Anda di halaman 1dari 276

KEPONAKAN PENYIHIR

a
MR. Collection's
a
KEPONAKAN PENYIHIR
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

C.S. Lewis
Ilustrasi oleh Pauline Baynes

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama


Jakarta, 2005
THE CHRONICLES OF NARNIA
#1 THE MAGICIAN'S NEPHEW
Copyright © CS Lewis Pte Ltd 1955, 1950, 1954,
1951, 1952, 1953, 1956
Inside illustrations by Pauline Baynes, copyright © CS Lewis Pte Ltd
1955, 1950, 1954, 1951, 1952, 1953, 1956
Cover art by Cliff Nielsen, copyright © CS Lewis Pte Ltd 2002
The Chronicles of Narnia®, Narnia® and all book titles, characters
and locales original to The Chronicles of Narnia,
are trademarks of CS Lewis Pte Ltd
Use without permission is strictly prohibited
Published by PT Gramedia Pustaka Utama under license from
the CS Lewis Company Ltd
All rights reserved
www.narnia.com

THE CHRONICLES OF NARNIA


#1 KEPONAKAN PENYIHIR
Alih Bahasa: Indah S. Pratidina
GM 106 05 008
Hak Cipta Terjemahan Indonesia:
PT Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Barat '33-37
Jakarta 10270
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
Anggota IKAPI,
Jakarta, Juni 2005

Cetakan kedua: September 2005

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

LEWIS, C.S.
THE CHRONICLES OF NARNIA: KEPONAKAN PENYIHIR/
C.S. Lewis; alih bahasa: Indah S. Pratidina, Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2005
280 hlm; ilustrasi; 18 cm
Judul asli: THE CHRONICLES OF NARNIA:
THE MAGICIAN'S NEPHEW
ISBN 979-22-1457-7
I. Judul II. Pratidina, Indah S.

Dicetak oleh PT SUN, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab percetakan
Kepada Keluarga Kilmer
Untuk KMR, yang slalu menjadi inspirasiku

a
DAFTAR ISI

1. Pintu yang Salah 9


2. Digory dan Pamannya 29
3. Hutan di Antara Dunia-Dunia 47
4. Bel dan Palu 64
5. Kata Kemalangan 83
6. Awal Segala Kesusahan
Paman Andrew 101
7. Yang Terjadi di Pintu Depan 119
8. Pertarungan di Lampu Tiang 138
9. Membangkitkan Narnia 154
10. Lelucon Pertama dan Hal-hal Lain 174
11. Digory dan Pamannya
Sama-sama dalam Kesulitan 192
12. Petualangan Strawberry 209
13. Pertemuan Tak Terduga 228
14. Penanaman Pohon 246
15. Akhir Kisah Ini
dan Awal Kisah-kisah Lain 262
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
BAB 1

Pintu yang Salah

I NI kisah tentang sesuatu yang terjadi dulu


sekali ketika kakek-nenekmu masih kanak-
kanak. Kisah ini penting karena mengungkap-
kan bagaimana pertama kali dimulainya berba-
gai hal bisa keluar-masuk dari dunia kita sendiri
ke tanah Narnia.
Di masa-masa itu, Mr Sherlock Holmes ma-
sih tinggal di Baker Street dan keluarga Bastable
masih mencari harta terpendam di Lewinsham
Road. Di masa-masa itu, kalau kau anak laki-
laki kau harus mengenakan kerah Eton yang
kaku setiap hari, dan sekolah-sekolah biasanya
lebih kejam daripada sekarang. Tapi makanan-
makanannya lebih lezat, dan kalau bicara soal
permen-permennya, aku tidak akan bilang pada-
mu betapa murah dan nikmat semua jenisnya,
karena itu hanya akan membuat air liurmu

9
menetes percuma. Dan di masa-masa itu, hidup-
lah di London anak perempuan bernama Polly
Plummer.
Dia tinggal di salah satu rumah di deretan
panjang rumah yang berdempetan. Di suatu
pagi, dia sedang berada di kebun belakang
ketika seorang anak laki-laki datang berlari
dari kebun sebelah dan meletakkan kepalanya
di atas pagar tembok. Polly sangatlah terkejut
karena hingga saat ini belum pernah ada anak-
anak di rumah itu, hanya Mr Ketterly dan
Miss Ketterley, kakak-beradik, perjaka tua dan
perawan tua, tinggal bersama. Jadi Polly men-
dongak, penuh rasa ingin tahu. Wajah anak
laki-laki asing itu sangat kotor. Nyaris tidak
akan bisa lebih kotor lagi bila dia menggosok-
kan tangan ke tanah dulu, menangis keras,
lalu mengeringkan wajah dengan kedua tangan-
nya. Bahkan sebenarnya, bisa dibilang itulah
yang baru saja dia lakukan.
"Halo," sapa Polly.
"Halo," sapa anak laki-laki itu. "Siapa nama-
mu?"
"Polly," jawab Polly. "Kalau namamu?"
"Digory," jawab si anak laki-laki.
"Wah, namamu aneh sekali!" kata Polly.
"Lebih aneh mana dengan Polly?" kata Digory.

10
"Namamu lebih aneh," kata Polly.
"Tidak," kata Digory.
"Yang pasti aku akan mencuci wajahku,"
kata Polly. "Itu perlu kaulakukan, terutama
setelah—" lalu dia berhenti. Dia berniat berkata
"Setelah kau menangis lama," tapi dia pikir
itu tidak sopan.
"Baiklah, aku akan mencuci muka," kata

11
Digory dengan suara yang jauh lebih keras,
seperti anak lelaki yang saking sedihnya tidak
peduli siapa saja yang tahu dia habis menangis.
"Tapi kau juga akan begini," dia melanjutkan,
"kalau sepanjang umurmu kau hidup di pe-
desaan dan memiliki kuda poni, juga sungai di
bagian bawah taman, lalu dibawa untuk hidup
di gua kumuh mengerikan seperti ini."
"London bukan gua," kata Polly yakin. Tapi
anak lelaki itu terlalu marah untuk mendengar-
nya, dia pun melanjutkan—
"Dan kalau ayahmu berada jauh di India—
dan kau harus tinggal bersama Bibi dan Paman
yang gila (siapa yang bakal mau?)—dan kalau
alasannya adalah karena mereka harus menjaga
ibumu—dan jika ibumu sakit dan akan—
akan—meninggal." Kemudian wajahnya mulai
membentuk rupa aneh yang biasa muncul bila
kau berusaha menahan air mata.
"Aku tidak tahu itu. Maaf ya," kata Polly
lembut. Kemudian, karena dia hampir tidak
tahu apa yang harus diucapkan dan berusaha
mengalihkan pikiran Diggory ke topik-topik
menggembirakan, dia bertanya:
"Memangnya Mr Ketterly benar-benar gila,
ya?"
"Yah, kalau tidak gila," kata Digory, "pasti-

12
nya dia menyimpan misteri lain. Dia punya
ruang kerja di lantai atas dan Bibi Letty bilang
jangan sekali-kali aku berani ke sana. Nah, itu
saja sudah terdengar mencurigakan, kan? Kemu-
dian ada satu hal lagi. Setiap kali pamanku
berusaha mengatakan apa pun padaku saat
makan—dia bahkan tidak pernah berusaha bi-
cara pada Bibi—Bibi Letty langsung menyuruh-
nya diam. Dia bilang, 'Tidak perlu mencemas-
kan anak itu, Andrew' atau 'Aku yakin Digory
tidak mau mendengar tentang itu' atau kalau
tidak 'Nah, Digory, tidakkah kau ingin main
keluar di taman?"'
"Biasanya pamanmu berusaha bicara tentang
apa?"
"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah bisa
bicara banyak. Tapi ada lagi yang lebih mem-
buat penasaran. Suatu malam—bahkan sebenar-
nya, kemarin malam—waktu aku melewati
tangga terbawah menuju loteng, saat mau pergi
tidur (dan biasanya aku tidak pernah terlalu
peduli saat melewatinya), aku yakin aku men-
dengar teriakan."
"Mungkin dia menyekap istrinya yang gila
di atas sana."
"Ya, aku sudah memikirkan kemungkinan
itu."

13
"Atau mungkin dia sebenarnya pembuat uang
palsu."
"Atau dia mungkin dulunya bajak laut, seper-
ti pria yang ada di bagian awal buku Treasure
Island, yang selalu bersembunyi dari teman-
teman sekapalnya."
"Seru sekali!" kata Polly. "Aku tidak pernah
menyangka rumahmu begitu menarik."
"Kau mungkin berpendapat rumah itu mena-
rik," kata Digory. "Tapi kau tidak bakal me-
nyukainya kalau harus tidur di sana. Apakah
kau masih akan menyukainya kalau harus se-
lalu terbaring dalam keadaan terjaga men-
dengarkan langkah kaki Paman Andrew yang
mengendap-endap sepanjang koridor menuju
rumahmu? Matanya juga mengerikan sekali."
Begitulah ceritanya bagaimana Polly dan
Digory bisa saling mengenal. Dan karena saat
itu masih permulaan liburan musim panas dan
tidak satu pun dari mereka yang pergi ke laut
tahun itu, mereka bertemu nyaris setiap hari.
Sebagian besar alasan dimulainya petualangan
mereka adalah karena saat itu musim panas
yang paling sering hujan dan dingin yang per-
nah ada sejak bertahun-tahun. Keadaan ini
membuat mereka harus berpuas diri dengan
kegiatan-kegiatan di dalam rumah, bisa dibi-

14
lang, petualangan di dalam rumah. Menakjub-
kan sekali betapa banyaknya petualangan yang
bisa kaulakukan dengan sebongkah lilin di
suatu rumah besar, atau di deretan rumah.
Polly telah lama menemukan bahwa jika kau
membuka pintu kecil tertentu di loteng yang
berbentuk kotak di rumahnya, kita akan me-
nemukan tempat penyimpanan air dan ruang
gelap di belakangnya yang bisa kaumasuki
dengan sedikit memanjat hati-hati. Ruang gelap
itu seperti terowongan panjang dengan dinding
bata di satu sisi dan atap curam di sisi lainnya.
Di atap, berkas-berkas kecil cahaya menembus
di antara rongga-rongganya. Tidak ada lantai
di terowongan ini, kita bakal harus melangkah
dari kasau ke kasau, dan di antaranya hanya
ada plester. Kalau kita menginjak plester ini
kau akan mendapati dirimu terjatuh dari langit-
langit ruangan di bawahnya. Polly mengguna-
kan sebagian kecil terowongan itu, tepat di
sebelah tempat penyimpanan air, sebagai gua
penyelundup. Dia membawa bagian-bagian peti
pakaian tua, beberapa bantalan kursi dapur
yang rusak, dan benda-benda sejenis lainnya,
lalu menyebar semua benda itu di atas kasau
demi kasau sehingga terbentuk semacam lantai.
Di sinilah dia menyimpan kotak uang yang

15
berisi berbagai harta, dan cerita yang sedang
ditulisnya, lalu biasanya beberapa apel. Dia
sering kali diam-diam meminum bir jahe di
sana, botol-botol lamanya membuat tempat itu
lebih kelihatan seperti gua penyelundup.

Digory lumayan menyukai gua itu (Polly


tidak mengizinkannya melihat cerita yang di-
tulisnya) tapi anak lelaki itu lebih suka ber-
tualang.
"Polly," kata Digory. "Sepanjang apa tero-
wongan ini sebenarnya? Maksudku, apakah
terowongan ini berakhir di ujung rumahmu?"
"Tidak," kata Polly. "Dinding-dindingnya ti-
dak berakhir hingga atap rumah ini saja. Tapi

16
terus memanjang. Aku tidak tahu hingga sejauh
apa."
"Kalau begitu kita bisa menjelajah sejauh
panjangnya deretan rumah ini."
"Sepertinya begitu," kata Polly. "Dan oh,
astaga!"
"Apa?"
"Kita bisa masuk ke rumah-rumah lain."
"Ya, dan dianggap perampok! Tidak, terima
kasih."
"Jangan sok tahu, dengar dulu. Yang ku-
maksud itu rumah di sebelah rumahmu."
"Ada apa di rumah itu?"
"Rumah itu kosong. Daddy bilang rumah
itu selalu kosong sejak kami pindah kemari."
"Berarti kurasa kita harus mencoba melihat-
nya," kata Digory. Kalau kau mendengarnya
berbicara, kau tidak akan menduga sebenarnya
dia jauh lebih bersemangat daripada itu. Karena
tentu saja dia sedang memikirkan, seperti yang
juga akan kaulakukan, semua alasan kenapa
rumah itu kosong begitu lama. Begitu juga
Polly. Tidak satu pun di antara mereka yang
mengucapkan kata "berhantu". Dan keduanya
merasa bahwa sekali suatu ide tercetus, akan
jadi tindakan pengecut bila tidak melakukan-
nya.

17
"Jadi kita coba pergi ke sana sekarang?"
tanya Digory.
"Baiklah," jawab Polly.
"Tidak usah kalau kau tidak ingin," kata
Digory.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly.
"Bagaimana caranya kita bisa tahu kita su-
dah ada tepat di rumah sebelah rumahku?"
Mereka memutuskan harus keluar dari ruang
kotak dan berjalan menyeberanginya dengan
berjalan sebanyak langkah yang dibutuhkan
untuk berpindah dari satu kasau ke kasau
lain. Tindakan ini akan bisa memberikan me-
reka perkiraan ada berapa kasau yang harus
dilewati untuk melewati satu ruangan. Kemu-
dian mereka akan melebihkan kira-kira empat
kasau untuk memperkirakan lorong di antara
dua loteng di rumah Polly, kemudian jumlah
yang sama dengan ruang kotak untuk kamar
tidur pelayan perempuan. Perhitungan ini akan
membantu mereka mengira-ngira panjang ru-
mah. Kalau mereka sudah melalui jarak itu
sejauh dua kalinya, mereka akan berada di
ujung rumah Digory. Pintu mana pun yang
mereka temui setelah itu akan membawa me-
reka ke loteng rumah kosong tersebut.
"Tapi kurasa loteng itu tidak akan benar-
benar kosong," kata Digory.

18
"Memangnya menurutmu bakal ada apa di
sana?"
"Menurutku bakal ada seseorang tinggal se-
cara diam-diam di sana, hanya keluar-masuk
di malam hari, dengan lentera temaram. Kita
mungkin akan menemukan geng penjahat yang
putus asa dan mendapatkan hadiah untuk pe-
nangkapan mereka. Bisa dibilang mustahil se-
buah rumah kosong selama bertahun-tahun se-
perti itu tanpa ada misteri di baliknya."
"Menurut Daddy pasti pipa-pipanya yang
tidak beres," kata Polly.
"Huh! Orang dewasa selalu memikirkan pen-
jelasan-penjelasan yang tidak menarik," kata
Digory. Karena mereka sekarang sedang ber-
bicara di loteng dengan cahaya matahari siang
dan bukannya dengan sinar lilin di Gua Penye-
lundup, semakin tidak tampak adanya kemung-
kinan rumah kosong itu ada hantunya.
Ketika selesai mengukur loteng, mereka harus
mengambil pensil dan melakukan penjumlahan.
Awalnya mereka berdua mendapatkan hasil
yang berbeda, dan bahkan ketika akhirnya
mereka sependapat, aku masih belum yakin
perhitungan mereka benar. Mereka begitu ter-
buru-buru ingin segera memulai petualangan.
"Kita tidak boleh bersuara," kata Polly ke-

19
tika mereka memanjat lagi ke belakang tempat
penyimpanan air. Karena ini peristiwa penting,
mereka masing-masing membawa lilin (Polly
punya banyak persediaan lilin di guanya).
Keadaan begitu gelap, berdebu, dan lembap
saat mereka melangkah dari kasau ke kasau
tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kecuali
ketika mereka saling berbisik, "Kita sudah ada
di seberang lotengmu sekarang," atau "Kita
pasti sudah setengah jalan melewati rumah
kami". Keduartya tidak pernah tersandung dan
lilin-lilin mereka tidak pernah padam, lalu
akhirnya mereka mencapai suatu tempat mereka
bisa melihat pintu kecil di dinding batu bata
di sebelah kanan mereka. Tidak ada gembok
atau kenop di sisi yang bagian sini tentu saja,
karena pintu itu dibuat untuk masuk dan
bukan keluar, tapi ada semacam pegangan (se-
perti yang biasa ditemukan di pintu lemari)
yang mereka yakin bakal bisa diputar.
"Aku buka?" tanya Digory.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly,
seperti ucapannya sebelumnya. Keduanya me-
rasa situasi mulai jadi serius, tapi tidak satu
pun dari mereka yang mau mundur. Dengan
agak susah payah, Digory menekan dan me-
mutar pegangan itu. Pintu terayun terbuka

20
dan sinar matahari siang yang mendadak meng-
hambur keluar membuat mata mereka me-
ngejap-ngejap. Lalu, bersama dengan rasa sa-
ngat terkejut, mereka mendapati mereka sedang
melihat, bukan loteng terlantar, tapi ruangan
berperabot lengkap. Namun ruangan itu seperti-
nya memang tak berpenghuni. Sepi sekali di

21
dalamnya. Rasa ingin tahu Polly menguasainya.
Dia meniup lilinnya hingga padam dan masuk
ke ruangan asing itu, nyaris tanpa suara.
Ruangan itu berbentuk, tentu saja, seperti
loteng, tapi dilengkapi perabotan ala ruang
duduk. Setiap sisi dinding ditutupi rak-rak dan
setiap sudut dalam rak itu dipenuhi buku. Api
menyala di perapian (kau pasti ingat bahwa
musim panas tahun itu begitu basah dan di-
ngin) dan di depan perapian, membelakangi
Digory dan Polly, ada kursi berlengan yang
berpunggung tinggi. Di antara kursi dan Polly,
mengisi sebagian besar ruangan, ada meja besar
yang dipenuhi berbagai benda—buku-buku ce-
takan dan jenis buku-buku yang bisa kautulisi,
juga beberapa botol tinta, pena, lilin segel,
dan mikroskop. Tapi yang langsung menarik
perhatian Polly adalah baki kayu merah yang
di atasnya tergeletak beberapa cincin. Cincin
itu masing-masing berpasangan—yang kuning
berpasangan dengan yang hijau, lalu ada sedikit
jarak, kemudian cincin kuning lagi dengan
cincin hijau lain. Cincin-cincin itu tidak lebih
besar daripada cincin-cincin biasa, dan tidak
ada yang bisa mengalihkan perhatian dari
benda-benda itu karena mereka bersinar terang
sekali. Benda-benda itu benda kecil bercahaya

22
terindah yang bisa kaubayangkan. Kalau Polly
lebih muda usianya daripada saat itu, dia
pasti bakal ingin memasukkan salah satunya
ke mulut.
Ruangan itu begitu sepi sehingga kau lang-
sung bisa mendengar bunyi detakan jam. Na-
mun, seperti yang kini Polly sadari, ruangan
itu juga tidak benar-benar sepi. Ada suara
berdengung yang samar—amat sangat samar.
Kalau mesin penyedot debu sudah ditemukan
saat itu, Polly pasti akan berpikir itu suara
penyedot debu yang sedang digunakan jauh
sekali—terpisah darinya beberapa ruangan di
beberapa lantai di bawahnya. Tapi dengungan
itu lebih menyenangkan daripada suara mesin,
lebih bernada: hanya saja begitu samar sehingga
kau nyaris tidak bisa mendengarnya.
"Tidak apa-apa—tidak ada orang di sini,"
kata Polly ke balik bahunya ke Digory. Seka-
rang dia bicara sedikit lebih keras daripada
bisikan. Lalu Digory keluar, matanya mengejap-
ngejap, dan tubuhnya tampak kotor sekali—
pasti Polly juga begitu.
"Ini bukan pertanda bagus," kata Digory.
"Ini sama sekali bukan rumah kosong. Sebaik-
nya kita cepat pergi sebelum ada orang da-
tang."

23
"Menurutmu cincin-cincin apa itu?" kata
Polly sambil menunjuk cincin-cincin berwarna
tadi.
"Aduh, ayolah," ajak Digory. "Semakin cepat
kita—"
Dia tidak pernah menyelesaikan kata-katanya
karena tepat pada saat itu sesuatu terjadi.
Kursi berpunggung tinggi di depan perapian
tiba-tiba bergerak dan berdiri dari bangkunya—
seperti iblis pantomim keluar dari pintu bawah
panggung—sosok mengejutkan Paman Andrew.
Ternyata mereka tidak berada di rumah kosong,
mereka berada di rumah Digory dan di ruang
kerja yang terlarang dimasuki! Kedua anak itu
berucap "O-o-oh" dan menyadari kekeliruan
besar mereka. Mereka merasa seharusnya sudah
tahu mereka belum pergi cukup jauh.
Paman Andrew bertubuh tinggi dan sangat
kurus. Wajahnya bersih bercukur dengan hidung
bengkok tajam, matanya luar biasa tajam, dan
rambutnya beruban lebat juga berantakan.
Digory tak mampu berkata-kata, karena kini
Paman Andrew tampak seribu kali lebih me-
ngerikan daripada sebelumnya. Polly belum me-
rasa setakut itu, tapi tak lama lagi pasti begitu.
Karena tindakan pertama yang Paman Andrew
lakukan adalah berjalan menuju pintu ruangan,

24
menutupnya, dan menguncinya. Lalu dia ber-
balik, menatap lekat kedua anak itu dengan
matanya yang tajam, dan tersenyum, menunjuk-
kan seluruh giginya.
"Nah!" katanya. "Sekarang kakakku yang
bodoh tidak akan bisa membantumu!"
Tindakan itu sama sekali bukan tindakan
yang kita harapkan bakal dilakukan orang
dewasa. Jantung Polly rasanya mau melompat
keluar, dia dan Digory pun mulai berjalan
mundur ke pintu kecil yang mereka lalui tadi.
Tapi Paman Andrew terlalu cepat dibanding
mereka. Tahu-tahu dia sudah berada di bela-
kang mereka, menutup pintu itu juga, lalu
berdiri menghalanginya. Kemudian dia meng-
gosok-gosokkan kedua tangannya dan membuat
buku-buku jemari tangannya berderak. Jemari-
nya sangat panjang, putih, dan bagus.
"Aku senang sekali kalian datang," katanya.
"Tepat saat aku membutuhkan dua anak."
"Saya mohon, Mr Ketterly," kata Polly. "Saat
ini sudah hampir waktunya makan malam dan
saya harus segera pulang. Maukah Anda mem-
biarkan kami keluar?"
"Belum," jawab Paman Andrew. "Ini kesem-
patan yang terlalu bagus untuk dilewatkan.
Aku memang menginginkan dua anak. Jadi

25
begini, aku sedang melakukan suatu percobaan
besar. Aku sudah mengetesnya pada hamster
dan tampaknya berhasil. Tapi masalahnya
hamster tidak bisa memberitahumu apa-apa.
Dan kau tidak bisa menjelaskan cara kembali
kepadanya."
"Begini, Paman Andrew," kata Digory, "seka-
rang benar-benar saatnya makan malam dan
mereka akan segera mencari kami. Kau harus
membiarkan kami keluar."
"Harus?" tanya Paman Andrew.
Digory dan Polly bertukar pandang sekilas.
Mereka tidak berani mengatakan apa-apa, tapi
pandangan itu berarti "Ini mengerikan sekali"
dan "Kita harus membujuknya."
"Kalau Anda membiarkan kami keluar untuk
makan malam sekarang," kata Polly, "kami
bisa kembali lagi ke sini setelahnya."
"Ah, tapi bagaimana aku bisa yakin kalian
akan melakukan itu?" tanya Paman Andrew
dengan senyum licik. Lalu tampaknya dia beru-
bah pikiran.
"Yah, yah," katanya, "kalau kalian memang
harus pergi, kurasa kalian harus pergi. Aku
tidak bisa mengharapkan dua anak muda se-
perti kalian bakal tertarik berbincang-bincang
dengan orang tua sepertiku." Dia mengembus-

26
kan napas dan melanjutkan. "Kalian sama
sekali tidak akan bisa membayangkan betapa
terkadang aku sangat kesepian. Tapi tidak ma-
salah. Pergilah makan malam. Tapi aku mem-
beri kalian hadiah sebelum kalian pergi. Tidak
setiap hari aku bisa melihat gadis kecil di
ruang kerjaku yang membosankan ini, terutama,
kalau aku boleh berterus terang, wanita muda
yang sangat cantik sepertimu."
Polly mulai berpikir bahwa mungkin pria
ini tidaklah segila bayangannya.
"Apakah kau mau cincin, sayangku?" tanya
Paman Andrew ke Polly.
"Apakah maksudmu salah satu cincin kuning
atau hijau itu?" tanya Polly. "Kau baik se-
kali!"
"Bukan yang hijau," kata Paman Andrew.
"Sayangnya aku tidak bisa memberimu cincin
yang hijau. Tapi aku akan senang sekali bila
bisa memberimu salah satu cincin kuning itu,
bersama rasa cintaku. Ayo, cobalah salah satu-
nya."
Kini Polly sudah cukup menguasai rasa
takutnya dan yakin pria tua ini tidaklah gila,
lagi pula pastinya memang ada sesuatu yang
anehnya menarik pada cincin-cincin bersinar
terang itu. Dia bergerak mendekati baki.

27
"Wah! Astaga," katanya. "Suara dengungan
itu terdengar lebih keras di sini. Hampir seolah
cincin-cincin inilah yang mengeluarkannya."
"Khayalanmu indah sekali, Sayang," kata
Paman Andrew sambil tertawa. Suara tawanya
terdengar seperti tawa yang sangat biasa, tapi
Digory sempat melihat ekspresi bersemangat,
hampir serakah, di wajahnya.
"Polly! Jangan ceroboh!" Digory berteriak.
"Jangan sentuh cincin-cincin itu."
Terlambat. Tepat saat Digory berbicara, ta-
ngan Polly terulur untuk menyentuh salah satu
cincin itu. Dan mendadak, tanpa kilatan ca-
haya, suara, atau peringatan apa pun, Polly
menghilang. Hanya tinggal Digory dan paman-
nya di ruangan itu.

28
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

MR. Collection's
BAB 2

Digory dan Pamannya

K EJADIAN itu begitu tiba-tiba dan men-


cekam, tidak seperti apa pun yang pernah
dialami Digory, bahkan dalam mimpi buruk
sekalipun, sehingga dia menjerit. Tangan Paman
Andrew langsung membekap mulutnya. "Henti-
kan itu!" desisnya di telinga Digory. "Kalau
kau terus membuat keributan, ibumu akan
mendengarnya. Dan kau tahu sendiri apa yang
bisa terjadi bila dia terlalu terkejut."
Seperti yang Digory ceritakan nanti, jenis
kemarahan mengerikan yang ingin dilampias-
kannya ke pria itu hampir membuatnya muak.
Tapi tentu saja dia tidak menjerit lagi.
"Begitu lebih baik," kata Paman Andrew.
"Mungkin kau juga tidak bisa mencegahnya.
Memang mengejutkan bila kau melihat sese-
orang lenyap untuk pertama kalinya. Aku saja

29
shock waktu hamsterku menghilang kemarin
malam."
"Apakah itu yang terjadi waktu kau menjerit
tempo lalu?" tanya Digory.
"Oh, kau mendengar itu, ya? Kuharap kau
tidak sedang memata-mataiku?"
"Tidak, tentu tidak," jawab Digory penuh
gengsi. "Tapi apa yang terjadi pada Polly?"
"Beri aku selamat, keponakanku tersayang,"
kata Paman Andrew, menggosok kedua tangan-
nya. "Percobaanku telah berhasil. Gadis kecil
itu lenyap—menghilang—keluar dari dunia ini."
"Apa yang telah kaulakukan padanya?"
"Mengirimnya ke—yah—ke tempat lain."
"Apa maksudmu?" tanya Digory.
Paman Andrew duduk dan menjawab, "Baik-
lah, aku akan menceritakan semuanya kepada-
mu. Kau sudah pernah dengar kisah tentang
Mrs Lefay yang tua?"
"Bukankah dia bibi buyutku atau semacam-
nya?" tanya Digory.
"Bukan juga," kata Paman Andrew. "Dia
ibu angkatku. Itu dia, di sana, di dinding."
Digory mendongak dan melihat foto yang
sudah buram: wajah wanita tua mengcnakan
topi bonnet yang berpita di bagian dagunya.
Dan dia kini bisa mengingat bahwa dia dulu

30
juga pernah melihat foto wajah yang sama di
laci tua di rumah, di desanya. Dia telah
bertanya kepada ibunya siapa wanita itu dan
ibunya tampak tidak terlalu berminat mem-
bicarakan topik itu lebih lanjut lagi. Wajahnya
sama sekali tidak menyenangkan, pikir Digory,
tapi tentu saja dengan foto-foto zaman itu
kita tidak akan pernah bisa benar-benar tahu.
"Apakah ada—pernah ada—sesuatu yang sa-
lah padanya, Paman Andrew?" tanyanya.
"Yah," kata Paman Andrew sambil terkekeh,
"tergantung dengan apa yang kausebut sebagai
salah. Orang-orang begitu berpikiran sempit.
Dia memang sangat unik di masa hidupnya.
Melakukan berbagai tindakan tidak bijaksana.
Itulah sebabnya mereka membungkamnya."
"Di rumah sakit jiwa, maksudmu?"
"Oh bukan, bukan, bukan," kata Paman
Andrew, nada suaranya terkejut. "Bukan di
tempat yang seperti itu. Maksudku hanya pen-
jara."
"Astaga!" kata Digory. "Apa yang telah
dilakukannya?"
"Ah, wanita malang," kata Paman Andrew,
"dia telah bertindak tidak bijaksana. Sebaiknya
kita tidak membahas semua itu. Dia selalu
bersikap baik padaku."

