Anda di halaman 1dari 7

Peninjauan Analisa Portal Terhadap Pengaruh Rigid End Offset

Pada kenyataannya rangka portal bangunan gedung bagian pertrmuan antara kolom dan balok
mempunyai kekauan yang tak terhingga. Dalam analisis sering diabaikan karena untuk tujuan
kecepatan proses desain ataupun kemampuan software Structural Analysis yang digunakan,
menurut Portland Cement Asociation (1992). Hal ini akan menyebabkan hasil analisa struktur
yang over-estimate pada hasil defleksi dan under-estimate pada hasil gaya pada ujung elemen.
Akan dipelajari perbedaan tinjauan Analisa Struktur terhadap pengaruh keadaan tersebut.
Program bantu SAP2000 mempunyai kemampuan untuk representasi keadaan tersebut, hasil
keluaran merupakan hasil dari ujung elemen yang ditinjau terhadap Rigid End tersebut yaitu
pada ujung (i') dan (j'), seperti yang dijelaskan berikut.

Balok X

Rigid Zone

Balok Y

Non Rigid

Rigid Zone pada elemen kolom berada pada daerah setinggi h balok, sedangkan pada elemen
balok karena letak elemen frame yaitu pada titik pusat center maka Rigid Zone berada pada
daerah ½ lebar kolom. Elemen diluar daerah tersebut merupakan elemen frame normal (non
rigid).

Akan dipelajari pengaruh tersebut terhadap analisa struktur dari denah bangunan gedung
dibawah ini. Dianggap tumpuan terjepit penuh, untuk tujuan kemudahan penyampaian
makalah ini portal hanya ditinjau secara 2 dimensi.

Catatan Penggunaan SAP2000 - Suyono Nt., 2006 Hal. 1 dari 7


19.00

3
4.00

2
4.00

1
7.00 5.00 7.00

A B C D
Dimensi :
● Kolom 40x40 cm
● Balok 40x25 cm
● Lantai Beton tebal 12 cm (Lantai 2 dan Atap)

3.50

4.00

7.00 5.00 7.00

A B C D

E c =4700  f c
'
Direncanakan mutu beton f'c = 25 Mpa, sehingga Mod. Elastisitas
= 23500 MPa

Catatan Penggunaan SAP2000 - Suyono Nt., 2006 Hal. 2 dari 7


Pembebanan Struktur (Tinjau daerah yg diarsir Portal As-2)
2
● Berat Pelat lantai tebal 12 cm, W plt = 0,12 x 24 = 2,88 kN/m
2
● Berat Plafond, Finishing dan elektrikal, Wpfe = 1 kN/m
Beban Mati DL merata, Jumlah = 3,88 kN/m2 x (2+2)m = 15,52 kN/m'

● Dinding Batu bata ½ bt setinggi 3,5 m, Wddg = 2,5 x 3,5 = 8,75 kN/m'
● Berat sendiri struktur dihitung langsung SAP2000 dengan Selfweight multiplier 1.

● Beban Hidup merata, Whidup = 4 kN/m2 x (2+2)m = 16 kN/m' (Bekerja pada Lt.2)

Kombinasi Pembebanan yang ditinjau yaitu 1,2DL + 1,6 LL

Adapun pemodelan Analisa struktur yang ditinjau adalah :


A. Tanpa Rigid End ( faktor = 0 )
B. Dengan Rigid End Sebagian ( faktor = 0,5 )
C. Dengan Rigid End Penuh 1 ( faktor = 0,8 ) pengaruh retak.
D. Dengan Rigid End Penuh 2 ( faktor = 1,0 )

Model A (Rigid End Offset Factor = 0)


(Digram Momen Lentur)

Gaya terbesar pada Balok akibat beban kombinasi (1,2DL + 1,6 LL)
● Momen, M3-3 = + 130,06 kN.m (Tengah Bentang)
= - 234,63 kN.m (Ujung Tepi Kanan pertemuan dgn Kolom)
● Geser, V2-2 = 204,91 kN (Ujung Tepi pertemuan dgn Kolom)
Gaya terbesar pada Kolom
● Momen, M3-3 = + 94,19 kN.m (Ujung Atas pertemuan dengan Balok)
● Geser, V2-2 = 35,23 kN
● Aksial, P = 305,83 kN

Catatan Penggunaan SAP2000 - Suyono Nt., 2006 Hal. 3 dari 7


Model B (Rigid End Offset Factor = 0,5) offset 0,2 m
(Diagram Momen Lentur)

Gaya terbesar pada Balok akibat beban kombinasi (1,2DL + 1,6 LL)
● Momen, M3-3 = + 122,78 kN.m (Tengah Bentang)
= - 202,15 kN.m (Ujung Tepi Kanan, offset dari Kolom 0,2 m)
● Geser, V2-2 = 193,42 kN (Ujung Tepi Kanan, offset dari Kolom 0,2 m)
Gaya terbesar pada Kolom
● Momen, M3-3 = + 88,96 kN.m (Ujung Atas pertemuan dengan Balok)
● Geser, V2-2 = 35,97 kN
● Aksial, P = 305,95 kN

