Anda di halaman 1dari 10

BAB 1. PENDAHUUAN 1.

1 Latar Belakang

Punica granatum L atau buah delima merupakan buah kuno, yang dianggap mistis. Bu ah ini merupakan salah satu anggota dari famili Punicaceae. Dalam kitab-kitab ku no buah delima dianggap sebagai buah yang memiliki kekuatan kesuburan, kelimpaha n, dan keberuntungan. Buah ini juga sering digunakan dalam upacara adat di Mesir dan Yunani.Selain itu, delima juga digunakan dalam beberapa sistem pengobatan p enyakit. Dalam pengobatan Ayurvedic delima dianggap "a pharmacy unto it self " d an digunakan sebagai agen antiparasit, tonik darah, dan untuk menyembuhkan aphth ae, diare, dan bisul. Delima juga berfungsi sebagai obat untuk diabetes dalam si stem pengobatan Unani yang digunakan di Timur Tengah dan India (Jurenka, 2008) Ekstrak dari semua bagian buah Punica granatum L memiliki sifat terapeutik, dan beberapa studi melaporkan bahwa kulit, akar, dan daun pohon dapat digunakan seba gai obat. Beberapa senyawa aktif yang terkandung dalam buah delima antara lain a dalah ellagi tannins, ellagic acid (termasuk punicalagins), asam punicic, flavon oid, anthocyanidins, anthocyanin, dan flavonol estrogenik dan flavon. Sedangkan kulit buah delima sendiri memiliki kandungan senyawa kimia senyawa fenolik punic alagins; asam galat, asam lemak, asam lemak, EGCG; quercetin, rutin, flavonol la innya, flavones, flavonones, antosianidin (Jurenka, 2008). Ekstrak air dari kuli t buah delima ditemukan beberapa senyawa hasil metabolit sekunder yaitu terpenoi d, flavonoid, saponin, senyawa fenolik, tanin, lignin, lemak dan minyak, protein dan karbohidrat. Sedangkan pada ektrak alkohol metabolit sekunder yang dapat te rdeteksi adalah alkaloid, flavonoid, senyawa fenolik, tanin, ligin, lemak dan mi nyak, inulin, glikosida jantung, protein dan karbohidrat (Rajan, Mahalakshmi, De epa, Sathya, & Thilunalasundari, 2011) Aktivitas antioksidan yang tinggi pada kulit buah delima karena adanya beberapa senyawa fenolik yang meliputi tanin dan flavonoid menjadikan bagian dari buah in i sebagai objek penelitian untuk mengetahui bioaktivitasnya. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan terhadap bioaktivitas kulit buah delima antara lain adala h antimikroba (Duman, Ozgen, Dayisoylu, Erbil, & Durgac, 2009), Anti bakteri dan antifungi (Dahham, Mir Naiman Ali, Hajera Tabassum and Mazharuddin Khan, Al i, Tabassum, & Khan, 2010), Angiogenesis (Toi, Bando, & Ramachandran, 20 03), Kolesterol dan Hiperlipidemia (Esmaillzadeh, Tahbaz, & Gaieni, 2006), H ipertensi (Aviram & Dornfeld, 2001), Antifertilitas (Turk, Sonmez, & Ayd in, 2008), dan Antikanker(Juene, Kumi, & Bown, 2005). Selama ini kulit buah delima (Punica granati Pericarpium)telah banyak digunakan dalam bentuk tingtur dan dimasukkan dalam salah satu komponen resep masakan. Dal am praktikum ini kami membuat sediaan dekok dari kulit buah delima Sediaan dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi sediaan herbal dengan air pada suhu 90 derajat C selama 30 menit Alasan pemilhan dekok sebagai bentuk sedi aan yang kami pilih pada praktikum ini adalah agar sediaan aman dikonsumsi masy arakat arena air merupakan pelarut polar yang man. Selain itu tannian dan senyaw a pulifenol yang ada pada kulit buah delima adalah karena senyawa tanin dan poli fenol yang ada pada kulit buah delima yang memiliki aktivitas antioksidan yang t inggi lebih mudah terekstraksi pada pelarut air. Pada penelitian yang dilakukan Rajan et. al., 2011 Ekstrak air mengandung tanin 114,2312,16 mg/g dan fenol 176, 0055,29 mg/g dan ekstrak etanol mengandung tanin 81,663,51 mg/gdan fenol 122,336,42 mg/g.

