Anda di halaman 1dari 33

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

KASUS & REFERAT JANUARI 2014

OD HIFEMA TRAUMATIK + ABRASI KORNEA EC TRAUMA OCCULUS NON PERFORANS

OLEH: Muh. Azhary Eka Putra (C 111 08 117) PEMBIMBING : dr. Nursyamsi SUPERVISOR : dr. Noro Waspodo, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014
0

LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Umur Agama Suku / Bangsa Pekerjaan Alamat No. Register : An. F : Laki-laki : 5 tahun : Islam : Makassar / Indonesia : Pelajar : Laikang : 64 73 48

Tanggal pemeriksaan : 20 Januari 2014 Rumah sakit Dokter pemeriksa : UGD RSUP Dr. WahidinSudirohusodo : dr. D

II. a.

ANAMNESIS Keluhan Utama : Nyeri pada mata kanan b. Anamnesis Terpimpin: Dialami sejak + 1 jam sebelum masuk rumah sakit akibat terkena kaleng yang terlempar dari tempat pembakaran sampah yang menyala. Pasien sedang bermain didekat tempat pembakaran sampah tiba-tiba ada kaleng yg terlempar dari pembakaran sampah yang menyala yang mengenai mata kanan pasien. Penglihatan menurun (+), mata merah (+), air mata berlebih (+), kotoran mata berlebih (-), rasa mengganjal (+), silau (-) riwayat keluar cairan seperti gel (-), riwayat keluar darah dari mata (-). c. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat pemakaian kacamata (-) Riwayat alergi (-)

d. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan/penyakit yang sama
1

e.

Riwayat Pengobatan Untuk keluhan yang sekarang belum diobati dan tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang

f.

Riwayat Sosial Ekonomi Pasien berstatus jaminan JKN dengan kondisi sosial ekonomi rendah

III.

STATUS GENERALIS Keadaan Umum : Sakit Sedang / Gizi Baik / Compos Mentis - Nadi : 98 kali/menit - Suhu : 36,7 C

- Tekanan Darah : 100/60 mmHg - Pernapasan FOTO KLINIS : 22 kali/menit

OD

Status Oftalmologi I. INSPEKSI 1. Palpebra OD Edema (+) Tampak luka lecet di palpebra inferior, bagian infero-medial Lakrimasi (+) Sekret (-) Hiperemis (+) Normal OS Edema (-)

2. Apparatus Lakrimalis 3. Silia 4. Konjungtiva 5. Bola Mata 6. Mekanisme Muscular

Lakrimasi (-) Sekret (-) Hiperemis (-) Normal

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0

7. Kornea - tes sensitivitas - tes Placido 8. Bilik mata depan 9. Iris 10. Pupil 11. Lensa II. PALPASI 1. Tensi okular 2. Nyeri Tekan 3. Massa Tumor 4. Glandula PreAurikuler C. TONOMETRI Tonometri D. VISUS E. CAMPUS VISUAL F. COLOR SENSE G. LIGHT SENSE

Jernih (-) (-) Terdapat hifema bagian Coklat, Kripte (+) Bulat, sentral, RC (+) Jernih OD Tn (+) (-) Pembesaran (-)

Jernih (-) (-) Normal Coklat, Kripte (+) Bulat, sentral, RC (+) Jernih OS Tn (-) (-) Pembesaran (-)

TOD : 17.3 mmHg TOS : 15 mmHg VOD : 4/60 VOS : 6/6 Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan

H. PENYINARAN OBLIK Konjungtiva Kornea BMD Iris Pupil I. DIAFANOSKOPI J. OFTALMOSKOPI K. SLIT LAMP

Dextra

Sinistra

L. LABORATORIUM IV.

Hiperemis (+) Hiperemis (-) Fluroscein (+) di sentral, arah Jernih jam 4 & arah jam 7-8 Terdapat hifema bagian Normal Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+) Bulat, sentral, RC (+) Bulat, sentral, RC (+) Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan SLOD: Konjungtiva hiperemis (+). Kornea jernih. Terdapat selsel darah merah & sel-sel radang yang mengisi bagian BMD. Iris coklat, kripte (+). Pupil bulat, sentral, RC (+). Lensa jernih. SLOS: Konjungtiva hiperemis (-). Kornea jernih. BMD normal. Iris coklat, kripte (+). Pupil bulat, sentral, RC (+). Lensa jernih. Tidak dilakukan pemeriksaan

RESUME Seorang anak laki-laki, 5 tahun, datang ke UGD RSWS dengan keluhan nyeri pada mata kanan dan kiri dialami sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit akibat terkena kaleng yang terlempar dari tempat pembakaran sampah. Riw. keluar darah dari mata (-), mata merah (+), air mata berlebih (+), kotoran mata berlebih (-), rasa mengganjal (+), silau (-) riwayat keluar cairan seperti gel (-). Penglihatan menurun (+). Pada pemeriksaan oftalmologi ditemukan visus VOD = 4/60 dan VOS = 6/6. TOD : Tn, TOS : Tn. SLOD : Palpebra Edema (+),Tampak luka lecet di palpebra inferior, bagian infero-medial, silia sekret (-), lakrimasi (+), konjungtiva hiperemis (+), kornea jernih, tes flourescens (+) sentral, parasentral arah jam 4 & arah jam 7-8, hifema (+) di BMD dan Terdapat sel-sel darah merah & sel-sel radang, iris coklat, kriptae (+), pupil bulat, sentral, RC (+), lensa jernih. SLOS : Konjungtiva hiperemis (-). Kornea jernih. BMD normal. Iris coklat, kripte (+). Pupil bulat, sentral, RC (+). Lensa jernih. DIAGNOSIS OD Hifema Traumatik + Abrasi Kornea Ec Trauma Oculi Non Perforans TERAPI Tirah Baring, Head-up 45 Irigasi mata kanan
4

V.

VI.

Terapi Topikal P. Pred EDMD 4x1 gtt OD C. LFX EDMD 4x1 gtt OD C. Repithel EDMD 6x1 gtt OD C. Homatro 2% 1x1 gtt OD

Terapi Sistemik IVFD RL 12tpm Dexamethasone 1/3 amp/8jam/IV As. Tranexamat 3 x 250 mg PCT syr 3 x 1 cth Vit C. 3 x 500 mg

VII.

