Anda di halaman 1dari 29

0

HIQ 3033- KAJIAN TEKS AL-QURAN DAN HADIS



SOALAN NO : 20

Bincangkan perkembangan penafsiran al-Quran dan pada zaman
Rasulullah SAW dan zaman Khulafa al-Rashidhin serta kepentingan
dalam pembentukan hukum yang sesuai dengan perubahan
masyarakat dan tempat.


DISEDIAKAN OLEH:

NAMA NO. ID / NO K/P NO. TELEFON / EMAIL


AZAM BAKRI BIN CHE ALI


MAWARIDI BIN ABDULLAH

HUSSAIN BIN MAT SALLEH


D20102043150 /
730508035621

D20102042381 /
720804035053


D20102045888
720627025419


012-4563348 /
abca101010@yahoo.com

019-8433390 /
muslimsadiq@gmail.com


019-5102128 /
hussainmatsalleh@yahoo.com



NAMA PENSYARAH: DR AHMAD YUNUS BIN KASIM

UNIVERSITI PENDIDIKAN SULTAN IDRIS
TANJONG MALIM, PERAK.



1

Isi Kandungan
Bil Kandungan Halaman

1 Pengenalan. 2
2 Definisi Istilah 3
3 Sejarah Ilmu Tafsir..... 5
4
5
Ilmu Tafsir Zaman Rasulullah
Ilmu Tafsir zaman Khulafak Ar-Rasyidin..
6
10
6 Kepentingan ilmu tafisr dalam pembentukan hukum yang sesuai dengan
perubahan masyarakat dan tempat..................

17
7 Kesimpulan.. 25
Rujukan
.
27














2

1.0 Pengenalan
Al Quran merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Setidaknya itulah yang
diindikasikan oleh surat al Baqarah ayat 185.
NOgE+4p_4`4O-Og~-.-4@O^qgO1
gNp-47O^-O1-+EE4UgeE
4)O44=}g)`OE_^-p~O^
-4_
185. (Masa Yang Diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan Ramadan Yang padanya
diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-
keterangan Yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara Yang benar
Dengan Yang salah.
Di samping itu, dalam ayat dan surat yang sama, dimaklumkan bahawa al Quran
sekaligus menjadi penjelasan (bayyinaat) dari petunjuk tersebut sehingga kemudian mampu
menjadi pembeza (furqaan)-antara yang baik dan yang buruk. Di sinilah manusia
mendapatkan petunjuk dari al Quran. Manusia akan mengerjakan yang baik dan akan
meninggalkan yang buruk atas dasar pertimbangannya terhadap petunjuk al Quran tersebut.
Al-Quran adalah kalaamullaah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw.
melalui malaikat Jibril as. Dalam fungsinya sebagai petunjuk, al Quran dijaga keasliannya
oleh Allah swt. Salah satu hikmah dari penjagaan keaslian dan kesucian al Quran tersebut
adalah agar manusia mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan benar-menurut Sang
Pencipta Allah azza wa jalla sehingga kemudian selamat, baik di sini, di dunia ini dan di
sana , di akhirat sana. Bagaimana mungkin manusia dapat menjelajahi sebuah hutan belantara
dengan selamat dan tanpa tersesat apabila peta yang diberikan tidak digunakan, didustakan,
ataupun menggunakan peta yang jelas-jelas salah atau berasal dari pihak yang tidak dapat
dipercaya? Oleh karena itu, keaslian dan kebenaran al Qur`an terdeterminasi dengan
pertimbangan di atas agar manusia tidak tersesat dalam mengarungi kehidupannya ini dan
selamat dunia-akhirat.


3


Kemampuan setiap orang dalam memahami lafaz dan ungkapan Al Quran tidaklah
sama, padahal penjelasannya sedemikian gemilang dan ayat-ayatnya amat terperinci. Umat
Islam kebanyakannya hanya dapat memahami makna-makna yang zahir dan pengertian ayat-
ayatnya secara global, sedangkan dalam kalangan cendekiawan dan terpelajar akan dapat
mengumpulkan pula dari pandangan makna-makna yang menarik. Dan diantara cendikiawan
kelompok ini terdapat aneka ragam dan tingkat pemahaman maka tidaklah menghairankan
jika Al-Quran mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif
terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata garib (aneh-ganjil) atau mentakwil tarkib
(susunan kalimat) dan menterjemahkannya ke dalam bahasa yang mudah difahami. Justeru
dalam penulisan ini penulis akan membincangkan tentang sejarah ilmu tafsir dan kepentingan
ilmu tafsir dalam mengembangkan hukum-hukum dalam islam.
2.0 Definisi Istilah
Menurut Rosmawati Ali (2010)Tafsir berasal daripada perkataan al-Fasr , yang bermaksud
menjelaskan atau menerangkan. Maksud tafsir mengikut pengertian kamus Lisan al-Arab
iaitu perkataan al-fasr bermaksud membuka sesuatu yang tersembunyi.Manakala perkataan
al-tafsir membawa maksud membuka atau menerangkan sesuatu lafaz yang aneh dan sukar.
Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Furqan ayat 33:
4El4^O>4CVE))ElE4u_
--E^)=}=O;O4-OOO^>^@@

33. dan mereka tidak membawa kepadamu sesuatu kata-kata Yang ganjil (untuk
menentangmu) melainkan Kami bawakan kepadamu kebenaran dan penjelasan Yang sebaik-
baiknya (untuk menangkis Segala Yang mereka katakan itu).
Sebahagian ulama menyatakan perkataan tafsir berasal dari kata safara, iaitu lawan
kepada fasara yang bermaksud membuka atau al-kasyf .Tafsir menurut bahasa juga ialah
menyatakan dan menerangkan.Sebagaimana firman Allah:
4

4El4^O>4CVE))ElE4u_
--E^)=}=O;O4-OOO^>^@@

33. dan mereka tidak membawa kepadamu sesuatu kata-kata Yang ganjil (untuk
menentangmu) melainkan Kami bawakan kepadamu kebenaran dan penjelasan Yang sebaik-
baiknya (untuk menangkis Segala Yang mereka katakan itu).
Menurut istilah tafsir adalah suatu ilmu yang membicarakan secara khusus tentang
kalam Allah dan mentakwilkan ayat-ayat-Nya.menerangkan lafaz-lafaznya, membahasakan
tantang cara dan bentuk pengucapannya, menerangkan petunjuk-petunjuknya, menerangkan
dan membentangkan tentang makna-maknanya, mengetahui nasikh dan mansukh
1
, sebab
Nuzul, qarinanh-qarinan yang menjelaskan hikmat-himah yang ada dalam al-Quran dan
lainnya berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran.
Menurut pengertian yang diberikan oleh Abu Hayyan tafsir ilmu yang membicarakan
tentang cara ucapan lafaz al-Quran. Iaitu ilmu qiraat, dilalah yang ditunjukkan oleh
lkafaznya, hukum-hukum serta susunan makna-makna yang dapat melengkapkannya, yang
meliputi ilmu saraf, Irab, bayan dan badi.Ia juga meliputi pengertian lafaz yang hakiki atau
majaz, nasikh dan mansukh, sebab nuzul dan lainnya.
Menurut pendapat al-Zarkasyi, tafsir ialah suatu ilmu yang berkaitan dengan
pemahaman atau untuk memahami al-Quran, serta menjelaskan makna-makna serta
mengeluarkan hukum.Ia juga meruapakan ilmu untuk mengetahui dan memahami al-Quran
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan menerangkan makna-maknanya,
mengeluarkan hukum-hukumnya dan hikmat-hikmatnya.(Muhammad Ibnu Bahadur
Zarkashi, 1988)
Menurut al-Kurjani tafsir adalah membuka dan melahirkan.Menurut istilah,
pengertian tafsir adalah ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah yang diturunkan

1
Naskh menurut bahasa dipergunakan untuk arti izalah (menghilangkan) atau memindahkan sesuatu dan
mengalihkannya dari satu kondisi ke kondisi lain. Sementara ia sendiri tetap seperti sedia kala. Sedang secara
istilah adalah seruan pembuat syari'at yang menghalangi keberlangsungan hukum seruan pembuat syari'at
sebelumnya yang telah ditetapkan.Adapun nasikh (penghapus), kadang digunakan untuk menyebut Allah.

