Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA THORAX

I. KONSEP DASAR A. Pengertian Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Lap. UPF bedah, 1994).

Anatomi Thorax Dinding dada merupakan bungkus untuk argan yg ada didalamnya yang terbesar adalah jantung dan paru-paru. Tulang iga tulang iga bersama dengan tulang sternum membentuk rangka dada.otot-otot inercostal serta diafragma pada bagian caodal menutup rongga dada shg terbentuk rongga dada. Dinding dada meliputi: Sternum Costae dan cartilagocostalis Parsthoracicacolumna vertebralis

Sternum Ad/tulang pipih,berbentuk panjang,terletak dalam subkutan pada garis tengah bagian depan dada yg terdiri dari 3 bag: Manubrium Corpus Processus xipoideus

Costae Terdiri dari 12 pasang tulang yang melindungi dinding dada dan berartikulasi/melekat dgn columna vertebralis, dan di dpn melalui cartilago costalis dengan sternum. Cartilago costalis berhubungan dng costae 1-10 dngn sternum.sedang yg 11 dan12 tdk mencapai sternum.costae ada 12 pasang ka/ki.Tulang iga /costa dibagi 3 bagian: T.Iga sejati/os costae vera,ada 7 pasang

T.Iga tdk sejati/oscostaspura,3psng T.iga melayang/oscostafluitantes

Organ bagian dalam thorak 1.anatomi paru Paru-paru terdiri 2 lapisan Lap.parietalis:bag.luar yang melekat rongga dada ka/ki.

Lap.pleura viseralis:melapisi sluruh paru ka/ki.dan antara lapisan itu ada rongga disebut cavum pleura.yg memiliki tekanan negatif/menar Pleura yg bertekanan negatif/menghisap sehingga tdk bersinggungan kedua lapisan.jika ada hubungan dengan udara luar terjadi tekanan positif masuk ke rongga paru dpt terjadi pneumothorak.

Fisiologi paru. Pernafasan terdiri dari inspirasi dan ekspirasi. Dengan tujuan untuk memasukkan oksigen dalam tubuh lalu berdifusi dlm darah.jika terjadi gangguan dpt terjadi tachipnoe dan dispnoe. Jenis trauma thorak 1. 2. 3. Obsruksi:penekanan pd trakea didaerah thorak o/k fr.sternum Gangguan breathing Pneumothorak:adanya luka terbuka pd dinding dada menyebabkan udara masuk. Tension pneumotorak:karna udara memenuhi rongga dada terjadi sesak. Haemo thorak:perdarahan di rongga dada flail ches

Fr.iga multiple pd dua atau lbih dngan dua atau lebih gris fraktur. Fisiologi jantung Letak Pada mediastenum dirongga dada antara paru-paru. Lapisan perikardium Viseralis/dalam melekat pada jantung

Parietalis/luar,melekat pada tulang dada bag.dpan,dibawah diafragma,di columna vertebralis bag,blakang Lapisan jantung: Epicardium/luar Miokardium/tengah Endokardium/dalam

Ruang jantung Atrium/ruangbag.atas dan ventrikel/r.r.bag.bawah Anatomi aliran darah di jantung Vena cava---atr,ka---ventr,ka----arteriapulmonalis----paru-paru---vena pulmonalis---atr,ki---ventr,ki---aorta---arteri---arteriola---kapilervenulaseluruh tbh.

Gambar Rongga Thoraks :

Jantung & perikardium AORTA Trakea Left Lung lung Right

Sternum Saraf frenikus Vena Kava Superior Oesophagus Saraf vagus

Aorta Sal. Torasika

Vertebra

Patofisiologi Trauma Thorax

Mengenai rongga toraks sampai rongga pleura, udara bisa masuk (pneumothorax)

Terjadi robekan Pemb. Darah intercostal, pemb.darah jaringan paru-paru.