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad sanationem Quo ad visam Quo ad comesticam : Bonam : Bonam : Dubia et Bonam : Bonam

DISKUSI Dari anamnesis, pasien datang dengan keluhan utama nyeri pada mata kanan akibat terkena kaleng yang terlempar dari tempat pembakaran sampah. Nyeri ini bisa disebabkan oleh aktifasi mediator-mediator radang akibat trauma. Pada pemeriksaan oftalmologi, ditemukan visus VOD = 4/60 dan VOS = 6/6. TOD : Tn, TOS : Tn. SLOD : Palpebra Edema (+),Tampak luka lecet di palpebra infero-medial, silia sekret (-), lakrimasi (+), konjungtiva hiperemis (+), kornea jernih, tes flourescens (+) sentral, parasentral arah jam 4 & arah jam 7-8, BMD hifema (+) di BMD, iris coklat, kriptae (+), pupil bulat, sentral, RC (+), lensa jernih

Berdasarkan dari anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi diatas mengarahkan pada diagnosis OD Hifema Traumatik + Abrasi Kornea Ec Trauma Oculi Non Perforans. Penglihatan pasien juga menjadi kabur setelah trauma. Pada pemeriksaan fisis didapatkan VOD = 4/60 dan VOS = 6/6. Penglihatan kabur ini bisa

disebabkan oleh adanya gangguan media refrakta yang membuat pembiasan cahaya tidak berjalan sempurna, di mana sinar datang menjadi terhalang sehingga membuat visus pasien menurun. Untuk terapi, pada pasien ini tirah baring dengan head up 45 serta irigasi mata kanan dan juga diberikan antibiotik dan kostikosteroid topikal untuk mencegah infeksi dan peradangan. Selain itu, pasien juga diberi analgesik oral untuk mengurangi rasa sakit dan anti fibrinolitik untuk menekan atau menghentikan perdarahan.

HIFEMA

I. PENDAHULUAN
Trauma okuli merupakan trauma atau cedera yang terjadi pada mata yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan rongga orbita, kerusakan ini akan memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi mata sebagai indra penglihat. Trauma okuli merupakan salah satu penyebab yang sering menyebabkan kebutaan unilateral pada anak dan dewasa muda, karena kelompok usia inilah yang sering mengalami trauma okuli yang parah. Dewasa muda (terutama laki-laki) merupakan kelompok yang paling sering mengalami trauma okuli. Penyebabnya dapat bermacam-macam, diantaranya kecelakaan di rumah, kekerasan, ledakan, cedera olahraga, dan kecelakaan lalu lintas 1-2. Prevalensi kebutaaan akibat trauma okuli secara nasional belum diketahui dengan pasti, namun pada Survey Kesehatan Indra Penglihatan yang dilakukan di Dohuk, Kurdistan pada tahun 2008 didapatkan hasil tingkat prevalensi tahunan hifema traumatik adalah sekitar 5 per 100.000 individu. Hasil penelitian menunjukkan dominasi laki-laki. Dari 40 kasus yang diambil sebagai sampel, (70%) dari kasus terjadi pada usia kurang dari 20 tahun. Sebanyak 35% dari kasus yang ditemui pada anak usia (6 - 10) tahun. Trauma tumpul diamati pada (60%) dari pasien, sementara yang lain (40%) telah menembus trauma. Mata kiri relatif lebih sering terlibat (55%) dibandingkan sebelah kanan. Saat ini prevalensi hifema traumatis telah diperkirakan 17-20 per 100.000 per tahun. Secara umum trauma okuli dibagi menjadi dua yaitu trauma okuli perforans dan trauma okuli non perforans. Sedangkan klasifikasi trauma okuli berdasarkan mekanisme trauma terbagi atas trauma mekanik (trauma tumpul dan trauma tajam), trauma radiasi (sinar inframerah, sinar ultraviolet, dan sinar X) dan trauma kimia (bahan asam dan basa). 1 Sebagai seorang dokter harus memikirkan apakah kasus yang dihadapi merupakan true emergency yang merupakan kasus sangat gawat dan harus ditangani dalam hitungan menit atau jam, ataukah urgent case yang harus ditangani dalam hitungan jam atau hari. Kondisi-kondisi ini membutuhkan
7

diagnosa dan pertolongan cepat dan tepat. Trauma okuli merupakan kedaruratan mutlak di bidang ocular emergency. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat trauma okuli adalah erosi kornea, iridoplegia, hifema, iridosiklitis, subluksasi lensa, luksasi lensa anterior, luksasi lensa posterior, edema retina dan koroid, ablasi retina, ruptur koroid, avulsi papil saraf optic hingga kebutaan.3 Hifema merupakan keadaan dimana terjadi perdarahan pada bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul pada mata. Darah ini berasal dari iris atau badan siliar yang robek. Hifema disebabkan oleh robekan pada segmen anterior bola mata yang kemudian dengan cepat akan berhenti dan darah akan diabsorbsi dengan cepat. Hal ini disebut dengan hifema primer. Bila oleh karena sesuatu sebab misalnya adanya gerakan badan yang berlebihan, maka timbul perdarahan sekunder atau hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena perdarahan lebih sukar hilang. 2-3 Adanya hifema memiliki beberapa konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan intraokuler, kornea terkena darah, pembentukan sinekia posterior atau anterior, dan katarak. Oleh karena hifema dapat menyebabkan penurunan penglihatan yang signifikan, maka setiap dokter harus memperhatikan diagnosis, evaluasi, dan tata laksana hifema. Hifema merupakan suatu kondisi dimana sebetulnya dapat diatasi oleh dokter di pelayanan kesehatan terdepan yaitu puskesmas, karena meski dapat menyebabkan beberapa kondisi yang lebih serius, regimen penatalaksanaan hifema cukup sederhana dan seharusnya dapat diaplikasikan oleh dokter di pusat pelayanan kesehatan primer. Penatalaksanaan hifema meliputi penatalaksanaan konservatif atau non medikamentosa, penatalaksanaan medikamentosa, dan penatalaksanaan operatif. 2-3

II. ANATOMI Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari luar ke dalam, lapisanlapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. 4

Gambar 1. Gambar skematis potongan sagital bulbus okuli memperlihatkan bagianbagian mata secara garis besar.