Mansukh adalah hukum yang diangkat atau yang dihapuskan.Seperti hukum iddah setahun penuh bagi wanita
yang ditingggal mati suaminya.Dalam naskh, hukum yang dinaskh secara syar'I wajib ditunjukkkan oleh dalil
yang menjelaskan dihilangkannya hukum secara syar'I, yang datangnya setelah khitab yang hukumnya dinaskh.
5

kepada Nabi SAW., berikut penjelasan maknanya serta hikmah-hikmahnya.Sebagian ahli
tafsir mengemukakan bahawa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang al-Quran al-Karim
dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai dengan kemampuan manusia.Secara
lebih sederhana, tafsir dinyatakan sebagai penjelasan sesuatu yang diinginkan oleh kata.
Menurut Dr. Manna Khalil Qathan dalam Mabahis fi Ulum Quran maksud tafsir dari
sudut bahasa ialah penerangan dan menyingkap sesuatu, menjelaskan sesuatu atau
menyingkap sesuatu rahsia.Maksud tafsir dari segi istilah pula ialah ilmu untuk memahami
kitab Allah yang diturunkan ke atas Nabi Muhammad s.a.w. dan menjelaskan maknanya serta
mengeluarkan hukum-hukum dan pengajaran yang dipetik dari al-Quran.(Manna al-Qattan,
1999)
Takrif yang diberikan oleh Abu Hayyan tentang ilmu tafsir dalam kitabnya al-Bahru
al-Mahith sebagai berikut:
Ilmu Tafsir ialah ilmu yang membicarakan tentang bagaimana hendak menuturkan
perkataan-perkataan al-Quran (dari segi tajwid) dan memberikan makna menurut keadaan
perkataan dan hukuman-hukuman pada ketika ia satu perkataan (mufrad) dan pada ketika
bersusun (murakab) dan makna-makna yang boleh diertikan pada ketika hakikat atau
majaz.Juga membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nasikh dan mansukh dan sabab
nuzul.
Ilmu tafsir juga ditakrifkan sebagai ilmu yang menjelaskan makna ayat sesuai dengan
dilalah (petunjuk) yang zahir (lahir) dalam batas kemampuan manusia.Ertinya ilmu tafsir
mengkaji bagaimana menjelaskan kehendak Allah s.w.t. yang terkandung dalam al-Quran
melalui lafaz dan makna serta menjelaskan hukum-hukum yang dikandungnya, sesuai dengan
kemampuan mufassir (ahli tafsir).
2.0 Sejarah ilmu tafsir
Ilmu tafsir al-Quran telah bermula sejak diturunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad
S.A.W sehinggalah sekarang.Namun terdapat perbezaan yang nyata di antara zaman
Rasulullah, sahabat dan zaman tabiin.Ini merujuk kepada perkembangan ilmu tafsir yang
semakin berkembang dan pecahan dalam ilmu tafsir juga telah diperluaskan.


6




2.1 Sejarah Ilmu Tafsir Zaman Rasulullah
Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab sehingga majoriti orang Arab memahami
makna dari ayat-ayat al-Quran.Tentetan daripada itu, ramai di antara mereka yang memeluk
Islam setelah mendengar bacaan al-Quran dan mengetahui kebenarannya.Akan tetapi tidak
semua sahabat mengetahui makna yang terkandung dalam al-Quran, antara satu dengan yang
lainnya sangat sukar dalam memahami isi dan kandungan al-Quran.
Sebagai orang yang paling mengetahui makna al-Quran, Rasulullah selalu
memberikan penjelasan kepada sahabatnya, sebagaimana firman Allah dalam surah
ge4L)O4l^)@O+O-4.4
L^4O^4El^O)4O-g]~.-4))-4l
+g+EELUg4`4@O+^jgO)
_^UE4]NO-E4-4C^jj
44. (Kami utuskan Rasul-rasul itu) membawa keterangan-keterangan Yang jelas
nyata (yang membuktikan kebenaran mereka) dan Kitab-kitab suci (yang menjadi panduan);
dan Kami pula turunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Al-Quran Yang memberi
peringatan, supaya Engkau menerangkan kepada umat manusia akan apa Yang telah
diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkannya.
Contohnya hadis yang diriwayatkan Muslim dari Uqbah bin Amir berkata : Saya
mendengar Rasulullah berkhutbah diatas mimbar membaca firman Allah :

kemudian Rasulullah bersabda :

Ketahuilah bahawa kekuatan itu pada memanah.
7

Juga hadis Anas yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim Rasulullah bersabda tentang Al-
Kautsar adalah sungai yang Allah janjikan kepadaku (nanti) di syurga.
Ilmu tafsir merupakan cetusan ilmu-ilmu al-Quran.Ia muncul berkembang seiring
dengan penurunan al-Quran. Rasulullah merupakan pentafsir terunggul, menerangkan segala
pengertian ayat dan lafaz yang tidak difahami oleh para sahabat, menerangkan sebab-sebab
nuzul al-Quran dan pelbagai permasalahan yang berhubung dengan al-Quran.
Al-Quran merupakan sebuah kitab agung yang diturunkan oleh Allah S.W.T kepada
Nabi Muhammad S.A.W selama dua puluh tiga tahun secara beransur-ansur. Allah S.W.T
memberi jaminan memeliharanya dalam dada Nabi Muhammad serta menerangkan segala
pengertian seperti yang dijelaskan oleh Allah S.W.T dalam firman Nya dalam Surah
Qiyaamah ayat 17 hingga 19:
Ep)4L^1U4N+OEu-+O4^-47O
~4^_-O)+O4^4O~;7)lE>
+O4^-47O~^gEp)4L^1U4N+
O4^414^_
17. Sesungguhnya Kamilah Yang berkuasa mengumpulkan Al-Quran itu (dalam dadamu),
dan menetapkan bacaannya (pada lidahmu);
18. oleh itu, apabila Kami telah menyempurnakan bacaannya (kepadamu, Dengan
perantaraan Jibril), maka bacalah menurut bacaannya itu;
19. Kemudian, Sesungguhnya kepada Kamilah terserah urusan menjelaskan kandungannya
(yang memerlukan penjelasan).
Nabi Muhammad S.A.W memahami segala pengertian ayat-ayat al-Quran secara
umum dan secara perinciannya.Baginda dirugaskan oleh Allah untuk menerangkan kepada
seluruh umat. Hal ini dapat dilihat melalui firman Nya dalam ayat Surah al-Nahl ayat 44:
ge4L)O4l^)@O+O-4.
4L^4O^4El^O)4O-g]~.-4))-4
l+g+EELUg4`4@O+^jgO)
_^UE4]NO-E4-4C^jj
8

44. (Kami utuskan Rasul-rasul itu) membawa keterangan-keterangan Yang jelas nyata (yang
membuktikan kebenaran mereka) dan Kitab-kitab suci (yang menjadi panduan); dan Kami
pula turunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Al-Quran Yang memberi peringatan, supaya
Engkau menerangkan kepada umat manusia akan apa Yang telah diturunkan kepada mereka,
dan supaya mereka memikirkannya.
Menerusi kedua-dua ayat tersebut jelas kepada kita bahawa Rasulullah ditugaskan
untuk memelihara kitab al-Quran di samping menerangkan pengertiannya kepada umat
manusia.

