Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

MAKALAH

oleh: Kelompok 11 Siti Muawanah Ayesie Natasa Zulka Yuda Bintang S. Dewa Ayu Eka C. M. S NIM 112310101008 NIM 112310101032 NIM 112310101045 NIM 112310101047

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2014

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

MAKALAH disusungunamemenuhitugaspemicumatakuliahKeperawatanKlinik VIII (Jiwa) DosenPembimbing: Ns. ErtiIkhtiariniDewi, M.Kep, Sp.Kep.J

oleh: Kelompok 11 Siti Muawanah Ayesie Natasa Zulka Yuda Bintang S. Dewa Ayu Eka C. M. S NIM 112310101008 NIM 112310101032 NIM 112310101045 NIM 112310101047

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2014 ii

PRAKATA

PujisyukurkepadaTuhan

Yang

MahaEsaatasrahmatdankasih-Nya, yang Bunuh Diri yang

sehinggapenulisdapatmenyelesaikanmakalah berjudulAsuhanKeperawatanpadaKliendenganResiko

diajukansebagaitugaspemicumatakuliahKeperawatanKlinik VIII (Jiwa). Dalam proses pembuatanmakalahini, penulisdidukungolehberbagaipihaksehinggamakalahinidapatterselesaikandenganbaik. Padakesempatanini, penulismengucapkanterimakasihkepada: 1. Ns. ErtiIkhtiariniDewi, M.Kep, Sp.Kep.J, selakupenanggungjawabmatakuliah (PJMK) KeperawatanKlinik VIII (Jiwa); 2. orang tua yang senantiasamemberimotivasidandoa yang

tiadahentidantakpernahputus; 3. teman-temanangkatan 2011, yang

selalumemberikandorongansemangatdandukungan, sehinggamakalahinidapatselesaitepatwaktu. Penulismenyadaribahwamakalahinimasihjauhdarisempurna.Olehkarenaitu, penulissangatmengharapkankritikdan saran yang

dapatmembangundariparapembacauntukmenyempurnakanmakalahini.

Jember, Februari 2014

Penulis

iii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL ........................................................................................... HALAMAN JUDUL ............................................................................................... PRAKATA .............................................................................................................. DAFTAR ISI ........................................................................................................... BAB 1. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1.1 LatarBelakang ......................................................................................... 1.2 Tujuan ...................................................................................................... BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 2.1 Pengertian ................................................................................................ 2.2 Psikopatologi/Psikodinamika ................................................................. 2.2.1 2.2.2 2.2.3 Etiologi Resiko Bunuh Diri ........................................................... Proses Resiko Bunuh Diri ............................................................. Tanda Gejala Resiko Bunuh Diri .................................................. i ii iii iv 1 1 1 2 2 4 4 5 7 8 8 8 8 8 9

2.3 DiagnosaMedisdanDiagnosaKeperawatan ............................................ 2.3.1 2.3.2 Diagnosa Medis ............................................................................. DiagnosaKeperawatan ...................................................................

2.4 PenatalaksanaanMedisdanKeperawatan .............................................. 2.4.1 2.4.2 PenatalaksanaanMedis .................................................................. PenatalaksanaanKeperawatan .......................................................

2.5 Pencegahan ............................................................................................... 11 BAB III. PENUTUP ................................................................................................ 13 3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 13 3.2 Saran ......................................................................................................... 13 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 15

iv

BAB I. PENDAHULUAN

1.1

LatarBelakang 40 detik, bunuhdirijugasatudaritigapenyebabutamakematianpadausia yang yang karenajumlah dunialebihdari yang 1000 3000 25.000

