Anda di halaman 1dari 26

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.

1 Pengertian Asidi-Alkalimetri Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa) (Utami, 2013). H+ + OH- H2O Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawasenyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. Menurut W. Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu (Utami, 2013). Jalannya proses titrasi netralisasi dapat diikuti dengan melihat perubahan pH larutan selama titrasi, yang terpenting adalah perubahan pH pada saat dan di sekitar titik ekuivalen karena hal ini berhubungan erat dengan pemilihan indikator agar kesalahan titrasi sekecil-kecilnya (Utami, 2013). Larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentuknya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya. Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen (Utami, 2013). Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsentrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asambasa. Titrasi adalah cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri (Utami, 2013). Asidi dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar (asidimetri), dan titrasi asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air merupakan akibat reaksi-reaksi tersebut (Utami, 2013). Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekivalen (artinya secara stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai titik ekivalen (Voesvita, 2011). Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran. (Voesvita, 2011)

II-1

II-2

Asidi Alkalimetri
II.2 Asam Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Sebenarnya, ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas pada oksigen dari air dan terbentuk ion-ion hidronium (Wahyuni, 2012): H+ + H2O H3O+ Derajat disosiasi berbeda-beda antara satu asam dengan asam lainnya. Asam Kuat berdisosiasi hampir sempurna pada proses pengenceran sedang. Karena itu, ia merupakan elektrolit kuat. Asam-asam kuat adalah: asam klorida, asam nitrat, asam perklorat, dan sebagainya. Asam sulfat adalah asam kuat sejauh menyangkut tingkat disosiasi yang pertama, tetapi derajat disosiasi dalam tingkat kedua, lebih kecil. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada konsentrasi sedang atau bahkan pada konsentrasi rendah. (misalnya dipakai sebagai reaksi analisis). Karena itu, asam lemah adalah elektrolit lemah. Asam asetat merupakan asam lemah yang khas; asam-asam lemah lainnya adalah asam Borat (H3BO3), bahkan jika mengenai tingkat disosiasinya yang pertama, asam karbonat (H2CO3) dan sebagainya juga asam lemah. Asam fosfat dapat disebut asam kuat-sedang atas dasar derajat disosiasinya yang pertama, derajat disosiasi yang kedua lebih kecil, dan yang paling kecil adalah derajat disosiasinya yang ketiga (Ezny, 2013). Senyawa asam banyak kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Semua senyawa asam mempunyai rasa masam/kecut. Rasa masam/kecut ini desebabkan oleh adanya senyawa yang bersifat asam. Buah-buahan memiliki rasa asam berkat adanya senyawa asam yang dikandungnya. Jeruk mengandung asam sitrat sedangkan anggur mengandung asam tartrat. Air susu yang basi mengandung asam laktat. Selain itu, senyawa asam dapat kita temukan juga dalam lambung dan darah. Dalam lambung terdapat asam klorida yang berperan pada pencernaan makanan serta dalam darah terdapat asam karbonat dan asam phosfat yang berperan pada pengangkutan makanan (Mulyadi, 2012).

Gambar II.2 Contoh Asam dalam kehidupan sehari-hari LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-3

Asidi Alkalimetri
Ciri-Ciri Asam a. Rasanya asam b. Dapat mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah c. Mempunyai pH (derajat keasaman) kurang dari 7 d. Dapat menghantarkan listrik (termasuk larutan elektrolit) e. Dengan logam tertentu dapat mengahasilkan gas hydrogen f. Bersifat korosif atau merusak bahan-bahan benda-benda yang dikenainya (Mulyadi, 2012) Peranan Asam Dalam Kehidupan Asam merupakan salah satu senyawa yang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan. Contohnya seperti asam klorida dalam lambung manusia yang berfungsi mematikan bakteri dalam makanan dan menciptakan kondisi yang sesuai untuk memulai pencernaan protein, asam sulfat yang bermanfaat dalam pembuatan pupuk dan baterai mobil, dan asam cuka yang dapat menetralkan sengatan lebah. Meskipun asam adalah senyawa yang sangat berguna, tetapi asam juga dapat menimbulkan berbagai kerusakan pada bahan-bahan yang dikenainya karena asam bersifat korosif. Salah satunya adalah peristiwa hujan asam (Mulyadi, 2012). Berikut adalah beberapa dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam: mengubah pH tanah sehingga kondisinya tidak sesuai dengan tumbuhan dan mengakibatkan pohon/tanaman mati. dapat menghilangkan unsur-unsur hara dalam tanah sehingga mengurangi kesuburan tanah. mengubah pH air sehingga dapat mematikan ikan-ikan dan biota-biota air. merusak bangunan, terutama yang terbuat dari batu pualam (karbonat dan logam). (Mulyadi, 2012) II.3 Basa Basa, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. Hidroksida-hidroksida logam yang larut, seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer, karena itu basabasa ini disebut basa kuat. Dilain pihak larutan air amonia, merupakan suatu basa lemah. Bila dilarutkan dalam air amonia membentuk amonium hidroksida, yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida(Wahyuni, 2012): Karena itu, basa kuat merupakan elektrolit kuat, sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. Tetapi tidak ada pembagian yang spesifik antara golongan-golongan ini, dan sama halnya dengan asam, adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif pembawaan sifat basa suatu basa ialah OH-, ini berarti setiap basa pasti mengadung gugus OH, tetapi tidak berarti bahwa setiap senyawa senyawa yang mengadung OH adalah basa. Misalnya, alkohol rumusnya C2H5OH bukan basa, karena alkohol tidak dapat melepaskan OH. Asam asetat rumusnya CH3COOH bukan basa, tetapi asam karena asam asetat tidak dapat melepaskan OH melainkan H(Wahyuni, 2012): Seperti halnya asam, basa juga banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Para ibu rumah tangga menggunakan abu gosok untuk mencuci piring. Basa dalam abu gosok dapat bereaksi dengan kotoran berupa lemak/minyak, sehingga menjadi larut. Sedangkan, untuk mencuci piring yang sangat berminyak perlu menggunakan sabun. Sabun dapat melarutkan lemak dan minyak. Para penderita maag selalu minum obat berupa magnesium hidroksida atau aluminium hidroksida(Mulyadi, 2012). Ciri-Ciri Basa a. Pahit dan licin di kulit b. Mempunyai pH lebih dari 7 LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-4

Asidi Alkalimetri
c. d. e. f. II.4 Mengubah warna lakmus merah menjadi biru Dapat menghantarkan listrik (termasuk larutan elektrolit) Dapat menetralkan sifat asam Bersifat kausatik atau dapat merusak kulit

(Mulyadi, 2012)

Teori Asam Basa Untuk memahami reaski-reaksi kimia yang sederhana maupun yang rumit maka perlu mengerti konsep asam-basa. Pada hakekatnya reaksi-reaksi kimia dapat dirangkum sebagai reaksi asam-basa. Dapat diketahui bahwa terdapat tiga konsep asam-basa yang diketahui. (Utomo, 2008) TEORI ASAM BASA ARRHENIUS Arrhenius mengemukakan suatu teori dalam disertasinya (1883) yaitu bahwa senyawa ionik dalam larutan akan terdissosiasi menjadi ion-ion penyusunnya. Menurut Arrhenius(Utomo, 2008): + Asam: zat/senyawa yang dapat menghasilkan H dalam air + HCl (aq) H (aq) + Cl (aq) Basa : zat/senyawa yang dapat menghasilkan OH dalam air + NaOH (aq) Na (aq) + OH (aq) Reaksi netralisasi adalah reaksi antara asam dengan basa yang menghasilkan garam: HCl(aq) + NaOH(aq) H
(Utomo, 2008)
+ (aq)

NaCl(aq) + H2O()
(aq)

+ OH

H2O ()

Keterbatasan Teori Arrhenius Asam klorida dapat dinetralkan baik oleh larutan natrium hidroksida maupun amonia. Pada kedua kasus tersebut, akan didapatkan larutan hasil reaksi yang jernih yang dapat dikristalkan menjadi garam berwarna putih, baik natrium klorida maupun amonium klorida. Kedua reaksi tersebut merupakan reaksi yang sangat mirip. Reaksi yang terjadi adalah(Utomo, 2008): NaOH(aq) + HCl(aq) NH3(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O() NH4Cl(aq) + H2O()

