Anda di halaman 1dari 47

BAB II RANGKAIAN DIODE DAN PENYEARAH

2-1

Pendahuluan Diode adalah merupakan saklar elektronik yang lidak dapat dikendalikan (tidak terdapat sinyal kendali untuk menyalakan ataupun memadamkan). Komponen tersebut dapat bereaksi tergantung pada tegangan dan arus dari rangkaian yang menghubungkannya. Diode semikonduktor banyak

ditemukan dalam berbagai aplikasi bidang rekayasa elektronika dan elektrik, disamping itu diode secara luas juga dipakai dalam rangkaian elektronika daya untuk mengkonversi daya elektrik. Dalam bab ini beberapa rangkaian diode yang sering digunakan dalam rangkaian elektronika daya untuk pemrosesan daya (power processing). Deperkenalkan juga aplikasi diode untuk konversi ac ke dc (ac to dc convertion) atau yang dikenal dengan nama penyearah (rectifiers), yaitu penyearah yang dapat meghasilkan tegangan keluaran dc yang tetap. Dalam mempermudah analisisnya, diode selalu dianggap ideal yang berarti waktu reverse recovery (trr) dan drop tegangan maju (VD) diabaikan atau trr = 0 dan VD = 0.

2.1

Diode Dengan Beban RC dan RL Gambar 2.1a menunjukkan sebuah rangkaian diode dengan beban RC. Ketika sakalar S1 ditutup pada t = 0, muatan arus i yang mengalir melalui kapasitor dapat ditentukan oleh

(2-1) UR = Ri Dengan kondisi awal VC (t = 0) = 0, solusi persamaan (2.1) (yang diturunkan pada lampiran D. 1) menghasilkan arus muatan i adalah (2-3) (2-2)

Tegangan kapasitor Vc adalah (2-4)

dimana = RC adalah konstanta waktu beban RC. Kecepatan perubahan tegangan kapasitor adalah (2-5)

Gambar 2.1 Rangkaian Diode dengan beban RC

laju awal perubahan tegangan (pada t = 0) diperoleh dari persamaan (2.5) (2-6) Sebuah rangkaian diode dengan beban RL ditunjukkan pada gambar 2.2a. Ketika saklar Si ditutup pada t = 0, arus i yang mengalir melalui induktor meningkat dan dapat dijelaskan melaui persamaan berikut (2-7) Dengan kondisi awal i (t = 0), solusi persamaan (2-7) (seperti diturunkan pada Lampiran D.2) menghasilkan (2-8) Laju perubahan arus ini dapat diperoleh melalui persamaan (2-8) sebagai berikut (2-9) dan laju awal dari kenaikan arus (pada t = 0) diperoleh melalui persamaan (2-9) (2-10)

Gambar 2-2 Rangkaian Diode dengan beban RL Tegangan vt yang melalui induktor adalah (2-11) dimana L/R = adalah konstanta waktu beban RL. Bentuk gelombang tegangan vt dan arus ditunjukkan pada gambar 2-2b. Bila t >> L/R, tegangan pada induktor menuju nol dan arus mencapai nilai keadaan tunak (steady-state) Is = Vs/R. Jika saklar S1 dibuka, energi yang tersimpan dalam induktor (=0,5Li2) akan ditransformasikan menjadi sebuah tegangan balik yang tinggi melalui saklar dan diode. Energi tersebut akan didisipasikan dalam bentuk percikan api melaui saklar, dan diode D1 akan rusak selama proses tersebut. Untuk mengatasi kondisi yang demikian pada beban dipasangkan paralel sebuah diode yang dikenal sebagai freewhelling diode seperti pada gambar 2-10a. Catalan : Bila arus i pada gambar 2-1 a dan 2-2a menuju satu arah dan tidak mengalami perubahan polaritas, diode tidak mempunyai pengaruh pada operasi rangkaian.

Contoh 2-1 Sebuah rangkaian diode seperti ditunjukkan pada gambar 2-3a dengan R = 44 dan C = 0,1F. Kapasitor memiiiki tegangan awal, V0 = 220 V. Jika saklar S1 ditutup pada t = 0, hitunglah (a) arus puncak diode, (b) energi yang didisipasikan pada resistor R, dan (c) tegangan kapasitor pada t = 2s. Solusi: Bentuk gelombang ditunjukkan pada gambar 2-3b.

(a) Persamaan (2-3) dapat digunakan dengan Vs = V0 dan arus puncak diode Ip adalah

(b) Energi W yang didisipasikan adalah W = 0,5CK02 = 0.5 x 0,1 x 10-6 x 2202 = 0,00242 J = 2,42 mJ (c) Untuk RC = 44 x 0,1 = 4,4s dan t = t1= 2s , tegangan kapasitor vc (t = 2ps)=Voe-1/RC = 220 x e-2/4,4 = 139,64 V Catalan : Bila arus mempunyai satu arah, diode tidak mempengaruhi operasi rangkaian

Gambar 2-3 Rangkaian diode dengan beban RC Gambar 2-3 Rangkaian diode dengan beban RC

2-3

Diode dengan beban LC dan RLC Sebuah rangkaian diode dengan beban LC ditunjukkan pada gambar 2-4a. Ketika saklar S1 ditutup pada t = 0, arus muatan kapasitor i dapat ditunjukkan pada persamaan (2-12)

Dengan kondisi awal i (t = 0) = 0 dan Vc = (t = 0) = 0, persamaan (2-12) dapat diselesaikan untuk arus kapasitor 1 (dalam lampiran D.3) (2-13) (2-14)

Dimana = 1 /

dan arus puncak lp adalah (2-15)

Laju peningkatan arus diperoleh dari persamaan (2-13) sebagai berikut (2-16) dan persamaan (2-16) laju peningkatan arus awal (pada t = 0) sebagai berikut (2-17) tegangan yang melalui kapasitor dapat diturunkan sebagai berikut (2-18)

Pada saat t = t1 =

, arus diode i turun menjadi nol dan kapasitor terisi

menjadi 2VS. Bentuk gelombang tegangan vL dan arus I ditunjukkan pada gambar 2-4b.

