Anda di halaman 1dari 45

1

MANAJEMEN PERSEDIAAN PADA DIVISI ADMINISTRASI LOGISTIK DAN GUDANG PT. INDONESIA POWER UB. PEMBANGKITAN SURALAYA

LAPORAN KERJA PRAKTEK

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik Industri

Oleh
Nama : Muhammad Anshari Fadhilah No. Mahasiswa : 09522113

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2013

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KERJA PRAKTEK

MAHASISWA S1

M. ANSHARI FADHILAH 09522113

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA

DI PT. INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKIT SURALAYA

Periode 5 Februari 2013 s/d 28 Februari 2013

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb. Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pelaksanaan Kerja Praktek sekaligus penyusunan Laporan Kerja Praktek ini dapat diselesaikan dengan baik. Serta tidak lupa sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan penerusnya yang telah membawa Islam kepada seluruh umat manusia. Kerja Praktek merupakan salah satu prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana Stratum Satu pada jurusan Teknik Industri Universitas Islam Indonesia. Dengan pelaksanaan Kerja Praktek ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui sejauh mana penerapan teori yang telah didapatkan di bangku kuliah dan pengetahuan lapangan dalam suatu industri. Dalam pelaksanaan Kerja Praktek di Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya. Penulis banyak mendapat bantuan, dukungan dan kesempatan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Ir. Gumbolo Hadi Susanto, M.Sc selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia. 2. Bapak M. Ibnu Mastur, Drs., H., MSIE selaku Ketua Jurusan Teknik Industri Universitas Islam Indonesia. 3. Ibu Ira Promasanty. Ir.,M.Sc., selaku dosen pembimbing Kerja Praktek jurusan Teknik Industri Universitas Islam Indonesia. 4. Bapak selaku General Manajer di PT. Indonesia Power UBP Suralaya. 5. Bapak Achmad selaku pembimbing lapangan di PT. Indonesia Power UBP Suralaya. 6. Ibu Wati, Mas Agung, Bapak Cutarya, dan segenap karyawan di PT. Indonesia Power UBP Suralaya yang telah memberikan informasi. 7. Bapak Adi dan seluruh staff perpustakaan PT. Indonesia Power UBP Suralaya yang telah membantu kelancaran pembuatan laporan ini. 8. Orang tua dan keluarga atas dukungan dan kasih sayang yang tak terhingga selama ini. 9. Keluarga Bapak Mutaqin yang telah mengizinkan saya tinggal dirumahnya yang nyaman.

10. Partner kerja praktek Indra Miftah Faluthi yang senantiasa menemani dan mendukung semua kegiatan selama berada di lapangan. 11. Fitriani Rahman Diny yang selalu bersedia menjadi tempat berkeluh kesah selama ini. 12. Terima kasih kepada semua sahabat penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa laporan kerja praktek ini masih kurang sempurna sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pembaca demi lengkapnya laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Suralaya, 11 Februari 2013

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...............................................................................................i LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................................ii SURAT KETERANGAN SELESAI .......................................................................iii KATA PENGANTAR .............................................................................................iv DAFTAR ISI............................................................................................................v DAFTAR TABEL....................................................................................................vi DAFTAR GAMBAR ...............................................................................................vii BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 BAB II Latar Belakang.............................................................................1 Tujuan ..........................................................................................2 Batasan KERJA PRAKTEK........................................................4 Manfaat ........................................................................................5

PROFIL PERUSAHAAN 2.1 Sejarah PT. INDONESIA POWER .................................................14 2.1.1 Unit Pembangkit Suralaya....................................................... 2.2 Visi, Misi, Tujuan dan Motto ........................................................... 2.2.1 Visi PT. INDONESIA POWER .............................................. 2.2.2 Misi PT. INDONESIA POWER ............................................. 2.2.3 Tujuan PT. INDONESIA POWER ......................................... 2.2.4 Motto ....................................................................................... 2.2.5 Logo ........................................................................................ 2.2.6 Makna Bentuk ......................................................................... 2.2.7 Warna ...................................................................................... 2.3 Lokasi PT. INDONESIA POWER .................................................. 2.4 Hasil Produksi ..................................................................................

BAB III DESKRIPSI SISTEM INDUSTRI 3.1 Bahan Baku ......................................................................................27 3.2 Tata Letak UBP Suralaya .................................................................28 3.3 Dampak Lingkungan ........................................................................28 3.4 Struktur Organisasi...........................................................................29 3.5 Shift Kerja ........................................................................................29

3.6 Pemasaran dan Distribusi ................................................................. BAB IV TUGAS KHUSUS 4.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................32 4.1.1 Perumusan Masalah ................................................................ 4.1.2 Batasan Masalah dan Asumsi .................................................. 4.1.3 Tujuan ..................................................................................... 4.1.3 Manfaat ................................................................................... 4.2 Landasan Teori .................................................................................32 4.2.1 Manajemen Persediaan ............................................................ 4.2.2 Analisis ABC dan EOQ .......................................................... 4.3 Pengolahan Data dan Analisa Hasil ................................................ BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ......................................................................................37 5.2 Saran .................................................................................................39 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................57

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 3.4 Gambar 4.1 Logo Indonesia Power......................................................................3 Peta Lokai PT. INDONESIA POWER UBP SURALAYA .............5 Siklus Produksi PLTU ..................................................................... Produksi Tenaga Listrik UBP SURALAYA ................................... Tata Letak PT. INDONESIA POWER UBP SURALAYA ............ Struktur Organisasi .......................................................................... Letak Sparepart Berpengaruh ..........................................................

