Anda di halaman 1dari 17

HEPATITIS

Hepatitis virus merupakan infeksi sitemik yang dominan menyerang hati. Hampir semua kasus hepatitis disebabkan oleh salah satu dari lima jenis virus, yaitu : virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), virus hepatitis D (HDV), virus hepatitis E (HEV). Virus hepatitis G dan virus TT telah dapat diidentifikasi tapi tidak dapat menyebabkan hepatitis. Semua jenis virus hepatitis yang menyerang manusia merupakan virus RNA kecuali virus hepatitis B, yang merupakan virus DNA. Hepatitis virus akut merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati di seluruh dunia. Penyakit tersebut ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta kematian setiap tahunnya. Banyak episode hepatitis dengan klinis anikterik, tidak nyata atau subklinis. Secara global virus hepatitis merupakan penyebab utama viremia yang persisten. Gambaran klinis hepatitis virus sangat bervariasi mulai dari infeksi asimptomatik tanpa kuning sampai sangat berat yaitu hepatitis fulminan yang dapat menyebabkan kematian hanya dalam beberapa hari. Gejala hepatitis akut terbagi dalam 4 tahap, yaitu : Fase inkubasi. Merupakan waktu antara masuknya virus dan timbulnya gejala atau ikterus. Fase ini berbeda-beda lamanya untuk tiap virus hepatitis. Fase prodormal (pra ikterik). Fase diantara timbulnya keluhan-keluhan pertama dan timbulnya gejala ikterus. Awitannya dapat singkat ditandai dengan malaise umum, mialgia, atralgia, mudah lelah, gejala saluran napas atas, mual, muntah dan anoreksia. Diare atau konstipasi dapat terjadi. Demam derajat rendah umunya terjadi pada infeksi virus hepatitis A. Nyeri abdomen biasanya ringan. Fase ikterus. Ikterus muncul setelah 5-10 hari, tetapi dapat juga muncul bersamaan dengan munculnya gejala. Pada banyak kasus fase ini tidak terdeteksi. Setelah timbul ikterus jarang terjadi perburukan gejala prodormal, tetapi justru akan terjadi perbaikan klinis yang nyata. Fase konvalesen (penyembuhan). Diawali dengan menghilangnya ikterus dan keluhan lain, tetapi hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati tetap ada. Muncul perasaan sudah lebih sehat dan kembalinya nafsu makan. Keadaan akut biasanya akan membaik dalam 2-3 minggu. Pada

hepatitis A perbaikan klinis dan laboratorium lengkap terjadi dalam 9 minggu dan 16 minggu untuk hepatitis B. Pada 5-10% kasus perjalanan klinisnya mungkin lebih sulit ditangani, hanya < 1% yang menjadi fulminan.

Agen Penyebab Hepatitis Virus


Secara umum agen penyebab hepatitis virus dapat diklasifikasikan kedalam dua grup yaitu hepatitis dengan transmisi secara enteric dan transmisi melalui darah. Transmisi Secara Enterik Terdiri atas virus hepatitis A (HAV) dan virus hepatitis E (HEV) : Virus tanpa selubung Tahan terhadap cairan empedu Ditemukan di tinja Tidak dihubungkan dengan penyakit hati kronik Tidak terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi karier intestinal

Kemungkinan munculnya jenis hepatitis virus enteric baru dapat terjadi. Virus Hepatitis A (HAV) Digolongkan dalam picornavirus, subklasifikasi sebagai hepatovirus Diameter 27-28 nm dengan bentuk kubus simetrik Untai tunggal (single stranded), molekul RNA linier: 7,5 kb Pada manusia terdiri atas satu serotype, tiga atau lebih genotype Mengandung lokasi netralisasi imunodominan tunggal Replikasi di sitoplasma hepatosit yang terinfeksi, tidak terdapat bukti yang nyata adanya replikasi di usus Menyebar pada primate non manusia dan galur sel manusia

Virus Hepatitis E (HEV) Kemungkinan diklasifikasikan pada family yang berbeda yaitu pada virus yang menyerupai hepatitis E

Diameter 27-34 nm Molekul RNA linier: 7,2 kb Genome RNA dengan tipe overlap ORF (open reading frames) mengkode protein structural dan protein non-struktural yang terlibat pada replikasi HEV. Pada manusia hanya terdiri atas satu serotype, empat sampai lima genotype utama Lokasi netralisasi imunodominan pada protein structural dikodekan oleh ORF kedua Dapat menyebar pada sel embrio diploid paru Replikasi hanya terjadi pada hepatosit

