Anda di halaman 1dari 72

SOUTH and CENTRAL KALIMANTAN PRODUCTION FOREST PROJECT

Jalan A. Yani, No. 37 (km35), Banjarbaru 70711, Indonesia Tel. (62) 0511 781 975 979, Fax: (62) 0511 781 613

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia

Laporan No. 17
November 2000

EUROPEAN COMMISSION INDONESIA FOREST PROGRAMME

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

PREFACE
Proyek South and Central Kalimantan Production Forest Project (SCKPFP) adalah sebuah proyek kerja sama yang dibiayai secara bersama, dengan persyaratan sebagaimana terdapat dalam financing memorandum ALA/95/18, oleh European Commission dan Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Dephutbun). Tinjauan ini diselesaikan untuk memenuhi Phase I Overall Work Plan (OWP) dan sebagai bagian dalam memenuhi Kegiatan 6.3, untuk mengadakan audit lingkungan pada areal konsesi proyek. untuk mencapai Hasil 6 ekosistem hutan dan ekosistem assosiasi dalam lingkungan proyek dikelola untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan keanekaragamannya, untuk merealisasi tujuan proyek pada tiga tahun Phase I, yaitu Model Manajemen Hutan Lestari yang menggabungkan petunjuk ITTO dan prinsip-prinsip yang dikembangkan serta dilaksanakan pada operasional kehutanan di Aya Yayang dan HPH percontohan di Kalimantan Tengah. Naskah ini telah dikonsep dengan bantuan dana dari Komisi Masyarakat Eropa (Commission of the European Community). Pandangan-pandangan yang dikemukakan di sini adalah berasal dari para konsultan, karenanya tidak merefleksikan pendapat resmi dari Komisi. Laporan ini telah dibuat oleh :

Gareth Ward, Auditor Lingkungan, Attis Environmental Ltd.

Diperiksa dan diperbaiki oleh Nick Bonvoisin, Spesialis Manajemen Lingkungan, Proyek Hutan Produksi di Kalimantan Selatan dan Tengah (SCKPFP). Laporan ini telah diketahui dan disetujui untuk disebarluaskan oleh Project CoDirectors yang bertandatangan di bawah ini. Banjarbaru, Januari 2001

Dr. John Tew International Co-Director

Dr. Silver Hutabarat National Co-Director

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

RINGKASAN
Laporan ini berisi temuan-temuan, kesimpulan-kesimpulan dan rekomendasi dari Audit Lingkungan pada kegiatan teknis yang dilaksanakan oleh PT. Aya Yayang Indonesia (PT. AYI) di HTI Murni, di sekitar Panaan, Kalimantan Selatan. Audit tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari Proyek South and Central Kalimantan Production Forest Project (SCKPFP) dari Uni Eropa. Sebagaimana PT. AYI telah menunjukkan keinginan untuk mencapai Sertifikasi dari FSC (Forest Stewardship Council) untuk HPH yang berdampingan dengan mereka, Prinsip-prinsip dan Kriteria dari FSC digunakan sebagai kriteria dalam audit ini. Referensi khusus yang diambil sesuai dengan Prinsip #6 FSC mengenai dampak lingkungan dari kegiatan perhutanan, dan pada Prinsip #10 sehubungan dengan hutan tanaman, namun referensi lain juga diambil dari prinsip-prinsip dan kriteria-kriteria lain yang perlu. Rekomendasi-rekomendasi yang ditunjukkan dalam Bab 4 dari laporan ini dan dalam bentuk ringkasan seperti di bawah, sekarang berkesempatan untuk peningkatan lingkungan yang konsisten dengan kebutuhan Sertifikasi FSC. Tidak diharapkan bahwa seluruh rekomendasi akan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat, namun melalui sebuah proses bertahap yang dapat mencapai peningkatan yang berarti dalam penyelenggaraan lingkungan. Kegiatan di HTI Murni dimulai pada tahun 1990, dihentikan pada tahun 1996 dan dimulai kembali pada tahun 1999 dengan masuknya SCKPFP. Saat ini, pembukaan wilayah telah dilakukan pada skala kecil (secara efektif penebangan dilakukan pada sebagian kecil dari hutan tanaman) untuk menghasilkan 100 ha plot penanaman kembali sebagai bagian dari input SCKPFP untuk HTI. SCKPFP juga telah membantu HTI dalam menentukan petak pertumbuhan dan membuat demplot. Sebagai tambahan, jalan logging yang telah ditinggalkan yang melintas sepanjang HTI telah dibuka kembali sebagai jalan masuk ke areal logging yang baru di dalam HPH yang berdampingan; pekerjaan ini telah dilaksanakan oleh HPH dan tanpa ada partisipasi dari HTI (atau SCKPFP). Selama audit lingkungan ditemukan bukti bahwa kesadaran lingkungan hanya mendapat sedikit perhatian di masa lalu, tidak pula dalam pembukaan kembali jalan logging menuju HPH yang baru dilakukan. Perhatian utama tertuju pada pembiayaan jangka pendek dari kegiatan. Saat ini tidak ada petunjuk tertulis untuk pelaksanaan kegiatan yang bervariasi di dalam HTI. Akibatnya, para operator dianggap tahu mengenai tugas mereka dan dibiarkan melaksanakan pekerjaan tersebut. Lebih jauh lagi, hingga saat ini terbatas sekali pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada para operator dalam pelaksanaan tugas mereka, dengan ketidakperdulian terhadap persoalan perlindungan tanah dan air. Sangat sedikit supervisi dan pengawasan secara teknis (sebagai kebalikan dari administrasi) dari kegiatan. Petunjuk tertulis yang terperinci sedang dalam proses pembuatan dalam keterkaitannya dengan SCKPFP dan staf proyek telah melaksanakan beberapa pelatihan dan supervisi dari kegiatan pembukaan yang ada sekarang. Jika telah dihasilkan, petunjuk tersebut akan disediakan bagi staf lapangan dan pelatihan akan diberikan untuk pelaksanaannya. Penyimpanan dan penanganan bahan bakar, serta praktek pembuangan di dalam HTI memerlukan peningkatan. Praktek yang dilakukan sekarang telah mengakibatkan pencemaran pada areal sekitar tempat penyimpanan bahan bakar. Tidak ada satupun dari tangki penyimpanan atau drum dilengkapi dengan tempat

ii

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

penyimpanan sekunder (lapis kedua) dan katup-katupnya terlihat mengalami kebocoran. Situasi ini membutuhkan perhatian dan merupakan satu areal dimana peningkatan yang nyata dapat dicapai dengan investasi yang relatif kecil bagi PT. AYI, dan dilakukan dengan upaya dari pihak staf di lapangan. Jumlah yang relatif kecil dari bahan-bahan yang berbahaya, seperti pupuk dan pestisida (termasuk herbisida, insektisida, dan fungisida), yang saat ini disimpan di lokasi tidak menunjukkan bahaya yang penting bagi lingkungan meskipun beberapa tempat penyimpanan nampaknya mengalami kebocoran. Sebagaimana kegiatan di HTI Murni yang semakin meningkat, jumlah dari bahan berbahaya juga akan meningkat dan memerlukan areal penyimpanan dengan tempat penyimpanan sekunder, rencana penanganan tumpahan dan peralatan yang pada akhirnya akan diperlukan. Saat ini SCKPFP memberikan pelatihan dalam penggunaan bahan kimia pertanian, namun pihak pengelola HTI yang selanjutnya akan bertanggungjawab untuk mengorganisir pelatihan dan menjamin adanya supervisi yang memadai pada penanganan dan penggunaan bahanbahan kimia ini. Mungkin dapat dipertimbangkan apakah memungkinkan untuk mengembangkan pengendalian secara biologis untuk mengurangi jumlah bahan kimia yang dibutuhkan. Limbah tidak dibuang keluar lokasi dan peralatan yang sudah tidak dipakai lagi, suku cadang yang rusak, dan limbah lain yang tidak terurai menumpuk di Panaan dan di lapangan. Dibutuhkan sebuah rencana untuk memindahkan dan menghancurkan limbah-limbah tersebut dengan cara-cara yang dapat diterima lingkungan. Kebiasaan tidak perduli terhadap limbah yang tidak terurai di dalam areal hutan tanaman ini harus dihentikan; seluruh limbah seperti ini harus dibawa kembali ke Panaan dan dimasukkan kedalam rencana pembuangan limbah. Air limbah kebanyakan dibuang langsung ke lingkungan sekitar; ini sebagai kekhawatiran khusus pada fasilitas workshop dimana air limbah ini dapat mudah tercemar dengan hidrokarbon. Air limbah, termasuk air semprotan dari areal workshop harus melalui saringan air/minyak sebelum dibuang. Karena aliran permukaan di areal hutan tanaman lebih besar dibandingkan di hutan alam, resiko banjir dan erosi menjadi lebih besar pula. Staf di lokasi dituntut untuk mengerti pentingnya menjaga sumberdaya tanah dan anak sungai/air di dalam HTI. Bagaimanapun, sedikit bukti dari pengertian ini yang didapati di lapangan dimana ditemukan ada anak sungai yang terputus/terblok dan saluran drainase yang tidak memadai telah di buat untuk jalan. (Harus dicatat, bagaimanapun, pembuatan jalan yang saat ini diamati di HTI telah dilaksanakan oleh dan untuk HPH). Para operator diperkirakan melaksanakan kegiatannya tanpa petunjuk, dan sedikit pelatihan atau supervisi, yang menghasilkan jalan-jalan yang terlampau curam dengan saluran drainase yang kurang dan anak sungai/air yang terputus. Perlengkapan pemadam kebakaran terletak di Panaan. Pelatihan harus diberikan pada semua staf dalam penggunaan peralatan dan bagaimana cara menghindari kebakaran yang tidak disengaja. Spesialis Manajemen Kebakaran dari SCKPFP ditugaskan dalam persoalan ini. Pemanenan hanya dilakukan sejak bulan Agustus 2000, dan kemudian hanya dalam areal terbatas untuk tujuan pembukaan. Seperti pemanenan di areal lain dari HTI Murni dilakukan sebuah program penilaian pasca tebangan yang perlu dilaksanakan dan hasilnya dipadukan dalam kegiatan pengelolaan di lokasi pada masa yang akan datang.

iii

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Mayoritas penanaman yang dilakukan di HTI Murni sepanjang tahun 1990an adalah Sengon (Paraserianthes falcataria). Spesies lain juga ditanam, termasuk Gmelina (Gmelina arborea), Kupang (Parkia roxburghii) dan Sungkai (Peronema canescens). Spesies-spesies ini telah dipilih karena mereka diharapkan untuk menghasilkan kayu yang bisa ditebang dalam waktu yang relatif singkat, meskipun tingkat pertumbuhan yang diharapkan sejauh ini tidak nampak. Pembibitan alami dalam jangka pendek dihasilkan dalam perencanaan jangka pendek, dan sehingga spesies yang ditanam di dalam HTI yang memiliki siklus lebih besar dari lima belas tahun untuk ditebang tidak pernah dipertimbangkan sebagai sebuah pilihan. Areal yang dibuka sekarang dimaksudkan untuk ditanami dengan Acacia mangium. A. mangium adalah alami dan hanya dari Indonesia wilayah Timur, melintasi Garis Wallace Line dari Kalimantan. Jenis ini telah diketahui menderita penyakit akar hati di hutan tanaman di Malaysia, yang diduga berhubungan dengan masalah benih yang jelek. Meskipun kenyataannya bahwa jenis ini dapat memberikan hasil yang baik untuk tingkat pengelolaan yang rendah, ini adalah jenis yang eksotik pada wilayah Indonesia dan saat digunakan harus ditinjau dengan berhati-hati. Hasil dari seratus hektar plot percobaan yang telah dibuat oleh SCKPFP membutuhkan pengawasan secara hati-hati. Tidak ada pengawasan lingkungan yang berarti yang dilaksanakan di lapangan pada saat ini. Sebuah program pengawasan lingkungan perlu dimulai untuk menjamin kegiatan pengelolaan HTI tidak menyebabkan degradasi bagi lingkungan sekitar. Program ini harus melibatkan pengawasan erosi, curah hujan dan data iklim lainnya, tingkat sungai, arus dan kualitas air. Sebagai bagian dari proses audit ini, sebuah cheklist audit telah dibuat agar memungkinkan staf di lapangan untuk melaksanakan audit mendasar dari kegiatan di lokasi, dalam rangka menandai daerah-daerah yang membutuhkan perhatian. Direkomendasikan agar staf di lokasi melaksanakan audit internal pada bulan Desember 2000 atau Januari 2001 dan selanjutnya setiap enam bulan memonitor kemajuan di dalam pengelolaan lingkungan. Juga direkomendasikan bahwa audit internal tambahan dilaksanakan sebelum memulai tahap operasional baru dan saat penyelesaian tahapan-tahapan ini. Temuan-temuan dan rekomendasi-rekomendasi dari audit sekarang ini dan internal audit dilakukan dengan cheklist perlu dikomunikasikan dengan pengelola di lokasi, dan langkah-langkah perlu diambil untuk melaksanakan rekomendasi-rekomendasi dan dipadukan dalam perencanaan kerja selanjutnya.

iv

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

SINGKATAN DAN AKRONIM


# AMDAL FSC ha HPH HTI ISO 14001 ITTO m
3

nomor, misalnya Prinsip FSC # 6 Analisis Menganai Dampak Lingkungan Forest Stewardship Council hektar Hak Pengusahaan Hutan Hutan Tanaman Industri Standar internasional Sistem Manajemen Lingkungan International Tropical Timber Organisation meter kubik PT. Aya Yayang Indonesia South and Central Kalimantan Production Forest Project

