Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan jasmani adalah salah satu mata pelajaran yang menjadikan proses pendidikan di sekolah menjadi lengkap, utuh, serta dipercayai mampu mengantarkan siswa mengalami perubahan dan pertumbuhan total dalam dirinya. Menurut Bucher (1979), dalam teks yang cukup dikenal karena klasiknya, pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang mementingkan kegiatankegiatan yang mampu mengembangkan dan memelihara tubuh manusia. Sedangkan Dauer dan Pangrazi (1992) merumuskan pendidikan jasmani sebagai bagian integral dari pendidikan umum yang memberikan kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Di lain pihak, Siedentop (1990) meyakini bahwa pendidikan jasmani adalah pendidikan melalui aktivitas jasmani , yang secara eksplisit mengandung arti bahwa pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan yang menggunakan gerak, permainan, olahraga, dan aktivitas fisik lainnya sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Dengan pengertian-pengertian di atas, pendidikan jasmani adalah wahana untuk mendidik anak, yang pada esensinya mengandung makna luhur karena tidak hanya menekankan perkembangan aspek fisik dan motorik semata-mata. Para ahli sepakat bahwa pendidikan jasmani merupakan alat untuk membina anak muda agar kelak

mereka mampu membuat keputusan terbaik tentang aktivitas jasmani yang dapat dilakukannya serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk: 1. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial. 2. Mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani. 3. Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dan terkendali. 4. Mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam aktivitas jasmani baik secara kelompok maupun perorangan. 5. Berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat mengembangkan

keterampilan sosial yang memungkinkan siswa berfungsi secara efektif dalam hubungan antar orang. 6. Menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas jasmani, termasuk permainan olahraga. Untuk dapat mewujudkan seluruh nilai dan manfaat yang dapat disumbangkan penjas kepada anak didik, diperlukan upaya yang tidak sedikit dari guru penjas dalam kaitannya dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi perwujudan nilai-nilai yang dikandung penjas tersebut. Sebagian lingkungan belajar tersebut pada dasarnya diwakili oleh bagaimana guru memandang manfaat serta memperlakukan materi ajar yang terdapat dalam penjas, serta bagaimana guru memperlakukan anak

didiknya. Perlakuan guru terhadap materi ajar serta apa yang diharapkan dari pemberian materi itu dapat disebut model pembelajaran, sedangkan bagaimana guru memperlakukan anak didiknya serta dalam hal apa anak berkembang dapat disebut pendekatan. Karena alasan paradigma pendidikan jasmani yang dianut selama ini, model dan pendekatan pengajaran penjas ini tidak banyak dikenal oleh para guru Penjas di Indonesia. Satu-satunya model yang dikenal di Indonesia adalah pendidikan olahraga (pembelajaran yang berbasis pengajaran olahraga formal/sport-based ) dan

pendekatan yang digunakan adalah pendekatan teknis (yaitu agar anak menguasai teknik dasar dari cabang olahraga yang diajarkan). Mengacu pada kepercayaan filosofis bahwa pada hakikatnya minat dan kemampuan anak berbeda-beda, maka model dan pendekatan pembelajaran yang disajikan pada anakpun tentunya harus bervariasi, untuk memperoleh manfaat yang sifatnya jamak, menyentuh seluruh aspek. Tulisan ini bermaksud menguraikan model pembelajaran yang sering dipraktekkan dalam Pendidikan Jasmani, untuk dijadikan pedoman oleh para guru dalam mengelola pembelajaran Penjas. Pemanfaatan model yang tepat, diyakini mampu mendorong anak mengembangkan kemampuan multi-dimensinya, bermanfaat dari segi kependidikan, serta bersifat menyenangkan sehingga mengikat anak untuk berada di dalamnya.

B. Rumusan masalah Adapun masalah yang akan di bahas dalam makalah ini adalah : 1. Apa pemahaman tentang Model Pembelajaran kooperatif ? 2. Bagaimana mengatasi siswa yang pasif dalam kelompoknya saat dalam proses pembelajaran kooperatif yang berlangsung di dalam ruangan ( diskusi kelompok ) ? 3. Pembelajaran kooperatif seperti apa yang tepat di terapkan pada pelajaran penjas di luar ruangan ?

