Anda di halaman 1dari 9

Disediakan oleh Mohd Faidz Hj Ibrahim ( Moderator Blog Insan Istimewa Permata Hati )

Petikan daripada artikel (http://www.rehobot.online.mht)08 Apr 2007

Membimbing Anak Hiperaktif


Erick Taylor dalam bukunya ???Anak Yang Hiperaktif??? mengatakan kata ???
hiperaktif dinyatakan untuk menyatakan suatu pola perilaku pada seseorang yang
menunjuk-kan sikap tidak mandiri, tidak menaruh perhatian, dan impulsif (semau gue)
Demikian juga James Dobson dalam bukunya “Kendalikan Selagi Mampu” merumuskan
pengertian anak hiperaktif (disebut juga hiperkinensis, kelainan kecil pada otak,
kelainan impuls, dan sedikitnya ada tiga puluh istilah lainnya) didefinisikan sebagai
gerakan yang berlebihan dan tidak terkendali.
Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya “Mengatasi problem anak sehari-hari“ mengatakan
pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola
perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak
mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
Sedangkan yang dimaksud dengan hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada
seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh
perhatian dan impulsif (bertindak sekehendak hatinya). Anak hiperaktif selalu bergerak
dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-
anak lain seusia mereka, dikarenakan perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke
fokus yang lain. Mereka seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan
mengasikkan namun tidak kunjung datang. Hiperaktif juga mengacu kepada
ketiadaannya pengendalian diri, contohnya dalam mengambil keputusan atau
kesimpulan tanpa memikirkan akibat-akibat terkena hukuman atau mengalami
kecelakaan.
Dan perlu diketahui bahwa tingkah laku bukan sekedar suatu pencerminan dari hal-hal
yang disukai sebagai individu, tetapi juga merupakan akibat dari situasi-situasi yang
dialami sendiri. Dan anak-anak tersebut umumnya tidak mengeluhkan kondisi hiperaktif
kondisi hiperaktif mereka, tetapi tindakan mereka sering membuat reaksi dari orang
lain.

Ditinjau dari sudut pandang/perspektif sosiologi, anak merupakan pribadi sosial yang
memerlukan hubungan dan komunikasi dengan orang lain. Untuk memanusiakan
dirinya, anak ingin juga dicintai, diakui dan dihargai, oleh karena anak yang hiperaktif
kurang disukai dalam lingkungan pergaulannya maka perkembangan dan hubungan
anak tersebut dengan lingkungan sosialnya akan terganggu, sehingga anak tersebut
akan bersikap semaunya terhadap lingkungannya, dan tingkah lakunya kurang
terkontrol. Demikian halnya dengan masalah mereka di sekolah, anak juga akan
merasa kehilangan dukungan apabila orang tuanya tidak menemaninya di dalam kelas.
Oleh karena itulah anak hiperaktif ini sangat memerlukan komunikasi dengan orang
lain, baik itu orang tua mereka sendiri.
Ditinjau dari sudut pandang psikologi, anak merupakan pribadi sosial dan apabila pada
anak yang hiperaktif tersebut mendapat sambutan baik ataupun bimbingan ke arah
yang benar maka perkembangan pribadinya akan lebih terarah. Bila anak hiperaktif
tersebut tidak mendapatkan sambutan baik atau bimbingan dari keluarga dan
lingkungannya, maka anak akan menjadi rendah diri, bisa juga rasa egoisnya tinggi
sekali dan bersifat masa bodoh terhadap keluarga dan lingkungannya, juga keadaan
jiwanya sangat labil. Anak hiperaktif ini sangat memerlukan sekali hubungan yang dekat
melalui bimbingan yang baik dan benar, orang tua dan guru tidak seharusnya bersikap
acuh tak acuh dan menyerah. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah
melalui bimbingan yang terarah kepada anak tersebut. Perlu ada kesabaran untuk
membimbing anak seperti itu, walaupun pekerjaan ini harus dilakukan berulang-ulang.