Catatan Penggunaan SAP2000 - Suyono Nt., 2006 Hal. 4 dari 7


Model C (Rigid End Offset Factor = 0,8) offset 0,2 m
(Diagram Momen Lentur)

Gaya terbesar pada Balok akibat beban kombinasi (1,2DL + 1,6 LL)
● Momen, M3-3 = + 118,49 kN.m (Tengah Bentang)
= - 206,44 kN.m (Ujung Tepi Kanan, offset dari Kolom 0,2 m)
● Geser, V2-2 = 193,43 kN (Ujung Tepi Kanan, offset dari Kolom 0,2 m)
Gaya terbesar pada Kolom
● Momen, M3-3 = + 89,99 kN.m (Ujung Atas pertemuan dengan Balok)
● Geser, V2-2 = 36,36 kN
● Aksial, P = 306,04 kN

Catatan Penggunaan SAP2000 - Suyono Nt., 2006 Hal. 5 dari 7


Model D (Rigid End Offset Factor = 1,0) offset 0,2 m
(Diagram Momen Lentur)

Gaya terbesar pada Balok akibat beban kombinasi (1,2DL + 1,6 LL)
● Momen, M3-3 = + 115,68 kN.m (Tengah Bentang)
= - 209,26 kN.m (Ujung Tepi Kanan, offset dari Kolom 0,2 m)
● Geser, V2-2 = 193,43 kN (Ujung Tepi Kanan, offset dari Kolom 0,2 m)
Gaya terbesar pada Kolom
● Momen, M3-3 = + 90,65 kN.m (Ujung Atas pertemuan dengan Balok)
● Geser, V2-2 = 36,60 kN
● Aksial, P = 306,10 kN

Grafik hubungan gaya internal balok dan kolom dengan faktor rigid end dijelaskan berikut.

250
234.63

225
209.26
206.44
202.15
200
Mu Balok

175

150
130.06
122.78
125 118.49
115.68

100
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

Rigid End Factor

Garis merah adalah momen positif (tengah bentang)


Garis kuning adalah momen negatif (ujung tepi)

Catatan Penggunaan SAP2000 - Suyono Nt., 2006 Hal. 6 dari 7


100

94.19

Mu Kolom
90.65
89.99
90 88.96

80
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Rigid End Factor

Garis kuning adalah momen Mu Kolom

Selisih hasil perhitungan Momen Mu berdasarkan tinjauan tanpa rigid zone dan tinjauan
dengan rigid zone penuh (faktor = 1,0), pada elemen Balok yaitu sebesar :
● Momen Positif (tengah bentang ) = (130,06-115,68)/130,06 x 100 = 11,06 %
● Momen Negatif (ujung tepi kanan) = (234,63-209,26)/234,63 x 100 = 10,81 %
Sedangkan selisih hasil perhitungan pada elemen Kolom yaitu sebesar :
● Momen Positif (ujung atas) = (94,19-90,65)/91,19 x 100 = 3,76 %
Terlihat disini hasil perhitungan dengan tinjauan rigid zone lebih kecil berkisar 10% dari
tinjauan perhitungan biasa.

Kesimpulan
Dari hasil analisa struktur dengan program bantu SAP2000 yang sudah ditinjau tersebut,
menjelaskan pada elemen balok bahwa semakin tinggi faktor rigid end offset maka momen
positif tengah bentang akan semakin mengecil sedangkan sebaliknya pada ujung tepi momen
negatif akan semakin membesar. Sedangkan pada elemen kolom, karena gaya momen terbesar
yaitu pada ujung atas/bawah maka semakin besar nilai faktor rigid end akan semakin besar
pula hasil momen. Hal ini sesuai dengan prinsip analisa struktur bahwa semakin besar
kekangan terhadap perputaran/rotasi suatu tumpuan akan memberikan kemampuan
menerima/menahan momen yang semakin besar pula. Menurut E. L Wilson (1995)
penggunaan representasi rigid zone sesuai pula untuk diterapkan pada analisa dinding geser
baik yang mempunyai lubang maupun tidak, ini karena pengaruh distribusi tegangan yang
tidak kontinuitas pada daerah pertemuan sprandel beam dan shearwall (pernyataan tersebut
akan dipelajari oleh penyusun pada kesempatan yang akan datang).

Daftar Pustaka
● Computers and Structures Inc., 2004 “CSI Analysis Reference Manual for SAP2000,
ETABS & SAFE”
● Naveed Anwar, 2002 “Building Structures – Modeling and Analysis Concepts”
● Portland Cement Association, 1992 “PCA Frame – Manual”
● E. L Wilson, 1995 “No Title : Personal Website“ Online www.wilson.org, Juli 2005

Catatan Penggunaan SAP2000 - Suyono Nt., 2006 Hal. 7 dari 7