31
"Tapi tunggu dulu, apa hubungannya semua
ini dengan Polly? Kenapa kau tidak langsung
saja—"
"Semua ada waktunya, anakku," kata Paman
Andrew. "Mereka membiarkan Mrs Lefay
keluar sebelum dia meninggal dan aku salah
satu dari sedikit orang yang dia izinkan me-
nemuinya di hari-hari terakhir sakitnya. Dia
begitu membenci orang-orang biasa yang tidak
pedulian, kau harus tahu itu. Aku sendiri juga
begitu. Aku dan dia memiliki ketertarikan pada
hal-hal yang sama. Hanya beberapa hari sebe-
lum kematiannya, dia menyuruhku menghampiri
meja rias tua di rumahnya, membuka laci
rahasia, lalu membawakan kepadanya kotak
kecil yang kutemukan di dalamnya. Saat aku
mengangkat kotak itu aku bisa menduga dari
rasa kesemutan di jemari tanganku bahwa aku
sedang memegang rahasia besar di tanganku.
Dia memberikan kotak itu kepadaku dan me-
maksaku berjanji bahwa segera setelah dia
meninggal aku akan membakarnya, tetap dalam
keadaan tak pernah terbuka dan dengan upa-
cara tertentu. Aku tidak menepati janji itu."
"Yah, kalau begitu, kau jahat sekali," ko-
mentar Digory.
"Jahat?" kata Paman Andrew dengan wajah

32
bertanya-tanya. "Oh, aku mengerti. Maksudmu,
anak-anak lelaki harus menepati janji. Itu sa-
ngat benar: yang paling tepat dan pantas di-
lakukan, aku yakin, dan aku lega kau sudah
diajar untuk bersikap begitu. Tapi tentu saja
kau harus memahami bahwa peraturan seperti
itu, betapa pun bagusnya untuk anak-anak
lelaki—pelayan—wanita—bahkan manusia pada
umumnya, tidak bisa diharapkan berlaku pada
siswa-siswa luar biasa, para pemikir dan ahli
pengetahuan hebat. Tidak, Digory. Para pria
seperti aku, yang memiliki kebijakan tersem-
bunyi, terbebaskan dari peraturan biasa seperti
begitu juga kami terlepaskan dari kesenangan-
kesenangan biasa. Takdir kami, anakku, adalah
takdir yang tinggi dan sepi."
Saat mengatakan ini dia mengembuskan na-
pas dan tampak begitu muram, mulia, juga
misterius sehingga sesaat Digory benar-benar
berpikir Paman Andrew sedang mengucapkan
sesuatu yang sangat menakjubkan. Tapi kemu-
dian dia teringat ekspresi buruk yang dilihatnya
di wajah sang paman beberapa saat sebelum
Polly menghilang. Dia pun langsung bisa me-
lihat apa yang ada di balik kata-kata luar
biasa Paman Andrew. Semua itu hanya berarti,
katanya pada dirinya sendiri, bahwa Paman

33
Andrew pikir dia bisa melakukan apa saja
untuk mendapatkan apa pun yang diinginkan-
nya.
"Tentu saja," kata Paman Andrew, "aku
tidak berani membuka kotak itu lama sekali,
karena aku tahu bisa saja isinya sesuatu yang
sangat berbahaya. Karena ibu angkatku wanita
yang amat menakjubkan. Sebenarnya, dia satu
dari manusia-manusia terakhir yang memiliki
darah peri dalam tubuhnya. (Dia bilang ada
dua orang lain di masanya. Salah satunya
seorang bangsawan bergelar duchess dan satu
lagi wanita tukang bersih-bersih.) Bahkan,
Digory, saat ini kau sedang berbicara dengan
pria terakhir (mungkin) yang benar-benar me-
miliki ibu angkat peri. Nah! Itu akan jadi
sesuatu yang bakal kauingat ketika kau sendiri
sudah menjadi pria tua."
Aku berani bertaruh dia peri yang jahat,
pikir Digory, lalu menambahkan dengan keras,
"Tapi bagaimana dengan Polly?"
"Kenapa kau terus-terusan meributkan ma-
salah itu?" kata Paman Andrew. "Seolah ma-
salah itulah yang paling penting! Tugas per-
tamaku adalah tentu saja mempelajari kotak
itu sendiri. Kotaknya kuno sekali. Dan bahkan
pada saat itu aku tahu cukup banyak untuk

34
yakin kotak tersebut bukan buatan Yunani,
Mesir kuno, Babilonia, Hittite, ataupun Cina.
Usianya lebih tua daripada negara-negara itu.
Ah—benar-benar hari yang indah ketika akhir-
nya aku mengetahui kebenarannya. Kotak itu
buatan bangsa Atlantis, datangnya dari ke-
pulauan Atlantis yang hilang. Itu berarti kotak
itu jauh lebih tua berabad-abad daripada benda-
benda Zaman Batu yang digali di Eropa. Dan
benda itu juga tidaklah kasar dan mentah
seperti barang Zaman Batu. Karena di awal
masa, Atlantis sudah menjadi kota hebat de-
ngan istana-istana, kuil-kuil, dan orang-orang
terpelajar."
Paman Andrew berhenti sesaat seolah men-
duga Digory akan mengatakan sesuatu. Tapi
anak itu semakin tidak menyukai pamannya
sejalan dengan setiap menit yang berlalu, jadi
dia tidak mengucapkan apa-apa.
"Sementara itu," Paman Andrew melanjut-
kan, "aku sedang mempelajari banyak sihir
secara umum dengan berbagai cara (yang ku-
rasa tidaklah pantas bila dijelaskan kepada
anak kecil). Itu berarti aku mendapatkan ba-
yangan yang cukup jelas tentang benda-benda
macam apa saja yang mungkin berada di dalam
kotak itu. Dengan berbagai tes aku menyempit-

35
kan berbagai kemungkinan. Aku harus menge-
nal beberapa—yah, sejumlah orang jahat aneh,
dan melalui berbagai pengalaman yang sangat
tidak menyenangkan. Semua itulah yang mem-
buat rambutku beruban. Seseorang tidaklah
begitu saja menjadi penyihir. Kesehatanku sem-
pat ambruk. Tapi aku membaik. Dan aku
akhirnya tahu."
Meski tidak ada kemungkinan, walau barang
sedikit pun, ada orang lain yang mendengarkan
pembicaraan mereka, Paman Andrew mencon-
dongkan tubuh ke depan dan hampir berbisik
ketika berkata:
"Kotak Atlantis itu berisi sesuatu yang telah
dibawa dari dunia lain ketika dunia kita baru
saja dimulai."
"Apa?" tanya Digory yang kini jadi sangat
tertarik, tanpa bisa menahan diri.
"Hanya debu," jawab Paman Andrew. "Debu

36
bagus dan kering. Tidak banyak yang bisa
dilihat. Bahkan bisa dibilang, tidak banyak
yang bisa ditunjukkan setelah kerja keras se-
umur hidup. Ah, tapi waktu aku melihat debu
itu (aku benar-benar berhati-hati untuk tidak
menyentuhnya) dan berpikir bahwa setiap butir
pernah berada di dunia lain—maksudku bukan
planet lain tentunya, planet-planet itu juga
bagian dari dunia kita dan kau bisa mencapai-
nya kalau kau pergi cukup jauh—tapi Dunia
Lain sungguhan—Alam Lain—
jagat raya lain—suatu tempat
yang tidak akan pernah kau-
capai walaupun kau menjelajahi
luar angkasa jagat raya ini se-
lama-lamanya—dunia yang hanya
bisa dicapai dengan sihir—nah!"
Saat mengatakan itu Paman
Andrew menggosok-gosokkan ke-
dua tangannya sampai buku-buku
jemarinya berderak seperti
kembang api.
"Aku tahu," dia melan-
jutkan, "hanya kalau kau

37
bisa menemukan bentuk tepatnya maka debu
itu bisa menarikmu ke tempat asalnya. Tapi
kesulitannya justru terletak pada mencari
bentuk tepatnya itu. Pengalaman-pengalaman
terdahuluku semua adalah kegagalan. Aku men-
cobanya pada hamster. Beberapa di antaranya
hanya mati. Beberapa yang lain meledak seperti
bom-bom kecil—"
"Itu tindakan yang kejam sekali," kata Digory,
yang dulu pernah punya kelinci.
"Kenapa kau selalu bisa mengalihkan topik
pembicaraan?" kata Paman Andrew. "Itulah
gunanya makhluk-makhluk itu. Aku membeli-
nya sendiri. Sekarang sebentar—sampai di mana
aku tadi? Ah ya. Akhirnya aku berhasil mem-
buat cincin-cincin itu: cincin yang warnanya
kuning. Tapi sekarang kesulitan baru muncul.
Aku cukup yakin saat ini, bahwa cincin yang
kuning bisa mengirimkan makhluk mana pun
yang menyentuhnya ke Tempat Lain. Tapi apa-
lah gunanya itu semua kalau aku tidak bisa
mengembalikan mereka untuk bercerita kepada-
ku apa yang telah mereka temukan di sana?"
"Dan bagaimana nasib mereka?" tanya
Digory. "Kekacauan yang bakal mereka temui
kalau mereka tidak bisa kembali!"
"Kau terus-menerus melihat segala sesuatunya

38
dengan sudut pandang yang salah," kata Paman
Andrew dengan ekspresi tidak sabar. "Tidak
bisakah kau mengerti semua ini pengalaman
hebat? Tujuan utama mengirim siapa pun ke
Tempat Lain adalah supaya aku bisa tahu
bagaimana rasanya."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak pergi saja
sendiri ke sana?"
Digory nyaris tidak pernah melihat seseorang
tampak begitu terkejut dan tersinggung seperti
Paman Edward sekarang hanya karena perta-
nyaan sederhana itu. "Aku? Aku?" dia berseru.
"Anak ini pasti gila! Pria dengan usiaku, dengan
keadaan kesehatan sepertiku, rela mengambil
risiko kejutan dan bahaya yang mungkin muncul
karena mendadak dilemparkan ke dunia lain?
Aku tidak pernah mendengar apa pun yang
begitu tidak masuk di akal sepanjang hidupku!
Apakah kausadar dengan yang baru saja kau-
katakan? Bayangkan apa arti kata Dunia Lain—
kau mungkin saja bertemu apa pun—apa pun."
"Tapi kurasa tidak masalah bagimu untuk
mengirim Polly ke sana," kata Digory. Pipinya
terbakar karena amarah sekarang. "Dan aku
hanya bisa berkata," dia melanjutkan, "biarpun
kau pamanku—kau telah bertindak pengecut,
mengirim anak perempuan ke tempat yang

39
terlalu menakutkan bagimu untuk pergi sen-
diri."
"Diam kau!" kata Paman Andrew, sambil
memukul meja keras-keras. "Aku tidak akan
sudi diceramahi seperti itu oleh anak sekolahan
kecil yang kotor. Kau tidak mengerti. Aku
ilmuwan besar, sang penyihir, si pakar yang
sedang melakukan percobaan. Tentu saja aku
membutuhkan seseorang untuk menjadi subjek
percobaan. Demi jiwaku, jangan-jangan setelah
ini kau akan berkata bahwa seharusnya aku
meminta izin pada hamster-hamsterku sebelum
aku menggunakan mereka! Tidak ada kebijakan
besar yang bisa dicapai tanpa pengorbanan.
Tapi gagasan seharusnya aku pergi sendiri ada-
lah omong kosong. Itu seperti meminta jenderal
berperang seperti prajurit biasa. Seandainya
aku terbunuh, apa jadinya kerja keras seumur
hidupku?"
"Oh, berhentilah membual," kata Digory.
"Kau akan membawa Polly kembali, tidak?"
"Aku baru saja akan memberitahumu soal
itu ketika dengan tidak sopan kau memotong-
ku," kata Paman Andrew, "Bahwa akhirnya
aku menemukan cara untuk melakukan perja-
lanan pulang. Cincin-cincin yang hijau akan
menarikmu pulang."

40
"Tapi Polly tidak membawa cincin yang
hijau."
"Tidak," kata Paman Andrew dengan senyum
jahat.
"Kalau begitu dia tidak akan bisa kembali,"
teriak Digory. "Dan itu sama saja dengan kau
sudah membunuhnya."
"Dia bisa saja kembali," kata Paman Andrew,
"kalau ada orang yang menyusulnya, mengena-
kan cincin kuning sambil membawa dua cincin
hijau, satu untuk membawa orang itu sendiri
pulang dan yang satu lagi untuk membawa
Polly pulang."
Dan saat ini tentu saja Digory sudah bisa
melihat jebakan yang menjeratnya. Dia meman-
dang Paman Andrew, tanpa mengatakan apa-
apa, dengan mulut ternganga lebar. Kedua pipi-
nya kini pucat sekali.
"Aku berharap," kata Paman Andrew kini
dengan suara yang sangat tinggi dan kuat,
seolah dia paman sempurna yang baru saja
memberi seseorang uang saku besar dan na-
sihat baik, "Aku berharap, Digory, kau tidak
akan mundur dan menyerah. Aku akan jadi
sangat menyesal bila ada anggota keluarga
kita yang tidak memiliki kehormatan dan ke-
beranian yang cukup besar untuk bersedia pergi

41
menyelamatkan—ngng—lady yang dalam ke-
susahan."
"Oh, diamlah!" kata Digory. "Kalau kau
punya kehormatan dan segala itu, kau sendiri
yang akan pergi. Tapi aku tahu kau tidak
akan melakukan itu. Baiklah. Aku mengerti
aku harus pergi. Tapi ternyata kau memang
monster. Kurasa kau sudah merencanakan se-
mua ini supaya Polly pergi tanpa sepenge-
tahuannya sehingga kemudian aku harus pergi
menjemputnya."
"Tentu saja," kata Paman Andrew dengan
senyumnya yang menyebalkan.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi sebelumnya
ada satu hal yang harus kukatakan. Aku tidak
pernah percaya pada sihir hingga hari ini. Aku
lihat sekarang sihir adalah nyata. Yah, dan
kalau sihir memang ada, berarti kurasa segala
kisah tua tentang peri juga kurang-lebih benar.
Dan kau tidak lain adalah penyihir licik yang
kejam seperti yang ada di dalam cerita-cerita.
Nah, aku tidak pernah membaca cerita di
mana orang-orang seperti itu tidak mendapat
ganjaran di akhir kisah, dan aku berani ber-
taruh itulah yang juga akan kaualami. Kau
pantas menerimanya."
Dari segala hal yang telah diucapkan Digory,

42
kata-katanya yang ini merupakan yang pertama
yang mengenai sasaran. Paman Andrew terkejut
kemudian muncul awan ketakutan menaungi
wajahnya yang, meskipun dia begitu kejam,
nyaris bisa membuatmu mengasihaninya. Tapi
sedetik kemudian dia mengusirnya pergi dan
berkata ditemani tawa yang agak dipaksakan,
"Yah, yah, kurasa itu hal biasa yang bakal
muncul di benak seorang anak—terutama ka-
rena dibesarkan di antara wanita-wanita, seperti
dirimu. Kisah-kisah istri tua, hah? Kurasa kau
tidak perlu mencemaskan bahaya yang akan
mendatangiku, Digory. Bukankah lebih baik
kau mengkhawatirkan bahaya yang mengham-
piri teman kecilmu itu? Dia sudah pergi cukup
lama. Kalau memang ada bahaya Di Sana—
yah, akan sangat disayangkan bila kau tiba
terlambat."
"Seolah kau peduli saja," kata Digory penuh
amarah. "Tapi aku sudah muak mendengar
segala bualan ini. Apa yang harus kulaku-
kan?"
"Kau benar-benar harus belajar mengendali-
kan emosimu, anakku," kata Paman Andrew
tenang. "Kalau tidak kau akan tumbuh menjadi
seperti Bibi Letty. Sekarang. Kemarilah."
Paman Andrew bangkit, mengenakan sepa-

43
sang sarung tangan, lalu berjalan menuju baki
tempat cincin-cincin itu berada.
"Cincin-cincin ini hanya berfungsi," katanya,
"kalau mereka benar-benar menyentuh kulitmu.
Kalau memakai sarung tangan, aku bisa meng-
angkatnya—seperti ini—tanpa ada kejadian apa-
apa. Kalau kau membawa salah satunya di
sakumu juga tidak akan terjadi apa-apa, tapi
tentu saja kau harus berhati-hati untuk tidak
memasukkan tangan ke saku dan tanpa sengaja
menyentuhnya. Di saat menyentuh cincin ku-
ningmu, kau akan lenyap dari dunia ini. Waktu
kau berada di Tempat Lain, dugaanku—tentu
saja ini belum dites kebenarannya, tapi aku
menduga—saat kau menyentuh cincin hijau kau
akan menghilang dari dunia itu dan—perkiraan-
ku—muncul kembali di dunia ini. Sekarang.
Aku akan mengambil dua cincin hijau ini dan
memasukkan keduanya ke saku sebelah kanan-
mu. Ingatlah dengan sangat hati-hati di mana
cincin yang hijau berada. Hijau sama dengan
Green. Kanan sama dengan Right. G untuk
Green dan R untuk Right. G.R. kau lihat:
adalah dua huruf pertama kata Green. Satu
untukmu dan satu lagi untuk si gadis kecil.
Dan sekarang kau ambillah sendiri cincin yang
kuning. Aku akan mengenakannya—di jariku—

44
kalau aku jadi kau. Kemungkinan jatuhnya
akan lebih kecil bila kaulakukan itu."
Digory hampir saja mengambil cincin kuning
ketika tiba-tiba dia berhenti.
"Tunggu dulu," katanya. "Bagaimana dengan
Ibu? Bagaimana kalau dia menanyakan ke-
beradaanku?"
"Semakin cepat kau pergi, semakin cepat
kau akan kembali," kata Paman Andrew ceria.
"Tapi kau bahkan tidak benar-benar yakin
aku bisa kembali."
Paman Andrew mengangkat bahunya, ber-
jalan menyeberangi ruangan menuju pintu,
membuka kunci, membukanya lebar-lebar de-
ngan entakan, dan berkata:
"Oh, baiklah kalau begitu. Terserah kau
saja. Turunlah dan santap makan malammu.
Biarkan si gadis kecil itu dimakan binatang-
binatang liar, tenggelam, kelaparan di Dunia
Lain, atau tersesat di sana selama-lamanya,
kalau itu yang kauinginkan. Semuanya sama
saja bagiku. Mungkin sebelum waktunya mi-
num teh sebaiknya kau mampir ke sebelah
dan menemui Mrs Plummer untuk menjelaskan
dia tidak akan pernah melihat anak perempuan-
nya lagi karena kau takut mengenakan sebentuk
cincin."

45
"Ya ampun," kata Digory, "aku benar-benar
berharap aku sudah cukup besar untuk meninju
kepalamu!"
Lalu Digory mengancingkan mantelnya, me-
narik napas dalam-dalam, dan meraih cincin
itu. Dan saat itu dia berpikir, seperti yang
selalu dia lakukan setelahnya, bahwa kata hati-
nya tidak akan membiarkannya mengambil pi-
lihan lain.

46
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
BAB 3

Hutan di Antara Dunia-Dunia

P AMAN ANDREW dan ruang kerjanya


langsung menghilang. Kemudian selama se-
saat, segalanya menjadi seolah bertumpuk-tum-
puk. Hal selanjutnya yang Digory ketahui ada-
lah adanya cahaya hijau lembut yang menyi-
narinya dari atas dan kegelapan di bawahnya.
Dia tidak tampak seperti sedang berdiri atau
apa pun, atau duduk, atau berbaring. Seolah
tidak ada yang menyentuhnya. "Sepertinya aku
ada di dalam air," kata Digory. "Atau di
bawah air." Pemikiran ini sempat membuatnya
takut, tapi hampir seketika dia bisa merasakan
tubuhnya naik dengan cepat. Lalu kepalanya
tiba-tiba keluar di udara dan dia mendapati
dirinya berenang ke tepian, menuju daratan
berumput lembut di pinggir suatu mata air.
Saat bangkit dia menyadari dirinya tidak

47
basah kuyup dan meneteskan air. Dia juga
tidak terengah-engah mencari udara seperti yang
akan diperkirakan semua orang bila habis ber-
ada di bawah air. Pakaiannya sama sekali
kering. Dia sedang berdiri di pinggir mata air
kecil—tidak lebih dari tiga meter dari satu sisi
ke sisi lainnya—dalam suatu hutan. Pepohonan
tumbuh rapat dan berdaun lebat sehingga dia
bahkan tidak bisa mengintip langit. Semua
cahaya berwarna hijau dan menyeruak di
antara dedaunan, tapi pastinya di atas sana
ada matahari yang bersinar sangat kuat karena

48
sinar hijau yang dirasakannya begitu terang
dan hangat. Hutan itu hutan tersunyi yang
mungkin bisa kaubayangkan. Tidak ada
burung-burung, tidak ada serangga, tidak ada
hewan-hewan, dan tidak ada angin. Kau nyaris
bisa merasakan pepohonan tumbuh. Mata air
tempat Digory baru saja keluar ternyata bukan-
lah satu-satunya mata air di sana. Ada lusinan
mata air lain—satu mata air di setiap meter
sejauh matamu bisa memandang. Kau hampir
bisa merasakan pepohonan mengisap air dengan
akar-akar mereka. Hutan itu sangat hidup.
Ketika berusaha melukiskannya nanti Digory
selalu berkata, "Tempat itu begitu kaya, sekaya
kue plum.'"
Hal teranehnya, hampir sebelum dia meman-
dang ke sekeliling, Digory separo lupa bagai-
mana dia bisa datang ke sana. Pada suatu
titik, dia pastinya tidak memikirkan Polly, Pa-
man Andrew, atau bahkan ibunya. Dia sama
sekali tidak takut, bersemangat, atau penasaran.
Kalau ada yang bertanya kepadanya, "Dari
mana asalmu?" dia mungkin bakal menjawab,
"Tempat tinggalku dari dulu di sini." Seperti
itulah rasanya—seolah seseorang sudah berada
di tempat itu sejak lama dan tidak pernah
merasa bosan, walaupun tidak ada yang pernah

49
terjadi di sana. Seperti yang diceritakannya
lama setelah itu, "Tempat itu bukan jenis
tempat di mana banyak hal terjadi. Pepohonan
terus bertumbuh, itu saja."
Setelah lama memandangi hutan itu, Digory
menyadari ada gadis kecil berbaring telentang
di kaki pohon beberapa meter dari dirinya.
Mata gadis itu nyaris tertutup tapi tidak ter-
pejam, seolah dia sedang berada di antara
keadaan tidur dan bangun. Jadi Digory me-
natapnya lama sekali dan tidak berkata apa-
apa. Dan akhirnya gadis itu membuka mata
dan memandangi Digory lama sekali, juga tan-
pa berkata apa-apa. Lalu gadis itu bicara,
dengan suara yang pelan dan lembut seperti
orang mengantuk.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu
sebelumnya," katanya.
"Menurutku juga begitu," kata Digory. "Kau
sudah lama berada di sini?"
"Oh, aku selalu ada di sini," kata si gadis.
"Setidaknya—entahlah—lama sekali."
"Aku juga," ucap Digory.
"Tidak ah," kata si gadis. "Aku baru saja
melihatmu keluar dari mata air itu."
"Ya, mungkin memang begitu," kata Digory
kebingungan. "Aku lupa."

50
Kemudian untuk beberapa saat yang cukup
lama keduanya tidak saling bicara lagi.
"Tunggu dulu," kata si gadis tiba-tiba, "kira-
kira kita memang pernah bertemu, tidak ya?
Aku punya sejenis bayangan—semacam gam-
baran di kepalaku—tentang anak laki-laki dan
perempuan seperti kita—tinggal di suatu tempat
yang agak berbeda—dan melakukan berbagai
hal. Mungkin itu hanya mimpi."
"Aku juga punya mimpi yang sama, seperti-
nya," kata Digory. "Tentang anak laki-laki
dan perempuan, tinggal bersebelahan—dan se-
suatu tentang merangkak di antara kerangka
rumah. Aku ingat anak perempuan itu mukanya
kotor."
"Sepertinya ingatanmu terbalik? Dalam mim-
piku justru si anak laki-laki yang wajahnya
kotor."
"Aku tidak bisa mengingat wajah anak lelaki
itu," kata Digory kemudian menambahkan,
"Wah! Apa itu?"
"Wah! Itu kan hamster," kata si gadis kecil.
Dan memang benar—di sana ada hamster gen-
dut, mengendus-endus rumput. Tapi di sekeliling
perut hamster itu ada tali dan, terikat di tali
itu, cincin kuning yang bersinar terang.
"Lihat! Lihat!" teriak Digory. "Cincin itu!

51
Dan lihat! Kau juga me-
ngenakan cincin seperti
itu di jarimu. Aku
juga."
Si gadis kecil itu
kini duduk tegak, akhirnya benar-benar tertarik.
Mereka menatap satu sama lain lekat-lekat,
berusaha mengingat. Kemudian di saat yang
tepat bersamaan, si gadis berteriak, "Mr
Ketterley," dan si anak lelaki berseru, "Paman
Andrew," lalu mereka pun tahu siapa diri
mereka dan mulai mengingat keseluruhan cerita.
Setelah banyak berbincang-bincang selama be-
berapa menit, akhirnya mereka mengingat
semuanya. Digory menjelaskan betapa kejamnya
tindakan Paman Andrew.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
tanya Polly. "Membawa pulang hamster ini
dan kembali ke dunia kita?"
"Tidak perlu terburu-buru," kata Digory,
sambil menguap lebar sekali.
"Kurasa harus begitu," kata Polly. "Tempat
ini terlalu sunyi. Begitu—begitu seperti mimpi.
Kau sendiri nyaris tertidur. Sekali kita menyerah
terhadap pengaruhnya kita hanya akan ber-
baring dan dalam keadaan setengah tertidur
selama-lamanya."

52
"Tapi nyaman sekali berada di sini," kata
Digory.
"Ya, memang benar," kata Polly. "Tapi kita
harus kembali." Dia berdiri dan mulai berjalan
menghampiri si hamster dengan hati-hati. Tapi
kemudian dia berubah pikiran.
"Sebaiknya kita biarkan saja si hamster di
sini," kata Polly. "Dia tampak begitu bahagia
di tempat ini, dan pamanmu hanya akan me-
lakukan sesuatu yang buruk padanya kalau
kita membawanya pulang."
"Aku yakin dia akan melakukan itu," ko-
mentar Digory. "Lihat saja caranya memper-
lakukan kita. Omong-omong, bagaimana cara
kita pulang?"
"Kurasa sih, lewat mata air itu lagi."
Mereka berjalan mendekati mata air dan
berdiri berdampingan di tepinya, menunduk
menatap permukaan air yang datar. Pada per-
mukaan itu terlihat bayangan cabang-cabang
pohon yang hijau penuh dedaunan sehingga
tampak sangat dalam.
"Kita tidak punya perlengkapan berenang,"
kata Polly.
"Kita tidak butuh semua itu, bodoh," kata
Digory. "Kita akan menyelam ke dalamnya
dengan pakaian lengkap. Masa kau tidak ingat

53
airnya sama sekali tidak membasahi kita ketika
kita naik ke sini?"
"Kau bisa berenang?"
"Sedikit. Kau bagaimana?"
"Yah—tidak terlalu bisa."
"Kurasa kita tidak akan perlu berenang,"
kata Digory. "Kita kan mau pergi ke bawah-
nya, ya kan?"
Tidak satu pun di antara mereka menyukai
ide melompat ke mata air itu, tapi tidak ada
yang mengatakannya. Mereka bergandengan ta-
ngan dan berkata "Satu—Dua—Tiga—Lompat"
lalu melompat. Mereka merasakan cipratan be-
sar dan tentu saja mereka memejamkan mata.
Tapi ketika membuka mata lagi, mereka men-
dapati diri mereka masih berdiri, bergandengan
tangan di hutan hijau, dan nyaris hanya teren-
dam air hingga ke mata kaki. Mata air itu
ternyata beberapa sentimeter dalamnya. Mereka
berjalan kembali ke daratan kering.
"Apa sebenarnya yang salah?" tanya Polly
dengan suara ketakutan, tapi tidaklah setakut
seperti yang kaubayangkan, karena sangatlah
sulit merasa sangat takut saat berada di hutan
itu. Tempat itu terlalu damai.
"Oh! Aku tahu," kata Digory. "Tentu saja,
ini tidak akan berhasil. Kita masih mengenakan

54
cincin kuning kita. Cincin-cincin ini kan untuk
perjalanan pergi. Cincin-cincin yang hijau akan
membawa kita pulang. Kita harus mengganti
cincin kita. Kau punya saku? Bagus. Simpan
cincin kuningmu di saku kiri. Aku punya dua
cincin hijau. Ini satu untukmu."
Mereka mengenakan cincin hijau dan kembali
ke mata air. Tapi sebelum mereka mencoba
melompat lagi, Digory mengeluarkan "O-o-
oh!" yang panjang sekali.
"Ada apa?" tanya Polly.
"Aku baru saja mendapat ide bagus," kata
Digory. "Untuk apakah mata air-mata air lain-
nya?"
"Apa maksudmu?"
"Begini, kalau kita bisa kembali ke dunia
kita sendiri dengan melompat ke mata air
yang ini, bukankah berarti kita bisa pergi ke
tempat lain dengan melompat ke mata air
lain? Mungkin saja ada dunia di bawah setiap
mata air."
"Tapi bukankah kita sudah berada di Dunia
Lain, Tempat Lain, atau apalah namanya itu
yang dibicarakan Paman Andrew? Bukankah
kau bilang—"
"Ah, lupakan Paman Andrew," potong
Digory. "Kurasa dia bahkan tidak tahu apa-

55
apa tentang itu. Dia tidak pernah punya ke-
beranian untuk datang ke sini sendiri. Dia
hanya bicara tentang satu Dunia Lain. Tapi
siapa tahu ada lusinan?"
"Maksudmu, hutan ini mungkin hanya salah
satunya?"
"Tidak, menurutku hutan ini sama sekali
bukan dunia lain. Menurutku tempat ini hanya-
lah semacam tempat di antaranya."
Polly tampak bingung.
"Tidakkah kau lihat?" tanya Digory. "Tidak,
dengar dulu. Pikirkan terowongan kita di ba-
wah papan-papan di rumah. Tempat itu kan
bukan ruangan di salah satu rumah. Bisa di-
bilang, terowongan itu bahkan bukan benar-
benar bagian dari rumah-rumah. Tapi sekalinya
kau berada di terowongan, kau bisa berjalan
di dalamnya dan datang ke rumah mana pun
di deretan rumah kita. Mungkin saja hutan ini
juga sama, kan?—tempat yang bukanlah salah
satu dunia, tapi sekali kau menemukan tempat
ini kau bisa masuk ke dunia mana pun."
"Yah, kalaupun kau bisa—" Polly memulai,
tapi Digory melanjutkan seolah tidak mende-
ngar kata-katanya.
"Dan tentu saja itu menjelaskan segalanya,"
katanya. "Itulah sebabnya tempat ini begitu

56
sepi dan kita selalu merasa mengantuk. Tidak
pernah ada kejadian apa pun di sini. Seperti
di rumah. Di dalam rumah-rumahlah orang-
orang berbicara, atau melakukan hal-hal, juga
tempat mereka makan. Tidak ada yang terjadi
di tempat-tempat perantara: di belakang din-
ding, di atas langit-langit, atau di bawah lantai,
juga di dalam terowongan kita. Tapi ketika
kau keluar dari terowongan, kau akan men-
dapati dirimu berada di rumah mana pun.
Kurasa kita bisa keluar dari tempat ini dan
menuju tempat mana pun! Kita tidak perlu
melompat ke dalam mata air yang sama dengan
yang kita lewati. Atau belum saatnya."
"Hutan di Antara Dunia-Dunia," kata Polly
menerawang. "Kedengarannya bagus juga."
"Ayo," kata Digory. "Kolam mana yang
akan kita coba?"
"Tunggu dulu," kata Polly, "Aku tidak akan
mencoba mata air baru sebelum memastikan
kita memang bisa pulang melalui mata air
yang pertama. Kita bahkan tidak yakin itu
cara yang benar."
"Benar," kata Digory sinis. "Kita akan di-
rangkap Paman Andrew dan harus menyerah-
kan cincin-cincin kita sebelum sempat ber-
senang-senang. Tidak, terima kasih."

