Anda di halaman 1dari 40

TUGAS KHUSUS

DEPARTEMEN PENGENDALIAN PROSES


PT. PUPUK KALIMANTAN TIMUR, Tbk
Bontang Kalimantan Timur
EVALUASI NERACA MASSA DAN NERACA PANAS SERTA VARIABEL S/C
RATIO PADA UNIT PRIMARY REFORMER PABRIK-1











Disusun oleh :
RAGAGUCI
08/265454/TK/33668


JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 1
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Unit reforming adalah unit yang sangat penting di pabrik ammonia karena unit ini
menyuplai kebutuhan syn-gas di reaktor sintesa ammonia (ammonia converter). Pada
pabrik pupuk yang didalamnya terdapat pabrik ammonia, reformer adalah alat yang
mengkonsumsi energi paling besar yaitu sekitar 40% energi pabrik ammonia.
Pabrik Pabrik-1 Pupuk Kalimantan Timur Bontang adalah pabrik dengan umur
yang sudah tergolong tua karena sudah mulai dikonstruksi pada tahun 1979 dan start-up
pada tahun 1982 sehingga penggunaan energi tidak efisien. Penggunaan gas alam pada
reformer baik untuk keperluan bahan bakar maupun umpan reaktan steam-reforming
dinilai masih boros jika dibandingkan dengan teknologi yang lebih baru. Mengingat isu
energi yang sangat hangat dibicarakan di Indonesia, maka pabrik Pabrik-1 dituntut untuk
menghemat penggunaan energinya.
Primary reformer adalah alat pada unit reformer yang mengkonsumsi gas alam
dalam jumlah yang besar. Di dalam primary reformer terjadi reaksi antara gas alam
(CH
4
) dan steam (H
2
O) yang bersifat sangat endotermis sehingga diperlukan supply
panas dari lingkungan. Panas yang di-supply diperoleh dari pembakaran gas alam
menggunakan udara dan ditransferkan ke dalam tube-tube reaktor yang berisi katalis
tempat reaksi steam-reforming berlangsung. Hubungan penggunaan jumlah steam dan
bahan bakar berbanding terbalik untuk memperoleh komposisi outlet primary reformer
yang diinginkan. Penggunaan steam dan bahan bakar dinilai belum optimal untuk
memberikan nilai konsumsi energi yang paling minimal.

1.2. Rumusan Masalah
Variabel operasi yang menjadi perhatian di primary reformer ini adalah
penggunaan jumlah steam sebagai umpan reaksi dan jumlah gas alam sebagai bahan
bakar penyuplai panas yang dibutuhkan reaksi. Rasio penggunaan steam dan gas alam
lebih dikenal dengan sebutan steam per carbon ratio (S/C ratio). S/C yang lebih tinggi
menandakan penggunaan steam yang lebih besar, dengan kata lain penggunaan bahan
bakar untuk memproduksi steam tersebut juga lebih besar. S/C yang dibuat tinggi
berakibat jumlah panas yang harus di-supply menjadi lebih rendah, sedangkan jika S/C
ditekan rendah berakibat kebutuhan panas untuk reaksi menjadi meningkat. Pada operasi
primary reformer terdapat variabel terikat yaitu jumlah CH
4
tersisa (methane leak)
sebesar 10%. Penggunaan S/C tinggi mengakibatkan reaksi lebih cepat sehingga supply
panas perlu dikurangi, begitu pula sebaliknya. Jumlah steam dalam S/C ratio perlu di
optimalkan dengan supply panas yang diperlukan sehingga diperoleh penggunaan energi
yang paling minimal untuk mencapai komposisi methane leak outlet tube reformer
sebesar 10 %. Instrumen pengukur laju steam untuk primary reformer juga menunjukkan
kinerja yang kurang baik, sehingga perlu dievaluasi berapa laju steam yang sebenarnya.
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 2
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada



1.3. Tujuan
Tugas khusus ini bertujuan untuk mengevaluasi neraca massa dan neraca panas
pada tube katalis primary reformer tempat terjadinya reaksi steam-reforming. Dengan
evaluasi neraca massa dan neraca panas tersebut ingin dipelajari pengaruh perubahan
nilai S/C ratio terhadap jumlah panas yang harus di-supply (suhu flue gas radiant
section) untuk tetap memperoleh methane leak sebesar 10 %. Selain itu ingin diketahui
nilai flow steam aktual yang sebenarnya dengan mencocokkan data hasil simulasi dengan
data aktual dari pabrik Pabrik-1.


1.4. Manfaat
Diharapkan dengan adanya tugas khusus ini dapat diketahui hubungan variable
S/C ratio terhadap suhu flue gas radiant section yang perlu dicapai untuk tetap
mendapatkan methane leak sebesar 10%. Selain itu dapat pula diketahui flow steam
umpan reformer yang sebenarnya untuk mengkoreksi ketidakakuratan pengukuran di
lapangan.

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 3
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


BAB II
DESKRIPSI PROSES

Unit reformer (C-1001 ABCD) Berfungsi untuk melakukan proses steam reforming
terhadap gas alam untuk memperoleh gas H
2
sebagai bahan baku yang digunakan dalam
reaksi pembuatan ammonia.
Reaksi berlangsung dengan menggunakan katalis Nikel (Ni) dengan promotor katalis
adalah alkali untuk mencegah terbentuknya deposit karbon karena dapat menutupi
permukaan aktif dari nikel. Gas alam dan steam akan melewati tube-tube yang berisi katalis
nikel. Panas yang diperoleh untuk reaksi diperoleh dari pembakaran gas alam ditambah
dengan flash / purge gas (jika diperlukan) di main burner dimana suhu dijaga 910
o
C.
Primary Reformer terdiri dari 4 buah cell, tiap cell mempunyai reaktor tube sebanyak 96
buah dengan diameter dalam 4 inch dan panjang 13,67 m. Selain itu Primary Reformer juga
dilengkapi dengan 60 buah burner tiap cell (total 240 buah). Gas untuk bahan bakar
dialirkan ke dua bagian yaitu: main burner (pembakaran untuk memanaskan tube, tekanan
0,91 bar) dan auxiliary burner (pemanasan tambahan, tekanan 0,96 bar). Panas gas sisa hasil
pembakaran digunakan untuk pemanasan coil-coil heat exchanger. Udara untuk pembakaran
masuk ke ruang bakar dengan bantuan ID-Fan.
Gas alam terutama CH
4
diharapkan tersisa sebesar 10% untuk selanjutnya diproses di
Secondary Reformer. Reaksi yang terjadi bersifat endotermis.
Reaksi katalitik reforming, yaitu:



Disamping itu terdapat pula reaksi samping yang sering menjadi masalah dalam
proses steam reforming ini yaitu terjadinya deposit karbon. Adanya deposit karbon dapat
menyebabkan berkurangnya aktifitas katalis karena menutupi pori-pori dan permukaan aktif
katalis. Pada umumnya, deposit karbon dapat terbentuk apabila rasio antara steam dan gas
alam yang akan direaksikan rendah. Deposit karbon akan terbentuk apabila S/C di bawah
2,5, sehingga untuk menghindari hal tersebut maka pengoprasian dilakukan dengan S/C 3,3
(design).
Reaksi pembentukan deposit karbon adalah :
CO
2
+ H
2
C + 2 H
2
O
2 CO CO
2
+ C

C
n
H
m
+ 2H
2
O C
(n1)
H
(m2)
+CO
2
+ 3H
2
CH
4
+ H
2
O CO+ 3H
2
CO+ H
2
O CO
2
+ H
2
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 4
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses steam reforming antara lain adalah :
- Suhu
Reasi yang terjadi bersifat endotermis sehingga lebih baik bila dilakukan pada suhu
yang tinggi. Suhu keluar dari primary reformer sekitar 812
o
C (aktual 750
o
C). Dalam
pengaturan temperatir reformer, flow udara dibuat berlebih dengan excess oksigen
sekitar 3,5 % dari kebutuhan stoikiometris pembakaran fuel di burner agar pembakaran
fuel berjalan sempurna. Temperatur ruang bakar juga dipengaruhi oleh tingkat
kevakuman. Tekanan vakum di radiant section dibuat berkisar antara -5 sampai -9 mm
H
2
O. Kevakuman berfungsi untuk mengarahkan pembakaran agar api tidak menyentuh
tube yang menyebabkan pemanasan pada tube berlebih dan mencegah api keluar
reformer. Kondisi ruang bakar yang terlalu vakum dapat menyebabkan waktu tinggal
gas terlalu cepat sehingga suhu di readiant section menjadi turun.
- Tekanan
Secara teori kesetimbangan reaksi, konversi reaksi akan semakin meningkat pada
tekanan yang lebih rendah karena koefisien produk lebih besar dibanding koefisien
reaktan, sehingga digunakan tekanan rendah. Namun secara keseluruhan akan lebih
menguntungkan bila proses dilakukan pada tekanan tinggi (sekitar 40 bar) karena :
Secara overall reaksi terjadi penambahan volume, volume gas yang berbanding
terbalik dengan tekanan sehingga pada tekanan tinggi volume gas akan kecil
sehingga peralatan yang digunakan menjadi lebih kecil.
Mengurangi beban syn-gas compressor karena inlet syntesa loop beroperasi pada
tekanan antara 230 250 bar.
Variabel tekanan jarang sekali dimainkan dalam pengoperasian primary refomer
- Steam per Carbon ratio (S/C)
Dengan bertambahnya S/C rasio yang masuk ke primary reformer maka gas alam yang
bereaksi juga akan semakin besar, tetapi dengan banyaknya gas alam yang bereaksi
tidak menguntungkan di proses secondary reformer. Proses di secondary reformer
menjadi terlalu panas sehingga dikhawatirkan reaksi terganggu dan dikhawatirkan rasio
antara nitrogen dengan hidrogen yang diiinginkan tidak tercapai. S/C rasio yang
digunakan di Pabrik-1 sekitar 3,3-3,5.
Gas keluar desulfuriser (D-1001) dikirim ke primary reformer yang sebelumnya
dicampur dengan steam 40 kg/cm
2
g pada Mixing Tube pos 57 dan campuran dipanaskan di
E-1004 ABCD sampai suhu 494
o
C. Laju alir steam diatur sehingga rasio S/C = 3,2 (design).
Aliran feed yang sudah dipanaskan dimasukkan ke dalam tube-tube primary reformer yang
berisi katalis Ni. Gas syntesa hasil reaksi primary reforme memiliki komposisi design mol
H
2
(68,47 %), CO (10,46 %), CO
2
(10,69 %), CH
4
(10,28 %) dan inert.

