Anda di halaman 1dari 25

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI RUANG SHINTA RS GHRASIA

Disusun Oleh: 1. DIYAH NUR RAHMAWATI 2. MAYANG HUSAG 3. YULIANI KURNIASARI

1305023 1305030 1305024

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATANV SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA 2014 Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta Telp (0274) 434200

LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI RUANG SHINTA RS GHRASIA

Disusun Oleh: 1. Diyah Nur Rahmawati 2. Mayang Husag 3. Yuliani Kurniasari 1305023 1305030 1305024

Telah disetujui pada Hari : Tanggal :

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................. A Sesi III .......................................................................................... B Sesi IV ........................................................................................... C Sesi V ........................................................................................... i ii iii 1 12 23

iii

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK: ORIENTASI REALITAS SESI III : MENCEGAH PERILAKU KEKERASAN SOSIAL DI RUANG SHINTA RS GHRASIA 1. Latar Belakang Batasan kesehatan yang ingin dicapai menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 adalah keadaan sempurna yang dipandang dari empat aspek yakni : aspek fisik (badan), mental (jiwa), sosial dan ekonomi. Hal ini berarti kesehatan tidak hanya diukur dari keadaan fisik, tapi yang tak kalah penting adalah kesehatan mental dan sosial sehingga seseorang bisa hidup secara produktif dan secara ekonomi (Notoadmodjo, 2005). Kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan yang memungkinkan untuk terjadinya perkembangan fisik, intelektual, dan emosional individu secara optimal, sejauh perkembangan tersebut sesuai dengan perkembangan optimal individu-individu lain. Gangguan jiwa merupakan respon maladaptif terhadap stressor dari lingkungan internal atau eksternal, dibuktikan melalui pikiran, perasaan, dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma lokal dan budaya setempat dan mengganggu fungsi sosial, pekerjaan dan atau fisik (Depkes RI, 2003). Frankenburg (2007) memaparkan bahwa prevalensi skizofrenia mencakup 1% dari penduduk dunia. Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0,3-1% dari seluruh penduduk Indonesia dan biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 tahun, namun ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah menderita skizofrenia. Apabila penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa, maka diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita skizofrenia (Arif, 2006). Berdasarkan hasil observasi selama bertugas di Ruang Shinta, didapatkan sekitar 70% klien mempunyai diagnosa medis Skizofrenia yang disertai resiko perilaku kekerasan. Klien dengan gangguan jiwa psikotik seperti ini mengalami keadaan emosi yang tidak stabil dan bisa sewaktu-waktu terjadi bentuk perilaku kekerasan kembali yang merugikan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Untuk menanggulangi ini, selain klien diajak untuk dapat mengidentifikasi penyebab, tanda-tanda, perilaku kekerasan yang pernah dilakukan dan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan, maka perlu diadakan aktifitas yang memberi stimulus secara konsisten kepada klien tentang cara mencegah perilaku kekerasan dengan berbagai cara, antara lain dengan cara sosial, spiritual, dan patuh mengkonsumsi obat. Dari fenomena tersebut kelompok tertarik untuk melakukan Terapi Aktivitas Kelompok : stimulasi persepsi perilaku kekerasan (sosial, spiritual, dan patuh mengkonsumsi obat.

2. Pengertian a. Perilaku kekerasan 1) Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995). Menurut Townsend (2000), amuk (aggresion) adalah tingkah laku yang bertujuan untuk mengancam atau melukai diri sendiri dan orang lain juga diartikan sebagai perang atau menyerang. Disisi lain (Rasmun, 2001: 18) mendefinisikan Perilaku kekerasan adalah reaksi yang ditampilkan oleh individu dalam menghadapi masalah dengan melakukan tindakan penyerangan terhadap stessor, dapat juga merusak dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan dan setiap bermusuhan. Sedangkan (Yosep, 2009) berpendapat Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol. 2) Penyebab a) Faktor Predisposisi Psikologis Suatu kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat menimbulkan sikap agresif/ amuk. Pada masa anak-anak, faktor penyebab seperti perasaan ditolak, dihina, dianiaya dan saksi penganiayaan dapat menimbulkan prilaku amuk pada masa remaja ataupun dewasa. Perilaku - Reinforcement yang diterima saat melakukan kekerasan . - Sering mengobservasi kekerasan di rumah/ di luar rumah menstimulasi individu mengadopsi prilaku kekerasan. Sosial budaya - Kontrol yang tidak pasti terhadap prilaku kekerasan. - Budaya tertutup dan membalas secara diam-diam (pasifagresif).

