Anda di halaman 1dari 19

DELIRIUM

I. PENDAHULUAN
Delirium adalah suatu sindrom yang ditandai dengan gangguan kesadaran dan kognisi yang terjadi secara akut dan berfluktuasi. Delirium merupakan salah satu jenis Gangguan Mental Organik yang sering dijumpai di klinik. Kondisi ini begitu penting karena dalam menegakkan diagnosisnya diperlukan kecermatan dan ketelitian sehingga kesalahan diagnosis yang dapat berakibat fatal bagi pasien dapat dihindari.1 Delirium dikategorikan sebagai diagnosis psikiatri yang berkarakteristik gangguan kesadaran, perhatian, orientasi, dan memori. Pasien juga biasanya tidak dapat menggunakan bahasa tanpa disorganisasi. Gangguan ini dapat berubah dalam jam dan hari. Kesadaran yang naik turun merupakan kunci utama yang dapat memisahkan delirium dengan diagnosis banding lain yaitu demensia dan disorientasi merupakan kunci utama untuk memisahkan delirium dengan gangguan psikotik fungsional. Pada demensia, fungsi kognitif terganggu meskipun pasien sadar. Sedangkan pada penderita gangguan psikotik fungsional, pasien mengalami delusi dan halusinasi tetapi orientasi terhadap waktu dan tempat tidak lazim terganggu.2

II. DEFINISI
Delirium adalah suatu sindrom yang ditandai dengan gangguan kesadaran dan kognisi yang terjadi secara akut dan berfluktuasi. Delirium memperlihatkan adanya gangguan kesadaran dan kognisi, tetapi yang harus diingat bahwa delirium bukan merupakan penyakit tetapi merupakan gejala sehingga dalam menentukan adanya delirium harus berdasarkan penyebabnya. Untuk itu delirium dibagi atas: Delirium yang berhubungan dengan kondisi medik umum Delirium yang diinduksi oleh zat
1

Delirium yang berkaitan dengan berbagai penyebab.1

III.

ETIOLOGI
Penyebab delirium biasanya multifaktorial tetapi penyebab yang paling

sering adalah obat (terutama obat antikolinergik, psikoaktif, dan opioid), dehidrasi, dan infeksi. Pada 10 20% pasien, penyebab delirium masih belum diketahui.3,4 Hipotesis neurotransmitter terutama yang terlibat dalam delirium adalah acetylcholine dan daerah utama neuroanatomi yang terkena adalah formation reticularis. Beberapa laporan menyebutkan bahwa faktor penyebab terjadinya delirium adalah karena terjadi penurunan aktivitas acethylcholine dalam otak.1 Pada faktanya, perkembangan delirium berkaitan erat dengan hubungan kompleks antara pasien yang rentan (pasien dengan faktor predisposisi) dan paparan dari faktor presipitasi. Faktor predisposisi meliputi sindroma otak (demensia, stroke, parkinson), usia tua, gangguan sistem sensoris, keracunan alkohol, dan faktor pencetus lainnya.3,4 Faktor presipitasi delirium meliputi penggunaan obat (biasanya lebih dari tiga jenis obat), infeksi, dehidrasi, syok, hipoksia, anemia, imobilitas, kurang gizi, penggunaan kateter pada kandung kemih, rawat inap di rumah sakit, nyeri, kurang tidur, dan stres emosional. Gagal ginjal yang menyebabkan keracunan obat juga dapat menyebabkan delirium akibat gagalnya metabolisme dan kurangnya pembuangan residu obat karena ginjal yang tidak berfungsi.3,5 Paparan dari anastesi juga meningkatkan resiko, terutama paparan yang lama dan penggunaan antikolinergik selama operasi. Penggunaan opioid setelah operasi juga dapat meningkatkan resiko terkena delirium. Pada pasien yang tua di ICU, resiko delirium sangat tinggi.3

Kategori Penyebab Delirium

Contoh

Penyebab neurologis
2

Gangguan serebrovaskuler Migrain

Stroke hemoragik, Stroke iskemik, TIA (Transient Ischemic Attack) Migrain konfusional (migrain dengan kesadaran yang terganggu)

