Anda di halaman 1dari 50

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Before the discovery of agriculture mankind was everywhere so divided, the size of each group being determined by the natural fertility of its locality.Arthur Keith Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia dengan 75 persen wilayahnya berupa laut (5,8 juta ) tersusun atas 13.487 pulau yang dirangkai oleh 95.200 km garis pantai (terpanjang kedua di dunia setelah Kanada), sudah selayaknya bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan sejahtera dengan memiliki pondasi pembangunan ekonomi yang berdasar pada pembangunan perikanan dan kelautan. Di wilayah perairan yang sangat luas itulah Indonesia memiliki potensi produksi perikanan terbesar di dunia, sekitar 65 juta ton/tahun dengan rincian potensi perikanan tangkap sebesar 7,4 juta ton/tahun dan perikanan budidaya sebesar 57,7 juta ton/tahun (KKP,2012). Sayangnya, potensi yang sedemikian besar hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal,sesuai dengan kutipan oleh Arthur Keith diatas, sebelum ditemukannya agrikultur mungkin Indonesia adalah kelompok atau negara yang sangat kaya, namun sekarang kekayaan ini akan sia-sia jika kita tidak mengolah dan merawatnya dengan baik agar menjadi bahan yang lebih berguna untuk kehidupan manusia. Pada tahun 2011, tingkat pemanfaatan dari potensi perikanan budidaya tersebut baru sebesar 7,92 juta ton atau 13,7% dari total potensinya (KKP, 2012). Dengan total produksi sebesar itu, Indonesia kini masih menjadi produsen perikanan budidaya terbesar ketiga di dunia, setelah China dan Peru (FAO, 2012).Sebagai produsen terbesar ketiga dunia, kita sudah selayaknya terus mengembangkan perikanan budidaya yang berpotensi tinggi pada skala industri besar sehingga dapat menciptakan nilai yang tinggi untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang potensial memberi kontribusi besar bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Ekstrak metabolit hidrokoloid berupa agar-agar, karagenan, dan alginat sangat dibutuhkan dalam berbagai industri seperti pangan, farmasi, bahkan tekstil sekalipun. Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot produksi rumput laut dengan menargetkan produksi rumput laut basah sebanyak 10 juta ton atau setara 1 juta ton rumput laut kering pada 2014. Target itu naik hampir dua kali lipat dibanding realisasi 2012 yang hanya 6,2 juta ton dan naik 42% dari target tahun 2013 yang mencapai 7 juta ton. Potensi areal budidaya rumput laut hampir di dapati pada seluruh daerah di wilayah Indonesia, dan sangat berkembang di daerah timur Indonesia yang antara lain di Sulawesi, Bali, NTB dan NTT, serta Papua. Potensi seluruh wilayah Indonesia ini mencapai 1,1 juta hektar (ha) sekaligus didukung keunggulan komparatif berupa iklim tropis dengan cahaya matahari melimpah sepanjang tahun sehingga hampir bisa diproduksi tanpa mengenal musim. Mengingat besarnya permintaan pasar terhadap bahan baku rumput laut tersebut dibidang industri maka diperlukan usaha penyediaan bahan baku yang memiliki kualifikasi yang dapat diterima. Berdasarkan data DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) RI tahun 2008, apabila seluruh lahan dapat dimanfaatkan maka akan diperoleh kurang lebih 32 juta ton per tahun. Jika harga rumput laut sebesar Rp 4.5 juta per ton, maka penerimaan yang diperoleh berkisar Rp 144 triliun per tahun. Berdasar data yang dikemukakan di atas, masih terbuka lebar peluang usaha budidaya dan investasi pemrosesan rumput laut.Peluang usaha itu semakin besar sejalan dengan perkembangan permintaan rumput laut dunia yang meningkat rata-rata 5-10% per tahununtuk produk-produk turunan rumput laut seperti karaginan semirefine (SRC), agar, dan alginat untuk industri (industrial grade). Adapun alginat untuk makanan (food grade) meningkat sebesar 7.5 persen dan karaginan refine sebesar lima persen. Dewasa ini permintaan rumput laut yang ditujukan kepada eksportir Indonesi diindikasikan sudah mencapai 48.000 ton rumput laut kering per tahun(World Bank Report, 2006). Secara ekonomi, rumput laut memiliki potensi ekonomi yang tinggi dan sejalan dengan model blue economy dimana hal ini menjadi salah satu komoditas

unggulan dalam program revitalisasi perikanan disamping udang dan tuna. Ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan dan juga keunggulannya, yang antara lain prospek yang cerah dalam ekspor; harga relatif stabil; teknologi budidaya yang mudah dan sederhana; potensi lahan luas dengan keragaman jenis mencapai 782 jenis dan masa tanam yang pendek; kebutuhan modal yang relatif kecil dan bersifat padat karya; diversifikasi produk yang beragam; tanpa limbah dan efisien sumberdaya alam. Lebih lanjut, rumput laut merupakan komoditas yang tak tergantikan karena tidak ada produk sintetisnya sehingga usaha pembudidayaannya sangat prospektif dengan permintaan terhadapnya yang semakin meningkat seiring dengan trend masyarakat dunia yang mulai concern pada produk-produk alami. Seiring dengan peningkatan permintaan dunia yang semakin besar, produksi rumput laut dunia juga mengalami peningkatan yang cukup baik setiap tahunnya. Beberapa negara produsen mulai bersaing untuk dapat memproduksi rumput laut dengan kuantitas yang besar dan kualitas terbaik pula. Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar dalam budidaya rumput laut, statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat Indonesia memproduksi 6,2 juta ton pada tahun 2012. Pada sisi ekspor, Indonesia mencatat nilai ekspor rumput laut pada tahun 2012 sebesar US$ 178 juta dengan volume 174.000 ton. Akan tetapi sebagian besar ekspor rumput laut Indonesia masih dalam bentuk gelondongan kering (raw seaweeds) ataupun barang setengah jadi lainnya. Indonesia dengan potensi perikanan yang sangat besar khususnya untuk komoditas rumput laut ini berpeluang menjadi yang terbesar sebagai produsen rumput laut. Namun, Indonesia juga harus mempunyai kemampuan yang baik dalam segi harga, kualitas, kuantitas dan juga didukung oleh kebijakan-kebijakan pemerintah baik dalam perdagangan, manajemen industri rumput laut nasional serta kebijakan lainnya. Hal inipun sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo, dalam acara International Seaweed Symposium (ISS) ke-21 di Bali yang mengemukakan program KKP saat ini sangat mendukung industrialisasi rumput laut yang bertujuan terpenuhinya pasokan rumput laut bagi pasar dalam negeri sekaligus untuk meningkatkan ekspor olahan

rumput laut. Tercatat pada tahun 2013, program hilirisasi rumput laut mulai menarik pemodal dengan peningkatan investasi, yang akan dilakukan empat perusahaan sebesar Rp 165 miliar. Kebijakan hilirisasi rumput laut juga merupakan upaya kementerian untuk menampung produksi rumput laut yang terus meningkat. Membangun industri hilir rumput laut nasional ini akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan dan kemakmuran bangsa, termasuk memberdayakan kehidupan masyarakat di wilayah pesisir. Hal ini dimungkinkan karena model pengembangan industri hilir rumput laut juga bergantung dengan sektor hulu. Jika kemajuan industri tersebut mampu diwujudkan maka akan tercipta peningkatan penyediaan lapangan kerja (pro-job), peningkatan

kesejahteraan masyarakat (pro-poor) dan memberi sumbangan nyata bagi PDB, nilai ekspor, serta menimbulkan sejumlah multiplier effects (efek pengganda) ekonomi lainnya (pro-growth) terlebih bertumpu pada produksi dalam negeri dan menggunakan bahan baku bersumber dari lokal (pro-indigenous product). 1.2.Rumusan Masalah Dalam makalah ini akan dibahas seputar seluk beluk rumput laut serta aktivitas industri hilir yang berdaya saing. Oleh karena itu dengan melihat potensi dan peluang yang telah dijabarkan dalam latar belakang dibutuhkan sebuah pemahaman dan analisis yang mendalam untuk dapat mewujudkan kondisi industri yang mampu meningkatkan kekuatan nasional. Sehingga disimpulkan bahwa permasalah yang menjadi utama untuk dijawab dalam makalah ini adalah : Bagaimanakah kekuatan, kelemahan, peluangdan ancaman industri hilir rumput laut? Apa faktor kesuksesan industri hilir rumput laut ?

1.3.Tujuan Menganalisa kekuatan, kelemahan, peluangindustri dan ancaman industri hilir rumput laut. Menganalisa faktor-faktor kesuksesan industri hilir rumput laut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Rumput Laut Rumput laut merupakan tumbuhan marine-

macroalgae yang merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang komersial dan penting. Rumput laut ini termasuk kelompok primitif dari tumbuhan autotrofik tak berbunga (Thalophyta) yang tumbuh di perairan laut intertidal, dangkal dan kadang-kadang di bawah muka air hngga kedalaman laut 100 m serta di perairan estuaria (Kaladharan dan Kaliaperumal 1999). Struktur kerangka tubuhnya tidak berdaun, berbatang dan berakar, sehingga semuanya terdiri atas batang (thallus) saja. Tumbuhan ini hidup di tempat-tempat berbatu atau berkarang yang dijadikannya sebagai substrat tempat melekatkan alat penempel rhizoid atau holdfast. Rumput laut dikenal pertama kali di China kira-kira 2700 SM. Pada masa tersebut, rumput laut digunakan untuk obat-obatan dan sayuran. Tahun 65 SM bangsa Romawi menggunakan rumput laut sebagai bahan baku kosmetik, namun dari waktu ke waktu pengetahuan tentang rumput laut semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas (DKP, 2007) Sedangkan rumput laut di Indonesia mulai diidentifikasi sejak tahun 1899 oleh Max Weber, identifikasi ini dikenal dengan nama Siboga expedition, kemudian pada tahun 1928 Max Weber dan Van Bose melakukan klasifikasi jenis rumput laut. Pada tahun 1940 mulai dilakukan pemasaran rumput laut jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum dari Makasar dan Surabaya. Proses identifikasi rumput laut komersial juga dilakukan oleh Zaneveld dari FAO pada tahun 1968, jenis rumput laut yang diidentifikasi adalah Euchema, Gracilaria, Gelidium, Hypnea, dan Sargassum. Pada tahun 1967 pertama kali rumput laut jenis Eucheuma Spinosum dibudidayakan di Indonesia yaitu di Kepulauan Seribu tepatnya di Pulau Pari oleh Prof. Soerjodinito dan Hariadi Adnan, kemudian pada tahun 1947 rumput laut jenis Eucheuma cottonii yang berasal dari Filipina dapat

dibudidayakan di Indonesia, setahun kemudian LIPI memulai proyek budidaya Spinosum di Pulau Samaringga dan Pulau Rio di Sulawesi namun proyek ini tidak berkembang sehingga proyek dihentikan.

