Anda di halaman 1dari 15

INFEKSI SALURAN KEMIH

Disusun Oleh : 1. Evie Mayangsari 2. Dwi titah Pertiwi (10321060) (10321058)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG 2011

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul INFEKSI SALURAN KEMIH dan selesai tepat pada waktunya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dosen pembimbing Sistem Perkemihan II Darsini, Skep.Ns.Mkes yang telah membimbing dalam penulisan makalah ini. 2. Teman teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan, dalam bahasa maupun materi. Namun demikian, penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca khususnya penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun dalam rangka penyempurnaan makalah ini. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jombang, Maret 2012

Penulis,

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40 60 tahun mempunyai angka prevalensi 3,2 %. Sedangkan pada usia sama atau diatas 65 tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20%. Infeksi saluran kemih dapat mengenal baik laki-laki maupun wanita dari semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Akan tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum kurang lebih 5-15%. Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri dalam urin. Bakteriuria yang disertai dengan gejala saluran kemih disebut bakteriuria simptomatis. Sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria asimptomatis. Dikatakan bakteriuria positif pada pasien asimptomatisbila terdapat lebih dari 105 koloni bakteri dalam sampel urin midstream, sedangkan pada pasien simptomatis bisa terdapat jumlah koloni lebih rendah. Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosonga kandung kemih kurang efektif , mobilitis menurun, pada usia lanjut nutrisi sering kurang baik, sistem imunitas menurun. Baik seluler maupu humoral, adanya hambatan pada aliran urin,hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius. Di Amerika dilaporkan bahwa setidaknya 6 juta pasien datang kedokter setiap tahunnya dengan diagnosis ISK. Disuatu rumah sakit di Yogyakarta ISK merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan ke-2 dan masuk dalam 10 besar penyakit (data bulan Juli Desember). Infeksi saluran kemih terjadi adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Untuk menegakkan diagnosis ISK harus ditemukan bakteri dalam urin melalui biakan atau kultur (Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001) dengan jumlah signifikan (Prodjosudjadi, 2003). Tingkat signifikansi jumlah bakteri dalam urin lebih besar dari 100/ml urin. Agen penginfeksi yang paling sering adalah Eschericia coli, Proteus sp., Klebsiella sp., Serratia, Pseudomonas sp. Penyebab utama ISK (sekitar 85%) adalah Eschericia coli (Coyle & Prince, 2005). Penggunaan kateter terkait dengan kemungkinan lebih dari satu jenis bakteri penginfeksi.

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi


Infeksi Saluran Kemih atau urinarius Troctus infection adalah sutatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001) Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998) Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang di sebabkan oleh bakteri terutama escherichia coli: resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluksvesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen baru,septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk,1998) Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001)

2.2 Etiologi

1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain: o Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated o Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple) o Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain. 2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain: o Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif o Mobilitas menurun o Nutrisi yang sering kurang baik o Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral o Adanya hambatan pada aliran urin o Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat Faktor-Faktor Predisposisi yang Mempermudah Terjadinya ISK

1.Bendungan aliran urin Anomali kongenital Batu saluran kemih Oklusi ureter (sebagian atau total) 2.Refluks vesikoureter 3.Urin sisa dalam buli-buli karena Neurogenic bladder Striktur uretra Hipertrofi prostat 4.Gangguan metabolik Hiperkalsemia

Hipokalemia Agamaglobulinemia 5.Instrumentasi Kateter Dilatasi uretra Sistoskopi 6.Kehamilan Faktor stasis dan bendungan PH urin yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman

2.3 Tanda dan Gejala 1. Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah : o Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih o Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis o Hematuria o Nyeri punggung dapat terjadi 2. Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah : o Demam o Menggigil o Nyeri panggul dan pinggang o Nyeri ketika berkemih o Malaise o Pusing o Mual dan muntah

2.4 Patogenesis

Dua jalur utama terjadinya ISK ialah hematogen dan asending, tetapi dari kedua cara ini asendinglah yang paling sering terjadi.