Bunuhdiriadalahtindakanagresif merusakdirisendiridandapatmengakhirikehidupan.Istilah terakhirinimenjaditopikbesardalampsikatrikontemporer, terlibatdanriset yang merekabuat. di ,Di Di

tindakatbunuhdiriterjaditiaphari, kematianbunuhdiritiaptahun

Inggrisadalebihdari dilaporkan

AmerikaSerikat,

tindakanbunuhdirisetiaptahundanmerupakanpenyebabkematiankesebelas. Rasiokejadianbunuhdiriantarapriadanwanitaadalahtigaberbandingsatu.Padausiaremaja, bunuhdirimerupakanpenyebabkematiankedua. (Susanto, 2010) Tindakanbunuhdiri di Jakarta 2,3 per 100.000 penduduk. Data

dariBadanKesehatanDunia (WHO) padatahun 2003 mengungkapkanbahwa 1 juta orang bunuhdiridalamsetiaptahunnyaatausetiap 15-34 tahun, selainkarenafaktorkecelakaan. Padalaki-lakitiga kali lebihseringmelakukanbunuhdiridaripadawanita, karenalaki-

lakilebihseringmenggunakanalat yang lebihefektifuntukbunuhdiri, antara lain dengan pistol, menggantungdiri, ataulompatdarigedung yang tinggi,

sedangkanwanitalebihseringmenggunakanzatpsikoaktifoverdosisatauracun, namunsekarangmerekalebihseringmenggunakan pistol.

Selainituwanitalebihseringmemilihcaramenyelamatkandirinyasendiriataudiselamatkan orang lain.

1.2

Tujuan Berdasarkanlatarbelakangtersebut,

tujuanpenulisanmakalahiniadalahuntukmengetahuiasuhankeperawatan yang diberikanpadakliendenganresikobunuhdiri.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yangdapat

mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatrikarena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilakubunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangandimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yangdigunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa alasan individumengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi, sehinggatidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat terjadi karenakehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti, perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart,2006).

Sumber: googleimage.com

Pikiran bunuh diri biasanya muncul pada individu yang mengalami gangguan mood, terutama depresi. Bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk membunuh diri sendiri (Videbeck, 2008). Bunuh diri adalah segala perbuatan dengan tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dan yang dengan sengaja dilakukan oleh seseorang yang tahu akan akibatnya yang mungkin pada waktu yang singkat. Menciderai diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusanterakhir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2008). Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori yaitu (Stuart, 2006): 1) Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwaseseorang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orangyang ingin bunuh diri mungkin

mengungkapkan secara verbalbahwa ia tidak akan berada di sekitar kita lebih lama lagi ataumengomunikasikan secara non verbal. 2) Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yangdilakukan oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jikatidak dicegah. 3) Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatanterlewatkan atau diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri danyang tidak bunuh diri akan terjadi jika tidak ditemukan tepat padawaktunya. Sementara itu, Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuhdiri, meliputi: 1) Bunuh diri anomikadalah suatu perilaku bunuh diri yang didasarioleh faktor lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehinggamendorong seseorang untuk bunuh diri. 2) Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitandengan kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakantugasnya. 3) Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkanfaktor dalam diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan. Menurut Keliat (2009) Terdapat tiga macam perilaku bunuh diri yaitu: 1) Isyarat bunuh diri Ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri. Dalam kondisi ini klien mungkin sudah mempunyai ide untuk mekhairi hidupnya tetapi tidak disertai dengan ancaman bunuh diri. Klien umumnya mengungkapkan rasa bersalah, sedih, marah, putus asa, klien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang dirinya yang menggambarkan harga diri rendah 2) Ancaman Bunuh diri Klien secara aktif telah memikirkan rencana bunuh diri, tetapi tidak disertai dengan rencana bunuh diri. Klien memerlukan pengawasan yang ketat karena dapat setiap saat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melaksanakan rencana bunuh dirinya. 3) Percobaan bunuh diri Percobaan bunuh diri adalah tindakan klien mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, klien aktif mencoba bunuh diri dengan berbagai cara.