57
"Tidak bisakah kita sampai di setengah jalan
ke bawah mata air kita?" tanya Polly. "Hanya
untuk melihat cara ini benar-benar manjur.
Lalu begitu kita tahu itu berhasil, kita ganti
cincin dan kembali naik sebelum benar-benar
sampai di ruang kerja Mr Ketterly."
"Bisakah kita pergi separo jalan ke bawah?"
"Yah, cukup lama waktu yang kita perlukan
untuk naik, kurasa bakal memakan waktu se-
dikit lama untuk kembali."
Digory agak sulit menyetujui rencana ini,
tapi akhirnya dia terpaksa setuju karena Polly
sama sekali menolak melakukan penjelajahan
ke dunia baru apa pun sebelum memastikan
dia bisa kembali ke dunia asalnya. Dia kurang-
lebih sama beraninya dengan Digory dalam
menghadapi beberapa bahaya (tawon, misal-
nya), tapi Polly tidaklah tertarik menemukan
hal-hal yang belum pernah didengar siapa pun.
Sedangkan Digory tipe orang yang ingin menge-
tahui segalanya, dan ketika tumbuh dewasa
dia menjadi Profesor Kirke yang terkenal yang
akan muncul di buku-buku lain.
Setelah cukup lama berdebat, mereka sepen-
dapat untuk mengenakan cincin hijau mereka
("Hijau untuk keamanan," kata Digory, "jadi
kau tidak bisa tidak mengingat cincin yang

58
mana untuk apa"), lalu mereka bergandengan
tangan dan melompat. Tapi segera ketika me-
reka tampak akan kembali ke ruang kerja
Paman Andrew, atau bahkan dunia mereka
sendiri, Polly bertugas untuk berteriak, "Ganti"
dan mereka akan membuka cincin hijau lalu
memakai cincin kuning lagi. Digory ingin jadi
yang bertugas berteriak, "Ganti," tapi Polly
tidak juga mau setuju.
Mereka mengenakan cincin hijau, saling
menggamit tangan, dan sekali lagi berteriak
"Satu—Dua—Tiga—Lompat". Kali ini cara itu
manjur. Sangatlah sulit menceritakan pada
kalian bagaimana rasanya, karena segalanya
terjadi begitu cepat. Awalnya ada cahaya-cahaya
terang yang bergerak di langit hitam. Digory
selalu menganggap cahaya-cahaya itu bintang-
bintang dan bersumpah melihat Planet Jupiter
cukup dekat—cukup dekat untuk melihat
bulannya. Tapi hampir sekaligus terlihat oleh
mereka barisan demi barisan atap dan cerobong
asap di atas, mereka juga bisa melihat St Paul
sehingga tahu mereka sedang melihat peman-
dangan London. Tapi kau bisa melihat menem-
bus dinding-dinding semua rumah. Lalu mereka
bisa melihat Paman Andrew, sangat samar dan
berbayang-bayang, tapi semakin lama semakin

59
kelihatan jelas dan nyata, seolah dia kian men-
dekati fokus. Tapi sebelum Paman Andrew
menjadi benar-benar nyata, Polly berteriak
"Ganti", dan mereka langsung mengganti cin-
cin, dunia kita pun mengabur seperti mimpi,
kemudian cahaya hijau di atas menjadi kian
terang dan terang, hingga kepala mereka keluar
dari mata air dan mereka berlari ke tepian.
Kini hutan mengelilingi mereka lagi hingga ke
atas, masih sehijau dan seterang dulu. Seluruh
proses itu hanya mengambil waktu kurang
dari satu menit.
"Nah!" kata Digory. "Sudah bisa, kan? Seka-
rang mari kita bertualang. Mata air yang mana
pun boleh. Ayolah. Ayo kita coba yang satu
itu."
"Stop!" kata Polly. "Tidakkah sebaiknya kita
tandai mata air yang ini dulu?"
Mereka bertatapan dan wajah mereka berdua
memucat saat mereka menyadari hal mengeri-
kan yang baru saja akan Digory lakukan. Ada
begitu banyak mata air di di hutan ini, dan
semua mata air tampak serupa, begitu juga
pepohonannya. Kalau sekali saja mereka me-
ninggalkan mata air yang merupakan jalan
menuju dunia mereka sendiri tanpa membuat
semacam tanda, kemungkinannya seratus ban-

60
ding satu bagi mereka untuk menemukannya
lagi.
Tangan Digory gemetaran saat dia membuka
pisau lipatnya dan memotong sebongkah pan-
jang rumput di tepian mata air. Tanah hutan
itu (yang wangi sekali) berwarna cokelat ke-
merahan gembur dan tampak kontras di antara
hijau rerumputan. "Untung salah satu di antara
kita berakal sehat," kata Polly.
"Yah, kau kan tidak perlu menyombongkan
diri hanya gara-gara masalah ini," kata Digory.
"Ayolah, aku ingin melihat ada apa di balik
mata air-mata air yang lain." Polly membalas
ucapan Digory dengan cukup pedas, Digory
pun mengucapkan sesuatu yang lebih ketus
lagi sebagai balasannya. Pertengkaran itu ber-
langsung selama beberapa menit, tapi akan
membosankan bila ditulis semuanya. Marilah
kita langsung menuju saat ketika mereka berdiri
dengan jantung berdebar-debar dan wajah agak
ketakutan di pinggir mata air tak dikenal de-
ngan cincin-cincin kuning mereka. Keduanya
bergandengan dan sekali lagi berkata "Satu—
Dua—Tiga—Lompat!"
Byuurr! Sekali lagi cara ini tidak berhasil.
Mata air ini ternyata juga hanyalah sedalam
kubangan air. Bukannya mencapai dunia lain,

61
mereka hanya mendapati kaki mereka basah
dan mengotori tungkai kaki mereka untuk ke-
dua kalinya pagi itu (kalau memang saat itu
pagi: waktu tampak selalu sama di Hutan di
Antara Dunia-Dunia).
"Sial!" seru Digory. "Apa lagi yang salah
sekarang? Kita sudah mengenakan cincin kuning
kita kok. Dia bilang kuning untuk perjalanan
pergi."
Nah, sekarang diketahui ternyata Paman
Andrew, yang tidak tahu apa-apa tentang Hu-
tan di Antara Dunia-Dunia, punya perkiraan
yang salah tentang kegunaan cincin-cincin itu.
Cincin yang kuning bukanlah cincin "pergi"
dan cincin yang hijau bukanlah cincin "pu-
lang", setidaknya bukan seperti yang dipikir-
kannya. Bahan-bahan yang membuat kedua
cincin itu berasal dari hutan itu. Bahan-bahan
dalam cincin kuning memiliki kekuatan untuk
menarikmu ke hutan, bahan-bahan yang ingin
kembali ke tempatnya semula, tempat di antara.
Tapi bahan dalam cincin hijau adalah bahan
yang berusaha keluar dari tempatnya semula:
jadi cincin hijau akan membawamu keluar
dari hutan ke sebuah dunia. Paman Andrew,
untuk kauketahui, sedang bereksperimen dengan
benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu dia

62
mengerti, sebagian besar penyihir memang
begitu. Tentu saja Digory juga tidak terlalu
menyadari kenyataan ini, setidaknya tidak hing-
ga nanti. Tapi ketika mereka telah membicara-
kannya, mereka memutuskan mencoba cincin
hijau mereka ke mata air baru hanya untuk
melihat apa yang akan terjadi.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly.
Tapi sebenarnya dia mengatakan ini karena di
hatinya yang paling dalam, dia kini merasa
yakin kedua cincin itu tidak akan berfungsi di
mata air baru, jadi tidak ada yang perlu lebih
ditakutinya selain cipratan air lagi. Aku tidak
terlalu yakin Digory punya perasaan yang sama.
Bagaimanapun, ketika mereka berdua telah me-
makai cincin hijau, kembali ke tepian mata
air, dan bergandengan, mereka kini jauh lebih
ceria dan tidak muram daripada pada kali
pertama.
"Satu—Dua—Tiga—Lompat!" kata Digory.
Dan mereka pun melompat.

63
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
(nurulkariem@yahoo.com)
MR. Collection's
BAB 4

Bel dan Palu

S IHIR kali ini tidak perlu diragukan lagi.


Ke bawah dan terus ke bawah mereka
berkelebat pergi, pertama melalui kegelapan
kemudian melewati kumpulan sosok samar yang
berputar-putar, yang bisa jadi apa saja. Lalu
situasi menjadi lebih terang. Kemudian menda-
dak mereka berdiri di atas sesuatu yang padat.
Sesaat kemudian segalanya jadi lebih fokus dan
mereka mampu melihat ke atas mereka.
"Tempat ini aneh sekali!" kata Digory.
"Aku tidak menyukainya," kata Polly, sambil
agak merinding.
Yang pertama kali mereka sadari adalah
cahaya. Tidak seperti sinar mentari, tapi juga
tidak seperti cahaya listrik, lampu, lilin, atau
sumber cahaya apa pun yang pernah mereka
lihat. Cahayanya samar, agak kemerahan, sama

64
sekali tidak cerah. Cahaya itu terangnya pasti
dan tidak meredup. Mereka sedang berdiri di
permukaan datar berlapis bebatuan dan gedung-
gedung berdiri di sekeliling mereka. Tidak ada
atap di atas mereka, mereka berada di semacam
halaman. Langit gelap secara tidak wajar—
biru yang nyaris hitam. Kalau kau melihat
langit itu kau akan bertanya-tanya apakah
memang benar ada cahaya di sana.
"Cuaca tempat ini aneh sekali ya," kata
Digory. "Atau mungkin kita tiba tepat pada
saat akan datang badai petir, atau gerhana."
"Aku tidak menyukainya," kata Polly.
Keduanya, tanpa tahu pasti kenapa, berbicara
dengan berbisik. Dan walaupun tidak ada
alasan kenapa mereka masih terus bergan-
dengan setelah melompat, mereka tidak saling
melepaskan tangan.
Dinding-dinding gedung menjulang sangat
tinggi di sekeliling halaman. Dinding-dinding
itu juga memiliki banyak jendela, jendela-jendela
tanpa kaca, melaluinya kau tidak bisa melihat
apa pun kecuali kegelapan hitam. Di bagian
bawah dinding ada area-area berpilar besar,
menganga lebar menampilkan lubang hitam
besar seperti mulut terowongan kereta api.
Suasana jadi terasa agak dingin.

65
Batu yang digunakan untuk membangun se-
gala hal sepertinya merah, tapi mungkin itu
hanya karena cahaya misterius yang menerangi
tempat tersebut. Yang pasti rasanya aneh sekali.
Banyak di antara bebatuan datar yang melapisi
permukaan halaman, retak hingga terbelah. Ti-
dak satu pun menempel rapat satu sama lain
dan sudut-sudut tajamnya telah cacat semua.
Salah satu pintu yang diapit area setengahnya
tertutupi reruntuhan. Kedua anak itu terus-
menerus membalikkan tubuh untuk melihat ke
sudut-sudut berbeda di halaman. Salah satu
alasannya adalah karena mereka khawatir sese-
orang—atau sesuatu—sedang mengawasi mereka
dari jendela-jendela ketika mereka menghadap
ke depan.
"Menurutmu ada yang tinggal di sini, tidak?"
tanya Digory akhirnya, masih dengan berbisik.
"Tidak," jawab Polly. "Semua ini hanya
reruntuhan. Kita belum mendengar suara apa
pun sejak datang ke sini."
"Ayo kita coba berdiri diam sebentar dan
menajamkan pendengaran," saran Digory.
Mereka berdiri diam dan mendengarkan, tapi
satu-satunya yang mereka dengar hanyalah de-
takan jantung mereka sendiri. Tempat ini se-
tidaknya sesunyi Hutan di Antara Dunia-dunia.

66
Tapi sepinya berbeda. Kesunyian di hutan terasa
kaya, hangat (kau nyaris bisa mendengar pe-
pohonan bertumbuh), dan penuh kehidupan.
Kali ini yang terasa kesunyian yang mati, di-
ngin, dan hampa. Kau tidak bisa membayang-
kan apa pun tumbuh di tempat ini.

67
"Ayo pulang," kata Polly.
"Tapi kita belum melihat apa pun," kata
Digory. "Berhubung kita sudah sampai di sini,
setidaknya kita harus melihat-lihat."
"Aku yakin sama sekali tidak ada yang
menarik di sini."
"Tidak ada gunanya menemukan cincin ajaib
yang bisa membawamu ke dunia lain kalau
kau takut menjelajahi dunia-dunia itii begitu
sudah sampai di sana."
"Siapa yang bilang aku takut?" kata Polly,
melepaskan tangan Digory.
"Aku hanya mengira kau tampak kurang
berminat menjelajahi tempat ini."
"Aku akan pergi ke mana pun kau mau
pergi."
"Kita bisa pergi dari sini kapan pun kita
mau," kata Digory. "Ayo kita lepas cincin
hijau kita dan menyimpannya di saku kanan.
Yang perlu kita lakukan hanyalah mengingat
bahwa cincin kuning kita ada di saku kiri.
Kau bisa meletakkan tangan sedekat yang kau-
inginkan dengan saku-saku itu, tapi jangan
kaumasukkan tanganmu ke saku karena kau
bisa saja menyentuhnya dan lenyap."
Mereka melakukan itu dan berjalan tanpa
suara menuju salah satu gerbang lengkung besar

68
yang membawa mereka ke dalam salah satu
gedung. Lalu ketika berdiri di depan pintu
dan bisa melihat ke dalam, mereka melihat
bagian dalam gedung itu tidaklah terlalu gelap
seperti dugaan awal mereka. Pintu itu mem-
perlihatkan ruang depan berbayang-bayang yang
tampaknya kosong, tapi di sisi ruang depan
yang lebih jauh tampak sederetan pilar dengan
lengkungan di bagian atas tiap dua pilar. Di
balik lengkungan tersebut mengalir lebih banyak
cahaya temaram aneh yang sama. Mereka me-
nyeberangi ruang depan tersebut, berjalan de-
ngan sangat hati-hati karena khawatir ada
lubang-lubang di lantai atau apa pun yang
mungkin tergeletak di sana yang bisa membuat
mereka tersandung. Perjalanan itu rasanya lama
sekali. Ketika mencapai sisi lain ruang itu,
mereka melewati pilar-pilar dan mendapati diri
mereka berada di halaman lain yang lebih
luas.
"Sepertinya tempat itu tidak terlalu aman,"
kata Polly sambil menunjuk ke suatu tempat
di mana dindingnya condong ke depan dan
tampak siap runtuh ke halaman. Di satu tempat
ada pilar yang hilang di antara dua lengkungan
dan bagian yang seharusnya berada di bagian
atas pilar, hanya bergantung di sana tanpa

69
disangga apa pun. Tampak jelas, kota itu telah
diterlantarkan selama ratusan, bahkan mungkin
ribuan, tahun.
"Kalau tempat ini bertahan hingga saat ini,
kurasa akan bisa bertahan lebih lama lagi,"
kata Digory. "Tapi kita harus benar-benar ber-
gerak tanpa suara. Kau tahu bukan terkadang
suara pelan sekalipun bisa membuat segalanya
runtuh—seperti salju longsor di Pegunungan
Alpen."
Mereka keluar dari halaman itu menuju ger-
bang lain, menaiki tangga besar nan tinggi,
dan melalui ruang-ruang luas yang terbuka
menuju ruang-ruang lain sampai kau merasa
pusing hanya karena ukuran tempat itu. Se-
sekali mereka mengira bakal keluar ke tempat
terbuka dan melihat dataran macam apa yang
mengelilingi istana besar itu. Tapi setiap kali
berjalan, mereka hanya mencapai halaman lain.
Istana ini pastinya merupakan tempat yang
luar biasa saat penduduknya masih tinggal di
sini. Di salah satu sisi ada patung yang dulu
adalah air mancur. Monster batu besar dengan
sayap terentang lebar berdiri dengan mulut
terbuka dan kau bisa melihat pipa kecil di
bagian belakang mulutnya, dari sanalah dulu
air keluar. Di bawah patung itu ada mangkuk

70
batu lebar untuk menadahi airnya, tapi kini
mangkuk itu kering bagaikan padang pasir.
Di tempat-tempat lain ada batang-batang
kering sejenis tanaman rambat yang telah tum-
buh mengelilingi pilar-pilar dan membuat se-
bagian pilar tersebut runtuh. Tapi tanaman itu

71
sudah lama mati. Dan tidak ada semut, labah-
labah, atau makhluk hidup lain yang kaupikir
bisa kautemui di antara reruntuhan. Tanah
kering yang terdapat di antara batu lantai-
batu lantai pun tidak ditumbuhi rumput atau
lumut.
Keadaan di tempat itu begitu mati di seluruh
sudutnya hingga bahkan Digory pun mulai
berpikir sebaiknya mereka segera mengenakan
cincin kuning dan kembali ke hutan hidup
yang hangat dan hijau di tempat antara. Pada
saat itulah mereka menemukan dua daun pintu
raksasa yang terbuat dari sejenis logam yang
mungkin saja emas. Salah satu daun pintu itu
sedikit terbuka. Jadi tentu saja mereka masuk
untuk melihat ke dalam. Keduanya terkejut
dan menarik napas panjang: karena di sinilah
akhirnya ada sesuatu yang pantas dilihat.
Selama beberapa saat mereka berpikir
ruangan tersebut dipenuhi orang—ratusan
orang, semuanya sedang duduk, dan semuanya
bergeming. Polly dan Digory juga, seperti yang
bisa kautebak, berdiri tanpa bergerak cukup
lama karena melihat pemandangan di depan
mereka. Tapi akhirnya mereka memutuskan
yang sedang mereka pandangi tidaklah mungkin
orang sungguhan. Tidak ada gerakan maupun

72
suara embusan napas di antara mereka semua.
Orang-orang itu seperti patung lilin terhebat
yang pernah kaulihat.
Kali ini Polly yang berjalan duluan. Ada
sesuatu di ruangan ini yang menarik rasa ingin
tahunya dibanding rasa ingin tahu Digory:
semua sosok di sana mengenakan pakaian yang
menakjubkan. Kalau kau sedikit saja tertarik
pada pakaian, kau tidak akan tahan untuk
tidak melihat lebih dekat. Berkas-berkas warna
pada pakaian-pakaian ini pun membuat
ruangan itu tampak, meski tidak bisa dibilang
ceria, begitu kaya dan anggun setelah semua
debu dan kekosongan di tempat lain. Ruangan
itu juga memiliki lebih banyak jendela dan
jauh lebih terang.
Aku nyaris tidak bisa melukiskan pakaian-
pakaian mereka. Sosok-sosok itu semuanya ber-
jubah dan mengenakan mahkota di kepala
mereka. Jubah-jubah mereka berwarna merah
tua, abu-abu keperakan, ungu tua, dan hijau
gelap. Tampak pola-pola hias, juga gambar
bunga, hewan liar ajaib, disulam di permukaan
jubah-jubah tersebut. Batu-batu berharga dalam
ukuran dan kilau menakjubkan menatap dari
mahkota-mahkota mereka, juga dari kalung-
kalung yang menggantung di sekeliling leher

73
mereka, mengintip dari segala tempat semuanya
terpasang.
"Kenapa semua pakaian itu tidak lapuk sejak
zaman dulu?" tanya Polly.
"Sihir," bisik Digory. "Tidakkah kau bisa
merasakannya? Aku berani bertaruh seluruh
ruangan ini beku karena mantra sihir. Aku
bisa merasakannya sejak detik pertama kita
masuk."
"Satu saja pakaian ini bisa berharga ratusan
pound" komentar Polly.
Tapi Digory lebih tertarik pada wajah-wajah
mereka, dan memang semua wajah itu pantas
dipandangi. Orang-orang itu duduk di kursi
batu mereka di masing-masing sisi ruangan,
bagian tengahnya dibiarkan kosong. Kau bisa
berjalan dan memandangi wajah-wajah itu ber-
giliran.

74
"Mereka orang-orang baik, menurutku,"
ucap Digory.
Polly mengangguk. Semua wajah yang bisa
mereka lihat memang tampak baik. Baik para
pria maupun wanitanya tampak ramah dan
bijaksana, dan mereka tampaknya berasal dari
keturunan berwajah tampan. Tapi setelah anak-
anak itu berjalan beberapa langkah lebih jauh
di ruangan tersebut, mereka sampai pada
wajah-wajah yang tampak agak berbeda.
Wajah-wajah di sini begitu serius. Kau akan
merasa perlu memerhatikan etiket dan sopan
santun bila bertemu orang-orang seperti itu
dalam kehidupanmu. Ketika Polly dan Digory
berjalan lebih jauh lagi, mereka mendapati diri
mereka berada di antara wajah-wajah yang
tidak mereka sukai: ini terjadi kira-kira di
tengah ruangan. Wajah-wajah itu tampak begitu
kuat, bangga, dan bahagia, tapi mereka tampak
kejam. Dan saat mereka lebih jauh berjalan,
wajah-wajah di sana tampak lebih kejam. Lebih
jauh lagi, mereka masih tampak kejam tapi
tidak lagi tampak bahagia. Wajah-wajah itu
bahkan tampak penuh keputusasaan: seolah
pemilik-pemiliknya telah melakukan hal-hal bu-
ruk dan menderita karena hal-hal buruk. Sosok
terakhir dari deretan orang itu adalah yang

75
paling menarik—wanita yang pakaiannya lebih
mewah daripada yang lainnya, sangat tinggi
(tapi semua sosok dalam ruangan itu memang
lebih tinggi daripada orang-orang di dunia
kita), dengan ekspresi wajah yang begitu keras
dan penuh kebanggaan sehingga kau akan
menahan napas bila melihatnya. Namun wanita
itu juga cantik. Bertahun-tahun kemudian, saat
telah menjadi pria tua, Digory berkata dia
belum pernah melihat orang secantik wanita
itu selama hidupnya. Tapi wajar juga bila
ditambahkan bahwa Polly berkata dia tidak
melihat apa pun yang spesial pada wanita itu.
Wanita ini, seperti yang kukatakan tadi, ada-
lah sosok terakhir, tapi ada banyak kursi ko-
song setelahnya, seolah ruangan itu telah di-
maksudkan untuk lebih banyak lagi koleksi
sosok.
"Aku ingin sekali tahu cerita di balik semua
ini," kata Digory. "Ayo kembali dan melihat
meja di tengah ruangan ini."
Benda yang berada di tengah ruangan itu
sebenarnya bukanlah meja. Benda itu pilar
kotak setinggi kira-kira semeter lebih dan di
atasnya berdiri arca emas yang digantungi bel
emas kecil. Di samping pilar itu tergeletak
palu emas kecil untuk membunyikan belnya.

76
"Kira-kira apa ya... Hmmm... Apa ya...,"
kata Digory.
"Sepertinya ada sesuatu yang tertulis di sini,"
kata Polly, menundukkan badan dan meman-
dangi salah satu pilar tersebut.
"Ya ampun, ternyata memang ada," ucap
Digory. "Tapi tentu saja kita tidak akan bisa
membacanya."
"Benarkah begitu? Aku tidak yakin," kata
Polly.
Mereka berdua memandangi tulisan itu lekat-
lekat, seperti yang mungkin sudah kauduga,
huruf-huruf yang dipahat ke batu pilar itu
memang aneh. Tapi kini terjadi keajaiban besar:
karena saat mereka memandanginya, walaupun
bentuk huruf-huruf aneh itu tidak berubah,
mereka mendapati diri mereka bisa memahami
semuanya. Kalau saja Digory ingat kata-katanya
sendiri beberapa saat lalu, bahwa ini ruangan
yang tersihir, mungkin dia bakal bisa menebak
sihirnya mulai bekerja. Tapi rasa penasaran
terlalu menguasai dirinya, sehingga dia tidak
bisa memikirkan itu. Dia semakin ingin tahu
apa yang tertulis di pilar tersebut. Dan tak
lama kemudian mereka berdua pun tahu. Yang
tertulis adalah sesuatu yang kira-kira begini
bunyinya—setidaknya inilah yang bisa dicerna

77
walaupun puisi itu sendiri, ketika kau mem-
bacanya di sana, lebih bagus:

Tentukan pilihan, wahai petualang asing,


Bunyikan bel, dan hadapi bahaya genting,
Atau teruslah penasaran, hingga lenyap kewarasan,
Akan apa yang bakal terjadi
bila saja kaulakukan.

"Apa ini?" seru Polly. "Kita kan tidak mau


mendapatkan bahaya apa pun."
"Ah, tapi tidakkah kau sadar tidak ada
pilihan lain?" tanya Digory. "Tidak mungkin
kita bisa menghindar sekarang. Kita bakal se-
lalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau
saja kita membunyikan bel ini. Aku tidak mau
pulang lalu penasaran setengah mati karena
selalu mengingatnya. Tidak perlu takut!"
"Jangan konyol begitu," kata Polly. "Me-
mangnya bakal ada orang yang mati karena
penasaran? Siapa yang peduli apa yang bakal
terjadi?"
"Menurutku semua orang yang sudah pergi
sejauh ini bakal terus bertanya-tanya sampai
membuatnya tidak waras. Itulah Sihir yang
menguasai tempat ini. Aku bahkan bisa merasa-
kannya mulai bekerja pada diriku."

78
"Yah, kalau aku tidak," kata Polly ketus.
"Dan aku tidak percaya kau merasakannya.
Kau hanya mengarang."
"Karena memang hanya itu yang kau-
ketahui," kata Digory. "Soalnya kau perem-
puan. Perempuan tidak pernah mau tahu apa
pun kecuali gosip dan meributkan orang-orang
yang bertunangan."
"Kau benar-benar mirip pamanmu waktu
berkata begitu, tahu," kata Polly.
"Kenapa kau mengubah topik pembicaraan?"
kata Digory. "Kita kan sedang membicara-
kan—"
"Benar-benar seperti pria dewasa!" kata Polly
dengan suara yang begitu dewasa, tapi dia
buru-buru menambahkan, dengan suara biasa-
nya, "Dan jangan bilang aku juga bersikap
seperti wanita, karena dengan begitu kau hanya
peniru yang payah."
"Aku bahkan tidak pernah bermimpi rae-
manggil anak kecil sepertimu wanita," kata
Digory angkuh.
"Oh, jadi aku anak kecil, ya?" tanya Polly,
yang kini benar-benar marah. "Yah, kalau
begitu kau tidak perlu direpotkan dengan ke-
hadiran anak kecil lagi. Aku akan pergi. Aku
sudah muak dengan tempat ini. Dan aku juga

79
sudah muak padamu—dasar payah, sombong,
keras kepala!"
"Jangan lakukan itu!" kata Digory dengan
suara yang lebih galak daripada yang dimak-
sudkannya, karena dia melihat tangan Polly
bergerak ke saku untuk mengambil cincin ku-
ningnya. Aku tidak bisa memaklumi apa yang
selanjutnya dia lakukan kecuali dengan me-
ngatakan Digory sangat menyesalinya di kemu-
dian hari (begitu juga begitu banyak orang
baik lainnya). Sebelum tangan Polly sampai di
sakunya, Digory mencengkeram pergelangan ta-
ngan Polly, menahan tubuh Polly dengan pung-
gungnya. Lalu, sambil menghalangi lengan Polly
yang satu lagi dengan siku lainnya, Digory
membungkuk ke depan, meraih palu, dan mem-
bunyikan bel emas itu dengan pukulan pelan
tapi pasti. Kemudian dia melepaskan Polly dan
mereka berdua terjatuh sambil saling menatap
dan terengah-engah keras. Polly mulai me-
nangis, bukan karena ketakutan, dan bahkan
bukan karena Digory telah menyakiti perge-
langan tangannya, tapi karena marah luar biasa.
Namun dua detik kemudian, ada sesuatu yang
menyita pikiran mereka sehingga pertengkaran
itu pun terlupakan.
Begitu dipukul bel itu mengeluarkan nada,

80
nada indah seperti yang mungkin sudah kau-
duga, tidak terlalu keras pula. Tapi bukannya
menghilang ditelan angin, nada itu terus ter-
dengar, dan ketika itu terjadi bunyinya kian
mengeras. Sebelum semenit berlalu, bunyinya
kini telah menjadi dua kali lebih keras daripada
ketika kali pertama bersuara. Tak lama kemu-
dian suaranya kian mengeras sehingga jika
kedua anak itu berusaha berbicara (tapi mereka
tidak berniat berbicara saat ini—mereka hanya
berdiri di sana dengan mulut ternganga) mereka
tidak bakal bisa mendengar satu pun ucapan
mereka. Beberapa saat kemudian bunyinya su-
dah menjadi begitu keras sehingga mereka tidak
bakal bisa mendengar satu sama lain bahkan
kalaupun mereka berteriak. Dan suaranya terus
saja mengeras: semua dalam satu nada, suara
indah yang tak berakhir, walaupun ada se-
sesuatu yang mengerikan dalam keindahan itu,
hingga semua udara dalam ruangan besar itu
seolah berdenyut karenanya dan mereka bisa
merasakan lantai batu di kaki mereka bergetar.
Kemudian akhirnya suara bel itu mulai ber-
campur dengan bunyi lain, suara samar me-
ngerikan yang awalnya terdengar seperti ge-
raman kereta yang datang dari kejauhan, kemu-
dian seperti gebrakan pohon tumbang. Mereka

81
mendengar sesuatu seperti benda-benda berat
berjatuhan. Akhirnya, bersamaan dengan gemu-
ruh yang mendadak, dan guncangan yang nya-
ris membuat mereka terbang di udara, sekitar
seperempat langit-langit di salah satu ujung
ruangan mulai runtuh, bongkahan-bongkahan
batu besar berjatuhan di sekitar mereka, dan
dinding-dinding rontok. Suara bel berhenti.
Awan debu menipis dan akhirnya menghilang.
Segalanya menjadi sunyi kembali.
Tidak pernah diketahui apakah runtuhnya
langit-langit itu disebabkan Sihir, ataukah ka-
rena suara keras tak tertahankan dari bel itu
kebetulan mencapai not yang memecah perta-
hanan dinding-dinding rapuh itu.
"Nah! Kuharap kau puas sekarang," bentak
Polly.
"Yah, toh sekarang sudah berakhir," kata
Digory.
Keduanya punya pikiran yang sama, namun
belum pernah dalam seumur hidup mereka,
mereka begitu keliru.

