Anda di halaman 1dari 11

BAHAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA (bahan bu mar dan novirman) Prof. H. Tommy Prakasa Utama, S.Pt., M.Sc., Ph.

Bahan pakan ternak ruminansia: a. Makanan kasar b. Makanan konsentrat c. Suplemen mineral d. Suplemen vitamin e. Bahan additif

A.

Makanan kasar Ini merupakan bahan pakan yang sulit dicerna dengan kandungan serat kasar (SK) >18%

dan TDN <60%. Makanan kasar merupakan bagian terbesar pada ransum ruminansia, yang dapat mengandung hijauan segar maupun kering. Contoh makanan kasar segar yaitu rumput, hijauan leguminosa, daun-daun pohon, dan silase. Sedangkan makanan kasar kering yaitu hay, jerami, dan limbah. a.1 Makanan kasar segar Makanan kasar segar yaitu makanan dengan kadar air sekitar 60-90%, seperti rumput, hijauan, leguminosa, daun-daun pohon tanaman lain (pohon, semak, sayuran), dan silase. Makanan kasar segar ini memiliki kualitas baik jika dipotong pada masa vegetatif (diawal fase berbunga). 1) Rumput (graminae) Teridiri dari 2 jenis yaitu rumput padangan/pastura dan rumput potongan. a) Rumput padangan (pasture) Biasanya dilakukan pengaturan tanam berdasarkan petak padangan (paddock) untuk mempertahankan kualitas dan ketersediaan pakan sepanjang tahun. Biasanya dilakukan penyisipan legume diantaranya rumput, untuk meningkatkan kualitas. Mempunyai ciri-ciri: Tumbuh pendek atau menjalar dengan stolon Menjalar dengan stolon dan rizoma

Tahan renggutan dan injakan Perakaran kuat dan dalam

Contoh dari rumput padangan adalah Axonopus compressus (rumput pahit), Brachiaria decumbens (rumput beda), Brachiaria mutica (rumput para), Chloris gayana (rumput rhodes), dan Digitaria decumbens (rumput pangola).

Toksikan (racun) yang biasanya pada tanaman rumput padangan yaitu antara lain Asam sianida (HCN), biasanya pada rumput gajah, benggala, setaria, dan bracharia. Kandungan racun pada tanaman ini disebut dengan Mimosin. Mimosin juga disebut dengan Leusinin, dengan rumus molekul C8H10O4N2. Level toksin HCN pada ruminansia adalah 2,2 mg/kg bobot badan pada kambing dan domba. Misalnya seekor sapi mempunyai bobot badan 200 kg diberi rumput setaria yang mengandung 25 mg HCN/kg bahan kering. Rumput setaria yang diberikan dalam bentuk segar sebanyak 40 kg/hari dengan kandungan bahan kering 21,0%. Apakah pemberian rumput setaria itu sudah termasuk kriteria berbahaya bagi sapi? Jawaban: Batas toksik HCN pada sapi itu adalah : 200 x 2,2 mg = 440mg Dalam 40 kg rumput setaria segar terdapat HCN sebanyak:

Dengan demikian pemberian rumput setaria sebanyak 40 kg/hari belum mambahayakan kesehatan sapi. Kandungan HCN yang terdapat pada pakan tidak selalu membahayakan ternak, sebab HCN dapat berikatan dengan gula yang membentuk dhurin atau glukosida yang tidak bersifat toksik. Namun didalam rumen dapat saja terjadi pemecahan dhurin menjadi HCN dan glukosida kembali. Pengaruh negatif HCN terhadap kesehatan ternak ruminansia, khususnya dapat dikurangi melalui berbagai cara, yaitu dengan penambahan unsur Sulfur (S) yang akan mengurangi pengaruh racun HCN melalui jalur detoksikasi dengan bantuan enzim rhodanase. Selain itu dapat juga dengan penambahan vitamin B12 melalui jalur Cyanocobalmine.

