Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap individu memiliki kemampuan menjalin hubungan sosial, mulai dari hubungan intim biasa sampai hubungan saling ketergantungan . Hubungan sosial tersebut diperlukan individu dalam rangka menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan hidup.Maka dari itu seorang manusia perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan. Kepuasan hubungan akan tercapai bila individu terlibat aktif dalam melakukan interaksi peran serta yang tinggi , disertai respon lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerja sama , hubungan timbal balik yang harmonis (Stuart and Sundeen ,1995) Pemutusan hubungan akan terjadi apabila terdapat ketidakpuasan individu dalam menjalin interaksi,juga adanya respon lingkungannya yang negatip.Kondisi ini akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak percaya dengan orang lain dan keinginan untuk menghindar dari orang lain .

B. Tujuan 1. Tujuan Umum : Mahasiswa dapat melakukan Asuhan Keperawatan pada klien dengan masalah gangguan isolasi sosial: menarik diri.

2. Tujuan Khusus : a. Mengetahui pengertian perilaku menarik diri b. Mengidentifikasi factor-faktor penyebab perilaku menarik diri c. Mengidentifikasi tanda-tanda penyebab perilaku menarik diri d. Mengidentifikasi masalah keperawatan yang mungkin muncul e. Menetapkan diagnosa keperawatan f. Memberikan tindakan keperawatan sesuai rencana g. Melaksanakan evaluasi dan pencatatan

C. Batasan Masalah Perilaku menarik diri dapat menyertai pada kasus-kasus gangguan jiwa. Pada makalah ini pembahasan masalah menarik diri dibatasi pada seorang klien dengan Skizofrenia Simplek , yang dirawat diruang Jiwa C RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Pemberian Asuhan Keperawatan dilaksanakan tanggal 18 Februari sampai dengan 20 Februari 2002.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap negatif atau mengancam. (Ermawati Dalami, et. All, 2009, hal. 2). Isolasi sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial. (Depkes RI, 2000, hal. 114). Isolasi sosial adalah sulit untuk berhubungan dengan orang lain ketika konsep diri tidak jelas. (Sheila L. Videbeck, 2008, hal. 364).

B. Psikodinamika 1. Etiologi Klien dengan masalah isolasi sosial didapatkan etiologi antara lain karena mengalami masalah dalam hal kepercayaan dan keintiman dengan orang lain, harga diri yang rendah yang menyulitkan kemampuan klien untuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan, adanya rasa tidak percaya diri, merasa asing atau berbeda dari orang lain, tidak percaya bahwa mereka adalah individu yang berharga, kegagalan perkembangan, ragu, rasa takut salah, pesimis, dan rasa putus asa, terhadap hubungan dengan orang lain. (Sheila L. Videbeck, 2008, hal. 364)

2.

Proses perjalanan penyakit Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya perilaku menarik diri atau isolasi sosial yang disebabkan oleh perasaan tidak berharga, yang bisa dialami oleh klien dengan latar belakang yang penuh dengan permasalahan, ketegangan, kekecewaan dan kecemasan. Perasaan tidak berharga menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangkan hubungan

dengan orang lain. Klien semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku masa lalu serta tingkah laku primitif, antara lain pembicaraan yang autistik dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi. (Ermawati Dalami, et. All, 2009, hal. 10)

3.

Komplikasi. (Ermawati Dalami, et. All, 2009, hal. 10). Isolasi Sosial apabila tidak ditangani secara komprehensif melalui asuhan keperawatan dan terapi medik maka keadaan tersebut akan berlanjut menjadi Halusinasi, Defisit Perawatan Diri dan Curiga.