82
BAB 5

Kata Kemalangan

K EDUA anak itu berdiri berhadapan di


seberang pilar tempat bel tadi tergantung.
Benda itu masih bergetar walau tidak lagi
mengeluarkan suara apa pun. Mendadak me-
reka mendengar suara pelan dari ujung ruangan
yang masih tidak rusak. Mereka menoleh se-
cepat kilat untuk melihat suara apakah itu.
Salah satu sosok berjubah—sosok yang duduk
paling jauh, wanita yang menurut Digory cantik
sekali—berdiri dari kursinya. Ketika dia berdiri,
mereka menyadari wanita itu lebih tinggi dari-
pada dugaan mereka. Dan kau bakal bisa
langsung melihat, bukan hanya dari mahkota
dan jubahnya, tapi dari kilatan mata juga
lekuk bibirnya, wanita ini ratu agung. Dia
melihat ke sekeliling ruangan dan kerusakan
yang terjadi di sana, lalu memandang kedua

83
anak itu, tapi kau tidak bakal bisa menebak
dari ekspresi wajahnya apa yang sedang dia
pikirkan, apakah dia sedang terkejut atau tidak.
Dia berjalan ke depan dengan langkah-langkah
panjang dan cepat.
"Siapa yang telah membangunkanku? Siapa
yang telah mematahkan mantra?"
"Kurasa akulah orangnya," kata Digory.
"Kau!" kata sang ratu, meletakkan tangannya
di bahu Digory—tangannya putih dan indah,
tapi Digory bisa merasakan tangan itu juga
sekuat penjepit besi. "Kau? Tapi kau hanyalah
anak-anak, anak biasa. Hanya dengan pan-

84
dangan sekilas, siapa pun bisa langsung tahu
kau tidak memiliki setetes pun darah bang-
sawan atau kemuliaan di nadimu. Kenapa anak
sepertimu berani memasuki rumah ini?"
"Kami datang dari dunia lain, dengan Sihir,"
kata Polly, yang berpikir sudah saatnya sang
ratu menyadari kehadirannya seperti dia menya-
dari keberadaan Digory.
"Apakah ini benar?" tanya sang ratu, masih
memandangi Digory dan tidak melihat bahkan
sekilas pun ke Polly.
"Ya, itu benar," jawab Digory.
Sang ratu meletakkan tangannya yang lain
di bawah dagu Digory dan mengangkatnya
supaya bisa lebih jelas melihat wajah anak
lelaki itu. Digory berusaha balas menatap, tapi
tak lama kemudian dia harus menurunkan
pandangannya. Ada sesuatu dalam mata sang
ratu yang menguasainya. Setelah sang ratu
memerhatikan wajah Digory selama lebih dari
semenit, dia melepaskan dagu Digory dan ber-
kata:
"Kau bukan penyihir. Tiada tanda penyihir
pada dirimu. Kau pasti hanya pelayan penyihir.
Karena Sihir lainlah kau bisa sampai di sini."
"Aku ada di sini karena pamanku, Paman
Andrew," kata Digory.

85
Tepat pada saat itu—bukan di ruangan tem-
pat mereka berada, tapi di suatu tempat yang
sangat dekat dari sana—terdengarlah suara run-
tuh pertama, kemudian suara sesuatu retak,
lalu gemuruh bebatuan rubuh, dan lantai pun
bergetar.
"Terlalu berbahaya berada di sini," kata
sang ratu. "Seluruh tempat ini akan hancur.
Kalau kita tidak keluar dari sini sekarang,
dalam hitungan menit kita akan terkubur di
dalam reruntuhannya." Dia berbicara dengan
tenang seolah hanya sedang memberitahu jam
berapa sekarang. "Ayo," dia menambahkan
kemudian menjulurkan kedua tangannya ke
Digory dan Polly. Polly, yang tidak menyukai
sang ratu dan merasa agak merajuk, tidak
akan membiarkan tangannya diraih kalau saja
dia punya pilihan lain. Tapi walaupun sang
ratu berbicara dengan nada yang tenang, ge-
rakannya secepat pikiran. Sebelum Polly menya-
dari apa yang sedang terjadi, tangan kirinya
telah ditangkap tangan yang jauh lebih besar
dan kuat daripada miliknya sehingga dia tidak
bisa melakukan apa-apa.
Wanita ini mengerikan sekali, pikir Polly.
Dia cukup kuat untuk mematahkan lenganku
hanya dengan satu puntiran. Dan sekarang

86
karena dia mencengkeram tangan kiriku, aku
tidak bisa mengambil cincin kuning. Kalau
aku berusaha menjulurkan tangan kananku ke
saku kiriku, aku mungkin bakal bisa meraihnya
sebelum dia menanyakan apa yang sedang ku-
lakukan. Apa pun yang terjadi kami tidak
boleh membiarkan dia tahu soal cincin-cincin
ini. Kuharap Digory masih berakal sehat dan
mampu menutup mulut. Kalau saja aku bisa
berbicara hanya berdua dengannya.
Sang ratu membimbing mereka keluar dari
Aula Sosok menuju koridor panjang kemudian
melalui labirin aula-aula lain, tangga-tangga,
dan lapangan. Lagi-lagi mereka mendengar
suatu bagian istana besar itu runtuh, terkadang
cukup dekat dengan mereka. Pernah sekali,
area besar roboh bersamaan bunyi keras hanya
beberapa saat setelah mereka berjalan melalui-
nya. Sang ratu berjalan cepat—kedua anak itu
harus berlari kecil supaya bisa menyamai lang-
kahnya—tapi dia tidak menunjukkan tanda-
tanda ketakutan. Digory berpikir, dia berani
sekali. Juga kuat. Ini dia yang namanya ratu!
Mudah-mudahan dia mau menceritakan kisah
rempat ini.
Sang ratu memang memberitahu mereka be-
berapa hal saat mereka berjalan:

87
88
"Itu pintu menuju penjara bawah tanah,"
dia akan berkata, atau "Jalan itu menuju
ruang-ruang utama penyiksaan", atau "Di sini
dulu aula jamuan pesta tempat kakek buyutku
menjamu tujuh ratus bangsawan untuk berpesta
pora kemudian membunuh mereka semua se-
belum mereka menghabiskan minuman mereka.
Mereka memiliki pikiran-pikiran memberontak."
Akhirnya mereka sampai ke suatu aula yang
lebih besar dan lengang daripada yang pernah
mereka lihat sebelumnya. Dari ukuran dan
bentuk pintu-pintu besar di ujung jauhnya,
Digory berpikir akhirnya mereka telah sampai
di pintu masuk utama. Dalam kasus ini dia
benar. Pintu-pintu itu berwarna hitam kelam,
mungkin terbuat dari kayu ebony atau semacam
logam hitam yang tidak ditemukan di dunia
kita. Pintu-pintu tersebut dipasung dengan
palang-palang besar, yang sebagian besarnya
terlalu tinggi untuk diraih dan terlalu berat
untuk diangkat. Digory bertanya-tanya bagai-
mana caranya mereka akan keluar.
Sang ratu melepaskan pegangannya dan
mengangkat lengan. Dia menegakkan badan
dan berdiri bergeming. Kemudian dia mengata-
kan sesuatu yang tidak bisa dimengerti kedua
anak itu (yang pasti kedengarannya mengerikan)

89
dan bergerak seolah melemparkan sesuatu ke
pintu-pintu itu. Lalu kedua daun pintu yang
tinggi dan berat itu bergetar beberapa detik
seolah keduanya terbuat dari sutra, kemudian
luluh lantak hingga tidak tersisa apa pun ke-
cuali tumpukan debu di ambang pintu.
"Fiuh!" siul Digory.
"Apakah majikan penyihirmu, pamanmu, pu-
nya kekuatan sepertiku?" tanya sang ratu, dia
mencengkeram keras tangan Digory lagi. "Tapi

90
aku akan tahu sendiri nanti. Sementara itu,
ingatlah apa yang telah kaulihat. Inilah yang
terjadi pada benda-benda, juga orang-orang,
yang menghalangi kehendakku."
Cahaya yang jauh lebih terang daripada yang
telah kedua anak itu lihat di negeri ini kini
meruah melalui lubang pintu yang terbuka
lebar, lalu ketika sang ratu membimbing mereka
melewatinya mereka tidak terkejut ketika men-
dapati diri mereka berada di udara terbuka.
Angin yang menerpa wajah mereka terasa di-
ngin, tapi entah kenapa lembap dan tidak
segar. Mereka kini berada di teras tinggi, di
bawah mereka terbentang daratan luas.
Rendah di bawah dan di dekat horison,
bergantung matahari merah besar, lebih besar
daripada matahari kita. Digory langsung merasa
matahari itu juga berusia lebih tua daripada
matahari kita: matahari yang mendekati ajal,
lelah menatap dunia di bawahnya. Di sebelah
kiri matahari itu, lebih tinggi di atas, tampak
sebuah bintang, besar dan bersinar terang.
Hanya dua benda itu yang terlihat di langit
kelam, keduanya membentuk kelompok muram.
Dan di bumi, di setiap arah, sejauh mata bisa
memandang, terbentang kota luas tempat tidak
terlihat satu pun makhluk hidup di dalamnya.

91
Dan semua kuil, menara, istana, piramid, juga
jembatan menciptakan bayangan-bayangan pan-
jang yang tampak mengancam di bawah sinar
matahari yang melemah itu. Sebuah sungai
besar pernah mengalir menembus kota tersebut,
tapi airnya telah lama mengering, dan kini
yang tersisa tinggal selokan lebar abu-abu ber-
debu.
"Pandanglah baik-baik pemandangan yang
tidak akan pernah dilihat mata mana pun
lagi," kata sang ratu. "Begitulah Charn, kota
menakjubkan, kota Raja di antara para Raja,
keajaiban dunia, mungkin keajaiban semua du-
nia. Apakah pamanmu memerintah kota se-
hebat ini, Nak?"
"Tidak," kata Digory. Dia baru berniat men-
jelaskan Paman Andrew tidaklah memerintah
kota apa pun, tapi sang ratu sudah melanjutkan:
"Kota ini sunyi sekarang. Tapi aku telah
berdiri di sini ketika seluruh udara dipenuhi
suara Charn. Entakan langkah kaki, derak
roda, lecutan pecut, dan erangan para budak,
gemuruh kereta kuda, dan gendang-gendang
pengorbanan ditabuh di kuil-kuil. Aku telah
berdiri di sini (tapi saat itu akhir sudah begitu
dekat) ketika pekikan perang terdengar dari
setiap jalan dan air yang mengalir di Sungai

92
Charn berwarna merah." Dia berhenti sejenak
lalu menambahkan, "Dalam satu detik, semua
itu telah dihapus oleh seorang wanita untuk
selama-lamanya."
"Siapa?" tanya Digory dengan suara pelan,
tapi dia telah menebak jawabannya.
"Aku," jawab sang ratu. "Aku, Jadis si ratu
terakhir, juga ratu seluruh dunia."
Kedua anak itu berdiri dalam diam, tubuh
mereka gemetar dalam angin dingin.
"Semua karena salah saudariku," kata sang
ratu. "Dia yang membuatku melakukan itu.
Semoga kutukan segala Kekuatan mengikatnya
selamanya! Aku sudah siap berdamai kapan
saja—ya, juga untuk mengampuni jiwanya, ka-
lau saja dia membiarkan takhta menjadi milik-
ku. Tapi tidak. Keangkuhannya telah meng-
hancurkan seluruh dunia. Bahkan setelah perang
dimulai, ada perjanjian sah bahwa tidak ada
pihak yang boleh menggunakan Sihir. Tapi
ketika dia melanggar janjinya itu, apa lagi
yang bisa kulakukan? Bodoh! Seolah dia tidak
tahu aku punya lebih banyak Sihir daripada
dirinya! Dia bahkan tahu aku memiliki rahasia
Kata Kemalangan. Apakah dia pikir—tapi dia
memang selalu jadi yang terlemah di antara
kami—aku tidak akan menggunakannya?"

93
"Apa itu?" tanya Digory.
"Rahasia di antara semua rahasia," kata
Ratu Jadis. "Telah lama menjadi pengetahuan
semua raja besar ras kami bahwa ada kata
yang, kalau diucapkan dengan upacara layak,
bisa menghancurkan seluruh makhluk hidup
kecuali orang yang mengucapkannya. Tapi para
raja zaman dahulu lemah dan berhati lembek.
Mereka mengikat diri mereka sendiri dan semua
orang yang mendatangi mereka, dengan sumpah
besar untuk tidak akan pernah bahkan ber-
usaha mencari pengetahuan tentang kata itu.
Tapi aku telah mempelajarinya di tempat ra-
hasia dan membayar harga mahal untuk mem-
pelajarinya. Aku tidak menggunakannya hing-
ga saudaraiku memaksaku. Aku bertempur un-
tuk mengatasinya dengan berbagai cara lain.
Aku menumpahkan darah pasukanku seperti
air—"
"Monster!" gumam Polly.
"Pertempuran besar terakhir," kata sang ratu,
"pecah selama tiga hari di Charn ini. Selama
tiga hari aku memandang ke bawah, menga-
wasinya dari tempat ini. Aku tidak mengguna-
kan kekuatanku hingga prajurit terakhirku ter-
jatuh, lalu wanita terkutuk itu, saudariku, ber-
jalan di depan para pemberontaknya dan sudah

94
setengah jalan menaiki tangga-tangga besar
yang menghubungkan kota dengan teras ini.
Kemudian aku menunggu hingga kami begitu
dekat supaya kami bisa menatap wajah satu
sama lain. Dia membinarkan mata kejamnya
yang mengerikan saat memandangku dan ber-
kata, 'Kemenangan.' 'Ya,' aku berkata, 'Keme-
nangan, tapi bukan kemenanganmu.' Kemudian
aku mengucapkan Kata Kemalangan. Sedetik
kemudian aku adalah makhluk hidup terakhir
di bawah matahari."
"Tapi bagaimana dengan orang-orang lain?"
Digory terperangah.
"Orang-orang lain apa, Nak?" tanya sang
ratu.
"Semua rakyat biasa," kata Polly, "orang-
orang yang tidak pernah melukaimu. Dan se-
mua wanita, anak-anak, juga hewan-hewan."
"Tidakkah kau mengerti?" tanya sang ratu
(masih berbicara pada Digory). "Aku adalah
ratu. Mereka semua rakyatku. Untuk apa lagi
mereka ada kalau bukan untuk melaksanakan
kemauanku?"
"Tetap saja malang benar nasib mereka,"
kata Digory.
"Aku lupa kau hanyalah anak biasa. Bagai-
mana mungkin kau mengerti logika sebuah

95
Negeri? Kau harus belajar, Nak, bahwa apa
yang mungkin salah bagimu dan rakyat biasa
lainnya tidaklah salah bagi ratu besar seperti
diriku. Beban dunia berada di bahu kami.
Kami harus dibebaskan dari segala peraturan.
Jalan nasib kami tinggi dan sepi."
Digory mendadak teringat Paman Andrew
pernah menggunakan kata-kata yang persis
sama. Tapi kata-kata itu terdengar lebih anggun
ketika Ratu Jadis yang mengucapkannya, mung-
kin karena Paman Andrew tidaklah setinggi
210 sentimeter dan cantik memesona.
"Kemudian apa yang kaulakukan setelah-
nya?" kata Digory.
"Aku telah memasang mantra-mantra kuat
di aula tempat patung-patung leluhurku duduk.
Dan kekuatan mantra-mantra itu akan mem-
buatku tertidur bersama mereka, juga seperti
patung dan tidak membutuhkan makanan mau-
pun api, walaupun untuk ribuan tahun lama-
nya, sampai seseorang datang, memukul bel,
dan membangunkanku."
"Apakah Kata Kemalangan yang menjadikan
matahari begitu?" tanya Digory.
"Seperti apa?" kata Jadis.
"Begitu besar, begitu merah, dan begitu di-
ngin."

96
"Sejak dulu selalu begitu," kata Jadis. "Se-
tidaknya, selama ratusan ribu tahun. Apakah
duniamu memiliki jenis matahari yang ber-
beda?"
"Ya, matahari kami lebih kecil dan kuning.
Juga memberi lebih banyak panas."
Sang ratu mengeluarkan suara panjang. "A-a-
ah!" Dan di wajahnya Digory melihat ekspresi
lapar dan serakah yang sama dengan yang
pernah dilihatnya pada wajah Paman Andrew.
"Jadi," katanya, "duniamu dunia yang lebih
muda."
Dia berhenti sejenak untuk melihat sekali
lagi kota terlantar itu—kalaupun dia merasakan
penyesalan atas segala kejahatan yang telah
dilakukannya di sana, dia tidak menunjukkan-
nya sama sekali—kemudian berkata:
"Nah, ayo kita berangkat. Dingin di sini di
akhir segala zaman."
"Berangkat ke mana?" tanya kedua anak
itu.
"Ke mana?" ulang Jadis terkejut. "Tentu
saja ke duniamu."
Polly dan Digory bersitatap, terpaku ke-
takutan. Sejak awal Polly sudah tidak menyukai
sang ratu, dan bahkan Digory, kini setelah dia
mendengar ceritanya, merasa telah cukup men-

97
dengar tentang wanita itu. Jelas sekali, dia
bukanlah sejenis orang yang ingin kita ajak
pulang. Dan kalaupun mereka menyukainya,
mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka
sendiri ingin pergi dari sana, tapi Polly tidak
bisa meraih cincinnya dan tentu saja Digory
tidak bisa pergi tanpanya. Wajah Digory men-
jadi merah sekali dan dia berkata dengan ter-
bata-bata.
"Oh—oh—dunia kami. Aku ti-tidak rae-
nyangka kau mau pergi ke sana."
"Untuk apa lagi kau dikirim ke sini kalau
bukan untuk menjemputku?" tanya Jadis.
"Aku yakin kau tidak akan menyukai dunia
kami sama sekali," kata Digory. "Bukan tempat
yang pantas untukmu, ya kan, Polly? Mem-
bosankan sekali di sana, benar-benar tidak
pantas untuk dilihat."
"Tak lama lagi pasti akan jadi pantas dilihat
begitu aku memerintahnya," jawab sang ratu.
"Oh, tapi kau tidak bisa melakukan itu,"
kata Digory. "Keadaannya berbeda. Mereka
tidak akan membiarkanmu."
Di wajah sang ratu terkembang senyum me-
remehkan. "Banyak raja hebat," katanya, "ber-
pikir mereka bisa bertahan melawan Kerajaan
Charn. Tapi mereka semua terjatuh dan nama

98
mereka dilupakan. Bocah bodoh! Apakah kau-
pikir aku, dengan kecantikan dan Sihir-ku,
tidak akan memiliki seluruh duniamu di bawah
kakiku sebelum satu tahun berlalu? Siapkan
mantramu dan segera bawa aku ke sana."
"Ini mengerikan sekali," kata Digory ke
Polly.
"Mungkin kau mengkhawatirkan pamanmu,"
kata Jadis. "Tapi kalau dia menghormatiku
dengan tulus, dia diperkenankan menyimpan
nyawa dan takhtanya. Aku tidak datang untuk
berperang melawannya. Dia pasti penyihir besar
karena telah menemukan cara mengirimmu ke
sini. Apakah dia raja seluruh duniamu atau
hanya sebagian?"
"Dia bukan raja daerah mana pun," jawab
Digory.
"Kau berbohong," kata sang ratu. "Bukan-
kah Sihir selalu diturunkan lewat darah bang-
sawan? Siapa yang pernah mendengar rakyat
biasa menjadi penyihir? Aku bisa melihat ke-
benaran biarpun tidak kauucapkan. Pamanmu
adalah raja besar dan ahli sihir terhebat di
duniamu. Dan dengan kemampuannya dia telah
melihat bayangan wajahku, pada semacam cer-
min ajaib atau mata air bertuah. Lalu karena
kekagumannya akan kecantikanku dia telah

99
membuat mantra kuat yang mengguncang
duniamu hingga ke akarnya, mengirimmu me-
lewati padang pasir luas di antara dunia dan
dunia untuk meminangku, membawaku ke ha-
dapannya. Jawablah: bukankah begitu kejadian-
nya?"
"Yah, tidak juga sih," jawab Digory.
"Tidak juga?" teriak Polly. "Semua itu benar-
benar omong kosong sejak awal sampai akhir."
"Makhluk rendah!" teriak sang ratu, menoleh
penuh kemarahan ke arah Polly dan menjam-
bak rambutnya, di bagian paling atas kepala-
nya, di tempat yang paling menyakitkan. Tapi
dengan melakukan itu dia melepaskan kedua
tangan Digory dan Polly. "Sekarang," teriak
Digory, dan "Cepat!" teriak Polly. Mereka
membenamkan tangan kiri mereka ke saku.
Mereka bahkan tidak perlu mengenakan cincin-
cincin itu. Di detik mereka menyentuh cincin,
keseluruhan dunia suram itu lenyap dari peng-
lihatan mereka. Mereka kini bergerak naik
dengan cepat dan cahaya hijau hangat semakin
mendekat di atas mereka.

100
BAB 6

Awal Segala Kesusahan


Paman Andrew

L
Digory.
EPASKAN! Lepaskan!" pekik Polly.
"Aku bahkan tidak menyentuhmu!" kata

Kemudian kepala mereka keluar dari mata


air dan sekali lagi kesunyian terang Hutan di
Antara Dunia-dunia menyelimuti mereka. Hutan
itu terasa lebih kaya, hangat, dan damai dari-
pada sebelumnya setelah mereka mengalami
sesak kematian dan reruntuhan di tempat yang
baru saja mereka tinggalkan. Kurasa, bila diberi
kesempatan, mereka bakal sekali lagi lupa akan
siapa diri mereka dan dari mana mereka da-
rang, lalu berbaring menikmati ketenangan, se-
tengah tertidur, mendengarkan pepohonan tum-
buh. Tapi kali ini ada sesuatu yang membuat
mata mereka terbuka selebar mungkin. Segera
setelah mereka menapakkan kaki ke rerum-

101
putan, mereka mendapati bukan hanya mereka
berdua yang ada di sana. Sang ratu atau sang
penyihir (terserah kalian mau memanggilnya
siapa) telah muncul bersama mereka, menceng-
keram keras rambut Polly. Itulah sebabnya
Polly berteriak-teriak, "Lepaskan!"
Ini membuktikan, secara tidak sengaja, satu
hal lagi tentang cincin yang belum diberitahu-
kan Paman Andrew kepada Digory karena
pria itu sendiri belum mengetahuinya. Untuk
melompat dari dunia ke dunia dengan salah
satu cincin itu, kau tidak perlu mengenakan
atau menyentuhnya sendiri, cukup menyentuh
seseorang yang sedang menyentuh cincin itu.
Dengan begitu cincin-cincin tersebut bekerja
seperti magnet, dan semua orang tahu kalau
kau mengangkat jarum dengan magnet, jarum
lain yang menyentuh jarum pertama juga akan
ikut terangkat.
Sekarang setelah kau melihatnya di hutan,
Ratu Jadis tampak berbeda. Dia kelihatan lebih
pucat daripada sebelumnya, begitu pucat se-
hingga nyaris tidak tersisa kecantikan pada
dirinya. Dia juga membungkuk dan tampak
kesulitan bernapas, seolah udara di tempat itu
mencekiknya. Kedua anak itu tidak sedikit
pun merasakan takut padanya sekarang.

102
"Lepaskan! Lepaskan rambutku," kata Polly.
"Mau apa kau sebenarnya?"
"Hei! Lepaskan rambutnya. Sekarang juga,"
kata Digory.
Mereka berdua berbalik dan bergulat dengan
Jadis. Mereka lebih kuat daripada ratu itu dan
hanya dalam hitungan detik telah memaksanya
melepaskan cengkeraman. Sang ratu mundur
dengan langkah terhuyung-huyung, terengah-
engah, ada ketakutan dalam matanya.
"Cepat, Digory!" kata Polly. "Ganti cincin
dan pergi ke mata air dunia kita."
"Tolong! Tolong! Kasihanilah aku!" jerit sang
penyihir dengan suara lemah, tergopoh-gopoh
mengejar mereka. "Bawalah aku bersama ka-
lian. Kalian tidak bisa meninggalkanku di tem-
pat mengerikan ini. Tempat ini akan mem-
bunuhku."
"Tapi ini sesuai logika negerimu," kata Polly
penuh kebencian. "Seperti ketika kau mem-
bunuh semua orang di duniamu sendiri. Ayo
cepat, Digory." Mereka telah mengenakan cin-
cin hijau mereka, tapi Digory berkata:
"Ah, sial! Apa yang harus kita lakukan?"
Dia tidak bisa mencegah dirinya merasa agak
kasihan pada sang ratu.
"Aduh, jangan begitu bodoh," kata Polly.

103
Aku berani bertaruh sepuluh lawan satu dia
hanya bersandiwara. Ayolah." Kemudian kedua
anak itu melompat ke dalam mata air menuju
dunia mereka. Untung kami membuat tanda,
pikir Polly. Namun ketika mereka melompat
Digory merasakan jari telunjuk dan ibu jari
besar yang dingin menangkap telinganya. Dan
ketika mereka tenggelam dan sosok-sosok samar
dunia kita mulai muncul, cengkeraman jari
telunjuk dan ibu jari itu kian kuat. Tampaknya
kekuatan sang penyihir mulai pulih. Digory
meronta dan menendang-nendang, tapi sama
sekali tidak ada gunanya. Beberapa saat kemu-
dian mereka mendapati diri mereka berada di
ruang kerja Paman Andrew. Dan di sana ber-
dirilah Paman Andrew sendiri, memandangi
makhluk menakjubkan yang telah dibawa
Digory dari dunia lain.
Paman Andrew punya alasan kuat untuk
terus menatap lekat. Digory dan Polly juga
melakukan hal yang sama. Tidak perlu diragu-
kan sang penyihir telah mengatasi rasa lemah-
nya, dan kini kalau ada orang yang melihatnya
di dunia kita, dengan berbagai benda lazim di
sekelilingnya, dia benar-benar bisa membuat
orang itu menahan napas. Di Charn dia tampak
cukup mengancam, di London, dia mengerikan.

104
Dalam satu hal, mereka belumlah menyadari
hingga kini betapa besar tubuhnya. "Nyaris
bukan manusia" adalah yang dipikirkan Digory
ketika dia menatapnya, dan dia mungkin benar,
karena beberapa orang bilang ada darah rak-
sasa dalam keluarga kerajaan Charn. Tapi bah-
kan tinggi tubuhnya pun bukanlah apa-apa
bila dibandingkan kecantikan, keganasan, dan
keliarannya. Dia kelihatan sepuluh kali lebih
hidup daripada sebagian besar orang yang bisa
ditemui di London. Paman Andrew menunduk-
nunduk dan menggosok-gosok tangannya dan
tampak, kalau mau jujur, amat sangat ke-
takutan. Dia tampak seperti makhluk kecil
yang mengerut di samping sang penyihir.
Walaupun begitu, seperti yang dikatakan Polly
nanti, ada semacam kemiripan di antara wajah
sang penyihir dan Paman Andrew, sesuatu pada
ekspresi mereka. Itulah ekspresi yang dimiliki
semua penyihir jahat, "Tanda" yang Jadis per-
nah katakan tidak bisa dia temukan pada
wajah Digory. Satu hal baik tentang melihat
mereka berdua bersama-sama adalah kau tidak
akan pernah lagi takut pada Paman Andrew,
seperti kau tidak akan takut pada ulat setelah
kau bertemu ular, atau takut pada sapi kalau
sudah bertemu banteng gila.