Asam Nitrat (HNO3), terdapat pada semua pakan dengan kandungan NO3 yang tegantung pada kandungan NO2 dan NO3 dalam tanah. Tanaman pakan ternak maupun jenis pakan lainnya yang mengandung 2% NO3 sudah termasuk membahayaan ternak ruminansia. Penyebab keracunan asam nitrat pada ternak ruminansia adalah adanya proses penimbunan NO3. Di dalam rumen, NO3 yang tertimbun dipecah oleh mikroorganisme menjadi NO2 dan masuk ke dalam darah. Kemudian NO2 di dalam darah akan mengikat O2 sehingga terjadi difisiensi O2. Hal inilah yang menimbulkan keracunan. b) Rumput potongan (rumput kultur) Rumput ini biasanya tumbuh tinggi vertikal 3-4,5 meter. Produksi rumput ini tinggi, terutama jika dilakukan pemupukan. Contoh rumput potongan yaitu Panicum maximum (rumput benggala), Pennisetum purpureum (rumput gajah), Pennisetum purpureum cv Taiwan (rumput gajah cv Taiwan), Euchlaena mexicana (rumput meksiko), dll. Ciri-ciri rumput potongan: Produksi per satuan luas cukup tinggi Responsif terhadap pemupukan Banyak anakan (tiller) Tumbuh tinggi secara vertical membentuk rumpun Disukai oleh ternak (palatable) Mempunyai toleransi atau adaptasi terhadap lingkungan

2) Leguminosa Mempunyai cirri-ciri: Buahnya berupa polongan (kacang) Lebih kaya akan nitrogen (protein), phosphor (P), dan kalium (K) daripada rumput Tumbuh berupa pohon tinggi, perdu (semak), dan merambat Terdiri dari 2 jenis daun yaitu daun majemuk dan daun 3 helai (trifoliate)

a) Leguminosa merambat

Biasanya disisipkan di pastura untuk meningkatkan kualitas pasture. Pada leguminosa biasanya dilakukan tumpang sari dengan rumput kultur ataupun tanaman pangan (jagung). Beberapa jenis leguminosa yaitu Calopogonium mucunoides, Centrosema pubescens, Clitoria ternatea, Glycine javanica, dll. b) Leguminosa perdu Sama halnya dengan leguminosa merambat, leguminosa ini juga biasanya disipkan di pasture untuk meningkatkan kualitas pastura. Beberapa contoh diantaranya yaitu Desmodium salicifolium, Desmodium uncinatum, Desmodium barbatum,

Desmodium adcondens, Medicago sativa, Styosanthes guyanensis, Stylosanthes humulis. c) Leguminosa pohon Merupakan hijauan potongan (cut and carry), biasanya digunakan sebagai pohon pelindung (tempat berteduh) di pasture. Beberapa jenisnya yaitu Leucaena leucocephala (petai cina), Lamtoro gung, Sesbania (turi), Leucaena glauca, angsana, dan saga.

Toksin yang terdapat pada tanaman leguminosa: Mimosin, terutama terdapat pada daun biji lamtoro. Di beberapa negara (termasuk Indonesia), mimosin ternyata tidak menimbulkan gangguan kesehatan keracunan pada pakan ternak. Mimosin dapat dirombak oleh bakteri dalam rumen ternak ruminansia menjadi 3-hydroxy-4 (IH) pyridine (DHP). Di dalam daun lamtoro yang segar terdapat suatu enzim yang mampu merombak mimosin menjadi DHP. DHP ini pada umumnya mempunyai derajat keracunan yang lebih rendah dibandingkan dengan mimosin. Walaupun demikian, mimosin lama kelamaan akan berakumulasi, oleh karena itu disarankan agar pemberian lamtoro pada ternak ruminansia dicampur dengan runput ataupun hijauan lainnya. Pemberian lamtoro dalam campuran hijauan sebaiknya <40%. 3) Daun tanaman lain Biasanya merupakan hasil ikutan tanaman pangan, seperti daun singkong, daun ubi jalar, pucuk tebu, daun bengkuang, dan pot coklat. Daun singkong mengandung aflatoksin (sejenis toksin) yang dapat menimbulkan keracunan ataupun menurunkan

produktifitas ternak ruminansia. Keracunan aflatoksin dapat dihindari dengan melakukan penyimpanan yang baik. Selain aflatoksin pada daun ubi dll terdapat juga alkaloid, toksin ini dapat diminimalisir dengan memasak pakan sebelum diberikan pada ternak.

a.2

Makanan kasar kering Hijauan pakan ternak harus tersedia secara terus menerus dalam keadaan cukup kuantitas

