Anda di halaman 1dari 24

Askep pada Pasien Parkinson 1.

PENGKAJIAN Pengumpulan data subjektif dan objektif pada klien dengan gangguan system persarafan meliputi anamnesis, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial. a. Anamnesis Identifitas klien meliputi nama, umur (lebih sering pada kelompok usia lanjut, pada usia 50-60-an), jenis kelamin (lebih banyak laki-laki), pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register dan diagnose medis. Keluhan utama yang sering menjadi alas an klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah gangguan gerakan, kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural. b. Riwayat Penyakit Saat Ini Pada anamnesis, sering klien mengeluhkan adanya tremor pada salah satu lengan dan tangan, kemudian kebagian lain, dan akhirnya bagian kepala, walaupun tremor ini tetap unilateral. Karakteristik tremor dapat berupa lambat, gerakan membalik (pronasi-supinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan, dan gerakan ibu jari terhadap jari-jari seolah-olah memutar sebuah pil diantara jari-jari. Keadaan ini meningkat bila klien sedang berkonsentrasi atau merasa cemas dan muncul pada saat klien istirahat. Keluhan lainnya pada penyakit meliputi adanya perubahan pada sensasi wajah, sikap tubuh, dan gaya berjalan. Adanya keluhan rigiditas deserebrasi, berkeringat, kulit berminyak dan sering menderita dermatitis seboroik, sulit menelan, konstipasi, dan gangguan kandung kemih yang diperberat oleh obat-obat antikolinergik dan hipertrofi prostat.

Pertanyaan yang bisa disampaikan pada klien pada pengkajian ini meliputi : a. Apakah anda mengalami kekakuan tangan atau kaki? b. Apakah anda mengalami sentakan tidak teratur pada tangan atau kaki? c. Apakah anda mengalami beku atau terpaku dan tidak mampu bergerak? d. Apakah air liur anda berlebihan? e. Pernahkah anda/orang lain melihat diri anda meringis atau membuat gerakan wajah atau mengunyah? f. Aktivitas fisik apa yang sulit anda lakukan? c. Riwayat Penyakit Dahulu Pengkajian yang dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan tentang adanya riwayat hipertensi, DM, penyakit jantung, anemia, penggunaan obat-obat antikoagulan, aspirin, vasodilator, dan penggunaan obat-obat antikolinergik dalam jangka waktu yang lama. d. Riwayat Penyakit Keluarga Walaupun tidak ditemukan adanya hubungan penyakit Parkinson dengan sebab genetic yang jelas, perawat perlu melakukan pengkajian riwayat penyakit pada keluarga. Pengkajian dilakukan dengan menanyakan apakah anggota keluarga terdahulu yang menderita hipertensi dan DM. Hal ini diperlukan untuk melihat adanya komplikasi penyakit lain yang dapat mempercepat progresifnya penyakit. e. Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien perlu dilakukan untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, perubahan dalamkeluarga dan masyarakat, dan respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.

Apakah klien mengalami dampak yang timbul akibat penyakit seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Adanya perubahan hubungan dan peran disebabkan oleh karena klien mengalami kesulitan untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri yang ditemukan adalah klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, dan tidak kooperatif. Perubahan yang terpenting pada klien dengan penyakit Parkinson adalah tanda depresi. Manifestasi mental muncul dalam bentuk penurunan kognitif, persepsi dan penurunan memori (ingatan). Beberapa manifestasi psikiatrik (perubahan

kepribadian, psikosis, demensia, konfusi akut) umumnya terjadi pada lansia. f. Pemeriksaan Fisik Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangan berguna untuk mendukung data yang diperoleh dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dan terarah dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 dan dihubungkan dengan keluhan klien. Keadaan Umum Klien dengan penyakit Parkinson umumnya tidak mengalami penurunan kesadaran. Adanya perubahan pada tanda vital, yaitu bradikardi, hipotensi, dan penurunan frekuensi pernafasan. B1 (Breathing) Gangguan fungsi pernafasan yang terjadi berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas, aspirasi makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas.