105
Huh! sergah Digory dalam hati. Dia penyi-
hir? Mendekati saja tidak. Ratu inilah penyihir
sesungguhnya.
Paman Andrew terus-menerus menggosok ta-
ngan dan menunduk. Dia berusaha mengatakan
sesuatu yang sangat sopan, tapi mulutnya me-
ngering sehingga tak bisa bicara. "Percobaan-
nya" dengan cincin-cincin itu, begitu dia me-
nyebutnya, ternyata berbuah kesuksesan yang
lebih besar daripada harapannya; karena walau-
pun dia telah berkutat dengan Sihir selama

106
bertahun-tahun, dia selalu meninggalkan bahaya
yang datang (sejauh yang bisa dilakukan sese-
orang) pada orang lain. Kejadian seperti ini
tidak pernah dia alami sebelumnya.
Kemudian Jadis berkata, tidak terlalu keras,
tapi ada sesuatu dalam suaranya yang membuat
seluruh ruangan bergetar.
"Di mana sang penyihir yang telah memang-
gilku ke dunia ini?"
"Ah—ah—Madam," Paman Andrew terpera-
ngah, "saya merasa begitu bangga—sangat ba-
hagia—kehormatan yang begitu tak terduga—
kalau saja saya punya kesempatan untuk mem-
buat persiapan—saya—saya—"
"Di mana penyihir itu, bodoh?" tanya Jadis.
"Sa-sayalah orangnya, Madam. Saya harap
Anda mau memaafkan segala—ngng—kelan-
cangan yang mungkin dilakukan anak-anak
nakal ini. Saya pastikan tidak ada niatan un-
tuk—"
"Kau?" kata sang ratu dengan suara yang
lebih mengerikan. Lalu dengan satu langkah
lebar, dia menyeberangi ruangan, meraih segeng-
gam rambut beruban Paman Andrew dan me-
narik ke belakang kepalanya sehingga wajah
pria itu mendongak ke wajahnya. Kemudian
dia memerhatikan wajahnya seperti yang dia

107
lakukan sebelumnya pada Digory di istana
Charn. Paman Andrew terus mengejap-ngejap-
kan mata dan menjilati bibirnya dengan gugup.
Akhirnya Jadis melepaskan pria itu, begitu
mendadak sehingga dia terempas ke dinding.
"Ternyata begitu," katanya penuh peng-
hinaan, "kau memang penyihir—atau semacam-
nya. Berdirilah, budak, dan jangan duduk se-
olah sedang berbicara dengan orang yang se-
jajar denganmu. Bagaimana kau bisa mengenal
Sihir? Kau bukanlah bangsawan, aku berani
bersumpah."
"Yah—ah—mungkin memang bukan bila di-

108
pikir secara kaku," Paman Andrew terbata-
bata. "Tidak benar-benar bangsawan, Ma'am.
Tapi keluarga Ketterley adalah keluarga tua.
Keluarga tua Dorsetshire, Ma'am."
"Diam," kata sang penyihir. "Aku sudah
lihat siapa dirimu. Kau penyihir kecil murahan
yang berpraktik dengan peraturan dan buku-
buku. Tidak ada Sihir sejati dalam darah dan
hatimu. Khalayakmu telah dimusnahkan di
duniaku seribu tahun lalu. Tapi di sini aku
akan membiarkanmu menjadi pelayanku."
"Saya akan sangat bahagia—gembira bisa
memberikan bantuan apa pun—mendapat ke-
kehormatan, saya bersungguh-sungguh."
"Diam! Kau terlalu banyak bicara. Dengar-
kan tugas pertamamu. Aku sudah melihat kita
berada di kota besar. Siapkan segera untukku
kereta kuda, permadani terbang, naga yang
telah terlatih, atau apa pun yang biasa diguna-
kan bangsawan di daratanmu. Lalu bawa aku
ke tempat-tempat aku bisa memperoleh pa-
kaian, perhiasan, dan budak yang cocok untuk
posisiku. Besok aku akan memulai penjajahan
terhadap dunia."
"Sa-sa-saya akan memanggil kereta sewaan
segera," Paman Andrew tergagap.
"Stop," kata si penyihir, tepat pada saat

109
Paman Andrew tiba di depan pintu. "Jangan
pernah bermimpi berkhianat. Mataku bisa me-
lihat menembus tembok dan masuk ke pikiran
manusia. Mataku akan menyertaimu ke mana
pun kau pergi. Pada tanda pertama ketidak-
patuhan, aku akan memasang mantra padamu
supaya apa pun yang kaududuki akan terasa
seperti besi merah panas, dan setiap kali kau
berbaring di tempat tidur akan ada balok-
balok es tak kasat mata di kakimu. Sekarang
pergi."
Pria tua itu pergi, tampak
seperti anjing dengan buntut
di antara dua kaki bela-
kangnya.
Digory dan Polly kini
ketakutan, Jadis mung-
kin punya rencana un-
tuk membalas apa yang
terjadi di hutan itu. Tapi
ternyata dia tidak pernah
mengungkit-ungkitnya,
baik pada waktu itu
maupun nanti. Kurasa
(dan Digory juga berpikir begitu) benaknya
sejenis yang sama sekali tidak bisa mengingat
tempat sunyi itu. Betapapun seringnya kau

110
mengajaknya ke sana dan betapapun lamanya
kautinggalkan dia di sana, dia tetap tidak
akan tahu apa-apa. Kini ketika hanya bertiga
dengan anak-anak itu, dia tidak memedulikan
keduanya. Dan ini memang sifatnya. Di Charn
dia tidak mengacuhkan Polly (hingga akhir)
karena Digory-lah yang ingin digunakannya.
Sekarang setelah dia memiliki Paman Andrew,
dia tidak memedulikan Digory. Dugaanku se-
bagian besar penyihir seperti itu. Mereka tidak
tertarik pada benda atau orang kecuali mereka
bisa menggunakannya, mereka sangat praktis.
Jadi ada kesunyian selama semenit atau dua
menit di ruangan itu. Tapi kau bisa menebak
dari cara Jadis mengentak-entakkan kaki di
lantai bahwa dia mulai tidak sabar.
Akhirnya dia berkata, seolah pada dirinya
sendiri, "Apa yang dilakukan si tua bodoh
itu? Seharusnya aku membawa pecut." Dia
berjalan keluar dari ruangan untuk mencari
Paman Andrew tanpa sekali pun melihat pada
kedua anak itu, bahkan untuk sekilas.
"Fiuh!" kata Polly, menyuarakan napas pan-
jang lega. "Dan sekarang aku harus pulang.
Sudah larut sekali. Aku bisa pilek."
"Kalau begitu pulanglah, pulanglah secepat
mungkin," kata Digory. "Benar-benar mengeri-

111
kan sang ratu ada di sini. Kita harus membuat
semacam rencana."
"Sekarang semua terserah pamanmu," kata
Polly. "Dialah yang memulai segala kekacauan
dengan Sihir ini."
"Tetap saja, kau akan kembali, kan? Jangan
lepas tangan, kau tidak bisa meninggalkanku
dalam kesulitan seperti ini."
"Aku akan pulang lewat terowongan," kata
Polly agak dingin. "Itu jalan tercepat. Dan
kalau kau mau aku kembali, bukankah sebaik-
nya kau meminta maaf?"
"Minta maaf?" seru Digory. "Wah wah,
dasar anak perempuan! Memangnya apa yang
telah kulakukan?"
"Oh, tidak ada yang penting tentu saja,"
kata Polly menyindir. "Hanya nyaris membuat
pergelangan tanganku terkilir di ruang patung
lilin, seperti anak berandal yang pengecut. Ha-
nya memukul bel dengan palu, seperti orang
bodoh yang konyol. Hanya berbalik di hutan
sehingga dia punya kesempatan menangkap
telingamu sebelum kita melompat ke mata air
dunia kita. Hanya itu."
"Oh," kata Digory, sangat terkejut. "Yah,
baiklah, aku minta maaf. Dan aku memang
sangat menyesali kejadian di ruang patung

112
lilin. Nah, aku sudah minta maaf, kan? Dan
sekarang, berbaik hatilah dan kembali lagi
nanti. Kalau kau tidak kembali, aku akan
terjerumus dalam lubang gelap yang mengeri-
kan."
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang
akan terjadi padamu. Justru Mr Ketterley-lah
yang akan duduk di kursi merah panas dan
diganggu es di tempat tidur, ya kan?"
"Bukan itu maksudku," kata Digory. "Aku
benar-benar mengkhawatirkan Ibu. Bagaimana
kalau makhluk itu masuk ke kamarnya? Ibu
bisa mati ketakutan."
"Oh, begitu ya," kata Polly, dengan nada
suara yang agak berbeda. "Baiklah. Anggap
ini kesepakatan kita. Aku akan kembali—kalau
aku bisa. Tapi aku harus pergi sekarang."
Kemudian dia merangkak melewati pintu kecil
menuju terowongan. Tempat gelap di antara
kasau-kasau yang tampak begitu menarik dan
menggugah jiwa petualangan beberapa jam lalu
kini tampak sangat jinak dan membuat betah.
Kita kini harus kembali pada Paman Andrew.
Jantung tua malangnya berdebar kencang saat
dia tergopoh-gopoh menuruni tangga loteng
dan dia terus-menerus mengelap dahi dengan
saputangan. Saat dia mencapai kamar tidurnya,

113
yang ada tepat di bawah loteng, dia mengunci
diri di dalamnya. Lalu tindakan pertama yang
dilakukannya adalah mengacak-acak lemari,
mencari botol dan gelas anggur yang selalu
disembunyikan di sana supaya tidak bisa di-
temukan Bibi Letty. Dia mengisi gelas hingga
penuh dengan minuman orang dewasa yang
memuakkan, lalu meminumnya dalam satu te-
gukan. Kemudian dia menarik napas dalam-
dalam.
"Astaga," dia berkata pada dirinya sendiri.
"Aku benar-benar terguncang. Ini sangat me-
ngejutkan! Di usiaku yang seperti ini!"
Dia mengisi gelas kedua dan meminumnya
juga, kemudian dia mulai berganti pakaian.
Kau mungkin belum pernah melihat pakaian
seperti itu, tapi aku bisa mengingatnya. Dia
mengenakan kerah yang sangat tinggi, mengilap,
dan kaku, sejenis yang membuat dagumu ter-
angkat setiap saat. Dia memakai rompi berpola
dan memasang jam emasnya menyilang di de-
pan. Dia memakai jas berekor terbaiknya, yang
disimpannya untuk pernikahan dan pema-
kaman. Dia mengeluarkan topi tinggi terbaiknya
dan menggosoknya hingga mengilap. Ada vas
penuh bunga di meja rias (diletakkan di sana
oleh Bibi Letty). Dia mengambil setangkai bu-

114
nga dan memasukkannya ke lubang kancing.
Dia mengambil saputangan bersih (saputangan
indah yang kini sudah tidak bisa kaubeli) dari
laci kiri dan membubuhinya dengan beberapa
tetes wewangian. Dia mengeluarkan kacamata
tunggal, yang berpita hitam tebal, dan mema-
sangnya ke mata. Kemudian dia mematut diri
di cermin.
Anak-anak memiliki satu jenis kekonyolan,
seperti yang sudah kauketahui, dan orang de-
wasa punya jenis yang lain. Pada saat ini
Paman Andrew mulai bertingkah konyol dengan
cara yang sangat orang dewasa. Kini karena
sang penyihir tidak lagi berada di ruangan
yang sama dengannya, dengan cepat dia lupa
betapa wanita itu telah membuatnya takut.
Dia malah terus-menerus berpikir tentang ke-
cantikan luar biasa wanita itu. Dia berkali-kali
berucap pada dirinya sendiri, "Wanita yang
cantik sekali, Sir, cantik sekali. Makhluk luar
biasa." Entah bagaimana Paman Andrew juga
lupa bahwa anak-anak itulah yang membawa
sang "makhluk luar biasa". Dia merasa seolah
dia dengan Sihir-nya sendirilah yang memanggil-
nya dari dunia tak dikenal.
"Andrew, sobat," katanya pada dirinya sen-
diri saat bercermin, "kau pria yang ketam-

115
panannya masih cukup terjaga untuk seseorang
seusiamu. Pria berpenampilan terhormat, Sir."
Jadi begini, si pria tua konyol itu benar-
benar mulai membayangkan si penyihir bakal
jatuh cinta kepadanya. Dua gelas minuman
tadi mungkin yang menjadi penyebabnya, begitu
juga pakaian terbaiknya. Tapi dia, dilihat dari
sisi mana pun, secongkak dan sekosong burung
merak, itulah sebabnya dia menjadi penyihir.
Dia membuka kunci kamarnya, turun ke
lantai bawah, mengirimkan pelayan wanita un-
tuk mencari kereta sewaan (pada masa-masa
itu semua orang memiliki banyak pelayan) dan
memeriksa ruang duduk. Di sana, seperti
dugaannya, dia mendapati Bibi Letty. Wanita
itu sedang sibuk memperbaiki kasur. Kasur
diletakkan di lantai di dekat jendela dan Bibi
Letty berlutut di atasnya.
"Ah, Letitia sayangku," kata Paman Andrew,
"aku—ah—harus pergi keluar. Bisakah kau me-
minjamiku sekitar lima pound? Ada gadis can-
tik yang ingin kutemani."
"Tidak, Andrew sayang," kata Bibi Letty
dengan nada suaranya yang pelan namun tegas,
bahkan tanpa mendongak dari pekerjaannya.
"Aku sudah sering kali mengatakan padamu
aku tidak akan meminjamimu uang."

116
"Janganlah jadi begitu menyusahkan, sayang-
ku," kata Paman Andrew. "Ini penting sekali.
Kau akan menempatkanku pada posisi yang
amat canggung bila kau tidak melakukannya."
"Andrew," kata Bibi Letty sambil menatap
lekat wajahnya, "aku heran kenapa kau tidak
malu meminta uang dariku."
Ada cerita panjang membosankan ala orang
dewasa di balik kata-kata itu. Yang perlu
kauketahui adalah Paman Andrew, dengan se-
gala "mengatasi masalah bisnis Letty tersayang
demi dirinya", tidak pernah melakukan pe-

117
kerjaan apa pun, dan menciptakan tagihan
besar untuk brendi dan cerutu (yang harus
berkali-kali dibayar Bibi Letty). Semua ini telah
membuat Bibi Letty jauh lebih miskin daripada
keadaannya tiga puluh tahun lalu.
"Gadis tersayangku," kata Paman Andrew,
"kau tidak mengerti. Aku harus melakukan
beberapa pengeluaran tak terduga hari ini.
Aku harus menjamu seseorang. Ayolah, jangan
menyulitkan begini."
"Dan kau, demi Tuhan, memangnya siapa
yang akan kaujamu, Andrew?" tanya Bibi Letty.
"Seorang—seorang tamu terhormat baru saja
tiba."
"Terhormat omong kosong!" kata Bibi Letty.
"Tidak terdengar deringan bel pintu dalam
satu jam terakhir ini."
Tepat pada saat itu pintu mendadak terbuka
lebar. Bibi Letty menoleh dan terkejut melihat
wanita bertubuh besar, berpakaian indah, ber-
lengan telanjang, dan bermata berkilat, berdiri
di mulut pintu. Dia sang penyihir.

118
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

BAB 7

Yang Terjadi di Pintu Depan

H EI, budak, berapa lama aku harus me-


nunggu kereta kudaku?" bentak sang
penyihir. Paman Andrew berjalan menjauhinya.
Sekarang ketika wanita itu benar-benar hadir,
segala pikiran konyol yang dimiliki Paman
Andrew saat bercermin langsung mengalir ke-
luar dari benaknya. Tapi Bibi Letty langsung
berdiri dari berlututnya dan berjalan menuju
bagian tengah ruangan.
"Dan siapa wanita muda ini, Andrew, kalau
boleh aku bertanya?" tanya Bibi Letty dengan
nada dingin.
"Orang asing terhormat—or-orang yang sa-
ngat penting," jawab Paman Andrew terbata-
bata.
"Omong kosong!" kata Bibi Letty, kemudian
dia menoleh ke si penyihir, "Keluar dari rumah-

119
ku sekarang juga, wanita tak tahu malu, atau
aku akan memanggil polisi." Dia pikir si pe-
nyihir pasti seseorang yang keluar dari sirkus,
lagi pula dia tidak berkenan dengan wanita
bertelanjang lengan.
"Siapa wanita ini?" tanya Jadis. "Berlututlah,
makhluk rendah, sebelum aku menghancurkan-
mu."
"Tidak boleh ada bahasa kasar di rumah ini
kalau kau tidak keberatan, wanita muda,"
kata Bibi Letty.
Dalam sekejap, begitu yang dirasakan Paman
Andrew, sang ratu meninggi hingga menjulang
sekali. Api berkobar dari matanya. Dia
mengangkat tangannya dan melakukan gerakan
juga menyuarakan kata-kata sama yang se-
belumnya telah mengubah gerbang istana men-
jadi debu. Tapi tidak ada yang terjadi kecuali
Bibi Letty, yang mengira kata-kata mengerikan
itu dimaksudkan sebagai bahasa Inggris biasa,
berkata:
"Sudah kuduga. Wanita ini mabuk! Mabuk!
Dia bahkan tidak bisa bicara dengan jelas."
Saat itu pasti momen yang buruk bagi si
penyihir, ketika dia mendadak menyadari ke-
kuatannya menjadikan orang debu, yang benar-
benar nyata di dunianya, tidak akan berguna

120
di dunia kita. Tapi dia bahkan tidak kehilangan
nyali barang sedetik pun. Tanpa membuang-
buang waktu untuk memikirkan kekecewaan-
nya, dia membungkuk, menangkap Bibi Letty
di leher dan mata kakinya, mengangkatnya
tinggi di atas kepala seolah Bibi Letty tidak
lebih berat daripada boneka, lalu melemparnya
ke seberang ruangan. Sementara Bibi Letty
sedang berputar-putar di udara, si pelayan wa-
nita (yang sedang mengalami pagi indah nan
seru) melongokkan kepalanya ke pintu dan
berkata, "Kalau Anda sudah siap, Sir, keretanya
sudah datang."
"Pimpin jalan, budak," kata si penyihir ke
Paman Andrew. Pria itu mulai menggumamkan
sesuatu tentang "kekerasan yang tidak perlu—
harus benar-benar protes", tapi hanya dengan
tatapan sekilas Jadis, dia menjadi tak mampu
berkata-kata. Jadis memaksanya keluar ruangan
dan rumah. Digory berlari menuruni tangga
tepat untuk melihat pintu depan tertutup di
belakang mereka.
"Ya ampun!" katanya. "Dia lepas di London.
Dan dengan Paman Andrew. Kira-kira apa
yang akan terjadi sekarang."
"Oh, Master Digory," kata si pelayan wanita
(yang benar-benar sedang mengalami hari yang

121
indah), "entah bagaimana, saya rasa Miss
Ketterley telah melukai dirinya sendiri." Jadi
mereka bergegas ke ruang duduk untuk mencari
tahu apa yang telah terjadi.
Kalau Bibi Letty telah terjatuh pada lantai
papan atau bahkan pada karpet, kurasa tulang-
tulangnya bakal patah, tapi dengan keberun-
tungan besar dia telah jatuh ke atas kasur.
Bibi Letty adalah wanita tua yang sangat kuat,
para bibi sering kali begitu di masa-masa itu.
Setelah mencium bau keras sal volatile dan
duduk bergeming selama beberapa menit, dia
berkata dia tidak apa-apa kecuali menderita
beberapa memar. Tak lama kemudian dia mulai
mengambil alih situasi.
"Sarah," katanya pada si pelayan wanita
(yang belum pernah mengalami hari seperti
ini), "pergilah segera ke kantor polisi dan
beritahu mereka ada orang gila berbahaya yang
berkeliaran. Aku yang akan membawakan sen-
diri makan siang Mrs Kirke." Mrs Kirke ada-
lah, tentu saja, ibu Digory.
Ketika makan siang ibunya telah diurus,
Digory dan Bibi Letty menyantap makan siang
mereka. Setelah itu mereka berpikir keras.
Masalahnya adalah bagaimana cara mengem-
balikan si penyihir ke dunianya sendiri, atau

122
setidaknya keluar dari dunia kita, sesegera
mungkin. Apa pun yang terjadi, dia tidak
boleh dibiarkan mengacau di rumah. Ibu
Digory tidak boleh melihatnya. Dan jika mung-
kin, dia juga tidak boleh dibiarkan mengacau
di London. Digory memang tidak sedang ber-
ada di ruang duduk ketika si penyihir berusaha
"meledakkan" Bibi Letty, tapi dia telah melihat-
nya "meledakkan" gerbang Charn. Jadi dia
tahu kekuatannya yang mengerikan tapi belum
tahu wanita itu telah kehilangan kekuatan itu
dengan datang ke dunia kita. Pada saat ini,
sejauh yang bisa dibayangkannya, si penyihir
mungkin sedang meledakkan Istana Buckingham
atau Gedung Parlemen, hampir pasti mengubah
sejumlah besar anggota kepolisian menjadi tum-
pukan kecil debu. Dan tampaknya tidak ada
apa pun yang bisa dia lakukan untuk men-
cegahnya.
Tapi cincin-cincin itu sepertinya bekerja se-
perti magnet, pikir Digory. Kalau saja aku
bisa menyentuhnya kemudian mengenakan cin-
cin kuningku, kami berdua bakal pergi ke
Hutan di Antara Dunia-dunia. Kira-kira dia
bakal melemah lagi di sana, tidak ya? Apakah
tempat itu memberikan pengaruh tertentu pada-
nya atau kejadian itu sekadar akibat shock

123
karena dia ditarik keluar dari dunianya? Tapi
kurasa aku harus mengambil risiko. Sekarang
bagaimana caranya aku menemukan monster
itu? Kurasa Bibi Letty tidak akan mengizinkan-
ku keluar sebelum aku memberitahunya ke
mana aku akan pergi. Lagi pula uangku tidak
lebih dari dua pence. Aku akan membutuhkan
lebih banyak uang untuk naik bus dan trem
kalau berniat mencarinya ke sekeliling London.
Tapi lagi-lagi aku sama sekali tidak punya
bayangan ke mana dia pergi. Kira-kira Paman
Andrew masih bersamanya, tidak ya?
Tampaknya akhirnya hanya ada satu tin-
dakan yang bisa dia lakukan, yaitu menunggu
dan berharap Paman Andrew dan si penyihir
akan kembali. Kalau mereka kembali, dia harus
bergegas dan memegang si penyihir lalu me-
ngenakan cincin kuningnya sebelum si penyihir
sempat masuk ke rumah. Ini berarti dia harus
mengawasi pintu depan seperti kucing meng-
awasi lubang tikus, dia tidak berani meninggal-
kan posisinya bahkan untuk sesaat. Jadi dia
pergi ke ruang makan dan "menempelkan wa-
jahnya"—begitu biasanya istilah yang dipakai
orang—ke jendela. Jendelanya sejenis jendela
busur yang dibangun melengkung keluar ber-
sama tembok hingga membentuk ceruk ba-

124
ngunan sendiri dari dalam, melaluinya kau
bisa melihat tangga menuju pintu depan juga
jalanan. Tidak akan ada orang yang mencapai
pintu depan tanpa sepengetahuanmu. Kira-kira
Polly sedang apa ya sekarang? pikir Digory.
Dia terus bertanya-tanya tentang ini dalam
setengah jam pertama yang berlalu sangat lam-
bat. Tapi kau tidak perlu ikut bertanya-tanya
karena aku akan memberitahumu. Polly datang
terlambat untuk makan malam dengan sepatu
dan stoking basah kuyup. Dan ketika mereka
bertanya kepadanya habis ke mana saja dan
apa saja yang telah dilakukannya, Polly men-
jawab dia habis keluar bersama Digory Kirke.
Setelah ditanya lebih lanjut, Polly berkata dia
membasahi kakinya di mata air, dan bahwa
mata air itu ada di hutan. Waktu ditanya di
mana letak hutan itu, dia menjawab tidak
tahu. Ketika ditanya apakah hutan itu berada
di salah satu taman, Polly menjawab dengan
cukup jujur bahwa mungkin saja hutan itu
ada di semacam taman. Dari jawaban-jawaban
itu, ibu Polly berkesimpulan anaknya telah
pergi, tanpa memberitahu siapa-siapa, ke suatu
bagian London yang tidak dikenalinya dan
bermain di taman asing juga bersenang-senang
dengan melompat-lompat ke dalam genangan

125
air. Akibatnya Polly dimarahi karena telah sa-
ngat nakal dan dia tidak akan diperbolehkan
bermain dengan "anak Kirke" lagi kalau ke-
jadian seperti ini kembali terjadi. Kemudian
dia diberi makan malam tanpa bagian santapan
yang menyenangkan dan disuruh tidur selama
dua jam penuh. Perlakuan seperti ini sering
dialami seseorang pada masa-masa itu.
Jadi sementara Digory menatap ke luar jen-
dela ruang makan, Polly terbaring di tempat
tidur, tapi keduanya berpikir betapa lambatnya
waktu berjalan. Kalau menurutku pribadi, aku
akan lebih suka berada pada posisi Polly. Dia
hanya perlu menunggu dua jamnya berakhir,
sedangkan Digory akan mendengar kereta kuda
sewaan, gerobak tukang roti, atau anak penjual
daging di setiap beberapa menit dan berpikir,
si penyihir datang, kemudian mendapati
dugaannya salah. Lagi pula di antara beberapa
peringatan keliru ini, yang rasanya berjam-
jam, jam berdetak terus dan lalat besar—
terbang tinggi dan jauh sehingga tak bisa di-
raih—berdengung membentur jendela. Rumah
Digory sejenis rumah yang bakal menjadi sa-
ngat sunyi dan membosankan di sore hari dan
selalu berbau daging domba.
Selama pengawasan dan penantian panjang-

126
nya sesuatu yang harus kusebutkan terjadi,
karena hal lain yang penting datang setelahnya.
Seorang wanita datang membawa buah anggur
untuk ibu Digory, dan karena pintu ruang
makan terbuka, Digory tidak sengaja men-
dengarkan pembicaraan Bibi Letty dan wanita
itu di ruang depan.
"Anggurnya kelihatan lezat sekali!" terdengar
suara Bibi Letty. "Aku yakin kalau ada yang
bisa membuatnya merasa lebih baik, buah ini-
lah jawabannya. Tapi Mabel cilik tersayangku
yang malang! Aku khawatir akan dibutuhkan
buah dari tanah kebeliaan untuk membantunya
sekarang. Tidak ada apa pun dari dunia ini
yang akan banyak membantunya." Kemudian
mereka berdua mengecilkan volume suara me-
reka dan mengatakan lebih banyak hal tanpa
bisa didengar Digory.
Kalau saja dia sudah mendengar bagian ten-
tang tanah kebeliaan itu beberapa hari lalu
dia akan berpikir Bibi Letty hanya bicara tanpa
merujuk pada apa pun secara khusus, seperti
yang biasa dilakukan orang dewasa, dan ini
tidak akan menarik minat Digory. Barusan ini
pun dia hampir berpikir begitu. Tapi tiba-tiba
berkelebat di benaknya bahwa dia kini tahu
(bahkan jika Bibi Letty tidak), memang ada

127
dunia-dunia lain dan dia sendiri telah berada
di dalam salah satunya. Bagaimanapun ada
kemungkinan Tanah Kebeliaan memang ada di
suatu tempat. Apa pun mungkin saja ada.
Mungkin ada buah di suatu dunia lain yang
bisa benar-benar menyembuhkan ibunya! Dan
oh, oh—yah, kau tahulah bagaimana rasanya
kalau mulai mengharapkan sesuatu yang sangat
kauinginkan. Kau akan nyaris bertarung dengan
harapan itu karena terlalu indah untuk menjadi
kenyataan, karena kau telah begitu sering ke-
cewa sebelumnya. Itulah yang Digory rasakan.
Tapi tidak ada gunanya berusaha bergumul
dengan harapan ini. Karena mungkin—mungkin
saja benar-benar bisa jadi kenyataan. Telah
begitu banyak hal aneh yang terjadi. Dan dia
punya cincin-cincin ajaib. Pasti ada dunia-dunia
yang bisa dia datangi lewat setiap mata air di
hutan itu. Dia bisa menjelajahi dan berburu
obat di sana. Kemudian—lbu akan sehat lagi.
Segalanya akan benar kembali. Digory sama
sekali lupa mengawasi sang penyihir. Tangannya
sudah mulai bergerak ke saku tempat dia me-
nyimpan cincin kuning, ketika mendadak ter-
dengar suara derap langkah kuda.
Wah! Apa itu? pikir Digory. Pasukan pema-
dam kebakaran? Kira-kira rumah mana yang

128
terbakar ya? Astaga, suaranya menuju ke arah
sini. Ya ampun, itu kan dia.
Aku tidak perlu memberitahumu siapa yang
Digory maksudkan dengan dia.
Pertama tampaklah kereta sewaan. Tidak
ada siapa-siapa di kursi sais. Di atapnya—
tidak duduk, tapi berdiri di atasnya—berayun
dengan keseimbangan tubuh luar biasa, ketika
kereta melaju dengan kecepatan penuh di sudut
jalan dengan satu roda di udara—tampak sosok
Jadis sang ratunya ratu dan Teror Charn.
Giginya penuh terlihat, matanya bersinar layak-
nya api, dan rambut panjangnya melambai di
belakangnya seperti ekor komet. Dia memecut
kuda tanpa belas kasihan. Lubang hidung he-
wan itu lebar dan merah, sisi-sisinya dikotori
buih putih. Kuda itu berlari kencang menuju
pintu depan, melewati lampu tiang dengan
jarak hanya seinci, kemudian berdiri dengan
kaki belakangnya. Kereta yang ditariknya me-
nabrak lampu tiang dan hancur menjadi be-
berapa bagian. Sang penyihir, dengan lompatan
menakjubkan, telah menghindar tepat pada
waktunya dan mendarat di punggung kuda.
Dia memperbaiki posisi menunggangnya dan
mencondongkan tubuh ke depan, membisikkan
sesuatu pada telinga kuda itu.

129
130
Bisikan itu pastinya tidak dimaksudkan untuk
menenangkan tapi untuk membuatnya makin
gila. Kuda itu berdiri dengan kaki belakang
lagi dan ringkikannya seperti jeritan. Kuda itu
meronta, meringkik, mengibas-ngibaskan kepala.
Hanya pengendara luar biasa yang bisa tetap
berada di punggungnya.
Sebelum Digory menenangkan napas, cukup
banyak hal lain mulai terjadi. Kereta kedua
bergerak cepat, dekat di belakang kereta yang
pertama. Keluar dari dalamnya pria gemuk
bermantel panjang dan seorang polisi. Kemu-
dian datang kereta ketiga dengan dua polisi
lagi di dalamnya. Setelah itu datang sekitar
dua puluh orang (sebagian besar anak laki-laki
petugas penyampai pesan) bersepeda, semuanya
membunyikan bel sepeda dan menyuarakan
sorakan juga siulan. Terakhir datang rom-
bongan orang berjalan kaki: semua tampak
terengah-engah karena habis berlari, tapi tam-
pak jelas sangat menikmati kejadian ini. Jen-
dela-jendela menjeblak terbuka di semua rumah
di jalan itu dan pelayan wanita maupun pria
muncul di setiap pintu depan. Mereka ingin
melihat keramaian ini.
Sementara itu seorang pria tua berusaha
keluar dari kereta kuda yang pertama dengan

131
tubuh masih gemetar. Beberapa orang bergegas
menghampiri untuk menolongnya, tapi karena
satu orang menariknya ke satu arah dan orang
yang lain menariknya ke arah lain, mungkin
dia bakal bisa keluar dari kereta itu jauh lebih
cepat bila tanpa bantuan. Digory menebak
pria tua itu mungkin Paman Andrew tapi
wajahnya tidak terlihat. Topi tinggi yang di-
kenakan orang itu melesak menutupi wajahnya.
Digory berlari keluar dan bergabung dengan
kerumunan orang.
"Itu wanitanya, itu dia wanitanya," teriak
sang pria gemuk sambil menunjuk Jadis. "Laku-
kan tugasmu, Pak Polisi. Perhiasan seharga
ratusan dan ribuan pound telah diambilnya
dari tokoku. Lihatlah rantai mutiara di lehernya.
Itu milikku. Dia bahkan juga meninju mataku."

