Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN OBSTRUKSI ILEUS

Disusun oleh: Yosep Pratama NIM: 4006130028

PROGRAM PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA BANDUNG 2013/2014

LAPORAN PENDAHULUAN OBSTRUKSI ILLEUS

A. DEFINISI Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001). Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional (Tucker, 1998). Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara, 2007).

B. ETILOGI 1. Illeus Obstruktif / Maekanik a. Adhesi ( Perlekatan Usus Halus ) merupakan penyebab tersering illeus obstruktif, sekitar 50-70% dari semua kasus. Adhesi bias disebabkan oleh riwayat operasi intraabdominal sebelumnya atau proses inflamasi intraabdominal. Obstruksi yang disebbkan oleh adhesi berkembang 5%

dari pasien yang mengalami oprasi abdominal dalam hidupnya. Perlengketan konginetal juga dapat menimbulkan illeus obstruktif pada anak. b. Hernia inkaserata eksternal (iguinal, femoral, umbilkal, isisional, atua parastomal) merupakan terbanyak ke dua penyebab ileus obstruksi, dan merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak memiliki riwayat operasi abdomen. c. Neoplasma. Tumor usus halus dapat menyebabkan obstruksi intralumen, sedangkan tumor metastase atau intaabdomen dapat menyebabkan obstruksi melalui kompresi eksternal. d. Intususpensi usus halus menimbulkan obstruksi dan iskemia terhadap bagian usus yang mengalami intususpensi. Tumor, polip atau pembesaran limphanodus mesentericus dapat sebagai petunjuk awal intususpensi. e. Penyakit Crohn dapat menyebabkan obstruksi skunder hingga inflamasi akut selama masa infeksi atau karena striktur yang kronik. f. Volvus sering disebabkan karena Adhesi atau kelainan konginetal, seperti malrotasi usus. Vovus lebih sering sebagai penyebab obstruksi usus besar. g. Batu empedu yang masuk ke illeus. Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum atau usus halus yang menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau pada katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi.

h. Striktur yang sekunder yang berhubungan dengan iskemia, inflamasi, terapi radiasi, atau trauma operasi. i. Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususpensi, atau penumpukan cairan. j. Benda asing seperti bezoar. Penyebab illeus obstruktif ( Ansari, 2007) LOKASI PENYEBAB Tumor (umumnya di kolon kiri), diverticulitis (umumnya dikolon sigmoid), volvulus di sigmoid atau sekum, fekalit, penyakit HIschprug.

Kolon Duodenum Dewasa Neonates Jejunum & ileum Dewasa

Kanker di duodenum atau kepala pancreas ulkus, Atresia, vovulus, adhesi

Hernia, adhesi, tumor, benda asing, divertikulum Meckel, penyakit Crohn, ascariasis, vovulus, intususepsi karena tumor. Ileusmekonium, vovulus, atresia, intrausepsi

Neonates

2. Illeus Paralitik a. Kimia, elektrolit, atau gangguan mineral (seperti turunnya kadar potassium) b. Komplikasi bedah intraabdominal c. Cedera/penurunan suplai darah ke daerah abdominal

d. Infeksi intra abdominal e. Penyakit ginjal dan paru f. Penggunaan obat-obat tertentu, seperti narkotik Pada anak, ileus paralitik mungkin terkait dengan bakteri, virus, atau keracunan makanan (gastroenteritis) yang sebagian diasosiasikan dengan peritonitis/apendisitis. Ileus dapat ditandai dengan adanya distensi abdomen disertai nyeri perut, bising usus pada onset dan gambaran airfluid levels pada radiologi. Penatalaksanaan ileus dapat berupa dekompresi nasogastrik atau penggunaan agen prokinetik seperti cisapride atau erytrhomicin.

C. PATOFISIOLOGI Ileus non mekanis dapat disebabkan oleh manipulasi organ abdomen, peritonitis, sepsis dll, sedang ileus mekanis disebabkan oleh perlengketan neoplasma, benda asing, striktur dll. Adanya penyebab tersebut dapat mengakibatkan passage usus terganggu sehingga terjadi akumulasi gas dan cairan dlm lumen usus. Adanya akumulasi isi usus dapat menyebabkan gangguan absorbsi H20 dan elektrolit pada lumen usus yang mengakibatkan kehilangan H20 dan natrium, selanjutnya akan terjadi penurunan volume cairan ekstraseluler sehingga terjadi syok hipovolemik, penurunan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan hipotensi. Akumulasi cairan juga mengakibatkan distensi dinding usus sehingga timbul nyeri, kram dan kolik. Selain itu juga distensi dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Selanjutnya terjadi iskemik