2.2

Psikopatologi/Psikodinamika

2.2.1 Etiologiresiko bunuh diri Adapunfaktor-faktor diriadaduafaktor, (faktorpencetus). a. Faktor predisposisi Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjangperilaku resiko bunuh diri meliputi: 1) Diagnosis psikiatri Tiga gangguan jiwa yang membuat klien berisiko untuk bunuhdiri yaitu gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, danskizofrenia. 2) Sifat kepribadian Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatanresiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi. 3) Lingkungan psikososial Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian,kehilangan yang dini, dan berkurangnya dukungan sosialmerupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri. 4) Riwayat keluarga Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakanfaktor resiko untuk perilaku resiko bunuh diri 5) Faktor biokimia Proses yang dimediasi serotonin, opiat, dan dopamine dapatmenimbulkan perilaku resiko bunuh diri. b. Faktor presipitasi Stuart (2006) menjelaskan masalah atau bahwa pencetus dapat berupa di Selain kejadian depan itu, yang mempengaruhiterjadinyaresiko (faktorrisiko) bunuh

yaitufaktorpredisposisi

danfaktorpresipitasi

yangmemalukan, umum,kehilangan

seperti

interpersonal, ancaman

dipermalukan pengurungan.

pekerjaan,

mengetahuiseseorang yang mencoba atau melakukan bunuh diri atau terpengaruhmedia untuk bunuh diri, juga membuat individu semakin rentan untukmelakukan perilaku bunuh diri.

Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah perasaan terisolasi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti, kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres, perasaan marah/bermusuhan dan bunuh diri sebagai hukuman pada diri sendiri, serta cara utuk mengakhiri keputusasaan.

2.2.2 Proses resiko bunuh diri Klien dengan penyakit kronis, nyeri, atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan perilaku destruktif-diri. Sering kali klien secara sadar memilih bunuh diri. Menurut Stuart (2006) mengungkapkan bahwa mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku destruktif diri tidak langsung adalah penyangkalan, rasionalisasi, intelektualisasi, dan regresi. Menurut Fitria (2012) mengemukakan rentang harapan-putus harapan merupakan rentang adaptif-maladaptif. Adaptif Peningkatan diri Berisiko destruktif Destruktif diri tidak langsung Pencederaan diri Maladaptif Bunuh diri

Keterangan: a. Peningkatan diri: seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahan diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahan diri. b. Beresiko destruktif: seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal. c. Destruktif diri tidak langsung: seseorang telahmengambil sikap yang kurang tepat terhadap situasi yangmembutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. d. Pencederaan Diri: seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadapsituasi yang ada. e. Bunuh diri: seseorang telah melakukan kegiatan bunuhdiri sampai dengan nyawanya hilang.

Perilaku bunuh diri menunjukkan terjadinya kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh diri menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan adgar untuk mengatasi masalah. Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang mengalami krisis bunuh diri adalah mencederai diri dengan tujuan mengakhiri hidup. Perilaku yang muncul meliputi isyarat, percobaan atau ancaman verbal untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri.
Faktor Presipitasi Faktor Predisposisi 1) 2) 3) 4) 5) Diagnosis psikiatri Sifat kepribadian Lingkungan psikososial Riwayat keluarga Faktor biokimia

1) Pencetus dapat berupa kejadian yang


memalukan, seperti masalah interpersonal, dipermalukan di depan umum, kehilangan pekerjaan, atau ancaman pengurungan. Seseorang yang mencoba atau melakukan bunuh diri atau terpengaruh media untuk bunuh diri Perasaan terisolasi Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres Perasaan marah/bermusuhan dan bunuh diri sebagai hukuman pada diri sendiri, serta cara utuk mengakhiri keputusasaan.