Inspeksi : ditemukan klien batuk, atau mengalami penurunan kemampuan untuk batuf efektif, peningkatan produksi sputum, sesak nafas danpenggunaa otot bsntu napas. Palpasi : ditemukan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri Perkusi : ditemukan adanya suara resonan pada seluruh lapang paru. Auskultasi : ditemukan bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi, stridor, ronkhi, pada klien dengan peningkatan produksi secret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering ditemukan pada klien dengan inaktivitas. B2 (Blood) Hipertensi postural yang terjadi berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gannguan pada pengaturan tekanan darah oleh system saraf otonom. B3 (brain) Pengkajian B3 merupakan focus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada system lain nya. Pada inspeksi umum ditemukan perubahan pada gaya berjalan, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan. Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis dan juga bergantung pada penurunan aliran darah serebri regional mengakibatkan perubahan pada status kognitif klien. Pemeriksaan fungsi serebri Status mental: biasanya mengalami perubahan yang berhubungan ndengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan memori baik jangka pendek dan memori jangka panjang.

Pemeriksaan saraf kranial Saraf I : biasanya pada klien cedera tulang belakang tidak ditemukan kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan. Saraf II : hasil uji ketajaman penglihatan mengalami perubahan sesuai tingkat usia, biasanya klien lanjut usia dengan penyakit Parkinson mengalami penurunan ketajaman penglihatan. Saraf III, IV, dan VI : gangguan saraf okulomotorius: sewaktu melakukan konvergensi penglihatan menjadi kabur karena tidak mampu

mempertahankan kontraksi otot-otot bola mata. Saraf V : pada klien dengan penyakit Parkinson umumnya ditemukan perubahan pada otot wajah. Adanya keterbatasan otot wajah menyebabkan ekspresi wajah klien mengalami penurunan, saat bicara wajah seperti topeng (sering mengedipkan mata). Saraf VII : persepsi pengecapan dalam batas normal. Saraf VIII : adanya tuli konduktif dan tuli persepsi yang berhubungan dengan proses senilis dan penurunan aliran darah regional. Saraf IX dan X : ditemukan kesulitan menelan dalam menelan makanan. Saraf XI : tidak ada atrofi atot sternokleidomastoideus dan trapezius. Saraf XII : lidah simetris, tidak ditemukan deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi, indra pengecapan normal. System Motorik Inspeksi umum, ditemukan perubahan pada gaya berjalan, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan. Klien sering mengalami rigiditas deserebrasi. Tonus otot ditemukan meningkat. dan keseimbangan dan koordinasi, ditemukan mengalami gangguan karena adanya kelemahan otot,

kelelahan, perubahan pada gaya berjalan, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan. Pemeriksaan Refleks Terdapat kehilangan reflex postural, apabila klien mencoba untuk berdiri, klien akan berdiri dengan kepala cenderung kedepan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong. Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya kedepan atau kebelakang) dapat menimbulkan sering jatuh. System Sensorik Sesuai berlanjutnya usia klien dengan penyakit Parkinson mengalami penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensorik yang ada merupakan hasil dari neuropati. B4 (Bladder) Penurunan refleks kandung kemih perifer dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum. Klien mungkin mengalami inkontinensia urine, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan control motoric dan postural. Selam periode ini, dilakukan kateterisasi intermitten dengan teknik steril. B5 (Bowel) Pemenuhan nutrisi berkuran yang berhubungan dengan asupan nutrisi kurang karena kelemahan fisik umum, kelelahan otot dan adanya tremor menyeluruh. Klien sering mengalami konstipasi karena penurunan aktivitas. B6 (Bone) Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kelelahan otot, tremor secara umum pada seluruh otot dan kaku pada seluruh gerakan menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan pemenuhan aktivitas sehari-hari. Adanya gangguan keseimbangan

dan koordinasi dalam melakukan pergerakan karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma fisik bila melakukan aktivitas. 2. DIAGNOSA 1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot. 2. Deficit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuscular, menurunnya kekuatan, kehilangan control otot/koordinasi. 3. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) yang berhubungan dengan medikasi dan penurunan aktivitas. 4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor, pelambatan dalam proses makan, kesulitan mengunyah dan menelan. 5. Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara, pelambatan bicara, ketidakmampuan menggerakan otot-otot wajah. 6. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan depresi dan disfungsi karena perkembangan penyakit. 7. Deficit pengetahuan yang berhubungan dengan sumber informasi prosedur perawatan rumah yang tidak adekuat. 3. INTERVENSI Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan kelemahan otot. Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam, klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.

