Anda di halaman 1dari 26

1

BAB 7
UNIT FILTRASI

7.1. Tujuan Filtrasi
Filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cair maupun gas) yang
membawanya menggunakan suatu medium berpori atau bahan berpori lain untuk menghilangkan
sebanyak mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan koloid. Pada pengolahan air minum,
filtrasi digunakan untuk menyaring air hasil dari proses koagulasi flokulasi sedimentasi sehingga
dihasilkan air minum dengan kualitas tinggi. Di samping mereduksi kandungan zat padat, filtrasi
dapat pula mereduksi kandungan bakteri, menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan.
Perencanaan suatu sistem filter untuk pengolahan air tergantung pada tujuan pengolahan dan
pre-treatment yang telah dilakukan pada air baku sebagai influen filter.
Pada filtrasi dengan media berbutir, terdapat mekanisme filtrasi sebagai berikut:
a. Penyaringan secara mekanis (mechanical straining)
b. Sedimentasi
c. Adsorpsi atau gaya elektrokinetik
d. Koagulasi di dalam filter bed
e. Aktivitas biologis

7.2. Tipe Filter
Berdasarkan pada kapasitas produksi air yang terolah, filter pasir dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu filter pasir cepat dan filter pasir lambat.
7.2.1. Filter Pasir Cepat
Filter pasir cepat atau rapid sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi
cepat, berkisar 4 hingga 21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi flokulasi
dan pengendapan untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada influen filter pasir
cepat berkisar 5 10 NTU maka efisiensi penurunan kekeruhannya dapat mencapai 90 98%.
Bagian-bagian dari filter pasir cepat meliputi (Gambar 7.1):
a. Bak filter, merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak
tergantung debit pengolahan (minimum dua bak).
b. Media filter, merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori-pori di antara
butiran media. Pada pori-pori inilah air mengalir dan terjadi proses penyaringan.
c. Sistem underdrain. Underdrain merupakan sistem pengaliran air yang telah melewati
proses filtrasi yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri atas:
Orifice, yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya air dari
media filter ke dalam pipa.
Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak di sepanjang pipa manifold.
Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan mengalirkannya ke
bangunan penampung air.
2
Lateral
Gutter
Bak filter
Manifold
Media penyangga
Media filter

Gambar 7.1 Bagian-bagian filter
Pengoperasian filter pasir cepat adalah sebagai berikut:
1. Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di media
filter. Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyangga, masuk
lubang/orifice, ke pipa lateral, terkumpul di pipa manifold, dan akhirnya air keluar
menuju bak penampung (lihat Gambar 7.2).
2. Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori-pori media
sehingga terjadi clogging (penyumbatan). Clogging ini akan meningkatkan headloss
aliran air di media. Peningkatan headloss dapat dilihat dari meningkatnya permukaan air
di atas media atau menurunnya debit filtrasi. Untuk menghilangkan clogging, dilakukan
pencucian media.
3. Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik pada media (backwash)
dengan tujuan untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat pori-
pori media filter. Aliran air dari manifold, ke lateral, keluar orifice, naik ke media
hingga media terangkat, dan air dibuang melewati gutter yang terletak di atas media
(lihat Gambar 7.3).
4. Bila media filter telah bersih, filter dapat dioperasikan kembali.


Gambar 7.2 Aliran air pada saat operasi filter
3


Gambar 7.3 Aliran air pada saat pencucian filter

Filter pasir cepat dapat dibedakan dalam beberapa kategori:
1. Menurut sistem kontrol kecepatan filtrasi
2. Menurut arah aliran
3. Menurut sistem pengaliran
7.2.1.1. Tipe Filter Berdasar Sistem Kontrol Kecepatan
Berdasarkan sistem kontrol kecepatannya, filter dikelompokkan menjadi:
1. Constant rate: debit hasil proses filtrasi konstan sampai pada level tertentu. Hal ini dilakukan
dengan memberikan kebebasan kenaikan level muka air di atas media filter.
2. Declining rate atau constant head: debit hasil proses filtrasi menurun seiring dengan waktu
filtrasi, atau level muka air di atas media filter dirancang pada nilai yang tetap.
7.2.1.2. Tipe Filter Berdasar Arah Aliran
Berdasarkan arah alirannya, filter dikelompokkan menjadi:
1. Filter aliran down flow (kebawah).
2. Filter aliran upflow (keatas).
3. Filter aliran horizontal.
7.2.1.3. Tipe Filter Berdasar Sistem Pengaliran
Berdasarkan sistem pengalirannya, filter dikelompokkan menjadi:
1. Filter dengan aliran secara grafitasi (gravity filter).
2. Filter dengan aliran bertekanan (pressure filter).

