Anda di halaman 1dari 31

FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA

DI INDONESIA

PENGARANG : Drs. SURAJIYO

Tugas ini dibuat sebagai


Tugas akhir semester pendek
Pada mata kuliah filsafat ilmu

DI TULIS KEMBALI (RESUME)


OLEH:
AL’ARAS 06 14 003

DOSEN PEMBIMBING:
Drs. Suyitno, M.Ag

FAKULTAS SYARIAH
JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSYIYYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2008
PRAKATA

Filsafat ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun
historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaiknya perkembangan
ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola
pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya
rasiolah yang dominan.

Perubahan dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil.
Alam dengan segala gejalanya, yang selama itu ditakuti kemudian didekati dan bahkan bisa
dikuasai. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-
teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun pada
manusia sendiri.

Maret, 2007

Penulis

2
DAFTAR ISI

PRAKATA ------------------------------------------------------------------------------------------
KATA PENGANTAR-----------------------------------------------------------------------------

Bagian Pertama:
PENGENALAN FILSAFAT ILMU
BAB I PENGANTAR FILSAFAT--------------------------------------------------------------3
A. Pengertian Filsafat ------------------------------------------------------------------------3
B. Objek Filsafat------------------------------------------------------------------------------7
C. Metode Filsafat-----------------------------------------------------------------------------9
D. Ciri-ciri Filsafat----------------------------------------------------------------------------14
E. Asal dan Peranan Filsafat-----------------------------------------------------------------16
F. Kegunaan Filsafat--------------------------------------------------------------------------18
G. Pembagian (Cabang-cabang Filsafat)---------------------------------------------------20

3
FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Oleh : Drs. Surajiyo


BAB I
Pengantar Ilmu Filsafat

A. Pengertian Filsafat

B. Objek Filsafat
1. Objek Material filsafat
Yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan
itu atau hal yang di selidiki, di oandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang
mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
Menurut Drs. H.A.Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada,
baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan.
Segala sesuatu yang ada itu di bagi dua, yaitu :
a. Ada yang bersifat umum (ontologi), yakni ilmu yang
menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya.
b. Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara
mutlak (theodicae) dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia (antropologi
metafisik) dan alam (kosmologi).
2. Objek Formal filsafat
Yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan
pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot.
Contoh : Objek materialnya adalah manusia dan manusia ini di tinjau dari sudut pandangan
yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di
antaranya psikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.

4
C. Metode Filsafat
Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan defenisi dari
para ahli dan filsuf sendiri karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai
hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Penjelasan secara singkat metode-
metode filsafat yang khas adlah sebagai berikut:
1. Metode Kritis : Socrates dan plato
Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di
kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan
memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan,
membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2. Metode Intuitif : Plotinus dan bergson
Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di
usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai
suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran
dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.

3. Metode Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.


Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau
prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.

4. Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya


Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat
sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan
secara matematis segala pengertian lainnya.

5. Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume


Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-
ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di
susun bersama secara geometris.

5
6. Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di
selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.

7. Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme


Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau
fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah
suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang
membicarakan gejala. Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut
Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a. reduksi fenomologis, kita harus menyaring
pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.
b. Reduksi eidetis.
c. Reduksi transendental

8. Metode Dialektis : Hegel dan Mark


Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis,
antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga
langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-
sintesis).

9. Metode Non-positivistis
Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan
aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).

10. Metode analitika bahasa : Wittgenstein


Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya
ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali
mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya
senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.

6
D. Ciri-ciri Filsafat
Menurut Drs. Suyadi MP dan Drs. Sri suprapto widodonongrat ciri filsafat adalah
menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Sedangkan Sunoto menyebutkan ciri-cirinya adalah
deskriptip, kritik atau analitik, evaluatif atau normativ, spekulatif dan sistematik.

