Anda di halaman 1dari 4

Striknin Strikinin merupakan alkaloid utama dalam Nux vomica, biji tanaman Strychnos nux vomica.

Striknin bekerja dengan mengadakan antagonisme kompetitif terhadap glisin di daerah penghambatan pascasinaps. Glisin bertindak sebagai transmiter penghambat pasca sinaps yang terletak pada pusat di SSP (Louisa dan Dewoto 2007). Senyawa ini merupakan konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas. Pada hewan coba konvulsi ini berupa ekstensif tonik dari badan dan semua anggota gerak. Sifat khas lainnya dari kejang striknin ialah kontraksi ekstensor yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan sensorik yaitu pendengaran, penglihatan dan perabaan. Konvulsi seperti ini juga terjadi pada hewan yang hanya mempunyai medula spinalis. Striknin ternyata juga merangsang medula spinalis secara langsung. Atas dasar ini efek striknin dianggap berdasarkan kerjanya pada medula spinalis dan konvulsinya disebut konvulsi spinal (Louisa dan Dewoto 2007) Striknin mudah diserap dari saluran cerna dan tempat suntikan, segera meninggalkan sirkulasi masuk ke jaringan. Kadar striknin di SSP tidak lebih daripada di jaringan lain. Stirknin segera di metabolisme oleh enzim mikrosom sel hati dan diekskresi melalui urin (Louisa dan Dewoto 2007). Gejala keracunan striknin yang mula-mula timbul ialah kaku otot muka dan leher. Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan gerakan motorik hebat. Pada stadium awal terjadi gerakan ekstensi yang masih terkoordinasi, akhirnya terjadi konvulsi tetanik. Episode kejang ini terjadi berulang, frekuensi dan hebatnya kejang bertambah dengan adanya perangsangan sensorik. Kontraksi otot ini menimbulkan nyeri hebat, dan penderita takut mati dalam serangan berikutnya (Sunaryo 1995). DAFTAR PUSTAKA Louisa M & Dewoto HR. 2007. Perangsangan Susunan Saraf Pusat dalam: Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta, hal. 247-248 Sunaryo. 1995. Perangsang Susunan Saraf Pusat, dalam: Farmakologi dan Terapi. Edisi Keempat. Editor Sulistia G. Ganiswara. Jakarta: Bagian

Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 223-224.

Tanin Tanin adalah senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada beberapa tanaman. Tanin mampu mengikat protein, sehingga protein pada tanaman dapat resisten terhadap degradasi oleh enzim protease di dalam silo ataupun rumen (Kondo et al., 2004). Tanin selain mengikat protein juga bersifat melindungi protein dari degradasi enzim mikroba maupun enzim protease pada tanaman sehingga tanin sangat bermanfaat dalam menjaga kualitas silase. Tanin merupakan senyawa kimia yang tergolong dalam senyawa polifenol (Deaville et al., 2010). Tanin mempunyai kemampuan mengendapkan protein, karena tanin mengandung sejumlah kelompok ikatan fungsional yang kuat dengan molekul protein yang selanjutnya akan menghasilkan ikatan silang yang besar dan komplek yaitu protein tanin. Tanin mempunyai berat molekul 0,5-3 KD. Menurut Susanti (2000), sifat utama tanin pada tanaman tergantung pada gugus fenolik-OH yang terkandung dalam tanin. Tanin secara umum memiliki gugus fenol dan bersifat koloid. Semua jenis tanin dapat larut dalam air, kelarutannya besar dan akan bertambah besar apabila dilarutkan dalam air panas. Begitu pula dalam pelarut organik seperti metanol, etanol, aseton dan pelarut organik lainnya. Reaksi warna terjadi bila disatukan dengan garam besi. Reaksi ini digunakan untuk menguji klasifikasi tanin. Reaksi tanin dengan garam besi akan memberikan warna hijau dan biru kehitaman, tetapi uji ini kurang baik karena selain tanin yang dapat memberikan reaksi warna, zat-zat lain juga dapat memberikan reaksi warna yang sama. Tanin dapat dihidrolisis oleh asam, basa, dan enzim. Ikatan kimia yang terjadi antara tanin-protein atau polimer lainnya terdiri dari ikatan hidrogen, ikatan ionik, dan ikatan kovalen. Tanin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi menjadi suatu polimer, sebagian besar tanin amorf (tidak berbentuk) dan tidak mempunyai titik leleh. Tanin mempunyai sifat bakteristatik dan fungistatik.

Daftar Pustaka Kondo, M., K. Kita, & H. Yokota. 2004. Feeding value to goats of whole crop oat ensiled with green tea waste. Anim. Feed. Sci. Technol. 113: 71-81. Deaville, E. R., D. I. Givens, & I. Mueler-Harvey. 2010. Chesnut and Mimosa tannin silages: Effect in sheep differ for apparent digestibilty, nitrogen utilitation and losses. Anim. Feed Sci. Technol. 157: 129-138. Susanti, C. M. E. 2000. Autokondensat tanin sebagi perekat kayu lamina. Jurusan IPK. Program pasca sarjana IPB. Bogor. Desertasi

Tanin + Striknin Kel 1

Fisiologis Nafas 88 Jantung 132 Nafas 78 Jantung 200

T konvulsi -

T relaxasi -

T kematian -

Kel 2

Pembahasan Berdasarkan hasil percobaan didapatkan hasil kondisi fisiologi tikus 1 kelompok 1 dengan frekuensi nafas 88 kali/menit dan frekuensi jantung 132 kali/menit. Hal tersebut sesuai dengan Marcel (2007) yang menyatakan frekuensi nafas tikus 70-115 kali/menit. Namun untuk frekuensi jantung dibawah dari nilai normal yaitu 250-450 kali/menit (WVU 2011). Demikian juga untuk tikus 1 kelompok 2 dengan frekuensi nafas 78 kali/menit dan frekuensi jantung 200 kali/menit. Frekuensi jantung dibawah batas normal. Namun secara keseluruhan kondisi fisik tikus dalam keadaan baik. Pemberian tannin dilakukan secara peroral sebanyak . mL kemudian ditunggu 30 menit. Dilanjutkan dengan pemberian striknin yang berfungsi untuk merangsang medulla spinalis dan bagian dari SSP lainnya sehingga diharapkan dapat menyebabkan konvulsi. Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa tikus 1 kelompok 1 dan 2 tidak menunjukkan gelaja konvulsi, relaksasi maupu kematian. Hal ini disebabkan adanya tannin sebagai antidota yang memiliki fungsi menghambat absorbsi striknin dalam saluran percernaan. Selain itu, tannin

berperan sebagai astringensia yang dapat mempresipitasikan protein karena mempunyai afinitas yang tinggi terhadap molekul protein untuk membentuk kompleks enzim-substrat. Senyawa tannin juga dapat membentuk larutan garam yang tidak larut dengan logam berat alkaloid dan glikosida sehingga dapat menurunkan efek toksisitasnya (Booth dan McDonald 1982). Dengan demikian striknin dapat dihambat absorbsinya dan efek toksisitasnya dapat diturunkan sehingga tidak menimbulkan gejala konvulsi, relaksasi maupun kematian. Booth NH, McDonald LE. 1982. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. Ed ke-5. Ames: Iowa State University Press. [WVU] West Virginia University. 2011. WVU ACUC Approved Guidelines: Anesthesia and Analgesia in Rats. Marcel I. 2007. Rat Biomethodology. The University of Texas at San Antonio.