dinding usus, kemudian terjadi nekrosis, ruptur dan perforasi sehingga terjadi pelepasan bakteri dan toksin dari usus yang nekrotik ke dalam peritoneum dan sirkulasi sistem. Pelepasan bakteri dan toksin ke peritoneum akan menyebabkan peritonitis septikemia. Akumulasi gas dan cairan dalam lumen usus juga dapat menyebabkan terjadinya obstruksi komplet sehingga gelombang peristaltik dapat berbalik arah dan menyebabkan isi usus terdorong ke mulut, keadaan ini akan menimbulkan muntah-muntah yang akan mengakibatkan dehidrasi. Muntahmuntah yang berlebihan dapat menyebabkan kehilangan ion hidrogen & kalium dari lambung serta penurunan klorida dan kalium dalam darah, hal ini merupakan tanda dan gejala alkalosis metabolik.

D. GEJALA KLINIS Adapun gejala klinis dari obstruksi usus yaitu : 1. Peregangan abdomen. 2. Nyeri (biasanya menyerupai kejang dan di pertengahan abdomen, terutama daerah paraumbilikalis). 3. Muntah (bila obstruksi terjadi pada usus halus bagian atas, maka muntah akan lebih sering terjadi dibandingkan dengan obstruksi yang terjadi pada ileum atau usus besar). 4. Kolik (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas, distensi, muntah empedu awal, peningkatan bising usus (bunyi gemerincing bernada tinggi terdengar pada interval singkat), Gejala berkembang dengan cepat; nyeri

parah, terus menerus dan terlokalisir; distensi sedang; muntah persisten; biasanya bising usus menurun dan nyeri tekan terlokalisir hebat.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan radiologi a. Foto polos abdomen Dengan posisi terlentang dan tegak (lateral dekubitus) memperlihatkan dilatasi lengkung usus halus disertai adanya batas antara air dan udara atau gas (air-fluid level) yang membentuk pola bagaikan tangga. b. Pemeriksaan radiologi dengan Barium Enema Mempunyai suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi usus halus. Pengujian Enema Barium terutama sekali bermanfaat jika suatu obstruksi letak rendah yang tidak dapat pada pemeriksaan foto polos abdomen. Pada anak-anak dengan intussuscepsi, pemeriksaan enema barium tidak hanya sebagai diagnostik tetapi juga mungkin sebagai terapi. c. CTScan. Pemeriksaan ini dikerjakan jika secara klinis dan foto polos abdomen dicurigai adanya strangulasi. CTScan akan mempertunjukkan secara lebih teliti adanya kelainan-kelainan dinding usus, mesenterikus, dan peritoneum. CTScan harus dilakukan dengan memasukkan zat kontras

kedalam pembuluh darah. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui derajat dan lokasi dari obstruksi. d. USG Pemeriksaan ini akan mempertunjukkan gambaran dan penyebab dari obstruksi. e. MRI Walaupun pemeriksaan ini dapat digunakan, tetapi tehnik dan kontras yang ada sekarang ini belum secara penuh mapan. Tehnik ini digunakan untuk mengevaluasi iskemia mesenterik kronis. f. Angiografi Angiografi mesenterik superior telah digunakan untuk mendiagnosis adanya herniasi internal, intussuscepsi, volvulus, malrotation, dan adhesi. 2. Pemeriksaan laboratorium Leukositosis mungkin menunjukkan adanya strangulasi, pada urinalisa mungkin menunjukkan dehidrasi. Analisa gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolic. ( Brunner and Suddarth, 2002 )

F. DIAGNOSIS / KRITERIA DIAGNOSIS 1. Pemeriksaan Radiologik Secara klinik obstruksi ileus umumnya mudah ditegakkan. 90% obstruksi ileus ditegakkan secara tepat hanya dengan berdasarkan gambaran klinisnya saja. Pada foto polos abdomen, 60--70% dapat dilihat adanya peleharan usus dan hanya 40% dapat ditemukan adanya air fluid level. Walaupun pemeriksaan radiologi hanya sebagai pelengkap saja, pemeriksaan sering diperlukan pada obstruksi ileus yang sulit atau untuk dapat memperkirakan keadaan obstruksinya pada masa pra-bedah. Beberapa tanda radiologik yang khas untuk obstruksi ileus adalah : a. Pengumpulan gas dalam lumen usus yang melebar, penebalan valvulae coniventes yang memberi gambaran fish bone appearance. b. Pengumpulan cairan. dengan gambaran khas air-fluid level. Pada

obstruksi yang cukup lama, beberapa air fluid level memberikan gambaran huruf U terbalik. 2. Konservatif Penderita dirawat di rumah sakit. Penderita dipuasakan, Kontrol status airway, breathing and circulation. Dekompresi dengan nasogastric tube.Intravenous fluids and electrolyte. Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan. Lavement jika ileus obstruksi, dan kontraindikasi ileus paralitik.