132
"Itu dia, Pak," kata salah satu orang dalam
kerumunan. "Memar di mata yang paling bagus
yang pernah saya lihat. Pasti diperlukan ke-
ahlian yang luar biasa untuk melakukannya.
Wah! Berarti dia kuat sekali!"
"Sebaiknya Anda mengompres memar itu
dengan daging steak mentah, Mister, itu peng-
obatan paling manjur," kata bocah tukang
daging.
"Tenang tenang," kata petugas polisi yang
berpangkat paling tinggi, "ada kekacauan apa
ini?"
"Sudan kubilang dia—" mulai si pria gemuk,
ketika seseorang berteriak:
"Jangan biarkan pria tua di kereta itu melari-
kan diri. Dia yang menyuruh si wanita melaku-
kan semua ini."
Si pria tua, yang kini sudah pasti Paman

133
Andrew, baru saja selesai berhasil berdiri dan
sedang rnenggosok-gosok memarnya. "Kalau
begitu," kata si petugas polisi sambil menoleh
ke arahnya, "apa maksud semua ini?"
"Hmph—pomi—shomf," terdengar suara
Paman Andrew dari balik topi.
"Hentikan sekarang juga," kata si polisi
tegas. "Ini bukan saatnya bergurau. Segera
lepaskan topi itu!"
Permintaan ini lebih mudah dikatakan dari-
pada dilakukan. Tapi setelah Paman Andrew
bergulat sia-sia dengan topinya selama beberapa
saat, dua polisi lain menahan pinggirannya
dan menarik paksa topi itu.
"Terima kasih, terima kasih," kata Paman
Andrew dengan suara lemas. "Terima kasih.
Astaga, aku benar-benar terguncang. Kalau saja
seseorang bisa memberiku segelas brendi—"
"Saya harap sekarang Anda bersedia ber-
bicara pada saya," kata sang petugas polisi,
sambil mengeluarkan buku notes yang sangat
besar dan pensil yang sangat kecil. "Apakah
Anda bertanggung jawab atas wanita muda
itu?"
"Awas!" teriak beberapa suara, dan si polisi
melompat ke belakang tepat pada waktunya.
Kuda tadi telah menendang ke arahnya, ten-

134
dangan yang mungkin bisa membunuhnya.
Kemudian sang penyihir mengarahkan kuda
itu supaya berputar sehingga dia bisa meng-
hadap ke kerumunan orang. Kaki belakang
kuda berada di trotoar. Wanita itu membawa
pisau panjang berkilap di tangannya dan sibuk
membebaskan kuda dari puing-puing kereta.
Sepanjang waktu ini Digory berusaha mencari
posisi supaya dia bisa menyentuh sang penyihir.
Ini tidak mudah karena, di sisi yang paling
dekat dengannya, ada terlalu banyak orang.
Dan untuk memutar menuju sisi yang lain, dia
harus melewati jarak tendangan kuda dan pagar
suatu "area" yang mengelilingi rumahnya. Ru-
mah keluarga Ketterley punya ruang bawah
tanah. Kalau kau tahu apa pun tentang kuda,
terutama bila kau bisa melihat keadaan kuda
itu pada saat tersebut, kau akan menyadari ini
tindakan yang menggelikan. Digory tahu ba-
nyak tentang kuda, tapi dia merapatkan gigi
dan bersiap berlari cepat segera setelah melihat
kesempatan yang terbuka.
Seorang pria berwajah merah dan mengena-
kan topi bulat kini telah berhasil menepis
orang-orang hingga ke bagian depan keru-
munan.
"Hei! Pak Polisi," panggilnya, "itu kudaku

135
yang dikendarainya, begitu juga kereta yang
dia buat jadi serpihan kayu."
"Satu-satu, Bapak-bapak, saya mohon satu-
satu," kata si polisi.
"Tapi tidak ada waktu lagi," ucap si kusir
kereta. "Aku lebih mengenal kuda itu dibanding
dirimu. Kuda itu bukan kuda biasa. Ayahnya
kuda pemimpin pasukan di kaveleri. Dan kalau
wanita muda itu terus-menerus membuatnya
kesal, bakal terjadi pembunuhan di sini. Biarkan
aku mendekatinya."
Si petugas polisi jelas-jelas merasa lega karena
punya alasan kuat untuk menjauhi si kuda.
Sang kusir kereta melangkah mendekat, me-
natap Jadis, dan berkata tidak dengan nada
yang tidak ramah:
"Sekarang, Missie, biarkan aku memegang
kepalanya, segeralah kau turun. Kau kan seorang
lady, dan kau tidak mau segala kekasaran ini
sampai melukaimu, kan? Kau pastinya mau
pulang, minum segelas teh hangat, dan berbaring
tenang. Kau akan merasa lebih baik setelah
itu." Di saat yang sama dia mengulurkan ta-
ngannya ke kepala si kuda sambil mengucapkan,
"Tenang, Strawberry, teman lama. Tenang ya."
Lalu untuk pertama kalinya sang penyihir
berbicara.

136
"Budak!" terdengar suara dingin dan lantang-
nya, berdering keras di atas semua suara lain.
"Budak, jangan sentuh kuda perang kami yang
mulia. Kami Maharani Jadis."

137
BAB 8

Pertarungan di Lampu Tiang

H O! Jadi kau Maharani, ya? Kita lihat


saja nanti," kata sebuah suara. Kemu-
dian suara lain berkata, "Tiga sorakan untuk
Maharatu kota Colney Heath" dan sejumlah
suara lain bergabung. Wajah sang penyihir
menjadi cerah dan dia membungkuk sedikit.
Tapi sorakan itu kemudian mereda dan berganti
menjadi ledakan tawa. Sang penyihir pun me-
nyadari orang-orang itu hanyalah meledeknya.
Ekspresinya mulai berubah dan dia mengganti
pegangan pisaunya ke tangan kiri. Kemudian,
tanpa diduga-duga, dia melakukan sesuatu yang
begitu mengerikan untuk dilihat. Dengan ringan
dan mudah, seolah tindakan itu tindakan paling
biasa di dunia, dia meluruskan lengan kanannya
dan memutuskan salah satu lengan besi tiang
lampu itu. Kalaupun mungkin dia telah ke-

138
hilangan sebagian kemampuan sihirnya di dunia
kita, dia belum kehilangan kekuatannya. Dia
bisa mematahkan batang besi seolah benda itu
hanyalah sebatang gula-gula. Dia melemparkan
senjata barunya di udara, menangkapnya lagi,
mengayun-ayunkannya, dan menyuruh kudanya
maju.
"Sekarang kesempatanku," pikir Digory. Dia
buru-buru berjalan ke antara kuda dan pagar
lalu mulai melangkah maju. Kalau saja hewan
itu mau bergeming sebentar saja, dia mungkin
bakal bisa menangkap mata kaki sang penyihir.
Saat bergegas, dia mendengar suara runtuh
yang mengancam dan entakan. Sang penyihir
telah menghantamkan batang besi itu ke helm
kepala polisi, pria itu terjatuh seperti pin bola
boling.
"Cepat, Digory. Ini harus dihentikan," kata
sebuah suara di sampingnya. Ternyata Polly
yang berkata begitu. Gadis kecil itu segera
datang begitu diperbolehkan bangun dari tem-
pat tidur.
"Kau memang setia," kata Digory. "Berpe-
gang eratlah padaku. Kau harus menyentuh
cincinmu. Yang kuning, ingat. Dan jangan kau-
pakai sebelum aku berteriak."
Terdengar suara hantaman kedua dan satu

139


lagi polisi tergeletak. Terdengar teriakan marah
dari kerumunan, "Hentikan dia. Ambil batu
dari trotoar. Panggil pasukan bersenjata." Tapi
sebagian besar dari mereka berusaha sebisa
mungkin menjauh. Tapi si kusir kereta yang
pastinya orang paling berani dan baik hati di
sana, tetap berada di dekat kudanya, sambil
berkali-kali menunduk menghindari ayunan ba-
tang besi. Dia masih berusaha menangkap ke-
pala Strawberry.
Kerumunan orang mencemooh dan berteriak
lagi. Sebuah batu berdesing melewati kepala
Digory. Kemudian terdengar suara sang pe-
nyihir, keras dan jelas seperti bel besar, dan
kedengarannya seolah dia hampir bahagia untuk
pertama kalinya.
"Sampah! Kalian akan membayar besar un-
tuk ini kalau aku sudah menguasai dunia ka-
lian. Tidak satu pun batu di kota kalian yang
akan tersisa. Aku akan membuat kota ini
seperti Charn, Felinda, Solis, seperti Bra-
mandin."
Digory akhirnya menangkap mata kakinya.
Dia menendang berusaha melepaskan diri dan
memukul mulut Digory. Karena kesakitan, anak
itu melepaskan pegangannya. Bibirnya terluka
dan mulutnya penuh darah. Dari suatu tempat

140
yang sangat dekat, terdengar suara Paman
Andrew dalam semacam teriakan yang bergetar.
"Madam—nona muda—demi Tuhan—kendali-
kan dirimu." Digory kembali berusaha men-
cengkeram mata kakinya, dan sekali lagi pe-
gangannya dilepaskan. Semakin banyak orang
yang tergeletak karena ayunan batang besi.
Digory mencoba untuk ketiga kalinya, menang-
kap mata kaki sang penyihir, memegangnya
erat-erat, berteriak ke Polly, "Sekarang!" kemu-
dian—ah, syukurlah. Wajah-wajah marah dan
ketakutan menghilang. Suara-suara marah dan
ketakutan lenyap. Semua kecuali Paman
Andrew. Dekat di samping Digory dalam ke-
gelapan, suaranya terus melengking, "Oh, oh,
apakah ini halusinasi? Apakah ini akhir zaman?
Aku tidak tahan. Ini tidak adil. Aku tidak
pernah berniat menjadi penyihir. Semua ini
kesalahpahaman. Semua ini salah ibu angkatku,
aku harus protes. Dalam kondisi kesehatanku
yang seperti ini pula. Aku anggota keluarga
Dorsetshire yang terhormat."
Sial! pikir Digory. "Kita tidak bermaksud
membawanya. Bagus, hebat sekali. Kau di sana,
Polly?"
"Ya, aku di sini. Berhentilah berontak."
"Aku tidak berontak," Digory mulai berkata,

141
tapi sebelum bisa berbicara lebih lanjut, kepala
mereka bersentuhan dengan sinar matahari
hijau yang hangat di hutan. Dan ketika mereka
keluar dari mata air, Polly berteriak:
"Oh, lihat! Kita membawa serta kuda tua
itu. Juga Mr Ketterley. Juga si kusir kereta. Ini
kacau sekali!"
Segera setelah menyadari dia sekali lagi ber-
ada di hutan itu, sang penyihir memucat dan
membungkuk hingga wajahnya menyentuh surai
kuda yang dinaikinya. Kau bisa melihat dia
merasa sakit luar biasa. Paman Andrew geme-
taran. Tapi Strawberry, si kuda, menggeleng-
geleng, mengeluarkan ringkikan ceria, dan tam-
pak merasa lebih baik. Hewan itu menjadi
tenang untuk kali pertama sejak Digory me-
lihatnya. Telinganya yang tadinya terbaring rata
di kepala, kini telah berada di posisi biasa dan
di matanya terlihat semangat.
"Bagus, teman tua," kata si kusir kereta
sambil menepuk-nepuk leher Strawberry. "Begi-
tu lebih baik. Tenanglah."
Strawberry melakukan tindakan yang sangat
alami di dunia. Karena haus (tidak heran juga
bila dia merasa begitu) dia berjalan perlahan
menuju mata air terdekat dan masuk ke dalam-
nya untuk minum. Digory masih memegangi

142
mata kaki sang penyihir dan Polly memegang
tangan Digory. Salah satu tangan kusir kereta
ada pada Strawberry. Dan Paman Andrew,
masih gemetaran, baru saja memegang tangan
kusir kereta yang satu lagi.
"Cepat," kata Polly, dengan wajah penuh
arti ke Digory. "Hijau!"
Jadi si kuda tidak pernah mendapatkan
minumannya. Seluruh rombongan itu malah
mendapati diri mereka tenggelam ke kegelapan.
Strawberry meringkik, Paman Andrew merintih.
Digory berkata, "Tadi kebetulan sekali."
Ada keheningan sesaat. Kemudian Polly ber-
kata, "Bukankah seharusnya kita sudah sampai
sekarang?"
"Kita memang tampaknya berada di suatu
tempat," kata Digory. "Setidaknya aku berdiri
di atas sesuatu yang padat."
"Wah, setelah dipikir-pikir, aku juga begitu,"
kata Polly. "Tapi kenapa begitu gelap di sini?
Ah, menurutmu kita masuk ke mata air yang
salah?"
"Mungkin ini memang Charn," kata Digory.
"Hanya saja kita kembali saat tengah malam."
"Ini bukan Charn," terdengar suara sang
penyihir. "Ini dunia yang kosong. Ini Tiada."
Dan memang keadaannya seperti Tiada. Ti-

143
dak ada bintang. Suasana begitu gelap sehingga
mereka sama sekali tidak bisa saling melihat
dan tidak ada bedanya apakah kau memejam-
kan atau membuka mata. Di bawah kaki me-
reka ada sesuatu yang dingin dan datar yang
mungkin saja tanah, tapi jelas tidak ada rumput
atau pohon. Udaranya dingin dan kering, juga
tidak ada angin.
"Kehancuran telah datang ke atasku," kata
sang penyihir dengan suara tenang yang namun
mengerikan.
"Ah, jangan berkata begitu," Paman Andrew
merepet. "Nona muda, kumohon jangan me-
ngatakan hal-hal seperti itu. Tidak mungkin
seburuk itu keadaannya. Ah—kusir kereta—
pria baik—apakah kebetulan kau membawa
botol berisi minuman keras? Tetesan semangat
itulah yang kita butuhkan."
"Sudahlah, sudahlah," terdengar suara si ku-
sir. Suaranya tegas dan keras. "Tetaplah tenang,
semua, itulah yang selalu kukatakan. Tidak
ada yang tulangnya patah, kan? Bagus. Yah,
kalau begitu ada sesuatu yang bisa langsung
disyukuri, dan itu lebih daripada yang bisa
diperkirakan siapa pun setelah terjatuh sedalam
ini. Nah, kalau kita terjatuh ke dalam pe-
kerjaan penggalian atau semacamnya—seseorang

144
akan datang dan segera mengeluarkan kita,
lihat saja! Dan kalau kita sudah mati—yang
tidak kumungkiri bisa saja terjadi—yah, kita
harus mengingat bahwa lebih banyak hal buruk
bisa terjadi di lautan dan seseorang memang
harus mati suatu saat. Tidak ada yang perlu
ditakutkan kalau orang itu telah menjalani
hidup dengan semestinya. Kalau kau bertanya
padaku, kurasa tindakan terbaik yang bisa
kita lakukan untuk melewatkan waktu adalah
menyanyikan himne."
Dan dia benar-benar melakukannya. Dia
langsung menyanyikan himne panen Thanks-
giving, segala syair tentang hasil tanam telah
"dipanen dengan baik". Lagu itu sangat tidak
cocok dengan tempat yang rasanya tidak per-
nah ditumbuhi apa pun sejak permulaan waktu,
tapi lagu itulah yang paling bisa diingatnya.
Kusir itu punya suara bagus dan Digory juga
Polly ikut bernyanyi, suasana jadi sangat ceria.
Paman Andrew dan sang penyihir tidak ber-
gabung.
Ketika mendekati akhir himne, Digory merasa
seseorang menarik sikunya. Dan dari bau
brendi juga cerutu yang keras, serta pakaian
mewah yang dikenakan, Digory memutuskan
orang itu pasti Paman Andrew. Paman Andrew

145
menariknya menjauhi yang lain dengan hati-
hati. Saat mereka sudah agak jauh, pria tua
itu memajukan bibirnya begitu dekat ke telinga
Digory sehingga terasa menggelitik, lalu dia
berbisik:
"Sekarang, bocah. Pakai cincinmu. Ayo pergi
dari sini."
Tapi sang penyihir punya telinga yang bagus.
"Bodoh!" terdengar suaranya dan dia melompat
turun dari kuda. "Apakah kau lupa aku bisa
mendengar pikiran manusia? Lepaskan anak
itu. Kalau kau berniat berkhianat, aku akan
melakukan balas dendam yang begitu kejam
kepadamu dengan cara yang belum pernah
kaudengar ada di semua dunia sejak awal
zaman."
"Dan," Digory menambahkan, "kalau kau
berpikir aku orang yang jahat sehingga tega
meninggalkan Polly—juga kusir kereta—serta
kudanya—di tempat seperti ini, kau salah be-
sar."
"Kau benar-benar anak kecil yang nakal
dan tidak sopan," kata Paman Andrew.
"Sstt!" kata si kusir kereta. Mereka semua
mendengarkan.
Dalam kegelapan, akhirnya sesuatu terjadi.
Sebuah suara mulai bernyanyi. Suaranya ter-

146
dengar jauh sekali dan Digory mendapati sulit
menentukan dari arah mana datangnya. Ter-
kadang suara itu seperti datang dari segala
arah sekaligus. Terkadang dia hampir mengira
suara itu keluar dari tanah di bawah mereka.
Nada-nada rendahnya cukup dalam untuk men-
jadi suara bumi itu sendiri. Tidak ada kata-
kata. Bahkan nyaris tidak ada nada. Tapi
suara itu, tak ada bandingannya, suara terindah
yang pernah dia dengar. Begitu indah sehingga
dia nyaris tidak tahan mendengarnya. Si kuda
tampaknya juga menyukai suara itu, hewan
tersebut mengeluarkan semacam ringkikan yang
bakal disuarakan semua kuda jika setelah ber-
tahun-tahun menjadi kuda kereta sewaan, dia
mendapati dirinya kembali berada di lapangan
luas tempatnya bermain semasa menjadi anak
kuda dulu, melihat seseorang yang diingat dan
dicintainya datang menyeberangi lapangan un-
tuk membawakan sebongkah gula.
"Wow!" kata si kusir kereta. "Indah sekali,
ya?"
Kemudian dua keajaiban terjadi di saat yang
bersamaan. Salah satunya adalah suara itu
tiba-tiba diikuti suara-suara lain, lebih banyak
suara daripada yang bisa kauhitung. Semua
suara baru itu berpadu harmonis dengan suara

147
pertama, tapi nada-nadanya lebih tinggi: suara-
suara dingin, menggelitik, keperakan. Keajaiban
kedua adalah kekelaman di atas, secara se-
kaligus, diterangi bintang-bintang. Bintang-
bintang itu tidak keluar perlahan dan satu per
satu, seperti yang biasa terjadi pada suatu
malam di musim panas. Pada suatu detik tidak
ada apa pun di sana kecuali kegelapan, di
detik berikutnya ribuan, ribuan titik cahaya
muncul keluar—bintang-bintang tunggal, konste-
lasi, dan planet-planet, lebih terang dan besar
daripada yang ada di dunia kita. Tidak ada
awan. Bintang-bintang baru dan suara-suara
baru itu dimulai pada saat yang bersamaan.
Kalau kau ikut melihat dan mendengarnya,
seperti yang dialami Digory, kau akan merasa
sangat yakin bintang-bintang itulah yang ber-
nyanyi, dan suara pertamalah, suara yang da-
lam tadi, yang membuat bintang-bintang itu
muncul dan bernyanyi.
"Luar biasa!" kata si kusir kereta. "Aku
akan jadi pria yang lebih baik sepanjang hidup-
ku kalau aku tahu ada yang seperti ini."
Suara di bumi kini semakin keras dan lan-
tang, tapi suara-suara di langit, setelah ber-
nyanyi keras bersamanya, mulai melemah. Dan
kini sesuatu yang lain sedang terjadi.

148
Jauh sekali, di bawah kaki langit, langit
mulai berubah warna menjadi abu-abu. Angin
kecil, sangat segar, mulai bertiup. Langit, di
satu tempat itu, perlahan tapi pasti memucat.
Kau bisa melihat sosok-sosok bukit berdiri
hitam membelakanginya. Sepanjang waktu itu
suara terus bernyanyi.
Tak lama kemudian ada cukup cahaya bagi
mereka untuk melihat wajah satu sama lain.
Mulut si kusir dan kedua anak itu terbuka
dan mata mereka bersinar, mereka menyerap
suara luar biasa itu, sepertinya suara tersebut
mengingatkan mereka akan sesuatu. Mulut Pa-
man Andrew juga terbuka, tapi bukan karena
kagum. Dia tampak seolah dagunya sekadar
terjatuh dari sisa wajahnya yang lain, bahunya
membungkuk dan lututnya gemetaran. Dia

149
tidak menyukai suara itu. Kalau dia bisa
menghindarinya dengan merangkak masuk ke
lubang tikus, dia pasti akan melakukan itu.
Tapi sang penyihir tampak, entah bagaimana,
paling memahami musik itu daripada siapa
pun di sana.
Mulutnya tertutup, bibirnya rapat, dan jema-
rinya erat tergenggam. Sejak lagu itu dimulai
dia telah merasa seluruh dunia ini dipenuhi
Sihir yang berbeda dengan miliknya dan lebih
kuat. Dia membenci ini. Dia akan menghancur-
kan seluruh dunia ini, atau semua dunia yang
ada, menjadi serpihan-serpihan, kalau tindakan
itu akan bisa menghentikan nyanyian tersebut.
Si kuda berdiri dengan kedua telinga tegak
dan berkedut-kedut. Sesekali hewan itu men-
dengus dan mengentakkan kaki ke tanah. Dia
tidak lagi kelihatan seperti kuda kereta sewaan
yang tua dan lelah, sekarang kau bisa amat
percaya ayahnya pernah memimpin pertem-
puran.
Langit timur berubah dari putih ke merah
muda, dan dari merah muda ke emas. Suara itu
naik dan naik, sampai seluruh udara bergetar
bersamanya. Dan ketika suara itu berkembang
menjadi suara paling kuat dan mulia yang
pernah diperdengarkan, sang mentari terbit.

150
Digory belum pernah melihat matahari seperti
itu. Matahari di atas reruntuhan Charn tampak
lebih tua daripada matahari dunia kita, yang
ini tampak lebih muda. Kau bisa membayang-
kan matahari itu tertawa bahagia saat terus
naik di langit. Dan ketika sinarnya menerangi
daratan, para penjelajah itu bisa melihat untuk
kali pertama tempat apa yang mereka kunjungi.
Sebuah lembah yang dibelah sungai lebar, deras,
dan mengalir ke timur menuju mentari. Di
sebelah selatan ada pegunungan, di sebelah
utara ada perbukitan yang lebih rendah. Tapi
lembah itu hanya terdiri atas tanah, batu, dan
air. Tidak ada pohon, sesemakan, tidak seba-
tang rumput pun yang terlihat. Tanahnya terdiri
atas banyak warna: segar, panas, dan tegas.
Tanahnya membuat kau merasa bersemangat,
sampai kau melihat si penyanyi itu sendiri,
setelahnya kau akan melupakan segalanya.
Si penyanyi adalah singa. Besar, berbulu le-
bat, dan bercahaya, hewan itu berdiri meng-
hadap matahari terbit. Mulutnya terbuka lebar
menyanyikan lagu dan dia berdiri sekitar tiga
ratus meter jauhnya.
"Ini dunia yang mengerikan," kata sang
penyihir. "Kita harus segera pergi. Siapkan
Sihir."

151
"Aku setuju denganmu, Madam," kata Pa-
man Andrew. "Tempat yang sangat tidak rae-
nyenangkan. Sama sekali tidak beradab. Kalau
saja aku lebih muda dan membawa senjata—"
"Astaga!" seru si kusir kereta. "Kau tidak
berpikir untuk menembaknya, kan?"
"Lagi pula siapa yang bisa berpikir begitu?"
kata Polly.
"Siapkan Sihir, pria tua bodoh," kata Jadis.
"Tentu saja, Madam," kata Paman Andrew
licik. "Aku harus membiarkan kedua anak ini
menyentuhku. Pakai cincin pulangmu segera,
Digory." Dia ingin pergi tanpa sang penyihir.
"Oh, jadi sihirmu cincin, ya?" teriak Jadis.
Dia bakal memasukkan tangannya ke saku
Digory sebelum kau bisa mengucapkan apa
pun, tapi Digory menarik Polly dan berseru:
"Awas. Kalau salah satu dari kalian bahkan
mendekat barang seinci pun, kami berdua akan
menghilang dan kalian akan ditinggalkan di
sini untuk selama-lamanya. Ya, aku punya
cincin di sakuku yang bisa membawaku dan
Polly pulang. Dan lihat! Tanganku siap meraih-
nya. Jadi jaga jarak kalian. Aku menyesal
dengan nasibmu," (dia melihat ke arah kusir
kereta) "dan kudamu, tapi tak ada yang bisa
kulakukan. Sedangkan kalian berdua," (dia me-

152
natap Paman Andrew dan sang ratu) "kalian
berdua kan penyihir, jadi kalian pasti bahagia
hidup bersama."
"Tahan suara kalian, semuanya," kata si
kusir. "Aku ingin mendengarkan musiknya."
Karena kini lagu telah berubah.

153
BAB 9

Membangkitkan Narnia

S ANG SINGA berderap maju dan mundur


di daratan kosong itu sambil menyanyikan
lagu barunya. Kali ini lebih halus dan bernada
daripada lagu yang dia gunakan untuk me-
manggil bintang dan matahari. Musiknya lem-
but dan mengalir. Dan saat dia berjalan sambil
bernyanyi, lembah menghijau karena rumput.
Rumput mengalir dari si singa seperti mata
air. Rumput menyapu sisi-sisi bukit seperti om-
bak. Dalam beberapa menit rumput merayapi
lereng-lereng rendah pegunungan yang jauh,
membuat dunia baru itu lebih lembut setiap
saat. Angin sepoi bisa didengar menggemeresik-
kan rerumputan. Tak lama kemudian ada benda
lain selain rumput. Lereng-lereng tinggi meng-
gelap karena sesemakan heather. Bongkahan
tumbuhan yang lebih kasar dan berperdu mun-

154
cul di lembah. Digory tidak tahu apa tumbuhan
itu sampai salah satunya mulai tumbuh di
dekatnya. Tumbuhan itu kecil dan berpaku-
paku, lusinan batangnya mencuat keluar, di-
tutupi daun, dan tumbuh semakin besar sekitar
satu inci setiap dua detik. Ada lusinan tum-
buhan ini di sekelilingnya sekarang. Ketika
tumbuhan-tumbuhan itu nyaris setinggi tubuh-
nya, Digory melihat apa sebenarnya benda-
benda tersebut. "Pohon!" dia berseru.
Yang menyebalkan, seperti yang Polly kata-
kan setelah itu, adalah kau tidak dibiarkan
dalam ketenangan untuk memerhatikan kejadian
ini. Tepat setelah Digory berkata, "Pohon!"
dia harus melompat karena Paman Andrew
telah menyelinap ke dekatnya lagi dan berniat
mencopet isi sakunya. Tindakan ini sebenarnya
tidak akan membantu Paman Andrew kalaupun
dia berhasil, karena pria itu mengincar saku
tangan kanan. Dia masih mengira cincin hijau
adalah cincin "pulang". Tapi tentu saja Digory
tidak mau kehilangan cincin itu juga.
"Stop!" teriak sang penyihir. "Mundur. Ti-
dak, lebih jauh lagi. Kalau ada yang bahkan
berdiri sejauh sepuluh langkah dari satu pun
anak itu, aku akan memecahkan kepalanya."
Dia mengacungkan batang besi yang telah di-

155
patahkan dari lampu tiang di tangannya, siap
melempar. Entah bagaimana tidak ada yang
ragu dia bakal melempar tepat sasaran.
"Jadi!" katanya lagi. "Kau berniat kabur ke
duniamu sendiri dengan anak itu dan mening-
galkanku di sini."
Emosi Paman Andrew akhirnya menguasai
rasa takutnya. "Ya, Ma'am, aku memang ber-
niat begitu," katanya. "Tentu saja aku berniat
begitu. Lagi pula ini hakku. Aku telah diper-
malukan dan diperlakukan dengan kejam. Aku
telah sebisanya berusaha menunjukkan sopan
santun. Dan apa balasanku? Kau telah meram-
pok—aku harus mengulang kata ini—meram-
pok toko perhiasan yang sangat terkenal. Kau
telah bersikeras supaya aku menghiburmu de-
ngan makan siang yang amat sangat mahal,
belum lagi mewah, walaupun aku jadi terpaksa
menggadaikan jam dan rantaiku untuk melaku-
kan itu (dan biar kuberitahu saja ya, Ma'am,
tidak seorang pun dari keluarga kami yang
punya kebiasaan mengunjungi toko pegadaian,
kecuali sepupuku Edward, dan dia berada di
Yeonmary). Selama santapan yang tak bisa
dicerna itu—aku merasakan pengaruhnya yang
terburuk tepat pada saat ini—perilaku dan
percakapanmu menarik perhatian yang tidak

156
diinginkan dari semua orang yang ada di sana.
Aku merasa telah dipermalukan secara publik.
Aku tidak akan bisa menunjukkan wajahku di
restoran itu lagi. Kau telah menyerang petugas
polisi. Kau telah mencuri—"
"Oh, diamlah, pria tua, kumohon diamlah,"
kata kusir kereta. "Lebih baik melihat dan
mendengar yang sedang terjadi sekarang. Jangan
bicara."
Dan memang banyak yang bisa dilihat dan
didengar saat itu. Pohon yang telah diperhati-
kan Digory kini sudah tumbuh menjadi pohon
beech dewasa yang cabang-cabangnya berayun
lembut di atas kepala anak itu. Mereka kini
berdiri di atas rumput hijau sejuk yang dihiasi
bunga daisy dan buttercup. Lebih jauh sedikit,
di sepanjang tepi sungai, pohon willow tumbuh.
Di sisi lain bermunculan bunga-bunga currant,
lilac, mawar liar yang tumbuh saling melilit,
dan dipagari sesemakan rhododendron. Si kuda
mencabik sejumput rumput segar yang lezat.
Sepanjang waktu itu lagu terus berlanjut
dan sang singa bergerak anggun, mondar-
mandir, berjalan maju-mundur. Yang agak
mengancam adalah pada setiap belokan dia
kian mendekat. Polly mendapati lagu itu men-
jadi semakin menarik karena dia pikir dia

157
mulai bisa melihat hubungan antara musik itu
dan berbagai hal yang sedang terjadi. Ketika
sederet pohon fir gelap muncul pada tebing
sekitar seratus meter dari mereka, dia merasa
pohon-pohon fir itu berhubungan dengan seseri
nada dalam dan panjang yang dinyanyikan
sang singa sedetik lalu. Dan ketika dia me-
nyuarakan satu deret nada cepat yang lebih
ringan, Polly tidak terkejut melihat tumbuhan
primroses mendadak muncul di setiap arah.
Kemudian dengan rasa gembira yang tidak
terkatakan, dia merasa sangat yakin semua
benda itu (menggunakan istilahnya) "keluar
dari kepala sang singa". Kalau kau menyimak
lagunya, kau akan mendengar benda-benda

158
yang sedang dibuatnya, saat melihat ke sekeli-
lingmu kau akan melihat semua itu. Penga-
laman ini begitu menarik sehingga Polly tidak
punya waktu untuk merasa takut. Tapi Digory
dan si kusir kereta tidak bisa mencegah diri
mereka merasa agak gugup karena setiap be-
lokan membuat sang singa semakin dekat de-
ngan mereka. Sedangkan Paman Andrew, gigi-
nya bergemeletuk, tapi lutut kakinya gemetaran
hebat sehingga dia tidak bisa melarikan diri.
Mendadak sang penyihir melangkah berani
menuju sang singa. Hewan itu berjalan men-
dekat, masih sambil bernyanyi, dengan langkah
lambat dan berat. Kini dia hanya dua belas
meter jauhnya. Sang penyihir mengangkat ta-
ngannya dan mengayunkan batang besi itu
langsung ke kepala si singa.
Tidak ada seorang pun, apalagi Jadis, yang
bakal luput mengenai sasaran pada jarak itu.
Batang besi itu menghantam sang singa tepat
di antara kedua matanya. Besinya mental dan
jatuh berdebum di rerumputan. Sang singa
terus berjalan. Langkahnya tidaklah lebih lam-
bat ataupun lebih cepat daripada sebelumnya,
kau bakal tidak bisa menebak apakah dia
bahkan menyadari dia sudah terkena pukulan.
Walaupun langkah-langkah lembutnya tidak

159
membuat suara, kau bisa merasakan bumi ber-
getar di bawah tekanan beratnya.
Sang penyihir memekik dan lari, dalam be-
berapa detik kemudian dia menghilang di
antara pepohonan. Paman Andrew berbalik
untuk melakukan hal yang sama, tersandung
akar, terjatuh dan mendarat dengan wajahnya
di aliran sungai kecil yang mengalir menuju
sungai besar. Digory dan Polly tidak bisa ber-
gerak. Mereka bahkan tidak yakin mereka
ingin melakukan itu. Sang singa tidak meng-
acuhkan mereka. Mulut besar merahnya ter-
buka, tapi untuk menyuarakan lagu, bukan
untuk menunjukkan seringaian. Hewan itu me-
lewati mereka begitu dekat sehingga mereka
bisa saja menyentuh surainya. Mereka takut
sekali sang singa akan menoleh dan menatap
mereka, namun anehnya mereka juga berharap
dia melakukan itu. Tapi bila melihat besarnya
perhatian yang dia berikan kepada Digory dan
Polly, mereka seolah tidak kasat mata dan
tidak berbau. Ketika lewat dan berjalan be-
berapa langkah menjauhi mereka, sang singa
berbelok, melewati mereka lagi, lalu melanjut-
kan langkahnya ke arah timur.
Paman Andrew berusaha berdiri sambil ter-
batuk-batuk dan megap-megap.