2. Latar belakang anak hiperaktif.
Anak hiperaktif bisa saja disebabkan dari sikap orang tua yang membesarkan mereka.
Kalau orang tua memakai teknik pengurusan yang tidak efektif, tidak konsisten atau di
rumah kurang ada disiplin yang semestinya, seringkali anak berperilaku berlebihan.
Misalnya, anak dapat menghindari kewajiban dan tanggung jawab yang tidak
menyenangkan atau memperdaya anak lain agar sebagian besar kebutuhan terpenuhi.
Anak juga akan mengatur diri sendiri di rumah dan lebih berkuasa dari pada orang
tuanya
Orang tua tidak memahami bahwa anak yang mengalami gangguan perkembangan
memerlukan perhatian khusus, sehingga dapat menimbulkan aktivitas-aktivitas yang
berlebihan pada diri anak tersebut.
Anak hiperaktif dapat juga disebabkan oleh kerusakan pusat syaraf, walaupun juga
dapat disebabkan oleh tekanan batin dan kelelahan4 . Tetapi anak hiperaktif itu sendiri
tidak selamanya disebabkan oleh adanya kerusakan otak.
Beberapa pakar memeperkirakan ada kecenderungan kerusakan jaringan otak yang
sangat berat (yang disebut celebral palsied) pada saat anak lahir. Dan pasien tidak
memperlihatkan gejala-gejala yang terlihat dalam tiga variabel:
(1) Dimana letak kerusakan itu ; (2) Seberapa besar lukanya; dan (3) Seberapa cepat
luka di ketahui. Oleh sebab itu mungkin saja ada anak hiperaktif yang menderita
gangguan otak yang tidak diketahui pada awal kehidupannya tanpa meninggalkan
gejala atau persoalan lainnya. Penjelasan ini hanya bersifat spekulatif dan bahwa
pengetahuan kedokteran mengenai penyakit ini masih jauh dari sempurna.
Kerusakan otak dapat dilihat dari banyak tindakan yang aneh, termasuk gerakan dan
kegiatan yang kacau yang dilakukan oleh seorang yang hipraktif. Ia tidak mampu
menyimpan apa yang ada dalam pikirannya sendiri. Ia berkomat-kamit mengutarakan
buah pikirannya yang paling dalam, sehingga membuat malu dan mengagetkan setiap
orang yang berada di dekatnya. Akan tetapi ada satu kesulitan akademis lain yang juga
lazim ditemukan antara anak-anak yang hiperaktif, yaitu kesulitan melihat dan
memahami. Seorang anak mungkin saja memiliki penglihatan yang betul-betul normal,
namun tidak memahami lambang-lambang dan bahan cetakan dengan tepat. Dengan
kata lain, kedua matanya mungkin saja sempurna tetapi otaknya tidak mengolah tanda
itu sebagaimana mestinya.
Many Go Setiawani dalam bukunya “Menerobos dunia anak” mengatakan bahwa gejala
hiperaktif merupakan akibat dari zat pewarna merah untuk makanan, terlalu banyak
makan gula, kekurangan vitamin. Kebiasaan makan yang salah dapat merusak tubuh
dan mudah dihubungkan dengan gejala hiperaktif. Mereka juga sensitif terhadap
makanan tertentu, seperti coklat, jagung, telor ayam, susu kedelai, daging, gula dan
gandum. Dan secara medis, alergi makanan dapat menyebabkan hiperaktif. Akan tetapi
alergi makanan ini belum ada bukti yang relevan pada sebagian anak kecil anak-anak
tersebut.
Anak hiperaktif juga harus dijaga minumannya, semacam es krim, es podeng kecuali
bila dibuat tanpa bahan pengawet atau pewarna. Vitamin harus diberikan kepada anak
hiperaktif seperti vitamin A, B kompleks

Faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif.


Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain:
a. Pemanjaan.
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu manis,
membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja
itu sering memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya. Ia akan memperdaya
orangtuanya untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Serta kurangnya disiplin yang
diberikan oleh orangtua kepada anak tersebut. Cara seperti itulah yang akan membuat
anak untuk berbuat sekehendak hatinya.