Gambar 2-4 Rangkaian diode dengan beban LC

Contoh 2-2 Sebuah rangkaian diode dengan beban LC seperti ditunjukkan pada gambar 2- 5a dengan tegangan awal kapasitor V0 = 220 V, kapasitansi C = 20F. Dan induktansi L = 80H . Jika saklar S1 ditutup pada t = 0, hitunglah (a) arus puncak yang melaui diode, (b) waktu konduksi dari diode, dan (c) tegangan kapasitor pada kondisi stedy slate. Solusi: (a) Dengan menggunakan hukum Kirchhoff tegangan, kita dapat menuliskan persamaan arus i adalah

dan arus i dengan kondisi awalnya i (t=0) = 0 dan vc (t=0) = -V0 diselesaikan menjadi

dimana = 1 / puncak Ip adalah

= 106 /

= 25.000 rad / s Arus

Gambar 2-5 Rangkaian diode dengan beban LC

(b) Pada t = t1, =

, arus diode menjadi nol dan waktu

konduksi ti diode adalah

(c) Tegangan kapasitor dapat ditunjukkan dengan mudah menjadi

Untuk t = t1 = 125,66 s, Vc (t =7,) = -220 ccs t = 220 V

Sebuah rangkaian diode dengan beban RLC ditunjukkan pada gambar 2-6. Ketika S1 ditutup pada t = 0, kila dapat menggunakan KVL untuk menuliskan persamaan arus beban i sebagai berikut (2-19)

dengan kondisi awal i (t=0) dan Vc (t=0)=V0. Dengan menurunkan persamaan (2-19) dan membagi kedua sisi dengan L akan menghasilkan (2-20) Pada keadaan tunak, kapasitor terisi oleh tegangan sumber Vs dan arus dalam keadaan tunak adalah nol. Arus komponen paksa pada persamaan (2-20) nol pula. Arus yang ada disebabkan komponen natural.

Gambar 2-6 Rangkaian diode dengan beban RLC

Persamaan karakteristik dalam domain Laplace dari s adalah (2-21) dan kuadrat dari persamaan (2-21) diberikan oleh

(2-22)

Mari kita definisikan persamaan rangkaian orde dua (2-23)

(2-24)

Dengan mensubstitusikan persamaan tersebut kedalam persamaan (2-22) menghasilkan (2-25)

Solusi untuk arus, yang tergantung pada nilai dan 0, akan mengikuti salah satu dari ketiga kemungkinan kasus dibawah ini. Kasus 1. Jika a = = 0, maka akar-akarnya sama S1=S2, dan rangkaian tersebut disebut critically damped Penyelesaiannya akan berbentuk (2-26) Kasus 2. Jika a > 0, maka akar-akarnya riil dan rangkaian tersebut disebut over- damped Penyelesaiannya akan berbentuk (2-27) Kasus 3. Jika a < 0, akar-akarnya kompleks dan rangkaian tersebut disebut under damped. Akar-akarnya adalah (2-28) dengan r disebut ringing frequency (frekuensi resonansi teredam) dan Solusi akan berbentuk (2-29) Yaitu sinyal sinusoidal yang teredam dan terpotong. Catatan: konstanta A1 dan A2 dapat ditentukan dari kondisi awal rangkaian. Perbandingan , biasanya disebut damping rasio,. Rangkaian

elektronika daya biasanya underdamped sehingga arus rangkaian mendekati sinusiodal yang menyebabkan keluaran ac sinussoidal dan/atau dapat memadamkan komponen semikonduktor daya.

Contoh 2-3 Sebuah rangkaian orde dua RLC seperti pada gambar 2-6 meniiliki sumber tegangan Vs = 220 V, induktansi L = 2 mH, kapasitansi C = 0,05 F, dan

resistansi R = 160 . Nilai awal tegangan kapasitor V0 = 0, Jika saklar S1 ditutup pada t = 0, tentukan (a) persamaan arus i (t), (b) waktu konduksi diode, (c) gambarkan sketsa arus i (t), (d) gunakan Pspice untuk memplot arus I untuk R = 50 , 160 , dan 320 . Solusi: (a) dari persamaan (2-23), = R/2L = 160X 103 (2X2) = 40.000 radd/s, dan dari persamaan (2-24), 0 = 1 /
= 105 rad/s

Karena < 0, hal ini merupaan rangkaian underdamped dan penyelesaiannya dalam bentuk I (t) = et (A1 cos rt + A2 sin rt) Pada t = 0, i (t = 0) = 0 dan ini memberikan A1 = 0. Penyelesaiannya menjadi

Penurunan i (t) menjadi

Bila saklar ditutup pada t=0, kapasitor memberikan impedansi yang rendah dan induktor memberikan impedansi yang tinggi. Laju awal kenaikan arus dibatasi hanya oleh induktor L. maka pada t=0, di/dt rangkaian adalah Vs/L. Maka

yang memberikan konstanta sebagai berikut i (t) = 1,2 sin (91.652t) e-40.000i A (b) Waktu konduksi ti diode diperoleh pada saat t=0, yaitu

(c) Sketsa bentuk gelombang arus ditunjukkan pada gambar 2-7.

(d) Rangkaian untuk simulasi Pspice [3] ditunjukkan pada gambar 2-8. Daftar file rangkaian sebagai berikut:

2-4 Diode Freewheeling

Jika saklar S1 pada gambar 2-2a ditutup pada saat t1, arus mengalir pada beban, dan bila saklar dibuka, diperlukan lintasan untuk arus pada beban induktif. Hal ini biasanya dilakukan dengan memasangkan diode Dm seperti ditunjukkan pada gambar 2-1 0a, dan diode ini biasanya disebut diode freewheeling. Operasi rangkaian dapat dibagi menjadi dua mode. Mode 1 dimulai ketika saklar ditutup pada t = 0, dan mode 2 dimulai ketika saklar dibuka. Rangkaian ekivalen untuk mode-mode tersebut ditunjukkan pada gambar 2-10b. i1 dan i2 didefinisikan berturut-turut sebagai arus sesaat untuk mode 1 dan mode 2, t1 dan t2 adalah waktu yang bersesuaian dengan mode-mode tersebut. Mode 1. Selama mode ini, arus diode ij yang serupa dengan persamaan (2-8) adalah I1 (t) = (1 e-tRL) (2-30)

