Anda di halaman 1dari 15

Jumat, 01 April 2011

SYOK HIPOVOLEMIK
1.1 Latar Belakang Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolik yang ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital tubuh. Hal ini muncul akibat kejadian pada hemostasis tubuh yang serius, seperti perdarahan masif, trauma dan luka bakar yang berat syok hipovolemik!, infark miokard luas atau emboli paru syok kardiogenik!, sepsis akibat bakteri yang tidak terkontrol syok sepsis!, tonus vasomotor yang tidak adekuat syok neurogenik! atau akibat respon imun syok anafilaktik!." Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat. #aling sering, syok hipovolemik merupakan akibat kehilangan darah yang cepat syok hemoragik!." $ehilangan darah dari luar yang akut akibat trauma tembus dan perdarahan gastrointestinal yang berat merupakan dua penyebab yang paling sering pada syok hipovolemik. Syok hipovolemik juga dapat merupakan akibat dari kehilangan darah yang akut secara signifikan dalam rongga dada dan rongga abdomen. %ua penyebab utama kehilangan darah dari dalam yang cepat adalah cedera pada organ padat dan rupturnya aneurisma aorta abdominalis. Syok hipovolemik dapat merupakan akibat dari kehilangan cairan yang signifikan selain darah!. %ua contoh syok hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan cairan, antara lain gastroenteritis masif dan luka bakar yang luas." Banyak cedera yang mengancam kehidupan yang terjadi selama perang tahun 1&''-an yang berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan prinsip resusitasi syok hemoragik. Selama perang %unia (, ).B *annon menganjurkan menunda resusitasi cairan hingga penyebab syok hemoargik ditangani dengan pembedahan. $ristaloid dan darah digunakan secara luas selama #erang %unia (( untuk penanganan pasien yang kondisinya tidak stabil. #engalaman dari perang $orea dan +ietnam menunjukkan bah,a resusitasi volume dan intervensi bedah segera sangat penting pada cedera yang menyebabkan syok hemoragik. #rinsip ini dan prinsip yang lain membantu pada perkembangan pedoman yang ada untuk penanganan syok hemoragik traumatik. -amun, peneliti terbaru telah mempertanyakan pedoman ini, dan sekarang, muncul kontroversi seputar penanganan optimal pada syok hemoragik..

/.1. %efinisi Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolik yang ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital tubuh. Hal ini muncul akibat kejadian pada hemostasis tubuh yang serius, seperti perdarahan masif, trauma dan luka bakar yang berat syok hipovolemik!, infark miokard luas atau emboli paru syok kardiogenik!, sepsis akibat bakteri yang tidak terkontrol syok sepsis!, tonus vasomotor yang tidak adekuat syok neurogenik! atau akibat respon imun syok anafilaktik!." Syok diklasifikasikan menurut etiologi, yaitu 0 1. Syok hipovolemik 0 dehidrasi, kehilangan darah dan luka bakar /. Syok distributif 0 kehilangan tonus vascular anafilakfik, septik, syok

toksik! 1. Syok kardiogenik 0 kegagalan pompa jantung 2. Syok obstruktif 0 hambatan terhadap sirkulasi oleh obstruksi instrinsik dan ekstrinsik. 3mboli paru, robekan aneurisma dan tamponade perikardi./ Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat. #aling sering, syok hipovolemik merupakan akibat kehilangan darah yang cepat syok hemoragik!.1, . /./. 3tiologi Syok hipovolemik adalah terganggunya sistem sirkulasi akibat dari volume darah dalam pembuluh darah yang berkurang. Hal ini bisa terjadi akibat dari volume darah yang berkurang. Hal ini bisa terjadi akibat pendarahan yang masif atau kehilangan plasma darah." #enyebab syok hipovolemik dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yang terdiri dari0 1. #erdarahan0 4 Hematom subkapsular hati 4 5neurisma aorta pecah 4 #endarahan gastrointestinal 4 #erlukaan berganda /. $ehilangan plasma0 4 Luka bakar yang luas 4 #ankreatitis 4 %eskuamasi kulit 4 Sindrom %umping 1. $ehilangan cairan ekstraselular0 4 6untah vomitus! 4 %ehidrasi 4 %iare 4 7erapi diuretik yang sangat agresif 4 %iabetes insipidus 4 (nsufisiensi renal /.1. #atofisiologi 7ubuh manusia berespon terhadap pendarahan akut dengan mengaktivasi sistem fisiologi utama sebagai berikut0 sistem hematologi, kardiovaskular, ginjal, dan sistem neuroendokrin.. Sistem hematologi berespon terhadap kehilangan darah yang berat dan akut dengan mengaktivasi kaskade koagulasi dan vasokonstriksi pembuluh darah melalui pelepasan tromboksan 5/ lokal!. Selain itu, platelet diaktivasi juga melalui pelepasan tromboksan 5/ lokal! dan membentuk bekuan darah immatur pada sumber pendarahan. #embuluh darah yang rusak menghasilkan kolagen, yang selanjutnya menyebabkan penumpukan fibrin dan menstabilkan bekuan darah. %ibutuhkan ,aktu sekitar /2 jam untuk menyempurnakan fibrinasi dari bekuan darah dan menjadi bentuk yang sempurna.. Sistem kardiovaskuler pada a,alnya berespon terhadap syok hipovolemik dengan meningkatkan denyut jantung, meningkatkan kontraktilitas miokard, dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer. 8espon ini terjadi akibat peningkatan pelepasan norepinefrin dan penurunan ambang dasar tonus nervus vagus diatur oleh baroreseptor di arcus caroticus, arcus aorta, atrium kiri, dan penbuluh darah pulmonal!. Sistem kardiovaskuler juga berespon dengan mengalirkan darah ke otak, jantung, dan ginjal dengan mengurangi perfusi kulit, otot, dan traktus gastrointestinal..

