Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN

Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga, sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya. Sedangkan seorang ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang, apapun dikorbankan demi anak buah hatinya. Oleh karena itu seorang anak harus mendapatkan perlindungan baik masih dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. Tetapi sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi yang baru lahir dalam keadaan meninggal karena dibunuh oleh ibunya, seringkali dijumpai di media massa. Kasus pembunuhan terhadap bayi yang baru lahir telah dikenal sejak dahulu dan terjadi dimana saja. Firaun di zamannya telah memerintahkan membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir, karena takut munculnya seorang raja baru. Pada zaman dahulu juga terjadi di tanah arab dimana lazimnya terjadi setiap bayi perempuan yang dianggap membawa sial bagi keluarganya juga dibunuh. Masih banyak lagi alasan lain yang mendorong seseorang sampai hati merampas nyawa seorang bayi yang baru dilahirkan. Pembunuhan anak adalah suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa dimana kejahatan ini bersifat unik. Keunikan tersebut dikarenakan pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya sendiri dan alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan tersebut adalah karena ibu kandungnya takut ketahuan bahwa dia telah melahirkan anak, salah satunya karena anak tersebut adalah hasil hubungan gelap. Selain itu, keunikan lainnya yaitu saat dilakukan tindakan menghilangkan nyawa anaknya yaitu saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. Patokannya yaitu dapat dilihat apakah sudah ada atau belum tanda-tanda perawatan, dibersihkan, dipotong tali pusat atau diberikan pakaian. Cara yang paling sering digunakan dalam kasus pembunuhan anak sendiri adalah membuat keadaan asfiksia mekanik yaitu pembekapan, pencekikan, penjeratan dan penyumbatan. Di Jakarta dilaporkan bahwa 90-95% dari sekitar

30-40 kasus PAS per tahun dilakukan dengan cara asfiksia mekanik. Bentuk kekerasan lainnya adalah kekerasan tumpul di kepala (5-10%) dan kekerasan tajam pada leher atau dada (1 kasus dalam 6-7 tahun). Saat dilakukannya kejahatan tersebut, dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari ibu seperti rasa malu, takut, benci serta rasa nyeri bercampur aduk menjadi satu. sehingga perbuatannya dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang, sadar serta dengan perhitungan yang matang.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi dan Batasan Pengertian Pembunuhan Anak Sendiri


Pembunuhan anak sendiri (infanticide) yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anak kandungnya pada saat lahir atau tidak lama kemudian karena takut ketahuan telah melahirkan anak. Dengan demikian berdasarkan pengertian di atas, persyaratan yang harus dipenuhi dalam kasus pembunuhan anak (infanticide) yaitu: 1. Pelaku adalah ibu kandung 2. Korban adalah anak kandung 3. Alasan melakukan tindakan tersebut yaitu takut ketahuan telah melahirkan anak 4. Waktu pembunuhan yaitu tepat pada waktu melahirkan atau beberapa saat setelah melahirkan. Untuk itu dengan adanya batasan yang tegas tersebut maka suatu pembunuhan yang tidak memenuhi salah satu kriteria di atas tidak dapat disebut sebagai pembunuhan anak (infanticide), melainkan suatu pembunuhan biasa.

2.2. Dasar Hukum Menyangkut Pembunuhan Anak Sendiri


Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa orang. Adapun bunyi pasalnya yaitu: Pasal 341. Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
3