Menciptakan situasi seolah-olah prilaku kekerasan diterima (Permisive). Bioneurologis Kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus temporal dan ketidakmampuan interpesonal bisa menjadi penyebab prilaku kekerasan. b) Faktor Presipitasi Pasien, seperti: kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan dan kurang percaya diri. Lingkungan, seperti: lingkungan yang berisik, padat, kritik yamg mengarah pada penghinaan pada kehilangan dan kehilangan orang yang dicintai.

c) Rentang respon marah Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif mal adaptif. Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai berikut : (Keliat, 1997, hal 6). Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain. Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan. Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol oleh individu. Orang agresif biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. d) Tanda dan gejala Muka merah

Pandangan tajam Otot tegang Nada suara tinggi Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak Memukul jika tidak senang

e) Akibat Perilaku Kekerasan Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan. b. TAK Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang sama (Stuart & Sudden, 2009). Sedangkan kelompok terapeutik dapat memberi kesempatan untuk bertukar tujuan (sharing). Terapi kelompok adalah suatu psikotherapi yang dilakukan oleh sekelompok penderita bersama-sama dengan jalan diskusi satu sama lain yang dipimpin, diarahkan oleh terapis/ petugas kesehatan yang telah dilatih. Terapi Aktivitas Kelompok: Terapi Aktivitas Kelompok: stimulasi persepsi perilaku kekerasan adalah upaya untuk mencegah perilaku kekerasan yang dapat dilakukan secara sosial, spiritual, dan patuh dalam minum obat.

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK: RESIKO PERILAKU KEKERASAN SESI 1II : MENCEGAH PERILAKU KEKERASAN SOSIAL DI RUANG SHINTA RS GHRASIA 1. Tujuan TAK a. Tujuan Umum Klien mampu mencegah terjadinya amuk dan perilaku kekerasan dengan cara sosial. b. Tujuan Khusus a) Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa b) Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan 2. Kriteria Anggota a. Kondisi klien yang dilakukan TAK adalah klien dengan riwayat PK dan sudah kooperatif untuk diajak berkomunikasi. Klien juga tidak mengalami disorientasi tempat dan waktu. b. Klien yang diajak untuk TAK adalah klien dengan riwayat PK dengan halusinasi maupun waham dengan terapi modalitas berupa cara mencegah perilaku kekerasan di kemudian hari c. Jumlah anggota yang mengikuti TAK berjumlah 5 orang. Hal ini sesuai dengan penyataan yang disampaikan oleh Keliat dan Akemat (2005) bahwa jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar antara 5-12 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, pendapat, dan pengalamannya. d. Klien bersedia mengikuti terapi TAK stimulasi persepsi dalam mencegah perilaku kekerasan baik dengan cara sosial, spiritual, dan patuh dalam minum obat e. Pemilihan klien dilakukan dengan memilih klien dengan riwayat PK dengan kondisi klien yang sudah stabil dan mampu diajak berkomunikasi dengan baik (kooperatif). Klien yang dipilih sebagian besar adalah yang baru pertama kali masuk di RS Grhasia dengan harapan mereka akan memperoleh keterampilan baru dalam mencegah perilaku kekerasan saat nanti mereka diperbolehkan pulang ke rumah. 3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan a. Waktu Pelaksanaan : Selasa, 18 Februari 2014, pukul 12.00 - selesai b. Lama Pelaksanaan : 30 menit

c. Tempat Pelaksanaan : Ruang Shinta, RS Ghrasia 4. Nama Klien No Nama 1 Ny. A 2 Ny. SW 3 Ny. K 4 Ny. W 5 Ny. AP 5. Metode a. Dinamika kelompok b. Diskusi dan tanya jawab c. Permainan 6. Media dan Alat TAK ini menggunakan media dan alat yang spesifik yaitu a. White board b. Spidol c. Pulpen d. Buku catatan 7. Susunan Pelaksana a. Leader : Diyah Nur Rahmawati b. Co Leader : Mayang c. Fasilitator : Mayang dan Yuli d. Observer : Yuliani Kurniasari 8. Uraian Tugas Pelaksana a. Leader 1) Analisa dan observasi pola pola komunikasi dalam kelompok. 2) Tetapkan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai. 3) Bacakan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai. 4) Motivasi anggota aktif dalam kelompok. 5) Mampu memimpin kegiatan dengan tertib. b. Co Leader 1) Sampaikan informasi / pesan dari fasilitator ke leader. 2) Ingatkan leader jika kegiatan menyimpang.