1.Infeksi hematogen Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, karena menderita sesuatu penyakit kronik, atau pada pasien yang sementara mendapat pengobatan imunosupresif. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat adanya fokus infeksi di salah satu tempat. Misalnya infeksi S. aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari fokus infeksi di tulang, kulit, endotel, atau di tempat lain. salmonela, pseudomonas, kandida, dan proteus termasuk jenis bakteri yang dapat menyebar secara hematogen. Ginjal yang normal biasanya mempunyai daya tahan terhadap infeksi E. coli karena itu jarang ada infeksi hematogen E. coli. Ada beberapa tindakan yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal yang dapat meningkatkan kepekaan ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. Hal ini dapat terjadi pada keadaan sebagai berikut : -Adanya bendungan total aliran urin

-Adanya bendungan intrarenal baik karena jaringan parut maupun terdapatnya presipitasi obat intratubular misalnya sulfonamid -Terdapat faktor vaskkular misalnya konstriksi pembuluh darah -Pemakaian obat analgetik atau estrogen -Pijat ginjal -Penyakit ginjal polikistik -Penyandang DM

Walaupun jarang terjadi, penyebaran hematogen ini dapat mengakibatkan infeksi ginjal yang berat misalnya infeksi stafilokokus dapat menimbulkan abses pada ginjal.

2. Infeksi asending a.Kolonisasi uretra dan daerah introitus vagina Saluran kemih yang normal umumnya tidak mengandung mikroorganisme kecuali pada bagian distal uretra yang biasanya juga dihuni oleh bakteri normal kulit seperti basil difteroid, streptokokus. Di samping bakteri normal flora kulit, pada wanita, daerah 1/3 bagian distal uretra ini disertai jaringan periuretral dan vestibula vaginalis juga banyak dihuni bakteri yang berasal dari usus karena letak anus tidak jauh dari tempat tersebut. Pada wanita, kuman penghuni terbanyak pada daerah tersebut adalah E. coli di samping golongan enterobakter dan S. fecalis. Karena peran faktor predisposisi maka kolonisasi basil koliform pada wanita di daerah tersebut diduga karena : -adanya perubahan flora normal di daerah perineum -berkurangnya antibodi lokal -bertambahnya daya lekat organisme pada sel epitel pada wanita.

b.Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih Proses masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih belum diketahui dengan jelas. Beberapa faktor yang mempengaruhi masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih adalah : -Faktor anatomi Kenyataan bahwa ISK lebih banyak pada wanita dari laki hal ini disebabkan karena : -uretra wanita lebih pendek dan terletak lebih dekat pada anus. -uretra laki-laki bermuara saluran kelenjar prostat dan sekret prostat dikenal sebagai antibakteri yang kuat. -Faktor tekanan urin pada waktu miksi Mikroorganisme naik ke kandung kemih pada waktu miksi karena tekanan urin. Dan selama miksi terjadi refluks ke dalam kandung kemih setelah pengeluaran urin. -Manipulasi uretra Misalnya manipulasi manual pada masturbasi atau pada hubungan kelamin.

-Faktor lain misalnya : -perubahan hormonal waktu menstruasi -kebersihan alat kelamin bagian luar -adanya bahan antibakteri dalam urin -pemakaian obat kontrasepsi oral

c. Multiplikasi bakteri dalam kandung kemih dan pertahanan kandung kemih Dalam keadaan normal mikroorganisme yang masuk ke dalam kandung kemih manusia atau binatang akan cepat menghilang, sehingga tidak sempat berkembang biak dalam urin. Pertahanan yang normal dari kandung kemih ini tergantung dari interaksi 3 faktor : -Eradikasi organisme yang disebabkan oleh efek pembilasan dan pengeceran urin. -Efek antibakteri dari urin karena : -urin mengandung urea dan asam organik yang bersifat bakteriostatik. -urin mempunyai tekanan osmotik yang tinggi dan pH yang rendah. -Mekanisme pertahanan mukosa kandung kemih yang intrinsik.