PT. AYI SCKPFP

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Daftar Isi
PREFACE..................................................................................................................................................................................i RINGKASAN...........................................................................................................................................................................ii SINGKATAN DAN AKRONIM .............................................................................................................................................v 1 2 2.1 2.2 2.3 2.4 3 3.1 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.3 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.5 3.5.1 3.5.2 3.5.3 3.5.4 3.5.5 3.5.6 3.6 3.6.1 3.6.2 3.6.3 3.6.4 3.6.5 3.6.6 3.7 3.8 3.8.1 3.8.2 3.8.3 3.8.4 3.9 3.10 3.11 3.12 4 4.1 PENDAHULUAN .......................................................................................................................................1 LATAR BELAKANG ................................................................................................................................2 Tujuan...........................................................................................................................................................2 Ruang Lingkup .............................................................................................................................................2 Kriteria Audit................................................................................................................................................4 Ringkasan Proses Audit................................................................................................................................5 TEMUAN-TEMUAN AUDIT ...................................................................................................................6 Petunjuk Kegiatan Tertulis ...........................................................................................................................6 Peralatan dan Bahan Bakar...........................................................................................................................6 Penggunaan Peralatan...................................................................................................................................7 Pengisian Bahan Bakar.................................................................................................................................7 Perawatan Peralatan......................................................................................................................................8 Bahan-bahan Berbahaya .............................................................................................................................10 Limbah dan Puing dari Pemrosesan ...........................................................................................................12 Limbah........................................................................................................................................................12 Pengolahan Debris......................................................................................................................................13 Air Limbah .................................................................................................................................................14 Tindakan Perlindungan Terhadap Air ........................................................................................................15 Daerah Penyangga dan Kawasan Lindung .................................................................................................15 Pembangunan Jembatan .............................................................................................................................15 Pembangunan Drainase ..............................................................................................................................16 Pembuangan Debris Dari Kegiatan Pembangunan .....................................................................................17 Penyimpanan Yang Aman dan Penggunaan Polutan Potensial ..................................................................17 Rencana Tindakan Darurat .........................................................................................................................17 Tindakan Perlindungan Tanah....................................................................................................................17 Kegiatan Pembersihan ................................................................................................................................18 Aktifitas Pembuatan Jalan ..........................................................................................................................18 Pemanenan..................................................................................................................................................18 Pengurangan Pergerakan Kendaraan ..........................................................................................................18 Penutupan dan Perbaikan Jalan ..................................................................................................................18 Tindakan Pengontrolan Erosi .....................................................................................................................18 Tindakan Perlindungan Keanekaragaman Hayati.......................................................................................19 Pencegahan Kegiatan-kegiatan Ilegal atau Merugikan dan Kebakaran......................................................19 Illegal Logging ...........................................................................................................................................19 Perladangan Berpindah...............................................................................................................................19 Pemakaian Lainnya Yang Merugikan pada Hutan .....................................................................................19 Kebakaran...................................................................................................................................................20 Tindakan Perlindungan Kebudayaan..........................................................................................................20 Penilaian Pasca Penebangan.......................................................................................................................20 Masalah-masalah Khusus pada Hutan Tanaman ........................................................................................21 Monitoring..................................................................................................................................................22 KESIMPULAN AUDIT DAN REKOMENDASI ..................................................................................23 Kesesuaian dengan kriteria audit ................................................................................................................23

vi

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

4.2 4.3 5

Rekomendasi untuk tindakan perbaikan .....................................................................................................23 Saran-saran untuk audit yang akan datang .................................................................................................28 REFERENSI .............................................................................................................................................29

Daftar Lampiran
Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Prinsip FSC # 6 ..................................................................................................................................................30 Prinsip FSC # 10 ................................................................................................................................................33 Tabel V-5 matriks dari UKL HPHTI PT Aya Yayang Indonesia.......................................................................36 Daftar Isian Audit HTI .......................................................................................................................................43

Daftar Tabel
Tabel 3-1: Sumber limbah di HTI Murni dan metode pembuangan limbah. ..........................................................................12 Tabel 3-2: Terjadinya debris and metode pemusnahan di HTI Murni....................................................................................13

Daftar Gambar
Gambar 2-1: Areal Penanaman di HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia. .............................................................................3

Daftar Foto
Foto 3-1: Kebocoran dan tumpahan bahan bakar yang mengakibatkan pencemaran tanah di sekitar tangki solar di Panaan..8 Foto 3-2: Katup yang bocor dan usaha yang dilakukan belum memadai untuk menampung kebocoran, menyebabkan pencemaran tanah di sekitar salah satu tangki solar di Panaan. ................................................................................................9 Foto 3-3: Perawatan mobil di Panaan dapat menyebabkan pencemaran pada tanah. Perhatikan kotoran di bawah traktor dan penyimpanan oli yang tidak memadai di latar belakangnya. ..................................................................................................10 Foto 3-4: Debris yang berasal dari pengolahan kayu yang ditinggalkan di pinggir jalan di HTI. Perhatikan penyimpanan drum oli yang buruk................................................................................................................................................................14 Foto 3-5: Sengon atau Albizia (Paraserianthes falcataria) ditanam pada sisi Sungai Ramuyung pada areal yang ditetapkan sebagai daerah penyangga. .....................................................................................................................................................16

vii

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Pendahuluan
Laporan ini merinci temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan audit lingkungan yang dilaksanakan di HTI Murni milik PT. Aya Yayang Indonesia (PT. AYI). Kegiatan di HTI Murni dimulai tahun 1990, dihentikan pada tahun 1996, dan dimulai kembali pada tahun 1999 dengan masuknya South and Central Kalimantan Production Forest Project (SCKPFP). Saat ini, pembukaan wilayah telah dilakukan pada skala kecil (secara effektif penebangan dilakukan pada sebagian kecil dari hutan tanaman) untuk menghasilkan 100 ha plot penanaman kembali sebagai bagian dari input SCKPFP untuk HTI. SCKPFP juga telah membantu HTI dalam menentukan petak pertumbuhan dan membuat demplot. Sebagai tambahan, jalan logging yang telah ditinggalkan yang melintas sepanjang HTI telah dibuka kembali sebagai jalan masuk ke areal logging yang baru di dalam HPH yang berdampingan; pekerjaan ini telah dilaksanakan oleh HPH dan tanpa ada partisipasi dari HTI (atau SCKPFP). Dan yang juga bertambah adalah fasilitas pendukung kegiatan seperti akomodasi kantor, fasilitas workshop/bengkel, penyimpanan bahan bakar, dan tempat pembuangan limbah. Selama audit lingkungan ditemukan bukti bahwa kesadaran lingkungan hanya mendapat sedikit perhatian di masa lalu, tidak pula dalam pembukaan kembali jalan logging menuju HPH yang baru dilakukan. Perhatian utama tertuju pada pembiayaan jangka pendek dari kegiatan. Mr Gareth Ward, Ahli Audit Lingkungan dari SCKPFP, telah melaksanakan audit pada tanggal 21 dan 22 September 2000 diikuti dengan kunjungan lapangan pada tanggal 7 September 2000. Sejumlah staf dari PT. Aya Yayang Indonesia yang memberikan bantuan dalam pelaksanaan audit ini adalah:

Joko Pramono, Kepala Silvikultur; dan Harioyo, operator bulldozer.

Telah dicoba untuk bertemu dengan dengan beberapa staf penting, termasuk Bapak Herawan, Site Manager HTI Murni, namun sayangnya hal ini tidak mungkin untuk dilakukan karena keterbatasan waktu.

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Latar Belakang
Bagian dari laporan audit ini berisikan latar belakang informasi sehubungan dengan audit yang diadakan di HTI Murni. Termasuk didalamnya adalah tujuan dari audit, ruang lingkup dari audit, kriteria audit dan ringkasan singkat dari proses audit.

2.1

Tujuan
Sebagai bagian dari komponen lingkungan dari SCKPFP, serangkaian audit lingkungan telah dilaksanakan pada beberapa lokasi berbeda yang dilibatkan dalam kegiatan perhutanan oleh PT. Barito Pacific Timber / PT. AYI. Audit ini merupakan bagian dari program audit tersebut. Tujuan dari audit ini adalah untuk melaksanakan audit lingkungan secara teknis dari kegiatan yang dilaksanakan oleh PT. AYI di dalam HPH-nya (HTI Murni); audit ini tidak termasuk areal yang berdampingan yang dikenal sebagai HTI Transmigrasi (Gambar 2-1). Proses audit memungkinkan pengumpulan informasi mengenai lingkungan dengan cara resmi yang dapat ditiru pada waktu selanjutnya, dalam rangka memonitor kemajuan dalam pengelolaan lingkungan di lokasi. Pengelolaan lokasi dapat menggunakan temuan-temuan dari audit lingkungan ini untuk meningkatkan pengelolaan lingkungan dari operasional yang dilaksanakan di lokasi, dengan dukungan dari SCKPFP, secara memadai. Audit ini juga memberikan kesempatan bagi auditor untuk membuat peralatan audit yang dapat digunakan oleh staf di lapangan atau sub-kontraktor untuk melaksanakan audit lingkungan internal di masa datang, untuk melanjutkan pengawasan terhadap penyelenggaraan lingkungan. Dalam diskusi dengan Spesialis Manajemen Lingkungan dari SCKPFP, diputuskan bahwa audit ini harus bersifat teknis dan oleh karena itu tidak memperhatikan masalah-masalah lain seperti persoalan keselamatan dan kesehatan.

2.2

Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari audit ini terbatas pada kegiatan teknis yang terdapat di lokasi, termasuk didalamnya adalah:

pembangunan jalan penebangan kayu; ekstraksi kayu; pemrosesan kayu plots demonstrasi (demplot); dan kegiatan-kegiatan pendukung seperti akomodasi perkantoran, workshop, penyimpanan bahan bakar dan pembuangan limbah. fasilitas

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Gambar 2-1: Areal Penanaman di HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia.

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Audit ini dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut: Bagian 1 Bagian 2 Bagian 3 Bagian 4 Bagian 5 Bagian 6 Bagian 7 Bagian 8 Bagian 9 Petunjuk Kegiatan Tertulis; Peralatan dan Bahan Bakar; Bahan-bahan Berbahaya; Limbah dan Puing dari Pemrosesan; Tindakan Perlindungan terhadap Air; Tindakan Perlindungan terhadap Tanah; Tindakan Perlindungan terhadap Keanekaragaman Hayati; Pencegahan Kebakaran dan Kegiatan Illegal; Tindakan Perlindungan terhadap Kebudayaan;

Bagian 10 Penilaian Pasca Tebangan; Bagian 11 Pertanyaan Khusus pada Hutan Tanaman Tambahan; dan Bagian 12 Kegiatan Pengawasan.

2.3

Kriteria Audit
Audit lingkungan dari HTI telah dilakukan dengan menggunakan kedua prinsip dari Prinsip dan Kriteria dari Forest Stewardship Council (FSC) dan Tindakan Mitigasi Lingkungan yang diperoleh dari Rencana Pengelolaan Lingkungan HTI (1998). Referensi khususnya diambil dari Prinsip #6 (Lampiran 1) mengenai dampak lingkungan dari kegiatan perhutanan dan Prinsip #10 (Lampiran 2) mengenai hutan tanaman, namun referensi juga dibuat untuk prinsip-prinsip dan kriteria yang lain jika memang diperlukan. Kriteria FSC dipilih sebagai kriteria dalam audit karena PT. Aya Yayang Indonesia telah menunjukkan keinginan untuk mencapai Sertifikasi FSC dalam Perhutanan Lestari untuk HPH mereka; dimana pencapaian Sertifikasi FSC juga berarti pemenuhan terhadap Petunjuk International Tropical Timber Organisation (ITTO). Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) dari HPH memasukkan tabel mengenai kriteria pengelolaan lingkungan (Tabel V-5, Februari 1998) untuk HTI Murni, dimana dampak potensial dari kegiatan dicantumkan, bersama dengan langkahlangkah yang harus dilaksanakan untuk melindungi lingkungan (Lampiran 3). Tindakan mitigasi ini memberikan titik awal dalam pembuatan kriteria audit. Sebagai tambahan, beberapa ahli dari SCKPFP telah melakukan analisis pengelolaan lingkungan, sebagai bagian dari penelitian mereka terhadap pengelolaan HTI. Ini telah menghasilkan beberapa rekomendasi yang berdasarkan kepada Praktek Pengelolaan Internasional yang Terbaik; ini telah digunakan untuk memberikan petunjuk tambahan jika diperlukan. Karena audit ini bersifat teknis, ini tidak dimaksudkan untuk melaksanakan Audit Lengkap menurut peraturan nasional. Saat ini SCKPFP tengah melengkapi Daftar Peraturan dan Persyaratan Lingkungan; jika sudah lengkap maka akan dapat dilakukan audit lengkap.

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

2.4

Ringkasan Proses Audit


Proses audit terdiri dari tahapan-tahapan berikut:

Pembuatan protokol audit; wawancara dengan staf utama di lokasi; pengisian kuesioner audit; tinjauan dokumen; dan kunjungan langsung ke lokasi.

Beberapa foto diambil oleh auditor untuk kepentingan referensi.

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Temuan-Temuan Audit
Bagian dari laporan audit ini memberikan rincian mengenai temuan-temuan dalam audit pada Bagian 2.2.

3.1

Petunjuk Kegiatan Tertulis


Kriteria FSC # 6.5 menghendaki agar petunjuk tertulis dibuat dan dilaksanakan dalam pengendalian erosi; untuk memperkecil kerusakan hutan selama penebangan, pembangunan jalan dan seluruh gangguan mekanis lainnya; dan untuk melindungi sumber-sumber air. Saat ini tidak terdapat petunjuk tertulis untuk pelaksanaan berbagai kegiatan di dalam HTI. Sebagai hasilnya, para operator dibiarkan melakukan berbagai tugas dan diasumsikan bahwa mereka mengerti bagaimana melakukannya. Bagaimanapun, staf SCKPFP saat ini bekerja sama dengan pihak pengelola HTI untuk menghasilkan petunjuk tertulis yang terperinci, meskipun masih belum final sampai sekarang. Jika sudah dihasilkan, petunjuk ini akan disediakan bagi staf di lapangan dan pelatihan diberikan dalam pelaksanaannya. Hingga sekarang, hanya sedikit pelatihan formal yang diberikan pada operator mengenai metode yang tepat untuk pelaksanaan tugas mereka, dengan permasalahan perlindungan terhadap tanah dan air yang terabaikan. Sangat sedikit pengawasan dan peninjauan teknis dari kegiatan (sebagai kebalikan dari administrasi). Baru-baru ini SKCPFP telah melaksanakan beberapa pelatihan dan supervisi terhadap kegiatan pembukaan lahan, namun belum diberikan pelatihan dalam kegiatan yang lebih berpotensi untuk merusak, seperti pembangunan jalan. Tabel V-5 dari Rencana Pengelolaan Lingkungan HTI (Februari 1998, dalam Lampiran 3) tidak berisi daftar singkat mengenai tindakan perlindungan terhadap lingkungan yang harus dilaksanakan di lapangan untuk mengurangi sejumlah konsekuensi lingkungan dari kegiatan perhutanan. Sayangnya, staf bagian produksi yang dilibatkan dalam audit ini terlihat tidak begitu perduli mengenai hal ini. Meskipun tindakan ini bukanlah perintah kerja, mereka menyediakan rincian untuk membantu dalam pengelolaan lingkungan di lokasi dan hal ini harus dilaksanakan. Bagaimanapun, dalam kunjungan lapangan, tidak ditemukan bukti dilaksanakannya tindakan pengendalian lingkungan di lapangan.

3.2

Peralatan dan Bahan Bakar


Peralatan berikut biasanya digunakan dalam kegiatan di PT. AYI:

bulldozer; pemadat jalan (grader); truk; mobil 4x4; gergaji chainsaw; dan gergaji sirkular yang dapat dipindahkan.

Alat-alat berat yang digunakan di HTI Murni untuk pembukaan kembali jalan logging yang baru dilakukan adalah dipinjam dari luar lokasi HTI. Ada beberapa alat berat yang kecil ditempatkan di camp Panaan yang bersifat permanen.
6

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

3.2.1

Penggunaan Peralatan Terpisah dari pelatihan mengenai metode penebangan yang baru diberikan oleh staf SCKPFP, pelatihan formal yang kecil seharusnya diberikan kepada operator dalam penggunaan peralatan atau dalam tugas yang harus mereka laksanakan, terutama sehubungan dengan masalah perlindungan tanah dan air. Sebagai akibatnya, para operator mungkin melakukan kegiatan yang secara potensial memiliki dampak lingkungan yang besar (misalnya pembangunan jalan) tanpa tahu bagaimana cara memperkecil dampak tersebut. Ditambah lagi dengan kurangnya perencanaan kerja yang memadai, menyebabkan situasi pada jalan yang dibangun tanpa drainase yang memadai dan kemiringan yang tidak mencukupi, dan ini diamati selama kunjungan lapangan. (Hal ini harus dicatat, karena bagaimanapun juga, pekerjaan ini telah dilaksanakan oleh dan untuk HPH.)

