dalam geraka penghematan energi dan pemakaian energi alternatif yang lebih efi sien dan ramah lingkungan misalnya pemanfaatan energi terbarukan sebagai upaya diversifi kasi. Melalui program perlindungan lapisan ozon, pemerintah akan terus menjaga larangan penggunaan bahan-bahan perusak ozon yang secara hukum sudah dilarang. Pelestarian keanekaragaman hayati merupakan salah satu prioritas dalam pengelolaan sumber daya alam sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2010-2014). h. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangun Meningkatkan ekspor nonmigas untuk produk-produk yang bernilai tambah lebih besar, berbasis pada sumber daya alam, serta permintaan pasarnya besar; Mendorong ekspor produk krea f dan jasa yang terutama dihasilkan oleh usaha kecil menengah (UKM); Mendorong upaya diversifi kasi pasar tujuan ekspor untuk mengurangi tingkatkebergantungan kepada pasar ekspor tertentu; menitikberatkan upaya

untuk perluasan akses pasar, promosi, dan fasilitasi ekspor nonmigas di kawasan Afrika dan Asia; Mendorong pemanfaatan berbagai skema perdagangan, dan kerjasama perdagangan internasional yang lebih menguntungkan kepen ngan nasional; Mendorong pengembangan ak vitas perdagangan di daerah perbatasan yang dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang ak vitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga; serta memperkuat kelembagaan dan pembiayaan perdagangan luar negeri yang mendorong efektivitas pengembangan ekspor nonmigas Pinjaman dan hibah luar negeri digunakan untuk mendukung pencapaian prioritas,tujuan, dan sasaran nasional sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan komitmen Indonesia untuk mencapai Millennium Development Goals (MDGs); Mengurangi rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB dengan tetap menjaga kondisi negative net transfers; Perbaikan Infrastruktur TIK, yang melipu Program Palapa Ring. Penyediaan Broadband Wireless Access (BWA). Implementasi 3G. Peralihan ke Televisi Digital. Pembangunan Community Access Point (CAP) Pembangunan Industri TIK, yang meliputi pelaksanaan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, penyusunan rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Informasi dan Transaksi Elektronik (RPP PITE), penyempurnaan Undang- Undang Kovergensi TIK, menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk mempromosikan investasi sektor swasta di bidang TIK.

BAB III

A. SIMPULAN Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global, dideklarasikan Konperensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Semua negara yang hadir dalam pertemuan tersebut berkomitment untuk mengintegrasikan MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani penyelesaian terkait dengan isu-isu yang sangat mendasar tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia, perdamaian, kemanan, dan pembangunan. Deklarasi ini merupakan kesepakatan anggota PBB mengenai sebuah paket arah pembangunan global yang dirumuskan dalam beberapa tujuan yaitu: 1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan, 2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk semua, 3. Mendorong Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Perempuan, 4. Menurunkan Angka Kematian Anak, 5. Meningkatkan Kesehatan Ibu, 6. Memerangi HIV/AIDs, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya, 7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup, dan 8. Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan.

B. SARAN Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempercepat MDGs, khususnya di Indonesia, beberapa di antaranya adalah : 1. Adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung MDGs. 2. Partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam mendukung program MGGs, seperti pendirian lembaga-lembaga non goverment yang bergerak di bidang kesehatan, kelestarian lingkungan,pendidikan, dan sebagainya 3. Kerjasama yang baik dari seluruh unsur, baik pemerintah maupun masyarakat untuk pencapaian percepatan MDGs.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://wikipedia.com
2. http://mdgs-dev.bps.go.id/

3. http://mdgsindonesia.org

Millennium Development Goals (MDGs)

Disusun Oleh :

Resy Susanti NIM : 822497428

PGSD POKJAR MRANGGEN UNIVERSITAS TERBUKA 2013