Ketika saklar dibuka pada t = t1 (akhir dari mode ini), arus pada saat tersebut menjadi I1 (t) = i1 (t = t1) = (1 e-tRL) (2-31)

Bila waktu t1 cukup lama, arus mencapai pada keadaan tunak dan arus keadaan tunak dari ls= Vs/R mengalir melalui beban. Mode 2. Mode ini dimulai ketika saklar dibuka dan arus beban mengalir melalui diode freewhweeling Dm. Dengan mendifinisikan ulang waktu mulai awal pada permulaan mode, arus yang mengalir melalui diode freewhweeling

dengan kondisi awal i2 (t = 0) = I1. Solusi persamaan (2-32) memberikan arus freewhweeling if = i2 sebagai berikut

dan arus ini menurun secara eksponensial menuju nol pada t = t2 menytakan bahwa t2 >> L/R. Bentuk gelombang arus ditunjukkan pada gambar 2-10c.

Contoh 2-4 Pada gambar 2-10a, resitansi diabaikan (R = 0), sumber tegangan adalah Vs=220 V, dan induktansi beban L=220H. (a) Gambarlah bentuk gelombang arus beban dengan saklar ditutup selama waktu = 100s dan kemudian dibuka. (b) Tentukan energi yang tersimpan dalam beban induktor. Solusi : (a) Diagram rangkaian ditunjukkan pada gambar 3-11a dengan arus awal nol. Bila saklar ditutup pada t=0, arus beban meningkat secara linier dan dituliskan sebagai berikut

Dan pada t = t1,

(b) Bila saklar S1 dibuka pada saat t = t1, arus beban mulai mengalir melalui Dm. Bila tidak ada elemen disipasi (resistansi) pada rangkaian, arus beban akan tetap konstan pada I0=100 A dan energi yang tersimpang

pada induktor adalah 0,5 Li2=l,l J. Bentuk gelombang arus ditunjukkan pada gambar 2-11b.

2-5

Pengembalian Energi Bertingkat dengan Diode Rangkaian ideal tanpa rugi-rugi pada gambar 2-11a, energi yang tersimpan dalam induktor terperangkap karena tidak ada resistansi dalam rangkaian. Dalam prakteknya sebuah rangkaian diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dengan cara mengembalikan energi yang tersimpang ke sumber. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan kumparan kedua pada induktor dan menghubungkan diode Di seperti yang ditunjukkan pada gambar 2-12a. Induktor berlaku seperti Iransformator. Transformator bagian sekunder dihubungkan sedemikian hingga bila V1 positif, V2 negatif terhadap V1, dan sebaliknya. Kumparan sekunder yang digunakan untuk mengembalikan energi yang tersimpan ke sumbermelalui D| disebut kumparan-balikan (feedback winding). Dengan mengasumsikan sebuah trafo dengan sebuah induktansi magnet Lm, rangkaian ekivalennya ditunjukkan pada gambar Jika diode dan tegangan sekunder (tegangan sumber) disetarakan ke bagian primer trafo, rangkaian ekivalennya ditunjukkan pada gambar 3-12c. h dan i2 berturut-turut menyatakan arus primer dan arus sekunder trafo. Perbandingan belitan (turn ratio) dari trafo ideal didefinisikan

Gambar 2-12 Rangkaian dengan pengembalian energi diode

Operasi rangkaian dapat dibagi menjadi 2 mode. Mode 1 dimulai ketika saklar S1 ditutup pada t = 0 dan mode 2 dimulai pada saat saklar dibuka. Rangkaian ekivalen untuk mode-mode tersebut ditunjukkan pada gambar 2-13a. t1 dan t2 berturut-turut adalah durasi mode 1 dan mode 2. Mode 1. Untuk mode ini saklar Si ditutup pada t = 0. Diode Dj terbias balik (reverse biased) dan arus yang melui diode (arus sekunder) adalah ai1 = 0 dan i2=0. Dengan menggunakan KVL pada gambar 2-13a untuk mode 1, Vs=(VD-Vs)/a, dan ini memberikan tegangan balik pada diode

VD=VS{ 1-fl)

(2-35)

Dengan mengasumsikan bahwa dalam rangkaian tidak memilki kondisi awal, arus primer sama dengan arus saklar is, dan dinyatakan sebagai berikut

Mode ini berlaku untuk 0 / t1, dan berakhir ketika saklar dibuka pada t = t1. Diakhir mode ini, arus primer menjadi

Mode 2. Selama mode ini saklar terbuka, tegangan pada induktor membalik, sehingga diode D1 mengalami bias maju. Arus yang mengalir pada sekunder trafo dan energi yang tersimpan pada induktor dikembalikan ke sumber. Dengan menggunakan KVL dan dengan mendefinisikan waktu awal pada permulaan mode ini, arus primer dinyatakan sebagai

Waktu konduksi dari diode D1 ditentukan dari kondisi i1 (t = t2) dari persamaan (2- 40) yaitu

Mode 2 ini berlaku untuk 0 t t 2 . Pada akhir mode ini yaitu t = t2, semua energi yang tersimpan pada induktor Lm dikembalikan ke sumber. Bermacam-macam bentuk gelombang arus dan tegangan ditunjukkan pada gambar 2-13b untuk a = 10/6

Contoh 2-5 Untuk rangkaian pengembalian energi pada gambar 2-12a, induktansi magnetik trafo Lm = 250 H. N1=10, dan N2=100. Induktansi bocor dan resistansi trafo diabaikan. Tegangansumber Vs=220 V dan tidak ada arus awal pada rangkaian.

