Anda di halaman 1dari 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Tektonik dan Geologi Maluku Utara Keadaan tektonik Maluku Utara merupakan daerah tektonik yang kompleks, dibangun oleh interaksi antara lempeng Filipina di utara, lempeng Pasifik di timur, lempeng Eurasia dibarat, dan lempeng Indo-Australia di selatan. Batas selatannya merupakan sistem patahan Sorong dari Papua ke Sulawesi yang panjangnya sekitar 800 km kearah Sulawesi dan 1500 km sepanjang tepi utara Papua kearah Papua Nugini. sebelah barat dibatasi oleh Laut Maluku dan di timurlaut dibatasi oleh ujung selatan Palung Filipina serta timur berbatasan dengan perluasan ke utara Patahan Sorong. Tingginya tekanan yang bekerja pada lempeng tektonik Laut Maluku, yang posisinya sangat unik, yang merupakan salah satu manifestasi aktivitas cincin api Pasific (Pasific Ring of Fire). Tektonik di daerah ini terlihat bahwa yang sejajar satu sama lain merupakan gambaran besarnya gaya yang bekerja sehingga terbentuk lempeng-lempeng tektonik mikro, yang saling sejajar polanya. Lempeng tektonik Laut Maluku, lempeng tektonik Halmahera, yang saling sejajar, lempeng tektonik Sangihe yang dapat dikatakan tegak lurus kedua lempeng ini sebagai hasil kerja saling menekan mega lempeng tektonik Eurasia di barat dengan mega lempeng tektonik Pasifik di timur, yang saling menekan satu sama lain (gambar 2.1). Kedua lempeng tektonik mikro Halmahera, Laut Maluku dan boleh jadi juga lempeng tektonik mikro Sangihe merupakan serpihan kedua margin mega lempeng tektonik itu yang terbentuk kemudian. Lebih mikro lagi yang mencirikan seismisitas khususnya lempeng tektonik mikro Laut Maluku, sebagai dampak tekanan yang begitu besar dalam waktu yang lama menjadikannya sangat sarat dengan pensesaran, kejadiannya memicu stabilitas batuan setempat menjadi labil, sehingga memicu gempa-gempa lain yang lebih kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Semakin tinggi tingkat kerapuhan batuan setempat, maka semakin banyak gempa susulan yang akan terjadi. Ini merupakan ciri akan aktivitas pada daerah yang terkena tekanan yang begitu kuat dalam waktu yang lama.

Zona tumbukan Maluku dikenal dengan struktur geologinya yang paling rumit, karena dikawasan ini lempeng mikro laut Maluku hampir seluruhnya tersubduksi, berada diantara tiga lempeng konvergen yaitu: Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Lempeng lempeng tektonik kelihatan seakan akan bertumbukan dari arah yang berlawanan. Dipermukaan terdapat dua palung laut, yaitu palung Sangihe dan palung Halmahera serta sesar Batui, sesar Sula Utara, dan sesar Filipina.

Gambar 2.1 Peta Tektonik Maluku Utara dan sekitarnya, gambar segitiga hitam menunjukan gunung api, kontur batimetri pada 200, 2000, 4000, 6000 m, garis dengan segitiga menunjukan zona subduksi (Waltham dkk, 2008)