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Dalam menambah wawasan dan kemampuan penulis mengenai industri selain dari teori-teori di bangku kuliah, penulis juga diwajibkan untuk melaksanakan kerja praktek guna mencari informasi-informasi di luar. Dalam hal ini dunia kerja yang dapat mendukung penulis untuk mengembangkan maupun mengambil keputusan yang dapat diterapkan pada saat penulis telah menyelesaikan studi dan terjun ke dunia kerja. Salah satu aplikasinya yaitu berupa kerja praktek. Konsep pembelajaran langsung yang diterpakan oleh perguruan tinggi yaitu dalam bentuk Kerja Praktek (KP) yang dibebankan pada kurikulum sebagai mata kuliah dengan bobot 2 SKS (Satuan Kredit Semester) yang harus ditempuh sebagai salah satu syarat untuk mengambil mata kuliah tugas akhir, kerja praktek dapat dilakukan diperusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur. Salah satu perusahaan besar di bidang industri yang menerima mahasiswa KP adalah PT. Indonesia Power. PT. Indonesia Power sendiri adalah salah satu perusahaan

pembangkit listrik di Indonesia yang berada dibawah naungan Perusahaan Lisrtrik Negara (PLN). Salah satu Unit Bisnis Pembangkit yang terbesar adalah Unit Bisnis

10

Pembangkit Suralaya. UBP ini bergerak di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara yang memasok listrik untuk daerah kawasan Jawa-Bali. Dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang cukup memadai serta perpustakaan sebagai sarana dibutuhkan akan sangat membantu mahasiswa untuk bisa memahami dunia bisnis di bidang pembangkitan tenaga listrik secara mendetail. Dalam pelaksanaa kerja praktek ini mahasiswa ditugaskan untuk melakukan pengamatan di bagian logistik dan gudang spare part, yaitu inventory control.

1.2 Tujuan

Tujuan dari Kerja Praktek ini adalah: 1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai keilmuan Teknik Industri serta melihat penerapannya di sistem perusahaan. 2. Memahami dan mendapatkan pengalaman dengan lingkungan kerja

sebenarnya sehingga medapat wawasan baru. 3. Mempelajari proses kerja PLTU yang digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik. 4. Membina hubungan baik antara Perguruan Tinggi, khususnya Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dengan PT. Indonesia Power UBP Suralaya. 1.3 Batasan

Batasan masalah dalam pembuatan laporan ini adalah 1. Menjelaskan proses produksi listrik pada PLTU oleh PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Suralaya. 2. Menjelaskan tentang Inventory Control, khususnya manajemen persediaan di Gudang Spare part PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Suralaya.

11

1.4 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari kerja praktek ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat bagi Perusahaan/Instansi a. Sebagai sarana untuk saling bertukar informasi untuk mengembangkan sistem yang telah ada. b. Sebagai bentuk kerja sama untuk membantu pelaksanaan aktivitas di instansi tempat kerja praktek. 2. a. b. Manfaat bagi mahasiswa Dalam rangka memenuhi kewajiban mata kuliah kerja praktek. Dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat kedunia kerja.

12

BAB II

PROFIL PERUSAHAAN

2.1. Sejarah PT. Indonesia Power

PT. INDONESIA POWER adalah salah satu anak perusahaan listrik milik PT. PLN (Persero) yang didirikan pada tanggal 03 Oktober 1995 dengan nama PT. PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa Bali I (PT. PLN PJB I) dan pada tanggal 03 Oktober 2000 PT. PLN PJB I berganti nama menjadi PT. INDONESIA POWER. PT. INDONESIA POWER merupakan perusahaan pembangkit listrik terbesar di Indonesia dengan delapan Unit Bisnis Pembangkit utama dibeberapan lokasi pada pulau Jawa dan Bali. Unit Unit Bisnis Pembangkitan tersebut adalah : Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya, Priok, Saguling, Kamojang, Mrica, Semarang, Perak & Grati dan Bali.

2.2.1 Unit Pembangkitan Suralaya

PLTU Suralaya telah dibangun dengan menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama. Beberapa alasan mengapa Suralaya dipilih sebagai lokasi yang paling baik diantaranya adalah: 1. Tersedianya tanah dataran yang cukup luas, di mana tanah tersebut dipandang tidak produktif untuk laha pertanian. 2. Tersedianya pantai dan laut yang cukup dalam, tenang, bersih, hal ini baik unutk dapat dijadikan pelabuhan guna memasok bahan baku, dan ketersediaan air, baik itu air pendinginan maupun air proses. 3. Karena faktor nomor dua di atas, maka akan membantu/memperlancar pengangkutan bahan bakar dan berbagai macam peralatan berat yang masih diimpor dari luar negeri.

13

4. Jalan masuk ke lokasi tidak terlalu jauh dan sebelumnya sudah ada jalan umum namun dengan kondisi yang belum begitu baik. 5. Karena jumlah penduduk di sekitar lokasi masih relatif sedikit sehingga tidak perlu adanya pembebasan tanah milik penduduk guna pemasangan saluran transmisi kelistrikan. 6. Dari hasil survey sebelumnya diketahui bahwa tanah di Suralaya memungkinkan untuk didirikan bangunan yang besar dan bertingkat. 7. Tersedianya tempat yang cukup untuk penimbunan limbah abu dari sisa pembakaran batubara. 8. Tersedianya tenaga kerja yang cukup untuk memperlancar pelaksanaan pembangunan. 9. Dampak lingkungan yang baik karena terletak diantara pelabuhan dan laut. 10. Menimbang kebutuhan beban di pulau Jawa merupakan terbesar, maka tepat apabila dibangun suatu pembangkit listrik dengan daya yang besar di pulau Jawa.