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 5
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

Pemanas untuk tube katalis diperoleh dari hasil pembakaran gas alam di main burner
primary tersebut dan temperatur Skin Tube dijaga maksimal 920
o
C, panas flue gas sisa
pembakaran dimanfaatkan untuk pemanas coil-coil heat exchanger di convection section,
antara lain :
1. Memanaskan HP BFW (Boiler Feed Water) di E-1001 AB
2. Memanaskan gas proses di E-1002-1 AB dan E-1002-2 AB
3. Memanaskan udara proses di E-1003 ABCD
4. Memanaskan umpan Primary Reformer di E-1004 ABCD
5. Memproduksi HP Steam di E-1005-1 AB dan E-1005-2 AB
6. Memproduksi Steam Superheat di E-1006-1 AB dan E-1006-2 AB
Gambar 1. Unit Primary Reformer
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 6
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

3.1. Reaksi Steam Reforming
Reaksi Steam Reforming adalah suatu reaksi yang berfungsi untuk mengkonversi gas
alam menjadi gas karbon monoksida, karbon dioksida, dan gas hidrogen agar bisa digunakan
sebagai gas sintesis pada reaktor sintesis amonia. Pada pabrik amonia, biasanya reaksi Steam
Reforming dilaksanakan pada unit Primary Reformer dan secondary reformer dengan
bantuan katalis nikel. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
CH4 + H2O CO + 3 H2
CH4 + 2 H2O CO2 + 4 H2
C2H6 + 4 H2O 2 CO2 + 7 H2
C3H8 + 6 H2O 3 CO2 + 10 H2
C4H10 + 8 H2O 4 CO2 + 13 H2
C5H12 + 10 H2O 5 CO2 + 16 H2
C6H14 + 12 H2O 6 CO2 + 19 H2
Reaksi Steam Reforming sebagian besar memiliki entalpi reaksi yang positif, sehingga agar
reaksi dapat terlaksana, diperlukan pasokan energi untuk mencukupi kebutuhan reaksi
tersebut.

3.2. Reaktor Primary Reformer
Primary Reformer merupakan bejana yang berfungsi untuk memproduksi gas sintesa
kaya hidrogen yang diperlukan sebagai bahan baku amonia melalui reaksi Steam Reforming
antara gas alam proses dengan steam, dibantu oleh katalis nikel. Primary Reformer terdiri
dari 4 buah sel dan setiap sel memiliki 96 tube berisi katalis sebagai tempat melangsungkan
reaksi. Untuk kebutuhan panas reaksi, Primary Reformer dilengkapi dengan 60 buah burner
untuk setiap sel. Panas reaksi didapat dari reaksi pembakaran gas alam (fuel gas) dengan
udara. Unit Primary Reformer di Pabrik-1, yang memiliki lisensi Lurgi, memiliki burner
dengan tipe terrace firing, yang memiliki dua bagian: Radiant Section dan Convection
Section. Pemanfaatan utama panas hasil pembakaran adalah untuk memenuhi kebutuhan
panas reaksi Steam Reforming, yang dilakukan pada Radiant Section. Sedangkan panas sisa
yang telah digunakan untuk melangsungkan reaksi Steam Reforming, digunakan lebih lanjut
sebagai pemanas di Convection Section.
- Radiant Section
Pada bagian ini terjadi proses Steam Reforming, yaitu semua hidrokarbon gas
proses direaksikan menjadi karbon monoksida, karbon dioksida, dan hidrogen.
Kebutuhan energi reaksi tersebut dipenuhi dari panas pembakaran yang berpindah dari
bagian pembakar ke tube yang berisi katalis melalui proses radiasi. Pada Radiant
Section, burner dalam Primary Reformer diposisikan aksial terhadap tube katalis dan
tersebar di beberapa sisi tube agar penyebaran panas lebih merata.
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 7
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


- Convection Section
Pada bagian ini, perpindahan panas terjadi secara konveksi. Convection Section
terdiri atas Heat Exchanger yang bertujuan memanfaatkan panas yang terbawa oleh flue
gas dari main burner. Untuk menyuplai panas tambahan pada Convection Section,
digunakan auxilliary burner.

3.3. Reaksi Kimia pada Primary Reformer
Reaksi steam reforming berlangsung pada suhu 750 C 1050 C dan tekanan 30 atm
dengan pertimbangan konversi reaksi utama optimum dan konversi reaksi samping
minimum. Reaksi yang terjadi adalah:
Reaksi utama:
CH
4
+ H
2
O

CO + 3H
2
AH
298
= 206.2 kJ/mol (1)
Reaksi samping:
CO + H
2
O CO
2
+ H
2
AH
298
= -41.1 kJ/mol (2)
CH
4
+ 2H
2
O

CO
2
+ 4H
2
AH
298
= 164.9 kJ/mol (3)
Persamaan laju reaksi yang diambil dari M.H Halabi et al. (2008) berdasarkan konsep
pendekatan LHWW lebih umum dipakai untuk menjelaskan model kinetika untuk methane
steam reforming. Berdasarkan persamaan reaksi di atas, maka didapatkan persamaan laju
reaksi untuk reaksi 1,2, dan 3 adalah sebagai berikut :
2
1
3
5 , 2
1
1
) (
) (
2
2 4
2
DEN
K
P P
P P
P
k
r
CO H
O H CH
H
(
(

=
(4)

2
2
2
2
2
) (
) (
2
2
2
DEN
K
P P
P P
P
k
r
CO H
O H CO
H
(

=
(5)

2
3
4
2
5 , 3
3
3
) (
) (
2 2
2 4
2
DEN
K
P P
P P
P
k
r
CO H
O H CH
H
(
(

=
(6)

dengan : DEN =
(

+ + + +
2
2 2
4 4 2 2
1
PH
P K
P K P K P K
O H O H
CH CH H H CO CO
(7)


Tekanan parsial komponen i dihitung dengan rumus :
P
i
= y
i
. P
t
(8)
y
i
= F
i
/ F
t
(9)
dengan : P
i
= tekanan parsial komponen i (bar)
P
t
= tekanan total sistem (bar)
F
i
= kecepatan molar komponen i (kmol/s)
F
t
= kecepatan molar total (kmol/s)

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 8
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


k
1
, k
2,
dan k
3
untuk reaksi di atas mengikuti persamaan Arhenius, sebagai berikut :
k
1
= 1,17 x 10
15
exp (-240.100/R/T) , mol/kgkat/s
k
2
= 5,43 x 10
5
exp (-67.130/R/T) , mol/kgkat/s
k
3
= 2,83 x 10
14
exp (-243.900/R/T) , mol/kgkat/s

Harga konstanta kesetimbangan (K
1
, K
2
, K
3
) dan konstanta adsorpsi (K
CO
, K
H2,
K
CH4
, dan
K
H2O
) masing-masing dihitung dari persamaan-persamaan berikut (M.H Halabi et al., 2008) :
K
1
= exp ([-26.830/T]+30,114) bar
2

K
2
= exp ([4.400/T] 4,063)
K
3
= K
1
x K
2
bar
2

K
CO
= 8,23 x 10
-5
exp (8.497,71/T)
K
H2
= 6,12 x 10
-9
exp (9.971,13/T)
K
H2O
= 1,77 x 10
5
exp (-10.666,35/T)
K
CH4
= 6,65 x 10
-4
exp (4.604,28/T)

Panas reaksi untuk reaksi 1, 2, dan 3 masing-masing diperoleh dengan persamaan-persamaan
berikut ini :
Hr
1
= Hr
1
+CpdT (10)
Hr
2
= Hr
2
+CpdT (11)
Hr
3
= Hr
3
+CpdT (12)