1.2

Tujuan

Mahasiswa dapat membuat sediaan dekok terstandar

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Dekok

Dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi sediaan herbal dengan air pada suhu 90 oC selama 30 menit. Berikut cara pembutan dekok secara umum, y aitu campur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air s ecukupnya, panaskan diatas tangas air selama 30 menit terhitung mulai suhu 90 oC sambil sekali-sekali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume dekok yang dikehenda ki, kecuali dekok dari simplisia Condurango Cortex yang harus diserkai setelah d idinginkan terlebih dahulu. Jika tidak ditentukan perbandingan yang lain dan tid ak mengandung bahan berkhasiat keras, maka untuk 100 bagian dekok harus dipergun akan 10 bagian dari bahan dasar atau simplisia sehingga diperoleh kadar 10% (Dit jen POM, 2000).

2.2.

Deskripsi Tanaman Buah Delima (Punica granatum L.)

Delima berasal dari Timur Tengah, tersebar di daerah subtropik sampai tropik, da ri dataran rendah sampai di bawah 1000 mdpl. Tumbuhan ini menyukai tanah gembur yang tidak terendam air, dengan air tanah yang tidak dalam. Delima sering ditan am dikebun-kebun sebagai tanaman hias, tanaman obat, atau karena buahnya yang da pat dimakan (Ganes P, 2010). Berupa perdu atau pohon kecil dengan tinggi 2-5 m. Batang berkayu, ranting bers egi, percabangan banyak, lemah, berduri pada ketiak daunnya, batangnya berwarna cokelat ketika masih muda, dan hijau kotor setelah tua. Daun tunggal, bertangk

ai pendek, letaknya berkelompok. Helaian daun bentuknya lonjong sampai lanset, p angkal lancip, ujung tumpul, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan mengilap , panjang 1-9 cm, lebar 0,5-2,5 cm, warnanya hijau. Bunga tunggal bertangkai pen dek, keluar dari ujung ranting atau ketiak daun yang paling atas. Buahnya buah b uni bentuknya bulat dengan diameter 5-12 cm, warna kulitnya beragam eperti hijau keunguan, putih, cokelat kemerahan atau ungu kehitaman. Kadang, terdapat bercak -bercak yang agak menonjol berwarna lebih tua. Bijinya banyak, kecil-kecil, bent uknya bulat panjang yang bersegi-segi agak pipih, keras, tersusun tidak beratura n, warnanya merah, merah jambu atau putih (Ganes P, 2010).

Tanaman delima (Punica granatum) banyak tumbuh di daerah yang panas kering dan cukup sinar matahari, sehingga tidak mengherankan bila tanaman delima gampang ditemukan di Indonesia, selain di Indonesia tanaman delima banyak ditemukan di d aratan Mediterania, Persia, dan beberapa negara di Asia. Hampir setiap bagian da ri tanaman delima dapat juga dimanfaatkan untuk obat baik kulit kayu, bunga, aka r tanaman maupun kulit buahnya (Santosaningsih et al. n.d.).

2.3 Divisi Subdivisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

Taksonomi Tanaman Buah Delima (Punica granatum L.) : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Myrtales : Punicaceae

: Punica : Punica granatum L.

2.4

Kandungan Nutrisi dan Kimia Kulit Buah Delima

Kulit buah delima (Punica granatum) dipercaya memiliki bahan-bahan aktif yang me mpunyai efek antimikroba terhadap S.aureus penyebab infeksi kulit dan jaringan l unak. Salah satunya adalah tannin dan flavonoid dalam kulit buah delima (Punica granatum) yang telah diketahui sebagai senyawa antimikroba yang efektif (Santosa ningsih et al. n.d.). Delima telah lama dimanfaatkan buahnya untuk dikonsumsi dan beberapa bagian dari tanaman delima dimanfaatkan sebagai obat berbagai penyakit. Semua bagian tanama n bersifat antivirus dan antibakteri. Sebagai antibakteri, beberapa senyawa fito kimia dilaporkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Salah satunya adalah kandungan ellagitannin dari tanaman delima (Punica granatum), ya ng terutama terdapat pada bagian kulit buahnya. Selain ellagitannin, kulit buah delima juga mengandung flavonoid, triterpenes, dan phenol yang terbukti memiliki efek antibakteri terhadap Escherichia coli (Prihantoro et al., 2013). Punica granatum mengandung tanin terhidrolisa sebagai konstituen kimia aktif uta ma dan fitokonstituen, yaitu corilagin, asam ellagic, kaempferol, luteolin, myri cetin, quercetin, quercimetrine, dan quercetin- 3-o-rutinoside yang sebelumnya t erisolasi dari buah Punica granatum. Berbagai bagian tanaman dilaporkan memiliki