C. Tujuan 1. Mengetahui pemahaman tentang model pembelajaran koopertaif. 2. Mengetahui cara mengatasi siswa yang pasif dalam kelompoknya saat dalam proses pembelajaran kooperatifyang berlangsung di dalam ruangan ( diskusi kelompok ). 3. Mengetahui pembelajaran yang tepat di terapkan pada pembelajaran

penjas di luar ruangan.

4. Manfaat makalah Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat menjadi sebuah landasan atau referensi bagi yang mambutuhkan informasi tentang model pembelajaran kooperatif.

BAB II DASAR TEORI Slavin (1994) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Johnson & Johnson (1987) dalam Isjoni (2009:17) menyatakan bahwa pengertian model pembelajaran kooperatif yaitu mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut. Menurut Rustaman (2003:206) dalam www.muhfida.com (2009) pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional. Lie (2008:12) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Isjoni (2009:15) menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan terjemahan dari istilah cooperative learning. Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.

Hasan (1996) menyimpulkan bahwa kooperatif

mengandung pengertian

bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Sugandi (2002:14) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok. Menurut Sugiyanto (2008:35) pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Malik (2011) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademis untuk sampai kepada pengalaman individual dan kelompok, saling membantu, berdiskusi, ber- argumentasi dan saling mengisi untuk memperoleh pemahaman bersama. Menurut Wikipedia (2011) pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa.

BAB III PEMBAHASAN A. Pemahaman tentang Model Pembelajaran kooperatif 1. Pengertian Pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok.Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif

mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

2. Dasar-dasar pembelajaran koopertaif a) Pembentukan regu Untuk menambah manfaat dari pembelajaran kooperatif, tugas pembentukan regu harus dilakukan secara hati-hati. Kelompok atau regu harus bersifat heterogen baik dalam hal jenis kelamin, ras, status ekonomi, dan kemampuan. Peningkatan dalam keterampilan berpikir, frekuensi dalam memberi dan menerima bantuan, serta jarak yang lebih lebar dalam hal sudut pandang terjadi jika kelompok yang dibentuk bersifat campuran. Ketika memulai menggunakan pembelajaran kooperatif, mulailah dengan regu berpasangan. Pasangan memungkinkan terjadinya partisipasi

maksimum, komunikasi yang meningkat, dan memberi kesempatan untuk melatih keterampilan kolaboratif yang diperlukan. Pengelompokkan pasangan secara mudah dirubah menjadi kelompok lebih besar, empat atau enam orang, sehingga meminimalkan pengaturan waktu. Siswa dapat ditugaskan pada kelompok kooperatif oleh guru atau kelompok dapat dikelompokkan secara acak. Kelompok yang dipilih guru biasanya menghasilkan pengelompokkan yang efektif dan memerlukan sedikit waktu untuk mengaturnya .

Sedangkan metode untuk mengelompokkan siswa secara acak adalah dengan meminta siswa untuk berkelompok berdasarkan ketentuan yang berubah-ubah dari guru. Misalnya, berkelompoklah dengan teman yang belum pernah jadi kelompok; atau, berkelompok berdasarkan warna sepatu yang dipakai, dsb

b) Saling ketergantungan positif Inti dari pembelajaran kooperatif adalah Saling-ketergantungan positif. Hal ini terjadi ketika aktivitas pembelajaran mengharuskan pencapaian tujuan dari seorang siswa dihubungkan dengan pencapaian tujuan dari siswa lain. Pencapaian tujuan dalam pembelajaran kooperatif bersifat inklusif yang saling mengu ntungkan, yaitu usaha bersama. Di dalamnya berlaku prinsip: Saya perlu kamu, kamu perlu saya, untuk sama-sama mencapai tujuan. Oleh karena itu guru dapat merancang aktivitas yang harus dilaksanakan bersama, baik bersamaan dalam hal waktu maupun bergantian, dan hasilnyapun dinilai dari hasil regu. Banyak sekali kegiatan yang dapat dipilih dari aktivitas permainan yang sudah ada dan sering dilakukan guru selama ini. Tinggal merubah cara bermain dan mengumpulkan skor, niscaya permainan-permainan tadi sudah dapat tampil dengan sifat kooperatifnya.

c) Akuntabiltas Individual Akuntabilitas atau tanggung jawab merupakan faktor penting dalam situasi pembelajaran dan pengajaran. Dalam pembelajaran kooperatif hal itu lebih esensial karena pembelajaran siswa menjadi hasil yang paling diharapkan dari

keikutsertaannya dalam pembelajaran kooperatif. Di bawah ini adalah tiga cara atau strategi yang dapat digunakan untuk memegang akuntabilitas individual siswa baik dalam proses pembelajaran maupun dalam hal membantu orang lain dalam penjas.