C. Rentang Respon Sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Manusia tidaka akan mampu memenuhi kebutuhan hidup tanpa adanya hubungan dengan orang lain dan lingkungan sosial yang berada dalam rentang respon adaptif hingga respon maladaptive. Rentang Respon Neurobiologis Respon Maladaptif - Pikiran kadang menyimpang - Kelainan Pikiran/Waham Persepsi akurat - Ilusi - Halusinasi Emosi konsisten - Emosi berlebih/berkurang - Tidak mampu mengatur emosi Perilaku Sosial - Perilaku yang tidak biasa - Perilaku tidak terorganisasi Hubungan Sosial - Menarik Diri - Isolasi Sosial (Stuart and Lararia, 2001: Hal.403) 1. Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma- norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut. Respon adaptif meliputi : a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan. Respon Adaptif Pikiran logis

b. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan. c. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli. d. Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran. e. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan. 2. Respon psikososial meliputi : a. Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan. b. Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indera. c. Emosi yang berlebihan atau berkurang. d. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran. e. Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindar interaksi dengan orang lain. 3. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon maladaptif meliputi : a. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial. b. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada. c. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati. d. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak teratur. e. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif mengancam. (Dalami, 2009 : hal.22).

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga dan masyarakat, untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal, proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi optimal. Kebutuhan dan masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan untuk dipenuhi, serta diselesaikan.(Budi Anna Keliat, 2006, Hal.1). A. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien, data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Dari pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan yang dimiliki. .(Budi Anna Keliat, 2006, Hal.3) 1. Faktor Predisposisi. a. Faktor Perkembangan Pada dasarnya kemampuan hubungan sosial berkembang menjadi atau sesuai dengan proses tumbuh kembang individu mulai dari bayi sampai dengan usia lanjut. Untuk mengembangkan hubungan sosial yang positif, setiap tugas perkembangan sepanjang umur kehidupan

diharapkan dilalui dengan sukses. Kemampuan berperan serta dalam proses hubungan diawali dengan kemampuan tergantung pada masa bayi dan berkembang pada masa dewasa dengan kemampuan saling (tergantung dan mandiri). 1) Masa Bayi Bayi sangat tergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan biologis dan psikologisnya. Bayi umumnya menggunakan

komunikasi

yang

sangat

sederhana

dalam

menyampaikan

kebutuhannya. Menangis untuk semua kebutuhan, respon lingkungan, (ibu atu pengasuh) terhadap kebutuhan bayi harus sesuai agar berkembang rasa percaya diri bayi akan respon atau perilakunya dan rasa percaya terhadap orang lain. Kegagalan pemenuhan kebutuhan bayi melalui ketergantungan pada orang lain akan mengakibatkan rasa tidak percaya pada diri sendiri dan orang lain serta menarik diri. 2) Masa Prasekolah Anak pra sekolah mulai memperluas hubungan sosialnya diluar lingkungan keluarga khususnya ibu atu pngasuh, anak menggunakan kemampuan berhubungan yang telah dimiliki untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga, dalam hal ini anak membutuhkan dukungan dan bantuan dari keluarga khususnya pemberian

pengakuan yang positif terhadap perilaku anak yang adaptif, hal ini merupakan dasar rasa otonomi yang berguna untuk mengembangkan kemampuan hubungan interdependen. Kegagalan anak dalam berhubungan dengan lingkungan disertai respon keluarga yang negatif akan mengakibatkan anak menjadi tidak mampu mengontrol diri, tidak mandiri (tergantung), ragu, menarik diri dari lingkungan, kurang percaya diri, pesimis takut perilakunya salah. 3) Masa Sekolah Anak mulai mengenal hubungan yang lebih luas khususnya lingkungan sekolah, pada usia ini anak mulai mengenal bekerja sama, kompetisi, kompromi, konflik sering terjadi dengan orang tua karena pembatasan dan dukungan yang tidak konsisten, teman dengan orang dewasa diluar keluarga (guru, orang tua, teman) merupakan sumber pendukung yang penting bagi anak. Kegagalan dalm membina hubungan dengan teman disekolah, kurangnya dukungan guru dan pembatasan serta dukungan yang tidak konsisten dari orang tua mengakibatkan anak frustasi terhadap kemampuannya, putus asa, merasa tidak mampu, menarik diri dari lingkungan.

