Anda di halaman 1dari 14

PENYELIDIKAN PEMBUATAN TEROWONGAN

Terowongan adalah sebuah tembusan di bawah permukaan tanah atau gunung. Terowongan umumnya tertutup di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya yang terbuka pada lingkungan luar. Beberapa ahli teknik sipil mendefinisikan terowongan sebagai sebuah tembusan di bawah permukaan yang memiliki panjang minimal 0.1 mil, dan yang lebih pendek dari itu lebih pantas disebut underpass. Berdasarkan fungsinya, terowongan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: a. Terowongan lalu lintas (traffic) Beberapa penggunaan terowongan untuk lalu lintas diantaranya: Terowongan kereta api Terowongan jalan raya Terowongan navigasi Terowongan tambang b. Terowongan angkutan Diantaranya adalah : Terowongan pembangkit tenaga listrik (hydro power) Terowongan water supply Terowongan sewerage water Terowongan untuk utilitas umum Terowongan dibuat melalui berbagai jenis dan lapisan

tanah dan bebatuan sehingga metode konstruksi tergantung dari keadaan tanah. Metode pembuatan terowongan yang biasa digunakan adalah metode potong-tutup, metode ini merupakan metode yang paling simpel untuk terowongan dangkal di mana area di atas lokasi yang akan dijadikan terowongan harus digali dan terowongan dibangun dengan atap di atasnya. Setelah itu, area ditutup agar terlihat seperti sebelum digali. Konstruksi umumnya bertingkat dua, yang memungkinkan adanya pengelolaan secara ekonomi dan keamanan seperti loket tiket, stasiun, akses penumpang dan jalan keluar darurat, ventilasi, saluran asap, ruang staf, dan ruang perlengkapan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan terowongan yaitu : Lokasi Metode konstruksi

Material Kegunaan Rancangan terowongan perlu memperhatikan : 1. Massa batuan yang komplek ; gaya-gaya yang dihasilkan oleh redistribusi tegangan awal. 2. Sifat-sifat material di sekitar, kemungkinan failure / keruntuhan di struktur bahan dan kekuatan batuan. Rencana rekayasa yang baik adalah rancangan yang seimbang dalam semua faktor yang saling berkaitan, meski tidak selalu dapat dikualifikasi tapi selalu di masukkan dalam perhitungan.

Pekerjaan Penyangga Terowongan Tahapan Pekerjaan Penyangga Terowongan ( B. Stillborg,1986 ), secara umum dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu : 1. Tahapan Sebelum Penggalian Dalam rencana penggalian terowongan, terlebih dahulu dimulai dari Penyelidikan lapangan, yaitu penyelidikan kondisi geologi sepanjang rencana jalur terowongan, untuk mengetahui jenis batuan, struktur geologi, kondisi airtanah, kemungkinan adanya gas beracun yang ada pada sepanjang rencana jalur terowongan. Setelah itu masuk pada tahap excavation requirement, dimana pada tahap ini rencana penggalian yang tepat dan sesuai dengan kondisi batuan yang ada sepanjang terowongan dapat direncanakan dari awal. Pada tahap ini sudah dapat diprediksi pada KM berapa galian harus dilaksanakan dengan cara dan penggunaan alat yang sesuai. Pada pekerjaan pertambangan yang pelaksanaannya bisa mencapai ratusan kilometer, galian dengan kondisi batuan yang sangat bervariasi, penggalian terowongan dapat digunakan dengan beberapa metode dan alat yang berbeda-beda. Dengan berbedanya cara penggalian, akan berkaitan dengan penggunaan penyangga yang diberikan. Tahap selanjutnya yaitu desain awal dimana setelah excavation requirement ini, berkaitan dengan desain awal terhadap penyangga yang akan digunakan sepanjang jalur terowongan. Tahapan ini sudah dapat diprediksi jenis/macam penyangga yang akan digunakan, volume nya serta lokasi penempatannya.