c. Fasilitator 1) Ikut serta dalam kelompok sebagai anggota. 2) Fasilitasi klien yang kurang aktif 3) Jadi model bagi klien selama kegiatan d. Observer 1) Observasi jalannya kegiatan (jumlah peserta, klien yang keluar dan tidak kembali, ketepatan waktu ). 2) Catat perilaku verbal dan non verbal klien selama kegiatan. 3) Atur alur permainan. 9. Setting TAK a. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran b. Tempat tenang dan nyaman

Keterangan : : Leader : Observer : Klien : pasilitator

10. Tata Tertib dan Program Antisipasi a. Tata tertib 1) Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK. 2) Berpakaian rapi dan bersih. 3) Peserta tidak diperkenankan makan dan minum selama kegiatan. 4) Peserta tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib dibacakan

selama 5 menit 5) Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah tata tertib dibacakan. Bila peserta meninggalkan ruangan dan tidak bisa mengikuti kegiatan lain setelah dibujuk oleh fasilitator, maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh peserta cadangan. 6) Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai. 7) Peserta yang ingin mengajukan pernyataan, mengangkat tangan terlebih dahulu dan berbicara setelah dipersilahkan. b. Program Antisipasi 1) Usahakan dalam keadaan terapeutik 2) Anjurkan kepada terafis agar dapat menjaga perasaan anggota kelompok, menahan diri untuk tertawa atau sikap yang menyinggung. 3) Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib, diperingatkan dan jika tidak bisa diperingatkan, dikeluarkan dari kegiatan setelah dilakukan penawaran. 4) Bila ada anggota cadangan yang ingin keluar, bicarakan dan dimintai persetujuan dari peserta TAK yang lain. 5) Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan, leader memperingatkan dan mengarahkan kembali bila tidak bisa, dikeluarkan dari kelompok. 6) Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh fasilitator 11. Langkah Kegiatan Terapi Modalitas a. Persiapan 1) Memilih klien sesuai kriteria 2) Membuat kontrak dengan klien 3) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan b. Orientasi 1) Salam terapeutik a) Salam dari terapis kepada klien. b) Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama ) c) Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama) 2) Evaluasi validasi a) Menanyakan perasaan klien saat ini b) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku kekerasan. c) Terapis menanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan.

c. Kontrak a) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan . b) Menjelaskan aturan main berikut. Jika klien ada yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada leader. Lama kegiatan 30 menit. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. c. Tahap kerja 1) Terapis mendiskusikan dengan klien cara berbicara jika ingin meminta sesuatu dari orang lain. 2) Terapis menuliskan cara-cara yang disampaikan klien 3) Terapis mendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan, yaitu saya perlu/ingin/minta barang tersebut yang akan saya gunakan. 4) Terapis memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang pada poin 3) 5) Ulangi poin 3) sampai semua klien mencoba 6) Memberikan pujian pada peran serta klien 7) Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada orang lain, yaitu saya tidak dapat melakukan apa yang dikatakan oleh anda 8) Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin 7) 9) Ulangi poin 8) sampai semua klien mencoba 10) Memberikan pujian pada peran serta klien 11) Meminta masing-masing klien menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, dan asal. d. Tahap Terminasi 1) Evaluasi a) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK. b) Memberikan reinformennt positif atas keberhasilan kelompok. 2) Tindak Lanjut a) Terapis menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif, jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi. b) Terapis menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif secara teratur.

