Anda di halaman 1dari 10

HUKUM RANGKAIN LISTRIK ARUS SEARAH

A.Pendahuluan
Arus listrik merupakan gerakan kelompok partikel bermuatan listrik dalam arah tertentu. Arah arus listrik yang mengalir dalam suatu konduktor adalah dari potensial tinggi ke potensial rendah (berlawanan arah dengan gerak elektron). Arus searah adalah arus listrik yang nilainya hanya positif atau hanya negatif saja (tidak berubah dari positif kenegatif, atau sebaliknya).

KUAT ARUS LISTRIK (I) adalah jumlah muatan listrik yang menembus penampang konduktor tiap satuan waktu. I = Q/t = n e v A Keterangan: Q = muatan listrik n = jumlah elektron/volume v = kecepatan elektron RAPAT ARUS (J) adalah kuat arus per satuan luas penampang. J = I/A = n e v Keterangan: e = muatan 1 eleltron = 1,6 x 10-19 A = luas penampang yang dilalui arus

Hambatan Jenis Dan Hambatan Listrik = E/J Keterangan: = hambatan jenis (ohm.m) E = medan listrik J = rapat arus R= hambatan (ohm) L = panjang konduktor (m) HUBUNGAN HAMBATAN JENIS DAN HAMBATAN DENGAN SUHU t = o(1 + t) Rt = Ro(1 + t) t, Rt = hambatan jenis dan hambatan pada tC o, Ro = hambatan jenis dan hambatan awal = konstanta bahan konduktor (C-1 ) t = selisih suhu (C ) R = L/A

B.Hukum Hukum Rangkaian Arus Listrik Searah 1.Hukum Ohm


Ohm diambil dari nama tokoh fisika George Simon Ohm. Dia merupakan ilmuan yang berhasil menentukan hubungan antara beda potensial dengan arus listrik. Selain tiu dia juga menemukan bahwa perbandingan antara beda potensial di suatu beban listrik dengan arus yang mengalir pada beban listrik tersebut menghasilkan angka yang konstan. Konstanta ini kemudian di kenal dengan Hambatan listrik (R). Untuk menghargai jasanya maka satuan Hambatan listrik adalah Ohm ().

Bunyi hukum Ohm hampir setiap buku berbeda beda, mungkin karena Mbah Ohm udah keduluan meninggal. Tetapi secara garis besar semuanya hampir sama, dari hasil semedi sambil membaca buku fisika penulis dapat merangkum ada 2 bunyi hukum Ohm yaitu : 1. Besarnya arus listrik yang mengalir sebanding dengan besarnya beda potensial (Tegangan). Untuk sementara tegangan dan beda potensial dianggap sama walau sebenarnya kedua secara konsep berbeda. Secara matematika di tuliskan I V atau V I, Untuk menghilangkan kesebandingan ini maka perlu ditambahkan sebuah konstanta yang kemudian di kenal dengan Hambatan (R) sehingga persamaannya menjadi V = I.R. Dimana V adalah tegangan (volt), I adalah kuat arus (A) dan R adalah hambatan (Ohm). 2. Perbandingan antara tegangan dengan kuat arus merupakan suatu bilangan konstan yang disebut hambatan listrik. Secara matematika di tuliskan V/I = R atau dituliskan V = I.R. Fungsi utama hukum Ohm adalah digunakan untuk mengetahui hubungan tegangan dan kuat arus serta dapat digunakan untuk menentukan suatu hambatan beban listrik tanpa menggunakan Ohmmeter. Kesimpulan akhir hukum Ohm adalah semakin besar sumber tegangan maka semakin besar arus yang dihasilkan. Kemudian konsep yang sering salah pada siswa adalah hambatan listrik dipengaruhi oleh besar tegangan dan arus listrik. Konsep ini salah, besar kecilnya hambatan listrik tidak dipengaruhi oleh besar tegangan dan arus listrik tetapi dipengaruhi oleh panjang penampang, luas penampang dan jenis bahan. Konsep Hambatan Listrik Misalkan kita punya sebatang kawat, maka didalam kawat itu sebenarnya punya jutaan elektron yang bergerak secara acak dengan kelajuan 10 pangkat 5 m/s (menurut Prof. Yohanes surya). Ketika kawat ini tidak kita hubungkan dengan sumber tegangan maka elektron akan bergerak disekitar tempat nya saja, dia tidak akan bisa jauh-jauh dari tempatnya semula. Kenapa kok begitu? Karena disekitarnya berdesak desakan dengan elektron lain dan juga ada pengaruh gaya ikat inti (menurut para ahli). Bagaimana jika kawat tersebut kita hubungkan dengan sumber tegangan maka elektron mulai mengalir (bukan bergerak ditempatnya lho) dengan kelajuan 1 mm/s. Kok bisa mengalir? konon katanya energi yang diperoleh dari sumber tegangan digunakan elektron untuk berpindah, dan saat berpindah elektron juga mengeluarkan energi (baca fisika zat padat). Dalam perjalanannya elektron juga mendapat halangan elektron elektron