Pada tahun 1985 dilakukan uji coba budidaya rumput laut jenis cottonii di Bali tepatnya di daerah Nusa Lombongan, Nusa Penida dan Nusa Ceningan. Kemudian pada tahun 1986 Hans Porse memperkenalkan rumput laut Indonesia jenis Euchema cottonii dan Eucheuma spinosum pada International

SeaweedSymposium di Brazil. Pada tahun 1994 APBIRI menyelenggarakan SeaweedSymposium di Bali (Hans, Porse, 2008). Pada tahun 2007, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan Komisi Rumput Laut Indonesia, Aspperli dan Masyarakat Rumput Laut Indonesia / ISS menyelenggarakan Seaweed International Bussines Forum and Exhibition / SEABFEX di Bali, dan pada tahun 2008 SEABFEX II diselenggarakan di Makasar bersamaan dengan Indonesia Seaweed Forum. SEABFEX II diselenggarakan pada Juli 2010 di Surabaya, dihadiri 19 negara, dan sampai dengan saat ini SEABFEX sudah menjadi agenda pertemuan rumput laut dunia setiap dua tahun

2.2. Jenis-Jenis Rumput Laut Rumput laut atau algae termasuk ke dalam tumbuhan tingkat rendah, dimana koloni tumbuh menempel pada bebatuan atau menancap pada substrat pasir laut dengan beraneka ragam dan warna. Secara garis besar rumput laut diklasifikasikan dalam 3 kelompok besar sesuai pigmentasinya yaitu : 1. Coklat (Phaeophyceae) Alga coklat atau Phaeophyceae adalah adalah salah satu kelas dari dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Pigmen yang lebih dominan adalah pigmen xantofil yang

menyebabkan ganggang berwarna coklat. Semua ganggang coklat berbentuk benang atau lembaran, bahkan ada yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi dengan bagian-bagian serupa akar, batang, dan daun.

Umumnya ganggang coklat bersifat makroskopis, dan dapat mencapai ukuran lebih dari 20-30 meter, dan mempunyai gelembung-gelembung udara yang berfungsi sebagai pelampung. Kegunaan utama dari rumput laut coklat biasanya sebagai makanan dan bahan baku dalam ekstrasi dari hydrocolloid dan alginate, tumbuhan ini biasa hidup dalam air dingin namun terkadang juga bisa ditemukan dalam air yang lebih hangat tetapi kurang cocok untuk produksi alginate dan makanan. Contoh ganggang coklat seperti Fucus Vesiculosus, Sargasm Siliquosum, Turbinaria Australis, Fucus Distichus dan Laminaria. Kandungan koloid yang paling utama adalah algin yang diekstrak dari marga Sargassum, Turbinaria dan Macrocystis. Koloid algin dalam dunia perdagangan disebut asam alginik. Algin dalam bentuk derivat garam dinamakan garam alginat terdiri dari sodium alginat, potasium alginat dan amonium alginat. Garam alginat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam larutan alkali. Koloid Fucoidin terdapat dalam Macrocystis dan Laminaria dalam bentuk ester dari kandungan polisacharida dan asam sulflrik. Kandungan koloid algin dalam industri kosmetik digunakan sebagai bahan pembuat sabun, fomade, cream, body lution, sampo dan cat rambut. Di bidang industri farmasi, digunakan sebagai bahan pembuat pembuat kapsul obat, tablet, salep, emulsifier, suspensi dan stabilizer. Di bidang pertanian sebagai bahan campuran insektisida dan pelindung kayu, sedangkan di bidang industri makanan digunakan sebagai bahan saus, dan campuran mentega. Manfaat lainnya digunakan dalam industri fotografi, kertas, tekstil dan keramik. Di bidang kesehatan iodine yang terkandung di dalam rumput laut coklat dari kelompok "alginofit" dapat digunakan sebagai obat pencegah penyakit gondok 2. Merah (Rhodophyceae) Algamerah atau Rhydophyta adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoetrin dalam jumlah banyak dibandingkan dengan pigmen klorofil,

karoten dan xantofil. Alga ini pada umumnya bersel banyak (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran. Alga merah tidak selalu berwarna merah, terkadang berwarna ungu, atau coklat kemerahan. Manfaat utama dari alga merah adalah sebagai makanan dan sumber hydrocolloids seperti agar dan karagenan. Karagenan diekstrak dari marga Eucheuma, Gigartina, Rhodimenia dan Hypnea. Koloid agar diekstrak dari Gracilaria, Gelidium, Gelidiopsis dan Gelidiella Alga merah atau rumput laut merah bisa ditemukan di perairan dingin seperti Nova Scotia (Kanada) atau Chile, sedangkan pada suhu yang lebih hangat bisa ditemukan di perairan moroko dan portugal, dan untuk perairan tropis bisa ditemukan di Indonesia dan Filipina. 3. Hijau (Chlorophyceae) Ganggang memiliki hijau ukuran berukuran yang kecil dan

sejenis

dengan

ganggang merah. Pigmen korofilnya lebih banyak ketimbang pigmen lainnya seperti karoten dan xantofil sehingga ganggan ini berwarna hijau. Habitatnya bisa hidup di air tawar, air laut, air payau tanah yang basar dan ada pula yang hidup di tempat kering. Pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul ke permukaan apabila air surut. Sebagian lainnya hidup bersimbiosi dengan lichenes, dan ada yang intraseluler pada binatang rendah. Sebagian hidup di laut seperti ulvales dan siphonales. Kandungan kimia esensial yang paling menonjol adalah vitamin C banyak dijumpai dari marga Caulerpa mencapai 1000 - 3200/mg dan rumput laut hijau mengandung koloid berkadar rendah (DUBINSKY et al 1978). Di bidang peternakan rumput laut hijau sebagai bahan industri pakan campuran ternak. Di beberapa negara rumput laut ini digunakan dalam industri makanan yakni sebagai pembungkus makanan dan langsung dapat dimakan. Di restoran Cina disajikan dalam bentuk segar sebagai sayuran dan lalap. Kelompok rumput laut hijau dikenal sebagai "Sea

vegetable"sebagai obat anti jamur, anti bakteri dan tekanan darah tinggi (SMITH and YONGE1955; TRONO & GANZON1988).

Pengelompokan rumput laut juga dibedakan berdasarkan kandungan koloidnya, dimana kelompok penghasil agar atau dikenal agarofit antara lain jenis Gracilaria dan Gelidium, sedangkan kelompok penghasil karaginan atau karaginofit adalah Euchema dan Kappaphycus. Kelompok lainnya yaitu alginofit sebagai penghasil alginat antara lain jenis Sargassum dan Turbinaria. 1. Agarofit Agarofit adalah jenis rumput laut penghasil agar. Jenis-jenis rumput laut tersebut adalah Gracilaria spp, Gelidium spp, dan Gelidiela spp. Agaragar merupakan senyawa kompleks polisakarida yang dapat membentuk jeli. Kualitas agar-agar dapat ditingkatkan dengan suatu proses pemurnian yaitu membuang kandungan sulfatnya. Produk ini dikenal dengan nama agarose. Kualitas agar-agar yang berasal dari Gelidium / Gelidiela lebih tinggi dibanding dari Gracilaria. Dalam skala industri agar-agar dari Gelidium mutunya dapat ditingkatkan menjadi agarose, tetapi Gracilaria masih dalam skala laboratorium. Jenis yang dikembangkan secara luas baru Gracilaria spp. Di Indonesia, Gracilaria verrucosa umumnya dibudidayakan di tambak. Jenis ini mempunyai Thallus berwarna merah ungu dan kadang-kadang berwarna kelabu kehijauan dengan percabangan alternatif atau dikotomi, perulangan lateral berbentuk silindris, meruncing di ujung dan mencapai tinggi 1-3 cm serta berdiameter antara 0,5-2,0 mm Wilayah pengembangan Gracillaria verrucosa dan Gracillaria gigas terdapat di perairan Sulawesi Selatan (Janeponto, Takalar, Sinjai, Wajo, Palopo, Bone, Maros); Lombok Barat, Pantai Utara P. Jawa (Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Brebes, Pemalang, Tuban, dan Lamongan). Sedangkan untuk jenis Gelidium spp belum banyak dibudidayakan, umumnya masih dihasilkan dari alam. Rumput laut jenis ini banyak ditemukan hampir di seluruh perairan Indonesia.

2. Alginofat Na-Alginofat (atau Natrium Alginat / Alginat / Algin) merupakan zat yang terdapat pada rumput laut coklat (Phaeophyceae). Rumput laut coklat penghasil alginate (alginofit) biasanya di perairan subtropis terutama untuk jenis Macrocytis, Laminaria, Aschophyllum, Nerocytis, Ecklonia, Fucus, dan Sargassum. Sedangkan rumptu laut coklat yang tumbuh di perairan tropis seperti di Indonesia terutama jenis-jenis Sargassum, Turbinaria, Padina, Dyctyota dan yang paling banyak ditemukan adalah jenis Sargassum dan Turbinaria. Asam alginat adalah suatu getah selaput (membrane mucilage) yang disebut juga gummi alami, sedangkan alginat merupakan bentuk garam dari polisakarida yang terdapat pada rumput laut disebut phycocolloid. Polisakarida terpenting pada rumput laut coklat adalah asam alginate dan turunnya seperti fukoidan, funoran dan laminaran yang merupakan komponen penyusun dinding sel seperti halnya selulosa dan pektin. Di perairan Indonesia terdapat sekitar 28 spesies rumput laut coklat yang berasal dari enam genus diantaranya yaitu Dyctyota, Padine, Hormophysa, Sargassum, Turbinaria dan

Hydroclathrus. Spesies rumput laut yang telah diidentifikasi yaitu Sargassum sp. sebanyak 14 spesies, Turbinaria sp. sebanyak 4 spesies, Hormophysa sp. baru teridentifikasi 1 spesies, Padina sp. 4 spesies, Dyctyota sp. 5 spesies dan Hydroclathrus sp. 1 spesies. Jenis-jenis rumput laut tersebut pada beberapa daerah di Indonesia. Na-Alginat banyak yang digunakan banyak industri seperti industri makanan, minuman, obatobatan, kosmetik, kertas, setergen, cat, tekstil, vermis, fotografi, kulit buatan dan lain-lain. Dalam industri zat ini digunakan sebagai pembentuk gel (gelling agent), pengemulsi dan penstabil emulsi (emulsifying dan stabilizing agent), pensuspensi (suspending agent), pengikat (binding agent), penghalus (finishing agent), pengeras kain (stiffening agent), pembentuk struktur (sizing agent), penjernih (clarifying agent) dan sebagainya. Untuk kebutuhan industri di Indonesia yang saat ini terus berkembang yakni kebutuhan Na-Alginat masih disuplai melalui impor dari beberapa negara seperti Perancis, Inggris, RRC, Jepang.

10

3. Karaginofit Karaginofit adalah rumput laut yang mengandung bahan utama polisakarida karagin. Rumput laut yang mengandung karaginan adalah dari marga Eucheuma yang merupakan jenis alga merah (Rhodophyceae). Karaginan terdiri dari tiga macam, yaitu iota karaginan dikenal dengan tipe spinosum, kappa karaginan dikenal dengan tipe cottonii dan lambda karaginan. Ketiganya dibedakan dengan sifat jeli yang terbentuk. Iota karaginan berupa jeli lembut dan fleksibel atau lunak. Kappa karaginan jeli bersifat kaku dan keras. Sedangkan lambda karaginan tidak dapat membentuk jeli, tetapi berbentuk cair yang viscous. Jenis yang potensial diantaranya Eucheuma cottonii dan Eucheumaspinosum. Kedua jenis ini secara luas diperdagangkan, baik keperluan bahan baku industri dalam negeri maupun ekspor. Sedangkan E. edule dan Hypnea sp hanya sedikit sekali diperdagangkan dan tidak dikembangkan dalam usaha budidaya. Sebaliknya Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum dibudidayakan oleh masyarakat pantai. Dari kedua jenis tersebut E. cottonii yang paling banyak dibudidayakan karena permintaan pasar yang sangat besar. Rumput laut Eucheuma cottonii di Indonesia umumnya tumbuh di perairan yang mempunyai rataan terumbu karang. Ia melekat pada substrat karang mati atau batu gamping di daerah interdal dan subditial. Tumbuh tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Wilayah potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut Eucheuma cottonii terletak di perairan pantai Nanggroe Aceh Darussalam (Sabang); Sumatera Barat (Pesisir Selatan, Mentawai); Riau (Kepulauan Riau, Batam); Sumatera Selatan; Bangka Belitung, Banten ( Ujung Kulon); Kepulauan Seribu; Jawa Tengah (Karimunjawa, Jepara); Jawa Timur (Situbondo, Madura, dan Banyuwangi); Bali (Nusa Penida, Nusa Lembongan); NTB (Lombok Timur, Lombok Barat, Sumbawa, Bima, Dompu); NTT(Larantuka, Kupang, Maumerre, P.Rote); Sulawesi Utara; Gorontalo; Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara; Kalimantan Selatan (P. Laut); Kalimantan Timur; Maluku (P. Seram, Halmahera, Kep. Aru dan Kei); Papua. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan rumput laut karaginofit

11

dengan jenis Eucheuma cottonii sebagai salah satu penelitian yang telah dilakukan. Rumput laut jenis unggulan ini memiliki kelebihan untuk ekspor, khususnya ke negara China.

2.3. Kegunaan dan Manfaat Rumput Laut Penggunaan rumput laut sangat beragam, baik yang diolah secara sederhana melalui pengolahan yang lebih kompleks untuk dijadikan barang setengah jadi, kemudian dapat diolah lebih lanjut oleh industri hilir menjadi barang jadi yang dapat digunakan (dikonsumsi) langsung. Saat ini rumput laut sebagai sumber karaginan dan agar dengan ekstrak hidrokoloidnya telah dimanfaatkan sebagai ingredient untuk sekitar lima ratus jenis produk yang bernilai komersial oleh industri di seluruh dunia seperti industri makanan, minuman, kosmetik, cat, tekstil, obat (anticoagulant, antibiotics, antimehmetes, antihypertensive agent, pengurang kolesterol, dilatory agent, dan insektisida) dan industri lainnya. Hidrokoloid adalah suatu polimer larut dalam air, yang mampu memb daentuk koloid dan mampu mengentalkan larutan atau mampu membentuk gel dari larutan tersebut. Di dalam rumput laut terdapat nilai nutrisi yang cukup lengkap. Secara kimia rumput laut terdiri dari air (27.8%), protein (5.4%), karbohidrat (33.3%), lemak (8.6%) serat kasar (3%) dan abu (22.25%). Selain itu juga mengandung mineral esensial (besi, iodin, alluminium, mangan, calsium, nitrogen terlarut, fosfor, sulfur, chlor silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, enzim, asam nukleat, asam amino, dan vitamin (A, B, C, D, E dan K). Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10 - 20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat. Zatzat tersebut sangat baik untuk dikonsumsi sehari-hari karena mempunyai fungsi dan peran penting untuk menjaga dan mengatur metabolisme tubuh manusia. Rumput laut juga banyak digunakan sebagai bahan pakan organisme di laut, sebagai pupuk tanaman dan penyubur tanah, sebagai pengemas transportasi yang sangat baik untuk lobster dan clam hidup (khususnya dari jenis Ascophyllum dan focus), sebagai stabilizer larutan, dan juga kegunaan lainnya.

12

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa rumput laut adalah bahan pangan berkhasiat, berikut beberapa diantaranya: 1. Antikanker Penelitian Harvard School of Public Health di Amerika mengungkap, wanita premenopause di Jepang berpeluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan wanita Amerika. Hal ini disebabkan pola makan wanita Jepang yang selalu menambahkan rumput laut di dalam menu mereka. 2. Antioksidan Klorofil pada gangang laut hijau dapat berfungsi sebagai antioksidan. Zat ini membantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahaya bagi tubuh. 3. Mencegah Kardiovaskular Para Ilmuwan Jepang mengungkap, ekstrak rumput laut dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Bagi pengidap stroke, mengkonsumsi rumput laut juga sangat dianjurkan karena dapat menyerap kelebihan garam pada tubuh. 4. Makanan Diet Kandungan serat (dietary fiber) pada rumput laut sangat tinggi. Serat ini bersifat mengenyangkan dan memperlancar proses metabolisme tubuh sehingga sangat baik dikonsumsi penderita obesitas. Karbohidratnya juga sukar dicerna sehingga Anda akan merasa kenyang lebih lama tanpa takut kegemukan. 5. Secara tradisional, rumput laut dipercaya dapat mengobati batuk, asma, bronkhitis, TBC, cacingan, sakit perut, demam, influenza, dan artritis. 6. Rumput laut bisa meningkatkan fungsi ketahanan tubuh, memperbaiki sistem kerja jantung, dan peredaran darah serta sistem pencernaan. 7. Serat yang dikandungnya dapat mencegah kanker usus besar, menurunkan kadar kolesterol darah dan gula darah

Kandungan utama rumput laut segar adalah air yang mencapai 80-90 persen, sedangkan kadar protein dan lemaknya sangat kecil. Meski kadar lemaknya rendah, susunan asam lemaknya sangat penting bagi kesehatan. Lemak rumput laut kaya akan omega-3 dan omega-6. Kedua asam lemak ini merupakan lemak yang penting bagi tubuh, terutama sebagai pembentuk membran jaringan otak, saraf, retina mata, plasma darah, dan organ reproduksi. Kandungan kalori dalam
13

rumput laut sangat rendah. Dari total kandungan karbohidratnya, kurang dari seperempatnya yang dapat diserap tubuh. Karena itu, baik rumput laut maupun agar-agar sangat baik untuk mereka yang ingin mengurangi berat badan. Rumput laut juga diketahui sangat kaya unsur yodium. Kandungan yodium rumput laut sekitar 2.400 - 155.000 kali lebih banyak dibanding kandungan yodium sayuran yang tumbuh di daratan. Kekurangan yodium akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama timbulnya gondok (pembesaran kelenjar tiroid). Kekurangan yodium selama kehamilan bisa berakibat pada cacat janin, yaitu anak menjadi bisu dan tuli, otak kurang berkembang, kerdil, pertumbuhan terhambat, dan keterbelakangan mental. Untuk mencegah masalah akibat kekurangan yodium, konsumsi yodium yang dianjurkan adalah 150 mikrogram untuk orang dewasa, 175 mikrogram untuk wanita hamil, dan 200 mikrogram untuk wanita menyusui. Diversifikasi Produk Difersifikasi Produk adalah proses ekpansi peluang bisnis dengan menciptakan pasar yang baru dengan produk yang baru untuk memenuhi pasar potensial. Hal ini bisa dilakukan dengan mengubah atau meningkatkan produk yang telah ada ada dengan adaptasi penerapan pricing strategy dan aktivitas pemasaran seperti market research, analisis produk adaptasi dan legal review. Produk rumput laut diolah dengan berbagai merode dan teknik untuk memperoleh hasil metabolisme primernya, yaitu senyawa hidrokoloid yang disebut agar, karaginan, alginat dan furcellaran yang ekstrak senyawa ini dapat digunakan dalam industri produk makanan, farmasi, tekstil, kosmetik hingga bahan bakar. 2.3.1. Agar Agar diekstrak dari spesies Gelidium dan Graciliaria. Agar-agar merupakan asam sulfanik yang merupakan ester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggangjenis Agarophytae. Agar - agar ini sifatnya larut dalam air panas dan tidak larut dalam air dingin. Sekarang, penggunaan agar-agar semakin berkembang. Dulu, hasil laut ini hanya untuk makanan, tapi kini telah digunakan dalam industri tekstil, kosmetik, dan lain-lain. Fungsi utamanya adalah sebagai bahan pemantap, dan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi,

14

dan bahan pembuat gel. Dalam industri, agar-agar banyak digunakan dalam industri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, es campur, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat. Di industri farmasi, agar-agar bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkus kapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi. Dalam industri tekstil, ia dapat digunakan untuk melindungi kemilau sutera. Sementara itu, di industri kosmetik, agar-agar bermanfaat dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun. Selain itu, masih banyak manfaat lain dari agar - agar, seperti untuk pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, dan pengalengan ikan dan daging.

2.3.2. Karaginan Keraginan merupakan senyawa polisakarida yangtersusun dari unit Dgalaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1 4 glikosilik. Ciri kas dari keraginan adalah setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%. Kegunaan keraginan hampir sama dengan agar - agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Keraginan banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk pasta gigi dan obat - obatan. Selain itu juga dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik dan cat.

2.3.3. Alginat Algin ini didapatkan dari rumput laut jenis algae coklat. Algin ini merupakan polimer dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dalam bentuk tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang larut dalam air. Kegunaan algin dalam industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi, dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Algin dalam industri banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, dan puding. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, dan

15

filter. Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan dalam industri lain, seperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.

2.3.4. Biofuel Bahan Bakar Salah satu bentuk diversifikasi produk untuk menjawab tantangan global akan terbatasnya bahan bakar minyak adalah pengembangan bioenergi dimana bioenergi adalah bahan bakar yang bersumber dari bahan-bahan hayati. Bioenergi ini digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil di sektor transportasi, rumah tangga, industri, dan juga listrik. Adapun bioenergi yang dikembangkan ada bermacam-macam, yaitu biodiesel sebagai pengganti solar, bioetanol sebagai pengganti bensin/gasohol, biogas sebagai pengganti gas alam, serta biomassa sebagai pengganti minyak tanah. Sedangkan Menurut Permen ESDM No. 32 Tahun 2008 biofuel didevinisikan sebagai bahan bakar yang bersal dari bahanbahan nabati atau dihasilkan dari bahan-bahan organic lain. Biofuel juga dapat didefinisikan sebagai setiap bahan bakar baik padatan, cairan ataupun gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik. Solusi yang bisa ditawarkan untuk mendukung diversifikasi energi dan mempercepat pengembangan bioenergi, adalah dengan memanfaatkan alga sebagai sumber energi. Potensi alga sebagai sumber energi memiliki banyak kelebihan, antara lain bukan merupakan tanaman pangan utama, cocok dikembangkan di daerah tropis, produksinya melimpah, budidayanya relatif mudah, serta dapat digunakan sebagai bahan baku produksi biodiesel, bioetanol, gas hidrogen, dan juga gas metana. Dengan karakteristik alga yang dapat digunakan untuk memproduksi berbagai jenis produk bioenergi ini menyebabkan algae memiliki potensi yang tinggi dalam mendukung percepatan pengembangan bioenergi di Indonesia. Beberapa perusahaan dunia terus melakukan

pengembangan dalam teknologi ini contohnya seperti

perusahaan produsen

pesawat seperti boeing, maskapai penerbangan Continental Airlines dan juga perusahaan minyak Shell, ini membuktikan bahwa adanya potensi yang baik dan

16

besar dalam penggunaan bahan baker alga sebagai altenartif bahan bakar fosil yang tidak terbarukan.

Biodiesel (Lipid => Transesterifikasi) BIOFUEL Bioetanol (Karbohidrat => Fermentasi)


2.3.4.1. Biodiesel Salah satu bahan baku yang potensial untuk digunakan sebagai bahan baku biodiesel adalah alga. Sebelum dilakukan proses transestrifikasi pada minyak alga terlebih dahulu perlu dilakukan proses degumming untuk menghilangkan gumgum yang terdapat pada minyak alga, sehingga nantinya tidak akan mengganggu proses esterifikasi/transesterifikasi. Setelah dilakukan proses degumming

selanjutnya dilakukan proses deacidifikasi dengan tujuan untuk memisahkan asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak alga sehingga dapat menghindarkan terbentuknya sabun pada proses tranesterifikasi. Selanjutnya asam lemak bebas yang sudah dipisahkan dari minyak alga dilakukan proses esterifikasi dengan menggunakan katalis asam untuk mengkonversinya menjadi metil ester. Metil ester (biodiesel) dapat dihasilkan melalui proses

esterifikasi/transesterifikasi minyak alga. Esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Proses esterifikasi pada asam lemak bebas merupakan proses konversi asam lemak bebas menjadi biodiesel

17

2.3.4.2. Bioethanol Etanol generasi pertama dapat dibuat dari proses fermentasi beberapa tanaman seperti tebu, jagung, singkong atau tanaman lain yang kandungan karbohidratnya tinggi. Etanol generasi selanjutnya dapat dibuat dari fermentasi material lignoselulosa seperti serbuk gergaji, jerami padi, tandan kosong kelapa sawit serta alga. Produksi bioetanol dapat dilakukan dengan menggunakan karbohidrat yang merupakan kandungan dalam tubuh alga sebagai hasil proses fotosintesis. Produksi bioetanol dilakukan melalui proses sakarifikasi dan fermentasi serentak dengan menggunakan enzim xilanase (Samsuri et al., 2007). Biokonversi glukosa menjadi bioetanol, memerlukan perantara mikroba lain yang umumnya menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan

Zymomonasmobilis. Proses yang harus dilakukan untuk menghasilkan bioethanol terdiri dari 3 tahap yakni : 1. Persiapan Bahan Baku 2. Fermentasi C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP 3. Destilasi Bioetanol merupakan bahan bakan alternatif yang mirip dengan bensin. Menurut Kadarsono (2008), ada beberapa karakteristik bioetanol, antara lain: 1. Memiliki angka oktan yang tinggi. 2. Mampu menurunkan tingkat opasiti asap, emisi partikulat yang membahayakan kesehatan dan emisi CO dan CO. 3. Mirip dengan bensin, sehingga penggunaanya tidak memerlukan modifikasi mesin. 4. Tidak mengandung senyawa timbal. Sebagai salah satu bahan bakar alternatif, gasohol dengan porsi bioetanol hingga 20persen bisa langsung digunakan pada mesin otomotif berbahan bakar bensin tanpamenimbulkan masalah teknis dan sangat ramah lingkungan. Kadar karbonmonoksida (CO)dari hasil uji pada rpm 2.500, untuk gasohol 20 % tercatat 0,76 % gas CO, sedangkanpremium mencapai angka 3,66 % dan Pertamax 2,85 %.

18

2.3.5. Contoh Produk Olahan Rumput Laut

Kerupuk Rumput Laut dan Nata de Seaweed

Manisan dan Dodol Rumput Laut

Es Krim dan Puding Rumput Laut

19

Pupuk dari Rumput Laut dan Minuman Serat Instan Rumput Laut

Pet Food dan Fish Food dari Rumput Laut

Cream & Body Lotion dari Rumput Laut

20

Fried Seaweed

Dried Microalgae Biomass, Algal biodiesel, Biocrude oil, Omega-3oil dan Carotenoids 2.4. Teori SWOT Analisis SWOT adalah instrument perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi. Instrumen ini

21

menolong para perencana apa yang bisa dicapai, dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh mereka. Instrumen ini beraneka guna, yang dapat digunakan berkali-kali pada berbagai tahap proyek; membangun sebuah telah atau untuk pemanasan diskusi sebelum membuat perencanaan. Instrumen ini dapat diterapkan secara luas, atau sub-komponen yang kecil (bagian dari strategi) dapat dipisahkan agar kita dapat melakukan analisis yang mendetil. SWOT sering menjadi pelengkap yang berguna ketika melakukan analisis pemangku kepentingan. Kedua instrumen ini adalah pendahuluan yang baik sebelum melakukan Force Field Analysis dan Influencing Mapping. Analisis salah SWOT satu merupakan untuk dan

metode kondisi

menggambarkan

mengevaluasi suatu masalah, proyek atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor internal

(dalam) dan faktor eksternal (luar) yaitu Strengths,

Weakness, Opportunities dan Threats. Metode ini paling

sering digunakan dalam metode evaluasi bisnis untuk mencari strategi yang akan dilakukan. Analisis SWOT hanya menggambarkan situasi yang terjadi bukan sebagai pemecah masalah. Analisis SWOT terdiri dari empat faktor, yaitu: Strengths (kekuatan) merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. Weakness (kelemahan) merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada.Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor

22

yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. Opportunities (peluang) merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang terjadi Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. misalnya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar. Threats (ancaman) merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.

2.5. Teori Porters Diamond Teori Porters Diamond merupakan suatu teori yang dapat digunakan untuk mengetahui daya saing suatu sektor industri. Teori Porters Diamond ini memiliki beberapa komponen, yaitu : a. Factor Condition (FC), yaitu keadaan faktor-faktor produksi dalam suatu industri seperti tenaga kerja dan infrastruktur. b. Demand Condition (DC), yaitu keadaan permintaan atas barang dan jasa dalam negara. c. Related and Supporting Industries (RSI), yaitu keadaan para penyalur dan industri lainnya yang saling mendukung dan berhubungan. d. Firm Strategy, Structure, and Rivalry (FSSR), yaitu strategi yang dianut perusahaan pada umumnya, struktur industri dan keadaan kompetisi dalam suatu industri domestik. Berikut ilustrasi dari keterkaitan antar komponen teori Porters Diamond :

23

Selain beberapa komponen yang telah disebutkan sebelumnya, ada komponen lain yang terkait dengan keempat komponen utama tersebut yaitu faktor pemerintah dan kesempatan. Keempat faktor utama dan dua faktor pendukung tersebut saling berinteraksi, sehingga hasil analisis komponen penentu daya saing tersebut. Kita dapat menentukan komponen yang menjadi keunggulan dan kelemahan daya saing dari industri yang bersangkutan. Hasil keseluruhan interaksi antar komponen yang saling mendukung akan sangat menentukan perkembangan yang dapat menjadi suatu keunggulan komparatif dari suatu industri.

24

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Analisis SWOT Analisis SWOT terdiri dari Strengths (kekuatan), yaitu sumber daya, internal baik keterampilan atau keunggulan-keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani oleh perusahaan. Kekuatan dapat terkandung dalam sumber daya keuangan, citra perusahaan atau kepemimpinan pasar. Weaknees (kelemahan), yaitu keterbatasan atau kekurangan internal dalam sumber daya, keterampilan dan kapabilitas yang secara serius

menghambat kinerja efektif perusahaan seperti keterampilan pemasaran dan keterikatan hubungan kerja. Opportunities (peluang) yaitu situasi penting yang menguntungkan dalam pasar atau aktivitas lingkungan operasi perusahaan. Kecenderungan-kecenderungan penting merupakan salah satu sumber peluang seperti segmen pasar yang tadinya terabaikan. Threats (ancaman) yaitu situasi penting yang tidak menguntungkan dalam pasar atau aktivitas di lingkungan operasi perusahaan, seperti masuknya pesaing baru, lambatnya pertumbuhan pasar dan sebagainya (Rangkuti dalam Setyaningsih, 2011). Indonesia sebagai Negara yang mampu menghasilkan rumput laut dalam jumlah yang besar, tentunya mendorong industri hilirisasi untuk bisa lebih

25

berkembang lagi mengolah rumput laut menjadi produk yang lebih berguna. Oleh karena itu, dengan analisis SWOT, industri hilir komoditas rumput laut menjadi selangkah kedepan. Berikut penjabaran dari poin poin analisis SWOT pada program hilirisasi industri rumput laut :

3.1.1.

Analisa Strenght

Strength atau Kekuatan : Rumput laut Indonesia yang sangat menjanjikan dinilai dapat menjadi komoditi yang dapat ikut berperan dalam pergerakan kemajuan ekonomi nasional. Pengembangan dan penguatan industri rumput laut memiliki keunggulan komparatif tinggi. Potensi Lahan dan Budidaya yang mudah serta SDM yang memadai. Memiliki varian produk turunan yang beragam. Semakin berkembangnya industri pengolahan rumput laut berarti memberikan lapangan pekerjaan yang lebih luas khususnya dibidang Kelautan dan Perikanan dimana umumnya para pembudidaya rumput laut tinggal di wilayah pesisir. Sebagai salah satu negara yang masuk kedalam urutan pemasok rumput laut terbesar didunia, maka Indonesia mampu merambah dunia luar dan menjadi lebih eksis dalam pangsa pasar produsen perikanan. Sebagai peningkatan devisa negara karena rumput laut adalah salah satu komiditi ekspor unggulan. Mempunyai posisi yang strategis karena bisa mencakup banyak sektorsektor usaha dengan keterkaitan backward linkage dan forward linkage, upaya tersebut juga dapat menekan ekspor bahan baku (raw material) rumput laut Indonesia hingga mencapai kisaran 75-80 persen serta mengurangi ketergantungan impor karagenan sebesar 1.320 ton.

3.1.2. Analisa Weakness Weakness atau Kelemahan :

26

Pengolahan rumput laut memerlukan teknologi spesifik yang canggih dan Indonesia masih belum memilikinya. Contoh negara yang memiliki teknologi seperti ini adalah negara Prancis, Jerman, dan Denmark.

Masalah logistik menjadi penghambat kemajuan industri hilirisasi rumput laut. Contoh, pengiriman dari Ambon ke Surabaya menghabiskan Rp1000/kg, padahal pengiriman dari Surabaya ke China justru hanya perlu Rp250/kg.

Masih kurangnya strategi nasional produksi dalam budidaya rumput laut. Nilai jual yang rendah terkait pengolahan yang belum maksimal. Contoh : untuk jenis gracillaria sekitar Rp3.500/kg kering sedangkan untuk ecotoni mencapai Rp6.500-Rp8.000/kg. Padahal jika telah melalui pengolahan, maka untuk semi karaginan bisa mencapai Rp80.000/kg sedangkan dalam bentuk chips seharga Rp30.000/kg.

Kendala utama pemasaran, dan pertama-tama harus ditangani adalah masalah kepercayaan pada produk yang ditawarkan. Kepercayaan akan terbentuk melalui terpenuhinya standard mutu produk rumput laut (Neish, 2006). Aspek kualitas ini banyak dipengaruhi aspek teknologi dan pengolahan pasca panen (DKP, 2006). Dengan keadaan seperti itu, maka kendala yang ada sebenarnya adalah tantangan pasar dan tuntutan persaingan untuk selalu meningkatkan mutu. Untuk merebut posisi dan kepercayaan pasar, standard mutu produk rumput laut yang diekspor harus memenuhi berbagai kriteria (Neish, 2006) : 1. Aspek Produk. a. Kadar air atau tingkat kelembaban max 38% b. Prosentasi kotoran pada rumput laut maksimum 2% c. Umur pemanenan minimum 45 hari. d. Kadar garam rumput laut. 2. Aspek standarisasi produk. a. Standarisasi produk sesuai dengan kebutuhan pasar. b. Prosedur standar menggunakan uji laboratorium c. Diterapkan dan dipatuhinya manual mutu dan produksi d. Sertifikasi sebagai penjaminan mutu.

27

3.1.3. Analisa Oppurtunity Opportunity atau Kesempatan : KKP telah menggulirkan kebijakan pada industrialisasi kelautan dan perikanan dengan menekan komoditas rumput laut sebagai kebutuhan utama mengalahkan TTC (Tuna, Tongkol, Cakalang). Terjalinnya kemitraan antara penemu, produser, buyer dan investor rumput laut, dan terakhir, terciptanya jaringan usaha dan akses pasar rumput laut untuk pencapaian target nilai ekspor. Pada tahun 2013, program hilirisasi rumput laut mulai menarik pemodal dengan adanya peningkatan investasi. Pesaing besar yang masih banyak terdapat di luar negeri sehingga masih ada kesempatan untuk lebih meningkatkan kemampuan produksi menjadi olahan bahan jadi sehingga bisa merambah perlahan pangsa pasar domestik baru kemudian luar negeri. Saat ini, masyarakat banyak mengkonsumsi olahan herbal, dan rumput laut bisa menjadi salah satunya.

3.1.4.

Analisa Threat

Threat atau Ancaman : Penguasaan teknologi yang lebih dikuasai negara luar sehingga pengolahan rumput laut jauh lebih maksimal dan merambah dunia ekspor olahan barang jadi. Munculnya banyak pesaing baru di industry hilirisasi rumput laut khususnya di luar negeri yang notabene memiliki teknologi budidaya yang lebih baik sehingga memaksa produsen lokal yang tidak berdaya saing tinggi hanya dapat mengekspor barang mentah (rumput laut kering). Adanya ancaman penyakit rumput laut yang mengakibatkan input produksi bahan baku industri hilir terganggu. . Setelah mengetahui beberapa kekuatan dan kelemahan dari factor internal serta kesempatan dan ancaman dari factor eksternal, maka diharapkan setelah ini

28

kita dapat mendalami dan mencari tahu strategi jenis apa yang bisa menyelesaikan masalah dan memberikan banyak jalan menuju kesuksesan pada industri hilirisasi rumput laut. 3.2.Analisis Porters Diamond 3.2.1. Faktor Condition a. Sumber Daya Alam Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman jenis rumput laut yang sangat tinggi, sehingga pengembangan dan

penguatan industri rumput laut memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage). Luas perairan karang di Indonesia lebih kurang 6800 km2, perairan ini merupakan daerah pertumbuhan rumput laut (Mubarak et aldalam Kaidi, 2004). Rumput laut, khususnya

Kappaphycusdan Euchema akan tumbuh dengan baik di wilayah coral triangle, dan sekitar 65% wilayah coral triangle berada di wilayah perairan Indonesia (Anggarideja, 2011). Dengan demikian pengembangan hulu hingga hilir rumput laut di Indonesia cukup besar

Gambar 1. Daerah Produksi Rumput Laut Coral Triangle


Sumber: (Neish IC dalam Anggarideja, 2011)

Daerah penghasil rumput laut meliputi perairan pantai yang mempunyai paparan terumbu (reef flats), seperti Kepulauan Riau,

Bangka-Belitung, Seribu, Karimunjawa, Selat Sunda, pantai Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, pulau-pulau di Sulawesi dan Maluku. Perairan ini merupakan tempat tumbuh dari semua
29

jenis rumput laut yang ada di Indonesia (Kaidi, 2004). Saat ini terdapat sekitar 782 jenis rumput laut yang hidup di perairan Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 196 algae hijau, 134 algae coklat, dan 452 algae merah. Indonesia memiliki potensi budidaya laut yang luar biasa. Luas potensi budidaya laut diperkirakan mencapai 26 juta ha, dan kurang lebih 2 juta ha diantaranya sangat potensial untuk pengembangan rumput laut dengan potensi produksi rumput laut kering rata-rata 16 ton per ha (Anjas, 2012). b. Sumber Daya Manusia Kesuksesan Industri hilir rumput laut didukung oleh aktivitas hulu rumput laut yang dibudidayakan oleh para penduduk daerah pesisir pantai. Namun, kebanyakan dari mereka belum memiliki cukup pengetahuan untuk mengembangkan indutri hilir rumput laut. c. Sumber Daya Modal Salah satu apek penting dalam sumber daya modal industri hilirisasi rumput laut adalah adanya aksesibilitas sumber permodalan untuk usaha hilirisasi rumput laut. Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan melakukan hilirisasi rumput laut telah berdampak positif pada bisnis ini. Salah satu dampaknya adalah dapat meningkatkan aksesibilitas sumber permodalan, dimana pada tahun 2013 terdapat peningkatn investai sebanyak enam perusahaan, yang menanamkan investasi di sektor hilir rumput laut. Total nilai investasi dari empat

perusahaan itu mencapai Rp 165 miliar, setiap perusahaan memiliki kapasitas produksi sekitar 100 ton per bulan, dan menghasilkan produkproduk olahan seperti semi refined, carrageenan dan refined carrageenan (BAPPEBTI, 2013). Tetapi untuk aksesibilitas sumber permodalan sejauh ini, perbankan nasional kurang luwes dalam mengucurkan kreditnya ke industri perikanan seperti rumput laut. Mereka hanya terbiasa pada industri real estate, infrastruktur dan sebagainya. Dukungan finansial berupa pinjaman modal dari perbankan sangat dibutuhkan, agar pertumbuhan industri hasil laut ini bisa dimaksimalkan (Pelita,2013). d. Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

30

Inovasi teknologi di bidang industri rumput laut yang telah dikembangkan antara lain pengembangan industri pengolahan rumput laut melalui bantuan mesin dengan peralatan pengolahan rumput laut di 7 (tujuh) provinsi (NTB, NTT, Maluku, Sulawesi selatan, Sultra, Sulawesi tengah, dan Maluku. Dalam rangka meningkatkan produktivitas industri rumput laut juga telah dikembangkan ZPT organik berbahan dasar rumput laut coklat. Ekstrak rumput laut coklat yang diiradiasi (ologoalginat iradiasi) kaya dengan hormon pengatur tumbuh auksin, sitokinin, gibereiln yang dapat berfungsi meningkatkan produksi pertanian. Teknologi sangat berpengaruh bagi berkembangnya hilirisasi industri rumput laut, karena ketersediaan teknologi berkaitan dengan produk dan metode yang dapat digunakan dalam proses produksinya. Dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terdapat beberapa pelatihan yang diadakan untuk membantu kelancaran proses kegiatan di sektor industri rumput laut. Kegiatan itu diantaranya diadakan 21 ST International Seaweed Symposium (ISS), dimana presentasi tersebut akan memberikan pencerahan tentang perkembangan teknologi, budidaya dan industri rumput laut. Hal ini dapat menjadi momentum yang kuat untuk menjadi daya ungkit sehingga memperkuat industri rumput laut nasional. Pelatihan yang dilakukan oleh P2MKP ASKOT Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerjasama dalam pengolahan aneka produk pangan berbasis ikan dan rumput laut bagi UMKM binaan. Tujuan pelatihan tersebut untuk meningkatkan kemampuan teknis dalam pengelolaan ikan dan rumput laut. Indonesia juga telah meresmikan Seaweed Center yang merupakan hasil rangkaian pelatihan peningkatan kapasitas Fiji yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, ini merupakan bentuk kerjasama yang terkoordinasi antara Direktorat Kerjasama Teknik-Ditjen IDP Kementrian luar negeri dengan Balai Besar Pengolahan Hasil Perikanan-KKP dan KPPPA di bidang budidaya rumput laut ini merupakan salah satu footprint peranan Indonesia dalam peningkatan kapasitas Fiji di bidang budidaya rumput

31

laut. Namun, penjelasan mengenai sumberdaya tekonologi di atas belum menjadi tolak ukur kemajuan teknologi dalam indutri hilir rumput laut. e. Sumber Daya Infrastruktur Salah satu kendala infrastruktur di Indonesia adalah kurangnya pengadaaan infrastruktur transportasi. Transportasi memiliki peran besar dalam perkembangan perekonomian bangsa Indonesia. Dalam hal ini perhubungan laut berperan dalam memperlancar perpindahan barang dan jasa dari satu pulau ke pulau yang lain, mempercepat transaksi perdagangan dan proses ekspor dan impor pada suatu

wilayah.Pengembangan industri rumput laut Indonesia juga masih terkendala persoalan logistik dan tidak adanya rencana strategi nasional produksi rumput laut.Salah satu kendalanya adalah mahalnya biaya transportasi dan pengiriman rumput laut, hal ini disebabkan karena infrastruktur Indonesia yang tidak memadai dalam memenuhi rantai pemasaran hilirisasi rumput laut tersebut (Efendi, 2012).Konsumen atau pasar produk industri hilir sebagian besar berada di pulau Jawa (Jakarta dan Surabaya), sehingga kedekatan akses dengan infrastruktur transportasi baik darat, laut maupun udara keberadaanya menjadi sangat vital. Ketersediaan fasilitas pengangkutan baik untuk bahan baku maupun produk akhir, dapat dilakukan dengan menggunakan angkutan darat (truk), angkutan laut maupun udara. Infrastruktur penunjang meliputi jaringan listrik dan jaringan telepon. Kebutuhan listrik yang tinggi dapat dipenuhi dari PLN maupun generator diesel (untuk mengantisipasi kondisi pemadaman), sehingga kedekatan dengan sumber bahan bakar (SPBU) menjadi vital. Selain itu, akses informasi (telepon/internet) patut diperhitungkan terutama dalam akses komunikasi dan pemantauan pasar.

3.2.2

Demand Condition

32

Gambar 2. Pohon Industri Rumput Laut di Indonesia


Sumber: (Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, dalam Efendi 2012)

Rumput laut diolah dengan berbagai metoda dan teknik untuk memperoleh hasil metabolisme primernya, yaitu senyawa hidrokolid yang disebut dengan agar-agar, karaginan, alginate dan furcellaran. Indonesia sudah memproduksi agar-agar dan karaginan dengan bahan baku dari rumput laut yang dibudidayakan di dalam negeri. Produksi rumput laut kering nasional diserap oleh pabrik pengolahan di dalam negeri diperkirakan hanya 20-25% saja, dan sebagian besar sisanya diekspor. Sebaliknya, pada industri agar-agar sebesar 81,6% produksi nasional rumput laut Gracilaria diserap oleh industri dalam negeri Tabel 1. Produksi dan penyerapan rumput laut kering untuk pasar dalam negeri (DN) dan pasar luar negeri (LN) pada 2009 dan 2010. Produksi (berat ton kering) Penyerapan DN ton kering % Penyerapan LN ton kering %

Tahun/Tipe 2009 Carrageenophytes Agarophytes 2010 Carrageenophytes Agarophytes

155,060 35,050

36,070 28,600

23.25 81.6

118,990 6,450

76.75 18.4

140,020 20,700

33,815 24,805

24.15 80.8

106,205 5,895

75.85 19.2

(Sumber : Anggadiredja, 2011)

Rumput laut sebagian besar diolah menjadi karaginan, baik murni (refine carrageenan) maupun semi murni (semi-refine carrageenan), dan agar-agar.

33

Produk olahan karaginan berbahan baku rumput laut kering kotoni (Kappaphycus alvarezii, Euchema spinosum), sedangkan agar-agar berasal dari rumput laut Gracilaria spp. Selain itu rumput laut juga diperjualbelikan sebagai rumput laut kering yang telah diputihkan sebagai bahan baku manisan atau cendol rumput laut. Permintaan tipe produk rumput laut kering Gracilaria tidak sebanyak rumput laut kering kotoni mengingat tipe produk rumput laut kering Gracilaria umumnya dipasarkan di dalam negeri dan permintaan kuat hanya pada saat tertentu saja, terutama pada saat menjelang bulan puasa. Kuatnya pasar rumput laut bisa dilihat dari peningkatan produksi nasional produk olahan komoditas ini berupa karaginan dan agar-agar. Produksi karaginan selalu meningkat dalam kurun 2006-2010 dari 6.070 ton menjadi 9.080 ton. Peningkatan produksi karaginan yang cukup signifikan terjadi terutama pada jenis semi murni (semi refine carrageenan, SRC) untuk bukan makanan (non food grade).
Tabel 2. Produksi produk olahan rumput laut Indonesia berupa karaginan dan

agar-agar pada 2006-2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Karaginan (RC) 670 720 740 780 800 Karaginan (SRC-f) 1320 1500 1620 1860 1920 Karaginan (SRC-nf) Jumlah Agar-agar 4080 4920 5400 6240 6360 6070 7140 7760 8880 9080 2700 2780 2870 2980 2820

Sumber: (Anggadiredja, 2011)

Tetapi,sebagai negara produsen rumput laut, Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor produk olahan. Sepanjang tahun 2011, impor karaginan mencapai 1.380 ton, atau 70 persen dari total kebutuhan. Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan, berupaya mengendalikan impor karaginan dengan cara mentargetkan volume impor menjadi 25% saja dari total kebutuhan dalam negeri. Selain impor karaginan, Indonesia juga mengimpor 800
34

ton tepung agar-agar.Impor karaginan ini disebabkan oleh belum memadainya industri pengolahan rumput laut nasional dalam menyerap produksi rumput laut kering dan memproduksi karaginan dan agar-agar. Pada 2011 jumlah pabrik pengolah rumput laut untuk produksi karaginan mencapai 14 unit, dan untuk produksi agar-agar mencapai 11 unit (Efendi, 2012). Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh industri pengolahan rumput laut tersebut adalah bahan baku rumput laut kering yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu dan tepat harga. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar rumput laut kering dari golongan karaginofit ini diekspor dan sebagian kecil saja yang diolah di dalam negeri

Tabel 3. Jumlah industri pengolahan rumput laut berupa agar-agar dan karaginan di Indonesia Jenis Produk Agar-agar Karaginan a. Refine b. Semirefine (puder dan chips, f dan nf) Alginat
Sumber: (Anggadireja,2011)

Jumlah Industri (unit) 11

Produksi (ton) 3,000

3 11 -

900 10,600 -

3.2.3

Related and Supporting Industries (RIS) Industri pengolahan rumput laut di Indonesia sudah semakin berkembang.

Alginat, agar-agar dan karaginan merupakan produk rumput laut yang dihasilkan oleh industri pengolahan. Banyak industri lain yang terkait dengan industri pengolahan rumput laut mulai dari industri pangan hingga industri non pangan. Pada industri pangan, produk turunan rumput laut yang biasa digunakan dalam bentuk agar-agar, alginat, karaginan dan hidrokoloid. Industri pangan

memanfaatkan rumput laut sebagai bahan tambahan pangan, pengemulsi, pemantap, penstabil dan meningkatkan nilai gizi dari produk pangan tersebut.
35

Produk turunan rumput laut dari industri pengolahan mendukung produk olahan pada industri non pangan seperti industri farmasi, industri cat dan industri kosmetik. Alginat sebagai produk rumput laut dari industri pengolahan, dimanfaatkan oleh industri farmasi sebagai bahan pembuatan obat anti bakteri, anti tumor, dan obat hypertensi. Pada industri kosmetik, produk turunan rumput laut dalam bentuk agar, karaginan dan alginat menjadi campuran bahan dalam pembuatan produk sabun, shampo, lotion dan pasta gigi. Karaginan sebagai produk industri pengolahan rumput laut juga dimanfaatkan oleh industri keramik dan cat sebagai pelapis keramik dan penstabil serta perekat pada cat. Pada

industri tekstil, produk turunan rumput laut digunakan untuk merekatkan benang saat ditenun dan pencampuran warna pada saat mewarnai benang. Banyak industri yang memanfaatkan rumput laut untuk meningkatkan kualitas produknya. Keterkaitan industri pengolahan rumput laut dengan industri pangan dan industri non pangan pada pengolahan produk rumput laut menghasilkan dampak yang saling menguntungkan satu sama lain. Keberadaan industri pengolahan rumput laut yang sudah memiliki daya saing global, akan memasok input bagi industri hilir dengan harga yang lebih murah, mutu yang lebih baik, pelayanan yang cepat, pengiriman yang tepat waktu dan jumlah yang sesuai dengan daya saing global yang tinggi.