Pada kasus reaksi antara natrium hidroksida dengan asam klorida, ion hidrogen dari asam bereaksi dengan ion hidroksida dari NaOH. Hal ini sesuai dengan teori asam-basa Arrhenius. Akan tetapi pada kasus reaksi amonia dengan asam klorida, tidak terdapat ion hidroksida. Dapat dikatakan bahwa amonia bereaksi dengan air menghasilkan ion amonium dan hidroksida, menurut reaksi sebagai berikut(Utomo, 2008): NH3(aq) + H2O() NH4+(aq) + OH-(aq) Reaksi di atas merupakan reaksi reversibel, dan dalam larutan amonia pekat tertentu, sekitar 99% amonia tetap berada sebagai molekul amonia. Meskipun demikian, ion hidroksida tetap dihasilkan, walau dalam jumlah yang sangat kecil. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa reaksi tersebut sesuai dengan teori asam-basa Arrhenius. Tetapi pada saat yang bersamaan, terjadi reaksi antara gas amonia dengan gas hidrogen klorida. (Utomo, 2008) NH3(aq) + HCl(aq) LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS NH4Cl(aq) + H2O()

II-5

Asidi Alkalimetri
Dalam kasus reaksi di atas, tidak dihasilkan ion hidrogen ataupun ion hidroksida, karena reaksi tidak terjadi dalam larutan. Teori Arrhenius tidak menggolongkan reaksi di atas sebagai reaksi asam-basa, meskipun faktanya, reaksi tersebut menghasilkan produk yang sama manakala kedua senyawa tersebut dilarutkan dalam air(Utomo, 2008). Secara singkat dapat dikatakan bahwa keterbatasan teori Arrhenius adalah bahwa reaksi asam basa hanyalah sebatas pada larutan berair (aqueus, aq) dan asam-basa adalah zat yang hanya menghasilkan H+ dan OH-(Utomo, 2008). TEORI ASAM BASA BRONSTED-LOWRY Pada tahun 1923, Johannes Bronsted (Denmark) dan Thomas Lowry (Inggris) mempublikasikan tulisan yang mirip satu-sama lain secara terpisah. Pendekatan teori asam-basa Bronsted-Lowry tidak terbatas hanya pada larutan berair, tetapi mencakup semua sistem yang mengandung proton (H+)(Utomo, 2008). Menurut Bronsted-Lowry: + Asam: zat/senyawa yang dapat mendonorkan proton (H ) bisa berupa kation atau molekul netral. + Basa: zat/senyawa yang dapat menerima proton (H ), bisa berupa anion atau molekul netral. (Utomo, 2008) Mengacu teori asam-basa Bronsted-Lowry akan terjadinya transfer proton, maka dikenal istilah pasangan asam basa konjugasi(Utomo, 2008). NH3 + HCl asam 1 basa 1 NH4+ + Clasam 2 basa 2

Teori asam-basa Bronsted-Lowry tidaklah bertentangan dengan teori asam-basa Arrhenius, justru lebih melengkapi. Ion hidroksida tetap bertindak sebagai basa, karena mampu menerima ion hidrogen dari asam dan juga dari air. Asam menghasilkan ion hidrogen dalam larutan sebab asam bereaksi dengan molekul air dengan cara memberikan protonnya kepada air (Utomo, 2008). Ketika gas hidrogen klorida dilarutkan dalam air, molekul hidrogen klorida akan memberikan protonnya (sebagai ion hidrogen) kepada air untuk menghasilkan asam klorida. Ikatan koordinasi terbentuk antara satu pasang elektron bebas pada atom oksigen dengan ion hidrogen dari HCl menghasilkan ion hidronium (H3O+)1(Utomo, 2008). Apabila suatu asam dalam larutan bereaksi dengan suatu basa, yang bertindak sebagai asam adalah ion hidronium. Sebagai contoh adalah terjadinya transfer proton dari ion hidronium kepada ion hidroksida untuk menghasilkan air. Hal penting yang harus diingat adalah apabila kita membicarakan ion hidrogen dalam larutan, H+(aq), yang sebenarnya kita bicarakan tidak lain adalah ion hidronium, H3O+(aq) (Utomo, 2008). TEORI ASAM-BASA LEWIS Pada teori asam-basa Arrhenius tidak dijelaskan perilaku asam-basa dalam larutan tidak berair dan pada teori asam-basa Bronsted-Lowry tidak diterangkan akan adanya sistem yang tidak terprotonasi. G.N. Lewis, pada tahun 1923, mengemukakan teori asambasa dalam buku Thermodynamics and the Free Energy of Chemical Substances . (Utomo, 2008) Menurut Lewis: Asam: zat/senyawa yang dapat menerima pasangan elektron bebas dari zat/senyawa lain untuk membentuk ikatan baru. Basa: zat/senyawa yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas dari LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-6

Asidi Alkalimetri
zat/senyawa lain untuk membentuk ikatan baru. (Utomo, 2008) Produk dari reaksi asam-basa Lewis merupakan senyawa kompleks. Proton merupakan asam Lewis. Lewis mengembangkan reaksi asam-basa yang menyangkut zat/senyawa yang tidak mempunyai atom H dalam senyawanya. Secara umum, reaksi asam-basa Lewis terjadi apabila ada basa yang mendonorkan pasangan elektronnya dan asam yang menerima pasangan elektron tersebut untuk membentuk ikatan baru. Produk yang terjadi dari reaksi asam-basa Lewis disebut dengan senyawa kompleks (adduct) dan ikatan yang terjadi adalah ikatan kovalen koordinasi(Utomo, 2008). II.5 Titrasi Istilah analisis titrimetri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan ditetapkan. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui kemudian dihitung. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat, reaksi berlangsung secara kuantitatif, dan tidak ada reaksi efek samping. Selain itu jika reagen penitrasi yang diberikan berlebih, maka harus dapat diketahui dengan suatu indikator (Ayu, 2011).

Gambar II.5 Titrasi

Larutan dengan kekuatan (konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut larutan standar. Suatu larutan standar adalah larutan yang mengandung regensia dengan bobot yang diketahui dalam suatu volume tertentu larutan. Selama bertahun-tahun, konsentrasi dinyatakan dalam molaritas dan normalitas. Larutan standar biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret Ayu, 2011). Volume pada jumlah reagen yang ditambahkan tepat sama yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis disebut sebagai titik ekuivalen. Setelah reaksi antara zat dan larutan standar praktis lengkap, indikator harus memberikan perubahan visual yang jelas (entah terjadi perubahan warna atau pembentukan kekeruhan) dalam cairan yang sedang dititrasi. Titik saat terjadi perubahan tersebut disebut titik akhir titrasi. Pada titrasi yang ideal, titik akhir yang terlihat akan terjadi bersamaan dengan titik akhir stoikiometri/teoritis. Namun dalam praktek, biasanya akan terjadi perbedaan yang sangat sedikit. Perbedaan antara titik akhir dan titik ekuivalen disebut kesalahan titik akhir. Kesalahan titik akhir adalah kesalahan acak yang berbeda untuk setiap sistem. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Indikator dan kondisikondisi eksperimen harus dipilih sedemikian, sehingga perbedaan antara titik akhir dan titik ekivalen adalah sekecil mungkin (Ayu, 2011). LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-7

Asidi Alkalimetri
Reagen dengan konsentrasi yang diketahui disebut titran dan zat yang sedang dititrasi disebut titrat (analit). Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil (Ayu, 2011): 1. Konsentrasi titran harus diketahui 2. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. 3. Titik stokiometri atau ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunkan. 4. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin. (Ayu, 2011) Metode titrasi lainnya dapat dipakai untuk ketelitian yang tinggi dan memiliki beberapa keuntungan, di mana ia dapat ditetapkan melebihi metode gravimetri. Metodemetode ini memerlukan peralatan yang lebih sederhana dan umumnya cepat di kerjakan. Pemisahan yang menjemukan dan sukar sering dapat dihindari (Ayu, 2011). Reaksi yang digunakan dalam analisis titrimetri dapat dibagi dalam dua golongan: 1. Reaksi dalam mana tak terjadi perbahan keadaan oksidasi, reaksi ini bergantung pada bersenyawanya ion-ion. 2. Reaksi oksidasi-reduksi, ini melibatkan suatu perubahan keadaan oksidasi (pemindahan elektron). (Ayu, 2011) Namun, demi kemudahan kedua tipe reaksi ini dibagi dalam empat golongan utama: 1. Reaksi penetralan : ini melibatkan titrasi basa bebas, atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah, dengan suatu asam standar, dan titrasi asa, bebas atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu basa standar. Reaksi-reaski ini melibatkan bersenyawanya ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air. 2. Reaksi pembentukan kompleks : reaksi ini bergantung pada bersenyawanya ion-ion (yang bukan ion hidrogen atau ion hidroksida) untuk membentuk suatu ion atau senyawa yang dapat larut dan sedikit terdisosiasi. 3. Reaksi pengendapan : reaksi bergantung pada bersenyawanya ion-ion untuk membentuk sebuah endapan sederhana. 4. Reaksi oksidasi-reduksi : dalam golongan ini tremasuk semua reaksi yang melibatkan reaksi oksidasi-reduksi. Sebagian besar titrasi terliput oleh dua kaktegori ini. (Ayu, 2011) II.6 Titrasi Asam-Basa Titrasi asam-basa tergolong pada dua metoda yaitu asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri yang secara kata berarti asam (acid) dan pengukuran (metri), diartikan pengukuran menggunakan asam yaitu pengukuran terhadap larutan basa bebas atau larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan asam yang telah diketahui konsentrasinya. Alkalimetri yang secara kata berarti basa (alkali) dan pengukuran (metri), diartikan pengukuran menggunakan basa yaitu pengukuran terhadap larutan asam bebas atau larutan garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan basa yang telah diketahui konsentrasinya (Hamdani, 2013). Karena asam terbagi menjadi asam kuat dan asam lemah, sebagaimana basa juga menjadi basa kuat dan basa lemah, sehingga titrasi asam basa dapat dilakukan terhadap : 1. Asam kuat basa kuat 2. Asam kuat basa lemah 3. Asam lemah basa kuat 4. Asam kuat garam dari asam lemah 5. Basa kuat garam dari basa lemah LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-8