Bola mata terbenam dalam corpus adiposum orbitae, namun terpisah darinya oleh selubung fascia bola mata. Bola mata terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu : 1,4,7

1. Tunica Fibrosa Tunica fibrosa terdiri atas bagian posterior yang opaque atau sklera dan bagian anterior yang transparan atau kornea. Sklera merupakan jaringan ikat padat fibrosa dan tampak putih. Daerah ini relatif lemah dan dapat menonjol ke dalam bola mata oleh perbesaran cavum subarachnoidea yang mengelilingi nervus opticus. Jika tekanan intraokular meningkat, lamina fibrosa akan

menonjol ke luar yang menyebabkan discus menjadi cekung bila dilihat melalui oftalmoskop. Sklera juga ditembus oleh n. ciliaris dan pembuluh balik yang terkait yaitu vv.vorticosae. Sklera langsung tersambung dengan kornea di depannya pada batas limbus. Kornea yang transparan, mempunyai fungsi utama merefraksikan cahaya yang masuk ke mata. Tersusun atas lapisan-lapisan berikut ini dari luar ke dalam sama dengan: (1) epitel kornea (epithelium anterius) yang bersambung dengan epitel konjungtiva dan terdiri dari 5-6 lapis sel, (2) lapisan Bowman yang terdiri dari 1 lapis sel, (3) stroma atau substansia propria, terdiri atas jaringan ikat transparan. Lapisan ini meliputi 90% ketebalan kornea, (4) lamina limitans posterior atau membran descement yang merupakan lapisan membran elastis jernih, dan (4) endothel (epithelium posterius) yang berhubungan dengan aqueous humour.

2. Lamina vasculosa Dari belakang ke depan disusun oleh sama dengan : (1) choroidea (terdiri atas lapis luar berpigmen dan lapis dalam yang sangat vaskular) (2) corpus ciliare (ke belakang bersambung dengan choroidea dan ke anterior terletak di belakang tepi perifer iris) terdiri atas corona ciliaris, procesus ciliaris dan musculus ciliaris (3) iris (adalah diafragma berpigmen yang tipis dan kontraktil dengan lubang di pusatnya yaitu pupil) iris membagi ruang diantara lensa dan kornea menjadi bilik mata depan dan bilik mata belakang, serat-serat otot iris bersifat involunter dan terdiri atas serat-serat sirkuler dan radier. Bilik mata depan terletak antara persambungan kornea perifer dengan iris. Pada bagian ini, terdapat jalinan trabekula yang dasarnya mengarah ke badan siliar. Bagian dalam jalinan ini yang menghadap ke bilik mata depan dikenal sebagai jalinan uvea. Bagian luar jalinan ini yang terletak dekat kanalis schlemm dikenal sebagai jalinan korneoskleral. Serat-serat

longitudinal otot siliaris menyisip ke dalam jalinan trabekula tersebut. Kanal schlemn merupakan kapiler yang dimodifikasi yang mengelilingi kornea. Dindingnya terdiri dari satu lapisan sel. Pada dinding sebelah dalam terdapat

10

lubang lubang sebesar 2 U, sehingga terdapat hubungan langsung antara trabekula dan kanal schlemn. Dari kanal schlemn, keluar saluran kolektor, 20 30 buah, yang menuju ke pleksus vena di dalam jaringan sclera dan episkelera dan vena siliaris anterior di badan siliar.

Gambar 2. Anatomi Bilik Mata Depan dan Jaringan Sekitar.

3. Tunica sensoria (retina) Retina terdiri atas pars pigmentosa luar dan pars nervosa di dalamnya. Permukaan luarnya melekat pada choroidea dan permukaan dalamnya berkontak dengan corpus vitreum. Tiga perempat posterior retina merupakan organ reseptornya. Ujung anterior membentuk cincin berombak, yaitu ora
11

serrata, di tempat inilah jaringan syaraf berakhir. Bagian anterior retina bersifat non-reseptif dan hanya terdiri atas sel-sel pigmen dengan lapisan epitel silindris di bawahnya. Bagian anterior retina ini menutupi procesus ciliaris dan bagian belakang iris.

Vaskularisasi Bola Mata Pemasok utama orbita dan bagian-bagiannya berasal dari arteri ophtalmica, yaitu cabang besar pertama arteri karotis interna bagian intrakranial. Cabang ini berjalan di bawah nervus optikus dan bersamanya melewati kanalis optikus menuju ke orbita. Cabang intraorbital pertama adalah arteri sentralis retina, yang memasuki nervus optikus sebesar 8-15 mm di belakang bola mata. Cabang-cabang lain arteri oftalmika adalah arteri lakrimalis, yang

memvaskularisasi glandula lakrimalis dan kelopak mata atas, cabang-cabang muskularis ke berbagai otot orbita, arteri siliaris posterior longus dan brevis, arteri palpebra medialis ke kedua kelopak mata, dan arteri supra orbitalis serta supra troklearis.1,4 Arteri siliaris posterior brevis memvaskularisasi koroid dan bagian nervus optikus. Kedua arteri siliaris longus memvaskularisasi badan siliar,

beranastomosis satu dengan yang lain, dan bersama arteri siliaris anterior membentuk sirkulus arteriosus major iris. Arteri siliaris anterior berasal dari cabang-cabang muskularis dan menuju ke muskuli rekti. Arteri ini

memvaskularisasi sklera, episklera, limbus, konjungtiva, serta ikut membentuk sirkulus arteriosus major iris. 1,4 Drainase vena-vena di orbita terutama melalui vena oftalmika superior dan inferior, yang juga menampung darah dari vena verticoasae, vena siliaris anterior, dan vena sentralis retina. Vena oftalmika berhubungan dengan sinus kavernosus melalui fisura orbitalis superior dan dengan pleksus venosus pterigoideus melalui fisura orbitalis inferior.1,4