10

a) Guru bertanya secara acak meminta menjelasan siswa. Contoh: Ketika sekelompok siswa sedang terlibat dalam perancangan suatu tugas, guru dapat menanyakan pada satu orang siswa tentang mengapa mereka memilih alat tertentu serta keterampilan apa yang akan dilakukan dengan alat tersebut. Bahkan guru pun dapat meminta seorang siswa menunjukkan atau mendemostrasikan keterampilan yang akan dilakukan.

b) Siswa berbagi gagasan dan strategi pada kelompok lain. Contoh: Setelah seluruh kelas dibagi dan masing-masing kelompok melakukan tugas yang diminta (tentu setiap regu punya tugas yang berbeda), setiap regu diwajibkan untuk mengajarkan cara melakukan tugas tersebut pada regu lainnya. Setiap siswa dapat bertanggung jawab untuk mengajarkan komponen khusus dari tugas atau permainan yang dimaksud.

c) Guru mengatur kegiatan untuk memastikan bahwa semua siswa dibutuhkan Ini berkaitan dengan bagaimana guru mengatur tugas dan menyampaikannya pada siswa. Guru harus memastikan bahwa semua siswa terlibat dalam kegiatan, jangan sampai ada saat menunggu yang terlalu lama sampai seorang siswa melakukan tugasnya. Hal inipun tentu berhubungan juga dengan alat yang bisa digunakan, jangan sampai satu regu atau beberapa orang siswa menunggu giliran karena jumlah alatnya

11

tidak mencukupi. Jika guru berfikir secara hati-hati tentang pembentukan regu, merencanakan saling-ketergantungan positif, dan memastikan bahwa semua siswa terkontrol tanggung jawabnya, maka pembelajaran kooperatif akan berlangsung efektif.

d) Keterampiilan Berkolaborasi Keterampilan berkolaborasi yang diperlukan dalam pembelajaran kooperatif meliputi: 1. Mendengar pendapat orang lain, 2. Memecahkan konflik, 3. Mendukung dan mendorong orang lain, 4. Menunggu dan melaksanakan giliran, 5. Mengkspresikan kegembiraan atas keberhasilan orang lain, 6. Menunjukkan kemampuan untuk mengkritisi gagasan, bukan orang yang melontarkannya.

3. Struktur tujuan kooperatif Suatu contoh dari aktivitas penjas yang menggunakan struktur tujuan kooperatif adalah aktivitas mengumpulkan skor secara kolektif, di mana semua skor atau penampilan ditambahkan pada skor total dari kelompok. Ketika guru membangun struktur pembelajaran secara kooperatif, saling-ketergantungan positif berkembang di antara siswa. Pemahaman siswa bahwa mereka hanya dapat mencapai tujuan kalau siswa yang lain juga mencapai tujuan merupakan

12

definisi yang tepat dari ketergantungan yang positif. Perasaan menjadi berada pada sisi yang sama adalah hasil dari struktur tujuan kooperatif. Contoh lain dari saling-ketergantungan positif yang lain dalam aktivitas penjas adalah permainan kelompok piramid kecil. Ketika guru menyajikan tugas untuk membangun piramid (standen) oleh lima orang siswa bersamaan, maka semua akan terlibat dalam keseimbangan dan saling mendukung, siswa secara positif saling tergantung karena setiap siswa harus menyumbang dengan keseimbangan dan dukungan, atau, kalau tidak, mereka tidak akan mencapai tujuan sama sekali. Guru yang mengajar dengan pembelajaran kooperatif akan banyak melihat perilaku-perilaku seperti ini: empati, memperhatikan, menolong, menyemangati, mengajar, membantu, mendengarkan, dsb. Dan guru memang harus mengharapkan tumbuhnya manfaat-manfaat demikian pada siswa melalui keikutsertaannya dalam penjas.