Peradangan atau infeksi Kejang Trauma Tumor

Ensefalomyelitis akut, Abses Otak, Vaskulitis Sistem Saraf Pusat, Ensefalitis, Meningitis, Meningoensefalitis Status Epileptikus tanpa konvulsi, Subdural Hematom, Trauma Otak Karsinomatosis Menings, Primer atau metastasis Tumor Otak Penyebab Non-Neurologis

Obat

Antikolinergik, Antiemetik, Antihistamin, Antihipertensi, Antipsikotik, Antispasmodinamik, Benzodiazepin, Kortikosteroid, Digoxin, Dopamin Agonis, Hipnotik, Relaksan Otot, Opioid, Sedatif, Trisiklik Antidepresan

Endokrin

Insufisiensi Adrenal atau Pituitari, Sindroma Cushing, Hiperparatiroid, Hipertiroid, Hipotiroid

Hematologi

Sindroma hiperviskositas, Leukemia, Polisitemia, Trombositosis

Infeksi

Demam, Pnemonia, Sepsis, Infeksi Sistemik, Infeksi Kandung Kemih

Cedera

Terbakar, Cedera Listrik, Emboli Lemak, Heatstroke, hipotermia

Metabolisme

Gangguan Asam-Basa, Abnormalitas Cairan dan Elektrolit, Ensefalopati Hepatik atau Uremik, Hiperosmolalitas, Hiperglikemia, Hipertermia, Hipoglikemia, Hipoksia, Ensefalopati Wernicke

Vaskular

Anemia, Aritmia Jantung, Gagal Jantung, Status Hipoperfusi, Syok


3

Defisiensi Vitamin Sindroma withdrawal Penyebab Lainnya

Defisiensi Thiamin, Defisiensi Vitamin B12 Alkohol, Barbiturat, Benzodiazepin, Opium Perubahan Lingkungan, Impaksi Fekal, Hipertensi Ensefalopati, Terlalu Lama di ICU, Gangguan Mental, Setelah Operasi, Deprivasi Sensoris, Kurang Tidur, Toksin yang mempengaruhi Sistem Saraf Pusat Gambar 1. Berbagai Penyebab Delirium.3,6

IV.

EPIDEMIOLOGI

Penelitian mengenai epidemiologi delirium masih sangat sedikit. Diduga sekitar 10 15% pasien rawat bedah umum pernah mengalami delirium, 15 25% pasien rawat medik umum pernah mengalami delirium selama dirawat di rumah sakit. Resiko paling banyak terjadi pada usia lebih tua sekitar 10-40%, pasien dengan kanker 25%, pasien dengan AIDS 30-40%. Juga diperkirakan sekitar 30% pasien bedah ICU pernah mengalami delirium. Yang tertinggi yaitu 90% ditemukan pada pasien post cardiotomy. 6

V. PATOGENESIS
Patogenesis delirium masih belum dipahami. Studi elektroensefalografik menunjukkan terjadinya perlambatan difusi pada latar belakang aktivitas kortikal otak yang tidak berkorelasi dengan penyebab yang mendasarinya. Penelitian neuropsikologi dan neuroimaging mengungkapkan gangguan umum pada fungsi kortikal luhur, dengan disfungsi dalam korteks prefrontal, struktur subkortikal, thalamus, ganglia basalis, korteks frontal, korteks temporoparietal, korteks fusiform, dan gyrus lingual, terutama pada sisi yang dominan. Hipotesis terkemuka untuk patogenesis delirium fokus pada peran neurotransmisi, peradangan, dan stres kronik.3 Bukti ekstensif mendukung peranan defisiensi kolinergik. Administrasi obat antikolinergik dapat menyebabkan delirium pada manusia dan hewan, dan
4

aktivitas serum antikolinergik meningkat pada pasien dengan delirium. Dopaminergik berlebih juga berkontribusi pada delirium, kemungkinan

dikarenakan oleh efek pelepasan asetilkolin. Sitokin, terutama interleukin-1, interleukin-2, interleukin-6, TNF-, dan interferon dapat menyebabkan delirium dengan meningkatkan permeabilitas darah-otak dan mengubah neurotransmisi.3 Stres kronis yang disebabkan oleh penyakit atau trauma dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik dan aksis hipotalamus-hipofisis-

adrenokortikal mengakibatkan peningkatan kadar sitokin serta hiperkortisolisme memiliki efek merusak pada serotonin di hippokampal (5 - hydroxytryptamine [5HT]) reseptor 5-HT, yang berkontribusi pada delirium. Mengingat heterogenitas dan sifat multifaktorial delirium, ada kemungkinan bahwa beberapa mekanisme patogen juga berkontribusi terhadap perkembangan delirium.3

VI.

MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis delirium tampak pada periode singkat dari beberapa jam

hingga beberapa hari. Gejala itu bahkan berfluktuasi sepanjang hari, sehingga terkadang pasien akan mengalami keadaan tanpa gejala sama sekali. Beberapa ciri gejala delirium terdapat di bawah ini: Onsetnya akut Terjadi tiba-tiba, biasanya dalam periode jam atau hari. Berfluktuasi Gejala datang dan pergi atau meningkat dan menurun pada periode 24 jam. Tidak fokus Kesulitan memfokuskan perhatian dan kesulitan mengikuti pembicaraan atau mengikuti komando. Pikiran yang tidak terorganisasi

Dapat dilihat dalam cara bicara yang tidak teratur atau inkoheren dan ide-ide yang tidak logis. Penurunan kesadaran Kesadaran berkabut dan penurunan pasti kesadaran akan lingkungannya. Defisit fungsi kognitif Biasanya terjadi deficit global atau lokal pada kognisi termasuk disorientasi, deficit memori, dan gangguan bahasa. Gangguan persepsi Ilusi atau halusinasi pada 30% pasien. Gangguan psikomotor Variasi gangguan psikomotor pada delirium: o Hiperaktif, ditandai dengan agitasi dan kewaspadaan. o Hipoaktif, ditandai dengan letargi, disertai penurunan fungsi motorik. o Campuran Gangguan siklus tidur-bangun Ditandai dengan gangguan siklus tidur dan mengantuk, biasanya di siang hari, insomnia di malam hari, tidur yang terfragmentasi, atau pembalikan siklus bangun dan tidur. Gangguan emosional Sering terjadi dan bermanifestasi dalam gejala-gejala, seperti merasa takut, paranoia, cemas, depresi, iritabilitas, apati, marah, atau euforia.1,4,7

VII. DIAGNOSIS
Terdapat beberapa langkah dalam mendiagnosis delirium. Pemeriksa dapat menyimpulkannya melalui pemeriksaan status mental, kriteria diagnosis standar, riwayat, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang:3 Pemeriksaan Status Mental3 Pasien dengan tanda-tanda gangguan kognitif memerlukan pemeriksaan status mental. Penilaian akan perhatian pasien dinilai terlebih dahulu. Tes sederhana dapat berupa pengulangan nama-nama tiga benda, kemampuan berhitung, dan penamaan hari dalam seminggu ke depan dan belakang. Kurangnya perhatian harus dibedakan dengan memori jangka pendek yang buruk. Kriteria diagnostik Standar DSM-IV8,10 Setelah penilaian awal, berikutnya adalah menilai menggunakan kriteria diagnostik standar seperti DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) dapat digunakan. Terdapat beberapa kriteria diagnosis delirium dalam DSM-IV: 1. Kriteria diagnostik delirium yang berhubungan dengan kondisi medik

umum a. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadap lingkungan dalam bentuk memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian) b. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dan jangka pendek namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat, dan orang) c. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari
7

d. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk menemukan penyebab delirium ini 2. Kriteria diagnostik delirium yang disebabkan intoksikasi zat a. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadap lingkungan dalam bentuk memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian) b. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dan jangka pendek namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat, dan orang) c. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari d. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk menemukan delirium (i) atau (ii): i. Gejala pada kriteria a dan b berkembang selama intoksikasi zat ii. Penggunaan intoksikasi disini untuk mengatasi penyebab yang ada hubungan dengan gangguannya. Intoksikasi zat yang menimbulkan delirium a.l: Alkohol, amfetamin (atau yang mirip dengan amfetamin), kanabis, kokain,

halusinogen, inhalan, opioid, fensiklidin, sedatif, hipnotik, ansiolitik, dsb. Juga zat lain seperti simetidin, digitalis, benztropin 3. Kriteria diagnostik delirium yang disebabkan putus zat
8

a. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadap lingkungan dalam bentuk memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian) b. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dan jangka pendek namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat, dan orang) c. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari d. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk menemukan penyakit delirium ini dalam kriteria (i) dan (ii). Keadaan ini berkembang selama atau dalam waktu singkat sesudah sindroma putus zat 4. Kriteria diagnostik delirium yang berkaitan dengan berbagai penyebab a. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadap lingkungan dalam bentuk memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian) b. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dan jangka pendek namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi waktu, tempat, dan orang)

c. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari d. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium untuk menemukan etiologi delirium ini yang disebabkan oleh lebih dari satu penyebab kondisi medik umum, disertai intoksikasi zat atau efek samping medikasi Sejalan dengan DSM-IV-TR, gambaran utama dari delirium adalah kesadaran berkabut tentang lingkungan. Gejala yang secara umum terjadi pada delirium adalah awitannya akut dan hampir sebagian besar dari delirium diawali perubahan pola tidur, kelelahan yang sulit dijelaskan, mood yang berfluktuasi, fobia terhadap tidur, gelisah, cemas, dan mimpi buruk yang sering muncul.1 Riwayat Pasien3 Riwayat diperoleh dengan menganamnesis keluarga, pengasuh, dan temanteman pasien. Hal ini dapat menentukan apakah perubahan status mental yang terjadi merupakan delirium atau demensia. Riwayat juga dapat membedakan gangguan jiwa lainnya dan delirium. Gangguan mental delirium

menyebabkan kurangnya perhatian atau kesadaran yang berfluktuasi, dan timbulnya gangguan mental hampir selalu subakut. Sundowning merupakan hal yang umum pada penderita demensia. Riwayat juga harus mencakup penggunaan alkohol dan obat-obatan dengan fokus terutama pada obat-obatan dengan efek pada sistem saraf pusat. Penambahan atau pengurangan dosis juga perlu diperhatikan. Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang3, 9 Pemeriksaan Fisik harus fokus pada tanda vital, status hidrasi, potensi infeksi, dan pemeriksaan neurologis. Pada pemeriksaan neurologis, yang terpenting ialah menguji tingkat kesadaran. Menguji tingkat kesadaran ada dua cara, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Pada kualitatif dapat ditemukan :
10

Compos mentis yaitu sadar sepenuhnya, dapat menjawab pertanyaan di sekelilingnya Apatis yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya atau acuh tak acuh Delirium yaitu gelisah, disorientasi, memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berkhayal Somnolen yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang dan kemudian tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal Stupor yaitu keadaan seperti tertidur lelap tetapi ada respon terhadap nyeri Koma yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun Pada kuantitatif dengan menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale): 1. Menilai respon membuka mata (E) (4) : spontan (3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata). (2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari) (1) : tidak ada respon 2. Menilai respon verbal/bicara (V) (5) : orientasi baik (4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu. (3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak) (2) : suara tanpa arti (mengerang) (1) : tidak ada respon 3. Menilai respon motorik (M) (6) : mengikuti perintah (5) : melokalisir nyeri (menjangkau dan menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
11

(4) : withdraws (menghindar / menarik ekstremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri) (3) : fleksi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada dan kaki ekstensi saat diberi rangsang nyeri). (2) : ekstensi abnormal (tangan satu atau keduanya ekstensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal dan kaki ekstensi saat diberi rangsang nyeri). (1) : tidak ada respon Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E, V, dan M. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1. Setelah dilakukan skoring maka dapat diambil kesimpulan : Compos Mentis (GCS: 15-14) Apatis (GCS: 13-12) / Somnolen (GCS: 11-10) Delirium (GCS: 9-7) Stupor (GCS: 6-4) Coma (GCS: 3) Pemeriksaan penunjang biasanya mencakup CT-Scan atau MRI, pemeriksaan penunjang untuk tersangka infeksi (misalnya kultur darah, x-ray dada, dan urinalisis), dan pemeriksaan elektrolit, BUN, kreatinin, glukosa, level darah terhadap obat-obatan yang diduga memiliki efek toksik, dan pemeriksaan urin terhadap obat-obatan.3 Jika diagnosis masih belum jelas, pemeriksaan lebih lanjut seperti GDA, tes fungsi hati, pengukuran serum kalsium dan albumin, TSH, vitamin B12, ESR, ANA, dan VLDR. Dan jika masih belum jelas lagi, pengujian dapat mencakup analisa CSF (terutama untuk menyingkirkan meningitis, ensefalitis, atau perdarahan subarakhnoid), pengukuran serum amonia, dan pemeriksaan logam berat.3

