Anda di halaman 1dari 73

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

BAB 2

TINJAUAN KEBIJAKAN
Bab ini membahas mengenai: (1) Landasan Hukum, (2) Kebijakan Sektoral: Renstra kementrian kelautan dan perikanan, RPJP Provinsi Kepulauan Riau, dan rencana RPJMD Kabupaten Lingga, (3) Kebijakan Spasial: RTRW Propinsi Kepulauan Riau dan RTRW Kabupaten Lingga.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2-1

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.1

LANDASAN HUKUM Landasan hukum dalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan

Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi; Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008; Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota; 10. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang; 11. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.16/ MEN/2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; 12. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.17/MEN/ 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; 13. Rencana Strategis (Renstra) Kementrian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 2014; 14. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005-2025; 15. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Kepulauan Riau Tahun 20082028; 16. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015; 17. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031 (dalam proses legalisasi).

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2-2

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.2

KEBIJAKAN SEKTORAL Kebijakan Sektoral didalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir

dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga terdiri dari: Rencana Strategis (RENSTRA) Kementrian Kelautan dan Perikanan, Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi Kepulauan Riau, dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Lingga. 2.2.1 RENCANA PERIKANAN Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Kementrian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 - 2014 dapat ditinjau dari berbagai hal yang akan diuraikan sebagai berikut: 2.2.1.1 VISI DAN MISI Visi Pembangunan Kelautan dan Perikanan adalah: PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN YANG BERDAYA SAING DAN BERKELANJUTAN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Misi Pembangunan Kelautan dan Perikanan adalah: 1. 2. 3. Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan. Memelihara Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. 2.2.1.2 TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah: 1. Meningkatnya a. b. c. 2. Produksi dan Produktivitas Usaha Kelautan dan Perikanan. Pencapaian tujuan ini ditandai dengan: meningkatnya peran meningkatnya sektor kelautan dan perikanan terhadap kelautan dan pertumbuhan ekonomi nasional; kapasitas sentra-sentra produksi perikanan yang memiliki komoditas unggulan; meningkatnya pendapatan. Berkembangnya Diversifikasi dan Pangsa Pasar Produk Hasil Kelautan dan Perikanan. Pencapaian tujuan ini ditandai dengan:
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2-3

STRATEGIS

(RENSTRA)

KEMENTRIAN

KELAUTAN

DAN

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

a. b. c. 3.

meningkatnya ketersediaan hasil kelautan dan per-ikanan; meningkatnya branding pro-duk perikanan dan market share di pasar luar negeri; meningkatnya mutu dan keamanan produk perikanan sesuai standar.

Terwujudnya Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan. Pencapaian tujuan ini ditandai dengan: a. b. c. terwujudnya pengelolaan konservasi kawasan secara berkelanjutan; meningkatnya nilai ekonomi pulau-pulau kecil; meningkatnya luas wilayah perairan Indonesia yang diawasi oleh aparatur pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sasaran strategis pembangunan kelautan dan perikanan berdasarkan

tujuan yang akan dicapai adalah: 1. Meningkatnya peranan sektor kelautan dan perikanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah 2. meningkatnya persentase

pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan. Meningkatnya kapasitas sentra-sentra produksi kelautan dan perikanan yang memiliki komoditas unggulan. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah meningkatnya produksi perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan garam rakyat. 3. Meningkatnya pendapatan. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran 4. strategis ini adalah meningkatnya Nilai Tukar Nelayan/Pembudidaya Ikan. Meningkatnya ketersediaan hasil kelautan dan perikanan. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah meningkatnya konsumsi ikan per kapita. 5. Meningkatnya branding produk perikanan dan market share di pasar luar negeri. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah meningkatnya nilai ekspor hasil perikanan. 6. Meningkatnya mutu dan keamanan produk perikanan sesuai standar. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah menurunnya jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra. 7. Terwujudnya pengelolaan konservasi kawasan secara berkelanjutan. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah luas Kawasan Korservasi Perairan yang dikelola secara berkelanjutan.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2-4

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

8.

Meningkatnya nilai ekonomi pulau-pulau kecil. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah jumlah pulau-pulau kecil, termasuk pulau-pulau kecil terluar yang dikelola.

9.

Meningkatnya luas wilayah perairan Indonesia yang diawasi oleh aparatur pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian sasaran strategis ini adalah persentase wilayah perairan bebas illegal fishing dan kegiatan yang merusak SDKP.

2.2.1.3 ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI Arah kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2013 - 2014 adalah sebagai berikut: a. b. Peningkatan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah produk. Pengembangan dan pengawasan sistem jaminan mutu dan traceability (penelusuran) produk hasil perikanan dan jaminan ketersediaan bahan baku industri. c. Konservasi dan rehabilitasi sumberdaya kelautan dan perikanan serta pengelolaan pulau-pulau kecil dan upaya adaptasi dan mitigasi bencana dan perubahan iklim untuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. d. e. f. g. Pengawasan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan. Pengembangan sumberdaya manusia dan iptek kelautan dan perikanan. Peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat perikanan dengan focus pada Program Peningkatan Kehidupan Nelayan. Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi sector kelautan dan perikanan,terutama di Koridor Ekonomi Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Maluku-Papua. Strategi yang akan dilakukan untuk melaksanakan arah kebijakan nasional dan KKP sebagaimana tersebut di atas adalah melalui: 1. Pengembangan Kawasan a. Minapolitan Pendekatan pengembangan minapolitan dilakukan melalui: Ekonomi Kelautan dan Perikanan Berbasis Wilayah Kawasan Komoditas Unggulan Sentra Produksi Unit Usaha Penyuluhan Lintas Sektor
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2-5

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

b. Pengembangan Ekonomi Regional Kegiatan kelautan dan perikanan tahun 2012 - 2014 akan mengisi pengembangan KE Sulawesi, KE Bali-Nusa Tenggara, dan KE PapuaKepulauan Maluku. Beberapa kegiatan yang akan dikembangkan antara lain pengembangan prasarana pelabuhan perikanan, industri rumput laut, industri pengolahan ikan, budidaya ikan dan rumput laut, dll. 2. Penguatan Kelembagaan, SDM dan IPTEK Peran penelitian dan pengembangan kelautan dan perikanan dalam penguatan dan penguasaan iptek di masyarakat adalah dengan menyediakan data dan informasi, produk-produk biologi unggul (calon induk dan benih unggul, vaksin, probiotik, dsb), paket teknologi, rekomendasi, dan penerapan pengembangan kawasan yang diimplementasikan dalam bentuk teknologi tepat guna yang inovatif dan adaptif, serta model penerapan iptek di masyarakat. 3. Pemberdayaan dan Kewirausahaan a. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Kelautan dan Perikanan Melalui pelaksanaan PNPM Mandiri KP diharapkan diperoleh keluaran berupa tersalurkannya Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) kepada KUKP, dan terlaksananya fasilitasi penguatan kapasitas dan kelembagaan KUKP melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan, sedangkan hasil yang akan dicapai adalah meningkatnya produksi, pendapatan, dan penumbuhan wirausaha kelautan dan perikanan serta meningkatnya kualitas lingkungan di dalam kelompok mandiri. b. Program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN) Pengembangan kewirausahaan dilakukan dalam rangka penciptaan lapangan usaha di sektor kelautan dan perikanan bagi sarjana terdidik yang masih menganggur. KKP akan melakukan pembekalan dan motivasi dilanjutkan dengan pelatihan/magang mengenai budidaya perikanan, penangkapan, pengolahan dan pemasaran serta pembuatan proposal. 4. Industrialisasi Kelautan dan Perikanan Pendekatan industrialisasi kelautan dan perikanan dilakukan melalui penataan sistem dan manajemen yang mencakup: a. Pengembangan komoditas dan produk unggulan berorientasi pasar; b. Penataan dan pengembangan kawasan dan sentra produksi secara
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2-6

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

berkelanjutan; c. Pengembangan konektivitas dan infrastruktur; d. Pengembangan usaha dan investasi; e. Pengembangan iptek dan sumber daya manusia; f. Pengendalian mutu dan keamanan produk; g. Penguatan perikanan. 2.2.1.4 PROGRAM DAN KEGIATAN KKP Arah kebijakan dan strategi pembangunan kelautan dan perikanan diimplementasikan melalui program dan kegiatan, sebagai berikut: 1. Program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap Tujuan program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap adalah meningkatkan produktivitas perikanan tangkap dan kesejahteraan nelayan berbasis pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan, dengan sasaran peningkatan produksi perikanan tangkap (volume dan nilai), peningkatan pendapatan nelayan, dan peningkatan Nilai Tukar Nelayan (NTN). 2. Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya Tujuan program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya adalah meningkatkan produksi perikanan budidaya, dengan sasaran program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil perikanan budidaya (volume dan nilai). 3. Program Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan Tujuan program Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan adalah mewujudkan produk perikanan prima yang berdaya saing di pasar domestik dan internasional, dengan sasaran peningkatan nilai ekspor hasil perikanan, peningkatan volume produk olahan, peningkatan rata-rata konsumsi ikan nasional, peningkatan nilai produk non konsumsi pada tingkat pedagang besar, dan peningkatan nilai investasi pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. 4. Program Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Tujuan program Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah mewujudkan tertatanya dan dimanfaatkannya wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil secara lestari, dengan sasaran antara lain peningkatan luas Kawasan Konservasi Perairan yang dikelola secara
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2-7

pengawasan

pemanfaatan

sumberdaya

kelautan

dan

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

berkelanjutan, pengembangan pengelolaan pulau-pulau kecil, dan jumlah produksi garam. 5. Program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Tujuan program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan adalah meningkatnya ketaatan dan ketertiban dalam pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan dengan sasaran perairan Indonesia bebas illegal fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan. 6. Program Pengembangan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Tujuan program Pengembangan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan adalah melindungi kelestarian sumber daya hayati perikanan dan kelautan dari Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) serta menjamin mutu dan keamanan hasil perikanan nasional dengan sasaran meningkatnya prosentase media pembawa yang memenuhi sistim jaminan RENSTRA KKP 2010-2014 49 kesehatan ikan melalui sertifikasi kesehatan ikan ekspor, impor dan antar area, menurunnya jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra, dan meningkatnya jumlah sertifikasi penerapan sistem jaminan mutu (sertifikat HACCP) di Unit Pengolahan Ikan sebagai persyaratan ekspor. 7. Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan Tujuan program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan ini adalah menyiapkan ilmu, pengetahuan dan teknologi sebagai basis kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran diadopsinya dan dimanfaatkannya Iptek hasil penelitian dan pengembangan oleh para pemangku kepentingan. 8. Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Tujuan program Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan adalah meningkatkan kualitas SDM kelautan dan perikanan dengan sasaran meningkatnya kompetensi SDM kelautan dan perikanan. 9. Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP Tujuan program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP adalah meningkatkan efektifitas peran pengawasan internal dengan sasaran program peningkatan kinerja dan akuntabilitas Aparatur KKP, terwujudnya AKIP yang efektif di KKP, dan peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2-8

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

10. Program Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP Tujuan program Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP adalah meningkatkan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran terwujudnya Reformasi Birokrasi di KKP, kualitas akuntabilitas kinerja dan pengelolaan keuangan KKP. 2.2.2 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG (RPJP) PROVINSI

KEPULAUAN RIAU Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005-2025 dapat ditinjau dari berbagai hal yang akan diuraikan sebagai berikut: 2.2.2.1 VISI DAN MISI Visi Pembangunan Provinsi Kepulauan Riau 2005-2025 adalah: KEPULAUAN RIAU BERBUDAYA, MAJU DAN SEJAHTERA Misi Pembangunan Provinsi Kepulauan Riau 2005-2025 adalah: 1. 2. 3. Mewujudkan Masyarakat Kepulauan Riau yang Memiliki Kepribadian dan Berakhlak Mulia. Menciptakan Sumber Daya Manusia Kepulauan Riau yang Berkualitas Pendidikan, Memiliki Etos Kerja dan Produktivitas yang Tinggi. Meningkatkan Daya Saing Daerah Agar Mampu Melaksanakan Pembangunan Dalam Perekonomian Nasional dan Global Khususnya Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan serta Pariwisata. 4. 5. Mewujudkan Masyarakat Kepulauan Riau yang Dapat Memenuhi Seluruh Kebutuhan Dasar Hidupnya Secara Layak. Mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau Sebagai Salah Satu Pusat Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan Serta Pariwisata. 2.2.2.2 ARAH PEMBANGUNAN Arahan pembangunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi Kepulauan Riau 2005-2025 terkait dalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut:
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2-9

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

1.

Meningkatnya

Daya

Saing

Daerah

Agar

Mampu

Melaksanakan

Pembangunan Dalam Perekonomian Nasional dan Global Khusus Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan serta Pariwisata ditandai dengan hal-hal berikut: Terbangunnya keunggulan sistem perekonomian di seluruh yang daerah. kokoh berlandaskan sektor kompetitif Terwujudnya

pertanian dalam arti luas khususnya sub sektor perikanan, kelautan, pertambangan dan pariwisata serta industri sebagai sektor unggulan daerah dan menjadi basis aktivitas ekonomi. Terwujudnya Kepulauan Riau sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional khususnya di bagian Barat Indonesia, dengan keunggulan bidang industri, perikanan, kelautan dan pariwisata. Meningkatnya kemampuan dan profesionalitas aparatur pemerintah daerah untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, bertanggungjawab serta profesional yang mampu mendukung pembangunan daerah. Terkelolanya potensi wilayah terutama aspek kemaritiman sebagai modal dasar pembangunan daerah dan mendukung pembangunan nasional. Terwujudnya kerjasama antar daerah, regional dan internasional di bidang ekonomi, sosial dan budaya dalam rangka membentuk sinergitas ekonomi dan jaringan pertumbuhan ekonomi yang handal dan terintegrasi. Terpenuhinya pasokan listrik (elektrifikasi) yang memadai, handal dan efesien sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik kebutuhan rumah tangga, bisnis, sosial dan pebutuhan publik lainnya termasuk industri. Tersedianya produk hukum di bidang investasi dan penanaman modal serta perlindungan usaha ekonomi kerakyatan dengan koordinasi bersama semua pihak baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Meningkatnya kualitas dan etos kerja sumber daya manusia dalam semua bidang terutama disektor unggulan agar mampu mengikuti perkembangan dan sejajar dengan negara tetangga dengan dukungan pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki kepribadian yang sesuai dengan karakter dan budaya. Meningkatnya efesiensi pelaksanaan pembangunan yang dilandasi oleh sistem penyelenggaraan administrasi pemerintahan, perencanaan dan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 10

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

pelaksanaan pembangunan yang akuntabel, responsif dan berorientasi kinerja. Meningkatnya kompetensi tenaga kerja lokal dan tersedianya tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan meningkatnya sistem informasi pasar kerja. Tersedianya sarana dan prasarana lembaga diklat ketenagakerjaan (BLK) yang memadai baik melalui kerjasama pelatihan, pengembangan lembaga pelatihan dan lainnya. 2. Terwujudnya Provinsi Kepulauan Riau Sebagai Salah Satu Pusat Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan serta Pariwisata ditandai dengan hal-hal berikut: Ditetapkannya wilayah Kepulauan Riau sebagai salah satu kawasan perkembangan ekonomi nasional dalam bentuk kebijakan pemerintah dalam menetapkan kawasan strategis nasional baik dari aspek ekonomi maupun aspek ketahanan nasional. Tumbuhnya pusat pertumbuhan ekonomi baru diseluruh wilayah yang merata terutama industri dan pariwisata yang berbasis kelautan serta sesuai dengan potensi dan keunggulannya. Tersedianya sarana prasarana pariwisata dengan didukung oleh pengembangan sarana dan prasarana kebudayaan dan kesenian serta infrastruktur mengadakan perekonomian pendidikan dan lainnya yang berkualitas sekaligus dan pelatihan bidang pariwisata

meningkatkan aksesibilitas dari dan ke objek dan daya tarik wisata dalam rangka mendukung perkembangan ekonomi daerah. Terwujudnya pembangunan infrastruktur pelabuhan, dermaga dan sarana perhubungan antar pulau dan antar daerah yang memadai. Terciptanya lingkungan yang aman dan kondusif untuk investasi dan kegiatan ekonomi di Kepulauan Riau dengan dukungan peningkatan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat dan kesadaran akan hukum dan kelestarian lingkungan. Terwujudnya rasa aman di tengah-tengah masyarakat dan terjaminnya keamanan dan kenyamanan pelaku usaha dalam berinvestasi baik aman dari gangguan, bencana alam, kerusakan dan kerusuhan sosial. Terwujudnya pembangunan berkelanjutan guna menjamin dan meningkatnya daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 11