Sistem renalis berespon terhadap syok hemoragik dengan peningkatan sekresi renin dari apparatus ju9taglomeruler. 8enin akan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin (, yang selanjutnya akan dikonversi menjadi angiotensin (( di paru-paru dah hati. 5ngotensin (( mempunyai / efek utama, yang keduanya membantu perbaikan keadaan pada syok hemoragik, yaitu vasokonstriksi arteriol otot polos, dan menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. 5ldosteron bertanggungja,ab pada reabsorbsi aktif natrium dan akhirnya akan menyebabkan retensi air.. Sistem neuroendokrin berespon terhadap syok hemoragik dengan meningkatan 5ntidiuretik Hormon 5%H! dalam sirkulasi. 5%H dilepaskan dari glandula pituitari posterior sebagai respon terhadap penurunan tekanan darah dideteksi oleh baroreseptor! dan terhadap penurunan konsentrasi natrium yang dideteksi oleh osmoreseptor!. Secara tidak langsung 5%H menyebabkan peningkatan reabsorbsi air dan garam -a*l! pada tubulus distalis, duktus kolektivus, dan lengkung Henle.. 6ekanisme yang rumit yang telah dijelaskan sebelumnya efektif dalam memenuhi perfusi organ vital pada kehilangan darah yang berat. 7anpa resusitasi cairan dan darah dan atau koreksi keadaan patologi yang mendasari perdarahan, perfusi jantung akhirnya akan berkurang, dan kegagalan berbagai organ akan segera terjadi.. #erdarahan akan menurunkan tekanan pengisian darah rata-rata dan menurunkan aliran darah balik ke jantung. Hal inilah yang menimbulkan penurunan curah jantung. *urah jantung yang rendah di ba,ah normal akan menimbulkan beberapa kejadian pada beberapa organ. 6ikrosirkulasi $etika curah jantung turun, tahanan vaskular sistemik akan berusaha untuk meningkatkan tekanan sistemik guna menyediakan perfusi yang cukup bagi jantung dan otak melebihi jaringan lain seperti otot, kulit dan khususnya gastrointestinal. $ebutuhan energy untuk penalaksanaan metabolism di jantung dan otak sangat tinggi tetapi kedua sel organ tersebut tidak mampu menyimpan cadangan energy. Sehingga keduanya sangat bergantung akan kesediaan oksigen dan nutrisi tetapi sangat rentan bila terjadi iskemia yang berat untuk ,aktu yang melebihi kemampuan toleransi jantung dan otak. $etika tekanan arterial rata-rata mean arterial pressure:65#! jatuh hingga ; <' mmHg, maka aliran ke organ akan turun drastis dan fungsi sel di semua organ akan terganggu. -euroendokrin Hipovolemia, hipotensi dan hipoksia dapat dideteksi oleh baroreseptor dan kemoreseptor tubuh. $edua reseptor tadi berperan dalam respons autoimun tubuh yang mengatur perfusi serta substrak lain. $ardiovaskular 7iga variabel seperti 0 pengisian atrium, tahanan terhadap tekanan ejeksi! ventrikel dan kontraksi miokard, bekerja keras dalam mengontrol volume sekuncup. *urah jantung, penentu utama dalam perfusi jaringan, adalah hasil kali volume sekuncup dan frekuensi jantung. Hipovolemia menyebabkan penurunan pengisian ventrikel, yang pada akhirnya menurunkan volume sekuncup. Suatu peningkatan frekuensi jantung sangat bermanfaat namun memiliki keterbatasan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan curah jantung. =astrointestinal 5kibat aliran darah yang menurun ke jaringan intestinal, maka terjadi peningkatan absorpsi endotoksin yang dilepaskan oleh bakteri gram negatif yang mati dalam usus. Hal ini memicu pelebaran darah serta peningkatan metabolisme dan bukan memperbaiki sel dan

menyebabkan depresi jantung. =injal =agal ginjal akut adalah suatu komplikasi dari syok dan hipoperfusi, frekuensi terjadinya sangat jarang karena cepatnya pemberian cairan pengganti. >ang banyak terjadi kini adalah nekrosis tubular akut akibat interaksi antara syok, sepsis dan pemberian obat yang nefrotoksik seperti aminoglikosida dan media kontras angiografi. Secara fisiologi, ginjal mengatasi hipoperfusi dengan mempertahankan garam dan air. #ada saat aliran darah di ginjal berkurang, tahanan arteriol aferen meningkat untuk mengurangi laju filtrasi glomerulus, yang bersama-sama dengan aldosteron dan vesopresin bertanggung ja,ab terhadap menurunnya produksi urin. " #ada syok, konsumsi oksigen dalam jaringan menurun akibat berkurangnya aliran darah yang mengandung oksigen atau berkurangnya pelepasan oksigen ke dalam jaringan. $ekurangan oksigen di jaringan menyebabkan sel terpaksa melangsungkan metabolisme anaerob dan menghasilkan asam laktat. $easaman jaringan bertambah dengan adanya asam laktat, asam piruvat, asam lemak, dan keton Stene-=iesecke, 1&&1!. >ang penting dalam klinik adalah pemahaman kita bah,a fokus perhatian syok hipovolemik yang disertai asidosis adalah saturasi oksigen yang perlu diperbaiki serta perfusi jaringan yang harus segera dipulihkan dengan penggantian cairan. 5sidosis merupakan urusan selanjutnya, bukan prioritas utama.1,? /.2. =ejala $linis =ejala syok hipovolemik cukup bervariasi, tergantung pada usia, kondisi premorbid, besarnya volume cairan yang hilang, dan lamanya berlangsung. $ecepatan kehilangan cairan tubuh merupakan faktor kritis respons kompensasi. #asien muda dapat dengan mudah mengkompensasi kehilangan cairan dengan jumlah sedang dengan vasokonstriksi dan takhikardia. $ehilangan volume yang cukp besar dalam ,aktu lambat, meskipun terjadi pada pasien usia lanjut, masih dapat ditolerir juga dibandingkan kehilangan dalam ,aktu yang cepat atau singkat.1,? =ejala dan tanda yang disebabkan oleh syok hipovolemik akibat non-perdarahan serta perdarahan adalah sama meski ada sedikit perbedaan dalam kecepatan timbulnya syok. 8espon fisiologi yang normal adalah mempertahankan perfusi terhadap otak dan jantung sambil memperbaiki volume darah dalam sirkulasi efektif. %i sini akan terjadi peningkatan kerja simpatis, hiperventilasi, pembuluh vena yang kolaps, pelepasan hormon stress serta ekspansi besar guna pengisian volume pembuluh darah dengan menggunakan cairan interstisial, interselular dan menurunkan produksi urin." #ada pasien dengan kemungkinan syok akibat hipovolemik, ri,ayat penyakit penting untuk menentukan penyebab yang mungkin dan untuk penanganan langsung. Syok hipovolemik akibat kehilangan darah dari luar biasanya nyata dan mudah didiagnosis. #erdarahan dalam kemungkinan tidak nyata, seperti pasien hanya mengeluhkan kelemahan, letargi, atau perubahan status mental. =ejala-gejala syok seperti kelemahan, penglihatan kabur, dan kebingungan, sebaiknya dinilai pada semua pasien. #ada pasien trauma, menentukan mekanisme cedera dan beberapa informasi lain akan memperkuat kecurigaan terhadap cedera tertentu misalnya, cedera akibat tertumbuk kemudi kendaraan, gangguan kompartemen pada pengemudi akibat kecelakaan kendaraan bermotor!.. 5pabila syok telah terjadi, tanda-tandanya akan jelas. #ada keadaan hipovolemia, penurunan darah lebih dari 1. mmHg dan tidak segera kembali dalam beberapa menit. 5dalah penting untuk mengenali tanda-tanda syok, yaitu0 1. $ulit dingin, pucat, dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu

berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan. /. 7akikardia0 peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respons homeostasis penting untuk hipovolemia. #eningkatan kecepatan aliran darah ke mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan. 1. Hipotensi0 karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik dan curah jantung, vasokonstriksi perifer adalah faktor yang esensial dalam mempertahankan tekanan darah. 5utoregulasi aliran darah otak dapat dipertahankan selama tekanan arteri turun tidak di ba,ah "' mmHg. 2. @liguria0 produksi urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik. @liguria pada orang de,asa terjadi jika jumlah urin kurang dari 1' ml:jam.1,? 7anda-tanda vital ortostatik mungkin normal pada individu hipovolemik, atau individu normal dapat memperlihatkan perubahan-perubahan ortostatik yaitu hipotensi. Aadi, gunakan pertimbangan klinis. Sebagai tambahan, ingesti alkohol, makan atau usia lanjut dapat menyebabkan perubahan-perubahan ortostatik dalam tekanan darah dan nadi. #enurunan diastolik ortostatik sebesar 1'-/' mmHg atau peningkatan nadi sebesar 1. detak:detik dianggap bermakna.periksa tanda-tanda vital ortostatik, berbaring dan setelah berdiri selama 1 sampai / menit. 7akikardia biasanya tetap ada tetapi mungkin tidak didapatkan bila ada iritasi diafragma, yang menyebabkan stimulasi vagal. Hipoperfusi ditandai oleh berkurangnya jumlah urin, daya pikir menurun, ekstremitas dingin, bercak-bercak, dll.1,? #ada penderita yang mengalami hipovolemia selama beberapa saat, dia akan menunjukkan adanya tanda-tanda dehidrasi seperti0 1! 7urunnya turgor jaringan /! 6engentalnya sekresi oral dan trakhea, bibir dan lidah menjadi keringB serta 1! Bola mata cekung.1,? %ehidrasi dapat timbul pada diare berat dan asupan oral terbatas karena nausea dan muntah, terutama pada anak kecil dan lanjut usia. %ehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus yang meningkat, berkurangnya jumlah buang air kecil dengan ,arna urine gelap, tidak mampu berkeringat, dan perubahan ortostatik. #ada keadaan berat dapat mengarah ke gagal ginjal akut dan perubahan status ji,a seperti kebingungan dan pusing kepala." %ehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi 1 tingkatan, yaitu 0 1. %ehidrasi ringan hilang cairan /-. C BB! 0 gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak vo9 cholerica!, pasien belum jatuh dalam presyok. /. %ehidrasi sedang hilang cairan .-? C BB! 0 turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, nafas cepat dan dalam. 1. %ehidrasi berat hilang cairan ?-1' C BB! 0 tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun apatis sampai koma!, otot-otot kaku, sianosis." $elainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebab diare. Status volume dinilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, tempratur tubuh dan tanda-tanda toksisitas. #emeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. 5danya kualitas bunyi usus dan adanya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan DclueE bagi etiologi." Aika sadar, pasien mungkin dapat menunjukkan lokasi nyeri. 7anda vital, sebelum diba,a ke unit ga,at darurat sebaiknya dicatat. -yeri dada, perut, atau punggung mungkin menunjukkan gangguan pada pembuluh darah. 7anda klasik pada aneurisma arteri torakalis adalah nyeri yang menjalar ke punggung. 5neurisma aorta abdominalis biasanya menyebabkan nyeri, nyeri punggung atau nyeri panggul.. Skor penilaian klinis dehidrasi 0 1. 8asa haus:muntah 1! /. 7ekanan darah sistolik <'-&' mmHg 1!

1. 7ekanan darah sistolik ;<' mmHg /! 2. Frekuensi nadi G1/' kali:menit 1! .. $esadaran apatis 1! <. $esadaran somnolen, sopor atau koma /! ". Frekuensi nafas G1' kali:menit 1! ?. Facies cholerica /! &. +o9 cholerica /! 1'. 7urgor kulit menurun 1! 11. )asher ,omenHs hand 1! 1/. 3ksremitas dingin 1! 11. Sianosis /! 12. Imur .'-<' tahun 1! 1.. Imur G<' tahun /! Skor %alyono di atas merupakan penilaian dari klinis pasien yang menentukan jumlah kebutuhan cairan yang diberikan pada pasien dehidrasi." #ada pasien dengan perdarahan gastrointestinal, mengumpulkan keterangan hematemesis, melena, ri,ayat minum alkohol, penggunaan obat anti inflamasi non-steroid yang lama, dan koagulopati iatrogenik atau selainnya! adalah sangat penting. $ronologi muntah dan hematemesis harus ditentukan. #ada pasien dengan hematemesis setelah episode berulang muntah yang hebat kemungkinan mengalami Sindrom Boerhaave atau 6allory-)eiss tear, sedangkan pasien dengan ri,ayat hematemesis sejak sejak a,al kemungkinan mengalami ulkus peptik atau varises esofagus. Aika suatu penyebab ginekologik dipertimbangkan, perlu dikumpukan informasi mengenai hal berikut0 periode terakhir menstruasi, faktor risiko kehamilan ektopik, perdarahan pervaginam termasuk jumlah dan durasinya!, produk konsepsi pada saluran vagina, dan nyeri. Semua ,anita usia subur sebaiknya menjalani tes kehamilan, untuk meyakinkan apakah mereka hamil. 7es kehamilan negatif bermakna untuk menyingkirkan diagnosis kehamilan ektopik.. #ada pasien demam berdarah dengue dapat jatuh pada keadaan syok. Syok biasanya terjadi saat atau segera setelah suhu turun, antara hari ke-1 samapai hari sakit ke-". #asien mulamula terlihat letargi atau gelisah kemudian jatuh ke dalam syok yang ditandai dengan kulit dinginJlembab, sianosis sekitar mulut, nadi cepat-lemah, tekanan nadi ;/' mmHg dan hipotensi. $ebanyakan pasien masih tetap sadar sekalipun sudah mendekati stadium akhir. #erubahan ini memperlihatkan gejala gangguan sirkulasi, sebagai akibat dari perembesan plasma. $ondisi ini dapat diperberat dengan komplikasi yaitu asidosis metabolic, perdarahan saluran cerna hebat atau pendarahan lain, hal ini pertanda prognosis buruk.2 Hipovolemia ringan ;/' C volume darah! menimbulkan takikardi ringan dengan sedikit gejala yang tampak, terutama pada penderita muda yang sedang berbaring. #ada hipovolemia sedang /'-2' C dari volume darah! pasien menjadi lebih cemas dan takikardia lebih jelas, meski tekanan darah bisa ditemukan normal pada posisi berbaring, namun dapat ditemukan dengan jelas hipotensi ortostatik dan takikardia. #ada hipovolemia berat maka gejala klasik syok akan muncul, tekanan darah menurun drastis dan tidak stabil ,alau posisi berbaring, pasien menderita takikardia hebat, oliguria, agitasi atau bingung. #erfusi ke susunan saraf pusat dipertahankan dengan baik sampai syok bertambah berat. #enurunan kesadaran adalah gejala penting. 7ransisi dari syok hipovolemik ringan ke berat dapat terjadi bertahap atau malah sangat cepat, terutama pada pasien usia lanjut dan yang memiliki penyakit berat dimana kematian mengancam. %alam ,aktu yang sangat pendek dari terjadinya kerusakan akibat syok maka dengan resusitasi agresif dan cepat." /... Stadium Syok Syok secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium, yaitu 0

