Anda di halaman 1dari 10

HAPUSAN DARAH

Hasil Pengamatan
Nama sample : Gita Putri Kencana Umur / Jenis Kelamin : 20 tahun / perempuan

Diskusi Teknik Hapusan Darah Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan hapusan darah. Dengan prinsip setetes darah dipaparkan di atas gelas obyek, dicat, dan diperiksa di bawah mikroskop. Pembuatan hapusan darah dilakukan untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop. Sediaan hapusan darah ini tidak hanya digunakan untuk mempelajari sel darah tapi juga digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah masing-masing sel darah. Pembuatan preparat hapusan darah ini menggunakan suatu metode yang disebut metode oles (metode smear) yang merupakan suatu sediaan dengan jalan mengoles atau membuat selaput (film) dan substansi yang berupa cairan atau bukan cairan di atas gelas benda yang bersih dan bebas lemak untuk kemudian difiksasi, dan diwarnai. Pertama tama, setetes darah yang sebelumnya telah dicampur dengan anti koagulan diteteskan pada gelas objek 1 cm dari ujung gelas. Gelas objek ini haruslah bersih, kering dan tidak berlemak, serta permukaannya harus rata dan licin. Selanjutnya, gelas penghapus dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk sudut 30 dengan gelas objek dimana darah berada dalam sudut tersebut. Kemudian gelas penghapus digeserkan ke arah tetesan darah tersebut hingga merata dan dengan cepat gelas penghapus digeserkan ke arah yang berlawanan dengan arah yang pertama hingga darah membentuk suatu lapisan yang tipis. Hapusan ini segera dikeringkan di udara dan jangan meniupnya. Hapusan harus segera dikeringkan untuk menghindari adanya kerusakan eritrosit (krenasi) dan terjadinya rouleau leukosit. Besar sudut yang dibentuk antara gelas objek dan gelas penghapus, serta kecepatan tangan dalam

menggeserkan gelas penghapus menentukan ketebalan lapisan hapusan darah. Makin besar sudut dari 30 dan makin cepat pergeseran akan menhasilkan lapisan darah yang tebal, sedangkan sudut yang lebih kecil dari 30 dan gerakan yang pelan akan menghasilkan lapisan darah yang tipis. Selain itu gerakan yang terlalu pelan dapat menyebabkan terjadinya feather edge atau menggerombolnya leukosit di bagian dari hapusan. Hal ini dapat mengakibatkan distribusi dari macam macam leukosit tidak representatif. Setelah hapusan kering, tahapan selanjutnya adalah pengecatan hapusan darah. Pengecatan ini bertujuan agar sel - sel darah dapat terlihat dengan baik di bawah mikroskop. Mula mula, hapusan yang sudah kering di fiksasi selama kurang lebih 2 menit dengan meneteskan wrights stain hingga tertutup seluruhnya. Waktu fiksasi ini harus cukup lama agar inti sel dan kromatin tidak larut. Selanjutnya, diteteskan larutan buffer fosfat KH2PO4 sama banyaknya dengan cat yang sebelumnya. Ditiup tiup agar kedua cat tercampur secara sempurna. Selanjutnya ditunggu sekitar 20 menit hingga terbentuk metallic scum. Pengecatan tidak boleh terlalu lama, sebab apabila tidak maka dapat menyebabkan granula granula pada sel darah tidak terlihat lagi. Selanjutnya, maka dilakukan pencucian dengan menuangkan aquades pada hapusan darah yang berada di atas rak hingga semua cat hanyut. Jangan memiringkan gelas objek agar tidak terjadi pengendapan metallic scum. Kemudian hapusan ditunggu hingga kering, dan jangan mengeringkannya menggunakan kertas ataupun kapas, dsb. Tahapan selanjutnya adalah pengamatan hapusan darah. Pada pengamatan / pemeriksaan hapusan darah ini terdapat 2 jenis pemeriksaan, yaitu : 1. Pemeriksaan perbesaran kecil dengan perbesaran lensa objektif 10 kali yang terdiri atas penilaian kualitas hapusandarah, penaksiran jumlah eritrosit dan leukosit, dan pemeriksaan adanya sel sel abnormal. 2. Pemeriksaan perbesaran besar dan menggunakan minyak emersi. Meliputi, pemeriksaan kelainan dan variasi morfologis eritrosit, jumlah dan morfologi trombosit, penghitungan deferential leukosit serta kelainan kelainan morfologisnya, dan pengamatan sel sel abnormal.