3.2.2

Pengisian Bahan Bakar Karena terbatasnya kegiatan yang sekarang dilaksanakan di HTI Murni, maka tidak diperlukan bahan bakar dalam jumlah besar dalam hutan tanaman itu sendiri. Jika perlu dilakukan pengisian bahan bakar di lapangan, drum bahan bakar akan diangkut ke lokasi dengan traktor dan pengisian dilakukan dengan tangan. Di Panaan, tangki dan drum minyak berisi bahan bakar yang disimpan adalah sebagai berikut :

2 x 12 000 liter tangki solar; 25 x 40 drum bensin; dan 5 x 40 drum oli.

Karena tidak satupun dari drum atau tangki bahan bakar statik yang disediakan dengan tempat penyimpanan sekunder dari berbagai jenis, bahan bakar tersebut telah bocor ke tanah disekelilingnya. Gudang penyimpanan untuk 40 drum di Panaan terlihat drainasenya diarahkan ke lembah didekatnya melalui bagian belakang bangunan, dan berpotensi untuk memasuki anak sungai/air didekatnya. Staf di lapangan hanya menunjukkan sedikit kepedulian terhadap hal ini, dengan kepercayaan bahwa tidak satupun pohon yang mati secara langsung sebagai akibat polusi hidrokarbon, maka tidak ada tanda-tanda suatu permasalahan. Ditambah lagi, tidak terdapat instruksi khusus untuk menempatkan tangki mobil atau drum, kriteria utamanya hanyalah dimana mereka merasa cocok meletakkannya. Praktek penanganan bahan bakar tidak mencukupi di HTI Murni dengan mempertimbangkan adanya bukti kebocoran di atas tanah dari titik-titik pengisian (lihat Foto 3-1). Pada camp Panaan, areal yang berada dekat dengan tangki bahan bakar telah dicemari hidrokarbon. Selang pengisian dibiarkan menetes atau tergeletak di atas tanah dan bahan bakar terpercik selama proses pengisian, terutama jika pengisian dilakukan dengan tangan. Salah satu dari tangki solar terlihat bocor pada katupnya; telah dicoba ditampung dengan tempat penampung tetesan, namun ditemukan adanya solar dalam jumlah yang cukup berarti pada tanah. (Foto 3-2). Saat ini ada tiga metode yang digunakan untuk pembuangan limbah bahan bakar di camp Panaan:

sebagian limbah minyak dikumpulkan dan digunakan oleh operator chainsaw sebagai pelumas gergaji; bahan bakar sisa terkadang digunakan untuk menyalakan api limbah; dan

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

limbah hidrokarbon dapat dialirkan ke dalam tanah tempat air/minyak berkumpul dan dibiarkan meresap.

Praktek pembuangan limbah bahan bakar ini belum mencukupi dan praktek dengan menumpuk untuk membuang bahan bakar harus dihentikan sesegera mungkin. Limbah hidrokarbon perlu dikumpulkan dan disimpan untuk digunakan kembali atau dibuang keluar lokasi. 3.2.3 Perawatan Peralatan Jika memungkinkan, peralatan dirawat di lapangan dan hanya dibawa kembali ke bengkel di Panaan jika terdapat masalah besar yang membutuhkan fasilitas tambahan. Fasilitas workshop tidak terlalu luas. Foto 3-1: Kebocoran dan tumpahan bahan bakar yang mengakibatkan pencemaran tanah di sekitar tangki solar di Panaan.

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Foto 3-2: Katup yang bocor dan usaha yang dilakukan belum memadai untuk menampung kebocoran, menyebabkan pencemaran tanah di sekitar salah satu tangki solar di Panaan.

Terdapat bukti adanya pencemaran dari tanah disekitar, baik dari kegiatan perawatan atau limbah pembuangan dari workshop (Foto3-3). Oli dan bahan bakar dibiarkan bocor dan menetes ke atas tanah, limbah yang tercemar oli dibiarkan berada di tanah terbuka, dan air kotor dari pencucian mobil dan suku cadang mengalir di atas tanah dan ke daerah sekitar. Peralatan bekas dan limbah mobil yang lain dibiarkan di atas tanah tanpa areal penyimpanan tertentu. Areal penyimpanan ini dapat mencemari tanah di sekitarnya. Tidak ada perawatan di lapangan yang ditemui selama kunjungan lapangan. Terdapat potensi pencemaran terhadap tanah dan air terutama dari praktek penanganan bahan bakar dan penyimpanan, dan juga degradasi sumber daya tanah dan air dari penggunaan dan perawatan peralatan. Ini berbeda dengan Prinsip #6 FSC yang menyatakan bahwa Pengelolaan Hutan harus menjaga sumber daya air, tanah dan, dengan demikian juga, memelihara fungsi ekologis dan integritas hutan. Peningkatan dari penyimpanan bahan bakar dan prosedur penanganannya

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

adalah sebuah area yang menunjukkan sedikit kesulitan dan memiliki potensi untuk mengurangi dampak lingkungan dari pekerjaan yang dilaksanakan di HTI Murni, dan juga menekan pengeluaran untuk bahan bakar dengan mengurangi bahan bakar yang terbuang. Sama halnya dengan kegiatan perawatan dan pembuangan limbah bahan bakar dapat ditingkatkan dengan sedikit kesulitan dan biaya yang kecil. Tenaga ahli dari SCKPFP akan bekerja sama dengan staf HTI untuk membuat prosedur operasional standar (SOP, standard operating procedures) untuk mengatasai banyaknya persoalan ini. Foto 3-3: Perawatan mobil di Panaan dapat menyebabkan pencemaran pada tanah. Perhatikan kotoran di bawah traktor dan penyimpanan oli yang tidak memadai di latar belakangnya.

3.3

Bahan-bahan Berbahaya
Berikut ini adalah bahan-bahan berbahaya atau bahan yang berpotensi merusak lingkungan yang digunakan dalam HTI:

10

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

insektisida (Basudin mengandung diazon); herbisida (Round Up, Paracol, Gramoxine dan Paraquat) pupuk (Urea, SP36, NPK); fungisida (Nanzate, Diathane M-45 dan Ridomil); dan sejumlah kecil bahan untuk bangunan seperti semen dan cat.

Barang-barang ini disimpan di dalam warehouse umum dengan lantai tanah dan bukan tempat penyimpanan sekunder; kantong-kantong dan kotak-kotak nampak telah robek dan tempat penyimpanan bahan kimia cair nampak bocor. Ini memberikan potensi bagi terjadinya pencemaran yang masuk ke dalam tanah disekitarnya dan sumber-sumber air. Sebaiknya bahan-bahan ini tidak disimpan dalam jumlah yang besar, dan penyimpanannya, meskipun membutuhkan peningkatan, tidak menunjukkan tingkat resiko yang sama dengan praktek penanganan bahan bakar dan peralatan. Meskipun demikian, tenaga ahli SCKPFP telah bekerja sama dengan staf HTI untuk membuat prosedur operasional standar (SOP = standard operating procedures) untuk mengatasai banyaknya persoalan ini. Rupanya, seorang mandor mengawasi penggunaan bahan kimia di lapangan, namun tidak ada aturan resmi mengenai pengawasan penggunaannya, kepercayaan yang selama ini adalah mandor tersebut akan secara otomatis mengawasi penggunaannya. Pelatihan baru-baru ini telah diberikan dalam penggunaan bahan kimia oleh staf SCKPFP, namun sebelumnya sangat sedikit pelatihan yang diberikan. Dikesampingkannya perhatian terhadap penggunaan bahan kimia merupakan sesuatu hal yang berharga, sehingga dicoba untuk mencampur jumlah sesuai kebutuhan saja dan memastikan tidak terdapat sisa bahan. Staf di lapangan menyatakan bahwa bahan kimia yang dicampur, diangkut melalui sungai ke tempat penggunaan, dan tidak tercampur dalam anak sungai/air terdekat. Nampaknya peralatan dicuci di dalam tempat air dan tidak di sungai, meskipun air dari cucian peralatan dibuang langsung ke tanah. Tidak ada penanganan bahan kimia yang diamati sepanjang kunjungan lapangan; diskusi dengan staf SCKPFP menunjukkan tidak ada kegiatan pengelolaan hutan tanaman yang dilaksanakan antara tahun 1996 hingga masuknya proyek ini, sehingga penggunaan bahan kimia yang digunakan akhir-akhir ini sudah dilakukan dibawah pengawasan dari SCKPFP. Jumlah yang relatif kecil dari bahan kimia yang berbahaya dan bahan kimia dalam pertanian yang saat ini disimpan di lokasi tidak menunjukkan bahaya terhadap lingkungan yang penting, meskipun beberapa tempat penyimpanan nampak mengalami kebocoran. Ketika kegiatan di HTI Murni bertambah, jumlah dari bahan kimia berbahaya juga akan bertambah, dan pemakaian tempat penyimpanan sekunder pada areal penyimpanan, rencana penanganan tumpahan dan peralatan sangatlah diperlukan. SCKPFP saat ini menyiapkan pelatihan dalam penggunaan bahan kimia pertanian. Pengelola HTI nantinya akan bertanggung jawab untuk mengelola pelatihan ini dan menjamin pengawasan yang cukup dalam penanganan dan penggunaan bahanbahan kimia ini. Pertimbangan mungkin dapat diberikan untuk membuat pengendalian secara biologi untuk mengurangi jumlah bahan kimia yang dibutuhkan.

11

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

3.4

Limbah dan Puing dari Pemrosesan


Bagian ini mencakup limbah cair dan padat yang dihasilkan selama kegiatan kehutanan pada PT. AYI, dan dari fasilitas tambahan seperti workshop,kantor, dan akomodasi di Panaan. Ditambah lagi dari limbah yang dihasilkan oleh manusia, bagian ini juga mempertimbangkan sisa-sisa kayu yang dihasilkan selama kegiatan berlangsung di HTI Murni. Sisa kayu yang dimaksud adalah limbah alam, seperti potongan-potongan kayu yang dihasilkan selama kegiatan penebangan.

3.4.1

Limbah Limbah-limbah yang dihasilkan di lokasi adalah sebagai berikut:


Peralatan rusak keseluruhan unit, suku cadang, ban dan bahan bakar; drum bahan bakar dan oli; kotak dan bahan pengepakan; plastik; kaca; limbah dapur; dan air limbah pembersihan dan pencucian mobil.

Tabel 3-1 menampilkan metode-metode pembuangan untuk setiap jenis limbah: jumlah yang pasti dari jenis limbah ini tidak diketahui. Tabel 3-1: Sumber limbah di HTI Murni dan metode pembuangan limbah.
Jenis Limbah Semua unit peralatan Suku cadang peralatan Metode pembuangan Limbah ini di dibiarkan begitu saja didekat fasilitas bengkel atau di areal penanaman. Jika memungkinkan maka barang-barang ini digunakan kembali dan disimpan di gudang. Jika suku cadang ini tidak dapat digunakan maka ditumpuk disekitar lokasi bengkel atau dibiarkan di areal penanaman jika pemeliharaan dilakukan di lapangan. Digunakan kembali. Dikumpulkan, dihancurkan dan dikubur. Kontainer Round Up digunakan ulang sebagai kontainer minuman keras. Dialirkan ke genangan minyak diatas tanah, atau digunakan kembali oleh operator gergaji mesin. Kotak digunakan kembali jika memungkinkan atau dibakar. Plastik digunakan kembali jika memungkinkan atau dbakar. Digunakan kembali atau ditimbun di areal sekelilingnya. Digunakan untuk makanan ternak pada basis ad hoc, dibakar atau ditimbun di areal sekelilingnya. Jika tidak dapat digunakan lagi, limbah-limbah ini ditimbun diareal sekelilingnya atau dibakar.

Drum-drum Kontainer Bahanbahan Kimiawi Minyak dan Bahan Bakar Kotak Kardus Plastik Kaca Limbah Dapur Limbah Kantor

Tidak ada limbah yang dibuang diluar lokasi, sehingga peralatan yang ditelantarkan, suku cadang rusak dan limbah-limbah lainnya yang tidak dapat dimusnahkan secara biologis bertumpuk di Pananaan atau di lapangan. Sebuah perencanaan diperlukan untuk memindahkan dan memusnahkan limbah-limbah ini dengan cara yang lebih dapat diterima lingkungan.

12

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Potongan-potongan logam dan suku cadang alat berat seperti baterai, ban-ban dan filter dapat dijual ke pembeli-pembeli potensial di Banjarmasin atau pusat-pusat lokal lainnya. Cara ini memungkinkan pemindahan dan pembuangan limbah secara efisien dengan biaya yang efektif dari lokasi. Limbah plastik wadah bahan-bahan kimia (dan barang-barang lainnya yang dapat digunakan ulang) dapat diberikan kepada penduduk desa Panaan jika barang-barang ini bermanfaat dan dapat digunakan kembali secara aman. Kebiasaan membiarkan begitu saja limbah-limbah yang tidak dapat diuraikan secara biologis perlu dihentikan; semua jenis limbah ini perlu diangkut kembali ke Panaan untuk disertakan dalam perencanaan pemusnahan limbah. Sebagai tambahan, pada limbah-limbah workshop juga terdapat sejumlah limbah yang berasal dari kantor, mess dan kumpulan akomodasi lain disekitar lokasi. Situasi ini dapat diperbaiki secara bermakna dengan mengembangkan fasilitas pemusnahan limbah terpusat yang memungkinkan penampungan dan pembakaran limbah di arel yang spesifik dimana proses tersebut dapat diawasi. 3.4.2 Pengolahan Debris Kegiatan kegiatan berikut menghasilkan limbah-limbah alam di lapangan :

Pengerjaan jalan jatuhan pohon-pohon dan semak-semak; Pemotongan pucuk pohon dan kayu-kayu tidak mermanfaat lainnya; dan Kegiatan pembangunan limbah kayu.

Tabel 3-2 menunjukan bagaimana berbagai macam jenis limbah ini dimusnahkan. Jumlah debris yang dihasilkan di HTI murni cukup kecil karena sedikitnya aktifitas yang berlangsung ditempat tersebut. Sumber utama debris alam adalah adanya pembukaan kembali jalan logging lama baru-baru ini (oleh dan untuk HPH) dan proses pembersihan 100 ha tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria, Albizia). Tabel 3-2: Terjadinya debris and metode pemusnahan di HTI Murni.
Jenis Limbah Tanah dari pembangunan jalan Debris yang berasal dari pohon dan pucuk pohon pada pembangunan jalan Debris kayu dari pemotongan dan pengolahan Debris yang berasal dari pembangunan Metode Pemusnahan Tanah digunakan untuk pembuatan jalan atau didorong ke tegakan hutan sekelilingnya. Kayu-kayu yang memiliki nilai komersil dipindahkan dan debris yang tersisa didorong ke tegakan hutan sekelilingnya. Kemungkinan dibiarkan ditempat jatuhnya sebagai kompos.. Digunakan oleh staf sebagai kayu bakar.