4) Masa Remaja Pada usia ini anak mengembangkan hubungan intim dengan teman sebaya dan sejenis dan umumnya mempunyai sahabat karib, hubungan dengan teman sangat tergantung, sedangkan hubungan dengan orang tua mulai independent. Kegagalan membina hubungan dengan teman dan mengakibatka kurangnnya dukungan orang tua, akan akan identitas, ketidak mampuan

keraguan

mengidentifikasi karir dan rasa percaya diri kurang. 5) Masa Dewasa Muda Pada usia ini individu mempertahankan hubungan interdependent dengan orang tua dan teman sebaya, individu belajar mengambil keputusan dengan memperhatikan saran dan pendapat orang lain seperti memilih pekerjaan, perkawinan, akan mengakibatkan individu menghindari hubungan intim, menjauhi orang lain, putus asa akan karir. 6) Masa Dewasa Tengah Individu pada dewasa tengah umumnya telah pisah tempat tinggal dengan orang tua, khususnya individu yang telah menikah. Jika ia telah menikah maka peran menjadi orang tua dan mempunyai hubungan antar orang dewasa merupakan situasi tempat menguji kemampuan hubungan interdependent. Individu yang

perkembangannya baik akan dapat mengembangkan hubungan dan dukungan yang baru. Kegagalan pisah tempat dengan orang tua, membina hubungan yang baru, dan mendapatkan dukungan dari orang dewasa lain akan mengakibatkan perhatian hanya tertuju pada diri sendiri, produktifitas dan kreatifitas berkurang, perhatian pada orang lain berkurang. 7) Masa Dewasa Lanjut Pada masa ini individu akan mengalami kehilangan, baik itu kehilangan fungsi fisik, kegiatan, pekerjaan, teman hidup (teman sebaya dan pasangan), anggota keluarga (kematian orang tua).

Individu tetap memerlukan hubungan yang memuaskan dengan orang lain, individu yang mengalami perkembangan yang baik dapat menerima kehilangan yang terjadi dalam kehidupannya dan mengakui bawa dukungan orang lain dapat membantu dalam menghadapi kehilangannya. Kegagalan individu untuk menerima kehilangan yang terjadi pada kehidupan serta menolak bantuan yang disediakn untuk membantu akan mengakibatkan perilaku menarik diri. b. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga Gangguan komunikasi dalm keluarga merupakan faktor pendukung untuk terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas (double bind) yaitu suatu keadaan diman seoarng anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan, ekpresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat unutk berhubungan dengna lingkungan diluar keluarga. (Depkes RI, 2000, hal 117). c. Faktor Sosial Budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, dimana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, penyakit kronis, dan penyandung cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya. (Depkes RI, 2000, hal.117). d. Faktor Biologis Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang jelas dapat mempengaruhi terjadinya gengguan hubungan sosial adalah otak. Sebagai contoh pada klien skizoprenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial terdapat struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, perubahn ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbic dan kortikal. (Depkes RI, 2000, hal 117).

2.

Faktor presipitasi (Depkes RI, 2000, hal. 119). Faktor presipitasi terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat dikelompokan sebagai berikut : a. Faktor Eksternal Stressor sosial budaya, yaitu stress dapat ditimbukan oleh faktor sosial budaya yang antara lain adalah keluarga. b. Faktor Internal Stressor psikologik, yaitu akibat ansietas yang bekepanjangan dan terjadi bersmaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan ketergantungan individu.

3.

Manifestasi klinis (Ermawati Dalami, et. All, 2009, hal 10). a. b. Apatis, ekspresi wajah sedih, afek tumpul. Menghindar dari orang lain (menyendiri), klien memisahkan diri dari orang lain. c. Komunikasi kurang, klien tampak tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat. d. e. f. Tidak ada kontak mata atau kontak mata kurang. Klien lebih sering menunduk dan berdiam diri dikamar. Menoalak berhubungan dengan orang lain dan tidak melakukan kegiatan sehari-hari. g. h. Meniru posisi janin pada saat tidur. Menjawab dengan singkat dengan kata-kata ya,tidakdantidak tahu.

4.

Mekanisme Koping (Depkes RI, 2000, hal.119) Mekanisme koping adalah segala usaha yang diarahkan untuk menanggulangi stress. Usaha ini dapat berorientasi pada tugas dan meliputi usaha pemecahan masalah langsung : a. Regresi : Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang dini.

10

b.

Represi : pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang menyakitkan atu bertentangan, dari kesadaran seseorang merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.

c.

Isolasi : Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau berjangka panjang.

5.