1. Stadium kompensasi #ada stadium ini fungsi organ vital dipertahankan melalui mekanisme kompensasi fisiologis tubuh dengan cara meningkatkan refleks simpatis, sehingga terjadi 0 a. 8esistensi sistemik meningkat 0 - distribusi selektif aliran darah dari organ sekunder ke organ primer jantung, paru, otak! - resistensi arteriol meningkat diastolic pressure meningkat. b. Heart rate meningkat cardiac output meningkat. c. Sekresi vasopressin, renin-angiotensin-aldosteron meningkat ginjal menahan air dan sodium di dalam sirkulasi. 6anifestasi klinis 0 takikardia, gelisah, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler lambat lebih dari / detik!. /. Stadium dekompensasi #ada stadium ini telah terjadi 0 a. #erfusi jaringan buruk @/ sangat turun metabolism anaerob laktat meningkat laktat asidosis, diperberat oleh penumpukan *@/ , dimana *@/ menjadi asam karbonat. b. =angguan metabolisme energy dependent -aK:$K pump tingkat seluler integritas membran sel terganggu, fungsi lisosom dan mitokondria memburuk kerusakan sel. c. 5liran darah lambat dan kerusakan rantai kinin serta sistem koagulasi, akan diperburuk dengan terbentuknya agregasi trombosit dan pembentukan trombus disertai tendensi perdarahan. d. #elepasan mediator vaskular 0 histamine, serotonin, sitokin 7-F alfa dan interleukin (!, 9antin o9ydase membentuk oksigen radikal serta platelets aggregating factor. #elepsan mediator oleh makrofag menyebabkan vasodilatasi arteriol dan permeabilitas kapiler meningkat venous return menurun preload turun cardiac output turun. 6anifestasi klinis 0 takikardia, tekanan darah sangat turun, perfusi perifer buruk, asidosis, oliguria dan kesadaran menurun. 1. Stadium irreversible Syok yang berlanjut akan menyebabkan kerusakan dan kematian sel multi organ failure. *adangan phosphate berenergi tinggi 57#! akan habis terutama di jantung dan hepar tubuh kehabisan energi. 6anifestasi klinis 0 nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur. 5nuria dan tanda-tanda kegagalan organ.< /.<. #emeriksaan Fisik #emeriksaan fisik seharusnya selalu dimulai dengan penanganan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi. $etiganya dievaluasi dan distabilkan secara bersamaan, sistem sirkulasi harus dievaluasi untuk tanda-tanda dan gejala-gejala syok. Aangan hanya berpatokan pada tekanan darah sistolik sebagai indikator utama syokB hal ini menyebabkan diagnosis lambat.. 6ekanisme kompensasi mencegah penurunan tekanan darah sistolik secara signifikan hingga pasien kehilangan 1'C dari volume darah. Sebaiknya nadi, frekuensi pernapasan, dan perfusi kulit lebih diperhatikan. Auga, pasien yang mengkonsumsi beta bloker mungkin tidak mengalami takikardi, tanpa memperhatikan derajat syoknya. $lasifikasi perdarahan telah ditetapkan, berdasarkan persentase volume darah yang hilang. -amun, perbedaan antara klasifikasi tersebut pada pasien hipovolemik sering tidak nyata. #enanganan sebaiknya agresif dan langsung lebih berkaitan pada respon terapi dibandingkan klasifikasi a,al.. 7elah ditetapkan klasifikasi perdarahan berdasarkan persentasi volume darah yang hilang. -amun sifatnya tidak absolut dan hanya bersifat sebagai bantuan. 7atalaksana harus agresif

dan lebih dituntun oleh respon terhadap terapi ketimbang menurut klasifikasi a,al./ #endarahan derajat ( kehilangan darah '-1.C! tidak ada komplikasi, hanya terjadi takikardi minimal. Biasanya tidak terjadi perubahan tekanan darah, tekanan nadi, dan frekuensi pernapasan. #erlambatan pengisian kapiler lebih dari 1 detik sesuai untuk kehilangan darah sekitar 1'C.. #endarahan derajat (( kehilangan darah 1.-1'C!. =ejala klinisnya, takikardi frekuensi nadiG1'' kali permenit!, takipnea, penurunan tekanan nadi, kulit teraba dingin, perlambatan pengisian kapiler, dan ansietas ringan . #enurunan tekanan nadi adalah akibat peningkatan kadar katekolamin, yang menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan selanjutnya meningkatkan tekanan darah diastolik.. #endarahan derajat ((( kehilangan darah 1'-2'C!. #asien biasanya mengalami takipnea dan takikardi, penurunan tekanan darah sistolik, oligouria, dan perubahan status mental yang signifikan, seperti kebingungan atau agitasi. #ada pasien tanpa cedera yang lain atau kehilangan cairan, 1'-2'C adalah jumlah kehilangan darah yang paling kecil yang menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik. Sebagian besar pasien ini membutuhkan transfusi darah, tetapi keputusan untuk pemberian darah seharusnya berdasarkan pada respon a,al terhadap cairan.. #erdarahan derajat (+ kehilangan darah G2'C!. =ejala-gejalanya berupa takikardi, penurunan tekanan darah sistolik, tekanan nadi menyempit atau tekanan diastolik tidak terukur!, berkurangnya tidak ada! urine yang keluar, penurunan status mental kehilangan kesadaran!, dan kulit dingin dan pucat. Aumlah perdarahan ini akan mengancam kehidupan secara cepat.. #ada pasien dengan trauma, pendarahan biasanya dicurigai sebagai penyebab dari syok. -amun, hal ini harus dibedakan dengan penyebab syok yang lain. %iantaranya tamponade jantung bunyi jantung melemah, distensi vena leher!, tension pneumothora9 deviasi trakea, suara napas melemah unilateral!, dan trauma medulla spinalis kulit hangat, jarang takikardi, dan defisit neurologis!.. 5da empat daerah pendarahan yang mengancam ji,a meliputi0 dada, perut, paha, dan bagian luar tubuh. %ada sebaiknya diauskultasi untuk mendengar bunyi pernapasan yang melemah, karena pendarahan yang mengancam hidup dapat berasal dari miokard, pembuluh darah, atau laserasi paru. 5bdomen seharusnya diperiksa untuk menemukan jika ada nyeri atau distensi, yang menunjukkan cedera intraabdominal. $edua paha harus diperiksa jika terjadi deformitas atau pembesaran tanda-tanda fraktur femur dan pendarahan dalam paha!. Seluruh tubuh pasien seharusnya diperiksa untuk melihat jika ada pendarahan luar.. #ada pasien tanpa trauma, sebagian besar pendarahan berasal dari abdomen. 5bdomen harus diperiksa untuk mengetahui adanya nyeri, distensi, atau bruit. 6encari bukti adanya aneurisma aorta, ulkus peptikum, atau kongesti hepar. Auga periksa tanda-tanda memar atau perdarahan.. #ada pasien hamil, dilakukan pemeriksaan dengan spekulum steril. 6eskipun, pada pendarahan trimester ketiga, pemeriksaan harus dilakukan sebagai Ddouble set-upE di ruang operasi. #eriksa abdomen, uterus,atau adneksa.. /.". %iagnosis Syok hipovolemik didiagnosis ketika ditemukan tanda berupa ketidak-stabilan hemodinamik dan ditemukan adanya sumber pendarahan. %iagnosis akan sulit bila pendarahan tidak ditemukan dengan jelas atau berada dalam traktus gastrointestinal atau hanya terjadi penurunan jumlah plasma darah. Setelah pendarahan maka biasanya hemoglobin dan hematokrit tidak langsung turun sampai terjadi gangguan kompensasi atau terjadi penggantian cairan dari luar. Aadi kadar hematokrit di a,al tidak menjadi pegangan sebagai adanya pendarahan. $ehilangan plasma ditandai dengan hemokonsentrasi, kehilangan cairan