10

c) Memasukan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan harian klien. 3) Kontrak yang akan datang a) Terapis membuat kontrak untuk TAK yang akan datang yaitu kegiatan ibadah. b) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK: RESIKO PERILAKU KEKERASAN SESI 1V : MENCEGAH PERILAKU KEKERASAN SPIRITUAL DI RUANG SHINTA RS GHRASIA 1. Tujuan TAK a. Tujuan Umum Klien mampu mencegah terjadinya amuk dan perilaku kekerasan dengan cara spiritual. b. Tujuan Khusus a. Klien dapat melakukan ibadah secara teratur b. Klien dapat menyebutkan jenis ibadah apa saja yang dapat dilakukan oleh klien 2. Kriteria Anggota a. Kondisi klien yang dilakukan TAK adalah klien dengan riwayat PK dan sudah kooperatif untuk diajak berkomunikasi. Klien juga tidak mengalami disorientasi tempat dan waktu. b. Klien yang diajak untuk TAK adalah klien dengan riwayat PK dengan halusinasi maupun waham dengan terapi modalitas berupa cara mencegah perilaku kekerasan di kemudian hari c. Jumlah anggota yang mengikuti TAK berjumlah 5 orang. Hal ini sesuai dengan penyataan yang disampaikan oleh Keliat dan Akemat (2005) bahwa jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar antara 5-12 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, pendapat, dan pengalamannya. d. Klien bersedia mengikuti terapi TAK stimulasi persepsi dalam mencegah perilaku kekerasan baik dengan cara sosial, spiritual, dan patuh dalam minum obat e. Pemilihan klien dilakukan dengan memilih klien dengan riwayat PK dengan kondisi klien yang sudah stabil dan mampu diajak berkomunikasi dengan baik (kooperatif). Klien yang dipilih sebagian besar adalah yang baru pertama kali masuk di RS Grhasia dengan harapan mereka akan memperoleh keterampilan baru dalam mencegah perilaku kekerasan saat nanti mereka diperbolehkan pulang ke rumah. 3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan a. Waktu Pelaksanaan : Rabu, 19 Februari 2014, pukul 10.00 - selesai

12

12

b. c.

Lama Pelaksanaan : 30 menit Tempat Pelaksanaan : Ruang Shianta, RS Ghrasia

4. Nama Klien No 1 2 3 4 5

Nama Ny. A Ny. SW Ny. K Ny. W Ny. AP

5. Metode a. Diskusi kelompok b. Orientasi lapangan c. Permainan 6. Media dan Alat TAK ini menggunakan media dan alat yang spesifik yaitu a. White board b. Spidol c. Pulpen d. Buku catatan 7. Susunan Pelaksana a. Leader : Mayang b. Co Leader : Yuliani c. Fasilitator : Diyah dan Yuli d. Observer : Diyah 8. Uraian Tugas Pelaksana a. Leader 1) Analisa dan observasi pola pola komunikasi dalam kelompok. 2) Tetapkan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai. 3) Bacakan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai. 4) Motivasi anggota aktif dalam kelompok. 5) Mampu memimpin kegiatan dengan tertib.

13

b. Co Leader 1) Sampaikan informasi / pesan dari fasilitator ke leader. 2) Ingatkan leader jika kegiatan menyimpang. c. Fasilitator 1) Ikut serta dalam kelompok sebagai anggota. 2) Fasilitasi klien yang kurang aktif 3) Jadi model bagi klien selama kegiatan d. Observer 1) Observasi jalannya kegiatan (jumlah peserta, klien yang keluar dan tidak kembali, ketepatan waktu ). 2) Catat perilaku verbal dan non verbal klien selama kegiatan. 3) Atur alur permainan. 9. Setting TAK a. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran b. Tempat tenang dan nyaman

Keterangan : : Leader : Co - Leader 10. Tata Tertib dan Program Antisipasi a. Tata tertib : Klien : pasilitator

14

Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK. Berpakaian rapi dan bersih. Peserta tidak diperkenankan makan dan minum selama kegiatan. Peserta tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib dibacakan selama 5 menit. 5) Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah tata tertib dibacakan. Bila peserta meninggalkan ruangan dan tidak bisa mengikuti kegiatan lain setelah dibujuk oleh fasilitator, maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh peserta cadangan. 6) Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai. 7) Peserta yang ingin mengajukan pernyataan, mengangkat tangan terlebih dahulu dan berbicara setelah dipersilahkan. b. Program Antisipasi 1) Usahakan dalam keadaan terapeutik 2) Anjurkan kepada terafis agar dapat menjaga perasaan anggota kelompok, menahan diri untuk tertawa atau sikap yang menyinggung. 3) Bila ada peserta yang direncanakan tidak bisa hadir, maka diganti oleh cadangan yang telah disiapkan dengan cara ditawarkan terlebih dahulu kepada peserta. 4) Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib, diperingatkan dan jika tidak bisa diperingatkan, dikeluarkan dari kegiatan setelah dilakukan penawaran. 5) Bila ada anggota cadangan yang ingin keluar, bicarakan dan dimintai persetujuan dari peserta TAK yang lain. 6) Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan, leader memperingatkan dan mengarahkan kembali bila tidak bisa, dikeluarkan dari kelompok. 7) Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh fasilitator 11. Langkah Kegiatan Terapi Modalitas a. Persiapan 1) Mengingatkan kontrak pada klien yang telah ikut sesi 2) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan. b. Orientasi 1) Salam terapeutik a) Salam dari terapis kepada klien. b) Perkenalkan nama dan panggilan terapis