160
"Nah, Digory," katanya, "kita telah menying-
kirkan wanita itu, singa ganas itu juga sudah
pergi. Ulurkan tanganmu dan pakai cincinmu
segera."
"Jangan sentuh aku," kata Digory, berjalan
mundur menjauhinya. "Menyingkirlah darinya,
Polly. Mendekatlah ke sini. Aku memperingat-
kanmu, Paman Andrew, jangan mendekat ba-
rang selangkah pun, atau kami akan menghi-
lang."
"Lakukan yang sudah kuperintahkan kepada-
mu, Sir," kata Paman Andrew. "Kau benar-
benar anak kecil yang sangat tidak patuh dan
luar biasa bandel."
"Jangan takut," kata Digory. "Kami ingin
tinggal dan melihat apa yang terjadi. Lagi
pula bukankah kau ingin tahu tentang dunia-
dunia lain? Tidakkah kau bahagia akhirnya
bisa berada di sini?"
"Bahagia!" seru Paman Andrew. "Lihat saja
keadaanku sekarang. Dan ini jas juga rompi
terbaikku." Paman Andrew memang peman-
dangan yang menyedihkan saat ini. Karena
tentu saja, semakin rapi kau pada awalnya,
semakin buruk penampilanmu setelah kau me-
rangkak keluar dari kereta sewaan yang luluh
lantak dan terjatuh ke dalam sungai kecil

161
berlumpur. "Bukannya aku berkata," dia me-
nambahkan, "tempat ini sama sekali tidak me-
narik. Kalau aku pria yang lebih muda, beda
lagi—mungkin aku akan menyuruh pemuda-
pemuda bersemangat untuk pergi lebih dulu
ke sini. Sejenis pemburu-pemburu profesional
itu. Sesuatu mungkin bisa diusahakan di negeri
ini. Cuacanya menyenangkan sekali. Aku belum
pernah merasakan udara seperti ini. Aku yakin
udara seperti ini akan berakibat baik buatku
jika—jika saja keadaannya lebih menguntung-
kan. Kalau saja aku membawa senjata."
"Senjata tidak ada gunanya," kata si kusir
kereta. "Kurasa aku akan pergi dan melihat
apakah aku bisa menggosok tubuh Strawberry.
Kuda itu lebih punya akal sehat daripada
beberapa manusia yang bisa kusebutkan." Dia
berjalan menghampiri Strawberry dan mulai
mengeluarkan suara berdesis yang biasa disuara-
kan tukang kuda.
"Kau masih berpikir singa itu bisa dibunuh
dengan senjata?" tanya Digory. "Dia tidak
terlalu memedulikan pukulan batang besi Jadis."
"Dari semua kesalahannya," kata Paman
Andrew, "itu tindakan yang paling berani,
anakku. Benar-benar tindakan yang penuh nya-
li." Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya

162
dan meregangkan buku-buku jari, seolah sekali
lagi dia lupa betapa sang penyihir membuatnya
takut setiap kali wanita itu benar-benar berada
di dekatnya.
"Itu tindakan kejam," kata Polly. "Kejahatan
apa yang telah singa itu lakukan padanya?"
"Wah! Apa itu?" tanya Digory. Dia bergegas
memeriksa sesuatu yang berada hanya beberapa
meter di depannya. "Astaga, Polly," dia ber-
teriak ke belakang. "Cepat ke sini dan lihat."
Paman Andrew datang bersama Polly, bukan
karena dia juga ingin melihat, tapi karena
ingin tetap berada di dekat kedua anak itu—
mungkin ada kesempatan baginya untuk men-
curi cincin-cincin mereka. Tapi ketika melihat
apa yang diperhatikan Digory, minatnya pun
mulai tergugah. Benda itu model kecil sempurna
lampu tiang, tingginya sekitar satu meter tapi
semakin panjang dan tebal saat mereka meng-
awasinya. Bahkan lampu tiang pun tumbuh
seperti pepohonan tadi.
"Lampu ini juga hidup—maksudku, lampu-
nya menyala," kata Digory. Dan memang benar
begitu, walau tentu saja terangnya sinar mata-
hari membuat api kecil di dalam lenteranya
sulit dilihat kecuali ketika ada bayangan yang
menutupinya.

163
"Menakjubkan, menakjubkan sekali," gumam
Paman Andrew. "Bahkan aku tidak pernah
memimpikan Sihir seperti ini. Kita berada di
dunia di mana segalanya, bahkan lampu tiang,
menjadi hidup dan bertumbuh. Sekarang aku
jadi ingin tahu bibit macam apa lampu tiang
berasal?"
"Tidakkah kau sadar?" tanya Digory. "Di
sinilah batang besi tadi jatuh—batang besi yang
dipatahkan Jadis dari lampu tiang di rumah
kita. Batang itu tenggelam ke dalam tanah
dan kini dia tumbuh menjadi lampu tiang
muda." (Tapi tidak terlalu muda lagi sekarang,
karena saat Digory mengucapkan ini kini lampu
tiang tersebut sudah setinggi anak itu.)
"Benar juga! Luar biasa, luar biasa," kata
Paman Andrew, menggosok tangannya lebih
keras daripada kapan pun. "Ho ho! Mereka
telah menertawakan Sihir-ku. Kakak perempuan
bodohku itu menganggapku gila. Kira-kira apa
yang akan mereka katakan sekarang? Aku telah
menemukan dunia di mana segalanya muncul
penuh kehidupan dan pertumbuhan. Columbus,
ya mereka selalu membicarakan Columbus. Tapi
apalah Amerika dibandingkan ini? Kemung-
kinan perdagangan dalam negeri ini tidak ter-
batas. Bawa beberapa bagian kecil besi tua ke

164
sini, tanam, dan semuanya akan muncul kem-
bali sebagai mesin-mesin kereta baru, kapal
perang, apa pun yang kauinginkan. Tanpa me-
ngeluarkan biaya sepeser pun, dan aku bisa
menjualnya dengan harga penuh di Inggris.
Aku akan jadi jutawan. Kemudian iklim di
sini! Belum-belum aku sudah merasa lebih
muda. Aku bisa menjadikan tempat ini sebagai
tempat pemulihan kesehatan. Sanatorium yang
bagus di sini mungkin bisa berharga dua puluh
ribu setahun. Tentu saja aku jadi harus mem-
biarkan beberapa orang tahu rahasia dunia
lain ini. Tapi hal pertama yang harus dilakukan
adalah menembak si singa."
"Kau sama saja dengan sang penyihir," kata
Polly. "Yang kalian pikirkan hanyalah bagai-
mana cara membunuh makhluk lain."
"Kemudian untuk keuntungan pribadiku,"
Paman Andrew melanjutkan mimpi bahagianya,
"tidak ada yang bisa memastikan berapa lama
aku bisa hidup bila aku menetap di sini. Dan
ini pertimbangan penting kalau seseorang telah
mencapai usia enam puluh tahun. Aku tidak
akan terkejut bila aku tidak pernah menua
barang sehari pun di negeri ini! Luar biasa!
Tanah Kebeliaan!"
"Oh!" seru Digory. "Tanah Kebeliaan! Apa-

165
kah menurutmu tempat ini benar-benar Tanah
Kebeliaan?" Karena tentu saja dia ingat kata-
kata Bibi Letty kepada wanita yang membawa-
kan mereka anggur. Harapan manis itu pun
kembali mengaliri tubuhnya. "Paman Andrew,"
katanya, "apakah menurutku ada sesuatu di
sini yang bisa menyembuhkan Ibu?"
"Kau ini sedang bicara apa?" tanya Paman
Andrew. "Tempat ini kan bukan toko obat.
Tapi seperti yang kukatakan tadi—"
"Kau tidak sedikit pun peduli padanya,"
bentak Digory. "Kukira kau akan peduli, ka-
rena bagaimana pun selain ibuku dia juga
saudaramu. Yah, tidak masalah. Lebih baik
aku bertanya pada sang singa sendiri, siapa
tahu dia bisa menolongku." Lalu Digory ber-
balik dan berjalan cepat menjauhi yang lain.
Polly menunggu sebentar kemudian mengejar-
nya.
"Hei! Stop! Kembali! Anak itu sudah gila,"
kata Paman Andrew. Dia mengikuti kedua anak
itu dengan jarak aman di belakang mereka,
karena dia tidak mau berada terlalu jauh dari
cincin hijau dan tidak mau terlalu dekat dengan
sang singa.
Dalam beberapa menit, Digory tiba di ujung
hutan dan dia berhenti di sana. Sang singa

166
masih bernyanyi. Tapi kini lagunya sekali lagi
berganti. Lagunya kini lebih terdengar seperti
yang biasa kita sebut nada, tapi juga jauh
lebih liar. Suaranya membuatmu ingin berlari,
melompat, dan memanjat. Membuatmu ingin
berteriak. Membuatmu ingin segera mengham-
piri orang lain lalu memeluk atau berkelahi
dengan orang itu. Lagunya membuat wajah
Digory merah dan panas. Lagu itu juga me-
mengaruhi Paman Andrew karena Digory bisa
mendengarnya berkata, "Wanita yang penuh
semangat, Sir. Sayangnya dia tidak bisa mengen-
dalikan emosi, tapi tetap saja dia wanita yang
cantik sekali, cantik luar biasa." Tapi pengaruh
lagu sang singa pada kedua manusia itu tidak
ada apa-apanya dibandingkan pengaruhnya
pada negeri tersebut.
Bisakah kau membayangkan sebidang tanah
berumput menggelegak seperti air dalam panci?
Karena itulah deskripsi paling tepat untuk
menggambarkan apa yang sedang terjadi. Dari
segala arah daratan menggembung menjadi gun-
dukan. Gundukan-gundukan itu berbeda
ukurannya, beberapa tidak lebih besar daripada
bukit tikus tanah, beberapa sebesar gerobak
berkebun, dua sebesar rumah peristirahatan.
Dan gundukan-gundukan itu bergerak dan

167
membengkak hingga meledak, reruntuhan tanah
tumpah keluar dan dari tiap
gundukan muncul seekor hewan.
Tikus tanah-tikus tanah keluar
dari tanah tepat seperti yang
biasa mereka lakukan di Inggris.
Anjing-anjing muncul, menggonggong begitu
kepala mereka bebas, kemudian bergulat seperti
yang biasa kaulihat mereka lakukan ketika
berusaha melewati lubang sempit di pagar.
Rusa-rusa jantan adalah pemandangan yang
paling aneh, karena tentu saja tanduk mereka
muncul jauh lebih dahulu daripada sisa tubuh
mereka, jadi awalnya Digory mengira mereka
pepohonan. Katak-katak, yang semuanya mun-
cul di dekat sungai, langsung menuju ke dalam-
nya bersama suara plop-plop dan korekan
keras. Macam kumbang, macan tutul, dan

168
hewan sejenisnya, langsung duduk untuk mem-
bersihkan sisa-sisa tanah dari bokong mereka
kemudian berdiri di depan pohon untuk menga-
sah cakar-cakar depan mereka. Hujan burung
keluar dari pepohonan. Sekelompok kupu-kupu
beterbangan. Para lebah per-
gi bekerja pada bunga-bunga
seolah mereka tidak mau
membuang waktu.
Tapi momen terhebat di antara semuanya
adalah ketika gundukan terbesar membelah se-
perti gempa bumi kecil dan keluar dari dalam-
nya punggung curam, kepala besar dan bijak,
lalu empat kaki berkulit longgar seekor gajah.
Dan kini kau nyaris tidak bisa mendengar
nyanyian sang singa. Terlalu banyak kaokan,
kukukan, embikan, ringkikan, lolongan, gong-
gongan, lenguhan, erangan, dan terompet belalai.

169
Tapi walaupun tidak lagi bisa mendengar
suara sang singa, Digory masih bisa melihatnya.
Hewan itu begitu besar dan bersinar sehingga
dia tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Hewan-hewan lain tidak tampak takut padanya.
Bahkan tepat pada saat itu, Digory mendengar
suara derap kaki dari belakang, dan tak berapa
lama kemudian kuda tua kereta sewaan berlari
melewatinya dan bergabung dengan hewan-
hewan lain. (Udara di negeri itu tampaknya
cocok baginya seperti kepada Paman Andrew.
Dia tidak lagi kelihatan bagaikan budak tua
yang malang seperti dulu di London. Kakinya
terangkat mantap dan kepalanya mendongak
tegak.) Dan kini, untuk pertama kalinya sang
singa diam. Dia berjalan mondar-mandir di
antara hewan-hewan.
Dan sesekali dia akan menghampiri dua ekor
di setiap jenis hewan (selalu dua sekaligus)
dan menyentuh hidung mereka dengan hidung-
nya. Dia akan menyentuh dua berang-berang
di antara semua berang-berang, dua macan
tutul di antara semua macan tutul, satu rusa
jantan dan satu rusa betina di antara rusa-
rusa, dan tidak mengacuhkan sisanya. Beberapa
jenis hewan dilewatinya. Tapi pasangan yang
telah disentuhnya langsung meninggalkan

170
teman-teman sebangsa mereka dan mengikuti-
nya.
Akhirnya sang singa berdiri diam dan semua
makhluk yang telah dia sentuh datang dan
berdiri membentuk lingkaran besar mengelilingi-
nya. Hewan-hewan lain yang tidak disentuhnya
mulai berjalan pergi. Suara-suara mereka per-
lahan menghilang diteian jarak. Para hewan
pilihan yang tertinggal, kini tidak bersuara
sama sekali, semua mata mereka terpaku lekat
pada sang singa. Para hewan sejenis kucing
terkadang menggerakkan ekor mereka, tapi se-
lain itu semua bergeming. Untuk pertama kali-
nya di hari itu yang ada hanyalah keheningan
total, yang terdengar cuma suara aliran air.
Jantung Digory berdetak kencang, dia tahu
sesuatu yang sangat penting akan terjadi. Sesaat

171
dia lupa tentang ibunya, tapi dia sangat tahu
dia tidak bisa mengganggu sesuatu yang se-
penting ini, bahkan demi ibunya.
Sang singa, yang matanya tidak pernah ber-
kedip, menatap para hewan begitu tegas seolah
dia hendak membakar mereka hanya dengan
pandangan. Dan akhirnya suatu perubahan ter-
jadi pada diri mereka. Hewan-hewan yang
kecil—kelinci, tikus tanah, dan sejenisnya—
tumbuh menjadi lebih besar. Hewan-hewan
yang sangat besar—kau akan paling menyadari-
nya pada gajah-gajah—mengecil. Banyak hewan
yang duduk pada kaki belakang mereka. Se-
bagian besar meletakkan kepalanya ke salah
satu sisi, seolah mereka berusaha keras mema-
hami sesuatu. Sang singa membuka mulutnya,
tapi tak ada suara keluar dari dalam sana.
Dia mengembuskan napas panjang dan hangat
yang seolah menyapu semua hewan seperti
angin menyapu deretan pohon. Jauh di atas,
di balik lapisan langit biru yang menutupi,
bintang-bintang bernyanyi lagi: musiknya murni,
dingin, dan sulit. Kemudian datanglah kilatan
cepat seperti api (tapi kilat itu tidak membakar
siapa pun) entah dari langit atau dari sang
singa sendiri. Lalu setiap tetes darah dalam
tubuh kedua anak itu tergelitik ketika suara

172
yang paling dalam dan liar yang pernah mereka
dengar berkata:
"Narnia, Narnia, Narnia, bangkidah. Cintai.
Pikir. Bicara. Jadilah pohon-pohon yang ber-
jalan. Jadilah hewan-hewan yang bicara. Jadilah
air yang mulia."

173
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

BAB 10

Lelucon Pertama
dan Hal-hal Lain

T ENTU saja itu suara sang singa. Kedua


anak itu telah lama yakin dia bisa bicara,
tapi tetap saja menjadi kejutan yang indah
dan hebat ketika dia melakukannya.
Keluar dari pepohonan, orang-orang liar ber-
jalan maju, begitu juga para dewa dan dewi
hutan. Bersama mereka datang juga faun, satyr
(=manusia bertanduk, bertelinga, berbuntut, dan
berkaki seperti kambing), dan dwarf. Dari su-
ngai muncul keluar dewa sungai bersama putri-
putri naiad-nya. Lalu semua makhluk itu, para
hewan, juga burung dengan suara masing-
masing yang beragam, rendah, tinggi, tebal,
atau jelas, menjawab:
"Hormat pada Aslan. Kami dengar dan pa-
tuh. Kami bangkit. Kami mencintai. Kami ber-
pikir. Kami bicara. Kami tahu."

174
"Tapi maaf, kami belum tahu terlalu ba-
nyak," kata suara yang agak nyaring dan
penuh dengusan. Dan ini benar-benar mem-
buat kedua anak itu melompat saking terkejut-
nya, ternyata kuda kereta sewaan itulah yang
bicara.
"Strawberry memang hebat," kata Polly.
"Aku sungguh lega dia menjadi salah satu
hewan yang dipilih menjadi Hewan yang Bisa
Berbicara." Dan si kusir kereta, yang kini
berdiri di samping kedua anak itu, berkata,
"Ini mustahil. Tapi aku memang selalu bilang
kuda itu punya akal panjang."
"Para makhluk, aku memberi kalian diri
kalian," kata suara Aslan yang kuat dan gem-
bira. "Aku memberi kalian selamanya tanah
Narnia ini. Aku memberi kalian hutan, buah-
buahan, sungai. Aku memberi kalian bintang-
bintang dan aku memberi kalian diriku sendiri.
Para hewan bodoh yang tidak kupilih juga
milik kalian. Perlakukan mereka dengan lembut
dan hargai mereka, tapi janganlah berbalik
mengikuti mereka karena dengan begitu kalian
tidak lagi akan menjadi Hewan yang Bisa
Berbicara. Karena kalian telah dikeluarkan dari
kaum mereka, kalian akan bisa kembali men-
jadi bagian mereka. Hindari itu."

175
"Tidak, Aslan, kami tidak akan kembali,
tidak akan," kata semua orang. Tapi burung
Jackdaw yang bersemangat menambahkan de-
ngan suara keras, "Jangan khawatir!" sedang-
kan semua makhluk sudah selesai berkata-kata
tepat sebelum dia mengucapkan ini. Kata-kata-
nya pun terdengar sangat jelas dalam ke-
heningan, dan mungkin kau pernah mendapati
betapa memalukannya kejadian ini—misalnya
saja, di suatu pesta. Jackdaw itu menjadi begitu
malu sehingga dia menyembunyikan kepala di
bawah sayap-sayapnya seolah hendak pergi
tidur. Dan semua hewan lain mulai mengeluar-
kan berbagai suara aneh yang adalah cara
tertawa masing-masing. Suara-suara yang tentu
saja belum pernah terdengar di dunia kita.
Awalnya mereka berusaha menahannya, tapi
kemudian Aslan berkata:
"Tertawalah dan jangan cemas, para makhluk.
Kini kalian tidak lagi bodoh dan tanpa pikiran,
kalian tidak perlu selalu bersedih. Karena
lelucon, seperti juga keadilan, datang bersama
kata-kata."
Jadi mereka semua tidak lagi menahan diri.
Dan suasana menjadi begitu ceria sehingga
Jackdaw itu sendiri mengumpulkan kembali
keberaniannya dan bertengger pada kepala kuda

176
kereta sewaan, di antara kedua telinganya,
mengepak-ngepakkan sayap, lalu berkata:
"Aslan! Aslan! Apakah aku telah mencipta-
kan lelucon pertama? Apakah semua makhluk
akan diberitahu akulah yang membuat lelucon
pertama itu?"

"Tidak, teman kecilku," kata sang singa.


"Kau belumlah menciptakan lelucon pertama,
kau hanya menjadi lelucon pertama." Kemudian
semua makhluk tertawa lebih keras, tapi
Jackdaw tidaklah keberatan dan ikut tertawa
sama kerasnya hingga si kuda menggoyangkan
kepala. Jackdaw pun kehilangan keseimbangan

177
dan terjatuh. Tapi kemudian dia teringat pada
sayapnya (sayap-sayap ini memang masih baru
baginya) sebelum dia mencapai tanah.
"Dan sekarang," kata Aslan, "Narnia telah
didirikan. Selanjutnya kita harus memikirkan
cara menjaganya. Aku akan memanggil se-
bagian dari kalian untuk rapat bersamaku.
Mendekatlah kepadaku, kau pemimpin bangsa
Dwarf, kau Dewa Sungai, kau Roh Pohon Ek,
dan Burung Hantu jantan, juga kedua gagak
hitam, dan gajah jantan. Kita harus berjalan
bersama. Karena walaupun dunia ini baru ber-
usia lima jam, kejahatan telah memasukinya."

178
Para makhluk yang dia sebut namanya maju
dan dia melangkah ke timur bersama mereka.
Makhluk-makhluk yang lain mulai berbicara,
mengucapkan kata-kata seperti, "Apa yang
katanya telah memasuki dunia kita?—ke-
bahatan—Apa itu kebahatan?—Bukan, dia tidak
bilang kebahatan, dia bilang kegahatan—Tapi
apa itu?"
"Begini," kata Digory kepada Polly. "Aku
harus mengejarnya—Aslan, maksudku, sang
singa. Aku harus bicara padanya."
"Menurutmu kita bisa melakukan itu?" tanya
Polly. "Aku tidak akan berani."
"Aku harus melakukannya," kata Digory.
"Ini berhubungan dengan ibuku. Kalau ada
seseorang yang bisa memberiku sesuatu yang
bisa menyembuhkan ibuku, dialah orangnya."
"Aku akan menemanimu," kata si kusir ke-
reta. "Aku menyukai tampangnya. Lagi pula
kurasa hewan-hewan lain ini tidak akan mau
pergi demi kita. Aku juga mau berbicara de-
ngan Strawberry."
Jadi ketiga orang itu melangkah penuh ke-
beranian—setidaknya dengan sebanyak mungkin
keberanian yang bisa mereka kumpulkan—me-
nuju rapat para makhluk Narnia. Para makhluk
itu sibuk bercakap dan berkenalan sehingga

179
tidak memerhatikan kehadiran tiga manusia
sampai mereka berada sangat dekat. Para
makhluk itu juga tidak mendengar Paman
Andrew, yang berdiri gemetaran dengan sepatu
berkancingnya cukup jauh dari sana, berteriak
(tentu saja dengan suaranya yang sekeras mung-
kin):
"Digory! Kembali! Cepat patuhi perintahku
dan kembali ke sini! Aku melarangmu melang-
kah lebih jauh lagi."
Ketika akhirnya mereka tepat berada di
antara hewan-hewan itu, para hewan berhenti
bicara dan menatap mereka.
"Wah?" kata Berang-berang jantan akhirnya.
"Demi nama Aslan, makhluk apa ini?"
"Aku mohon," kata Digory memulai dengan
suara yang agak tertahan, ketika Kelinci ber-
kata, "Menurutku, mereka sejenis selada besar."
"Bukan, kami bukan selada, sungguh," kata
Polly cepat-cepat. "Kami sama sekali tidak
enak dimakan."
"Wow!" kata Tikus Tanah. "Mereka bisa
bicara. Siapa yang pernah dengar selada yang
bisa bicara?"
"Mungkin mereka lelucon kedua," usul
Jackdaw.
Macan Kumbang, yang sedang mencuci

180
muka, berhenti sesaat untuk berkata, "Yah,
kalaupun itu memang benar, mereka tidaklah
selucu lelucon yang pertama. Setidaknya, aku
tidak melihat ada yang lucu pada diri mereka."
Macan Kumbang itu menguap dan meneruskan
cuci mukanya.
"Oh, aku mohon," kata Digory. "Aku se-
dang terburu-buru. Aku ingin bertemu sang
singa."
Sepanjang waktu Digory berkata-kata, si ku-
sir kereta berusaha menangkap pandangan
Strawberry. Sekarang dia berhasil. "Nah, Straw-
berry, teman lama," dia berkata. "Kau kenal
aku, kan? Kau tidak akan berdiri di sana dan
berkata kau tidak mengenaliku, kan?"
"Apa yang makhluk itu bicarakan, Kuda?"
kata beberapa suara.
"Yah," kata Strawberry sangat perlahan.
"Aku juga tidak terlalu mengerti. Karena me-
nurutku sebagian besar dari kita belum tahu
banyak. Tapi aku punya semacam bayangan
aku pernah melihat makhluk seperti ini se-
belumnya. Aku punya perasaan aku pernah
tinggal di tempat lain—atau sebagai sesuatu
yang lain—sebelum Aslan membangunkan kita
semua beberapa menit lalu. Semuanya sangat
membingungkan. Seperti mimpi. Tapi ada be-

181
berapa makhluk lain seperti tiga makhluk ini
dalam mimpi itu."
"Apa?" apa si kusir kereta. "Kau tidak
mengenaliku? Aku yang biasa membawakan
pakan hangat di sore hari ketika kau kelelahan?
Aku yang selalu menggosokmu dengan layak?
Aku yang tidak pernah lupa menyelimutimu
kala kau berdiri di tengah cuaca dingin? Aku
tidak menyangka kau bisa begitu tega, Straw-
berry."
"Ingatanku akhirnya mulai kembali," kata
Kuda mengingat-ingat. "Ya. Tunggu sebentar,
biarkan aku mengingatnya. Ya, kau selalu
mengikat benda hitam mengerikan di belakang-
ku lalu memukulku supaya aku berlari, dan
betapapun jauhnya aku berlari, benda hitam
itu akan selalu mengikuti di belakangku dengan
suara berisik."
"Kita kan harus bekerja agar bisa terus
hidup," kata si kusir. "Pekerjaanku sama berat-
nya dengan pekerjaanmu. Dan kalau tidak ada
kerja dan cambukan, tidak akan ada istal,
jerami, pakan, dan gandum. Karena kau selalu
mendapat jatah gandum setiap kali aku mampu
membelinya, kau harus mengakui itu."
"Gandum?" tanya Kuda, telinganya berdiri.
"Ya, aku ingat sedikit tentang itu. Ya, aku

182
ingat lebih banyak sekarang. Kau selalu duduk
di suatu tempat tinggi di belakang, dan akulah
yang selalu berlari di depan, menarikmu dan
benda hitam itu. Aku tahu aku yang melakukan
semua pekerjaan."
"Di musim panas, memang berat pekerjaan-
mu," kata si kusir. "Bekerja dalam udara panas
untukmu dan tempat duduk sejuk untukku.
Tapi bagaimana dengan musim dingin, teman
lama, ketika kau menjaga tubuhmu tetap ha-
ngat dan aku duduk di kursi kusir dengan
kakiku terasa seperti es, hidungku terus-menerus
seperti dicubit angin dingin, dan tanganku mati
rasa sehingga aku nyaris tidak bisa memegang
tali kendali?"
"Negeri itu keras dan kejam," kata Straw-
berry. "Tidak ada rumput. Semua batu keras."
"Benar sekali, sobat, benar sekali!" kata si
kusir. "Dunia itu memang dunia yang keras.
Aku selalu berkata batu-batu jalanan itu tidak
adil bagi para kuda. London memang begitu.
Seperti dirimu, aku juga tidak terlalu menyukai-
nya. Kau kuda desa, dan aku orang desa.
Dulu aku biasa bernyanyi dalam kor, ya
sungguh, waktu di kampung halaman. Tapi
tidak ada penghasilan bagiku di sana."
"Oh, ayolah, aku mohon," kata Digory.

183
"Bisakah kita lanjutkan perjalanan? Sang singa
semakin menjauh saja. Dan aku amat sangat
ingin bicara dengannya."
"Begini, Strawberry," kata si kusir. "Ada
sesuatu yang ingin dibicarakan tuan muda ini
dengan sang singa, dia yang kaupanggil Aslan
itu. Mungkinkah kau membiarkannya mengen-
daraimu (yang kurasa akan dilakukannya de-
ngan lembut) dan bawa dia ke sana, ke tempat
sang singa berada? Aku dan gadis kecil ini
akan mengikuti di belakang."
"Mengendaraiku?" tanya Strawberry. "Oh,
aku ingat sekarang. Itu berarti membiarkannya
duduk di punggungku. Aku ingat dulu sekali
ada makhluk kecil seperti kalian yang berkaki
dua yang biasa melakukan itu. Dia biasa punya
bongkahan kecil, keras, dan berwarna putih
yang akan diberikannya padaku. Rasanya—oh,
lezat sekali, lebih manis daripada rumput."
"Ah, benda itu pasti gula," kata si kusir.
"Aku mohon, Strawberry," Digory memohon,
"kumohon, biarkan aku naik dan bawalah
aku ke Aslan."
"Yah, aku sih tidak keberatan," kata Kuda.
"Bisa dibilang tidak sama sekali. Ayo naik."
"Strawberry kau memang teman lama," kata
si kusir. "Ayo, Nak, aku akan membantumu."

