Anda di halaman 1dari 7

PORTOFOLIO

KASUS MEDIKOLEGAL PENUNDAAN HEMODIALISA PADA KASUS GAGAL GINJAL KRONIK

Oleh : dr. Ika Ristianingrum

RSUD KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN 2013

Borang Portofolio No. ID dan Nama Peserta :dr. Ika Ristianingrum No. ID dan Nama Wahana : RSUD Kajen Topik : bioetik kedokteran Tanggal (kasus) : 14/06/2013 Nama Pasien : Ny. P No.dan Nama Pendamping : dr. Imam P Tanggal Presentasi : Tempat Presentasi :RSUD Kajen Obyektif Presentasi : Keilmuan Keterampil Penyegaran Tinjauan an Pustaka Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil Deskripsi : Tujuan : Mengetahui mengenai bioetik kedokteran Tinjauan Riset Kasus Audit Bahan Pustaka Bahasan Diskusi Presentasi E-mail Pos Cara dan Diskusi Membahas Nama : Ny. P Nomor Registrasi : 143544 Data Pasien : Telp : Terdaftar sejak : 14 Juni 2013 Nama Klinik: IGD Data utama untuk bahan diskusi : 1. Diagnosis / gambaran klinis : Pasien datang ke IGD RSUD Kajen pukul 08.15 WIB dengan keluhan pusing dan mual. Riwayat hipertensi tidak terkontrol. Sekitar sepuluh menit setelah masuk IGD pasien mengalami kejang. 2. Riwayat penyakit dahulu : tidak pernah mengalami keluhan serupa 3. Riwayat penyakit : riwayat tekanan darah tinggi (+), riwayat diabetes melitus (-) 4. Riwayat keluarga : riwayat penyakit serupa disangkal 5. Riwayat Pekerjaan : os adalah ibu rumah tangga dan berobat menggunakan jamkesmas. Daftar Pustaka a. Tom L. Beauchamp and James F. Childress. Principles of Biomedical Ethics, 6th Edition. Oxford: Oxford University Press, 2008. pp. 417. ISBN 978-0-19-533570-5 b. Jeffrey W. Bulger. Teaching Ethics Vo.8, #1, Fall 2007. Society for Ethics Across the Curriculum. pp. 81100. c. Pantilat, Steve. 2008. Beneficence vs. Nonmaleficence. [Online]. (http://missinglink.ucsf.edu/lm/ethics/Content%20Pages/fast_fact_bene_nonmal.htm) Hasil Pembelajaran : 1. Mengetahui dasar dari bioetik kedokteran 2. Memahami hak dan kewajiban pasien 3. Mencegah penyimpang etika dalam praktik kedokteran sehari-hari 1. Subyektif : Pasien datang ke IGD RSUD Kajen pukul 08.15 WIB dengan keluhan pusing dan mual. Riwayat hipertensi tidak terkontrol. Sekitar sepuluh menit setelah masuk IGD pasien mengalami kejang. 2. Obyektif : Hasil pemeriksaan fisik: KU/Kes: lemah/ tersedasi (post injeksi diazepam) VS : TD: 230/120 mmHg Nadi: 64 x/mnt, lemah RR: 34 x/mnt Suhu: 36C Kepala : mesocephal