12

VIII. DIAGNOSA BANDING


Delirium seringkali didiagnosis banding dengan demensia. Perbedaan paling nyata tampak pada awitannya, yaitu delirium awitannya tiba-tiba, sedangkan pada demensia berjalan perlahan, meskipun kedua kondisi tersebut mengalami gangguan kognitif, tetapi pada demensia lebih stabil, sedangkan pada delirium berfluktuasi.1 Gambaran Klinis Gangguan Daya Ingat Gangguan Proses Pikir Gangguan Daya Nilai Gangguan Berkabut Major Attention Deficits Fluktuasi Perjalanan Penyakit (1 hari) Disorientasi Gangguan Persepsi Jelas Inkoherensi Gangguan Siklus Tidur-Bangun Eksaserbasi Nokturnal Insight/Tilikan Awitan Akut/Subakut Delirium +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ Demensia +++ +++ +++ + + ++ + + + + -

Gambar 2. Perbedaan Klinis Delirium dan Demensia.1 Delirium juga harus dibedakan dari skizofrenia dan gangguan depresi. Beberapa pasien dengan gangguan psikotik terutama skizofrenia atau episode manik mungkin pada satu keadaan menunjukkan perilaku yang sangat kacau sulit dibedakan dengan delirium. Secara umum, halusinasi dan waham pada pasien skizofrenia lebih konstan dan lebih terorganisasi dibandingkan dengan kondisi pasien delirium.1

13

Pasien mungkin mengalami gejala hipoaktif dari delirium mungkin menunjukkan gejala yang sama dengan pasien depresi berat, tetapi untuk membedakannya dapat dilakukan pemeriksaan EEG.1

IX.

PENATALAKSANAAN
Dalam mengobati delirium, hal yang paling utama adalah mengobati

penyebabnya. Bila penyebabnya akibat toksisitas antikolinergik, maka digunakan pisostigmin salisilat 1-2 mg intravena atau intramuskular dan dapat diulang 15-30 menit bila diperlukan.1,3, 7 Dua gejala utama delirium yang memerlukan terapi obat yaitu psikosis dan insomnia. Obat yang dianggap cocok untuk psikosis adalah haloperidol. Pemberian dosis obat tergantung umur, berat badan, dan kondisi pasien tersebut. Umumnya pemberian haloperidol berkisar antara 2-10 mg intramuskular dan dapat diulang satu jam kemudian bila pasien masih menunjukkan agitasi.1,3,7 Segera bila pasien sudah tenang dapat diberikan obat secara peroral yang terbagi atas dua dosis yaitu sepertiganya diberikan pada pagi hari dan dua pertiga pada saat tidur. Untuk mencapai dosis yang sama seperti suntikan, maka jumlah dosis yang diberikan peroral satu setengah kali dari dosis suntik. Dosis efektif haloperidol pada kebanyakan penderita delirium berkisar antara 5-50 mg.1,3 Pemberian golongan fenotiazine, sebaiknya dihindari karena dihubungkan dengan aktivitas antikolinergik yang bermakna. Insomnia sebaiknya diatasi dengan golongan benzodiazepine yang mempunyai waktu paruh pendek atau menengah seperti lorazepam 1-2 mg sebelum saat tidur.1,3, Walaupun dikatakan bahwa terapi kejang listrik (ECT) dapat memperbaiki delirium, tetapi sebaiknya tidak digunakan. Jikalau delirium ada hubungannya dengan nyeri yang sangat atau sesak nafas, jangan ragu-ragu untuk memberikan opioid .karena dapat mengatasi nyeri dan dapat membuat tidur.1,11

14

Gambar 3. Terapi untuk delirium.3

X. PROGNOSIS
Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada pasien delirium ketika mereka dirawat di rumah sakit atau yang mengidap delirium selama rawat inap, 35 sampai 40% dari pasien rawat inap dengan delirium meninggal dalam waktu 1 tahun. Delirium karena kondisi tertentu (misalnya, hipoglikemia, keracunan obat atau alkohol, infeksi, faktor iatrogenik, toksisitas obat, ketidakseimbangan elektrolit) biasanya cepat sembuh dengan pengobatan.3, 11, 12 Pasien delirium dapat sembuh total. Namun, pemulihan mungkin lambat (hari, minggu, bahkan bulan), terutama pada orang tua, sehingga pasien lebih lama di rumah sakit, Pasien juga dapat mengalami peningkatan risiko dan tingkat keparahan komplikasi, biaya meningkat, dan cacat jangka panjang. Beberapa pasien tidak pernah sepenuhnya pulih dari delirium. Dua tahun setelah delirium terjadi, risiko kognitif, penurunan fungsional, dan kematian meningkat.3,11,12
15