4. Struktur pembelajaran kooperatif dalam penjas Agar guru pendidikan jasmani mampu menggunakan pembelajaran kooperatif secara efektif, maka mereka perlu memahami dan menerapkan struktur pembelajaran kooperatif ke dalam prakteknya. Struktur adalah metode pengaturan siswa untuk tercapainya interaksi sistematis selama pembelajaran kooperatif. Struktur ini bebas dari substansi (content free) dan berlaku sebagai sebuah dinding bangunan suatu pembelajaran. Dengan memahami struktur ini, maka guru akan dapat

mengembangkan pembelajaran kooperatif secara leluasa.

13

Paparan berikut adalah tentang struktur pembelajaran kooperatif, yang akan cocok untuk digunakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. 1) Pikir-Berbagi-Tampil Ini adalah strategi untuk mendorong keikutsertaan melalui proses berpikir, berbagi, bernegosiasi, dan menampilkan. Struktur ini terutama berguna dalam tarian kreatif, permainan, dan halang rintang, di samping dalam latihan strategi permainan dan olahraga melalui pelajaran pemecahan masalah (problem solving). Pelaksanaannya: 1.Guru mengemukakan masalah atau tantangan, 2.Siswa secara perorangan memikirkan kemungkinan jawabannya, 3.Siswa berbagai gagasan tentang jawaban dengan pasangan atau kelompoknya, 4.Siswa menampilkan sedikitnya satu jawaban dari masing-masing siswa dan memutuskan jawaban mana yang akan ditampilkan sebagai hasil regu. 2) Skor kolektif Suatu metode untuk berkooperasi di mana semua skor dari seluruh regu ditambahkan sebagai total skor regu (kolektif). Skor dapat ditotal dengan 3 cara berikut: 1.Skor ditambahkan sebagai skor kelompok dalam satu kelas. 2.Semua skor regu ditambahkan sebagai skor kelas. 3.Semua skor kelas ditambahkan sebagai skor sekolah.

14

Skor kolektif untuk hitungan detik atau pengulangan, dapat digunakan untuk berbagai kegiatan yang berbeda, termasuk olahraga beregu (misalnya voli), olahraga individual (misalnya bulutangkis), permainan kecil, senam, kebugaran jasmani, dan keterampilan gerak (misalnya, dribbling). Pelaksanaannya: 1. Siswa menampilkan keterampilan gerak tertentu, 2. Setiap siswa menghitung capaian atau ulangannya sendiri, 3. Setiap siswa menyumbangkan skornya pada skor total regu, 4. Jika penetapan tujuan digunakan, bijaksanalah untuk tidak menetapkan tujuan yang tidak realistis. Misalnya, dengan mengatakan bahwa target kali ini harus lebih baik dari yang sebelumnya. Tetapi akan dianggap baik jika guru mengatakan, Dapatkah kelompok kalian melakukan paling sedikit lima di bawah skor total yang lalu hingga sebanyak mungkin yang dapat dilakukan? Atau lebih baik jika guru mengajar siswa tentang menetapkan tujuan yang realistik dan mengijinkan mereka yang menetapkan tujuan mereka sendiri. 3) Pola Bergantian Dalam struktur ini setiap siswa melakukan tugas yang berbeda dari anggota regu lainnya, dan setelah menguasainya harus mengajarkannya pada anggota regu lain secara bergantian. Selama proses mengajar bergantian, terdapat saling-ketergantungan positif yang sangat kuat karena setiap siswa benar-benar bergantung pada yang lain untuk memperoleh informasi atau keterampilan. Salah

15

satu cara untuk mengajar struktur ini dalam penjas adalah mengajar kelompok dalam permainan. Pelaksanaannya: 1. Guru menentukan satu tugas dengan beberapa bagian. 2. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari dan melatih satu bagian yang ditetapkan. 3. Setiap anggota regu mengajar atau menampilkan bagiannya pada seluruh anggota kelompok. 4) Berbalasan Bertingkat Cara ini adalah struktur pembelajaran kooperatif yang mengharuskan setiap individu tetap dalam tugas dan membantu yang lain belajar. Struktur ini bermanfaat ketika mempelajari keterampilan manipulatif dan lokomotor, olahraga atau permainan serta tarian atau senam. Pelaksanaannya: 1. Guru menjelaskan, mendemonstrasikan, dan memeriksa pemahaman tentang keterampilan yang dipilih, 2. Guru menempatkan siswa dalam kelompok empat orang, yang dibagi menjadi dua pasangan. 3. Setiap pasangan ditentukan tugasnya, yang satu menjadi pelaku atau yang melakukan latihan, sementara yang satu lagi memberikan dorongan dan umpan balik memperbaiki penampilan.