Mata : CA +/+ , SI -/Mulut : faring hiperemis -/Leher : limfonodi tidak teraba Thorax : simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-) Cor : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo : SD vesikuler +/+, rhonki -/- , wheezing -/Abdomen : datar, peristaltik (+) normal Ekstremitas : oedem - - 3. Assessment : Pada kasus ini pasien mengalami hipertensi emergensi. Kemungkinan berbagai etiologi dapat mendasari kasus ini. Penanganan emergensi adalah menurunkan MAP pasien dan mencegah terjadinya kejang kembali. Target penurunan MAP adalah 20% dari MAP awal. Berbagai macam obat antihipertensi dapat dipilih terutama dengan kerja short acting untuk mencapai penurunan tekanan darah dalam waktu singkat. Pengawasan keadaan umum, kesadaran dan tekanan darah pasien dilakukan tiap 15 menit pada saat dilakukan penurunan MAP ini. Sedangkan untuk mengatasi kejang, pasien dapat diberikan anti konvulsi seperti diazepam. 4. Plan : Diagnosis : Hipertensi Emergensi dan Obs Konvulsi Pengobatan : Penurunan MAP dan mencegah terjadinya kejang berulang Konsul dr. Mansur, Sp. PD O2 3 liter/ menit IVFD RL 16 tpm Rawat ICU (ICU penuh) Syring pump perdipin 1 ampul dalam 1 jam
Evaluasi tekanan darah tiap 15 menit, target tensi adalah 20% MAP. Jika sudah mencapai target dilakukan tappering off

Jaga Airway Jam 08.40 TD : 230/120 MAP = (230 + 240) / 3 = 156 20% MAP = 31,2 Target penurunan tekanan darah MAP =125 Pengawasan: Jam Tekanan Darah MAP 09.20 170/90 115 09.35 170/90 115 09.50 170/100 123 10.00 190/90 123 10.15 190/90 123 10.30 190/90 123 10.45 190/90 123 11.00 190/90 123 11.15 190/90 123 Hasil Lab: WBC = 20,3 x 103 () RBC = 5,04 x 106 Hb = 8,9 () Ht = 29

Plt = 470 x 103 Ureum = 149 () Kreatinin= 13,88 () K = 5,9 () Na = 151 Cl = 116 () Konsul dr. Mansur, Sp. PD Syring pump perdipin dipertahankan Inj. Calcium Glukonas 1 gr iv (ekstra) Inj. Cefotaxim 3 x 1 gr iv Inj. Ranitidin 3x1 amp iv Po: Herbesser CD 200 0-1-0 Clonidin 2 x 0,15 mg Ca Co3 3x1 Ketocid 3x1 Asam Folat 3 x 400 mcg Meylon 4 flash (ekstra) D5% 100 cc 10 tpm cek kalium ulang Rawat ICU 5. Follow Up ICU Tanggal, waktu Subjektif dan Objektif Plan 14-06-2013 KU/ Kes : Sedang/ CM Konsul dr. Ruri, Sp.An: 21.00 VS: Inj. Furosemid 1 amp (ekstra) TD: 147/83 Daftar Hemodialisa N: 107 x/menit Terapi lain lanjut RR: 28 x/ menit T : 36,7 Lab: Ureum : 149 Kreatinin : 13 15-06-2013 S: sesak Advis dr. Mansur, Sp. PD VS: TD : 120/83 IVFD D5% 10 tpm PF Syring pump perdipin tappering off Pulmo: Rh +/+ 1 amp/ 16 jam 1 amp/ 24 jam stop Inj. Cefotaxim 3x1 gr Lab: K = 5,8 Inj. Ranitidin 3x1 amp Ass: CKD gr IV Po: Post kejang Herbesser CD 200 1-0-0 HT emergensi Clonidin 2 x 0,15 mg Asam Folat 3x1 tab CaCO3 3x1 tab Ketocid 3x1 tab 15-06-2013 19.30 S: sesak napas, nyeri kepala O: KU/Kes: Sedang/ CM VS : TD : 145/95 N : 79 RR : 22 T : 36,8 S: sesak napas berkurang, pusing Konsul dr. Ruri, Sp. An Terapi lanjut

16-06-2013 20.10

Konsul dr. Ruri, Sp.An Terapi lanjut

17-06-2013 10.00

O: KU/Kes: Sedang/ CM VS : TD : 190/106 N : 82 RR : 18 T : 36,8 SpO2 = 99 BC = +400 CRF VS : TD : 198/103 N : 75 RR : 26 T : 36,8 SpO2= 99 S: hematuri