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

didukung adanya peningkatan kualitas lingkungan secara terus menerus dan berkelanjutan dengan pengelolaan sumberdaya alam secara bijaksana dan memperhatikan prinsip kelestarian dan berkelanjutan. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di seluruh daerah dan mengurangi ekonomi berbiaya tinggi dan terwujudnya pemanfaatan dan hasil guna sumber daya alam yang optimal baik sumber daya yang dapat diperbaharui maupun sumber daya yang tidak dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Terwujudnya pembangunan yang berwawasan lingkungan, dan peningkatan pemahaman dan kesadaran terhadap lingkungan bagi seluruh pelaku pembangunan termasuk mengurangi jumlah lahan kritis yang dilakukan secara terus menerus dan dengan arahan pembangunan yang terintegrasi serta diikuti dengan penegakan hukum. Terwujudnya sinergi antara sektor publik dan privat untuk mengakselerasi perekonomian di seluruh wilayah Kepri melalui upaya menjaga dan meningkatkan koordinasi, sinkronisasi dan harmonisasi pembangunan antar daerah dan antar sektor (publik dan privat). Terwujudnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah melalui upaya meningkatkan pemerataan dan penyebaran pembangunan serta sarana dan prasarana antar pulau dan antar daerah di seluruh wilayah dengan menjadikannya sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Tumbuhnya ekonomi daerah berdasarkan pengembangan potensi daerah melalui upaya menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi, memperhatikan potensi dan keunggulan daerah serta didukung oleh peningkatan efisiensi pelaksanaan pembangunan. Meningkatnya kelancaran arus barang dan orang dari dan ke seluruh wilayah dan antar daerah agar terciptanya pemerataan pembangunan dan munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah melalui upaya penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan udara. 2.2.2.3 ARAH KEBIJAKAN Arahan Kebijakan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) provinsi kepulauan riau 2005-2025 terkait dalam penyusunan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut:
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 12

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

1. Meningkatnya

Daya

Saing

Daerah

Agar

Mampu

Melaksanakan

Pembangunan Dalam Perekonomian Nasional dan Global Khusus Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan serta Pariwisata Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang cerdas, profesional, memiliki etos kerja, trampil dan inovatif. Mendorong munculnya pusatpusat pertumbuhan ekonomi baru dan berbasis kelautan dengan didukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang cerdas, sehat dan berahlak mulia. Pembangunan sektor kelautan dan perikanan diarahkan agar pendayagunaan dan pengawasan pemanfataan potensi perikanan dan kelautan dapat optimal. Pendekatan antar sektor, integratif dan komprehensif agar konflik dapat dihilangkan akibat egosektoral dalam pengelolaan sektor kelautan dan perikanan. Membangkitkan wawasan dan budaya bahari melalui pendidikan pada semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan serta penyadaran masyarakat tentang kelautan yang mampu melestarikan nilai budaya serta wawasan bahari. Meningkatkan dan memperkuat peranan sumberdaya manusia di bidang kelautan yang dilakukan dengan mendorong jasa pendidikan dan pelatihan di bidang kelautan khususnya bidang unggulan serta mengembangkan standar kompetensi sumberdaya manusia bidang kelautan. Pengembangan IPTEK untuk ekonomi diarahkan pada peningkatan kualitas dan kemanfaatan iptek daerah dalam rangka mendukung iptek nasional. Pengembangan wilayah diarahkan dan diselenggarakan dengan memperhatikan potensi dan peluang serta keunggulan sumberdaya darat dan atau laut di setiap wilayah dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan semua pihak baik pemerintah, kabupaten/kota dan dunia usaha dalam memberikan peran bagi pengembangan ekonomi daerah. Pembangunan dilakukan dengan berpedoman kepada rencana baik rencana jangka panjang maupun rencana tataruang wilayah (RTRW) yang refresentatif, terintegrasi, terpadu, komprehensif dan maju dalam rangka memberikan arahan pembangunan daerah.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 13

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Rencana tata ruang digunakan sebagai acuan kebijakan spasial bagi pembangunan di setiap sektor dan wilayah, agar pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi dan berkelanjutan. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) disusun secara hirarki dan komplementer. Pembangunan ekonomi diarahkan untuk mengelola dan mengembangkan potensi ekonomi daerah yang menjadi unggulan terutama potensi sumber daya kelautan dan perikanan, industri pengolahan dan pariwisata dalam konteks regional dan global dan membentuk sinergisitas ekonomi dan kebijakan usaha dengan negara tetangga. Pembangunan ekonomi kerakyatan khususnya perikanan diarahkan untuk menyediakan dan memfasilitasi pengadaan sarana dan prasarana perikanan dan kelautan dalam rangka optimalisasi sumberdaya kelautan dan perikanan. Pembangunan wisata sehat dan berbudaya yang berkualitas diarahkan untuk meningkatkan pengembangan kepariwisataan sebagai bagian dari kegiatan menggerakan ekonomi masyarakat dengan cara mengembangkan wisata bahari yang modern dan terpadu pada setiap kawasan potensial disamping wisata konvensional yang sudah ada, sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan asing maupun domistik. Pembangunan bidang pemerintahan diarahkan untuk menyederhanakan birokrasi dalam rangka menciptakan lingkungan investasi yang kondusif dan meningkatkan kerjasama pengembangan investasi dengan pemerintah dan pihak luar negeri dan dengan dukungan daerah lainnya termasuk kabupaten/kota. Pembangunan infrastruktur ekonomi diarahkan untuk menyediakan infrastruktur, sarana dan prasarana pendukung investasi yang maju, lengkap, modern dan terpadu terutama di daerah yang cepat tumbuh sejalan dengan kegiatan promosi terhadap potensi ekonomi daerah sejalan dengan meningkatkan kapasitas dan kemampuan aparatur pemerintahan dan kelembagaan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan dan pelayanan publik. Pemberdayaan dan optimalisasi pulau terluar dengan cara pembinaan dan pengembangan transmigrasi lokal dengan disertai pembangunan sarana dan prasarana dan akses ke pulau terluar baik prasarana
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 14

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

perhubungan dan angkutan serta pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan. Pengembangan ekonomi regional diarahkan untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia terutama dunia usaha dan masyarakat serta menjalin dan meningkatkan kerjasama antar perusahaan dengan pemerintah daerah dan antar kawasan serumpun di segala bidang terutama yang merupakan sektor unggulan daerah. Pegembangan ketahanan ekonomi diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan pengertian terhadap potensi kelautan bagi masyarakat khususnya masyarakat pesisir dan di pulau. 2. Mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau Sebagai Salah Satu Pusat Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan Kelautan serta Pariwisata Meningkatkan peranan pemerintah daerah yang efektif dan optimal sebagai fasilitator, regulator dan sekaligus sebagai katalisator pembangunan disemua sektor agar pembangunan dan pelayanan publik lebih efesien dan efektif dengan lingkungan yang kondusif. Perlu menjalin hubungan yang lebih luas dengan semua pihak dan tingkatan pemerintahan baik nasional maupun regional. Melakukan kerjasama dengan semua pihak dalam pengamanan wilayah kedaulatan yurisdiksi secara terpadu khususnya wilayah perbatasan, pulau kecil dan pulau terluar. Pengembangan potensi ekonomi unggulan diarahkan untuk mengembangkan kekuatan dan potensi kemaritiman dalam rangka memperkokoh ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional, mulai dari membangun jaringan terpadu elemen perdagangan, industri dan perhubungan dan pelayaran (trade, shipping and industry), maupun dengan memberdayakan masyarakat nelayan pesisir dan perbatasan. Mengembangkan industri kelautan secara sinergi, optimal dan berkelanjutan yang meliputi perhubungan laut, industri maritim, perikanan, wisata bahari, energi dan sumber daya mineral, bangunan diatas dan bawah laut serta jasa kelautan. Mengembangkan industri perikanan dan kelautan sehingga menjadi andalan PDRB Provinsi Kepulauan Riau dengan melakukan berbagai upaya yang meliputi pengembangan SDM dibidang kelautan, penyediaan sarana dan prasarana penunjang, penyediaan perangkat
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 15

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

peraturan perundangan dan penyediaan fasilitas lainnya. Secara makro pembangunan ekonomi diarahkan untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan daerah. Pembangunan bidang keamanan dan ketertiban diarahkan untuk meningkatkan keamanan dan rasa aman di lingkungan masyarakat. Mengembangkan wilayah perbatasan dan tertinggal dengan keberpihakan agar cepat tumbuh dan berkembang lebih cepat agar dapat mengurangi ketertinggalannya dengan daerah lain. Lingkungan hidup memiliki limitasi baik daya dukung maupun daya tampung. Maka dalam jangka panjang pembangunan lingkungan hidup diarahkan untuk meningkatkan daya dukung dan kualitas lingkungan secara terus menerus dan berkelanjutan. Meningkatkan pemerataan dan penyebaran pembangunan sarana dan prasarana antar pulau dan antar daerah di seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Meningkatkan jumlah dan kualitas sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan udara dan meningkatkan pelayanan transportasi (frekuensi dan terjangkau oleh masyarakat) baik dengan cara membangun dan meningkatkan kualitas sarana dan prasaran infrastruktur transportasi darat/laut/udara maupun dengan kegiatan pelibatan masyarakat. Menerapkan sistem pengelolaan pertanahan yang efesien, efektif dan melaksanakan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan hak atas tanah dengan menerapkan prinsip keadilan, transparansi dan demokrasi. Mendorong peran swasta dalam pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik, mempermudah perizinan dan memperketat pengawasan serta penegakan hukum dan tata kelola perikanan. Kerjasama antar daerah terutama dalam pengembangan potensi unggulan daerah terutama antar daerah yang berdekatan baik dalam pengawasan maupun pemanfaatan dan pengolahan serta pemasaran dalam memanfaatkan keunggulan komparatif maupun kompetitif sehingga inefisiensi dalam pembangunan dapat dihindari.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 16

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.2.3

RENCANA

PEMBANGUNAN

JANGKA

MENENGAH

DAERAH

(RPJMD)

KABUPATEN LINGGA Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Lingga Tahun 2010-2015 dapat ditinjau dari berbagai hal yang akan diuraikan sebagai berikut: 2.2.3.1 VISI, DAN MISI KABUPATEN LINGGA Visi pembangunan daerah Kabupaten Lingga tahun 2010-2015 adalah: TERWUJUDNYA KABUPATEN LINGGA SEBAGAI BUNDA TANAH MELAYU YANG AGAMIS, BERBUDAYA, DEMOKRATIS DAN MAMPU BERSAING UNTUK MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA Misi pembangunan Kabupaten Lingga sebagai berikut: 1. Menjadikan Kabupaten Lingga Sebagai Rujukan Budaya Melayu Rangkaian pembangunan daerah dilakukan dalam upaya mengenali kembali budaya melayu yang sesuai dengan kekhasan Kabupaten Lingga yang memiliki karakteristik positif terhadap pengembangan dasar-dasar pembangunan. 2. Meningkatkan Keimanan Dan Ketaqwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa Mengembangkan nilai-nilai agama yang dianut mayoritas masyarakat Kabupaten Lingga, dalam hal ini agama Islam, adalah basis dari misi kedua ini. Keimanan dan ketaqwaan dikembangkan agar menjadi buah dari praktik keagamaan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. 3. Melestarikan Nilai-Nilai Luhur Dan Khazanah Budaya Melayu Misi ketiga ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan misi pertama dan kedua dimana nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan adalah buah dari budaya dan kehidupan agama masyarakat itu sendiri yang telah berkembang dari waktu ke waktu. 4. Meningkatkan Kesadaran Hukum Dan Mengembangkan Kehidupan Masyarakat Yang Demokratis Berbasis sistem nilai dan tata kehidupan yang akan dihasilkan dari misi pertama, kedua, dan ketiga, peningkatan kesadaran hukum dan pengembangunan kehidupan masyarakat yang demokratis memiliki legitimasi dan basis yang kuat. 5. Meningkatkan Dan Mengembangkan Potensi Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 17

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Sumber daya manusia adalah bahan dasar keunggulan bersaing yang paling utama. Kualitas SDM masyarakat menjadi salah satu prasyarat utama pencapaian tingkat kesejahteraan secara menyeluruh bagi masyarakat Kabupaten Lingga. 6. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Potensi Unggulan Daerah Secara beriringan dengan pihak swasta dalam berkontribusi bagi pembangunan daerah, pemberdayaan ekonomi kerakyatan dijadikan langkah fundamental agar ekonomi daerah digerakkan secara bersama masyarakat Kabupaten Lingga. 7. Pemberdayaan Potensi Sumber Daya Kelautan Dengan luas wilayah laut yang mencapai 99% menjadi niscaya pengembangan potensi kelautan agar digarap secara serius dari tahun ke tahun, termasuk pengembangan perikanan laut, baik penangkapan maupun budidaya laut. 8. Meningkatkan Infrastruktur Pengembangan infrastruktur juga dimaksudkan untuk memberikan dukungan penuh bagi pengembangan aktivitas ekonomi khususunya dalam rangka pemberdayaan ekonomi kerakyatan, baik sektor pertanian maupun kelautan. Peningkatan kapasitas infrastruktur harus mempertimbangkan keadilan dalam pengembangan wilayah sehingga pembangunan dapat diselenggarakan merata di segenap pelosok daerah. 2.2.3.2 STRATEGI Strategi pembangunan Kabupaten Lingga tahun 2010-2015 terkait dengan Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga, adalah sebagai berikut: 1. Pengembangan sistem pendukung penerapan peraturan daerah Strategi pengembangan sistem pendukung penerapan peraturan daerah diarahkan untuk menjalankan aturan dan/atau kebijakan yang telah diatur di dalam peraturan daerah. Penerapan peraturan daerah secara baik dan terkendali akan menciptakan kondisi wilayah yang aman dan tertib serta mampu mendukung pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang. 2. Percepatan pengembangan kawasan cepat tumbuh Melalui strategi ini, pengembangan perekonomian Kabupaten Lingga difokuskan kepada kawasan yang memiliki potensi untuk cepat
2 - 18

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

bertumbuh. Pengerahan pembangunan kawasan yang memiliki daya ungkit tinggi diharapkan mampu mengangkat perekonomian masyarakat dan wilayah secara nyata. 3. Pemantapan daya dukung infrastruktur pembangunan daerah Infrastruktur merupakan komponen penting sebagai penunjang roda penggerak merupakan perekonomian aspek utama dan pertumbuhan pemerataan ekonomi, disamping dan dalam pembangunan

kesejahteraan. Infrastruktur memegang peranan yang sangat penting, mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur yang memadai seperti transportasi, air bersih, telekomunikasi, sanitasi, dan energi. 2.2.3.3 ARAH KEBIJAKAN Arah Kebijakan Kabupaten Lingga tahun 2013-2015, adalah sebagai berikut: Arah Kebijakan Tahun 2013 Arah kebijakan pembangunan Lingga tahun 2013 ditujukan kepada upaya melanjutkan pembangunan tahun-tahun sebelumnya yang dibarengi dengan fokus baru. Pembangunan masih diarahkan untuk meningkatkan apresiasi dan prestasi seni dan budaya Melayu, serta perwujudan tatanan sosial kemasyarakatan yang beriman dan bertaqwa. Arah Kebijakan Tahun 2014 Pembangunan Kabupaten Lingga pada tahu 2014 diarahkan kepada upaya melanjutkan peningkatan prestasi seni dan budaya melayu di tingkat regional dan nasional yang disertai upaya mewujudkan pengakuan secara formal Kabupaten Lingga sebagai bunda tanah Melayu, serta perwujudan tatanan sosial kemasyarakatan yang beriman dan bertaqwa. Hal ini diiringi dengan fokus pembangunan yang mulai diarahkan kepada penciptaan keamanan, ketertiban dan ketentraman lingkungan. Arah Kebijakan Tahun 2015 Tahun 2015 adalah akhir masa kepemerintahan jangka menegah lima tahun dari Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2010-2015. Pada akhir periode ini, pembangunan diarahkan kepada perwujudan pengakuan secara formal Kabupaten Lingga sebagai bunda tanah Melayu, penciptaan keamanan, ketertiban dan ketentraman lingkungan.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 19

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.3

KEBIJAKAN SPASIAL Kebijakan Spasial didalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan

Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga terdiri dari: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kepulauan Riau dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kabupaten Lingga. 2.3.1 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) PROVINSI KEPULAUAN RIAU Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2008-2028 dapat ditinjau dari berbagai hal yang akan diuraikan sebagai berikut: 2.3.1.1 STRUKTUR WILAYAH PENGEMBANGAN Struktur wilayah pengembangan Provinsi Kepulauan Riau terbagi atas beberapa pusat kegiatan, yang diantaranya ditetapkan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Rencana Sistem Perkotaan Provinsi Kepulauan Riau pada Kabupaten Lingga ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah, terdiri dari wilayah daik dan dabo.
Tabel II.1 Sistem Perkotaan Provinsi Kepulauan Riau Sistem Kota Arahan Sebagai Pusat Pemerintahan Kota Sebagai kawasan investasi internasional Sebagai pusat keunggulan (center of excellent) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat industri dan jasa di wilayah Provinsi Kepulauan Riau Sebagai pusat pariwisata Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mendorong perkembangan wilayah perbatasan Sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia ke wilayah internasional Sebagai kawasan untuk kepentingan pertahanan keamanan nasional serta integrasi nasional Sebagai kawasan alih muat kapal (transhipment point) Sebagai simpul-simpul utama (main outlet) transportasi laut dan udara baik skala nasional dan internasional Sebagai salah satu pusat pertumbuhan kawasan perbatasan Negara di Provinsi Kepulauan Riau Sebagai pintu gerbang Indonesia ke wilayah internasional Sebagai kawasan untuk kepentingan pertahanan keamanan nasional serta integrasi nasional terutama pada kawasan perairan Indonesia Sebagai pusat pelayanan dan pusat ekspor serta akses ke pasar global Sebagai pusat koleksi dan distribusi skala regional dan nasional Sebagai kawasan pengembangan industri pendukung perikanan dan kelautan
2 - 20

