Anda di halaman 1dari 9

BLOK PREVENTIVE DENTISTRY LAPORAN INDIVIDUAL PROBLEM BASED LEARNING 2

Tutor: Drg.Bambang Tri H.

Disusun oleh: Yulinda Riski Cahyaningtyas G1G011050

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN GIGI PURWOKERTO 2014

I.

Klasifikasi karies dan penatalaksanaan A. Klasifikasi karies Klasifikasi karies di bagi menjadi beberapa klasifikasi, yaitu: 1. Berdasarkan kedalamannya, di bagi menjadi tiga, yaitu: a. Karies superfisialis Keadaan kariesnya baru mengenai enamelnya saja. b. Karies media Keadaan kariesnya sudah mengenai dentin, tetapi belum melebihi dari setengah dentin. c. Karies profunda Keadaan kariesnya sudah mengenai bagian pulpanya (Sihotang, 2010). 2. Berdasarkan keparahan a. Karies ringan Kasus terjadinya karies yang mengenai bagian gigi yang paling rentan terkena karies, yaitu pada bagian pit dan fissure dengan kedalaman kariesnya baru mengenai email. b. Karies sedang Kasus terjadinya karies dikatakan sedang jika kariesnya sudah meliputi bagian oklusal dan aproksimal gigi posterior. Kedalaman kariesnya sudah mnegenai dentin. c. Karies berat Serangan kariesnya sudah meliputi gigi anterior, yang biasanya terhindar dari karies. Kedalam kariesnya sudah mengenai pulpa (Sihotang, 2010). 3. Berdasarkan periode waktu a. Karies primer b. Karies sekunder : keadaan karies yang pertama kali terjadi. : kedaan karies yang terjadi pada resrorasi

karies primer (Sihotang, 2010).

4. Klasifikasi karies menurut G.V Black a. Kelas I Karies gigi yang sudah mengenai permukaan oklusal, terjadi pada bagian pit dan fissure pada semua gigi, dan yang lebih sering terjadi pada gigi posterior. b. Kelas II Karies gigi yang sudah mengenai permukaan aproksimal gigi posterior dan dapat mengenai permukaan mesial dan distal. c. Kelas III Karies yang sudah mengenai bagian aproksimal gigi anterior. Kariesnya dapat terjadi pada permukaan mesial atau distal dari insisivus atau kaninus. d. Kelas IV Karies yang sudah mengenai bagian aproksimal dan sudah meluas ke bagian inisisal gigi anterior. e. Kelas V Keadaan karies yang sudah mengenai servikal gigi anterior dan posterior. f. Kelas VI Karies yang terjadi pada ujung tonjol gigi posterior dan edge insisal gigi insisivus. Sebenarnya tipe ini bukan diidentifikasikan oleh Dr. Black, tetapi karena di daerah-daerah geografis tertentu sehingga di tambahkan dan menjadi klasifikasinya(Bakar, 2012). 5. Klasifikasi G.J Mount a. Berdasarkan likasi atau areanya (Site) 1.) Site 1 : kariesnya terletak pada bagian pit dan fisure. 2.) Site 2 : kariesnya terdapat di area kontak gigi (proksimal) 3.) Site 3 : kariesnya terdapat di servikal. b. Berdasarkan ukuran (Size) 1.) Size 0 : keadaan karies yang paling awal.

2.) Size 1 : kavitas minimal, yang di mana kariesnya sudah mengenai dentin sedikit. 3.) Size 2 : kavitas sedang, dimana masih terdapat struktur gigi yang cukup untuk dapat menyangga restorasi yang akan ditempatkan dan dapat menahan beban kunyah. 4.) Size 3 : kavitas yang ukurannya lebih besar, sehingga keadaan gigi tidak dapat menahan beban kunyah. 5.) Size 4 : keadaan gigi yang sudah terjadi kehilangan sebagian besar struktur gigi, seperi cisp atau sidut insisal gigi(Mount, 1998). B. Penatalaksanaan karies 1. Pencegahannya a. Hilangkan substrat karbohidrat dengan cara mengurangi frekuensi konsumsi gula dan membatasinya saat makan. b. Meningkatnkan ketahanan gigi. c. Hilangkan plak pada gigi. 2. Tindakannya Gigi yang sudah terkena karies dan lubang tidak dapat disembuhkan dengan sendirinya sehingga peril dilakukan tindakan, yaitu penambalan. Proses awal sebelum dilakukan penambalan yaitu pembersihan gigi yang karies dengan membuang jaringan gigi yang rusak dan jaringan gigi yang sehat di sekelilingnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya agar tidak timbul karies lagi(Sihotang, 2010).

II. Klasifikasi pulpa dan penatalaksanaan A. Pulpitis reversibel Pulpitis reversibel merupakan kondisi inflamasi pulpa ringan hingga sedang, yang dikarenakan adanya rangsangan. Kondisi pulpa masih dapat kembali jika rangsangan di hilangkan. Pulpitis ini dapat di sebabkan oleh trauma oklusi, termal misal karena terkena preparasi dari bur, bakteri, dan

kimiawi. Gejalanya itu rasa sakit yang tajam dan rasa sakitnya itu hanya sebentar(Bakar, 2012). Perawatan untuk pulpitis reversibel yaitu dapat dilakukan pulp capping , dan jika di keadaan karies media dapat langsung di tumpat(Grossman, 1995). B. Pulpitis irreversible Pulpitis irreversible merupakan kondisi inflamasi pulpa yang persisten, dapat simtomatis ataupun asimtomatis. Gejalanya rasa sakitnya sepontan, dan dapat lama, walaupun rangsangan di hilangkan tetap terasa sakit, penyebab utamanya adalah kuman. Pemeriksaan histopatologis ditemukan adanya inflamasi kronis dan akut pada pulpa,leukosit polomorfonuklear, eksudat dan limfosit(Bakar, 2012). Perawatan untuk pulpitis irreversible adalah pulpektomi yaitu pengambilan pulpa seluruhny(Grossman, 1995). C. Pulpitis kronis hiperplastik atau pulpa polip Pulpa polip merupakan keradangan pulpa yang sudah kronis pada pulpa terbuka dan terjadi adanya penonjolan jaringan granulasi. Jaringan granulasi tersebut berasal dari pulpa. Penyebabnya yaitu karena adanya rangsangan terus menerus, karies besar dan adanya perforasi. Gejalanya tidak ada keluhan sakit kecuali jika saat makan, dan mudah berdarah jika tersentuh (Grossman, 1995). Perawatannya yaitu dilakukan pulpotomi dan pulektomi(Walton, 2008). D. Nekrosis pulpa Nekrosisi pulpa merupakan kematian dari jaringan pulpa seluruhnya atau sebagian yang disebabkan adanya inflamasi atau traumatic unjuri yang dapat mengakibatkan kematian pulpa(Walton, 2008). Perawatan atau terapi untuk nekrosis pulpa yaitu dilakukan

endointrakanal, pulpektomi(Walton, 2008).

III. Pemeriksaan subyektif Pemeriksaan subjektif adalah suatu informasi tentang riwayat penyakit, yang meliputi gejala-gejala yang dirasakan pasien dan dilaporkan kepada dokter. Dasar dari pemeriksaan subjektif yaitu anamnesa kepada pasien, yang berisi tentang keluhan pasien, riwayat penyakit yang sekarang,riwayat penyakit dahulu, past dental history, family history, dan social history(Grossman, 1995).

IV. Pemeriksaan objektif Menurut Grossman(1995), pemeriksaan objektif merupakan pemeriksaan yang dilakukan dokter kepada pasien melalui berbagai uji tes. Pemeriksaan objektif terdiri dari: A. Pemeriksaan visual Pemeriksaan ini di bagi menjadi dua yaitu: 1. Ekstra oral Pemeriksaan ekstra oral yaitu seperti melihat kesimetrisan pada wajah pasien, kondisi pasien saat dating. 2. Intra oral Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan pada gigi apakah ada karies, adakah perubahan warna, atau gigi goyah dan pemeriksaan jaringan lunak di sekitarnya. B. Perkusi Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengevaluasi status periodonsium pada sekitar gigi. Caranya itu gigi di beri pukulan menggunakan tangkai instrument di bagian insisal atau oklusal gigi dan jika perkusi positif itu tandanya terdapat inflamasi periodonsium. C. Palpasi Pemeriksaan dengan cara palpasi bertujuan untuk mengetahui rangsangan pada jaringan lunak. Bagian intra oral dilakukan dengan cara diraba dengan ujung jari untuk mengetahui kondisi jaringan lunak pada gigi. Bagian ekstra oral dilakukan dengan memeriksa limfonodinya.

D. Tes mobilitas Pemeriksaan ini dilakukan yaitu untuk mengevaluasi tingkat mobilitas gigi dalam alveolus.caranya yaitu dengan menggerakkan gigi ke arah lateral menggunakan jari atau tangkai instrument. E. Tes vitalitas gigi Tes vitalitas terdiri dari: 1. Tes elektris Tes elektris ini yaitu mengetes pulpa dengan listrik dan lebih cermat daripada pemeriksaan tes yang digunakan untuk menentukkan vitalitas pulpa. Alatnya yaitu menggunakan Electronic Pulp Tester. 2. Tes termal Tes ini meliputi tes tes dingin dan tes panas. Cara tes dingin yaitu misal dengan bahan Chlor etyl, dan sebelum di lakukan tes dingin gigi di keringkan terlebig dahulu, lalu cotton pellet di basahi dengan Chlor etyl, di tunggu sampai terlihat seperti Kristal pada kapas, lalu di letakkan pada gigi bagian servikal gigi. Tes panas juga seperti tes dingin, bedanya hanya bahannya saja yaitu dapat menggunakan air pabas 3. Tes kavitas Tes ini dilakukan jika cara diagnosis lain telah gagal. Caranya itu dengan melubangi atap pulpa hingga timbul rasa sakit. Jika tidak merasakan rasa sakit dilanjutkan dengan tes jarum miller. 4. Tes jarum miler Tes miller juga dapat dilakukan jika tedapat peforasi akibat karies atau tes kavitas. Cara aplikasinya yaitu jarum miller dimasukkan ke dalam saluran akar hingga timbul rasa sakit, lalu dilakukan radiografik. F. Pemeriksaan radiografik Pemeriksaan ini bermanfaat sebagai alat bantu diagnosis, rencana peraatan dan evaluasi hasil perawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Bakar, A., 2012, Kedokteran Gigi Klinis, Quantum Sinergis Media, Yogyakarta. Grosman, L.I, Seymour, O., dan Carlos, E., D., R., 1995, Ilmu Endodontik dalam Praktek, Edisi kesebelas, Jakarta, EGC. Mount, G., J., dan Hume, W., R., 1998, A New Cavity Classification, Australian Dental Journal, Vol. 43, No. 3, hal. 153-9,

www.researchgate.net/...A_new_cavity_classificat, diakses pada hari Senin, 30 Desember 2013, pukul 21.00 WIB. Sihotang, F., 2010, KarakteristSinaga Pengukuran Kabupaten Samosir Tahun 2008, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20092/4/Chapter%20II.pdf, diakses pada tanggal 2 Januari 2014. Walton, R., dan Mamoud T., 2008, Prinsip dan Praktikum Ilmu EndodonsiaI, Edisi 3, EGC, Jakarta.