Terjadi perdarahan : Karena tekanan negative intrapleura intraalveolar Maka udara luar akan terhisap masuk ke rongga pleura (sucking wound) tahanan perifer pembuluh paru naik (aliran darah turun) - Open penumothorax - Close pneumotoraks - Tension pneumotoraks = ringan kurang 300 cc di punksi = sedang 300 - 800 cc di pasang drain = berat lebih 800 cc torakotomi Tek. Pleura meningkat terus Tek. Pleura meningkat terus mendesak paru-paru (kompresi dan dekompresi) (perdarahan jaringan intersititium, perarahan

diikuti kolaps kapiler kecil-kecil dan atelektasi)

pertukaran gas berkurang - sesak napas yang progresif (sukar bernapas/bernapas berat) trauma - nyeri bernapas - bising napas berkurang/hilang - bunyi napas sonor/hipersonor = sesak napas yang progresif = nyeri bernapas / pernafsan asimetris/adanya jejas atau

= pekak dengan batas jelas/tak jelas. = bising napas tak terdengar = nadi cepat/lemah

- poto toraks gambaran udara lebih dari rongga torak

anemis / pucat = foto toraks 15 - 35 % tertutup bayangan

WSD/Bullow Drainage

terdapat luka pada WSD nyeri pada luka bila untuk

- Kerusakan integritas kulit - Resiko terhadap infeksi - Perubahan kenyamanan : Nyeri - Ketidak efektifan pola pernapasan - Gangguan mobilitas fisik - Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan Pergeseran mediatinum

bergerak. perawatan WSD harus di perhatikan. Inefektif bersihan jalan napas

B. a. b.

Pemeriksaan Penunjang : Photo toraks (pengembangan paru-paru). Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup).

C. Penatalaksanaan 1. Bullow Drainage / WSD

Pada trauma toraks, WSD dapat berarti : a. Diagnostik :

Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shock. b. Terapi :

Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya.

c.

Preventive :

Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" tetap baik.

2.

Perawatan WSD dan pedoman latihanya :

a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien. b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. c. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : Penetapan slang.

Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.

Pergantian posisi badan.

Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. d. Mendorong berkembangnya paru-paru. Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. Latihan napas dalam. Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem. Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.

e.

Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.

Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. f. Suction harus berjalan efektif :

Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi. Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah. Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. g. Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. 2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage. 3) Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan kocher. 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatif dalam rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll. h. Dinyatakan berhasil, bila : a. b. c. Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi. Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage. Tidak ada pus dari selang WSD.

3. a. b.

Pemeriksaan penunjang X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral) Diagnosis fisik :

Bila pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi.

Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit. Pada keadaan pneumothoraks yang residif lebih dari dua kali harus dipertimbangkan thorakotomi Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi.

4. a. b. c.

Terapi : Antibiotika.. Analgetika. Expectorant.

D. Komplikasi 1. 2. 3. tension penumototrax penumotoraks bilateral emfiema

II. KONSEP KEPERAWATAN A. Pengkajian :

Point yang penting dalam riwayat keperawatan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. B. Umur : Sering terjadi usia 18 - 30 tahun. Alergi terhadap obat, makanan tertentu. Pengobatan terakhir. Pengalaman pembedahan. Riwayat penyakit dahulu. Riwayat penyakit sekarang. Dan Keluhan. Pemeriksaan Fisik :

1.

Sistem Pernapasan : Sesak napas Nyeri, batuk-batuk. Terdapat retraksi klavikula/dada. Pengembangan paru tidak simetris. Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani, hematotraks (redup) Pada auskultasi suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang. Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas. Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

2.

Sistem Kardiovaskuler : Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk. Takhikardia, lemah Pucat, Hb turun /normal. Hipotensi.

3.

Sistem Persyarafan : Tidak ada kelainan.

4.

Sistem Perkemihan. Tidak ada kelainan.

Sistem Pencernaan :

Tidak ada kelainan.

Sistem Muskuloskeletal - Integumen. Kemampuan sendi terbatas. Ada luka bekas tusukan benda tajam. Terdapat kelemahan. Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

Sistem Endokrine : Terjadi peningkatan metabolisme. Kelemahan.

Sistem Sosial / Interaksi. Tidak ada hambatan.

Spiritual : Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

10.

Pemeriksaan Diagnostik : Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural. Pa Co2 kadang-kadang menurun. Pa O2 normal / menurun. Saturasi O2 menurun (biasanya). Hb mungkin menurun (kehilangan darah). Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,

Diagnosa Keperawatan : 1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan. 2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. 3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. 4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. 5. 6. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.

7. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.

E.

Intevensi Keperawatan :

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma. Tujuan : Pola pernapasan efektive. Kriteria hasil : Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Intervensi : a. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.

R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. b. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok sehubungan dengan hipoksia. c. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. d. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. e. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. f. 1) Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 - 2 jam : Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.

R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan. 2) Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.

R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural. 3) Observasi gelembung udara botol penampung.

R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu. 4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu. R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan. 5) Catat karakter/jumlah drainage selang dada.

R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.

g. 1)

Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi. Pemberian antibiotika. Pemberian analgetika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks.

R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Tujuan : Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil : Menunjukkan batuk yang efektif. Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan. Klien nyaman.

Intervensi : a. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan. R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. b. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi. 1) Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.

R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. 2) Lakukan pernapasan diafragma.

R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. 3) Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.

4) Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret. c. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. d. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis. e. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.

R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. f. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi. Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks.

R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.

Kriteria hasil : Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi. Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri. Pasien tidak gelisah.

Intervensi : a. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.

R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. 1) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase. R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya. 2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. b. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil. R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. c. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung. R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. d. Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.

R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang. e. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari. R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah. Jakarta : Pusdiknakes.

Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta : EGC.

Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.

Pusponegoro, A.D.(1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

A. Konsep Dasar Medis

1. Definisi

Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan system pernafasan.

2. Anatomi Fisiologi

kerangaka

Sumber : http://www.ilmu-keperawatan.com

Kerangka rongga toraks, merincing pada bagain atas torak dan berbentuk kerucut, terdiri dari sternum, 12 vertebra, 10 pasang iga yang terakhir di anterior dalam segmen tulang rawan, dan 2 pasang iga yang melayang. Kartilago dari enam iga pertama memisahkan artikulaso dari sternum; katilago ketujuh sampai sepuluh berfungsi membentuk kostal-kostal sebelum menyambung pada tepi bawah sternum. Perluasan rongga pleura di atas klavikula dan atas organ dalam abdomen penting untuk dievaluasi pada luka tusuk.

Muskulatur. Muskulus-muskulus pektoralis mayor dan minor merupakan muskulus utama dinding anterior toraks. Muskulus latisimus dorsi, trapezius, rhomboideus, dan muskulus gelang bahu lainnya membentuk palisan muskulus posterior dinding toraks. Tepi bawah muskulus pektoralis mayor membentuk lipatan/plika aksilaris anterior, lengkungan dan muskulus latisimus dorsi dan teres mayor membentuk lipatan/plika aksilaris posterior.

Pleura. Pleura adalah membrane aktif serosa dengan jaringan pembuluh arah dan limfatik. Di sana selalu ada pergerakan cairan, fagositosis debris,menambal kebocoran udara dan kapier. pleura viseralis menutup paru dan sifatnya tidak sensitive. pleura berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum bersama pleura parietali, yang melapisi dinding dalam toraks dan diafragma. Kebalikan dengan pleura viseralis, pleura parietalis mendapatkan persarafan dari ujung saraf (nerveending); ketika terjadi penyakit atau cedera, mak timbul nyeri. Pleura parietalis memiliki ujung saraf untuk nyeri; hanya bila penyaki-penyakit menyebar ke pleura ini maka akan timbul. Pleura sedikit melebih

tepi paru pada tiap arah dan sepenuhnya terisi dengan ekspansi paru-paru normal; hanya ruang potensial yang masih ada.

Ruang interkostal. Pleura parietalis hampir semua merupakan lapisan dalam, diikuti oleh tiga lapis muskulus-muskulus yang mengangkat iga selama respirasi tenang/normal. Vena, arteri nervus dari tiap rongga interkostal berada di belakang tepi bawah iga. Karena jarum torakosentetis atau klein yang digunakan untuk masuk ke pleura harus dipasang melewati bagian atas iga yang lebih bawah dari sela iga yang dipilih.

Diafragma. Bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga keenam dan kartilagokosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung lumbokostal; bagian muskular melengkung membentuk tendo sentral. Nervis frenikus mempersarafi motorik, interkostal bahwa mempersarafi sensorik. Diafragma yang naik setinggi putung susu, turut berperan sekitar 75% dari ventilasi paru-paru selama respirasi biasa/tenang.