Bila saklar S1 ditutup pada waktu t1 = 50 s dan kemudian dibuka kembali. (a) tentukan tegangan balik D1, (b) tentukan nilai puncak arus primer, (c) tentukan pula nilai arus puncak sekunder, (d) tentukan waktu konduksi diode D1, dan (e) tentukan energi yang dikeluarkan oleh sumber. Solusi: Perbandingan belitan a = N2/N1 = 100/10 = 10. (a) Dari persamaan (2-35) tegangan balik diode VD = Vs (i + a) = 220 x (1 +10) = 2420 V (b) Dari persamaan (2-38) nilai puncak arus primer

(c) Nilai puncak arus sekunder I0 = I0 / a = 44/10 = 4,4 A (d) Dari persamaan (2-41) waktu konduksi diode

(e) Energi dari sumber

Dengan menggunakan persamaan (2-38) menghasilkan

2-6

Penyearah Setengah Gelombang Satu Fasa Sebuah penyearah adalah merupakan rangkaian yang mengkonversikan sinyal ac (bolak-balik) menjadi sinyal dc (searah). Diode banyak digunakan pada penyearah. Penyearah setengah gelombang satu fasa adalah merupakan rangkaian penyearah yang paling sederhana sehingga jarang sekali digunakan pada aplikasi industri. Namun demikian, penyearah ini berguna untuk memahami prinsip dari opersi penyearah. Diagram rangkaian dengan beban resislif ditunjukkan pada gambar 2-14a. Selama tegangan masukan memiliki setengah siklus positif, diode Di konduksi dan tegangan masukan muncul

pada beban. Selama tegangan masukan memilki setengah siklus negatif, diode pada kondisi tertahan (blocking condition) dan tegangan keluaran disisi beban nol. Bentuk gelombang tegangan masukan dan keluaran ditunjukkan pada gambar 2-14b.

2-7

Parameter Unjuk Kerja Meskipun tegangan masukan seperti pada gambar 2-14b adalah dc, bentuknya
tidak kontinyu dan mengandung harmonisa. Penyearah merupakan prosesor daya yang memberikan tegangan keluaran dc dengan jumlah kandungan harmonisa yang minimum. Pada saat yang sama, terkadang penyerah ini memiliki masukan sinusoidal yang sefasa dengan tegangan masukan sehingga faktor dayanya mendekati satu. Kualitas pemrosesan daya (power-processing) penyearah memerlukan arus masukan, tegangan keluaran, dan arus keluaran dengan kandungan harmonisa yang pasti. Kita dapat menggunkan ekspansi deret Fourier untuk menentukan besarnya harmonisa yang ada pada arus dan tegangan. Ada beberapa jenis rangkaian penyearah dan kinerja biasanya dihitung dengan parameter-parameter sebagai berikut: Nilai rata-rata tegangan keluaran (beban), Vdc Nilai rata-rata arus keluaran (beban), Idc Keluaran daya dc, Pdc = VdcIdc (2-42)

Nilai rms tegangan keluaran, Vrms

Nilai rms arus keluaran, irms Keluaran daya ac, Pac = VrmsIrms (2-43)

Efisiensi (rectification ratio) sebuah penyearah, yang merupakan contoh untuk membandingkan efisiensi, yang didefinisikan sebagai

Tegangan keluaran dapat dikatakan merupakan gabungan dua buah komponen : (1) nilai dc, dan (2.) komponen ac atau ripple. Nilai efektif (rms) komponen ac tegangan keluaran adalah

Faktor bentuk (form factor), yang mengukur bentuk tegangan keluaran adalah

Faktor ripple (ripple factor), yang mengukur kandungan ripple adalah

Dengan mensubstitusikan persamaan (2-45) ke dalam persamaan (2-47) maka faktor ripple dapat dinyatakan sebagai

Faktor guna trafo (transformer utilization factor) didefinisikan

Dengan Vs dan Is adalah nilai rms tegangan dan arus sekunder trafo. Sekarang dengan memperhatikan bentuk gelombang pada gambar 2-15, dengan vs adalah tegangan masukan sinusiodal, ls arus masukan sesaat, dan isi adalah komponen fundamentalnya.

Jika adalah sudut yang dibentuk antara komponen fundamental arus dan tegangan masukan, dan sudut disebut sudut pergeseran (displacement angle), maka faktor pergeseran (displacement factor) didefinisikan

Crest Factor CF, yang mesngukur arus masukan puncak Is (puncak) yang dibandingkan dengan nilai rms-nya 1s digunakan untuk menspesifikasi rating arus puncak komponen dan divais. CF untuk arus masukan didefinisikan oleh

Catatan:
(a) Faktor harmonisa HF adalah ukuran distorsi bentuk gelombang dan biasanya

disebut Total Harmonic Dislorsion (THD).


(b) Bila arus masukan Is berupa sinusoidal murni, Is1 = Is dan faktor daya PF sama

dengan faktor pergeseran DF. Sudut pergeseran menjadi sudut impedansi = ta (L/R) untuk beban RL
(c) Faktor pergeseran DF sering disebut juga Displacement Power Factor (DPF).

Penyeraha ideal memiliki = 100%, Vac = 0, RF = 0, TUF=M, HF = THD=0, dan PF = DPF =1. Contoh 2-6 Penyearah seperti pada gambar 2-14a memiliki beban resistif murni R. Tentukan (a) efisiensi, (b) faktor bentuk, (c) faktor ripple, (d) faktor guna trafo, (e) tegangan balik puncak (P1V) diode Di, dan (f) CF untuk arus masukan. Solusi : Tegangan keluaran rata-rata Vdc didefinisikan

Untuk tegangan sinusoidal VL (t) = Vm sin tegangan keluaran

t untuk 0 t T/2, nilai rms

Dari persamaan (2-42)., Pdc = (0,318Vm)2/R, dan dari persamaan (2-43), Pac = (0,5Vm)2/R. (a) Dari persamaan (2-44), efisiensi = (0,31.8Vm)2/(0,5 Vm)2 = 40,5% (b) Dari persamaan (2-46), faktor bentuk FF = 0,5Vm/0,318Vm = 1,57 (157%) (c) Dari persamaan (2-48),faktor ripple RF = -1 = 1,21 (121%) (d) Tegangan rms sekunder trafo adalah

Nilai rms arus sekunder trafo sama dengan nilai rms arus beban

Rating Volt-ampere (VA) trafo, VA = VsIS = 0,707 Vm x 0,5 Vm/R. Dari persamaan (2-49) TUF = Pac/VsIs = 0,3 1 82/(0,707 x 0,5) = 0,286 (e) Tegangan balik puncak PIV = Vm (f) Is(puncak) = Vm/R dan Is = 0,5Vm/R. Crest factor arus masukan adalah CF = Ispuncak/ Is
=

1/0,5 = 2.