12

III. DEFENISI Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata depan, yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus (cairan mata) yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik mata depan biasanya terlihat dengan mata telanjang. Walaupun darah yang terdapat di bilik mata depan sedikit, tetap dapat menurunkan penglihatan. 3,5

Gambar 3. Tampak hifema di anterior chamber akibat trauma tumpul pada mata kanan

Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul dibawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan.5

13

Penglihatan pasien akan sangat menurun. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis. Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme.5 Gaya-gaya kontusif sering merobek pembuluh darah di iris dan merusak sudut bilik mata depan. Darah di dalam aqueous dapat membentuk suatu lapisan yang dapat terlihat (hifema). Glaukoma akut terjadi bila anyaman trabekular tersumbat oleh fibrin dan sel atau bila pembentukan bekuan darah menimbulkan bokade pupil. 3,7

IV. KLASIFIKASI a) Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi : 3


1.

Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang disebabkan pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen anterior bola mata.

2. 3.

Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata). Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan silier, sehingga pembuluh darah pecah.

4.

Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma).

5.

Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma).

b) Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi atas 2 yaitu : 6


1. 2.

Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke 2. Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.

c) Berdasarkan tampilan klinisnya dibagi menjadi beberapa grade : 3


1. 2. 3. 4.

Grade I Grade II Grade III Grade IV

: darah mengisi kurang dari sepertiga COA (58%) : darah mengisi sepertiga hingga setengah COA (20%) : darah mengisi hampir total COA (14%) : darah memenuhi seluruh COA (8%)

14

Tabel 1. Tabel Skematis Pembagian Grade Hifema.

V. ETIOLOGI Hifema biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada mata seperti terkena bola, batu, peluru senapan angin, dan lain-lain. Selain itu, hifema juga dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata. Keadaan lain yang dapat menyebabkan hifema namun jarang terjadi adalah adanya tumor mata (contohnya retinoblastoma), dan kelainan pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma).6 Hifema yang terjadi karena trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan bagian dalam bola mata, misalnya terjadi robekanrobekan jaringan iris, korpus siliaris dan koroid. Jaringan tersebut mengandung banyak pembuluh darah, sehingga akan menimbulkan perdarahan. Pendarahan
15

yang timbul dapat berasal dari kumpulan arteri utama dan cabang dari badan ciliar, arteri koroid, vena badan siliar, pembuluh darah iris pada sisi pupil. Perdarahan di dalam bola mata yang berada di kamera anterior akan tampak dari luar. Timbunan darah ini karena gaya berat akan berada di bagian terendah. 3

VI. PATOFISIOLOGI Trauma tumpul menyebabkan kompresi bola mata, disertai peregangan limbus, dan perubahan posisi dari iris atau lensa. Hal ini dapat meningkatkan tekanan intraokuler secara akut dan berhubungan dengan kerusakan jaringan pada sudut mata. Perdarahan biasanya terjadi karena adanya robekan pembuluh darah, antara lain arteri-arteri utama dan cabang-cabang dari badan siliar, arteri koroidalis, dan vena-vena badan siliar. 3,5,7

Gambar 5.Trauma tumpul pada bola mata. A. Coup B. Countercoup C. Equatorial D. Global repositioning.

16

Gambar 6.

Mekanisme Terjadinya Hifema Akibat Trauma Tumpul Mata. Gaya yang diaplikasikan pada mata menyebabkan perubahan pada aqueous humour, dimana aqueous humour tertekan ke daerah perifer bola mata, menyebabkan peningkatan tekanan hidrolik pada lensa, akar iris, dan trabekular meshwork. Apabila tekanan ini melampaui kekuatan dari struktur okuli, maka pembuluh darah di daerah iris perifer dan permukaan badan siliar akan terjadi ruptur, menyebabkan hifema. Tenaga ini dapat juga menyebabkan ruptur sklera, umumnya di daerah limbus dan daerah posterior dari origo otot okuli dimana sklera cenderung lebih tipis dan tidak dilindungi oleh tulang orbita. Trauma berat dapat menyebabkan subluksasi lensa, dialisis retina, avulsi nervus optik dan perdarahan badan kaca.

Inflamasi yang parah pada iris, sel darah yang abnormal dan kanker mungkin juga bisa menyebabkan perdarahan pada COA. Trauma tumpul dapat merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Gaya-gaya kontusif akan merobek pembuluh darah iris dan merusak sudut COA. Tetapi dapat juga terjadi secara spontan atau pada patologi vaskuler okuler. Darah ini dapat bergerak dalam ruang COA, mengotori permukaan dalam kornea. 6,7 Perdarahan pada bilik mata depan mengakibatkan teraktivasinya mekanisme hemostasis dan fibrinolisis. Peningkatan tekanan intraokular, spasme pembuluh darah, dan pembentukan fibrin merupakan mekanisme pembekuan darah yang akan menghentikan perdarahan. Bekuan darah ini dapat meluas dari bilik mata depan ke bilik mata belakang. Bekuan darah ini biasanya berlangsung hingga 4-7 hari. Setelah itu, fibrinolisis akan terjadi. Setelah terjadi bekuan darah