7.2.2. Filter Pasir Lambat
Filter pasir lambat atau slow sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi
lambat, yaitu sekitar 0,1 hingga 0,4 m/jam. Kecepatan yang lebih lambat ini disebabkan ukuran
media pasir lebih kecil (effective size = 0,15 0,35 mm). Filter pasir lambat merupakan sistem
filtrasi yang pertama kali digunakan untuk pengolahan air, dimana sistem ini dikembangkan sejak
tahun 1800 SM. Prasedimantasi dilakukan pada air baku mendahului proses filtrasi.
4
Filter pasir lambat cukup efektif digunakan untuk menghilangkan kandungan bahan
organik dan organisme patogen pada air baku yang mempunyai kekeruhan relatif rendah. Filter
pasir lambat banyak digunakan untuk pengolahan air dengan kekeruhan air baku di bawah 50 NTU.
Efisiensi filter pasir lambat tergantung pada distribusi ukuran partikel pasir, ratio luas permukaan
filter terhadap kedalaman dan kecepatan filtrasi.
Filter pasir lambat bekerja dengan cara pembentukan lapisan biofilm di beberapa
milimeter bagian atas lapisan pasir halus yang disebut lapisan hypogeal atau schmutzdecke.
Lapisan ini mengandung bakteri, fungi, protozoa, rotifera, dan larva serangga air. Schmutzdecke
adalah lapisan yang melakukan pemurnian efektif dalam pengolahan air minum. Selama air
melewati schmutzdecke, partikel akan terperangkap dan organik terlarut akan teradsorpsi,
diserap dan dicerna oleh bakteri, fungi, dan protozoa. Proses yang terjadi dalam schmutzdecke
sangat kompleks dan bervariasi, tetapi yang utama adalah mechanical straining terhadap
kebanyakan bahan tersuspensi dalam lapisan tipis yang berpori-pori sangat kecil, kurang dari satu
mikron. Ketebalan lapisan ini meningkat terhadap waktu hingga mencapai sekitar 25 mm, yang
menyebabkan aliran mengecil. Ketika kecepatan filtrasi turun sampai tingkat tertentu, filter
harus dicuci dengan mengambil lapisan pasir bagian atas setebal sekitar 25 mm.
Keuntungan filter lambat antara lain:
Biaya konstruksi rendah
Rancangan dan pengoperasian lebih sederhana
Tidak diperlukan tambahan bahan kimia
Variasi kualitas air baku tidak terlalu mengganggu
Tidak diperlukan banyak air untuk pencucian, pencucian tidak menggunakan backwash,
hanya dilakukan di bagian atas media
Kerugian filter pasir lambat adalah besarnya kebutuhan lahan, yaitu sebagai akibat dari
lambatnya kecepatan filtrasi.
Secara umum, filter pasir lambat hampir sama dengan filter pasir cepat. Filter lambat
tersusun oleh bak filter, media pasir, dan sistem underdrain (Gambar 7.4). Perbedaan filter pasir
cepat dan filter pasir lambat dapat dilihat pada Tabel 7.1.


Gambar 7.4 Skema filter pasir lambat
5
Tabel 7.1 Perbedaan Kriteria Filter Pasir Cepat dan Filter Pasir Lambat
Kriteria Filter Pasir Cepat Filter Pasir Lambat
Kecepatan filtrasi 4 21 m/jam 0,1 0,4 m/jam
Ukuran bed Kecil, 40 400 m
2
Besar, 2000 m
2
Kedalaman bed 30 45 cm kerikil, 60 70 cm
pasir, tidak berkurang saat
pencucian
30 cm kerikil, 90 110 cm pasir,
berkurang 50 80 cm saat
pencucian
Ukuran pasir Effective size >0,55 mm,
uniformity coefficient <1,5
Effective size 0,25-0,3 mm,
uniformity coefficient 2-3
Distribusi ukuran media Terstratifikasi Tidak terstratifikasi
Sistem underdrain Pipa lateral berlubang yang
mengalirkan air ke pipa utama
Sama dengan filter cepat atau
batu kasar dan beton berlubang
sebagai saluran utama
Kehilangan energi 30 cm saat awal, hingga 275 cm
saat akhir
6 cm saat awal, hingga 120 cm
saat akhir
Filter run (jarak waktu
pencucian)
12 72 jam 20 60 hari
Metoda pembersihan Mengangkat kotoran dan pasir ke
atas dengan backwash
Mengambil lapisan pasir di
permukaan dan mencucinya
Jumlah air untuk
pembersihan
1 6% dari air tersaring 0,2 0,6% dari air tersaring
Pengolahan
pendahuluan
Koagulasi-flokulasi-sedimentasi Biasanya tidak ada bila
kekeruhan kurang dari 50 NTU
Biaya konstruksi Relatif tinggi Relatif rendah
Biaya operasi Relatif tinggi Relatif rendah
Biaya depresiasi Relatif tinggi Relatif rendah
Sumber: Schulz dan Okun (1984)

7.3. Media Filter dan Distribusi Media
Bagian filter yang berperan penting dalam melakukan penyaringan adalah media filter.
Media Filter dapat tersusun dari pasir silika alami, anthrasit, atau pasir garnet. Media ini
umumnya memiliki variasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia. Pemilihan media filter yang
akan digunakan dilakukan dengan analisa ayakan (sieve analysis). Hasil ayakan suatu media filter
digambarkan dalam kurva akumulasi distribusi (Gambar 7.5) untuk mencari ukuran efektif
(effective size) dan keseragaman media yang diinginkan (dinyatakan sebagai uniformity
coefficient).
Effective Size (ES) atau ukuran efektif media filter adalah ukuran media filter bagian atas
yang dianggap paling efektif dalam memisahkan kotoran yang besarnya 10 % dari total kedalaman
lapisan media filter atau 10 % dari fraksi berat, ini sering dinyatakan sebagai d
10
(diameter pada
persentil 10).
Uniformity Coefficient (UC) atau koefisien keseragaman adalah angka keseragaman
media filter yang dinyatakan dengan perbandingan antara ukuran diameter pada 60 % fraksi berat
terhadap ukuran efektif atau dapat ditulis: UC = d
60
/d
10
. d
60
adalah diameter butiran pada
persentil 60).
6