E. Asal dan Peranan filsafat


1. Asal filsafat
Ada tiga peranan yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu:
a. Keheranan
b. Kesangsian
c. Kesadaran akan keterbatasan
2. Peranan filsafat
- Pendobrak
Berabad-abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan
kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan
hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Keadaan tersebut
berlangsung cukup lama dan kehadiran filsafat telah mendobrak pintu dan tembok tradisi
yang begitu sakral yang selama itu tidak boleh digugat. Kendati pendobrakan itu
membutuhkan waktu yang cukup panjang, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa
filsafat benar-benar telah berperan selaku pendobrak yang mencengangkan.
- Pembebas
Filsafat bukan hanya sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang
penuh dengan berbagai mitos dan mite itu melainkan juga merenggut manusia keluar dari
penjara itu. Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya.
Demikian pula filsafat membebaskan manusia dari belenggu cara berpikiryang mistis dan
mitis.
- Pembimbing
Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mistik mitis
denganmembimbing manusiauntuk berpikir secara rasional. Membebaskan manusia dari

7
cara berpikir yang picik dan dangkal dengan membbimbing untuk berpikir lebih luas dan
mendalam.

F. Kegunaan filsafat
Pada umumnya dapat dikatakan bahawa dengan belajar filsafat semakin menjadikan
orang mampu untuk menangani berbagai pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak
dalam wewenang metodis ilmu-ilmu khusus. Jadi filsafat membantu untuk mendalami
berbagai pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan lingkup tanggung jawabnya.
Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur yakni secara sistematis dan historis.

G. Pembagian ( cabang-cabang) filsafat


Pembagian secara garis besar dapat dibagi kedalam dua kelompok, yakni filsafat
sistematis dan sejarah filsafat. Filsafat sistematis bertujuan dalam pembentukan dan
pemberian landasan pemikiran. Didalamnya meliputi logika, metodelogi, epistimologi,
filsafat ilmu, etika, estetika metafisika, teologi (filsafat ketuhanan), filsafat manusia, dan
kelompok filsafat khusus seperti filsafat sejarah, hukum, komunikasi dan lain-lain.
Adapun sejarah filsafat adalah bagian yang berusaha meninjau pemikiran filsafat
sepanjang masa. Sejak zaman kuno hingga zaman modern, bagian ini meliputi sejarah
filsafat yunani (barat), india, cina dan sejarah filsafat islam.
Berikut ini pengertian ari cabang-cabang filsafat yang utama:
- Logika, adala cabang filsafat yang menyelildiki lurus tidaknya pemikran
kita. Lapamngan dalam logika adlah asa-asas yang menentukan pemikiran yang
lurus, tepat dan sehat. Dengan mempelajari logika diharapkan dapat menerapkan
asas bernalar sehingga dapat menaarik kesimpulan dengan tepat.
- Epistemologi, adlah bagian filasfat yang membicarakan tentang
terjadinya pengetauan, sumber pengetahuan, asla mula pengetahuan, batas-batas,
sifat, metode dan kesahihan pengetahuan.
- Etika, adlah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau
perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk.
- Estetika, adlah cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan

8
- Metafisika, adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada
atau membicarakan sesuatu di sebalik yang tampak. Persoalan metafisis di bedakan
menjadi tiga yaitu ontologi, kosmologi dan antropologi.

9
BAB II
FILSAFAT PENGETAHUAN (EPISTEMOLOGI)

A. Pengertian Epistemologi
B. Arti pengetahuan
Pengetahuan adlah suatu istilah yang di pergunakan untuk menuturkan apabila
seseorang mengenal tentang sesuatu.suatu hal yang menjadi penggetahuannya adalah selalu
terdiri atas unsur yang mengetahui dan diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin
diketahuinya itu.oleh karna itu penggetahuan selalu menuutut adanya subjek yang
mempunyai kesdaran untuk mengetahui tentang sesuatu objek dan objek yang merupakan
sesuatu yang dihadapinya sebagai hal ingin diketahuinya.jadi bisa dikatakan penggetahuan
adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu,atau segala perbuatan manusia untuk
memahami suatu objek yang dihadapinya,atau asil usaha manusia untuk memahami suatu
objek.

C. Terjadinya suatu pengetahuan


Alat untuk mengetahui terjadinya penggetahuan menurut jhon horpers ada enam
yaitu
1. Pengalaman indera
2. Nalar
3. Otoritas
4. Intuisi
5. Wahyu
6. Keyakinan

D. Jenis-jenis penggetahuan
Penggetahuan menurut Soejono Soemargono (1983) dapat dibagi atas :
1. Penggetahuan non-ilmiah.
2. Penggetahuan ilmiah

10
Sedangkan menurut plato dan aristoteles.plato membagi penggetahuan menurut
tingkatan-tingkatan penggetahuan sesuai dengan karakteristik objeknya.pembagiannya
adalah sebagai berikut :
1. Penggetahuan eikasia (khayalan)
2. Penggetahuan fistis
3. Penggetahuan dianoya(metematik)
4. Penggetahuan neosis(filsafat)