Transmisi Melalui Darah Terdiri atas virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis D (HDV), virus hepatitis C (HCV) : Virus dengan selubung (envelope) Rusak bila terpajan cairan empedu / detergen Tidak terdapat dalam tinja Dihubungkan dengan penyakit hati kronik Dihubungkan dengan viremia yang persisten

Virus Hepatitis B (HBV) Virus DNA hepatotropik, hepadnaviridae Terdiri atas 6 genotipe (A sampai H), terkait dengan derajat beratnya dan respon terhadap terapi 42 nm partikel sferis dengan: Inti nukleokapsid, densitas electron, diameter 27 nm Selubung luar lipoprotein dengan ketebalan 7 nm Inti HBV mengandung: ds DNA partial (3,2 kb) Protein polymerase DNA dengan aktivitas reverse transcriptase Antigen hepatitis B core (HBcAg), merupakan protein structural Antigen hepatitis B e (HBeAg), protein non-struktural yang berkolerasi secara tidak sempurna dengan replikasi aktif HBV

Selubung lipoprotein HBV mengandung: Antigen permukaan hepatitis B (HBsAg), dengan tiga selubung protein: utama, besar dan menengah Lipid minor dan komponen karbohidrat HbsAg dalam bentuk partikel non-infeksius dengan bentuk sferis 22 nm atau tubular

Satu serotype utama dengan banyak subtype berdasarkan keanekaragaman protein HbsAg Virus HBV mutan merupakan konsekuensi kemampuan proof reading yang terbatas dari reverse transcriptase atau munculnya resistensi. Hal tersebut meliputi: HbeAg negative mutasi precore / core Mutasi yang diinduksi oleh vaksin HBV Mutasi YMDD oleh karena lamivudin

Hati merupakan tempat utama replikasi di samping tempat lainnya

Virus Hepatitis D (HDV) Virus RNA tidak lengkap, memerlukan bantuan dari HBV untuk ekspresinya, patogenesitas tapi tidak untuk replikasi Hanya dikenal satu serotipe dengan tiga genotype Partikel sferis 27-35 nm, diselubungi oleh lapisan lipoprotein HBV (HbsAg) 19 nm struktur mirip inti Mengandung suatu antigen nuclear phosphoprotrein (HDV antigen); Mengikat RNA Terdiri dari 2 isoform: yang lebih kecil mengandung 195 asam amino dan yang lebih besar mengandung 214 asam amino Antigen HDV yang lebih kecil mengangkut RNA ke dalam inti; merupakan hal esensial untuk replikasi Antigen HDV yang lebih besar : menghambat replikasi HDV RNA dan berperan pada perakitan HDV RNA HDV merupakan untai tunggal, covalently close dan sirkular Mengandung kurang dari 1680 nukleotida, merupakan genom RNA terkecil diantara virus binatang Replikasi hanya pada hepatosit

Virus Hepatitis C (HCV) Selubung glikoprotein, virus RNA untai tunggal Partikel sferis, inti nukleokapsid 33 nm Termasuk klasifikasi Flaviviridae, genus hepacivirus Genome HCV terdiri atas 9400 nukleotida, mengkode protein besar sekitar residu 3000 asam amino; 1/3 bagian dari poliprotein terdiri atas protein structural Protein selubung dapat menimbulkan antibody netralisasi Regio hipervariabel terletak di E2 Sisa 2/3 dari poliprotein terdiri atas protein non-struktural (dinamakan NS2, NS3, NS4A, NS4B, NS5B) terlibat dalam replikasi HCV Hanya ada satu serotype yang dapat diidentifikasi, terdapat banyak genotype dengan distribusi yang bervariasi di seluruh dunia

Epidemiologi dan Faktor Resiko


Virus Hepatitis A (HAV) Masa inkubasi 15-50 hari (rata-rata 30 hari) Distribusi di seluruh dunia; endemisitas tinggi di negara berkembang HAV diekskresi di tinja oleh orang yang terinfeksi selama 1-2 minggu sebelum dan 1 minggu setelah awitan penyakit Viremia muncul singkat (tidak lebih dari 3 minggu), kadang-kadang sampai 90 hari pada infeksi yang membandel atau infeksi yang kambuh Ekskresi feses yang memanjang (bulanan) dilaporkan pada neonatus yang terinfeksi Transmisi enteric (fekal-oral) predominan diantara anggota keluarga. Kejadian luar biasa dihubungkan dengan sumber umum yang digunakan bersama, makanan terkontaminasi dan air Factor resiko lain, meliputi paparan pada: Pusat perawatan sehari untuk bayi atau anak balita Institusi untuk developmentally disadvantage Bepergian ke Negara berkembang