Anak yang dimanja biasanya pengarahan yang diberikan kepadanya berkurang. Dan
kalau disekolahkan ia akan memilih berjalan-jalan dan berdiri dari pada mendengarkan
pelajaran yang diberikan oleh guru. Memanjakan membujuk makan, membiarkan
tindakannya sendiri, memnuhi semua keinginannya dan kebutuhannya itu harus
dihindari.
Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah
biologis. Orangtua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut
anak agar menaatinya. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orangtua ingin
ditaati oleh anak-anaknya supaya pernyataan ini juga memberikan rasa aman kepada
anak. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam, keras, diktator atau berhati baja, tetapi
sebaliknya justru untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka
lakukan. Anak yang manja biasanya sulit bergaul dengan teman sebanyanya karena
ingin menang tidak punya tanggung jawab, mengalami kesulitan di sekolah karena
berbuat sesuka hatinya dan tidak mematuhi peraturan kelas, sering membantah, hanya
berbuat menurut keinginannya. Jelaslah bahwa anak-anak semacam ini akan menemui
kesulitan dalam bergaul.
b. Kurang disiplin dan pengawasan.
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan ini akan berbuat sesuka hatinya, sebab
perilakunya kurang dibatasi. Dan apa yang dilakukan oleh anak tersebut dibiarkan
begitu saja tanpa ada perhatian dari orang tua. Jika anak dibiarkan begitu saja tanpa
ada perhatian untuk berbuat sesuka hatinya dalam rumah, maka anak tersebut akan
berbuat sesuka hatinya ditempat lain baik itu di sekolah. Dan orang lain juga akan sulit
untuk mengendalikannya di tempat lain baik di sekolah.
c. Orientasi kesenangan.
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan umumnya akan memiliki
ciri-ciri hiperaktif secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda agar mau
mendengarkan dan menyesuaikan diri. Anak yang mempunyai orientasi kesenangan
ingin memuaskan kebutuhan atau keinginan sendiri. Ia lebih memperhatikan
kesenangan yang berasal dari perilakunya dari pada menggubris hukumannya.
Misalnya anak itu mungkin tahu bahwa ia melanggar dan menerima hukuman, namun
jika itu menyenangkannya, ia akan melakukan juga walaupun ia mencemaskan
hukumannya nanti. Ia akan melakukan apa yang menjadi kesenangannya dan tidak
perduli dengan aturan yang sudah ada ditentukan oleh orang lain.
Jika ingin menyuruh akan tersebut melakukan tugas yang sesuai dengan keinginannya
maka ia akan melakukannya. Sebaliknya jika ingin menyuruh apa yang tidak disenangi
olehnya maka anak itu tidak akan melakukannya.
Anak hiperaktif ini dalam melakukan sesuatu terlebih dahulu berpikir sebelum berbuat,
namun hal seperti itu tidak selalu benar. Ia melakukan hal seperti itu karena
keinginannya harus terjadi.
Pengaruh yang dihadapi oleh anak yang hiperaktif.
Ada beberapa hal bagaimana pengaruh yang dihadapi oleh anak hiperaktif antara lain:
a. Pengaruh keluarga
Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama, oleh karena itu
orang tua adalah pendidik yang pertama, keluarga merupakan pusat di mana diletakkan
dasar-dasar pandangan hidup, dan pembentukan pribadi anak. Hubungan antar
anggota keluarga dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan
jiwa anak hiteraktif. Dalam hubungan ini selian hubungan pribadi yang didasarkan atas
kewibawaan, juga terhadap hubungan cinta kasih antara orang tua kepada anak dan
sebaliknya. Untuk itulah orang tua tidak boleh bersikap acuh tak acuh kepada anak
seperti itu. Peranan ibulah sebagai pendidik yang lebih menonjol di dalam keluarga..