17

pada bilik mata depan, maka plasminogen akan diubah menjadi plasmin oleh aktivator kaskade koagulasi. Plasmin akan memecah fibrin, sehingga bekuan darah yang sudah terjadi mengalami disolusi. Produk hasil degradasi bekuan darah, bersama dengan sel darah merah dan debris peradangan, keluar dari bilik mata depan menuju jalinan trabekular dan aliran uveaskleral.3,6 Perdarahan dapat terjadi segera sesudah trauma yang disebut perdarahan primer. Perdarahan primer dapat sedikit dapat pula banyak. Perdarahan sekunder biasanya timbul pada hari ke 5 setelah trauma. Perdarahannya biasanya lebih hebat daripada yang primer. Oleh karena itu seseorang dengan hifema harus dirawat sedikitnya 5 hari. Dikatakan perdarahan sekunder ini terjadi karena resorpsi daribekuan darah terjadi terlalu cepat sehingga pembuluh darah tak mendapat waktu yang cukup untuk regenerasi kembali. 5,7 Penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari COA dalam bentuk sel darah merah melalui sudut COA menuju kanal schlem sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah ini.Sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi bewarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisi kornea, yang hanya dapat ditolong dengan keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh disertai glaucoma.6 Adanya darah pada bilik mata depan memiliki beberapa temuan klinis yang berhubungan. Resesi sudut mata dapat ditemukan setelah trauma tumpul mata. Hal ini menunjukkan terpisahnya serat longitudinal dan sirkular dari otot siliar. Resesi sudut mata dapat terjadi pada 85 % pasien hifema dan berkaitan dengan timbulnya glaukoma sekunder di kemudian hari. Iritis traumatik, dengan sel-sel radang pada bilik mata depan, dapat ditemukan pada pasien hifema. Pada keadaan ini, terjadi perubahan pigmen iris walaupun darah sudah dikeluarkan. Perubahan pada kornea dapat dijumpai mulai dari abrasi endotel kornea hingga ruptur limbus. Kelainan pupil seperti miosis dan midriasis dapat ditemukan pada 10 % kasus. Tanda lain yang dapat ditemukan adalah siklodialisis, iridodialisis, robekan pupil, subluksasi lensa, dan ruptur zonula zinn. Kelainan pada segmen

18

posterior dapat meliputi perdarahan vitreus, jejas retina (edema, perdarahan, dan robekan), dan ruptur koroid. Atrofi papil dapat terjadi akibat peninggian tekanan intraokular. 3

VII. PENEGAKAN DIAGNOSIS Adanya riwayat trauma, terutama mengenai matanya dapat memastikan adanya hifema. Pada gambaran klinik ditemukan adanya perdarahan pada COA (dapat diperiksa dengan flashlight), kadang-kadang ditemukan gangguan visus. Ditemukan adanya tanda-tanda iritasi dari conjunctiva dan pericorneal, fotofobia (tidak tahan terhadap sinar), penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan sukar melihat dekat, kemungkinan disertai gangguan umum yaitu letargic, disorientasi atau somnolen.3,5 Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair. Penglihatan pasien akan sangat menurun. Terdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah COA, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang COA. Otot sfingter pupil mengalami kelumpuhan, pupil tetap dilatasi (midriasis), dapat terjadi pewarnaan darah (blood staining) pada kornea, anisokor pupil. 3 Akibat langsung terjadinya hifema adalah penurunan visus karena darah mengganggu media refraksi. Darah yang mengisi kamera okuli ini

secara langsung dapat mengakibatkan tekanan intraokuler meningkat akibat bertambahnya isi kamera anterior oleh darah. Kenaikan tekanan intraokuler ini disebut glaukoma sekunder. Glaukoma sekunder juga dapat terjadi akibat massa darah yang menyumbat jaringan trabekulum yang berfungsi membuang humor aqueous yang berada di kamera anterior. Selain itu akibat darah yang lama berada di kamera anterior akan mengakibatkan pewarnaan darah pada dinding kornea dan kerusakan jaringan kornea. 5,7

Pemeriksaan Penunjang a) Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata Snellen; visus dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.

19

b) Lapangan pandang: penurunan dapat disebabkan oleh patologi vaskuler okuler, glaukoma. c) Pengukuran tonografi: mengkaji tekanan intra okuler. d) Slit Lamp Biomicroscopy: untuk menentukan kedalaman COA dan iridocorneal contact, aqueous flare, dan synechia posterior. e) Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler. f) Tes provokatif: digunakan untuk menentukan adanya glaukoma bila TIO normal atau meningkat ringan. 3

VIII. PENATALAKSANAAN Biasanya hifema akan hilang sempurna karena diresorbsi oleh tubuh dalam 1-2 minggu. Bila perjalanan penyakit tidak berjalan demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Seluruh terapi yang dilakukan pada umumnya ditujukan untuk menghindari terjadinya perdarahan sekunder, karena perdarahan sekunder umumnya terjadi lebih hebat dan menimbulkan beragam penyulit sehingga terapinya tidak lagi seefektif terapi pada hifema primer. Walaupun perawatan penderita hifema traumatik ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya adalah : 3,7,8,11

1) 2) 3)

Menghentikan perdarahan. Menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder. Mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat absorbsi.

4) 5)

Mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang lain. Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka cara pengobatan penderita dengan traumatik hifema pada prinsipnya dibagi dalam 2 golongan besar yaitu perawatan dengan cara konservatif/tanpa operasi, dan perawatan yang disertai dengan tindakan operasi.

20

Perawatan Konservatif/Tanpa Operasi 1. Tirah baring (bed rest total) Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala diangkat (diberi alas bantal) dengan elevasi kepala 30 - 45o (posisi semi fowler). Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya. Ada banyak pendapat dari banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan tirah baring kesempurnaan absorbsi dari hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan sekunder. Istirahat total ini harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat kemungkinan perdarahan sekunder. Hal ini sering sukar dilakukan, terlebih-lebih pada anak-anak, sehingga kalau perlu harus diikat tangan dan kakinya ke tempat tidur dan pengawasan dilakukan dengan sabar.3,9,10,11

2. Bebat mata Mengenai pemakaian bebat mata, masih belum ada persesuaian pendapat di antara para ahli. Penggunaan bebat mata pada mata yang terkena trauma yaitu untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit. 3,9

3. Pemakaian obat-obatan Pemberian obat-obatan pada penderita dengan traumatik hifema tidaklah mutlak, tapi cukup berguna untuk menghentikan perdarahan, mempercepat absorbsinya dan menekan komplikasi yang timbul. Untuk maksud di atas digunakan obat-obatan seperti : 3,10,11

Koagulansia Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun

parenteral, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan, Misalnya : Anaroxil, Adona AC, Coagulen, Transamin, vit K dan vit C. Pada hifema yang baru dan terisi darah segar diberi obat anti fibrinolitik (di pasaran obat ini dikenal sebagai transamine/ transamic acid) sehingga bekuan darah tidak

21

terlalu cepat diserap dan pembuluh darah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dahulu sampai sembuh. Dengan demikian diharapkan terjadinya perdarahan sekunder dapat dihindarkan. Pemberiannya 4 kali 250 mg dan hanya kira-kira 5 hari jangan melewati satu minggu oleh karena dapat timbulkan gangguan transportasi cairan COA dan terjadinya glaukoma juga imbibisio kornea. Selama pemberiannya jangan lupa pengukuran tekanan intra okular. Agen-agen koagulansia ini dapat menimbulkan efek samping mual, muntah, hipotensi ortostatik, kram otot, sakit kepala, timbul rash, pruritus, dyspnea, aritmia, dan juga peningkatan TIO mendadak apabila obat dihentikan pemberiannya.