16

4. Ketika siswa yang melakukan sudah dapat melakukan, siswa yang menjadi pengamat kemudian berganti menjadi pelaku, hingga iapun dapat melakukan dengan bantuan siswa yang lain yang kini jadi pemberi umpan balik. 5. Ketika setiap pasangan sudah menampilkan keterampilan dengan baik, mereka bergabung dan setiap pasangan menampilkan hasil latihannya. Jika semua siswa setuju bahwa keterampilan yang dihasilkan benar, maka mereka akan melanjutkan berlatih keterampilan lain. Jika tidak sepakat, masing-masing pasangan kembali berlatih sampai keterampilan yang disepakati dikuasai dengan baik dan semua siswa setuju. 5) Pembelajaran Kelompok Pembelajaran kelompok memberikan kesempatan pada siswa untuk berbagi andil dalam kepemimpinan dan tanggung jawab dan menggunakan keterampilan kolaboratif untuk mncapai tujuan kelompok. Pembelajaran kelompok berguna untuk penguasaan keterampilan dalam segala jenis materi pelajaran pendidikan jasmani. Pelaksanaan: 1. Guru memberikan penjelasan, demonstrasi, dan memeriksa pemahaman tentang keterampilan yang diberikan, 2. Guru menjelaskan hasil atau penampilan yang diharapkan serta keterampilan sosial yang penting untuk menyelesaikan tugas tersebut. 3. Siswa ditempatkan dalam kelompok beranggotakan empat orang. 4. Guru menugaskan masing-masing siswa dengan peranan khusus: a.Pelaku

17

b.Pengamat c.Pemberi umpan balik d.Pengumpul alat 5. Siswa melaksanakan peranan yang ditugaskan selama latihan keterampilan. 6. Siswa dapat dinilai oleh anggota kelompok dalam penampilan keterampilan. 7. Siswa diberi skor dengan cara individual, kelompok atau gabungan dari keduanya. 6) Permainan Kooperatif Permainan kooperatif menekankan kerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok melalui aktivitas inklusif, di mana semua siswa dilibatkan dan diterima. Permainan kooperatif merupakan struktur yang tepat untuk

memodifikasi atau menciptakan pemainan, tarian, halang rintang, dan aktivitas pengembangan keterampilan lain. Pelaksanaan: 1. Guru memberikan penjelasan dan demonstrasi serta memeriksa pemahaman siswa melalui pertanyaan pemecahan masalah. 2. Guru secara langsung mengajarkan keterampilan kolaboratif yang penting dan menekankan bahwa tanpa keterampilan tersebut kelompok tidak akan berhasil. 3. Guru memberi dorongan dan menguatkan gagasan bahwa siswa dapat berhasil kalau semua siswa berhasil.

18

4. Siswa ikutserta dalam kegiatan sementara guru memberi penguatan pada semua keterampilan dan perilaku yang akan menghasilkan kesuksesan kelompok. 5. Setelah proses pembelajaran, guru berlanjut dengan diskusi kelompok, mengapa mereka berhasil dan tidak berhasil. 6. Guru mendorong siswa untuk berpikir dan berbagai andil tentang bagaimana pencapaian tujuan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dan lebih cepat. 7) Permainan Kooperatif Berkelompok Pola ini merupakan struktur pembelajaran kooperatif di mana semua kelompok ditugaskan untuk melaksanakan satu tugas yang dibagi bersama oleh seluruh kelompok dalam kelas. Struktur ini berguna dalam wilayah permainan kreatif dan tarian. Pelaksanaan: 1. Semua siswa terlibat dalam diskusi tentang topik yang akan dipelajari di awal pelajaran. 2.Tema atau topik tugas dibagi ke dalam beberapa bagian. 3.Setiap kelompok mendapat satu bagian dari tugas. 4.Setiap kelompok mendiskusikan komponen-komponen dari bagiannya dan memutuskan bagaimana melatih dan menampilkan komponen tersebut. 5.Setiap kelompok menampilkan bagiannya di depan kelompok lain. 6.Setiap bagian dihubungkan dengan bagian lain dalam rangkaian utuh. 7.Semua bagian dikombinasikan sebagai penampilan kelas.