Gambar 7.5 Lembar untuk penggambaran hasil analisis ayakan pasir

Berdasarkan jenis dan jumlah media yang digunakan dalam penyaringan, media filter
dikategorikan menjadi:
1. Single media: Satu jenis media seperti pasir silika, atau dolomit saja. Filter cepat
tradisional biasanya menggunakan pasir kwarsa. Pada sistem ini penyaringan SS terjadi
pada lapisan paling atas sehingga dianggap kurang efektif karena sering dilakukan
pencucian.
7
2. Dual media: misalnya digunakan pasir silica, dan anthrasit. Filter dual media sering
digunakan filter dengan media pasir kwarsa di lapisan bawah dan antharasit pada lapisan
atas. Keuntungan dual media:
a. Kecepatan filtrasi lebih tinggi (10 15 m/jam)
b. Periode pencucian lebih lama
c. Merupakan peningkatan filter single media (murah)
3. Multi media: misalnya digunakan pasir silica, anthrasit dan garnet atau dolomit. Fungsi
multi media adalah untuk memfungsikan seluruh lapisan filter agar berperan sebagai
penyaring.
Susunan media berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi:
Seragam (uniform), ukuran butiran media filter relatif sama dalam satu bak
Gradasi (stratified), ukuran butiran media tidak sama dan tersusun bertingkat
Tercampur (mixed), ukuran butiran media tidak sama dan bercampur
Kriteria nilai ukuran efektif dan keseragaman media untuk beberapa jenis dan jumlah
media filter dapat dilihat pada Tabel 7.2. Bila suatu stok pasir tidak memenuhi kriteria, maka
harus dilakukan pemilihan ukuran hingga memenuhi kriteria tersebut. Perhitungan persentase
pasir yang dapat digunakan, pasir yang terlalu kecil, pasir yang terlalu besar dapat dihitung
sebagai berikut:
Persentase stok pasir yang dapat digunakan:
P
use
= 2 (P
st60
P
st10
) (7.1)
Persentase pasir yang terlalu kecil:
P
f
= P
st10
0,1 P
use
= P
st10
0,2 (P
st60
P
st10
) (7.2)
Persentase ukuran pasir yang terlalu besar:
P
c
= 100 P
f
- P
use
(7.3)
Keterangan:
P
st10
adalah persentase pasir stok yang memenuhi ES sesuai kriteria yang diminta
P
st60
adalah persentase pasir stok yang memenuhi ES x UC sesuai kriteria yang diminta
Setelah dilakukan pemilihan ukuran butiran pasir stok, maka pasir stok dapat digunakan
sebagai media filter yang memenuhi kriteria.





8
Tabel 7.2 Kriteria Perencanaan Media Filter untuk Pengolahan Air Minum
Karakteristik
Nilai
rentang tipikal
I. Single Media
A. Media pasir:
Kedalaman (mm)
ES (mm)
UC
B. Media anthrasit:
Kedalaman (mm)
ES (mm)
UC
C. Rate Filtrasi (l/det-m
2
)


610 760
0,35 0,70
<1,7

610 760
0,70 0,75
<1,75
1,36 3,40


685
0,6
<1,7

685
0,75
<1,75
2,72
II. Dual Media
A. Anthrasit:
Kedalaman (mm)
ES (mm)
UC
B. Pasir
Kedalaman (mm)
ES (mm)
UC
C. Rate Filtrasi (l/det m
2
)


460 610
0,9 1,1
1,6 1,8

150 205
0,45 0,55
1,5 1,7
2,04 5,44


610
1,0
1,7

150
0,5
1,6
3,4
III. Multi Media
A. Anthrasit:
Kedalaman (mm)
ES (mm)
UC
B. Pasir
Kedalaman (mm)
ES (mm)
UC
C. Garnet
Kedalaman (mm)
ES (mm)
UC
D. Rate Filtrasi (l/det m
2
)


420 530
0,95 1,0
1,55 1,75

150 230
0,45 0,55
1,5 1,65

75 115
0,20 0,35
1,6 2,0
2,72 6,80


460
1,0
<1,75

230
0,50
1,60

75
0,20
<1,6
4,08
Sumber: Reynolds dan Richards (1996)


9
Contoh Soal 7.1:
Telah dilakukan analisis ayakan terhadap media pasir dengan hasil sebagaimana digambarkan
pada gambar di bawah. Distribusi ukuran pada grafik tersebut menunjukkan nilai ES = 0,29 mm
dan UC = 2,41. Bila pasir tersebut akan digunakan sebagai media filter, lakukan analisis terhadap
pasir tersebut untuk menentukan bagian pasir yang dapat digunakan. Spesifikasi media filter yang
diharapkan adalah ES = 0,05 cm dan UC = 1,5.


Penyelesaian:
Berdasarkan gambar di atas, d
10
adalah 0,29 mm dan d
60
adalah 0,70 mm.
ES = 0,29 mm = 0,029 cm
UC = 0,70/0,29 = 2,41
Berdasarkan spesifikasi yang diharapkan, pasir tersebut tidak memenuhi syarat sebagai media
filter. Oleh karena itu harus dilakukan pemilihan ukuran agar memenuhi spesifikasinya. ES yang
diharapkan adalah 0,05 cm dan UC adalah 1,5.
10
Spesifikasi yang diharapkan:
ES = d
10
= 0,05 cm
UC = 1,5 d
60
= UC * ES = 1,5 * (0,05 cm) = 0,075 cm
Buatlah garis baru yang menghubungkan (d
10
, P
10
) dan (d
60
, P
60
) sesuai spesifikasi yang diharapkan.
Tentukan P
st60
dan P
st10
. Diperoleh P
st60
= 63% dan P
st10
= 31%.