14

UBP Suralaya merupakan salah satu unit pembangkit yang dimiliki oleh PT. Indonesia Power. Diantara pusat pembangkit yang lain, UBP Suralaya memiliki kapasitas daya terbesar dan juga merupakan pembangkit paling besar di Indonesia. PLTU Suralaya dibangun melalui empat tahapan yaitu : Tahap I : Membangun dua unit PLTU, yaitu unit 1 dan 2 yang masing-masing berkapasitas 400MW. Dimana pembangunan dimulai pada bulan Mei 1980 sampai dengan bulan Juni 1985 dan telah beroperasi sejak tahun 1984, tepatnya pada tanggal 4 April 1984 unutk unit 1 dan 26 Maret 1985 untuk unit 2. Tahap II : Membangun dua unit PLTU yaitu unit 3 dan 4 yang masing-masing berkapasitas 400 MW. Dinaba pembangunannya dimulai pada bulan Juni 1985 dan berakhir sampai dengan bulan Desember 1989 dan telah beroperasi sejak 6 februari 1989 untuk unit 3 dan 6 November 1989 untuk unit 4. Tahap III : membangun 3 unti PLTU, yaitu 5,6, dan 7 yang masing-masing berkapasitas 600 MW. Pembangunan dimulai sejak bulan Januari 1993 dan telah beropersai pada bulan Oktober 1996 untuk 5, untuk unit 6 pada bulan April 1997 dan Oktober 1997 untuk unit 7. Tapah IV : membangun satu unit PLTU, yaitu unit 8 dengan kapasitas 625 MW. Pembangunan dimulai pada bulan Maret 2007 dan selesai Maret 2010. Unit 8 telah beroperasi April 2011 sampai saati ini. Beroperasinya PLTU Suralaya diharapkan akan menambah kapasitas tenaga listrik di Pulau Jawa-Bali yang terhubung dalam sistem interkoneksi se-Jawa dan Bali. Mensukseskan program pemerintah dalam rangka penganekaragaman sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik sehingga lebih menghemat BBM, juga meningkatkan kemampuan bangsa Indonesia dalam menyerap teknologi maju, penyediaan lapangan kerja, peningkatan taraf hidup masyarakat dan pengembangan wilayah sekitarnya sekaligus meningkatkan produksi dalam negeri.

15

2.2

Visi, Misi, Tujuan dan Motto

Guna melaksanakan tugas pokok dan fungsi lembaga dalam mencapai tujuan, PT. Indonesia Power telah menetapkan visi dan misinya. Visi yan telah diterapkan adalah sebagai berikut.

2.2.1 Visi PT. Indonesia Power Menjadi perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan lingkungan.

2.2.2 Misi PT. Indonesia Power Melakukan usaha dalam bidang ketenagalistrikan dan mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan dalam jangka panjang.

2.2.3 Tujuan PT. Indonesia Power Adapun tujuan dari PT. Indonesia Power adalah: 1. Menciptakan mekanisme peningkatan efisiensi yang terus menerus dalam sumber daya perusahaan. 2. Meningkatkan pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan dengan bertumpu pada usaha penyediaan tenaga listrik dan sarana penunjang yang berorientasi pada oermintaan pasar yang berwawasan lingkungan. 3. Menciptakan kemampuan dan peluang untuk memperoleh pendanaan dari berbagai sumber yang saling menguntungkan. 4. Mengoperasikan pembangkit tenaga listrik secara kompetitif serta mencapai standar kelas dunia dalam hal kesamaan, kehandalan, efisiensi, maupun kelestarian lingkungan. 5. Mengembangkan budaya perusahaan yang sehat diatas saling menghargai antar karyawan dan mitra serta mendorong terus kekokohan intergritas pribadi dan profesionalisme.

16

2.2.4 Motto Bersama kita maju.

2.2.5 Logo Logo atau lambang merupakan bagian dari identitas perusahaan. Sedangkan yang dimaksud dengan identitas perusahaan adalah suatu cara atau hal yang memungkinkan perusahaan dapat dikenal dan dibedakan dari perusahaan lain. PT Indonesia Power mempunyai logo atau lambing yang dijadikan sebagai identitas perusahaan dengan tujuan agar konsumen atau public pada umumnya mudah mengenal dan mengingat perusahaan. Adapun logo yang dimiliki PT Indonesia Power adalah bertuliskan Indonesia dan Power. Selanjutnya bentuk logo PT Indonesia Power dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Logo PT. Indonesia Power

2.2.6 Makna Bentuk 1. Karena nama yang kuat kata INDONESIA dan POWER ditampilkan dengan menggunakan dasar jenis huruf futura book / regular dan futura bold menandakan font yang kuat dan tegas 2. Aplikasi bentuk kilatan petir pada huruf O melambangkan tenaga listrik yang merupakan lingkup usaha utama perusahaan 3. Titik atau bulatan merah (red dot) diujung kilatan petir merupakan simbol perusahaan yang telah digunakan di sebagian besar materi komunikasi perusahaan. Dengan simbol kecil ini diharapkan identitas perusahaan dapat langsung terwakili.

2.2.7 Warna 1. Merah Merah, diaplikasikan pada kata INDONESIA, menunjukkan identitas yang kuat dan kokoh sebagai pemilik sumber daya untuk memproduksi tenaga listrik, guna dimanfaatkan di Indonesia dan juga di luar begeri

17

2. Biru Biru, diaplikasikan pada kata POWER. Pada dasarnya warna biru menggambarkan sifat pintar dan bijaksana, dengan aplikasi pada kata POWER, maka warna ini menunjukkan produk tenaga listrik yang dihasilkan perusahaan memiliki ciri-ciri berteknologi tinggi, efisien, aman, dan ramah lingkungan.

18

2.3 Lokasi PT. Indonesia Power

PTLU Suralaya terletak di desa Suralaya, Kecamatan Pulo Merak, Serang Banten. 120 km ke arah barat dari jakarta menuju pelabuhan Ferry Merak, dan 7 km ke arah utara dari Pelabuhan Merak.