Tanah, kayu dan pucuk pohon dari pembangunan jalan HPH didorong ke ke tegakan sekelilingnya dimana akan menyebabkan kerusakan terhadap vegetasi yang tersisa, dan dalam pengamatan terlihat menutupi anak sungai/air kecil. Pertimbangan lebih jauh akan diberikan pada Bagian 3.5 dan 3.6. Limbah kayu dari kegiatan pembersihan dan pengolahan Sengon dibiarkan pada lokasi. Pucuk dan dahan yang tidak dapat diolah ditinggalkan di areal penanaman untuk difungsikan sebagai limbah hijau dan menghasilkan kompos. Limbah kayu dari kegiatan pengolahan menggunakan pisau sirkuler bergerak terkumpul disisi

13

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

jalan di dalam HTI Murni (Foto 3-4); baik tujuan akhir dari debris ini maupun lokasi terbaik untuk kegiatan pemrosesan belum ditentukan. Jumlah limbah dari proses pemanenan relatif besar karena Sengon tidak menghasilkan tingkat pertumbuhan seperti yang diprediksikan selama awal 1990an. Akibatnya, hanya kurang dari 10m3 per ha yang bermanfaat dalam industri kayu sedangkan sisanya adalah limbah. 3.4.3 Air Limbah Jumlah air limbah yang dihasilkan HTI Murni sedikit karena sedikitnya kegiatan yang dilakukan , tetapi sumber-sumber yang ada adalah:

Air limbah sanitasi; Air limbah pencucian; Air cucian peralatan; dan Aliran air dari hujan lebat.

Dari semua sumber air limbah ini, hanya yang berasal dari toilet di Panaan yang dialirkan langsung ke sebuah septik tank. Isi dari septik tank ini diisi ke dalam tanah sekelilingnya dan tidak memerlukan pengosongan segera. Semua limbah cair lainnya dialirkan langsung ke lingkungan, khususnya di lapangan. Perhatian khusus diberikan berkaitan fasilitas workshop dimana limbah cair dapat terkontaminasi oleh hidrokarbon. Foto 3-4: Debris yang berasal dari pengolahan kayu yang ditinggalkan di pinggir jalan di HTI. Perhatikan penyimpanan drum oli yang buruk.

14

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

3.5

Tindakan Perlindungan Terhadap Air


Meskipun fakta menunjukan sedikit sekali aktifitas yang dilakukan di HTI Murni , staf setempat dituntut untuk memahami pentingnya perlindungan terhadap anak sungai/air. Karena aliran permukaan dari areal hutan tanaman lebih besar dari aliran permukaan pada hutan alam, resiko banjir dan erosi cenderung lebih besar. Hal ini tergantung pada langkah-langkah yang dilakukan di lokasi untuk mencegah penutupan dan polusi sumber-sumber air di HTI Murni, tindakan-tindakan tersebut meliputi:

Daerah penyangga dan kawasan lindung; Pembangunan perlintasan anak sungai/air yang sesuai untuk mencegah erosi dan masalah pengendapan lumpur yang akan terjadi selanjutnya.; Pembangunan drainase yang sesuai untuk mencegah erosi dan masalah pengendapan lumpur yang akan terjadi selanjutnya; Pemusnahan debris dari kegiatan konstruksi secara aman; Penggunaan dan penyimpanan polutan-polutan potensial; dan Rencana tindakan darurat untuk digunakan jika terjadi peristiwa polusi.

3.5.1

Daerah Penyangga dan Kawasan Lindung Dalam konteks ini daerah penyangga adalah areal daratan yang ditempatkan disekitar anak sungai/air untuk mencegah kerusakan terhadap sumber-sumber air. Dalam hal ini, kawasan lindung biasanya adalah sebuah areal yang ditandai pada peta yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan berupa sebuah lahan yang harus dilindungi. Hal ini baik untuk kepentingan lahan itu sendiri atau untuk melindungi sumber-sumber alam yang letaknya berdekatan termasuk sumbersumber air. Para staf telah diingatkan adanya ketentuan aturan mengenai daerah penyangga dan diharuskan untuk memberlakukan kawasan lindung sepanjang limapuluh meter pada tiap sisi sungai, tetapi hanya sedikit bukti bahwa hal tersebut dilaksanakan dilapangan. Sebagai tambahan, kegiatan penanaman di masa lalu kelihatannya tidak menaruh perhatian akan perlunya kawasan lindung disekeliling sungai utama: Sengon (Paraserianthes falcataria, Albizia) diketahui telah ditanam dipinggir sungai Ramayung (Foto 3-5) yang ditetapkan sebagai kawasan lindung. Ini kemungkinan merupakan bagian dari kebakaran hutan di areal, sepuluh tahun sebelum penanaman dimulai diawal 1990-an. Mungkin lebih baik untuk menanami areal dengan spesies asli yang cocok, tetapi setidaknya Sengon mampu menutupi tanah secara cepat dan menstabilkan tanah.

3.5.2

Pembangunan Jembatan Pembangunan perlintasan anak sungai/air yang tepat pada jalan merupakan hal yang penting untuk perlindungan sumber-sumber air yang ada didalam HTI, tetapi tidak terdapat pedoman mendetail atau instruksi kerja untuk pembangunan jembatan, dan operator lapangan tidak mendapat pelatihan berkaitan dengan pembangunan jembatan. Selama kegiatan audit, staf lokasi mengesankan bahwa jembatan merupakan perhatian penting karena anak sungai/air cenderung untuk meluap; karenanya para staf meyakinkankan bahwa jembatan yang diperlukan tetap dibangun dan dipelihara. Walau demikian, hanya sedikit bukti yang terlihat dilapangan, dimana jembatan utama ditempatkan dan dipelihara, tetapi anak

15

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

sungai/air kecil ditemukan tertutup atau terhalang dengan timbunan tanah, khususnya pada jalan logging yang dibuka kembali baru-baru ini. Anak sungai/air yang tertutup akan mengalami banjir yang menyebabkan erosi, dan menyebabkan masalah pengendapan lumpur di hilir. Foto 3-5: Sengon atau Albizia (Paraserianthes falcataria) ditanam pada sisi Sungai Ramuyung pada areal yang ditetapkan sebagai daerah penyangga.

3.5.3

Pembangunan Drainase Pembangunan fasilitas drainase yang memadai pada jalan adalah penting (vital) untuk melindungi anak sungai/air, karena drainase yang tidak memadai memiliki potensi untuk menyebabkan erosi yang mendorong terjadinya masalah pengendapan lumpur di daerah tangkapan air lainnya. Drainase yang tidak memadai terdapat pada jalan-jalan dan khususnya pada jalan logging HPH yang dibuka kembali pada Agustus 2000. Selama kunjungan lokasi, semua drainase yang diamati terlihat telah terkikis oleh grader, dan tidak digali dengan menggunakan ekskavator; yang belakangan ini dapat menghasilkan struktur drainase yang jauh lebih baik. Sebagai akibatnya, terjadi potensi erosi pada jalan yang mendorong terjadinya masalah sedimentasi pada anak sungai/air yang berdekatan. Staf lokasi juga menyatakan telah menempatkan gorong-gorong ditempat-tempat yang memerlukan, tetapi tidak terdapat pedoman yang memungkinkan mereka untuk membantu masalah ini. Akibatnya, lokasi dimana gorong-gorong ditempatkan tergantung pada tim survey dan team pembangunan. Hingga kini hanya dua gorong-gorong yang telah dipasang.

16

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

3.5.4

Pembuangan Debris Dari Kegiatan Pembangunan Telah diamati adanya sejumlah tanah yang terdorong pada bekas-bekas pinggiran terkadang hingga anak sungai/air ketika dilakukan pembukaan kembali jalan logging HPH. Penutupan anak sungai/air menyebabkan terjadinya genangan, yang mengakibatkan tingginya kebutuhan oksigen; hal ini cenderung menyebabkan organisme yang aslinya hidup di anak sungai/air tersebut mati dan akan memiliki efek yang secara tidak langsung merugikan terhadap hewan-hewan lain yang memanfaatkan anak sungai/air tersebut sebagai sumber makanan atau sumber air. Penutupan anak sungai/air juga menyebabkan anak sungai/air tersebut meluap (banjir) selama periode hujan lebat. Banjir akan menyebabkan erosi yang mendorong terjadinya masalah sedimentasi di hilir.

3.5.5

Penyimpanan Yang Aman dan Penggunaan Polutan Potensial Penyimpanan bahan bakar dan material-material yang berpotensi bahaya lainnya diperinci pada Bagian 3.2 dan 3.3 dari laporan ini. Hal ini berpotensi untuk terkontaminasi di dalam areal HTI Murni akibat penyimpanan dan prosedur penanganan yang tidak memadai.

3.5.6

Rencana Tindakan Darurat Tidak ada rencana tindakan darurat yang dapat dilaksanakan jika terjadi peristiwa polusi terhadap air. Secara keseluruhan, konservasi sumber-sumber air di dalam areal HTI Murni merupakan kriteria kunci dari prinsip FSC #6 dan kegiatan dilokasi menunjukan adanya pelanggaran terhadap persyaratan yang ditetapkan dalam prinsip ini.

3.6

Tindakan Perlindungan Tanah


Seperti halnya perlindungan terhadap air, staf lokasi terlihat memiliki pengetahuan yang baik mengenai langkah-langkah perlindungan tanah, tetapi sekali lagi hanya ditemukan sedikit bukti yang diamati dilapangan dimana pembangunan jalan dilakukan pada dataran curam dengan drainase yang tidak memadai sesuai dengan aturan. Gundukan buangan dari pembangunan jalan terlihat disisi jalan logging HPH yang baru saja dibuka kembali, yang dapat mengalami erosi begitu hujan mulai turun. Perlindungan tanah merupakan elemen kunci dari Prinsip FSC #6 dan kegiatan yang dilakukan dan direncanakan di HTI Murni memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan tanah. Perlindungan tanah dapat dicapai melalui cara-cara yang serupa sekali dengan cara-cara perlindungan anak sungai/air. Kegiatan yang sama yang dapat menyebabkan penutupan anak sungai/air dan masalah sedimentasi sebagai contoh juga dapat menyebabkan erosi; hal ini telah didiskusikan pada Bagian 3.5. Meskipun fakta menunjukan hanya sedikit kegiatan yang dilakukan di HTI Murni, terdapat lingkup kegiatan yang memberikan dampak negatif terhadap tanah. Kegiatan-kegiatan yang berpotensi menyebabkan dampak tersebut meliputi :

Kegiatan pembersihan lahan; Pembangunan dan pemeliharaan jalan; Pemanenan dan pemrosesan kayu; dan Pergerakan kendaraan

17

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

3.6.1

Kegiatan Pembersihan Hanya sedikit kegiatan pembersihan lahan yang dilakukan di HTI kecuali untuk pembangunan jalan dan penanaman. Pembersihan lahan untuk penanaman menyebabkan dampak yang relatif kecil dan karena sisa-sisa pembersihan lahan biasanya dibiarkan ditempat, terdapat sedikit lahan gundul yang dapat menyebabkan resiko erosi.

3.6.2

Aktifitas Pembuatan Jalan Tidak terdapat rencana kerja atau intstruksi untuk pebangunan jalan dan hanya sedikit pelatihan yang dilakukan dalam pembangunan jalan dengan menggunakan metode yang sesuai; operator mesin diberitahu kemana arah jalan dan dibiarkan untuk bekerja hanya dengan berbekal informasi tersebut saja. Hasilnya adalah jalan dibangun tanpa memperhatikan perlindungan terhadap tanah. Dalam pengamatan sepanjang jalan logging HPH yang dibuka kembali ditemukan adanya gundukan sisa pekerjaan yang terdorong dari tempatnya semula ke tegakan sekelilingnya, menghasilkan gundukan tanah gundul yang akan ikut tererosi selama hujan. Sebagai tambahan, jalan seringkali terpotong pada bagian yang curam sehingga menyulitkan alat angkut dan, dikombinasikan dengan drainase yang tidak memadai, dapat menyebabkan erosi dan kerusakan terhadap struktur tanah.

3.6.3

Pemanenan Kegiatan pemanenan di HTI Murni saat ini hanya dilakukan dalam skala yang sangat kecil (dan berasal dari kegiatan pembersihan lahan dengan plot 10 ha) dan memberikan dampak yang tidak berarti, seperti sedikit lahan yang gundul dan tidak ada jalur penyaradan yang dibuat untuk pengangkutan kayu, karena kayu dipindahkan secara manual.

3.6.4

Pengurangan Pergerakan Kendaraan Pergerakan kendaraan memiliki potensi menyebabkan kerusakan tanah melalui pemadatan dan gangguan terhadap tanah, karena kendaraan mengaduk tanah terutama dalam kondisi basah. Mengurangi jumlah kendaraan yang bergerak akan mengurangi dampak potensial pada tanah. Saat ini hanya sedikit pergerakan kendaraan yang ada di HTI Murni.

3.6.5

Penutupan dan Perbaikan Jalan Sebuah jalan sementara di HTI telah ditutup dan ditanam sebagai bagian dari areal hutan tanaman disekelilingnya. Jika dimasa mendatang ada jalan lain yang harus ditutup atau jalur penyaradan yang diperlukan dan kemudian ditinggalkan, maka harus dilakukan rehabilitasi dengan penanaman untuk memastikan bekas jalan atau jalur penyaradan ini tidak akan menyebabkan resiko erosi.

3.6.6

Tindakan Pengontrolan Erosi Tidak terdapat tindakan darurat atau rencana untuk melakukan kontrol erosi di HTI Murni. Pada saat terjadi longsoran di areal produksi, sebuah perencanaan akan dibuat untuk memperbaikinya dengan segera agar dapat mengembalikan produksi sesuai jadwal. Meskipun demikian, jika peristiwa erosi tidak mempengaruhi produksi maka tidak ada tindakan yang dilakukan. Staf lokasi hanya memberi perhatian terhadap satu kejadian longsor, dalam peristiwa itu sebuah bulldozer digunakan untuk mendorong sisa-sisa pekerjaan dari tempatnya semula menuju

18

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

tanamanan sekelilingnya. Selama kunjungan lokasi, tidak ada pencegahan terhadap erosi atau kerusakan tanah lainnya yang ditemukan.

3.7

Tindakan Perlindungan Keanekaragaman Hayati


Lahan HTI sebelumnya merupakan tanah yang kosong, sekitar 3000 ha kemudian ditanami dengan spesies hutan tanaman. Pohon-pohon eksotik yang tumbuh cepat telah ditanam untuk memperoleh pengembalian investasi awal dengan cepat; hal ini didiskusikan lebih jauh pada Bagian 3.11. Hanya sedikit keanekaragaman hayati yang dtemukan pada areal kosong yang ditanami spesies tanaman eksotik , dimana sebelumnya tidak ditemukan. Tidak ada langkah-langkah perlindungan terhadap keanekaragaman hayati spesifik dan, selain dari penetapan daerah penyangga sebagai kawasan lindung, tidak terlihat adanya kebutuhan yang besar untuk tindakan aktif. Terdapat laporan mengenai adanya gibbon-gibbon dan beberapa spesies monyet dan rusa yang mulai berkembang biak di arael, tetapi tidak ditemukan informasi lebih lanjut.