Persentase stok pasir yang dapat digunakan:
P
use
= 2 (P
st60
P
st10
) = 2 (63 31) = 64 %
11
Persentase pasir yang terlalu kecil:
P
f
= P
st10
0,1 P
use
= P
st10
0,2 (P
st60
P
st10
) = 31 - 0,2 (63 - 31) = 24,6%
Prosentase ukuran pasir yang terlalu besar:
P
c
= 100 P
f
- P
use
= 100 24,6 - 64 = 11,4%
Dengan demikian, 24,6% dari ukuran pasir terkecil, yaitu pasir dengan ukuran lebih kecil dari
0,045 cm harus dihilangkan. Untuk ukuran yang terlalu besar, 11,4% ukuran pasir terbesar yang
harus dibuang atau ukuran pasir di atas 0,105 cm. Jadi pasir stok yang dapat digunakan adalah
pasir yang berukuran 0,045 sampai 0,105 cm.


7.4. Dimensi Bak Filter
Luas permukaan bak filter tergantung pada jumlah bak, debit pengolahan, dan kecepatan
(rate) filtrasi. Jumlah bak ditentukan berdasarkan debit pengolahan dengan rumus pendekatan:
N = 1,2 Q
0,5
, dengan Q adalah debit pengolahan (mgd). Jumlah bak juga dapat ditentukan dengan
batasan luas permukaan maksimum 100 m
2
per bak. Jumlah bak minimum adalah dua.
Luas permukaan bak dihitung dengan rumus:
o
s
V
Q
A = (7.4)
dengan V
o
adalah kecepatan filtrasi. Berdasarakan luas permukaan bak, ukuran bak (panjang dan
lebar, atau diameter) dapat ditentukan. Ratio lebar terhadap panjang berkisar 1 : 1 hingga 1 : 2.
Tinggi bak filter ditentukan dari tinggi total bahan yang terdapat di bak, meliputi
underdrain, media penyangga, media filter dan air di atas media ditambah dengan tinggi jagaan
(free board). Timggi air di atas media direncanakan sekitar 90 sampai 120 cm.

7.5. Hidrolika Filtrasi
Pada prinsipnya aliran pada media berbutir (filter pasir) dianggap sebagai aliran dalam
pipa berjumlah banyak. Kehilangan tekanan dalam pipa akibat gesekan aliran mengikuti
persamaan Darcy Weisbach berikut:
g D
LV
f h
c
L
2
2
= (7.5)
dengan:
h
L
= kehilangan tekanan akibat gesekan, m
f = koefisien kekasaran
L = panjang pipa, m
V = kecepatan aliran, m/detik
D
c
= diameter pipa, m
12
Bila persamaan Darcy Weisbach diterapkan pada aliran di media berbutir, maka perlu
ada penyesuaian. Ketebalan atau tinggi media sama dengan panjang pipa dan diameter pori di
antara butiran pasir dianggap identik dengan diameter pipa. Pada pipa, luas penampang saluran
adalah x x D
c
2
. Jarijari hidrolis (r) pada pipa adalah luas penampang dibagi dengan keliling
basah:

4 4
2
c
c
c
D
D
D
r = =

(7.6)
Jari-jari hidrolis pada media berbutir dapat ditentukan dengan volume rongga dibagi dengan luas
permukaan butiran (A
p
):

p
v
A
V
r =

(7.7)
Volume rongga bergantung pada besarnya porositas media. Porositas media dapat dinyatakan
sebagai berikut:
p v
v
V V
V
+
=
+
=
media butiran Volume media rongga Volume
media rongga Volume

(7.8)
Persamaan (7.8) ditulis kembali sebagai berikut:
p v
V V .

1
(7.9)
Dengan substitusi, persamaan (7.7) menjadi:
p
p
A
V
r

1
(7.10a)
Bila Vp/Ap = (1/3. .d
3
)/ (3. .d
2
) = d/6, maka:
6 1
d
r

(7.10b)
Substitusi persamaan (7.6) dan persamaan (7.10b) diperoleh:

1 3
2
d D
c
(7.11)
Kecepatan aliran pada pipa (V) identik dengan pendekatan laju aliran (flow rate, V
a
=
debit/luas permukaan bak) dibagi dengan porositasnya, maka:

Va
V = (7.12)
Untuk jenis media yang tidak bulat digunakan faktor bentuk (kebulatan) , sehingga perlu
dikoreksi:
13
6
d
A
V
p
p
= (7.13)
Dari rumus Darcy Weisbach untuk f = f, diperoleh persamaan Carman Kozeny:
g
V
d
L
f h
a
L
2
3
1