3.4. Neraca Massa pada Primary Reformer

F
i
|
z
F
i
|
z+z


z
z+z

Gambar 2. inkremen volume pada primary reformer

Neraca massa pada inkremen volume Gambar 1 ditampilkan dalam Tabel 1 berikut :
Tabel 1. Neraca massa pada inkremen volume primary reformer
Komponen Input Output
CH
4
FCH
4,0
FCH
4,0
- FH
2
O
,0
(x
1
+ 0,5x
3
)
CO
2
FCO
2,0
FCO
2,0
+ FH
2
O
,0
(x
2
+ 0,5x
3
)
CO FCO
,0
FCO
,0
+ FH
2
O
,0
(x
1
x
2
)
H
2
O FH
2
O
,0
FH
2
O
,0
(1 - x
1
x
2
- x
3
)
H
2
FH
2,0
FH
2,0
+ FH
2
O
,0
(3x
1
+ x
2
+ 2x
3
)
Inert FI
,0
FI,
0
Total Ft
,0
Ft
,0
+ FH
2
O
,0
(2x
1
+ x
3
)

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 9
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


Keterangan : Fi = kecepatan molar komponen i (kmol/s)
x
1
= konversi H
2
O menurut reaksi 1, terhadap umpan H
2
O
x
2
= konversi H
2
O menurut reaksi 2, terhadap umpan H
2
O
x
3
= konversi H
2
O menurut reaksi 3, terhadap umpan H
2
O
Untuk menyederhanakan persoalan, maka dimisalkan :
y
1
= x
1
x
2

y
2
= x
2
+ 0,5x
3

Maka Tabel 1 di atas ditampilkan dalam Tabel 2 berikut ini :
Tabel 2 Neraca massa pada inkremen volume primary reformer
Komponen Input Output
CH
4
FCH
4,0
FCH
4,0
- FH
2
O
,0
(y
1
+ y
2
)
CO
2
FCO
2,0
FCO
2,0
+ FH
2
O
,0
(y
2
)
CO FCO
,0
FCO
,0
+ FH
2
O
,0
(y
1
)
H
2
O FH
2
O
,0
FH
2
O
,0
(1 - y
1
2y
2
)
H
2
FH
2,0
FH
2,0
+ FH
2
O
,0
(3y
1
+ 4y
2
)
Inert FI
,0
FI,
0
Total Ft
,0
Ft
,0
+ FH
2
O
,0
2(2y
1
+ y
2
)

Neraca Massa CH
4
per tube

CH
4
masuk - CH
4
keluar - CH
4
bereaksi =

CH
4
terakumulasi
4 4
1 3
| | (( ) ( )) 0
CH z CH z z b
F F r r A z
+A
+ A =
0 ) ( lim
3 1
0
4 4
=
A

A +
A
b
z z
CH
z
CH
z
A r r
z
F F

b
CH
A r r
dz
dF
) (
3 1
4
+ =
| |
b
O H CH
A r r
dz
y y F F d
) (
) (
3 1
2 1 0 , 0 ,
2 4
+ =
+

0 ,
3 1 2 1
2
) (
O H
b
F
A r r
dz
dy
dz
dy +
= +
(13)


Neraca Massa CO per Tube
CO

masuk - CO

keluar - CO

bereaksi + CO terbentuk =

CO

terakumulasi
0 )) ( ) (( | |
1 2
= A
A + b z z z
z A r r FCO FCO
0 ) ( lim
2 1
0
=
A

A +
A
b
z z
CO
z
CO
z
A r r
z
F F

b
CO
A r r
dz
dF
) (
2 1
=
| |
b
O H CO
A r r
dz
y F F d
) (
) (
2 1
1 0 , 0 ,
2
=
+

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 10
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

0 ,
2 1 1
2
) (
O H
b
F
A r r
dz
dy
=
(14)
Neraca Massa CO
2
per

Tube
CO
2
masuk - CO
2
keluar + CO
2
terbentuk =

CO
2
terakumulasi
0 )) ( ) (( | |
3 2 2 2
= A + +
A + b z z z
z A r r FCO FCO
0 ) ( lim
3 2
2
0
2
= +
A

A +
A
b
z z
CO
z
CO
z
A r r
z
F F

b
CO
A r r
dz
dF
) (
3 2
2
+ =
| |
b
O H CO
A r r
dz
y F F d
) (
) (
3 2
2 0 , 0 ,
2 2
+ =
+

0 ,
3 2 2
2
) (
O H
b
F
A r r
dz
dy +
=
(15)

dengan : A = luas penampang pipa = ) (
4
2 2
m D
i
t


b
= bulk density katalis (kg/m
3
)


3.5. Neraca Panas pada Primary Reformer

Neraca panas disusun untuk sebuah elemen volume pada pipa katalis dan dianggap
tidak ada penggunaan temperatur ke arah radial sehingga temperaturnya hanya ditinjau ke
arah aksial.
Panas masuk panas keluar + panas diterima panas reaksi = panas terakumulasi
0
( ) | . .( ) | . . . .( ) . . 0
i i ref z i i ref z z D i i i
FCp T T F Cp T T U D z Tg T F x Hr t
+A
+ A A A =


0
0
. .
lim . .( ) | . .( ) | . . . .( )
i i i
i i ref z z i i ref z D
z
F x Hr
F Cp T T F Cp T T U D z Tg T
z
t
+A
A
A A
= A
A


2
3 1 2
0 ,0 1 2 3
. . . .( ) 0, 5.
dT
dz .
D H O r r r
i i
dx dx dx
U D z Tg T F H H H
dz dz dz
F Cp
t
| |
A A + A + A
|
\ .
=



Atau
2
1 2
0 ,0 1 1 2
. . . .( ) ( )
dT
dz .
D H O r r r
i i
dy dy
U D z Tg T F H H H
dz dz
F Cp
t
| |
A A + A + A
|
\ .
=

(16)

Suhu pemanas (gas hasil pembakaran) diasumsikan konstan pada seksi radiasi di
sepanjang pipa.


Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 11
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada




dengan : T = temperatur gas dalam pipa katalis (

C)
= temperatur fuel gas di luar pipa katalis (

C)
Do = diameter luar pipa katalis (

C)
Hr
i
= panas reaksi untuk reaksi i (kJ/mol)
Cp
i
= kapasitas panas reaksi i (kJ/kg/

C)
Ud = koefisien transfer panas total (kW/m
2
/

C)
T
ref
= temperatur referensi (

C)

Harga Ud dicari dari persamaan berikut (Kern, 1950) :

1 1 1
d io o
Rd
U h h
= + + (17)
dengan :
Rd = dirt factor
h
io
= koefisien perpindahan panas gas dalam pipa berdasarkan permukaan luar pipa
(kW/m
2
/

C)
h
o
= koefisien perpindahan panas gas di luar pipa (kW/m
2
/
0
C)
0
D
D
h h
i
i io
=
(18)

dengan : h
i
= koefisien perpindahan panas gas di dalam pipa (kW/m
2
/
0
C)
h
i
dihitung dengan persamaan berikut (Froment dan Bischoff, 1990)
) / 6 exp( ) )(Re / ( 813 , 0
9 , 0
1 1 i p i i
D D D k h =
(19)

dengan : Re
1
= D
p
/G
1

1

Dp = diameter ekivalen katalis (m)
= 6 x volum partikel/luas permukaan total partikel
Di = diameter dalam pipa (m)
G
1
= supervicial mass velocity gas dalam pipa (kg/m2/s)
k
1
= konduktifitas rata-rata gas dalam pipa (kJ/ms/
0
C)

1
= viskositas rata-rata gas dalam pipa (kg/ms)
Koefisien perpindahan panas dalam tube yang berisi katalisator dapat didekati dengan
persamaan Leva (Perry, 1999) :
untuk
Dt
Dp
< 0,35 :

9 , 0
6

.
813 , 0
|
|
.
|

\
|
=
G Dp
e
Dt
k
hi
Dt
Dp
(20)

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 12
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

untuk 0,35 <
Dt
Dp
< 0,6 :

75 , 0

.
125 , 0
|
|
.
|

\
|
=
G Dp
Dt
k
hi (21)

dengan :
hi : koefisien perpindahan panas dalam tube (kW/m
2
/C)
k : konduktivitas panas (kW/m/C)
Dp : diameter katalisator (m)
Dt : diameter dalam tube (m)
G : superficial mass velocity (kg/m
2
/s)
: viskositas gas (kg/m/s)

Koefisien Perpindahan Panas di Luar Tube
Menurut Lobo and Evans Method , total transfer panas dalam furnace (radiasi dan
konveksi) adalah sebagai berikut:
4 4
0,173. . . . . .( )
100 100
Tg Ts
Q F A hc Ac Tg Ts o
(
| | | |
= +
(
| |
\ . \ .
(

(22)
dengan :
Q : panas yang ditransfer per waktu, BTU/jam
A : luas perpindahan panas radiasi ekuivalen, ft
2

Ac : luas cold plane, ft
2

F : faktor bentuk
hc : koefisien konveksi, BTU/jam.ft
2
.
o
F
Tg : suhu flue gas di seksi radiasi,
o
F
Ts : suhu permukaan tube,
o
F
: absorptivitas

apabila diambil asumsi hc=2 dan Ac=2..A, serta semua variabel dibagi dengan F (jika
konveksi dipertimbangkan maka digunakan angka 0,57), sehingga persamaan (22) dapat
disederhanakan menjadi:

4 4
2.2. .
0,173. . . . ( )
100 100 0, 57
Tg Ts A
Q F A Tg Ts
o
o
(
| | | |
= +
(
| |
\ . \ .
(


4 4
0,173. 7.( )
. . 100 100
Q Tg Ts
Tg Ts
AF o
(
| | | |
= +
(
| |
\ . \ .
(


4 4
4
0,173
. 7.( )
. . 100
Q
Tg Ts Tg Ts
AF o

( = +


Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 13
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

2 2 2 2
4
1730
. ( ).( ) 7.( )
. . 1000
Q
Tg Ts Tg Ts Tg Ts
AF o

( = + +


2 2
4
1730
( ).( ) 7 .( )
. . 1000
Q
Tg Ts Tg Ts Tg Ts
AF o
(
( = + + +
(

(23)

untuk mempermudah perhitungan, maka Ts diganti dengan T (suhu gas dalam tube),
dengan korelasi:
Ts = 0,5.(Tg+T)
Tg-Ts =Tg 0,5.Tg 0,5.T
Tg-Ts =0,5.(Tg - T) (24)
substitusi persamaan (24) ke dalam persamaan (23) diperoleh:
2 2
4
1730
( ).( ) 7 .0, 5( )
. . 1000
Q
Tg Ts Tg Ts Tg T
AF o
(
( = + + +
(


2 2
4
1 1730
. ( ).( ) 7 .( )
2 1000
Q
F Tg Ts Tg Ts Tg T
A
o
(
( = + + +
(


.( )
o
Q
h Tg T
A

= (25)
2 2
4
1 1730
. ( ).( ) 7
2 1000
o
h F Tg Ts Tg Ts o
(
( = + + +
(

(26)

Nilai absorptivitas () dalam furnace tergantung dari center to center spacing
(perbandingan antar pusat pipa dengan diameter luar pipa).
= f (center to center spacing)
= 1 [0,0277 + 0,0927 .(y - 1)].(y - 1) (27)
CC
OD
= (28)
dengan:
CC : jarak antar pusat pipa
OD : diameter luar pipa

Nilai faktor bentuk (F) tergantung dari emisivitas dan luas area refractory dari furnace dan
luas perpindahan panas radiasi:

(29)
dimana:




Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 14
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada





dengan :
e : emisivitas
A
w
: refractory area
A
R
: luas perpindahan panas radiasi
A
cp
: luas cold plane
L
w
: lebar furnace
L
L
: panjang furnace
L
H
: tinggi furnace
Nilai emisivitas tergantung dari tekanan parsial gas karbondioksida dan uap air serta beam
length.
e = f(p,L)
(30)
e = a + b(p.L) + c(p.L)
2
(31)
dimana :
a = 0,47916 0,19847.z + 0,22569.z
2

b = 0,47029 +0,0699.z - 0,001528.z
2

c = 0,000803 0,00726.z +0,001597.z
2

z
V =
dengan:
p : tekanan parsial CO
2
dan H
2
O
e : emisivitas
L : beam length
V : volume reaktor
Tg : suhu flue gas pada seksi radiasi
(Kern, 1950)

3.6. Pressure Drop pada Primary Reformer
Penurunan tekanan sepanjang pipa katalis dihitung dengan persamaan Ergun sebagai
berikut ( Fogler, 1999) :
1
1 3 5
150(1 ) 1 1
1, 75
1.10
p p
G dP
G
dz D D
c c
c
| | | |
| |
= +
| |
|
| |
\ .
\ . \ .
(32)

dengan : P = tekanan (bar)
z = jarak dari inlet pipa katalis (m)
G
1
= superficial mass velocity gas dalam pipa (kg/m
2
/s)
D
p
= diameter ekivalen partikel katalis (m)
= berat jenis gas dalam pipa (kg/m
3
)
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 15
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

= viskositas rata-rata gas (kg/m/s)
= void fraction
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 16
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


BAB IV
METODOLOGI

Evaluasi neraca massa dan neraca panas pada primary reformer pada tugas khusus
ini dilakukan dengan mengolah data input aktual pada persamaan-persamaan yang sudah
disusun sebelumnya dengan menggunakan pemrograman komputer (MATLAB). Hasil
perhitungan pemogaman komputer tersebut yang berupa data perhitungan output primary
reformer dibandingakan dengan data output primary reformer aktual yang ada di pabrik
Pabrik-1.
Evaluasi nilai S/C ratio dilakukan dengan melihat hubungan nilai S/C ratio dan
panas pembakaran furnace pada berbagai nilai untuk mencapai methane leak keluaran
primary reformer sebesar 10 %.
4.1. Metode Pengambilan Data
4.1.1. Data Primer
Merupakan data yang diperoleh dari pengukuran variabel operasi (Flow rate,
temperatur, dan tekanan) pada input dan output primary reformer. Data primer
didapatkan dari log sheet harian reformer pada control room, log sheet harian reformer
field area, laporan analisa harian laboratorium PKT, dan laporan analisa harian
laboratorium PT Pertamina Gas. Data yang dikumpulkan adalah pada tanggal 22 Januari
2012, 23 Januari 2012, dan 25 Januari 2012. Data-data yang dikumpulkan antara lain :
- Flow rate gas proses (gas alam) setelah unit desulfurizer
- Flow rate steam yang diumpankan pada pos 57 (sebelum dicampur dengan gas alam)
- Suhu inlet tube reformer
- Tekanan inlet tube reformer
- Suhu radiant section
- Komposisi gas alam inlet tube reformer
- Suhu outlet tube reformer
- Tekanan outlet tube reformer
- Komposisi gas reformat outlet reformer
Beberapa data di atas tersebut merupakan data pada empat shell primary reformer
dengan waktu pendataan setiap 2 jam setiap harinya, sehingga data-data tersebut perlu
diambil nilai rata-ratanya pada setiap tanggal.

4.1.2 Data Sekunder
Merupakan data yang diperoleh dari literatur. Selain itu dikumpukan pula data
desain ukuran reformer, spesifikasi tube katalis, dan spesifikasi katalis. Data sekunder
yang dikumpulkan antara lain:
- Data desain operasi pabrik
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 17
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

- Dimensi ruang bakar reformer
- Dimensi dan jumlah tube reformer
- Ukuran dan densitas katalis
- Sifat fisis komponen penyusun gas (berat molekul, densitas, kapasitas panas, viskositas
gas)
- Kinetika kecepatan reaksi di primary reformer
4.2. Metode Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan simulasi menggunakan pemrogaman komputer
(MATLAB). Data input pemrogaman komputer mengikuti data aktual yang diperoleh dari
pabrik Pabrik-1 dan data hasil simulasi yang berupa data output dibandingkan dengan data
aktual pabrik sesuai dengan tanggalnya masing-masing sehingga suatu nilai kesalahan
relatif.
Nilai flow steam yang sebenarnya dapat diketahui dengan mensimulasikan
pemrogaman komputer dengan mengubah-ubah nilai S/C ratio sehingga diperoleh methene
leak sedekat mungkin dengan data aktual. Untuk evaluasi S/C ratio, disimulasikan
pemrogaman komputer yang sama dengan data input tetap pada salah satu tanggal dengan
nilai S/C dan suhu radiant section yang divariasikan sehingga diperoleh methane leak selalu
sekitar 10 %. Data output yang dihasilkan adalah suhu outlet tube dan pressure drop. Untuk
mempelajari pengaruh dari variabel-variabel tersebut, dibuat grafik hubungan antara S/C
ratio terhadap suhu radiant section, S/C ratio terhadap suhu outlet tube, dan suhu radiant
section terhadap suhu outlet tube.
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 18
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tugas khusus ini bertujuan untuk mengevaluasi neraca massa dan neraca panas serta
variabel S/C ratio pada unit primary reformer ammonia Pabrik-1. Persamaan-persamaan
yang digunakan disusun sedemikian rupa sehingga dapat disimulasikan dengan
menggunakan pemrogaman komputer (MATLAB). Untuk mempermudah penyusunan
persamaan dan simulasi, maka diperlukan beberapa asumsi, antara lain:
- Setiap 1 mol C
2
H
6
dianggap setara dengan 2 mol CH
4

- Setiap 1 mol C
3
H
8
dianggap setara dengan 3 mol CH
4

- Setiap 1 mol C
4
C
6
dianggap setara dengan 1 mol C
3
H
8

- Dianggap tidak terjadi reaksi deposit karbon, sehingga performa tube katalis
dianggap sempurna.
- Bentuk ruang bakar (furnace) dianggap berbentuk balok sehingga volume ruang
bakar untuk simulasi lebih besar daripada aktualnya
- Seluruh tube katalis (384 buah) dianggap berada dalam satu ruang bakar furnace, dan
dianggap hanya 11 tube yang tidak beroperasi.
5.1. Simulasi Neraca Massa dan Neraca Panas Primary Reformer
Neraca massa dan panas pada primary reformer dievaluasi dengan membandingkan
hasil simulasi yang berupa komposisi gas, suhu, dan pressure drop dengan data aktual
lapangan yang kemudian dihitung nilai kesalahan relatif terhadap data aktual pada setiap
datanya.
- Tanggal 22 Januari 2012
Data rata-rata yang diinputkan pada simulasi tanggal 22 Januari antara lain:
S/C ratio (kmol/kmol) : 4,4015
Flow rate gas (kmol/h) : 2120,295
Komposisi methane inlet (%) : 95,307
Komposisi CO
2
inlet (%) : 4,642
Suhu gas inlet (
o
C) : 467,6402
Tekanan gas inlet (bar) : 35,51875
Suhu flue gas radiant section : 841,75
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 19
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