Sumber Koping Sumber koping adalah suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Contoh sumber koping yang berhubungan dengan respon maladaptif termasuk : 1) Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman. 2) Hubungan dengan hewan peliharaan. 3) Gunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian, musik, tulisan, atau olahraga.

6.

Pohon Masalah

7.

Test diagnostik/penunjang a. Minuset Multhiphasic Personality Inventary (MMPI) Adalah suatu bentuk pengujian yang dilakukan oleh psikiater dan psikolog dalam menentukan kepribadian seseorang yang terdiri dari 566 pertanyaan benar atau salah.

11

b.

Neuropsikologik Adalah suatu pemeriksaan dalam psikiatri untuk membantu membedakan etiologi fungsional dan organic dalam kemajuan status mental.

c.

Elektro Ensefalo Grafi (EEG) Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya dugaan gangguan mental organic, dugaan koping dan karakteristik gangguan tidur. Pada abnormal mempunyai suatu keadaan organic, organitas, menyingkirkan epilepsi, lobus temporalis, neuroplasma.

B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan

keperawatan.(Nursalam, 2001, hal.35). Rumusan diagnosa keperawatan pada keperawatan jiwa adalah diagnosa tunggal. ( Budi Anna Keliat, 2006, hal.8) Adapun diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien dengan isolasi sosial adalah : 1. 2. 3. Isolasi Sosial. Harga Diri Rendah. Resiko Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi.

C. Perencanaan Keperawatan Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi. .(Nursalam, 2001, hal.51). Perencanaan keperawatan terdiri dari tiga aspek, yaitu tujuan umum, tujuan khusus, dan rencana tindakan keperawtan. Tujuan umum dan tujuan khusus berfokus pada penyelesaian masalah (P) dari diagnosis tertentu. Tujuan umum

12

dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai ( Budi Anna Keliat, 2006, hal.14).

Rencana Tindakan Keperawatan : 1. Diagnosa 1 : Isolasi Sosial Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain. Tujuan Khusus 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya. Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi selama 15 menit diharapkan klien menunjukkan tandatanda percaya kepada / terhadap perawat : wajah cerah, tersenyum, mau berkenalan, ada kontak mata, bersedia menceritakan perasaan, bersedia mengungkapkan masalahnya. Rencana Tindakan : Bina hubungan saling percaya dengan : 1) Beri salam setiap berinteraksi. 2) Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan. 3) Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien. 4) Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi. 5) Buat kontrak interaksi yang jelas. 6) Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien. Tujuan Khusus 2 : Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri. Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri dari diri sendiri orang lain dan lingkungan.

13

Rencana Tindakan : a. Tanyakan pada klien tentang : 1) Orang yang tinggal serumah atau teman sekamar klien. 2) Orang yang paling dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan. 3) Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut. 4) Orang yang tidak dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan. 5) Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut. 6) Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain. b. Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain. c. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya. Tujuan khusus 3 : Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri. Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan sosial, misalnya banyak teman, tidak kesepian, bisa diskusi, saling menolong. Rencana Tindakan : a. Tanyakan pada klien tentang : 1) Manfaat hubungan sosial. 2) Kerugian menarik diri. b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik diri. c. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya. Tujuan Khusus 4 : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan perawat, perawat lain, klien lain, kelompok.

14

Rencana Tindakan : a. Observasi perilaku klien saat berhubungan sosial. b. Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan atau berkomunikasi dengan: 1) Perawat lain. 2) Klien lain. 3) Kelompok. c. Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi. d. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi. e. Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. f. Beri pujian terhadap kamampuan klien memperluas pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan. Tujuan Khusus 5 : Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial. Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan klien dapat menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial dengan orang lain dan kelompok. Rencana Tindakan : a. Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah berhubungan sosial dengan : 1) Orang lain. 2) Kelompok. b. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya Tujuan Khusus 6 : Klien dapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial. Kriteria Evaluasi : Setelah ... x pertemuan diharapkan keluarga dapat menjelaskan tentang pengertian menarik diri, tanda dan gejala menarik diri, penyebab dan akibat menarik diri, cara merawat klien menarik diri.