Para sahabat Rasulullah pada dasarnya memahami pengertian ayat-ayat al-Quran
secara umum.Namunpemahaman secara perinciannya bukanlah merupakan perkara yang
mudah bagi mereka.Ia memerlukan kajian, penelitian dan mestilah dirujuk kepada Rasulullah
apabila terdapat ayat yang sukar difahami. Ini kerana ayat al-Quran terdapat ayat-ayat yang
mujmal
2
, mubayyan
3
, mutlak, am, mubham, musykil, mutasyabihah
4
dan sebagainya. Oleh
itu, sunnah berperanan menjelaskan perkara-perkara tersebut. Terdapat beberapa hadis yang
menunjukkan Rasulullah menerangkan tentang maksud ayat-ayat al-Quran yang tidak
difahami oleh para sahabat, antaranya:
1. Penjelasan Rasulullah tentang maksud al-Quwwah:
Daripada Uqbah bin Amir r.a bahawa Rasulullah S.A.W membaca ayat lalu Baginta berkata:
Ketahuilah, sesungguhnya al-quwwah ialah memanah baginda berkata begitu sebanyak
tiga kali.
2. Penjelasan Rasulullah S.A.W tentang maksud khait al-Abyadh dan khait al-aswad
kepada Adly bin hHatim seperti terdapat dalam hadith

2
Secara bahasa berarti samar-samar dan beragam/majemuk. Secara istilah berarti: lafadz yang maknanya
tergantung pada lainnya, baik dalam menentukan salah satu maknanya atau menjelaskan tatacaranya, atau
menjelaskan ukurannya.
3
Mubayyan artinya yang dinampakkan dan yang dijelaskan, secara istilah berarti lafadz yang dapat dipahami
maknanya berdasar asal awalnya atau setelah dijelaskan oleh lainnya.
4
Manna Khalil Al-Qattan menjelaskan Muhkam dan Mutasyabih dalam buku studi Ilmu-Ilmu Quran, bahwa
menurut bahasa Muhkam berasal dari kata yang artinya saya menahan binatang itu, juga bisa
diartikan,saya memasang hikmah pada binatang itu. Hikmah dalam ungkapan ini berarti kendali.Muhkam
berarti (sesuatu) yang dikokohkan, jadi kalam Muhkam adalah perkataan yang seperti itu sifatnya. Mutasyabih
secara bahasa berarti tasyabuh, yakni bila salah satu dari 2 (dua) hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain,
karena adanya kemiripan diantara keduanya secara konkrit maupun abstrak. Jadi, tasyabuh Al-Kalam adalah
kesamaan dan kesesuaian perkataan, karena sebagainya membetulkan sebagian yang lain.
9

Maksudnya:
Daripada Adliy bin Hatim beliau berkata ketika turunnya ayat-ayat yang bermaksud
sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam
(kegelapan malam) iaitu waktu fajar. Maksud demikian itu ialah kecerahan siang daripada
kegelapan malam.
3. Penjelasan Rasulullah S.A.W tentang maksud salat al-Wusta dalam hadith yang
diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub:
Daripada Samurah bin Jundub r.a bahawa Rasulullah S.A.W bersabda Solat al-Wusta ialah
Solat Asar.
Daripada contoh-contoh tersebut jelas menunjukkan bahawa Rasulullah S.A.W
merupakan pentafsir al-Quran yang tidak difahami oleh para sahabat.Dalam mentafsir ayat al-
Quran Rasulullah tidak mentafsirkan ayat yang boleh segera difahami oleh semua
orang.Baginda juga tidak mentafsirkan sesuatu yang disembunyikan oleh Allah dalam ilmu
Nya seperti waktu berlakunya Kiamat, hakikat roh dan sebaginya.Rasulullah hanya
mentafsirkan bagi para sahabatnya sebahagian datipada maksud yang tidak jelas yang
memang Allah jadikan begitu lalu memerintahkan supaya Nabi Muhammad menerangkan
kepada umatnya. Rasulullah lebih banyak menumpukan kepada tafsiran yang diketahui
ulamak dalam mengkhususkan yang am, menerangkan yang mujmal, menjelaskan yang
musykil dan seumpamanya.
Menurut Hasani Said (2000) menyatakan bahawa Nabi Muhammad merupakan ahli
tafsir dan pentafsir yang paling pakar dan arif.Hal tersebut kerana bagindalah yang menerima
al-Quran, memahaminya dan menyebarkannya kepada seluruh umat manusia.Menurut Dr
Subhi Soleh menyatakan bahawa sebenarnya pertumbuhan ilmu tafsir telah bermula sejak
zaman Nabi lagi.Inilah yang buktinya. Cuma terdapat perbezaan di antara pentafsiran
Rasulullah dengan pentafsiran ahli tafsir lain ialah dari sudut pengertiannya sahaja, di mana
nabi mentafsir melalui hadis baginda yang mana ia merupakan ulasan dan penerangan
terhadap al-Quran.
Tafsir yang dibuat oleh Nabi atau disampaikan oleh baginda melalui hadis merupakan
tafsir yang paling tinggi nilainya dan adalah benar dan muktamad.Apa yang jelasnya dan
untuk kefahaman kita, pentafsiran yang dilakukan oleh Nabi melalui hadis baginda tidak
dinamakan al-Tafsir. Hal tersebut adalah kerana bertujuan untuk mengelakkan tanggapan
10

umat Islam dan masyarakat umum seluruhnya bahawa sumber rujukan dan sumber asas Islam
dan masyarakat umum itu ialah al-Quran sahaja, kerana hadis juga merupakan rujukan
penting.
Dalam konteks lain, pentafsiran yang dilakukan atau dibuat oleh Nabi tidak
dibukukan dan Nabi juga melarang para sahabat menulis atau membukukannya. Hal tersebut
bertujuan supaya ia tidak bercampur aduk dengan al-Quran. Oleh itu, tidak ada kitab tafsirr
atau tidak ada tafsir yang dibukukan pada zaman Nabi.
2.1.1 Sumber ilmu tafsir zaman Nabi
Perlulah difahami sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Quran, bahawa Allah telah
mempertanggungjawabkan ke atas Rasulullah Saw supaya menjaga dan menjelaskan isi
kandungan al-Quran.Oleh sebab itu, Rasulullah tentunya merupakan orang yang memahami
al-Quran dengan tepat.Samada secara keseluruhannya ataupun secara terperinci.Selain itu,
Baginda dipertanggungjawabkan pula menerangkan kehendak serta maksud isi kandungan al-
Quran kepada sahabat.Hal tersebut kerana merekalah yang merupakan generasi pertama yang
mewarisi al-Quran secara langsung daripada Rasulullah.
2.2 Sejarah Ilmu Tafsir Zaman Khulafa Al-Rasyidin
Zaman sahabat bermula selepas kewafatan Rasulullah s.a.w pada tahun dua belas
hijrah.Ia berakhir patahun tahun 100 hijrah selepas kewafatan Abu al-Tufail Amir bin
Wathilah, iaitu sahabat yang terakhir meninggal dunia. Selepas kewafatan baginda
pentafsiran al-Quran berpindah kepada sahabat-sahabat baginsa.Mereka orang yang
bertanggungjawab menghuraikan ayat-ayat al-Quran, menerangkan sebab-sebab turun dan
menjawab kepada generasi mereka segala persoalan yang berhubung dengan al-Quran.
Di kalangan para sahabat pula adalah tidak sama taraf pemikiran mereka. Ia
disebabkan perbezaan kecerdasan, tidak sama pengetahuan dan tempoh atau masa pergaulan
mereka dengan Nabi. Antara lain juga perbezaan tingkat pentafsiran di kalangan sahabat
kerana perbezaan antara mereka dari sudut pengetahuan tentang sastera Arab, gaya bahasa
Arab, ungkapan dalam al-Quran dan sebagainya.
Tafsir dan pentafsiran al-Quran yang dilaksanakan pada masa tersebut majoritinya adalah
dengan bersumberkan daripada nabi sendiri.Justeru itu semua sahabat menetapkan bahawa
asas dan pokok pentafsiran al-Quran adalah secara mathur daripada Nabi. Untuk itu juga
11