yang lain. Besarnya halangan yang dialami elektron inilah yang disebut dengan hambatan listrik suatu benda. Seperti penjelasan awal tadi Hambatan dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu panjang, luas dan jenis bahan. Hambatan berbading lurus dengan panjang benda, semakin panjang maka semakin besar hambatan suatu benda. Hambatan juga berbading terbalik dengan luas penampang benda, semakin luas penampangnya maka semakin kecil hambatannya.. Inilah alasan mengapa kabel tiang listrik dibuat besar-besar, tujuannya adalah untuk memperkecil hambatan sehingga tegangan bisa mengalir dengan mudah. Hambatan juga berbanding lurus dengan jenis benda (hambatan jenis) semakin besar hambatan jenisnya maka semakin besar hambatan benda itu. Secara matematika dapat dituliskan : R = .L/A Dimana adalah hambatan jenis (ohm/m) L adalah panjang benda (m) A adalah luas penampang (m kuadrat) biasanya luas penampang bentuknya lingkaran. Hukum Ohm menyatakan bahwa besar arus yang mengalir pada suatu konduktor pada suhu tetap sebanding dengan beda potensial antara kedua ujung-ujung konduktor

I=V/R Hukum Ohm Untuk Rangkaian Tertutup

n = banyak elemen yang disusun seri E = ggl (volt) rd = hambatan dalam elemen R = hambatan luar p = banyaknya elemen yang disusun paralel Rangkaian Hambatan Disusun Seri Dan Paralel SERI R = R1 + R2 + R3 + ... V = V1 + V2 + V3 + ... I = I1 = I2 = I3 = ... PARALEL 1=1+1+1 R R1 R2 R3

V = V1 = V 2 = V3 = ... I = I1 + I2 + I3 + .. ENERGI DAN DAYA LISTRIK Energi Listrik (W) adalah energi yang dipakai (terserap) oleh hambatan R. W = V I t = Vt/R = IRt Joule = Watt.detik KWH = Kilo.Watt.jam DAYA LISTRIK (P) adalah energi listrik yang terpakai setiap detik. P = W/t = V I = V/R = IR

1.Hukum Kirchoff 1 Di pertengahan abad 19 Gustav Robert Kirchoff (1824 1887) menemukan cara untuk menentukan arus listrik pada rangkaian bercabang yang kemudian di kenal dengan Hukum Kirchoff. Hukum ini berbunyi Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan. Yang kemudian di kenal sebagai hukum Kirchoff I. Secara matematis dinyatakan : Imasuk = Ikeluar or Imasuk=Imasuk