Pasal 342. Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Pasal 343. Bagi orang lain yang turut serta melakukan kejahatan yang diterangkan dalam pasal 342 KUHP diartikan sebagai pembunuhan atau pembunuhan berencana. Berdasarkan undang-undang tersebut kita dapat melihat adanya tiga faktor penting yaitu: a. Ibu yaitu hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan anak sendiri. Tidak dipersoalkan apakah ibu telah menikah atau tidak, sedangkan bagi orang lain yang melakukan atau turut membunuh anak tersebut dihukum karena pembunuhan atau pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih berat yaitu 15 tahun penjara (pasal 338 pembunuhan tanpa rencana), atau 20 tahun, seumur hidup/hukuman mati ( pasal 339 dan 340, pembunuhan dengan rencana). b. Waktu yaitu dalam undang-undang tidak disebutkan batasan waktu yang tepat, tetapi hanya dinyatakan pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian . Sehingga boleh dianggap pada saat belum timbul rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Bila rasa kasih sayang sudah timbul maka ibu tersebut akan merawat dan bukan membunuh anaknya. c. Psikis yaitu ibu membunuh anaknya karena terdorong oleh rasa ketakutan akan diketahui orang lain telah melahirkan anak itu, biasanya anak yang dilahirkan tersebut didapatkan dari hubungan tidak sah. Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya tempat sampah, got, sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin adalah korban pembunuhan anak sendiri (pasal 341, 342) pembunuhan (pasal 338, 339, 340, 343), lahir mati kemudian dibuang (pasal 181) atau bayi yang ditelantarkan sampai mati (pasal 308).

2.3. Pemeriksaan Kedokteran Forensik


Pemeriksaan kedokteran forensik pada kasus pembunuhan anak atau yang diduga kasus pembunuhan anak ditujukan untuk memperoleh kejelasan di dalam hal sebagai berikut: a. Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati? b. Apakah terdapat tanda-tanda perawatan? c. Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian? Oleh karena Visum et Repertum itu juga mengandung makna sebagai pengganti barang bukti, maka segala apa yang terdapat dalam barang bukti dalam hal ini yaitu tubuh anak, harus dicatat dan dilaporkan. Dengan demikian selain ketiga kejelasan tersebut di atas, masih ada dua hal lagi yang harus diutarakan dalam VR yaitu: a. Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan? b. Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak? Sehingga lebih jelas bahwa permasalahan tentang maturitas seperti cukup bulan atau prematur merupakan hal yang penting, sama halnya dengan kemampuan anak untuk hidup dengan wajar (viabilitas) tanpa kelainan bawaan yang diderita oleh anak. Sebelum melangkah lebih jauh, perlu ditinjau lebih dahulu pengertian lahir hidup dan lahir mati. Perlu diketahui bahwa seorang dokter tidak dibenarkan membuat kesimpulan lahir hidup atau lahir mati dari hasil pemeriksaan terhadap korban kasus yang diduga akibat pembunuhan anak. A. Lahir hidup atau lahir mati Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap, yang setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan uri dilahirkan.

Lahir mati (still birth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan oleh ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun setelah kehamilan berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin yang tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain seperti denyut jantung, denyut nadi tali pusat atau gerakan otot rangka. Adapun tanda-tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan yaitu :

oParu mengembang oUdara dalam lambung atau usus

us

1.Pernapasan Pernapasan spontan terjadi akibat rangsangan atmosfer dan adanya gangguan sirkulasi plasenta, dan ini menimbulkan perubahan penting yang permanen pada paru. a. Uji Apung Paru Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique), paru-paru tidak disentuh untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada sediaan histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan. Lidah dikeluarkan seperti biasa di bawah rahang bawah, ujung lidah dijepit dengan pinset atau klem, kemudian ditarik ke arah ventrokaudal sehingga tampak palatum mole. Dengan scalpel yang tajam, palatum mole disayat sepanjang perbatasannya dengan palatum durum. Faring, laring, esophagus bersama dengan trakea dilepaskan dari tulang belakang. Esofagus bersama dengan trakea diikat di bawah kartilago krikoid dengan benang. Pengikatan ini dimaksudkan agar pada manipulasi berikutnya cairan ketuban, mekonium atau benda asing lain

