Anda di halaman 1dari 5

facebook.com/agus.

sujadmiko

TEORI ATOM

1. Teori atom Dalton (1803)

2. Teori atom Thomson (1803): Penemu elektron


- bentuk atom seperti roti kismis - muatan positif tersebar merata dan elektron berada diantara muatan positif

- Atom adl partikel terkecil yg tdk dapat dibagi lagi - Bentuk atom seperti bola massive/polos

3. Teori atom Rutherford (1911): Penemu proton


Atom tersusun atas: - inti atom bermuatan positif - elektron mengelilingi inti dg jumlah sama dg proton - terdapat ruang hampa diluar inti

4. Teori atom Bohr (1913)


Atom terdiri atas - inti yang bermuatan positif - elektron mengelilingi inti di dalam suatu lintasan tertentu - Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan lain - Berpindah ke lintasan lebih tinggi, elektron menyerap energi. - Beralih ke lintasan lebih rendah, elektron memancarkan energi.

5. Teori atom Modern


Kulit-kulit elektron bukan kedudukan yang pasti dari suatu elektron, tetapi hanyalah suatu kebolehjadian saja.

STRUKTUR ATOM
Nomor atom (Z) = jumlah proton

Partikel Proton Neutron Elektron

Lambang & Muatan p ( +1) n (0) e ( -1)


-

Lokasi Inti atom Inti atom Mengelilingi inti

Penemu Ernest Rutherford James Chadwick J. J. Thomson

Massa Atom (A) = jumlah proton + neutron Neutron =A-Z


Atom NETRAL => jumlah elektron = proton Ion POSITIF => jumlah elektron < proton Ion NEGATIF => jumlah elektron > proton

ISOTOP : Jumlah Proton sama (Z sama,A beda) ISOTON : Jumlah Neutron sama ( A Z sama) ISOBAR : nomor massa/massa atom sama (A sama, Z beda)

KONFIGURASI ELEKTRON
1. Berdasar pengisian elektron pada sub kulit (prinsip Aufbau) 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 6 2 14 10 6 2 14 10 6 5p 6s 4f 5d 6p 7s 5f 6d 7p
2[He] 2 2 6 2 6 2 10 6 2 10

2s 2p .. .. [Ne] 3s 3p 10 18[Ar] 4s 3d 36[Kr] 5s 4d 54[Xe] 6s 4f 86[Rn] 7s 5d 2. Berdasar pengisian elektron pada kulit Jumlah MAKSIMAL ELEKTRON dalam kulit atom: K L M N O P Q Kulit 1 2 3 4 5 6 7 Kulit keJumlah elektron maksimal 2 8 18 32 50 72 98

..

..

2n2
Example: tulis konfigurasi elektron dari atom 85X kulit K = 2 (maksimum) kulit L = 8 (maksimum) kulit M = 18 (maksimum) kulit N = 32 (maksimum) elektron sisa = 25 (sisa) => 18 elektron yang tersisa < 32 maka: Kulit O = 18 , sisa 7 => sisa jika : elektron yang tersisa < 8 Kulit P =7 Konfigurasi elektron 85X = 2 8 18 32 18 7

INGAT!! Kulit ke-5 (kulit O) diisi dengan jumlah elektron: 50 jika : elektron yang tersisa > 50 32 jika : 32 elektron yang tersisa < 50 18 jika : 18 elektron yang tersisa < 32 8 jika : 8 elektron yang tersisa < 18 sisa jika : elektron yang tersisa < 8

facebook.com/agus.sujadmiko

a PERKEMBANGAN SPU
1. 2. 3. 4. 5. Triade (DOBEREINER) Dikelompokkan berdasarkan kemiripan sifat-sifatnya. Tiap kelompok beranggotakan tiga unsur, sehingga disebut triad. Unsur kedua mempunyai sifat-sifat yang berada di antara unsur pertama dan ketiga. SISTEM OKTAF (NEWLANDS) Unsur-unsur dikelompokkan berdasarkan kenaikan massa atom. Sifat unsur ke-8 mirip dengan sifat unsur ke-1(pengulangan sifat setiap unsur ke-8/oktaf) SISTEM PERIODIK MEYER (LOTHAR MEYER) Sistem periodik pertama yang dibuat berdasarkan kenaikan massa atom dan kemiripan sifat unsur. SISTEM PERIODIK PENDEK (MENDELEEV) Pengelompokkan unsur berdasarkan kenaikan massa atom secara horisontal disebut periode. Unsur-unsur dengan sifat yang mirip akan membentuk kolom yang disebut golongan. SISTEM PERIODIK BENTUK MODERN (MOSELEY) Penyusunan unsur berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. keteraturan pengulangan sifat berupa periode (baris) dan kemiripan sifat berupa golongan (kolom). GOLONGAN DAN PERIODE PERIODE
Periode 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah unsur 2 8 8 18 18 32 32 Nomor atom 1-2 3-10 11-18 19-36 37-54 55-86 87-118