Faktor mukosa ini diduga ada hubungannya dengan mukopolisakarida dan glikosaminoglikan yang terdapat pada permukaan mukosa dan asam organik yang bersifat bakteriostatik yang dihasilkan secara lokal, serta enzim dan lisozim. Juga oleh sel fagosit berupa sel neutrofil dan sel mukosa saluran kemih sendiri, serta IgG dan IgA yang terdapat pada permukaan mukosa. Terjadinya infeksi sangat tergantung dari keseimbangan antara kecepatan proliferasi bakteri dan daya tahan mukosa kandung kemih. Eradikasi bakteri dari kandung kemih tidak terjadi bila terdapat hal sebagai berikut : adanya urin sisa, mikso yang tidak adekuat, benda asing atau batu dalam kandung kemih, tekanan kandung kemih yang tinggi atau inflamasi sebelumnya pada kandung kemih.

d.Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Hal ini disebabkan oleh refluks vesikoureter dan menyebarnya infeksi dari pelvis ke korteks karena refluks intrarenal. Refluks vesikoureter adalah keadaan patologis karena tidak berfungsinya valvula vesikoureter sehingga aliran urin naik dari kandung kemih ke ginjal.

Valvulo vesikoureter yang tidak berfungsi ini disebabkan karena : -memendeknya bagian intravesikal ureter yang bisa terjadi secara kongenital, pada perkembangan embrio ureter yang abnorma sehingga orifisium ureter terletak lebih ke lateral. -edema mukosa ureter akibat infeksi. -jajasan sumsum tulang belakang, tumor pada kandung kemih dan penebalan dinding kandung kemih. 2.5 Patofisiologi 2.6 Klasifikasi Klasifiksi infeksi saluran kemih sebagai berikut : 1. Kandung kemih (sistitis) Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik irin dari utetra kedalam kandung kemih (refluks urtovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop. 2. Uretra (uretritis) Uretritis adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang di golongkan sebagai gonoreal atau non gonoreal. Uretritis gonoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis non gonoreal adalah uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum 3. Ginjal (pielonefritis) Pielonefritis infeksi traktus urinarius atas merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus dan jaringan intertisial dari dalah satu atau kedua ginjal Infeksi saluran kemih (ISK) pada usia lanjut dibedakan menjadi : 1. ISK Uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. 2. ISK Complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis, dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan- keadaan sebagai berikut : Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. Kelainan faal ginjal :GGA maupun GGK Gangguan daya tahan tubuh Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus spp yang memproduksi urease.

2.7 Pemeriksaan Laboratorium


1. Urinalisis a.Leukosuria Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap dugaan adalah ISK. Leukosuria dinyatakan positif bilamana terdapat lebih dari 5 leukosit/ lapang pandang besar (LPB) sedimen air kemih. Adanya leukosit silinder pada sedimen air kemih menunjukkan adanya keterlibatan ginjal. Namun adanya leukosuria tidak selalu menyatakan adanya ISK karena dapat pula dijumpai pada inflamasi tanpa infeksi.

b.Hematuria Hematuria dipakai oleh beberapa peneliti sebagai petunjuk adanya ISK yaitu bilamana dijumpai 5-10 eritrosit/ LPB sedimen air kemih. Hematuria dapat pula disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun oleh sebab lain misalnya urolitiasis, tumor ginjal, atau nekrosis papilaris.

2.

Bakteriologis a.Mikroskopis Pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan air kemih segar tanpa diputar atau tanpa pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bermakna bilamana dijumpai satu bakteri lapangan pandang minyak emersi.

b.Biakan bakteri Pemeriksaan biakan bakteri contoh air kemih dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna sesuai dengan kriteria Cattell.

Tabel 3.Kriteria untuk Diagnosis Bakteriuria yang Bermakna

Wanita, simtomatik > 102 organisme koliform/mL urin plus piuria atau > 105 organisme patogen apa pun/mL urin atau Adanya tumbuhnya organisme patogen apa pun pada urin yang diambil dengan cara aspirasi suprapublik

Lelaki, simtomatik > 103 organisme patogen/mL urin

Pasien asimtomatik > 105 organisme patogen/mL urin pada 2 contoh urin berurutan Sumber : Cattell 1996

Pada beberapa pasien ISK dapat dijumpai hitung bakteri yang lebih rendah, hal ini dapat disebabkan oleh : Faktor fisiologik : -Diuresis berlebihan dan sering kencing -Bakteriuria intermiten -Biakan bakteri pada fase dini ISK -Infeksi dengan bakteri yang bermultiplikasi lambat -Air kemih yang kurang nutrisi dan sangat asam -Adanya bakteriofag dalam air kemih Faktor iatrogenik -Kontaminasi air kemih dengan antiseptik -Sementara mendapat kemoterapi -Biakan yang tidak sesuai -Media yang selektif dan menghambat pertumbuhan -Infeksi dengan bakteri anaerob, mikrobakterium TBC dan E. coli yang tergantung sistem Pengurangan jumlah koloni karena perlekatan bakteri dengan sel pus. Obstruksi di bawah tempat infeksi. Infeksi terbatas pada uretra. Infeksi yang kronik.

3.Tes kimiawi Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya yang paling sering dipakai ialah : Tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar mikroba kecuali enterokoki, mereduksi nitrat bila dijumpai lebih dari 100.000 1.000.000 bakteri. Konversi ini dapat dilihat dengan perubahan warna pada uji carik. Tes terutama dipakai untuk penyaringan atau pengamatan pada pasien rawat jalan. Sensivitas pemeriksaan ini 90,7% dan spesifisitas 99,1% untuk mendeteksi bakteri Gram-negatif. Hasil negatif palsu dapat terjadi, bila pasien sebelumnya diet rendah nitrat, diuresis yang banyak, infeksi oleh enterokoki dan asinetobakter.

4. Tes Plat Celup (Dip-slide) Beberapa pabrik mengeluarkan sistem buatan yang berupa lempeng plastik bertangkai di mana pada kedua sisi permukaannya dilapisi perbenihan padat khusus. Lempeng tersebut dicelupkan ke dalam air kemih pasien atau dengan digenangi air kemih. Setelah itu lempeng dimasukkan kembali ke dalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu dilakukan pengeraman semalam pada suhu 37oC. Penentuan jumlah kuman/mL dilakukan dengan membandingkan pola pertumbuhan pada lempeng perbenihan dengan serangkaian gambar yang memperlihatkan

keadaan kepadatan koloni yang sesuai dengan jumlah kuman antara 1000 dan 10.000.000 dalam tiap mL air kemih yang diperiksa. Cara ini mudah dilakukan, murah dan cukup akurat. Kekurangannya adalah jenis kuman dan kepekaannya tidak dapat diketahui. Walaupun demikian plat celup ini dapat dikirim ke laboratorium yang mempunyai fasilitas pembiakan dan tes kepekaan yang diperlukan.

5. Pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan penunjang lainnya Pemeriksaan radiologis pada ISK dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Pemeriksaan ini dapat berupa pielografi intravena, demikian pula dengan pemeriksaan lainnya, misalnya ultrasonografi dan CT-scanning.