bebas ditandai dengan hipernatremia. 7emuan terhadap hal ini semakin meningkatkan kecurigaan adanya hipovolemia." #ada pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas, yaitu nausea, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, bisa air, malabsorbtif, atau berdarah yang tergantung bakteri pathogen yang spesifik. %erajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan 0 1. $eadaan klinis 0 ringan, sedang dan berat telah dibicarakan di atas! /. Berat Aenis #lasma 0 pada dehidrasi BA plasma meningkat a. %ehidrasi berat 0 BA plasma 1,'1/ J 1,'2' b. %ehidrasi sedang 0 BA plasma 1,'/? J 1,'1/ c. %ehidrasi ringan 0 BA plasma 1,'/. J 1,'/? 1. #engukuran *entral +enous #ressure *+#! 0 Bila *+# K2 s:d K11 cmH/@ 0 normal. #ada syok dan dehidrasi maka *+# kurang dari K2 cmH/@." Aangan mengandalkan 7% sistolik sebagai indikator utama dari syokB kebiasaan ini mengakibatkan tertundanya diagnosis. 6ekanisme kompensasi mencegah penurunan 7% sistolik yang bermakna, sampai pasien telah kehilangan 1'C dari volume darahnya. #erhatian harus lebih ditujukan terhadap nadi, frekuensi nafas, dan perfusi kulit. %isamping itu, pasienpasien yang sedang mendapat obat penyekat beta mungkin tidak memperlihatkan takikardia, tanpa memandang derajat syoknya./ Harus dibedakan syok akibat hipovolemik dan akibat kardiogenik karena penatalaksanaan yang berbeda. $eduanya memang memiliki penurunan curah jantung dan mekanisme kompensasi simpatis. 7etapi dengan menemukan adanya tanda syok kardiogenik seperti distensi vena jugularis, ronki dan gallop S1 maka semua dapat dibedakan." #emeriksaan Laboratorium Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan, langkah diagnosis selanjutnya tergantung pada penyebab yang mungkin pada hipovolemik, dan stabilitas dari kondisi pasien itu sendiri." #emeriksaan laboratorium a,al yang sebaiknya dilakukan antara lain0 analisis *omplete Blood *ount *B*!, kadar elektrolit -a, $, *l, H*@1, BI-, kreatinin, kadar glukosa!, #7, 5#77, 5=%, urinalisis pada pasien yang mengalami trauma!, dan tes kehamilan. %arah sebaiknya ditentukan tipenya dan dilakukan pencocokan.. #emeriksaan 8adiologi #asien dengan hipotensi dan:atau kondisi tidak stabil harus pertama kali diresusitasi secara adekuat. #enanganan ini lebih utama daripada pemeriksaan radiologi dan menjadi intervensi segera dan memba,a pasien cepat ke ruang operasi.. Langkah diagnosis pasien dengan trauma, dan tanda serta gejala hipovolemia langsung dapat ditemukan kehilangan darah pada sumber perdarahan. #asien trauma dengan syok hipovolemik membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi di unit ga,at darurat jika dicurigai terjadi aneurisma aorta abdominalis. Aika dicurigai terjadi perdarahan gastrointestinal, sebaiknya dipasang selang nasogastrik, dan gastric lavage harus dilakukan. Foto polos dada posisi tegak dilakukan jika dicurigai ulkus perforasi atau Sindrom Boerhaave. 3ndoskopi dapat dilakukan biasanya setelah pasien tertangani! untuk selanjutnya mencari sumber perdarahan.. 7es kehamilan sebaiknya dilakukan pada semua pasien perempuan usia subur. Aika pasien hamil dan sementara mengalami syok, konsultasi bedah dan ultrasonografi pelvis harus segera dilakukan pada pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas tersebut. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik sering terjadi. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik pada pasien dengan hasil tes kehamilan negatif jarang, namun pernah dilaporkan..

Aika dicurigai terjadi diseksi dada karena mekanisme dan penemuan dari foto polos dada a,al, dapat dilakukan transesofageal echocardiography, aortografi, atau *7-scan dada.. Aika dicurigai terjadi cedera abdomen, dapat dilakukan pemeriksaan F5S7 Focused 5bdominal Sonography for 7rauma! yang bisa dilakukan pada pasien yang stabil atau tidak stabil. *7-Scan umumnya dilakukan pada pasien yang stabil. Aika dicurigai fraktur tulang panjang, harus dilakukan pemeriksaan radiologi.. /.?. %ifferensial %iagnosis Solusio plasenta $ehamilan ektopik 5neurisma abdominal #endarahan post partum 5neurisma thoracis trauma pada kehamilan Fraktur femur Syok hemoragik Fraktur pelvis Syok hipovolemik =astritis dan ulkus peptikum 7oksik #lasenta previa . /.&. #enatalaksanaan 7iga tujuan penanganan kega,atdaruratan pasien dengan syok hipovolemik antara lain0 1! memaksimalkan pengantaran oksigen-dilengkapi dengan ventilasi yang adekuat, peningkatan saturasi oksigen darah, dan memperbaiki aliran darah /! mengontrol kehilangan darah lebih lanjut 1! resusitasi cairan.. $etika hipovolemik diketahui maka tindakan yang harus dilakukan adalah menempatkan pasien dalam posisi kaki lebih tinggi, menjaga jalur pernafasan dan diberikan resusitasi cairan dengan cepat le,at akses intra vena atau cara lain yang memungkinkan seperti pemasangan kateter *+# central venous pressure! atau jalur intraarterial. *airan yang diberikan adalah garam isotonus yang diteteskan dengan cepat hati-hati terhadap asidosis hiperkloremia! atau dengan cairan garam seimbang seperti 8ingerHs laktat 8L! dengan jarum infus yang terbesar. 7idak ada bukti medis tentang kelebihan pemberian cairan koloid pada syok hipovolemik. #emberian /-2 L dalam /'-1' menit diharapkan dapat mengembalikan keadaan hemodinamik." 8esusitasi *airan 6anajemen cairan adalah penting dan kekeliruan manajemen dapat berakibat fatal. Intuk mempertahankan keseimbangan cairan maka input cairan harus sama untuk mengganti cairan yang hilang. *airan itu termasuk air dan elektrolit. 7ujuan terapi cairan bukan untuk kesempurnaan keseimbangan cairan, tetapi penyelamatan ji,a dengan menurunkan angka mortalitas.1,? 6emaksimalkan penghantaran oksigen. Aalan napas pasien sebaiknya dibebaskan segera dan stabilisasi jika perlu. $edalaman dan frekuensi pernapasan, dan juga suara napas, harus diperhatikan. Aika terjadi keadaan patologi seperti pneumothoraks, hemothoraks, dan flail chest! yang mengganggu pernapasan, harus segera ditangani. 7ambahan oksigen dalam jumlah besar dan bantuan ventilator harus diberikan pada semua pasien. +entilasi tekanan positif yang berlebihan dapat berbahaya pada pasien yang mengalami syok hipovolemik dan sebaiknya dihindari.. #osisi pasien dapat digunakan untuk memperbaiki sirkulasiB salah satu contohnya menaikkan kedua kaki pasien sementara cairan diberikan. *ontoh lain dari posisi yang bermanfaat adalah memiringkan pasien yang sementara hamil dengan trauma kearah kirinya, dengan tujuan memposisikan janin menjauhi vena cava inferior dan meningkatkan sirkulasi. #osisi 7rendelenburg tidak dianjurkan untuk pasien dengan hipotensi karena dikha,atirkan terjadi aspirasi. #osisi 7rendelenburg juga tidak memperbaiki keadaan kardiopulmonal dan dapat mengganggu pertukaran udara..