Penilaian Kualitas Hapusan Darah Penilaian kualitas hapusan darah diamati dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran kecil objective 10 kali. Hapusan darah dikatakan memiliki kualitas yang baik apabila : a. Lapisan darah harus cukup tipis sehingga sel-sel darah terpisah satu dengan lainnya. b. Hapusan darah tidak boleh mengandung endapan cat. c. Eritrosit dan leukosit harus tercat dengan baik. d. Leukosit-leukosit tidak boleh menggerombol pada bagian akhiran dari hapusan. Hasil hapusan darah yang dikerjakan kelompok kami setelah dilakukan pengecatan :

(foto diambil dengan pembesaran objective 10 kali)

Hasil hapusan yang kami kerjakan tergolong baik karena lapisan pada object glass tipis dan rata sehingga setelah tercat dan diamati dibawah mikroskop sel-sel darah tampak terpisah satu sama lain. Selain itu gambaran sel darah yang kita dapatkan dapat diamati dengan baik sehingga dapat mempermudah kita saat melakukan identifikasi dan perhitungan differential leukosit .

Penghitungan Differential Leukosit Perhitungan differential leukosit merupakan pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, dan bentuk leukosit. Perhitungan differential leukosit merupakan bagian dari tes darah lengkap, terdiri dari 6 macam leukosit, yaitu eosinofil, basofil, stab neutrofil, segmen neutrofil, limfosit dan monosit. Perhitungan differential leukosit ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menghitung jenis leukosit sekurang kurangnya 100 sel. Hasil hitung jenis lekosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Nilai normal pada jenis leukosit antara lain : Basofil Eusinofil Netrofil Stab Netrofil Segmen Limfosit Monosit : 0-1 % : 0-3 % : 2-10 % : 50-70% : 20-40% : 2-8%

Hasil Penghitungan Differential Leukosit Tabel Penghitungan Differential Leukosit 1 Eo Ba St Seg Ly Mo


II IIIII I IIII IIIII I I IIII III II IIIIIII I IIIIII I IIII III I I

5
III

10

Jumlah 4

II I IIII IIIII IIIIII IIII IIIIII IIII IIIIIII III

2 4 50 34 3

EOSINOFIL Eosinofil adalah bagian dari sel darah putih yang memiliki granula atau leukosit granular. Jumlah normal eosinofil berkisar antara 0-3 sel per 100 leukosit. Pada eosinofil plasmanya bersifat asam. Itulah sebabnya eosinofil akan merah tua bila ditetesi eosin. Eosinofil juga bersifat fagosit dan jumlahnya akan meningkat jika tubuh terkena infeksi. Sehingga kenaikan eosinofil biasanya meningkat selama alergi dan menandakan adanya parasit dalam tubuh kita. Pada pemeriksaan mikroskop akan tampak inti berada ditengah dan terdiri dari 2 lobus, sitoplasma berwarna merah dan bergranula kasar. Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan jumlah eosinofil sebanyak 4 dari total 100 leukosit yang dilakukan penghitungan. Penambahan jumlah basofil bisa disebabkan oleh karena adanya inflamasi ringan. Namun pada

pemeriksaan ini hanya bertambah satu, mungkin juga bisa disebabkan oleh penghitungan yang kurang cermat. Apabila terjadi penambahan jumlah eosinofil yang tinggi baru bisa menjadi suatu indikator adanya parasit atau suatu infeksi.

Gambar Eosinofil

BASOFIL Basofil merupakan bagian sel darah putih yang plasmanya bersifat basa. Itulah sebabnya plasma akan berwarna biru jika ditetesi larutan basa. Basofil juga sama seperti eosinofil yaitu bersifat fagosit. Basofil akan aktif apabila terjadi oleh luka trauma atau infeksi. Basofil akan mengluarkan histamin, bradikinin, serta serotonin. Zat-zat ini meningkatkan permeabilitas kapiler dan aliran darah ke daerah/tempat yang terkena infeksi. Pada pemeriksaan terlihat basofil memiliki inti yang tidak bersegmen dan terlihat seperti huruf S, dengan granula yang kasar dan berwarna biru. Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan jumlah basofil sebanyak 2 dari total 100 leukosit. Jumlah normal basofil per 100 leukosit adalah 1.Sama seperti hasil eosinofil, jumlah yg didapat lebih dari normal. Penambahan jumlah basofil bisa jadi disebabkan oleh karena adanya alergi atau inflamasi ringan.Namun pada pemeriksaan ini hanya bertambah satu, mungkin juga bisa disebabkan oleh penghitungan yang kurang cermat.

Gambar Basofil

STAB NEUTROFIL Neutrofil merupakan sel yang paling banyak menyusun leukosit. Memiliki nucleus yg terdiri dari 2-5 lobus atau berinti banyak, ukuran selnya sekitar 8mm, dan bersifat fagosit. Neutrofil memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri. Stab adalah netrofil imatur yang dapat bermultiplikasi dengan cepat selama infeksi akut. Bentukanstab tampak seperti cekungan atau tapal kuda. Pada stab granula terlihat halus dan berwarna ungu. Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan didapatkan jumlah stab neutrofil sebanyak 4 dari total 100 leukosit yang dilakukan penghitungan. Jumlah normalnya adalah antara 1-5 per 100 leukosit. Hal ini menunjukkan bahwa stab neutrofil masih berada dalam jumlah yang normal.