dan kontinuitas sepanjang tahun. Untuk menanggulangi hal-hal tersebut muncul beberapa usaha yakni pengawetan makanan ternak dalam keadaan produksi melimpah. Terdapat dua jenis pengawetan yaitu pengawetan kering dan basah. Makanan kasar kering ini mengandung kadar air (KA) 10-15%, dengan 2 jenis contohnya yaitu hay dan jerami. Hay adalah hijauan yang sengaja diawetkan melalui pengerigan. Sedangkan jerami adalah tanaman yang telah dipanen bulir atau buahnya. 1) Hay Merupakan hujauan makanan yang dikeringkan sehingga kadar airnya mencapai 1518% yang dibuat karena hijauan dalam keadaan surplus/berlebih. Hal ini dipergunakan saat musim kemarau (atau musim dingin), agar tidak terjadi kekosongan pakan bagi ternak. Tanaman dipotong sebelum masa berbunga, untuk kemudian dikeringkan secara cepat dengan menggunakan cahaya matahari yang minimal, dikeringkan diatas parapara yang diberi atap (harus sering dibolak balik), dengan proses tersebut kualitas gizi hay terjaga dengan baik. Hay harus dijaga agar tidak terkena hujan. Ciri-ciri hay yang berkualitas baik yaitu: Berwarna hijau mengkilau Daun masih utuh dan lentur Berbau khas hay Nilai gizi tetap tinggi Mudah dicernakan Tidak mengandung bahan mengayu Tidak mengandung kontaminan

2) Jerami

Merupakan hasil ikutan tanaman pangan (setelah dipanen produk utamanya seperti padi, jagung, sorghum, gandum, dll). Jerami berkualitas rendah karena tanaman tersebut telah tua (buahnya telah masak), sehingga serat kasar tinggi, mengandung lignin yang tinggi dan protein yang rendah. Pada zaman sekarang telah ada yang dapat mengolah jerami (khususnya jerami padi) dari yang sulit dicerna ternak ruminansia menjadi mudah dicerna dan meningkatnya nilai protein 2-3% menjadi 7-9%, yaitu Ragi Jerami Plus (www.lkimfaterna.esy.es) 3) Silase Merupakan hijauan segar yang diawetkan dengan cara penyimpanan pada keadaan anaerob di daam silo. Silo merupakan tempat membuat dan menyimpan silase, sedangkan ensilase adalah proses pembuatan silase, terjadi karena aktivitas bakteri penghasil asam laktat (lactis acidi, streptococcus lactis) pada pH 4 dan konsisi anaerob. Dibuat karena hijauan segar surplus disaat musim hujan atau musim semi. Berguna untuk mengatasi kekurangan makanan disaat musim dingin, atau musim kemarau. Kelebihan hijauan segar tersebut diawetkan dengan proses ensilase untuk dimanfaatkan disaat kemarau atau musim dingin, dengan kadar air tetap tinggi, yaitu 60-70%. Proses ensilase, terjadi karena enzim yg dihasilkan bakteri akan mendegradasi karbohidrat dan protein bahan (rumput /hijauan). Sewaktu proses ensilase berlangsung, udara dlm silo makin berkurang (oksigen semakin habis) sehingga tercipta suasana anaerob. Keadaan anaerob memungkinkan silase menjadi awet untuk disimpan beberapa bulan, karena pada kondisi ini jamur tidak akan tumbuh.

Keuntungan silase: Bahan makanan tetap dalam keadaan segar dengan kadar air 65-70% Silase dapat dibuat sepanjang tahun walaupun hari musim hujan Tidak ada sisa bila diberikan pada ternak walaupun dalam bentuk batang dan ranting Setiap tanaman dapat dijadikan silase Tanaman dapat dipanen pada saat nilai gizi tinggi Dapat dicampur dengan bahan-bahan lain dalam suatu ransum.

B.

Makanan konsentrat Konsentrat adalah suatu bahan pakan yang dipergunakan bersama bahan pakan lain untuk

meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan pakan dan dimaksudkan untuk disatukan dan dicampur sebagai suplemen atau pakan lengkap. Konsentrat bertujuan sebagai makanan ternak penguat yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung, bekatul dan bungkil-bungkilan. Konsentrat digunakan terutama pada saat pertumbuhan, pada masa kebuntingan maupun saat menyusui bagi induknya. Mengandung serat kasar (SK) <18% dan TDN >60%. Makanan ini lebih mudah dicerna oleh ruminansia. Konsentrat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu konsentrat sumber protein dan konsentrat sumber energi. Konsentrat dikatakan sebagai sumber energi apabila mempunyai kandungan protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar 18%, sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein karena mempunyai kandungan protein lebih besar dari 20%. Konsentrat sangat dibutuhkan oleh ternak ruminansia (sapi potong), karena bahan-bahan tersebut mudah difermentasikan sehingga konsentrat akan meningkatkan kadar propionat yang berguna dalam pembentukan daging dan akan merangsang pertumbuhan mikrobia rumen sehingga mempercepat kemampuan mencerna serat kasar. Penambahan konsentrat pada ternak ruminansia memungkinkan ternak untuk mengkonsumsi pakan yang lebih baik nutriennya dan lebih palatabel, selain itu kecenderungan mikroorganisme dalam rumen dapat memanfaatkan pakan penguat terlebih dahulu sebagai sumber energi dan selanjutnya dapat memanfaatkan pakan kasar yang ada. Konsentrat sangat mudah dicerna dan berperan sebagai sumber zat pakan utama seperti karbohidrat dan protein. Kualitas konsentrat perlu diperhatikan dalam menyusun pakan sapi potong ditentukan oleh kandungan protein dan energinya. Selain komposisi kimia faktor penting dalam mengevaluasi konsentrat terkandung dalam pakan sapi perah adalah palatabilitas, kualitas produk dan biaya. Pemberian pakan konsentrat biasanya diberikan sebelum pakan kasar atau hijauan. Hal ini dimaksudkan agar mikrobia rumen telah mendapat cukup energi sehingga dapat berkembangbiak secara optimal dan selanjutnya mikrobia tersebut diharapkan mampu mengkonversi pakan kasar yang berupa hijauan menggunakan enzyme selulase dan kemudian diserap oleh tubuh ternak. Pemberian hijauan dilakukan biasanya selang 2 jam setelah pemberian konsentrat agar mikroba dalam rumen dapat berkembang biak terlebih dahulu, sehingga dapat mencerna hijauan dengan baik. Imbangan pemberian hijauan dan konsentrat dalam bahan kering supaya dapat dicapai koefisien cerna pakan tertinggi adalah sebesar 60 : 40.

Bentuk pakan ada tiga jenis yaitu: 1. Bentuk tepung.

Cara membuatnya sangat sederhana, yaitu semua bahan digiling jadi tepung kemudian di aduk sampai rata dan siap di sajikan. Pakan jenis ini tidak efektif karena ayam memiilih jenis pakan yang di sukai sehingga banyak nutrisi yang tidak di konsumsi 2. Bentuk crumbles (butiran pecah).

Semua bahan di giling jadi tepung kemudian di aduk hingga rata .setelah itu di kukus atau di uapi dengan panas antara 800C-90 C. Kemudian pakan diaduk dalam ayakan yang berlubang sambil di tekan tekan sehinga butiran berjatuhan. Jemur butiran itu hingga kering dan siap di sajikan. Pakan jenis ini cukup efisien tidak banyak nutrisi yang terbuang. 3. Bentuk pelet.

Caranya sama dengan crumble. Tapi setelah penguapan,dimasukkan dalam gilingan daging atau sambal sehingga keluar bentuk memanjang. Kemudian di potong potong dan di jemur sampai kering.siap di sajikan. Pakan jenis ini pun cukup efisien.

C.

Suplemen Mineral Mineral yang essensial untuk ternakdiklasifikasikan menjadi mineral makro dan mineral

mikro. Mineral makro terdiri dari Ca, P, K, Na, Cl, S,dan Mg. Sedangkan untuk mineral mikro terdiri dari Fe, Zn, Cu, Mo, Se, I, Mn,Co, Cr, Sn, V, F, Si, Ni, dan As. Dalam pemberian ransum atau pakan pada ternakharus diperhatikan kandungan dan kualitas mineralnya. Karena jika mineral yang dikonsumsi kurang atau berlebih dari yang dibutuhkan akan menyebabkan efek negatif pada ternak. 1) Magnesium ( Mg ) Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting. Sekitar 70% dari total Mg dalam tubuh terdapat dalam tulangatau kerangka (Underwood, 1981), sedangkan 30% lainnya tersebar dalamberbagai cairan tubuh dan jaringan lunak (Tillman et al., 2003). Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk mempernaiki fungsi sistem saraf (Perry et al., 2003). Selain itu Mg berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra, 1988). Tempat utama absorsi Mg pada ternak ruminansia adalahpada bagian reticulorumen, sekitar 25% Mg diabsorsi oleh hewan dewasa. Jumlah Mg yang diabsorsi menurun seiring dengan

penurunan tingkat mineral di dalam pakan. Dalam kondisi defisiensi status Mg cadangan dalam tubuh untuk menggantikan sumbangan dari absorpsi Mg yang rendah (McDowell, 1992).