tidak mengalir ke luar melalui trakea; bukan untuk mencegah masuknya udara ke dalam paru. Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau pinset bedah dan scalpel, tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian esophagus diikat di atas diafragma dan dipotong di atas ikatan. Pengikatan ini dimaksudkan agar udara tidak masuk ke dalam lambung dan uji apung lambung-usus (uji Breslau) tidak memberikan hasil meragukan. Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukkan ke dalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan dan dimasukkan kembali ke dalam air, dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Setelah itu tiap lobus dipisahkan dan dimasukkan ke dalam air, dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Lima potong kecil dari bagian perifer tiap lobus dimasukkan ke dalam air, diperhatikan apakah mengapung atau tenggelam. Hingga tahap ini, paru bayi yang lahir mati masih dapat mengapung oleh karena kemungkinan adanya pembusukan. Bila potongan kecil itu mengapung, letakkan di antara dua karton dan ditekan dengan arah penekanan tegak lurus jangan digeser untuk mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan interstisial paru, lalu masukkan kembali ke dalam air dan diamati apakah masih mengapung atau tenggelam. Bila masih mengapung berarti paru terisi udara residu yang tidak akan keluar. Namun, terkadang dengan penekanan, dinding alveoli pada mayat bayi yang telah membusuk lanjut akan pecah dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil uji apung paru negatif. Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru mengingat kemungkinan adanya pernapasan sebagian (parsial respiration) yang dapat bersifat buatan atau alamiah (vagitus uternus atau vagitus vaginalis) yaitu bayi sudah bernapas walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam vagina). Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam alveoli

diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini, pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir mati atau lahir hidup. Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat dipercaya, sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.

b. Mikroskopik paru-paru Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi dengan larutan formalin 10 %. Sesudah 12 jam, dibuat irisan melintang untuk memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah difiksasi selama 48 jam, kemudian dibuat sediaan histopatologik. Biasanya digunakan perwarnaan HE dan bila paru telah membusuk digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig. Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum bernapas, tetapi merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk paru janin belum bernapas adalah adanya tonjolan (projection) yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga akan tampak seperti gada (club like). Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada paru bayi belum bernapas yang sudah membusuk dengan perwarnaan Gomori atau Ladewig, tampak serabutserabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang keriting, sedangkan pada projection berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops). Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi cairan amnion yang luas karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya tali pusat atau solusio plasenta sehingga terjadi pernapasan janin prematur (intrauterine submersion). Tampak sel sel verniks akibat deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik berbentuk huruf S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti bawang. Juga tampak sel-sel amnion bersifat

asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti terletak eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas. Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin terlihat dalam bronkioli dan alveoli. kadangkadang ditemukan deskuamasi sel-sel epitel bronkus yang merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding alveoli. Lahir mati ditandai pula oleh keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya kehidupaan seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat, dengan atau tanpa robekan tentorium serebeli, pneumonia intrauterin, kelainan kongenitasl yang fatal seperti anensefalus.

Adapun ringkasan perbedaan dari pemeriksaan paru yaitu:

Paru belum bernapas

Paru sudah bernapas

1.

Volume kecil, kolaps, menempel pada Volume 4-6x lebih besar, vertebra, konsistensi padat, tidak ada sebagian menutupi krepitasi jantung, konsistensi seperti karet busa (ada krepitasi)

2.

Tepi paru tajam

Tepi paru tumpul

3. 4.

Warna homogen, merah kebiruan/ungu Kalau diperas di bawah permukaan

Warna merah muda Gelembung halus gas dan yang rata

air tidak keluar gelembung gas atau keluar bila sudah ada

pembusukan ukurannya.

gelembungnya besar dan tidak rata.

5.

Tidak tampak alveoli yang berkembang Tampak alveoli, kadangpada permukaan kadang terpisah sendiri

6.

Kalau diperas hanya keluar darah

Bila

diperas darah

keluar berbuih ada

sedikit dan tidak berbuih (kecuali bila banyak sudah ada pembusukan) walaupun

belum

pembusukan

(volume

darah dua kali volume sebelum napas. 7. Berat paru kurang lebih 1/70 BB Berat paru kurang lebih 1/35 BB 8. Seluruh bagian paru tenggelam dalam Bagian-bagian paru yang air mengembang dalam air. terapung

2.

Menangis Bernapas dapat terjadi tanpa menangis, tetapi menangis tidak dapat terjadi

tanpa bernapas. Suara tangis yang terdengar belum berarti bayi tersebut lahir hidup karena suara tangisan dapat terjadi dalam uterus atau dalam vagina. Yang merangsang bayi menangis dalam uterus adalah masuknya udara dalam uterus dan kadar oksigen dalam darah menurun dan atau kadar CO2 dalam darah meningkat 3. Pergerakan Otot Keadaan ini harus disaksikan oleh saksi mata, karena post mortem tidak dapat dibuktikan. Kaku mayat dapat terjadi pada bayi yang lahir hidup kemudian mati maupun yang lahir mati.