tafsir yang berasal daripada nabi dikenali sebagai nama tafsir al-Manqul dan ia diterima
secara sepakat di kalangan sahabat. Dalam konteks lain, tentang pentafsiran atau tafsir yang
bersumberkan kepada ijtihad para sahabat sendiri ada perselisihan di antara mereka di mana
sebahagian sahabat menggunakan tafsir ijtihad sendiri da nada sebahagian yang lain hanya
memakai dan mengikuti tafsir yang berdasarkan riwayat hadis sahaja.
Menurut Mohamed T. El-Mesawi (2008) perbezaan corak pentafsiran sahabat dan
Rasulullah adalah disebabkan para sahabat orang-orang Arab dan berbahasa Arab, tetapi
pengetahuan mereka tentang bahasa Arab berbeza-beza, seperti berbeza-bezanya
pengetahuan para sahabat tentang sastra Arab, gaya bahasa Arab, adat istiadat dan sastra
Arab Jahiliyah, kata-kata yang terdapat dalam Al Quran dan sebagainya. sehingga tingkatan
mereka dalam memahami ayat-ayat Al Quran berbeza-beza pula.
Ada sababat yang sering mendampingi Nabi Muhammad saw, sehingga banyak
mengetahui sebab-sebab ayat-ayat Al Quran diturunkan dan ada pula yang jarang
mendampingi beliau. Pengetahuan tentang sebab-sebab Al Quran diturunkan itu, sangat
diperlukan untuk mentafsirkan Al Quran. Kerana itu sahabat-sahabat yang banyak
pengetahuan mereka tentang sebab Al Quran diturunkan itu, lebih mampu mentafsirkan
ayat-ayat Al Quran dibandingakan dengan yang lain.
Sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut: Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar
bin Khaththab telah mengangkat Qudamah sebagai gabenor Bahrain. Dalam suatu peristiwa
datanglah Jarud mengadu kepada Khalifah Umar, bahawa Qudamah telah meminum khamar
dan mabuk. Umar berkata: "Siapakah orang lain yang ikut menyaksikan perbuatan
tersebut?" kata Jarud:
"Abu Hurairah telah menyaksikan apa yang telah kukatakan". Khalifah Umar memanggil
Qudamah dan mengatakan: "Ya Qudamah! Aku akan mendera engkau!". Lalu berkata
Qudamah: "Seandainya aku meminum khamar sebagaimana yang mereka katakan, tidak ada
suatu alasan pun bagi engkau untuk mendera". Umar bertanya: "Kenapa?" jawab Qudamah:
"Kerana Allah telah berfirman dalam surat Al Maaidah ayat 93:
Ertinya: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan rnengerjakan amalan yang
saleh, kerana memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka
bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka
12

tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan.
Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Sedang saya adalah orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, kemudian bertakwa
dan beriman, saya ikut bersama Nabi Muhammad saw. dalam perang Badar, perang Uhud,
perang Khandaq dan peperangan yang lain." Umar berkata: "Apakah tidak ada di antara kamu
sekalian yang akan membantah perkataan Qudamah?". Berkata lbnu Abbas: "Sesungguhnya
ayat 93 surah Al Ma-aidah diturunkan sebagai melindungi umat di masa sebelum ayat 90 ini
diturunkan, kerana Allah berfirman:
Surat Al Maa-idah ayat 90 (yang bermaksud):
Ertinya:
"Hal orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum khamar, berjudi. (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji; termasuk perbuatan
syaitan. Kerana itu jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar mendapat keberuntungan
(kejayaan)".

Berkata Umar: "Benarlah lbnu Abbas."
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahawa lbnu Abbas lebih mengetahui
sebab-sebab diturunkannya ayat 93 surah Al Maa-idah dibanding dengan Qudamah. Sebab
menurut riwayat Ibnu Abbas, bahawa setelah ayat 90 surat Al Maa'idah diturunkan, sahabat-
sahabat saling menanyakan tentang keadaan para sahabat yang telah meninggal, padahal
mereka dahulu sering meminum khamar seperti Sayidina Hamzah, bapa saudara Nabi yang
gugur sebagai syuhadaa pada perang Uhud. Ada sahabat yang mengatakan bahawa Hamzah
tetap berdosa kerana perbuatannya yang telah lalu itu. kerana itu turunlah ayat 93 surah Al
Maa-idah, yang menyatakan bahawa umat Islam yang meninggal sebelum turunnya ayat 90
surah Al Maa'idah tidak berdosa kerana meminum khamar itu, tetapi umat sekarang berdosa
meminumnya.
Perbezaan tingkat pengetahuan para sahabat tentang adat istiadat, perkataan dan
perbuatan Arab Jahiliyah. Para sahabat yang mengetahui haji di masa Jahiliyah akan lebih
dapat memahami ayat-ayat Al Quran yang berhubungan dengan haji. dibanding dengan para
sahabat yang kurang tahu.
13

Perbezaan tingkat pengetahuan para sahabat tentang yang dilakukan oleh orang-orang
Yahudi dan Nasrani di Jaziratul Arab, pada waktu suatu ayat Al Quran diturunkan.Sebab
suatu ayat diturunkan ada yang berhubungan dengan penolakan atau sanggahan terhadap
perbuatan-perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu.akan lebih dapat memahami ayat-
ayat tersebut dibanding dengan yang tidak mengetahui.
Walau bagaimanapun , di kalangan sahabat yang berijtihad adalah mereka yang mahir
dalam bahasa Arab, sastera, gaya bahasa, nahu, ungkapan serta sebab nuzul. Di antara mereka
ialah : Abu Bakar dan Umar al-Khattab. Walaupun zaman itu ada kalangan sahabat yang
berijtihad dengan pendapat sendiri, namun jumlah mereka adalah sedidikt sahaja.Yang mana
tumpuan utama para sahabat adalah terhadap pentafsiran secara Mathur sahaja.
Adapun kaedah sahabat dalam menafsirkan al-Quran adalah; Menafsirkan Al-Quran
dengan Al-Quran, menafsirkan Al-Quran dengan sunnah Rasulullah, atau dengan
kemampuan bahasa, adat apa yang mereka dengar dari Ahli kitab (Yahudi dan Nasroni) yang
masuk Islam dan telah bagus keislamannya.