Catalan : 1/TUF = 1/0,826 =3,496 menyatakan bahawa trafo harus 3,496 kali lebih besar pada saat digunakan mengirim daya dari tegangan ac murni. Penyearah ini mempunyai faktor ripple yang tinggi, 121%, efisiensi yang rendah, 40,5%, dan TUF yang buruk, 0,286. Sebagai tambahan, bahwa pada trafo akan menglir arus dc sehingga menghasilkan masalah kejenuhan pada inti trafo. Sekarang kita perhatikan rangkaian seperti pada gambar 2-14a dan dengan beban RL seperti pada gambar 2-16a. Adanya beban induktif menyebabkan periode konduksi diode D1 bertambah hingga melebihi 180 sampai arus nya menjadi nol pada 1 = + . Bentuk gelombang arus dan tegangan ditunjukkan pada gambar 16b. Perlu di catat bahwa teganganrata-rata vi, induktor nol dan tegangan keluaran rat-rata adalah (2-57)

Arus beban rata-rata adalah Idc = Vdc/R. Dapat diketahui dari persamaan (2-57) bahwa tegangan (dan arus) rata-rata dapat ditingkat dengan membuat a = 0. Hal ini dimungkinkan dengan menambahkan diode freewheeling Dm seperti terlihat pada gambar 2-16a. yang ditunjukkan dengan garis putus-putus. Adanya diode ini akan mencegah munculnya tegangan negatif pada beban, sehingga energi magnetik akan meningkat. Pada t = t1 = /, arus diode Dj dipindahkan ke Dm . Proses ini disebut komutasi pada diode. Bentuk gelombangnya ditunjukkan pada gambar 2-16c. Tergantung pada konstante waktu beban, arus beban dapat tidak kontinyu. Arus beban IL menjadi tidak

kontinyu bila ada beban resistif dan akan kontinyu dengan beban induktif. Kekontinyuan arus beban akan tergantung pada konstanta waktunya yaitu = L/R. Bila keluaran dihubungkan dengan baterai, penyearah dapat digunakan sebagai pengisi baterai (charger). Ini ditunjukkan pada gambar 2-17a. Untuk vs > E, diode D1 akan konduksi. Sudut pada saat diode mulai konduksi dapat ditentukan melalui kondisi

Gambar 2-16 Penyearah setengah geloinbang dengan bebaii RL Vmsin = E Yang menghasilkan = sin1 ,(E/Vm) Diode D1 akan padam pada saat vs<E pada (2-58)

=- Arus pengisian iL seperti yang diperlihatkan pada gambar 2-17b, dapat ditentukan

Contob 2-7 Tegangan baterai pada gambar 2-17a adalah E = 12 V dan kapasitasnya adalah 100 Wh. Arus pengisian rata-rata Idc = 5 A. Tegangan masukan primer Vp = 120 V, 60 Hz dan trafo memilki perbandingan belitan n = 2 : 1. Hitungalah (a) sudut konduksi diode 8, (b) resistansi pembatas arus, (c) rating daya resiatansi R PR> (d) waktu pengisian h dalam jam, (e) efisiensi penyearah dan (f) tegangan balik puncak (PIV) diode. Solusi: E = 12 V, Vp = 120 V, Vs = Vp/n = 120/2 = 60 V, dan Vm = 1,414 x Vs = 1,414 x 60 = 84,85 V (a) Dari persamaan (2-58), a = sin-1 ( 12/84,85) = 8,13 = 0,1419 rad. = 180 - 8,13 = 171,87. Maka sudut konduksi 6 = p - a - 171,87 - 8,13 = 163,74

atau Imt = V67,4 = 8,2 . Rating daya R adalah PK - 8,22 x 4,26 = 286,4 W.
(d) Daya yang diberikan ke batcrai Pdc adalah

Pdc = Eldc - 12 x 5 = 60 HPdc = 100 atau h = 100/Pdc = 100/60 = 1,667 jam


(e) efisiensi penyearah ri adalah

(f) Tegangan balik puncak (P1V) diode adalah PIV = Vm + E = 84,85 +12 = 96,85 V

Contoh 2-8 Penyearah setengah gelombang satu fasa seperti pada gambar 2-14a dihubungkan dengan sumber V5 = 120 V, 60 Hz. Nyatakan tegangan keluaran sesaat viXt) dalam deret Fourier. Solusi: Tegangan keluaran penyearah vL dapat dinyatakan dalam deret Fourier adalah sebagai berikut

2-8

Penyearah Gelombang Penuh Satu Fasa Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan trafo tap tengah (centre-tap) ditunjukkan pada gambar 2-18a. Tiap bagian setengah trafo terhubung dengan diode membentuk penyearah setengah gelombang. Keluaran penyearah gelombang penuh ditunjukkan pada gambar 2-18b. Karena tidak ada arus dc yang mengalir melaui trafo maka tidak ada masalah saturasi dc pada inti trafo. Tegangan keluaran rat-rata adalah

Selain menggunakan trafo tap tengah, kita dapat menggunakan empat buah diode seperti pada gambar 2-19a. Selama tegangan masukan mengalami setengah siklus positif, daya disuplai ke beban melaui D1 dan D2. Pada saat siklus negatif, diode D3 dan D4 yang akan konduksi. Bentuk

gelombang tegangan keluaran ditunjukkan pada gambar 2-19b yang serupa dengan gambar 2-18b. Tegangan balik puncak diode hanya Vm. Rangkaian ini dikenal sebagai penyearah jembatan (bridge rectifier), dan umumnya banyak digunakan dalam aplikasi industri.

Contoh 2-9 Bila penyearah pada gambar 2-18a memiliki beban resistif murni R, (a) tentukan et'isiensi, (b) faktor bentuk, (c) faktcr ripple, fd) faktor guna trafo, (e) tegangan puncak balik (PIV) diode Du CF arus masukan. Solusi: Dari persamaan (2-62), tegangan keluaran rata-rata adalah

Dari persamaan (2-42) Pdc = (0,6366Vm)2/R, dan dari persamaan (2-43) Pac =(0,707Vm)2/R.
(a) Dari persamaan (2-44), efisiensi = (0,6366Vm)2/(0,707VIP)2 = 81% (b) Dari persamaan (2-46), faktor bentuk FF = 0,707Vm/0,6366Vm =1,11 (c) Dari persamaan (2-48), faktor ripple RF = V1,112 -1 = 0,482 (48,2%) (d) Tegangan rms sekunder trafo Vs = Vm ,414 = 0,707Vm.

