Anda di halaman 1dari 23

1

A. JUDUL USULAN SKRIPSI Efek Antiinflamasi Infusa Bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) pada Udema Telapak Kaki Mencit Betina Galur Swiss Terinduksi Karagenin dengan Pengukuran Jangka Sorong.

B. INTISARI Bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) mengandung beberapa senyawa kimia, salah satunya fenol. Kebanyakan senyawa fenol telah diuji secara in vitro dan in vivo memperlihatkan kemampuan antioksidan, antiinflamasi dan antialergi (Wagner, 1985). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian acak pola searah yang bertujuan untuk mengetahui apakah infusa bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) memiliki efek antiinflamasi terhadap udema telapak kaki mencit betina galur Swiss yang terinduksi karagenin. Hewan uji yang digunakan berjumlah 25 ekor, jenis kelamin betina, umur 2-3 bulan, berat badan 25-30 gram dan dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok I adalah kontrol negatif (aquadest), kelompok II adalah kontrol positif (Natrium diklofenak), kelompok III-V adalah kelompok perlakuan infusa Kembang telang dengan tiga peringkat dosis. Kontrol dan bahan uji yang digunakan diberikan secara per oral. Kemudian dilakukan pengukuran dengan jangka sorong di mana setelah kaki mencit diinduksi infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) dan karagenin, diukur ketebalan kakinya dan dihitung dengan perbandingan antara kaki normal dengan kaki yang terinduksi. Hasil yang didapatkan akan dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smimov, dilanjutkan Anova satu arah dan uji Scheffe dengan taraf kepercayaan 95%. Kata kunci : kembang telang, fenol, antiinflamasi, Clitoria ternatea L., karagenin C. PENGANTAR 1. Latar belakang Inflamasi merupakan tindakan protektif yang berperan dalam melawan agen penyebab jejas sel. Inflamasi melakukan misi

pertahanannya

dengan

cara

melarutkan,

menghancurkan,

atau

menetralkan agen patologis (Kumar et al., 2007). Sejak dahulu, tanaman yang ada di Indonesia ini menjadi bahan penelitian dan kajian yang mendalam dari pakar dunia. Penelitian terhadap tanaman berkhasiat terus dilakukan. Berbagai penemuan telah membawa pandangan baru bagi dunia pengobatan, khususnya sebagai obat alternatif ketika pengobatan modern perlahan beralih dari masyarakat. Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah bunga kembang telang (Clitoria Ternatea L.). Kembang telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman polong multiguna karena selain untuk hiasan tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang berguna untuk pengobatan. Salah satu kandungan senyawa dalam bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) adalah fenol. Kebanyakan senyawa fenol telah diuji secara in vitro dan in vivo memperlihatkan kemampuan antioksidan, antiinflamasi dan antialergi (Wagner, 1985). Belum ada penelitian yang berkenaan dengan pengujian bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) itu sendiri. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap efektivitas antiinflamasi infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) dengan menggunakan hewan uji mencit betina galur Swiss, sehingga dapat mendukung data ilmiah lainnya dalam penggunaan dan pemanfaatan bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) sebagai obat tradisional.

a. Permasalahan 1) Apakah infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) memiliki efektivitas terhadap penurunan inflamasi? 2) Berapa ED50 infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) dalam memberikan efek antiinflamasi? b. Keaslian penelitian Sejauh yang diketahui penulis, penelitian mengenai uji efek antiinflamasi bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) pada mencit betina galur Swiss dengan pengukuran jangka sorong belum pernah dilakukan. Adapun penelitian terkait tentang bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) adalah sebagai berikut: 1) Aktivitas Antibakteri Filtrat Bunga Teleng (Clitoria ternatea L.) terhadap Bakteri Penyebab Konjungtivitis (Rokhman, 2007). Hasil penelitian menunjukkan filtrat bunga kembang telang memiliki aktivitas hambat tumbuh dengan konsentrasi hambat tumbuh minimal sebesar 50 mg/mL terhadap bakteri B. substilis, E. coli, dan P. aeruginosa dan 125 mg/mL terhadap bakteri Staph. aureus. c. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan informasi penelitian lebih lanjut mengenai efek antiinflamasi bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.). b. Manfaat praktis Untuk menentukan dosis efektif dari infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) sebagai antiinflamasi.

2. Tujuan penelitian a. Tujuan umum Memperoleh informasi mengenai manfaat bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) sebagai antiinflamasi. b. Tujuan khusus 1. Membuktikan bahwa infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) memiliki efektivitas antiinflamasi dengan pengukuran udem menggunakan jangka sorong. 2. Menentukan dosis infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) terhadap efektivitas antiinflamasi hewan uji mencit betina galur Swiss.

D. PENELAAHAN PUSTAKA 1. Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) Kembang telang berdasarkan taksonomi termasuk dalam kingdom Plantae, subkingdom Tracheobionta, divisi Spermatophyta, subdivisi

Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, subkelas Rosidae, bangsa Fabales, suku Fabaceae, marga Clitoria, species Clitoria ternatea L. (Michael dan Kalamani, 2003). Nama daerah: bunga biru, bunga talang (Sumatera); kembang telang (Sunda); menteleng, kembeng teleng (Jawa); bunga talang (Sulawesi); bisi, sayama gulele (Maluku); dan bunga temen raleng (Bugis). Ciri-ciri umum: berasal dari Amerika, merupakan tanaman perdu yang tumbuh merambat. Batang berambut halus, pangkal batang berkayu, batang muda bewarna hijau, dan batang tua bewarna putih kusam. Daun majemuk dengan pertulangan menyirip ganjil. Anak daun berjumlah 3-9 lembar, bewarna hijau, bertangkai pendek, berbentuk oval atau elips, pangkal daun runcing, sedangkan ujungnya tumpul. Di ketiak daun terdapat daun penumpu yang berbentuk garis. Bunga tunggal, muncul dari ketiak daun, dan bentuknya menyerupai kupu-kupu. Kelopak bunga bewarna hijau, sedangkan mahkota bunga bewarna biru nila dengan warna putih di tengahnya. Buah polong, berbentuk pipih memanjang. Polong muda bewarna hijau, dan polong matang bewarna kecokelatan. Berkhasiat sebagai obat bronkis, demam, menghilangkan dahak, mengatasi radang mata merah, abses, bisul, untuk cuci darah, dan sebagai bahan pewarna (Utami, 2008). Lokasi tumbuh yang sering dijumpai dan tumbuh subur yaitu di daerah basah, berpasir dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh subur dalam medium yang agak lembab

atau tanah yang mempunyai kandungan humus yang tinggi. Tanaman ini dapat membiak dengan cara stek batang atau biji. Tanaman teleng tergolong terna menahun karena pangkal tanamannya berkayu, batangnya merambat dengan pola membelit ke kiri. Tanaman rambat ini biasa digunakan sebagai tanaman penghias pagar. Bunganya yang bewarna biru keunguan akan mekar sepanjang tahun seperti terlihat pada gambar 1 (Michael dan Kalamani, 2003).

Gambar 1. Bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.)

Tanaman kembang telang diduga berkhasiat sebagai tonikum otak yang sangat baik dan berguna untuk mengatasi infeksi mata dan tenggorokan, penyakit kulit, gangguan urinaria, sariawan mulut atau ulcer dan keperluan anti racun (Malabodi dan Nataraja, 2001). Daunnya dapat dimakan sebagai lalap maupun pakan ruminansia, tumbukan daunnya bermanfaat untuk mempercepat pematangan bisul, bermanfaat sebagai obat batuk jika diformulasikan dengan bawang merah dan adas pulosari (Herman, 2005).

Bunganya yang bewarna biru dapat digunakan untuk pewarna makanan. Bunganya direndam air panas dan diminum seperti teh utuk mengurangkan sakit akibat ulcer mulut dan perawatan insomnia. Air rendaman bunganya dapat digunakan untuk obat tetes mata pada penderita konjungtivitis (Herman, 2005). Kandungan kimia kembang telang antara lain saponin, flavonoid, alkaloid, ca-oksalat, dan sulfur. Khusus untuk daunnya mengandung kaemferol, 3-glukoside, dan triterpenoid. Bunganya mengandung

delphinidin ,3-3-5 triglucoside, dan fenol (Permadi, A., 2006).

2. Inflamasi Inflamasi merupakan respons terhadap jejad pada jaringan hidup yang memiliki vaskularisasi. Respons ini dapat ditimbulkan oleh infeksi mikroba, agen fisik, zat kimia, jaringan nekrotik atau reaksi imun. Inflamasi bertujuan untuk menyekat yang serta mengisolasi tubuh jejas, serta

menghancurkan

mikroorganisme

menginvasi

menghilangkan aktivitas toksinnya, dan mempersiapkan jaringan bagi kesembuhan serta perbaikan. Meskipun pada dasarnya merupakam respons yang bersifat protektif, namun inflamasi dapat pula berbahaya; respons ini dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas yang bisa membawa kematian atau kerusakan organ yang persisten serta progresif akibat inflamasi kronik dan fibrosis yang terjadi kemudian (misalnya arthritis rheumatoid, sterosklerosis) (Kumar et al., 2007).

Inflamasi merupakan tindakan protektif yang berperan dalam melawan agen penyebab jejas sel. Inflamasi melakukan misi

pertahanannya dengan cara melarutkan, menghancurkan, atau menetralkan agen patologis (Kumar et al., 2007). Fenomena yang terjadi dalam proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit menuju jaringan radang. Tanda-tanda dari proses inflamasi antara lain rubor, kalor, tumor, dolor, dan functio laesa (Tanu, 2002). Rubor, kalor, dan tumor pada inflamasi akut terjadi karena peningkatan aliran darah dan edema (Kumar et al., 2007). Saat berlangsungnya feomena inflamasi ini banyak mediator kimiawi yang dilepaskan secara lokal seperti histamin, 5-hidroksitriptamin (5HT) atau serotonin, faktor kemotaktik, bradikinin, leukotrien, dan prostaglandin (Tanu,2002). Inflamasi dapat dibedakan menjadi akut dan kronik. Inflamasi akut memiliki onset dan durasi lebih cepat. Inflamasi akut dapat terjadi beberapa menit hingga beberapa hari, ditandai dengan adanya cairan eksudasi protein plasma maupun akumulasi leukosit neutrofilik yang dominan. Inflamasi kronik memiliki durasi yang lebih lama (hari hingga tahun). Inflamasi kronis dapat bersifat berbahaya. Tipe dari inflamasi kronik ditentukan oleh peningkatan limfosit dan makrofag yang berhubungan dengan proliferasi vaskular dan fibrosis (Kumar et al., 2007).

Pengobatan pasien dengan inflamasi mempunyai 2 tujuan utama, yaitu : meringankan rasa nyeri, yang sering kali gejala awal yang terlihat dan keluhan utama yang terus menerus dari pasien dan memperlambat atau membatasi proses perusakan jaringan. Pengurangan inflamasi dengan NSAID sering berakibat meredanya rasa nyeri selama periode yang bermakna.Lebih jauh lagi, sebagian besar nonopioid analgesik mempunyai efek antiinflamasi, jadi tepat digunakan untuk pengobatan inflamasi akut maupun kronis (Katzung, 2001).

3. Metode Uji Inflamasi a. Uji eritema telinga Eritema (kemerahan) merupakan tanda awal dari reaksi inflamasi. Timbulnya eritema adalah akibat dari terjadinya sejumlah iritan kimiawi seperti xilem, minyak kroton, vesikan, histamin, dan bradikinin (Gryglewski, 1977). Eritema ini dapat diamati dua jam setelah kulit diradiasi dengan sinar UV. Kelemahan metode ini adalah eritema dapat dihambat oleh obat yang kerjanya tidak menghambat sintesa prostaglandin (Turner, 1965). b. Induksi udema telapak kaki belakang Pada metode ini induksi udem dilakukan pada kaki hewan percobaan yaitu tikus jantan atau betina, dengan cara penyuntikan suspensi karagenin secara sublantar pada telapak kaki kiri bagian belakang. Ukuran udema kaki diukur dengan alat plestimometer

10

segera setelah injeksi (Khanna dan Sarma, 2001). Aktivitas antiinflamasi obat ditunjukkan oleh kemampuannya mengurangi udema yang diinduksi pada kaki tikus (Vogel, 2002). Keuntungan metode ini antara lain cepat (waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama) dan pengukuran volume udema dapat dilakukan dengan lebih akurat dan objektif, mudah dilakukan karena caranya mudah diamati atau visible. Kekurangan teknik penyuntikan pada telapak kaki tikus atau jika penyuntikan karagenin secara subplantar tersebut tidak menjamin pembentukan volume udema yang seragam pada hewan percobaan, akan dapat mempengaruhi nilai simpangan pada masing-masing kelompok tikus yang cukup besar (Gryglewski, 1977). c. Percobaan in vitro Percobaan in vitro berguna untuk mengetahui peran dan pengaruh substansi-substansi fisiologis seperti histamin, bradikinin, prostaglandin, dan lain-lain dalam terjadinya inflamasi. Contoh beberapa percobaan in vitro adalah : penghambatan ikatan reseptor 3H-bradikinin, ikatan reseptor neurokinin, dan uji kemotaksis leukosit polimorfonuklear (Vogel, 2002).

4. Karagenin Karagenin merupakan senyawa iritan yang diperoleh dari ekstrak Chondrus crispus, yang merupakan mukopolisakarida yang disusun oleh

11

monomer unit galaktosa sulfat. Karagenin mampu menginduksi reaksi inflamasi yang bersifat akut, non imun, dapat diamati dengan baik dan mempunyai reprodusibilitas tinggi (Morris, 2003). Penggunaan karagenin sebagai penginduksi radang memiliki beberapa keuntungan antara lain: tidak meninggalkan bekas, tidak menimbulkan kerusakan jaringan dan memberikan respon yang lebih peka terhadap obat antiinflamasi dibanding senyawa iritan lainnya (Siswanto dan Nurulita, 2005). Zat yang dapat digunakan untuk memicu terbentuknya udem antara lain: mustard oil 5%, dextran 1%, egg white fresh undiluted, serotonin kreatinin sulfat, lamda karagenin 1% yang diinduksikan secara subplantar pada telapak kaki tikus. Karagenin ada beberapa tipe, yaitu lambda () karagenin, iota (i) karagenin dan kappa (k) karagenin. Lambda () karagenin ini dibandingkan dengan jenis karagenin yang lain, lambda karagenin paling cepat menyebabkan inflamasi dan memiliki bentuk gel yang baik dan tidak keras (Rowe et al, 2003).

5. Obat antiinflamasi Non Steroid Obat antiinflamasi golongan non steroid (OAINS) berperan sebagai antiinflamasi dengan satu atau beberapa mekanisme, diantaranya dengan inhibisi metabolisme asam arakidonat, inhibisi enzim

siklooksigenase (COX) atau inhibisi sintesis prostaglandin, inhibisi

12

lipooksigenase, inhibisi sitokin, pelepasan hormon steroid, stabilisasi membran lisosom, dan pelepasan fosforilasi oksidatif (Kohli, dkk., 2005). Hampir semua OAINS adalah menghambat sintesis prostaglandin dengan inhibisi COX-1 dan COX-2. Berdasarkan pada selektifitasnya terhadap COX, OAINS dapat diklasifikasikan menjadi beberapa golongan, yaitu: a. Inhibitor COX nonselektif, meliputi aspirin, indometasin, diklofenak, piroksikam, ibuprofen, naproxen, dan asam mefenamat; b. Inhibitor selektif COX-2, meliputi nimesulid, meloksikam, nabumeton, dan aseklofenak. Golongan OAINS ini bekerja secara selektif preferential COX-2, dimana penghambatan pada COX-2 nya tidak sekuat golongan rofecoxib sehingga tidak mengganggu fungsi fisiologis COX-2 yang berguna pada kardiovaskular. Golongan OAINS ini disebut aman untuk kardiovaskular (Ignatius, dkk., 2007). c. Inhibitor sangat selektif COX-2, meliputi celecoxib, rofecoxib, valdecoxib, parecoxib, etoricoxib dan lumiracoxib (Derle, Gujar, dan Sagar, 2006). OAINS sangat selektif COX-2 memiliki efek samping pada kardiovaskular, yaitu dapat meningkatkan resiko terjadinya AMI (Acute Myocardial Infarction) karena mempunyai penghambatan yang sangat kuat terhadap COX-2. COX-2 mempunyai fungsi fisiologis dalam mensintesis prostasiklin yang berfungsi sebagai vasodilator pada pembuluh darah jantung (Ignatius dkk, 2007).

13

6. Diklofenak Derivat fenilasetat ini termasuk NSAID yang terkuat daya antiradangnya dengan efek samping yang kurang keras dibandingkan dengan obat kuat lainnya (indometasin dan piroxicam).Obat ini adalah penghambat siklooksigenase yang relatif nonselektif dan kuat, juga mengurangi bioavailabilitas asam arakidonat (Tjay dan Rahardja, 2002). Struktur kimia dari natrium diklofenak adalah sebagai berikut :

Gambar 2. Struktur Natrium Diklofenak (Takahashi, 2001)

E.

LANDASAN TEORI Tanaman kembang telang diduga berkhasiat sebagai tonikum otak yang sangat baik dan berguna untuk mengatasi infeksi mata dan tenggorokan, penyakit kulit, gangguan urinaria, sariawan mulut atau ulcer dan keperluan anti racun. Bunganya yang bewarna biru dapat digunakan untuk pewarna makanan. Bunganya direndam air panas dan diminum seperti teh utuk mengurangkan sakit akibat ulcer mulut dan perawatan insomnia. Air rendaman bunganya dapat digunakan untuk obat tetes mata pada penderita

14

konjungtivitis. Bunganya mengandung delphinidin ,3-3-5 triglucoside, dan fenol. Inflamasi merupakan tindakan protektif yang berperan dalam melawan agen penyebab jejas sel. Inflamasi melakukan misi pertahanannya dengan cara melarutkan, menghancurkan, atau menetralkan agen patologis. Uji antiinflamasi dilakukan dengan membuat udema buatan pada telapak kaki mencit jantan yang disebabkan oleh penyuntikan karagenin sebagai senyawa iritan kemudian diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis hasil pengukurannya. Pemilihan metode ini karena mudah pelaksanannya dan waktu terbentuknya udema dapat diselidiki.

F.

HIPOTESIS Pemberian infusa daun teleng (Clitoria ternatea L.) memberikan efek antiinflamasi dengan berkurangnya udema pada kaki mencit.

G. METODE PENELITIAN 1. Jenis dan rancangan penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni karena dilakukan dengan adanya perlakuan dan tanpa ada penelitian sebelumnya dengan rancangan acak pola searah. Rancangan acak pola searah digunakan karena faktor yang diuji dalam penelitian ini hanya ada satu, yaitu pengaruh dosis pemberian infusa bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) terhadap edema pada kaki mencit yang diinduksi

15

karagenin dengan pengukuran jangka sorong. Penelitian menggunakan subjek uji mencit betina galur Swiss yang diperoleh dari Laboratorium Imono Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kriteria inklusi yaitu mencit betina, umur 2-3 bulan, berat badan lebih kurang 25-30 gram, bergalur Swiss. Kriteria ekslusi adalah mencit yang mati. 2. Variable penelitian a. Variabel utama 1. Variabel bebas : peringkat dosis infusa bunga kembang telang 2. Variabel tergantung : penurunan lebar udema dilihat dari perbandingan kaki mencit yang normal dengan kaki yang terinduksi karagenin b. Variabel pengacau 1. Variabel yang dikendalikan : hewan uji mencit betina galur Swiss, umur 2-3 bulan, berat badan 25-30 gram. 2. Variabel yang tidak dikendalikan : kondisi psikologis dan patofisiologis mencit. 3. Bahan penelitian a. Hewan uji Populasi : Mencit dengan jenis kelamin betina usia 2-3 bulan, berat 25-30 gram, dan bergalur Swiss yang diperoleh dari Laboratorium Imono Universitas Sanata Dharma. Sampel : Penelitian ini menggunakan 40 ekor mencit. Sebanyak 15 ekor mencit digunakan untuk tahap orientasi dosis dan 25

16

ekor mencit untuk penelitian. Pada tahap orientasi, jumlah kelompok mencit sebanyak lima kelompok yang masingmasing kelompok terdiri dari tiga ekor mencit. Pada penelitian, jumlah kelompok mencit, sebanyak lima kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor mencit (n 5). b. Bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) Bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) yang digunakan adalah bunga kembang telang yang diperoleh dari salah satu tempat di Paingan, Sleman, Yogyakarta. c. Bahan kimia Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya merupakan produksi Merck, Jerman yaitu karagenin sebagai agen inflamasi, dan aquadest sebagai kontrol yang diperoleh dari Laboratorium Farmakologi Universitas Sanata Dharma.

4. Alat penelitian Alat-alat yang digunakan adalah neraca analitik, syringe dan spuit injeksi per oral, stopwatch, seperangkat alat gelas yaitu beker gelas, pengaduk, pipet tetes, labu takar, serta seperangkat alat pembuat sediaan infusa.

17

5. Tata cara penelitian a) Penyediaan simplisia Bunga kembang telang yang diperoleh dari salah satu daerah di Sleman, Yogyakarta, dibuat dalam bentuk sediaan. b) Pembuatan karagenin 1% Ditimbang sejumlah karagenin dengan seksama kemudian dilarutkan dengan larutan NaCl fisiologis dengan volume tertentu sampai diperoleh konsentrasi karagenin 1%. c) Pembuatan infusa bunga kembang telang Bunga yang dipilih adalah bunga yang masih segar, tidak rusak dan tidak layu. Bunga ditimbang dan dicuci bersih kemudian direbus dengan air mendidih (100oC), kemudian didinginkan dan disaring. d) Pembuatan inflamasi Kaki mencit sebelah kiri diinduksi dengan karagenin 1% secara subplantar (di bawah kulit telapak kaki mencit), sedangkan kaki mencit sebelah kanan hanya disuntik subplantar tanpa karagenin. e) Perhitungan dosis 1. Dosis karagenin Jika diketahui konsentrasi karagenin yang digunakan adalah 1%, volume pemberian adalah sebesar 0.05 mL

(Williamson, dkk., 1996), dan berat badan mencit rata-rata 25 g, maka:

18

Dosis karagenin = 2. Dosis bunga telang

= 20 mg/kgBB

Uji pendahuluan ini dilakukan karena tidak ada literatur yang menyebutkan dosis terapi yang biasa digunakan di masyarakat, di mana takarannya hanya beberapa kuntum bunga. Dalam penelitian ini, infusa bunga telang dibuat dalam 3 peringkat dosis. f) Penentuan kontrol negatif Pada penelitian digunakan aquadest sebagai kontrol negatif. Aquadest yang digunakan diinjeksikan per oral 0,5 mL. g) Perlakuan pada hewan uji Dua puluh lima ekor mencit dibagi dalam 5 kelompok masing-masing terdiri dari 5 ekor mencit. Kelompok 1 mendapat 5 ekor mencit diberi aquadest sebagai kontrol negatif diberikan 0,5 mL secara per oral kemudian didiamkan selama 15 menit, kemudian disuntikkan karagenin 1% secara subplantar, didiamkan selama 1 jam dan kaki mencit yang terinduksi karagenin diukur menggunakan jangka sorong setiap 1 jam selama 4 jam dibandingkan ukuran kaki normal dengan ukuran kaki yang terinduksi karagenin. Kelompok 2 mendapat 5 ekor mencit diberi Natrium diklofenak sebagai kontrol positif diberikan dengan volume tertentu secara per oral kemudian didiamkan selama 15 menit, kemudian disuntikkan

19

karagenin 1% secara subplantar, didiamkan selama 1 jam dan kaki mencit yang terinduksi karagenin diukur menggunakan jangka sorong setiap 1 jam selama 4 jam dibandingkan ukuran kaki normal dengan ukuran kaki yang terinduksi karagenin. Kelompok 3 mendapat 5 ekor mencit diberi peringkat dosis I infusa bunga kembang telang diberikan secara per oral, kemudian didiamkan selama 15 menit, kemudian disuntikkan karagenin 1% secara subplantar, didiamkan selama 1 jam dan kaki mencit yang terinduksi karagenin diukur menggunakan jangka sorong setiap 1 jam selama 4 jam, dibandingkan ukuran kaki normal dengan ukuran kaki yang terinduksi karagenin. Kelompok 4 mendapat 5 ekor mencit diberi peringkat dosis II diberikan secara per oral kemudian didiamkan selama 15 menit, kemudian disuntikkan karagenin 1% secara subplantar, didiamkan selama 1 jam dan kaki mencit yang terinduksi karagenin diukur menggunakan jangka sorong setiap 1 jam selama 4 jam, dibandingkan ukuran kaki normal dengan ukuran kaki yang terinduksi karagenin. Kelompok 5 mendapat 5 ekor mencit peringkat dosis III diberikan secara per oral, kemudian didiamkan selama 15 menit, kemudian disuntikkan karagenin 1% secara subplantar didiamkan selama 1 jam dan kaki mencit yang terinduksi karagenin diukur

menggunakan jangka sorong setiap 1 jam selama 4 jam,

20

dibandingkan ukuran kaki normal dengan ukuran kaki yang terinduksi karagenin. h) Analisis Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai AUC (Area Under Curve) atau kurva volume udema terhadap waktu dan % Daya Antiinflamasinya (%DAI). Volume udema dianalisis yaitu kenaikan volume udema (KVU) dengan rumus: % KVU = di mana: Vo = Volume kaki sebelum disuntik karagenin Vt = Volume kaki setelah disuntik karagenin

Dari data hasil pengukuran volume udema dibuat kurva hubungan antara volume udema terhadap waktu, dilanjutkan dengan perhitungan AUC0-4 dengan metode trapezoid, rumus: AUC0-4 = ( ( di mana:

) )

C0-C4 = volume udema jam ke 0, 1, 2, 3, 4 efek antiinflamasi dapat diketahui dengan

Besarnya

menghitung % daya antiinflamasi (% DAI). Rumus untuk perhitungan tersebut adalah: % DAI = di mana : AUCk = AUC rata-rata kurva volume udema terhadap waktu pada kelompok kontrol

21

AUCp = AUC rata-rata kurva volume udema terhadap waktu pada kelompok perlakuan

H. Jadwal Kegiatan Lamanya kegiatan Bulan Ke1 2 3

Tahap Persiapan Studi Pustaka Penelitian Laboratorium Pengumpulan data dan Penyelesaian Analisis data Penyususan laporan

22

Daftar Pustaka Gryglewski, R.J., 1977, Some Experimental Models for the Study of Inflammation and Anti-Inflammatory Drugs, in I. L. Bonta, J. Thomson, and K. Brune, Inflammation: Mechanism and Their Impact on Therapy, Birkhaueser Verlag Basel, Rotterdam, 19-21, 59 Herman, 2005, Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pengguna Tanaman Obat di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari di Kabupaten Bogor dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Skripsi, Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian IPB, Bogor Ignatius, G.E., Zarraga, M.D., dan Ernest, R. S., 2007, Coxibs and Heart Disease, Journal of The American College of Cardiology, 49, 1-14. Katzung, B. G., 2001, Farmakologi Dasar dan Klinik, diterjemahkan oleh Dripa, S., hal. 449-471, Salemba Medika, Jakarta. Khanna N., dan Sarma, S.B., 2001, Antiinflammatory and Analgesic Effect of Herbal Preparation: Septilin, Indian J. Med. Sci, 55(4), 195-202. Kohli, K., Ali, J., dan Raheman, Z., 2005, Curcumin: A natural Antiinfammatory Agent, Indian J. Pharmacol, 37(3), 141-147. Kumar, V., Abbas, A.K., Fausto, N. dan Mitchell R.N., 2007, Robbins Basic Pathology, Philadelpia, Saunders Elsevier, 29, 37-41, 53-5. Malabodi R. B., Nataraka K., 2001, Shoot Regeneration in Leaf Explants of Clitoria ternatea L. Cultured In Vitro, Phytomorphology; 51 : 169-171. Mardjono, M., 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, UI Press, Jakarta, 209210. Michael S.G., Kalamani A., 2003, Butterfly Pea (Clitoria ternatea): A Nutritive Multipurpose Forage Legume for The Topics An Overview, Pakistan Journal of Nutrition; 2 (6): 374-379. Morris, C.J., 2003, Carragenin Induced Paw Edema in The Rat an Mouse Inflammation Protocols, Methods in Molecular Biology, Vol.2, 115-122. Permadi, A., 2006, Tanaman Obat Pelancar Air Seni, Penerbit Swadaya, Jakarta, 58. Rowe, C., R., Sheskey, J. P., Weller, J. W., 2003, Handbook of Pharmaceutical Excipien, Edisi IV, Pharmaceutical Press and American Pharmaceu, 101103. Siswanto, A., dan Nurulita N.A. 2005. Daya Antiinflamasi Infus Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff. Boerl) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan, Prossiding Seminar Nasional TOI XXVII, 177 181, Batu 15 16 Maret. Tanu, I., Syarif, A., Estuningtyas, A., Setiawati, A., Muchtar, H.A. dan Arif, A., 2002, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 216-7. Turner, R. A., 1965, Screening Method in Pharmacology, Volume I, Academic Press, New York, 100-107,160. Utami, P., 2008, Buku Pintar Tanaman Obat, PT Agromedia Pustaka, Jakarta, 139.

23

Vogel H.G., 2002, Drug Discovery & Evaluation : Pharmacological Assays, 2nd edition, Springer, New York, 669-691, 725, 751-761. Wagner, H., 1985. Immunostimulants from medicinal plants, In Advances in Chinese medicinal materials research (Eds.) H.M. Chang; H.W. 133.