Dalam alirannya, arus listrik juga mengalami cabang cabang. Ketika arus listrik melalui percabangan tersebut, arus listrik terbagi pada setiap percabangan dan besarnya tergantung ada tidaknya hambatan pada cabang tersebut. Bila hambatan pada cabang tersebut besar maka akibatnya arus listrik yang melalui cabang tersebut juga mengecil dan sebaliknya bila pada cabang, hambatannya kecil maka arus listrik yang melalui cabang tersebut arus listriknya besar.
2. HUKUM II KIRCHHOFF Pemakaian Hukum II Kirchhoff pada rangkaian tertutup yaitu karena ada rangkaian yang tidak dapat disederhanakan menggunakan kombinasi seri dan parallel. Umumnya ini terjadi jika dua atau lebih GGL di dalam rangkaian yang dihubungkan dengan cara rumit sehingga penyederhanaan rangkaian seperti ini memerlukan teknik khusus untuk dapat menjelaskan atau mengoperasikan rangkaian tersebut. Jadi Hukum II Kirchhoff merupakan solusi bagi rangkaian rangkaian tersebut yang berbunyi Di dalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar gaya gerak listrik (E) dan penurunan tegangan ( IR ) sama dengan nol. Dirumuskan : + IR = 0

Selanjutnya ada beberapa tahap yang diperkenalkan melalui kegiatan 3 ini, yaitu pertama rangkaian dengan satu loop ( loop adalah rangkaian tertutup ) serta selanjutnya rangkaian dengan dua loop atau lebih.

Misalnya untuk Rangkain loop tunggal

Rangkaian Loop Tunggal Arus yang sama akan mengalir pada setiap elemen yang ada pada loop (elemen dalam rangkaian seri). Akan diperlihatkan rangkaian yang terdiri dari sumber tegangan dan resistor.

Penyelasaian untuk I Arus yang sama I mengalir melalui sumber dan setiap bohlam-bagaimana anda tahu hal ini? Dalam bentuk I, berapakah tegangan pada masing-2 resistor? Pastikan polaritasnya benar! Untuk menyelsaiakan I, gunakan KVL pada sebuah loop.

228I + 228I + + 228I -120V = 0 I = 120V/(50 228W) = 10.5mA Kita dapat menyelesakan tegangan pada setiap bohlam sbb: V = IR = (10.5mA)(228W) = 2.4V Rangkaian ini mempunyai satu sumber tegangan dan banyak resistors. The current is : Sumber tegangan/Jumlah resistansi (Ingat bahwa resistansi series adalah penjumlahan) Pembagian Tegangan Perhatikan dua resistor seri dengan tegangan v(t) pada resistor:

Perhatikan N resistor seri:

Sumber tegangan terbagi-bagi dalam resistor secara proporsional terhadap nilai resistansi masing-masing.

Rangakain 2 loop
Rangkaian Listrik Majemuk Rangkaian Listrik majemuk adalah rangkaian listrik yang terdiri dari dua buah loop atau lebih. Gamabra berikut adalah rangkaian listrik majemuk beserta cara memecahkannya

Langkah-langkah untuk menyelesaikan rangkaian majemuk di atas adalah:

1) Andaikan arah loop I dan loop II seperti pada gambar 2) Arus listrik yang melalui r1, R1, dan R4 adalah sebesar I1, yang melalui r2, R2, dan R3 adalah sebesar I2, dan R5 dilalui arus sebesar I3 3) Persamaan Hukum I Kirchoff pada titik cabang b dan e adalah I1 + I2 = I3 I3 = I1 + I2 4) Persamaan Hukum III Kirchoff pada setiap loop adalah seperti berikut Loop I

a-b-e-f-a (arah looop sama dengan arah arus) E + V = 0 I1R1 + I3R5 + I1R4 + I1r1 - E1 = 0 E1 = I1(r1 + R1 + R4) + I3R5 Loop II

b-e-d-c-b (arah loop searah dengan arah arus) E + V = 0 I3R5 + I2R3 + I2r2 - E2 + I2R2 = 0

Dengan menggunakan Hukum I Kirchoff, diperoleh persamaan I3 = I1 + I2, dan dari Hukum II Kirchoff diperoleh persamaan (1) dan persamaan (2). Dari ketiga persamaan tersebut dapat ditentukan nilai dari I1, I2, dan I3. Jika dalam perhitungan diudapat kuat arus berharga negatif, berarti arah arus sebenarnya berlawanan dengan arah arus yang anda andaikan. Namun perhitungannya tidak perlu diulang karena nilai arusnya adalah tetap sama hanya arahnya saja yang berbeda.