0 2 4 6 8 10 12 14
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
9000
10000
panjang, z
f
l
o
w

k
o
m
p
o
n
e
n
,

k
g
m
o
l
/
h
r


flow H2O
flow CH4
flow FCO
Flow CO2
Flow H2

Gambar 3. Konsentrasi berbagai komponen gas sepanjang tube katalis pada tanggal 22
Januari 2012
0 2 4 6 8 10 12 14
700
750
800
850
900
950
1000
1050
panjang, z
s
u
h
u
,
K

Gambar 4. Suhu gas sepanjang tube katalis pada tanggal 22 januari 2012
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 20
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

0 2 4 6 8 10 12 14
32
32.5
33
33.5
34
34.5
35
35.5
36
panjang, z
p
r
e
s
s
u
r
e
,
b
a
r

Gambar 5. Tekanan Gas Sepanjang Tube Katalis pada tanggal 22 januari 2012
Perbandingan data hasil simulasi dengan data aktual pabrik disajikan pada tabel dibawah
ini:
Tabel 3. Data perbandingan hasil simulasi dan data aktual pada tangal 22 Januari 2012.
Tanggal 22 Januari 2012
Variabel outlet Aktual Simulasi Kesalahan relatif, %
CO
2
, % 12,2000 13,1630 7,8934
CO,% 7,3600 7,4490 1,2092
H
2
, % 70,4633 69,6370 1,1727
CH
4
, % 9,8300 9,7510 0,8037
Suhu outlet,
o
C 730,0833 764,2550 4,6805
Pressure drop, bar 2,9146 3,1204 7,0630

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 21
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

- Tanggal 23 Januari 2012
Data rata-rata yang diinputkan pada simulasi tanggal 23 Januari antara lain:
S/C ratio (kmol/kmol) : 4,35908
Flow rate gas (kmol/h) : 2127,689
Komposisi Methan inlet (%) : 95,323
Komposisi CO
2
inlet (%) : 4,6265
Suhu gas inlet (
o
C) : 473,1875
Tekanan gas inlet (bar) : 35,69167
Suhu flue gas radiant section : 848,1667
0 2 4 6 8 10 12 14
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
9000
10000
panjang, z
f
l
o
w

k
o
m
p
o
n
e
n
,

k
g
m
o
l
/
h
r


flow H2O
flow CH4
flow FCO
Flow CO2
Flow H2

Gambar 6. Konsentrasi berbagai komponen gas sepanjang tube katalis pada tanggal 23
Januari 2012
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 22
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

0 2 4 6 8 10 12 14
700
750
800
850
900
950
1000
1050
panjang, z
s
u
h
u
,
K

Gambar 7. Suhu gas sepanjang tube katalis pada tanggal 23 januari 2012
0 2 4 6 8 10 12 14
32.5
33
33.5
34
34.5
35
35.5
36
panjang, z
p
r
e
s
s
u
r
e
,
b
a
r

Gambar 8. Tekanan Gas Sepanjang Tube Katalis pada tanggal 23 januari 2012

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 23
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

Perbandingan data hasil simulasi dengan data aktual pabrik disajikan pada tabel dibawah
ini:
Tabel 4. Data perbandingan hasil simulasi dan data aktual pada tangal 23 Januari 2012.
Tanggal 23 Januari 2012

Variabel outlet Aktual Simulasi Kesalahan relatif, %
CO
2
, % 12,2333 13,0490 6,6676
CO,% 7,4000 7,7300 4,4595
H
2
, % 70,2567 69,7910 0,6628
CH
4
, % 9,9867 9,4300 5,5741
Suhu outlet,
o
C 731,5833 773,3930 5,7150
Pressure drop, bar 2,9187 3,1049 6,3788

- Tanggal 25 Januari 2012
Data rata-rata yang diinputkan pada simulasi tanggal 25 Januari antara lain:
S/C ratio (kmol/kmol) : 4,41603
Flow rate gas (kmol/h) : 2114,371
Komposisi methane inlet (%) : 95,972
Komposisi CO
2
inlet (%) : 4,0007
Suhu gas inlet (
o
C) : 472,5417
Tekanan gas inlet (bar) : 35,82708
Suhu flue gas radiant section : 845,0208
0 2 4 6 8 10 12 14
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
9000
10000
panjang, z
f
l
o
w

k
o
m
p
o
n
e
n
,

k
g
m
o
l
/
h
r


flow H2O
flow CH4
flow FCO
Flow CO2
Flow H2

Gambar 9. Konsentrasi berbagai komponen gas sepanjang tube katalis pada tanggal 25
Januari 2012
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 24
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

0 2 4 6 8 10 12 14
700
750
800
850
900
950
1000
1050
panjang, z
s
u
h
u
,
K

Gambar 10. Suhu gas sepanjang tube katalis pada tanggal 25 januari 2012
0 2 4 6 8 10 12 14
32.5
33
33.5
34
34.5
35
35.5
36
panjang, z
p
r
e
s
s
u
r
e
,
b
a
r

Gambar 11. Tekanan Gas Sepanjang Tube Katalis pada tanggal 25 januari 2012


Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 25
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


Perbandingan data hasil simulasi dengan data aktual pabrik disajikan pada tabel dibawah
ini:
Tabel 5. Data perbandingan hasil simulasi dan data aktual pada tangal 25 Januari 2012.

Tanggal 25 Januari 2012
Variabel outlet Aktual Simulasi Kesalahan relatif, %
CO
2
, % 12,5000 13,0150 4,1200
CO,% 7,2633 7,5340 3,7265
H
2
, % 70,0767 69,8350 0,3449
CH
4
, % 10,0267 9,6160 4,0957
Suhu outlet,
o
C 730,3542 767,0780 5,0282
Pressure drop, bar 2,7104 3,1029 14,4811

Data hasil evaluasi neraca massa dan neraca panas pada primary reformer pada
berbagai tanggal tersaji pada gambar 3 sampai gambar 11 dan tabel 3 sampai tabel 5 diatas.
Secara kesuluruhan dapat dilihat kecendrungan hasil simulasi yang sesuai dengan teori
reaksi steam-reforming dalam tube katalis. Jika dibandingkan dari CH
4
leak, hasil simulasi
memiliki kesalahan relatif terbesar terhadap data aktual sebesar 5,5741%. Suhu gas reformet
keluaran tube reformer hasil simulasi memiliki kesalahan relatif terbesar terhadap data aktual
sebesar 5,7150%. Kesalahan relatif terbesar terdapat pada data pressure drop sebesar
14,4811%
Jika ditinjau secara keseluruhan dapat dilihat bahwa data hasil simulasi sudah hampir
mendekati data aktual yang tercatat di pabrik. Kesalahan relatif yang ditimbulkan dapat
disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
- Persamaan yang menjabarkan supply panas ke tube katalis masih belum tepat sesuai
dengan keadaan lapangan.
- Kinerja tube-tube katalis yang tidak seluruhnya sama.
- Hasil rata-rata pada data harian aktual.
- Flow steam belum terukur dengan tepat sehingga nilai S/C yang diinputkan juga
belum tepat.
5.2. Evaluasi Variabel S/C ratio
Evaluasi variabel S/C ratio dilakukan dengan mensimulasikan persamaan matematis
pada kondisi yang sudah ditentukan dengan variabel bebas adalah S/C (kmol/kmol) pada
suhu flue gas radiant section tetap, dan variabel bebas suhu flue gas radiant section pada S/C
tetap. Evaluasi ini memberikan data hasil berupa grafik hubungan variabel S/C terhadap
methane leak dan suhu gas keluar primary reformer dan hubungan suhu radiant section
terhadap methane leak dan suhu gas keluar primary reformer.
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 26
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

Evaluasi variabel S/C ratio ini juga dilakukan dengan mensimulasikan persamaan
matematis pada kondisi yang sudah ditentukan dengan variabel bebas S/C ratio (kmol/kmol)
dan suhu radiant section. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan variabel bebas
sehingga selalu diperoleh methane leak sebesar 10 %. Variabel tetap yang diinputkan untuk
simulasi antara lain:
Flow rate gas (kmol/h) : 2127,689
Komposisi Methan inlet (%) : 95,323
Komposisi CO
2
inlet (%) : 4,6265
Suhu gas inlet (
o
C) : 472
Tekanan gas inlet (bar) : 35,75