Aristoteles mempunyai pendapat yang berbeda, menurut aristoteles penggetahuan


harus merupakan kenyataan yang dpat dihindari dan kenyataan adalah sesuatu yang
merangsang budi kita kemudian mengolahnya.penggetahuan yang umumnya merupakan
kumpulan yang dinamakan rational knowledge dipisahkan dalam 3 jenis kumpulan yaitu
(1) Penggetahuan produksi (seni)
(2) Penggetahuan praktis (etika, ekonomi, politik)
(3) Penggetahuan teoretis (fisika, matematika ,dan metafisika)

E. Asal usul penggetahuan


1. Aliran-aliran dalam penggetahuan
a. Rasoinalisme
Aliran ini berpendapat bahwa sumber penggetahuan yang mencukupi dan
yang dapat dipercaya adalah rasio (akal)
b. Empirisme
Aliran ini berpendapat, bahwa empiris atau pengalamlah yang menjadi
sumber penggetahuan baik pengalaman yang batiniah maupun lahiriah.
c. Kritisme
Penyelesaian pertentangan antara rasionalisme danempirisme hnedak
diselesaikan oleh umanuel kant dengan kritismenya.
d. Positivisme
Positivisme berpangkal dari apa yang telah di ketahui, yanng faktual dan
yang positif.

11
2.Metode ilmiah
Menurut soejono soemargono (1983) metode ilmiah secara garis besar ada dua
macam,yaitu sebagai berikut
a. Metode ilmiah yang bersifat umum
Metode ilmiah yang bersifat umum masih dapat dibagi dua,yaitu metode
analitiko-sintesis dan metode nono deduksi
b. Metode penyelidikan ilmiah
Metode penyelidikan dibagi menjadi dua,yaitu metode penyelidikan yang
berbentuk daur atau metode siklus empiris dan metode vertikal yang
berbentuk garis lempang atau metode linier.

3.Sarana berpikir ilmiah


Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya ada tiga yakni;
a. Bahasa ilmiah, yaitu kalimat berita yang merupakan suatu pernyataan atau
pendapat-pendapat.
b. Bahasa logika dan matematika, merupakan dua pengetahuan yang selalu
berhubungan erat, yang keduanya sebagai sarana berpikir deduktif. Baik
logika maupun matematika lebihh mementingkan bentuk logis pernyataan-
pernyataannya mempunyai sifat yang jelas.
c. Logika dan statistika, mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif
untuk konsep yang berlaku umum.

12
BAB III
RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU

A. Pengertian filsafat ilmu


B. Objek filsafat ilmu
1. Objek Material Filsafat Ilmu
Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu,
atau objek yang yang di pelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah
pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan
metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara
umum.
2. Objek Formal Filsafat Ilmu
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek
materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya
filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti
apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa
fingsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan
pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

C. Lingkupan filsafat ilmu menurut para filsuf

D. Problema filsafat ilmu

E. Manfaat belajar filsafat ilmu


1. Sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga menjadi kritis
terhadap kegiatan ilmiah.
2. Merupakan usaha merepleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode
keilmuan.

13
3. Memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan.
BAB IV
APA ITU ILMU PENGETAHUAN

A. Defenisi Ilmu Pengetahuan


Ilmu pengetahuan di ambil dari bahasa inggris science, yang berasal dari bahasa
latin scientie dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari,
mengetahui.pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga
menunjuk segenap pengetahuan sistematik. Adapun menurut Bahm defenisi ilmmu
pengetahuan paling tidak melibatkan enam macam komponen yaitu masalah, sikap,
metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh.

B. Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan


C. Keragaman Dan Pengelompokan Ilmu Pengetahuan
Berikut ini merupakan penggolongan ilmu-ilmu, yaitu:
- Ilmu formal dan ilmu non formal (non empiris)
Dua contoh ilmu formal atau non empiris yaitu matematika dan filsafat.
- Ilmu murni dan ilmu terapan
Ilmu terapan atau praktis ialah ilmu yang bertujuan untuk di aplikasikan atau di
ambil manfaatnya. Contoh : ilmu kedokteran
- Ilmu nomotesis dan idiografis
Yang termasuk ilmu nomotesis adlah ilmu-ilmu alam yang objeknya adlah
gejala pengalaman yang dapat di ulangi terus menerus dan hanya merupakan
kasus-kasus yang mempunyai hubungan dengan suatu hukum alam. Sedangkan
ilmu idiografis yakni ilmu-ilmu budaya yang objeknya bersifat individual yang
terjadi sekali untuk di pahami dan di mengerti menurut keunikannya.
- Ilmu deduktif dan induktif
Deduktif adalah proses pemikiran dimana akal budi manusia dari pengetahuan
yang umum yang abstrak menyimpulkan hal yang bersifat khusus dan
individual. Contoh : ilmu deduktif matematika sedangkan ilmu induktif adalah

14
bertolak belakang dari ilmu deduktif yakni dari khusus menjadi umum dan
abstrak.
- Naturwissenschaften dan geisteswissenschaften
- Ilmu-ilmu empiris secara lebih khusus

D. Susunan ilmu pengetahuan


1. langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan :
- perumusan masalah, dirumuskan secara tepat dan jelas dalam bentuk
pertanyaan agar ilmuwan mempunyai jalan unuttuk mengetahu fakta-fakta apa
saja yang di kumpulkan.
- Pengamatan dan pengumpulan data (observasi)
- Pengamatan dan klasifikasi data
- Perumusan pengetahuan (defenisi)
- Tahap ramalan (prediksi)
- Pengujian kebenaran hipotesis
2. limas ilmu
3. siklus empiris
a. Observasi
b. Induksi
c. Deduksi
d. Kajian (eksperimentasi)
e. Hasil-hasil kajian membawa kepada ahap evaluasi yang di
susun secara deduksi dan induksi.
4. penjelasan dan ramalan
a. penjelasan logis
b. penjelasan probabilistik
c. penjelasan finalistik
d. penjelasan historis atau genetik
e. penjelasan fungsional
untuk ramalan

15
E. Ilmu Dan Teknologi
F. Wujud ilmu

16
BAB V
SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

A. Pengantar
Pemikiran filsafat banyak dipengaruhi oleh lingkungan.namun pada dasarnya
filsafat baik dibarat, india dan Cina muncul dari yang sifatnya religius. Pembagian secara
periodesasi filsafat barat adalah zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern dan
masa kini. Periodesasi filsafat cina adalah zaman kuno, zaman pembauran, zaman
neokonfusionisme dan zaman modern. Untuk cina adalah periode weda, biracarita, sutra-
sutra dan sekolastik. Dalam filsafat india yang penting adalah bagaimana manusia bisa
berteman dengan dunia bukan untuk menguasai dunia. Adapun filsafat islam hanya ada 2
periode yaitu: periode mutakalimin dan filsafat islam.
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini tidaklah berlangsung secara
mendadak melainkan berlangsung secara bertahap. Karena untuk memahami sejarah
perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian secara periode yang
menampilkan ciri khas tertentu.

B. Zaman Pra Yunani Kuno(zaman batu)


Pada abad VI SM yunani muncul lahirnya filsafat dan mulai berkembang suatu
pendekatan yang sama sekali berlainan. Mulai saat itu orang mencari jawaban rasional
tentang problem alam semesta.dengan demikian filsafat dilahirkan.

C. Zaman yunani kuno


1. Zaman keemasan yunani
Zaman yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini
orang memiliki kebebasan untuk menguingkapkan ide atau pendapatnya. Yunani pada
masa itu dianggap sebagai gudang ilmu, karena yunani pada masa itu tidak lagi
mempercayai mitologi-mitologi.
2. Masa Helinistis Romawi
Pada masa ini muncul beberapa aliran yaitu sebagai aliran sebagai berikut:

17
a. stoisisme, menurut paham ini jagad raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut
logos. Oleh karena itu segala kejadian menurut ketetpan yang tidak dapat dihindari.
b. epikurisme, segala-galanya terdiri dari atom-atom.
c. skepisisme, mereka berfikir bahwa bidang teoritis manusia tidak sanggup mencapai
kebenaran
d. eklektisisme, suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur filsafat
dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
e. neoplatoisme, yakni paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat plato.