PKN/PKSN

Batam

PKSN

Ranai

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Sistem

Kota

PKSN

Ranai

Tanjungpinang

Daik

PKW

Dabo

Tarempa

Tanjungbalai Karimun

PKL

Tanjung Batu

Arahan Sebagai pusat perdagangan dan jasa skala regional Sebagai simpul transportasi laut nasional dan internasional Sebagai simpul transportasi udara nasional Sebagai salah satu pusat pertumbuhan kawasan perbatasan Negara di Provinsi Kepulauan Riau Sebagai pintu gerbang Indonesia ke wilayah internasional Sebagai kawasan untuk kepentingan pertahanan keamanan nasional serta integrasi nasional terutama pada kawasan perairan Indonesia Pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di Pulau Dompak Pusat Pemerintahan Kota Pusat koleksi dan distribusi barang skala provinsi Sebagai pusat kegiatan industri pendukung PKN Batam Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat perdagangan dan jasa skala provinsi Sebagai pendukung kegiatan pariwisata Sebagai kawasan pendidikan Sebagai simpul transportasi laut nasional dan simpul transportasi udara nasional Pusat pemerintahan Kabupaten Lingga Pusat perdagangan dan jasa skala regional Pusat koleksi dan distribusi skala regional Pusat pengembangan industri hasil-hasil pertanian Pengembangan kegiatan pertanian/perkebunan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan pariwisata Pusat pelayanan transportasi laut skala regional dan lokal Pusat pelayanan di Pulau Singkep dan sekitarnya Pusat pertumbuhan perdagangan dan jasa skala regional Pusat koleksi dan distribusi skala regional kegiatan pertanian/perkebunan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan pariwisata Pusat pelayanan transportasi udara skala regional Simpul transportasi laut skala nasional Pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Anambas Sebagai pusat koleksi dan distribusi skala regional Sebagai pusat kegiatan perdagangan dengan lingkup pelayanan lokal dan regional Sebagai sentra produksi perikanan dan kelautan Pengembangan industri pendukung dan pengolahan perikanan Sebagai kawasan pariwisata Simpul transportasi laut skala nasional Sebagai kota transit lalu lintas pelayaran Pusat pemerintahan Kabupaten Karimun Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai kawasan perdagangan dan pelayanan jasa serta pariwisata Sebagai pusat koleksi dan distribusi tingkat regional Sebagai simpul transportasi laut nasional dan transportasi udara regional Pengembangan industri pengolahan hasil pertambangan, perikanan dan kelautan Sebagai simpul transit skala regional dan antar pulau Pusat perdagangan dan jasa skala lokal Sebagai kawasan kegiatan pariwisata, permukiman, pertanian,
2 - 21

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Sistem

Kota Tanjung Batu

Moro

Meral

Bandar Seri Bintan

Tanjung Uban

PKL

Kijang

Letung

Tebangladan

Sedanau

Serasan Pancur

Arahan perkebunan dan perikanan Sebagai koleksi dan distribusi lokal Sebagai kawasan pendukung pengembangan industri Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat koleksi dan distribusi lokal Sebagai kawasan kegiatan perikanan Sebagai pengembangan kawasan pertambangan Simpul transportasi laut nasional Sebagai kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai kawasan industri maritim Sebagai kawasan perdagangan dan jasa Sebagai pengembangan kawasan pertambangan Pusat pemerintahan Kabupaten Bintan Pusat kegiatan utama dengan skala pelayanan kabupaten Sebagai kawasan pariwisata Sebagai pusat perdagangan dan jasa skala lokal Sebagai kawasan industri pendukung Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun Sebagai pusat koleksi dan distribusi Sebagai simpul pelayanan transportasi laut lokal Sebagai simpul penghubung PKN Batam dengan wilayah Kabupaten Bintan Sebagai kawasan perdagangan dan jasa lokal Sebagai kawasan industri maritim Sebagai kawasan pertanian dan perikanan Sebagai pusat koleksi dan distribusi lokal Sebagai simpul pelayanan transportasi skala nasional Pusat koleksi dan distribusi hasil perikanan dan kelautan Sebagai kawasan perdagangan dengan lingkup pelayanan lokal sebagai daerah pusat kegiatan lokal untuk pengembangan pertanian Sebagai kawasan industri perikanan dan kelautan Sebagai kawasan pariwisata Simpul pelayanan transportasi laut regional Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil perikanan dan kelautan Sebagai pusat industri pengolahan perikanan dan kelautan Sebagai kawasan perdagangan lokal Sebagai kawasan pariwisata Sebagai pusat kegiatan pertambangan minyak dan gas Simpul pelayanan transportasi laut lokal Simpul transportasi udara skala regional Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian, perkebunan dan perikanan Pusat perdagangan skala lokal Sebagai simpul pelayanan transportasi skala regional Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil perikanan serta kelautan Sebagai kawasan pertanian, perkebunan dan perikanan Sebagai simpul pelayanan transportasi laut lokal Sebagai pengembangan kegiatan pertanian Sebagai kawasan perikanan dan kelautan Sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian Simpul pelayanan transportasi laut lokal

Sumber: RTRW Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008-2028

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 22

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Gambar 2.1 Rencana Struktur Ruang Provinsi Kepulauan Riau

Sumber: RTRW Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008-2028

2.3.1.2 POLA RUANG WILAYAH Pola ruang Wilayah Propinsi Kepulauan Riau terdiri dari: Kawasan Lindung, Kawasan Budidaya, dan Pengembangan Kawasan Laut. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama menjaga kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya buatan yang merupakan modal dasar untuk pembangunan yang berkelanjutan. Kebijakan pengembangan pada kawasan lindung diarahkan sebagaimana berikut: 1. Daerah dengan fungsi sebagai suaka harus benar-benar dan tidak boleh ada kegiatan lain pada daerah tersebut, kecuali kegiatan yang bersifat untuk menjaga fungsi kawasan tersebut. 2. Kawasan dengan fungsi sebagai kawasan lindung (Sempadan Sungai, Sempadan Danau/Waduk, kawasan dengan faktor pembatas lereng/ketinggian) dimanfaatkan dengan tanaman tahunan yang berfungsi untuk reboisasi. 3. Ruang di pulau-pulau kecil memiliki fungsi utama sebagai kawasan lindung.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 23

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Berdasarkan arahan kebijakan pengembangan pada kawasan ini, sasaran pemantapan kawasan lindung adalah: 1. Kawasan Hutan Lindung Arahan kebijakan ruang kawasan hutan lindung adalah: Hutan kawasan lindung berdasarkan Keppres No. 32 Tahun 1990 melalui pengukuran dan batas di lapangan untuk memudahkan pengendaliannya. Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada/penggunaan lahan yang berlangsung lama. Pengendalian hdro-orologis kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan (rehabilitasi dan konservasi). Pencegahan dilakukannya kegiatan budidaya, kecuali kegiatan yang tidak mengganggu fungsi lindung. Pemantauan terhadap kegiatan yang di perbolehkan,berlokasi di hutan lindung seperti penelitian, eksplorasi mineral dan air tanah, pencegahan bencana alam agar tidak mengganggu fungsi lindung. 2. Kawasan Lindung yang Berfungsi Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya Arahan kebijakan pengembangan pada kawasan lindung yang berfungsi memberikan perlindungan bawahannya adalah dengan upaya-upaya berikut: Lebih memantapkan kawasan perlindungan dengan mengacu pada Keppres No. 32 Tahun 1990 melalui pengukuhan dan penataan batas di lapangan. Pengendalian kegiatan yang telah ada di kawasan tersebut. Pencegahan kegiatan budidaya kecuali kegiatan yang tidak mengganggu fungsi lindung, seperti kegiatan pertanian terbatas dan kepariwisataan. Pemantauan terhadap kegiatan-kegiatan yang masih diperbolehkan berlokasi di hutan lindung, agar tetap menjaga fungsi lindungnya. 3. Kawasan Lindung Yang Berfungsi untuk Memberikan Perlindungan Setempat a. Kawasan Sempadan Pantai Arah kebijakan ruang kawasan sepadan pantai adalah: Pengamanan daerah pantai sekurang-kurangnya 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 24

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Pencegahan dilakukannya kegiatan budidaya disepanjang sempadan pantai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air, kondisi fisik dan dasar pantai serta alirannya Pengendalian kegiatan yang telah ada disekitar daerah sempadan pantai dan pengamanan daerah tepi pantai b. Kawasan Sempadan Sungai Arahan kebijakan ruang pada kawasan Sempadan Sungai adalah: Pengamanan daerah sepanjang kiri-kanan sungai yang harus dilindungi 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil/anak sungai, atau disesuaikan dengan kondisi fisiknya. Mencegah kegiatan budidaya secara bertahap di kawasan tepi sungai dimana kegiatan tersebut dapat merusak kawasan tepi sungai. Pengendalian kegiatan yang telah ada di sekitar tepi sungai dan anak sungai yang berada diluar permukiman. c. Kawasan Sekitar Danau dan Waduk Arahan kebijaksanaan kawasan sekitar danau dan waduk adalah: Pengamanan daerah sepanjang tepi waduk/danau sungai yang harus dilindungi adalah 50 meter sampai 100 meter dari titik pasang air danau dan waduk tertinggi; Pencegahan terhadap pembangunan budidaya non pertanian atau daerah terbangun dalam kawasan tepi waduk/danau, kecuali berfungsi untuk menunjang fungsi lindung; Pengendalian kegiatan budidaya yang merusak lingkungan yang pemindahannya dilakukan secara bertahap. d. Kawasan Ruang Terbuka Hijau Kota Arahan kebijaksanaan ruang terbuka hijau kota adalah: Penyediaan ruang terbuka hijau di setiap sarana dan prasarana perkotaan. Pengaturan pembangunan bangunan atau gedung harus mengikuti peraturan teknis bangunan dengan memperhatikan ruang terbuka. Ditanami dengan tumbuhan yang memiliki nilai estetika dan berfungsi melindungi Jenis tanaman yang ada di ruang terbuka hjiau berupa pohon-pohon besar.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 25

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

4. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya a. Kawasan Suaka Alam dan Suaka Alam Laut Arahan kebijaksanaan ruang kawasan ini adalah: Pengelolaan kawasan suaka alam sesuai perlindungannya masingmasing. Pelarangan dilakukanya kegiatan budidaya apapun, kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan tidak mengubah bentang alam, kondisi penggunaan lahan serta ekosistem alami yang ada. b. Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Arahan kebijakan ruang kawasan ini antara lain: Pengelolaan kawasan cagar alam dan cagar alam laut sesuai perlindungannya masingmasing. Pengendalian kegiatan yang dapat merusak kawasan serta pengamanan kawasan. c. Kawasan Pantai Berhutan Bakau Arahan kebijakan ruang kawasan ini antara lain: Pengelolaan kawasan pantai berhutan bakau sesuai perlindungannya masing-masing. Pengendalian kegiatan yang dapat merusak kawasan dan pengamanan kawasan. d. Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut Arahan kebijakan ruang kawasan ini antara lain: Pengelolaan taman wisata alam dan taman wisata alam laut dengan mengembangkan zona-zona ilmu pengetahuan, pariwisata dan pendidikan. Pengelolaan wisata alam yang memadukan kepentingan pelestarian pariwisata/rekreasi alam. Pelarangan dilakukanya kegiatan budidaya apapun kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan tidak mengubah bentang alam, kondisi penggunaan lahan serta ekosistem alami yang ada. e. Kawasan Cagar budaya dan Ilmu Pengetahuan Arahan kebijakan ruang kawasan ini antara lain: Pemantapan kawasan cagar alam budaya dan ilmu pengetahuan sesuai dengan tujuan perlindungannya. Peningkatan pengelolaan cagar alam budaya dan ilmu pengetahuan yang telah ada, serta melakukan pelarangan kegiatan budidaya di
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 26

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

kawasan tersebut, kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan tidak mengubah bentang alam, kondisi penggunaan alam serta ekosistim alami yang ada. Pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap kegiatan budidaya yang telah ada agar tidak mengganggu fungsi pelestarian alam tersebut. Pengelolaan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan mengembangkan zona-zona ilmu pengetahuan, pariwisata dan pendidikan. 5. Kawasan Rawan Bencana Arahan pemantapan kawasan rawan bencana dilakukan, dengan langkahlangkah sebagai berikut: Lebih meningkatkan upaya penetapan kawasan bahaya I, bahaya II dan bahaya III bagi daerah-daerah yang sering terkena bencana alam. Melakukan upaya-upaya perbaikan lingkungan serta prasarana bagi daerah yang mengalami bencana. Lebih memantapkan kawasan-kawasan yang sering menimbulkan bencana (seperti erosi, longsor, banjir, gempa dan lain-lain) dengan membatasi kegiatan budidaya dan mengembangkan kawasan berfungsi lindung. Kawasan rawan bencana di Kepulauan Riau terdiri dari Kawasan: Rawan Tanah Longsor, Rawan Gelombang Pasang, dan Rawan Banjir 6. Kawasan Lindung Lainnya Kawasan lindung lainnya adalah kawasan lindung pada pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah Kepulauan Riau, yang ditujukan untuk melindungi ekosistem pulau-pulau kecil, garis pantai dan perairan laut di sekitarnya yang memiliki sifat rentan terhadap berbagai bentuk gangguan kegiatan budidaya. Untuk tetap menjaga keberadaan serta kelestariannya maka pulau-pulau kecil terutama yang memiliki luas kurang dari 10 Ha (sepuluh hektar) ditetapkan sebagai kawasan lindung. Namun demikian, pada pulau tersebut masih dimungkinkan untuk dilakukan kegiatan budidaya terbatas, sesuai dengan potensi dan kondisi pulau tersebut. Pulau-pulau tersebut tersebar di seluruh wilayah perairan Kepulauan Riau.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 27

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Gambar 2.2 Kawasan Hutan Lindung Gugusan Lingga dan sekitarnya

Sumber: RTRW Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008-2028

Kawasan budidaya merupakan kawasan daratan yang berpotensi untuk dikembangkan baik untuk kepentingan usaha produksi maupun pemukiman penduduk, terdiri dari: 1. Kawasan Hutan Produksi Arahan kebijakan untuk ruang kawasan hutan produksi terbatas adalah pengusahaan hutan produksi melalui pemberian izin HPH dengan menerapkan pola tebang pilih dan tanam kembali. Berdasarkan paduserasi kehutanan, Hutan Produksi Terbatas paling banyak tersebar 21.820 Ha di Kabupaten Natuna, kemudian 10.507 Ha di Kabupaten Lingga, 8.302 Ha di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang, 5.933 Ha di Kota Batam, dan 1.168 Ha di Kabupaten Karimun. Sehingga secara keseluruhan rencana kawasan hutan produksi terbatas di Kepulauan Riau mencapai 47.730 Ha. 2. Kawasan Hutan Rakyat Pengembangan kawasan hutan rakyat di Provinsi Kepulauan Riau dialokasikan di Pulau Bunguran (Kabupaten Natuna) dengan luas 50.866 Ha, Pulau Lingga dan Pulau Singkep (Kabupaten Lingga) dengan luas 34.018 Ha.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 28

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Dengan demikian di Provinsi Kepulauan Riau diharapkan akan terdapat hutan rakyat seluas 84.904 Ha yang dapat dikembangkan. 3. Kawasan Pertanian a. Kawasan Pertanian Pangan Pengembangan kawasan pertanian pangan seluas 104.691 Ha dialokasikan di Kabupaten Lingga seluas 37.481 Ha yang sekaligus direncanakan sebagai lumbung pangan Provinsi Kepulauan Riau. Selain di Kabupaten Lingga, kawasan pertanian juga dialokasikan di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang seluas 25.505 Ha, di Kabupaten Natuna 13.567 Ha, di Kabupaten Karimun 17.110 Ha, di Kota Batam 10.400 Ha, serta di Kabupaten Anambas 628 Ha. Arahan kebijakan kawasan adalah: Perluasan areal persawahan baru (ekstensifikasi). Pengembangan prasarana pengairan. Pengendalian kegiatan lain agar tidak menggangu lahan pertanian yang subur. Pelestarian masalah tumpang tindih dengan kegiatan budidaya lainnya. b. Kawasan Peternakan Kabupaten Lingga untuk dikembangkan ternak kerbau dan kambing. Arah kebijakan pembangunan dan pengembangan peterakan adalah: Menyusun perencanaan pembangunan peternakan Memfasilitasi pengembangan pembangunan sentra-sentra produksi peternakan Menerapkan teknologi bidang peternakan yang tepat di setiap daerah Penyediaan sarana dan prasarana bidang peternakan Meningkatkan akses petani ternak terhadap pasar dan lembaga permodalan 4. Kawasan Perkebunan Sebagai kawasan yang pemanfaatannya cukup besar di daratan Provinsi Kepulauan Riau, yakni mencapai 126.035 Ha, alokasinya tersebar sebagian besar di Kabupaten Lingga dengan luas 61.533 Ha, Kabupaten Natuna 28.860 Ha, Kabupaten Karimun 16.888 Ha, Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang 9.829 Ha, dan 8.925 Ha di Kabupaten Kepulauan Anambas. Arahan kebijakan pengembangan kawasan adalah:
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 29