Bagian utara Halmahera merupakan lempeng Samudra Philipina yang menunjam di bawah Philipina sepanjang palung Philipina yang merupakan suatu konfigurasi busur kepulauan sebagai hasil tabrakan lempeng di bagian barat pasifik, palung Philipina sendiri memanjang dari sebelah timur pulau Luzon Filipina sampai di sebelah timur dari Halmahera. Sebuah zona dip terbentuk di bawah Snellius ridge. Menurut McCafrey (1982) zona seismik dibawah Sneliius ridge ini terpisah dengan zona seismik lainnya di Halmahera, hal ini ditunjukan dengan propagasi gelombang shear dari gempa bumi yang terjadi di utara morotai dan disebelah barat laut Halmahera yang diterima berbeda oleh seismometer di Ternate, Mayu dan Sangihe. Dalam penelitiannya sesimometer di Ternate tidak dapat merekam dengan baik fase gelombang S dari gempa di utara morotai dan untuk gempa di barat laut Halmahera fase gelombang S dapat di rekam namun dengan efisiensi yang tinggi, sementara seismometer yang ditempatkan di Mayu dapat merekam fase gelombang S dari gempa di baratlaut Halmahera sedangkan gempa di utara Morotai fase gelombang S dapat direkam namun dengan atenuasi yang cukup tinggi, dan untuk seimometer di Sangihe dapat merekam dengan baik fase gelombang S baik itu dari gempa di barat laut Halmahera maupun di utara Morotai. Hal ini menunjukan bahwa material litosfer dapat dengan mudah mengantarkan energi gempa dari utara Morotai maupun baratlaut Halmahera sampai ke Sangihe, sedangkan untuk ke Ternate dan atau Mayu memilih melewati lapisan astenosfer. Sehingga zona seismik di sebelah utara ini dapat dinterpretasikan sebagai sisa subduksi slab di bawah Snellius ridge dan terpisah dengan Halmahera. Pertemuan tiga lempeng besar di wilayah Maluku terjadi sejak zaman kapur. Disebelah selatan pergerakan sesar sorong ke arah barat berlangsung dalam posisi yang miring dan hal ini bersamaan dengan Indo-Australia. Struktur lipatan yang berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada struktur weda yang berumur miosen tengah-pliosen awal. Sumbu lipatan berarah Utara-Selatan, timur laut-barat daya, barat laut-tenggara. Struktur sesar normal dan sesar naik umumnya terdapat pada sumbu lipatan berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara, Kegiatan tektonik dimulai pada kapur awal dan awal tersier, ketidakselarasan antara batuan berumur Paleosen-Eosen dengan batuan berumur EosenOligosen Awal, mencerminkan kegiatan tektonik sedang berlangsung kemudian diikuti kegiatan gunung api. Sesar naik akibat tektonik terjadi pada jaman Eosen-Oligosen. Tektonik terakhir terjadi pada jaman Holosen berupa pengangkatan terumbu dan adanya sesar normal yang memotong batugamping

Dari citra tomografi lempeng Laut Maluku seperti yang ditunjukan pada gambar 2.3 terlihat bahwa di kawasan ini merupakan zona tumbukan aktif termasuk wilayah Filipina bagian selatan yang terletak di sebelah utara dari zona tumbukan ini. Dari bentuk kartun 3-D yang dibuat berdasarkan tomogram tersebut (gambar 2.4), terlihat bahwa slab lempeng Laut Maluku yang menunjam ke arah barat mempunyai sudut kemiringan yang lebih tajam daripada yang tersubduksi ke arah sebaliknya. Hal ini mungkin disebabkan oleh gaya dorong yang lebih besar ke arah barat oleh lempeng Pasifik jika dibandingkan dengan gaya dorong kearah sebaliknya oleh lempeng Eurasia (Widiyantoro, 2009) Lempeng laut Maluku saat ini merupakan contoh dari basin yang mengalami penutupan akibat subduksi lempeng samudera yang mendesaknya dari dua arah yang berlawanan.

Gambar 2.3 Lokasi potongan melintang beberapa segmen di Indonesia timur dengan data gempa yang sudah direlokasi, serta interpretasi sudut subduksi laut Maluku yang ditandai dengan symbol G-G berdasarkan tomogram seismic gelombang P (Widyantoro,

2009) dan data hiposenter hasil relokasi Engdahl dkk., 2007 dalam Irsyam dkk., 2010

Gambar 2.4 Sketsa konfigurasi lempeng Laut Maluku dan Laut Filipina (Widyantoro, 2003)

Paramaeter dasar yang dibutuhkan dalam menentukan suatu hiposenter adalah origin time, dengan mengunakan diagram Wadati, selisih waktu kedatangan gelombang P dan S di plot terhadap waktu kedatangan gelombang P, maka terbentuklah suatu titik yang mewakili satu stasiun, titik-titik yang lain dengan event yang sama dan stasiun yang berbeda juga di plot, kemudian ditarik sebuah garis regresi yang melewati titik-titik tersebut, garis regresi tersebut akan memotong sumbu kedatangan gelombang P tepat pada posisi selisih kedatangan gelombang P dan S adalah 0. Dan di titik tersebutlah merupakan pendekatan waktu terjadinya gempa bumi. Kemudian untuk menentukan suatu hiposenter dapat dilakukan dengan pendekatan grafis dan inversi, dengan pendekatan grafis salah satunya adalah dengan menggunakan metode titik berat.dengan metode ini minimal stasiun pencatat adalah 3 stasiun,