Perilaku seks oral-anal Pemakaian bersama antara IVDU Tak terbukti adanya penularan maternal-neonatal Prevalensi berkorelasi dengan standar sanitasi dan rumah tinggal ukuran besar Transmisi melalui transfuse darah sangat jarang

Virus Hepatitis E (HEV) Masa inkubasi rata-rata 40 hari Distribusi luas, dalam bentuk endemi dan epidemic HEV RNA terdapat di serum dan tinja selama fase akut Hepatiutis sporadic sering pada dewasa muda di Negara sedang berkembang Penyakit epidemic dengan sumber penularan melalui air Intrafamilial Dilaporkan adanya transmisi maternal-neonatal Di Negara maju sering berasal dari orang yang kembali pulang setelah melakukan perjalanan, atau imigran baru dari daerah endemic Viremia yang memanjang atau pengeluaran di tinja merupakan kondisi yang tidak sering dijumpai Zoonosis: babi dan binatang lain

Virus Hepatitis B (HBV) Masa inkubasi 15-180 hari (rata-rata 60-90 hari) Viremia berlangsung selama beberapa minggu sampai bulan setelah infeksi akut Sebanyak 1-5% dewasa, 90% neonatus dan 50% bayi akan berkembang menjadi hepatitis kronik dan viremia yang persisten Infeksi persisten dihubungkan dengan hepatitis kronik, sirosis dan kanker hati Distribusi di seluruh dunia: prevalensi karier di USA < 1%, di Asia 5-15% HBV ditemukan di darah, semen, secret servikovaginal, saliva, cairan tubuh lain Cara transmisi

Melalui darah : penerima produk darah, IVDU, pasien hemodialisis, pekerja kesehatan, pekerja yang terpapar darah Transmisi seksual Penetrasi jaringan perkutan atau permukosa : tertusuk jarum, penggunaan ulang peralatan medis yang terkontaminasi, penggunaan bersama pisau cukur atau silet, tato, akupuntur, tindik, penggunaan sikat gigi bersama Transmisi maternal-neonatal, maternal-infant Tak ada bukti penyebaral fekal-oral Virus Hepatitis D (HDV) Masa inkubasi diperkirakan 4-7 minggu Endemis di Mediterania, Semenanjung Balkan, bagian Eropa bekas Rusia Insidensi berkurang dengan adanya peningkatan pemakaian vaksin Viremia singkat (infeksi akut) atau memanjang (infeksi kronik) Infeksi HDV hanya terjadi pada individu dengan resiko infeksi HBV (koinfeksi atau superinfeksi) IVDU Homoseksual Resipien donor darah Pasangan seksual Cara penularan Melalui darah Transmisi seksual Penyebaran maternal-neonatal Virus Hepatitis C (HCV) Masa inkubasi 15-160 hari (puncak pada sekitar 50 hari) Viremia yang berkepanjangan dan infeksi yang persisten umum dijumpai (55-85%). Distribusi geografik luas Infeksi yang menetap dihubungkan dengan hepatitis kronik, sirosis, kanker hati

Prevalensi serologi infeksi lampau / infeksi yang berlangsung berkisar 1,8% di USA,sedangkan di Italia dan Jepang dapat mencapai 20% Cara transmisi Darah (predominan) : IVDU dan penetrasi jaringan, resepien produk darah Transmisi seksual : efisiensi rendah, frekuensi rendah Maternal-neonatal : efisiensi rendah, frekuensi rendah Tak terdapat bukti transmisi fekal-oral

Patofisiologi
1. System imun bertanggung jawab untuk terjadinya kerusakan sel hati a. Melibatkan respon CD8 dan CD4 sel T b. Produksi sitokin di hati dan sistemik 2. Efek sitopatik langsung dari virus. Pada pasien imunosupresi dengan replikasi tinggi, akan tetapi tidak ada bukti langsung.