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Peremajaan dan perluasan areal tanaman perkebunan. Pengembangan wilayah-wilayah sentra produksi tanaman perkebunan sesuai dengan potensi/kesesuaian lahannya secara optimal. Pengembangan perkebunan. 5. Kawasan Perikanan Arahan pengembangan dan pengelolaan kawasan ini berupa: Memperluas jaringan pemasaran terhadap masukan-masukan perikanan, seperti bibit, obat-obatan dan pakan. Usaha-usaha ini dapat meningkatkan kualitas hasil kelautan dan perikanan; Meningkatkan mutu budidaya laut (mariculture), budidaya air tawar dan budidaya air payau; Mengusahakan adanya nilai tambah terhadap hasil-hasil kelautan dan perikanan, meliputi pengolahan menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi yang siap dikonsumsi; Konservasi terhadap kawasan kelautan dan perikanan; Meningkatkan dan memperkuat peranan sumberdaya manusia di bidang kelautan yang dilakukan dengan mendorong jasa pendidikan dan pelatihan di bidang kelautan khususnya bidang unggulan serta mengembangkan standar kompetensi sumberdaya manusia bidang kelautan; Meningkatkan peranan ilmu pengetahuan dan teknologi serta riset yang diarahkan bagi pengembangan sistem informasi kelautan yang handal. Rencana pengelolaan kawasan konservasi perairan memuat zonasi kawasan yang terdiri dari: a. Zona Inti Zona inti diperuntukkan bagi perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan, penelitian, dan pendidikan. b. Zona Perikanan Berkelanjutan Zona perikanan berkelanjutan diperuntukkan bagi perlindungan habitat dan populasi ikan, penangkapan ikan dengan alat dan cara yang ramah lingkungan, budidaya ramah lingkungan, pariwisata dan rekreasi, penelitian dan pengembangan, serta pendidikan. c. Zona Pemanfaatan Zona pemanfaatan diperuntukkan bagi perlindungan habitat dan populasi ikan, pariwisata dan rekreasi, penelitian dan pengembangan,
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 30

kawasan-kawasan

potensial

untuk

tanaman

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

serta pendidikan. d. Zona Lainnya Zona lainnya merupakan zona di luar zona inti, zona perikanan berkelanjutan, dan zona pemanfaatan yang karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu, yakni antara lain zona perlindungan, zona rehabilitasi dan sebagainya. Kawasan perikanan di Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari: a. Kawasan Perikanan Tangkap Rencana pengembangan perikanan tangkap di Provinsi Kepulauan Riau yaitu tersebar pada seluruh wilayah pesisir dan kelautan Provinsi Kepulauan Riau terutama pada kawasan perikanan tangkap yang potensial dan tidak melanggar batas Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) yang berada di wilayah perbatasan dengan negara lain. b. Kawasan Perikanan Budidaya Rencana pengembangan perikanan budidaya di Provinsi Kepulauan Riau adalah tersebar pada daerah yang memiliki potensi dikembangkanya kegiatan budidaya perikanan yaitu: Kabupaten Kepulauan Anambas: Pulau Jemaja, Matak dan Siantan Kabupaten Natuna: Pulau Subi, Serasan dan Buguran Barat Kabupaten Bintan: Pulau Siulung/Sirai, Mantang, Dendun, Telang, Pangkil, Mapur dan Pengujan. Kabupaten Lingga: Pulau Senayang, Tajur Biru, Rejai, Baran, Pancur, Marok Kecil, Marok Tua, P. Serang, Sungai Buluh Kabupaten Karimun: Pulau Keban, Bahan, Durai Kota Batam: Pesisir Pulau Batam, Pulau Rempang, Galang dan Pulau Galang Baru sekitar Kota Tanjungpinang: Pulau Senggarang, Tanjung Lanjut, Tanjung Madung, Dompak Luar, Pulau Lot 6. Kawasan Pertambangan Potensi pertambangan yang ada di provinsi Kepulauan Riau berupa hasil tambang batu granit, pasir dan timah di Kabupaten Karimun, hasil tambang bauksit dan batu granit di Kabupaten Bintan, Hasil tambang minyak dan gas di kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan Anambas, hasil biji besi, timah dan bauksit di Kabupaten Lingga. Arahan kebijakan ruang kawasan pertambangan yang dilakukan adalah: Penataan ruang untuk zona pertambangan Penyediaan sarana dan prasarana pendukung
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 31

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Mencari kawasan cadangan pertambangan sebagai kawasan potensial dan pengendalian kawasan bekas tambang. 7. Kawasan Perindustrian Kawasan industri yang telah berkembang saat ini terpusat di Kota Batam. Namun demikian rencana kawasan industri di Provinsi Kepulauan Riau dialokasikan Kabupaten di setiap kabupaten Ha di guna pemeretaan Bintan pertumbuhan dan Kota ekonomi, yang meliputi 12.505 Ha di Kabupaten Karimun, 12.228 Ha di Natuna, 9.659 Kabupaten Tanjungpinang, 8.305 Ha di Kota Batam, 1.842 Ha di Kabupaten Kepulauan Anambas, dan 1.683 Ha di Lingga, dengan jenis industri yang sesuai dengan kondisi dan potensi daerah masing-masing. Arahan kebijakan kawasan perindustrian di Provinsi Kepulauan Riau: Kota Tanjungpinang sebagai industri kecil dan rumah tangga. Kota Batam sebagai pusat pengembangan berbagai industri, termasuk diantaranya industri elektronik, logam dasar, kimia, makanan, dan tekstil. Kabupaten Bintan sebagai industri pariwisata. Kabupaten Karimun sebagai industri galangan kapal. Kabupaten Lingga sebagai industri penunjang kegiatan pertanian. Kabupaten Anambas sebagai Industri pengolahan hasil perikanan. Kabupaten Natuna sebagai kawasan industri pengolahan hasil pertanian, kehutanan, perikanan, dan kerajinan rakyat. 8. Kawasan Pariwisata Arahan pengembangan pada kawasan pariwisata adalah sebagai berikut: Penentuan dan ruang kawasan pariwisata agar Iebih menetapkan wilayah pengembangan pariwisata, baik di dalam kawasan lindung dan kawasan budidaya. Meningkatkan infrastruktur pariwisata untuk mendukung dan melengkapi akomodasi serta atraksi wisata yang ada sebagai upaya memperluas kesempatan kerja dan pendapatan asli daerah. Melanjutkan usaha pengembangan objek-objek wisata lainnya dan penataan ruang objek wisata serta promosi produk pariwisata. Produk wisata dalam menjaring pasar wisata. Pengembangan dan pelestarian budaya daerah terutama dengan memberdayakan nilainilai budaya melayu. pengembangan kepariwisataan sebagai bagian dari kegiatan
2 - 32

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

menggerakkan ekonomi masyarakat. Unit Pengembangan Wilayah D (Kabupaten Lingga) meliputi wilayah Kabupaten Lingga, yang terbagi menjadi 3 Unit Kawasan Wisata (UKW), yaitu: Unit Kawasan Wisata Lingga, memiliki fungsi utama untuk wisata sejarah dan agro wisata dengan wisata pendukungnya adalah wisata alam pegunungan dan wisata bahari. Unit Kawasan Wisata Singkep, memiliki fungsi utama sebagai pintu masuk wisatawan serta pusat transit wisatawan dengan kegiatan wisata adalah wisata alam dan wisata bahari. Unit Kawasan Wisata Senayang, memiliki fungsi utama adalah wisata bahari. 9. Kawasan Permukiman Secara umum kawasan permukiman terdiri atas: a. Kawasan Permukiman Perkotaan Arahan kebijaksanaan ruang kawasan permukiman kota adalah: Kawasan permukiman perkotaan secara teknis tidak berada pada kawasan yang aman dari kawasan rawan bencana. Penyediaan kawasan permukiman kota yang dapat menampung peningkatan penduduk di perkotaan. Pengaturan pembangunan kawasan perumahan (permukiman) di perkotaan sesuai dengan peraturan perumahan dan permukiman yang berlaku. Pengembangan kawasan permukiman kota yang tidak menyalahi peraturan perumahan dan permukiman yang berlaku. Pengendalian perkembangan dan distribusi penduduk serta distribusi penduduk pada kawasan potensial untuk pengembangan pemukiman dengan tetap memperhatikan daya dukung dan daya tampung lahan. b. Kawasan Permukiman Pedesaan Arahan kebijaksanaan ruang kawasan pemukiman pedesaan adalah: Kawasan permukiman pedesaan secara teknis tidak berada pada kawasan yang aman dari kawasan rawan bencana Pengembangan permukiman pedesaan yang mengutamakan akses menuju pusatpusat pertumbuhan desa Pengembangan permukiman pedesaan yang sehat dan layak huni

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 33

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

10. Kawasan Lainnya Kawasan lainnya dapat berupa sebagai berikut: Kawasan Militer Kawasan Pembangkit listrik Kawasan Pengolahan Limbah Kawasan Tempat Pembuangan Sampah Selain kawasan-kawasan tersebut diatas, kawasan lainnya dalam RTRWP Kepulauan Riau juga mengakomodir bagi peruntukan pusat pemerintahan, bandar udara, kegiatan penambangan beserta bekas-bekas tambang, serta kawasan-kawasan yang peruntukannya belum dapat ditentukan, tetapi memiliki peranan yang penting bagi daerah.
Gambar 2.3 Rencana Pola Ruang Gugusan Lingga dan sekitarnya

Sumber: RTRW Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008-2028

Dalam pengelolaan wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil, digunakan rencana a. zonasi yang dimaksudkan dan untuk menentukan arah penggunaan daya dukung sumberdaya, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Keserasian, keselarasan, keseimbangan dengan ekosistem, fungsi perlindungan, dimensi waktu, dimensi teknologi dan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 34

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

sosial budaya, serta fungsi pertahanan dan keamanan; b. c. Keterpaduan pemanfaatan berbagai jenis sumberdaya, fungsi, estetika lingkungan dan kualitas lahan pesisir; Kewajiban untuk mengalokasikan ruang dan akses masyarakat dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang mempunyai fungsi sosial dan ekonomi. Rencana pengembangan kawasan laut Provinsi Kepulauan Riau merupakan arahan pemanfaatan sumberdaya laut melalui pembagian kawasan laut yang meliputi kawasan pemanfaatan umum, kawasan konservasi, kawasan strategis nasional tertentu dan alur laut. Antara lain: 1. Kawasan Pemanfaatan Umum Kawasan pelabuhan, pemanfaatan dan pertanian, umum hutan, merupakan sebagai kawasan pariwisata, yang dapat dimanfaatkan diperuntukan pemukiman, budidaya,

pertambangan,

perikanan

perikanan tangkap, industri, infrastruktur umum dan zona pemanfaatan terbatas sesuai dengan karakteristik biogeofisik lingkungannya. 2. Kawasan Konservasi Kawasan konservasi laut daerah Lingga secara keseluruhan mempunyai luas 31.966 Ha, yang berlokasi di perairan sekitar Pulau Lingga dan Senayang. Pemanfaatan kawasan konsevasi laut diarahkan dan diprioritaskan untuk tujuan mendukung kegiatan perikanan berkelanjutan, kegiatan pariwisata bahari dan kegiatan lainnya secara lestari. 3. Kawasan Strategis Nasional Tertentu Kawasan Strategis Nasional Tertentu merupakan kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk zona pertahanan keamanan, situs warisan dunia, perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar. Bila ditinjau dari aspek makro kawasan, maka seluruh wilayah di Provinsi Kepulauan Riau merupakan kawasan strategis, mengingat lokasinya yang berbasatan dengan negara tetangga, serta wilayahnya yang terdiri dari pulau-pulau kecil. 4. Alur Laut Alur Laut dapat dimanfaatkan untuk alur pelayaran, alur sarana umum, dan alur migrasi ikan, serta pipa dan kabel bawah laut. a. Alur Pelayaran Selat Malaka-Singapura-Phillip, serta Laut Cina Selatan merupakan salah satu alur pelayaran terpenting di dunia dan dalam RTRWN ditetapkan sebagai Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Selat MalakaLAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 35

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Singapura-Phillip yang berada di sekitar gugus Pulau Karimun-BarelangBintan merupakan salah satu simpul pelayaran dunia terutama terkait dengan keberadaan Pelabuhan Singapura. Sementara itu, Selat Lampa yang berada di gugus Pulau Bunguran dimana ibukota Kabupaten Natuna berada, saat ini hanya melayani aktivitas pelayaran domestik, terutama untuk mobilitas penduduk. b. Kabel Bawah Laut Khusus di Selat Singapura, kabel bawah laut yang terpasang sebagian besar merupakan kabel yang menghubungkan antara Malaysia, Indonesia dan Singapura dengan Hongkong, Taiwan serta Jepang. Sebagian kecil lainnya adalah kabel laut yang menghubungkan Jakarta dengan Singapura melalui Selat Durian. c. Pipa Bawah Laut Pipa ini berfungsi sebagai penyalur gas alam dan minyak mentah dari tambang yang ada di sekitar Laut Natuna. Pipa-pipa ini sebagian besar berujung pada pengolahan gas dan minyak mentah yang ada di Singapura dan Pulau Sambu.
Gambar 2.4 Rencana Pola Ruang Laut Provini Kepulauan Riau

Sumber: RTRW Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008-2028 LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 36

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.3.1.3 SISTEM JARINGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH PESISIR (PRASARANA TRANSPORTASI) Sistem transportasi Provinsi Kepulauan Riau diarahkan untuk menunjang kegiatan ekonomi dan sosialbudaya penduduk, mencakup di dalamnya kegiatan pemerintahan, kegiatan perdagangan dan jasa, kegiatan industri, kegiatan pariwisata, kegiatan pertahanan keamanan, dan kegiatan-kegiatan utama perkotaan yang lainnya melalui pendekatan pengembangan sistem transportasi massal yang terintegrasi antarmoda. Rencana pengembangan sistem transportasi di Kepulauan Riau, terbagi atas: 1. Sistem Transportasi Darat Pengembangan jaringan transportasi untuk wilayah kepulauan diarahkan untuk mengintegrasikan dan mengkombinasikan moda yang ada sesuai wilayah kepulauan yaitu seperti antara transportasi darat, laut, penyeberangan, udara dan jalan. Rencana jaringan jalan Kabupaten Lingga yaitu kolektor primer 2 yang tersebar di beberapa ruas dan lokasi sebagai berikut: Sp. Limbung Musai Musai Sp. Keradin Sp. Keradin Bukit Harapan Sp. Budus Kadur Sp. Marok Tua Marok Tua Sp. Kuala Raya Kuala Raya Sp. Sei Buluh Sei Buluh : 8,40 km : 7,30 km : 7,00 km : 4,10 km : 24,70 km : 3,70 km : 0,55 km

Pengembangan jaringan lintas angkutan penyeberangan antar pulau jangka menengah Kabupaten Lingga adalah Lintas Penyeberangan Penarik Dabo/Jagoh (Lingga). 2. Sistem Transportasi Laut Pengembangan sistem transportasi laut sangat berkaitan erat dengan pergerakan barang dan penumpang terutama untuk menghubungkan setiap dengan kabupaten/kota pergerakan guna melayani dan kegiatan produksi dan untuk perdagangan. Rencana sistem jaringan transportasi laut berkaitan erat barang penumpang terutama menghubungkan setiap kabupaten/kota guna melayani kegiatan produksi dan perdagangan. Pelayanan Angkutan Laut di Kabupaten Lingga dibagi menjadi: Angkutan penumpang untuk domestik antar pulau (regional), guna
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 37