' (7.14)
Nilai f merupakan fungsi N
Re
:
75 1
1
150 , '
Re
+


=
N
f

(7.15)
Bilangan Reynold, N
Re
merupakan fungsi diameter dan kecepatan aliran yang diturunkan
dengan rumus:

a a
V d V d
N
. . . . .
Re

=

= (7.16)
dimana: = berat jenis
= viskositas dinamis
= viskositas kinematis
Selain persamaan Carman Kozeny di atas, terdapat persamaan empiris untuk menghitung
kehilangan tekanan saat filter bersih, yaitu Persamaan Rose sebagai berikut:
g d
V L C
h
a D
L
4
2
067 1
. .
. .
, = (7.17)
C
D
adalah koefisien drag yang besarnya tergantung bilangan Reynolds (Persamaan 7.16). Nilai C
D

dihitung sebagai berikut:
untuk N
Re
< 1: C
D =
Re
N
24
(7.18a)
Untuk

1< N
Re
< 10
4
: C
D
=
34 0
3 24
,
Re
Re
+ +
N
N
(7.18b)
Untuk N
Re
> 10
4
: C
D
= 0,4 (7.18c)
Persamaan (7.14) dan persamaan (7.17) digunakan untuk menghitung kehilangan tekanan
akibat aliran pada media berbutir yang seragam. Untuk media terstratifikasi dengan porositas
tidak sama, maka setiap lapisan media dihitung tersendiri sebagai media seragam. Demikian juga
untuk jumlah media lebih dari satu macam media. Untuk media tidak seragam tetapi porositas
seragam, maka persamaan tersebut berubah menjadi:
Persamaan Carman Kozeny:


=
d
x f
g
V L
h
a
L
'
2
3
1

(7.19)
14
Persamaan Rose:

=
d
x C
g
V L
h
D a
L
4
2
067 1
.
.
, (7.20)
dengan x adalah fraksi berat butiran media dengan ukuran d
i
dan L adalah tebal media total.
Besarnya kehilangan tekanan pada media filter dapat ditentukan dengan menggunakan
percobaan piezometrik dalam skala laboratorium seperti terlihat pada Gambar 7.6. Gambar 7.6(a)
memperlihatkan rangkaian alat yang digunakan untuk mengukur tinggi tekanan air (head) pada
piezometer selama percobaan filtrasi berlangsung. Makin ke bawah lokasi titik sampling, maka
head makin menurun (karena kehilangan tekanan atau headloss bertambah). Selama proses filtrasi
berlangsung, head di setiap piezometer dicatat seperti digambarkan pada Gambar 7.6(b). Dengan
bertambahnya waktu filtrasi, head makin menurun (karena terjadi clogging yang menyebabkan
headloss meningkat), bahkan bisa mencapai head negatif, artinya tinggi muka air di piezometer
berada di bawah dasar media filter.

(a) (b)
Gambar 7.6 Kehilangan tekanan pada filter, (a) percobaan piezemetrik (b) profil kehilangan
tekanan selama proses filtrasi.
Headloss pada proses filtrasi akan selalu meningkat sejalan dengan waktu operasi filtrasi.
Naiknya headloss ini dapat digunakan untuk menentukan filter run atau siklus filtrasi, yaitu
periode waktu operasi filtrasi di antara dua pencucian media. Filter run ditentukan dengan
melakukan pencatatan kekeruhan pada efluen filter dan headloss yang terjadi selama filter
beroperasi. Gambar 7.7 memperlihatkan hubungan antara headloss dan kekeruhan dengan waktu.
Dengan mengacu pada besarnya kekeruhan maksimum pada efluen, waktu backwash dapat
ditentukan. Waktu backwash juga dapat ditentukan dengan memberi batasan pada nilai headloss
maksimum.

Contoh
Sebuah
- Teb
- Spec
- Diam
- Fakt
- Poro
- Rate
- Tem
Hitungla
a. deng
b. deng
Penyele
1. Perh
Per
Gambar 7.7
Soal 7.2:
bak filter sin
al media pasi
cific gravity p
meter pasir ra
tor bentuk pa
ositas media
e filtrasi, V
a
=
mperatur air =
ah headloss y
gan persamaa
gan persamaa

esaian:
hitungan head
rsamaan Carm
f h
L
=

'
150 '= f
Hubungan an
gle media de
ir, L = 60 cm
pasir, S
g
= 2,6
ata-rata, d =
asir, = 0,82
pasir, = 0,4
= 10 m/jam
= 28
o
C
ang terjadi a
an Carman-Ko
an Rose
dloss menggu
man-Kozeny:
g
V
d
L
3
1

7 1
1
0 ,
Re
+


N

ntara headlos
engan data se

65
0,45 mm
2
42
akibat aliran m
ozeny
unakan persam
g
V
a
2

75
s dan kekeru


ebagai berikut
melewati med
maan Carman
N
Re
= ( d
han dengan w
t:
dia pasir ters
n-Kozeny
d V
a
) /
waktu operasi
sebut:

i filter
16
Pada T = 28
o
C, diperoleh = 0,8363. 10
-2
gram/cm-detik dan = 0,9963 gram/cm
3

N
Re
= (0,82 x 0,9963 x 0,045 x 1000 / 3600) / 0,008363 = 1,220
f' = 150 x [(1- 0,42) / 1,140] +1,75 = 72,997
cm 09 73
981
) (1000/3600
0,42
0,42 1
0,045 x 0,82
60
,997x 72
2
3
, =