GOLONGAN INGAT!! Gol B = n s + (n-1) d


Golongan A (utama) IA II A III A IV A VA VI A VII A VIII A Nama Gol. alkali Gol. alkali tanah Gol. boron Gol. karbon Gol. nitrogen Gol. oksigen Gol. halogen Gol. gas mulia Electron valensi 1 s 2 s 2 1 s p 2 2 s p 2 3 s p 2 4 s p 2 5 s p 2 6 s p Golongan B (transisi) IB II B III B IV B VB VI B VII B VIII B Elektron valensi S + d = 11 S + d = 12 S+d=3 S+d=4 S+d=5 S+d=6 S+d=7 S + d = 8, 9, 10 Golongan transisi dalam Lantanida Aktanida Elektron valensi berakhir pada 4f berakhir pada 5f

SIFAT PERIODIK
JARI-JARI ATOM Semakin besar: - ke bawah - ke kiri KEELEKTRONEGATIFAN Kemampuan atom untuk menangkap electron Semakin besar: - ke atas - ke kanan ENERGI IONISASI Energi yg diperlukan utk melepas elektron terluar Semakin besar: - ke atas - ke kanan Energi ionisasi kecil = mudah melepas electron AFINITAS ELEKTRON Energi yg menyertai jika atom menangkap 1 elektron Semakin besar: - ke atas - ke kanan

SIFAT LOGAM Semakin besar: - ke bawah - ke kiri TITIK DIDIH & TITIK LELEH LOGAM NON LOGAM

SIFAT NON LOGAM Semakin besar: - ke atas - ke kanan

KE BAWAH = TD&TL SEMAKIN RENDAH KE BAWAH = TD&TL SEMAKIN TINGGI

facebook.com/agus.sujadmiko

IKATAN KIMIA
IKATAN ION (ELEKTROVALEN): LOGAM + NON LOGAM LOGAM (L) = UNSUR GOL. IA, IIA, IIIA NON LOGAM (NL) = UNSUR GOL. IVA, VA, VIA, VIIA, VIIIA
L NL + ne

Serah terima elektron

IA / IIA

VIA / VIIA

n+

+ ne
-

NLne

IKATAN KOVALEN: Pemakaian pasangan elektron scr BERSAMA

Kov. Tungal : 1 pasang PEI Kov. Rangkap 2 : 2 pasang PEI Kov. Rangkap 3 : 3 pasang PEI Kov. Koordinasi: PEI hanya berasal dari satu atom

NON LOGAM + NON LOGAM

Example: Tentukan jenis ikatan dan rumus kimia senyawa yg dibentuk oleh 12A , 19B, 6D, 8E, 17G 2 2 2 12A = 10[Ne] 3s IIA = LOGAM 6D = 2[He] 2s 2p IVA = NON LOGAM 1 2 4 19B = 18[AR] 4s IA = LOGAM 8E = 2[He] 2s 2p VIA = NON LOGAM 1. Ikatan Ion : LOGAM (IA/IIA) + NON LOGAM (VIA/VIIA) A (2 8 2) A2+ + 2e melepas 2e 2E ( 2 6) + 2e E menangkap 2e dari A butuh 2e agar oktet (8e)

= 10[Ne] 3s2 2p5 VIIA = NON LOGAM 17G


17G

bentuk ikatan: AE

INGAT!!
Jika e dari L dan NL sudah setara maka tinggal DIGABUNG mjd senyawa

A (2 8 2) A2+ + 2e G ( 2 8 7) + 1e Gbutuh 1e agar oktet (8e)

melepas 2e x1 A A2+ + 2e menangkap 1e x2 2G + 2e 2G-

INGAT!! Jika e dari L dan NL BELUM SAMA maka setarakan dg cara KALI SILANG

2e dari A diberikan pd 2 atom G masing-masing 1e


MENGGABUNGKAN 2 ATOM MJD SENYAWA

KUNCI: KOEFISIEN MJD INDEKS


Bentuk ikatan: A2+ + 2G- AG2 B ( 2 8 8 1) B+ + 1e x2 2 B E ( 2 6) + 2e E2x1 E + 2e CARA CEPAT B gol. IA maka melepas 1e x2 2B E gol VIA maka butuh 2e (agar oktet) x1 E B2E B G 2 B+ + 2e E2B2E

aLb+ + bNLa- LaNLb

B gol. IA maka melepas 1e e sudah setara G gol VIIA maka butuh 1e (agar oktet) e sudah setara 2. Ikatan kovalen: NON LOGAM CARA CEPAT D gol IVA maka butuh/menangkap 4e (agar oktet) x1 E gol VIA maka butuh/menangkap 2e (agar oktet) x2 D gol IVA maka butuh/menangkap 4e (agar oktet) x1 G gol VIIA maka butuh/menangkap 1e (agar oktet) x4 E gol VIA maka butuh/menangkap 2e (agar oktet) x1 G gol VIIA maka butuh/menangkap 1e (agar oktet) x2 VIIIA) + NON LOGAM

BG VIIIA)

D 2E D 4G E 2G

DE2 DG4

EG2

facebook.com/agus.sujadmiko

TATA NAMA SENYAWA 1. Logam (L) + Non Logam (NL) a. Logam monovalen (memiliki bilok hanya 1 jenis) Ex: Na2S = Natrium Sulfida Nama L + Nama NL + ida b. Logam polivalen (memiliki biloks beragam/lebih dari 1) i. Ex: FeBr2 = Besi (II) bromida Nama L dlm B. Indo (biloks) + Nama NL + ida ii. - Untuk biloks/valensi rendah Nama L dlm Yunani (akhiran um dlm logam diganti o) + Nama NL + ida - Untuk biloks/valensi tinggi Nama L dlm Yunani (akhiran um dlm logam diganti i) + Nama NL + ida 2. Non Logam (NL) + Non Logam (NL) Nama NL + Nama NL + ida
2= di, 3=tri, dst.