Setiap ibu yang mempunyai anak hiperaktif kadang-kadang akan mengalami
pergumulan yang hebat dalam pikirannya. Di satu sisi yang lalu, ibu juga akan merasa
jengkel dengan kekacauan yang ditimbulkan oleh anak hiperaktif dan di satu sisi yang
lain ibu juga mempunyai rasa empati dan kasih yang dalam untuk anaknya yang masih
kecil itu di dalam kehidupannya sehari-hari. setiap perilaku yang tidak dapat diterima
harus dicegah, dan diberikan suatu bimbingan ke anak hiperaktif sesuai dengan
kebenaran. Perlu adanya kesabaran dalam diri orang tua, guru dalam mendidik anak
hiperaktif walaupun harus dilakuka berulang-ulang.
Dalam menghadapi anak hiperaktif yang diperlukan sikap yang lebih bijaksana dari
semua pihak, khususnya para orang tua. Guru dan orang tua harus berusaha
memahami keadaannya dan membimbingnya dalam melakukan beberapa aktivitas.
b. Pengaruh lingkungan
Pengaruh lingkungan bagi anak hiperaktif ini kurang disukai oleh lingkungan khususnya
bagi teman-teman sebayanya, karena di dalam diri anak itu ada jiwa ingin mengepalai,
menguasai dan menjadi pemimpin di antara teman-temannya yang lain.
Anak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulannya. Untuk itulah
diperlukan perhatian khusus dari orang tua maupun guru kelas sendiri di dalam
mengatasinya. Jika hal demikian terjadi bagi anak hiperaktif ini dimana anak itu kurang
dapat diterima di lingkungan permainannya, maka akan terjadi suatu perilaku aneh atau
bersifat lebih baik berdiam diri. Anak tiu juga akan merasa rendah diri bila lingkungan
pergaulannya menolak, sehingga anak tersebut akan melakukan kegiatan-kegiatan
sendiri yang dirasakannya sendiri lebih asyik untuk dilakukan. Dengan perbuatan yang
aneh dibuat oleh anak hiperaktif ini akan membuat orang lain atau lingkungan
pergaulannya akan menjauhinya.
Apabila lingkungan si anak adalah lingkungan yang tertib maka akan memberikan
reaksi yang baik terhadap anak hiperaktif. Dalam lingkungan yang labil, tidak tetap
maka perilaku anak hiperaktif akan meningkat. Hal ini dialami oleh orang tua yang
memiliki anak hiperaktif. Seperti sebuah contoh: sebuah keluarga sedang menonton
TV, semua tenang dan Riana asyik bermain dengan mobil mainannya. Lalu tiba-tiba
ayahnya berkata: “marilah kita pergi membeli es krim” Riana tiba-tiba tergugah
aktivitasnya. Ia bergairah, berjalan hilir mudik, berceloteh dan menampakkan perilaku
hiperaktif, seolah-olah ia terkena aliran listrik. Anak ini bereaksi atas perubahan,
lingkungan yang baru, sehingga lingkungan kehilangan ketertiban dan perencanaan.
Makin tertib dan terencana dalam lingkungan, anak-anak yang hiperaktif makin mereda
dan mau mendengarkan, serta disiplinpun makin efektif. Lingkungan yang tertib
pertama-tama berpusat pada konsisten orang tua dalam mengurus anak-anak mereka.
c. Pengaruh sekolah
Anak hiperaktif ini juga mengalami kesukaran di dalam kelas. Kesukaran yang
dihadapinya adalah sukar belajar. Anak ini belajar dengan cepat dan mudah, tetapi
lebih suka belajar lewat sarana-sarana kreatif dari pada perintah. Makanya ia berbuat
sekehendak hatinya di kelas, cepat bosan dengan tugas-tugas rutin dan tidak mau
menyelesaikan tugas yang sudah diketahuinya. Ia juga menimbulkan kesulitan di kelas,
sebab tugasnya lebih cepat selesai dari pada murid-murid yang lainnya.
