Anda di halaman 1dari 7

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas terikat kepada suatu padatan atau cairan (adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film adsorbat pada permukaannya. Proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorpsi tergantung pada beberapa faktor, seperti jenis adsorben, jenis adsorbat, luas permukaan adsorben, konsentrasi zat terlarut dan temperatur. Bagi suatu sistem adsorpsi tertentu, hubungan antara banyaknya zat yang teradsorpsi persatuan waktu atau persatuan berat adsorben dengan konsentrasi yang teradsorpsi pada suatu waktu tertentu disebut kinetika adsorpsi. Arang adalah padatan berpori hasil pembakaran bahan yang mengandung karbon. Arang tersusun dari atom atom karbon yang berkaitan secara kovalen membentuk struktur heksagonal datar dengan sebuah atom c pada setiap sudutnya. Susunan kisi kisi heksagonal datar ini tampak seolah olah seperti pelat pelat datar yang saling bertumpuk dengan sela sela diantaranya. Karbon aktif adalah bentuk umum dari berbagai macam produk yang mengandung karbon yang telah diaktifkan untuk meningkatkan luas permukaannya. Karbon aktif berbentuk kristal mikro karbon grafit yang pori prinya telah mengalami pengembangan kemampuan untuk mengadsorpsi gas dan uap dari campuran gas dan zat zat yang tidak larut atau yang terdispersi dalam cairan. Kinetika adsorpsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh adsorben dalam fungsi waktu. Adsorben dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika (disebabkan oelh gas van der waals penyebab terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan yang ada ada permukaan adsorben) dan adsorpsi kimia (terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan adsorben banyaknya zat yang teroksidai tergantung pada khas zat padatnya yang merupakan fungsi tekanan dan suhu).

Oleh karena itu, penting percobaan kinetika adsorpsi ini dilakukan untuk dapat memahami proses adsorpsi suatu zat yaitu norit dengan larutan asam asetat dengan berbagai variasi waktu serta untuk dapat menentukan nilai k (konstanta kecepatan adsorpsi) pada orde 1, orde2, dan orde 3 sehingga mengetahui perbedaan kecepatannya. 1.2 Tujuan Mengetahui konsentrasi CH3COOH setelah teradsorpsi pada masing masing variasi waktu. Mengetahui k pada orde 1, orde 2, dan orde 3 pada masing masing variasi waktu. Mengetahui volume NaOH yang digunakan dalam proses titrasi CH3COOH pada masing masing variasi waktu. 1.3 Prinsip Percobaan Prinsip percobaan itu adalah menentukan konsentrasi suatu larutan yang telah mengadsorpsi suatu zat yaitu CH3COOH yang mengadsorpso norit dengan menggunakan shaker agar terjadi energi kinetik pada adsorpsi sehingga penyerapannya merata dan untuk menghitung konsentrasi CH3COOH yang telah mengadsorpsi dengan cara dititrasi dengan NaOH dan ditambah indikator pp dan TAT ditunjukkan dengan perubahan warna merah lembayung.

4.5 Pembahasan Pada percobaan kinetika adsorbsi, yaitu suatu proses penyerapan suatu zat oleh suatu adsorben berdasarkan pada waktu tertentu, dimana proses ini terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat, molekul molekul pada permukaan zat padat atau zat cair mempunyai gaya tarik ke arah dalam karena tidak adanya gaya gaya lain yang mengimbanginya sehingga zat padat atau zat cair memiliki gaya adsorbsi terhadap zat lainnya. Mula mula disiapkan 4 beaker galss, lalu dimasukan norit 2 buah kedalam masing masing beaker glass yang berfungsi sebagao adsorben atau zat penyerap yang akan menyerap kandungan asam asetat CH3COOH . kemudian

ditambahkan 50 mL asam asetat CH3COOH yang memiliki konsentrasi awal sebelum diadsorbsi adalah 0,5 m. Campuran norit dengan asam asetat lalu di kocok atau di shaker dengan tujuan untuk menstabilkan proses terjadinya adsorbsi, yaitu proses penggumpalan dan penyerapan dari suatu adsorbat ke dalam adsorben. Adsorbsi dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu adsorbsi fisika yang disebabkan oleh adanya gaya Van der waals (penyebab terjadinya kondensai gas untuk membentuk suatu cairan yang ada pada permukaan adsorben) dan adsorbsi kimia yang terjadi adanya reaksi antara zat yang diserap atau adsorbat dengan zat yang menyerap atau adsorben. Proses pengocokan atau shaking dilakukan denga variasi waktu 10; 20; 30; 40 menit. Hal ini dilakukan untuk melihat perbandingan pengaruh perbedaan waktu terhadap proses adsorbsi. Setelah itu, diambil larutan selama 10 menit dan disaring dengan kertas saring yang bertujuan untuk memisahkan antara residu pada norit dan filtrat asam asetat yang telah mengalami proses adsorbsi dengan norit arang aktif. Adapun fungsi asam asetat CH3COOH sendiri adalah sebagai pelarut norit dengan konsentrasi tertentu yang akan diserap oleh norit atau adsorben dan ingin diketahui konsentrasinya setelah mengalami proses adsorbsi dengan norit pada variasi waktu sehingga dinamakan sebagai adsorbat. Kemudian filtrat disaring lagi dengan kertas saring whatman melalui pompa vakum, yang berfungsi untuk menarik filtrat denngan memberikan tekanan di dalamnya dan corong buchner, yang berfungsi sebagai wadah untuk menyaring filtrat agar filtrat lebih bersih dari residu norit dari proses filtrasi sebelumnya. Setelah itu filtrat hasil proses penyaringan atau filtrasi kedua yang diharapkan telah bersih dari segala macam residu norit, dimasukan kedalam gelas ukur untuk mengukur volum CH3COOH setelah diadsorbsi pada variasi yaitu 10 menit menghasilkan filtrat 41 mL, pada waktu 20 menit menghasilkan filtrat 46 mL, pada waktu 30 menit menghasilkan filtrat 43 mL dan pada waktu 40 menit menghasilkan filtrat 40 mL. Berdasarkan penjelasan sebelumnya diketahui bahwa semakin lama waktu proses adsorbsi maka semakin banyak adsorbat yaitu CH3COOH yang diserap oleh adsorben, yaitu notrit. Hal ini menunjukan bahwa pada percobaan terjadi beberapa faktor kesalahan yaitu kurangnya kecermatan dalam proses filtrasi sehingga kemungkinan banyak filtrat yang dibuang saat