Diantara tokoh mufassir pada masa ini adalah: Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar,
Utsman, Ali), Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Masud, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit,
Abdullah bin Zubair dan Aisyah. Namun yang paling banyak menafsirkan dari mereka adalah
Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Masud dan Abdullah bin Abbas yang mendapatkan doa
dari Rasulullah. (Fadzil, 2007).
Manakala menurut Rosmawati Ali (2010) di antara metod dan bentuk pentafsiran
yang berlangsung pada zaman nabi dan sahabat tersebut adalah:
i. Pentafsiran yang dilakukan hanyalah sekadar untuk menerangkan makna-
makna ayat.
ii. Pentafsiran untuk kefahaman dari segi bahasa dengan keterangan yang ringkas
sahaja.
iii. Pentafsiran secara umum tanpa menjelaskan atau tanpa mengistinbatkan
hukum.
iv. Ibn Taimiyah berpendapat, Rasulullah menerangkan kesemua ayat kepada
para sahabat. Namun jumhur ulama berpendapat, tidak semua ayat Rasulullah
terangkan kepada para sahabat. Di mana sebahagian ayat yang sukar difahami
14

tidak diterangkan, begitu juga Rasulullah tidak mmenerangkan sesuatu yang
mudah difahami.
Penafsiran sahabat yang didapatkan dari Rasulullah kedudukannya sama dengan hadis marfu
atau paling kurang adalah Mauquf (Rosmawati Ali, 2010)


2.2.1 Sumber ilmu tafsir zaman Khulafa Al-Rasyidin
Para sahabat juga secara sendiri dapat memahami al-Quran, kerana al-Quran diturunkan
secara terperinci, terutamanya di dalam persoalan-persoalan yang sukar dan rumit.Di samping
itu juga, di kalangan para sahabat terdapat perbezaan dalam pemahaman atau taraf
kefahaman. Di mana apa yang difahami oleh seseorang sahabat itu mungkin tidak difahami
oleh sahabat yang lain dan begitulah sebaliknya. Pada umumnya di dalam membuat tafsiran
terhadap ayat-ayat al-Quran, para sahabat didapati berpegang kepada tiga sumber
sebagaimana berikut:
a. Berpegang kepada al-Quran itu sendiri. Hal tersebut merujuk kepada keadaan di mana
terdapat ayat al-Qurang yang pada satu tempat datang dalam bentuk ringkas, maka akan
terdapat ayat di tempat lain dalam al-Quran datang menjelaskan lebih lanjut ayat yang
ringkas tersebut. Ataupun terdapat ayat yang mutlak tanpa ikatan atau ayat yang umum,
kemudian turun pula ayat lain untuk mengikat dan mengkhususkan ayat berkenaan.
Maka tafsiran bentuk ini dinamakan dengan tafsiran al-Quran dengan al-Quran.
Contohnya firman Allah dalam surah al-Maidah ayat 1:
E_GC^4C-g~-.-W-EON44`-47W-
Oug1ON^)_;e^UgOq7
OE1jg4Eu^-)4`_OUuNC
7^OU44OOENO@>g4`g^1O-+
^4NNONOEp)-.-N7^44`C
@ONC^
1. Wahai orang-orang Yang beriman, penuhi serta sempurnakanlah perjanjian-
perjanjian. Dihalalkan bagi kamu (memakan) binatang-binatang ternak (dan
sebagainya), kecuali apa Yang akan dibacakan (tentang haramnya) kepada kamu.
15

(Halalnya binatang-binatang ternak dan sebagainya itu) tidak pula bererti kamu
boleh menghalalkan perburuan ketika kamu Dalam keadaan berihram. Sesungguhnya
Allah menetapkan hukum apa Yang ia kehendaki.






Ayat tersebut telah ditafsirkan oleh firman Allah yang lain iaitu ayat surah al-Maidah ayat 3:
;e4`@ONON7^OU4O4-^1E^-NO.-4N
^4O4jOC@O4gC^-.4`4Eg-q)OO4g*
.-gO)OgLECuL^-47EOO~OE^
-4O4Cg14O4^-4OEOgCEL-4.
4`4E7+lOO-)4`u7+^1-O4`
4EE)OO>4NUOOL-p4W-OO^4
O>^e)_7gON-Og4O4O^
-"j4C4g~-.-W-NOEE}g`7gLCg1
E-O4=^C`pO4=u=-4_4O4O^-e
UE^77E4Cg1e;E^`47^OU4
/Eug^e14O4N7=Uce"-44Cg
1_^}EO7C;-O)O=4^CE`4OOENl-g^E
4-N`^6p"Ep)-.-EOOEN_OgOO^@
3. diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang Yang tidak disembelih), dan
darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya), dan binatang-binatang
Yang disembelih kerana Yang lain dari Allah, dan Yang mati tercekik, dan Yang mati
dipukul, dan Yang mati jatuh dari tempat Yang tinggi, dan Yang mati ditanduk, dan Yang
mati dimakan binatang buas, kecuali Yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya),
dan Yang disembelih atas nama berhala; dan (diharamkan juga) kamu merenung nasib
Dengan undi batang-batang anak panah. Yang demikian itu adalah perbuatan fasik.pada
hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari ugama kamu
(setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya). sebab itu janganlah kamu takut
dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu. pada
hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu ugama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu
16

kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi ugama untuk kamu. maka sesiapa
Yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda Yang diharamkan) sedang ia tidak
cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), kerana Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
b. Berpegang kepada penjelasan Nabi. Ini kerana baginda sebagaimana yang telah dijelaskan
di atas merupakan pentafsir dan pemberi penjelasan terhadap isi kandungan al-Quran. Dalam
hubungan ini para sahabat kembali merujuk kepada Nabi apabila mereka menghadapi
kamusykilan dalam memahami atau menghuraikan ayat-ayat al-Quran. Contohnya ialah
sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibn Masud dengan katanya: Sewaktu turunnya ayat
berikut Surah al-Anam ayat 82:
4g~-.-W-ONL4`-474W-EOOO):
U4C_4LEC)UO)Elj^qN
_}^`--44p4-;_G`^gg
82. orang-orang Yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka Dengan
kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang Yang mendapat keamanan dan merekalah
orang-orang Yang mendapat hidayah petunjuk.

Dengan turunnya ayat tersebut, para sahabat agak kelam kabut kerana mereka
memahami perkataan Zulm dalam ayat tersebut adalah sama dengan kezaliman biasa. Oleh
sebab itu, mereka telah bertanya kepada Rasulullah.Siapakah di antara kami yang tidak
melakukan kezaliman? Baginda menjawab: Kezaliman di dini bukan sebagaimana yang
dimaksudkan. Baginda bersabda:
Apakah tidak kamu mendengar apa yang diucapkan oleh seorang hamba yang soleh,
sebagaiman termaktub di dalam al-Quran sebagaimana firman Allah dalam ayat 13 surah
Luqman:
^O)44~}E^7gOgL]4O-4
+OOg4CO/E_+:4C')O;*.)
W])EuO]-vUO_1g4N^@
17

13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa ia memberi nasihat
kepadanya:" Wahai anak kesayanganku, janganlah Engkau mempersekutukan Allah (dengan
sesuatu Yang lain), Sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman Yang besar".
Dimana maksud Zulm ini adalah syirik.
Berpegang kepada kefahaman dan ijtihad.Para sahabat itu apabila mereka tidak menemui
tafsiran terhadap ayat-ayat tertentu di dalam al-Quran, tidak juga mereka temui dari
penjelasan yang ditinggalkan oleh Rasulullah. Maka mereka akan berijtihad berdasarkan
kefahaman mereka sendiri. Tafsiran al-Quran dari ijtihad para sahabat seumpama ini
mempunyai nilai yang tinggi kerana mereka terdiri daripada kalangan orang Arab yang
memahami bahasa Arab dan Balaghah.