15

Setelah ... x pertemuan keluarga dapat mempraktekkan cara merawat klien menarik diri. Rencana Tindakan : a. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku menarik diri. b. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatsi perilaku menarik diri. c. Jelaskan pada keluarga tentang : 1) Pengertian menarik diri. 2) Tanda dan gejala menarik diri. 3) Penyebab dan akibat menarik diri. 4) Cara merawat klien menarik diri. d. Latih keluarga cara merawat klien menarik diri. e. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan. f. Beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk bersosialisasi. g. Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien dirumah sakit.

Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan Medis (Dalami, et.all, 2009 : hal.120) Isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak

tergolongkan maka jenis penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah : a. Electro Convulsive Therapy (ECT) Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak. Indikasi :

16

a) Depresi mayor (1) Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak ada perhatian lagi terhadap dunia sekelilingnya, kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang menetap. (2) Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada ECT. (3) Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien tidak dapat menerima antidepresan. b) Maniak Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain berbahaya bagi klien. c) Skizofrenia Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapi bermanfaat pada skizofrenia yang sudah lama tidak kambuh. b. Psikoterapi Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur kepada klien. c. Terapi Okupasi Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang.

17

2.

Penatalaksanaan Keperawatan Terapi Modalitas Keperawatan yang dilakukan adalah: 1) Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) a) Pengertian TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. (Keliat, 2004 : hal.1). b) Tujuan Membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif. (Keliat, 2004 : hal.3). c) Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK Sosialisasi dimana klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa. (Keliat, 2004 : hal.14).

3.

Prinsip Perawatan Isolasi Sosial 1) Psikoterapeutik a) Bina hubungan saling percaya (1) Buat kontrak dengan pasien memperkenalkan nama perawat pada waktu interaksi dan tujuan. (2) Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukan penghargaan yang tulus. (3) Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan. b) Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka (1) Bicarakan dengan pasien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana. (2) Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraan dengan perawat. (3) Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.

18

(4) Tunjukan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya. c) Kenal dan dukung kelebihan klien Tunjukkan dan cari penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien, cara menceritakan perasaannya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya. (1) Bahas dengan klien tentang koping yang konstruktif. (2) Dukung koping klien yang konstruktif. (3) Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif. d) Bantu klien mengurangi ansietasnya ketika hubungan interpersonal (1) Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi. (2) Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin. (3) Temani klien beberapa saat dengan duduk di sampingnya. (4) Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. (5) Libatkan klien dalam aktifitas kelompok. 2) Pendidikan kesehatan a) Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan klien selain katakata seperti menulis, menangis, menggambar, berolahraga atau bermain musik. b) Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri. c) Jelaskan dan anjurkan pada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien. d) Anjurkan kepada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam kegiatan di masyarakat. 3) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL) a) Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakan secara mandiri. b) Bimbing klien berpakaian yang rapi.

19

c) Batasi kesempatan untuk tidur, sediakan sarana informasi dan hiburan seperti majalah, surat kabar, radio dan televisi. d) Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien. 4) Lingkungan terapeutik a) Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain di lingkungan. b) Cegah agar klien tidak berada di dalam ruang sendiri dalam jangka waktu yang lama. c) Beri rangsangan sensorik seperti suara musik, gambar hiasan di ruangan.

D. Pelaksanaan Keperawatan Pelaksanan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik, tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing oders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. .(Nursalam, 2001, hal.63). Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, dan teknikal yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan, perawat juga menilai kembali apakah tindakan aman bagi klien, setelah tidak ada hambatan tindakan boleh dilaksanakan, pada saat akan melaksanakan tindakan keperawatan perawat membuat kontrak dengan klien yang isinya menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta yang diharapkan dari klien. Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara professional sebagaimana pendapat dalam standar keperawatan, pendekatan tindakan keperawatan meliputi :

