Anda di halaman 1dari 1

Harus Ada Pengendalian Alih Fungsi Lahan

Lima tahun terakhir, 15.000-17.000 hektar sawah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, beralih fungsi menjadi kawasan permukiman dan industri. Kelompok tani di Karawang berharap Rancangan Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan segera disahkan untuk menahan laju alih fungsi lahan.

Ada tren, sekarang di sejumlah daerah pertanian di Karawang, petani menjual sawahnya dengan harga mahal, sampai naik 120 persen dari harga awal, kepada pendatang dari pinggiran kota. Ironisnya, petani yang awalnya pemilik lahan itu lalu menjadi buruh tani di bekas lahan yang dimilikinya, kata Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Karawang Bidang Pertanian Tanaman Pangan Ijam Sujana (55), Selasa (4/3), di Karawang. Di Kecamatan Tempuran, daerah tempat kelompok tani Ijam, Gemah Ripah I, fenomena tersebut mulai muncul. Harga sawah yang awalnya Rp 150 juta per hektar kini bisa menjadi Rp 400 juta per hektar. Kecamatan Tempuran di wilayah utara Karawang termasuk salah satu sentra padi. Namun, sebagaimana halnya Kecamatan Cilamaya Wetan dan Cilamaya Kulon, Tempuran juga terancam akan terdampak rencana pembangunan pelabuhan laut internasional di Cilamaya. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Karawang Kadarisman, sentra pertanian Karawang di wilayah utara itu tidak akan terganggu rencana pembangunan pelabuhan laut. Bupati hanya mengizinkan alih fungsi lahan pertanian seluas 150 hektar bagi pembangunan jalan akses dari pelabuhan laut ke daerah Klari, kata dia. Kadarisman mengatakan, pihaknya mendata sawah di Karawang sejak tahun 2012. Kami data luasan sawah, siapa pemiliknya, di mana alamatnya, ujar dia. Data itu bisa menjadi acuan bagi Rancangan Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diharapkan disahkan pada 2015. Hingga 2013, luas sawah di Karawang berdasarkan data Dinas Pertanian dan Kehutanan Karawang adalah 97.529 hektar, yang menghasilkan 1,515 juta ton gabah kering panen. Adapun jumlah petani di Karawang tercatat 268.072 keluarga. Sebanyak 39 persen adalah buruh tani. Sementara itu, petani di Kecamatan Tabukan, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, cemas menghadapi musim tanam padi selanjutnya. Hal ini karena belum ada penyelesaian terhadap rencana alih fungsi lahan sawah seluas 2.393 hektar yang mereka kerjakan selama ini menjadi perkebunan kelapa sawit. Yanto (55), petani di Desa Teluk Tamba, Tabukan, berharap pemerintah segera memastikan bahwa lahan persawahan mereka tidak dialihfungsikan. Dari sawah itu kami menggantungkan hidup, kata dia.

Sumber: Kompas/06 Maret/2014