Kriteria Hasil : klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot. Klien menunjukkan tindakan untuk

meningkatkan mobilitas.

Intervensi

Rasional

1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi Mengetahui tingkat kemampuan klien peningkatan kerusakan. Kaji secara dalam melakukan aktivitas.

teratur fungsi motorik. 2. Lakukan program latihan yang Meningkatkan koordinasi dan

meningkatkan kekuatan otot.

ketangkasan, menurunkan kekakuan otot dan mencegah kontraktur bila otot tidak digunakan.

3. Lakukan latihan postural.

Latihan

postural

untuk

melawan

kecenderungan kepala dan leher tertarik kedepan dan kebawah.

4. Ajarkan teknik berjalan khusus :

Teknik berjalan khusus dapat juga untuk mengimbangi gyaa

a. Ajarkan untuk berkonsentrasi pada dipelajari

berjalan tegak, memandang lurus berjalan menyeret dan kecenderungan kedepan. b. Klien dianjurkan untuk latihan berjalan dengan diiringi music marching band atau lagu, karena hal ini memberikan ransangan tubuh condong kedepan.

sensorik. c. Latihan bernapas sambil berjalan membantu untuk menggerakan

rangka tulang rusuk dan transport oksigen untuk mengisi bagian paruparu rendah. d. Melakukan periode istirahat yang yang kadar oksigennya

sering

untuk

membantu

pencegahan frustasi dan kelelahan

5. Anjurkan mandi hangat dan masase Mandi hangat dan masase membantu otot. otot-otot rileks saat melakukan aktivitas pasif dan aktif dan mengurangi nyeri otot akibat spasme yang mengakibatkan

kekakuan.

6. Bantu klien melakukan latihan ROM, Untuk memelihara fleksibilitas sendi perawatan diri sesuai toleransi. sesuai kemampuan.

7. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi Peningkatan untuk latihan fisik klien. mobilisasi

kemampuan ekstermitas

dalam dapat

ditingkatkan dengan latihan fisik oleh tim fisioterapis.

Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuscular, menurunnya kekuatan, kehilangan control otot/koordinasi. Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam, perawatan diri klien terpenuhi.

Kriteria Hasil : klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuannya, mengidentifikasi personal/masyarakat dapat yang membantu.

Intervensi 1. Mandiri

Rasional

Kaji kemampuan dan tingkat penurunan Membantu dalam mengantisipasi dan dalam skala 0-4 untuk melakukan ADL. merencanakan individual. pertemuan kebutuhan

2.

Hindari

apa

yang

tidak

dapat Menghindari klien dari keadaan cemas dan ketergantungan untuk mencegah frustasi dan harga diri klien rendah.

dilakukan klien dan bantu bila perlu.

3. Ajarkan dan dukung klien selama Dukungan pada klien selama aktivitas aktivitas. kehidupan sehari-hari dapat

meningkatkan perawatan diri. 4. Rencanakan tindakan untuk mengatasi Klien akan mampu melihat dan memakan keterbatasan penglihatan seperti makanan, akan mampu melihat keluar

tempatkan makanan dan peralatan dalam masuknya orang ke ruangan. suatu tempat, dekatkan tempat tidur kedinding.

5. Modifikasi lingkungan .

Modifikasi lingkungan diperlukan untuk mengompensasi ketidakmampuan fungsi.

6. Gunakan pagar disekeliling tempat Gunakan pagar disekeliling tempat tidur tidur. baik tempat tidur dirumah sakit dan dirumah, atau sebuah tali yang diikatkan pada kaki tempat tidur untuk memberi bantuan dalam mendorong diri untuk bangun tanpa bantuan orang lain.

7. Kaji kemampuan komunikasi untuk Ketidakmampuan buang air kecil,

komunikasi

dengan

kemampuan perawat dapat menimbulkan masalah

menggunakan urinal, pispot. Antarkan ke pengosongan kandung kemih oleh karena kamar mandi bila kondisi masalah neurogenic.

memungkinkan. 8. Kolaborasi Pemberian supositoria dan pelumas feses/ Pertolongan utama terhadap fungsi bowel pencahar . 9. Konsultasi ke dokter terapi okupasi. atau buang air besar. Untuk mengembangkan terapi dan

melengkapi kebutuhan khusus.

Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) yang berhubungan dengan medikasi dan penurunan aktivitas.

Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam, kebutuhan eliminasi alvi terpenuhi.

Kriteria Hasil : klien dapat defekasi secara spontan dan lancer tanpa menggunakan obat, konsistensi feses lembek, tidak teraba massa pada kolon, bising usus normal (15-30x/mnt)

Intervensi 1. Monitor adanya konstipasi

Rasional Klien Parkinson mempunyai masalah konstipasi berat. Factor-faktor ini yang adalah

menyebabkan

kondisi

melemahnya otot-otot yang digunakan dalam defekasi, kurangnya latihan, tidak adekuatnya asupan cairan, dan penurunan

aktivitas system saraf otonom dan obatobatan penyakit, digunakan juga untuk mengobati sekresi

menghambat

normal usus.

2. Berikan penjelasan pada klien dan Klien dan keluarga akan mengerti tentang keluarga penyebab konstipasi. penyebab obstipasi.

3. Modifikasi defekasi yang teratur. Defekasi yang teratur dan rutin dapat Anjurkan pada klien untuk makan membangun semangat klien untuk

makanan yang mengandung serat.

mengikuti pola yang teratur, sadar untuk meningkatkan asupan cairan dan makan makanan serat. Diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltic dan eliminasi regular.

4. Atur posisi duduk toilet

Dudukan

toilet

ditinggikan

untuk

memudahkan aktivitas toileting karena klien sulit bergerak dari posisi berdiri ke posisi duduk.

5. Bila klien mampu minum, berikan Asupan

cairan

adekuat

membantu

asupan cairan yang cukup (2L/hari) jika mempertahankan konsistensi feses yang tidak ada kontraindikasi. sesuai pada usus dan membantu eliminasi regular. 6. Kolaborasi dengan tim dokter dalam Pelunak feses meningkatkan efisiensi pemberian pelunak feses (laksatif, pembasahan air pada usus, yang

supositoria, enema).

melunakkan massa feses dan membantu eliminasi.

Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor, pelambatan dalam proses makan, kesulitan mengunyah dan menelan. Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.

Kriteria Hasil : mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh, memperlihatkan berat badan yang stabil. Intervensi 1. Evaluasi kemampuan makan klien. Rasional Klien mengalami kesulitan dalam

mempertahankan berat badannya. Mulut mereka kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.

2. Observasi/ timbang berat badan jika Tanda kehilangan berat badan (7-10%) memungkinkan. dan kekurangan asupan nutrisi masalah

menunjang

terjadinya

katabolisme, kandungan glikogen dalam otot, dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator.

3. Manajemen mencapai kemampuan Meningkatkan kemampuan klien dalam menelan. menelan dan dapat membantu

pemenuhan nutrisi klien melalui oral. a. Gangguan menelan disebabkan oleh tremor pada lidah, ragu-ragu dalam Tujuan lain adalah untuk mencegah memulai menelan, kesulitan dalam terjadinya membentuk makanan dalam bentuk masuknya bolus. b.Makanan setengah padat dengan kelelahan, makanan, memudahkan dan mencegah

gangguan pada lambung.

sedikit menelan.

air

memudahkan

untuk

c. Klien dianjurkan untuk menelan secara berurutan. d.Klien dianjurkan untuk meletakkan makanan diatas lidah, menutup bibir dan gigi, dan menelan. e. Klien dianjurkan untuk mengunyah pertama kali pada satu sisi mulut dan kemudian kesisi lain. f. Untuk mengontrol air liur, klien dianjurkan untuk menahan kepala tetap tegak dan membuat keadaan sadar untuk menelan. g.Masase otot wajah dan leher

sebelum makan dapat membantu. h.Berikan makanan kecil dan lunak.

4. Monitor pemakaian alat bantu.

Pemakaian elektrik digunakan untuk menjaga makanan tetap hangat dank lien diizinkan untuk istirahat selama waktu yang ditetapkan untuk makan, alat-alat khusus juga membantu makan.

Penggunaan piring yang stabil, cangkir yang tidak pecah-pecah bila jatuh, dan alat-alat makan yang dapat digenggam sendiri digunakan sebagai alat bantu.

