Anda di halaman 1dari 7

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ABO

1. Tujuan Percobaan Mengetahui cara pengerjaan pemeriksaan golongan darah A, B, AB, O Menentukan golongan darah Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada pemeriksaan golongan darah melalui analisa secara biokimiawi klinis Memahami prinsip penggolongan darah A, B, AB, O melalui analisa secara biokimiawi klinis

2. Tinjauan Pustaka Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah (eritrosit). Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan darah sistem ABO dan sistem Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen, selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai.

Sejarah penemuan golongan darah A,B, O Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria, pada tahun 1900 telah menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO, dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya.

Percobaan sederhana yang ia dilakukan adalah dengan mereaksikan sel darah merah seseorang dengan serum dari para donor. Hasilnya adalah dari sampel-sampel tersebut menunjukkan adanya dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam yang tidak menunjukkan reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O).

Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan darah A dan golongan darah B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan darah O.

Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli, yang masih kolega dari Landsteiner, menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, ditemukan adanya antigen A dan B secara bersamaan pada sel darah merah, sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi.

Penemuan Golongan darah ini dilandasi oleh adanya Interaksi Antigen-Antibodi. Antibodi adalah molekul protein (immunoglobulin) yang memiliki satuatau lebih tempat perlekatan (combining sites) yang disebut paratope. Antigen adalah molekul asing yang mendatangkan suatu respon spesifikdari limfosit. Sejak tahun 1900 sampai dengan tahun 1962 telah dikenal orang dengan baik, 12 macam system golongan darah, yang penting dalam bidang transfusi darah dan kehamilan. Golongan dimaksud adalah system - system : ABO, MNSs,P, Rhesus, Lutheran, Kell, Lewis, Duffy, Kidd, Ausberger, Xg dan Doombrok. Dan masih ada lagi system - system golongan darah lainnya seperti Diego, Sutter yang ditemukan pada beberapa ras bangsa saja dan lainnya. Didalam transfusi darah hanya system ABO yang merupakan golongan terpenting untuk tujuan-tujuan klinis. System golongan darah lainnya dianggap kurang mempunyai arti klinis karena termasuk memiliki antigen-antigen mengalami yang transfusi lemah, yang dan antibodynya berulangkali. Dan baru zat timbul antinya setelah biasanya mempunyai suhu optimum reaksi yang rendah( dibawah 37 C ), sehingga tidak mempunyai arti klinis yang berarti. Penggolongan Darah Sistem ABO

Golongan darah merupakan ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebutantigen) yang terkandung di dalam sel darah merah (Fitri, 2007). Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai didunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B,golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia. (Alrasyid,2010).

Golongan darah menurut sistem A-B-O dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Land-Steiner dalam Suryo (1996) membedakan darah manusia kedalam empat golongan yaitu A, B, AB dan O. Penggolongan darah ini disebabkan oleh macam antigen yang dikandung oleh eritrosit (sel darah merah). Sebagian besar gen yang ada dalam populasi sebenarnya hadir dalam lebih dari dua bentuk alel. Golongan darah ABO pada manusia merupakan satu contoh dari alel berganda dari sebuah gen tunggal. Ada empat kemungkinan fenotip untuk untuk karakter ini: Golongan darah

seseorang mungkin A, B, AB atau O. Huruf-huruf ini menunjukkan dua karbohidrat, substansi A dan substansi B, yang mungkin ditemukan pada permukaan sel darah merah. Sel darah seseorang mungkin mempunyai sebuah substansi (tipe A atau B), kedua-duanya (tipe AB),atau tidak sama sekali (tipe O).Golongan darah yang berbeda yaitu A, B, AB dan O. ditentukan oleh sepasang gen, yang diwarisi dari kedua orang tua. Setiap golongan darah dapat dikenal dari zat kimia yang disebut antigen, yang terletak di permukaan sel darah merah. Ketika seseorang membutuhkan transfusi darah, maka darah yang disumbangkan haruslah sesuai dengan golongan darah tertentu. Kesalahan dalam melakukan transfusi akan dapat menimbulkan komplikasi yang serius. (AustraliaRed Cross, 2008). Pemeriksaan golongan darah mempunyai berbagai manfaat dan mempersingkat waktu dalam identifikasi. Golongan darah penting untuk diketahui dalam hal kepentingan transfusi, donor yang tepat serta identifikasi pada kasus kedokteran forensik seperti identifikasi pada beberapa kasus kriminal (Azmielvita,2009). Kesesuaian golongan darah sangatlah penting dalam transfusi darah. Jikadarah donor mempunyai faktor (A atau B) yang dianggap asing oleh resipien,protein spesifik yang disebut antibodi yang diproduksi oleh resipien akanmengikatkan diri pada molekul asing tersebut sehingga menyebabkan sel-seldarah yang disumbangkan menggumpal. Penggumpalan ini dapat membunuhresipien (Azmielvita, 2009). Klasifikasi golongan darah ABO ditentukan berdasarkan ada tidaknya aglutinogen (antigen tipe A dan tipe B) yang ditemukan pada permukaan eritrosit dan aglutinin (antibodi) anti-A dan anti-B, yang ditemukan dalam plasma. Aglutinogen berarti antigen yang digumpalkan, sedangkan aglutinin adalah jenis antibodi yang menggumpalkan. Sistem ini mengelompokkan tipe darah manusia menjadi empat macam yaitu A, B, AB, dan O.

1. Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif. 2. Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif 3. Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif. 4. Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah Onegatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif. Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) danresipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas.

3. Bahan dan Alat a. Bahan : alkohol 70%, kit golongan darah ABO ( anti A, anti B, dan anti AB ), darah kapiler atau darah vena. b. Alat : tusuk gigi, lanset, kertas pemeriksaan darah

4. Cara Kerja 1. Bersihkan jari dengan alkohol 70% 2. Tusuk dengan lanset, tetesan pertama dibuang dan tetesan selanjutnyan diteteskan pada kertas pemeriksaan darah. 3. Teteskan diatas tetesan darah pertama kit anti A, kedua kit anti B, dan kit anti AB. 4. Aduk dengan tusuk gigi dengan cara melingkar, amati reaksi aglutinasi yang terjadi. 5. Pengamatan : Kit Anti A (+) (-) (+) (-) Kit Anti B (-) (+) (+) (-) Kit Anti AB Gol. Darah (+) (-) (+) (-) A B AB O

5. Hasil dan Pembahasan a. Hasil Golongan Darah A 1 1 2 1 1 6 20,69% B 2 1 1 2 1 7 24,14% AB 1 1 1 3 10,34% O 3 1 2 4 3 13 44,83%

Kel 1 2 3 4 5 Jumlah %

b. Pembahasan Kegiatan pengujian golongan darah ini dilakukan untuk mengetahui cara menentukan golongan darah melalui perbedaan reaksi antara berbagai golongan darah kemudian menentukan golongan darah sistem ABO. Membran sel darah manusia mengandung bermacam-macam protein oligosakarida dan senyawa lainnya salah satunya antigen. Golongan darah sistem ABO yang akan diuji kali ini, didasari pada keberadaan antigen, yaitu antigen A dan antigen B di membran sel darah merah. Golongan darah A mempunyai antigen A,golongan darah B mempunyai antigen B, golongan darah AB mempunyai antigen A dan B, sedangkan golongan darah O tidak mempunyai kedua antigen tersebut.

Darah yang diambil berasal dari kapiler pada bagian ujung jari tangan. Sebelum darah diambil dengan menggunakan blood lancet, ujung jari tangan dibersihkan dengan alcohol 70% agar terhindar dari kuman-kuman yang dapat menyebabkan infeksi. Selanjutnya, tetesan darah pertama dibuang dan selanjutnya di teteskan pada kertas pemeriksaan darah. Masingmasing tetesan darah diberi serum anti A, anti B dan anti AB.

Penggolongan darah pada praktikum ini dilakukan dengan melihat apakah terjadi penggumpalan setelah mencampurkan darah dengan masing-masing antiserum A,B dan AB.

6. Kesimpulan Jika serum anti-A menyebabkan aglutinasi pada tetes darah, maka individu tersebut memiliki aglutinogen tipe A (golongan darah A) Jika serum anti-B menyebabkan aglutinasi, individu tersebut memiliki aglutinogen tipe B (golongan darah B) Jika kedua serum anti-A dan anti-B menyebabkan aglutinasi individu tersebut memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B (golongan darah AB) Jika kedua serum anti-A dan anti-B tidak mengakibatkan aglutinasi, maka individu tersebut tidak memiliki aglutinogen (golongan darah O)

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_darah http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/02/sistem-golongan-darah-abo.html