Dalam proses belajar di dalam kelas, ia merasa sulit untuk duduk dengan diam di
kursinya dan memusatkan perhatiannya itu singkat sekali, sehingga ia menjadi nakal
dan mengganggu teman-temannya di kelas waktu guru sedang mengajar. Kadang kala
anak tersebut sadar harus mematuhi peraturan yang ada di kelas, tetapi anak ini tidak
mampu untuk mengendalikan dirinya. Rentang perhatian anak hiperaktif ini sangat
sempit sehingga untuk konsentrasi dalam memusatkan perhatiannya cepat hilang dan
anak ini tidak pernah menerima informasi. Akibatnya kalau anak ini ditanyai oleh guru di
dalam kelas tidak cepat menjawab. Guru kelasnya akan menganggap anak itu bingung.
Sekolah untuk anak hiperaktif seperti ini seharusnya sekolah yang harus luwes dan bisa
menangani murid-muridnya menurut kebutuhan mereka masing-masing. Anak hiperaktif
juga perlu dilatih dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan dan situasi yang
berlainan. Bagi mereka sekolah menyajikan sejumlah situasi baru, baik yang
menyenangkan maupun yang menegangkan.
Beberapa anak menemukan bahwa lingkungan yang baru itu membingungkan dan
terlalu banyak yang harus diperhatikan. Pikiran mereka menjadi kacau dan perhatian
mereka tertekan akibat keadaan itu. Tetapi justru ada juga yang bersemangat dan
bergembira saat baru dimulai. Dalam hal malahan yang mengalami perasaan tertekan
justru orang lain. Guru merasa bahwa anak-anak yang lain akan segera menjauhi
mereka, karena tingkah laku mereka sangat mengjengkelkan.
Taman Kanak-Kanak dan kelompok bermain dapat menjadi tempat untuk
menyesuaikan diri dengan anak-anak lain, dan kehadiran orang tua disitu sangat
diperlukan oleh anak itu. Biasanya anak-anak seperti ini dimintai untuk meninggalkan
Taman Kanak-Kanak dengan alasan mengganggu dan merugikan orang lain.
Sementara kegiatan sekolah berjalan, banyak lagi yang harus dilakukan agar anak-
anak hiperaktif itu dapat belajar seperti anak-anak yang lain, dapat mengendalikan diri
dan dapat menjadi teman yang menyenangkan bagi anak-anak lain. Dan anak diajurkan
untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang tersedia di kelas dan membuat suatu yang
menyenangkan, dan dapat menemukan saluran yang konstruktif bagi energi mereka
yang berlebihan.
Metode bimbingan bagi anak hiperaktif
Menurut Moeslichatoen ada beberapa metode yang cocok untuk membimbing dan
mengarahkan anak. Adapun keseluruhan metode tersebut akan dijelaskan di bawah ini
sebagaimana Moeslichatoen menjelaskan dalam bukunya “Metode pengajaran di
Taman Kanak-Kanak
Metode Bercerita
Metode cerita juga digunakan oleh Allah untuk mengajarkan kepada manusia tentang
prinsip-prinsip rohani. Dalam cerita terjadi peristiwa yang menarik. Metode cerita bagi
anak-anak usia 3 ??? 5 tahun merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar
bagi anak secara lisan. Metode bercerita bagi anak usia ini dalam mengajarkan tentang
kebenaran haruslah menarik, mengundang perhatian dan tidak lepas dari konsep
bercerita. Dunia kehidupan anak itu penuh sukacita, maka kegiatan bercerita haruslah
diusahakan dapat memberikan perasaan, gembir, lucu, dan mengasyikkan. Karena
dunia kehidupan anak itu dapat berkaitan dengan lingkungan keluarga, sekolah dan
diluar lingkungannya.
Moeslichatoen mengatakan bahwa ada beberapa macam teknik bercerita yang dapat
dipergunakan antara lain guru atau orang tua dapat membaca langsung dari buku,
menggunakan illustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flanel, menggunakan
boneka, bermain peran dalam suatu cerita.
Metode tanya-jawab.