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

menghubungkan pulau-pulau yang ada di wilayah Kepulauan Riau, yaitu: Pelabuhan Dabo Singkep, Pelabuhan Jagoh, Pelabuhan Senayang, Pelabuhan Penuba, Pelabuhan Sei Buluh dan Sei Tenam. Angkutan barang yang bertaraf internasional, dilayani oleh Pelabuhan Dabo Singkep dan Pelabuhan Jagoh. Angkutan barang yang bertaraf domestik regional nasional, dilayani oleh Pelabuhan Dabo Singkep, Pelabuhan Jagoh, Pelabuhan Senayang, Pelabuhan Penuba, Pelabuhan Sei Buluh dan Sei Tenam. Angkutan barang yang bertaraf domestik antar pulau (regional), dilayani oleh Pelabuhan Dabo Singkep, Pelabuhan Jagoh, Pelabuhan Senayang, Pelabuhan Penuba, Pelabuhan Sei Buluh dan Sei Tenam. Klasifikasi Pelabuhan di Kabupaten Lingga dibagi menjadi: Pelabuhan Utama Pelabuhan Pengumpan Lokal : Dabo : Pelabuhan yang menghubungkan Pelabuhan Pengumpan Regional : Penuba, Sei Buluh, Sei Tenam pulau-pulau di sekitar Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau dilewati oleh Alur Laut Kepulauan I dan Alur Laut Kepulauan cabang I-A. Sejalan dengan pengembangan pelabuhan di Provinsi Kepulauan Riau dan dengan ditetapkannya Pulau Batam, Bintan dan Karimun sebagai kawasan FTZ. 3. Sistem Jaringan Transportasi Udara Sarana perhubungan udara di Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari Bandara Internasional Hang Nadim di Kota Batam sebagai Pusat Penyebaran Primer, Bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjung Pinang dan Bandara Ranai di Natuna sebagai Pusat Penyebaran Tersier, serta Badara Bukan Pusat Penyebaran yang terdiri dari dua Bandara Umum yaitu Bandara Sei bati di Tanjung Balai Karimun dan Dabo Singkep di Dabo dan satu Bandara Khusus Palmatak di Kepulauan Anambas. Di samping itu saat ini tengah dilakukan kajian untuk pembukaan rintisan bandara baru seperti di Tambelan dan Lagoi (Bintan) dan Jemaja (Kepulauan Anambas) serta Subi di Natuna. Sedangkan lapangan Helipad akan direncanakan dibuat di tempat strategis seperti pusat pemerintahan Tanjungpinang serta kota atau tempat terpencil di pulau terluar seperti Pulau Nipah dan Pulau Sekatung. Adapun jalur transportasi udara yang perlu diciptakan adalah beberapa jalur yang melewati pulau-pulau yang letaknya berjauhan.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 38

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Gambar 2.5 Rencana Jaringan Transportasi Laut Provini Kepulauan Riau

Sumber: RTRW Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008-2028

2.3.1.4 KAWASAN STRATEGIS PROVINSI Kabupaten Lingga sebagai salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Kepulauan Riau masih terus mengejar ketertinggalan pembangunan terhadap Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Kepulauan Riau. Permasalahan pembangunan yang saat ini dihadapi oleh Kabupaten Lingga antara lain adalah masih tingginya jumlah pengangguran dan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, masih minimnya sarana prasarana serta kurang meratanya pembangunan di perdesaan. Namun demikian, Kabupaten Lingga memiliki karakteristik Sumber Daya Alam yang khas baik yang dapat diperbaharui (Renewable Resources) maupun yang tidak dapat diperbaharui (Non Renewable Resources). Beragam potensi yang dimiliki Kabupaten Lingga tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga dapat mensejajarkan perkembangannya dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya yang ada di Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten Lingga direncanakan Kawasan Sentra Produksi Pertanian (KSPP) Bunda Tanah Melayu sebagai Lumbung Pangan Provinsi Kepulauan Riau, yang meliputi 2 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Lingga yaitu di Desa Bukit Langkap dan Keradin serta Kecamatan Lingga Utara tepatnya Desa Bukit Harapan dan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 39

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Linau. Oleh karena itu, berdasarkan potensi yang dimiliki tersebut terutama potensi pertanian dan perkebunan serta kehutanan, maka Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga menganggap perlu untuk menetapkan Kabupaten Lingga sebagai Kawasan Strategis Provinsi. Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi di Kabupaten Lingga tersebut juga terkait dengan pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun, dimana letak geografis Kabupaten Lingga yang berada pada peri-peri Kawasan Strategis Nasional tersebut memberikan peluang pemasaran yang sangat besar untuk produk pertanian, peternakan dan perkebunan dari Kabupaten Lingga. Potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh Kabupaten Lingga dapat dikembangkan menjadi salah satu sentra produksi produk pangan pertanian yang dapat menyangga dan meningkatkan kemandirian pangan di Provinsi Kepulauan Riau. Pihak Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berwenang untuk mengatur pengelolaan Kawasan Strategis Kabupaten Lingga, berupa: a. b. c. Penyediaan sarana dan prasarana yang menghubungkan akses sentrasentra produksi pertanian, perkebunan dan pariwisata; Melakukan pertanian; Pengawasan dan pengendalian terhadap penggunaan Kawasan Strategis Kabupaten Lingga merupakan wewenang Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. 2.3.2 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN LINGGA Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031 dapat ditinjau dari berbagai hal yang akan diuraikan sebagai berikut: 2.3.2.1 STRUKTUR WILAYAH PENGEMBANGAN Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Lingga terdiri dari pusat kegiatan sistem perkotaan dan pusat kegiatan sistem perdesaan. Rencana sistem perkotaan terdiri dari: 1. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Dalam sistem perkotaan nasional Daik Lingga dan Dabo Pulau Singkep ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) tahap pengembangan ke II dengan mendorong pengembangan kota-kota sentra produksi. Berkaitan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 40

Pembinaan

SDM

pengelolaan

pertanian

dan

hasil-hasil

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

dengan hal tersebut maka peran kedua kawasan perkotaan tersebut diharapkan dapat berperan: a. Sebagai simpul kedua kegiatan eksporimpor yang mendukung PKN di Batam b. Sebagai pusat kegiatan industri dan jasa serta pusat pengolahan /pengumpulan barang di wilayah kabupaten dan sekitarnya dan/atau melayani skala Provinsi Kepulauan Riau c. Sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten di sekitarnya 2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Pengembangan Pusat Kegiatan Lokal merujuk pada sistem perkotaan yang ditetapkan dalam RTRW Provinsi Kepulauan Riau. Dalam sistem perkotaan wilayah Provinsi Kepulauan Riau, Senayang dan Pancur (Lingga Utara) ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Dengan demikian diharapkan kedua kawasan perkotaan tersebut dapat berperan sebagai: a. Pusat pelayanan keuangan beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Lingga b. Pusat pengolahan/pengumpulan barang beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Lingga c. Simpul transportasi beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Lingga d. Jasa pemerintahan beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Lingga 3. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Pusat Pelayanan Kawasanmerupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa dan juga mendukung pengembangan Pusat Kegiatan Lokal direncanakan sebagai berikut: a. PPK Pulau Rejai (Kecamatan Senayang) Pengembangan Pulau Rejai diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan di bagian utara wilayah Kabupaten Lingga khususnya pada pusat pengembangan pulau-pulau kecil yang berbasis pada kelautan (wisata bahari, perikanan, pertanian) b. PPK Sungai Tenam (Kecamatan Lingga) Keberadaan pelabuhan Sungai Tenam diharapkan dapat menjadi simpul transportasi yang menghubungkan pulau-pulau kecil di bagian utara wilayah Kabupaten Lingga dengan Pulau Lingga maupun Pulau Singkep. Dengan demikian, diharapkan pada simpul transportasi tersebut
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 41

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

tumbuh perkotaan yang dapat menjadi Pusat Pelayanan Kawasan di wilayah sekitarnya yang berbasis pada pengembangan perdagangan jasa, pergudangan industri maritim, dan pemukiman baru c. PPK Marok Tua (Kecamatan Singkep Barat) Pengembangan Marok Tua sebagai Pusat Pelayanan Kawasan diharapkan dapat memperkecil kesenjangan pengembangan wilayah barat dan wilayah timur Pulau Singkep. Pengembangan Marok Tua diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kawasan dengan basis pengembangan sektor perkebunan, pertambangan, dan perikanan. Selain itu, pengembangan Marok Tua juga dipersiapkan untuk mendorong pengembangan transportasi ke Provinsi Jambi Rencana sistem perdesaan di wilayah Kabupaten Lingga merupakan penetapan pusat-pusat pelayanan lingkungan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) dikembangkan untuk mendukung pengembangan PPK yang ada di Kabupaten Lingga. 1. Pusat Pelayanan Lingkungan yang mendukung pengembangan PPK Pulau Rejai adalah sebagai berikut: a. PPL Cempa terletak di Kecamatan Senayang; b. PL Tajur Biru (Pulau Temiang) terletak di Kecamatan Senayang; dan c. PPL Pulau Benan (pendukung pelayanan wisata) terletak di Kecamatan Senayang. 2. Pusat Pelayanan Lingkungan yang akan dikembangkan untuk mendukung pengembangan PPK Sungai Tenam adalah: a. PPL Penarik terletak di Kecamatan Lingga; b. PPL Centeng (pelayanan wisata, agropolitan) terletak di Kecamatan Lingga Utara; c. PPL Sungai Pinang (pemerintahan) terletak di Kecamatan Lingga Timur; dan d. PPL Penuba (pelayanan perikanan) terletak di Kecamatan Selayar. 3. Pusat Pelayanan Lingkungan yang akan dikembangkan untuk mendukung pengembangan PPK Marok Tua adalah: a. PPL Kuala Raya terletak di Kecamatan Singkep Barat; b. PPL Jagoh terletak di Kecamatan Singkep Barat; dan c. PPL Marok Kecil terletak di Kecamatan Singkep Selatan.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 42

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Tabel II.2 Arahan Fungsi Sistem Pusat Kegiatan Wilayah Kabupaten Lingga Sistem Kota Kota Arahan Fungsi Pusat Pemerintahan Pusat Perdagangan dan jasa skala regional Pusat pengembangan industri hasil-hasil pertanian Pengembangan kegiatan pertanian/perkebunan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan pariwisata Pusat pelayanan transportasi laut skala regional dan lokal Perumahan/Permukiman Perkebunan Hutan fungsi lindung Pusat pertumbuhan perdagangan dan jasa skala regional Kegiatan pertanian/perkebunan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan pariwisata Pusat pelayanan transportasi udara skala regional Simpul transportasi laut skala nasional Perumahan/permukiman Hutan fungsi lindung Fungsi Penunjang Pemerintahan skala kabupaten Pendidikan: SD, SLTP, SMU, PT/Akademi Kesehatan: RSU Terminal Type C Pelabuhan Peribadatan Ekonomi: Pasar, perdagangan grosir, Fasilitas Olahraga dan Rekreasi Akomodasi: Hotel Berbintang Pemerintahan skala kecamatan Pendidikan: SD, SLTP, SMU, Kesehatan: RSU Pelabuhan Peribadatan Ekonomi: Pasar, perdagangan grosir Fasilitas Olahraga dan Rekreasi Akomodasi: Hotel Berbintang Terminal Tipe C Pendidikan: SD, SLTP, SMU Puskesmas dengan tempat perawatan Pelabuhan Peribadatan Ekonomi: Pasar, perdagangan grosir Fasilitas Olahraga dan Rekreasi Akomodasi: Hotel Melati Pendidikan: SD, SLTP, SMU, Puskesmas dengan tempat perawatan Pelabuhan Peribadatan Ekonomi: Pasar, perdagangan dan grosir Fasilitas Olahraga dan Rekreasi Akomodasi: Hotel Melati

Lingga (Daik)

PKW

Singkep (Dabo)

Senayang

Pusat koleksi dan distribusi hasil perikanan serta kelautan. Kawasan pertanian, perkebunan dan perikanan. Simpul pelayanan transportasi laut lokal. Kawasan pengembangan wisata bahari. Pengembangan kegiatan pertanian. Kawasan perikanan dan kelautan. Pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian. Simpul pelayanan transportasi laut lokal Permukiman/perumahan

PKL

Pancur

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 43

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Sistem Kota

Kota

Arahan Fungsi Perindustrian Transportasi Laut pariwisata perkebunan pertanian perikanan (minapolitan) perumahan dan pemukiman Konservasi alam Industri dan pergudangan Transporatasi laut Konservasi Peternakan (KUNAK1) perkebunan perumahan dan pemukiman Pariwisata Perumahan dan pemukiman Perikanan Minapolitan dan Sebagai simpul pelayanan transportasi laut lokal

Fungsi Penunjang Pendidikan: SD, SLTP, SMU Puskesmas dengan tempat perawatan Pelabuhan Peribadatan Ekonomi: Pasar, perdagangan dan grosir Fasilitas Olahraga dan Rekreasi Akomodasi: Hotel Melati Akomodasi: Hotel Melati Sub terminal Ekonomi: Pasar, perdagangan dan grosir Fasilitas Olahraga dan Rekreasi Akomodasi: Hotel Melati Peribadatan Pendidikan: SD, SLTP, SMU, Puskesmas dengan tempat perawatan Pendidikan: SD, SLTP, SMU Puskesmas dengan tempat perawatan Pelabuhan Peribadatan Ekonomi: Pasar, perdagangan dan grosir Fasilitas Olahraga dan Rekreasi Akomodasi: Hotel Melati Industri Kecil Konservasi Alam

Marok Tua (Kecamatan Singkep Barat)

PPK

Sungai Tenam (Kec. Lingga)

Pulau Rejai (Kec. Senayang)

Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 44

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.3.2.2 POLA RUANG WILAYAH KABUPATEN LINGGA Rencana pola ruang Kabupaten Linga terdiri dari: Kawasan Lindung, Kawasan Budidaya, dan Wilayah Laut dan Pulau-pulau Kecil. Kawasan lindung yang di wilayah Kabupaten Lingga yang dinyatakan sebagai kawasan non-budidaya adalah kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, yaitu daerah-daerah yang memiliki kendala fisik tertentu seperti lereng curam, rawan banjir, rawan longsor dan erosi, kawasan bergambut, dan kedalaman efektif agak dangkal hingga dangkal. Terdiri dari: 1. Kawasan Hutan Lindung Kawasan hutan lindung di Kabupaten Lingga ditetapkan di: a. kawasan hutan lindung Gunung Daik terletak di Kecamatan Lingga dengan luas kurang lebih 18.643 Ha; b. kawasan hutan lindung Gunung Muncung terletak di Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 3.195 Ha; c. kawasan hutan lindung sebagian Gunung Lanjut terletak di Kecamatan Singkep Pesisir dengan luas kurang lebih 2.118 Ha; d. d. kawasn hutan lindung di Kecamatan Singkep Selatan dengan luas kurang lebih 427 Ha; e. kawasan hutan lindung Gunung Lanjut terletak di Kecamatan Singkep Barat dengan luas kurang lebih 918 Ha; dan f. kawasan hutan lindung di Kecamatan Lingga Utara dengan luas kurang lebih 219 Ha; Total keseluruhan kawasan hutan lindung Kabupaten Lingga adalah kurang lebih 25.520 Ha. 2. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya Rencana pengembangan kawasan resapan air kurang lebih seluas 5.621 Ha dengan rincian sebagai berikut: a. Kawasan resapan air di Kecamatan Lingga seluas kurang lebih 1.592 Ha; b. Kawasan resapan air di Kecamatan Lingga Utara seluas kurang lebih 248 Ha meliputi kawasan resapan air Bukit Raja dan Bukit Meninjau; c. Kawasan resapan air Gunung Muncung di Kecamatan Singkep seluas kurang lebih 1.319 Ha; d. Kawasan resapan air sebagian Gunung Lanjut seluas kurang lebih 886 Ha;

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 45

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

e. Kawasan resapan air di Kecamatan Singkep Selatan seluas kurang lebih 98 Ha; dan f. Kawasan resapan air di Kecamatan Singkep Barat seluas kurang lebih 1.478 Ha meliputi kawasan resapan air Gunung Lanjut, Gunung Dadelang, dan Gunung Maninjang. 3. Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Lingga meliputi: kawasan sempadan pantai, kawasan sempadan sungai, kawasan sepadan kolong, kawasan sekitar mata air, kawasan hutan kota, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan perkotaan. a. Kawasan Sempadan Pantai Arahan kebijakan pemantapan kawasan sempadan pantai di Kabupaten Lingga: Pengamanan daerah pantai sekurang-kurangnya 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat; Pencegahan dilakukannya kegiatan budidaya di sepanjang sempadan pantai yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air, kondisi fisik dan dasar pantai serta alirannya; Pengendalian kegiatan yang telah ada di sekitar daerah sempadan pantai dan pengamanan daerah tepi pantai; Reklamasi pantai pada kawasan sempadan pantai diizinkan dengan menambah luasan kawasan sempadan pantai; Dalam hal permukiman terapung di tepi pantai, maka kegiatan tersebut tidak boleh merusak fungsi lindung. b. Kawasan Sempadan Sungai Arahan pengelolaan ruang sempadan sungai adalah sebagai berikut: Pengamanan Daerah Aliran Sungai; Pengamanan daerah sepanjang kiri-kanan sungai dengan lebar 50 meter; Mencegah kegiatan budidaya di kawasan tepi sungai yang dapat merusak kawasan tepi sungai; dan Pengendalian kegiatan yang telah ada di sekitar tepi sungai dan anak sungai. c. Kawasan Sempadan Mata Air Di Kabupaten Lingga terdapat sumber mata air yang menjadi air baku bagi kebutuhan air bersih yang terdapat di:
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 46