D. Zaman Abad Pertengahan


Pada abad pertengahan mengalami 2 periode, yaitu:
1. periode patriktis; mengalami 2 tahap:
a. permulaan agama kristen
b. filsafat agustinus; yang
terkenal pada masa patristik
2. periode skolastik; menjadi 3 tahap
yakni:
a. periode awal, ditandai dengan
pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan
filsafat
b. periode puncak, ditandai oleh
keadaan yang dipengaruhi oleh aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat arab dan
yahudi
c. periode akhir, ditandai
dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang kearah nominalisme.

E. Zaman Renaissance
Ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi
kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran

18
yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan
atas campur tangan Illahi.

F. Zaman Modern
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah. Perkembangan ilmu
pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman renaissance.

G. Zaman Kontemporer (Abad XX Dan Seterus)


Fisi kawan termashur adalah Albert Einstein yang percaya akan kekekalan materi.
Dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam. Zaman kontemporer ini ditandai
dengan penemuan teknologi canggih.

19
BAB VI
PRINSIP-PRINSIP METODOLOGI

A. Pengantar
Metodologi merupakan hal yang mengkaji perurutan langkah-langkah yang
ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi pengetahuan yang ilmiah. Untuk
memahami perinsip-perinsip metode filsafat perlu dibahas pengertian metodologi, unsur-
unsur metodologi, dan beberapa pandangan tentang prinsip metodologi bagi para filsuf.

B. Pengertian Metodologi
Metodologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang metode-
metode. Metode ialah cara bertindak menurut aturan tertentu.

C. Unsur-Unsur Metodelogi
Menurut anton Baker dan ahmad charris zubair adalah
1. Interpretasi
(menafsirkan)
2. Induksi dan
deduksi
3. Koherensi
intern
4. Holistis
5. Kesinambunga
n historis
6. Idealisasi
7. Komperasi

20
8. Heuristika
9. Analogi
10. Deskripsi

BAB VII
PENEMUAN KEBENARAN

A. Cara Penemuan Kebenaran


Cara penemuan kebenaran berbeda-beda, kebenaran dapat dilihat secara ilmiah dan
non ilmiah. Menurut hartono kasmadi dkk (1960) adalah sebagai berikut:
1. penemuan secara kebetulan, adalah
penemuan yang berlangsung secara tanpa disengaja.
2. penemuan coba dan ralat ( trial dan
error), terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil
kebenaran yang dicari.
3. penemuan melalui otoritas atau
kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan
sering di terima sebagai kebenaran meskipun pendapatnya tidak di dasarkan
pada pembuktian ilmiah.
4. lpenemuan secara spekulatif, cara ini
mirip dengan cara coba dan ralat. Akan tetapi, perbedaannya dengan coba dan
ralat memang ada.
5. penemuan kebenaran lewat cara
berpikir, kritis dan rasional. Cara berpikir yang di tempuh pada tingkat
permulaan dalam memecahkan masalah adlah dengan cara berpikir analitis dan
sintetis.

21
6. penemuan kebenaran melalui
penelitian ilmiah, cara mencari kebenaran yang di pandang ilmiah adlah yang
dilakukan melalui penelitian. Penelitian adlah penyaluran hasrat ingin tahu pada
manusia dalam teraf keilmuan.

B. Defenisi kebenaran
Hal kebenaran sesungguhnya memang merupakan tema sentral dalam filsafat ilmu.
Problematik mengenai kebenaran, sebenarnya seperti halnya problematik tentang
pengetahuan, merupakan masalah-maslah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya
dalam filsafat ilmu.

C. Jenis-jenis kebenaran
Telaah dalam filsafat ilmu membawa orang kepada kebenaran di bagi dalam tiga
jenis menurut A.M.W.Pranarka (1987) yaitu:
1. Kebenaran
epistemologikal
2. Kebenaran
ontologikal
3. Kebenaran
semantikal

D. Sifat Kebenaran
Menurut Abbas hamami mintaredja (1983), kata kebenaran dapat di gunakan
sebagai suatu kata benda konkrit maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan
kebenaran artinya proposisi yang benar.