Setelah tahap pendesainan awal, dilakukan tahapan pemilihan system monitoring, dimana pada tahap ini dilakukan pemilihan alat monitoring yang tepat untuk kestabilan galian sepanjang terowongan, harus ditentukan sebelum galian terowongan

dilaksanakan. Pemilihan system monitoring ini adalah untuk selama waktu penggalian dan setelah pelaksanaan selesai. 2. Tahapan Selama Penggalian Pada tahapan ini semua tahapan sebelum penggalian memasuki tahapan kondisi nyata (real condition). Pada tahapan ini dilakukan beberapa pekerjaan antara lain penyelidikan detil lapangan, yaitu setiap jengkal kemajuan penggalian terowongan, dilakukan pemetaan geologi secara detail yang dimaksudkan untuk melakukan observasi kondisi batuan pada setiap cycle blasting untuk dilakukan pengklasifikasian batuan yang ada guna mengetahui pengaruh kondisi massa batuan dimana diklasiflkasikan berdasarkan nilai RMR nya dalam perencanaan pembuatan penyangga terowongan tersebut sehingga dapat diketahui jenis penyangga apa yang tepat dan kapan waktu pemasangannya. Setelah diketahui kondisi geologi detil terowongan, barulah dilakukan pemasangan penyangga yang didasarkan dari hasil penyelidikan geologi detil tersebut. Berdasarkan pengalaman dan kondisi detil, maka akan dilakukan review design yang nantinya diperoleh desain baru untuk penyangga terowongan yang mengkoreksi dari desain yang dibuat sebelumnya yang dibuat berdasarkan asumsi-asumsi awal yang sebagian besar masih berdasarkan interpretasi kondisi batuan sepanjang batuan. Pekerjaan terakhir pada tahapan ini yaitu pemasangan system monitoring yang berdasarkan perencanaan peralatan pada tahap sebelum penggalian, atau jika diperlukan akan ditambahkan peralatan tambahan. System monitoring ini untuk memantau efektifitas penyangga yang dipasang efektif atau tidak. Bila penyangga yang digunakan tepat, maka tidak akan terjadi deformasi batuan dan bila dari hasil monitoring masih terjadi deformasi batuan, maka penyangga akan diperkuat lagi alat yang digunakan dalam system monitoring ini antara lain: o o Crown settlement ( Dipasang di atap terowongan ) Digunakan untuk mengetahui penurunan atap terowongan melalui alat survey. Convergence meter ( Dipasang pada sisi dinding terowongan ) Alat ini berfungsi untuk mengetahui defleksi terowongan ke arah dalam atau luar.

Extensometer ( Dipasang pada sekeliling terowongan pada kedalaman tertentu ) Berfungsi sebagai alat untuk mengetahui deformasi batuan / tanah di sekeliling terowongan pada kedalaman tertentu.

Ground Presure Meter ( Dipasang pada batas antara lining concrete dan batuan ) Alat ini berguna untuk mengetahui pengaruh tekanan batuan / tanah pada terowongan.

Spring Settlement Alat ini digunakan untuk mengetahui penurunan dinding terowongan melalui alat ukur

o o o o o

Shocrete / Concrete Stress Meter ( dipasang pada batas lining concrete dan batuan) Berfungsi untuk memantau perubahan stress dari shocrete dan batuan. Rock Bolt axial Force Yaitu alat untuk memantau perubahan gaya axial pada rock bolt. Steel Support Sterss Untuk memantau perubahan stress pada Steel Support Steel Support Bending Moment Berfungsi untuk memantau perubahan moment pada Steel Support Crack Displacement Meter Yaitu alat yang digunakan untuk memantau rekahan yang telah terjadi.

3.

Tahapan Setelah Penggalian Pada tahap akhir ini hanya dilakukan pekerjaan pemasangan monitoring jangka

panjang dimana tujuan pemasangan sistem monitoring ini adalah untuk memantau deformasi pada lubang terowongan setelah dipasang penyangga permanen secara jangka panjang, serta memantau kondisi airtanah di sekitar terowongan. Dalam pelaksanaan pembuatan terowongan, pastinya menemukan masalah-masalah yang berkaitan dengan kondisi massa batuan antara lain jalur terowongan yang melewatri Zona Patahan atau sesar aktif dapat membahayakan apabila elevasi terowongan dibawah muka air. Arah sesar terhadap sumbu terowongan harus dipertimbangkan dengan seksama. Untuk menentukan efek joint pada konstruksi terowongan, Bieniawski (1974) mengelompokan massa batuan menjadi lima kelompok untuk mengetahui metode yang cocok digunakan untuk pelaksanaan. Material batuan dengan banyak joint dapat digali dengan menggunakan ripper.