=
L
h

2. Perhitungan headloss menggunakan persamaan Rose
C
D
=
71 22 34 0
220 1
3
220 1
24
, ,
,
,
= + +

cm 59 99
0,045
1
0,42
) (1000/3600
* 60 *
981
22,71
*
0,82
1,067
h
4
2
L
, = =



Contoh soal 7.3:
Sebuah bak filter single media tidak seragam terstratifikasi dengan data sebagai berikut:
- Tebal media pasir total, L = 60 cm
- Specific gravity pasir, S
g
= 2,65
- Faktor bentuk pasir, = 0,82
- Porositas media pasir, = 0,42
- Rate filtrasi, V
a
= 10 m/jam
- Temperatur air = 28
o
C
- Diameter pasir terdistribusi sebagai berikut:







Hitunglah headloss yang terjadi akibat melewati media pasir tersebut
Penyelesaian:
Langkah penyelesaiannya adalah:
1. Hitung N
Re
untuk masing-masing diameter
2. Hitung C
D
untuk masing-masing diameter (perhatikan nilai N
Re
karena rumus C
D
tergantung
pada nilai N
Re
)
3. Hitung C
D
x / d untuk masing-masing diameter
Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut:
Diameter (mm % Berat
0,61
0,55
0,40
0,27
0,18
8
19
45
21
7
17








Jadi:
cm 83 123 627,48 *
0,42
) (1000/3600
*
981
60
*
0,82
1,067
4
2
, = =
L
h


diameter (mm) % berat N
Re
C
D
C
D
x/d
0,61 8 1,655 17,171 22,519
0,55 19 1,492 18,877 65,210
0,4 45 1,085 25,331 284,970
0,27 21 0,733 32,757 254,779
0,18 7 1,655 17,171 22,519


627,48/cm =
d
x C
D

7.6. Hidrolika Pencucian (Backwashing)
Filter pasir cepat, setelah digunakan dalam kurun waktu tertentu akan mengalami
penyumbatan akibat tertahannya partikel halus dan koloid oleh media filter. Tersumbatnya media
filter ditandai oleh:
1. Penurunan kapasitas produksi (untuk filter constant head)
2. Peningkatan kehilangan energi (head loss) yang diikuti oleh kenaikan muka air di atas
media filter (untuk filter constant rate)
3. Penurunan kualitas air produksi
Jika keadaan ini tercapai, seperti ditunjukkan oleh adanya head yang negatif pada
Gambar 7.6b, maka filter harus dicuci. Teknik pencucian filter cepat dapat dilakukan dengan
menggunakan aliran balik (backwashing), dengan kecepatan tertentu agar media filter
terfluidisasi dan terjadi tumbukan antar media. Tumbukan antar media menyebabkan lepasnya
kotoran yang menempel pada media, selanjutnya kotoran yang telah terkelupas akan terbawa
bersama dengan aliran air. Untuk meningkatkan kinerja backwashing, sering didahului dengan
pencucian di permukaan (surface washing) dan/atau memberikan tekanan udara dari bawah
dengan blower (air washing).
Tujuan pencucian filter adalah melepaskan kotoran yang menempel pada media filter
dengan aliran ke atas (upflow) hingga media terekspansi. Umumnya tinggi ekspansi sebesar 15
sampai 35% (Droste, 1997). Lama pencucian sekitar 3 hingga 15 menit. Ada beberapa sistem
pencucian filter, yaitu:
Menggunakan menara air
Interfilter
Pompa backwash
Untuk menghitung head pompa pencucian atau tinggi menara, maka harus dihitung
headloss melalui media, dasar filter (under drain), dan sistem perpipaan pada saat awal
backwash. Saat awal backwash, tekanan air backwash harus mampu memecahkan media yang
18
kemungkinan memadat akibat adanya kotoran yang melekat pada permukaan media. Tekanan air
backwash juga harus mampu mengangkat pasir hingga ketinggian tertentu (terfluidasi).
Pada saat terfluidasi, massa butiran pasir tidak berubah. Massa butiran pasir saat operasi
filtrasi sama dengan massa pasir saat terfluidasi. Hal ini dapat ditulis dengan persamaan berikut:
P e e p
A L A L ) .( . ) .( . = 1 1
(7.21)
L dan L
e
masing-masing adalah tinggi media mula-mula saat filtrasi dan tinggi media terekspansi.
dan
e
adalah porositas saat filtrasi dan saat terekspansi. A merupakan luas permukaan bak filter
dan
P
adalah massa jenis butiran media.
Tinggi media terekspansi pada saat backwash dapat dituliskan:
) (
) (
e
e
L L

=
1
1
(7.22)
Porositas media terekspansi (
e
) bergantung pada kecepatan backwash dan kecepatan
pengendapan partikel:
22 0,
) (
s
B
e
V
V
=
(7.23)
dimana: V
B
= kecepatan backwash
V
s
= kecepatan pengendapan partikel
Besarnya kecepatan backwash minimum ditentukan dengan persamaan (7.23) dengan
ketentuan V
s
adalah kecepatan pengendapan partikel terbesar:
V
b
= V
s

4,5
(7.24)
Kombinasi persamaan (7.22) dan (7.23) diperoleh persamaan:
] ) / ( [
) (
.22 0
1
1
Vs V
L L
B
e


=

(7.25)


19
Contoh Soal 7.4:
Filter pasir cepat memiliki kedalaman media pasir 0,60 m. Spesific gravity = 2,65; faktor bentuk
() = 0,82; porositas () = 0,42; laju filtrasi = 1,75 lt/detik-m
2
; suhu operasi = 28C.
Data analisis ayakan adalah sebagai berikut:
Tentukan:
a. Kecepatan backwash yang diperlukan untuk ekspansi media
b. Debit aliran air yang diperlukan untuk ekspansi media
c. Kehilangan tekanan pada saat awal backwash
d. Tinggi ekspansi media pasir (L
E
)