Ex: FeBr2 = Ferro bromida

Ex: FeBr3 = Ferri bromida

Ex: SF6 = sulfur heksafluorida/ belerang heksafluorida P4O10 = tetra fosfor deka oksida

1=mono, 2=di, 3=tri, 4=tetra, 5=penta, 6=heksa, 7=hepta, 8=okta, 9=nona, 10=deka, dst

3. Basa : L-(OH)x i. Logam Monovalen Nama L + HIDROKSIDA 4. Asam : H-SA ASAM + Nama ANION Ex: Ca(OH)2: Kalsium Hidroksida

ii. Logam Polivalen Nama L (biloks) + HIDROKSIDA


Ex: Pb(OH)2 = timbal (II) hidroksida

ANION F, Cl, Br, I S2-, SO32-, SO42NO2-, NO3ClO-, ClO2-, ClO3-, ClO4BrO-, BrO2-, BrO3-, BrO4IO-, IO2-, IO3-, IO4CO32-, C2O42PO33-, PO43CH3COO-, OHCN-, SCN-

NAMA Ion fluoride, klorida, bromide, iodide Ion sulfida, sulfit, sulfat Ion nitrit, nitrat Ion hipoklorit, klorit, klorat, perklorat Ion hipobromit, bromit, bromat, perbromat Ion hipoiodit, iodit, iodat, periodat Ion karbonat, oksalat Ion fosfit, fosfat Ion asetat, hidroksida Sianida, tiosianat NH4+ Amonium + Nama ANION Biloks +1 +2 +3 Sn=Pb=Pt= +2, +4 Cu=Hg= +1, +2 +1, +3 +2, +3 +2 +1

5. Garam : LxSAy LOGAM/KATION Li, Na, K, Rb, Cs Mg, Ca, Sr, Ba Al, Cr Sn, Pb, Pt Cu, Hg Au Fe Zn, Ni NH4+

Nama LOGAM + Nama ANION NAMA Litium, Natrium, Kalium, Rubidium, Cesium Berilium, magnesium, kalsium, stronsium, barium Aluminium, Kromium Timah, Timbal, Platina Tembaga, Raksa Emas Besi Seng, Nikel Ion Amonium

6. Senyawa organik Rumus kimia CH4 C2H6 C3H8 C4H10 C5H12 C6H6 NAMA Metana Etana Propana Butana Pentana Benzene Rumus kimia CH3OH C2H5NO2 CH3Cl C2H5I HCOOH C6H5OH NAMA Metanol Nitroetana Klorometana Iodoetana Asam metanoat Hidroksibenzena/fenol

facebook.com/agus.sujadmiko

HUKUM DASAR KIMIA 1. Hukum Kekekalan Massa Massa sebelum dan sesudah reaksi adalah sama Tidak berlaku di tempat terbuka

2. Hukum perbandingan tetap (Proust)

Senyawa AxBy

Perbandingan H : O = 1 : 8 3. Hukum kelipatan perbandingan (Dalton)


Ex: Unsur A dan B dapat membentuk Senyawa I yg mengandung A 25% dan senyawa II mengandung A 50%. Maka perbandingan B pada senyawa I dan II adalah Misal massa senyawa I & II masing-masing = 100 gr Senyawa Massa senyawa Massa Unsur A Massa Unsur B Perbandingan A : B Senyawa I 100 gr 25 gr 75 gr 1:3 Senyawa II 100 gr 50 gr 50 gr 1:1 Dari tabel tersebut, terlihat bahwa bila massa A dibuat tetap (samamaka perbandingan massa B dalam : senyawa I : senyawa II = 3 : 1

4. Hukum-Hukum Gas i. Jika hanya ada data VOLUME, gunakan Hukum Gay Lusac
ii. Jika diket data Mol dan Volume tetapi bukan pada STP, gunakan Hukum Avogadro

iii. Jika pada Keadaan STP (T= 0C/273K, P= 1 atm/176mmHg)

KONSEP MOL

PENTING!!! Diagram Konsep Mol


:L Jumlah partikel (N) xL Mol (n) x Ar / Mr x 22,4 L : 22,4 L : Ar / Mr Massa (gr)

Ar/Mr = Massa atom/molekul relative L = Bil. Avogadro =6,02 x 1023

Volume gas STP (V)

utk mencari V lebih lengkap dibahas sebelumnya di Hk. Gay Lusaac