Bidang permukaan joint yang lebar sering dijumpai dalam pelaksanaan terowongan. Jika arahnya sejajar atau hampir sejajar dengan as terowongan maka dapat menimbulkan masalah besar dalam pelaksanaannya. Jangka waktu dimana masa batuan masih dalam kondisi stabil tanpa perlu sokongan disebut dengan Stand-Up Time atau bridging capacity. Stand-up time ini tergantung dari lebar bukaan, kekuatan batuan dan pola diskotinuitas. Bila Stand-up time rendah berarti segera setelah dilakukan pembukaan/penggalian harus segera dilakukan proteksi atau supporting terhadap massa batuan yang ada. Penciutan pada lubang terowongan yang digali dapat terjadi sebagai akibat perubahan kondisi tegangan, munculnya tegangan geser sesar dan adanya lapisan lempung ekspansif. Masalah serius yang terjadi pada saat penggalian terowongan adalah adanya aliran air yang bersifat tiba-tiba dalam jumlah besar. Kondisi air tanah adalah factor penyebab utamanya. Untuk terowongan yang berada dibawah sungai atau laut, maka bocoran harus sama sekali dihindarkan, karena jumlah air yang dapat memasuki lubang terowongan akan sulit terkontrol. Pada terowongan sipil yang biasanya dangkal maka temperature tidak terlalu berpengaruh pada pelaksanaannya namun demikian biasanya hal tersebut dapat diantisipasi sepenuhnya dengan membuat sebuah ventilating system yang baik, hal ini juga sangat berguna untuk mengantisipasi adanya gas- gas berbahaya yang timbul dari massa batuan yang ada. Getaran gempa adalah faktor penting yang harus diperhitungkan dalam perencanaan lining dan supporting system. Pengaruh gempa biasanya relatif lebih kecil dibandingkan pada struktur yang terdapat di atas permukaan tanah.

Sumber : Hastowo, Pudji. 2009. Tunnel Supporting. Semarang : Departemen Pekerjaan Umum. J. S, Dwijanto. 2005. Hand out Geoteknik D4 Sungai dan Pantai. Bandung : Departemen Pekerjaan Umum. Kolymbas, Dimitrios. 2008. Tunneling and Tunnel Mechanics A Rational Approach toTunnelling. Jerman : Springer-Verlag Berlin Heidelberg

Gambar 1

Pembuatan Terowongan Menggunakan Mesin Bor

1.

Penyelidikan Geoteknik Sebelum Konstruksi Terowongan

Penyelidikan geoteknik adalah elemen yang sangat penting dalam perencanaan dan pelaksanaan sebuah terowongan. Dengan data geologi yang memadai dapat ditentukan desain terowongan yang sesuai, metode pelaksanaan yang paling optimal, biaya pelaksanaan yang paling rasional serta persiapan yang sebaik baiknya direncanakan aspek keamanan pelaksanaan. Biaya pelaksanaan akan sangat berpotensi membengkak karena kurang tersedianya data geologi.

Secara spesifik tujuan penyelidikan tersebut adalah untuk : a. b. c. d. Menentukan stratifikasi tanah atau batuan pada jalur terowongan. Menentukan sifat fisik batuan. Menentukan parameter desain untuk batuan dan tanah. Memberikan kepastian setinggi tingginya bagi suatu proyek dan dan

memberi wawasan kepada engineer mengenai kondisi yang mungkin terjadi saat pelaksanaan. e. f. g. Mengurangi unsur ketidakpastian bagi kontraktor. Meningkatkan keselamatan kerja. Memberi pengalaman bekerja sehingga dapat memperbaiki kualitas

kualitas keputusan di lapangan.