19

Melalui pemahaman dan penggunaan struktur seperti yang sudah dijelaskan dalam bagian ini, guru penjas diharapkan akan dapat menciptakan aktivitas pembelajaran kooperatif baru serta memodifikasi aktivitas yang sudah ada untuk memaksimalkan pembelajaran yang menyentuh semua ranah pembelajaran; psikomotor, kognitif, dan afektif. Menggunakan struktur ini akan membuat guru berubah dari guru yang selalu bersandar pada pendekatan aktivitas terbatas kepada pedekatan yang dapat diterpkan di seluruh bidang kurikulum pendidikan jasmani

5. Tipe-Tipe dari Pembelajaran Kooperatif Berikut ini adalah beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif. 1. Tipe STAD (Student Team Achievement Division) Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut: a) Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.

20

b) Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi,

membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran. c) Tes. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu. d) Peningkatan skor individu. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. e) Penghargaan kolompok. Kelompok penghargaan. yang mencapai rata-rata skor tertinggi, diberikan

2. Tipe Think-Pair-Share Think-Pair-Share merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985. ThinkPair-Share memberikan kepada para siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta

21

saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Tahapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah sebagai berikut.

a) Ber pikir (Think): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri. b) Berpasangan (Pair): Guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. c) Berbagi (Share): Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan

22

yang lain, sehingga seperempat atau setengah dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.

3.

Tipe Jigsaw Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan

teman-temannya di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins. Arends (1997) dalam bukunya menyimpulkan dengan kutipan sebagai berikut. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok.

4. Tipe NHT (Numbered Heads Together) Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together (Kepala bernomor) dikembangkan Spencer Kagan. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang paling tepat.

23

Selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Maksud dari kepala bernomor yaitu setiap anak mendapatkan nomor tertentu, dan setiap nomor mendapatkaan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menguasai materi. Dengan menggunakan model ini, siswa tidak hanya sekedar paham konsep yang diberikan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan temantemannya, belajar mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat teman, rasa kepedulian pada teman satu kelompok agar dapat menguasai konsep tersebut, siswa dapat saling berbagi ilmu dan informasi, suasana kelas yang rileks dan menyenangkan serta tidak terdapatnya siswa yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran karena semua siswa memiliki peluang yang sama untuk tampil menjawab pertanyaan. Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together antara lain: a) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. b) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok me- ngerjakannya. c) 3 Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/menge-tahui jawabannya. d) Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka. e) Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.

24

5. Tipe GI (Group Investigation) Pembelajaran kooperatif tipe GI didasari oleh gagasan John Dewey tentang pendidikan yang menyimpulkan bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah,

mengeksplorasi berbagai hal mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis. Tahapan-tahapan dalam

menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut: a) Tahap Pengelompokan (Grouping) Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta mebentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini, yang pertama siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik permasalahan kemudian siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, lalu guru membatasi jumlah anggota masing-masing kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan. b) Tahap Perencanaan (Planning) Tahap Planning atau tahap perencanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang: Apa yang mereka

25

pelajari? Bagaimana mereka belajar? Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut? c) Tahap Penyelidikan (Investigation) Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut: pertama siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki, kemudian masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, lalu siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat. d) Tahap Pengorganisasian (Organizing) Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: pertama anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proteknya masing-masing, kemudian anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, lalu wakil dari masing-masing kelompok

membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi. e) Tahap Presentasi (Presenting) Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut: pertama, penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian, kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif

26

sebagai pendengar, kemudian pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan. f) Tahap Evaluasi (Evaluating) Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: pertama siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman mengkolaborasi, efektifnya, kemudian guru dan yang siswa telah

mengevaluasi

tentang

pembelajaran

dilaksanakan, dan penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.

6.

Tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition) Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan

Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting. Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dalam kelompok ini tidak dibedakan jenis kelamin,

27

suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, siswa juga dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya. Model pembelajaran ini, dibagi menjadi beberapa fase: a) Fase Orientasi Pada fase ini, guru memberikan pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan diberikan. Selain itu guru juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada siswa. b) Fase Organisasi Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada siswa. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung. c) Fase Pengenalan Konsep Dengan cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, film, kli- ping, poster atau media lainnya.