5. Kaji fungsi system gastrointestinal Fungsi system gastrointestinal sangat meliputi suara bising usus, catat penting untuk asupan makanan.

terjadinya perubahan didalam lambung Ventilator dapat menyebabkan kembung seperti mual, muntah. Observasi pada lambung dan perdarahan lambung.

perubahan pergerakan usus misalnya diare, konstipasi.

6.

Anjurkan

pemberian tidak

cairan Mencegah terjadinya dehidrasi akibat terjadi penggunaan ventilator selama klien tidak sadar dan mencegah terjadinya

2500cc/hari

selama

gangguan jantung.

konstipasi.

7. Lakukan pemeriksaan laboratorium Memberikan yang diindikasikan, seperti

informasi

yang

tepat

serum, tentang keadaan nutrisis yang dibutuhkan klien.

transferrin, BUN/kreatinin, dan glukosa.

Hambatan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan volume bicara, pelambatan bicara, ketidakmampuan menggerakkan otot-otot wajah. Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam klien mampu membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan

berkomunikasi. Kriteria Hasil : klien dapat berkomunikasi dengan sumber yang ada. Intervensi 1. Kaji kemampuan klien Rasional untuk Gangguan bicara ditemukan pada banyak klien dengan penyakit Parkinson. Bicara merekan yang lemah, monoton, dan terdengar halus menuntut kesadaran

berkomunikasi.

berupaya untuk bicara dengan lambat,

dengan penekanan perhatian pada apa yang mereka katakana.

2. Menentukan cara-cara komunikasi Mempertahan seperti mempertahankan kontak mata, membuat memberikan pertanyaan dengan jawaban komunikasi. ya atau tidak, menggunakan kertas dan menggerakkan

kontak

mata

akan selama dapat

klien Jika

tertarik klien

kepala,

mengedipkan

pensil/bolpoin, gambar, atau papan tulis, mata, taau senang dengan isyarat-isyarat bahasa isyarat, perjelas arti dari sederhana, lebih baik dengan

komunikasi yang disampaikan.

menggunakan pertanyaan ya/tidak.

Kemampuan melelahkan

menulis klien,

kadang-kadang itu dapat

selain

mengakibatkan frustasi dalam upaya memenuhi kebutuhan komunikasi.

Keluarga dpaat bekerja sama untuk membantu memenuhi kebutuhan klien.

3. Pertimbangkan bentuk komunikasi bila Kateter terpasang kateter intravena.

intravena

yang

terpasang

ditangan akan mengurangi kebebasan klien dalam menulis/ membeli isyarat.

4.

Letakkan

bel

pemanggil

dalam Ketergantungan klien pada ventilator

jangkauan klien dan berikan penjelasan akan membuat klien lebih baik dan cara menggunakannya. Jawab panggilan rileks, merasa aman dan mengerti bahwa tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan selama menggunakan ventilator, perawat klien. Katakana kepada klien bahwa akan memenuhi segala kebutuhannya. perawat siap membantu jika dibutuhkan.

5. Buatlah catatan dikantor perawat Mengingatkan tentang keadaan klien yang dapat bicara. berespon

staf

perawat klien

untuk selama

dengan

memberikan perawatan.

6. Buatlah rekaman pembicaraan klien.

Rekaman pembicaraan klien dalam pita kaset secara periodic dibutuhkan dalam memantau perkembangan klien.

Amplifier kecil membantu bila klien mengalami kesulitan mendengar.

7. Anjurkan keluarga/orang lain yang Keluarga dapat merasa akrab dengan dekat dengan klien untuk berbicara klien dalam berada dekat klien selama dengan klien, memberikan informasi berbicara. Pengalaman ini dapat

tentang keluarganya, dan keadaan yang membantu atau mempertahankan kontak sedang terjadi. nyata seperti merasakan kehadiran

anggota keluarga yang dapat mengurangi perasaan kaku.

8. Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa.

Ahli

terapi

wicara dalam latihan

bahasa

dapat

membantu peningkatan membantu

membentuk percakapan kesehatan dan untuk

petugas

mengembangkan

metode

komunikasi

untuk memenuhi kebutuhan klien.

Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan depresi dan disfungsi karena perkembangan penyakit.

Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 koping individu menjadi efektif.