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Kecamatan Singkep Pesisir di Desa Kote; Kecamatan Singkep Selatan di Desa Marok Kecil; Kecamatan Lingga di Desa Merawang; Kecamatan Lingga Barat di Desa Penuba; Kecamatan Lingga Timur di Desa Keton, Desa Sungai Pinang, dan Desa Kudung; Kecamatan Lingga Utara di Desa Bukit Harapan, Desa Resun, Desa Limbung, dan Desa Teluk. d. Kawasan Sempadan Kolong Arahan kebijaksanaan pemantapan kawasan sekitar mata air dan kolong adalah: Pengamanan daerah sepanjang tepi mata air yang harus dilindungi adalah 50 meter sampai 100 meter dari muka air tertinggi air dan 100 meter dari sumber mata air; Pencegahan terhadap pembangunan budidaya non pertanian atau daerah terbangun dalam kawasan tepi mata air, kecuali berfungsi untuk menunjang fungsi lindung; dan 3. Pengendalian kegiatan budidaya yang merusak lingkungan yang pemindahannya dilakukan secara bertahap. e. Hutan Kota (Kebun Raya Lingga) Kawasan hutan Kota di Kabupaten Lingga akan dikembangkan sebagai Kebun Raya Kabupaten Lingga. Kebun Raya ini akan dikembangkan di Kecamatan Lingga di sekitar kawasan pusat pemerintahan Kabupetan Lingga dan Hutan Lindung Gunung Daik dengan luas 1.014 Ha. Selain itu, hutan kota juga akan dikembangkan di Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 79 Ha dan Kecamatan Singkep Pesisir dengan luas kurang lebih 233 Ha. f. Ruang Terbuka Hijau Perkotaan Berdasarkan luas kawasan permukiman perkotaan yang akan dikembangkan di Kabupaten Lingga adalah 5.767 Ha, maka rencana pengembangan RTH yang akan dikembangkan adalah seluas kurang lebih 2.723 Ha. 4. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya terdiri dari: a. Kawasan Cagar Alam Laut Arahan pemantapan kawasan ini antara lain:
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 47

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Pengelolaan kawasan cagar alam dan cagar alam laut sesuai perlindungannya masing-masing; Pengendalian kegiatan yang dapat merusak kawasan serta pengamanan kawasan. Rencana alokasi cagar alam dan cagar alam laut adalah: Kawasan cagar alam laut berada di pesisir dan lautan sebelah timur Pulau Sebangka Kecamatan Senayang; Kawasan tempat habitat penyu, diantaranya: Pulau Nyamuk, Pulau Bakau, Pulau Kentar, Pulau Pasir Keliling, Ana Ila (Kecamatan Senayang) dan Pulau Pasir Keliling (Kecamatan Lingga Timur). Kawasan Senayang: Perairan Pulau Pelandok Besar, Pulau Biole, Pulau Kereti Kecik; Perairan Pulau Ujung Batang, Pulau Anak Penggal, Pulau Penggal Kecil, Pulau Adu; Perairan Pulau Dua Besar, Pulau Dua Kecik, Pulau Temiang, Pulau Selat Pintu; Perairan Pulau Bidara Merodong, Pulau Duyung, Pulau, Pulau Medang; Perairan Pulau Illa Besar, Pulau Belabau, Pulau Bereh, Pulau Malang Ila, Pulau Mentigi Kukur, Pulau Berang; dan Perairan Pulau Cempa, Pulau Sikeling. b. Kawasan Suaka Alam Laut Arahan kebijaksanaan pemantapan kawasan ini adalah: Pengelolaan kawasan suaka alam sesuai perlindungannya masingmasing; Pelarangan dilakukanya kegiatan budidaya apapun, kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan tidak mengubah bentang alam, kondisi penggunaan lahan serta ekosistem alami yang ada. Luasnya wilayah laut Kabupaten Lingga dengan segala keanekaragaman sumberdaya lautnya perlu dijaga sedemikian rupa demi keberlangsungan hingga jangka waktu yang akan datang. Oleh sebab itu, ditetapkan Kawasan Konservasi Laut Lingga dan Kawasan perlindungan laut Core Map di Kecamatan Senayang meliputi Pulau Katanglingga, Pulau Reman, Pulau Buaya, Pulau Sikeling, Pulau Tapai, Pulau Ujungkayu, Pulau Belading dan Pulau Berai.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 48

habitat

lumba-lumba

yang

terdapat

di

Kecamatan

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

c. Kawasan Pantai Berhutan Bakau Arahan kebijakan pemantapan kawasan ini antara lain: Pengelolaan kawasan pantai berhutan bakau sesuai perlindungannya masing-masing. Pengendalian kegiatan yang dapat merusak kawasan dan pengamanan kawasan. Kawasan hutan bakau secara prinsipil dibina sebagai kawasan lindung. Dalam hal terjadi pemanfaatan untuk pembangunan maka ruang kawasan hutan bakau tidak boleh dikurangi tetapi hasil hutan bakau boleh dimanfaatkan secara terbatas. Pemanfaatan pariwisata alam. Rencana pengembangan pantai berhutan bakau di Kabupaten Lingga seluas kurang lebih 5.207 Ha pada masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut: Luas hutan bakau di Kecamatan Lingga kurang lebih 2 Ha Luas hutan bakau di Kecamatan Lingga Timur lebih kurang 19 Ha Luas hutan bakau di Kecamatan Lingga Utara kurang lebih seluas 412 Ha Luas hutan bakau di Kecamatan Senayang kurang lebih seluas 4.774 Ha. d. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan Berdasarkan kondisi eksisting terdapat situs peninggalan sejarah yang ditetapkan sebagai kawasan lindung cagar budaya adalah: Kawasan Damnah Kecamatan Lingga seluas kurang lebih 126 Ha Kawasan Pulau Mepar Kecamatan Linggaseluas kurang lebih 7 Ha Arahan pengembangan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan: Pemantapan kawasan cagar alam budaya dan ilmu pengetahuan sesuai dengan tujuan perlindungannya; Peningkatan pengelolaan cagar alam budaya dan ilmu pengetahuan yang telah ada, serta melakukan pelarangan kegiatan budidaya di kawasan tersebut, kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan tidak mengubah bentang alam, kondisi penggunaan alam serta ekosistem alami yang ada;

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 49

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap kegiatan budidaya yang telah ada agar tidak mengganggu fungsi pelestarian alam tersebut; Pengelolaan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan mengembangkan zona-zona ilmu pengetahuan, pariwisata dan pendidikan. 5. Kawasan Rawan Bencana Kawasan rawan bencana di Kabupaten Lingga meliputi: a. Kawasan Rawan Bencana Gerakan Tanah dan Longsor Kawasan rawan bencana gerakan tanah dan longsor yang teridentifikasi di Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut: Kecamatan Lingga di sekitar Desa Kelumu, Desa Mentuda, Desa Panggak Darat, Desa Mepar, Desa Merawang, Kelurahan Daik, dan Desa Panggak Laut; Kecamatan Lingga Timur di sekitar Desa Pekaka; Kecamatan Lingga Utara Sekitar Desa Bukit Harapan, Desa Resun, Desa Linau, dan Desa Limbung; dan Kecamatan Senayang disekitar Desa Rejai dan Kelurahan Senayang. b. Kawasan Rawan Bencana Banjir Kawasan pesisir di Pulau Lingga khususnya yang menjadi muara sungai yang berawal dari Gunung Daik merupakan kawan rawan bencana banjir apabila tidak dijaga kelestarian Gunung Daik. c. Kawasan Rawan Bencana Gelombang Pasang dan Abrasi Kawasan rawan bencana abrasi yang berpotensi menengah berada di sepanjang pantai selatan Pulau Singkep khususnya sepanjang pantai selatan Pulau Singkep dan kawasan sepanjang pantai Desa Berindat dan Desa Lanjut. 6. Kawasan Lindung Lainnya Kawasan lindung pulau-pulau kecil dengan luas kurang dari 10 Ha direncanakan di Kabupaten Lingga seluas lebih kurang 973 Ha, dengan rincian sebagai berikut: a. Kecamatan Lingga seluas lebih kurang 35 Ha b. Kecamatan Lingga Timur seluas lebih kurang 60 Ha c. Kecamatan Lingga Barat seluas lebih kurang 38 Ha d. Kecamatan Lingga Utara seluas lebih kurang 10 Ha e. Kecamatan Senayang seluas lebih kurang 714 Ha
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 50

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

f. Kecamatan Singkep seluas lebih kurang 2 Ha g. Kecamatan Singkep Pesisir seluas lebih kurang 11 Ha h. Kecamatan Singkep Selatan seluas lebih kurang 18 Ha i. Kecamatan Singkep Barat seluas lebih kurang 85 Ha
Gambar 2.6 Wilayah Rawan Bencana Kabupaten Lingga

Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

Rencana pola ruang kawasan budidaya, meliputi: 1. Kawasan Hutan Produksi Areal hutan produksi terbatas di Kabupaten Lingga direncanakan seluas kurang lebih 12.031 Ha dengan rincian sebagai berikut: a. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 1.131 ha;
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 51

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

b. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Singkep Pesisir dengan luas kurang lebih 540 ha; c. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Singkep Selatan dengan luas kurang lebih 187 ha; d. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Lingga dengan luas kurang lebih 1.307 ha; e. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Lingga Timur dengan luas kurang lebih 293 ha; f. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Lingga Barat dengan luas kurang lebih 319 ha; g. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Lingga Utara dengan luas kurang lebih 3.443 ha; h. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Senayang dengan luas kurang lebih 3.893 ha; dan i. kawasan peruntukan hutan produksi terbatas Kecamatan Singkep Barat dengan luas kurang lebih 918 ha. Sedangkan areal hutan produksi konversi yang dapat dikonversi di Kabupaten Lingga, direncanakan seluas kurang lebih 4.036 Ha dengan rincian sebagai berikut: a. kawasan peruntukan hutan produksi konversi Kecamatan Lingga Timur dengan luas kurang lebih 837 Ha; b. kawasan peruntukan hutan produksi konversi Kecamatan Lingga Utara dengan luas kurang lebih 2.832 Ha; dan c. kawasan peruntukan hutan produksi konversi Kecamatan Senayang dengan luas kurang lebih 367 Ha. 2. Kawasan Hutan Rakyat Hutan Rakyat (HTR) di Kabupaten Lingga akan dikembangkan dengan luas kurang lebih 7.697 Ha dengan rincian penyebaran sebagai berikut: a. kawasan peruntukan hutan rakyat di Kecamatan Lingga dengan luas kurang lebih 1.069 Ha; b. kawasan peruntukan hutan rakyat di Kecamatan Lingga Timur dengan luas kurang lebih 856 Ha; c. kawasan peruntukan hutan rakyat di Kecamatan Lingga Barat dengan luas kurang lebih 26 Ha; d. kawasan peruntukan hutan rakyat di Kecamatan Lingga Utara dengan luaskurang lebih 235 Ha;
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 52

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

e. kawasan peruntukan hutan rakyat di Kecamatan Senayang dengan luas kurang lebih 2.124 Ha; f. kawasan peruntukan hutan rakyat di Kecamatan Singkep Selatan dengan luas kurang 122 Ha; dan g. kawasan peruntukan hutan rakyat di Kecamatan Singkep Barat dengan luas kurang lebih 3.265 Ha. 3. Kawasan Peruntukan Pertanian Kawasan peruntukan pertanian, meliputi: a. Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan Luas lahan yang akan dikembangkan untuk LP2B di Kabupaten Lingga kurang lebih seluas 3.005 Ha. Rencana pengembangan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan di wilayah Kabupaten Lingga di Kecamatan Singkep dan Singkep Barat seluas kurang lebih 1.910 Ha, Selain pengembangan sawah khususnya di Kecamatan Lingga Timur direncanakan akan dikembangkan pertanian tanaman pangan lainnya, dengan luas kurang lebih 2.626 Ha. b. Kawasan Peruntukan Holtikultura Pengembangan kawasan pertanian holtikultura di Kabupaten Lingga direncanakan seluas kurang lebih 5.033 Ha c. Kawasan Peruntukan Perkebunan Rencana pengembangan kawasan perkebunan di Kabupaten Lingga meliputi areal seluas kurang lebih 114.300 Ha yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan. d. Kawasan Peruntukan Peternakan Rencana pengembangan kawasan peternakan berskala agribisnis di Kecamatan Senayang (Pulau Buaya dan Pulau Mabong) yang akan didorong sebagai kawasan peternakan terpadu (KUNAK) dan akan dilengkapi dengan sarana-prasarana pendukung pengembangan peternakan. Kawasan peternakan yang dialokasikan di Kabupaten Lingga secara keseluruhan adalah seluas kurang lebih 2.651 Ha. 4. Kawasan Peruntukan Perikanan Komoditas hasil kelautan dan perikanan yang dikembangkan merupakan komoditas unggulan yang terdiri dari rumput laut (seaweed), ikan dan biota laut ekonomis tinggi serta komoditi hasil budidaya perikanan. a. Kawasan Peruntukan Perikanan Tangkap Pengembangan peruntukan kawasan ikan tangkap di rencanakan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 53

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

sebagai berikut: Perairan pesisir untuk kegiatan perikanan tangkap dengan bagan, bubu atau perahu <10 GT penekanan pada kegiatan penangkapan udang, ikan pelagis dan ikan laut lainnya skala kecil pada jalur penangkapan 0 (nol)4 mil dari garis pantai; Perairan pesisir untuk kegiatan perikanan tangkap komersil untuk perahu/kapal ikan 10 (sepuluh)30 GT penekanan pada kegiatan penangkapan udang, ikan pelagis dan ikan laut lainnya skala komersil pada jalur penangkapan >4 mil dari garis pantai. Peruntukan perikanan tangkap berpotensi di Kecamatan Singkep Barat, Kecamatan Singkep, dan Kecamatan Lingga Timur (Pulau Pekajang). b. Perikanan Tangkap Perikanan Budidaya Laut di Kabupaten Lingga yang akan dikembangkan meliputi budidaya rumput laut, budidaya perikanan keramba jaring apung, dan keramba jaring tancap. Pengembangan perikanan budidaya laut direncanakan akan dikembangkan di: Kecamatan Senayang: perairan Pulau Benan, Pulau Mesanak, Pulau Dua Besar, Pulau Duyung, Pulau Panjang, PulauTekeres, Pulau Setumu, Tanjung Gantung, Pulau Kongki Besar, Pulau Penaah, Pulau Senayang, Pulau Tajur Biru, Pulau Rejai, Pulau Pongok, Pulau Talas, Pulau Kekek, Pulau Baran dan Pulau Cempa; Kecamatan Lingga Utara: perairan Kelurahan Pancur, Desa Tekuk, Desa Limbung dan Teluk Tengkis; Kecamatan Lingga: perairan Tanjung Lebok, Tanjung Datuk, Tanjung Buaya, Pulau Serang, dan Pulau Pulon; Kecamatan Lingga Barat: perairan Pulau Selayar dan Pulau Serang; Kecamatan Singkep Pesisir: perairan Pelalak Desa Lanjut dan Pulau Serang; Kecamatan Singkep Selatan: perairan Labuh Desa Marok Kecil, Teluk Baruk, dan Tanjung Napan. Kecamatan Singkep Barat: perairan Desa Marok Tua, Teluk Sekanah, Teluk Raya,Tanjung Pompun, Desa Sungai Buluh dan Desa Posek. Rencana pengembangan kawasan perikanan budidaya di Kabupaten Lingga di rencanakan seluas kurang lebih 1.104 Ha yang tersebar di wilayah Kecamatan Lingga Timur, Kecamatan Lingga Utara, Kecamatan Lingga Barat, Singkep Barat dan Kecamatan Senayang dengan rincian
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 54

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

sebagai berikut: Budidaya perikanan di Kecamatan Lingga Timur seluas kurang lebih 447 Ha. Budidaya perikanan di Kecamatan Lingga Barat seluas kurang lebih 150 Ha. Budidaya perikanan di Kecamatan Lingga Utara seluas kurang lebih 103 Ha. Budidaya perikanan di Kecamatan Senayang seluas kurang lebih 88 Ha. Budidaya perikanan di Kecamatan Singkep Barat seluas kurang lebih 316 Ha. c. Kawasan Peruntukan Pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Peruntukan pengolahan ikan akan diintegrasikan dengan pengembangan kawasan Minapolitan di Pulau Selayar dan Pulau Tajur Biru. Selain itu juga didorong pengembangan pada kawasan sebagai berikut: Tanjung Sembilang sampai Tanjung Irat di Kecamatan Singkep Barat di Pulau Singkep dapat dijadikan sentra pengolahan ikan laut dengan pusat pengolahan di Sungaikai. Tanjung Awak dan Sekanah di Kecamatan Lingga Utara di Pulau Lingga dengan pusat pengolahan di Sekanah dikarenakan dekat dengan PKL Pancur. Tanjung Pelak sampai Tanjung Datuk Kecamatan Lingga di Pulau Lingga. Selat Buaya Kecamatan Senayang di Pulau Sebangka. Pulau-pulau kecil diantaranya: Pulau Cempa dan Pulau Rejai. Rencana pengembangan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) terletak di: Tajur Biru Kecamatan Senayang; Rejai Kecamatan Senayang; Senayang Kecamatan Senayang; Singkep Kecamatan Singkep; PenubaKecamatan Lingga;dan Pulau Mas Kecamatan Singkep Barat.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 55