1) 2) 3) 4)

15

2) Evaluasi validasi a) Menanyakan perasaan klien saat ini b) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku kekerasan. c) Terapis menanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan. 3) Kontrak a) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku kekerasan. b) Menjelaskan aturan main berikut. - Jika klien ada yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada leader. - Lama kegiatan 30 menit. - Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. c. Tahap kerja 1) Terapis menanyakan agama dan kepercayaan masing-masing klien 2) Terapis mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masingmasing klien 3) Terapis meminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah. 4) Terapis meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih. 5) Memberikan reinforcemen kepada peserta untuk setiap keberhasilan klien dengan mengajak klien lain bertepuk tangan. d. Tahap Terminasi 1) Evaluasi a) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK. b) Memberikan reinforment positif atas keberhasilan kelompok. 2) Tindak Lanjut a) Terapis menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif, dan kegiatan ibadah jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi. b) Terapis menganjurkan klien melatih kegiatan fisik, interaksi sosial, dan kegiatan ibadah secara teratur. c) Memasukan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan harian klien. 3) Kontrak yang akan datang a) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu minum obat teratur. b) Menyepakati waktu dan tempat pertemuan berikutnya

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK: RESIKO PERILAKU KEKERASAN SESI V : MENCEGAH PERILAKU KEKERASAN DENGAN PATUH MINUM OBAT DI RUANG SHINTA RS GHRASIA 1. Tujuan TAK a. Tujuan Umum Klien mampu mencegah terjadinya amuk dan perilaku kekerasan dengan cara patuh minum obat. b. Tujuan Khusus a) Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat b) Klien dapat menyebutkan akibat/kerugian tidak patuh minum obat c) Klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat 2. Kriteria Anggota a. Kondisi klien yang dilakukan TAK adalah klien dengan riwayat PK dan sudah kooperatif untuk diajak berkomunikasi. Klien juga tidak mengalami disorientasi tempat dan waktu. b. Klien yang diajak untuk TAK adalah klien dengan riwayat PK dengan halusinasi maupun waham dengan terapi modalitas berupa cara mencegah perilaku kekerasan di kemudian hari c. Jumlah anggota yang mengikuti TAK berjumlah 5 orang. Hal ini sesuai dengan penyataan yang disampaikan oleh Keliat dan Akemat (2005) bahwa jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar antara 5-12 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, pendapat, dan pengalamannya. d. Klien bersedia mengikuti terapi TAK stimulasi persepsi dalam mencegah perilaku kekerasan baik dengan cara sosial, spiritual, dan patuh dalam minum obat e. Pemilihan klien dilakukan dengan memilih klien dengan riwayat PK dengan kondisi klien yang sudah stabil dan mampu diajak berkomunikasi dengan baik (kooperatif). Klien yang dipilih sebagian besar adalah yang baru pertama kali masuk di RS Grhasia dengan harapan mereka akan memperoleh keterampilan baru dalam mencegah perilaku kekerasan saat nanti mereka diperbolehkan pulang ke rumah.

23

17

3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan a. Waktu Pelaksanaan : Kamis, 20 Februari 2014, pukul 12.00 - selesai b. Lama Pelaksanaan : 45 menit c. Tempat Pelaksanaan : Ruang Shinta, RS Ghrasia 4. Nama Klien No 1 2 3 4 5 5. Metode a. Diskusi b. Tanya jawab c. Permainan 6. Media dan Alat TAK ini menggunakan media dan alat yang spesifik yaitu a. White board b. Spidol c. Pulpen d. Buku catatan 7. Susunan Pelaksana a. Leader : Yuliani b. Co Leader : Yuliani c. Fasilitator : Mayang d. Observer : Diyah 8. Uraian Tugas Pelaksana a. Leader 1) Analisa dan observasi pola pola komunikasi dalam kelompok. 2) Tetapkan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai. 3) Bacakan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai. 4) Motivasi anggota aktif dalam kelompok.

Nama Ny. A Ny. SW Ny. K Ny. W Ny. AP

18

5) Mampu memimpin kegiatan dengan tertib. b. Co Leader 1) Sampaikan informasi / pesan dari fasilitator ke leader. 2) Ingatkan leader jika kegiatan menyimpang. c. Fasilitator 1) Ikut serta dalam kelompok sebagai anggota. 2) Fasilitasi klien yang kurang aktif 3) Jadi model bagi klien selama kegiatan d. Observer 1) Observasi jalannya kegiatan (jumlah peserta, klien yang keluar dan tidak kembali, ketepatan waktu ). 2) Catat perilaku verbal dan non verbal klien selama kegiatan. 3) Atur alur permainan. 9. Setting TAK a. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.