Hasil Simulasi

Gambar 12. Hubungan S/C ratio terhadap methane leak outlet tube primary reformer

Pada gambar 12 dapat terlihat bahwa semakin tinggi nilai S/C yang digunakan
atau dengan kata lain semakin besar flow steam yang digunakan maka methane leak
yang keluar dari tube reformer akan semakin kecil pada suhu flue gas radiant section
yang sama (845
o
C). Hubungan antara S/C ratio terhadap methane leak pada suhu flue
gas tetap menghasilkan persamaan exponensial dengan persamaan y=23,48.e
-0,22.x
,
dimana y adalah methane leak (%) outlet tube reformer dan x adalah nilai S/C ratio
(kmol/kmol).
Pada gambar 13 terlihat hubungan suhu flue gas radiant section sebagai penyuplai
panas reaksi terhadap methane leak gas outlet tube yang dihasilkan. Pada gambar 13
dapat dilihat semakin tinggi suhu flue gas maka methane leak yang dihasilkan semakin
kecil pada nilai S/C yang tetap (4,2 kmol/kmol). Data hasil simulasi didekati dengan
persamaan exponensial y=2827,033.e
-0,0067.x
, dimana y adalah methane leak (%) outlet
tube reformer dan x adalah suhu flue gas radiant section (
o
C).
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 27
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


Gambar 13. Hubungan Suhu Radiant Section terhadap Methane Leak outlet tube
primary reformer



Gambar 14. Hubungan S/C ratio terhadap Suhu Gas Outlet Primary Reformer

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 28
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


Gambar 15. Hubungan Suhu Radiant Section terhadap Suhu Gas Outlet Primary
Reformer
Pada gambar 14 dapat terlihat hubungan S/C ratio yang digunakan terhadap suhu
gas reformat pada suhu flue gas radiant section tetap (845
o
C). Gambar 14 menunjukkan
semakin tinggi nilai S/C yang digunakan maka suhu gas reformat yang keluar dari tube
katalis akan semakin rendah. Data simulasi pada gambar 14 didekati dengan persamaan
exponensial y=829,3.e
-0,01.x
, dimana y adalah suhu gas reformat outlet tube reformer
(
o
C) dan x adalah nilai S/C ratio (kmol/kmol).
Hubungan suhu flue gas radiant section terhadap suhu gas reformet keluar tube
reormer pada S/C tetap (4,2 kmol/kmol) dapat terlihat pada gambar 15. Semakin tinggi
suhu flue gas yang digunakan untuk men-supply panas reaksi pada tube reformer maka
suhu gas reformat juga akan semakin tinggi. Hubungan tersebut didekati dengan
persamaan linier y=0,724.x + 157,4 , dimana y adalah suhu gas reformat outlet tube
reformer (
o
C) dan x adalah suhu flue gas radiant section (
o
C).
Pada gambar 16 digambarkan hubungan nilai S/C ratio terhadap suhu flue gas
radiant section yang harus dicapai agar memberikan nilai methane leak pada gas
reformat sebesar 10%. Semakin rendah nilai S/C yang digunakan maka konsekuensi
yang diakibatkan adalah suhu flue gas radiant section harus dinaikkan. Dengan kata
lain, semakin rendah jumlah steam yang ingin digunakan untuk steam-reforming maka
jumlah bahan bakar yang digunakan untuk menaikkan suhu flue gas juga harus
ditambah, sehingga methane leak gas reformat tetap terjaga sebesar 10%. Hubungan
konsekuensi tersebut didekati dengan persamaan logaritmik y=-117,292.ln(x) +
1012,869

, dimana x adalah S/C yang digunakan (kmol/kmol) dan y adalah suhu flue gas
yang harus dicapai (
o
C).


Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 29
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada



Gambar 16. Hubungan S/C ratio terhadap Radiant Section untuk Memperoleh Methane
Leak 10 %

5.3. Evaluasi Flow SteamUmpan Primary Reformer
Data aktual dari log sheet harian reformer panel menunjukkan flow steam sekitar 7,6
- 7,9 dengan faktor pengali 19,5 sehingga diperoleh flow steam sekitar 148 155 ton/jam.
Data pengukuran ini dinilai kurang bekerja dengan baik, sehingga perlu dievaluasi dengan
menggunakan simulasi persamaan matematis. Evaluasi flow steam dilakukan dengan
membandingkan faktor pengali aktual dengan aktor pengali hitungan yang memberikan hasil
simulasi kandungan methane leak gas outlet tube katalis paling sesuai dengan data lapangan.
Data input simulasi disesuai dengan tanggal yang digunakan untuk evaluasi neraca massa
dan panas sebelumnya.

Tabel 6. Evaluasi Flow Rate Steam Umpan Primary Reformer
Tanggal
CH
4
Leak
aktual,%
Faktor Pengali Aktual, 19,5
Flow Steam
Rata-rata, Ton/jam
S/C,
kmol/kmol
CH
4
leak,
%
Suhu Outlet, C
22 Januari 9,8300 150,5563 4,4015 9,7510 764,2550
23 Januari 9,9867 149,3375 4,3591 9,4300 769,5700
25 Januari 10,0267 149,9875 4,4160 9,6160 767,0780

Tanggal
Faktor pengali simulasi
Faktor pengali
Flow Steam
Rata-rata, Ton/jam
S/C,
kmol/kmol
CH
4
leak,
%
Suhu Outlet, C
22 Januari 19,3030 149,0352 4,3570 9,8320 764,8470
23 Januari 18,2000 139,3817 4,0680 9,9870 773,3930
25 Januari 18,5420 142,6189 4,1990 10,0260 767,0780

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 30
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

Dari tabel 6 dapat dipelajari bahwa nilai S/C (kmol/kmol) yang sebenarnya
berdasarkan hasil simulasi lebih rendah dari nilai S/C aktual yang terhitung berdasarkan data
harian aktual pabrik. Faktor pengali flow steam yang semula 19,5 setelah dilakukan simulasi
untuk mencapai kandungan methane leak yang sama dengan data aktual menjadi sekitar
18,2 19,3. Dengan kata lain flow steam yang menjadi umpan menurut hasil simulasi lebih
rendah daripada flow steam yang tercatat pada data harian pabrik Pabrik-1.
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 31
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari pengerjaan tugas khusus ini antara lain :
1. Evaluasi neraca massa dan neraca panas pada unit primary reformer memiliki hasil
simulasi yang secara keseluruhan dinilai sesuai dengan kesalahan relatif terbesar
sebesar 14,4811% dari data pressure drop tanggal 25 Januari 2012.
2. Semakin besar nilai S/C ratio yang digunakan pada suhu flue gas radiant section
tetap, maka kandungan methane leak gas reformat akan semakin kecil dan suhu gas
reformat akan semakin kecil.
3. Semakin tinggi suhu flue gas radiant section pada nilai S/C ratio tetap, maka
semakin rendah kandungan methane leak gas reformat, sedangkan suhu gas reformat
akan semakin tinggi.
4. Untuk menjaga kandungan methane leak tetap 10% setiap kenaikan jumlah arus
flow steam (naiknya S/C ratio) jumlah bahan bakar yang disuplly harus lebih rendah.
5. Hasil simulasi menunjukkan bahwa flow steam yang diperlukan lebih rendah
daripada flow steam aktual yang tercatat untuk mencapai kandungan methane leak
yang sama.

Saran-saran yang dapat dipelajari dari hasil pengerjaan tugas khusus ini antara lain:
1. Perlunya peninjauan kembali terhadap input suhu flue gas radiant section pada
simulasi.
2. Perlunya pengecekan kembali terhadap detail penyusunan persamaan dan input
data pada pemrogaman komputer, sehingga simulasi dapat memberikan hasil yang
lebih akurat.
3. Perlunya perihutungan optimalisasi terhadap jumlah bahan bakar yang diperlukan
untuk pembuatan steam umpan primary refomer dan jumlah bahan bakar untuk men-
suplly panas reaksi steam-reforming.
4. Optimalisasi diatas juga perlu mempertimbangkan suhu keluar gas reformat yang
dibatasi.
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 32
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


DAFTAR PUSTAKA
Fogler, H.S., 1999, Element of Chemical Reaction Engineering, 3rd ed, Prentice Hall
PTR, New Jersey
Froment, G.F. and Bischoff, K.B.,1990,Chemical Reactor Analysis and Design, John
Wiley and Sons Inc., Singapore
Halabi, M.H., de Croon, M.H.J.M., van der Schaaf, J., Cobden, P.D., and Schouten, J.C.,
2008, Modeling and Analysis of Autothermal Reforming of Methane to Hydrogen in
a Fixed Bed Reformer, Chem.Eng.Journal., 137, 568-578.
Kern, D.Q., 1950, Process Heat Transfer, McGraw-Hill Book Co, Japan.
Laksminingrum, H., dan Sari, D.N., 2012, Prarancangan: Pabrik Hidrogen dari Steam dan
Natural Gas Melalui Proses Steam Reforming Kapasitas 49.500 ton per tahun, Tugas
Akhir Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Perry, R. H., Green, D. W., and Maloney, J. O.,1999, Perrys Chemical Engineers
Handbook, 7
th
ed., McGraw Hill-Book Company Inc., Singapore
Reid , R.C., Prausnitz, J.M., Poling, B.E., 1988,The Properties of Gases and Liquids,
McGraw-Hill, New York.


Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 33
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada


LAMPIRAN

1. Perhitungan Sifat Fisis Gas

a. Entalpi Pembentukan dan Kapasitas Panas
Tabel 7. Tabel entalpi pembentukan dan konstanta kapasitas panas
komponen
H
f
298,
kJ/mol A B C D E
CH
4
-74,85 34,942 -4,000E-2 1,92E-04 -1,53E-07 3,93E-11
CO -110,5 29,556 -6,58E-03 2,01E-05 1,22E-08 2,26E-12
CO
2
-393,3 27,437 4,23E-02 1,96E-05 4,00E-09 -2,99E-13
H
2
0 25,399 2,02E-02 -3,85E-05 3,19E-08 -8,76E-12
H
2
O -241,8 33,933 -8,42E-03 2,99E-05 -1,78E-08 3,69E-12

Dengan Cp = A+BT+CT
2
+DT
3
+ET
4
, J/mol/K (33)
Untuk campuran gas:
(34)
dengan:
Cp
i
: kapasitas panas komponen i, J/mol.K
Cp
mix
: kapasitas panas campuran gas, J/mol.K
yi : fraksi mol komponen i
T : suhu gas, K (Reid and Prauznitz, 1897)

b. Viskositas Gas
Tabel 8. Konstanta Viskositas Gas
komponen A B C
CH
4
3,844 4,0112E-01 -1,4303E-04
CO 23,811 5,3944E-01 -1,5411E-04
CO
2
11,811 4,9838E-01 -1,0851E-04
H
2
27,758 2,1200E-01 -3,2800E-05
H
2
O -36,826 4,2900E-01 -1,6200E-05

Dengan = A+BT+CT
2
, P

Untuk campuran gas:
(39)
dengan:

i
: viskositas komponen i ,mikropoise

mix
: viskositas campuran gas, mikropoise
yi : fraksi mol komponen i
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 34
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

T : suhu gas, K (Yaws, 2004)

c. Densitas Gas
(40)

dengan:
: densitas, g/L

P : tekanan parsial gas, atm
M : berat molekul gas, g/mol
R : konstanta gas universal, 0,082 L.atm/mol.K
T : suhu gas, K

d. Konduktivitas Gas
Tabel 9. Konstanta Konduktivitas Gas
komponen A B C
CH
4
-0,00935 1,4028E-04 3,3180E-08
CO 0,00158 8,2511E-05 -1,9081E-08
CO
2
-0,0120 1,0208E-04 -2,2403E-08
H
2
0,03951 4,5918E-04 -6,4933E-08
H
2
O 0,00053 4,7093E-05 4,9551E-08

Konduktivitas untuk tiap komponen dapat dicari melalui persamaan:
(41)
Untuk campuran gas:
(42)
dengan:
k
i
: konduktivitas komponen i ,W/m.K
k
mix
: konduktivitas campuran gas, W/m.K
yi : fraksi mol komponen i
T : suhu gas, K (Yaws, 2004)

2. Variabel tetap pemrogaman komputer
Tinggi bed katalis = 13,950 (meter)
Jumlah pipa = 373
Diameter dalam tube (Di) = 0,1091 (meter)
Tebal tube = 0,0141 (meter)
Diameter luar tube (Do) = Di + (2 x tebal tube)
= 0,1373 (meter)
Densitas bulk katalis = 800 (kg/m
3
)
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 35
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

Diameter equivalen katalis (Dp) = 0,01286 (meter)
Void fraction () =
2
2
( / 2)
0, 38 0, 073 1
/
Di Dp
Di Dp
(
+ +
(


Tinggi ruang bakar (Lh) = 14,169 (meter)
Lebar ruang bakar (Lw) = 13,8 (meter)
Panjang ruang bakar (Ll) = 15,5 (meter)
Center to center tube spacing = 0,306 (meter)

3. Pemrogaman Komputer

function reaktorfurnace2
global FH2OO FCH4O FCOO FCO2O FH2o Di Dp VOID RHOB TR Do Npipa


L=13.950;%panjang pipa m
sc=4.2; %kmol/kmol
Npipa=373;
Do=0.1091+(2*0.0141);%diameter luar pipa m
Di=0.1091;%diameter dalam pipa m
RHOB=800;%densitas bulk kg/m3
Dp=0.01286;%diameter partikel m
VOID=0.38+(0.073*(1+(((Di/Dp)-2)/(Di/Dp))^2)); %void fraction
FG=2127.689;%kmol/hr
FH2OO=sc*FG/3600;%kgmol/s
FCH4O=0.95323*FG/3600;%kgmol/s
FCOO=0/3600;%kgmol/s
FCO2O=0.046265*FG/3600;%kgmol/s
FH2o=0.000001/3600;%kgmol/s
fprintf('S/C ratio = %8.3f kmol/kmol \n', sc)

FH2OO=FH2OO/Npipa;%kgmol/s
FCH4O=FCH4O/Npipa;%kgmol/s
FCOO=FCOO/Npipa;%kgmol/s
FCO2O=FCO2O/Npipa;%kgmol/s
FH2o=FH2o/Npipa;%kgmol/s
F0=FH2OO+FCH4O+FCOO+FCO2O+FH2o;

%harga awal
To=472+273.15;%suhu umpan masuk K
TR=298.15;%suhu referensi K
Po=35.75;%tekanan bar
y1o=0;
y2o=0;
y0=[y1o y2o To Po];
Lspan=[0:L/100:L];
[z,y]=ode15s(@persamaan,Lspan,y0);
y1=y(:,1);
y2=y(:,2);
FH2O=FH2OO*(1-y1-2*y2);%kgmol/s
FCH4=FCH4O-FH2OO*((y1+y2));%kgmol/s
FCO=FCOO+FH2OO*y1;%kgmol/s
FCO2=FCO2O+FH2OO*y2;%kgmol/s
FH2=FH2o+FH2OO*(3*y1+4*y2);%kgmol/s
Fsisa=FCH4(end)*Npipa*3600;
FCOsisa=FCO(end)*Npipa*3600;
FH2Osisa=FH2O(end)*Npipa*3600;
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 36
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

FCO2sisa=FCO2(end)*Npipa*3600;
FH2sisa=FH2(end)*Npipa*3600;

CH4leak=Fsisa/(Fsisa+FCOsisa+FCO2sisa+FH2sisa)*100;
CO2sisa=FCO2sisa/(Fsisa+FCOsisa+FCO2sisa+FH2sisa)*100;
COsisa=FCOsisa/(Fsisa+FCOsisa+FCO2sisa+FH2sisa)*100;
H2H=FH2sisa/(Fsisa+FCOsisa+FCO2sisa+FH2sisa)*100;
fprintf('H2 hasil = %6.3f persen \n', H2H)
fprintf('CO2 hasil = %6.3f persen \n', CO2sisa)
fprintf('CO hasil = %6.3f persen \n', COsisa)
fprintf('CH4leak = %6.3f persen \n', CH4leak)

Tgout=y(end,3)-273.15;
% fprintf('y1 = %6.3f \n',y1(end))
% fprintf('y1 = %6.3f \n',y2(end))
m=FH2(end)/(FH2OO+2*FCH4O);
% fprintf('xH2O = %6.3f \n',m)
% fprintf('FCH4out = %6.3f kmol/hr\n',Fsisa)
% fprintf('FCOout = %6.3f kmol/hr\n',FCOsisa)
% fprintf('FH2Oout = %6.3f kmol/hr\n',FH2Osisa)
% fprintf('FCO2out = %6.3f kmol/hr\n',FCO2sisa)
% fprintf('FH2out = %6.3f kmol/hr\n',FH2sisa)
fprintf('Tgas out = %6.3f C\n',Tgout)
% fprintf('FH2 out = %6.3f Ton/Year\n',FH2(end)*Npipa*3600*2*24*330/1e3)
fprintf('dP Tube = %10.9f bar\n',Po-y(end,4))
fprintf('----------------------------------------------\n')

%plotting hasil
figure(1)
hold on
plot(z,FH2O*Npipa*3600,'k-',z,FCH4*Npipa*3600,'b-',z,FCO*Npipa*3600,'r-
',z,FCO2*Npipa*3600,'c-',z,FH2*Npipa*3600,'g-')
xlabel('panjang, z')
ylabel('flow komponen, kgmol/hr')
legend('flow H2O','flow CH4','flow FCO','Flow CO2','Flow H2')

figure(2)
hold on
plot(z,y(:,3))
xlabel('panjang, z')
ylabel('suhu,K')


figure(3)
hold on
plot(z,y(:,4))
xlabel('panjang, z')
ylabel('pressure,bar')

figure(4)
hold on
plot(z,y(:,3),'k')
xlabel('panjang, z')
ylabel('suhu, K')
legend('suhu gas')
function dydz=persamaan(z,y)
global FH2OO FCH4O FCOO FCO2O FH2o Di Dp VOID RHOB TR Do RI
y1=y(1);
y2=y(2);
T=y(3);
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 37
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

P=y(4);
FH2O=FH2OO*(1-y1-2*y2);%kgmol/s
FCH4=FCH4O-FH2OO*((y1+y2));%kgmol/s
FCO=FCOO+FH2OO*y1;%kgmol/s
FCO2=FCO2O+FH2OO*y2;%kgmol/s
FH2=FH2o+FH2OO*(3*y1+4*y2);%kgmol/s
FTOT=FH2O+FCH4+FCO+FCO2+FH2;%kgmol/s

%fraksi
yH2O=FH2O/FTOT;
yCH4=FCH4/FTOT;
yCO=FCO/FTOT;
yCO2=FCO2/FTOT;
yH2=FH2/FTOT;
y=[yH2O,yCH4,yCO,yCO2,yH2];