3.8
3.8.1

Pencegahan Kegiatan-kegiatan Ilegal atau Merugikan dan Kebakaran


Illegal Logging Staf di lokasi HTI Murni menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai masalah dengan illegal logging karena disana tidak terdapat kayu yang dapat menarik para penebang liar.

3.8.2

Perladangan Berpindah Sekitar dua pertiga HTI telah dirambah dan diakui. Sekitar 3000 ha yang ditanam oleh PT. AYI diketahui oleh penduduk setempat sebagai milik perusahaan dan daerah ini tidak dirambah; staf di lokasi menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai masalah dengan perambahan perladangan berpindah pada areal penanaman. Desa Rakutat berada didalam wilayah HTI Murni dan mereka memiliki ladang padi sendiri. Penduduk desa telah membuat perjanjian dengan pihak HTI Murni, bahwa jika waktunya untuk membakar ladang yang ada, mereka akan memberitahu staf untuk memastikan tempat tersebut terhindar dari penyebaran api.

3.8.3

Pemakaian Lainnya Yang Merugikan pada Hutan Kriteria FSC #6.2 menyatakan bahwa perburuan yang tidak menguntungkan, penangkapan ikan, pemasangan perangkap dan pengumpulan harus dikontrol. HTI Murni memiliki bagian keamanan yang mencoba untuk mengurangi perburuan, khususnya perburuan dengan menggunakan senjata api karena hal ini dapat membahayakan para staf yang bekerja di lapangan. Adanya spesies rusa dan sejumlah burung yang menarik di lokasi hutan tanaman, menyebabkan kegiatan perburuan dan penangkapan burung tidak terelakan oleh anggota staf dan individu serta organisasi-organisasi luar. Prinsip FSC #5 menganjurkan penggunaan produk-produk hutan yang beragam secara efisien untuk memastikankeuntungan yang luas bagi lingkungan dan sosial, seperti perburuan spesies umum oleh penduduk setempat dan staf HPH dapat menguntungkan sekali, jika persyaratan perijinan lebih dulu diberikan.

19

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Sejauh yang dapat dipastikan, pihak perusahaan tidak memiliki perijinan resmi untuk menangani kegiatan perburuan. Penangkapan ikan secara kimiawi telah dilakukan sejak dulu, tetapi hal ini tetap dimaklumi walaupun larangan ini tidak dilaksanakan. Staf mengetahui bahwa penangkapan ikan menggunakan racun bukan kegiatan yang dapat diterima, tetapi diatas kekurangan itu, mereka merasa hanya sedikit yang dapat mereka lakukan untuk menghentikannya. 3.8.4 Kebakaran Peralatan pemadan kebakaran, meliputi pemukul api, pompa air portabel dan pompa air yang lebih besar, disimpan di Panaan untuk digunakan pada saat terjadi kebakaran. Sebagai tambahan, bagian keamanan ditugaskan untuk mengawasi kebakaran di areal HTI Murni; meskipun seharusnya dilakukan patroli dua kali sehari, tidak ditemukan bukti bahwa kegiatan ini telah dilaksanakan. Staf lokasi menyatakan bahwa sepuluh orang anggota bagian keamanan telah menerima beberapa pelatihan pemadaman kebakaran.

3.9

Tindakan Perlindungan Kebudayaan


Kriteria FSC # 3.3 menghendaki bahwa semua lokasi budaya yang penting bagi penduduk pribumi harus diidentifikasikan, ditandai dan dilindungi oleh menejer kehutanan. Pihak menejemen HTI telah mengetahui lokasi-lokasi budaya yang penting di areal tersebut, khususnya yang disebut Gua Tengkorak, yang terletak di perbatasan antara konsesi hutan Alam (HPH) dan HTI Murni. Karena lokasi gua ini, tidak terlihat adanya upaya yang berkaitan dengan perlindungannya. Meskipun demikian, karena gua tersebut terletak di tebing limestone yang curam, resiko aktifitas HTI ditempat tersebut kecil. Pekuburan desa Rakutat terletak pada sisi timur HTI Murni. Pada tahun 1992, staf HTI Murni telah berhubungan dengan penduduk desa untuk memasang pagar pelindung disekeliling pekuburan. Sebagai hasil dari hubungan ini, perbatasn HTI Murni sekarang menyusuri pekuburan untuk menghindari adanya gangguan.

3.10 Penilaian Pasca Penebangan


Prinsip FSC #8 menghendaki dilakukannya pengawasan dan penilaian, dan khususnya pada sebuah areal yang harus dipertimbangkan adalah lingkungan hidup dampak dari pemanenan dan kegiatan lainnya. Pemanenan, sebagai bagian dari pembersihan lahan untuk areal demonstrasi, hanya dilakukan sejak Agustus 2000 dan hanya pada areal yang terbatas. Karena dilakukan pemanenan pada areal lain di HTI Murni, sebuah program penilaian yang menyeluruh perlu dilakukan dan hasilnya dimasukan kedalam aktifitas manajemen setempat pada masa mendatang. Penilaian pasca pemanenan dapat memberikan informansi yang bermanfaat untuk pengelolaan areal penanaman dimasa mendatang, dan dapat mendorong perbaikan penyelenggaraan lingkungan di dalam HTI Murni. Karenanya, penilaian pasca penebangan harus meliputi :

Penentuan jumlah ektraksi kayu dan penilaian kerugiannya;

20

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Membandingkan antara lokasi jalan, jalur penyaradan dan landing dengan perencanaan; Penilaian kondisi jalan, jalur penyaradan dan landing; Menentukan persentase areal operasi yang terganggu; Menentukan kerusakan daerah penyangga, anak sungai/air dan kawasan lindung Memperkirakan efek-efek dari pemanenan dimasa mendatang; Penilaian kebutuhan pelatihan; dan Mengkomunikasikan hasil penilaian kepada pihak manajemen dan kru pemanenan.

3.11 Masalah-masalah Khusus pada Hutan Tanaman


Prinsip FSC #10 memberikan kriteria tambahan untuk hutan tanaman diatas dan dibawah konsesi hutan alam. Pada dasarnya, prinsip #10 menyatakan bahwa penanaman harus melengkapi kegiatan pengelolaan, mengurangi adanya penekanan, dan mendukung perbaikan dan konservasi hutan alam. Perhatian yang paling besar ditempatkan pada pengurangan efek negatif dari kegiatan hutan tanaman dan pada upaya peningkatan kondisi lingkungan setempat. Kriteria ini memberikan referensi khusus pada: pemilihan spesies yang akan ditanam, lebih cenderung spesies asli hingga eksotik; pemilihan pencegahan hama dan penyakit secara biologis daripada secara kimiawi; dan persyaratan untuk pemanenan dan pembangunan infrastruktur untuk tidak mengakibatkan kerusakan terhadap tanah dan sumber-sumber air. Beberapa kegiatan pengelolaan dimasa lampau, seperti disampaikan secara terperinci pada bagian pendahuluan dari laporan ini, membuktikan pentingnya beragam kriteria dari prinsip #10. Jika pihak HTI ingin menjadi hutan tanaman yang lestari, atau jika ingin mencari dan mendapatkan akreditasi SFC, penting untuk memberikan perhatian pada prinsip #10. Staf HTI Murni membuat rencana kerja tahunan yang menetapkan rencana kegiatan untuk tahun mendatang. Konsesi hutan alam jangka pendek dihasilkan dari perencanaan jangka pendek, jadi penanaman spesies yang memiliki siklus lebih dari 15 tahun di dalam area HTI bukan merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan. Sebagai akibatnya, mayoritas penanaman di areal HTI antara 1991 dan 1996 adalah tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria) . Spesies lain yang ditanam termasuk Gmelina (Gmelina arborea), Kupang (Parkia roxburghii) and Sungkai (Peronema canescens) , yang mengakibatkan terbatasnya corak dan usia spesies. Spesies ini dipilih karena diharapkan dapat menghasilkan kayu yang siap panen dalam waktu yang relatif singkat. Saat ini terdapat kemajuan dengan penanaman sebagian areal HTI Murni dengan Acacia mangium. A. mangium merupakan tanaman asli yang hanya ada di Indonesia timur, melintasi Garis Wallace dari Kalimantan, dan diketahui telah mengalami penyakit busuk hati dalam hutan tanaman di Malaysia, di duga berkaitan dengan suplai bibit yang buruk. Meskipun fakta menunjukan bahwa tanaman ini dapat memberikan hasil yang baik pada tingkat pengelolaan yang relatif rendah, tanaman ini merupakan bagian dari tanaman eksotik Indonesia dan karenanya harus diamati secara hatihati. Kriteria #10.8 menghendaki bahwa tidak ada spesies yang harus ditanam dalam skala besar sampai uji coba lokal dan atau pengalaman menunjukan bahwa

21

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

tanaman tersebut secara ekologis dapat beradaptasi dengan baik dilokasi, bersifat non infasif dan tidak menunjukan dampak ekologis negatif yang berarti. Untuk memperjelas persyaratan ini, hasil dari 100 ha plot uji yang telah ditanam oleh SCKPFP perlu dimonitor secara hati-hati. Antara 1996 and 1999, sedikit sekali kegiatan pengelolaan hutan tanaman yang dilakukan. Sejak dimulainya kegiatan SCKPFP, pengelolaan rumput liar seluruhnya dilakukan dengan melibatkan bahan kimiawi dimana staf lokasi menyatakan tidak ada tindakan kontrol biologis dalam perencanaan maupun pemakaiannya. Sedikit sekali insektisida yang digunakan, dan hanya dilakukan di kebun pembibitan. Spesialis SCKPFP tidak mempercayai bahwa terdapat usaha untuk mengganti pengendalian rumput liar secara kimiawi pada banyak lokasi, karena topografi dan tingginya tingkat pertumbuhan rumput liar.

3.12 Monitoring
Prinsip FSC #8 menghendaki adanya pengawasan lingkungan untuk menilai dampak dari kegiatan di lokasi terhadap lingkungan. Sebaiknya sebuah program pengawasan harus ditambahkan pada penilaian pasca penebangan dan harus meliputi pemantauan erosi, curah hujan dan data iklim lainnya, ketinggian sungai, arus, analisis kualitas air dan monitoring kematian yang tidak wajar, penyakit atau serangan serangga terhadap spesies eksotik. Semua itu akan memungkinkan perbaikan pengelolaan lingkungan, untuk disertakan dalam perencanaan kerja dan kegiatan pengelolaan dimasa mendatang. Tidak ada kegiatan pengawasan lingkungan yang berarti, yang dilaksanakan dilokasi saat ini.

22

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

4
4.1

Kesimpulan Audit dan Rekomendasi


Kesesuaian dengan kriteria audit
Kriteria audit yang digunakan dalam audit ini adalah persyaratan lingkungan dari Prinsip-prinsip FSC dengan referensi khusus pada Prinsip # 6 (Lampiran 1), yang menyakan bahwa: manajemen seharusnya mengkonservasi keanekaragaman hayati dan nilai-nilai yang menyertainya, sumber-sumber air, tanah dan ekosistem serta bentang alam yang unik dan rentan, dan dengan melakukan hal-hal tersebut, memelihara fungsi-fungsi ekologis dan keutuhan dari hutan. Sebagai tambahan untuk prinsip #6, referensi dilakukan pada prinsip-prinsip FSC lainnya jika diperlukan (Prinsip 3, 5, 8 dan khususnya prinsip 10). Temuan-temuan audit sebagaimana dipresentasikan pada Bab 3 menunjukan bahwa kegiatan manajemen saat ini di HTI Murni tidak mencapai adanya suatu perlindungan lingkungan yang memadai. Meskipun demikian, kerusakan lingkungan hanya terjadi dalam skala terbatas karena hanya sedikit sekali aktifitas yang dilakukan dalam empat tahun terakhir. Karena aktifitas di HTI Murni meningkat ditahun-tahun mendatang, pertimbangan yang terperinci diperlukan untuk mengembangkan manajemen lingkungan di lokasi. Karena situasi saat ini tidak berubah, HTI tidak akan dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam prinsip-prinsip FSC disini atau usaha untuk mendapatkan akreditasi FSC akan gagal. Apapun tujuan manajemen, baik untuk mencapai tingkat dasar kelestarian, atau sepenuhnya untuk mendapatkan akreditasi FSC, tindakan segera yang ditetapkan pada Section 4.2 akan diperlukan.

4.2

Rekomendasi untuk tindakan perbaikan


Bagian berikut mengenai rekomendasi terperinci untuk tindakan pengelolaan lingkungan yang diperlukan untuk diterapkan oleh PT. AYI di HTI Murni, agar mengurangi kerusakan lingkungan lebih jauh dan memenuhi Kriteria dan Prinsipprinsip FSC. Rekomendasi-rekomendasi ini memberikan kesempatan untuk kegiatan pengembangan lingkungan sesuai persyaratan sertifikasi FSC. Tidak diharapkan bahwa seluruh rekomendasi akan diimplementasikan, tetapi sebuah proses secara bertahap dapat mencapai perbaikan lingkungan yang berarti dalam penyelenggaraan lingkungan. Rekomendasi 1 Instruksi-instruksi Kerja

Meskipun fakta menunjukan bahwa aktifitas di lokasi saat ini hanya bersifat terbatas, pedoman kerja yang dilengkapi dengan rincian spesifik perlu dibuat, baik untuk kegiatan yang saat ini dilakukan maupun untuk kegiatan-kegiatan potensial dimasa mendatang. Hal-hal ini harus meliputi:

Rincian untuk kegiatan pengerjaan jalan dan jalur penyaradan dan ketentuan ketentuan untuk drainase dan perlintasan anak sungai/air;

23

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Instruksi terperinci mekanisme ekstraksi kayu sehingga dapat mencegah kerusakan terhadap tegakan disekelilingnya, termasuk pembuatan jalur penyaradan, pengangkutan melalui jalur penyaradan dan instruksi rehabilitasi; Intsruksi terperinci untuk pengoperasian landing untuk mencegah terbuangnya log-log, kerusakan terhadap tanah, air dan tegakan sekelilingnya dan rehabilitasi lokasi landing; dan Instruksi terperinci untuk kegiatan pengangkutan termasuk penanganan hidrokarbon.