Gambar 2.2 Peta lokasi PT. Indonesia Power UBP Suralaya 2.4 Hasil Produksi

PT Indonesia Power khususnya UBP Suralaya bergerak dalam penyediaan tenaga listrik uap berbahan bakar batubara yang mensuplai tenaga listrik Jawa-Bali sebesar 40% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik lainnya. UBP Suralaya juga bergerak dalam bidang trading batubara atau fly ash (abu batubara) sebagai nin core business yang sekarang dapat memproduksi 24 ribu ton fly ash per bulan.

19

Abu batubara adalah bagian dari sisan pembakaran batubara pada boiler pembangkit listrik tenaga uap yang berbentuk partikel halus amorf dan bersifat Pozzolan, berart abu tersebut dapat bereaksi dengan kapur pada suhu kamar dengan media air membentuk senyawa yang bersifat menikat. Dengan adanya sifat Pozzolan tersebut abu terbang mempunya prospek untuk digunakan sebagai keperluan bangunan. Sebagai hasil produksi sampingan dari PLTU batubara, fly ash memiliki banyak manfaat antara lain sebagai bahan baku pembuatan semen, beton ringan, keramik berat seperti con block, genteng, batako, batu bata dan lainnya.

20

BAB III

DESKRIPSI SISTEM INDUSTRI

3.1

Bahan Baku

PT. Indonesia Power UBP Suralaya dirancang sebagai perusahaan pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU. Uap yang dihasilkan tersebut berasal dari pembakaran air sebagai bahan baku utama. 1. Batubara Batubara digunakan sebagai bahan bakar utama yang digunakan dalam pembakaran untuk menghasilkan energi panas yang dibutuhkan oleh boiler. Batubara yang digunakan dalam proses pembakaran sudah berupa serbukserbuk halus, hal ini dilakukan karena tingkat kehalusan batubara mempengaruhi waktu penyalaan dan pembakaran. Jenis batubara yang digunakan adalah jenis subbituminious dengan nilai kalor 5000-5500 kkal/kg. UBP Suralaya mendapatkan batubara tersebut dari beberapa pemasok yang ada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Pemasok batubara dibagi menurut panjang kontrak dengan Indonesia Power, yaitu kontrak jangka panjang, menengah, dan pendek. Lama kontrak jangka panjang diatas 10 tahun, jangka menengah 5-9 tahun, dan jangka pendek dibawah 5 tahun untuk para pemasok batubara tersebut. 2. Air Air merupakan penghasil uap yang dibutuhkan untuk menggerakkan turbin dari hasil proses pemanasan pada boiler. Air yang digunakan adalah air laut yang didapat dari Krakatau Steel. Air laut harus mengalami proses desalination atau pemurnian. Hal ini dilakukan karena air yang digunakan pada boiler harus benar-benar murni untuk mencegah terjadinya korosi pada bagian saluran pipa.

21

PT. Indonesia Power juga memerlukan bahan baku pendukung yang digunakan untuk mendukung kegiatan proses produksi dan sebagainya. Solar atau High Speed Diesel (HSD) digunakan sebagai bahan bakar ignitor atau pemantik pada penyalaan awal dengan bantuan udara panas bertekanan dan bahan bakar residua tau Main Fuel Oil (MFO) digunakan sebagai bahan bakar cadangan apabila perusahaan sedang mengalami kekurangan pasokan batubara. Bahan bakar cadangan ini digunakan hanya pada unit 1-4, sedangkan unit 5-7 hanya menggunakan batu bara saja.

Batubara yang dibongkar dari kapal di Coal Jetty dengan menggunakan Ship Unloader atau bisa dengan peralatan pembongkaran kapal itu sendiri, dipindahkan ke hopper dan selanjutnya diangkut dengan conveyor menuju penyimpanan sementara (temporary stock) dengan Telescopic Chute atau dengan menggunakan

Stacker/Reclaimer, atau langsung batubara tersebut ditransfer malalui Junction House ke Scrapper Conveyor lalu ke Coal Bunker, seterusnya ke Coal Feeder yang berfungsi mengatur jumlah aliran ke Pulverizer di mana batubara digiling dengan ukuran yang sesuai kebutuhan sampai menjadi serbuk yang halus.

Gambar 3.1 Siklus Produksi PLTU Serbuk batubara tersebut dicampur dengan udara panas dari Primary Air Fan dan dibawa ke Coal Burner yang menyemburkan batubara tersebut ke dalam ruang bakar untuk proses pembakaran dan terbakar seperti gas untuk mengubah air menjadi uap. Udara pembakaran yang digunakan pada ruang bakar dipasok dari Forced Draft Fan (FDF) (21) yang mengalirkan udara pembakaran melalui Air Heater (22). Hasil

22

proses pembakaran yang terjadi menghasilkan limbah berupa abu dalam perbandingan 14:1. Abu yang jatuh ke bagian bawah boiler secara periodik dikeluarkan dan dikirim ke Ash Valley. Gas hasil pembakaran dihisap keluar dari boiler oleh Induce Draft Fan (IDF) dan dilewatkan melalui Electric Precipitator yang menyerap 99,5% abu terbang dan debu dengan sistem elektroda, lalu dihembuskan ke udara melalui stack / cerobong (23). Abu dan debu kemudian dikumpulkan dan diambil dengan alat pneumatic gravity conveyor yang digunakan sebagai material pembuat jalan, semen dan bahan bangunan (conblok).