6. Pengelolaan Prinsip umum pengelolaan ISK adalah : -eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai -mengoreksi kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi

Tujuan pengobatan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakteriemia dan bakteriuria, mencegah dan mengurangi risiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek samping yang minimal. Untuk itu pola pengobatan harus disesuaikan dengan bentuk ISK, keadaan anatomi saluran air kemih, serta faktor-faktor penyerta lainnya. Bermacam cara pengobatan yang dilakukan untuk berbagai bentuk yang berbeda dari ISK, antara lain : -pengobatan dosis tunggal -pengobatan jangka pendek (10 14 hari) -pengobatan jangka panjang (4 6 minggu) -pengobatan profilaksis dosis rendah -pengobatan supresif

Pengobatan dapat memberikan hasil yang berbeda-beda antara lain dapat berupa sembuh baik klinis maupun bakteriologis, sembuh klinis dengan bakteriuria menetap, reinfeksi atau relaps. Pengobatan pada berbagai bentuk ISK antara lain : a.Sindrom uretra akut atau sistitis Di samping pengobatan konvensional yang telah lama dijalankan (antara 3 10 hari), akhir-akhir ini terbukti dengan pengobatan dosis tunggal antimikroba cukup efektif pada bentuk ISK ini, yaitu dengan angka kesembuhan yang dicapai menyamai angka kesembuhan dengan cara pengobatan konvensional. Cara ini cukup aman, murah, dapat diterima sebagian besar ahli, efek samping yang minim, dan tidak mengganggu flora usus. Obat-obat yang biasa dipakai untuk pengobatan dosis tunggal antara lain : -Amoksisilin 3 gram -Timetropin-sulfametoksasol 320 mg 1600 mg

-Sulfisoksasol 2 gram -Trimetoprim 400 mg -Kanamisin 500 mg i.m. -Gentamisin 120 mg i.m.

Pengobatan dosis tunggal tidak dianjurkan pada : -Pasien yang diperkirakan sulit untuk kembali pemeriksaan ulang -Bila disertai pielonefritis akut -Bila disertai kelainan anatomi saluran kemih -Pasien pria -Sestitis pada penyandang DM

Untuk kasus-kasus tersebut di atas, dianjurkan agar langsung diberikan pengobatan konvensional. Untuk pengobatan jangka pendek maupun jangka panjang, obat yang paling tepat ialah yang sesuai dengan basil biakan bakteri dan tes kepekaan. Bilamana fasilitas kultur tidak memungkinkan, dapat diberikan obat-obat sebagai berikut : -Trimetoprim-sulfametoksasol 160 mg 800 mg dua kali sehari -Sefaleksin 500 mg empat kali sehari -Amoksisilin 500 mg empat kali sehari -Asam nalidiksik satu gram empat kali sehari -Asam pipemidik 400 mg dua kali sehari

b. Pielonefritis akut (PNA) Kasus yang berat sebaliknya dirawat di rumah sakit. Pemberian antibiotik parenteral segera dimulai sambil menunggu hasil biakan kuman. Jenis obat parenteral yang diberikan ialah aminoglikosid misalnya gentamisin, (tobramisin atau netilmisin 1 mg/kg berat badan sebagai dosis awal, kemudian dilanjutkan dengan 1 mg/kgBB setiap delapan jam, ditambah dengan ampisilin satu gram tiap empat jam intravena. Obat-obat tersebut diberikan sampai 48 jam bebas panas. Biasanya dalam 48 jam, panas menetap. Bilamana panas menetap setelah 48 jam harus dievaluasi. Perlu dilakukan pemeriksaan pielografi intravena untuk melihat kondisi anatomi saluran kemih, serta dilakukan evaluasi hasil biakan air kemih. Kombinasi aminoglikosid dan ampisilin dapat digantikan dengan antimikroba spektrum yang lebih luas seperti peperasilin atau sefalosporin genarasi ketiga, seperti sefotaksim, maksolaktam dan sefazon. Setelah 48 jam bebas panas, obat-obat parenteral dapat diganti dengan obat oral. Kadang-kadang pada pasien pielonefritis akut yang ringan atau yang berobat jalan, diberikan antimikroba peroral misalnya : -Trimetroprim-sulfametaksasol 160-800 mg dua kali sehari -Sefaleksin 500 mg empat kali sehari -Amoksisilin 500 mg empat kali sehari