#erdarahan yang banyak syok hemoragik! akan menyebabkan gangguan pada fungsi kardiovaskuler. Syok hipovolemik karena perdarahan merupakan akibat lanjut. #ada keadaan demikian, memperbaiki keadaan umum dengan mengatasi syok yang terjadi dapat dilakukan dengan pemberian cairan elektrolit, plasma, atau darah.Intuk perbaikan sirkulasi, langkah utamanya adalah mengupayakan aliran vena yang memadai. 6ulailah dengan memberikan infus Saline atau 8inger Laktat isotonis.1,? 8esusitasi cairan yang cepat merupakan landasan untuk terapi syok hipovolemik. Sumber kehilangan darah atau cairan harus segera diketahui agar dapat segera dilakukan tindakan. *airan infus harus diberikan dengan kecepatan yang cukup untuk segera mengatasi defisit atau kehilangan cairan akibat syok. #enyebab yang umum dari hipovolemia adalah pendarahan, kehilangan plasma atau cairan tubuh lainnya seperti luka bakar, peritonitis, gastroenteritis yang lama atau emesis, dan pankreatitis akuta. #emilihan *airan (ntravena. #emilihan cairan sebaiknya didasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang ada. Berbagai larutan parenteral telah dikembangkan menurut kebutuhan fisiologis berbagai kondisi medis.1,? #risip menentukan jumlah cairan yang akan diberikan yaitu sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari tubuh. 6acam-macam pemberian cairan 0 1. BA plasma dengan rumus 0 $ebutuhan cairan L BA plasma J 1,'/. 9 Berat badan 9 2 ml ',''1 /. 6etode #ierce berdasarkan klinis 0 %ehidrasi ringan, kebutuhan cairan L .C 9 Berat badan kg! %ehidrasi sedang, kebutuhan cairan L ?C 9 Berat badan kg! %ehidrasi berat, kebutuhan cairan L 1'C 9 berat badan kg! 1. 6etode %aldiyono berdasarkan skor klinis 0 $ebutuhan cairan L skor 9 1'C 9 kgBB 9 1 liter 1. Bila skor kurang dari 1 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan cairan peroral sebanyak mungkin, sedikit demi sedikit!. Bila skor lebih atau sama dengan 1 disertai syok diberikan cairan per intravena. "! *airan rehidrasi pada dehidrasi dapat diberikan melalui oral, enteral melalui selangnasogastrik atau intravena. "! Bila dehidrasi sedang:beratsebaiknya pasien diberikan cairan melalui infuse pembuluh darah. Sedangkan dehidrasi ringan sebaiknya pasien diberikan cairan peroral atau selang nasogastrik, kecuali bila ada kontraindikasi atau oral:saluran cerna atas tidak dapat dipakai. #emberian per oral diberikan larutan oralit yang hipotonik dengan komposisi /& gr glukosa, 1,. gr -a*l, /,. -atrium Bicarbonat dan 1,. gr $*l setiap liter. *ontoh oralit generik, renalyte, pharolit, dll. #emberian cairan dehidrasi terbagi atas 0 a. %ua jam pertama tahap rehidrasi inisial! 0 jumlah total kebutuhan cairan menurut rumus BA plasma atau %aldiyono diberikan langsung dalam / jam, ini agar dapat tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin. b. Satu jam berikutnya:jam ke-1 tahap kedua! pemberian diberikan berdasarkan kehilangan cairan selama / jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya. Bila tidak ada syok atau skor %aldiyono kurang dari 1 dapat diganti cairan per oral. c. Aam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja dan insensible ,ater loss ()L!." Sebaiknya dibuat dua jalur intravena berdiameter besar. Hukum #oeseuille mengatakan bah,a aliran berbanding terbalik dengan panjang kateter infus dan berhubungan langsung dengan diameter. Sehingga kateter infus intravena yang ideal adalah pendek dan diameternya

lebarB diameter lebih penting daripada panjangnya. Aalur intravena dapat ditempatkan pada vena antecubiti, vena sphena, atau vena tangan, atau pada vena sentralis dengan menggunakan teknik Seldinger. Aika digunakan jalur utama vena sentralis maka digunakan kateter infus berdiameter lebar. #ada anak kurang dari < tahun dapat digunakan jalur intraosseus. Faktor yang paling penting dalam melakukannya adalah skill dan pengalaman. #engadaan infus arteri perlu dipertimbangkan pada pasien dengan perdarahan hebat. Intuk pasien ini, infus arteri akan memonitoring tekanan darah secara berkala dan juga analisa gas darah.. #ada jalur intravena, cairan yang pertama digunakan untuk resusitasi adalah kristaloid isotonik, seperti 8inger Laktat atau Saline -ormal. Bolus a,al 1-/ liter pada orang de,asa /' ml:kgBB pada pasien anak!, dan respon pasien dinilai. Aika tanda vital sudah kembali normal, pasien dia,asi agar tetap stabil dan darah pasien perlu dikirim untuk dicocokkan. Aika tanda vital membaik sementara, infus kristaloid dilanjutkan dan dipersiapkan darah yang cocok. Aika perbaikan yang terjadi tidak bermakna atau tidak ada, infus kristaloid harus dilanjutkan, dan darah @ diberikan darah tipe @ rhesus -! harus diberikan kepada pasien ,anita usia subur untuk mencegah sensitasi dan komplikasi lanjut!. Aika pasien sekarat dan hipotensi berat syok derajat (+!, diberikan cairan kristaloid dan darah tipe @. #edoman pemberian kristaloid dan darah tidak diatur, terapi yang diberikan harus berdasarkan kondisi pasien.. 7erapi cairan intravena atau infus merupakan salah satu aspek terpenting yang menentukan dalam penanganan dan pera,atan pasien. 7erapi a,al pasien hipotensif adalah cairan resusitasi dengan memakai / liter larutan isotonis 8inger Laktat. -amun, 8inger Laktat tidak selalu merupakan cairan terbaik untuk resusitasi. 8esusitasi cairan yang adekuat dapat menormalisasikan tekanan darah pada pasien kombustio 1?J/2 jam sesudah cedera luka bakar. Larutan parenteral pada syok hipovolemik diklasifikasi berupa cairan kristaloid, koloid, dan darah.1,? *airan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik. $euntungan cairan kristaloid antara lain mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi, dan sedikit efek samping. $elebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah. Larutan -a*l isotonis dianjurkan untuk penanganan a,al syok hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia atau alkalosis metabolik. Larutan 8L adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler. 8L dapat diberikan dengan aman dalam jumlah besar kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis metabolik, kombustio, dan sindroma syok. -a*l ',2.C dalam larutan %e9trose .C digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti kehilangan cairan insensibel.8inger asetat memiliki profil serupa dengan 8inger Laktat. 7empat metabolisme laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal, sedangkan asetat dimetabolisme pada hampir seluruh jaringan tubuh dengan otot sebagai tempat terpenting. #enggunaan 8inger 5setat sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. 5danya laktat dalam larutan 8inger Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.1,? #ertanyaan apakah kristaloid atau koloid yang terbaik untuk resusitasi merupakan bahan diskusi dan penelitian. Banyak cairan telah dikaji untuk resusitasi, antara lain 0 -a*l ',&C, larutan 8inger Laktat, -a*l hipertonik, albumin, fraksi protein murni, plasma beku segar, hetastarch, pentastarch dan dekstran "'. #enganut resusitasi koloid berkilah bah,a tekanan onkotik yang meningkat karena penggunaan Mat-Mat ini adalah mengurangi edema paru. -amun, vaskular paru memungkinkan aliran Mat dalam jumlah besar, termasuk protein, di antara ruang intravaskular dan interstisial. %ipertahankannya tekanan hidrostatik paru penting dalam mencegah edema paru. 5lasan lain adalah dengan koloid lebih sedikit jumlah yang