Gambar 3.2 Produksi Tenaga Listrik UBP Suralaya

23

Keterangan : 1. Circulating Water Pump 2. Desalination Evaporator 3. Distillate Pump 4. Make up Water Tank 5. Demin Water Tank 6. Condenser 7. Low Pressure Heater 8. Deaerator 9. Boiler Feed Pump 10. High Pressure Heater 11. Economizer 12. Steam Drum 13. Boiler 14. Super Heater 15. Turbin Uap 16. Kapal / Tongkang 17. Pumping House 18. Fuel Oil Tank 19. Fuel Oil Heater 20. Burner 21. Forced Draft Fan 22. Air Heater 23. Stack 24. Generator 25. Transformer Generator 26. Switch Yard 27. Transmisi Tegangan Tinggi

Panas yang dihasilkan dari pembakaran air didalam boiler, dihisap oleh pipa pipa penguap (water walls) menjadi uap jenuh atau uap basah yang kemudian dipanaskan di Super Heater (SH) (14) yang menghasilkan uap kering. Kemudian uap tersebut dialirkan ke Turbin tekanan tinggi High Pressure Turbine (16), di mana uap tersebut disebarkan melalui Nozzles ke kipas pada turbin. Tenaga dari uap mendorong kipas pada turbin dan membuat turbin berputar. Setelah melalui HP Turbine, uap dikembalikan ke Boiler untuk dipanaskan ulang di Reheater untuk mengembalikan panas uap sebelum uap tersebut digunakan kembali di Intermediate Pressure (IP) Turbine dan Low Pressure (LP) Turbine.

24

Selanjutnya, uap bekas diproses kembali menjadi air di Condenser (6) dengan pendinginan air laut menggunakan Circulating Water Pump (1). Air yang merupakan bentuk dari uap setelah di kondensasi akan digunakan kembali sebagai air pengisi Boiler. Air dipompakan dari kondenser dengan menggunakan Condensate Extraction Pump, pada awalnya dipanaskan melalui Low Pressure Heater (7), dinaikkan ke Deaerator (8) untuk menghilangkan gas-gas yang terkandung di dalam air. Air tersebut kemudian dipompakan oleh Boiler Feed Pump (9) melalui High Pressure Heater (10), di mana air tersebut dipanaskan lagi sebelum masuk ke dalam Boiler (13) pada Economizer (11), kemudian air masuk ke Steam Drum (12). Siklus air dan uap ini berulang secara terus menerus saat mesin berkerja. Poros turbin disokong dengan Rotor Generator, maka kedua poros memiliki jumlah tenaga yang sama. Ketika tenaga telah mencapai 3000 rpm, pada Rotor Generator dibuatlah proses magnetisasi dengan Brushless Exitation Sistem, dengan demikian Stator Generator akan menciptakan tenaga listrik dengan tegangan 23 KV. Listrik yang dihasilkan kemudian disalurkan ke Generator Transformer (25) untuk dinaikkan tegangannya menjadi 500 KV. Sebagian besar listrik tersebut disalurkan ke sistem jaringan terpadu (Interkoneksi) se-Jawa-Bali melalui saluran udara tegangan extra tinggi 500 KV dan sebagian lainnya disalurkan ke gardu induk Cilegon dan daerah Industri Bojonegara melalui saluran udara tegangan tinggi 150 KV.

3.2

Tata Letak UBP Suralaya

Luas area PLTU Suralaya adalah 254 ha, terdiri dari :

Tabel 3.1 Luas Area PT Indonesia Power UBP Suralaya N No Nama Lokasi Luas (Ha)

Gedung Sentral A Ash B Valley Kompleks Perumahan C Coal D Yard Tempat Penyimpanan Alat-alat Berat E Switch Yard F Gedung Kantor G Sisanya berupa tanah dan perbukitan H JUMLAH

30,0 8,0 30,0 20,0 2,0 6,3 6,3 157,4 254,0

26

Gambar 3.3 Tata Letak PT. Indonesia Power UBP Suralaya

3.3

Dampak lingkungan

Untuk menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan, dilakukan pengendalian dan pemantauan secara terus menerus agar memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 02/MENLH/1988 tanggal 19-01-1988 tentang Nilain Ambang Batas dan no. 13/MENLH/3/1995 tanggal 07-03-1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak. Untuk itu PLTU Suralaya dilengkapi peralatan antara lain :

27

a. Electrostatic Precipitator, yaitu alat menangkap abu hasil sisa pembakaran dengan efesiensi 99,5%. b. Cerobong asap setinggi 218 m dan 275 m, agar kandungan debu dan gas sisa pembakaran sampai ground level masih dibawah ambang batas. c. Sewage Treatment dan Neutralizing Basin yaitu pengolahan limbah cair agar air buangan tidak mencemari lingkungan. d. Peredam suara untuk mengurangi kebisingan oleh suara mesin produksi. Di unit 5-7 kebisingan mencapain 85-90 dB. e. Alat-alat pemantau lingkungan hidup yang ditempatkan di sekitar PLTU Suralaya. f. CW Discharge Cannel sepanjang 1,9 km dengan sistem saluran terbuka. g. Pemasangan Stack Emmision h. Penggunaan Low Nox Burners

28

3.4

Struktur Organisasi

Struktur organisasi yang baik sangat diperlukan dalam suatu perusahaan, semakin besar perusahaan tersebut semakin kompleks organisasinya. Secara umum dapat dikatakan, struktur organisasi merupakan suatu gambaran secara skematis yang menjelaskan tentang hubungan kerja, pembagian kerja, serta tanggung jawab dan wewenang dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan semula.

Gambar 3.4 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya, secara structural puncak pimpinannya dipegan oleh seorang General Manajer yang dibantu oleh Deputi General Manajer dan Manajer Bidang.