Dalam penyelidikan lapangan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

a. -

Tinjauan literatur Dilakukan sebelum berangkat ke lapangan Cari informasi yang pernah dipublikasikan mengenai geologi, tanah, air

tanah, sejarah seismik, struktur penirisan. Peta geologi Litbang geologi, geoteknologi LIPI Untuk kota, informasi daerah penimbunan lama atau alterasi pola

b. -

Studi foto udara (bila ada) Untuk melihat kondisi lokasi dari jarak yang jauh dan luas. Analisis geomorfis dan sifat-sifat batuan dari evaluasi respon batuan

terhadap lingkungan merah, radar. Topografi lereng yang terdiri dari dua tipe dapat dikenali Mudah dikenali adanya tanah longsor, patahan, struktur geologi seperti Teknik pemotretan : vertikalitas dan kemiringan, fotografi warna,infra

antiklin- sinklin, dome.

c. -

Peninjauan geologi permukaan Untuk mengetahui jenis dan penyebaran batuan dilokasi berupa

ketebalan, sifat fisik dan mekanis di lapangan. Terdiri dari pemetaan batuan dasar dan pemetaan geologi teknik. Peta batuan :litologi dan batas-batasnya serta struktur geologi Peta geologi teknik : singkapan batuan dan derajat pelapukan, material

bahan bangunan

d. -

Survei geofisika Keuntungan : tidak merusak obyek yang diselidiki, cepat dan unit

costnya rendah. Kerugiannya : ketelitian rendah Dilakukan sebelum pemboran untuk menentukan lokasi pemboran Teknik yang umum digunakan neutron density dan teknik gamma. Metode yang digunakan : seismic refraction, survei resistivity.

e.

Pemboran eksplorasi

Pemboran merupakan metoda yang paling umum untuk eksplorasi detil, seperti keterangan yang spesifik dari batuan,variasi material dan sifat-sifat fisiknya. Daerah yang memerlukan eksplorasi lebih detil adalah : Portal Topografi rendah di atas terowongan, yang biasanya menggambarkan

struktur batuan lemah. Tipe batuan dengan potensial pelapukan yang dalam Di daerah yang banyak air Daerah geser

f. g.

Sumur uji Pengujian in-situ

h. i. j. k.

Pengujian laboratorium Pengujian model skala penuh Tahap konstruksi Pengamatan pasca konstruksi

Pemboran teknik untuk pengambilan sampel batuan adalah cara yang paling umum dipakai untuk pekerjaan terowongan. Dengan pengambilan sampel (core) dapat diketahui sifat fisik batuan, dan informasi penting lainnya. Lokasi lokasi yang memerlukan pengeboran secara detail adalah : a. b. Daerah portal Daerah yang secara topografi dekat terowongan, karena biasanya secara

struktur lemah (overburden tipis). c. d. Lokasi yang berpotensi mengalami pelapukan berat. Daerah yang berpotensi air tanah tinggi dan dan adanya batuan porous.

2.

Metode Dasar Pembuatan Terowongan Pada Batuan

Cara penggalian permukaan lubang bukaan digolongkan: a. b. Cara portal Cara open cut

Cara-cara tersebut dipengaruhi oleh kondisi tanah permukaan yang akan digali. Metoda penggalian ada 5 cara, yaitu:

Full face

Cara dimana seluruh penampang terowongan digali secara bersamaan. Cara ini cocok untuk penampang melintang kecil hingga diameter 3 m, tapi dengan gunakan Drill jumbo menjadi dapat untuk terowongan ukuran besar.

Keuntungan dari menggunakan cara ini adalah pekerjaan menjadi lebih cepat, lintasan pembuangan hasil peledakan dapat langsung dipasang bersamaan dengan proses penggalian berikutnya, dan proses tunneling dapat dilakukan secara kontinu. Sedangkan kerugiannya adalah saat penggalian banyak membutuhkan alat mekanis, tidak dapat digunakan untuk batuan yang tidak stabil, dan hanya terbatas untuk terowongan yang lintasannya pendek.

Heading dan bench

Cara penggaliannya adalah bagian atas terowongan digali lebih dulu sampai mencapai 3 3.5 m (heading), selanjutnya penggalian bagian bawah penampang dikerjakan (bench cut) sampai membentuk penampang yang diinginkan. Proses ini diulangi sampai seluruh lintasan terowongan tercapai.