Penting untuk memberikan rincian spesifik pada instruksi ini khususnya berkaitan dengan pengerjaan jalan dan jalur penyaradan karena kegiatan ini memiliki potensi terbesar terhadap terjadinya kerusakan tanah dan air, yang selanjutnya akan menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan menyeluruh di lokasi. Instruksi kerja ini perlu dibuat sedemikian rupa sehingga mudah didapat oleh staf lapangan dan khususnya oleh para mandor yang terlibat dalam penerapannya. Instruksiinstruksi ini harus disertai ketentuan untuk pengawasan kegiatan untuk memastikan bahwa instruksi telah dilaksanakan. Beberapa pedoman tertulis secara terperinci sedang dalam proses pembuatan bekerjasama dengan SCKPFP, dan staf proyek harus mendapatkan beberapa pelatihan dan pengawasan terhadap kegiatan pembersihan lahan. Begitu dihasilkan, pedoman ini perlu dibuat sedemikian rupa agar mudah diperoleh oleh staf lapangan dan pelatihan dilakukan untuk penerapannya. Rekomendasi 2 Pelatihan

Direkomendasikan bahwa pelatihan harus dilakukan terhadap anggota staf dan khususnya terhadap operator-operator yang menerapkan instruksi kerja tersebut. Kebutuhan pelatihan meliputi:

Penerapan ketentuan-ketentuan dari intrsuksi kerja khususnya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan pembuatan jalan dan jalur penyaradan serta kegiatan pemanenan. Ketentuan mengenai drainase yang memadai dan perlintasan anak sungai/air yang sesuai merupakan perbaikan yang paling diperlukan oleh HTI Murni; Pelatihan dalam penggunaan peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan. Pada saat ini diasumsikan bahwa semua operator mengetahui bagaimana cara menjalankan semua peralatan yang diserahkan pada mereka; dan Pelatihan dalam penggunaan dan penanganan hidrokarbon untuk semua staf. Penyimpanan dan Penanganan Bahan Bakar Semua tangki penyimpanan memerlukan wadah tambahan untuk mengurangi resiko tumpahan. Pada kasus tangki-tangki di Panaan, penampung tambahan ini terdiri dari sebuah wadah yang cukup besar untuk menampung isi tangki ditambah 10 %. Tangki mobil bahan bakar membutuhkan penampung tetesan dan ditempatkan didalam wadah sementara. Tangki mobil tidak boleh berada didekat anak sungai/air atau reseptor sensitif lainnya.

Rekomendasi 3

Penyimpanan dan penanganan hidrokarbon membutuhkan perbaikan.

24

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Drum-drum yang mengandung hidrokarbon perlu disimpan pada lantai yang kokoh dengan penampung tambahan (sekunder). Drainase di fasilitas penyimpanan drum di Panaan harus dikembangkan untuk memastikan tidak adanya kebocoran hidrokarbon. Para staf harus mendapatkan pelatihan dalam penanganan hidrokarbon dan prosedur-prosedur yang akan diterapkan pada peristiwa tumpahan. Semua tumpahan harus dilaporkan. Rencana tindakan terhadap adanya tumpahan harus disusun dan pengadaan peralatan di semua lokasi dimana hidrokarbon atau material berbahaya lainnya dipakai dan disimpan.

Ini sebuah areal yang perlu mendapatkan perbaikan besar dengan segera yang bisa dicapai cukup dengan sedikit usaha dari sebagian satff. Rekomendasi 4 Praktek Pembuangan Limbah

Praktek pembuangan limbah membutuhkan perbaikan dan pelatihan yang harus dilakukan terhadap staf untuk penerapannya.

Limbah-limbah yang yang tidak dapat diuraikan secara biologis harus dikembalikan dari hutan ke Kamp 63 untuk dimusnahkan pada lokasi yang khusus, misalnya pada lubang pembuangan limbah, dimana limbah tersebut tidak akan mengganggu penghuni kamp atau menyebabkan resiko kebakaran saat limbah dibakar. Fasilitas pemisahan limbah harus dibuat untuk memastikan pemusnahan limbah yang tepat. Pemakaian fasilitas penyimpanan limbah yang dilengkapi dengan penampung sekunder harus disediakan untuk limbah yang memiliki potensi bahaya misalnya wadah zat kimia atau limbah yang terkontaminasi hidrokarbon. Limbah yang memiliki potensi bahaya dari bengkel (misalnya beterai, ban-ban, alat-alat yang terkontaminasi hidrokarbon) harus dimusnahkan setempat. Kemungkinan untuk menjual barang-barang seperti baterai dan filter bekas terhadap pembeli dari Banjarmasin harus diteliti sepenuhnya, dan hasilnya ditindaklanjuti seperlunya. Potongan-potongan logam harus dijual dan dipindahkan dari lokasi. Kegiatan pengolahan air limbahharus diperbaiki, khususnya pada areal workshop dan areal penyimpanan hidrokarbon. Semua air limbah, termasuk air semburan (penyemprotan) dari areal ini harus dikumpulkan di lubang air yang dilengkapi dengan pemisah minyak. Minyak ini harus dikumpulkan untuk diprioritaskan pemusnahannya dari air limbah yang dikeluarkan.

Rekomendasi 5

Perlindungan Sumber Air Daerah buffer di sekitar anak sungai yang lebih kecil. Memperbaiki penyeberangan sungai untuk menghindari kerusakan anak sungai.

Perlindungan terhadap sumber air harus ditingkatkan termasuk didalamnya:

25

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Memperbaiki saluran air (drainase) pada jalan untuk mencegah erosi, sedimentasi pada anak sungai/air dan untuk menjamin jalanan masih dapat berfungsi dalam berbagai keadaan cuaca. Mencegah pembuangan puing dari kegiatan pembuatan jalan ke dalam anak sungai/air. Pelatihan dalam pembangunan jalan untuk menghindari kerusakan terhadap anak sungai/air.

Rincian lebih lanjut mengenai kebutuhan ini dicakup dalam laporan Masalahmasalah Perlindungan Air dan Tanah dari SCKPFP, September 2000. Rekomendasi 6 Perlindungan Tanah

Tindakan perlindungan tanah harus ditingkatkan. Saat ini hal utama yang paling mengkhawatirkan adalah kegiatan pembuatan jalan, yang membutuhkan peningkatan untuk memastikan tersedianya saluran air yang memadai untuk mencegah terjadinya erosi. Semakin meningkatnya kegiatan di HTI Murni di masa datang, rekomendasi berikut sebaiknya dimasukkan dalam rencana pengelolaan.

Menghindari pembukaan hutan yang tidak perlu - tidak membuat jalan penyaradan yang tidak diperlukan, jalan dan areal landing yang terlalu besar. Menghindari pembuatan jalan dan kegiatan penebangan pada kemiringan curam. Mengurangi pergerakan mobil yang tidak terlalu penting dan pergerakan dalam kondisi basah akan membantu mengurangi kerusakan terhadap struktur tanah. Jalan dan jalur penyaradan harus ditutup secara memadai dan direhabilitasi setelah penggunaan untuk memastikan erosi tidak terjadi lagi. Operator mesin harus dibekali pelatihan mengenai kegiatan yang mereka laksanakan.

Rincian lebih lanjut mengenai kebutuhan ini dicakup dalam laporan Masalahmasalah Perlindungan Air dan Tanah dari SCKPFP, September 2000. Rekomendasi 7 Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Dalam rangka mencapai beberapa peningkatan dan perlindungan keragaman hayati, penilaian berikut harus dimasukkan dalam rencana kerja selanjutnya:

memastikan sungai dan anak sungai dilindungi dengan daerah penyangga; dan kemungkinan peningkatan penanaman terhadap jenis asli/lokal yang memiliki pertumbuhan yang lambat. Kegiatan yang Illegal dan Tidak Tepat Patroli keamanan harus mengawasi situasi sehubungan dengan adanya penebangan liar dan pengrusakan oleh peladangan berpindah. Perburuan dan pengkoleksian yang tidak tepat harus dikontrol, terutama karena tidak ada ijin setempat yang memperbolehkan kegiatan ini.

Rekomendasi 8

26

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Rekomendasi 9

Pencegahan Kebakaran Pelatihan harus diberikan kepada seluruh staf dalam menggunakan peralatan dan bagaimana cara mencegah terjadinya kebakaran secara tidak sengaja. Penanggulangan kebakaran dan masalah Kesehatan dan Keamanan memerlukan ahli audit yang lain untuk memastikan seluruh pertimbangan yang perlu diperhitungkan.

Spesialis Manajemen Kebakaran dari SCKPFP yang akan menangani persoalan ini. Rekomendasi 10 Penilaian Pasca -Tebangan

Direkomendasikan agar sebuah penilaian pasca tebangan dilaksanakan dan hasilnya dipadukan dalam rencana kerja selanjutnya, untuk memungkinkan peningkatan pengelolaan lingkungan dalam kegiatan perhutanan. Dari pandangan segi lingkungan, penilaian pasca-tebangan sebaiknya mencakup:

Penghitungan ekstraksi kayu yang dihasilkan dan penilaian kerugiannya; Membandingkan lokasi jalan, jalur penyaradan dan landing dengan perencanaan; Penilaian kondisi jalan, rel sarad dan landing; Menentukan persentase areal operasi yang terganggu; Menentukan besarnya kerusakan pada daerah penyangga, anak sungai/air dan kawasan lindung; Memperkirakan effek-effek pada hasil dari tebangan di masa akan datang; Penilaian kebutuhan pelatihan bagi staf; dan Mengkomunikasikan hasil penilaian kepada pihak manajemen dan para petugas penebangan. Pengawasan

Rekomendasi 11

Sebagai tambahan bagi penilaian pasca tebangan, sebuah program pengawasan lingkungan harus dianjurkan yang mungkin mencakup inter alia:

pengawasan erosi; pengawasan data curah hujan dan data iklim lainnya; pengawasan kedalaman sungai dan arus; analisis kualitas air; dan pengawasan jenis eksotik untuk kematian yang tidak wajar, serangan insek atau penyakit.

Program pengawasan ini membutuhkan audit terpisah dan lebih mendetail dimana rekomendasi yang lebih rinci dapat dihasilkan darinya. Rekomendasi 12 Jenis Eksotik

Sebelum menanami areal yang luas dengan jenis eksotik seperti Acacia mangium, percontohan lokal harus dilakukan untuk memastikan kecocokan jenis tanaman dengan lokasi. Hasil dari 100 ha plot percobaan yang telah dibuat oleh SCKPFP harus diawasi dengan seksama.

27

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Rekomendasi 13

Hasil Audit

Adalah penting bahwa rekomendasi dari kedua audit yang sekarang ataupun audit lingkungan internal selanjutnya untuk diperhatikan oleh pihak manajer atasan dari staf di lokasi HTI Murni. Untuk mencapai hal ini mungkin perlu bagi staf SCKPFP untuk membantu staf lapangan dalam memberikan rekomendasi kepada pihak manajemen yang lebih tinggi. Rekomendasi audit harus ditindaklanjuti dengan tepat dalam rangka peningkatan pengelolaan lingkungan di HTI Murni. Rekomendasi 14 Pengelolaan Lingkungan di Masa Datang

Pertimbangan-pertimbangan perlu diberikan untuk membuat rencana pengelolaan lingkungan di masa datang dengan menggunakan pengalaman dan keterampilan dari PT. Barito Pacific Timber Tbk., membuat dan mendemonstrasikan selama pembuatan ISO 14001 Sistem Pengelolaan Lingkungan mereka.

4.3

Saran-saran untuk audit yang akan datang


Audit lingkungan memberikan alat yang berguna untuk menilai penyelenggaraan lingkungan dari lokasi atau fasilitas. Informasi yang dikumpulkan selama proses audit harus disampaikan kembali kepada pengelola lokasi dan rekomendasi audit dimasukkan ke dalam pengelolaan selanjutnya dan rencana kerja. Kegiatan audit selanjutnya dapat dilaksanakan secara internal dan eksternal dalam rangka menilai kemajuan dari pengelolaan lingkungan. Direkomendasikan bahwa, untuk lokasi PT. AYI HTI Murni, staf lingkungan untuk melaksanakan audit internal dasar selama bulan Desember 2000 atau Januari 2001. Dalam pencapaian hal ini, sebuah daftar pengecekan audit telah dihasilkan (Appendix 4), dan pelatihan telah diberikan bagi staf yang bersangkutan dalam penggunaannya untuk mendapatkan data lingkungan. Daftar pengecekan audit akan menyediakan informasi bagi staf untuk menandai daerah-daerah kerja yang memerlukan peningkatan. Beberapa areal memerlukan peningkatan yang lebih rumit daripada yang lain, dan membutuhkan waktu untuk memasukkan hal ini ke dalam rencana kerja. Meskipun demikian, areal-areal dimana peningkatan dapat dicapai dengan sedikit usaha dari staf, atau sedikit perubahan dalam praktek kerja (misalnya penanganan dan penyimpanan hidrokarbon atau peningkatan praktek pembuatan jalan), harus dilakukan segera. Informasi yang dihasilkan dari audit harus diteruskan ke pada pengelola lokasi untuk memastikan agar hasilnya dipadukan dalam rencana kerja selanjutnya.

28

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Referensi
Barito Pacific Timber Tbk., Kegiatan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan, Banjarmasin, 1999. Departemen Kehutanan, Tebang Pilih Tanam Indonesia, Jakarta, 1993. Forest Stewardship Council, Prinsip-prinsip dan Kriteria FSC, Oaxaca, Mexico, Januari 1999. Keputusan Menteri No. Kep-42/Menlh/11/1994, Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan, 1994. International Tropical Timber Association, Pedoman ITTO untuk Pengelolaan Hutan Tropis Alam, ITTO Policy Development Series 1, Yokohama, Japan, 1992. PT. Aya Yayang, Rencana Pengelolaan Lingkungan HPH di Tabalong, Kalimantan Selatan. Jakarta, February 1998. PT. Aya Yayang, UKL dan UPL HPHTI, Banjarmasin, November 1998. SCKPFP, Tinjauan Lingkungan HPH PT. Aya Yayang Indonesia, Lembar Kerja Lingkungan No. 3, July 2000. SCKPFP, Masalah-masalah Perlindungan Air dan Tanah, Laporan Sementara, Lembar Kerja Lingkungan No.5, September 2000.