3. Medications Antibiotics broad-spectrum untuk bacterial anaerobe dan aerobe. Analgesic apabila nyeri. 4. Surgery Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu di perhatikan : a. Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung. b. Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya, baik sebagai akibat obstruksinya maupun kondisi sebelum sakit. c. Apakah ada risiko strangulasi. Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. Pada obstruksi ileus yang ditolong dengan cara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya adalah 1% pada 24 jam pertama, sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%. Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus. 1) Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan. 2) Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.

3) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut. 4) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus untuk mempertahan kankontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,invaginasi strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mulamula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit : 2. Terapi Na+, K+, komponen darah 3. Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan interstisial 4. Dekstrosa dan air untuk memperbaiki kekurangan cairan intraseluler 5. Dekompresi selang nasoenteral yang panjang dari proksimal usus ke area penyumbatan; selang dapat dimasukkan dengan lebih efektif dengan pasien berbaring miring ke kanan. 6. Implementasikan pengobatan unutk syok dan peritonitis. 7. Hiperalimentasi untuk mengoreksi defisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus paralitik atau infeksi. 8. Reseksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung.

9. Ostomi barrel-ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko. 10. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekompresi usus dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai prosedur kedua. H. KOMPLIKASI 1. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehingga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen. 2. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi terlalu lama pada organ intra abdomen. 3. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat. 4. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma. (Brunner and Suddarth, 2001)

ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Identitas Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dan gaya hidup. 2. Riwayat Kesehatan a. Keluhan utama Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien pada saat dikaji. Pada umumnya akan ditemukan klien merasakan nyeri pada abdomennya biasanya terus menerus, demam, nyeri tekan dan nyeri lepas, abdomen tegang dan kaku. b. Riwayat kesehatan sekarang Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien mencari pertolongan, dikaji dengan menggunakan pendekatan PQRST : P : Apa yang menyebabkan timbulnya keluhan. Q : Bagaiman keluhan dirasakan oleh klien, apakah hilang, timbul atau terus- menerus (menetap). R : Di daerah mana gejala dirasakan

S : Keparahan yang dirasakan klien dengan memakai skala numeric 1 s/d 10. T : Kapan keluhan timbul, sekaligus factor yang memperberat dan memperingan keluhan. c. Riwayat kesehatan dahulu Apakah klien sebelumnya pernah mengalami penyakit pada sistem pencernaan, atau adanya riwayat operasi pada sistem pencernaan. d. Riwayat kesehatan keluarga Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai dengan klien. 3. Pemeriksaan fisik a. Status kesehatan umum Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien. b. Sistem pernafasan Peningkatan frekuensi napas, napas pendek dan dangkal c. Sistem kardiovaskuler Takikardi, pucat, hipotensi (tanda syok) penyakit yang sama

d. Sistem persarafan Tidak ada gangguan pada sistem persyarafan e. Sistem perkemihan Retensio urine akibat tekanan distensi abdomen, anuria/oliguria, jika syok hipovolemik f. Sistem pencernaan Distensi abdomen, muntah, bising usus meningkat, lemah atau tidak ada, ketidakmampuan defekasi dan flatus. g. Sistem muskuloskeletal Kelelahan, kesulitan ambulansi h. Sistem integumen Turgor kulit buruk, membran mukosa pecah-pecah (syok) i. Sistem endokrin Tidak ada gangguan pada sistem endokrin j. Sistem reproduksi Tidak ada gangguan pada sistem reproduksi

B. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan ileus obstruksi adalah sebagai berikut : (Doenges, M.E. 2001 dan Wong D.L) 1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang tidak adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi. 3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen. 4. Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas usus. 5. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen 6. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

C. Intervensi keperawatan 1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang tidak adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.