Gambaran Klinis
Pada infeksi yang sembuh spontan : 1) Spectrum penyakit mulai dari asimtomatik, infeksi yang tidak nyata sampai kondisi yang fatal sehingga terjadi gagal hati akut 2) Sindrom klinis yang mirip pada semua virus penyebab mulai dari gejala prodormal yang non spesifik dan gejala gastrointestinal, seperti : malaise, anoreksia, mual dan muntah, gejala flu, faringitis, batuk, coryza, fotofobia, sakit kepala, mialgia 3) Awitan gejala cenderung muncul mendadak pada HAV dan HEV, pada virus yang lain secara insidious 4) Demam jarang ditemukan kecuali pada infeksi HAV 5) Immune kompleks mediated, serum sickness like sindrom dapat ditemukan pada kurang dari 10% pasien dengan infeksi HBV, jarang pada infeksi virus yang lain 6) Gejala prodormal menghilang pada saat timbul kuning, tetapi gejala anoreksia, malaise dan kelemahan dapat menetap

7) Ikterus didahului dengan kemunculan urin berwarna gelap, pruritus (biasanya ringan dan sementara) dapat timbul ketika ikterus meningkat 8) Pemeriksaan fisis menunjukkan pembesaran dan sedikit nyeri tekan pada hati 9) Splenomegali ringan dan limfadenopati pada 15-20 % pasien

Diagnosis Secara Serologis


A. Transmisi Infeksi secara enteric a. HAV IgM anti HAV dapat dideteksi selama fase akut dan 3-6 bulan setelahnya Anti HAV yang positif tanpa IgM anti HAV mengindikasikan infeksi lampau b. HEV Belum tersedia pemeriksaan serologis komersial yang telah disetujui FDA IgM dan IgG anti HEV baru dapat dideteksi oleh pemeriksaan untuk riset IgM anti HEV dapat bertahan selama 6 minggu setelah puncak dari penyakit IgG anti HEV dapat tetap terdeteksi selama 20 bulan B. Infeksi melalui darah a) HBV Diagnosis serologis telah tersedia dengan mendeteksi keberadaan dari IgM antibody terhadap antigen core hepatitis (IgM anti HBc dan HBsAg) Keduanya ada saat gejala muncul HBsAg mendahului IgM anti HBc HbsAg merupakan petanda yang pertama kali yang diperiksa secara rutin HbsAg dapat menghilang biasanya dalam beberapa minggu sampai bulan setelah kemunculannya sebelum menghilangnya IgM anti HBc HbeAg dan HBV DNA HBV DNA di serum merupakan petanda yang pertama muncul, akan tetapi tiddak rutin diperiksa HbeAg biasanya terdeteksi setelah kemunculan HbsAg

Kedua petanda tersebut menghilang dalam beberapa minggu atau bulan pada infeksi yang sembuh sendiri. Selanjutnya akan muncul anti HBs dan anti HBe menetap Tidak diperlukan untuk diagnosis rutin IgG anti HBc Menggantikan IgM anti HBc pada infeksi yang sembuh Membedakan infeksi lampau atau infeksi yang berlanjut Tidak muncul pada pemberian vaksin HBV Antibody terhadap HbsAg (Anti HBs) Antibody terakhir yang muncul Merupakan antibody penetral Secara umum mengindikasikan kesembuhan dan kekebalan terhadap reinfeksi Dimunculkan dengan vaksinasi HBV b) HDV Pasien HBsAg positif dengan : Anti HDV dan atau HDV RNA sirkulasi (pemeriksaan belum mendapat persetujuan) IgM anti HDV dapat muncul sementara Koinfeksi HBV/HDV HBsAg positif IgM anti HBc positif Anti HDV dan atau HDV RNA Superinfeksi HDV HBsAg positif IgG anti HBc positif Anti HDV dan atau HDV RNA Titer anti HDV akan menurun sampai tak terdeteksi dengan adanya perbaikan infeksi

c) HCV Diagnosis serologis Deteksi anti HCV Anti HCV dapat dideteksi pada 60% pasien selama fase akut dari penyakit, 35% sisanya akan terdeteksi pada beberapa minggu atau bulan kemudian Anti HCV tidak muncul pada <5% pasien yang terinfeksi (pada pasien HIV, anti HCV tidak muncul dalam persentase yang lebih besar) Pemeriksaan IgM anti HCV dalam pengembangan (belum disetujui FDA) Secara umum anti HCV akan tetap terdeteksi untuk periode yang panjang, baik pada pasien yang mengalami kesembuhan spontan maupun yang berlanjut menjad kronik HCV RNA Merupakan petanda yang paling awal muncul pada infeksi akut hepatitis C Muncul setelah beberapa minggu infeksi Pemeriksan yang mahal. Untuk mendiagnosis penyakit tidak rutin dilakukan, kecuali pada keadaan dimana dicurigai adanya infeksi pada pasien dengan anti HCV negative Ditemukan pada infeksi kronik HCV