filtrasi pertama. Kemudian filtrat tadi di ambil 10 mL dan dimasukan ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan 3 5 tetes indikator pp yang berfungsi sebagai indikator TAT saat titrasi dengan NaOH yang akan berubah menjadi merah lembayung. Akan tetapi, saat ditambahkan dengan asam asetat CH3COOH, indikator pp tidak bereaksi menjadi merah lembayung dikarenakan indikator pp merupakan suatu indikator yang digunakan sebagai indilkator larutan basa karena memiliki rentang pH basa. Setelah itu, larutan dititrasi dengan NaOH yang memiliki konsentrasi 0,5 M dan berfungsi sebagai titran dalam menentukan konsentrasi CH3COOH asam asetat yang telah mengalami proses adsorbsi hingga mengalami perubahan warna menjadi warna merah lembayung. Pada percobaan diketahui volum titran NaOH yang digunakan untuk variasi waktu adsorbsi 10 menit adalah 8,5 mL, pada waktu 20 menit adalah 8,6 mL, pada waktu 30 menit adalah 8,2 mL dan pada waktu 40 menit adalah 9,6 mL. Sehingga diketahui konsentrasi CH3COOH masing masing adalah Tiap tiap partikel adsorben dikelilingi oleh molekul molekul yang diserap, karena terjadinya interaksi antara zat yang menyerap atau adsorben dan zat yang diserap adsorbat. Adapun faktor faktor yang mempengaruhi proses adsorbsi, antara lain 1. Luas permukaan adsorben Semakin luas permukaan adsorben mata semakin banyak pula adsorbat yang diserap sehingga proses adsorbsi semakin efektif 2. Ukuran partikel Semakin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar pula kecepatan proses adsorbsinya 3. Waktu kontak Semakin lama waktu kontak dapat menyebabkan proses difusi dan penempelan atau penyerapan molekul adsorbat berlangsung dengan baik 4. Distrubusi ukuran pori 5. Macam macam adsorben 6. Macam macam adsorbat atau zat yang diserap 7. Temperatur atau suhu

8. Konsentrasi 9. Tekanan Fungsi bahan pada percobaan, adalah Larutan NaOH, sebagai larutan standar yang berperan sebagai larutan titran Larutan CH3COOH, sebagai analit dan sebagai larutan yang akan di distrubusi solute dengan pelarut n-heksan Larutan n-heksan, sebagai pelarut organik yang akan mendistribusikan larutan CH3COOH Indikator pp, sebagai larutan indikator dalam titrasi asam basa Norit, sebagai adsorben yang akan menyerap larutan CH3COOH Fungsi perlakuan pada percobaan adalah Penyaringan, untuk memisahkan filtrat dan residu Titrasi, untuk menentukan konsentrasi larutan CH3COOH yang digunakan setelah diadsorbsi Pengocokan, untuk menghomogenkan adsorben norit dengan larutan CH3COOH

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Waktu (menit) 10 20 30 40 CH3COOH (C0) 0,5 0,5 0,5 0,5 Volume CH3COOH 41 46 43 40 CH3COOH (Ct) 0,423 0,43 0,41 0,48 Volume NaOH 8,5 8,6 8,2 9,6 (M) NaOH 0,5 0,5 0,5 0,5

Waktu (menit) 10 20 30 40

Ln C -0,8577 -0,8440 -0,8916 -0,7340

2,3529 2,3256 2,439 2,0833

5,5363 5,4083 5,9488 4,3403

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan - Konsentrasi CH3COOH setelah teradsorpsi pada saat 10 menit yaitu 0,425 M, pada saat 20 menit yaitu 0,43 M, pada saat 30 menit yaitu 0,41 M, dan pada saat 40 menit yaitu 0,48M Nilai k pada saat 10 menit yaitu orde 1 sebesar 0,0162, orde 2 sebesar 0,03529 dan orde 3 sebesar 0,0768. Pada saat 20 menit yaitu orde 1 sebesar 0,007545, orde 2 sebesar 0,01628 dan orde 3 sebesar 0,0352. Pada saat 30 menit yatu orde 1 sebesar 0,0066167, orde 2 sebesar 0,01463, dan orde 3 sebesar 0,03248. Terakhir pada saat 40 menit yaitu orde 1 sebesar 0,0010225, orde 2 sebesar 0,002083 dan orde 3 sebesar 0,004254 Volume NaOH yang digunakan dalam proses titrasi pada saat 10 menit yaitu 8,5 mL, pada saat 20 menit yaitu 8,6 mL, pada saat 30 menit yaitu 8,2 mL dan pada saat 40 menit yaitu 9,6 mL.

5.2 Saran Pada praktikum selanjutnya dapat dicoba dengan menggunakan dua konsentrasi CH3COOH yang berbeda, namun variasi waktunya sama sehingga dapat diketahui perbedaannya.