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

5. Kawasan Peruntukan Industri Pengembangan kawasan industri di Kabupaten Lingga diintegrasikan dengan rencana pengembangan pelabuhan serta mempertimbangkan ketersediaan bahan baku yang ada di Kabupaten Lingga. Rencana pengembangan kawasan industri di Kabupaten Lingga meliputi kawasan industri menengah, kawasan industri kecil dan kawasan industri mikro seluas kurang lebih 609 Ha. 6. Kawasan Peruntukan Pariwisata Dalam arahan pengembangan pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga terbagi menjadi 3 Unit Kawasan Wisata (UKW), yaitu: a. Unit Kawasan Wisata Lingga, memiliki fungsi utama untuk wisata sejarah dan agro wisata dengan wisata pendukungnya adalah wisata alam pegunungan dan wisata bahari b. Unit Kawasan Wisata Singkep, memiliki fungsi utama sebagai pintu masuk wisatawan serta pusat transit wisatawan dengan kegiatan wisata adalah wisata alam dan wisata bahari c. Unit Kawasan Wisata Senayang, memiliki fungsi utama adalah wisata bahari Pengembangan kawasan wisata dan fasilitas pendukungnnya secara khusus akan dikembangkan berdasarkan potensi wisata yang meliputi: a. Kawasan wisata pantai Serim di Kecamatan Lingga utara b. Kawasan wisata pantai Mempanak Kecamatan Lingga c. Kawasan wisata pantai Pasir Panjang Kecamatan Lingga d. Kawasan wisata pantai Tanjung Dua Kecamatan Lingga e. Kawasan wisata pantai Batu berdaun Kecamatan Singkep f. Kawasan wisata pantai Sergang Kecamatan Singkep g. Kawasan wisata pulau Serak Kecamatan Singkep Barat h. Kawasan wisata Pulau Berhala Kecamatan Singkep i. Kawasan wisata Pulau Benan dan pulau-pulau sekitarnya di Kecamatan Senayang Luas kawasan pariwisata yang akan dikembangkan untuk mendukung struktur perekonomian Kabupaten Lingga pada masa yang akan datang kurang lebih seluas 2.447 Ha. Obyek wisata buatan yang terdapat di Kabupaten Lingga meliputi: a. Pasar Tradisional Pasar Tradisional Modern, Kelurahan Daik Kecamatan Lingga
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 56

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Pasar Tradisional Perkotaan, Kelurahan Duara Kecamatan Lingga Utara Pasar Tradisional Perkotaan, Kelurahan Dabo Kecamatan Singkep Pasar Tradisional Perkotaan, Kelurahan Raya Kecamatan Singkep Barat Pasar Tradisional Perdesaan, Kelurahan Senayang Kecamatan Senayang Pasar Tradisional Perkotaan, Marok Tua Kecamatan Singkep Barat b. Botanical Garden di Pulau Bakung PulauBakung di Kecamatan Senayang, dengan mengkonversi hutan bakau/mangrove dan menambahkan flora fauna yang mendukung; Perlu perencanaan/masterplan dan studi kelayak terlebih dahulu; Menyediakan infrastruktur penunjang. c. Kawasan Agropolitan terintegrasi dengan kondisi dan karakteristik perdesaan (Wisata Pendidikan) Kecamatan Lingga Utara dan Lingga: kawasan agropolitan Bukit Harapan, Linau,Kerandin, dan Bukit Langkap; Kecamatan Singkep Barat: Kawasan Agropolitan Santel Lambuk Maroktua dan Kuala Raya. d. Kawasan Minapolitan (Wisata Pendidikan) Tanjung Sembilang sampai Tanjung Irat di Kecamatan Singkep Barat di Pulau Singkep; Tanjung Awak dan Sekanah di Kecamatan Lingga Utara di Pulau Lingga; Tanjung Pelaka sampai Tanjung Datuk Kecamatan Lingga di Pulau Lingga; Selat Buaya Kecamatan Senayang di Pulau Sebangka. e. Kawasan KUNAK (Wisata Pendidikan) Pulau Lingga: Mentuda (Kecamatan Lingga); Pulau Singkep: Tanjung Buku (Kecamatan Singkep Barat); Pulau Sebangka: Tanjung Gantur(Kecamatan Senayang). f. Wisata Kuliner 7. Kawasan Peruntukan Permukiman Pengembangan kawasan permukiman meliputi permukiman perkotaan dan permukiman pedesaan.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 57

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

a. Kawasan Permukiman Perkotaan Pengembangan kawasan permukiman perkotaan di wilayah Kabupaten Lingga sampai dengan akhir tahun perencanaan seluas kurang lebih 5.767 Ha yang tersebar di wilayah Kecamatan Lingga, Kecamatan Lingga Utara, Kecamatan Singkep, Kecamatan Singkep Pesisir, Kecamatan Singkep Barat, dan Kecamatan Senayang, dengan rincian sebagai berikut: Rencana permukiman perkotaan di Kecamatan Lingga di Kota Daik dan Kota Baru Sungai Tenam seluas kurang lebih 3.193 Ha. Rencana permukiman perkotaan di Kecamatan Singkep di Dabo seluas kurang lebih 1.742 Ha. Rencana permukiman perkotaan di Kecamatan Singkep Pesisir seluas kurang lebih 77 Ha. Rencana permukiman perkotaan di Kecamatan Lingga Utara di Pancur seluas kurang lebih 162 Ha. Rencana permukiman perkotaan Kecamatan Senayang dan Rejai di Senayang dan Pulau Sebangka seluas kurang lebih 517 Ha. Rencana permukiman perkotaan di Kecamatan Singkep Barat di Marok Tua dan Jagoh seluas kurang lebih 76 Ha. b. Kawasan Permukiman Pedesaan Pengembangan permukiman pedesaan di Kabupaten Lingga sampai dengan akhir tahun perencanaan dikembangkan seluas kurang lebih 5.790 Ha yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan. Penyebaran permukiman pedesaan direncanakan sebagai berikut: Kecamatan Lingga: Desa Pekajang, Desa Selayar, Desa Penuba, Desa Kelumu, Desa Mepar, Desa Mentuda, Desa Kelombok, dan Desa Musai dengan luas kurang lebih 128 Ha. Kecamatan Lingga Timur: Desa Kerandin, Desa Pekaka, Desa Keton, Desa Sungai Pinang, Desa Bukit Langkap dan Desa Kudung dengan luas kurang lebih 897 Ha. Kecamatan Lingga Utara: Desa Sekanah, Desa Limbung, Desa Resun, Desa Bukit Harapan, Desa Linau dan Desa Teluk dengan luas kurang lebih 1.069 Ha. Kecamatan Lingga Barat: Desa Penuba dan Desa Selayar dengan luas kurang lebih 43 Ha.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 58

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Kecamatan Singkep: Desa Marok Kecil, Desa Batu Berdaun, dan Desa Tanjung Harapan dengan luas kurang lebih 7 Ha. Kecamatan Singkep Pesisir: Desa Berindat, Desa Lanjut, Desa Kota, dan Desa Sedamai dengan luas kurang lebih 380 Ha. Kecamatan Singkep Selatan: Desa Marok Kecil dan Desa Berhala dengan luas kurang lebih 861 Ha. Kecamatan Singkep Barat: Desa Marok Tua, Desa Sungai Buluh, Desa Kuala Raya, Desa Bakong, Desa Posek, Desa Jagoh dan Desa Sungai Raya dengan luas kurang lebih 827 Ha. Kecamatan Senayang: Desa Mamut, Desa Rejai, Desa Pasir Panjang, Desa Temiang, Desa Pulau Medang, Desa Tanjung Kelit, Desa Batu Belubang, Desa Pulau Batang, Desa Mesanak, dan Desa Benan dengan luas kurang lebih 863 Ha. 8. Kawasan Peruntukan Lainnya Kawasan lainnya adalah kawasan yang peruntukan dan pemanfaatan ruangnya berupa: Kawasan Pertahanan dan Kawasan Pusat Pemerintahan. a. Kawasan Pusat Pemerintahan Kawasan perkantoran pemerintah dikembangkan untuk menampung fungsi pelayanan masyarakat dan pengembangan kegiatan pemerintahan. Pengembangan perkantoran pemerintah di Kabupaten Lingga dikembangkan di Daik dengan luas lahan kurang lebih 121 Ha. b. Kawasan Pertahanan dan Fasilitas Pertahanan dan Keamanan Kawasan militer Lanal merupakan kawasan khusus untuk kepentingan pertahanan dan keamanan karena didalamnya terdapat berbagai instalasi penting. Dengan demikian, maka kawasan ini perlu ditetapkan sebagai kawasan khusus. Adapun kawasan pertahanan negara di Kabupaten Lingga meliputi: Lanal terletak di Kecamatan Singkep dengan luas lahan kurang lebih 3 Ha; Polres terletak di Kecamatan Singkep dengan luas kurang lebih 2 Ha; dan Kodim terletak di Kecamatan Lingga dengan luas kurang lebih 2 Ha.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 59

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Gambar 2.7 Rencana Pola Ruang Darat Kabupaten Lingga

Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

Dalam pengelolaan wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil, digunakan rencana a. zonasi yang dimaksudkan dan untuk menentukan arah penggunaan daya dukung sumberdaya, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Keserasian, keselarasan, keseimbangan dengan ekosistem, fungsi perlindungan, dimensi waktu, dimensi teknologi dan sosial budaya, serta fungsi pertahanan dan keamanan; b. c. Keterpaduan pemanfaatan berbagai jenis sumberdaya, fungsi, estetika lingkungan dan kualitas lahan pesisir; Kewajiban untuk mengalokasikan ruang dan akses masyarakat dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang mempunyai fungsi sosial dan ekonomi.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 60

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Pengelolaan wilayah laut tetap mengikuti aturan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, dimana pengelolaan kawasan 0 (nol) sampai dengan 4 (empat) mil laut merupakan wewenang kabupaten/kota, 4 (empat) sampai dengan 12 (dua belas) mil laut menjadi kewenangan provinsi dan diatas 12 (dua belas) mil laut merupakan kewenangan pemerintah pusat. Adapun rencana pola ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut: 1. Kawasan Pemanfaatan Umum Pemanfaatan ruang dan sumberdaya di kawasan pemanfaatan umum dilakukan dalam rangka peningkatan nilai dan optimalisasi sumberdaya yang ada bagi kepentingan masyarakat, baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi: a. Sektor pariwisata berupa pariwisata bahari yang hampir terdapat di seluruh wilayah Kabupaten Lingga, baik yang terletak di sepanjang pantai, di pulau-pulau kecil bahkan di tengah lautan. b. Sektor perikanan, baik berupa budidaya laut maupun perikanan tangkap. Pada masa yang akan datang, sektor perikanan diharapkan bukan hanya sebagai salah satu sektor unggulan, melainkan menjadi leading sector bagi pembangunan dan perekonomian di Kabupaten Lingga. Oleh sebab itu, dalam pemanfaatan umum ruang laut akan didominasi oleh kegiatan sektor perikanan, sedangkan pemanfaatan bagi sektor lainnya tetap dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan ekosistem laut bagi perikanan. c. Industri maritim berupa industri galangan kapal. 2. Kawasan Konservasi Luasnya wilayah laut Kabupaten Lingga dengan segala keanekaragaman sumberdaya lautnya perlu dijaga sedemikian rupa demi keberlangsungan hingga jangka waktu yang akan datang. Oleh sebab itu, ditetapkan Kawasan Konservasi Laut Lingga dan Kawasan perlindungan laut Core Map, adalah sebagai berikut: a. Kecamatan Senayang : Pulau Katanglingga, Pulau Reman, Pulau Buaya, Pulau Sikeling, Pulau Tapai, Pulau Ujungkayu, dan Pulau Belading. b. Kecamatan Lingga Utara: Pulau Berai. Kawasan Konservasi Laut Daerah Lingga (KKLD) secara keseluruhan mempunyai luas 419.134,75 Ha, yang berlokasi di perairan sekitar Pulau Lingga dan pulau-pulau di Senayang terutama di kawasan Desa Limbung,
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 61

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Desa Mamut, Desa Sekanah, Desa Benan, Desa Tajur Biru, Desa Rejai, Desa Berjung dan Desa Penaah. Rencana alokasi Cagar alam dan Cagar alam laut adalah: a. Kawasan Cagar alam laut berada di Pesisir dan lautan sebelah timur Pulau Sebangka Kecamatan Senayang b. Kawasan tempat habitat penyu, diantaranya: Pulau Nyamuk, Pulau Bakau, Pulau Kentar, Pulau Pasir Keliling, Anak Ila di Kecamatan Senayang. c. Kawasan Habitat Lumba-lumba, diantaranya di perairan: Pulau Abang Kecil, Pulau Medang, Pulau Tekoleh, Pulau Cempa, Pulau Sikeling (Kecamatan Senayang), Pulau Berang, Tanjung Lundang (Kecamatan Lingga Utara). 3. Alur Laut Alur pelayaran adalah bagian dari ruang lalu lintas laut yang alami maupun buatan yang dari segi kedalaman, lebar dan hambatan pelayaran lainnya dianggap aman untuk dilayari. Alur Laut dapat dimanfaatkan untuk alur pelayaran, alur sarana umum, dan alur migrasi ikan, serta pipa dan kabel bawah laut.
Tabel II.3 Rencana Alur Pelayaran Laut Kabupaten Lingga No 1 Lokasi Sei Tenam Kecamatan Lingga Rute Cargo 1. Singapura 2. Tj Pinang 3. Jambi 4. Jakarta Penuba-Singapura 1. Sai Buluh-Jambi 2. Sai Buluh- Jakarta 3. sai buluh-Cirebon Penarik Jagoh Tj Jabong Jambi 1. Pengambil-Jambi 2. Pengambil - Jakarta 3. Pengambil -Cirebon Lingga - Tj Pinang-Batam - Jakarta Cirebon Tj Buton-Jagoh-Tj Kelit-Rejai-Pulau
2 - 62

Jagoh Kecamatan Singkep Barat Penuba Kecamatan Lingga Sai Buluh Kecamatan Singkep Barat Penarik Kecamatan Lingga (Roro) Pengambil Singkep Barat (rencana Pembangunan) Dabo Kecamatan Singkep

Penumpang 1. Singapura 2. Tj Pinang 3. Jambi 4. Jakarta Jagoh-Tj Jabong Jambi

Penarik Jagoh Tj Jabong Jambi

Tj Buton (Kecamatan Lingga)

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

No

Lokasi

Rute Cargo Penumpang Bukit-Tj Pinang-Batam Senayang-Pulau Medang-Tj Pinang PP Jagoh- Tj Buton- Sei Tenam- Cempa- Tj Pinang Cempa- Tj Pinang

Senayang (Kecamatan Senayang) Jagoh (Kecamatan Singkep Barat) Pulau Cempa (Kecamatan Senayang)
Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

Gambar 2.8 Rencana Pola Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 63

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.3.2.3 SISTEM JARINGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH PESISIR (PRASARANA TRANSPORTASI) Rencana sistem jaringan transportasi darat dikembangkan untuk melayani pergerakan dalam pulau-pulau yang akan dikembangkan sebagai pulau permukiman. Dalam kaitannya dengan kondisi geografis Kabupaten Lingga sebagai kabupaten kepulauan maka pengintegrasian antara moda transportasi darat dan moda transportasi laut menjadi sangat penting untuk menciptakan efisiensi pergerakan ke seluruh wilayah Kabupaten Lingga, meliputi: 1. Rencana Sistem Jaringan Transportasi Darat Pengembangan jaringan jalan dititikberatkan pada pulau-pulau besar yang akan dikembangkan sebagai pulau permukiman yang meliputi Pulau Lingga, Pulau Singkep dan pulau lainnya (Pulau Senayang, Pulau Bakung, Pulau Sebangka, Pulau Temiang, Pulau Cempa, dan Pulau Selayar). Pengembangan jaringan jalan yang memiliki fungsi sebagai Jalan Strategis Nasional, Jalan Kolektor Primer2 dan Jalan Kolektor Primer 4 dan Jalan Lokal Primer serta Jalan Sistem Sekunder. Rencana pengembangan jembatan antar pulau di Kabupaten Lingga meliputi: a. Rencana pembangunan Jembatan Pulau Lingga Pulau Selayar Pulau Lipan Pulau Singkep dimaksudkan untuk meningkatkan akses transportasi antara Pusat Kegiatan Wilayah Daik di Pulau Lingga dengan Pusat Kegiatan Wilayah Dabo di Pulau Singkep. b. Rencana jembatan Pulau Lingga Pulau Talas Pulau Mentutu Pulau Benut Kecil Pulau Benut Besar - Pulau Gajah Pulau Krakap - Pulau Bakung Pulau Tapai, Pengembangan jembatan antar pulau ini dimaksudkan untuk membuka akses menuju Pulau Bakung. c. Rencana jembatan Pulau Senayang dan Pulau Sebangka, dimaksudkan untuk membuka pusat pengembangan kearah Pulau Sebangka sehingga terjadi persebaran kegiatan/aktifitas. Terminal yang akan dikembangkan di Kabupaten Lingga adalah terminal tipe C dengan fungsi untuk melayani kendaraan umum angkutan kota danangkutan pedesaan. meliputi: a. Pulau Lingga Daik, Penarik terpadu dengan pengembangan pelabuhan Penarik, Sungai Pinang; dan Sungai Tenam terpadu dengan pengembangan pelabuhan di Sungai Tenam.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 64

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

b. Pulau Singkep Dabo, Marok Tua, dan Jagoh terpadu dengan pengembangan Pelabuhan Jagoh. Rencana Jaringan Sungai, Danau, dan Penyeberangan di Kabupaen Lingga meliputi: a. Rencana Pengembangan Jaringan Angkutan Penyeberangan Lintas Provinsi Menghubungkan Provinsi Kepulauan Riau dengan provinsi lainnya yang ada di Kabupaten Lingga adalah Jagoh Kuala Tungkal (Jambi). b. Rencana Pengembangan Jaringan Angkutan Penyeberangan dalam Provinsi Diusulkan untuk mengembangkan angkutan penyeberangan lintas kabupaten dalam provinsi yang menghubungkan Kabupaten Lingga dengan Batam maupun Karimun melalui rencana pengembangan pelabuhan peyeberangan di Sungai Tenam. c. Lintasan tersebut meliputi: Jagoh Batam dan Jagoh Tanjungpinang. Rencana Pengembangan Jaringan Angkutan Penyeberangan dalam Kabupaten Angkutan penyeberangan dalam kabupaten yang akan dikembangkan adalah lintasan Penarik Jagoh. d. Rencana Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Rencana pengembangan pelabuhan penyeberangan di Kabupaten Lingga direncanakan di Pelabuhan Jagoh (Kecamatan Singkep Barat) dan Pelabuhan Penarik (Kecamatan Lingga). Rencana pengembangan jaringan angkutan penumpang Kabupaten Lingga meliputi: a. Rencana pengembangan jaringan angkutan penumpang di Pulau Lingga: Daik Panggak laut Nerekeh Musai Simpang Linau - Bukit Langkap Simpang Kerandin Limbung Bukit Harapan Simpang Centeng Simpang Pekaka Simpang Senempek - Sungai Pinang; Daik Panggak Darat Simpang Limbung Simpang Resun Sungai Tenam; Daik Simpang Budus Kado - Penarik; Daik Sungai besar - Pancur Sungai Tenam; dan Daik - Penarik Mentunda- Sungai Tenam. b. Rencana pengembangan jaringan angkutan penumpang di Pulau Singkep:
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 65

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Dabo Berindat Persing Sedamai Lanjut Kote Pelakak Jagoh; Jagoh Kuala Raya Marok Tua; Dabo Simpang Air merah Marok Tua; Dabo Tanjung Kruwing - Marok Kecil;dan Dabo Kuala Raya Tinjul - Cukas - Marok Tua.
Gambar 2.9 Rencana Sistem Transportasi Darat Kabupaten Lingga

Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

2. Rencana Sistem Jaringan Transportasi Laut Rencana pengembangan transportasi laut Kabupaten Lingga memiliki peranan yang sangat penting mengingat kondisi geografis Kabupaten Lingga. Rencana pengembangan transportasi laut meliputi tatanan kepelabuhan dan alur pelayaran.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 66

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

a.

Tatanan Kepelabuhan Pelabuhan yang akan dikembangkan di Kabupaten Lingga meliputi pelabuhan umum dan pelabuhan peruntukan lainnya. Pelabuhan umum meliputi pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal.Sedangkan pelabuhan peruntukan lainnya meliputi pelabuhan perikanan. Rencana pengembangan pelabuhan pengumpul meliputi: Pelabuhan Marok Tua terletak di Kecamatan Singkep Barat Pelabuhan Sungai Buluh terletak di Kecamatan Singkep Barat Pelabuhan Sungai Tenam terletak di Kecamatan Lingga Rencana pengembangan pelabuhan pengumpan meliputi: Pelabuhan Tanjung Buton terletak di Kecamatan Lingga Pelabuhan Pekajang terletak di Kecamatan Lingga Timur Pelabuhan Penuba terletak di Kecamatan Selayar Pelabuhan Pancur terletak di Kecamatan Lingga Utara Pelabuhan Berhala terletak di Kecamatan Singkep Selatan Pelabuhan Tajung Kelit terletak di Kecamatan Senayang Pelabuhan Rejai terletak di Kecamatan Senayang Pelabuhan Benan terletak di Kecamatan Senayang Pelabuhan Cempa terletak di Kecamatan Senayang Pelabuhan Medang terletak di Kecamatan Senayang Pelabuhan Senayang terletak di Kecamatan Senayang Pelabuhan Tajur Biru terletak di Kecamatan Senayang Pelabuhan Jagoh terletak di Kecamatan Singkep Barat Pelabuhan Penarik terletak di Kecamatan Lingga Rencana pengembangan pelabuhan pengumpan lokal terletak di Pulau Mas Kecamatan Singkep Barat.

b. Alur Pelayaran Pelayanan transportasi laut untuk penumpang dan barang di Kabupaten Lingga merupakan transportasi regional yang menghubungkan antar kabupaten didalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau maupun yang menghubungkan dengan wilayah di luar Provinsi Kepulauan Riau serta didalam wilayah Kabupaten Lingga. Alur Pelayaran Internasional Pelayanan transportasi laut internasional yang ada di Kabupaten Lingga akan dilayani oleh Pelabuhan Dabo Singkep dan Pelabuhan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 67

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Jagoh yang melayani rute Lingga Singapura. Sedangkan rute Lingga Malaysia akan dilayani dari Pelabuhan Jagoh. Alur Pelayaran Nasional Berdasarkan arahan RTRW Provinsi Kepulauan Riau, pelayanan transportasi laut regional dalam provinsi dan lintas provinsi (baik penumpang dan barang) di Kabupaten Lingga akan dilayani oleh Pelabuhan Dabo Singkep, Pelabuhan Jagoh, Pelabuhan Senayang, Pelabuhan Penuba, Pelabuhan Sungai Buluh dan Sungai Tenam yang akan dikembangkan meliputi: - Lingga Jambi (Kuala Tungkal dan Muara Sabak) dilayani dari Pelabuhan Dabo, Pelabuhan Daik; Pelabuhan Berhala. - Lingga Bangka Belitung (Belinyu) dilayani dari Pelabuhan Senayang, Pelabuhan Sungai Tenam, Pelabuhan Dabo, Pelabuhan Pekajang. - Lingga Jakarta (Tanjung Priok) dilayani dari Pelabuhan Dabo. - Lingga Sumatera Utara (Belawan) dilayani dari Pelabuhan Dabo. - Lingga Jawa Barat (Cirebon) dilayani dari Pelabuhan Daik. Alur Pelayaran Regional Pelayanan angkutan laut antarKabupaten dalam wilayah provinsi akan dilayani oleh Pelabuhan Sungai Tenam, Pelabuhan Jagoh, Pelabuhan Penuba, Pelabuhan Sungai Buluh, Pelabuhan Penarik, Pelabuhan Pengambil, Pelabuhan Dabo, Pelabuhan Tanjung Buton, Pelabunan Senayang, Pelabuhan Jagoh dan pelabuhan Pulau Cempa yang akan melayani angkutan laut Kabupaten Lingga. - Lingga Tanjungpinang dilayani dari Pelabuhan Tanjung Buton, Pelabuhan Jagoh, Pelabuhan Tanjung Kelit, Pelabuhan Rejai, Pelabuhan Benan, Pelabuhan Cempa, Pelabuhan Senayang, Pelabuhan Tajur Biru, Pelabuhan Dabo; dan - Lingga Batam dilayani dari Pelabuhan Tanjung Buton, Pelabuhan Jagoh, Pelabuhan Tanjung Kelit, Pelabuhan Rejai, Pelabuhan Benan, Pelabuhan Cempa, Pelabuhan Senayang, Pelabuhan Tajur Biru, Pelabuhan Dabo, Pelabuhan Sungai Tenam. dalam wilayah

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 68

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Gambar 2.10 Rencana Sistem Transportasi Laut Kabupaten Lingga

Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

3. Rencana Sistem Jaringan Transportasi Udara Transportasi udara yang akan dikembangkan di Kabupaten Lingga dilakukan dengan mengoptimalkan dan mengembangkan bandara Dabo Singkep. Dalam sistem kebandaraan di Provinsi Kepulauan Riau, Bandara Dabo Singkep direncanakan sebagai bandara pengumpan (Spoke) yang akan terhubung dengan bandara pengumpul (hub) dengan skala pelayanan primer di Batam, bandara sekunder di Sumatera Selatan maupun dengan bandara tersier di Jambi dan Tanjungpinang. Untuk jangka panjang 20 tahun ke depan, direncanakan akan dibangun bandara baru terletak di Linau (Pulau Lingga) dalam rangka untuk meningkatkan aksesibilitas ke dan dari Kabupaten Lingga, guna mendukung kegiatan pariwisata.
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 69

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

2.3.2.4 KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN LINGGA Kawasan strategis yang akan ditetapkan di Kabupaten Lingga adalah kawasan hidup. Berdasarkan kajian RTRW Provinsi Kepulauan Riau, kawasan strategis provinsi di Kabupaten Lingga meliputi: 1. 2. Kawasan strategis sentra produksi pertanian Desa Bukit Langkap dan Kerandin Kecamatan Lingga. Kawasan strategis sentra produksi pertanian Desa Bukit Harapan dan Linau Kecamatan Lingga Utara. Beberapa pertimbangan provinsi untuk menetapkan kedua kawasan tersebut sebagai kawasan strategis adalah: 1. Kabupaten Lingga memiliki karakteristik sumber daya alam yang khas baik yang dapat diperbaharui (renewable resources) maupun yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources). Kabupaten Lingga direncanakan sebagai Kawasan Sentra Produksi Pertanian (KSPP) Bunda Tanah Melayu yang berfungsi sebagai Lumbung Pangan Provinsi Kepulauan Riau. 2. Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi di Kabupaten Lingga tersebut terkait dengan pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun, dimana letak geografis Kabupaten Lingga yang berada pada peri-peri Kawasan Strategis Nasional tersebut memberikan peluang pemasaran yang sangat besar untuk produk pertanian, peternakan dan perkebunan dari Kabupaten Lingga. Beberapa isu strategis wilayah Kabupaten Lingga yang perlu diperhatikan dalam penetapan kawasan strategis kabupaten antara lain: 1. Kabupaten lingga terdiri dari pulau-pulau kecil, 3 pulau besar yang potensial untuk dikembangkan (Pulau Lingga, Pulau Singkep, Pulau Sebangka) memiliki daya dukung yang terbatas, khususnya ketersedian sumberdaya air. 2. Kabupaten Lingga merupakan kabupaten baru yang sedang berkembang. Percepatan pengembangan wilayah sangat dipengaruhi oleh aksesibilitas dan ketersediaan infrastruktur untuk mendukung pengembangan potensi sumberdaya alam yang ada di wilayah Kabupaten Lingga. 3. Kabupaten Lingga memiliki sejarah yang panjang terkait dengan perkembangan kerajaan Melayu. Bukti penting bahwa Lingga merupakan
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 70

strategis

dari

sudut

pertumbuhan

ekonomi,

sosial,

budaya,

pendayagunaan sumber daya alam, serta fungsi dan daya dukung lingkungan

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

pusat kerajaan melayu adalah keberadaan situs istana Damnah. Selain itu perjalanan sejarah Singkep sebagai penghasil timah pada jaman kolonial meninggalkan jejak keberadan kota lama yang menjadi aset historis yang harus di lestarikan. Berkaitan dengan pertimbangan tersebut diatas maka penetapan kawasan strategis kabupaten meliputi: 1. Kawasan Strategis Kabupaten Dari Sudut Kepentingan Ekonomi kawasan strategis Kabupaten Lingga dilihat dari sudut kepentingan ekonomi meliputi: a. Kawasan Industri Sungai Tenam Kecamatan Lingga Tujuan penetapan daripada penetapan kawasan strategis Sungai Tenam adalah keberadaan pelabuhan yang akan menjadi akses ke Batam dan Tanjung Pinang serta rencana pengembangan industri maritim yang akan dikembangkan di sekitar kawasan SungaiTenam untuk menangkap industri maritim yang sudah tidak tertampung di Batam dan Tajungpinang. b. Kawasan Industri Marok Tua Kecamatan Singkep Barat Tujuan penetapan daripada penetapan kawasan strategis Marok Tua adalah keberadaan pelabuhan yang akan menjadi akses ke Jambi dan Indragiri Hilir yang merupakan pintu/gate Pulau Sumatera. c. Kawasan Perikanan Tajur Biru Kecamatan Senayang Tujuan penetapan kawasan Tajur Biru sebagai kawasan strategis dari kepentingan ekonomi adalah potensi perikanan yang sangat besar di Kabupaten Lingga yang perlu segera ditangani sebagai bagian daripada peningkatan ekonomi masyarakat. d. Kawasan Perikanan Penuba (Pulau Selayar) Kecamatan Lingga Sepertihal nya pengembangan kawasan perikanan Tajur biru, Tujuan penetapan kawasan penuba sebagai kawasan strategis dari kepentingan ekonomi adalah potensi perikanan yang sangat besar di Kabupaten Lingga yang perlu segera ditangani sebagai bagian daripada peningkatan ekonomi masyarakat. e. Kawasan Pariwisata Wisata Bahari Pulau Benan dan Sekitarnya Tujuan penetapan kawasan pariwisata bahari Pulau Benan dan sekitarnya adalah upaya untuk mengembangan ekonomi wilayah kabupaten berbasis wisata. Penanganan kawasan wisata bahari Pulau Beban akan menjadi pintu masuk pengembana pariwisata di Kabupaten
LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga 2 - 71

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

Lingga sehingga penyediaan infrastruktur serta penyiapan sosial budaya dan tata rungnya harus diprioritaskan dalam jangka pendek sampai dengan jangka menengah. 2. Kawasan Strategis Kabupaten Dari Sudut Kepentingan Sosial Budaya Kawasan strategis Kabupaten Lingga dilihat dari sudut kepentingan sosial budaya meliputi: Kawasan Cagar Budaya Perkampungan Damnah dan Pulau Mepar Tujuan penetapan kawasan cagar budaya perkampungan Damnah dan Pulau Mepar adalah untuk pelestarian situs peninggalan kerajaan Melayu yang ada di wilayah Kabupaten Lingga. Pelestarian ini tidak hanya berkaitan dengan fisik saja, namun juga yang berkaitan dengan sosial budaya masyarakat. Hal ini penting mengingat kondisi adat istiadat masyarakat yang masih mengedepankan budaya Melayu Asli. 3. Kawasan Strategis Dinilai dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Kawasan strategis Kabupaten Lingga dilihat dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan meliputi: a. Kawasan Strategis Hutan Lindung Gunung Daik di Pulau Lingga Tujuan penetapan hutan lindung gunung Daik ini adalah untuk melindungi kelestarian alam hutan lindung Gunung Daik dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan mencegah terjadinya bencana alam seperti erosi dan sedimentasi sungai yang berakibat panda bencana banjir. b. Kawasan Strategis Hutan Lindung Gunung Lanjut di Pulau Singkep Sepertihalnya kawasan hutan lindung gunung Daik yang akan berpengaruh terhadap daya dukung dan keletarian tata air serta ekonosistem pantai dan kebencanaan di pulau Lingga, penetapan kawasan hutan lindung Gunung Lanjut di Pulau Singkep memiliki tujuan yang sama dengan penetapan Kawasan hutan lindung di Gunung Daik. c. Kawasan Gunung Muncung di Pulau Singkep Tujuan penetapan kawasan ini adalah untuk melindungi kelestarian alam hutan lindung Gunung Muncung dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan mencegah terjadinya bencana alam seperti erosi dan sedimentasi sungai yang berakibat panda bencana banjir.

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 72

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN -

d. Kawasan Strategis cagar alam laut Binaan Coremap Kecamatan Senayang (Desa Mamud, Berujung Desa Pasir Panjang, Tajur Biru Desa Temiang, Benan, Penaah Kelurahan Senayang, Pulau Belading) Tujuan penetapan kawasan strategis cagar alam laut adalah untuk melindungi keanekargaman hayati laut yang terdapat pada kawasan laut tersebut. Dalam kaitannya dengan kepentingan pengembangan ekonomi wilayah, pelestarian cagar alam laut ini akan menjadi salah satu ikon pariwisata di Kabupaten Lingga.
Gambar 2.11 Kawasan Strategis Kabupaten Lingga

Sumber: RTRW Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031

LAPORAN KEMAJUAN Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten Lingga

2 - 73