4.

Peredaran Darah, Denyut Jantung, dan Perubahan pada Hemoglobin Meliputi bukti fungsional yaitu denyut tali pusat dan detak jantung (harus

ada saksi mata) dan bukti anatomis yaitu perubahan-perubahan pada Hb serta perubahan dalam duktus arteriosus, foramen ovale dan dalam duktus venosus (cabang vena umbilicalis yang langsung masuk vena cava inferior). Bila ada yang

10

menyaksikan denyut nadi tali pusat/detak jantung pada bayi yang sudah terlahir lengkap, maka ini merupakan bukti suatu kelahiran hidup. Foramen ovale tertutup bila telah terjadi pernapasan dan sirkulasi (satu hari sampai beberapa minggu). Duktus arteriosus perlahan-lahan menjadi jaringan ikat (paling cepat dalam 24 jam) Duktus venosus menutup dalam 2-3 hari sampai beberapa minggu.

5.

Isi Usus dan Lambung Bila dalam lambung bayi ditemukan benda asing yang hanya dapat masuk

akibat reflek menelan, maka ini merupakan bukti kehidupan (lahir hidup). Udara dalam lambung dan usus dapat terjadi akibat pernapasan wajar, pernapasan buatan, atau tertelan. Keadaan-keadaan tersebut tidak dapat dibedakan. Cara pemeriksaan yaitu esophagus diikat, dikeluarkan bersama lambung yang diikat pada jejunum lekuk pertama, kemudian dimasukkan ke dalam air. makin jauh udara usus masuk dalam usus, makin kuat dugaan adanya pernapasan 24-48 jam post mortem, mekonium sudah keluar semua seluruhnya dari usus besar.

6.

Keadaan Tali Pusat Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya

denyut tali pusat setelah kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata. Kedua, pengeringan tali pusat, letak dan sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu di putus (secara tajam atau tumpul).

7.

Keadaan Kulit Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan

setelah bayi lahir, sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi tersebut tidak lahir hidup yaitu maceration, yang dapat terjadi bila bayi sudah mati in utero beberapa hari (8-10 hari). Hal ini harus dibedakan dengan proses pembusukan yaitu pada maserasi tidak terbentuk gas karena terjadi secara steril. Kematian pada bayi dapat terjadi waktu dilahirkan, sebelum dilahirkan atau setelah terpisah sama sekali dari ibu. Bukti kematian dalam kandungan:

11

Ante partum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan Meceration, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri: Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau) Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak Tidak ada gas, baunya khas Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan

B.

Tanda Perawatan Penentuan ada tidaknya tanda perawatan sangat penting artinya dalam

kasus pembunuhan anak, oleh karena dapat diduga apakah kasus yang dihadapi memang benar kasus pembunuhan anak seperti dimaksud dalam undang-undang, atau menjadi kasus lain yang ancaman hukumannya berbeda. Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat diketahui dari tanda-tanda sebagai berikut: tubuh masih berlumuran darah ari-ari (plasenta) masih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan dengan pusat (umbilicus) bila ari-ari tidak ada, maka ujung talli pusat tampak tidak beraturan, hal ini dapat diketahui dengan meletakkan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian belakang bokong

C.

Luka-luka yang dapat Dikaitkan dengan Penyebab Kematian Cara atau metoda yang banyak dijumpai untuk melakukan tindakan

pembunuhan anak adalah cara atau metoda yang menimbulkan keadaan mati

12

lemas

(asfiksia)