Midriatika Miotika Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat-obat golongan

midriatika atau miotika, karena masing-masing obat mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri. Miotika memang akan mempercepat absorbsi, tapi meningkatkan kongesti dan dapat menyebabkan terjadinya inflamasi sehingga jarang digunakan. Agen-agen midriatika (long-acting topical cycloplegic) dapat mengurangi rasa tidak nyaman pasien, memudahkan evaluasi segmen posterior, dan dapat mengistirahatkan badan siliar sehingga cenderung lebih dipilih, akan tetapi tidak semua pihak setuju

menggunakannya.

Pemberian

midriatika

dianjurkan

bila

didapatkan

komplikasi iridiocyclitis. Akhirnya beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian midriatika dan miotika bersama-sama dengan interval 30 menit sebanyak dua kali sehari akan mengurangi perdarahan sekunder dibanding pemakaian salah satu obat saja.

Ocular Hypotensive Drug Semua para ahli menganjurkan pemberian acetazolamide (Diamox)

secara oral sebanyak 3x sehari bilamana ditemukan adanya kenaikan tekanan intraokuler. Bahkan Gombos dan Yasuna menganjurkan juga pemakaian intravena urea, manitol dan gliserin untuk menurunkan tekanan intraokuler, walaupun ditegaskan bahwa cara ini tidak rutin. Pada hifema yang penuh

22

dengan kenaikan tekanan intra okular, berilah diamox, glyserin, nilai selama 24 jam. Bila tekanan intra okular tetap tinggi atau turun, tetapi tetap diatas normal, lakukan parasentesa yaitu pengeluaran drah melalui sayatan di kornea Bila tekanan intra okular turun sampai normal, diamox terus diberikan dan dievaluasi setiap hari. Bila tetap normal tekanan intra okularnya dan darahnya masih ada sampai hari ke 5-9 lakukan juga parasentesa.

Kortikosteroid dan Antibiotika

Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan mengurangi komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan antibiotika. Kortikosteroid oral dapat diberikan apabila terdapat reaksi inflamasi hebat atau perdarahan hebat.

Analgetik

Obat-obatan analgesik harus diberikan secara bijaksana dan tepat, karena kebanyakan obat-obatan analgetik yang umum digunakan seperti NSAIDs dapat menyebabkan komplikasi perdarahan sekunder. Agen analgetik yang mengandung aspirin menjadi kontraindikasi pada pasien hifema karena efek antiplateletnya yang dapat menyebabkan clot hifema yang terbentuk lisis dan luka terbuka sehingga perdarahan sekunder terjadi.

Perawatan Operasi Perawatan cara ini akan dikerjakan bilamana ditemukan glaukoma sekunder, tanda imbibisi kornea atau hemosiderosis cornea. Dan tidak ada pengurangan dari tingginya hifema dengan perawatan non-operasi selama 3 - 5 hari. Untuk mencegah atrofi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata maksimal > 50 mmHg selama 5 hari atau tekanan bola mata maksimal > 35 mmHg selama 7 hari. Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata rata-rata > 25 mmHg selama 6 hari atau bila ditemukan tanda-tanda imbibisi kornea.3 Tindakan operatif dilakukan untuk mencegah terjadinya sinekia anterior perifer bila hifema total bertahan selama 5 hari atau hifema difus bertahan selama

23

9 hari. Intervensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah 4 hari. Dari keseluruhan indikasinya adalah sebagai berikut : 1. Empat hari setelah onset hifema total 2. Microscopic corneal bloodstaining (setiap waktu) 3. Total dengan dengan Tekanan Intra Okular 50 mmHg atau lebih selama 4 hari (untuk mencegah atrofi optic) 4. Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari COA selama 6 hari dengan tekanan 25 mmHg (untuk mencegah corneal bloodstaining) 5. Hifema mengisi lebih dari COA yang menetap lebih dari 8-9 hari (untuk mencegah peripheral anterior synechiae) 6. Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun ukurannya dengan tekanan Intra ocular lebih dari 35 mmHg lebih dari 24 jam. Jika Tekanan Inta Ocular menetap tinggi 50 mmHg atau lebih selama 4 hari, pembedahan tidak boleh ditunda. Suatu studi mencatat atrofi optic pada 50 persen pasien dengan total hifema ketika pembedahan terlambat. Corneal bloodstaining terjadi pada 43% pasien. Pasien dengan sickle cell hemoglobinopathi diperlukan operasi jika tekanan intra ocular tidak terkontrol dalam 24 jam.

Berdasarkan American Academy of Ophtalmology, indikasi dilakukan operasi pada penatalaksanaan hifema secara garis besar adalah:

Tabel 2. Tabel Indikasi Operasi Pada Hifema

24

Tindakan operasi yang dikerjakan adalah : 1. Parasentesis Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan cairan/darah dari bilik depan bola mata dengan teknik sebagai berikut : dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus ke arah kornea yang sejajar dengan permukaan iris. Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan akan keluar. Bila darah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologis. Biasanya luka insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahut. Parasentese dilakukan bila TIO tidak turun dengan diamox atau jika darah masih tetap terdapat dalam COA pada hari 5-9. 2. Melakukan irigasi di bilik depan bola mata dengan larutan fisiologik. 3. Dengan cara seperti melakukan ekstraksi katarak dengan membuka korneoscleranya sebesar 1200 4. Clot irrigation dengan melakukan trabekulektomi. Trabekulektomi ini umumnya tidak dilakukan pada pasien dengan hifema kecil, akan tetapi pada hifema total, trabekulektomi dengan iridektomi perifer harus dipertimbangkan untuk dilakukan. Trabekulektomi dilakukan dengan irigasi perlahan pada hifema di anterior chamber. Operasi ini relatif aman dan harus dilakukan pada pasien dengan hifema total sejak awal kecuali apabila TIO terkontrol obat atau hifema yang terbentuk mengalami resolusi bermakna. Teknik trabekulektomi yang dilakukan bervariasi tergantung dari ahli yang bersangkutan, akan tetapi dapat dilakukan dengan teknik partial-thicknesslamellar. Pembuluh darah episklera superficial dikoagulasi dengan kauter bipolar, sebuah flap lamellar superficial dibuat menembus 1/3 ketebalan sklera hingga terbentuk seperti sebuah pintu gantung dengan ukuran 3x3 mm, tergantung pada area limbus. Dapat dilakukan iridektomi perifer diikuti irigasi perlahan dari clot pada area trabekula.

Evaluasi pasca operasi dapat dilakukan begitu prosedur selesai dilaksanakan atau maksimal pada 2-3 hari pasca operasi. Apabila terjadi

25

perdarahan ulang saat dilakukan prosedur operasi, sumber perdarahan harus diidentifikasi dan dihentikan pada saat itu juga. Ahli mata dapat mengurangi terbentuknya hifema post operasi dengan melakukan sklerotomi internal se-anterior mungkin untuk mengurangi kemungkinan perdarahan bila dilakukan bedah filtrasi. 3,10

Terapi tambahan pada hifema: Meski pada umumnya sebagian besar hifema dapat diatasi dengan cara konvensional melalui terapi konservatif maupun operatif seperti yang dijelaskan di atas, berkembang pula terapi-terapi lain yang dapat dilakukan pada pasien dengan hifema, antara lain:

Argon Laser Goniophotocoagulation; meski jarang dilakukan, terapi ini terbukti pada beberapa laporan kasus, efektif untuk menghentikan perdarahan sekunder yang ditakutkan terjadi pada pasien-pasien dengan hifema. Teknik ini dikatakan efektif pada hifema sekunder yang diakibatkan perdarahan dari rupturnya kanal Schlemm. Laser argon diarahkan pada ruptur kanal Schlemm yang terjadi selama 0.2 detik dengan ukuran 150 m dan energi sebesar 300-350 mW. Setelah terapi ini selesai dilakukan, perdarahan akan langsung berhenti dan terapi pasien dilanjutkan dengan pemberian atropin sulfat 1% topikal 2 kali sehari dan dexamethason 1% topikal 4 kali sehari selama 3 minggu. Terapi ini efektif untuk menghentikan perdarahan secara langsung akan tetapi membutuhkan gonioskopi segera dalam mengidentifikasi sumber perdarahan yang terjadi sehingga dikatakan tidak praktis dan efisien untuk digunakan dalam praktek sehari-hari 9-11

26

Gambar 7.

Gambar sebelah kiri menunjukkan hasil gonioskopi dengan reflux darah ke anterior chamber yang berasal dari ruptur kanal Schlemm. Gambar di sebelah kanan diambil 12 bulan setelah dilakukan argon laser fotokoagulasi, tampak celah cyclodialisis yang menetap (A, di antara tanda bintang), sinekia perifer anterior dan perubahan pigmentasi akibat laser (B, panah), dan perubahan pada sudut (C, di antara kepala panah hitam)

Bimanual Bipolar Diathermy; terapi ini menggunakan energi berfrekuensi tinggi yang berasal dari 2 elektroda yang dikombinasikan pada suatu instrumen khusus. Gelombang antara dua elektroda ini menghasilkan energi panas fokal yang dapat digunakan untuk memotong jaringan maupun sebagai fungsi koagulasi. Penggunaan bipolar diathermy dalam terapi perdarahan anterior chamber bola mata bukanlah konsep terapi baru dari penatalaksanaan hifema, karena metode ini sudah berulang kali didemonstrasikan dan sukses digunakan untuk mengatasi perdarahan dari badan siliar maupun dari sudut anterior chamber. Pada banyak kasus, hifema merupakan kondisi yang bersifat self limiting sehingga penggunaan terapi ini dirasa tidak perlu, namun pada kondisi dimana perdarahan masif, terjadi berulang, atau menyebabkan peningkatan TIO dan bahkan menyebabkan mata dalam kondisi glaukoma, terapi bipolar diathermy dapat sangat berguna. Terapi ini oleh banyak ahli dipercaya sangat berguna dan efektif karena dapat langsung menghentikan perdarahan di sumber-sumber fokal perdarahan sehingga meski terjadi kondisi-kondisi yang memungkinkan perdarahan sekunder, hal ini tidak terjadi karena sumber perdarahan sudah mengalami koagulasi. 9

27

Gambar 8.

Gambar di sebelah kiri menunjukkan perdarahan sekunder dari iris pasca dilakukan parasentesa hifema yang diikuti penurunan TIO mendadak. Kondisi ini segera diatasi dengan bipolar diathermy (gambar sebelah kanan) dimana dengan instrumen bimanual dilakukan irigasi dengan kanula (kiri) dan bipolar diathermy (kanan)

IX. KOMPLIKASI Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatik hifema adalah perdarahan sekunder, glaukoma sekunder dan hemosiderosis di samping komplikasi dari traumanya sendiri berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina, katarak dan iridodialysis. Besarnya komplikasi juga sangat tergantung pada tingginya hifema. 3,9

1. Perdarahan sekunder Komplikasi ini sering terjadi pada hari ke 3 sampai ke 6, sedangkan insidensinya sangat bervariasi, antara 10 - 40%. Perdarahan sekunder ini timbul karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan dari perdarahan primernya. Perdarahan sekunder biasanya lebih hebat daripada yang primer. Terjadi pada 1/3 pasien, biasanya antara 2-5 hari setelah trauma inisial dan selalu bervariasi sebelum 7 hari post-trauma.