Kriteria hasil : a. Tanda vital normal (N:70-80 x/menit, S: 36-37 C, TD : 110/70 -120/80 mmHg). b. Intake dan output cairan seimbang c. Turgor kulit elastic d. Mukosa lembab e. Elektrolit dalam batas normal (Na: 135-147 mmol/L, K: 3,5-5,5 mmol/L, Cl: 94-111 mmol/L). Intervensi : Intervensi Rasional

1. Kaji kebutuhan cairan pasien 1. Mengetahui kebutuhan cairan pasien. 2. Observasi tanda-tanda vital 2. Perubahan yang drastis pada tanda-tanda vital merupakan indikasi kekurangan cairan. 3. kekurangan cairan dan elektrolit dapat mempengaruhi tingkat kesadaran dan mengakibatkan syok. 4. Menilai fungsi usus 5. Menilai keseimbangan cairan 6. Menilai keseimbangan cairan dan Elektrolit 7. Meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga serta kerjasama antara perawatpasien-keluarga.

3. Observasi tingkat kesadaran dan tanda-tanda syok 4. Observasi bising usus pasien tiap 1-2 jam 5. Monitor intake dan output secara ketat 6. Pantau hasil laboratorium serum elektrolit, hematokrit 7. Beri penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang dilakukan: pemasangan NGT dan puasa. 8. Kolaborasi dengan medik untuk pemberian terapi intravena

8. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit pasien.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan gangguan absorbsi nutrisi. Tujuan :

dengan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan nutrisi teratasi. Kriteria hasil : a. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi. b. Berat badan stabil. c. Pasien tidak mengalami mual muntah. Intervensi : Intervensi Rasional

1. Tinjau faktor-faktor individual yang 1. Mempengaruhi pilihan intervensi. mempengaruhi kemampuan untuk mencerna makanan, mis : status

puasa, mual, ileus paralitik setelah selang dilepas. 2. Auskultasi bising usus; palpasi 2. Menentukan kembalinya peristaltik ( biasanya dalam 2-4 hari ).

abdomen; catat pasase flatus. 3. Identifikasi kesukaan/ketidaksukaan 3. Meningkatkan diet dari pasien. Anjurkan pilihan kerjasama pasien

dengan aturan diet. Protein/vitamin

makanan tinggi protein dan vitamin C

C adalah kontributor utuma untuk pemeliharaan jaringan dan

perbaikan.Malnutrisi adalah fator dalam menurunkan pertahanan

terhadap infeksi. 4. Observasi terhadap terjadinya diare; 4. Sindrom malabsorbsi dapat terjadi makanan bau busuk dan berminyak. setelah pembedahan usus halus, memerlukan evaluasi lanjut dan perubahan diet, mis: diet rendah serat. 5. Kolaborasi dalam pemberian obat- 5. Mencegah muntah. Menetralkan obatan sesuai indikasi: Antimetik, mis: proklorperazin (Compazine). Antasida dan inhibitor histamin, mis: simetidin (tagamet). atau asam menurunkan untuk pembentukan erosi

mencegah

mukosa dan kemungkinan ulserasi.

3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pola nafas menjadi efektif

Kriteria hasil : Pasien memiliki pola pernafasan: irama vesikuler, frekuensi : 18-20x/menit Intervensi : Intervensi 1. Observasi TTV: P, TD, N, S Rasional 1. Perubahan pada pola nafas akibat adanya distensi abdomen peningkatan dapat hasil

mempengaruhi TTV. 2. Kaji status pernafasan:

pola, 2. Adanya distensi pada abdomen dapat menyebabkan perubahan pola nafas. 3. Berkurangnya/hilangnya bising usus menyebabkan terjadi distensi

frekuensi, kedalaman. 3. Kaji bising usus pasien

abdomen sehingga mempengaruhi pola nafas. 4. Tinggikan kepala tempat tidur 40- 4. Mengurangi penekanan pada paru 60 derajat 5. Observasi adanya akibat distensi abdomen. tanda-tanda 5. Perubahan pola nafas akibat adanya distensi abdomen dapat menyebabkan oksigenasi perifer terganggu yang dimanifestasikan cianosis. dengan adanya

hipoksia jaringan perifer: cianosis.