Asidi Alkalimetri
Kurva titrasi dibuat dengan menghitung pH campuran reaksi pada beberapa titik yang berbeda selama perubahan larutan basanya. Bentuk kurva titrasi tergantung pada kekuatan asam dan basa yang direaksikan. Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat Reaksi antara 25 ml HCl 0,1 M dengan NaOH 0,1 M, reaksi yang terjadi sebagai berikut : HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(aq)

Kurva asam kuat dengan basa kuat dapat dilihat pada gambar diatas. pH sebelum NaOH =1, Setelah penambahan 10 ml NaOH pH menjadi 1,37. Penambahan 25 ml NaOH pH = 7, karena terjadi titik ekuivalen yang menyebabkan larutan garam NaCl bersifat netral. Penambahan 26 ml NaOH berubah drastic menjadi 11,29. Garam NaCl yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat yang merupakan elektrolit kuat tidak akan terhidrolisis, karena larutannya bersifat netral (pH=7). Titrasi Asam Kuat dengan Basa Lemah Reaksi antara 25 ml HCl 0,1 M dengan NH3 0,1 M (Kb = 10-5). Reaksinya sebagai berikut : HCl(aq) + NH3(aq) NH4Cl(aq)

Sebelum penambahan NH3, pH =1, setelah penambahan 10 ml NH3, pH =1,37, penambahan 25 ml NH3, pH=5,15 yang merupakan titik ekuivalen. Penambahan 26 ml NH3, pH berubah sedikit, yaitu 6,1. Penambahan sedikit basa maka pH garam hamper tidak LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-9

Asidi Alkalimetri
berubah, sehingga merupakan larutan penyangga. Titik ekuivalen terjadi pada pH 7 karena garam yang terbentuk mengalami hidrolisis sebagian yang bersifat asam. Titrasi Asam Lemah dengan Basa Kuat Reaksi antara 25 ml HC2H3O2 0,1 M (Ka= 1,74.10-5) dengan NaOH 0,1 M. Reaksi : HC2H3O2(aq) +NaOH(aq) ---> C2H3O2Na(aq) + H2O(l)

Penambahan 10 ml NaOH pH berubah menjadi 4,58, penambahan 25 ml terjadi titik ekuivalen pada pH = 8,72. Penambahan 26 ml NaOH pH =10,29. Pada grafik diatas, penambahan sedikit basa, maka pH akan naik sedikit, sehingga termasuk larutan penyangga. Titik ekuivalen diperoleh pada pH >7. Hal itu disebabkan garam yang terbentuk mengalami hidrolisis sebagian yang bersifat basa. Titrasi Asam Lemah dengan Basa Lemah Contoh yang biasa untuk kurva titrasi asam lemah dan basa lemah adalah asam etanoat dan amonia CH3COOH(aq) + NH3(aq) CH3COONH4(aq) Hal ini juga terjadi karena keduanya bersifat lemah - pada kasus tersebut, titik ekivalen kira-kira terletak pada pH 7. Gambar ini hanyalah penggabungan gambar yang telah anda lihat. Sebelum titik ekivalen sama seperti kasus amonia - HCl. Setelah titik ekivalen seperti bagian akhir kurva asam etanoat - NaOH.

LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-10

Asidi Alkalimetri
Perhatikan bahwa kurva tersebut sedikit tidak curam pada gambar ini. Malahan, terdapat sesuatu yang dikenal dengan "titik infleksi". Kecuraman yang berkurang berarti bahwa sulit melakukan titrasi antara asam lemah vs basa lemah. Perbedaan dari jenis titrasi di atas terletak pada titik akhir titrasi, dimana jika titrasi dilakukan dengan asam maupun basa kuat yang juga merupakan elektrolit kuat maka larutan yang dihasikan akan netral dan mempunyai pH 7, kondisi ini terjadi pada titik ekuivalen (Hamdani, 2013). Jika asam atau basanya adalah elektrolit lemah, garam itu akan terhidrolisis sampai derajat tertentu dan larutan pada titik ekivalen akan sedikit basa atau sedikit asam. pH akhir dari larutan adalah saat titik ekivalen yang dapat dihitung dari tetapan ionisasi dari asam lemah atau basa lemah itu dan konsentrasi larutan (Hamdani, 2013). Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa, maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus-menerus naik. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH meter) pada awal titrasi (yakni sebelum ditambah basa) pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai, maka jika pH larutan dibuat grafik dengan volume titrant akan diperoleh grafik yang disebut kurva titrasi (Hamdani, 2013). II.7 Prinsip Titrasi Asam-Basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant ditambahkan titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi) yang biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator. Keadaan ini disebut sebagai titik ekuivalen, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan : [H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen, tapi biasanya titik akhir titrasi melewati titik ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering disebut juga sebagai titik ekuivalen (Sriyani, 2008). Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian catat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka bisa dihitung konsentrasi titran tersebut. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan (netralisasi). Salah satu contoh titrasi asam basa yaitu titrasi asam kuat-basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) dengan asam hidroklorida (HCl), persamaan reaksinya sebagai berikut (Sriyani, 2008): NaOH(aq) + HCl(aq) II.8 NaCl (aq) + H2O(l)

Faktor yang Mempengaruhi Titrasi Asam-Basa Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu temperatur, sifat pelarut, efek ion sejenis, efek ion berlainan, pH, hidrolisis, pengaruh kompleks dan lain-lain. Agar titrasi dapat berlangsung dengan baik, yang harus diperhatikan adalah (Annisa, 2008): 1. Interaksi antara pentiter dan zat yang ditentukan harus berlangsung secara stoikiometri, artinya sesuai dengan ketetapan yang dicapai dengan peralatan yang lazim digunakan dalam titrimetri. Reaksi harus sempurna sekurang-kurangnya 99,9 % pada titik kesetaraan. 2. Laju reaksi harus cukup tinggi agar titrasi berlangsung dengan cepat. (Annisa, 2008) Titrasi dapat diklasifikasikan menjadi: 1. Berdasarkan reaksi : LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-11

Asidi Alkalimetri
Titrasi asam basa Titrasi oksidasi reduksi Titrasi pengendapan Titrasi kompleksometri 2. Berdasarkan titran (larutan standar) yang dipakai : Titrasi asidimetri 3. Campuran penetapan akhir : Cara visual dengan indikator Cara elektromagnetik 4. Berdasarkan konsentrasi : Makro Semimikro Mikro 5. Berdasarkan teknik pelaksanaan : Tidak langsung Titrasi plank Titrasi tidak langsung (Annisa, 2008) II.9 Indikator Titrasi Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik ekivalen, caranya dengan memilih indikator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan dengan sempurna yang biasanya ditandai dengan pengamatan visual melalui perubahan warna indikator (Voesvita, 2011). Ada dua cara yang lazim untuk menentukan titik ekivalen pada tihtrasi asam-basa : Menggunakan alat pH meter, sering juga secara instrumen Menggunakan indikator asam-basa, dinamakan juga secara kimia, yang menunjukkan titik akhir titrasi dengan terjadinya perubahan warna. (Ayu, 2011) Kebanyakan indikator asam-basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah. Mereka memberikan satu warna bila proton terikat pada molekul dan warna berbeda bila proton lepas. Ada tersedia sejumlah zat indikator penetral atau indikator asam-basa yang memilki warna-warna berbeda bergantung pada konsentrasi ion hidrogen dari larutan. Ciri-ciri khas utama dari indikator ini adalah bahwa perubahan dari yang dominan asam menjadi warna yang dominan basa tidaklah mendadak dan sekaligus, tetapi berjalan didalam suatu selang pH yang dinmakan selang peruabahan warna indikator (Ayu, 2011). Perubahan warna disebabkan resonansi isomer elektron, berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. Indikator asam-basa secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan (Ayu, 2011): a) Indikator ftalein dan indikator sulfoftalein b) Indikator azo c) Indikator trifenil metana (Ayu, 2011) Untuk beberapa tujuan dikehandaki suatu perubahan warna yang tajam pada suatu jangkauan pH yang sempit dan terpilih. Kasus-kasus seperti ini dapat dicapai dengan LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-12