29

3.5

Shift Kerja

Dalam Unit Pembangkitan Suralaya, karyawan terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: non shift dan shift. Untuk jam kerja bagi karyawan non shift, diberlakukan jam kerja mulai jam 07.00 hingga 16.00 dengan hari kerja per minggunya adalah 5 hari kerja dari SeninJumat. Sedangkan untuk karyawan shift, shift terbagi menjadi 3, yaitu: a. b. c. Shift pagi Shift siang Shift malam : 07.00-15.00 : 15.00-22.00 : 22.00-07.00

Dengan sistem kerja 2 hari pertama masuk pagi, 2 hari kemudian masuk siang, dan 2 hari kemudian masuk malam.

3.6

Pemasaran dan Distribusi

Produksi dari PT. Indonesia Power ini adalah berupa daya listrik yang lebih murah biaya produksinya karena menggunakan bahan bakar batubara, dengan produk sampingan berupa fly ash yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri keramik berat. UBP Suralaya mendistribusikan listrik ke konsumen melalui PLN dengan mensuplai pasokan listrik melalui generator transformer 23 KV yang dinaikkan menjadi 500 KV ke Interbus, kemudian diturunkan menjadi 150 KV yang ditransmisikan ke wilayah Cilegon dan gardu induk gandul kemudian diteruskan melalui interkoneksi se-Jawa, Madura dan Bali yang tersambung ke gardu Induk dan suplai 150 KV dari pembangkit lain kemudian melalui stepdown trans menjadi 6-20 KV yang langsung dipakai oleh konsumen seperti masyarakat dan industry sekitar bojonegara.

BAB IV

TUGAS KHUSUS

4.1

Latar Belakang Masalah

PT. Indonesia Power UBP Suralaya merupakan salah satu dari anak perusahaan PT. PLN (Persero) yang menjalankan usaha komersial bidang pembangkitan tenaga listrik dan usaha lainnya. Pada tahun 2010, perusahaan ini menyumbang sekitar 26.469.924. MW bagi pembangkit tenaga listrik nasional. Bila dilihat berdasarkan total keseluruhan yang dihasilkan PLN dalam menghasilkan listrik sangat berpengaruh besar, karena dari 41.000.000 MW PT. Indonesia Power UBP Suralaya bisa menghasilkan lebih daru 50% kebutuhan listrik Jawa-Bali. Dalam proses produksinya, PT. Indonesia Power UBP Suralaya memerlukan fasilitas pendukung, baik fasilitas besar maupun fasilitas kecil. Fasilitas besar tersebut contohnya Pompa pengisi ketel (Boiler Feedwater Pump), Transformator Generator, Penangkap abu (Electrostatic Precipitator), dan sebagainya, sedangkan fasilitas kecil antara lain spare part (suku cadang). Meskipun kecil, namun spare part memegang peranan amat penting dalam kegiatan produksi. Salah satu contohnya yaitu spare part umum yang selalu digunakan untuk memenuhi kebutuhan dari mesin-mesin. Spare part umum yang digunakan oleh PT. Indonesia Power UBP Suralaya dalam proses pengadaannya spare part umum ini biasanya mengalami kendala. Beberapa diantaranya yaitu menumpuknya banyak spare part yang menyebabkan bertambahnya biaya pemeliharaan yang mempengaruhi keuangan dari perusahaan. Sebenarnya ketersediaan stock perlu untuk menjaga kinerja mesin yang jika melemah dapat menggangu proses produksi. Mengingat pentingnya ketersediaan spare part umum di perusahaan, maka perlu dilakukannya pengendalian yang lebih efektif. Hal ini bisa dilakukan salah satunya dengan mengidentifikasi tingkat kekritisan masing-masing spare part dan menentukan jumlah

31

pemesanan yang ekonomis. Cara ini akan sangat membantu pihak manajemen dalam mengendalikan persediaan spare part. Dalam hal ini, spare part yang tergolong kritis perlu mendapat perhatian yang lebih dari pihak manajemen dibandingkan spare part yang tidak kritis. Oleh karena itu, tugas khusus Kerja Praktek ini difokuskan untuk menentukan tingkat kekritisa spare part umum dan menentukan jumlah pemesanan ekonomis pada unit 1-4.

4.1.1 Perumusan Masalah Dari latar belakang masalah yang sudah dikemukakan, maka masalah dalam kerja praktek ini adalah bagaimana tingkat kekritisan masing-masing spare part umum untuk menentukan jumlah pemesanan ekonomis pada unit 1-4.

4.1.2 Batasan Masalah dan Asumsi Batasan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Spare part yang diteliti adalah spare part umum pada unit 1-4. 2. Data yang digunakan adalah data dari tahun 2011-2012 3. Metode yang digunakan adalah Analisi ABC dan EOQ.

4.1.3 Tujuan Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menentukan tingkat kekritisan dan mampu menganalisa jumlah pemesanan ekonomis spare part umum pada unit 1-4.

4.1.4 Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi PT. Indonesia Power UBP Suralaya khususnya pada bagian pengadaan material/spare part. Harapannya, dengan mengetahui tingkat kekritisan masing-masing spare part maka pengendalian persediaan spare part umu, pada unit 1-4 dapat menjadi lebih baik.