6. Monitor hasil AGD

6. Mendeteksi respiratorik.

adanya

asidosis

7. Berikan

penjelasan

kepada 7. Meningkatkan

pengetahuan

dan

keluarga pasien tentang penyebab terjadinya distensi abdomen yang dialami oleh pasien 8. Laksanakan program

kerjasama dengan keluarga pasien.

medic 8. Memenuhi Pasien

kebutuhan

oksigenasi

pemberian terapi oksigen

4. Gangguan pola eliminasi : konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas usus. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pola eliminasi kembali normal. Kriteria hasil : Pola eliminasi BAB normal: 1x/hari, dengan konsistensi lembek, BU normal : 5-35 x/menit, tidak ada distensi abdomen. Intervensi : Intervensi 1. Kaji dan catat frekuensi, warna dan 1. Mengetahui konsistensi feces Rasional ada atau tidaknya

kelainan yang terjadi pada eliminasi

fekal. 2. Auskultasi bising usus 2. Mengetahui normal pergerakan usus. 3. Kaji adanya flatus 3. Adanya flatus menunjukan atau tidaknya

perbaikan fungsi usus. 4. Kaji adanya distensi abdomen 4. Gangguan motilitas usus dapat

Menyebabkan akumulasi gas di dalam lumen usus sehingga terjadi distensi abdomen. 5. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga penyebab terjadinya gangguan dalam BAB 5. Meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga serta kerjasana untuk antara

meningkatkan

perawat-pasien dan keluarga.

6. Kolaborasi dalam pemberian terapi pencahar (Laxatif)

6. Membantu

dalam

pemenuhan

kebutuhan eliminasi

5. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam rasa nyeri teratasi atau terkontrol

Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan; menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan rileks. Intervensi : Intervensi Rasional

1. Observasi TTV: N, TD, HR, P tiap 1. Nyeri hebat yang dirasakan pasien shift akibat adanya distensi abdomen dapat menyebabkan peningkatan

hasil TTV. 2. Kaji keluhan nyeri, karakteristik dan skala nyeri yang dirasakan pesien sehubungan dengan adanya distensi abdomen 2. Mengetahui kekuatan nyeri yang dirasakan pasien dan menentukan tindakan selanjutnya guna

mengatasi nyeri.

3. Posisi 3. Berikan posisi yang nyaman: posisi semi fowler

yang

nyaman rasa nyeri

dapat yang

mengurangi

dirasakan pasien 4. Ajarkan dan anjurkan tehnik 4. Relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri

relaksasi tarik nafas dalam saat merasa nyeri 5. Anjurkan menggunakan pasien tehnik

untuk 5. Mengurangi nyeri yang dirasakan pengalihan pasien.

saat merasa nyeri hebat. 6. Kolaborasi dengan medic untuk 6. Analgetik dapat mengurangi rasa terapi Analgetik Nyeri

6. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Tujuan : Kecemasan teratasi. Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan

mendemonstrasikan keterampilan koping positif. Intervensi : Intervensi 1. Observasi adanya Rasional peningkatan 1. Rasa cemas yang dirasakan pasien dapat terlihat dalam ekspresi wajah dan tingkah laku. 2. Kaji adanya rasa cemas yang 2. Mengetahui pasien. tingkat kecemasan

kecemasan: wajah tegang, gelisah

dirasakan pasien

3. Berikan penjelasan kepada pasien 3. Dengan mengetahui tindakan yang dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan sehubungan dengan keadaan penyakit pasien akan dilakukan akan mengurangi tingkat kecemasan pasien dan

meningkatkan kerjasama

4. Berikan kesempatan pada pasien 4. Dengan untuk mengungkapkan rasa takut atau kecemasan yang dirasakan. 5. Pertahankan lingkungan

mengungkapkan

kecemasan akan mengurangi rasa takut/cemas pasien yang tenang dan

yang 5. Lingkungan

tenang dan tanpa stres.

nyaman dapat mengurangi stress pasien berhadapan dengan

penyakitnya 6. Dorong dukungan keluarga dan 6. Support system dapat mengurani orang terdekat untuk memberikan support kepada pasien rasa cemas dan menguatkan pasien dalam memerima keadaan sakitnya.

DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume Kedua. Edisi Kedelapan. Jakarta : EGC. Nettina, Sandra M. (2001). Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. Jakarta : EGC Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume Pertama. Edisi Keenam. Jakarta : EGC. Joanne & Gloria. 2004. Nursing Intervension Classification Fourth Edition. USA : Mosby Elsevier Kowalak, Welsh, Mayer. 2011. Buku Ajar PATOFISIOLOGI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Sue, Marion, Meridean, Elizabeth. 2008. Nursing Outcomes Classification Fourth Edition. USA : Mosby Elsevier T. Heather Herdman. 2011. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC