Anda di halaman 1dari 18

Daftar Isi

Daftar Isi ....................................................................................................................................................... 1 BAB 1 ........................................................................................................................................................... 2 Gugatan ......................................................................................................................................................... 2 A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. B. 1. 2. 3. 4. 5. Perubahan Gugatan ........................................................................................................................... 2 Pasal 127 Rv sebagai Rujukan Berdasarkan Kepentingan Beracara................................................. 2 Perubahan Gugatan Merupakan Hak ............................................................................................ 3 Batas Waktu Pengajuan Perubahan Gugatan ................................................................................ 3 Syarat Pengajuan Gugatan ............................................................................................................ 3 Perubahan Gugatan Tidak Memerlukan Persetujuan Tergugat..................................................... 4 Jangkauan Kebolehan Perubahan atau Pengurangan Gugatan ...................................................... 4 Perubahan Gugatan pada Tingkat Banding ................................................................................... 5 PENCABUTAN GUGATAN ........................................................................................................... 6 Landasan pedoman hukum yang dianggap valid .......................................................................... 6 Pencabutan merupakan hak Penggugat ......................................................................................... 6 Cara pencabutan ............................................................................................................................ 7 Akibat hukum pencabutan ............................................................................................................ 9 Pengajuan kembali gugatan yang dicabut ................................................................................... 10

Sita Jaminan ................................................................................................................................................ 12 1. 2. Sita jaminan terhadap Barang miliknya Sendiri.......................................................................... 13 Sita Jaminan terhadap Barang Milik Debitur .............................................................................. 14

Daftar Pustaka ............................................................................................................................................. 18

BAB 1 Gugatan
Gugatan adalah permasalahan yang diajukan kepada pengadilan yang melibatkan antara dua pihak atau lebih.Permasalahan yang diajukan dan diminta untuk diselesaikan dalam gugatan, merupakan sengketa atau perselisihan diantara para pihak.Di masa yang lalu untuk ini disebut kontentiosa rechtspraak.Artinya penyelesaian di pengadilan melalui proses sanggah-menyanggah dalam bentuk replik dan duplik (op tegenspraak). Perkataan kontentiosa berasal dari bahasa latin.Salah satu arti perkataan itu, yang dekat kaitannya dengan penyelesaian sengketa perkara adalah penuh semangat bertanding atau berpolemik.Itu sebabnya penyelesaian perkara yang mengandung sengketa, disebut yurisdiksi Kontentiosa, yaitu kewenangan peradilan yang memeriksa perkara yang berkenaan dengan masalah persengketaan antara pihak yang bersengketa. Gugatan kontentiosa yang dimaksud dalam gugatan perdata dalam

praktek.Sedang penggunaan kontentiosa, lebih bercorak pengkajian teoritis untuk membedakannya dengan gugatan voluntair.Dalam perundang-perundangan istilah yang dipergunakan adalah gugatan perdata atau gugatan saja.

A. Perubahan Gugatan1
1. Pasal 127 Rv sebagai Rujukan Berdasarkan Kepentingan Beracara
HIR atau RBG tidak mengatur tentang perubahan gugatan , oleh karena itu berdasarkan HIR atau RBG tidak ada ketentuan mengenai perubahan gugatan.Namun menurut Soepomo , walaupun HIR atau RBG tidak mengatur tentang perubahan gugatan , tidak berarti perubahan gugatan itu tidak di perbolehkan.Pasal 127 Rv yang berbunyi Penggugat berhak untuk mengubah
1

M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Sinar Grafika, 2004), h. 91.

dan mengurangi tutntutannya sampai saat perkara diputus, tanpa boleh mengubah atau menambah pokok gugatannya.

2. Perubahan Gugatan Merupakan Hak2


Menurut pasal 127 Rv , perubahan gugatan merupakan hak yang diberikan kepada penggugat.Berarti hakim maupun tergugat tidak boleh menghalangi dan melarangnya.Penggugat bebas menggunakan haknya asalkan berada dalam kerangka yang dibenarkan hukum. Pasal 127 Rv menegaskan melakukan perubahan gugatan adalah hak penggugat , berarti menurut hukum : a. Penggugat berhak mengajukan perubahan gugatan kepada majelis hakim yang memeriksa perkara b. Bukan meminta atau memohon izin atau perkenaan untuk melakukan perubahan gugatan

3. Batas Waktu Pengajuan Perubahan Gugatan


Mengenai hal ini muncul 2 versi : a. Sampai Saat Perkara Diputus Tenggang batas jangka waktu ini ditegaskan dalam rumusan Pasal 127 Rv yang menyatakan , penggugat berhak mengubah atay mengurangin tuntutan sampai saat perkara diputus. b. Batas Waktu Pengajuan pada Hari Sidang Pertama Penggarisan batas jangka waktu pengajuan hanya boleh dilakukan pada hari siding pertama, ditegaskan dalam Buku Pedoman MA.Selain harus diajukan pada hari siding pertama , disyaratkan para pihak harus hadir.

4. Syarat Pengajuan Gugatan


a. Pengajuan Perubahan pada Sidang yang Pertama Dihadiri Tergugat Syarat formil ini ditegaskan dalam Buku Pedoman MA yang menyatakan : Diajukan pada sidang pertama Para pihak hadir Memperhatikan ketentuan itu , penggugat tidak dibenarkan mengajukan perubahan gugatan:
2

Ibid, hlm. 92

Diluar hari sidang Pada sidang yang tidak dihadiri tergugat

b. Memberi Hak Kepada Tergugat untuk Menanggapi Syarat formil ini pun digariskan oleh MA , yang menyatakan : Menanyakan kepada tergugat tentang perubahan itu Serta memberi hak dan kesempatan untuk menanggapi dan membela kepentingannya c. Tidak Menghambat Acara Pemeriksaan Syarat ini dikemukakan Asikin dalam catatan perkara No. 943 K/Pdt/1984.Ditegaskan kebolehan perubahan gugatan tidak menghambat acara pemeriksaan perkara.

5. Perubahan Gugatan Tidak Memerlukan Persetujuan Tergugat3


a. Persetujuan Tergugat tidak Syarat Formil Seperti yang telah dijelaskan , memang disyaratkan memberi tahu serta memberi kesempatan kepada tergugat untuk menjawab dan menanggapi perubahan.Dalam tanggapan itu , tergugat dapat membuat pernyataan: Menyetujui perubahan Menolak perubahan yang disertai dengan alasan Namun bagi hukum , sikap dan pendapat apapun yang dikemukakan tergugat , tidak menimbulkan masalah.Boleh menolak atau menyetujui .Penolakan atau persetujuan tidak memengaruhi keabsahan pengajuan peradilan , asal hal itu diberitahukan serta diberi kesempatan kepada tergugat untuk menanggapi. b. Dibenarkan atau Tidak perubahan , Sepenuhnya Wewenang Hakim Pendapat dan tanggapan tergugat tidak dapat membatalkan perubahan.Namun sudah tentu salah satu dasar pertimbangan yang dinilai hakim adalah pendapat yang diajukan tergugat.

6. Jangkauan Kebolehan Perubahan atau Pengurangan Gugatan


Menurut Pasal 127 Rv , batasan yang dapat dilakukan penggugat mengubah atau mengurangi gugatan atau tuntutan , tidak boleh menambah atau mengurangin pokok gugatan.

Ibid. hlm. 97

a. Pengertian Pokok Gugatan Pasal 127 Rv tidak menjelaskan apa yang dimaksud pokok gugatan , padahal kalimat itu merupakan batasan pokok gugatan , sehingga sangat penting dijelaskan pengertian standar yang dapat dijadikan landasan uniformitas atas penerapannya. Namun Subekti mengemukakan , yang dimaksud pokok gugatan adalah kejadian materil gugatan.Dengan demikian perubahan gugatan yang dibenarkan hukum adalah perubahan yang tidak mengubah dan menyimpang dari kejadian materil. b. Pembatasan secara Kasuistik Berdasar Praktik Peradilan Bertitik tolak dari putusan pengadilan dapat dilihat penerapan yang bercorak variable dan kasuistik. 1. Tidak boleh materi pokok perkara 2. Pembatasan gugatan yang tidak prinsipil dapat dibenarkan 3. Perubahan nomor surat keputusan (SK) 4. Perubahan tanggal tidak dianggap merugikan kepentingan tergugat 5. Tidak mengubah posita gugatan 6. Pengurangan gugatan tidak boleh merugikan tergugat

7. Perubahan Gugatan pada Tingkat Banding


a. Dapat Diajukan Perubahan Gugatan kepada PT sesuai Fungsinya Memeriksa Fakta. Pada prinsipnya perubahan gugatan dilakukan pada peradilan tingkat pertama , yaitu pada instansi PN.Oleh karena itu , tidak dapat dilakukan pada tingkat banding dalam instansi PT. Akan tetapi , tanpa mengurangi prinsip tersebut , Asikin berpendapat demikian juga halnya Pengadilan Tinggi yang berfungsi sebagai tingkat banding juga adalah peradilan yang memeriksa fakta fakta. Memerhatikan pendapat diatas , dapat ditarik kesimpulan : Perubahan gugatan pada pemeriksaan tingkat banding dapat diajukan kepada PT Syarat formil kebolehan itu , asal diberi kesempatan kepada tergugat mengemukakan pendapat dan membela diri.

b. Pasal 344 Rv Melarang Pengajuan Tuntutan Baru pada Tingkat Banding Pasal ini memuat ketentuan : 1. Dilarang mengajukan tuntutan baru pada tingkat banding. Yang dilarang adalah mengajukan tuntutan baru bukan perubahan gugatan.Secara teknis perubahan gugatan boleh dilakukan dengan syarat tidak merubah posita atau materi pokok perkara.Hal ini yang membedakan perubahan gugatan dengan pengajuan tuntutan baru, 2. Boleh mengajukan tuntutan baru secara Eksepsional Antara lain tuntutan Uliverboar Bij Voorraad. Pasal 344 Rv , memberi kemungkinan mengajukan tuntutan baru secara eksepsional mengenai hal tertentu : Uang bunga , sewa, dan lain lain akibat kebendaan yang sudah ada atau timbul sejak putusan dalam tingkat pertama Biaya , kerigian dan bunga karena kerugian yang diderita sejak putusan itu Tuntutan untuk dijalankan lebih dahulu (Uliverboar Bij Voorraad). Pasal 344 Rv memberi hak kepada penggugat untuk mengajukannya pada tingkat banding kepada PT sebagai tuntutan baru.

B. PENCABUTAN GUGATAN4
1. Landasan pedoman hukum yang dianggap valid
Pasal 271 dan Pasal 272 Rv berdasar prinsip Doelmatigheid Meski Rv tidak berlaku, dalam masalah tertentu masih perlu dipedomani sesuai dengan prinsip proses kepentingan beracara dan ketertiban beracara. Apabila tidak diatur dalam HIR dan RBG. Dikemukakan juga dalam Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan* Yurisprudensi Walau tidak menganut sistem preseden namun hakim tidak dilarang mengikuti putusan hakim terdahulu (previous decision) secara liberal dan rasional

2. Pencabutan merupakan hak Penggugat


Kepentingan penggugat dan tergugat harus saling diperhatikan dan dilindungi dengan berpedoman pada cara penerapan sebagai berikut:

Ibid. Hlm. 81

a. Pencabutan Mutlak Berlangsung

Hak

Penggugat

Selama

Pemeriksaan

Belum

Berpedoman pada Pasal 271 Rv alinea pertama dimana : penggugat dapat mencabut perkaranya dengan syarat, asalkan hal itu dilakukan sebelum tergugat menyampaikan jawaban

Hak mencabut yang yang paling murni dan mutlak, apabila proses yang terjadi: baru tahap pendaftaran dan pendistribusian kepada majelis proses belum berlanjut pada tahap pemanggilan

Namun diperluas hak itu sampai selama sebelum tergugat mengajukan jawaban b. Atas Persetujuan Tergugat Apabila Pemeriksaan Telah Berlangsung Berpedoman pada Pasal 271 Rv alinea kedua yang menegaskan, setelah ada jawaban maka pencabutan istansi hanya dapat terjadi dengan persetujuan pihak lawan.Ketentuan ini bertujuan untuk melindungi kepentingan tergugat. Apabila pencabutan gugatan tidak dibatasi/ unlimited, berarti hukum memberi pembenaran kepada penggugat bertindak sewenang-wenang kepada tergugat.

3. Cara Pencabutan5
a. Yang berhak melakukan pencabutan Pencabutan gugatan sah menurut hukum harus dilakukan oleh orang yang berhak berdasarkan Pasal 272 Rv Penggugat sendiri secara pribadi Kuasa yang ditunjuk penggugat

Pencabutan yang dilakukan oleh kuasa yang tidak diberi wewenang tidak sah / illegal. Tindakan tersebut dianggap menyalahgunakan wewenang / abuse of authority dan pelampauan batas wewenang/ exceeding its power. Dan dikualifikasikan perbuatan melawan hukum/ onrechmatige dead

Ibid. Hlm. 84

b. Pencabutan gugatan yang belum diperiksa dilakukan dengan surat Pencabutan gugatan yang belum diperiksa di sidang pengadilan, mutlak menjadi hak penggugat. Pencabutan dapat dilakukan penggugat dengan cara: 1) Dilakukan dengan surat Disampaikan pada ketua PN Berisi penegasan pencabutan. Bila dilakukan dengan lisan prinsipnya tidak sah kecuali dilakukan di depan Ketua PN dan Panitera. Serta dibuat akta pencabutan yang ditandatangani penggugat dan Ketua PN atau Panitera Tujuan utama pencabutan harus berbentuk surat/ akta, agar terbina kepastian hukum dan menjadi bukti tetang kebenaran pencabutan. 2) Ketua PN Menyelesaikan Administrasi Yustisial atas Pencabutan a. Dalam hal panggilan sidang belum disampaikan kepada tergugat, Ketua PN cukup memerintahkan panitera mencoret perkara dari buku register b. Apabila panggilan sidang sudah disampaikan kepada tergugat, tindakan administrasi yustisial yang mesti diselesaikan Ketua PN / majelis memerintahkan juru sita menyampaikan pemberitahuan pencabutan kepada tergugat pemberitahuan pencabutan dapat disampaikan pada hari sidamg yang ditentukan memerintahkan panitera melakukan pencoretan perkara dari buku register c. Pencabutan gugatan yang sudah diperiksa dilakukan dalam sidang 1) Pencabutan dilakukan pada saat sidang Apabila perkara telah diperiksa, minimal tergugat telah menyampaikan jawaban: pencabutan mesti dilakukan penggugat pada sidang pengadilan penyampaian pencabutan dilakukan pada sidang yang dihadiri tergugat/ syarat contradictoir

2) Meminta persetujuan dari tergugat Proses yang harus ditempuh majelis untuk menyelesaikannya sebagai berikut: a. Majelis menanyakan pendapat tergugat Menanyakan pendapat tergugat tidak dapat ditunda.Tapi tentunya tergugat diberi waktu untuk menjawab dan berpikir dalam waktu tertentu.

b. Tergugat menolak pencabutan Majelis harus tunduk mentaati Majelis menyampaikan pernyataan dalam sidang untuk melanjutkan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan Memerintahkan panitera untuk mecatat penolakan dalam BA sidang sebagai bukti otentik dan tidak perlu dituangkan dalam bentuk penetapan/ putusan sela c. Tergugat menyetujui pencabutan Majelis menerbitkan putusan/ penetapan pencabuatn Persetujuan pencabutan yang diberikan tergugat, selain dicatat dalam BA, juga dibuat dalam putusan atas alasan apabila tergugat menyetujui pencabutan gugatan menjadi bersifat final/ berakhir berdasarkan kesepakatan didepan pengadilan, memerintahkan pencoretan perkara dari register atas alasan pencabutan.

4. Akibat hukum pencabutan6


a. Pencabutan mengakhiri perkara Pencabutan yang mendapat persetujuan dari tergugat dapat dikonstruksikan dengan penyelesaian perdamaian yang disebut Pasal 130 HIR b. Tertutup segala upaya hukum bagi para pihak putusan pencabutan gugatan mengikat (binding) sebagaimana putusan yang telah berkekuatan hukum (res judicata)
6

Ibid. Hlm. 87

tertutup hak para pihak untuk mengajukan segala bentuk upaya hukum

c. Para pihak kembali kepada keadaan semula/ restituo in integrum (pasal 272 RV) Demi hukum para pihak kembali pada keadaan semula seolah-olah tidak terjadi sengketa. Kembali seperti semula meliputi segala tindakan yang telah diambil PN dalam proses pemeriksaan perkara termasuk: Putusan provisi yang telah diambil untuk melarang tergugat melakukan sesuatu Peletakan sita yang dituangkan dalam penetapan dan berita acara sita dikembalikan pada awal semula. Pengembalian semula dapat dituangkan: 1) Dalam bentuk penetapan, apabila pencabutan terjadi sebelum pemeriksaan, pencabutan dilakukan dengan surat, sita telah diletakkan mendahului pemanggilan, pengangkatan sita, dituangkan dalam bentuk penetapan. 2) Dituangkan dalam Amar putusan, apabila pencabutan terjadi atas persetujuan penggugat di persidangan d. Biaya Perkara dibebankan kepada Penggugat 1) Jika panjar Biaya cukup Bila panjar biaya dibayar penggugat cukup, panjar itu ditetapkan untuk melunasi kewajiban penggugat membayar biaya perkara 2) Panjar biaya tidak cukup, ketua PN mengeluarkan Surat Penetapan Untuk membayar kekurangan biaya, dan surat penetapan itu mempunyai kekuatan eksekutorial dimana perintah tersebut harus dilakukan segera, dan terhadap penetapan pembayaran tidak dapat diajukan perlawanan

5. Pengajuan kembali gugatan yang dicabut


a) Yang dicabut tanpa persetujuan Tergugat dapat diajukan kembali Gugatan yang dicabut tanpa persetujuan tergugat dapat diajukan kembali sebagai perkara baru dan PN wajib menerima dan mendftarkan setelah penggugat membayar biaya perkara sesuai ketentuan Pasal 124 ayat 4 HIR b) Gugatan yang dicabut atas persetujuan Tergugat, tidak dapat diajukan kembali

10

Melekat kesepakatan dua belah pihak dimana penggugat mengajukan penawaran pencabutan dan tergugat menerima pencabutan. Sehingga, dikonstruksikan sebagai kesepakatan berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata, dan analog dengan putusan perdamaian yang digariskan dalam Pasal 130 HIR. Dengan demikian pencabutan merupakan penyelesaian sengketa mengikat (binding) dan bersifat final. Maka tidak dapat diajukan kembali.

11

BAB 2 Sita Jaminan


Upaya-upaya untuk menjamin suatu hak7 Penggugat sangat berkepentingan bahwa gugatannya dikabulkan. Oleh karena itu, ia berkepentingan pula bahwa sekiranya gugatannya dikabulkan atau dimenangkan, terjamin haknya atau dapat dijamin bahwa putusannya dapat dilaksanakan. Sebab ada kemungkinannya bahwa pihak lawan atau tergugat, selama sidang berjalan, mengalihkan harta kekayaanya kepada orang lain, sehingga apabila kemudian gugatan penggugat dikabulkan oleh pengadilan, putusan pengadilan tersebut tidak dapat dilaksanakan, disebabkan tergugat tidak mempunyai harta kekayaan lagi. Untuk kepentingan penggugat agar terjamin haknya apabila gugatannya dikabulkan nanti, undang-undang menyediakan upaya untuk menjamin hak tersebut, yaitu dengan penyitaan. Penyitaan ini merupakan tindakan persiapan untuk menjamin dapat dilaksanakannya suatu putusan perdata. Barang-barang yang disita untuk kepentingan kreditur(penggugat)

dibekukan, ini berarti bahwa barang-barang itu disimpan(diconserveer) untuk jaminan, dan tidak boleh dialihkan atau dijual (pasal 197 ayat 9, 199 HIR. 212, 214 Rbg). Oleh karena itu penyitaan ini disebut sebagai sita conservatoir atau sita jaminan. Dengan adanya penyitaan itu maka debitur kehi;angan wewenangnya untuk menguasai barangnya, sehingga dengan demikian tindakantindakan debitur atau tergugat untuk mengasingkan atau mengalihkan barang-barang yang disita adalah tidak sah dan merupakan perbuatan pidana (pasal 231,232 KUHP). Penyitaan dilakukan oleh panitera Pengadilan Negeri, yang wajib membuat berita acara tentang pekerjaannya itu serta memberitahukan isinya kepada tersita kalau ia hadir. Dalam melakukan pekerjaannya panitera dibantu oleh dua orang saksi yang ikut serta menandatangani berita acara ( pasal 197 ayat2, 5 dan 6 HIR, 209 ayat 1 dan 4 210 Rbg).Kalau perohonan sita jaminan dikabulkan, maka dinyatakan sah dan berharga dalam putusan, sesudah mana penyitaan
7

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Liberty, 2009), h. 91.

12

itu mempunyai titik ekesekutorial, sehingga berubah menjadi sifat eksekutorial, yang berarti bahwa tuntutan penggugat dapat dilaksanakan. Ada 2 macam sita jaminan, yaitu :

1. Sita jaminan terhadap Barang miliknya Sendiri8


Sita jaminan terhadap miliknya sendiri ini ada 2 macam, yaitu : a. Sita Revindicatoir (pasal 226 HIR, 260 Rbg) Pemilik barang bergerak yang barangnya ada di tangan orang lain dapat minta baik secara lisan maupun tertulis kepada ketua Pengadilan Negeri di tempat orang yang memegang barang tersebut tinggal agar barang tersebut dapat disita. Penyitaan ini disebut sita revindicatoir. Jadi yang dapat mengajukan sita revindicatoir ialah setiap pemilik barang bergerak yang barangnya dikuasai oleh orang lain (pasal 1977 ayat 2, 1751 BW). Demikian pula setiap orang yang mempuyai hak reklame, yaitu hak daripada penjual barang bergerak untuk minta kembali barangnya apabila harga tidak dibayar, dapat mengajukan permohonn sita revindicatoir (pasal 1145 BW, 232 WvK). Untuk dapat mengajukan permohonan sita revindicatoir tidak perlu ada dugan yang beralasan, bahwa seseorang yang berhutang selama belum dijatuhkan putusan, mencari akal akan menggelapkan atau melarikan barang yang

bersangkutan. Akibat hukum daripada sita revindicatoir ialah bahwa pemohon atu penyita barang tidak dapat menguasai barang yang telah disita, sebaliknya yang terkena sita dilarang untuk mengasingkannya. Apabila gugtan penggugat dikabulkan, maka dalam dictum putusan, sita revindicatoir itu dinyatakan sah dan berharga dan diperintahkan agar barang yang bersangkutan itu dierahkan kepada penggugat, sedangkan kalau gugatn ditolak, maka sita revindicatoir yang telah dijalankan iti dinyatakan dicabut.

Ibid. Hlm. 92

13

2. Sita Jaminan terhadap Barang Milik Debitur9


Sita conservatoir ini merupakan tindakan persiapan dari pihak penggugat dalam bentuk permohonan kepada ketua Pengadilan Negeri untuk menjamin dapat dilaksanaknnya putusan perdata dengan menjual barang debitur yang disita guna memenuhi tuntutan penggugat. Penyitaan ini hanya dapat terjadi berdasarkan perintah ketua Pengadilan Negeri atas permintaan kreditur atau penggugat ( ps 227 ayat 1HIR, 261 ayat 1Rbg). Dalam konkretnya permohonan diajukan kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan. Untuk mengajukan sita jaminan ini haruslah ada dugaan yang beralasan, bahwa seseorang yang berhutang selama beum dijatuhkan putusan oleh hakim atau selama putusan belum dijalankan mencari akal untuk menggelapkan atau melarikan barangnya. Kalau sita jaminan itu diajukan bersama-sama dengan gugatan atau diajukan sebelum dijatuhkan putusan, maka pernyataan sah dan diajukan sebelum diatuhkan putusan, maka pernyataan sah dan berharga itu dicantumkan dalam dictum putusan, Menurut pasal 227 ayat 1 HIR penyitaan diajukan kepada ketua Pengadilan Negeri dan ketua Pengadilan Negeri inilah yang memerintahkan penyitaan tersebut. Surat penetapan penyitaan tersebut dikirim ke Pengadilan Tinggi untuk diperiksa bersama-sama dengn pokok perkara yang bersangkutan. Kalau PengadilanTinggi menguatkan putusan Pengadilan Negeri yang isinya mengabulkan gugatan, maka di dalam dictum putusan Pengadilan Tinggi ditambahkan bahwa permohoan sita jaminan yang telah dikabulkan oleh Pengadilan Negeri dinyatakan sah dan berharga, sedang apabila Pengadilan Tinggi membatalkan putusan Pengadilan Negeri, di dalam putusanya ditambahkan bahwa sita jaminan itu diangkat ( pasal 227 ayat 4 HIR, 261 ayat 6 Rbg). Permohonan pencabutan atau pengangkatan sita jaminan dari debitur dapat dikabulkan oleh hakim apabila debitur menyediakan tanggungan yang mencukupi (ps 227 ayat 5 HIR, 261 ayat 8 Rbg). Yang apat disita secara conservatoir :

Ibid. Hlm. 95

14

a. Sita Conservatoir atas barang bergerak milik debitur (ps 227 jo 197 HIR, 26 jo 208 Rbg) Barang bergerak yang disita harus dibiarkan tetap ada pada tergugat utuk disimpannya dan dijaganya serta dilarang menjual atau mengalihkannya (ps 191 ayat 9 HIR, 212 Rbg). Jadi dengan adanya sita conservatoir tersita atau tergugat sebagai pemilik barang yang disita kehilangan wewenang atas barang miliknya sendiri. Kalau barang debitur sudah disita oleh seorang kreditur sebagai jaminan, maka bagi kreditur lain yang menggugat debitur yang sama itu, penyitaan tersebut secara tidak langsung merupakan jaminan pula. Atau kreditur yang kedua itu dapat menyita barang debitur lainnya yang belum disita. Sedangkan menurut pasal 201 HIR apabila ada dua permohonan pelaksanaan putusan atau lebih diajukan sekaligus terhadap seorang debitur, maka hanya dibuatkan satu berita acara penyitaan raja. Dapatlah disimpulkan bahwa tidak dapat diadakan sita rangkap terhadap barang yang sama. Asas larangan sita rangkap ini, yang disebut saisie sur saisie ne vaut. Disini juru sita dilarang menyita barang yang telah disita lebih dahulu. Yang dapat dilakukannya ialah menyita barang-barang debitur yang belum disita dan membuat berita acaranya. b. Sita conservatoir atas barang tetap milik debitur (ps 227,197,198199 HIR 261,208,214 Rbg) Jika disita barang tetap, maka agar jangan sampai barang tersebut dijual, penitaan itu harus diumumkan dengan meberi perintah kepada kepala desa supaya penyitaan barang tetap itu dimumkan di tempat, agar diketahui oleh oang banyak. Kecuali itu salinan berita acara penyitaan didaftarkan pda kantor pendaftaran tanah. Terhitung mulai berita acara penyitaan orang tetap itu dimaklumkan kepada umum, maka pihak yang disita barangnya dilarang memindahkannya kepada orang lain, memebani atau menyewakan (ps 199 HIR 214 Rbg). Penyitaan barang tetap itu meliputi juga tanaman di atasnya serta hasil panen pada saat dilakukan penyitaan. Kalau barang tetap itu disewaka oleh pemiliknya, aka panen itu menjadi milik penyewa. Sedangkan sewa yang belum dibayarkan kepada pemilik barang tetap yang disita, termasuk disita (ps509 RV). Menurut pasl 202
15

hir DAN 220 Rbg dapat disimpulkan bahwa disinipun tidak dpat dilakukan sita rangkap. Tetapi RV lain ketentuannya tentang hal ini. Asas saisie sur saisie ne vaut yang berkau terhadap barang bergerak tidak berlaku terhadap barang tetap; barag tetap dapat disita rangkap. c. Sita conservatoir atas barang bergerak milik debitur yang ada ditangan pihak ketiga(ps 728 RV, 197 ayat 8 HIR, 211 Rbg) debitur yang ada pihak ketiga itu. Apabila debitur mempunyai pihutang kepada pihak ketiga, maka kreditur untuk menjamin haknya dapat melakukan sita conservatoir atas barang bergerak milik debitur yang ada pihak ketiga itu. Sita conservatoir in yang disebut derdensbelag diatur dalam pasal 728 Rv. Kreditur dapat menyita atas dasat akta otentik atau akta di bawah tangan pihak ketiga. Dalam hal ini dibolehkan sita rangkap (ps 747 HIR). HIR tidk mengatur derdensbelag sebagai sita conservatoir tetapi sebagai sita eksekutorial. Pasal 197 ayat 8 HIR menentukan bahwa penyitaan barang bergerak milik debitur termasuk uang dan surat-surat berharga meliputi juga barang bergerak yang bertubuh yang ada ditangan pihak ketiga. Akan tetapi sita conservatoir ini tidak boleh dilakukan atas hewan dan alat-alat yang digunakan untuk mencari mata pencaharian. d. Sita conservatoir terhadap kreditur (ps 75a RV) Ada kemungkinan bahwa debitur mempunyai pihutang kepada kreditur. Jadi ada hubungan hutang piutang timbal balik antara kreditur dan debitur. Misalnya apabila tuntutan pihutang kreditur sudah dapat ditagih dari debitur, sedang pihutang debitur belum dapat ditagih dari kreditur atau apabila kreditur mempunyai taguhan dalam bentuk uang sedang debitur taghannya dalam bentuk barang. Dalam hal ini maka kreditur yang mengajukan gugatan dapat mengajukan permohonan sita conservatoir terhadap dirinya sendiri. Pada hakekatnya sita conservatoir ini tidak lain adalah sita conservatoir atas barang-barang yang ada di tangan pihak ketiga itu adalah kreditur itu sendiri.

16

e. Sita gadai (ps 751-756 Rv) Sita gadai ini sebagai sita conservatoir hanyalah dapat diajukan berdasarkan tuntutan yang disebut dalam pasal 1139 sub 2 BW dan dijalankan atas barang-barang yang disebut dalam pasal 1140 BW. f. Sita conservatoir atas barang-barang debitur yang tidak mempunyai tempat tinggal yang dekenal di Indonesia atau orang asing bukan penduduk Indonesia (ps 757 RV). Sita conservatoir ini yang disebut juga saisie foraine ialah untuk melindungi penduduk Indonesia terhadap orang-orang asing bukan penduduk Indonesia. g. Sita conservatoir atas pesawat terbang ( ps 763h-763k RV) Pada asasnya semua barang bergerak maupun tetap milik debitur menjadi tanggungan untuk segala perikatan yang bersifat perorangan (ps 131 ayat 1 BW), dan semua hak-hak atas harta kekayan dapat diuangkan untuk memenuhu tagihan, sehingga dengan demikian dapat disita. Yang tidak dapat disita adalah hak-hak perorangan (ps 823, 827 BW). h. Penyitaan barang milik negara Pada dasarnya barang-barang milik negara, yaitu seperti uang negara yang ada pada pihak ketiga, piutang negara pada pihak ketiga, barang-barang bergerak milik negara, tidak dapat disita kecuali ada izin dari hakim. Izin untuk menyita barang-barang milik negara itu harus dimintakan kepada Mahkamah Agung (ps 65,66 ICW , S. 1864 no. 106).

17

Daftar Pustaka
Harahap, M. Yahya. 2004.Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika. Mertokusumo, Sudikno.2009. Hukum Acara Perdata Indonesia.Yogyakarta: Liberty.

18