Penyelesaian:
Kecepatan aliran backwash untuk mengekspansi media ditentukan dengan mengacu pada
kecepatan pengendapan partikel terbesar. Kecepatan mengendap, Vs dapat dihitung dengan
rumus berikut:
( )
2 1
1
3
4
/

= d S
C
g
Vs
s
D

Koesifien drag, pada rentang transisi digunakan rumus:
34 0
3 24
,
Re Re
+ + =
N N
C
D
dengan

s
dV
N =
Re

Ukuran ayakan Berat tertahan (%) d (m)
14 20
20 28
28 32
32 35
35 42
42 48
48 60
60 65
65 100
1
8,2
27
30
20,5
7,1
3,2
2,1
0,9
0,0010006
0,0007111
0,0005422
0,0004572
0,0003834
0,0003225
0,0002707
0,0002274
0,0001777
20


Untuk ayakan dengan ukuran pertama, d = 0,0010006 m atau 0,1 cm, dari Gambar di atas
(hubungan antara ukuran partikel dan kecepatan pengendapan), pada spesifik gravity 2,65
diperoleh kecepatan pengendapan sekitar 15 cm/detik (angka ini hanya untuk pendekatan).
Pada T = 28
o
C, diperoleh = 0,8363. 10
-2
gram/cm-detik dan = 0,9963 gram/cm
3
.
Nilai N
Re
adalah:
62 146
10 8363 0
15 1 0 9963 0 82 0
2
,
,
, , ,
Re
= =

x
x x x
N
Transisi

751 0 34 0
62 146
3
62 146
24
, ,
,
,
= + + =
D
C

det
m
170 0 m 0010006 0
751 0
1 65 2
det
m 81 9
3
4
2 1
2
, ,
,
, ,
/
=


= x x X V
s

Kecepatan pengendapan

yang diperoleh ini harus dicek lagi, masukkan nilai ini ke dalam
rumus NRe, CD, dan diperoleh Vs yang baru. Cara ini disebut iterasi (untuk lebih cepat
gunakan Excel). Hasil akhir yang diperoleh adalah:

N
Re
= 170,08; C
D
= 0,711; V
s
= 0,711

21
a. Kecepatan backwash minimum: V
b
=V
s

4,5
= (0,174 m/det)(0,42)
4,5
= 0,00351 m/det.
b. Debit backwash = (0,00351 m/det)(1000 l/m
3
) = 3,51 l/det-m
2
.
c. Kehilangan tekanan pada saat awal backwash:

( )( ) L h
s
L


= 1
( )( )( ) L S
s
= 1 1
( )( )( ) m m 574 0 60 0 42 0 1 1 65 2 , , , , = =
d. Ketinggian ekspansi dihitung dengan menentukan porositas saat ekspansi sebagai berikut:

424 0
167 0
00351 0
22 0
22 0
,
,
,
,
,
=

=
s
e
V
V
b


Catatan: Untuk menghitung
e
, digunakan V
b
yang sama untuk semua ukuran, yaitu
0,00351 m/det dan V
s
masing-masing ukuran pasir.
Untuk ukuran pasir yang lain dihitung dengan cara yang sama, diperoleh hasil sebagai berikut:


Maka tinggi ekspansi total adalah:

( ) ( )( )( ) m 710 0 040 2 m 60 0 424 0 1
1
1 , , , , = =

=
e
e
x
L L


Ratio ekspansi adalah 71 cm / 60 cm = 1,18 (terjadi ekspansi sebesar 18%). Bila dikehendaki
ekspansi yang lebih besar, maka kecepatan backwash dapat ditambah sampai sebesar 10% dari
kecepatan pengendapan partikel terbesar (ratio V
b
/Vs

= 0,1).

Sieve Size
Berat
partikel (%)
d (m) N
Re
C
D
V
s
(m/det)
e

e
x
1

14 20
20 28
28 32
32 35
35 42
42 48
48 60
60 65
65 100
0,87
8,63
26,30
30,10
20,64
7,09
3,19
2,16
1,02
0,0010006
0,0007111
0,0005422
0,0004572
0,0003834
0,0003225
0,0002707
0,0002274
0,0001777
170,08
89,61
51,91
36,18
24,34
16,38
10,84
6,89
3,82
0,711
0,925
1,219
1,502
1,934
2,546
3,465
4,968
8,159
0,174
0,129
0,098
0,081
0,065
0,052
0,041
0,031
0,022
0,424
0,453
0,481
0,501
0,526
0,552
0,582
0,618
0,670
0,015
0,158
0,507
0,604
0,435
0,158
0,076
0,056
0,031
040 2
1
, =