-Asam nalidiksik satu gram empat kali sehari -Asam pipemidik 400 mg dua kali sehari

Pada pielonefritis akut dengan penyulit seperti urolitiasis atau hipertrofi prostat, di samping pemberian antimikroba diperlukan pada koreksi pembedahan.

c. Pielonefritis kronik (PNK) Pengobatan dilakukan bilamana pada biakan bakteri ditemukan bakteriuria bermakna, yaitu dengan pemberian antimikroba yang sesuai. Bilamana ada kelainan anatomi dilakukan koreksi, bila keadaan memungkinkan.

d. Bakteriuria tak bergejala Pada wanita hamil bakteriuria tak bergejala diobati dengan antimikroba dosis tunggal, kemudian dipantau selama dua sampai empat minggu. Bilamana masih tetap ditemukan bakteriuria diberikan antimikroba dua minggu, kemudian dipantau lagi setelah pengobatan dihentikan. Bilamana masih terjadi rekurensi, antimikroba dilanjutkan sampai enam minggu atau sampai partus. Setelah partus tiga sampai enam bulan dilakukan pemantauan saluran kemih dengan pielografi intravena. Antimikroba yang diberikan sebaiknya yang tidak toksik terhadap janin seperti ampisilin atau nitrofurantoin.

e. Infeksi saluran kemih rekuren Pendekatan pengobatan terhadap rekuren-reinfeksi adalah sebagai berikut : pada wanita dengan tiga sampai empat episode akut infeksi saluran kemih pertahun, dianjurkan pemberian profilaksis antimikroba spektrum luas misalnya : -Trimetoprim-sulfametoksasol 40-200 mg -Trimetoprim obat tunggal 59-100 mg -Nitrofurantoin 100 mg -Ampisilin atau amoksisilin 250 mg -Penisilin G 500 mg -Metenamin (heksamin) mandelat (dengan vitamin C 500 mg) satu gram -Asam pipemidik 200 mg

Beberapa peneliti memberikan profilaksis sebagai berikut : pada wanita dengan riwayat terjadinya rekurensi pascasenggama, diberikan obat sehabis senggama. Beberapa peneliti memberikan profilaksis tiga kali seminggu dan kalau tidak berhasil baru diberikan setiap hari. Pemberian antimikroba untuk profilaksis tidak efektif pada infeksi saluran kemih pria. Hal ini disebabkan karena tingginya insidensi kelainan anatomi (valvula uretra, refluks, dan hipertrofi prostat) pada pria serta adanya prostatitis. Sampai berapa lama pengobatan profilaksis diberikan belum ada persesuaian paham. Rubin dkk memberikannya selama enam bulan. Dan setelah penghentian obat dan ternyata masih timbul rekurensi, maka diberikan profilaksis dua sampai tiga tahun atau lebih. Pasien dengan obstruksi saluran kemih sering terjadi relaps, pemberian

antimikroba dilanjutkan empat sampai enam minggu. Bilamana belum terjadi eradikasi kuman, sedangkan belum dapat dilakukan, diberikan pengobatan supresi. Dosis untuk pengobatan supresi ini sama dengan dosis pengobatan biasa. Ada beberapa peneliti melaporkan pemberian dosis rendah dengan hasil yang memuaskan. Farrar memberikan obat-obat untuk pengobatan supresi sebagai berikut : -Trimetoprim-sulfametaksasol 80 mg sampai 400 mg dua kali sehari -Sulfisoksasol 500 mg empat kali sehari -Nitrofurantion 50 mg empat kali sehari -Metanamin (heksamin) mandelat satu gram empat kali sehari

Pasien dengan pengobatan profilaksis maupun supresi dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kultur air kemih, paling kurang satu sampai dua bulan sekali untuk mengetahui pola kuman serta kepekaannya dan evaluasi fungsi ginjal secara berkala.