Gambar Stab Neutrofil

SEGMEN NEUTROFIL Neutrofil segmen adalah salah satu bentuk dari neutrofil, selain neutrofil batang yang merupakan sel aktif dan berperan dalam sistem kekebalan. Segmen memiliki bentuk sel bulat atau oval, mengandung granula sitoplasmik (primer atau azurofil, sekunder atau spesifik) dan juga memiliki inti sel berongga yang kaya kromatin dan berwarna biru keunguan. Jumlah segmen yang normal berkisar antara 50-70% dari total jumlah seluruh leukosit. Sehingga neutrofil, khususnya neutrofil segmen, merupakan leukosit darah perifer yang jumlahnya paling banyak. Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan jumlah segmen sebanyak 50 dari total 100 leukosit yang dilakukan penghitungan. Sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa segmen berada dalam jumlah yang normal.

Gambar Neutrofil Segmen

LIMFOSIT Pada preparat yang diamati di bawah mikroskop juga terlihat adanya limfosit. Limfosit memiliki nukleus yang besar dan bulat serta memiliki ukuran bervariasi dari 7-15 mikron. Dalam keadaan normal, jumlah limfosit berkisar antara 25-35%. Fungsinya adalah membunuh dan memakan bakteri yang masuk ke dalam jaringan tubuh. Limfosit ada 2 macam, yaitu limfosit T dan limfosit B yang merupakan komponen utama dari sistem imun tubuh. Sel B bertanggung jawab atas sintesis antibodi humoral yang bersirkulasi yang dikenal dengan nama imunoglobulin. Imunoglobulin akan disintesis dan disekresikan ke dalam plasma sebagai respon terhadap pajanan berbagai macam

antigen. Sedangkan sel T terlibat dalam berbagai proses imunologik yang diperantarai oleh sel dalam tubuh. Pada mulanya, semua sel darah (limfosit, granulosit,eritrosit dan

megakariosit) berasal dari sejenis sel (stem cell) dalam sumsum tulang. Sebagian dari sel-sel limfosit yang baru terbentuk dari "stem cells" akan mengalir menuju kelenjar thymus. Dalam thymus sel-sel limfosit ini akan mengalami semacam proses pematangan menjadi sel limfosit yang nantinya akan berfungsi dalam reaksi imunitas seluler (cellular immunity). Sel limfosit yang telah diproses dalam kelenjar thymus ini dinamakan sel limfosit T. Sel limfosit yang tidak mengalami proses pematangan dalam kelenjar thymus, mengalami proses pematangan dalam sumsum tulang dan mungkin dalam kelenjar getah bening dinamakan sel limfosit B yang mempunyai kemampuan untuk membentuk antibodi dalam reaksi imunitas setelah pematangan. Selanjutnya, sel lomfosit T dan limfosit B yang baru terbentuk akan mengalir dalam pembuluh darah dan juga pembuluh limfe. Oleh karena itu, pada pengamatan yang dilakukan di bawah mikroskop dapat ditemukan adanya limfosit pada sample darah sebanyak 34 dari total keseluruhan leukosit. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa limfosit pada sample berada dalam jumlah yang normal.

Gambar Limfosit

MONOSIT Monosit memiliki ukuran yang lebih besar daripada limfosit dengan diameter 15 sampai 20 m, protoplasmanya besar, warna biru sedikit abu-abu, sering tampak adanya butir azurofil halus seperti debu (bintik-bintik sedikit kemerahan). Inti selnya

bulat atau panjang berbentuk lonjong, seperti ginjal atau mirip tapal kuda dan memiliki lekuk cukup dalam.. Monosit dibentuk di dalam sumsum tulang, masuk ke dalam sirkulasi dalam bentuk imatur dan mengalami proses pematangan menjadi makrofag setelah masuk ke jaringan. Fungsinya adalah sebagai fagosit. Sehingga ia merupakan baris pertahanan kedua terhadap infeksi bakteri dan juga benda asing. Sel ini lebih kuat daripada neutrofil dan dapat mengonsumsi partikel debris yang lebih besar. Jumlahnya berkisar antara 3-6% dari total komponen yang ada di sel darah. Pada hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, dapat ditemukan sebanyak 3 monosit pada keseluruhan lapang pandang. Sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa monosit pada sample berada dalam jumlah yang normal.

Gambar Monosit

Kesimpulan Hasil dari penghitungan differential leukosit didapatkan bahwa jumlah leukosit dari sampel masih berada dalam batas normal. Adapun pertambahan jumlah jenis leukosit dari rentang normalnya, mungkin karena kesalahan kami dalam melakukan penghitungan ataupun pengklasifikasian jenis leukosit.

10