3.0 Kepentingan Ilmu Tafsir Dalam Pembentukan Hukum Yang Sesuai Dengan
Perubahan Masyarakat Dan Tempat.
Menurut Syeikh Muhammad Ali Ash Shabuni (2007) kita perlu mentafsir al-Quran unuk
membebaskan manusia dari penyembahan kepada hamba Allah. Untuk mempertemukan
individu dan masyarakat dengan zat Tuhan yang Maha Agung.
Al-Quran adalah pedoman umat, petunjuk dan syariat Allah untuk makhluk di bumi
ini. Ia merupakan nur allah, petunjuk samawi dan syariat umum yang abadi. Memuat apa saja
yang diperlukan oleh manusia, baik dalam urusan agama ataupun dunia mereka yang
lengkap, memuat berbagai macam aspek kehidupan manusia baik, aqidah, ibadah, akhlaq,
muamalah, politik dan hukum perdamaian dan perang, mahupun soal ekonomi dan hubungan
antarabangsa.
Ia kitab Allah SWT yang lengkap, diturunkan-Nya sebagai penjelasan bagi segala
sesuatu, petunjuk dan rahmat-Nya bagi kaum yang beriman. Al-Quran akan menjunjung
semua itu dengan sempurna tanpa cacat atau kurang sedikit pun. Maka tidak hairan bahawa
tidak boleh memperoleh kebahagiaan melainkan dengan petunjuknya dan mengikuti apa yang
18

dibawanya. Ia merupakan ubat bagi hati, sekaligus juga benteng dari segala bentuk keburukan
yang timbul di kalangan masyarakat. Firman Allah dalam surah al-Israk ayat 82:
Nj)O46+^4=}g`p-47O^-4`4O-E7.
Eg-O4uO4O44-gLg`uUg4C@O4C4
-g)U--)-4O=OE=^gg
82. dan Kami turunkan Dengan beransur-ansur dari Al-Quran Aya-ayat suci Yang menjadi
ubat penawar dan rahmat bagi orang-orang Yang beriman kepadanya; dan (sebaliknya) Al-
Quran tidak menambahkan orang-orang Yang zalim (disebabkan keingkaran mereka)
melainkan kerugian jua.
Menurut Rosmawati Ali (2010) menyatakan antara sebab seseorang perlu
mempelajari ilmu Tafsir adalah:
i. Kerana al-Quran itu sangat tinggi mutunya dari segi bahasa, sehingga masyarakat
dan orang awam sukar untuk memahaminya. Justeru itu, ia memerlukan
pentafsiran daripada Rasulullah, para sahabat, tabiin dan Ulama.
ii. Disebabkan banyak perkara dan permasalahan yang tidak diterangkan secara jelas
di dalam al-Quran atau juga terdapat nas dan ayat yang masyarakat anggap ia
tidak perlu penjelasan, tetapi sebenarnya perlu keada kita untuk mengetahui secara
lebih terperinci dan halus.
iii. Terdapat beberapa ayat al-Quran yang berbentuk majaz atau musytarak. Justeru
itu ia perlu kepada pentafsiran supaya tidak menyalahi dan tidak disalahanggap
mengenai kehendak dan tujuan sebenar ayat-ayat tersebut.
Tujuan mempelajari ilmu tafsir
i. Untuk memahami makna-makna al-Quran dengan lebih sempurna dan tepat.
ii. Untuk mengambil hukum atau intinbatkan hukum yang terkandung dalamnya.
iii. Untuk memahami dan mengikuti hikmat-hikmat yang terdapat dalam al-Quran.
iv. Untuk beramal dengan petunjuk dan akhlak yang terdapat dan dijelaskan di dalam
al-Quran.
v. Dengan mempelajari dan memahami ilmu tafsir akan dapat menghindarkan
seseorang daripada mentafsir dan memahami ayat dengan cara yang salah atau
menyeleweng daripada maksud sebenar.
vi. Tafsir bertujuan untuk mengulas kalam Allah supaya dapat beramal dengan baik.
19

vii. Matlamat Tafsir ialah untuk memahami kalam Allah dengan jelas dan terang.
viii. Ilmu Tafsir amat perlu bagi setiap individu muslim untuk mendalamkan ilmu
pengetahuan bagi mengukuhkan iman.

Islam merupakan suatu ajaran yang mengatur kehidupan manusia dengan peraturan yang
begitu rapi dan indah.Ia meletakkan seluruh jurusan kegiatan manusia sebagai jalan
pengabdian diri kepada Allah SWT. Hampir tiada ruang bagi manusia untuk tidak mahu
patuh atau tunduk kepada syariat Allah SWT.Kerana sememangnya mereka dicipta oleh
Allah SWT dan semestinya tunduk kepada sistem atau peraturan Allah SWT.Justeru ilmu
tafsir perlu memainkan peranan yang penting untuk memastikan hukum yang dikeluarkan
adalah berlandasakan kepada ajaran Islam.
Ini kerana selepas kewafatan Rasulullah tampuk pemerintahan Islam telah diambil
oleh sahabat Rasulullah.
Berdasarkan kepada perkembangan agama Islam ini maka adalah perlu untuk
membuat tafsiran secara teliti terhadap ayat al-Quran kerana negara Islam semakin
berkembang dan umat Islam semakin bertambah. Ini akan menimbulkan pelbagai persoalan
dan juga permasalahan berkaitan dengan hukum-hukum dalam Islam. Pentafsiran al-Quran
perlu dibuat dengan terperinci dan tepat untuk memastikah hukum yang dikeluarkan tepat dan
bersesuaian dengan kehendak Allah.Ia juga untuk memastikan umat Islam seluruhnya
memahami al-Quran dengan betul dan tidak berbelah bagi.
Oleh yang demikian, disebabkan Al-Quran ini diturunkan dalam bahasa arab maka
ianya merupakan satu kewajipan kepada umat Islam untuk mengetahui ilmu tafsir supaya
dapat menjelaskan maksud-maksudnya yang tidak difahami oleh orang yang bukan arab
(Ajam) bahkan terdapat banyak ayat dalam Al-Quran yang bangsa arab sendiri pun tidak
memahaminya lantaran tinggi bahasa dan sasteranya, agung makna dan penyusunan kata-
katanya sehingga ianya benar-benar menjadi mukjizat dan cabaran kepada sesiapa yang tidak
beriman untuk mencipta sepertinya sebagaimana cabaran Allah SWT kepada hamba-Nya
dengan berfirman
:


20

Dan jika kamu meragui akan apa yang kami turunkan (Al-Quran) kepada hamba
kami (Muhammad), maka buatlah satu surah sepertinya (Surah Al-Baqarah : 23).
Sebagai contoh seperti yang disebut oleh Abu Ubaidah dari riwayat Mujahid dari Ibn
Abbas ra bahawa katanya Aku tidak mengetahui apakah itu fathirul Samawatul wal Ardh
sehinggalah datang 2 orang arab yang bersumpah di tepi telaga dan seorangnya
mengatakan , Ana fathiruha : yang bermaksud akulah yang membuatnya (memulakan
penciptaannya).
Lalu penafsiran Al-Quran itu dilakukan demi memahami maksud sebenar disebalik
perumpamaan-perumpamaan yang digunakan dalam Al-Quran bagi menyampaikan sesuatu
maksud atau mengeluarkan hukum dan perintah dari sesuatu ayat atau memahami tegahan
dan larangan disebalik iktibar kisah dan penjelasan keburukan sesuatu perkara. Tafsir
berperanan mencungkil hikmah dan rahsia yang tersembunyi disebalik firman dan kalam
Allah yang berupa mukjizat dan sesungguhnya ilmu tafsir ialah ilmu mengenali hikmah Al-
Quran seperti firman Allah :


Sesungguhnya Allah memberi hkmah kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dan
barangsiapa yang diberikan hikmah maka sesungguhnya dia telah mendapat kebaikan yang
banyak. (Surah Al-Baqarah : 269).
Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari riwayat Ibn Abi Talhah dari Ibn Abbas ra dalam
menafsirkan ayat ini dengan berkata itu bermaksud Mengenal Al-Quran,
memahaminya serta mengetahui nasakh dan mansukh, ayat-ayat muhkamat dan
mutasyabihat, mengetahui yang awal dan akhir diturunkan serta mengetahui halal dan haram
dan yang berkaitan dengannya.
Menyentuh perihal tafsir, maka para ulama telah menetapkan panduan dan kaedah
khusus dalam membuat penafsiran pada ayat-ayat Quran.Sepertimana disebut oleh Imam Ibn
Katsir ra yang mengatakan sebaik-baik tafsir ialah tafsir dengan menggunakan Al-Quran bagi
menafsirkan Al-Quran.
21

Sesungguhnya penafsiran Al-Quran dengan menggunakan Al-Quran ialah tafsiran
yang paling utama dan benar kerana hanya Allah mengetahui apa yang dimaksudkannya dan
lafaz tertentu dalam Al-Quran akan dapat diketahui dengan merujuk ayat yang lain tapi
membawa makna kepada ayat yang tidak difahami itu.