Outcome
Infeksi dengan transmisi secara enteric (HAV & HEV) : 1) Perbaikan komplit dari klinis, histologis, dan biokimia akan terjadi dalam 3-6 bulan 2) Tidak pernah menjadi kronik atau karier virus yang berkepanjangan 3) Pada gagal hati akut kadang terjadi : Fatalitas pada HAV tergantung umur (resiko meningkat pada umur > 40 tahun) Resiko meningkat pada perempuan hamil dengan infeksi HEV Resiko meningkat pada pasien yang telah mempunyai penyakit hati sebelumnya

Infeksi dengan transmisi melalui darah (HBV, HDV, HCV) 1) HBV Resiko untuk kronisitas tergantung umur, menurun secara progresif dengan meningkatnya umur o 90% infeksi pada neonatus akan berkembang menjadi karier o 1-5% pasien dewasa akan berkembang menjadi kronik Gagal hati akut pada < 1% infeksi akut Infeksi persisten (HbsAg positif dengan atau tanpa replikasi aktif HBV) o Karier asimtomatik dengan gambaran histologi normal atau non spesifik o Hepatitis kronik, sirosis, karsinoma hepatoseluler o Dihubungkan dengan glomerulonefritis membranosa poliarteritis nodosa, dan yang lebih jarang krioglobulinemia campuran 2) HDV Koinfeksi HDV dan HBV biasanya sembuh spontan dan sembuh tanpa gejala sisa Gagal hati akut lebih sering pada superinfeksi HDV disbanding dengan koinfeksi dengan HBV Superinfeksi HDV dapat berlanjut menjadi HDV kronik superimposed dengan HBV kronik dan berkembang menjadi hepatitis kronik berat dan sirosis 3) HCV 15-45% akan sembuh spontan Kejadian akut sangat jarang dijumpai Umumnya akan terjadi infeksi menetap dengan viremia yang memanjang dan konsentrasi serum aminotransferase yang meningkat atau berfluktuasi Resiko untuk terjadinya karsinoma hepatoseluler pada pasien yang telah mengalami sirosis Histologi pada infeksi HCV yang persisten o Hepatitis kronik inflamasi ringan, sedang, berat o Porta, periporta, bridging fibrosis atau sirosis

Pengobatan
Infeksi yang sembuh spontan Rawat jalan, kecuali pasien dengan mual atau anoreksia berat yang akan menyebabkan dehidrasi Mempertahankan asupan kalori dan cairan yang adekuat Aktivitas fisik yang berlebihan dan berkepanjangan harus dihindari Pembatasan aktivitas sehari-hari tergantung dari derajat kelelahan dan malaise Tidak ada pengobatan spesifik untuk hepatitis A, E, D. pemberian interferon-alfa pada hepatitis C akut dapat menurunkan resiko kejadian infeksi kronik. Peran lamivudin atau adefovir pada hepatitis B akut masih belum jelas. Kortikosteroid tidak bermanfaat. Obat-obat yang tidak perlu harus dihentikan

Pencegahan
Pencegahan terhadap infeksi hepatitis dengan penularan secara enteric HAV Pencegahan dengan imunoprofilaksis I. Imunoprofilaksis sebelum paparan Vaksin HAV yang dilemahkan Efektifitas tinggi Sangat imunogenik Antibody protektif terbentuk dalam 15 hari pada 85-90% subjek Aman, toleransi baik Efektifitas proteksi selama 20-50 tahun Efek samping utama adalah nyeri di tempat penyuntikan Dosis dan jadwal vaksin HAV > 19 tahun, 2 dosis of HAVRIX (1440 Unit Elisa) dengan interval 6-12 bulan Anak > 2 tahun, 3 dosis HAVRIX (360 Unit Elisa), 0, 1, dan 6-12 bulan atau 2 dosis (720 Unit Elisa), 0, 6-12 bulan

Indikasi vaksinasi Pengunjung ke daerah resiko tinggi Homoseksual dan biseksual IVDU Anak dan dewasa muda pada daerah yang pernah mengalami kejadian luar biasa luas Anak pada daerah dimana angka kejadian HAV lebih tinggi dari angka nasional Pasien yang rentan dengan penyakit hati kronik Pekerja laboratorium yang menangani HAV Pramusaji Pekerja pada bagian pembuangan air

II.