berbagai aktivitas farmakologi seperti antioksidan, antidiare, antiinflamasi, a ntimalaria, antimutagenik, imunomodulator, pelindung hepar, antiulcer, ateroskle rosis dan tiroid disfungsi, meningkatkan memori, penyembuhan luka, dan antikanke r. Selain itu, isolasi dari kulit buah Punica granatum memiliki aktivitas antidi abetes dalam penelitian secara in vitro dan in vivo (Jain et al., 2012). Menurut Ganes P (2010), kulit buah delima merah telah dilaporkan memiliki kadar polifenol yang tinggi. Bahan aktif dalam ekstrak kulit buah delima merah antara lain ellagic acid dan tannin. Ellagic acid dan tanin memiliki potensi sebagai a nti inflamasi dan antioksidan sehingga mampu mengurangi kerusakan sel tubuh akib at stres oksidatif. Selain senyawa tannin, kulit buah delima merah juga mengandung senyawa alkaloid palletierene, granatin, betulic acid, ursolic acid, isoquercitin, resin, triterp enoid, kalsium oksalat, dan pati, beta sitosterol, casuariin, casuarinin, casuar inin, D-mannitol, isopelletierine, friedelin, methyl isopelletierine, methyl pel letierine, pseudopalletierine, punicacorteins dan punigluconin (Ganes P, 2010). Menurut Duke (2010), kandungan kulit buah delima merah yang mempunyai efek farma kologis dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 Kandungan Kimia dan Efek Farmakologis Kulit Buah Delima Merah Kandungan Kimia Efek Farmakologis (Duke, 2010) Kandungan Kimia Efek Farmakologis Pelletierene Antihelmintes Granatin Antihepatotoksik dan antioksidan Betulic acid Anthelmintes, antibakterial, antikanker, antiinflamasi, antimalaria, dan antivir al Ursolic acid Analgesik, antiarthritis, antibakterial, antikanker, antihelmintes, antimalaria, antiinflamasi, dan antioksidan

Elligatanin Antialergik, antioksidan

Beta-sitosterol Antibakterial, antikanker, antiinflamasi antigonadotropik, dan antioksidan

Casuarin Antioksidan Ellagic acid Antikanker, antianafilaksis, antikatarak, antiinflamasi, antiseptik, antiviral, dan antioksidan Friedelin Antiinflamasi dan diuretik

Isopelletierine Midriasis dan laksatif Punicalagin Antioksidan

2.5

Metode Analisis Ekstrak dengan KLT-Densitometri

Berikut beberapa metode analisis ekstrak buah Punica granatum dengan metode Krom atografi Lapis Tipis (KLT) dari beberapa sumber, diantaranya: Lempeng KLT dikembangkan dengan eluen (fase gerak) air : asam asetat (3:2) dan d iscanning pada panjang gelombang 254 dan 366 nm. Untuk mengetahui adanya noda, l empeng KLT yang sudah dieluasi, disemprot dengan reagen FeCl3 5% (Jain et al., 2 012). Analisis dengan menggunakan KLT preparative, lempeng yang digunakan adalah lempe ng selulosa dengan fase gerak asam asetat 7% dan visualisasi noda dengan menggun akan radiasi UV (254 nm) atau dengan disemprot larutan FeCl3 (Tadataka, 1993). Analisis TLC menggunakan lempeng selulosa dengan fase gerak air : asam asetat (4 :1). Visualisasi noda menggunakan reagen NaNO2 sehingga menghasilkan warna ungu dan senyawa marker yang digunkan adalah ellagitanin (Machado et al., 2002). Teknik kromatografi lapis tipis (KLT) dua arah biasa digunakan untuk deteksi pen dahuluan ellagitanin, jika hanya menggunakan KLT satu arah, hasil pemisahan kura ng maksimal akibat adanya bercak-bercak yang masih menyatu. Lempeng yang digunak an dalam KLT adalah selulosa, misalnya MN300, dengan pengembang I dari asam aset at 2% v/v dan pengembang II dari campuran butanol : asam asetat: air (12:3:5). P enyemprot yang digunakan untuk ellagitanin adalah reagen vanillin/HCL dan reagen NaNO2 (Hernawan & Setyawan, 2003). Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan lempeng silika gel 60 F254 d engan fase gerak BAW (n-butanol : asam asetat : air = 04 : 01 : 0,5). Uap yodium digunakan untuk memvisualisasikan noda pada lempeng (Mohan et al., 2010).