Sebagai contoh seperti yang dilakukan sendiri oleh para sahabat ra dalam memahami
ayat-ayat Allah dengan menafsirkannya kepada ayat-ayat yang lain yang membawa makna
ayat yang tidak difahami atau menjelaskan apa yang tidak jelas atau mengkhususkan apa
yang terlalu umum seperti firman Allah swt :


Bagi kamu dihalalkan memakan binatang ternak kecuali yang akan didatangkan
kepada-mu selain itu. (Surah Al-Maidah :1).
Pada ayat di atas perintah dan kebenaran memakan binatang sangatlah umum kerana
tidak disebut binatang yang bagaimanakah pula yang tidak boleh dimakan sebab
pengecualian kepada halal tidak disebut jelas sehinggalah para sahabat mentafsirkannya
dengan ayat 3 Surah Al-Maiadah yang membawa maksud dan pemahaman yang lebih jelas
iaitu pada firman-Nya :


"Diharamkan kepada kamu memakan bangkai , darah, daging khnzir (babi) dan binatang
yang tidak disembelih dengan nama Allah. (Surah Al-Maidah :3).

Manakala dalam perkara yang tiada disebut dalam Al-Quran maka tafsir dilakukan
dengan menggunakan As-Sunnah kerana sunnah rasulullah itu merupakan sebaik-baik tafsir
bagi Al-Quran selepas Al-Quran itu sendiri dalam mencapai makna dan pemahaman yang
sahih sebagaimana firman Allah :


22

Dan kami turunkan kepada kamu Al-Zikr (Al-Quran) sebagai memberi penerangan kepada
manusia. (Surah An-Nahl : 44).
Fungsi sunnah ialah sebagai pentafsir dan penjelas kepada isi-isi kandungan Al-Quran
sebagaimana disebut oleh baginda salallahualaihiwasalam :

Bukankah aku ini diberikan Al-Quran kepadaku dan sesuatu yang menyerupainya
(Sunnah) (Hadith Sahih, riwayat Abu Daud).
Imam Syafie ra juga pernah mengatakan Setiap yang dihukumkan oleh rasulullah
merupakan apa yang hasil dari Al-Quran. .
Dengan berkembang pesat umat Islam ke seluruh dunia, pentafsiran al-Quran perlu
kembang dan diperluaskan.Allah memuliakan umat Islam dengan penurunan al-Quran, kitab
penuh dengan kebesaran dan bukti keesaan Allah.Allah menyifatkan al-Quran sebagai
sebaik-baik perkataan peringatan dan kisah (ahsan al-Hadith al-Mathani).



Firman Allah dalam surah Surah al-Zumar, ayat 23:
+.-4EO4^=}=O;Og+CgO4^-4:4
-g4_):4=4G`4O)+1E`OOg4=^>+O
uLg`1OUN_4g~-.-]O4=^Cg4
4O-)->-1OUN__+OU~
4_O)@O^gO*.-_ElgOOE-*.
-Ogg4gO)}4`+7.4=EC_}4`4
)U;_NC+.-E+O;}g`1E-^g@
23. Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan Iaitu Kitab suci Al-Quran Yang
bersamaan isi kandungannya antara satu Dengan Yang lain (tentang benarnya dan
indahnya), Yang berulang-ulang (keterangannya, Dengan berbagai cara); Yang (oleh kerana
23

mendengarnya atau membacanya) kulit badan orang-orang Yang takut kepada Tuhan
mereka menjadi seram; kemudian kulit badan mereka menjadi lembut serta tenang tenteram
hati mereka menerima ajaran dan rahmat Allah. Kitab suci itulah hidayah petunjuk Allah;
Allah memberi hidayah petunjuk Dengan Al-Quran itu kepada sesiapa Yang dikehendakiNya
(menurut undang-undang peraturanNya); dan (ingatlah) sesiapa Yang disesatkan Allah
(disebabkan pilihannya Yang salah), maka tidak ada sesiapa pun Yang dapat memberi
hidayah petunjuk kepadaNya.
Bidang tafsir adalah bidang paling ramai ulama berkhidmat padanya kerana mereka
ingin berkhidmat kepada kitab Allah.Penafsiran al-Quran sentiasa berlaku sepanjang zaman
sejak zaman Nabi Muhammad SAW sehinggalah hari akhirat.
Penafsiran al-Quranakan berterusan dan tidak terhenti zaman ini saja. Tafsir
bermaksud penjelasan dan keterangan sementara daripada sudut istilah bermaksud ilmu
membahaskan cara menuturkan lafaz al-Quran, mengetahui hukum terkandung dalamnya,
menerangkan perkara kurang jelas dan mengetahui nasikh, mansukh dan sebab
penurunannya.
Oleh itu, ulama menetapkan syarat untuk menafsirkan al-Quran iaitu mengetahui ilmu
bahasa Arab kerana dengan ilmu itu dapat mengetahui makna perkataan dengan lebih tepat
terutama penggunaannya di kalangan bangsa Arab.
Ilmu nahu
5
dan ilmu Ma'ani
6
kerana al-Quran mengandungi kandungan tata bahasa
dan balaghah yang tinggi.Di samping itu, pentafsir perlu mengetahui sebab penurunan ayat,
ilmu hadiah, kalam, qiraat dan feqah.Ini adalah sebahagian syarat untuk menafsirkan al-
Quran dan umat Islam disuruh supaya belajar dan memahami al-Quran.Tuntutan tadabur al-
Quran supaya Muslimin dapat memahami dan berinteraksi dengan al-Quran secara akal serta
hati.
Tafsir al-Ra'yi atau dirayah ialah tafsiran bersandarkan kepada ijtihad dan penelitian
oleh ulama dalam memahami al-Quran.Wujud perselisihan pendapat mengenai penggunaan

5
NAHWU adalah kaedah-kaedah Bahasa Arab untuk mengetahui bentuk kata dan keadaan-keadaannya ketika
masih satu kata (Mufrod) atau ketika sudah tersusun (Murokkab). Termasuk didalamnya adalah pembahasan
SHOROF.Karena Ilmu Shorof bagian dari Ilmu Nahwu, yang ditekankan kepada pembahasan bentuk kata dan
keadaannya ketika mufrodnya.
6
Ilmu maaniy adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui hal-ihwan lafazh bahasa arab yang mencocoki
terhadap muqtadhal haal-nya, oleh karena itu perbedaan bentuk-bentuk kalam mengindikasikan berbedanya
hal-ihwal (maqom/motif).
24