Nilai rms arus sekunder trafo Is = 0,5Vra/R. Rating volt-ampere (VA) trafo, VA = 2VSIS = 2 x 0,707Vm x 0,5Vni/R. Dari persamaan (2-49)

(e) Tegangan balik puncak, PIV = 2Vm (f) Is(puncak) = Vra/R dan Is = 0,707Vm/R. Crest factor (CF) arus masukan adalah, CF

= Is(puncuk)/Is = 1/0,707 =

Catatan : Unjuk kerja penyearah gelombang penuh lebih baik bila dibandingkan dengan penyearah setengah gelombang. Contoh 2-10 Penyearah seperti pada gambar 2-18a memiliki beban RL. Gunakan metode deret Fourier untuk mendapatkan tegangan keluaran vL,(t). Solusi : Tegangan keluaran penyearah dapat dinyatakan dengan deret Fourier (diulang pada lampiran E) sebagai brikut

Dengan mensubstitusi an dan b, tegangan keluaran dapat dinyatakan

Catatan : Keluaran penyearah gelombangpenuh hanya memiliki harmonisa genap dan harmonisa kedua merupakan yang paling dominan yang memilki frekuensi 2f(=120 Hz). Tegangan keluaran pada persamaan (2-63) dapat diturunkan dengan perkalian spektrum fungsi saklaring (switching function), lihat lampiran C.

Contoh 2-11 Penyearah jembatan satu fasa yang mensuplai beban induktif yang sangat tinggi seperti motor dc ditunjukkan pada gambar 2-20a. Perbandingan belitan trafo adalah 1. Beban

adalah motor sedemikian rupa hingga keluaran arus jangkar Ia seperti ditunjukkan pada gambar 2-20b. Tentukan (a) faktor harmonisa, HF arus masukan, dan (b) faktor daya masukan, PF penyearah. Solusi : Biasanya motor dc mengandung beban induktif yang tinggi dan berlaku sebagai filter untuk mengurangi arus ripple beban.

Gambar 2-20 Penyearah gelombang penuh jembatan dengan beban motor dc

(a) Bentuk gelombang arus dan tegangan masukan penyearah ditunjukkan pada gambar 2-20b. Arus masukan dapat dinyatakan dalam deret Fourier sebagai berikut

Dengan mensubstitusikan nilai an dan bn, arus masukan dapat dinytakan

(b) Sudut pergeseran = 0 dan faktor pergeseran DF = cos = 1. Dari persamaan (2-52), diperoleh faktor daya PF = (Isl/Is) cos = 0,90 (tertinggal).

2-9

Penyearah Gelombang Penuh Satu Fasa Dengan Beban RL

Dengan sebuah beban resistif, arus beban memiliki bentuk yang sama dengan tegangan keluaran. Pada prapteknya hampir semua bebannya induktif dan arus beban tergantung pada nilai resistansi beban R dan induktansi beban L. Ini ditunjukkan pada gambar 2-2la. Tegangan baterai E ditambahkan untuk membentuk persamaan yang umum. Bila tegangan masukan Vs = VmSint = , sin t, arus beban iL dapat ditentukan melalui

dengan impedansi beban Z =

dan sudut impedansi beban = tan-1 (L/R)

Kasus 1 : Arus beban kontinyu. Konstanta A| pada persamaan (2-35) dapat ditentukan melaltii kondisi cot = 7i, it = Ij.

Dengan kondisi keadaan tunak, il.(t = 0)= il.( t = ), yaitu il .( t = 0 )= 1l, maka diperoleh nilai I1 sebagai berikut

dan arus keluaran rms dapat ditentukan dengan menggabungkan arus rms tiap- tiap diode

Pada saat t = , arus turun menjadi nol, dan iL(t = ) = 0, maka

dapat ditentukan dari persamaan transendeltal ini melalui metode penyelesaian iterasi (cara coba-coba) yang dibahas pada bab berikutnya. Dimulai saat = 0, dan nilainya meningkat perlahan-lahan sampai bagian scbelah kiri persamaan ini menjadi nol. Arus rms diode dapat ditentukan dari persamaan (2-68) yaitu

2-10 Penyearah Hubungan Bintang Fasa Banyak Kita melihat pada gambar (2-62) bahwa tegangan keluaran rata-rata yang dapat diperoleh melalui penyearah gelombang penuh satu fasa adalah 0,6366Vm dan penyearah-penyearah ini digunakan pada aplikasi dengan daya diatas 15 kW. Untuk keluaran daya yang lebih besar, banyak digunakan penyearah tiga fasa dan fasa banyak. Deret Fourier tegangan keluaran yang dinyatakan oleh persamaan (2-63) menunjukkan bahwa keluaran tersebut mengandung harmonisa dan frekuensi fundamentalnya adalah dua kali frekunsi sumber (2f). Dalam prakteknya, filter digunakan untuk mengurangi tingkat harmonisa pada beban, dan ukuran filter berkurang seiring dengan meningkatnya frekuensi harmonisa. Selain itu penyearah fasa banyak yang memilki keluaran daya lebih besar, frekuensi fundamental hrmonisanya juga meningkat sebesar q kali frekuensi sumbemya (qf). Penyearah ini disebut juga penyearah hubungan bintang. Rangkaian penyearah pada gambar 2-18a dapat diperluas menjadi fasa banyak dengan menambahkan kumparan fasa banyak pada sisi sekunder trafo yang ditunjukkan pada gambar 2-22a. Rangkaian ini dapat dikatakan sebagai q penyearah setengah gelobang satu fasa, dan dapat digolongkan sebagai penyearah tipe satu fasa. Diode ke-k akan konduksi selama periode pada saat tegangan fasa ke- k lebih besar dibandingkan dengan fasa yang lain. Bentuk gelombang arus dan tegangan ditunjukkan pada gambar 2-22b. Waktu konduksi tiap diode adalah 2/q

Dapat diperliatikan dari gambar 2-22b bahwa arus yang mengalir pada belitan sekunder trafo adalah searang dan mengandung komponen dc. Maka untuk menghilangkan komponen dc pada bagian masukan trafo bagian kumparan primer harus dihubungkan secara delta. Hal ini untuk mengurangi kandungan harmonisa pada jala-jala.