Dengan adanya metode tanya-jawab ini akan membuat antara anak dan guru ada
komunikasi. Itu juga diperlukan persiapan yang baik agar dapat memberikan jawaban
yang sesuai dengan kebenarannya. Kadang kala ada anak hiperaktif menanyakan
sesuatu yang dapat membuat guru menjadi bingung untuk menjawabnya. Saat anak
yang memiliki perilaku yang berlebihan itu tidak bisa diam, guru dapat langsung
bertanya kepada anak mengenai cerita yang baru saja diceritakan. Dengan cara ini
maka anak tersebut akan memberikan perhatiannya kepada guru yang bertanya.
Walaupun rentang konsentrasi anak seperti itu sangat singkat.

Metode pekerjaan tangan.


Guru/pembimbinga anak dapat memberikan metode pekerjaan tangan ini kepada anak
yang memiliki perlaku berlebihan atau yang tidak mau diam, seperti membuat bentuk
dari lilin, melukis dengan kanji yang berwarna warni. Hal tersebut harus dibuat oleh
anak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh guru. Dengan adanya metode ini maka
anak yang tidak mau diam tadi dapat diberikan kegiatan diatas, sehingga anak itu tidak
lagi mengganggu teman yang lainnya saat berada di kelas.
Metode pemberian tugas.
Metode pemberian tugas merupakan tugas atau pekerjaan yang sengaja diberikan
kepada anak yang tidak mau diam, supaya kesempatan si anak untuk mengganggu
temannya mulai berkurang. Pemberian tugas itu juga harus jelas dan penentuan batas
yang tepat diberikan secara nyata. Banyak anak yang mengalami hambatan untuk
memperoleh kemajuan belajar karena tidak menentunya batas tugas yang diberikan
oleh guru untuk diselesaikan. Kejelasan penentuan batas tugas yang harus
diselesaikan anak akan memperkecil kemungkinan anak membuang-buang waktu dan
tenaga untuk suatu kegiatan yang tidak membuahkan hasil dan tidak bermakna bagi
anak. Pemberian tugas kepada anak seperti ini juga harus dapat membangkitkan minat
anak untuk mengembangkan tugas itu secara kreatif. Anak itu tidak akan melakukan
tugas bila yang diberikan oleh guru baginya itu tidak menarik. Pemberian tugas secara
tepat dan profesional akan dapat meningkatkan bagaimana cara belajar yang benar,
sehingga keinginan anak untuk melakukannya timbul pada dirinya sendiri. Bila
pemberian tugas itu menggunakan bahan yang bervariasi, dan sesuai dengan
kebutuhan dan minat anak, maka akan memberikan arti yang besar bagi anak tersebut.
Metode bermain.
Metode bermain juga sangat baik diberikan kepada anak tersebut karena anak akan
belajar mengendalikan diri sendiri, memahami dunianya.
Dengan menggunakan metode bermain kepada anak seperti ini diperlukan guru-guru
yang harus menemaninya. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan
kreativitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang dapat menyalurkan bakat si anak.
Bagi anak seperti ini, metode ini dapat diberikan dan anak akan merasa sangat senang.
Karena anak itu dapat dengan bebas melakukan kegiatannya yang dirasakan cukup
baik bagi dirinya. Melalui kegiatan bermain ini anak dapat menggunakan otot kasar.
Bermacam cara dan teknik dapat dipergunakan dalam kegiatan tersebut seperti
merayap, berlari, merangkak, berjalan, melompoat, menendang, melempar
Guru/pembimbing anak dapat melakukan metode bermain ini sehingga anak tersebut
tidak cepat bosa dengan cara yang diberikan oleh guru. Seperti mengajak anak untuk
bernyanyi yang menggunakan aturan main. Anak seperti ini akan tertarik untuk
melakukannya.
Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan
kegiatan bermain anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan dengan
menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan. Anak
dapat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan menggunakan metode bermain ini
seperti bagaimana caranya memasak, mengapa pohon layu bila tidak diberi air, dan
sebagainya.
Kegiatan menggambar dapat juga diberikan kepada anak hiperaktif termasuk didalam
kegiatan bermain. Anak dalam menggambar dapat menggunakan pensil warna dan
kertas gambar. Cara seperti ini merupakan salah satu kegiatan yang dapat
menyalurkan tenaga pada dirinya.