2) 3) 4) 5)

Sumber Koping <<<

Mekanisme Koping Maladaptif

Ketidakefektifan Koping Individu

Respon Konsep Diri Maladaptif

Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah (HDR)

Malu, merasa bersalah Menarik Diri Risiko Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi

Isolasi sosial

Perilaku kekerasan

Risiko membahayakan diri: Risiko Bunuh Diri

2.2.3 Tandadangejalaresiko bunuh diri Menurut Carpenito (2006), tanda dan gejala dari klien resiko bunuh diri adalah sebagai berikut. a. Tanda mayor 1) Ide bunuh diri 2) Usaha bunuh diri sebelumnya b. Tanda minor 1) Depresi 2) Konsep diri kurang 3) Halusinasi/delusi 4) Penyalahgunaan zat 5) Kontrol impuls yang kurang 6) Agitasi 7) Keputusasaan 8) Ketidakberdayaan 9) Kurangnya sistem pendukung 10) Kepedihan emosional 11) Bermusuhan Menurut Fitria (2012), tanda dan gejala dari klien resiko bunuh diri adalah sebagai berikut. 1) Mempunyai ide untuk bunuh diri 2) Mengungkapkan keinginan untuk mati 3) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan 4) Impulsif 5) Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh) 6) Memiliki riwayat percobaan bunuh diri 7) Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat dosis mematikan)

8) Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan mengasingkan diri) 9) Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis dan menyalahgunakan alcohol) 10) Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal) 11) Pengangguaran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami kegagalan dalam karier).

2.3

DiagnosaMedisdanKeperawatan

2.3.1 DiagnosaMedis Diagnosamedis yang dapatdiambilpadakliendenganresiko bunuh diri

adalahdepresi dan skizofrenia.

2.3.2 DiagnosaKeperawatan Diagnosakeperawatan yang dapatdiambilpadakliendenganresiko bunuh diri adalah: 1) Gangguan konsep diri: harga diri rendah 2) Ketidakefektifankopingindividu 3) Resiko gangguan persepsi senseri: halusinasi 4) Resiko bunuh diri

2.4

PenatalaksanaanMedisdanKeperawatan

2.4.1. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada klien resiko bunuh diri salah satunya adalah dengan terapi farmakologi. Menurut (videbeck, 2008), obat-obat yang biasanya digunakan pada klien resiko bunuh diri adalah SSRI (selective serotonine reuptake inhibitor) (fluoksetin 20 mg/hari per oral), venlafaksin (75-225 mg/hari per oral), nefazodon (300-600 mg/hari per oral), trazodon (200-300 mg/hari per oral), dan bupropion (200-300 mg/hari per oral). Obat-obat tersebut sering dipilih karena tidak berisiko letal akibat overdosis. Mekanisme kerja obat tersebut akan bereaksi dengan sistem neurotransmiter monoamin di otak khususnya norapenefrin dan serotonin. Kedua neurotransmiter ini

dilepas di seluruh otak dan membantu mengatur keinginan, kewaspadaan, perhataian, mood, proses sensori, dan nafsu makan.

2.4.2 Penatalaksanaan Keperawatan Setelah dilakukan pengkajian pada klien dengan resiko bunuh diri selanjutnya perawat dapat merumuskan diagnosa dan intervensi yang tepat bagi klien. Tujuan dilakukannya intervensi pada klien dengan resiko bunuh diri adalah (Keliat, 2009): 1) Klien tetap aman dan selamat 2) Klien mendapat perlindungan diri dari lingkungannya 3) Klien mampu mengungkapkan perasaannya 4) Klien mampu meningkatkan harga dirinya 5) Klien mampu menggunakan cara penyelesaian yang baik a. Penatalaksanaan klien dengan perilaku bunuh diri Menurut Stuart dan Sundeen (1997, dalam Keliat, 2009:13) mengidentifikasi intervensi utama pada klien untuk perilaku bunuh diri yaitu : 1) Melindungi Merupakan intervensi yang paling penting untuk mencegah klien melukai dirinya. Intervensi yang dapat dilakukan adalah tempatkan klien di tempat yang aman, bukan diisolasi dan perlu dilakukan pengawasan, temani klien terusmenerus sampai klien dapat dipindahkan ke tempat yang aman dan jauhkan klien dari semua benda yang berbahaya. 2) Meningkatkan harga diri Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang rendah. Bantu klien mengekspresikan perasaan positif dan negatif. Berikan pujian pada hal yang positif. 3) Menguatkan koping yang konstruktif/sehat Perawat perlu mengkaji koping yang sering dipakai klien. Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif. Untuk koping yang destruktif perlu dimodifikasi atau dipelajari koping baru. 4) Menggali perasaan