E. Teori kebenaran dan kehilafan


1. Teori Kebenaran Saling Berhubungan
(coherence theory of truth)

22
Teori koherensi dibangun oleh para pemikir rationalis seperti Leibniz, Spinoza,
Hegel, dan Bradley. Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya Elements of Philosophy teori
koherensi dijelaskan “...suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam
keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lain yang benar, atau jika makna
yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita.
2. Teori Kebenaran Saling Berkesesuaian
(Correspondence Theory of Truth)
Teori ini berpandangan bahwa suatu proposisi bernilai kebenaran apabila
berkesesuaian dengan dunia kenyataan. Kebenaran demikian dapat dibuktikan secara
langsung pada dunia kenyataan.
3. Teori Kebenaran Inherensi (inherent
theory of truth)
Kadang-kadang teori ini disebut juga teori pragmatis. Pandangannya adalah suatu
proposisi bernilai benar apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau
bermanfaat.
4. Teori Kebenaran Berdasarkan Arti
(semantic theory of truth)
Teori kebenaran semantik dianut oleh paham filsafat analitika bahasa yang
dikembangkan paska filsafat bertrand Russell sebagai tokoh pemula dari filsafat Analitika
Bahasa.
5. Teori Kebenaran Sintaktis
Teori berkembang diantara filsuf analisis bahasa, terutama yang begitu ketat
terhadap pemakaian gramatika.
6. Teori Kebenaran Nondeskripsi
Teori ini dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Karena pada
dasarnya suatu statemen atau pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung
pada peran dan fungsi dari pernyataan itu.
7. Teori Kebenaran Logik Yang Berlebihan
(logical superfluity of truth)

23
Teori ini dikembangkan oleh kaum positivistik yang diawali oleh Ayer. Pada
dasarnya menurut teori kebenaran ini, problema kebenaran hanya merupakan kekacauan
bahsa saja dan hal ini mengakibatkan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang
hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama yang masing-masing
saling melingkupinya.

BAB VIII
DEFINISI DAN PENALARAN

Dalam penalaran ada dua proposisi pokok yang dinalar, yakni proposisi kategoris
dan proposisi majemuk.
A. Definisi

24
Definisi terdiri atas dua bagian, yakni bagian pangkal disebut defeniendum yang
berisi istilah yang harus diberi penjelasan, dan bagian pembatas disebut disebut definiens
yang berisi uraian mengenai arti dari bagian pangkal.
1. Macam-macam Definisi
a. Definisi nominalis ialah menjelaskan sebuah kata
dengan kata lain lebih umum dimengerti.
b. Definisi Realis
Ialah penjelasan tentang hal yang ditandai oleh suatu term.
c. Definisi Praktis
Ialah penjelasan tentang hal sesuatu ditinjau dari segi penggunaan dan tujuan yang
sederhana.
2. Syarat-Syarat Definisi
a. sebuah definisi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari
apa yang didefinisikan.
b. sebuah definisi harus merupakan suatu kesetaraan arti
dengan yang didefinisikan.
c. sebuah definisi harus menghindarkan pernyataan yang
memuat term yang didefinisikan.
d. sebuah definisi harus sedapat mungkin dinyatakan
secara rumusan positif.
e. sebuah definisi harus dinyatakan secara singkat dan
jelas terlepas dari rumusan yang kabur atau bahsa kiasan.

B. PENALARAN
1. Prinsip-prinsip Penalaran
- Prinsip Identitas
- Prinsip Kontradiksi
- Prinsip Eksklusif.
2. Penalaran Proposisi

25
Penalaran adalah suatu proses penarikan kesimpulan dari satu atau lebih proposisi.
Penalaran ada dua:
- Penalaran Langsung
- Penalaran tidak langsung
C. Silogisme Kategoris
Silogisme adalah proses menggabungkan tiga proposisi, dua menjadi dasar
penyimpulan, satu menjadi kesimpulan.

D. Proposisi Majemuk
Proposisi majemuk adalah pernyataan yang terdiri atas dua bagian yang dapat
dinilai benar atau salah.

E. Silogisme Majemuk dan Dilema


1. Silogisme disjungtif inklusif
2. Silogisme disjungtif ekskutif
3. Silogisme disjungtif alternatif
4. Silogisme hipotesis kondisional
5. Silogisme hipotesis bikondisional

F. Sesat Pikir
Sesat pikir dapat terjadi ketika menyimpulkan sesuatu lebih luas daripada dasarnya
(latinus hos).

BAB IX
HUBUNGAN DAN PERANAN ILMU PENGETAHUAN TERHADAP
PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN NASIONAL

26
A. Ilmu Masyarakat
Dewasa ini ilmu menjadi sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah
manusia sekarang tidak dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan. Kebutuhan manusia yang
paling sederhana pun sekarang memerlukan ilmu.