Asidi Alkalimetri
menggunakan campuran indikator yang sesuai. Ini umumnya dipilih sedemikian hingga nilai pk `ln mereka berada dekat satu sama lain, dan warna-warna yang bertindihan adalah komplementer pada suatu nilai pH pertengahan. Perubahan warna dari suatu indikator tunggal dapat juga diperbaiki dengan menambahkan zat warna yang peka pH untuk menghasilkan komplemen dari salah satu warna indikator universal (Ayu, 2011). Selain itu dikenal juga yang disebut indikator universal. Indikator ini memang tidak digunakan untuk titrasi melainkan untuk mengukur range pH dengan warna pH 3,0 (merah), pH 5 (orange), pH 6 (kuning), pH 8,5 (hijau), pH 9 (biru), pH 10 (violet). Indikator universal ini sebenarnya merupakan campuran indikator-indikator tertentu dengan sesuai, kertas pH indikator ini berlapiskan campuran indikator berupa metil orange, bromotimol blue, alizarin yellow G dan fennolftalein (Ayu, 2011). Indikator asam-basa tidak dapat digunakan pada larutan yang warnanya pekat atau yang larutan yang keruh. Untuk larutan tersebut biasanya digunakan indikator yang menunjukkan pendar-fluor. Indikator ini menunjukkan pendar-fluor biru pada sinar ultraviolet. Kelebihan indikator ini adalah pengamatan titik akhir titrasi sangat mudah meskipun warna titrannya sendiri cukup kuat, bahkan seorang yang buta warna dapat mengamati proses pendar-fluor ini (Ayu, 2011). Warna yang akan teramati pada penentuan titik akhir titrasi adalah warna indikator dalam keadaan transisinya. Untuk indikator phenolpthalein karena indikator ini bertransisi dari tidak berwarna menjadi merah keungguan maka yang teramati untuk titik akhir titrasi adalah warna merah muda. Contoh lain adalah metil merah. Oleh karena metil merah bertransisi dari merah ke kuning, maka bila indikator metil merah dipakai dalam titrasi maka pada titik akhir titrasi warna yang teramati adalah campuran merah dengan kuning yaitu menghasilkan warna orange. Contoh indikator asam-basa (Athvan, 2011) : Tabel 2.1 Indikator asam basa Nama Indikator Warna asam Warna basa Trayek pH Alizarin kuning Kuning ungu 10,1-12,0 Fenolftalein tak berwarna merah 8,0-9,6 Timolftalein tak berwarna biru 9,3-10,6 Fenol merah Kunig merah 6,8-8,4 Bromtimol blue kuning biru 6,0-7,6 Metil merah merah kuning 4,2-6,2 Metil jingga merah kuning 3,1-4,4 Para nitrofenol tak berwarna kuning 5,0-7,0 Timol blue kuning biru 8,0-9,6 Tropeolin OO merah kuning 1,3-3,0 Untuk masing-masing larutan baik titran maupun titrat, perkalian antara volume (dalam liter) dengan normalitas akan menghasilkan banyaknya ekuivalen dari spesi yang bereaksi (Ayu, 2011): VA NA = ekuivA dan VB NB = ekuivB Dengan A dan B masing-masing menyatakan asam dan basa. Pada penetralan, banyaknya ekuivalen asam (ekiuvA) sama dengan ekuiv basa (ekuivB), dan dapatlah ditulis(Ayu, 2011) : ekuivA = ekuivB VA NA = VB NB Karena faktor volume muncul pada kedua ruas persamaan, maka satuan volume apa saja dapat digunakan dalam persamaan ini, asal kedua volume itu dinyatakan dengan satuan yang sama, misalnya keduanya dalam liter (L) atau keduanya dalam mililiter (ml), yakni (Ayu, 2011): LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-13

Asidi Alkalimetri
VA NA = VB NB II.10 Kalium Hidroksida Kalium Hidroksida, biasa disebut potas api dengan rumus KOH. Nama lain Kalium Hidroksida yaitu Kaustik Kalium, Potash Alkali, Potassia, Kalium Hidrat. KOH adalah senyawa kimia alkali kaustik yang mudah larut dalam air dan mudah terbakar. Zat ini cepat menyerap karbon dioksida dan air dari udara (Retta, 2013). A. Sifat Fisik dan Kimia Bentuk : Padat tetapi dapat dibentuk menjadi butir, stick, gumpalan dan serpih. Warna : Tidak berwarna (putih) Bau : Tak Berbau Ph : 13,5 (0,1 molar larutan) Titik Lebur : 3600C (680F) Titik Didih : 1.3200C (2408F) - 13240C Massa molar : 56,1056 g / mol Densitas : 2,04 g/cm3 pada 200C Kelarutan dalam air : 121 g/100 mL (25 C), 178 g/100 mL (100 C) Indeks bias : 1.409 Korosi : Dapat merusak logam-logam Tekanan Uap (mm Hg) : 1.0 torr pada 714C (1317F) Berat Molekul : 56,1047 Kelarutan : larut dalam alkohol, gliserol , larut dalam eter , cairan amonia Reaktivitas : Hidroskopis, menyerap karbondioksida B. Toksikokinetika Mekanisme masuknya KOH kedalam tubuh manusia, diantaranya: 1. Absorpsi Jalur pajanan yang dilewati oleh KOH yaitu, inhalasi, ingesti/oral, kulit, dan membran mukosa. KOH diabsorpsi dengan mudah dalam usus halus. 2. Distribusi 3. Metabolisme 4. Ekskresi Sebanyak 80-90% KOH yang dimakan diekskresi melalui urin, selebihnya dikeluarkan melalui feses dan sedikit melalui keringat, cairan lambung dan ginjal. C. Toksikodinamik Potensi Efek Kesehatan akut: 1. Toksisitas oral Hewan Percobaan : LD50 Tikus Dosis : 273 mg/kg (RTECS) Tanda-tanda : bila termakan, luka bakar hebat di mulut dan kerongkongan. Di samping itu, bisa mengakibatkan sakit perut (epigastrium) , muntah, diare, hematemesis, dan berlubangnya esofagus dan perut. 2. Toksisitas inhalasi Tanda-tanda keracunan adalah terbakar pada membran mukosa. KOH dapat menyebabkan sesak nafas, sakit tenggorokan, edema paru, luka di hidung, pneumonitis, dan iritasi saluran pernafasan, yang ditandai dengan bersin dan batuk. 3. Iritasi kulit

LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-14

Asidi Alkalimetri
Hewan Percobaan : Kelinci KOH dapat mengakibatkan peradangan dan kulit dapat melepuh yang ditandai dengan gatal, scaling, memerah, atau kadang-kadang blistering. 4. Iritasi mata Hewan Percobaan : Kelinci Kontak mata bisa mengakibatkan penglihatan kabur, radang mata, kerusakan kornea atau kebutaan. Tanda-tanda radang mata adalah kemerahan dan gatal-gatal. Apabila tingkat keparahan yang tinggi dapat mengakibatkan rusaknya paru-paru, tersedak, pingsan atau kematian. Potensi Efek Kesehatan kronis: Mutagenik efek: mutagenik untuk sel somatik mamalia. Substansi beracun untuk saluran pernapasan bagian atas, kulit, mata. Berulang atau lama terkena zat tersebut dapat menghasilkan target kerusakan organ. Paparan berkalikali pada mata dapat menghasilkan iritasi mata. Paparan berulang pada kulit dapat menghasilkan lokal kerusakan kulit atau dermatitis. Inhalasi berulang dapat mengakibatkan iritasi pernafasan atau kerusakan paru-paru. D. Kegunaan di proses industri Kalium Hidroksida, juga disebut potas api, adalah senyawa kimia dengan rumus KOH. Bahan dimurnikan adalah putih solid yang terdapat di alam dalam bentuk butir dan serpih. 1. Pembuatan Garam Menjadi sangat alkali, kalium hidroksida bereaksi dengan berbagai asam, dan reaksi asam-basa ini digunakan untuk produksi garam kalium. 2. Penetralisasi Asam Sebagai alkali, kalium hidroksida digunakan untuk menetralkan keasaman dan menyesuaikan pH larutan. Dalam analisis kimia, zat tersebut sangat penting bagi titrasi asam untuk menentukan konsentrasi. 3. Produksi Sabun Reaksi kalium hidroksida dengan minyak dan lemak di bawah kondisi dipanaskan disebut saponifikasi. Reaksi ini berguna untuk produksi sabun yang lebih lembut dan lebih mudah larut. 4. Baterai dan Sel Bahan Bakar Larutan kalium hidroksida digunakan sebagai elektrolit dalam berbagai jenis baterai, termasuk alkaline, nikel-kadmium, dan mangan dioksida-seng baterai. Hal tersebut merupakan elektrolit dalam beberapa jenis bahan bakar sel. Laruttan kalium hidroksida adalah konduktor listrik yang lebih baik dibandingkan sodium hidroksida. 5. Penggunaan Miscellaneous Kalium hidroksida merupakan katalis dalam proses produksi biodiesel dari minyak dan lemak. Dalam pembuatan kertas, hal ini membantu lignin terpisah dari serat selulosa. Ini adalah sketsa dalam pengolahan basah semikonduktor dan agen pemutih untuk tekstil. Hal ini dapat digunakan untuk penyerapan karbon dioksida (CO2), sulfur trioksida (SO3), dan nitrogen trioksida (NO3) dalam aliran gas. Selain itu, digunakan untuk penyumbatan saluran air, menghilangkan bulu dari kulit hewan (melemahkan rambut manusia dalam persiapan untuk mencukur), mempercepat dekomposisi jaringan lunak (meleburjkan bangkai hewan). Kalium Hidroksida juga berperan dalam penghilang kutikula dalam manicure perawatan. Dalam industri makanan, dapat digunakan dalam pengolahan cokelat dan kakao, produksi warna karamel, pencucian dan menghilangkan zat kimia dari buah-buahan serta sayuran. Kalium hidroksida digunakan untuk mengidentifikasi beberapa jenis jamur . Sebuah larutan 3-5% dari KOH diterapkan pada daging jamur dan catatan peneliti apakah perubahan warna LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-15

Asidi Alkalimetri
daging. spesies tertentu boletes , polypores , dan banyak jamur gilled diidentifikasi berdasarkan perubahan ini-reaksi warna. E. Informasi tambahan Tindakan Pertolongan Pertama Kontak Mata: Siram mata dengan air sekurang-kurangnya 15 menit, sesekali mengangkat kelopak mata atas dan bawah. Air dingin dapat digunakan. dan perlu mendapatkan pertolongan medis segera (dokter mata). Kontak Kulit: Basuh kulit dengan air sekurang-kurangnya 15 menit setelah melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Tutupi kulit yang teriritasi dengan bahan yang lunak. Air dingin dapat digunakan. Bersihkan pakaian dan sepatu sebelum digunakan kembali. Dan perlu mendapatkan pertolongan medis segera. Kontak Kulit Serius: Cuci dengan sabun desinfektan dan tutupi kulit yang terkontaminasi dengan krim anti-bakteri (polyethylene glycol 400) dan perlu mendapatkan pertolongan medis segera. Inhalasi: Hiruplah udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen dan perlu mendapatkan pertolongan medis segera. Inhalasi Serius: Mengevakuasi korban ke daerah yang aman sesegera mungkin. Kendurkan pakaian ketat seperti dasi, ikat pinggang leher atau pinggang. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Jika korban tidak bernafas, lakukan resusitasi (mulut ke mulut). Peringaran: Mungkin berbahaya kepada orang yang memberikan resusitasi mulut ke mulut bila yang dihirup adalah bahan beracun, menular atau korosif. Carilah pertolongan medis segera. Ingesti Jangan muntah (resiko perforasi) kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh tenaga medis. Jika dalam keadaan sadar dan waspada, berikan air minum (paling banyak dua gelas). Jangan memberikan apa pun melalui mulut jika orang tersebut pingsan. Kendurkan pakaian ketat seperti leher, dasi, ikat pinggang. Jika sejumlah besar bahan ini ditelan, segera hubungi dokter. (Retta, 2013) II.11 Asam Klorida Asam klorida pertama kali ditemukan sekitar tahun 800 sesudah masehi oleh alkimiawan Jabir bin Hayyan (Geber) dengan mencampurkan natrium klorida dengan asam sulfat ("vitriol"). Jabir menemukan banyak senyawa-senyawa kimia penting lainnya, dan mencatat penemuannya ke dalam lebih dari dua puluh buku. Penemuan Jabir atas air raja yang dapat melarutkan emas mengandung asam klorida dan asam nitrat. Pada Abad Pertengahan, asam klorida dikenal oleh alkimiawan Eropa sebagai spirits of salt atau acidum salis (asam garam). Istilah asam garam ini pun masih digunakan di beberapa bahasa dunia, misalnya dalam bahasa Jerman Salzsure, bahasa Belanda Zoutzuur, bahasa Mandarin (yansuan), dan bahasa Jepang (ensan). Gas HCl disebut sebagai udara asam laut. Produksi asam klorida secara signifikan dicatat oleh Basilius Valentinus pada abad ke-15. Pada abad ke-17, Johann Rudolf Glauber dari Karlstadt am Main, Jerman menggunakan natrium klorida dan asam sulfat untuk membuat natrium sulfat melalui proses Mannheim. Proses ini akan melepaskan gas hidrogen klorida sebagai produk sampingannya. Joseph Priestley dari Leeds berhasil menghasilkan hidrogen klorida murni pada tahun 1772, dan pada tahun 1818, Humphry Davy dari Penzance, Inggris, LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-16

Asidi Alkalimetri
membuktikan bahwa komposisi kimia zat tersebut terdiri dari hidrogen dan klorin. Jabir bin Hayyan dalam gambar abad pertengahan Semasa Revolusi Industri di Eropa, permintaan atas senyawa-senyawa alkalin meningkat. Proses industri baru yang mengijinkan produksi natrium karbonat (soda abu) dalam skala besar berhasil dikembangkan oleh Nicolas Leblanc. Dalam proses Leblanc, natrium klorida diubah menjadi natrium karbonat menggunakan asam sulfat, batu kapur, dan batubara. Proses ini melepaskan hidrogen klorida sebagai produk samping. Sebelum diberlakukannya UndangUndang Alkali tahun 1863 oleh Britania, HCl yang berlebih dilepaskan ke udara bebas. Setelah berlakunya undang-undang ini, produsen soda abu diwajibkan untuk melarutkan gas ini ke dalam air dan menghasilkan asam klorida dalam skala industri. Pada abad ke-20, proses Leblanc digantikan oleh proses Solvay yang tidak menghasilkan asam klorida sebagai produk sampingan. Setelah tahun 2000, asam klorida kebanyakan dihasilkan dari pelarutan produk samping hidrogen klorida dari produksi industri senyawa organik. Sejak tahun 1988, asam klorida telah dimasukkan ke dalam Tabel II Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika karena ia dapat digunakan dalam produksi heroin, kokaina, dan metamfetamina. Konvensi ini disahkan di Indonesia oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997. Sifat Kimia Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik, yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Dalam larutan asam klorida, H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+: HCl + H2O H3O++ Cl Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida, Cl. Asam klorida oleh karenanya dapat digunakan untuk membuat garam klorida, seperti natrium klorida. Asam klorida adalah asam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air. Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam, Ka, yang mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air. Untuk asam kuat seperti HCl, nilai Ka cukup besar. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl. Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke larutan HCl, ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. Untuk larutan asam klorida yang kuat, asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik, dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna. Dari tujuh asam mineral kuat dalam kimia, asam klorida merupakan asam monoprotik yang paling sulit menjalani reaksi redoks. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Walaupun asam, ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. Oleh karena alasan inilah, asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik. Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa. Asam yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas. Asam klorida azeotropik (kira-kira 20,2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam analisis kuantitatif, walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika dibuat. Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel analisis. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas hidrogen. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium karbonat dan tembaga(II) oksida, menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisa. Sifat Fisika LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-17

Asidi Alkalimetri
Ciri-ciri fisika asam klorida, seperti titik didih, titik leleh, massa jenis, dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut. Sifat sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl. Massa Molar : 36,46 g/mol Massa jenis : 1,19 kg/L Viskositas : 1,9 mPas Titik didih : 27,32 C (247 K) Titik leleh : 110 C (383 K)

Gambar II.11.1 Sifat Fisika Asam Klorida Asam klorida sebagai campuran dua bahan antara HCl dan H2O mempunyai titik didih-konstan azeotrop pada 20,2% HCl dan 108,6 C (227 F). Asam klorida memiliki empat titik eutektik kristalisasi-konstan, berada di antara kristal HCl.H2O (68% HCl), HCl.2H2O (51% HCl), HCl.3H2O (41% HCl), HCl.6H2O (25% HCl), dan es (0% HCl). Terdapat pula titik eutektik metastabil pada 24,8% antara es dan kristalisasi dari HCl.3H2O. B. Kegunaan Larutan asam klorida atau yang biasa kita kenal dengan larutan HCl dalam air, adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl termasuk bahan kimia berbahaya atau B3. Di dalam tubuh HCl diproduksi dalam perut dan secara alami membantu menghancurkan bahan makanan yang masuk ke dalam usus. Dalam skala industri, HCl biasanya diproduksi dengan konsentrasi 38%. Ketika dikirim ke industri pengguna, HCl dikirim dengan konsentrasi antara 32~34%. Pembatasan konsentrasi HCl ini karena tekanan uapnya yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan kesulitan ketika penyimpanan. Berikut ini adalah beberapa bidang yang memanfaatkan HCl, baik pada skala industri maupun skala rumah tangga. 1. Asam klorida digunakan pada industri logam untuk menghilangkan karat ataukerak besi oksida dari besi atau baja.

LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-18

Asidi Alkalimetri
2. Sebagai bahan baku pembuatan vinyl klorida, yaitu monomer untuk pembuatan plastik polyvinyl chloride atau PVC. 3. HCl merupakan bahan baku pembuatan besi (III) klorida (FeCl3) dan polyalumunium chloride (PAC), yaitu bahan kimia yang digunakan sebagai bahan baku koagulan dan flokulan. Koagulan dan flokulan digunakan pada pengolahan air. 4. Asam klorida dimanfaatkan pula untuk mengatur pH (keasaman) air limbah cair industri, sebelum dibuang ke badan air penerima. 5. HCl digunakan pula dalam proses regenerasi resin penukar kation (cation exchange resin). 6. Di laboratorium, asam klorida biasa digunakan untuk titrasi penentuan kadar basa dalam sebuah larutan. 7. Asam klorida juga berguna sebagai bahan pembuatan cairan pembersih porselen. 8. HCl digunakan pada proses produksi gelatin dan bahan aditif pada makanan. 9. Pada skala industri, HCl juga digunakan dalam proses pengolahan kulit. 10. Campuran asam klorida dan asam nitrat (HNO3) atau biasa disebut dengan aqua regia, adalah campuran untuk melarutkan emas 11. Kegunaan-kegunaan lain dari asam klorida diantaranya adalah pada proses produksi baterai, kembang api dan lampu blitz kamera. C. Pembuatan Asam klorida dapat diperoleh dari empat sumber utama: 1. Sebagai hasil sampingan klorinasi hidrokarbon aromatic dan alifatik 2. Dari reaksi garam dengan asam sulfat 3. Dari pembakaran hydrogen dengan klor 4. Dari operasi hargreaves 4NaCl + 2SO2 + O2 + 2H2O 2Na2SO4 + 4HCl 90% asam itu didapatkan dari operasi hasil sampingan. Sisanya didapat dari metode lama yaitu garam asam sulfat, dan metode baru yaitu pembakaran. Hanya sebagian kecil perusahaan yang menggunakan proses hargreaves. 1. Sebagai hasil sampingan klorinasi hidrokarbon Langkah-langkah dasar produksi asam hasil sampingan meliputi penyingkiran hidrokarbon yang tak terklorinasi, diikuti dengan absorpsi hidroge klorida di dalam air. Contoh klorinasi, adalah: C6H6 + Cl2 C6H5Cl + HCl benzene kloro benzena Oleh karena klorinasi hidrokarbon alifatik dan aromatic membebaskan kalor dalam jumlah besar, maka diperlukan peralatan khusus untuk mengendalikan suhu reaksi. 2. Proses Mannheim Proses ini menggunakan furnace Mannheim yang berupa bejana silindris yang memiliki 2 ruang bakar, yaitu combustion chamber dan reaction chamber. Temperatur operasi furnace Mannheim adalah sebesar 800oC. Karakteristik dari proses ini yaitu: Temperatur tinggi Banyak problem pada material (tingkat korosi, dll) Diperoleh by-product HCl Reaksi yang terjadi adalah: KCl + H2SO4 KHSO4 + HCl KCl + KHSO4 K2SO4 + HCl Emisi yang dihasilkan dikontrol dengan batasan HCl maksimum 5 ppm dan SO2 maksimum 800 ppm. Beberapa negara di dunia yang telah mendirikan pabrik ZK dengan proses Mannheim antara lain Belgia, Amerika Serikat, Indonesia, dan Cina. LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-19

Asidi Alkalimetri

Gambar II.11.2 Diagram Alir Proses Mannheim 3. Proses Pembakaran Klor Proses sintetik membuat hidrogan klorida melalui pembakaran klor di dalam hidrogen. Kemurnian asam yang dihasilkan bergantung pada kemurnian hydrogen dan klor yang digunakan. Oleh karena kedua gas ini terdapat dalam keadaan sangat murni, sebagai hasil sampingan proses elektrolitik soda kaustik, metode sintetik ini menghasilkan hydrogen klorida yang paling murni diantara proses-proses yang ada. Reaksi antara hydrogen dan klor sangat eksotermik dan berlangsung secara spontan, dan selesai tidak lama sesudah dimulai. Campuran keseimbangan mengandung klor bebas sebanyak 4% volume. Pada waktu gas-gas itu didinginkan, klor bebas dan hydrogen bebas bergabung dengan cepat, sehingga padawaktu suhu mencapai 200oC, gas itu sudah merupakan HCl yang hampir murni. Dengan mengendalikan kondisi operasi secara teliti, orang dapat membuat gas yang mengandung 99% HCl. Gas HCl itu dimurnikan lagi dengan menyerapkannya ke dalam air dalam absorber yang terbuat dalam tantalum atau garfit tak berpori atau grafit impregnasi. Larutan akua itu dilucuti kandungan hidrogen klorida dengan sedikit tekanan, sehingga didapatkan gas hydrogen klorida yang pekat, yang didehidrasi menjadi hydrogen klorida 99,5% dengan mendinginkannya sampai -12oC.

Gambar II.11.3 Proses Pembakaran Klor LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-20

Asidi Alkalimetri
Hidrogen klorida diperlukan dalam jumlah yang banyak untuk membuat metil klorida, etil klorida, vinil klorida, dan berbagai senyawa semacam itu. Asam klorida bersifat sangat korosif terhadap kebanyakan logam sehingga pemilihan bahan konstruksi untuk pabriknya perlu dilakukan dengan hati-hati sekali. Penyerapan hydrogen klorida di dalam air dalam setiap proses di atas membebaskan kira-kira 1625 kJ/kg hydrogen klorida yang diserap. Kalor ini harus dikeluarkan dari absorber, sebab jika tidak, efisiensinya akan turun. 4. Proses Hargreaves Tidak banyak literatur yang membahas proses ini. Dalam proses ini KCl dikeringkan, diayak, dan diumpankan ke chamber reaksi. Gas SO2 panas dari Sulfur burner direaksikan dengan uap air dan udara (kondisi excess) di masukan ke dalam converter secara batch dan counter-current. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: 4KCl + 2SO2 + O2 + 2H2O 2K2SO4 + 4HCl 5. Proses Climax Dalam pembuatan Asam klorida, dapat juga dibuat dengan menggunakan proses climax. Garam (NaCl atau KCl) dimasukkan ke dalam mill dicampur dengan udara panas dan gas pembakaran, hal ini dilakukan sebelum dimasukkan ke dalam reaktor. Asam Sulfat dimasukkan ke dalam tempat penampungan, kemudian dipompakan ke dalam heater agar menguap. Gas-gas yang terbentuk dari pemanasan Asam sulfat dimasukkan ke dalam reactor untuk direaksikan dengan garam. Kalium Sulfat atau Natrium sulfat terbentuk secara berkelanjutan di bagian bawah reactor, sedangkan Gas Asam klorida menguap dan masuk ke dalam cyclone. Kemudian gas HCl ini didinginkan sehingga terbentuk HCl dalam wujud cair. Dari proses ini akan terbentuk Asam sulfat dan Asam klrorida dalam perbandingan 30% H2SO4 dan 32% HCl.

II.12 Asam Boraks Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7.10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Bahan berbahaya ini haram digunakan untuk makanan. Boraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Ia tidak berwarna dan gampang larut dalam air. Asam borat (H3BO3) merupakan asam organik lemah yang sering digunakan sebagai antiseptik, dan dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat (H2SO4) atau asam khlorida (HCl) pada boraks. Asam borat juga sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air (3%) digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, ingat, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.

LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-21

Asidi Alkalimetri
Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan dalam dosis berlebihan, tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang system saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Batas aman/legal penggunaan boraks dalam makanan adalah 1 gram / 1 kg pangan

Gambar II.12 Contoh Sampel Boraks Dampak Negatif Penggunaan Boraks Oksisitas boraks yang terkandung dalam makanan tidak secara langsung dirasakan oleh pengkonsumsinya. Tetapi akan diserap oleh tubuh dan terdeposit secara kumulatif didalam organ, misalnya pada hati, ginjal, jaringan lemak, pembuluh darah, otak dll. Boraks akan menyerang langsung sistem saraf pusat dan menimbulkan gejala keracunan seperti demam, mual, muntah, diare, kejang, iritasi kulit dan jarinagn lemak, apatis, depresi, anuria, sianosis, hipotensi/tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan bahkan kematian. Pada anak-anak dan bayi bila kadar boraks didalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih maka akan terjadi keracunan sangat fatal yang dapat menyebabkan kematian. Pada orang dewasa dapat menimbulkan kematian bila kadarnya mencapai 10-20 gram. Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anak-anak bisa menyebabkan shock dan kematian. Efek akut dari boraks bisa menyebabkan badan berasa tidak enak, mual, nyeri hebat pada perut bagian atas, perdarahan gastro-enteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam dan sakit kepala. Gejala yang ditimbulkan Asam Boraks Gejala yang ditimbulkan oleh asam boraks meliputi : Keadaan umum : lemah, sianosis, hipotensi Terhirup : Iritasi membran mukosa, tenggorokan sakit, dan batuk, efek pada sistem saraf pusat berupa hiperaktifitas, agitasi dan kejang. Aritmia berupa atrial fibrilasi, syok dan asidosis metabolik. Kematian dapat terjadi setelah pemaparan, akibat syok, depresi saraf pusat atau gagal ginjal. Kontak dengan kulit : Eritrodemik rash (merah), iritasi dan gejala seperti orang mabuk, deskuamasi dalam 3-5 hari setelah pemaparan. Tertelan : Mual, muntah, diare, gangguan pencernaan, denyut nadi tidak beraturan, nyeri kepala, gangguan pendengaran dan penglihatan, sianosis, kejang dan koma. LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-22

Asidi Alkalimetri
Keracunan berat dan kematian umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak dalam 17 hari setelah penelanan, sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi. Pengaruh terhadap kesehatan : Tanda dan gejala akut : Muntah, diare, merah dilendir, konvulsi dan depresi SSP (Susunan Syaraf Pusat) Tanda dan gejala kronis : Nafsu makan menurun, Gangguan pencernaan, Gangguan SSP : bingung dan bodoh, Anemia, rambut rontok dan kanker. Akibat dari terdepositnya boraks didalam tubuh melalui makanan, secara umum menimbulkan kerusakan pada sistem saraf pusat, hati, otak, gastrointestinal serta ginjal. II.13 Asam Oksalat Asam oksalat pertama kali disintesis oleh Carl W.Scheele pada tahun 1776 dengan cara mengoksidasi gula dengan asan nitrat. Pada tahun 1784 telah dibuktikan asam oksalat terdapat pada tanaman sorrel. Pada tahun 1829, Gay Lussac menemukan bahwa asam oksalat dapat diproduksi dengan cara meleburkan serbuk gergaji dalam larutan alkali. Asam oksalat merupakan turunan dari asam karboksilat yang mengandung dua gugus karboksil yang terletak pada ujung-ujung rantai karbon yang lurus yang mempunyai rumus molekul C2H2O4 tidak berbau, higroskopis, berwarna putih sampai tidak berwarna dan mempunyai berat molekul 90 gr/mol. Sifat-sifat Asam Oksalat Dihidrat Asam oksalat dihidrat (C2H2O4.2H2O) Berwarna putih, berbentuk kristal dan tidak berbau Titik didih : 101,5 0C Densitas : 1,653 gr/cm3 Titik beku : -1422 kJ/mol Berat molekul : 126 gr/mol pH (0,1 M) : 1,3 Kegunaan Asam Oksalat Asam oksalat merupakan salah satu bahan baku yang dibutuhkan pada industri, yang mempunyai kegunaan lain sebagai berikut : Sebagai bahan pelapis yang melindungi logam dari kerak. II-20 Menetralkan kelebihan alkali pada pencucian dan sebagai bleching. Bahan pencampur zat warna dalam industry tekstil dan cat. Sebagai inisiator dalam pabrik polimer. Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat paling sederhana ini biasa digambarkan dengan rumus HOOC-COOH. Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali lebih kuat daripada asam asetat. Di-anionnya, dikenal sebagai oksalat, juga agen pereduktor. Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, contoh terbaik adalah kalsium oksalat(CaOOC-COOCa), penyusun utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan. Asam oksalat adalah asam dikarboksilat yang hanya terdiri dari dua atom C pada masing-masing molekul, sehingga dua gugus karboksilat berada berdampingan. Karena letak gugus karboksilat yang berdekatan, asam oksalat mempunyai konstanta dissosiasi yang lebih besar daripada asam-asam organik lain. Besarnya konstanta disosiasi (K1 = 6,24.10-2 dan K2 = 6,1.10-5). Dengan keadaan yang demikian dapat dikatakan asam oksalat lebih kuat daripada senyawa homolognya dengan rantai atom karbon lebih panjang. Namun demikian dalam medium asam kuat (pH <2) proporsi asam oksalat yang terionisasi menurun. Sifat-sifat umum Asam Oksalat. Asam oksalat dalam keadaan murni berupa senyawa LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-23

Asidi Alkalimetri
kristal, larut dalam air (8% pada 10o C) dan larut dalam alkohol. Asam oksalat membentuk garam netral dengan logam alkali (NaK), yang larut dalam air (5-25 %), sementara itu dengan logam dari alkali tanah, termasuk Mg atau dengan logam berat, mempunyai kelarutan yang sangat kecil dalam air. Jadi kalsium oksalat secara praktis tidak larut dalam air. Berdasarkan sifat tersebut asam oksalat digunakan untuk menentukan jumlah kalsium. Asam oksalat ini terionisasi dalam media asam kuat. Bahan Makanan yang Mengandung Asam Oksalat. Asam oksalat dapat ditemukan dalam bentuk bebas ataupun dalam bentuk garam. Bentuk yang lebih banyak ditemukan adalah bentuk garam. Kedua bentuk asam oksalat tersebut terdapat baik dalam bahan nabati maupun hewani. Jumlah asam oksalat dalam tanaman lebih besar daripada hewan. Diantara tanaman yang digunakan untuk nutrisi manusia dan hewan, atau tanaman yang ditemukan dalam makanan hewan; yang paling banyak mengandung oksalat adalah spesies Spinacia, Beta, Atriplex, Rheum, Rumex, Portulaca, Tetragonia, Amarantus, Musa parasisiaca. Daun teh, daun kelembak dan kakao juga mengandung oksalat cukup banyak. Demikian juga beberapa spesies mushrooms dan jamur (Asperegillus niger, Baletus sulfurous, Mucor, Sclerotinia dan sebagainya.) menghasilkan asam oksalat dalam jumlah banyak (lebih dari 4-5 gram untuk setiap 100 gram berat kering), baik dalam bentuk penanaman terisolasi dan dalam bahan makanan atau makanan ternak dimana jamur tersebut tumbuh. Distribusi asam oksalat pada bagian-bagian tanaman tidak merata.Bagian daun umumnya lebih banyak mengandung asam oksalat dibandingkan dengan tangkai, sedangkan dalam Poligonaceae, kandungan asam oksalat pada petiole hamper dua kali lebih besar daripada tangkai. Umumnya daun muda mengandung asam oksalat lebih sedikit dibandingkan dengan daun tua. Misalnya pada daun Chenopodiaceae, proporsi asam oksalat dapat bertambah dua kali lipat selama proses penuaan. Bahan makanan yang mengandung oksalat dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu; Produk-produk dimana miliequivalen asam oksalat yang terkandung jumlahnya 2-7 kali lebih besar daripada kalsium, seperti bayam, orach, daun beet dan akar beet, sorrel, sorrel kebun, kelembak dan bubuk kakao. Bahan makanan ini tidak hanya menyebabkan kalsium yang terkandung di dalamnya tak dapat dimanfaatkan tetapi dengan besarnya asam oksalat yang terkandung dapat mengendapkan kalsium yang ditambahkan dari produk-produk lain, atau jika tidak ada kalsium yang II-21 ditambahkan, dapat berpengaruh toksis. Pada produk-produk seperti kentang, amaranth, gooseberries, dan currants, asam oksalat dan kalsium terdapat dalam jumlah yang hampir setara (10,2), dengan demikian diantara keduanya saling menetralkan/menghapuskan, olah karena itu tidak memberikan kalsium yang tersedia bagi tubuh. Tetapi mereka tidak merngganggu penggunaan kalsium yang diberikan oleh produk lain dan oleh karena itu tidak menimbulkan pengaruh anti mineralisasi seperti pada produk kelompok pertama. Bahan makanan yang meskipun mengandung asam oksalat dalam jumlah yang cukup banyak, tapi karena pada bahan tersebut kaya akan kalsium, maka bahan makanan tersebut merupakan sumber kalsium. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah selada, dandelion, cress, kobis, bunga kol (terutama brokoli), kacang hijau, dan terutam green peas, koherabbi, block raddish, green turnip, dan dalam jumlah sedikit pada semua sayuran dan buah-buahan. Pengaruh Asam Oksalat terhadap tubuh manusia. Asam oksalat bersama-sama dengan kalsium dalam tubuh manusia membentuk senyawa yang tak larut dan tak dapat diserap tubuh, hal ini tak hanya mencegah penggunaan kalsium yang juga terdapat dalam produk-produk yang mengandung oksalat, tetapi menurunkan CDU dari kalsium yang

LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-24

Asidi Alkalimetri
diberikan oleh bahan pangan lain. Hal tersebut menekan mineralisasi kerangka dan mengurangi pertambahan berat badan. Asam oksalat dan garamnya yang larut air dapat membahayakan, karena senyawa tersebut bersifat toksis. Pada dosis 4-5 gram asam oksalat atau kalium oksalat dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa, tetapi biasanya jumlah yang menyebabkan pengaruh fatal adalah antara 10 dan 15 gram. Gejala pada pencernaan (pyrosis, abdominal kram, dan muntah-muntah) dengan cepat diikuti kegagalan peredaran darah dan pecahnya pembuluh darah inilah yang dapat menyebabkan kematian. Mengurangi konsumsi senyawa Asam Oksalat karena pengaruh distropik oleh oksalat tergantung pada ratio molar antara asam oksalat dan kalsium, hal itu dapat dicegah melalui cara, yaitu 1. Menghilangkan oksalat dengan membatasi konsumsi bahan makanan yang banyak mengandung oksalat yang larut, yaitu dengan menghindari makan dalam jumlah besar atau juga menghindari makan dalam jumlah kecil tetapi berulang-ulang. Mengkombinasikan beberapa makanan yang banyak mengandung oksalat perlu juga dihindari. 2. Dengan cara menaikkan supply kalsium yang akan dapat menetralkan pengaruh dari oksalat. 3. Memasak bahan makanan yang mengandung asam oksalat hingga mendidih dan membuang airnya sehingga dapat memperkecil proporsi asam oksalat dalam bahan makanan.

LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-25

Asidi Alkalimetri
II. 2 Jurnal Aplikasi Industri PROSES PRODUKSI TRIASETAT DARI GLISEROL DENGAN KATALIS ASAM SULFAT Gliserol adalah produk samping produksi biodiesel dari reaksi transesterifikasi. Gliserol merupakan senyawa alkohol dengan gugus hidroksil berjumlah 3 dan dikenal dengan nama 1,2,3 propanetriol. Gliserol merupakan cairan yang tidak berwarna, tidak berbau dan merupakan cairan kental yang memiliki rasa manis. Gliserol bila diesterifikasi dengan asam asetat akan membentuk triasetat. Kegunaan triasetat sangat banyak baik untuk keperluan bahan pangan maupun non pangan. Untuk bahan pangan, triasetat dapat digunakan sebagai bahan aroma pada permen (gula-gula), minuman dari susu, minuman ringan, dan permen karet. Kegunaan dalam bidang non pangan, triasetat dapat digunakan untuk pelarut pada parfum, tinta cetak, pelarut pada aroma, sebagai bahan aditif bahan bakar untuk mengurangi knocking pada mesin mobil, pelarut dan plastisizer. Penelitian ini dilakukan dengan cara esterifikasi gliserol dan asam asetat dengan menggunakan katalis asam sulfat. Rancangan percobaan menggunakan metode konvensional, dimana variabel suhu, perbandingan reaktan dan suhu divariasikan. Volume total gliserol dan asam asetat sebesar 600 ml, kecepatan pengadukan 100 rpm, katalis sebesar 5% berat gliserol, suhu reaksi 80, 90, 100, 110, 120 (oC), perbandingan mol pereaksi gliserol terhadap asam asetat 1:3; 1:4; 1:5; 1:6; 1:7 dan waktu reaksi 0, 5, 10, 15, 20, 25, 35, 45, 55, 60 (menit). Gliserol sebanyak 170 g dimasukkan ke dalam labu leher tiga dan dipanaskan sampai suhu 80 oC. Asam asetat sebanyak 136 g dipanaskan dalam beaker glass sampai suhu 80 oC. Asam asetat dicampur dengan gliserol di dalam labu leher tiga. Asam asetat ditambahkan tetes demi tetes sebanyak 4,7 mL. Proses dilanjutkan dengan pengadukan sebesar 100 rpm dan mulai dicatat sebagai waktu ke nol. Setiap 5 menit dilakukan pengambilan sampel dan dianalisis konsentrasi asam total dengan metode asidialkali metri. Proses analisis dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif gugus fungsional menggunakan alat FTIR Thermo Nicolet Avatar 360. Konsentrasi asam sisa dianalisis dengan metode titrasi asidi alkali dimana digunakan larutan NaOH 0,5 N sebagai penitran. Konversi gliserol diperoleh setelah menghitung asam asetat sisa. Asam asetat yang bereaksi dapat dihitung dari stoikhiometri reaksi asam asetat dengan gliserol. Dengan demikian gliserol yang bereaksi juga dapat dihitung dengan metode yang sama. Triasetat merupakan senyawa ester dari gugus asetat dan gugus gliseril. Untuk mengetahui keberadan senyawa ini dalam suatu produk dapat dianalisis dengan alat FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy). Senyawa triasetat mempunyai gugus fungsi CH3COOCH2CH(CH3COO)CH2(CH3COO) dan rumus bangun. Senyawa ini terdiri atas gugus ester, gugus metil serta ikatan atom karbon dengan atom karbon. Dengan analisis FTIR gugus-gugus tersebut akan menyebabkan vibrasi, regangan maupun goyangan. Hal ini dapat dideteksi oleh fotometer yang dapat menyebabkan munculnya gambar/peak pada detector. Peak yang muncul disebabkan karena adanya vibrasi yang disebabkan oleh gugus-gugus tersebut. Peakpeak selanjutnya dianalisis setiap panjang gelombang dan gugus-gugus fungsional apa saja yang berada di dalam sampel Triasetat merupakan senyawa ester, dimana akan muncul peak dari analisis FTIR pada panjang gelombang 1700 1750 cm-1. Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa hasil Spektra IR Sampel terdapat panjang gelombang 1743,65 cm-1 yang tergolong dalam grup ester. Selain gugus ester juga terdapat gugus ikatan atom karbon dengan karbon dan gugus metil. Gugus metil akan dapat diidentifikasi pada panjang gelombang 2960,56 cm-1. Adapun gugus hidroksil dimana teridentifikasi pada panjang gelombang 3538,84 cm-1dimungkinkan berasala dari gliserol sisa. Hal ini membuktikan bahwa di dalam sampel terdapat triasetat. Penelitian ini menggunakan variasi dengan suhu yang cukup tinggi, hal ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Reddy dkk., (2010) yang LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS

II-26

Asidi Alkalimetri
menghasilkan konversi >30% pada suhu 80 oC dan konversi tertinggi tercapai pada suhu 120 oC dengan katalis campuran Zirkonia. Untuk menghindari menguapnya reaktan asam asetat yang mempunyai titik didih 118 oC, maka pada penelitian ini digunakan pendingin balik, sehingga penguapan asam asetat dapat diminimalisisr meskipun suhu reaksi mencapai 120 oC. Gliserol dapat direaksikan dengan asam asetat membentuk triasetat dengan katalis asam sulfat. Peningkatan perbandingan reaktan dengan asam asetat akan meningkatkan konversi gliserol. Peningkatan suhu operasi juga akan meningkatkan konversi gliserol. Produk triasetat yang terbanyak diperoleh pada perbandingan mol pereaksi gliserol dan asam asetat 1:7, suhu 120 oC dan waktu 50 menit, dengan katalis asam sulfat 5% (berat gliserol). Konversi gliserol yang diperoleh selama 1 jam sebesar 67,6323% dengan selektivitas sebesar 25%. Hasil penelitian dapat dikembangkan dalam mengatasi produk samping industri biodiesel sehingga dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat.

LABORATORIUM KIMIA ANALIT Program Studi DIII Teknik Kimia FTI - ITS