10

Perawat membantu klien mengenal perasaananya. Bersama mencari faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi prilaku klien. 5) Menggerakkan dukungan sosial Untuk itu perawat mempunyai peran menggerakkan sistem sosial klien, yaitu keluarga, teman terdekat, atau lembaga pelayanan di masyarakat agar dapat mengontrol prilaku klien. b. Penatalaksanaan klien dengan resiko bunuh diri yaitu: 1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga atau teman. 2) Meningkatkan harga diri klien, dengan cara: a) Memberi kesempatan klien mengungkapkan perasaannya. b) Berikan pujian bila klien dapat mengatakan perasaan yang positif. c) Meyakinkan klien bahwa dirinya penting d) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh klien e) Merencanakan aktifitas yang dapat klien lakukan 3) Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara: a) Mendiskusikan dengan klien cara menyelesaikan masalahnya b) Mendiskusikan dengan klien efektifitas masing-masing cara penyelesaian masalah c) Mendiskusikan dengan klien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik c. Penatalaksanaan kepada keluarga dengan klien resiko bunuh diri Selain kepada klien intervensi keperawatan juga diberikan kepada keluarga yang bertujuan untuk (Keliat, 2009): 1) Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam atau mencoba bunuh diri 2) Keluarga mampu merawat klien yang beresiko bunuh diri Intervensi yang dapat dilakukan kepada keluarga adalah 1) menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi klien serta jangan pernah meninggalkan klien sendirian dan membiarkan klien melamun sendiri; 2) menganjurkan keluarga untuk menjauhkan klien dari benda-benda berbahaya 3) menjelaskan kepada keluarga pentingnya klien minum obat secara teratur;

11

4) menjelaskan dan mendiskusikan kepada keluarga mengenai tanda gejala bunuh diri dan cara melindungi dan mengatasi klien dari perilaku bunuh diri; 5) membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan.

2.5 Pencegahan 2.5.1 Upaya pencegahan bunuh diri oleh diri sendiri Upaya yang dapat dilakukan oleh diri sendiri dalam mencegah terjadinya bunuh diri adalah: 1. menanamkan semangat hidup dan fokus pada tujuan hidup 2. Selalu berpikiran positif 3. Menyikapi masalah dengan ketenangan jiwa 4. Mendekatkan diri kepada sang pencipta
5. Jangan memendam masalah, ungkapan permasalahan yang dialami kepada keluarga,

teman, maupun psikiater 2.5.2 Upaya pencegahan bunuh diri oleh keluarga Keluarga merupakan modal utama dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Adanya keluarga dapat membantu dalam mengupayakan pencegahan bunuh diri. Upaya yang dapat dilakukan adalah: 1. Mengenali tanda-tanda bunuh diri 2. Membina hubungan erat dan harmonis 3. Menjadi pendengar yang baik antar anggota keluarga 4. Memberikan kasih sayang yang cukup antar anggota keluarga

2.5.3 Upaya pencegahan bunuh diri oleh masyarakat dan lembaga rehabilitasi Masyarakat dan lembaga rehabilitasi harus bekerja sama dalam upaya mencegah bunuh diri. Dalam upaya yang dilakukan diharapkan masyarakat dapat menjadi lingkungan yang kondusif bagi klien dengan resiko bunuh diri seperti tetap menghargai klien dan menerima klien di lingkungan masyarakat. Sedangkan lembaga rehabilitasi bertugad untuk memberikan pengobatan yang optimal pada klien sehingga perilaku bunuh diri tidak terjadi pada klien