Kriteria Hasil : mampu menyatakan/ mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui, dan menggabungkan perubahan kedalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatife.

Intervensi

Rasional

1. Kaji perubahan gangguan persepsi dan Menentukan bantuan individual dalam hubungan ketidakmampuan. dengan derajat menyusun rencana perawatan atau

pemilihan intervensi.

2. Dukung kemampuan koping klien.

Kepatuhan terhadap program latihan dan berjalan membantu perlambat kemajuan penyakit. Dukungan dan sumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan

berdoa dan penekanan keluar terhadap aktivitas dengan mempertahankan

partisipasi aktif.

3. Catat ketika klien menyatakan sekarat Mendukung penolakan terhadap bagian atau mengingkari dan menyatakan inilah tubuh atau perasaan negative terhadap kematian. gambaran tubuh dan kemampuan yang mennujukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.

4.

Pernyataan

pengakuan

terhadap Membantu klien untuk melihat bahwa

penolakan tubuh, mengingatkan kembali perawat menerima kedua bagian sebagai fakta kejadian tentang realitas bahwa bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan masih dapat menggunakan sisi yang sakit klien untuk merasakan adanya harapan dan belajar mengontrol sisi yang sehat. dan mulai menerima situasi baru.

5. Beri dukungan psikologis secara Klien penyakit Parkinson sering merasa menyeluruh. malu, apatis, tidak adekuat, bosan, dan merasa sendiri. Perasaan ini dapat

disebabkan akibat keadaan fisik yang lambat dan upaya yang besar dibutuhkan terhadap tugas-tugas kecil. Klien dibantu dan didukung untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (seperti meningkatnya mobilitas). Karena Parkinson mengarah akan menunjukan menarik diri dan depresi, klien harus aktif berpartisipasi dalam program terapi yang mencakup program social dan rekreasi.

6. Bantu dan ajarkan perawatan yang baik Membantu meningkatkan perasaan harga dengan memperbaiki kebiasaan. diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan.

7. Buat rencana program aktivitas harian Program aktivitas pada keseluruhan hari pada keseluruhan hari. mencegah waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah pada tidak adanya keinginan beraktivitas dan apatis. Setiap upaya dibuat untuk mendukung

klien

keluar

dari

tugas-tugas dengan

yang

termasuk

koping

kebutuhan

mereka setiap hari dan untuk membentuk klien mandiri. Apapun yang dilakukan hanya untuk keamanan sewaktu

mencapai tujuan dengan meningkatnya kemampuan koping.

8.

Anjurkan

orang

terdekat

untuk Menghidupkan

kembali dan harga

perasaan membantu diri serta

mengizinkan klien melakukan sebanyak kemandirian mungkin hal untuk dirinya. perkembangan

memengaruhi proses rehabilitasi.

9. Dukung perilaku atau usaha seperti Klien

dapat

beradaptasi

terhadap

peningkatan minat atau partisipasi dalam perubahan dan pengertian tentang peran aktivitas rehabilitasi. individu masa mendatang.

10. Monitor gangguan tidur, peningkatan Dapat kesulitan penolakan. konsentrasi, letargi dan depresi. sebagai

mengindikasikan Deoresi pengaruh

terjadinya terjadi yang

umumnya dari stroke

memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut. 11. Kolaborasi : rujuk pada ahli Dapat memfasilitasi perubahan peran penting untuk perkembangan fisioterapi, dan

neuropsikologi dan konseling bila ada yang indikasi.

perasaan. psikoterapi,

Kerjasama terapi

obat-obatan,

dukungan partisipasi kelompok dapat menolong mengurangi depresi yang juga sering muncul pada keadaan ini.

Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan sumber informasi prosedur perawatan rumah yang tidak adekuat.

Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam informasi dapat diterima klien.

Kriteria Hasil : Klien mampu mengulang informasi tentang prosedur perawatan rumah.

Intervensi

Rasional

1. Kaji pengetahuan klien dan keluarga Mengetahui tingkat pengetahuan dan tentang perawatan kesehatan dirumah. tingkat pendidikan akan memudahkan perawat dalam memberika informasi yang sesuai dengan kondisi klien.

2.