dibutuhkan untuk meningkatkan volume intravaskular. (nfus 8inger Laktat sebanyak 1 L hanya menambah volume intravaskular sebesar 1&2 ml. Banyak kajian membenarkan hal ini. 8esusitasi dengan kristaloid saja akan mengencerkan protein plasma dan dengan mengurangi tekanan onkotik memudahkan filtrasi cairan dari inravaskular ke interstisial. 3dema perifer bisa mengurangi konsumsi oksigen secara mencolok karena jarak anara sel dan kapiler menjadi bertambah. )alaupun demikian, perbedaan prognosis belum ditunjukkan antara koloid dan kristaloid./ Larutan koloid sintetik, seperti hetastarch, pentastarch dan deksran "', memiliki beberapa keunggulan dibandingkan koloid alamiah seperti fraksi protein murni, plasma beku segar, dan albumin. 6ereka memiliki sifat ekspansi volume sama, tetapi karena struktur dan berat molekul yang tinggi, Mat-Mat koloid ini hampir seluruhnya tetap di ruangan intravaskular, sehingga mengurangi edema interstisial./ #endapat lain adalah koloid dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk meningkatkan volume intravaskuler. #enelitian telah menunjukkan akan kebenaran hal ini. -amun, mereka belum menunjukkan perbedaan hasil antara koloid dibandingkan dengan kristaloid. Larutan koloid sintetik, seperti hetastarch, pentastarch, dan de9tran "' mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan koloid alami seperti fraksi protein murni, fresh froMen plasma, dan albumin. Larutan ini mempunyai Mat dengan volume yang sama, tetapi karena strukturnya dan berat molekul yang tinggi, maka kebanyakan tetap berada pada intravaskuler, mengurangi edema intertisiel. 6eskipum secara teoritis menguntungkan, penelitian gagal menunjukkan perbedaan pada parameter ventilasi, hasil tes fungsi paru, lama penggunaan ventilator, lama pera,atan, atau kelangsungan hidup.. $ombinasi salin hipertonis dan de9tran juga telah dipelajari sebelumnya karena fakta-fakta menunjukkan bah,a hal ini dapat meningkatkan kontraktilitas dan sirkulasi jantung. #enelitian di 5merika Serikat dan Aepang gagal menunjukkan perbedaan kombinasi ini jika dibandingkan dengan larutan natrium klorida isotonik atau ringer laktat. Selanjutnya, meski ada banyak cairan resusitasi yang dapat digunakan, tetap dianjurkan untuk menggunakan Saline -ormal atau 8inger Laktat. %i 5merika Serikat, satu alasan untuk menggunakan kristaloid untuk resusitasi adalah harga cairan tersebut./,. 8ekomendasi terbaru adalah resusitasi cairan yang agresif dilakukan dengan 8inger Laktat atau Saline -ormal pada semua pasien dengan tanda-tanda dan gejala-gejala syok tanpa memperhatikan penyebab yang mendasari.. 5utortransfusi mungkin dilakukan pada beberapa pasien trauma. Beberapa alat diiMinkan untuk koleksi steril, antikoagulasi, filtrasi, dan retransfusi darah disediakan. #ada penanganan trauma. %arah yang berasal dari hemothoraks dialirkan melalui selang thorakostomi.. $ontol perdarahan lanjut. $ontrol perdarahan tergantung sumber perdarahan dan sering memerlukan intervensi bedah. #ada pasien dengan trauma, pendarahan luar harus diatasi dengan menekan sumber perdarahan secara langsung, pendarahan dalam membutuhkan intervensi bedah. Fraktur tulang panjang ditangani dengan traksi untuk mengurangi kehilangan darah. #ada pasien dengan nadi yang tidak teraba di unit ga,at darurat atau a,al tibanya, dapat diindikasikan torakotomi emergensi dengan klem menyilang pada aorta diindikasikan untuk menjaga suplai darah ke otak. 7indakan ini hanya bersifat paliatif dan butuh segera diba,a di ruang operasi.. #ada pasien dengan perdarahan varises, penggunaan Sengstaken-Blakemore tube dapat dipertimbangkan. 5lat ini memiliki balon gaster dan balon esofagus. Balon gaster pertama dikembangkan dan dilanjutkan balon esofagus bila perdarahan berlanjut. #enggunaan selang ini dikaitkan dengan akibat yang buruk, seperti ruptur esofagus, asfiksi, aspirasi, dan ulserasi mukosa. @leh karena alasan tersebut, penggunaan ini dipertimbangkan hanya sebagai alat sementara pada keadaan yang ekstrim. #ada dasarnya penyebab perdarahan akut pada sistem reproduksi contohnya kehamilan ektopik, plasenta previa, solusio plasenta, ruptur kista,