12

2.5.4 Upaya pencegahan bunuh diri oleh sektor kesehatan Sektor kesehatan perlu menidaklanjuti tindakan bunuh diri dengan upaya pencegahan bunuh diri, sebagai berikut: 1. Memberi penyuluhan secara menyeluruh di lingkungan masyarakat 2. Mengembangkan program penyuluhan secara bertahap 3. Memantau program penyuluhan 4. Menyediakan fasilitas gawat darurat sebagai tempat rehabilitasi

13

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri kehidupan individu secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Prilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat, percobaan dan ancaman verbal yang akan mengakibatkan kematian, atau luka yang menyakiti diri sendiri. Terjadinya bunuh diri dapat diakibatkan oleh depresi maupun gangguan sensori seperti halusinasi. Penatalaksanaan dilakukan dari segi medis dan keperawatan. Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan terapi farmakologi sedangkan penatalaksanaan keperawatan yang dilakukan berfokus pada klien dan keluarga klien. Selain penatalaksanaan, resiko bunuh diri dapat dicegah melalui upaya pencegahan, baik upaya pencegahan dari diri sendiri tetapi juga upaya pencegahan yang berasal dari lingkungan klien

3.2 Saran 3.2.1 Bagi Dosen Hendaknya para dosen dapat mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menguasai hal-hal yang berhubungan dengan konsep keperawatan klinik, terutama yang di bahas dalam makalah ini yakni perilaku bunuh diri dan melalui makalah ini mendapatkan wawasan dan pengetahuan lebih mengenai perilaku bunuh diri serta segala hal yang berhubungan.

3.2.2 Bagi Mahasiswa Hendaknya para mahasisiwa semakin tertarik untuk membaca dan memahami tentang berbagai hal yang berhubungan dengan keperawatan klinik, terutama mengenai

14

perilaku bunuh diri serta segala hal yang dapat diterapkan dalam praktik sebagai seorang mahasiswa.

3.2.3 Bagi Pembaca Hendaknya para pembaca dapat mengambil segala hal yang terkandung dalam pembahasan perilaku bunuh diri khususnya segala hal yang dibahas dalam makalah ini, serta mampu mengambil segala manfaat untuk menerapkannya dalam hidup sehari-hari.

3.2.4 Bagi Perkembangan Keperawatan Hendaknya perkembangan keperawatan semakin hari akan semakin meningkat dan dapat menunjukkan betapa pentingnya menerapkan konsep keperawatan klinik yang diajarkan dalam ilmu keperawatan dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu mewujudkan segala hal tersebut dalam praktik keperawatan. Dapat dengan sepenuh hati menghadapi pasien yang berbeda-beda kebutuhannya dan memiliki rentang sehat sakit yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. .

15

DAFTAR PUSTAKA

Captain. 2008. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC. Carpenito Moyet, Lynda Juall. 2006. BukuSaku Keperawatan.AlihbahasaolehYasminAsih. Jakarta: EGC. Fitria, Diagnosis

Nita. 2012.PrinsipDasarAplikasiPenulisanLaporanPendahuluandanStrategiPelaksan aanTidakanKeperawatan (LP dan SP) revisi 2012.Jakarta: SalembaMedika.

Keliat, B.A. 2006. Proses KeperawatanKesehatanJiwa.Edisi 2. Jakarta: EGC. Keliat, Budi Anna. 2009.Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.Jakarta:EGC. Stuart, G.W. &Sundeen, S.J. 2006. BukuSakuKeperawatanJiwa. Jakarta: EGC. Videbeck, Sheila L. 2008.Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC. Yosep, I. 2010.Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama. .

Anda mungkin juga menyukai