2. Glaukoma sekunder Timbulnya glaukoma sekunder pada hifema traumatik disebabkan oleh tersumbatnya trabecular meshwork oleh butirbutir/gumpalan darah. Insidensinya 20% , sedang di RS: Dr: Soetomo sebesar17,5%. Adanya darah dalam COA dapat

28

menghambat aliran cairan bilik mata oleh karena unsur-unsur darah menutupi sudut COA dan trabekula sehingga terjadinya glaukoma.Glaukoma sekunder dapat pula terjadi akibat kontusi badan siliar berakibat suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan mata.

3. Hemosiderosis kornea Pada penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari COA dalam bentuk sel darah merah melalui sudut COA menuju kanal Schlemm sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah ini.Sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi bewarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea, yang hanya dapat ditolong dengan keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh disertai glaukoma. Hemosiderosis ini akan timbul bila ada perdarahan/perdarahan sekunder disertai kenaikan tekanan intraokuler. Gangguan visus karena hemosiderosis tidak selalu permanen, tetapi kadang-kadang dapat kembali jernih dalam waktu yang lama (2 tahun). Insidensinya 10%.3 Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan.

4. Sinekia Posterior Sinekia posterior bisa timbul pada pasien traumatik hifema.Komplikasi ini akibat dari iritis atau iridocyclitis.Komplikasi ini jarang pada pasien yang mendapat terapi medikamentosa dan lebih sering terjadi pada pada pasien dengan evakuasi bedah pada hifema.Peripheral anterior synechiae anterior synechiae terjadi pada pasien dengan hifema pada COA dalam waktu yang lama, biasanya 9 hari atau lebih.Patogenesis dari sinekia anterior perifer berhubungan dengan iritis yang lama akibat trauma atau dari darah pada COA. Bekuan darah pada sudut COA kemudian bisa menyebabkan trabecular meshwork fibrosis yang menyebabkan sudut bilik mata tertutu.

29

5. Atrofi optik Atrofi optik disebabkan oleh peningkatan tekanan intra okular.

6. Uveitis Penyulit yang harus diperhatikan adalah glaukoma, imbibisio kornea, uveitis. Selain dari iris, darah pada hifema juga datang dari badan siliar yang mungkin juga masuk ke dalam badan kaca (corpus vitreum) sehingga pada funduskopi gambaran fundus tak tampak dan ketajaman penglihatan menurunnya lebih banyak.Hifema dapat sedikit, dapat pula banyak. Bila sedikit ketajaman penglihatan mungkin masih baik dan tekanan intraokular masih normal. Perdarahan yang mengisi setengah COA dapat menyebabkan gangguan visus dan kenaikan tekanan intra okular sehingga mata terasa sakit oleh karena glaukoma. Jika hifemanya mengisi seluruh COA, rasa sakit bertambah karena tekanan intra okular lebih meninggi dan penglihatan lebih menurun lagi.

X. PROGNOSIS Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera okuli anterior. Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai glaukoma, prognosisnya baik (bonam) karena darah akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam beberapa hari. Sedangkan hifema yang telah mengalami glaukoma, prognosisnya bergantung pada seberapa besar glaukoma tersebut menimbulkan defek pada ketajaman penglihatan. Bila tajam penglihatan telah mencapai 1/60 atau lebih rendah maka prognosis penderita adalah buruk (malam) karena dapat menyebabkan kebutaan. 3,10,11

XI. KESIMPULAN Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata depan, yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus yang jernih. Hifema biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada mata seperti terkena bola, batu, peluru senapan angin, dan lain-lain. Selain itu, hifema juga dapat

30

terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata. Keadaan lain yang dapat menyebabkan hifema namun jarang terjadi adalah adanya tumor mata (contohnya retinoblastoma), xanthogranuloma). Penegakan diagnosis hifema berdsarkan adanya riwayat trauma, terutama mengenai matanya dapat memastikan adanya hifema. Pada gambaran klinik ditemukan adanya perdarahan pada COA, kadang-kadang ditemukan gangguan visus. Ditemukan adanya tanda-tanda iritasi dari conjunctiva dan pericorneal, fotofobia, penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan sukar melihat dekat, kemungkinan disertai gangguan umum yaitu letargic, disorientasi atau somnolen. Penatalaksanaan hifema pada prinsipnya dibagi dalam 2 golongan besar yaitu perawatan dengan cara konservatif/tanpa operasi, dan perawatan yang disertai dengan tindakan operasi. Tindakan ini bertujuan untuk : menghentikan perdarahan, menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder, mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat absorbsi, mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang lain, dan berusaha mengobati kelainan yang menyertainya. dan kelainan pembuluh darah (contohnya juvenile

31

DAFTAR PUSTAKA 1. Eva PR. Whitcher JP. Vaughan & Asburys: General Opthalmology. 17th edition. United States of America. Mc Graw Hill. 2007. Khurana AK. Comprehensive Ophtalmology 4thEd. New Delhi: New Age International (P). 2007.

2.

3.

Sheppard

J,

Crouch

E.

Hyphema.

2013.

Available

at

http://emedicine.medscape.com/ophthalmology#anterior.

4.

Faiz O. Mofat D. Anatomy at a Glance. Italy. Blackwell Science Ltd. 2002. Khaw PT, Shah P, Elkington AR. ABC of Eyes 4th Ed. London: BMJ Books. 2004. Lang GK. Ophtalmology, A Pocket Textbook Atlas 2nd Ed. Stuttgart: Thieme.2006.

5.

6.

7.

Kuhn F, Pieramici DJ, Ocular Trauma : Principles and Practice. New York. Thieme.

8.

Olver J. Cassidy Lorraine. Ophtalmology at a Glance. India. Blackwell Science Ltd. 2005.

9.

Galloway NR, Amoaku WMK, Galloway PH, Browning AC. Common eyes disease and their management. 3rdedition . London. Springer-Verlag. 2006.

10. Webb LA. Kanski JJ. Manual of Eye Emergencies: Diagnosis and Management. China: Butterworth-Heinemann. 2004.

11. Chern KC. Emergency Ophtalmology: A Rapid Treatment Guide. United States of America. Mc Graw Hill. 2002

32