3. Etiologi

Trauma dada dapat disebabkan oleh :

Tension pneumothorak-trauma dada pada selang dada, penggunaan therapy ventilasi mekanik yang berlebihan, penggunaan balutan tekan pada luka dada tanpa pelonggaran balutan. b. Pneumothorak tertutup-tusukan pada paru oleh patahan tulang iga, ruptur oleh vesikel flaksid yang seterjadi sebagai sequele dari PPOM.

Tusukan paru dengan prosedur invasif.

c. Kontusio paru-cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat.

d. Pneumothorak terbuka akibat kekerasan (tikaman atau luka tembak)

e. Fraktu tulang iga

f. Tindakan medis (operasi)

g. Pukulan daerah torak.

4. Patofisiologi

Rongga dada terdiri dari sternum, 12 verebra torakal, 10 pasang iga yang berakhir di anterior dalam segmen tulang rawan dan 2 pasang iga yang melayang. Di dalam rongga dada terdapat paru-paru yang berfungsi dalam sistem pernafasan. Apabila rongga dada mengalami kelainan, maka akan terjadi masalah paru-paru dan akan berpengaruh juga bagi sistem pernafasan. Akibat trauma dada disebabkan karena:

Tension pneumothorak cedera pada paru memungkinkan masuknya udara (tetapi tidak keluar) ke dalam rongga pleura, tekanan meningkat, menyebabkan pergeseran mediastinum dan kompresi paru kontralateral demikian juga penurunan aliran baik venosa mengakibatkan kolapnya paru. Pneumothorak tertutup dikarenakan adanya tusukan pada paru seperti patahan tulang iga dan tusukan paru akibat prosedur infasif penyebabkan terjadinya perdarahan pada rongga pleural meningkat mengakibatkan paru-paru akan menjadi kolaps. Kontusio pasru mengakibatkan tekanan pada rongga dada akibatnya paru-paru tidak dapat mengembang dengan sempurna dan ventilasi menjadi terhambat akibat terjadinya sesak nafas. Sianosis dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi syok.

Patoflow Diagram ( Mapping)

Trauma Torak

Tension Pneumotorak Kontusio

Pneumotorak tertutup paru

Udara masuk Perdarahan Tekanan pada

dalam rongga pada rongga rongga dada

pleura pleura

Tekanan dalam rongga Tekanan dalam Pembengkakan

pleura meningkat rongga pleura

meningkat

Kompresi paru ventilasi terganggu Keterbatasan

kontra lateral kerja paru

Kolaps Kolaps paru Sesak nafas

paru

Sianosis

Syok

5. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yang sering muncul pada penderita trauma dada;

a. Nyeri pada tempat trauma, bertambah pada saat inspirasi.

b. Pembengkakan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi.

c. Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek.

d. Dyspnea, takipnea

e. Takikardi

f. Tekanan darah menurun.

g. Gelisah dan agitasi

h. Kemungkinan cyanosis.

i. Batuk mengeluarkan sputum bercak darah.

j. Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit.

6. Penatalaksanaan Medis

1. Konservatif

a. Pemberian analgetik

b. Pemasangan plak/plester

c. Jika perlu antibiotika

d. Fisiotherapy

2. Operatif/invasif

a. Pamasangan Water Seal Drainage (WSD).

b. Pemasangan alat bantu nafas.

c. Pemasangan drain.

d. Aspirasi (thoracosintesis).

e. Operasi (bedah thoraxis)

f. Tindakan untuk menstabilkan dada:

1) Miring pasien pada daerah yang terkena.

2) Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena

g. Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif, didasarkan pada kriteria sebagai berikut:

1) Gejala contusio paru

2) Syok atau cedera kepala berat.

3) Fraktur delapan atau lebih tulang iga.

4) Umur diatas 65 tahun.

5) Riwayat penyakit paru-paru kronis.

h. Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD, bila tension Pneumothorak mengancam.

i. Oksigen tambahan.

7. Komplikasi

a. Surgical Emfisema Subcutis

Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan dinding dada, paru.

Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi.

b. Cedera Vaskuler

Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong tertutup sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan menampung darah vena yang kembali. Pembulu vena leher akan mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya membawa kematian akibat penekanan pada jantung.

c. Pneumothorak

Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam tapi keluar lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong mediastinim menekan paru sisi lain.

d. Pleura Effusion

Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan efusi pleura yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi nyeri dada lebih mencolok. Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok.

Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga pleura maka terjadi tanda tanda :

1) Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun bisa terjadi dypsnea.

2) Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas.

3) Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang.

4) Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal).

e. Plail Chest

Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut. Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar, ini menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan pernafasan yang berlawanan)

f. Hemopneumothorak

Yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura.

B. Konsep Dasar Keperawatan

1. Pengkajian

a. Dasar Data Pengkajian Pasien

1) Kajian aktivitas dan latihan

a) Nyeri dada sampai abdomen

b) Lemah

c) Terpasang infus

d) Sesak nafas ditandai dengan 24 x/menit

2) Kajian nutrisi metabolik

a) Bising usus berkurang

b) Mukosa mulut kering

c) Kurang nafsu makan

d) Kembung

e) Haus

b. Masalah Keperawatan

1) Nyeri berhubungan dengan adanya trauma.

2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya nyeri.

3) Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan.

4) Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan makanan dan cairan.

5) Ansietas atau ketakutan berhubungan dengan penyakit yang dideritanya.

6) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekpirasi paru.

c. Rencana Keperawatan.

I. Nyeri adanya trauma

- tujuan : nyeri pasien teratasi setelah dilakukan tindakan

keperawatan.

- Sasaran : Pasien mengatakan nyeri berkurang, skala (0-2).

- Wajah klien tampak rileks

- TTV dalam batas normal

Rencana tindakan

1) Beri posisi yang nyaman dan menyenangkan pasien

R/ Untuk menurunkan ketegangan otot

2) Kaji adanya penyebab nyeri, seberapa kuatnya nyeri, minta pasien untuk menetapkan pada skala nyeri.

R/ Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap therapy.

3) Observasi tanda-tanda vital.

R/ Untuk mengidentifikasi adanya nyeri.

4) Anjurkan istirahat yang cukup

R/ Untuk mengurangi energi yang berlebihan.

5) Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgesik :

R/ Untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.

II. Intoleransi aktivitas nyeri

- Tujuan : Intoleransi akvitas dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan .

- Sasaran : - Klien menunjukan usaha untuk melakukan perawatan diri secara bertahap.

- Klien mampu melakukan perawatan diri secara bertahap.

- Klien dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri.

- Klien tidak lemah lagi.

Rencana Tindakan

1. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak mampu dilakukan sendiri. Misalnya Mandi, berpakaian, merapikan diri.

R/ kebutuhan nutrisi terpenuhi seperti pada saat sebelum trauma.

2. Kaji penyebab ketidakmampuan pasien dalam memenuhi perawatan diri.

R/ Dengan mengetahui penyebab akan mempermudah dalam penanganan masalah dan penerapan intervensi.

3. Pasang pagar/pengaman tempat tidur

R/ Mencegah resiko cedera

4. Anjurkan Pasien untuk istirahat yang cukup

R/ mengurangi penggunaan energi berlebihan dan metobolisme tubuh sehingga dapat menambah kelemahan.

5. Anjurkan pasien untuk untuk menggunakan teknik relaksasi

R/ Mengurangi ketegangan otot/kelelahan, dapat membantu mengurangi nyeri, spasme otot, spastisitas/kejang.

6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin neurobion 1 amp/hari

R/ Untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.

III. Resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh penurunan masukan.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi dalam waktu 1 minggu

Sasaran : klien mengatakan sudah ada nafsu makan, turgor kulit elastis

- Klien mampu menghabiskan 1 porsi makanan, mukosa mulut lembab, kelopak mata merah

Rencana tindakan

1. Anjurkan klien makan porsi kecil tapi sering.

R/ untuk mencegah badan agar tidak lemah

2. Kaji tanda-tanda kurang nutrisi (Turgor kulit, kelopak mata, mukosa mulut).

R/ untuk. Mengetahui tingkat nutrisi pasien.

3. Kaji pola makan pasien.

R/ untuk mengetahui pola makan pasien.