32

4.2

Landasan Teori

4.2.1 Manajemen Persediaan Manajemen persediaan adalah suatu bentuk usaha sebuah perusahaan atau organisasi untuk menjaga dan mengendalikan jumlah persediaan sumber dayanya agar tetap bisa menyokong proses produksi dan penjualan dengan mengusahakan total biaya persediaan seminimal mungkin. Pengendalian persediaan di seriap perusahaan merupakan salah satu unsur penting dalam rangka mengefisiensikan dan mengoptimalkan proses produksi sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Berikut ini adalah tipe persediaan menurut Yamit (2004): 1. Persediaan alat-alat kantor (supplies) Persediaan yang diperlukan dalam menjalankan fungsi organisasi dan tidak menjadi bagian produk akhir. 2. Persediaan bahan baku (raw material) Item yang dibeli dari para supplier untuk digunakan atau dikonversi menjadi barang akhir. 3. Persediaan barang dalam proses (in-process goods) Bagian dari produk akhir tetapi masih dalam proses pengerjaan, karena masih menunggu item yang lain untuk diproses. 4. Persediaan barang jadi (finished goods) Persediaan produk akhir yang siap untuk dijual, didistribusikan atau disimpan. Manajemen persediaan perlunya dilakukan karena dalam kondisi aktual di industri, banyak faktor ketidakpastian yang bisa terjadi, hal inilah yang dapat mengganggu kelancaran proses produksi. Faktor-faktor ketidakpastian tersebut seperti terlambatnya waktu pengiriman barang dan supplier, kesalahan peramalan permintaan, kerusakan mesin, keterlambatan operasi, bahan cacat, dan faktor-faktor yang lainnya.

33

4.2.2 Analisis ABC dan EOQ Menurut Heizer, J. & Render, B. (2001), analisis ABC membagi persediaan yang dimiliki ke dalam tiga golongan berdasarkan pada volume tahunan. Analisis ABC adalah sebuah aolikasi persediaan dari prinsip pareto. Prinsip pareto menyatakan bahwa terdapat sedikit hal yang penting dan banyak hal yang tidak penting. Tujuannya adalah membuat kebijakan persediaan yang memusatkan sumber daya pada komponen persediaan penting yang sedikit dan bukan pada yang banyak tetapi tidak penting. Berdasarkan prinsip pareto, material dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori sebagai berikut : 1. Kategori A (80-20) Terdiri dari jenis material yang menyerap dana sekitar 80% dari seluruh modal yang disediakan untuk persediaan dan jumlah jenis materialnya sekitar 20% dari semua jenis material yang dikelola. 2. Kategori B (15-30) Terdiri dari jenis material yang menyerap dana sekitar 15% dari seluruh modal yang disediakan untuk persediaan (sesudah kategori A) dan jumlah jenis materialnya sekitar 30% dari semua jenis material yang dikelola. 3. Kategori C (5-50) Terdiri dari jenis material yang menyerap dana sekitar 5% dari seluruh modal yang disediakan untuk persediaan (yang tidak termasuk kategori A dan B) dan jumlah jenis materialnya sekitar 50% dari semua jenis material yang dikelola. Dalam aplikasi klasifikasi pareto tidak ada ketentuan bahwa harus dibuat 3 kelas (A, B dan C), namun bisa lebih. Hanya saja, terlalu banyak kelas akan menyulitkan pengendalian karena akan tidak jelas lagi beda pengendalian antara satu kelas dengan kelas lainnya. Langkah- langkah untuk mengklasifikasikan material menggunakan analisis ABC adalah : 1. Menghitung total nilai uang per tahun dari masing-masing spare part. Nilai uang ini dapat dihitung dengan persamaan berikut.

2. Mengurutkan tipe material berdasarkan besarnya total nilai uang dari yang terbesar sampai yang terkecil.

34

3. Menghitung presentase total nilai uang kumulatif dari total nilai uang yang telah diurutkan dengan menggunakan persamaan : ( ( ) )

4. Menghitung persentase penggunaan kumulatif dengan menggunakan persamaan : ( ( ) )

5. Mengklasifikasikan jenis spare part berdasarkan persentase total nilai uang kumulatif dan persentase penggunaan kumulatif.

Analisis dilakukan dengan mengevaluasi sistem pengendalian persediaan yang ada dan kemungkinan perbaikan sistem berdasarkan tingkat kekritisan spare part umum pada unit 1-4.

Model EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya (inverse cost) pemesanan persediaan.Rumusan EOQ yang biasa digunakan adalah : Di mana : D = Penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per periode waktu S = Biaya pemesanan (persiapan pesanan dan penyiapan mesin) per pesanan H = Biaya penyimpanan per unit per tahun

4.3

Pengolahan Data dan Analisa Hasil

Data yang digunakan dalam penelitian meliputi: a. Penggunaan spare part umum pada unit 1-4 tahun 2012. Data dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 4.1 Data Spare Part Tahun 2012

36 b. Biaya pengendalian persediaan Biaya pengendalian persediaan, yang meliputi harga material, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dapat dilihat pada tabel dibawah : Tabel 4.3 Biaya pengendalian persediaan

37

Perhitungan nilai uang berdasarkan harga spare part umum pada unit 1-4 untuk tahun 2011 dan 2012.

Tabel 4.4 Harga Spare part mesin umum pada tahun 2012 pada satuan US Dollar Kode Part P001 P002 P003 P004 P005 P006 2012 198,36 383,62 37,8 6,5 22,68 772,35

Berdasarkan data Tabel 4.1, 4.2 dan 4.3 maka perhitungan Analisis ABC dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menghitung total nilai uang dari masing-masing spare part. Total nilai uang dihitung berdasarkan harga spare part (Tabel 4.4) dan penggunaan spare part (Tabel 4.1) dengan menggunakan persamaaan sebagai berikut. Contoh perhitungan total nilai uang untuk spare part P001 tahun 2012 yaitu

Total nilai uang spare part lain dihitung dengan cara yang sama. Hasil perhitungan total nilai uang untuk tahun 2011 dan 2012 selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.5 Tabel 4.5 Total Nilai Uang Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 Kode Part Rata-Rata Penggunaan Per Tahun Harga Material 198,36 383,62 37,8 6,5 22,68 772,35 Nilai Uang 59,508 30,6896 1.118,88 32,5 18,144 3.282,487 4.542,2086