28

d) Fase Publikasi Siswa mengkomunikasikan hasil temuan-temuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas. e) Fase Penguatan dan Refleksi Pada fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasan-penjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya siswa pun diberi kesempatan untuk merefleksikan dan mengevaluasi hasil

pembelajarannya.

7. Tipe Make A Match (Membuat Pasangan) Metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: a) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi pemilihan, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. b) Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. c) Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

29

d) Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. e) Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. f) Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama. g) Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya. h) Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. i) Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

8. Tipe Two Stay Two Stray (TS-TS) Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TS-TS)

dikembangkan oleh Spencer Kagan. Metode ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia. Metode pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Metode ini juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik. Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray seperti yang diungkapkan, antara lain:

30

a) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari empat siswa. Kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok heterogen seperti pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membelajarkan dan saling mendukung. b) Guru memberikan subpokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-masing. c) Siswa bekerjasama dalam kelompok beranggotakan empat orang. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir. d) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. e) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. f) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. g) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. h) Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.

31

B. Mengatasi siswa yang pasif dalam model pembelajaran kooperatif Dalam suatu model pembelajaran kooperatif, kita juga harus memikirkan bagaimana metode yang kita terapkan dapat berjalan secara efektif. Pada model pembelajaran kooperatif, banyak tipe yang di tawarkan. Akan tetapi, kali ini saya akan membahas bagaimana cara menangani siswa yang pasif dalam kelompoknya. Untuk dapat manangani siswa yang demikian, tentu kita perlu adanya pertimbangan-pertimbangan yang mengarah pada kepada keaktifan anak tersebut. Metode yang akan di gunakan adalah kombinasi dari kooperatif tipe Two Stay Two Stray dan Cooperatif Integrated Reading And Composition. Atau di sebut dengan One in three out a. Pengertian Tipe One in three out Tipe One in three out merupakan suatu tipe dari pembelajaran kooperatif yang lebih mengedepankan pengembangan potensi siswa. Siswa di tuntut bertanggung jawab serta dapat memahami materi telah di berikan. Untuk selanjutnya menjelaskan materi yang telah di pelajari kepada kelompok lainnya. Metode ini juga mengajarkan untuk menjadi pendengar dan pembicara yang baik. Dalam metode ini, ketergantungan positif yang di harapakan terlihat dalam proses pembelajaran kooperatif akan terlihat, yaitu di mana pekerjaan satu siswa sangat berpengaruh dalam keberhasilan dalam kelompok tersebut untuk mencapai sebuah satu tujuan mereka.

32

b. Langkah-langkah Tipe One in three out 1. Membagi kelompok yang terdiri atas 4 orang secara heterogen. Dalam kelompok ini terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membelajarkan dan saling mendukung. 2. Guru memberikan materi kepada kelompok-kelompok yang sudah terbentuk. 3. Masing-masing kelompok mempelajari materi yang di berikan secara seksama ( di sini peran siswa yang memiliki kemampuan lebih di atas yang lainnya di perlukan ) 4. Setelah selesai memahami materi, 3 orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain ( semua kelompok ) menjelaskan materi yang telah di bahas di kelompoknya. 5. Satu orang yang tinggal, dan menunggu tamu yang akan datang ke kelompoknya, dan siap menerima materi yang akan di sampaikan oleh si tamu. 6. Jika semua telah selesai melakukan tugasnya, anggota kembali ke kelompok masing-masing dan membahas atau mendiskusikan keseluruhan materi yang telah di dapat. 7. Setelah selesai, kelompok membentuk sebuah struktur kacil untuk

mempresentasikan hasil kerjanya. 8. Melakukan presentasi atau laporan akhir.