keguguran! memerlukan intervensi bedah./,. Hampir semua pendarahan ginekologi yang menyebabkan hipovolemia misalnya kehamilan ektopik, plasenta previa, abruptio plasenta, kista ruptur, keguguran! membutuhkan intervensi bedah./ #ada pasien dengan perdarahan gastrointestinal, vasopressin intravena dan H/ bloker telah digunakan. +asopressin umumnya dihubungkan dengan reaksi negatif, seperti hipertensi, aritmia, gangren, dan iskemia miokard atau splanikus. @leh karena itu, harus dipertimbangkan untuk penggunaannya secara tetap. H/ Bloker relatif aman, tetapi tidak terlalu menguntungkan. (nfus somatostatin dan ocreotide telah menunjukkan adanya pengurangan perdarahan gastrointestinal yang bersumber dari varises dan ulkus peptikum. @bat ini membantu kerja vasopressin tanpa efek samping yang signifikan./,. 7ujuan farmakoterapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan mencegah komplikasi. @bat anti sekretorik, obat ini memiliki efek vasokonstriksi dan dapat mengurangi aliran darah ke sistem porta. Somatostatin Necnil!, secara alami menyebabkan tetrapeptida diisolasi dari hipotalamus dan pankreas dan sel epitel usus. Berkurangnya aliran darah ke sistem portal akibat vasokonstriksi. 6emiliki efek yang sama dengan vasopressin, tetapi tidak menyebabkan vasokonstriksi arteri koroner. *epat hilang dalam sirkulasi, dengan ,aktu paruh 1-1 menit. %osis %e,asa 0 bolus intravena /.' mcg, dilanjutkan dengan /.'-.'' mcg:jam, infus selanjutnyaB maintenance /-. hari jika berhasil. 7indak dianjurkan interaksi epinefrin, demeclocycline, dan tambahan hormon tiroid dapat mengurangi efek obat ini. $ontraindikasi Hipersensitifitas dan kehamilan. 8isiko yang fatal ditunjukkan pada binatang percobaan, tetapi tidak diteliti pada manusia, dapat digunakan jika keuntungannya lebih besar daripada risiko terhadap janin. %apat menyebabkan eksaserbasi atau penyakit kandung kemihB mengubah keseimbangan pusat pengaturan hormon dan dapat menyebabkan hipotiroidisme dan defek konduksi jantung. @creotide Sandostatin! @ktapeptida sintetik, dibandingkan dengan somatostatin memiliki efek farmakologi yang sama dengan potensi kuat dan masa kerja yang lama. %igunakan sebagai tambahan penanganan non operatif pada sekresi fistula kutaneus dari abdomen, duodenum, usus halus jejunum dan ileum!, atau pankreas. %osis %e,asa0 /.-.' mcg:jam intravena, kontinyuB dapat dilanjutkan dengan bolus intravena .' mcgB penanganan hingga . hari. 5nak-anak 1-1' mcg:kgBB intravena O 1/ jamB dilarutkan dalam .'-1'' ml Saline -ormal atau %.). $ontraindikasi hipersensitivitas kehamilan risiko terhadap janin tidak diteliti pada manusia, tetapi telah ditunjukkan pada beberapa penelitian pada binatang. #erhatian 3fek samping yang utama berhubungan dengan perubahan motilitas gastrointestinal, termasuk mual, nyeri abdomen, diare, dan peningkatan batu empedu dan batu kandung kemihB hal ini karena perubahan pada pusat pengaturan hormon insulin, glukagon, dan hormon pertumbuhan!, dapat timbul hipoglikemia, bradikardi, kelainan konduksi jantung, dan pernah dilaporkan terjadi aritmia, karena penghambatan sekresi 7SH dapat terjadi hipotiroidisme, hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal, kolelithiasis dapat terjadi.. $onsultasi segera dan penanganan yang tepat adalah kuncinya. 7ujuan penanganan kega,atdaruratan adalah untuk menstabilkan keadaan pasien hipovolemik, menentukan penyebab perdarahan, dan menyediakan penanganan yang tepat sesegera mungkin. Aika perlu untuk memba,a pasien ke rumah sakit lain, hal ini harus dilakukan segera.. $3S(6#IL5Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat. #aling sering,

syok hipovolemik merupakan akibat kehilangan darah yang cepat syok hemoragik!. =ejala dan tanda yang disebabkan oleh syok hipovolemik akibat non-perdarahan serta perdarahan adalah sama meski ada sedikit perbedaan dalam kecepatan timbulnya syok. =ejala klasik syok yaitu, tekanan darah menurun drastis dan tidak stabil ,alau posisi berbaring, pasien menderita takikardia hebat, oliguria, agitasi atau bingung, peningkatan kerja simpatis, hiperventilasi, pembuluh vena yang kolaps, pelepasan hormone stress serta ekspansi besar guna pengisian volume pembuluh darah dengan menggunakan cairan interstisial, interselular dan menurunkan produksi urin. 7iga tujuan penanganan kega,atdaruratan pasien dengan syok hipovolemik antara lain0 1! memaksimalkan pengantaran oksigen-dilengkapi dengan ventilasi yang adekuat, peningkatan saturasi oksigen darah, dan memperbaiki aliran darah, /! mengontrol kehilangan darah lebih lanjut, dan 1! resusitasi cairan. 7enaga medis diharapkan dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat saat menghadapi pasien dalam kondisi syok terutama syok hipovolemik dimana terjadi kehilangan cairan dalam jumlah besar. %iharapkan penanganan yang komprehensif dan cepat pada pasien syok dapat membantu menyelamatkan ji,a pasien.

%5F758 #IS75$5 1. *or,in, 3liMabeth A. /''1. #atofisiologi. 3=*. Aakarta. Hal. 1&'. /. =raber, 6ark 5. /''/. 7erapi *airan, 3lektrolit, dan 6etabolik. Farmamedia. Aakarta. Hal. 1-&. 1. FH Feng, $6 Fock. 1&&<. #engantar #enuntun #engobatan %arurat. >ayasan 3ssentia 6edica - 5ndi >ogyakarta. >ogyakarta. Hal. .J1<1. 2. Hadinegoro, Sri 8eMeki H, dkk. /''2. 7ata Laksana %emam Berdarah %engue di (ndonesia. %epartemen $esehatan 8epublik (ndonesia %irektorat Aenderal #emberantasan #enyakit 6enular dan #enyehatan Lingkungan. Aakarta. Hal. &-1'. .. $olecki, #aul. /''?. Syok Hipovolemik. ,,,. 5srama 6edica Fakultas kedokteran I-H5S. %iakses tanggal /2 @ktober /''&. <. Leksana, 3ry. /''2. 7erapi *airan dan 3lektrolit. S6F:Bagian 5nestesi dan 7erapi (ntensif Fakultas $edokteran Iniversitas %iponegoro. Semarang. Hal. 1/- 12. ". Sudoyo, 5ru. ), Bambang Setyohadi, (drus 5l,i, 6arcellus Simabrata $. /''". Buku 5jar (lmu #enyakit %alam Ailid (, 3disi (+. #usat #enerbitan (lmu #enyakit %alam Fakultas $edokteran Iniversitas (ndonesia. Aakarta. Hal. 1?'-1?1. ?. Sunatrio, S. 12 5gustus 1&&&. Larutan 8inger 5setat dalam #raktik $linis, Simposium 5lternatif Baru %alam 7erapi 8esusitasi *airan. Bagian 5nestesiologi F$I(:8S*6. Aakarta