Untuk kondisi batuan yang buruk, cara penggalian dapat dimodifikasi menjadi top heading heading diperpanjang sampai 25 m 35m atau lebih, kemudian pasangi penyangga, baru kemudian bench cut dibuat.

Keuntungan dari menggunakan cara ini adalah memungkinkan pekerjaan pengeboran dan pembuangan sisa peledakan dilakukan secara simultan, efektif untuk ukuran terowongan penampang besar dan lintasan, dan dapat diterapkan untuk setiap kondisi batuan. Sedangkan kerugian dari menggunakan cara ini adalah metoda ini membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan metoda full face.

Drift

Cara yang digunakan dalam metoda ini adalah dengan menggali terlebih dahulu lubang bukaan yang berukuran kecil sepanjang lintasan terowongan, kemudian diperbesar sampai membentuk penampang yang direncanakan. Berdasar posisi lubang terhadap sumbu terowongan :

Center drift

Diawali dengan penggalian lubang berukuran 2.5 m x 2.5 m 3m x 3m dari portal ke portal. Perluasan dimulai setelah penggalian center drift selesai, dengan membuat lubang untuk bahan peledakan yang dibor melingkar pada selimut drift dari sumbu terowongan.

Keuntungan dari posisi lubang terhadap sumbu terowongan ini adalah sistem ventilasinya baik, tidak memerlukan sistem penyangga sementara, dan mucking dapat dikerjakan bersama dengan pekerjaan penggalian.Sedangkan kerugiannya adalah pekerjaan perluasan harus menunggu center drift selesai secara keseluruhan, dan alat bor dipasang dengan pola tertentu, seringkali spasi alat bor dirubah sesuai dengan kondisi batuan yang diledakan.

Side drift

Dua drift digali sekaligus pada sisi-sisi penampang, sepanjang lintasan terowongan. Selanjutnya penggalian bagian arch diikuti dengan pemasangan penyangga sementara. Selesai penyangga dipasang, penggalian bagian tengah dikerjakan. Keuntungan dari cara ini adalah proses lining dapat dikerjakan sebelum penggalian bagian tengah dilaksanakan, metoda ini efektif untuk terowongan besar dengan kondisi batuan yang buruk. Sedangkan kerugiannya adalah pekerjaan perluasan harus menunggu drift selesai dikerjakan.

Top drift

Digunakan untuk penggalian endapan. Metodanya mirip dengan heading and bench.

Bottom drift

Penggalian dimulai dengan membuka bagian bawah penampang. Pembuatan lubang lubang bahan peledak untuk membuka bagian atas penampang dilakukan dengan membor dari Bottom drift vertikal ke atas.

Sumuran vertikal

Awal dibuat lubang vertikal sampai pada terowongan yang akan digali. Dengan demikian akan terbentuk tiga buah heading face.

Sumuran dapat bersifat sementara atau permanen. Sumuran sementara berfungsi saat

pelaksanaan membantu pembuangan pelaksanaan pembuangan sisa sisa peledakan (mucking), salah satu jalur untuk mensuplai peralatan dan material, dsb. Sumuran permanen bila masih tetap berfungsi setelah terowongan mulai digunakan untuk keperluannya, misal sebagai sarana ventilasi.

Pilot tunnel

Pillot tunnel digali paralel pada jarak 25 meter dari sumbu terowongan yang direncanakan dengan ukuran 2 x 2 m2 3 x 3 m2. Penggalian pada terowongan utama sendiri dilakukan dengan metoda drift. Pada interval tertentu dibuat cross cut memotong sumbu utama rencana. Bila cross cut mencapai drift, proses pelebaran dimulai dari titik ini dengan dua heading face. Bila cross cut mencapai titik dimana drift belum mencapai titik ini, maka drift heading dilakukan dengan titik potongan melintang.

Keuntungannya adalah efektif untuk terowongan yang lintasannya panjang, dengan topografi yang tidak memungkinkan untuk membuat sumuran, pilot tunnel dengan sendirinya merupakan sistem ventilasi, mucking dapat dilakukan dengan cepat. Sedangkan kerugiannya adalah pekerjaannya memerlukan lebih banyak waktu, biaya dibandingkan dengan metoda penggalian lainnya.