33

C. Metode Pembelajaran Kooperatif di luar ruangan ( Praktek Lapangan ) Dalam pembelajaran penjas, tentunya tidak lepas kaitannya dengan permainan, olahraga, dan praktek lainnya. Untuk melaksanakan pembelajaran penjas di luar ruangan atau praktek tentulah tidak mudah seperti yang di bayangkan. Karena dari itu, kita perlu yang namanya perencanaan dan strategi pembelajaran di mana kita dapat melaksanakan proses pembelajaran tersebut dengan efektif dan efisien. Dalam konteks ini, kita perlu melakukan suatu inovasi ataupun modifikasi dalam hal strategi pembelajaran secara kooperatif, agar tercapailah suatu kualitas hasil pembelajaran yang kita inginkan. Dari hasil analisa, penggabungan dari beberapa referensi, serta pengamatan bersama kelompok, metode yang efisien dalam melakukan pembelajaran penjas di luar ruangan adalah metode pembelajaran kooperatif yang sedikit di modifikasi dari poin di atas struktur pembelajaran koperatif dalam penjas yaitu Pembelajaran Kelompok. Tujuan dari metode ini adalah terciptanya suatu suasana belajar yang menyenangkan, hasil belajar yang efektif, dengan alokasi waktu yang efisien. Juga memberikan kesempatan pada siswa untuk berbagi andil dalam kepemimpinan dan tanggung jawab dan menggunakan keterampilan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok Metode ini di lakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

34

1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan. Guru menjelaskan materi yang meliputi deskripsi materi itu sendiri, tujuan materi, serta cara atau langkah melakukannya. 2. Guru memberikan tes awal ( pengamatan potensi ) Dalam langkah ini, guru langsung memerintahkan siswa untuk langsung melakukan apa yang sudah di jelaskan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa. Dan langkah-langkah dalam pengamatan ini adalah sebagai berikut : Pembentukan grup Di lakukan secara acak karena belum di ketahui tingkat kemampuannya. Melakukan tes Guru membuat suatu permainan dengan peraturan yang sudah di modifikasi sesuai dengan materinya. Memberikan dan menganalisa skor Di sini guru akan menganalisa skor awal yang di dapat oleh murid sebagai landasan dalam pembagian kelompok

selanjutnya. 3. Guru membentuk kelompok secara heterogen. Guru membentuk kelompok yang di dalamnya terdapat tingkat kemempuan siswa yang tinggi, sedang, dan rendah, sesuai dengan hasil skor awal.

35

4. Siswa membentuk forum. Di sini siswa akan berdiskusi serta berlatih dengan kelompoknya masing-masing untuk lebih dapat menguasai materi tersebut. Dalam satu kelompok guru menunjuk satu orang yang memiliki skor awal tertinggi untuk memimpin kelompoknya. Akan tetapi, guru akan tetap membantu dalam proses latihan tersebut. Dalam tahap ini pula guru akan lebih jeli dalam mengamati proses berlangsungnya kegiatan kelompok tersebut dengan tujuan ketepatan dalam penilaian nantinya. 5. Evaluasi Guru memberikan evaluasi atau penilaian secara berkelompok. Yaitu siswa harus dapat memasing bola secara berkala selama 1 menit dengan tidak menjatuhkan bola untuk mendapat nilai terbaik.

36

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. 2. Pembelajaran kooperatif one in three out merupakan suatu tipe dari pembelajaran kooperatif yang lebih mengedepankan pengembangan potensi siswa. Siswa di tuntut bertanggung jawab serta dapat memahami materi telah di berikan. Untuk selanjutnya menjelaskan materi yang telah di pelajari kepada kelompok lainnya. Metode ini juga mengajarkan untuk menjadi pendengar dan pembicara yang baik. 3. Metode yang tepat dalam melakukan pembelajaran penjas di luar ruangan adalah metode pembelajaran kooperatif yang sedikit di modifikasi dari poin di atas struktur pembelajaran koperatif dalam penjas yaitu Pembelajaran Kelompok. Tujuan dari metode ini adalah terciptanya suatu suasana belajar yang menyenangkan, hasil belajar yang efektif, dengan alokasi waktu yang efisien.

37

B. Saran 1. Untuk para pengajar dalam proses pembelajaran lebih baik menggunakan strategi kooperatif dengan tipe yang membangun potensi diri siswa. 2. Apabila menggunakan pembelajaran kooperatif guru harus selalu membimbing siswa dalam berdiskusi agar tujuan pembelajaran dapat ter- capai. 3. Untuk mendapatkan hasil yang optimal setiap siswa harus aktif dalam berdiskusi dan harus saling menghargai setiap pendapat, ide, atau gagasan dari anggota yang lain.

Anda mungkin juga menyukai