seperti

penjeratan, pencekikan dan pembekapan

serta

membenamkan ke dalam air. Adapun cara yang lain seperti menusuk atau memotong serta kekerasan dengan benda tumpul relatif jarang ditemukan Dalam kasus ini yang harus diperhatikan yaitu: Adanya tanda-tanda mati lemas seperti sianosis pada bibir dan ujung-ujung jari, bintik-bintik perdarahan pada selaput biji mata dan selaput kelopak mata serta jaringan longgar lainnya, lebam mayat yang lebih gelap dan luas, busa halus berwarna putih atau putih kemerahan yang keluar dari lubang hidung dan atau mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat dalam. keadaan mulut dan sekitarnya yaitu adanya luka lecet tekan di bibir dan sekitarnya, biasanya berbentuk bulan sabit, memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gusi serta adanya gumpalan benda asing seperti koran atau kain yang mengisi rongga mulut. keadaan di daerah leher dan sekitarnya yaitu adanya luka lecet tekan yang melingkari sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat sebagai akibat tekanan yang ditimbulkan oleh alat penjerat yang digunakan, adanya luka-luka lecet kecil berbentuk bulan sabit yang diakibatkan dari ujung kuku dan adanya luka-lua lecet dan memar yang tidak beraturan akibat tekanan ujung jari. adanya luka tusuk atau luka sayat pada daerah leher, mulut atau bagian tubuh lainnya. adanya istilah tusukan bidadari yaitu menusukkan benda tajam pada langit-langit rongga mulut sampai menembus rongga tengkorak. adanya tanda terendam seperti tubuh yang basah dan berlumpur, telapak tangandan telapak kaki yang pucat dan keriput (washer woman hand), kulit yang berbintil-bintil (cutis anserina sepert kulit angsa, serta adanya benda asing di saluran pernapasan terutama trakea)

13

D.

Cukup Bulan dalam Kandungan pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, tinggi badan, berat badan ujung-ujung jari keadaan genitalia eksterna pusat-pusat penulangan khususnya pada tulang paha (os femur) mempunyai arti yang cukup penting. Bagian distal os femur serta proksimal os tibia akan menunjukkan pusat penulangan pada umur kehamilan 36 minggu, demikian juga pada os cuboideum dan os cuneiform, sedangkan os talus dan calcaneus pusat penulangan akan tampak pada umur kehamilan 28 minggu.

E.

Viabilitas Dapat dilihat apakah terdapat kelainan bawaan yang dapat

mempengaruhi kelangsungan hidup bayi seperti jantung (ASD, VSD), otak (anensefalus atau mikrosefalus) dan saluran pencernaan (stenosis esophagus).

2.4. Pemeriksaan Kasus Pembunuhan Anak Sendiri (Infanticide)


Pemeriksaan dilakukan terhadap pelaku/tertuduh (ibu kandung yang baru melahirkan) dan korban (bayi yang baru dilahirkan). A. Pemeriksaan terhadap Ibu 1. Tanda telah melahirkan anak Robekan baru pada alat kelamin ostium uteri dapat dilewati ujung jari keluar darah dari rahim ukuran rahim saat post partum setinggi pusat, 6-7 hari post partum setinggi tulang kemaluan payudara mengeluarkan air susu hiperpigmentasi aerola mamma

14

striae gravidarum dari warna merah menjadi putih

2. Berapa lama telah melahirkan ukuran rahim kembali ke ukuran semula 2-3 minggu getah nifas : 1-3 hari post partum berwarna merah 4-9 hari post partum berwarna putih 10-14 hari post partum getah nifas habis robekan alat kelamin sembuh dalam 8-10 hari

3. Mencari tanda-tanda partus precipitatus robekan pada alat kelamin inversio uteri (rahim terbalik) yaitu bagian dalam rahim menjadi keluar, lebih-lebih bila tali pusat pendek Robekan tali pusat anak yang biasanya terdapat pada anak atau pada tempat lekat tali pusat. Robekan ini harus tumpul dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis luka pada kepala bayi menyebabkan perdarahan di bawah kulit kepala, perdarahan di dalam tengkorak

4. Pemeriksaan golongan darah 5. Pemeriksaan histopatologi yaitu sisa plasenta dalam darah yang berasa dari rahim

B. Pemeriksaan terhadap Korban 1. Viabilitas Syaratnya yaitu: Umur 28 minggu dalam kandungan Panjang badan 35 cm Berat badan 2500 gram Tidak ada cacat bawaan yang berat