e
x



22
7.7. Sistem Underdrain
Sistem underdrain adalah sistem pengaliran air di bawah media filter setelah air
melewati proses penyaringan. Persyaratan sistem underdrain adalah:
a. dapat mendukung media di atasnya
b. distribusi merata pada saat pencucian
Kriteria untuk sistem underdrain adalah sebagai berikut:
i. Dasar filter dapat terdiri dari sistem perpipaan yang tersusun dari lateral dan manifold,
dimana air diterima melalui lubang orifice yang diletakkan pada pipa lateral.
ii. Kecepatan pencucian 36 m/jam (600 l/m
2
.menit), dengan tinggi ekspansi sebesar 15 cm
sehingga headloss = 25 cm.
iii. Manifold dan lateral ditujukan agar distribusi merata, headloss 1 3 m dengan kriteria sistem
manifold lateral:
a. Perbandingan luas orifice/filter = 0,0015 0,005
b. Perbandingan luas lateral/ orifice = 2 4
c. Perbandingan luas manifold/lateral = 1,5 3
d. Diameter orifice = 0,6 2 cm.
e. Jarak antara orifice = 7,5 30 cm
f. Jarak antara lateral = orifice.
Gambar 7.8 sampai 7.11 di bawah ini adalah bentuk sistem underdrain dengan model
orifife-lateral-manifold dan bentuk sistem underdrain lainnya.


Gambar 7.8 Sistem underdrain dengan model manifold pipe
Manifold
23

Gambar 7.9 Sistem underdrain dengan model perforated plate


Gambar 7.10 Sistem underdrain dengan model nozzle dan strainer

Gambar 7.11 Sistem underdrain dengan model block filter


24
7.8. Soal-soal
1. Sebuah filter dual media terdiri atas pasir dan antrasit dengan spesifikasi sebagai berikut:
Parameter Media Pasir: Media Antrasit
Ketebalan
Diameter partikel
Specific gravity
Faktor bentuk
Porositas
60 cm
0,045 cm
2,65
0,82
0,45
40 cm
0,1 cm
1,20
0,75
0,55
Bila total headloss yang terjadi pada kedua media adalah 55 cm (h
L pasir
+ h
L antrasit
= 55 cm),
hitunglah rate filtrasinya pada temperatur 28
o
C.
2. Gambar berikut adalah potongan memanjang filter dengan dua macam pasir:
Data media filter:
Media Ketebalan Ukuran partikel Porositas Faktor bentuk
Pasir I 40 cm 0,45 mm 42 % 0,75
Pasir II 35 cm 0,50 mm 45 % 0,75
Headloss total di media penyangga dan underdrain= 15 cm
Tentukan ukuran bak filter (panjang, lebar)!
3. Berikut adalah data pengamatan filtrasi selama 24 jam:
Waktu (jam) 1 2 4 6 8 12 16 20 24
Kekeruhan efluen
(NTU)
0,5 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,5 2,0 4,0
Porositas (%) 0,48 0,48 0,45 0,42 0,40 0,38 0,34 0,30 0,28
Pertanyaan:
a. Bila kekeruhan efluen maksimum adalah 1 NTU, tentukan filter run
b. Pada headloss berapakah filter harus di-backwash?
(Data media: L= 60 cm, d= 0,045 cm, Sg= 2,65, = 0,82, rate filtrasi= 10 m/jam, T= 27
o
C)

40 cm
25
4. Media filter dengan ketebalan bed 60 cm di-backwash dengan rate 1,1 cm/detik. Porositas
media 0,4. Hitunglah tinggi media terekspansi dan headlossnya jika ukuran butiran media
adalah sebagai berikut:
Diameter rata-rata (cm) % berat pasir
0,112
0,077
0,050
0,035
0,021
2,25
10,00
30,50
30,25
7,00

5. Filter cepat beroperasi pada kecepatan 8 m/jam. Jenis filter adalah single media pasir
dengan spesifikasi sebagai berikut:
Densitas media
s
= 2.650 kg/m
3

Faktor bentuk = 0,82
Porositas = 0,4
Tebal media L = 60 cm
Distribusi media:
Diameter (mm) Fraksi berat %
0,3
0,6
0,8
1,0
1,2
10
16
24
30
20

a. Proses filtrasi:
Berapa nilai P
10
, P
60
, P
90

Berapa nilai ES , UC
Berapa headloss filtrasi
Gambarkan kurva headloss filtrasi pada setiap lapis media
b. Proses backwash:
Berapa kecepatan mengendap pasir terbesar (mm/dt)
Berapa nilai porositas ekspansi (
e
) di setiap ukuran media pasir
Berapa tinggi expansi media pasir (cm)
Berapa headloss akibat backwash
Bagaimana menentukan tinggi menara backwash, gambarkan bagian tekanan
headlossnya

26

7.9. Bahan Bacaan:
1. Droste, R.L., Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment, John Wiley &
Sons, Inc., 1997
2. Fair, G.M., J.C. Geyer, dan D.A. Okun, Water and Wastewater Engineering, Volume 2:
Water Purification and Wastewater Treatment and Disposal, John Wiley and Sons Inc.
New York, 1981
3. Huisman, L., Rapid Sand Filtration, Lecture Notes, IHE Delft Netherlands, 1994
4. Huisman, L., Slow Sand Filtration, Lecture Notes, IHE Delft Netherlands, 1994
5. Kawamura, S., Integrated Design of Water Treatmrnt Fcilities, John Wiley & Sons,
Inc., 1991
6. Qasim, S.R., Motley, E.M., dan Zhu, G., Water Work Engineering: Planning, Design &
Operation, Prentice Hall PTR, Texas, 2000
7. Rich, L.G., Unit Operations of Sanitary Engineering, John Wiley & Sons, Inc., 1974
8. Reynolds T.D. dan P.A. Richards, Unit Operations and Processes in Environmental
Engineering, PWS Publishing Company,20 Park Plaza, MA 12116, 1996