29

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Lampiran 1 Prinsip FSC # 6

30

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

PRINSIP # 6: DAMPAK LINGKUNGAN Manajemen hutan seharusnya mengkonservasi keanekaragaman hayati dan nilai-nilai yang menyertainya, sumber-sumber air, tanah, dan ekosistem serta bentang alam yang unik serta rentan dan dengan melakukan hal-hal tersebut, memelihara fungsi-fungsi ekologis dan keutuhanhutan. 6.1 Penilaian terhadap dampak-dampak lingkungan seharusnya dilengkapi sesuai dengan skala (scale), intansitas dari manajemen hutan dan tingkat keunikan dari sumber daya yang terpengaruh; dan secara memadai terintegrasi dengan sistem manajemen. Penilaian seharusnya mencakup pertimbangan pada bentang alam sekaligus juga dampak-dampak pada fasilitas-fasilitas pengolahan yang ada di lokasi (on-site). Dampak lingkungan seharusnya dinilai terlebih dahulu sebelum dimulainya kegiatan yang mengganggu. Tenaga keamanan seharusnya ada untuk melindungi spesies langka yang dilindungi dan terancam beserta habitatnya (seperti tempat bersarang dan mencari makan). Zona-zona konservasi dan kawasan lindung seharusnya ditetapkan, sesuai dengan skala dan intensitas kegiatan pengusahaan hutan dan keunikan dari sumber daya yang etrkena dampak. Kegiatan perburuan, penangkapan ikan, penjeratan dan pengumpulan-pengumpulan spesies yang tidak semestinya seharusnya dikendalikan. Fungsi-fungsi ekologi dan nilai-nilainya seharusnya dipertahankan untuk, ditingkatkan atau diperbaiki, termasuk: a. Regenerasi dan suksesi hutan b. Keanekaragaman genetik, spesies dan ekosistem c. Siklus-siklus alamiah yang mempengaruhi produktivitas dari ekosisitem hutan 6.4 Contoh-contoh yang mewakili dari kondisi ekosistem yang ada pada suatu bentang alam seharusnya dilindungi dalam kondisi alamiahnya dan digambarkan pada peta, sesuai dengan skala dan intensitas kegiatandan keunikan dari sumber daya yang terpengaruh. Petunjuk-petunjuk tertulis seharusnya disediakan dan diimplementasikan untuk mengontrol erosi, meminimalkan kerusakan hutan selama kegiatan pemanenan, pembuatan jalan dan semua gangguan mekanis lainnya serta melindungi sumber-sumber air. Sistem manajemen seharusnya mendukung pengembangan dan pengadopsian metode-metode non kimiawi yang ramah lingkungan dalam pengendalian hama penyakit, dan berupaya keras untuk menghindari penggunaan pestisida kimiawi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tipe 1A dan 1B dan pestisida hidrokarbon berklorin (chlorinated); pestisida yang menetap (persistent), beracun atau yang derivatif/turunnya tetap aktif secara biologis dan terakumulasi dalam rantai makanan di luar tujuan kegunaannya; dan juga setiap pestisida yang dilarang oleh perjanjian internasional, seharusnya dilarang. Bila bahan-bahan kimia dipakai, peralatan-peralatan dan pelatihan yang sesuai seharusnya disediakan untuk meminimalkan resiko kesehatan dan lingkungan.

6.2

6.3

6.5

6.6

31

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

6.7

Bahan-bahan kimia, tempat-tempat penyimpanan, cairan dan llimbah padat non-organik termasuk bahan bakar dan minyak seharusnya dibuang di luar lokasi dengan perlakuan yang aman bagi lingkungan. Penggunaan agen-agen pengontrol hayati seharusnya didokumentasikan, diminimalkan, dipantau atau dikendalikan secara ketat sesuai dengan hukum nasional dan protokol-protikol ilmiah yang diterima secara internasional. Penggunaan organisme-organisme yang telah dimodifikasi secara genetis seharusnya dilarang. Penggunaan spesies eksotis seharusnya diawasi secara hati-hati dan secara aktif dipantau untuk menghindari dampak ekologis yang merugikan.

6.8

6.9

6.10 Konservasi hutan menjadi hutan tanaman atau penggunaan lahan di luar kehutanan seharusnya tidak terjadi, kecuali dalam situasi dimana kegiatan konservasi tersebut : a. meminta dengan sangat terbatas porsi dari unit manajemen hutan; dan b. tidak terjadi pada areal hutankonservasi yang bernilai tinggi; dan c. akan memungkinkan keuntungan-keuntungan konservasi jangka panjang yang nyata, mendasar, memperbanyak dan aman, terhadap unit manajemen hutan.

32

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Lampiran 2 Prinsip FSC # 10

33

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

PRINSIP # 10: HUTAN TANAMAN Hutan tanaman seharusnya direncanakan dan dikelola sesuai dengan Prinsipprinsip dan Kriteria 1 9, serta Prinsip 10 dan kriteria-kriterianya. Walaupun hutan tanaman dapat memberikan keuntungan-keuntungan sosial dan ekonomi, dan dapat memberikan sumbangan untuk memenuhi kebutuhan dunia akan produk-produk hutan, mereka seharusnya dapat melengkapi pengelolaan dari, mengurangi tekanan pada, dan meningkatkan perbaikan serta konservasi dari hutan alam. 10.1 Tujuan-tujuan pengelolaan hutan tanaman, termasuk konservasi hutan alam dan tujuan-tujuan perbaikannya, seharusnya dengan jelas dinyatakan dalam rencana manajemen, dan ditunjukkan secara nyata dalam pelaksanaan rencana tersebut. 10.2 Rancangan dan tata letak dari hutan tanaman seharusnya mendukung perlindungan, perbaikan dan konservasi dari hutan alam, dan tidak menambah tekanan pada hutan alam. Korisor margasarwa (wildlife), daerahdaerah sempadan aliran dan mosaik tegakan yang berbeda umur serta periode rotasi, seharusnya digunakan dalam tataletak hutan tanaman, secara konsisten dengan skala operasional. Skala dan tata letak dari blok-blok hutan tanaman seharusnya konsisten dengan pola tegakan hutan yang ditemuipada bentang alam alamiah. 10.3 Keanekaragaman dalam komposisi hutan tanaman lebih disukai untuk meningkatkan stabilitas ekonomi, ekologis dan sosial. Keanekaragaman tersebut mungkin termasuk ukuran dan distribusi spatial/tempat dari unit manajemen pada bentang alam, jumlah dan komposisi genetik dari spesies, kelas umur dan struktur. 10.4 Pemilihan spesies untuk ditanam seharusnya berdasarkan kesesuaian secara menyeluruh bagi tapak dan kesesuaiannya dengan tujuan manajemen. Untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, spesies lokal lebih disukai dibandingkan dengan spesies eksotik dalam pembangunan hutan tanaman dan perbaikan dari ekosistem yang rusak. 10.5 Proporsi dari keseluruhan areal hutan yang dikelola, sesuai terhadap skala dari hutan tanaman dan akan ditentukan kemudian dalam standar-standar regional, seharusnya dikelola agar dapat memperbaiki tapak untuk tingkat penutupan hutannya. 10.6 Pengukuran-pengukuran seharusnya dilakukan untuk memelihara atau meningkatkan struktur tanah, kesuburan dan aktivitas biologi. Teknik-teknik dan tingkat pemanenan, konstruksi jalan dan jalan kecil serta pemeliharaannya, dan pemeliharaan spessies-spesies seharusnya dalam jangka panjang tidak berakibat terhadap kerusakan tanah atau dampaksampak yang merugikan terhadap kualitas air, kuantitas atau perubahan yang besar bdari polaaliran air. 10.7 Pengukuran-pengukuran seharusnya dilakukan untuk melindungi dan meminimalkan ledakan serangan hama, penyakit, kebakaran dan introduksi tanaman pengganggu. Pengendalian hama terpadu (integrated pest management) seharusnya membentuk bagian yang penting dari rencana manajemen, terutama dengan mengandalkan pada pencegahan dan metode pemberantasan secara biologis dibandingkan pada pestisida dan pupuk kimiawi. Manajemen hutan tanaman pupuk kimiawi, termasuk

34

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

penggunaannya di persemaian. Penggunaan bahan-bahan kimia juga dicakup dalam kriteria 6.6 dan 6.7 10.8 Sesuai dengan skala dan keanekaragaman operasional, pemantauan dari hutan tanaman seharusnya mencakup penilaian yang teratur dari dampakdampak ekologis dan sosial di lokasi (on-site) dan di luar lokasi (off-site) yang potensial (seperti permudaan alami, pengaruh pada sumber daya air dan kesuburan tanah, dan dampak pada kesejahteraan lokasi dan kondisi sosial), sebagai tambahan dari unsur-unsur yang tercantum pada Prinsip 8, 6 dan 4. Seharusnya tidak ada spesies yang ditanam dalam skala besar sampai percobaan lokal dan/atau pengalaman telah menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi secara baik terhadap kondisi tapak, dan tidak membahayakan, serta tidak mempunyai dampak ekologis negatif yang nyata pada ekosistem lain. Perhatian khusus akan diberikan terhadap isu-isu sosial dari areal yang diperoleh untuk hutan tanaman, terutama perlindungan terhadap hak-hak kapemilikan setempat, penggunaan atau akses. 10.9 Hutan tanaman yang dibangun di areal yang dikonversi dari hutan alam setelah bulan Nopember 1994 biasanya akan dapat disertifikasi. Sertifikasi dimungkinkan dalam kondisi dimana manajer/pemilik tidak bertanggung jawab baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap konversi tersebut.

35

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17 - November 2000

Lampiran 3 Tabel V-5 matriks dari UKL HPHTI PT Aya Yayang Indonesia

36

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

Table V-5. Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan Kegiatan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri PT. Aya Yayang Indonesia di Kabupaten Dati II Tabalong, Propinsi Dati I Kalimantan Selatan.
No 1. Jenis Dampak Kesuburan tanah Penyebab Dampak Taknik Pengelolaan Dampak turunan dari erosi yang meningkat akibat penyiapan lahan Pemupukan tanaman dengan pupuk buatan dan organik (hasil penyiangan dan pemangkasan) Pengelolaan bahan organik hasil land clearing dan penanaman tanaman penutup tanah Pengelolaan tanah minimum dan penanaman menurut kontur Upaya Pengelolaan Dampak Lokasi Pengelolaan Pada areal tanam Waktu Pengelolaan Sesuai jadwal dan kebutuhan Saat pemeliharaan Biaya - Rp. 85.000/ha

Pada lahan produksi

- Rp. 50.000/ha

Pada areal tanam

Sesuai jadwal penanaman

Terintegrasi biaya penyiapan lahan

37

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

No 2.

Jenis Dampak Erosi, sedimentasi kualitas air dan debit air sungai

Penyebab Dampak Taknik Pengelolaan Land clearing pada penyiapan lahan dan kegiatan pemanenan Pada lahan Produksi : Pengelolaan tanaman minimum dan menurut kontur Pemupukan sisa land clearing/pemanenan Pada jalan angkutan: Pengerasan jalan utama dan pemadatan jalan cabang Pembuatan gorong-gorong Membuat/menambah saluran drainase Pemeliharaan bangunan konservasi di atas Pembuatan jebakan sedimen di pinggir jalan yang cekung Pada tapak Base Camp dan TPK Pemadatan tapak base camp dan TPK Penanaman tanaman penutup tanah pada tapak yang akan dibangun (base camp, TPK, jalan) Pembuatan saluran drainase di base camp dan TPK

Upaya Pengelolaan Dampak Lokasi Pengelolaan Pada lahan produksi Waktu Pengelolaan Pada saat penanaman Pada saat land clearing & pemanenan Pada jalan angkutan dan pinggir jalannya Sesuai jadwal PWH dan pembuatan jalan Biaya Terintegarsi biaya land clearing, pemanenan dan PWH

Pada tapak base camp/TPK

Sesuai jadwal pembuatan base camp, TPK dan Jalan

38

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

No 3.

Jenis Dampak Pencemaran pestisida

Penyebab Dampak Taknik Pengelolaan Pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida Prioritas pengendalian hama dan penyakit tanaman secara fisik/mekanis Pengendalian dengan pestisida: Menggunakan jenis pestisida yang mudah/cepat mengurai seperti karbamat. Penggunaan dosis secara hati-hati Pembuatan larutan tidak berlebihan Penyemprotan diusahakan pada musim kemarau dan diperkirakan tidak akan turun hujan

Upaya Pengelolaan Dampak Lokasi Pengelolaan Areal tanaman yang terserang hama penyakit Areal tanaman yang terserang hama penyakit Waktu Pengelolaan Apabila terjadi serangan Apabila terjadi serangan Biaya Biaya rutin pemeliharaan Biaya rutin pemeliharaan

4.

Jenis tumbuhan dilindungi dan nir kayu

Penyiapan lahan

Penanaman jenis dilindungi dan nir kayu Penyuluhan konservasi

Perbatasan areal HTI dengan areal penduduk Desa Panaan dan Dambung Raya serta Camp Panaan Pelepasan di Kawasan Lindung Seluruh areal kerja Base camp, Ds. Panaan dan Dambung Raya

1998/1999 s/d 2000/2001 Terintegrasi dengan jadwal penyuluhan sosek Setelah satwa tertangkap Setiap tahun mulai 98/99 Tiga bulan sebelum pembukaan lahan setiap tahun

- Rp. 70.000/ha Terintegrasi penyuluhan sosek Penyiapan lahan Rutin patroli Terintegrasi biaya penyiapan lainnya

5.

Satwa liar

Kegiatan penyiapan lahan/pemanenan

Melepas/mengembalikan satwa yang terjebak Meningkatkan aktivitas patroli Penyuluhan untuk tidak menangkap satwa liar baik kepada masyarakat maupun karyawan

39

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

No 6.

Jenis Dampak Hama dan penyakit tanaman

Penyebab Dampak Taknik Pengelolaan Penanaman yang bersifat monokultur Pengendalian Preventif: Seleksi bibit yang sehat dan tegar Melakukan pemupukan secara optimal Pengendalian Responsif: Pemangkasan cabang yang terserang penyakit Penjarangan tanaman terhadap tanaman yang pertumbuhannya kurang baik Pengendalian HPT jika terdapat indikasi dengan perioritas secara fisik/mekanis.

Upaya Pengelolaan Dampak Lokasi Pengelolaan Dilokasi pembibitan dan areal penanaman Waktu Pengelolaan Pada saat pembibitan Biaya - Biaya pembibitan

Dilokasi sumber serangan Blok tanaman yang terserang

Apabila terjadi serangan

Biaya pemeliharaan dan perlindungan

7.

Biota perairan

Land clearing pada penyiapan lahan dan kegiatan pemanenan Kegiatan PAK HPHTI

Terintegrasi dengan pengelolaan erosi, sedimentasi dan kualitas air Penyuluhan pengoptimalan pemanfaatan lahan masyarakat Penambahan jumlah tenaga kerja untuk kegiatan penjarangan, pemanenan, pengangkutan Memberi kesempatan magang di bidang teknis kehutanan dan administrasi perkantoran bagi penduduk lokal

Terintegrasi dengan pengelolaan erosi Desa Panaan (3 dusun) & Dambung Raya (3 dusun) Desa Panaan dan Dambung Raya Kantor Camp Panaan

Terintegrasi dengan pengelolaan erosi Tiga bulan setelah dokumen UKL/UPL disyahkan Dilakukan sesuai dengan kebutuhan perusahaan

Terintegrasi dengan pengelolaan erosi Rp. 100.000/dusun (Rp. 600.000) Terkait dengan biaya overhead perusahaan

8.

Persepsi masyarakat yang belum mendukung Kesempatan kerja

9.

Penerimaan tenaga kerja

40

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

No 10.

Jenis Dampak Kesempatan berusaha

Penyebab Dampak Taknik Pengelolaan Peningkatan jumlah penduduk Mengutamakan pembelian bahan pangan dari penduduk lokal Penawaran pemanfaatan lahan penduduk yang tidak produktif agar ditanami tanaman HTI Pemanfaatan HTI untuk tumpang sari Program aneka usaha kehutanan (karet dan rotan) Membantu di dalam pembinaan pengelolaan koperasi dengan cara mengirim petugas ke diklat dan membantu permodalan dengan bunga 12 %/th dan pemanenan

Upaya Pengelolaan Dampak Lokasi Pengelolaan Desa Panaan dan Dambung Raya Lahan Penduduk Waktu Pengelolaan Setiap saat Mulai 1999 Biaya Terkait biaya overhead Biaya produksi

Areal efektif HTI Lahan penduduk Desa Panaan Tahun 1999 2000 Mulai tahun 1999

Rp. 4.500.000 (1 th) - Rp. 5.000.000 (1 th) - Rp. 2.000.000 - Rp. 10.000.000

11.