Jelaskan

pentingnya pada

perawatan Kebutuhan informasi tentang penyakit klien dan Parkinson ditujukan agar klien mampu beradaptasi dan mempunyai kemampuan menghadapi penyakit. Setiap upaya yang dibuat untuk menjelaskan keadaan nyata, penyakit, dan pengelolaan kecemasan dan ketakutan yang muncul, dan mungkin merupakan ketidakmampuan akibat

kesehatan keluarga.

dirumah

penyakit itu sendiri.

3. Beri dukungan pada keluarga dalam Keluarga mengalami stress akibat hidup merawat klien Parkinson. dan merawat orang yang mengalami ketidakmampuan.

4. Fasilitasi anggota keluarga untuk Akan memudahkan dalam menentukan mengekspresikan perasaannya terhadap intervensi selanjutnya. frustasi, marah, dan perasaan bersalah, karena hal ini sering membantu mereka.

5. Berika mereka informasi tentang Memberi pengobatan dan perawatan

pelayanan

kesehatan

yang diikutsertakan dalam perencanaan dan mungkin sebagai konsultan dalam

mencegah masalah yang tidak perlu ada.

mengajarkan klien dan keluarga tentang teknik menurunkan atress, bekerjasama dalam proses memberikan perawatan.

4. IMPLEMENTASI Sasaran tindakan adalah untuk meningkatkan transmisi dopamine. Terapi obat-obatan mencakup antihistamin, antikolinergik, amantidin, levodopa, anhibitor monoamine oksidasi (MAO), dan antidepresi. Beberapa obat-obat ini menyebabkan efek samping psikiatrik pada lansia meliputi : a. Antihistamin Antihistamin mempunyai efek sedatif dan antikolinergik pusat ringan, dapat membantu dalam menghilangkan tremor.

b. Terapi Antikolinergik Agen antikolinergik (triheksifenidil, prosiklidin, dan benzotropin mesilat) efektif untuk mengontrol tremor dan kekakuan Parkinson. Obat-obatan ini dapat digunakan dalam kombinasi dengan levodopa. Agen ini menghilangkan aksi asetikolin pada system saraf pusat. Efek samping mencakup penglihatan kabur, wajah memerah, raum pada wajah, konstipasi, retensi urine, dan kondusi akut.

Tekanan intraocular dipantau ketat karena obat-obat ini kontraindikasi pada klien dengan glaucoma meskipun glaucoma yang dialami klien hanya sedikit. Klien dengan hyperplasia prostatic dipantau terhadap adanya tanda-tanda retensi urine.

c. Amantadine Hidroklorida Amantadine hidroklorida (symmetrel), agen antivirus yang digunakan pada awal pengobatan penyakit Parkinson untuk menurunkan kekakuan, tremor dan bredikinesia. Agen ini diperkirakan bekerja melalui pelepasan dopamine dari daerah psikiatrik (perubahan perasaan hati, konfusi, halusinasi), muntah, adanya tekanan pada epigastrium, pusing, dan gangguan penglihatan.

d. Terapi Levadopa Walaupun levodopa bukan untuk pengobatan, saat ini merupakan agen yang paling efektif untuk pengobatan pada penyakit Parkinson. Levodopa diubah dari (MD4)L dan (MD$)-dopa menjadi dopamine pada basal ganglia. Seperti disebutkan diatas dopamine dengan konsentrasi normal yang terdapat didalam sel-sel substansia nigra menjadi hilang pada klien dengan penyakit Parkinson. Gejala yang hilang juga dapat terjadi akibat kadar dopamine yang lebih tinggi akibat pemberian levodopa.

e. Derivat Ergoet-Agonis Dopamin Agen-agen ini (bromokriptin dan pergolid) dianggap sebagai reseptor dopamine, agen ini bermanfaat bila ditambahkan dengan levodopa dan pada klien yang mengalami reaksi on-off terhadap fluktuasi klinis ringan.

f. Inhibitor MAO Eldepril adalah salah satu perkembangan dalam farmakoterapi penyakit Parkinson. Obat ini menghambat pemecahan dopamine, sehingga peningkatan jumlah dopamine tercapai, tidak seperti bentuk terapi lain, agen ini secara nyata memperlambat kemajuan penyakit.

g. Antidepresan Antidepresan trisiklik dapat diberikan untuk mengurangi depresi yang juga biasa terjadi pada penyakit Parkinson.