%pressure parsial
PH2O=yH2O*P;%bar
PCH4=yCH4*P;%bar
PCO=yCO*P;%bar
PCO2=yCO2*P;%bar
PH2=yH2*P;%bar

%property viscosity
miuCH4=[3.844 4.0112e-1 -1.4303e-4];
miuCO=[2.3811e1 5.3944e-1 -1.5411e-4];
miuCO2=[1.1811e1 4.9838e-1 -1.0851e-4];
miuH2=[27.758 2.1200e-1 -3.2800e-5];
miuH2O=[-3.6826e1 4.2900e-1 -1.6200e-5];
konsmiu=[miuH2O;miuCH4;miuCO;miuCO2;miuH2];
miunya=konsmiu(:,1)+T.*konsmiu(:,2)+(T^2).*konsmiu(:,3);
miuavg=y*miunya*1e-7;%kg/m/s

%data kinetika reaksi
A=[1.17E15;5.43E5;2.83E14];%konstanta tumbukan
Er=[240100;67130;243900];%energi aktivasi
M=[18.015 16.043 28.01 44.01 2.016];%BM masing2 zat
R=8.3145;%kj/kmol/K

%perhitungan konstanta laju reaksi
AK1=A(1)*exp(-Er(1)/R/T)*1e-3;%kgmol/kgcat/s
AK2=A(2)*exp(-Er(2)/R/T)*1e-3;%kgmol/kgcat/s
AK3=A(3)*exp(-Er(3)/R/T)*1e-3;%kgmol/kgcat/s

%perhitungan konstanta adsorpsi CO
AKCO=8.23E-5*exp(8497.71/T);
AKH2=6.12E-9*exp(9971.13/T);
AKH2O=1.77E5*exp(-10666.35/T);
AKCH4=6.65E-4*exp(4604.28/T);

%perhitungan konstanta keseimbangan
AKP1=exp(-26830/T+30.114);
AKP2=exp(4400/T-4.063);
AKP3=AKP1*AKP2;

%term adsorption
DEN=1+AKCO*PCO+AKH2*PH2+AKCH4*PCH4+AKH2O*PH2O/PH2;
DEN=DEN^2;

Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 38
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada



%kinetika kecepatan reaksi
r1=0.07*AK1*((PCH4*PH2O-PH2^3*PCO/AKP1)/DEN/PH2^2.5);
r2=0.7*AK2*((PCO*PH2O-PH2*PCO2/AKP2)/DEN/PH2);
r3=0.06*AK3*((PCH4*PH2O^2-PH2^4*PCO2/AKP3)/DEN/PH2^3.5);
%CPdT tiap zat chem prop handbook, cp dalam kJ/kmol/
CPCH4=34.942*(T-TR)-3.9957E-2/2*(T^2-TR^2)+1.9184E-04/3*(T^3-TR^3)-
1.5303E-07/4*(T^4-TR^4)+3.9321E-11/5*(T^5-TR^5);
CPCO=29.556*(T-TR)-6.5807E-03/2*(T^2-TR^2)+2.0130E-05/3*(T^3-
TR^3)+1.2227E-08/4*(T^4-TR^4)+2.2617E-12/5*(T^5-TR^5);
CPCO2=27.437*(T-TR)+4.2315E-02/2*(T^2-TR^2)+1.9555E-05/3*(T^3-
TR^3)+3.9968E-09/4*(T^4-TR^4)-2.9872E-13/5*(T^5-TR^5);
CPH2=25.399*(T-TR)+2.0178E-02/2*(T^2-TR^2)-3.8549E-05/3*(T^3-
TR^3)+3.1880E-08/4*(T^4-TR^4)-8.7585E-12/5*(T^5-TR^5);
CPH2O=33.933*(T-TR)-8.4186E-03/2*(T^2-TR^2)+2.9906E-05/3*(T^3-TR^3)-
1.7825E-08/4*(T^4-TR^4)+3.6934E-12/5*(T^5-TR^5);
CPFR=CPCH4;
%panas reaksi chem prop handbook, kJ/kmol
DHR1=206200+(CPCO+3*CPH2-CPCH4-CPH2O);
DHR2=-41100+(CPCO2+CPH2-CPCO-CPH2O);
DHR3=164900+(CPCO2+4*CPH2-CPCH4-2*CPH2O);
%CP kJ/kgmol/K
CPaCH4=34.942-3.9957E-2*T+1.9184E-04*T^2-1.5303E-07*T^3+3.9321E-11*T^4;
CPaCO=29.556-6.5807E-03*T+2.0130E-05*T^2+1.2227E-08*T^3+2.2617E-12*T^4;
CPaCO2=27.437+4.2315E-02*T+1.9555E-05*T^2+3.9968E-09*T^3-2.9872E-13*T^4;
CPaH2=25.399+2.0178E-02*T-3.8549E-05*T^2+3.1880E-08*T^3-8.7585E-12*T^4;
CPaH2O=33.933-8.4186E-03*T+2.9906E-05*T^2-1.7825E-08*T+3.6934E-12*T^4;
CPaFR=CPaCH4;

%menghitung Cp campuran
CPa=[FH2O FCH4 FCO FCO2 FH2]*[CPaH2O;CPaCH4;CPaCO;CPaCO2;CPaH2];
CPa=CPa/FTOT;%kj/kmol/K

%data perhitungan pressure drop+koef perpan overall
MAVG=M*[FH2O;FCH4;FCO;FCO2;FH2];%kg/kgmol
MAVG=MAVG/FTOT;%berat molekul rata-rata
G=FTOT*MAVG/(pi*Di^2/4);%kg/m2/s
RI=0.08205;%m3atm/kgmol/K
RHOG=P*MAVG/T/RI/1.01325;%kg/m3
REP=Dp*G/miuavg;%bil Re partikel

%perhitungan k,kW/m/K
kCH4=[-0.00935 1.4028E-04 3.3180E-08];
kCO=[0.00158 8.2511E-05 -1.9081E-08];
kCO2=[-0.0120 1.0208E-04 -2.2403E-08];
kH2=[0.03951 4.5918E-04 -6.4933E-08];
kH2O=[0.00053 4.7093E-05 4.9551E-08];
konsk=1e-3*[kH2O;kCH4;kCO;kCO2;kH2];
knya=(konsk(:,1)+T.*konsk(:,2)+(T^2).*konsk(:,3));%kW/m/K
kavg=y*knya;%kW/m2/K

%perhitungan hio
Re=Dp*G/miuavg;
hi=0.813*(kavg/Di)*Re^0.9*exp(-6*Dp/Di);%kW/m2/K 404 Froment bischoff
hio=hi*Di/Do;%kW/m2/K
%menghitung ho
Npipa=373;
TFR=845+273.15;
Lw=13.8;
Tugas Khusus
Evaluasi Neraca Massa dan Neraca Panas Serta Variabel S/C Ratio
Pada unit Primary Reformer Pabrik-1


RAGAGUCI 39
Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada

Lh=14.169;
LL=15.5;
V=Lw*Lh*LL; %meter^3
Lb=2/3*V^(1/3);%mean beam length
pp=0.34;
zz=TFR/1000;
a=0.47916-0.19847*zz+0.022569*zz^2;
b=0.047029+0.0699*zz-0.01528*zz^2;
c=0.000803-0.00726*zz+0.001957*zz^2;
f=0.079/Re^0.25;%fanning factor
e=a+b*(pp*Lb)+c*(pp*Lb)^2;
CC=0.306; %meter
gama=CC/Do;
alfa=1-(0.0277+0.0927*(gama-1))*(gama-1);
Acp=Lw*Npipa*CC;
At=2*(Lw*LL+Lw*Lh+Lh*LL);
Ar=At-alfa*Acp;
Aw=At-Acp;
zf=Aw/alfa/Ar;
af=0.00064+0.0591*zf+0.00101*zf^2;
bf=1.0256+0.4908*zf-0.058*zf^2;
cf=-0.144+0.552*zf+0.04*zf;
F=af+bf*e+cf*f^2;
% fprintf('Alfa = %6.3f \n', alfa)
% fprintf('F = %6.3f persen \n', F)
ho=0.5*alfa*F*(1730/(1000^4)*(TFR^2+T^2)*(TFR+T)+7)*(0.0002928104/(0.3048^
2*255.9278));%koef. transfer panas luar tube (kW/m2/K)
% fprintf('ho = %14.9f kW/m2/K \n', ho)


%menghitung Ud
Rd=0.003; %dirty factor
U=((hio*ho/(hio+ho))+(1/Rd))/1000;%kJ/s/m2/K

%persamaan differensial
dy1=(r1-r2)*pi*Di^2*RHOB/4/FH2OO;%/m
dy2=(r2+r3)*pi*Di^2*RHOB/4/FH2OO;%/m
dT=(pi*Do*U*(TFR-T)-FH2OO*(dy1*DHR1+dy2*(DHR2+DHR1)))/(FTOT*CPa);%K/m
dP=-((150*(1-VOID)/REP+1.75)*G.^2/RHOG/Dp*(1-VOID)/VOID.^3)/1e5;%bar/m
dydz=[dy1;dy2;dT;dP];