20

a. Independen Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara mandiri dengan keputusan sendiri. b. Dependen Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau intruksi dari perawat lain. c. Interdependen Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara satu dengan tim lainnya. Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan pada situasi nyata sering implementasi jauh berbeda dengan rencana. Hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan. Biasanya rencana tidak tertulis yaitu apa yang dipikirkan dan dirasakan itu yang dilaksanakan. Hal ini sangat membahayakan klien dan perawat jika berakibat fatal, dan juga tidak mempunyai aspek legal. Strategi implementasi tindakan keperawatan menggunakan strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP) yang berprinsip bahwa setiap kali berinteraksi dengan pasien output interaksi haruslah sampai kepada kemampuan koping pasien walaupun pertemuan tersebut merupakan pertemuan pertama. Oleh karenanya paket tindakan keperawatan tidaklah terpaku pada tujuan khusus. Pada satu kesempatan interaksi dapat mengimplementasikan beberapa tindakan keperawatan untuk mencapai beberapa tujuan khusus. (Pelatihan Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa, 2007). Adapun strategi pelaksanaan untuk isolasi sosial yaitu strategi pelaksanaan I diantaranya membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab isolasi sosial klien, berdiskusi dengan klien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. Strategi pelaksanaan II diantaranya yaitu mengevaluasi jadwal kegiatan klien, memberikan kesempatan kepada klien mempraktekkan cara berkenalan satu orang, dan membantu klien

21

memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. Dan strategi pelaksanaan III atau strategi pelaksanaan yang terakhir dari isolasi sosial yaitu mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien, memberikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau lebih dan menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon klien (Budi Anna Keliat, 2006, hal.17).

E. Evaluasi Keperawatan Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan. (Nursalam, 2001, hal.71). Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini biasa dilakukan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan. Pada tahap evaluasi ini terdiri dari dua komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu : a. Evaluasi proses (Formatif) Aktifitas dari proses keperawatan dari hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan. Evaluasi proses harus dilakukan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan. Evaluasi formatif terus menerus dilaksanakan sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai. b. Evaluasi Hasil (Sumatif) Faktor evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau ststus kesehatan klien pada akhir tindakan perawatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan secara paripurna. Adapun metode pelaksanaan evaluasi sumatif terdiri dari : interview akhir pelayanan, pertemuan akhir pelayanan, dan

22

pertanyaan kepada klien dan keluarga. Evaluasi sumatif bisa menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan efesiensi tindakan yang telah diberikan. Evaluasi juga dilakukan dengan berfokus pad perubahan perilaku klien setelah diberikan tindakan keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi karena merupakan sisitem pendukung yang terutama, bahkan dapat dikatakan keluarga merupakan indikator dari keberhasilan perawatan klien. Hasil akhir yang diharapkan dari tindakan keperawatan pada klien dengan isolasi sosial adalah sebagai berikut : Klien dapat : a. Menyebutkan penyebab menarik diri. b. Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain. c. Melakukan hubungan sosial secara bertahap : klien-perawat, klien-perawatklien/perawat, klien-kelompok, klien-keluarga. d. Mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain. e. Memberdayakan sistem pendukungya untuk memfasilitasi hubungan sosialnya. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola pikir. S O A : respon subyek klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan : respon obyek klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan : analisa terhadap data subyek dan obyek untuk menyimpulkan apakah masalah masih ada/telah teratasi atau muncul masalah baru P : perencanaan tindak lanjut berdasarkan analisa respon klien.

23

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Kepuasan hubungan akan tercapai bila individu terlibat aktif dalam melakukan interaksi peran serta yang tinggi , disertai respon lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerja sama , hubungan timbal balik yang harmonis (Stuart and Sundeen ,1995) Pemutusan hubungan akan terjadi apabila terdapat ketidakpuasan individu dalam menjalin interaksi,juga adanya respon lingkungannya yang negatip.Kondisi ini akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak percaya dengan orang lain dan keinginan untuk menghindar dari orang lain .

24

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita semua ke jalan kebenaran yang diridhoi Allah SWT. Maksud penulis membuat makalah ini adalah untuk dapat lebih memahami tentang Asuhan Keperawatan Pada Klien Isolasi Sosial yang akan sangat berguna terutama untuk mahasiswa. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangannya baik dalam cara penulisan maupun dalam isi. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis yang membuat dan umumnya bagi yang membaca makalah ini. Amin.

Sukabumi, Januari 2014

Penulis

25

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................i DAFTAR ISI .....................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .............................................................................................1 B. Tujuan Penulisan ..........................................................................................1 C. Batasan Masalah .........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian......................................................................................................3 B. Psikodinamika ...............................................................................................3 C. Rentang Respon ............................................................................................4

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ............................................................6

BAB III KESIMPULAN A. Kesimpulan .................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA

26