BAB III METODE

3.1

Metode Ekstraksi (Pembuatan Dekok)

Dekok Kulit buah Delima dengan kadar 10% Kulit buah delima diserbuk halus Ditimbang 10 g, dimasukkan kedalam panci infus Air diukur 100 ml, dimasukkan kedalam panci infus yang berisi serbuk Panaskan panci infus diatas water bath hingga suhu cairan mencapai 900 Panaskan selama 30 menit Angkat panci infus Serkai dekok dalam botol yang telah dikalibrasi dengan bantuan kain flanel dan c orong gelas Tambahkan air panas kedalam serkaian hingga volume dekok 100 ml Kulit buah delima diserbuk halus Ditimbang 10 g, dimasukkan kedalam panci infus Air diukur 100 ml, dimasukkan kedalam panci infus yang berisi serbuk Panaskan panci infus diatas water bath hingga suhu cairan mencapai 900 Panaskan selama 30 menit Angkat panci infus Serkai dekok dalam botol yang telah dikalibrasi dengan bantuan kain flanel dan c orong gelas Tambahkan air panas kedalam serkaian hingga volume dekok 100 ml

3.2 Metode Analisis Senyawa Marker Dekok Kulit buah Delima secara KL T- Densitometri Penotolan Pembanding tanol Fase gerak Fase diam : Kloroform : Metanol : Air ( 61: 32: 7) : silika gel 60 F254 : Totolkan 10 l dekok : asam galat 0,1 % dalam air atau kuersetin 0,1% dalam e

Deteksi : feriklorida 1 % Warna Noda : ungu tua/ hitam. Rf asam galat 0,70.

Prosedur Pengembangan KLT ( Febriyanti, 2012): Larutan uji ( 10l: 5 x totolan) ditotolkan 2 cm dari bawah dan minimum 2 cm dari sisi pelat ( fase diam : silika gel 60 F254) sedemikian rupa hingga terj adi noda teratur yang maksimum berdiameter 6 mm Jika larutan uji yang digunakan lebih dari satu kromatogram, maka noda paling se dikit harus terpisah 1,5 cm dengan totolan lainnya dan terletak paralel dibawah pelat Setelah penguapan larutan uji, pelat diletakkan vertikal dalam bejana kromatogra fi dan titik awal harus berada disebelah atas permukaan fase gerak ( fase gerak dibuat dengan campuran Kloroform : Metanol : Air ( 61: 32: 7)) Bejana ditutup dan disimpan pada suhu 200 hingga 250C Jika fase gerak sudah melewati batas yang sudah ditentukan, maka pelat dikeluark an dari bejana dan dikerigkan Plat disemprotkandengan pelarut yang sesuai (feriklorida 1 %) Hitung nilai Rf . Rf = jarak perpindahan subtansi/ jarak perpindahan pelarut Lanjutkan dengan analisis KLT Densitometri

Larutan uji ( 10l: 5 x totolan) ditotolkan 2 cm dari bawah dan minimum 2 cm dari sisi pelat ( fase diam : silika gel 60 F254) sedemikian rupa hingga terj adi noda teratur yang maksimum berdiameter 6 mm Jika larutan uji yang digunakan lebih dari satu kromatogram, maka noda paling se dikit harus terpisah 1,5 cm dengan totolan lainnya dan terletak paralel dibawah pelat Setelah penguapan larutan uji, pelat diletakkan vertikal dalam bejana kromatogra fi dan titik awal harus berada disebelah atas permukaan fase gerak ( fase gerak dibuat dengan campuran Kloroform : Metanol : Air ( 61: 32: 7)) Bejana ditutup dan disimpan pada suhu 200 hingga 250C Jika fase gerak sudah melewati batas yang sudah ditentukan, maka pelat dikeluark an dari bejana dan dikerigkan Plat disemprotkandengan pelarut yang sesuai (feriklorida 1 %) Hitung nilai Rf . Rf = jarak perpindahan subtansi/ jarak perpindahan pelarut Lanjutkan dengan analisis KLT Densitometri