P001 0,3 P002 0,08 P003 29,16 P004 5 P005 0,8 P006 4,25 Total Nilai Uang Tahun 2012

38

2. Mengurutkan tipe material berdasarkan besarnya total nilai uang dari yang terbesar hingga yang terkecil sebagaimana terlihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Urutan Nilai Uang Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 Kode Part Rata-Rata Penggunaan Per Tahun Harga Material Nilai Uang 3282,487 1118,88 59,508 32,5 30,6896 18,144 4.542,2086

P006 4,25 772,35 P003 29,16 37,8 P001 0,3 198,36 P004 5 6,5 P002 0,08 383,62 P005 0,8 22,68 Total Nilai Uang Tahun 2012

39

3. Menghitung persentase total nilai uang kumulatif dari total nilai uang yang telah diurutkan. Persentase total nilai uang kumulatif dihitung berdasarkan nilai uang pada urutan yang bersangkutan, nilai uang kumulatif sebelumnya, dan total nilai uang keseluruhan spare part dengan menggunakan persamaan seperti berikut. ( )

Persentase total nilai uang kumulatif spare part yang lain dihitung dengan cara yang sama. Hasil perhitungan persentase tota l nilai uang kumulatif

untuk tahun 2011 dan 2012 selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.9 dan 4.10.

Tabel 4.9 Persentase Total Nilai Uang Kumulatif Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 Kode Part P006 P003 P001 P004 P002 P005 Rata-Rata Penggunaan Per Tahun 4,25 29,16 0,3 5 0,08 0,8 39,59 Harga Persentase Nilai Uang Material Komulatif 772,35 19,6 41 198,36 6,5 383,62 3282,487 1118,88 59,508 32,5 30,6896 18,144 4.542,2086 72,26631 96,89927 98,20938 98,92489 99,60054 100 Persentase Komulatif Penggunaan 10,7350341 84,3899974 85,1477645 97,7772164 97,9792877 100 Kelas A B B C C C

4. Menghitung persentase penggunaan kumulatif dari banyaknya tipe material berdasarkan total penggunaan yang telah diurutkan. Persentase penggunaan kumulatif dihitung berdasarkan jumlah penggunaan pada urutan yang

bersangkutan, jumlah penggunaan kumulatif sebelumnya, dan total jumlah penggunaan keseluruhan material menggunakan persamaan sebagai berikut.

Tabel 4.11 Persentase penggunaan kumulatif spare part umum tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 Kode Part P003 P004 P006 P005 P001 P002 Penggunaan 29,16 5 4,25 0,8 0,3 0,08 39,59 Persentase Komulatif 73,65 86,28 97,01 99,04 99,79 100 Kelas A B C C C C

5. Mengklasifikasikan jenis spare part berdasarkan persentase total nilai uang kumulatif ke dalam kelas A (0-80%), kelas B (81-90%), dan kelas C (91-100%). Tabel 4.9, 4.10, dan 4.11 menunjukkan hasil analisa ABC berdasar total nilai uang dan penggunaan untuk spare part umum pada unit 1-4 tahun 2012. Dapat dilihat bahwa tidak jumlah pemakaian yang tidak sama setiap tahunnya menyebabkan perbedaan kelas yang didapat. Pada tahun 2012 part yang harus diperhatikan adalah P006 karena merupakan nilai uang paling besar dan P003 dengan penggunaan paling banyak. Berikut adalah fungsi dari sparepart yang memiliki nilai yang paling besar dan penggunaan paling banyak : 1. Soot Blower : Fungsi utama dari sootblower adalah membersihkan pipa boiler dari abu hasil pembakaran. 2. Anti Scale/Scalant : Fungsi dari anti scalant adalah mencegah atau memprelambat terjadinya kerak yang disebabkan oleh air yang dipanaskan pada pipa untuk menjaga tingkat efisiensi

41

Boiler adalah temapt dimana air diubah menjadi uap sebagai tenaga penggerak, abu sisa pembakaran akan dibersikan oleh sootblower

Disini air laut di suling untuk mengurangi kadar mineral lalu dicampurkan anti scalant yang berfungsi menghambat terjadinya kerak. Gambar 4.1 Letak Sparepart Berpengaruh

42

Setelah didapat beberapa part yang merupakan part kritis, maka kita akan mencari EOQ.

1. EOQ untuk part pada tahun 2012 :

Kode part P006 :

Kode part P003 :

43

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis spare part yang termasuk kelas A (penting) pada tahun 2012 part yang harus diperhatikan adalah P006 karena mempunyai nilai uang paling besar dan P003 dengan penggunaan paling banyak.

5.2 Saran

Dalam penelitian ini digunakan Analisis ABC untuk menentukan tingkat kekritisan material berdasarkan total nilai uang dan EOQ untuk menentukan jumlah pemesanan selanjutnya . Pada kenyataannya, masih terdapat faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tingak kekritisan material, misalnya intensitas kerusakan, lead time, dan tingkat kesulitan pengadaan. Isu

44

ini dijadikan dasar pengembangan lebih lanjut penelitian tentang klasifikasi material.

DAFTAR PUSTAKA
Govil, A. K, 1993, Reliability Engineering, McGraw Hill, New Delhi Walpole, Ronald E., Raymond H. Myers, Sharon L. Myers, dan Keying Ye. 2002. Probability & Statistics for Engineers & Scientists 7th Ed. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Corder, Antony & Hadi, Kusnul, 1992, Teknik Manajemen Pemeliharaan, Penerbit Erlangga, Jakarta Nababan, Charles H., 2009, Analisis Keandalan dan Penentuan Persediaan Optimal Komponen Sludge Separator di PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Pabatu, USU. Buku Panduan Kerja Praktek). 2012. Yogyakarta : Prodi Teknik Industri