2) Seng (Zn) Zn terdapat pada semua jaringan tubuh, tetapi sebagian besar terdapat dalam tulang. Jumlah yang besar juga terdapat dalam kulit, rambut, dan bulu hewan (Tillman et al., 1998). Zn berperan penting pada sintesis DNA serta metabolisme protein sehingga sistem tubuh akan terganggu jika defisien Zn (Underwood, 1981). Zn juga berperan penting dalam metabolisme karbohidrat dan lemak serta pembentukkan sistem kekebalan tubuh (Perry et al., 2003). Menurut Linder (1992) Zn merupakan mikro mineral yang tersebar didalam jaringan hewan, manusia, dan tumbuhan serta terlibat dalam fungsi metabolisme. Pada ternak ruminansia Zn diabsorpsi didalam rumen dan usus halus. Absorpsi Zn melibatkan transfer Zn dari lumen usus halus menuju mukosa sel. Transpor ini diatur oleh metabolisme, sintesis metallothonein dipengaruhi oleh level Zn dalam ransum dan konsentrasi Zn dalam plasma, sehingga senyawa tersebut dapat mengatur homeostatis Zn didalam tubuh (McDowell, 1992). 3) Besi (Fe) Unsur Fe diabsorpsi sesuai dengankebutuhan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti status Fe dalam tubuh,umur hewan (Underwood dan Sutlle, 1999), kebutuhan metabolik tubuh, bentukkomponen zat besi yang terdapat dalam makanan dan ada tidaknya zat zat nutrisi lain yang mempengaruhi absorpsi zatbesi (Piliang, 2002). Fe lebih banyak diabsorpsi oleh hewan yang defisien Fedibanding hewan yang tercukupi kebutuhan Fe, karena absorpsi dan metabolisme Fediatur oleh status Fe pada mukosa usus. Tempat absorpsi Fe pertama adalahduodenum (Underwood dan Sutlle, 1999).

4) Tembaga (Cu) Mineral Cu adalah salahsatu mineral yang seiring dilaporkan defisien pada ternak ruminansia. Menurut McDowell (1992), defisien Cu dapat menyebabkan mencret, pertumbuhan terhambat, perubahan warna pada rambut dan rapuh serta mudah patahnya tulang tulang

panjang. Defisiensi sekunder mineral mikro sering dialami oleh ternak ruminansia walaupun ternak diberi suplemen mineral dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan (Kardaya et al., 2001). Mineral sangat penting untuk kelangsungan hidup ternak. Hampir semua mineral ditemukan dalam jaringan ternak dan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam proses metabolisme ternak. Suplementasi berbagai bahan pada pakan ternak menghasilkan bobot ternak yang meningkat. Suplemen mineral dianjurkan untuk memenuhi beberapa prinsip, antara lain : 1. campuran akhir minimal mengandung 6- 8% total P 2. rasio Ca : P tidak melampaui 2 : 1 3. dapat menyuplai 50% elemen mikro Co, Cu, I, Mn dan Zn 4. bentuk mineral yang digunakan adalah yang mudah digunakan dan dihindarkan dari kontaminasi dengan mineral-mineral beracun (misalnya sumber P yang terkontaminasi dengan F) 5. suplemen tersebut hendaknya cukup palatable untuk menjamin tingkat konsumsi yang baik 6. perlu diperhatikan ketepatan menimbang, pencampuran yang homogen dan lain sebagainya 7. besar partikel hendaknya lebih kecil dan seragam sehingga pencampuran dapat dilakukan secara homogen 8. perkiraan kebutuhan yang cukup baik dan akurat dalam hal kebutuhan 9. daya guna setiap elemen yang digunakan, dan 10. tingkat konsumsi hewan (Parakkasi, 1999).

Mineral mempunyai peranan penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba rumen. Zn dapat mempercepat sintesa protein oleh mikroba melalui pengaktifan enzim-enzim mikroba. Suplementasi Zn dapat meningkatkan ketahanan sapi perah terhadap mastitis. Mineral Co berperan dalam sintesis vitamin B12. Mineral Cu dan Co bersama-sama dapat memperbaiki daya cerna serat kasar. Sulfur adalah salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses fermentasi dalam rumen (Arora, 1989).

Kandungan mineral pada premix ruminansia yaitu: Calsium carbonat-Sodium Phospor-Cuprum Zat besi-Iron

Iodium-Zincum Kalium-magnesium Chlorine

Fungsi dari mineral bagi ruminansia yaitu a. Memperbanyak produksi susu b. Menghindari kelumpuhan dan mencegah angka kematian c. Mencegah kebiasaan menjilat-jilat kandang d. Melengkapi kebutuhan akan Trace Mineral

Contoh pakan mineral pada pakan ternak ruminansia adalah UMMB (Urea Mineral Mollases Blok). UMMB merupakan pakan tambahan (suplemen) untuk ternak ruminansia, berbentuk padat yang kaya dengan zat-zat makanan. Bahan pembuat UMMB adalah urea, molases, mineral dan bahan-bahan lainnya yang memiliki kandungan protein dan mineral yang baik.

D.

Suplemen Vitamin

E.

Bahan Additif