36

Gambar 3. Pohon Industri Rumput Laut 3.2.4. Firm Strategy, Structure and Rivalry (FSSR) Struktur industri rumput laut nasional di Indonesia belum terintegrasi secara baik dari hulu ke hilir sehingga daya saing rumput laut olahan dari Indonesia terbilang masih lemah. Keadaan tersebut membuat harga produk olahan rumput laut di Indonesia masih dikendalikan pembeli dari luar. Struktur industri dan perusahaan akan menentukan daya saing yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang tercakup dalam industri tersebut. a. Struktur Pasar Struktur pasar rumput laut yang terbentuk di Indonesia bersifat oligopsoni (beberapa penjual sedikit pembeli) baik yang terjadi di tingkat pedagang pengumpul, pedagang besar maupun industri atau eksportir. Dengan demikian akan muncul pedagang yang paling dominan dan bertindak

37

sebagai penentu harga serta memiliki jalur distribusi yang kuat. Para pedagang pengumpul berperan sebagai penentu harga rumput laut bagi para nelayan atau petani rumput laut. Hambatan untuk memasuki pasar di tingkat eksportir cukup tinggi. Hal ini disebabkan tingginya modal yang harus dimiliki, resiko yang relatif tinggi, akses ke pasar luar negeri yang cukup sulit, dan persaingan harga diantara para eksportir. Resiko yang sering dihadapi para eksportir adalah mutu rumput laut yang mereka beli tidak sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan.Kualitas rumput laut yang dipasok sangat diperhatikan oleh para eksportir. Informasi harga rumput laut ditetapkan berdasarkan kualitas rumput laut yang dihasilkan. Menurut Douglas (2001), produk yang dipasarkan dalam pasar oligopsoni berupa produk yang telah distandardisasikan. b. Persaingan Pasar yang bersifat oligopsoni membuat persaingan di tingkat pedagang pengumpul, pedagang besar maupun industri atau eksportir cukup besar. Terutama dalam hal penentuan harga dan mutu rumput laut yang ditawarkan. Bagi eksportir, persaingan harga terhadap mutu yang telah distandardisasi untuk diekspor dengan harga yang beragam merupakan suatu persaingan yang cukup sulit. Selain itu ada persaingan antara pedagang pengumpul baru dengan pedagang pengumpul lama yang sudah memiliki ikatan untuk mendapatkan rumput laut secara berkelanjutan. c. Strategi Perusahaan Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut yang terbesar di dunia, namun harga bahan baku masih dikendalikan oleh pembeli dari luar negeri. Strategi pengembangan industri rumput laut masih kurang terencana dengan baik. Industri rumput laut di Indonesia belum seimbang antara hulu dan hilirnya. Dimana sebagian besar dari rumput laut tidak dilakukan hilirisasi agar nilai jual dari produk turunan rumput laut meningkat. Selama ini produk rumput laut yang di ekspor masih dalam bentuk rumput laut kering dan produk turunannya. Belum ada diferensiasi produk untuk menigkatkan hilirisasi dari produk rumput laut. Strategi yang dapat

dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah meningkatkan hasil

38

hilirisasi dari rumput laut dan menekan impor produk hilirisasi rumput laut. Dengan demikian, nilai ekspor rumput laut Indonesia akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan dapat bersaing dengan produk hilirisasi rumput laut dari negara luar.

3.2.5. Government Policy Peran pemerintah merupakan fasilitator bagi upaya untuk mendorong perusahaanperusahaan dalam industri agar senantiasa melakukan perbaikan dan meningkatkan dayasaingnya. Pemerintah dapat mempengaruhi aksesibilitas pelakupelaku industri terhadap berbagai sumberdaya melalui kebijakan kebijakannnya, seperti sumberdaya alam, tenaga kerja, pembentukan modal, sumberdaya ilmu pengetahuan, dan teknologi serta informasi. Pemerintah juga dapat mendorong peningkatan dayasaing melalui penetapan standar produk nasional, standar upah tenaga kerja minimum, dan berbagai kebijakan terkait lainnya. Pemerintah dapat mempengaruhi kondisi permintaan domestik, baik secara langsung melalui kebijakan moneter dan fiskal yang dikeluarkannya maupun secara langsung melalui perannya sebagai pembeli produk dan jasa. Kebijakan pemerintah Indonesia dalam mendukung industri hilir dari rumput laut belum memadai. Untuk mengekspor produk jadi dari rumput laut pemerintah masih membebankan bea cukai hingga 35%. Kebijakan penerapan bea keluar dan bea masuk, tarif pajak, dan lainlainnya yang juga menunjukan terdapat peran tidak langsung dari pemerintah dalam meningkatkan dayasaing global. Adapun langkah yang harus dilakukan pemerintah yaitu : 1. Pemerintah harus memfasilitasi pembudidayaan rumput laut untuk meningkatkan jumlah produksinya. 2. Pemerintah harus mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga mampu mengajak investor swasta maupun asing dalam memanfaatkan potensi dan peluang usaha rumput laut. 3. Kebijakan tentang kemitraan yang terpadu. 3.2.6 Opportuniy Roles Indonesia merupakan produsen rumput laut kedua dengan pangsa produksi 12,58 persen dari total produksi dunia, dan Philipina pada posisi ketiga sebagai
39

produsen rumput laut dunia dengan pangsa produksi 9,32 persen. Namun demikian, untuk rumput laut jenis kotoni (cotonii) dan Gracilaria, Indonesia dan Filipina merupakan produsen utama dunia, dan sekitar 95 persen produksi kedua rumput laut tersebut berasal dari kedua negara tersebut. Maka dari itu program hilirisasi industri rumput laut sangat berpotensi untuk dikembangkan Diselenggarakannya Asean Economy Community (AEC) 2015 dan Global Free Trade memberikan peluang yang besar untuk aktivitas ekspor impor antar negara. Selain itu terbukanya peluang Bioenergy Seaweed dikarenakan semakin terbatasnya bahan bakar tidak terbarukan dapat menjadi sebuah pangsa pasar baru untuk pengembangan produksi rumput laut selanjutnya. Dan tidak lupa perubahan nilai mata uang yang dapat mempengaruhi pendapatan pelaku industri rumput laut. Kondisi ekonomi dan politik global atau suatu negara juga berpengaruh terhadap industri hilir dalam negeri. Sebagai contoh jika negara China mengalami krisis politik atau ekonomi maka Indonesia berpeluang untuk mengembangkan industri dikarenakan supply komoditi rumput laut dari China terbatas atau terganggu.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Berdasarkan analisis SWOT yang telah dianalisis didapat kekuatan yang dimilki industri hilir rumput laut adalah Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk kedalam urutan pemasok rumput laut terbesar di dunia, sehingga

40

rumput laut dapat menjadi komoditi yang dapat ikut berperan dalam pergerakan kemajuan ekonomi nasional dalam hal peningkatan devisa negara. Pengembangan dan penguatan industri rumput laut memiliki keunggulan komparatif tinggi. Semakin berkembangnya industri pengolahan rumput laut berarti memberikan lapangan pekerjaan yang lebih luas khususnya dibidang kelautan dan perikanan dimana umumnya para pembudidaya rumput laut tinggal di wilayah pesisir. Industri hilirisasi rumput laut juga mempunyai posisi yang strategis karena bisa mencakup banyak sektor-sektor usaha dengan keterkaitan backward linkage dan forward linkage. Kelemahan yang dimiliki industri hilir rumput laut adalah masih kurangnya pengembangan teknologi industri hilir rumput laut, terdapat masalah logistik, nilai jual yang rendah terkait pengolahan yang belum maksimal dan terdapat kendala dalam hal pemasaran. Kesempatan industri hilir rumput laut diantaranya adalah KKP telah menggulirkan kebijakan pada industrialisasi kelautan dan perikanan dengan menekan komoditas rumput laut sebagai kebutuhan utama mengalahkan TTC (Tuna, Tongkol, Cakalang). Program hilirisasi rumput laut mulai menarik pemodal dengan peningkatan investasi, bahan baku rumput laut yang mudah didapat sebagai SDA yang terus-menerus diperbaharui, pesaing besar yang masih banyak terdapat di luar negeri sehingga masih ada kesempatan untuk lebih meningkatkan kemampuan produksi menjadi olahan bahan jadi sehingga bisa merambah perlahan pangsa pasar domestik baru kemudian luar negeri. Saat ini, masyarakat banyak mengkonsumsi olahan herbal, dan rumput laut bisa menjadi salah satunya. Ancaman yang dimiliki industri hilir rumput laut Indonesia adalah penguasaan teknologi yang lebih dikuasai negara luar dan munculnya pesaing baru di industri hilir rumput laut yang memiliki teknologi tinggi sehingga memaksa produsen lokal yang tidak berdaya saing hanya dapat mengekspor bahan mentah. Berdasarkan analisis Porters Diamond faktor kesuksesan industri hilir rumput laut dapat diwujudkan apabila ada keterkaitan yang baik dan saling mendukung antara faktor internal (Faktor Condition, Demand Condition, Related and Supporting Industries (RIS), Firm Strategy, StructureandRivalry (FSSR) dan faktor eksternal (Government Policy dan Opportuniy Roles).

41

4.2. Saran Analisis SWOT dan Analisis Porters Diamond dapat menunjukkan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan industri hilir rumput laut. Dengan analisis tersebut maka diperlukan strategi-strategi agar dapat

meningkatkan kesuksesan industri hilir yang berdaya saing tinggi. Berikut strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk mewujudkan industri hilir yang berdaya saing : Pertama, diperlukan perbaikan produktivitas dan kualitas rumput laut yang dihasilkan pembudidaya, sehingga diperoleh jaminan kontinuitas pasokan bahan baku bagi industri yang sesuai standar kualitas. Kedua, membangun industri pengolahan rumput laut yang canggih di dalam negeri antara lain untuk produk olahan berbasis pangan, farmasi, kosmetik, tekstil, bahkan bioenergi. Dengan mengembangkan industri pengolahan dalam negeri setidaknya terdapat dua keuntungan yaitu nilai tambah produk dapat dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, sekaligus menjaga harga produk rumput laut asal Indonesia di pasar dunia tetap stabil dan tidak lagi didikte oleh buyer. Ketiga, pemerintah dan sektor swasta bahu-membahu menjamin pasar yang berkeadilan. Yaitu mampu mempertemukan pasokan bahan baku (raw material) dari pembudidaya rumput laut di seluruh wilayah Indonesia dengan industri pengolahan. Kemudian mempertemukan produk industri pengolahan dengan industri terkait atau konsumen baik di dalam maupun luar negeri dengan harga yang menguntungkan. Keempat, infrastruktur baik logistik maupun transportasi serta fasilitas sarana untuk produksi maupun pengolahan rumput laut, dibangun dalam konsep kawasan terpadu di setiap sentra sesuai kebutuhan wilayah di seluruh Indonesia agar keberlanjutan industri rumput laut yang telah dicanangkan oleh pemerintah dapat diraih dan bukan sekedar wacana. Dan tentunya, fasilitas yang sudah ada serta mesti dirawat dan diperbaiki jika mengalami kerusakan. Kelima, pemerintah harus memberikan kemudahan dalam permodalan dari lembaga perbankan kepada pengusaha industri rumput laut, dengan suku bunga

42

yang relatif rendah (sama dengan di Malaysia, India, Australia, Thailand, dan China) dan persyaratan yang relatif lunak. Keenam, peningkatan teknologi dan manajemen usaha. Kesuksesan industri rumput laut Indonesia akan terwujud, bila pembudidaya dan industri pengolahan diberikan pendampingan teknologi dan manajemen tentang

bagaimana melakukan pengelolaan produksi sesuai dengan standar yang diterapkan agar kualitas produk yang dihasilkan tinggi dan mampu bersaing dengan produk dari negara lain. Ketujuh, segenap kebijakan pembangunan industri rumput laut yang berdaya saing di atas hanya akan berhasil, bila kebijakan politik-ekonomi bersifat kondusif bagi tumbuh-kembangnya industri rumput laut sebagaimana telah dideskripsikan di atas. Kebijakan politik-ekonomi itu antara lain meliputi moneter, fiskal, tata ruang wilayah, kredit perbankan, ekspor-impor, dan iklim investasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anggadiredja. 2011. Strategi Pengembangan Industri Laut dan Pemanfaatanya secara Berkelanjutan. Jakarta (ID): BPPT-PRESS. Anjas. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor rumput laut Sulawesi Selatan periode 1999-2009 [skripsi]. Makassar (ID): Universitas Hasanudin.

43

[Anonim]. 2012. Dukung hilirisasi industri rumput laut. [Internet].[diunduh 2013 November 19].Tersedia pada: www.beritasatu.com/.../50613dukung-hilirisasi-rumput-laut-kadin-terap. [Anonim]. 2013. Khasiat dan manfaat rumput luat. [Internet].[diunduh 2013 November 19].Tersedia pada: www.artikelbagus.com/kesehatan. [Anonim]. 2013. Pacu ekspor rumput laut olahan. [Internet].[diunduh 2013 November 19].Tersedia pada: www.antaranews.com/.../pacu-eksporrumput-laut-olahan-kkp-dorong-hilirisasi. [Anonim]. 2013. ASKOT NTB ingin majukan produk lokal. [Internet].[diunduh 2013 November 20].Tersedia pada: www.lombokita.com/ekonomi.../askotntb-ingin-majukan-produk-lokal. [Anonim]. 2013. Menteri KKP buka simposium rumput laut dunia. [Internet].[diunduh 2013 November 20].Tersedia pada: www.spdi.eu/menteri-kk-buka-simposium-rumput -laut-dunia/. [Anonim]. 2013. Perbankan harus dukung [Internet].[diunduh 2013 November www.pelita.or.id/baca.php?id=97122. industri rumput 20].Tersedia laut. pada:

[Bappebti] Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. 2013. Kontrak berjangka SRG rumput laut.[Internet]. [diunduh 2013 November 20]. Tersedia pada:www.bappebti.go.id/.../bulletin_2013-10-16_17-2519_BJK_0413_FIK. Dahuri, R. 2012. Membangun Kejayaan Industri Rumput Laut. Jakarta: Majalah Samudera edisi 56 hal 20. Dahuri, R. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Rumput Laut. Pemaparan pada Seminar Bank Indoensia di Sulawesi Tengah. Daryanto, A. 2009. Dinamika Daya Saing Industri Peternakan. Bogor : IPB Press. Effendi I. 2012. Kajian Strategi Pengembangan Industrialisasi Perikanan Budaya. Jakarta (ID): Galih Karsa Utama.

Halwani, H. 2005. Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi (Edisi Kedua). Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor. Hutagalung, Jannes. 2009. Peran Bank Dunia dan IMF dalam Perekonomian Indonesia Dulu dan Sekarang. Di dalam: Abimanyu, A. dan A. Megantara. 2009. Era Baru Kebijakan Fiskal: Pemikiran, Konsep, dan Implementasi. PT Kompas Media Nusantara, Jakarta.

44

Kaidi A. 2010. Potensi rumput laut dibeberapa perairan Indonesia. Jurnal Oseana. XXIX(4):25-36.[Internet].[diunduh 2012 November 20].Tersedia pada: www.oseanografi.lipi.go.id. Perkins, John. 2005. Confessions of an Economic Hit Men, Pengakuan Seorang Ekonom Perusak (Edisi Bahasa Indonesia). Penerbit Abdi Tandur, Jakarta. Purwoko, Krisman. Bank Dunia Setujui Pinjaman 800 Juta Dolar AS. www.republika.co.id [18 Desember 2010] Rachbini, Didiek J. 2001. Tanggung Jawab Bank Dunia. Agrimedia Volume 7 Nomor 1. Setyaningsih H. 2011. Kelayakan usaha budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan metode longline dan strategi pengembangannya di perairan Karimun Jawa. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Susanto, Heri. 2010. Gaji Sri Mulyani di Bank Dunia Rp 3 Miliar. www.vivanews.com [18 Desember 2010]

LAMPIRAN

Tabel 1 Potensi Produksi Lestari dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Indonesia

45

Tabel 2 Data produksi perikanan budidaya

Gambar1. Sharing volume ekspor

46

Tabel 3 Produsen Rumput Laut Dunia


Negara Produsen China Indonesia Philipina Korea Selatan Korea Utara Jepang Chile Malaysia Zanzibar Prancis Negara lainnya Total Produksi Dunia Ratio Volume Produksi per Tahun Basah (ton) 2005 9.756.381 66,31 % 918.366 6,24 % 1.338.896 9,10 % 636.366 4,32 % 444.295 3,02 % 612.635 4,16 % 425.343 2,89 % 40.000 0,27 % 73.620 0,50 % 23.099 0,16 % 444.748 3,02 % 14.713.749 96,98 % 2006 9.777.223 64,64 % 1.174.996 7,77 % 1.469.219 9,71 % 779.349 5,15 % 444.300 2,94 % 603.727 3,99 % 339.334 2,24 % 60.000 0,40 % 76.760 0,51 % 19.192 0,13 % 380.679 2,52 % 15.124.779 97,48 % 2007 10.081.345 58,41 % 1.733.118 10,04 % 1.505.421 8,72 % 811.142 4,70 % 444.300 2,57 % 617.566 3,58 % 339.938 1,97 % 80.000 0,46 % 84.850 0,49 % 39.792 0,23 % 1.521.669 8,82 % 17.259.141 91,18 % 2008 10.299.985 60,86 % 2.147.978 12,69 % 1.666.944 9,85 % 934.890 5,52 % 444.300 2,63 % 561.005 3,31 % 412.266 2,44 % 111.298 0,66 % 107.925 0,64 % 39.810 0,24 % 198.410 1,17 % 16.924.811 98,83 % 2009 10.772.075 58,90 % 2.966.586 16,22 % 1.740.429 9,52 % 869.502 4,75 % 444.300 2,43 % 560.529 3,06 % 456.225 2,49 % 138.857 0,76 % 102.682 0,56 % 19.032 0,10 % 218.763 1,20 % 18.288.980 98,80 % 2010 11.338.890 57,00 % 3.917.714 19,69 % 1.801.745 9,06 % 914.715 4,60 % 444.300 2,23 % 529.396 2,66 % 380.759 1,91 % 207.892 1,05 % 125.157 0,63 % 22.717 0,11 % 209.419 1,05 % 19.892.704 98,95 % Total 62.025.899 60,69 % 12.858.758 12,58 % 9.522.654 9,32 % 4.945.964 4,84 % 2.665.795 2,61 % 3.484.858 3,41 % 2.353.865 2,30 % 638.047 0,62 % 570.994 0,56 % 163.642 0,16 % 2.973.688 2,91 % 102.204.164 97,09 % Rata-rata 10.337.650 60,69 % 2.143.126 12,58 % 1.587.109 9,32 % 824.327 4,84 % 444.299 2,61 % 580.810 3,41 % 392.311 2,30 % 106.341 0,62 % 95.166 0,56 % 27.274 0,16 % 495.615 2,91 % 17.034.027 97,09 %

Gambar 2 Proyeksi Permintaan Rumput Laut Dunia penghasil karaginan (ton kering)

47

Tabel 4 Prediksi Kebutuhan Rumput Laut Global Penghasil Karaginan dan Agar

Tabel 5 Prediksi Produksi Karaginan dan Agar-Agar Global serta Kebutuhan Rumput Laut Penghasil Karaginan dan Agar.

Gamaba r 3 Potensi Area Budidaya RUmput Laut

48

Gambar 4 Pangsa Pasar Karaginan

Gambar 5 Seaweed Road Map

Gambar 6 Pohon Industri Rumput Laut

49

50