Keterampilan/pendidikan dan kesehatan masyarakat

Kegiatan PMDH

Penyuluhan pertanian tanaman pangan dan non pangan, peternakan, kesehatan dan lingkungan

Desa Panaan (Desa Ramuyung dan Rakutat) dan Dambung Raya (Dusun Doroi)

Sesuai dengan buku studi diagnostik yang telah dusyahkan Dephutbun

Sesuai dengan buku studi diagnostik yang telah dusyahkan Dephutbun

Demplot pertanian tanaman pangan dan non pangan Pembangunan atau perbaikan fasilitas umum Pemberian bea-siswa, bantuan buku pelajaran untuk perpustakaan dan buku tentang cara bercocok tanam dan beternak 12. Peningkatan pendapatan karyawan penduduk lokal Kegiatan penerimaan tenaga kerja Diklat (in house training maupun ex haouse) Pemberian intensif khusus pada karyawan teladan Penetapan jenjang karier yang jelas Camp Panaan Sesuai kebutuhan Mulai tahun 1999 Mulai tahun 1999 Terkait biaya produksi

41

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

No 13.

Jenis Dampak Persepsi masyarakat terhadap lingkungan

Penyebab Dampak Taknik Pengelolaan Kegiatan HPHTI Penyuluhan kepada karyawan dan masyarakat Pembuatan, pemasangan dan pemeliharaan papan anjuran Pembuatan pusat informasi

Upaya Pengelolaan Dampak Lokasi Pengelolaan Base camp, Ds. Panaan dan Dambung Raya - Ds. Panaan dan Dambung Raya - Base camp Tahun 1999/2000 Rp. 2.500.000 Waktu Pengelolaan Dua kali setahun Tahun 1999 Biaya Rp. 400.000 Rp. 450.000

42

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

Lampiran 4 Daftar Isian Audit HTI

43

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

Daftar Isian Audit HTI

KLASIFIKASI 1 .........Sangat baik melebihi pedoman dan langkah penatalaksanaan terbaik yang berlaku 2 .........Baik sesuai pedoman dan langkah penatalaksanaan terbaik yang berlaku 3 .........Cukup memuaskan - lengkap, tetapi memerlukan beberapa perhatian kecil 4 .........Tidak memuaskan memerlukan tindakan perbaikan segera 5 .........Buruk - memerlukan tindakan segera. Penutupan terhadap kegiatan yang ada harus dilakukan

Perusahaan: .............................................................................. Tanggal.................................................................. Propinsi: ............................................................................... Pengamat ....................................................... Lokasi: ............................................................................................................................................................

44

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

1.

PEMBANGUNAN JALAN
Pekerjaan dilakukan berdasarkan perencanaan manajemen; Didalam perencanaan pembangunan dilakukan usaha-usaha untuk mencegah gangguan terhadap area-area penanaman; Area jalan diusahakan sekecil mungkin untuk mengurangi hilangnya area-area yang produktif; Jumlah anak sungai/aliran air yang dilalui diusahan sekecil mungkin dan antara jalan dan anak sungai/aliran air dibuat sebuah daerah penyangga (buffer zone); Pembangunan jalan pada area-area yang memiliki potensi untuk tidak stabil seperti tekanan basah, tebing dengan kemiringan >50 %, saluran air dan jenis tanah yang mudah erosi harus dihindarkan; Lokasi jalan dan aktifitas jalan diatur sedemikian rupa sehingga pengerukan dan penimbunan tanah serta hamburan tanah tidak mengganggu daerah penyangga; Jalan yang dibuat tidak melebihi gradien rancangan maksimal Kegiatan pembangunan harus dijadwalkan sebagai berikut:

KETERANGAN

Pembangunan jalan dilakukan tidak lebih dari 12 bulan setelah perencanaan dilakukan; Pembangunan jalan dilakukan selama musim kemarau; Pembuatan jalan harus dirampungkan tiga bulan sebelum kegiatan penanaman dilakukan agar cukup stabil;

Pembangunan akhir dilakukan dalam jangka satu bulan setelah pembersihan jalur dasar untuk mengurangi erosi pada bagian-bagian ynag memiliki pengairan buruk. Diperoleh permukaan jalan yang baik dan adanya pengairan pada sisi jalan serta dilakukan pemeliharaan selama dan sesudah pembangunan jalan; Eksavator digunakan pada untuk penebangan daerah-daerah sisi jalan dan pada pembangunan saluran air karena lebih baik dibandingkan buldozer; Jalur dan jalan yang tidak lagi dipergunakan harus direhabilitasi dan ditutup dengan baik.

45

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk, erosi, penutupan anak sungai/aliran air, kegiatan-kegiatan ilegal atau merugikan dan lain-lain)

46

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

2.

PENGAIRAN
Sistem pengairan berada pada tempat stabil dan dilindungi oleh tanaman untuk mengurangi erosi dan sedimentasi. Tidak menggunakan kumpulan log dalam pembuatan drainase; Pengairan silang dilakukan hanya pada: lereng dengan kemiringan rendah; perubahan lekukan lereng; dalam jarak 50 m antara kedua persilangan dengan anak sungai/aliran air. Drainase memiliki ukuran yang cukup agar dapat menampung curah hujan yang paling ekstrim yang mungkin terjadi setiap tahun.

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk, erosi, penutupan anak sungai/aliran air/aliran air, kegiatan-kegiatan ilegal atau merugikan dan lain-lain)

47

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

3.

PERLINTASAN MELEWATI ANAK SUNGAI/ALIRAN AIR


Pekerjaan dilakukan berdasarkan perencanaan manajemen; Jembatan permanen atau perlintasan gorong-gorong dibangun dengan bahanbahan yang tahan lama dan dibuat pada semua anak sungai/aliran air yang dilintasi oleh jalan yang akan terus digunakan setelah logging; Perlintasan sementara dibuat jika jalan tersebut akan ditutup setelah logging; Semua perlintasan sementara harus disingkirkan setelah logging; Sedimentasi dari anak sungai/aliran air dicegah dengan pembuatan penahan lumpur (silt trap) pada kedua sisi jalan yang berdekatan dengan jembatan dan perlintasan sementara; Gangguan terhadap anak sungai/aliran air dan zone penyangga akibat perlintasan dibatasi seperlunya dengan menjauhkan pemotongan dan pembuangan akibat pembuatan perlintasan dari daerah anak sungai/aliran air dan daerah penyangga.

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

48

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

49

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

4.

JALUR PENYARADAN
Pekerjaan dilakukan berdasarkan perencanaan manajemen; Area yang dilalui oleh jalur penyaradan diusahan seminimal mungkin untuk menjaga dan memelihara area-area produktif; Jumlah perlintasan melewati anak sungai/aliran air diusahakan seminimal mungkin (diatas jalur penyaradan yang direncanakan); Arah ekstraksi dan felling pohon disesuaikan dalam hubungannya dengan jalan. Kerusakan tanah sepanjang jalur penyaradan diusahakan seminimal mungkin (pengurangan pengerukan); Meminimalkan gradien dari jalur penyaradan.

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

50

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

51

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

5.

LOG LANDING
Pekerjaan didasarkan pada perencanaan manajemen; Landing sedikitnya berada pada jarak 50 meter dari pinggir daerah penyangga atau daerah-daerah yang dilindungi; Landing berlokasi sedemikian rupa sehingga dapat memaksimalkan penggunaan jalur penyaradan; Landing berlokasi pada daerah-daerah yang memiliki pengairan yang lancar; Landing tidak berlokasi pada bagian bawah lereng untuk mengurangi aliran permukaan tanah ke arah landing secara langsung; Landing berlokasi pada daerah lereng landai untuk mengurangi banyaknya pemotongan pemotongan yang diperlukan. Landing dibuat sekecil mungkin untuk mengurangi hilangnya daerah-daerah produktif. Ukuran maksimal tidak boleh melebihi 2000 m2; Hamburan tanah diarahkan menjauh dari daerah peyangga dan anak sungai/aliran air; Drainase yang memadai dilakukan untuk mencegah terjadinya genangan air (semua air harus dikosongkan menuju dataran yang stabil) Landing didukung dengan tindakan pengontrolan air dan penanaman kembali landing dengan tanaman setelah digunakan; Bagian pinggir jalan hanya digunakan sebagai landing jika langkah ini dapat mengurangi luas daerah landing dan paparan terhadap tanah dan jalan tersebut memiliki drainase yang memadai

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

52

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

6.

FELLING AND EKSTRAKSI KAYU


Kegiatan felling direncanakan sesuai dengan kedudukan jalur penyaradan, rute pengangkutan dan lokasi landing. Semua pohon yang akan dikuliti ditandai dan arah felling ditentukan; Penentuan arah felling diperlukan untuk memastikan agar log yang mendapat penanganan minimal diprioritas untuk penyeretan. Penghelaan log menuju jalur penyaradan untuk menghindari kerusakan baik pada tanah dimana terdapat jalur penyaradan maupun pada log yang dihela dari hutan menuju jalur penyaradan; Pengerukan/pengikisan diusahakan sekecil mungkin; Penyeretan dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan pada tegakan sisa yang seringkali terjadi akibat tubrukan log dan kerusakan pohon-pohon yang tersisa.

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

53

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

7.

PERLENGKAPAN DAN BAHAN BAKAR


Pemeliharaan pendahuluan lebih diutamakan daripada pemeliharan responsif misalnya memperbaiki masalah sebelum masalah itu muncul sehingga pemeliharaan dapat dilakukan pada situasi yang terkontrol (di bengkel). Perlengkapan diangkut menuju lokasi yang dituju melalui langkah-langkah yang sedikit mungkin menyebabkan kerusakan lingkungan:

penggunaan alat angkut yang tepat untuk keperluan misalnya tidak menggunakan truk berkapasitas 20 ton hanya untuk mengangkut sebuah drum bahan bakar. penggunaan alat angkut ringan untuk mengangkut buldozer menuju tempattempat yang jauh

Penggunaan peralatan yang sesuai untuk keperluan misalnya menghindari penggunaan buldozer dan menggunakan eksavator dan tenaga manusia pada pembuatan saluran untuk drainase. Pembangunan jalan dan peralatan yang digunakan lebih diutamakan dengan menggunakan tenaga manusia dan peralatan ringan dibandingkan menggunakan buldozer. Bensin dan bahan bakar hidrokarbon lainnya disimpang pada tempat yang kokoh. Tempat penyimpanan hidrokarbon dikelilingi dinding penampung yang rapat untuk menampung kebocoran-kebocoran yang mungkin terjadi. Kapasitas dinding penampungan ini harus 10 % lebih besar dari kapasitas kontainer terbesar yang tardapat didalamnya. Menekankan metode pembuangan hidrokarbon yang tepat, termasuk:

mengumpulkan limbah-limbah hidrokarbon di dalam drum untuk pembuangan dan pemusnahan setempat.

54

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

pemisahan limbah-limbah yang terkontaminasi hidrokarbon dari limbah-limbah lain untuk pembuangan dan pemusnahan setempat. sementara menunggu pemusnahan maka limbah ini harus disimpan pada drum-drum kosong atau tempat lain yang sejenis untuk mencegah kebocoran.

Semua staf dilatih untuk menangani hidrokarbon dan langkah-langkah yang harus dilakukan jika terjadi tumpahan bahan tersebut. Semua tumpahan hidrokarbon harus dilaporkan. Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

55

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

56

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

8.

BAHAN-BAHAN BERBAHAYA
Bahan-bahan berbahaya termasuk bahan kimia, pestisida, herbisida, fertiliser, cat dan semen disimpan pada tempat yang kokoh dan dilindungi dari unsur-unsur yang dapat menyebabkan kebocoran; Jika perlu dapat dilakukan penampungan untuk menampung tumpahan (pada bahan cair atau bahan-bahan bergerak lainnya); Bahan-bahan berbahaya disimpan pada tempat-tempat terpisah untuk menghindari kontaminasi silang dari bahan-bahan tersebut; Semua limbah-limbah dari bahan-bahan berbahaya tersebut serta limbah yang terkontaminasi bahan tersebut dikumpulkan, disimpan sedemikian rupa hingga dapat mencegah penyebaran kontaminasi dan pembuangan setempat; Seluruh staf mendapatkan pelatihan dalam hal penanganan bahan-bahan berbahaya dan langkah-langkah yang harus dilakukan jika terjadi kebocoran; Semua tumpahan yang terjadi dilaporkan.

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

57

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

9.

LIMBAH DAN POTONGAN - POTONGAN KAYU


Dilakukan pelatihan dalam hal penanganan dan pemusnahan limbah; Dibuat fasilitas agar dapat memisahkan limbah dan pemusnahan setempat jika diperlukan; Semua wadah-wadah yang tidak dapat dimusnahkan alam dikembalikan dari hutan/area penanaman menuju base camp; Kulit kayu yang dapat dimusnahkan dikumpulkan/ditumpuk; Timbunan kulit kayu tidak berlokasi dekat dengan anak sungai/aliran air; Petugas penebangan dilatih agar dapat mengurangi terbuangnya tanaman-tanaman disekitar pohon yang sedang ditebang.

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

58

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

10.

KEGIATAN-KEGIATAN ILEGAL DAN


TIDAK TEPAT

Penutupan jalan dan jalur penyaradan Pembongkaran jembatan sementara Patroli keamanan Apa tindakan setempat lainnya untuk mencegah terjadinya penebangan liar ? Apa tindakan setempat lainnya untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat perladangan berpindah? Apa tindakan setempat lainnya untuk mencegah perburuan atau penangkapan liar? Apakah pihak setempat memiliki ijin perburuan ? Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

59

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

11.

PENCEGAHAN KEBAKARAN
Penyediaan peralatan pemadam kebakaran Pelatihan pemadaman kebakaran yang telah dilaksanakan

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

60

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

12.
(a)

MANAJEMEN PASCA PENEBANGAN PADA AREA LOGGING


JALUR PENYARADAN Penutupan perlintasan sementara Konstruksi/lokasi drainase silang

(b)

LANDING Pembuangan limbah kayu Anak sungai/aliran air bersih dari limbah kayu Drainase

(c)

JALAN Pembersihan jembatan dan gorong-gorong Drainase Penahan lumpur bersih dari limbah kayu Pembersihan anak sungai/aliran air dari potongan-potongan kayu KOLAM LOG DAN DERMAGA Anak sungai/aliran air bebas dari kontaminasi Drainase Pemusnahan limbah

(d)

(e)

KERUSAKAN LINGKUNGAN Kerusakan pada daerah-daerah penyangga Kerusakan pada daerah-daerah yang dilindungi Kerusakan pada anak sungai/aliran air

Pengamatan dan komentar petugas audit (misalnya contoh-contoh penatalaksanaan lingkungan yang buruk)

61

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

62

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

Komentar keseluruhan

63

Audit Lingkungan HTI Murni PT. Aya Yayang Indonesia Laporan No. 17- November 2000

64