Keterangan : : Leader : Co - Leader 10. Tata Tertib dan Program Antisipasi a. Tata tertib 1) Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK. : Klien : pasilitator

19

2) Berpakaian rapi dan bersih. 3) Peserta tidak diperkenankan makan dan minum selama kegiatan. 4) Peserta tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib dibacakan selama 5 menit. 5) Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah tata tertib dibacakan. Bila peserta meninggalkan ruangan dan tidak bisa mengikuti kegiatan lain setelah dibujuk oleh fasilitator, maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh peserta cadangan. 6) Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai. 7) Peserta yang ingin mengajukan pernyataan, mengangkat tangan terlebih dahulu dan berbicara setelah dipersilahkan. b. Program Antisipasi 1) Usahakan dalam keadaan terapeutik 2) Anjurkan kepada terafis agar dapat menjaga perasaan anggota kelompok, menahan diri untuk tertawa atau sikap yang menyinggung. 3) Bila ada peserta yang direncanakan tidak bisa hadir, maka diganti oleh cadangan yang telah disiapkan dengan cara ditawarkan terlebih dahulu kepada peserta. 4) Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib, diperingatkan dan jika tidak bisa diperingatkan, dikeluarkan dari kegiatan setelah dilakukan penawaran. 5) Bila ada anggota cadangan yang ingin keluar, bicarakan dan dimintai persetujuan dari peserta TAK yang lain. 6) Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan, leader memperingatkan dan mengarahkan kembali bila tidak bisa, dikeluarkan dari kelompok. 7) Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh fasilitator 11. Langkah Kegiatan Terapi Modalitas a. Persiapan 1) Memilih klien sesuai kriteria 2) Membuat kontrak dengan klien 3) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan b. Orientasi 1) Salam terapeutik a) Salam dari terapis kepada klien. b) Terapis dan klien memakai papan nama 2) Evaluasi validasi

20

a) Menanyakan perasaan klien saat ini b) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku kekerasan. c) Terapis menanyakan apakah kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif dan kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan. 3) Kontrak a) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan. b) Menjelaskan aturan main berikut. - Jika klien ada yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada leader. - Lama kegiatan 45 menit. - Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. c. Tahap kerja 1) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dikerjakan. 2) Terapis menjelaskan langkah berikutnya: terapis dan klien menyanyikan lagu, saat lagu dinyanyikan, pulpen dipindahkan dari satu klien ke klien lain. Bila lagu yang dinyanyikan berhenti, dan ada salah satu peserta TAK yang memegang pulpen, maka ia harus menjawab pertanyaan terapis. 3) Terapis dan klien menyanyikan lagu, saat lagu dinyanyikan, pulpen dipindahkan dari satu klien ke klien lain. Bila lagu berhenti, dan ada salah satu peserta TAK yang memegang pulpen, maka ia harus menjawab pertanyaan terapis tentang keuntungan minum obat, kerugian minum obat dan menyebutkan lima benar minum obat. 4) Ulangi langkah 3) sampai semua klien mendapatkan giliran. 5) Memberikan reinforcement kepada peserta untuk setiap keberhasilan klien dengan mengajak klien lain bertepuk tangan. d. Tahap Terminasi 1) Evaluasi a) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK. b) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan c) Memberikan reinformennt positif atas keberhasilan kelompok. 2) Tindak Lanjut Terapis menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial asertif, kegiatan ibadah, dan patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan.

21

3) Kontrak yang akan datang Terapis mengakhiri TAK. EVALUASI KEGIATAN 1. Saat dilakukan TAK, semua klien tampak aktif, kecuali Ny.SW karena konsentrasi klien mudah beralih 2. Semua peserta mampu menyebutkan 5 benar dalam minum obat, akibat jika tidak minum obat, dan keuntungan jika meminum obat 3. Saat pelaksanaan TAK, Ny. SW sempat meninggalkan proses TAK, namun klien kembali lagi untuk mengikuti TAK. 4. Semua peserta mampu menyebutkan cara-cara mengontrol marah yang sudah diajarkan yaitu dengan cara fisik, verbal, sosial, spiritual, dan patuh minum obat.