KESIMPULAN
Delirium adalah suatu sindrom yang ditandai dengan gangguan kesadaran dan kognisi yang terjadi secara akut dan berfluktuasi. Yang disebabkan oleh multifaktorial dibagi atas dua yaitu neurologis dan non neurologis. Patogenesis delirium sampai saat ini masih belum dipahami tapi beberapa hipotesis menyatakan patogenesis fokus pada peran neurotransmisi, peradangan, dan stres kronik. Gejala klinik delirium yaitu : Onsetnya akut, Berfluktuasi, Tidak fokus, Pikiran yang tidak terorganisasi, Penurunan kesadaran, Defisit fungsi kognitif, Gangguan persepsi, Gangguan emosional. Untuk mendiagnosis delirium dilakukan Pemeriksaan Status Mental, Kriteria diagnostik Standar DSM-IV, Riwayat Pasien, Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang. Obat yang diberikan yaitu untuk gejala psikotik dan insomnia yaitu benzodiazepine dan haloperidol
16

psikomotor,

Gangguan

siklus

tidur-bangun,

Gangguan

Pasien delirium dapat sembuh total. Namun, pemulihan mungkin lambat (hari, minggu, bahkan bulan), terutama pada orang tua, sehingga pasien lebih lama di rumah sakit, Pasien juga dapat mengalami peningkatan risiko dan tingkat keparahan komplikasi, biaya meningkat, dan cacat jangka panjang. Beberapa pasien tidak pernah sepenuhnya pulih dari delirium

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri: Delirium. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2010. p.99-105. 2. Greenberg DB. Preventing Delirium at the End of Life: Lessons From Recent Research. Primary Care Companion J Clin Psychiatry 2003;5(2): 61-7. Tersedia dari:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC353038. 3. Huang J. Delirium. The Merck Manual for Health Care Professional. Merck; 2013 [diunduh tanggal 7 Februari 2014]. Tersedia dari: http://www.merckmanuals.com/professional/neurologic_disorders/deli rium_and_dementia/delirium.html. 4. Inouye SK. Delirium in Older Persons. N Engl J Med 2006; 354: 115765. Tersedia dari:

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra052321. 5. Mayo Clinic Staff. Delirium. Diseases and Conditions [document on the internet]. Mayoclinic online; 2012 Aug 15 [diunduh 7 Februari 2014]. Tersedia dari: http://www.mayoclinic.org/diseases-

conditions/delirium/basics/definition/con-20033982. 6. Brown T, Boyle M. ABC of psycological Medicine. Delirium. Mayou R, Sharpe M, Carson A.Editors. London : BMJ publishing Group 2013. P. 49-51 7. Amir N, Pamusu D, Aritonang I. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran
(PNPK) Jiwa/Psikiatri. Delirium. Jakarta : PP PDSKJI. 2012. P.4-6

8. Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJIII. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2001. p.27-8. 9. Jennet B. Development of Glasgow Coma and Outcome Scales. Nepal J of Neuroscience 2005;2: 24-48. Tersedia dari:

www.neuroscience.org.np/14j.pdf.

18

10. First MB, Tasmon A. Clinical Guide To The Diagnosis And Treathment of Mental disorder. Delirium, Dementia and amnestic disorder. New York : John Wiley. 2006. P 84-91 11. National Institutes of Health. Delirium [document on the Internet]. Medline Plus Online; 2013 [diperbaharui tanggal 27 Februari 2013; diunduh 8 Februari 2014]. Tersedia dari:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000740.htm. 12. Australian Government. Complication of Delirium [document on the Internet Perth: Curtin University; 2009 [diunduh tanggal 8 Februari 2014]. Tersedia dari: http://cra.curtin.edu.au/local/docs/delirium_training_package/Manage mentOfConfusionFinalMarch09/module01/complicationsdelirium.html.

19