Imunoprofilaksis pasca paparan Keberhasilan vaksin HAV pada pasca paparan belum jelas Keberhaislan immunoglobulin sudah nyata akan tetapi tidak sempurna Dosis dan jadwal pemberian immunoglobulin: Dosis: 0,02 ml/kg, suntikan pada daerah deltoid sesegera mungkin setelah paparan Toleransi baik, nyeri pada daerah suntikan Induikasi: kontak erat dan kontak dalam rumah tangga dengan infeksi HAV akut

HEV Kemunculan IgG anti HEV pada kontak dengan pasien hepatitis E dapat bersifat proteksi, akan tetapi efektifitas dari immunoglobulin yang mengandung anti HEV masih belum jelas. Pengembangan immunoglobulin titer tinggi sedang dilakukan Vaksin HEV sedang dalam penelitian klinis pada daerah endemic

Pencegahan pada infeksi yang ditularkan melalui darah HBV Dasar utama imunoprofilaksis adalah pemberian hepatitis B sebelum paparan Imunoprofilaksis vaksin hepatitis B sebelum paparan

Vaksin rekombinan ragi Mengandung HbsAg sebagai imunogen Sangat imunogenik Efektifitas sebesar 85-95% dalam mencegah infeksi HBV Efek samping utama : 1. Nyeri sementara pada tempat suntikan 2. Demam ringan dan singkat Booster tidak direkomendasikan walaupun setelah 15 tahun imunisasi awal Booster hanya untuk individu dengan imunokompromais jika titer dibawah 10mU/mL Peran imunoterapi untuk pasien hepatitis B kronik sedang dalam penelitian

Dosis dan jadwal vaksinasi HBV. Pemberian IM (deltoid) dosis dewasa untuk dewasa, untuk bayi, anak sampai umur 19 tahun dengan dosis anak (1/2 dosis dewasa), diulang pada 1 dan 6 bulan kemudian

Indikasi Imunisasi universal untuk bayi baru lahir Vaksinasi catch up untuk anak sampai umur 19 tahun (bila belum divaksinasi) Grup resiko tinggi : 1. Pasangan dan anggota keluarga yang kontak dengan karier hepatitis B 2. Pekerja kesehatan dan pekerja yang terpapar darah 3. IVDU 4. Homoseksual dan biseksual pria 5. Individu dengan banyak pasangan seksual 6. Resepien transfuse darah 7. Pasien hemodialisis 8. Sesame narapidana 9. Individu dengan penyakit hati yang sudah ada (misal hepatitis C kronik)

Imunoprofilaksis pasca paparan dengan vaksin hepatitis B dan immunoglobulin hepatitis B (HBIG) Indikasi Kontak seksual dengan individu yang terinfeksi hepatitis akut : 1. Dosis 0,04-0,7 mL/kg HBIG sesegera mungkin setelah paparan 2. Vaksin HBV pertama diberikan pada saat atau hari yang sama pada deltoid sisi lain 3. Vaksin kedua dan ketiga diberikan 1 dan 6 bulan kemudian Neonatus dari ibu yang diketahui mengidap HBsAg positif : 1. Setengah mL HBIG diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dibagian anterolateral otot paha

atas 2. Vaksin HBV dengan dosis 5-10 ug, diberikan dalam waktu 12 jam pada sisi lain, diulang pada 1 dan 6 bulan Efektifitas perlindungan melampaui 95%

DAFTAR PUSTAKA Hadi, Sujono. Gastroenterologi. 2002. Bandung: PT Alumni. Jawetz, dll. Mikrobiologi Kedokteran. 2008. Jakarta: EGC. Rubensten, David dll. Lecture Note: Kedokteran Klinis. 2005. Jakarta: Erlangga Medical Series. Sudoyo, Ari W. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I edisi IV. 2007. Jakarta: FK UI. Sulaiman, Ali dll. Gastroenterologi Hepatologi. 1997. Jakarta: Sagung Seto.