B. Pengertian dan Unsur-Unsur Kebudayaan


Ki Hajar Dewantara; kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil
perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan
masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai
rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

C. Pengaruh Timbal Balik Antara Ilmu dan Kebudayaan


Ilmu adalah dari pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara
tertentu, ialah adanya suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai objek formal
dan objek material.

D. Peranan Ilmu Terhadap Pengembangan Kebudayaan Nasional


Istilah kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)
manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.

E. Strategi Kebudayaan
Strategi kebudayaan merupakan upaya bagaimana menangani kebudayaan
khususnya di Indonesia yang beragam budaya.

BAB X
ETIKA KEILMUAN

27
A. Pengantar
Ilmu berupaya mengungkapkan realitas sebagaimana adanya, sedangkan moral pada
dasarnya adalah petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia.

B. Antara, Etika, Moral, Norma, dan Kesusilaan


Menurut Sunoto (1982) etika dapat dibagi menjadi dua yaitu etika deskripsi yaitu
menggambarkan, dan etika normatif yaitu etika prinsif-prinsif.
Moral artinya adat atau cara hidup yang pakai dalam masyarakat.
Norma adalah alat tukang kayu atau tukang batu yang berupa segitiga. Kemudian
norma adalah sebuah ukuran.
Kesusilaan adalah hasil suatu menjadi yang terjadi didalam jiwa.

C. Problema Etika Ilmu Pengetahuan


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghambat ataupun
meningkatkan keberadaan manusia tergantung pada menusianya itu sendiri, karena ilmu
pengetahuan dan teknologi dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dan
kebudayaannya.

D. Ilmu Bebas Nilai atau Tidak Bebas Nilai


Bebas nilai atau tidak bebas nilai yang dimaksudkan adalah tuntunan setiap kegiatan
ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.

E. Pendekatan Ontologis
Ontologis adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Secara
ontologis ilmu membatasi lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang
berada dalam jangkauan pengalaman manusia.

F. Pendekatan Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal,
sumber, metode, struktur, dan validitas atau kebenaran pengetahuan.

28
G. Pendekatan Akseologis
Aksiologis adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum

H. Sikap Ilmiah yang Harus Dimiliki Ilmuwan


Ilmu bukanlah merupakan pengetahuan yang datang demikian saja sebagai barang
yang sudah jadi dan datang dari dunia khayal.

BAB XI
STRATEGI PENGEMBANGAN ILMU DI INDONESIA

29
A. Pengantar
Pancasila digali dari budaya bangsa Indonesia sendiri, sehingga Pancasila
mempunyai fungsi dan peranan yang sangat luas dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

B. Pengertian Paradigma
Paradigma menurut Thomas S. Kuhn adalah suatu asumsi dasar dan asumsi teoritis
yang umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga menjadi suatu sumber hukum,
metode, serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri,
serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.

C. Landasan Ontologis, Epistemologis, axiologis, dan Antropologis Pancasila


Landasan ontologis dimaksudkan untuk mengungkapkan jenis keberadaan yang
diterapkan pancasila. Landasan epistemologis dimaksudkan untuk mengungkapkan sumber
pengetahuan dan kebenaran tentang pancasila sebagai sistem filsafat dari ideologi.
Landasan aksiologis dimaksudkan untuk mengungkapkan jenis nilai dasar yang terkandung
dalam pancasila. Landasan antropologis dimaksudkan untuk mengungkapkan hakikat
manusia dalam rangka pengembangan sistem filsafat pancasila.

D. Pancasila Sebagai Paradigma Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan


Teknologi
Pembangunan nasional adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan nasionalnya
sebagaimana yang dunyatakan dalam pembukaan UUD 1945.

DAFTAR PUSTAKA BUKU

30
Abbas Hamami M. 1976. Filsafat (Suatu Pengantar Logika Formal-Filsafat Pengatahuan).
Yogyakarta : Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM.
. 1982. Epistemologi Bagian I Teori Pengetahuan. Diktat. Yogyakarta: Fakultas
Filsafat UGM.
. 1980. Disekitar Masalah Ilmu; Suatu Problema Filsafat. Surabay: Bina Ilmu.
. Epistimologi Masa Depan dalam jurnal filsafat. Seri 1, februari 1990.

31