17-06-2013

18-06-2013

18-06-2013

19-06-2013

CRF VS : TD : 175/74 N : 92 RR : 20 T : 36,8 SpO2= 99 Hasil USG: Cystitis dengan massa hiperekoik Instalasi HD HD dengan VF goal 1 liter td 3 jam Post HD cek DL, GDS, kreatinin, Na, K, Cl S: sesak berkurang Advis dr. Ruri, Sp. An: VS : TD : 149/82 O2 aff N : 80 Infus lanjut RR : 20 Terapi lanjut T : 37 Boleh pindah ruangan SpO2= 99 Usul konsul urologi Post HD I Ureum 151 Kreatinin 11,5 K : 5,7 Hb : 9,6 (sudah tidak ada kegawatdaruratan di ICU)

Terapi dr. Ruri, Sp. An: Inform consent pro HD Foto trax Cek elektrolit, ureum, kreatininm Hb post tranfusi Furosemid 1x1 amp iv Terapi lain lanjut Terapi dr. Mansur, Sp. PD: Cek ureum, kreatinin, urin rutin Captopril 3x25 mg po Balance cairan USG Abdomen Terapi dr. Ruri, Sp. An: Pro HD siang hari Terapi lanjut Usul BNO

Pada kasus ini terdapat kasus bioetik dimana pasien dalam kondisi harus segera dilakukan hemodialisa akan tetapi terjadi penundaan hemodialisa hingga empat hari perawatan. Kaedah etika yang bersinggungan dengan masalah ini adalah beneficience. Penundaan hemodialisa dikarenakan terbatasnya fasilitas sehingga membuat pasien harus mengantri seusai urutan pendaftaran. Kaidah kaidah bioetik merupakah sebuah hukum mutlak bagi seorang dokter. Seorang dokter wajib mengamalkan prinsip prinsip yang ada dalam kaidah tersebut, tetapi pada beberapa

kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Kondisi seperti ini disebut Prima Facie.Salah satu kaedah etika dalam kedokteran adalah berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban. Tindakan berbuat baik (beneficence). Terdapat dua macam klasifikasi beneficence, yaitu: 1) General beneficence : a. melindungi & mempertahankan hak yang lain b. mencegah terjadi kerugian pada yang lain, c. menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain, 2) Specific beneficence : a. menolong orang cacat, b. menyelamatkan orang dari bahaya. c. Mengutamakan kepentingan pasien d. Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain e. Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk) f. Menjamin nilai pokok : apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya (apalagi ada yg hidup). Kaidah beneficence menegaskan peran dokter untuk menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik daripada hal yang buruk. Prinsip prinsip yang terkandung didalam kaidah ini adalah; a. Mengutamakan Alturisme b. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia c. Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya menguntungkan seorang dokter d. Tidak ada pembatasan goal based e. Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan suatu keburukannya f. Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang g. Menjamin kehidupan baik-minimal manusia h. Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan i. Menerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti yang orang lain inginkan j. Memberi suatu resep berkhasiat namun murah k. Mengembangkan profesi secara terus menerus l. Minimalisasi akibat buruk Selain beneficience ada tiga kaedah etika kedokteran lainnya yang perlu diperhatikan, dipahami dan dijalani dalam praktik kedokteran antara lain: 1. Autonomy Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan. a. PandanganKant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau selflegislation dari manusia. b. PandanganJ. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi.

c. Menghendaki,menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat). d. Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi. e. Kaidahikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting. f. Eratterkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects), letting die. 2. Non Maleficence Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien, seperti : a. Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien b. Minimalisasi akibat buruk c. Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal : Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal). Norma tunggal, isinya larangan. 3. Justice Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. a. Treat similar cases in a similar way = justice within morality. b. Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni : 1) Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya) 2) Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). Jenis keadilan : a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) b. Distributif (membagi sumber) Kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada setiap orang andil yang sama, sesuai dengan kebutuhannya, sesuai upayanya, sesuai kontribusinya, sesuai jasanya, sesuai bursa pasar bebas.

Anda mungkin juga menyukai