DAFTAR PUSTAKA

Aviram, M., & Dornfeld, L. 2001. Pomegranate juice consumption inhibits seru m angiotensin converting enzyme activity and reduces systolic blood pressure. At herosclerosis. Dahham, Mir Naiman Ali, Hajera Tabassum and Mazharuddin Khan, S. S., Ali, M. N., Tabassum, H., & Khan, M. 2010. Studies on Antibacterial and Antifungal Acti vity of Pomegranate (Punica granatum L.). American-Eurasian J. Agric. & Envi ron. Sci, 9. Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umun Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departe men Kesehatan RI. Hal. 82-84. Duke, J.A., 2010. Handbook of medicinal herbs, CRC press. Available at: http://b ooks.google.com/books?hl=en&lr=&id=8AJkBmPDRUUC&oi=fnd&pg=PA1&am p;dq=DUKE+2010&ots=MLL5uf0pAE&sig=aChq6ZxYLnQPfocjXd_DP_MKO8Y [Accessed March 8, 2014]. Duman, A. D., Ozgen, M., Dayisoylu, K. S., Erbil, N., & Durgac, C. 2009. Ant imicrobial Activity of Six Pomegranate (Punica granatum L.) Varieties and Their Relation to Some of Their Pomological and Phytonutrient Characteristics. Molec ules, 18081817. Esmaillzadeh, A., Tahbaz, F., & Gaieni, I. 2006. Cholesterol-lowering effect of concentrated pomegranate juice consumption in type II diabetic patients with hyperlipidemia. Int J Vitam Nutr Res. Ganes P, D., 2010. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Buah Delima Merah (Punica Gr anatum L.) Terhadap Jumlah Sel Spermatid dan Diameter Tubulus Seminiferus Tikus Putih (Rattus Norvegicus) yang dipapar Gelombang Elektromagnetik Ponsel. Univers itas Sebelas Maret Fakultas Kedokteran. Available at: http://eprints.uns.ac.id/8 558/ [Accessed March 8, 2014]. Jain, V. et al., 2012. Isolation of Antidiabetic Principle from Fruit Rinds of P unica granatum. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2012. Ava ilable at: http://www.hindawi.com/journals/ecam/aip/147202/ [Accessed March 8, 2 014].

Juene, M. A., Kumi, D. J., & Bown, J. 2005. Anticancer activities of pomegra nate extracts and genistein in human breast cancer cells. J Meed Food. Jurenka, J. 2008. Therapeutic Applications of Pomegranate (Punica granatum L.): A Review. Alternative Medicine Review, 13. Machado, T. de B. et al., 2002. Antimicrobial Ellagitannin of Punica granatum Fr uits. Journal of the Brazilian Chemical Society, 13(5), pp.606610. Mohan, M. et al., 2010. Cardioprotective Potential of Punica granatum Extract in Isoproterenol-Induced Myocardial Infarction in Wistar Rats. Journal of pharmaco logy & pharmacotherapeutics, 1(1), p.32. Prihantoro, T., Indra, R. & Sumarno, S., 2013. Efek Antibakteri Ekstrak Kuli t Buah Delima (Punica Granatum) terhadap Shigella Dysentriae secara In Vitro. Ju rnal Kedokteran Brawijaya, 22(3), p.pp101.

Rajan, S., MAHALAKSHMI, S., DEEPA, V., Sathya, K., & Thilunalasundari, T. in press. ANTIOXIDANTPOTENTIALSOFPUNICAGRANATUMFRUITRINDEXTRACTS. International Journal f Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 3(3): 2011. Santosaningsih, D., Winarsih, S. & Diah, N., Uji Efektivitas Ekstrak Kulit B uah Delima (Punica Granatum) sebagai Antimikroba Staphylococcus Aureus Penyebab Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak di Rumah Sakit dan Komunitas secara In Vitro. A vailable at: http://old.fk.ub.ac.id/artikel/id/filedownload/kedokteran/natasha%2 0diah%20pitaloka%20(0710713024).pdf [Accessed March 8, 2014]. Tadataka, N.O.R., 1993. Carbonic Anhydrase Inhibitors from the Pericarps of Puni ca granatum L. Biol. Pharm. Bull, 16(8), pp.787790.

Turk, G., Sonmez, M., & Aydin, M. 2008. pomegranate juice consumption on spe rm quality, spermatogenic cell density, antioxidant activity, and testosterone l evel in male rats. Clin Nutr.