15

Lingkaran frontoocipital 32 cm

2. Penentuan umur bayi berdasarkan panjang badan (rumus Haase) berdasarkan ciri-ciri pertumbuhan berdasarkan inti penulangan : Calcaneus = 5-6 bulan Talus = 7 bulan Femur = 8-9 bulan Tibia = 9-10 bulan

3. Pernah atau tidak pernah bernapas. Hal ini dibuktikan dengan percobaan apung paru. Hasil percobaan apung paru yang menyimpulkan belum pernah bernapas, belum dapat menyingkirkan kemungkinan tindakan pembunuhan anak, karena ada keadaan dimana bayi lahir hidup tetapi belum/tidak sempat bernapas dan dibunuh ibunya pada saat itu (bernapas hanya salah satu bukti/tanda kehidupan 4. Berapa lama bayi hidup Lamanya bayi hidup (bila hidup lebih dari 24 jam) dapat dilihat pada: perubahan tali pusat, perubahan pada pembuluh darah. Kalau bayi hidup kurang dari 24 jam, hal ini tidak dapat ditentukan dengan pasti. Penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale tidak dapat dipakai sebagai pegangan, karena waktu penutupannya bervariasi (tidak tepat). 5. Sebab kematian a. Kelalaian Pada peristiwa kelahiran sering dijumpai kelalaian, baik itu disengaja atau tidak disengaja. Inhalasi cairan ketuban/darah atau terbenam di dalam WC mati akibat asfiksia Terjerat tali pusat, mati akibat asfiksia. Jeratan tali pusat yang dilakukan setelah bayi mati dapat dibedakan dengan jeratan tali pusat intrauterine

16

yaitu bayi yang mati intrauterine menunjukkan paru yang belum pernah bernapas Perdarahan dari tali pusat, karena setelah bayi lahir, tali pusat tidak diikat dengan baik. Suffocation, misalnya terjadi kelahiran dibawah selimut Lalai membuat hangat (tidak dapat dibuktikan post mortem) atau tidak memberi ASI. Sehingga kematian bayi secara pasif starvasi) b. Kekerasan Kekerasan dalam uterus Dinding perut tertumbuk sesuatu (jatuh/ditendang) Pemasukkan alat ke vagin (kedinginan dan

Kekerasan selama proses kelahiran Kemungkinan terjadi trauma kelahiran yang wajar harus dipikirkan sebelum menduga adanya tindak kekerasan Retak tulang tengkorak karena trauma kelahiran (biasanya pada os temporal) pada umumnya hanya sedikit dan tidak disertai luka lecet kekerasan pada kepala yang disengaja menimbulkan retak yang besar, ada luka lecet, mungkin ditemukan kontusio/laserasi cerebri Kekerasan yang terjadi setelah kelahiran lengkap Kekerasan benda tumpul Suffocation dan gagging Jeratan atau cekikan Luka iris atau luka tusuk Tenggelam

6. Periksa golongan darah 7. Tanda-tanda perawatan

17

BAB 3 KESIMPULAN

1.

Pembunuhan anak sendiri (infanticide) yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anak kandungnya pada saat lahir atau tidak lama kemudian karena takut ketahuan telah melahirkan anak.

2.

Dasar Hukum Menyangkut Pembunuhan Anak Sendiri tertera dalam KUHP pasal 341, 342,343.

3. Pemeriksaan kedokteran forensik pada kasus pembunuhan anak atau yang diduga kasus pembunuhan anak ditujukan untuk memperoleh kejelasan di dalam hal sebagai berikut: Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati? Apakah terdapat tanda-tanda perawatan? Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian? Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan? Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak

18

DAFTAR PUSTAKA

Affandi et al. 2008. Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) Dengan Kekerasan Multipel. Majalah Kedokteran Indonesia, September 2008, Vol 58 Nomor 9. Apuranto, H. dan Hoediyanto. 2007. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Budiyanto et al. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hadijah, Siti. 2008. Penegakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Pembunuhan Bayi Di Wilayah DIY. Available from:

http://eprints.undip.ac.id (accessed: 2013,25 Oktober) Hoediyanto. Pembunuhan Anak (Infanticide). Available from:

http://www.fk.uwks.ac.id (accesed: 2013, 25 Oktober) Idries, A.M. 1997. Pedoman Ilmu kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara.

19