Dengan mengasumsikan bentuk gelombang kosinus dari /q ke 2/q, tegangan keluaran penyearah ke q diberikan

Bila beban adalah resistif mumi, arus puncak yang melalui diode adalah Im = Vm/R dan kita dapat menentukan arus rms diode (atau arus sekunder trafo) yaitu

Contoh 2-13 Penyearah hubungan bintang fasa banyak memiliki beban resistif mumi yaitu R ohm. Tentukan (a) efisiensi, (b) faktor daya, (c) faktor ripple, (d) faktor guna trafo, (e) tegangan balik puncak (P1V) masing-masing diode, dan (f) arus puncak yang mengalir pada diode bila penyearah menyalurkan arus Idc = 30 A pada tegangan keluaran Vac = 140 V. Solusi : Untuk penyearah tiga fasa q = 3 pada persamaan (2-69), (2-70) dan (2-71) (a) Dari persamaan (2-69), Vdc = 0,827Vm dan = 0,827Vra/R. Dari persamaan(2-70), Vm = 0,84068Vm dan arus W = 0,84068Vm/R. Dari persamaan (2-42), Pdc = (0,827Vm)2/R, dari persamaan 2-43) Pac =(0,84068Vm):/R, dan dari persamaan (2-44) efisiensi adalah

1. Dari persamaan (2-46), faktor bentuk FF = 0,84068/0,827 = 1,0165 atau 101,65% 2. Dari persamaan (2-48), faktor rippie RF = VU0652 -1 = 0,1824 atau 81,245% 3. Dari persamaan (2 -56), tegangan rms sekunder trafo, V3 = 0,707Vm. Dari

persamaan (2-71), arus rms sekunder trafo,

Dari persamaan (2-49)

4. Tegangan balik puncak tiap diode sama dengan nilai tegangan puncak sekunder

antar fasa. Tegangan antar fasa adalah V3 kali tegangan fasa sehingga PIV = V3 Vra
5. Arus rata-rata yang melalui tiap diode adalah

(2-72)

Untuk q = 3, Id = 0,2757Im, arus rata-rata yang melalui tiap diode adalah Id = 30/3 = 10 A dan ini memberikan arus puncak lm = 36,27 A.

Contoh 2-14
5. Nyatakan tegangan keluaran penyearah q-fasa gambar 2-24a dan deret Fourier. 5. Bila q = 6. Vm = 170 V, dan frekuensi sumber f = 60 Hz, tentukan nilai rms dari

harmonisa yang dominan dan frekuensinya Solusi: (a) Bentuk gelombang untuk q-pulsa ditunjukkan pada gambar 2-24b dan frekuensi keluaran adalah q kali komponen fundamental (qf). Untuk menentukan konstanta Fourier, kita integrasikan dari -/q ke /q dan konstantanya adalah

Setelah penyederhanaan dan menggunakan hubungan trigonometri, kita dapatkan


SIN(A + B) = SIN A COS B + COS A SIN B

dan
SIN(A - B) - SIN A COS B COS A SIN B KITA DAPATKAN

Untuk penyearah dengan q pulsa per siklus, harmonisa tegangan keluarannya adalah yang ke-q, 2q, 3q, 4q dan persamaan (2-73) berleku untuk n = 0, lq, 2a. 3a. Berlaku untuk n = 0, 1q, 2q, 3q. Bagian sin (n/q) = = sin = 0 dan persamaan (2-73) meniadi

yang temyata sama dengan persamaan (2-69). Deret Fourier tegangan keluaran vL dinyatakan sebagai

Harmonisa keenam merupakan harmonisa yang dominan. Nilai rms tegangan sinusoidal adalah 1/ 2(35 x kali besar puncaknya dan rms harminisa keenam adalah V6 = 0,9549Km x = 6,56A frekuensinya adalah f6 = 6f = 360Hz

2-11 Penyearah Jembatan Tiga Fasa Penyearah jembatan tiga fasa biasa digunakan pada aplikasi yang menggunakan daya tinggi seperti yang ditunjukkan pada gambar 2-25. Ini adalah penyearah gelombang penuh, yang dapat dioperasikan dengan atau tanpa trafo dan memberikan ripple enam pulsa pada tegangan keluarannya. Diode-diode dinomori berdasarkan urutan konduksi dan konduksi tiap diode adalah 120. Urutan konduksi diode adalah 12, 23, 34, 45, 56, dan 61. Pasangan diode yang terhubung antar fasa dari tegangan sumber mcmiliki nilai sesaat yang paling tinggi sehingga diode konduksi. Tegangan saluran (line to line) adalah dari tegangan

fasa dari sumber tifasa yang terhubung bintang. Bentuk gelombang dan waktu konduksi diode ditunjukkan pada gambar 2-24.

Contoh 2-14

Sebuah penyearah jembatan tiga fasa memiliki beban resistif R. Tentukan (a) efisiensi, (b) faktor bentuk, (c) faktor ripple, ((d) faktor guna trafo, (e) tegangan balik puncak (PIV) tiap diode, dan (f) arus puncak yan melalui diode bila penyearah mengirim = 60 A pada tegangan keluaran Vdc = 280,7 V dan frekuensi sumber adalah 60 Hz. Solusi: (a) Dari persamaan (2-77), Vdc = l,654Vm dan Idc = l,654Vra/R. Dari persamaan (2-78), Vrms = l,6554Vm dan Ims = l,6554Vm/R. Dari persamaan (2-42), Pdc = (l,654Vm)2/R, dan darai persamaan (2-43), Pac = (l,6554Vm)2/R dan dari persamaan (2-44) diperoleh efisiensi

(b) Dari persamaan (2-46), faktor bentuk FF = 1,6554/1,654 = 1,0008 =100,08% (c) Dari persamaan (2-48), faktor ripple RF = Vl,00082 -1 = 0,04 = 4% (d) Dari persamaan (2-57), tegangan rms sekunder trafo, Vs = 0,707 Vm Dari

persamaan (2-80), arus rms sekunder trafo,

(e) Dari persamaan (2-77), tegangan fasa (line to read) puncak adalah Vm = 280,7/1,654 = 169,7 V. Tegangan balik puncak tiap diode sama dengan nilai tegangan puncak saluran (line to line) sekunder, PIV = Vm = x 169,7 = 293,9 V.