Tafsir al-Ra'yi.Ada ulama melarang penafsiran jenis ini disebabkan dakwaan menyebutkan
Nabi Muhammad SAW melarang menggunakan akal dan pendapat sendiri untuk menafsirkan
al-Quran.Oleh itu, ulama mensyaratkan beberapa prinsip dan syarat ketat bagi membolehkan
seseorang itu menafsirkan al-Quran supaya tidak mengikut hawa nafsu dan tanpa memiliki
ilmu mantap.Perkara ditegah ialah penafsiran mengikut hawa nafsu dan tidak mengikut
kaedah ditetapkan.
Mereka berdalilkan hadis dari Ibn Abbas yang bermaksud: "Dan sesiapa yang
mengatakan sesuatu mengenai al-Quran dengan pendapatnya sendiri, maka bersiap-siaplah
tempatnya di dalam api neraka." Beliau mengambil pandangan Imam Abu Muhammad Ibn
Atiyyah dalam mukadimah al-Muhharrar al-Wajiz yang menyebutkan: "Ini bermakna bahawa
seseorang yang bertanya mengenai sesuatu makna dalam al-Quran, kemudian ia menjawab
dengan pendapatnya, tanpa mempelajari dulu apa yang dikatakan ulama mengenai hal itu,
dan makna yang dihasilkan berdasarkan kepada kaedah keilmuan seperti ilmu nahu dan usul
fiqh.
Tidak termasuk dalam kategori hadis ini jika ahli bahasa Arab menafsirkan bahasa al-
Quran, ahli nahu mengkaji nahu al-Quran, ahli fiqh mengkaji hukumnya dan setiap orang
menghasilkan ijtihadnya yang dibangunkan di atas kaedah ilmu dan penyelidikan, maka
orang yang mengeluarkan pendapat dengan sifat seperti itu, tidak termasuk dalam golongan
yang mengeluarkan pendapat semata-mata hasil kefahaman pemikirannya saja." Oleh
demikian, pendekatan terbaik menafsirkan al-Quran ialah menggabungkan antara (mathur)
riwayat dan (ra'yi) dirayat. Di samping itu, menafsirkan al-Quran dengan ayat al-Quran lain.
Oleh yang demikian kepentingan mempalajari ilmu tafsir adalah tepat sebagaimana
yang dinyatakan oleh (Rosmawati Ali, 2010), (Syeikh Muhammad Ali Ash Shabuni, 2007)
dan juga (Mohammad Abdu al-Azim Zarqaniy, 1999).





25















4.0 Kesimpulan
Kita sekarang berada di zaman globalisasi iaitu zaman kemudahan untuk pencarian
sumber maklumat tentang apa sahaja untuk dicari. Ianya boleh dicari di mana-mana sahaja
dengan satu klik sahaja di dalam pencarian di Internet. Namun adalah tafsir yang dipilih dan
dipegangi itu tafsir yang betul?.
Umumnya, masyarakat akan mendapat maklumat tentang tafsir al-Quran di Malaysia
daripada pelbagai cara. Antaranya ialah daripada TV, radio, suratkhabar, Internet, buku-buku
dan majalah awam.Namun setiap sumber itu memerlukan pengesahan dan telah ditetapkan
sebagai tafsir yang muktabar untuk memastikan kita umat Islam tidak sesat. Ini kerana
Pentingnya al-Quran bagi setiap juslim tidak dapat dinafikan, kerana alquran merupakan
sumber utama bagi individu muslim untuk mebdapat keberkatan dan pengajaran tentang
hukum-hukum allah, sama ada yang berkaitan dengan aqidah, syariat atau akhlak.
26

Sesungguhnya al-Quran termasuk dalam rukun iman yang wajib dipercayai kebenarannya
dan dipelajari isi kandungannya, akan tetapi akhir-akhir ini perhatian terhadap pengajaran al-
Quran di abaikan dan penglibatan orng islam terhadapnya merosot. Natijah dari ini maka
banyaklah keluhan dan rungutan serta rintihan daripada masyarakat islam kerana kewujudan
bilangan anak-anak muda yang tidak mampu membaca al-Quran dan jauh sekali daripada
memahami akan kandungan al-Quran.
Membaca al-Quran itu satu ibadah, disamping itu ada ibadat lain yang memerlukan
bacaan al-Quran iaitu solat. Jadi anak-anak yang diajar membaca al-Quran bukanlah sia-sia,
sebaliknya ia boleh membacanya semasa menunaikan solat setiap hari dan kadar yang paling
minimum ialah membaca surah al-fatihah.






Rujukan
Abdul Qadir Umar Usman al-Hamidy. (2003). Pengantar ilmu-ilmu Al-Quran/tafsir. Brunei
Darul Salam: Institut Pengajian Islam Sultan Haji Omar Ali Saifuddien.
Abu Ghuddah. (1998). Lumhat min Tarikh as-Sunnah wa Ulum al-Hadith. Beirut.
Adian Husaini. (2007). Hermeneutika & Tafsir Al Quran. Jakarta: Gema Insani.
Afzal Ur Rahman. (2007). Ensiklopedi Ilmu Dalam Al-quran. Jakarta: Pustaka Mizan.
Fadzil, A. (2007). Anatomi al-Quran: mengenal ilmu, sejarah & kandungan al-Quran. Kuala
Lumpur: PTS Islamika.
Hasani Said. (2000). Sejarah dan Ulumul al-Quran. Jakarta: Pustaka Firdaus.
27

Ibnu Najib Al-Husaimi. (2011, 2 11). Retrieved 4 10, 2013, from
http://ibnnajib.blogspot.com/2012/10/ringkasan-ulum-hadis.
Insan Ali Fauzi. (1994). "Membumikan" Al-Quran: fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan
masyarakat. Jakarta: Pustaka Mizan.
M. Hasbi Ash Shiddieqy (T.). (1977). Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Qur-an/Tafsir. Brunei:
Bulan Bintang.
Manna al-Qattan. (1999). Mabahith fi Ulum al-Quran. Beirut: Muassasah al-Risalah.
Mohamed T. El-Mesawi. (2008). Fenomena Al-Quran: esei tentang teori berkenaan al-
Quran. Kuala Lumpur: ITNMB.
Mohammad Abdu al-Azim Zarqaniy. (1999). Menyingkap rahsia ilmu Al-quran:
pembahasan secara mendalam tentang 'Ulumul Quran. Jakarta: Pustaka Ilmi.
Muhammad Ibnu Bahadur Zarkashi. (1988). al-Burhan fi ulum al-Qur'an. Jakarta: Darul
Fikir.
Muhammad Najib Abdul Kadir. (2004). Israiliyyat: pengaruh dalam kitab tafsir. Kuala
Lumpur: Utusan Publications.
Muhammad Saed Abdul-Rahman. (2009). Tafsir Ibn Kathir. London: MSA Publications
Limited.
Rosmawati Ali. (2010). Pengantar Ulum al-Quran. Kuala Lumpur: Pustaka Salam.
Ruslan Adjun. (1986). Mengenal al-Quran: beberapa masalah dalam pengantar ilmu tafsir.
Jakarta: Pustaka al-Mizan.
Syamsudin Arif. (2005). Al-Quran dan serangan orientalis. Jakarta: Gema Insani.
Syeikh Muhammad al-Ghazali. (1991). Al-quran Kitab Zaman Kita. Jakarta: PT Mizan
Publika,.
Syeikh Muhammad Ali Ash Shabuni. (2007). Sejarah dan Dasar Pengajian Ilmu Al-Quran.
Kuala Lumpur: Percetakan Putrajaya Sdn Bhd.
Yahaya Jusoh. (2012). Falsafah ilmu dalam al-Quran: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Skudai: Penerbit UTM.
28