4. Jelaskan pasien tentang pentingnya penemuan nutrisi untuk penymbuhan klien.

R/ Dengan nutrisi yang cukup, dapat mempercepat penyembuhan pasien.

5. Auskultasi bising usus, evaluasi adanya distensi abdomen.

R/ Perubahan fungsi lambung sering terjadi sebagi akaibat dari paralisis/mobilisasi.

6. Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian nutrisi parentral.

R/ untuk menringankan penyakit yag diderita pasien.

IV. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh tidak adekuat masukan makanan dan cairan.

Tujuan : Kebutuhan cairan tubuh pasien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.

Sasaran : - Klien mengatakan sudah mampu menghabiskan air minum 1 botol VIT besar.

- Berat badan pasien delam batas normal.

- Klien mengatakan mulut saya tidak kering lagi.

- Turgor kuli pasien elastis, mukasa mulut lembab.

Rencana Tindakan

1. Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah)

R/ indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan oksigen tambahan.

2. Kaji perubahan TTV, Contoh : peningkatan suhu/ demam memanjang, takikardi, hipotensi ortostatik.

R/ Peningkatan suhu/ memanjangnya demam meningkatkan lajunya metabolisme dan kehilangan cairan melalui evaporasi, tekanan darah dan ortostatik berubah dan peningkatan takikardi menunjukan kekurangan cairan sistemik.

3. Catat laporan mual/muntah

R/ adanya gejala ini menurunkan masukan oral.

4. Pantau masukan dan haluaran, catat, warna, karakter urine, hitung keseimbangan cairan waspadai kehilangan yang tak tampak, ukur berat sesuai indikasi.

R/ memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan pengganti.

5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian cairan infus.

R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan tambahan dan menurunkan resiko dehidrasi.

V. Ansietas atau ketakutan berhubungan dengan penyakit yang dideritanya.

Tujuan : Klien tidak mengalami kecemasan setelah dilakukan tindakan keperawatan.

Sasaran : - Klien tampak tenang

- Klien tidak cemas lagi

Rencana tindakan

1. Libatkan dalam program pengembangan pribadi, lebih disukai dalam susunan kelompok. Berikan informasi tentang penerapan yang tepat dalam berpakaian.

R/ Belajar metode peningkatan diri dapat meningkatkan harga diri. Umpan balik dari orang lain meningkatkanharga diri.

2. Gunakan pendekatan psikotherapy interpersonal, daripada therapy penafsiran.

R/ Interaksi di antara orang-orang membantu pasien untuk menemukan perasaan dari dalam diri sendiri.

3. Kaji perasaan tak berdaya/ tidak ada harapan.

R/ Kurang kontrol umum/masalah dasar pasien ini dapat disertai dengan gangguan emosi lebih serius

4. Waspadai ide bunuh diri

R/ cemas/panik terus menerus tentang peningkatan berat badan. Depresi, perasaan tak berdaya dapat menimbulkan usaha bunuh diri.

5. Dorong pasien untuk mengekspresikan marah dan mengakui bila dinyatakan.

R/ Peting untuk mengetahui bahwa marah adalah bagian diri dan padat diterima.

VI. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekpansi paru.

Tujuan : pola nafas pasien teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.

Sasaran : - Pasien tidak sesak

- TTV dalam batas normal

Rencana Tindakan

1. Awasi kecepatan/ kedalam pernafasan. Ausklutasi bunyi nafas, selidiki adanya sianosis

R/ pernafasan mengorok atau pengaruh anestesi menurunkan ventilasi. Potensial atelektasis dapat mengakibatkan hipoksia.

2. Tinggikan kepala tempat tidur 30 derajat

R/ mendorong pengembangan diafragma/ ekspansi paru optimal dan meminimalkan tekanan isi abdomen pada rongga torak

3. Observasi TTV.

R/ Mengetahui perkembangan klien

4. Kaji penumpukan sekret.

R/ Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya.

5. Kolaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret.

R/ Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan sekret .

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall Moyet. 2008. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta.

Doenges, Marilyn E, et all. 1993. Nursing Care Plans : Guidelines for Planning and

Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan

Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK

Pajajaran, Bandung.