(f) Arus rat-rata yang melalui tiap diode

Arus rata-rata yang melalui tiap diode adalah Id = 60/3 = 20 A, maka arus puncak adalah Im = 20/0,3183 = 62,83 A. Catatan :Penyearah ini mempunyai kinerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan penyearah fasa banyak yang ditunjukkan pada gambar 2-24 dengan enam pulsa. 2-12 Penyearah Jembatan Tiga Fasa Dengan Beban RL

Persamaan yang diturunkan pada bagian 2-9 dapat digunkan untuk menentukan arus beban Dan arus keluaran rms dapat ditentukan dengan menggabungkan arus rms tiap-tiap diode

Arus diode rata-rata dapat juga ditentukan dari persamaan (2-84) yaitu

dengan impedansi beban Z = dan sudut impedansi beban 9 = tan-1 (L). Konstanta A1 pada persamaan (2-81) dapat ditentukan dari kondisi cot = /3, yaitu iL = I.

2-13 Pengaruh Induktansi Sumber Dan Beban

2-13 Pengaruh Induktansi Sumber Dan Beban

Pada penurunan tegangan keluaran dan kriteria kinerja penyearah, diasumsikan| bahwa sumber tidak memiliki induktansi dan resistansi. Akan tetapi pada trafo dan sumbernya selalu ada dan kineija penyearah berubah secara langsung. Akibat adanya induktansi

Rangkaian Diode dan Penyearah

2-10

pada sumber, yang lebih penting dibandingkan dengan resistansi, dapat dijelaskan berdasarkan gambar 2-26. Diode dengan tegangan positif akan konduksi. Bila kita perhatikan pada titik cot = n dengan Vac dan Vbc sama seperti ditunjukkan pada gambar 2-26. Arus 1dc & masih mengalir melalui diode D1. Karena induktansi L1, arus tidak dapat turun menjadi nol secara tiba-tiba dan transfer arus tidak dapat beijalan sesaat. Arus iai berkurang, menghasilkan tegangan terinduksi pada L1 yaitu Vli dan tegangan keluaran menjadi v1 = Vac + Vu- Pada saat yang sama arus yang melalui diode D1, D3 meningkat dari nol, menginduksikan tegangan yang sama melaui L2 yaitu l1 dan tegangan keluaran menjadi Vl = VbC - VL2. Hasilnya adalah tegangan anoda diode D1 dan D3 menjadi sama. Dan kedua diode konduksi uniuk periode tertentu yang disebut dengan sudut komutasi (atau overlap) Pemindahan arus dari satu diode ke diode yang lain disebut komutasi (commutation). Reaktansi yang berhubungan dengan induktansi disebut reaktansi komutasi (commutating reactance).

Rangkaian Diode dan Penyearah

2-10

Pengaruh overlap ini mengurangi tegangan keluaran rata-rata dari konverter. Tegangan pada L2 adalah

Dengan mengasumsikan kenaikan arus i meningkat secara linier dari 0 ke Idc (atau konstanta di/dt =i/t) kita dapat tuliskan persamaan (2-85) sebagai

dan ini diulang sebanyak enam kali untuk penyearah jembatan tiga fasa. Dengan menggunakan persamaan (2-86) pengurangan tegangan rata-rata karena induktansi komutasi adalah

Jika semua induktansi bernilai sama dan Lc = Li = L2 = L: Persamaan (2-87)J menjadi

dimana f adalah frekuensi sumber dalam Hz.

Contoh 2-16 Sebuah penyearah jembatan tiga fasa disuplai dari sumber 208 V, 60 Hz yang; terhubung bintang. Arus beban rata-rata adalah 60 A dan tidak memilikij ripple. Hitung presentasi reduksi tegangan keluaran karena komutasi bila induktansi saluran tiap fasanya adalah 0,5 mH. Solusi: Lc = 0,5 mH, Vs = 208/3 = 120 V, f = 60 Hz, ldc = 60 A, dan Vm= V2 x 120 = 169,7 V. Dari persamaan (2-77), Vdc = 1,654 x 169,7 = 280,7 Vdc Persamaan (2-89) memberikan reduksi tegangan keluaran, Vx = 6x60x0,5 x 10 -s x 60 = 10,%V atau 10,8 x 100/280.7 = 3,85% dan tegangan keluaran efektif adalah (280,7 - 10,8) = 266,9 V

Rangkaian Diode dan Penyearah

2-10

Contoh 2-17 Diode pada penyearah gelombang penuh satu fasa pada gambar 2-19a memilki waktu pemulihan balik (reverse recovery time) trr = 50 s dan tegangan masukan rms Vs = 120 V. Tentukan pengaruh reverse recovery time pada tegangan keluaran rata-rata bila frekuensi sumber (a) fs = 2 kHz, dan (b) f, = 60 Hz.

Reverse recovery time akan mempengaruhi tegangan keluaran penyearah. Pada penyearah gelombang penuh pada garnbar 2-19a, diode D1 tidak padam pada t = , dan akan terus konduksi hingga t = / + tn. Hasil dari reverse recovery time, tegangan keluaran rata-rata akan berkurang dan bentuk gelombang tegangan keluaran seperti pada gambar 2-27. Jika tegangan masukan v = Vm sin t = 2 Vs sint, reduksi tegangan keluaran rata-rata adalah

Tanpa reverse recovery time. Persamaan (2-62) memberikan tegangan keluaran rata-rata Vdc = 0,6366Vm = 108,03 V. (a) Untuk trr = 50 s dan fs = 2000 Hz, reduksi tegangan keluaran rata-rata

Rangkaian Diode dan Penyearah

2-10

Catalan : trr memilki pengaruh yang sangat penting untuk sumber frekuensi tinggi dan untuk kasus dengan frekuensi normal, 60 Hz pengaruhnya dapat diabaikan.

Rangkaian Diode dan Penyearah

2-10