184
Tak lama kemudian Digory telah berada di
punggung Strawberry dan merasa cukup nya-
man, karena dia sudah pernah mengendarai
kuda tanpa pelana sebelumnya dengan kuda
poninya.
"Sekarang, bisakah kita cepat-cepat, Straw-
berry?" tanyanya.
"Apakah ada kemungkinan kau kebetulan
membawa benda putih yang lezat itu?" tanya
Kuda.
"Tidak. Sayangnya tidak," jawab Digory.
"Yah, mau bagaimana lagi?" kata Straw-
berry dan berangkatlah mereka.
Pada saat itu, bulldog besar yang sejak tadi
mengendus dan menatap sangat tajam, berkata:
"Lihat! Ternyata ada satu lagi makhluk aneh
ini—di sana, di samping sungai, di bawah
pepohonan."
Kemudian semua hewan menoleh dan melihat
Paman Andrew, berdiri bergeming di antara
sesemakan rhododendron dan berharap ke-
hadirannya tidak akan diketahui.
"Ayo!" kata beberapa suara. "Ayo kita ke
sana dan melihatnya." Jadi, sementara Straw-
berry berlari cepat bersama Digory ke arah
lain (Polly dan si kusir kereta mengikuti mereka
dengan berjalan kaki) sebagian besar makhluk

185
bergegas menghampiri Paman Andrew dengan
auman, gonggongan, geraman, dan berbagai
suara ceria penuh minat.
Kita harus mundur sedikit dan menjelaskan
bagaimana seluruh kejadian ini tampak dari
sudut pandang Paman Andrew. Paman Andrew
sama sekali mengalami kesan yang berbeda
dengan kesan yang dirasakan si kusir kereta,
Digory, juga Polly. Karena apa yang kaulihat
dan dengar amat sangat bergantung pada di
mana posisimu, juga tergantung pada orang
yang bagaimanakah dirimu.
Sejak hewan-hewan itu pertama kali muncul,
Paman Andrew kian mengerut dan masuk ke
sesemakan. Dia mengawasi mereka lekat-lekat
tentu saja, tapi dia tidak terlalu tertarik melihat
apa yang sedang mereka lakukan, lebih untuk
melihat apakah mereka akan menyerangnya.
Seperti sang penyihir, Paman Andrew luar biasa
praktis. Dia bahkan tidak menyadari Aslan
memilih satu pasang dari setiap jenis hewan.
Yang dia lihat hanyalah, atau setidaknya yang
dia pikir dia lihat, ada banyak hewan liar
berbahaya yang berkeliaran. Dan dia terus
bertanya-tanya kenapa hewan-hewan yang lain
tidak melarikan diri dari singa besar itu.
Ketika momen besar tiba dan para makhluk

186
berbicara, dia kehilangan keseluruhan inti pen-
ting, karena alasan yang agak menarik. Ketika
sang singa pertama kali mulai bernyanyi, dulu
sekali ketika negeri ini masih sangat gelap, dia
telah menyadari suara itu sebuah lagu. Dan
dia amat tidak menyukai lagu itu. Lagu itu
membuatnya memikirkan dan merasakan hal-
hal yang tidak ingin dia pikir dan rasakan.
Kemudian ketika matahari terbit dan dia me-
lihat sang singalah penyanyinya ("hanya singa,"
seperti katanya pada dirinya sendiri), dia ber-
usaha keras percaya suara itu bukan nyanyian
dan memang tidak pernah jadi nyanyian—
hanya auman seperti yang akan dikeluarkan
singa mana pun di kebun bintang dunia kita.
Tentu saja tidak mungkin itu nyanyian, pikir-
nya, aku pasti hanya mengkhayalkannya. Aku
membiarkan saraf-sarafku tidak terkendali.
Siapa yang pernah mendengar singa menyanyi?
Dan semakin panjang juga indah sang singa
bernyanyi, semakin keras Paman Andrew ber-
usaha membuat dirinya percaya dia tidak bisa
mendengar apa pun kecuali auman. Sekarang
masalah dalam berusaha membuat dirimu lebih
bodoh daripada keadaanmu sebenarnya adalah
sering kali kau akan berhasil. Paman Andrew
pun begitu. Tidak lama kemudian dia tidak

187
mendengar apa pun kecuali auman dalam lagu
Aslan. Selanjutnya dia juga tidak bisa men-
dengar suara lain walaupun dia menginginkan-
nya. Dan ketika akhirnya sang singa berbicara
dan berkata, "Narnia, bangkitlah," dia tidak
mendengar kata-kata apa pun: dia hanya men-
dengar geraman. Dan ketika para hewan yang
lain berbicara untuk menjawab, dia hanya men-
dengar gonggongan, geraman, lenguhan, dan
lolongan. Dan ketika mereka tertawa—yah,
bisa kaubayangkan. Itu momen terburuk bagi
Paman Andrew dibandingkan semua kejadian
yang sudah lewat. Begitu banyak hewan buas
yang lapar dan marah mengeluarkan suara
haus darah yang paling mengerikan yang per-
nah dia dengar sepanjang hidupnya. Kemudian
perasaan marah dan ketakutannya makin ter-
guncang ketika dia melihat tiga manusia lain
berjalan menuju dataran terbuka untuk me-
nemui hewan-hewan itu.
"Dasar orang-orang bodoh!" katanya pada
dirinya sendiri. "Sekarang hewan-hewan buas
itu akan memakan cincin-cincin ketika mereka
menyantap kedua anak itu, dan aku tidak
akan pernah bisa pulang lagi. Digory benar-
benar anak yang egois! Dan dua orang yang
lain juga sama buruknya. Kalau mereka mau

188
membuang nyawa, itu urusan mereka. Tapi
bagaimana denganku? Mereka sepertinya tidak
memikirkan itu. Tidak ada yang memikirkan-
ku."
Akhirnya, ketika kerumunan hewan datang
menghampirinya, dia berbalik dan berlari me-
nyelamatkan diri. Dan kini semua orang bisa
melihat bahwa udara di dunia muda itu me-
mang sungguh-sungguh berakibat baik bagi si
pria tua. Di London dia telah menjadi terlalu
renta untuk berlari. Kini, dia berlari dengan
kecepatan yang sudah pasti akan membuatnya
memenangi perlombaan lari seratus meter di
semua sekolah di Inggris. Jas berbuntutnya
yang berkibar di belakang menjadi peman-
dangan bagus. Tapi tentu saja tidak ada guna-
nya berlari. Banyak hewan di belakangnya
yang merupakan pelari hebat. Ini lari pertama
dalam hidup mereka dan semua tak sabar
menggunakan otot-otot mereka. "Kejar dia!
Kejar dia!" mereka berteriak. "Mungkin dialah
kebahatan itu! Ayo cepat! Kejar! Halangi dia!
Kepung dia! Jangan sampai ketinggalan! Hore!"
Dalam beberapa menit beberapa hewan itu
sudah mendahului Paman Andrew. Mereka
membentuk barisan dan menghalangi jalannya.
Yang lain mendesaknya dari belakang. Ke arah

189
mana pun dia melihat teror. Rusa gunung
dengan tanduk-tanduk besar dan wajah besar
gajah membentenginya. Beruang-beruang dan
babi hutan-babi hutan yang gemuk dan serius
menggeram di belakangnya.
Macan tutul dan macan kumbang yang ber-
penampilan dingin dan berwajah menyindir (se-
perti dalam bayangannya) menatapnya dan
mengayunkan ekor-ekor mereka. Yang paling
menggetarkan baginya adalah banyaknya jum-
lah mulut yang terbuka. Para hewan sebenarnya
membuka mulut karena terengah-engah, tapi
Paman Andrew berpikir mereka membuka mu-
lut untuk memakannya.

190
Paman Andrew berdiri gemetaran sambil me-
lemparkan pandangan ke sekelilingnya. Dia ti-
dak pernah membunuh hewan ketika berada
dalam keadaan menguntungkan, karena biasa-
nya dia agak takut pada mereka, dan tentu
saja bertahun-tahun melakukan percobaan ke-
jam dengan hewan membuatnya semakin mem-
benci dan takut pada mereka.
"Nah, Sir," kata Bulldog sangat serius, "kau
ini hewan, sayuran, atau mineral?" Itulah yang
sebenarnya dikatakan hewan itu, tapi yang
bisa didengar Paman Andrew hanyalah, "Gr-r-
rarrh-ow!"

191
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

MR. Collection's
BAB 11

Digory dan Pamannya


Sama-sama dalam Kesulitan

K AU mungkin berpikir hewan-hewan sa-


ngatlah bodoh karena tidak melihat Pa-
man Andrew merupakan makhluk yang sejenis
dengan kedua anak itu dan si kusir kereta.
Tapi kau harus ingat para hewan belumlah
tahu tentang pakaian. Mereka berpikir rok
Polly, setelan Norfolk Digory, dan topi bulat si
kusir kereta adalah bagian tubuh seperti bulu
di tubuh mereka. Mereka bahkan tidak akan
tahu ketiga manusia itu berjenis sama kalau
Digory, Polly, dan si kusir belum bicara pada
mereka dan Strawberry tidak berpikir begitu.
Lagi pula Paman Andrew jauh lebih tinggi
daripada kedua anak itu dan lebih kurus dari-
pada si kusir kereta. Dia mengenakan pakaian
serbahitam kecuali rompi putihnya (yang tidak
terlalu putih lagi sekarang). Rambut tebal ber-

192
ubannya (kini tampak kian berantakan) tidak
kelihatan seperti apa pun yang terdapat pada
ketiga manusia lain. Jadi wajar saja kalau
para hewan kebingungan. Yang paling buruk,
Paman Andrew tampaknya tidak bisa bicara.
Dia berusaha melakukannya. Ketika Bulldog
berbicara padanya (atau, seperti yang disangka-
nya, pertama menggeram kemudian menggong-
gong kepadanya) dia mengulurkan tangannya
yang gemetar dan tergagap, "Anjing baik,
anjing manis." Tapi para hewan tidak bisa
mengerti ucapannya seperti dia tidak bisa me-
ngerti ucapan mereka. Mereka tidak mendengar
kata-kata apa pun, hanya suara berdesis yang
aneh. Mungkin lebih baik kalau mereka tidak
mengerti apa-apa, karena tidak ada anjing yang
kuketahui, apalagi Anjing yang Bisa Berbicara
Narnia, senang dipanggil "Anjing Baik" seperti
kau suka bila dipanggil "Pria Kecil".
Kemudian Paman Andrew terjatuh dan ping-
san.
"Nah!" kata Babi Hutan. "Ternyata hanya
pohon. Sudah kuduga." (Ingat, mereka belum
pernah melihat orang pingsan atau bahkan
sesuatu terjatuh.)
Bulldog, yang mengendusi seluruh tubuh
Paman Andrew, mendongak dan berkata, "Dia

193
hewan. Tentu saja hewan. Dan mungkin jenis
yang sama dengan makhluk-makhluk yang
tadi."
"Aku tidak melihat kemiripannya," kata sa-
lah satu beruang. "Hewan tidak akan sekadar
berbaring seperti itu. Kita kan hewan dan kita
tidak berbaring begitu. Kita berdiri. Seperti
ini." Dia berdiri dengan kaki belakangnya,
mundur selangkah, tersandung cabang rendah
dan terjatuh telentang.
"Lelucon ketiga, lelucon ketiga, lelucon ke-
tiga!" kata Jackdaw penuh semangat.
"Aku masih berpikir dia sejenis pohon,"
kata Babi Hutan.

194
"Kalau dia memang pohon," kata beruang
yang lain, "mungkin ada sarang lebah di
dalamnya."
"Aku yakin dia bukan pohon," kata Luak.
"Kurasa dia berusaha bicara sebelum dia ter-
geletak."
"Itu hanya suara angin di antara cabang-
cabangnya," kata Babi Hutan.
"Kau tidak bermaksud," kata Jackdaw ke-
pada Luak, "bahwa kau berpikir dia hewan
yang bisa bicara, kan? Dia bahkan tidak me-
ngatakan sepatah kata pun."
"Namun, kalian tahu," kata Gajah (gajah
betina tentu saja, karena suaminya, bila kau
ingat, telah dipanggil untuk rapat dengan
Aslan), "namun, kalian tahu, dia mungkin saja
memang sejenis hewan. Bukankah gumpalan
putih di bagian ujung sini semacam wajah?
Dan bisakah lubang-lubang itu mata dan mu-
lut? Tidak ada hidung, tentu saja. Tapi yah—
ehem—kita tidak boleh berpikiran sempit. Tidak
banyak di antara kita punya sesuatu yang bisa
benar-benar disebut sebagai Hidung." Dia me-
lirik belalai panjangnya dengan rasa bangga
yang pantas dimaklumi.
"Aku sangat keberatan dengan pernyataan
itu," kata Bulldog.

195
"Gajah benar juga," kata Tapir.
"Ah, aku tahu!" kata Keledai ceria. "Mung-
kin dia hewan yang tidak bisa bicara tapi
mengira dia bisa."
"Bisakah dia dibuat berdiri?" tanya Gajah
berpikir keras. Dia meraih lembut sosok lunglai
Paman Andrew dengan belalainya dan mendiri-
kannya dengan salah satu sisi di atas. Sayang-
nya terbalik sehingga dua setengah sovereign,
tiga setengah crown, dan enam pence terjatuh
dari sakunya. Tapi tidak ada gunanya. Paman
Andrew terjatuh lagi.
"Nah kan!" kata beberapa suara. "Dia sama
sekali bukan hewan. Dia bahkan tidak hidup."
"Aku yakin dia memang hewan," kata Bull-
dog. "Cium saja dia sendiri."
"Penciuman bukan segalanya," kata Gajah.
"Lho," kata Bulldog, "kalau kita tidak bisa
memercayai hidung kita, apa lagi yang bisa
dipercayai?"
"Yah, otak mungkin," Gajah menjawab ri-
ngan.
"Aku sangat keberatan dengan pernyataan
itu," kata Bulldog.
"Yah, kita harus melakukan sesuatu tentang
dia," kata Gajah. "Karena mungkin saja dia
Kebahatan, dan dia harus ditunjukkan ke

196
Aslan. Bagaimana pendapat sebagian besar ka-
lian? Apakah dia hewan atau sejenis pohon?"
"Pohon! Pohon!" kata lusinan suara.
"Baiklah," kata Gajah. "Kalau begitu, jika
dia memang pohon berarti dia akan mau di-
tanam. Kita harus menggali lubang."
Dua tikus tanah membereskan masalah itu
dengan cukup cepat. Ada sedikit perdebatan
tentang ujung Paman Andrew yang mana yang
harus dimasukkan ke tanah, dan dia nyaris
sekali ditanam dengan kepala di bawah. Be-
berapa hewan berkata kaki-kakinya pasti ca-
bang dan karena itu benda abu-abu dan ber-
bulu lebat (maksudnya kepalanya) pasti akar.
Tapi kemudian hewan-hewan lain berkata bah-
wa bagian ujung yang bercabang dua lebih
kotor berlumpur dan lebih menjulur panjang,
seperti selayaknya akar. Jadi akhirnya dia di-
tanam dengan kepala di atas. Ketika mereka
menutup lubang dengan tanah, badan Paman
Andrew terkubur hingga di atas lututnya.
"Dia kelihatan layu sekali," kata Keledai.
"Tentu saja dia butuh disiram," kata Gajah.
"Kurasa aku bisa bilang (tanpa bermaksud
menyinggung siapa pun yang hadir) bahwa
mungkin, untuk pekerjaan semacam ini, jenis
hidungku—"

197
"Aku sangat keberatan dengan pernyataan
itu," kata Bulldog. Tapi Gajah tetap berjalan
perlahan ke sungai, mengisi belalainya dengan
air, dan kembali untuk mengurus Paman
Andrew. Hewan cerdas itu terus melakukan ini
sampai bergalon-galon air telah disemprotkan
ke Paman Andrew, dan air mengalir dari bagian
buntut jas panjangnya seolah dia mandi dengan
pakaian lengkap. Akhirnya semprotan air itu
menyadarkannya. Dia terbangun dari pingsan-
nya, membuka mata dan melihat. Benar-benar
pemandangan yang luar biasa!

198
Tapi kita harus meninggalkan dia untuk me-
renungkan segala perbuatan jahatnya (kalau
dia memang mungkin melakukan sesuatu yang
begitu masuk akal seperti itu) dan beralih ke
hal-hal yang lebih penting.
Strawberry berlari bersama Digory di pung-
gungnya sampai suara hewan-hewan lain tidak
terdengar lagi, dan kini grup kecil Aslan dan
para anggota dewan yang dipilihnya sudah
cukup dekat. Digory tahu dia tidak bisa begitu
saja mengganggu pertemuan resmi tersebut, tapi
tidak perlu melakukan itu. Hanya dengan satu
kata dari Aslan, gajah jantan, gagak-gagak,
dan para makhluk sisanya menyingkir ke sam-
ping. Digory turun dari kuda dan mendapati
dirinya bertatapan muka dengan Aslan. Dan
Aslan lebih besar, indah, bersinar keemasan,
dan mengerikan daripada perkiraannya. Dia
tidak berani menatap langsung matanya yang
menakjubkan.
"Saya mohon—Pak Singa—Aslan—Sir," kata
Digory, "bisakah Anda—bolehkan saya—saya
mohon, maukah Anda memberi saya buah
ajaib di negeri ini yang bisa menyembuhkan
ibu saya?"
Digory benar-benar berharap sang singa akan
menjawab "Ya". Dia sangat takut sang singa

199
akan menjawab "Tidak". Tapi dia terkejut
sekali ketika Aslan tidak melakukan keduanya.
"Inilah anak laki-laki itu," kata Aslan, me-
natap tidak pada Digory, tapi pada anggota
dewannya. "Inilah anak laki-laki yang melaku-
kannya."
Astaga, pikir Digory, apa yang telah kulaku-
kan?
"Putra Adam," kata sang singa. "Ada pe-
nyihir jahat di negeri baruku Narnia. Ceritakan
kepada para makhluk agung ini bagaimana
dia bisa sampai di sini."
Lusinan hal berbeda yang bisa dia katakan
berkelebat di benak Digory, tapi dia punya
akal sehat untuk tidak mengatakan apa pun
kecuali kejadian yang sebenar-benarnya.
"Aku yang membawanya, Aslan," dia men-
jawab dengan suara pelan.
"Untuk tujuan apa?"
"Aku ingin mengeluarkannya dari duniaku
sendiri dan mengembalikannya. Aku kira aku
sedang membawanya ke negerinya sendiri."
"Bagaimana dia bisa tiba di duniamu, Putra
Adam?"
"Dengan—dengan Sihir."
Sang singa tidak mengatakan apa-apa dan
Digory tahu ceritanya sudah cukup.

200
"Sihir pamanku, Aslan," katanya. "Dia me-
ngirim kami keluar dari dunia kami dengan
cincin-cincin ajaib, setidaknya aku terpaksa per-
gi karena dia sudah mengirim Polly tanpa
persetujuannya, kemudian kami bertemu sang
penyihir di tempat bernama Charn dan dia
memegangi kami ketika—"
"Kau bertemu penyihir itu?" tanya Aslan
dengan suara rendah yang nyaris mengandung
geraman.
"Dia terbangun," kata Digory menyesal. Ke-
mudian wajahnya memucat, "Maksudku, aku
membangunkannya. Karena aku ingin tahu apa
yang akan terjadi kalau aku memukul bel.
Polly tidak mau melakukannya. Bukan salahnya.
Aku—aku bertengkar dengannya. Aku tahu se-
harusnya aku tidak melakukan itu. Kurasa aku
agak terkena mantra tulisan di bawah bel itu."
"Benarkah?" tanya Aslan, masih dengan nada
sangat rendah dan dalam.
"Tidak," kata Digory. "Sekarang aku tahu
aku tidak terkena mantra. Aku hanya berpura-
pura."
Ada jeda lama. Dan sepanjang waktu itu
Digory berpikir, "Aku sudah mengacaukan se-
galanya. Sekarang tidak ada kesempatan mem-
bawakan apa pun untuk Ibu."

201
Ketika sang singa berbicara lagi, kata-katanya
bukanlah untuk Digory.
"Kalian lihat, teman-teman," katanya, "bah-
kan sebelum dunia baru dan bersih yang ku-
berikan kepada kalian berusia tujuh jam, ke-
kuatan kejahatan telah memasukinya, dibangun-
kan dan dibawa ke sini oleh Putra Adam ini."
Para hewan, bahkan Strawberry, memutar mata
mereka ke Digory sampai anak itu berharap
tanah akan menelannya. "Tapi janganlah kalian
menjadi muram," kata Aslan, masih berbicara
pada para makhluk Narnia. "Kejahatan akan
sampai pada kejahatan, tapi perjalanannya ma-
sih sangat jauh, dan aku akan memastikan
yang terburuk hanya akan menimpa diriku
sendiri. Sementara itu, marilah kita menyusun
peraturan sehingga untuk ratusan tahun tanah
ini tetap akan menjadi tanah bahagia di dunia
yang bahagia. Dan karena ras Adam telah
melakukan kerusakan, ras Adam-lah yang akan
membantu memperbaikinya. Mendekatlah, ka-
lian berdua."
Kata-kata terakhir ditujukan kepada Polly
dan si kusir kereta yang kini telah tiba. Mata
dan mulut Polly terbuka lebar, dia menatap
lekat Aslan sambil menggenggam erat tangan
si kusir. Si kusir melihat sekilas ke sang singa,

202
membuka topi bulatnya, belum ada yang per-
nah melihatnya tanpa topi itu. Ketika topi
telah dilepas, dia tampak lebih muda dan
ramah, juga lebih seperti orang desa dan ku-
rang seperti kusir kereta sewaan London.
"Nak," kata Aslan kepada si kusir. "Aku
telah mengenalmu lama. Apakah kau menge-
naliku?"
"Yah, tidak, Sir," kata si kusir. "Setidaknya,
tidak dengan cara yang biasa. Namun entah
bagaimana saya merasa, kalau saya boleh bebas
bicara, sepertinya kita sudah pernah bertemu."
"Memang benar," kata sang singa. "Kau
tahu lebih banyak daripada yang kaukira, dan
kau akan hidup untuk mengenalku lebih dekat
lagi. Apakah tanah ini memuaskanmu?"
"Jamuan yang menyenangkan, Sir," jawaban
si kusir.
"Apakah kau ingin tinggal di sini selamanya?"
"Yah, begini, Sir, saya sudah menikah," kata
si kusir. "Saya pikir, kalau istri saya juga
berada di sini, kami akan sama-sama tidak
mau kembali ke London. Karena kami sebenar-
nya orang-orang desa."
Aslan mendongakkan kepala bersurai lebat-
nya, membuka mulut, dan menyuarakan sebuah
nada panjang, tidak terlalu keras, tapi penuh

203
kekuatan. Ketika mendengarnya, jantung Polly
melompat dalam dadanya. Dia yakin suara itu
panggilan, dan siapa pun yang mendengarnya
akan mau mematuhi dan (terlebih lagi) akan
menjadi mampu mematuhi, sebanyak apa pun
dunia dan masa yang berada di antaranya.
Jadi walaupun Polly dipenuhi rasa takjub, dia
tidak benar-benar kaget atau terkejut ketika
tiba-tiba wanita muda berwajah ramah dan
jujur keluar entah dari mana dan berdiri di
sampingnya. Polly langsung tahu dia istri si
kusir, dijemput dari dunia kita tidak dengan
cincin ajaib yang merepotkan, tapi dengan
begitu cepat, sederhana, dan manis seperti bu-
rung yang terbang ke sarangnya. "Wanita muda
itu sepertinya sedang mencuci karena dia me-
ngenakan celemek, lengan bajunya digulung
hingga ke siku, dan ada busa sabun di kedua
tangannya. Kalau dia punya waktu untuk me-
ngenakan pakaian terbaiknya (topi terbaiknya
dihiasi buah ceri imitasi) dia akan tampak
buruk. Begini saja seadanya, dia tampak manis.
Tentu saja dia mengira dia sedang bermimpi.
Itulah sebabnya dia tidak langsung berlari me-
nuju suaminya dan bertanya apa sebenarnya
yang telah terjadi pada diri mereka. Tapi ketika
melihat sang singa, dia tidak merasa cukup

204
yakin ini mimpi, tapi entah bagaimana dia
tidak tampak ketakutan. Kemudian dia mem-
bungkuk kecil memberi hormat, dengan cara
yang masih diketahui beberapa gadis desa pada
masa-masa itu. Setelah itu, dia menghampiri
suaminya dan melingkarkan tangan ke tangan
si kusir, lalu berdiri di sana melihat ke sekeli-
lingnya dengan agak malu-malu.
"Anak-anakku," kata Aslan, memaku mata-
nya pada kedua manusia itu, "kalian akan
menjadi raja dan ratu pertama Narnia."
Mulut si kusir ternganga karena terkejut,
wajah istrinya berubah menjadi sangat merah.
"Kalian akan memerintah dan memberi nama
pada makhluk-makhluk ini, menjaga keadilan

205
di antara mereka, juga melindungi mereka dari
musuh-musuh mereka ketika para musuh bang-
kit. Para musuh itu memang akan bangkit,
karena ada penyihir jahat di dunia ini."
Dengan kesulitan, si kusir menelan ludah
dua-tiga kali dan berdeham.
"Maaf, Sir," katanya, "bukannya saya tidak
berterima kasih sekali kepada Anda (istri saya
pun akan melakukan hal yang sama), tapi
saya bukanlah orang yang cocok untuk pe-
kerjaan seperti itu. Begini, saya tidak pernah
dapat banyak pendidikan."
"Yah," kata Aslan, "bisakah kau mengguna-
kan cangkul, bajak, dan memanen makanan
dari bumi?"
"Ya, Sir, saya bisa melakukan pekerjaan se-
macam itu, karena dibesarkan untuk melaku-
kannya."
"Bisakah kau memerintah makhluk-makhluk
ini dengan lembut dan adil, mengingat bahwa
mereka bukanlah budak seperti hewan-hewan
bodoh di dunia tempat kau dilahirkan, tapi
hewan-hewan yang bisa berbicara dan rakyat
bebas?"
"Saya mengerti itu, Sir," jawab si kusir.
"Saya akan berusaha memperlakukan mereka
tanpa membeda-bedakan."

206
"Dan apakah kau akan membesarkan anak-
anak juga cucu-cucumu untuk melakukan hal
yang sama?"
"Saya pasti akan berusaha melakukan itu,
Sir. Saya akan berusaha sebaik-baiknya: bukan-
kah begitu, Nellie?"
"Dan kau tidak akan menjadikan salah satu
anakmu sebagai favorit dibanding anak-anakmu
yang lain atau dibanding makhluk-makhluk
lain, atau membiarkan yang satu membawahi
yang lain atau menggunakannya dengan tidak
benar?"
"Saya tidak akan pernah bisa membiarkan
hal seperti itu terjadi, Sir, dan itu kebenaran.
Saya akan menghukum mereka bila aku menge-
tahui mereka melakukan itu," kata si kusir.
(Sepanjang percakapan ini suaranya menjadi
kian lambat dan kaya. Lebih seperti suara
orang desa yang pasti dimilikinya saat dia
masih kanak-kanak dan tidak seperti aksen
kelas rendahan yang tajam dan cepat.)
"Dan jika para musuh datang menantang
tanah ini (karena mereka akan datang) lalu
ada perang, apakah kau akan jadi yang per-
tama maju bertempur dan terakhir mengundur-
kan diri?"
"Yah, Sir," kata si kusir sangat lambat,

207
"seseorang tidak akan tahu pasti apa yang
terjadi sebelum dia mencobanya. Yang bisa
saya katakan adalah saya mungkin akan jadi
pria lembek di saat seperti itu. Saya tidak
pernah berkelahi kecuali dengan tinju saya.
Tapi saya akan berusaha—setidaknya, saya ha-
rap saya akan berusaha—memenuhi bagian
saya."
"Kalau begitu," kata Aslan, "kau akan me-
lakukan segala tindakan yang harus dilakukan
seorang raja. Proses penobatanmu akan segera
dilakukan. Kau, anak-anakmu, dan cucu-cucu-
mu akan diberkahi, dan beberapa akan menjadi
raja-raja Narnia, yang lain akan menjadi raja-
raja Archenland yang terletak di pegunungan
selatan sana. Dan kau, putri kecil (di sini dia
menoleh ke arah Polly) dipersilakan tinggal.
Apakah kau sudah memaafkan anak laki-laki
itu karena telah menyakitimu di Aula Sosok di
istana terlantar Charn yang terkutuk?"
"Ya, Aslan, kami sudah berbaikan," jawab
Polly.
"Bagus kalau begitu," kata Aslan. "Dan
sekarang untuk si anak laki-laki itu sendiri."

208
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
BAB 12

Petualangan Strawberry

D IGORY menutup mulutnya rapat-rapat.


Perasaannya kian tidak nyaman. Dia ber-
harap, apa pun yang terjadi, dia tidak akan
ceroboh atau melakukan apa pun yang konyol.
"Putra Adam," kata Aslan. "Apakah kau
siap memperbaiki kesalahan yang telah kaulaku-
kan pada negeri terindahku Narnia tepat di
hari kelahirannya?"
"Yah, aku tidak tahu apa yang bisa kulaku-
kan," kata Digory. "Jadi begini, sang ratu
melarikan diri dan—"
"Aku tanya, apakah kau siap?" tanya sang
singa.
"Ya," jawab Digory. Dia sempat punya ide
gila untuk menjawab, "Aku akan berusaha
membantumu kalau kau berjanji mau menolong
ibuku," tapi dia sadar tepat pada waktunya

209
bahwa sang singa bukanlah sejenis makhluk
yang bisa kauajak tawar-menawar. Tapi ketika
dia berkata "Ya", pikirannya melayang kepada
ibunya dan dia mengingat kembali harapan-
harapan besar yang tadinya dia miliki, dan
betapa semuanya akan terbang pergi. Teng-
gorokannya pun terasa tersumbat dan air mata
mengalir deras saat dia merepet:
"Tapi aku mohon, aku mohon—maukah
kau—bisakah kau memberiku sesuatu yang bisa
menyembuhkan ibuku?" Hingga saat itu dia
terus menatap kaki besar sang singa dan cakar-
cakar raksasa yang ada di sana, tapi kini
dalam keputusasaan, dia mendongak untuk me-
natap wajahnya. Yang dia lihat membuatnya
sangat terkejut, lebih daripada apa pun di
dalam hidupnya. Karena ternyata wajah ke-
emasan itu kini menunduk di dekat wajahnya
sendiri dan (yang paling menakjubkan) air mata
besar yang berkilauan tampak di mata sang
singa. Air mata itu begitu besar dan bercahaya
dibanding air mata Digory sehingga sesaat anak
itu merasa seolah sang singa pasti lebih sedih
karena keadaan ibunya daripada dirinya sendiri.
"Anakku, anakku," kata Aslan. "Aku tahu.
Kesedihan memang begitu menguasai. Baru kau
dan aku yang tahu soal itu di tanah ini.

210
Marilah kita saling membantu. Tapi aku harus
memikirkan ratusan tahun hidup Narnia. Sang
penyihir yang kaubawa ke dunia ini akan
kembali ke Narnia lagi. Tapi itu bisa dicegah.
Aku berniat menanam sebuah pohon di Narnia
yang akan melindungi Narnia dari penyihir itu
selama bertahun-tahun. Supaya tanah ini akan
memiliki pagi cerah yang lama sebelum ada
awan datang menutupi mataharinya. Kau harus
mengambilkan bibit yang bakal menjadi pohon
itu untukku."
"Ya, Sir," kata Digory. Dia tidak tahu bagai-
mana caranya tapi merasa sangat yakin kini
dia akan bisa melakukan itu. Sang singa me-
narik napas dalam-dalam, menundukkan kepala
lebih rendah dan memberi anak itu kecupan
singa. Dalam sekejap Digory merasakan ke-
kuatan dan keberanian baru mengalir ke dalam
tubuhnya.
"Anakku tersayang," kata Aslan, "aku akan
memberitahumu apa yang harus dilakukan. Ber-
putar dan tataplah arah Barat, katakan kepada-
ku apa yang kaulihat?"
"Aku melihat pegunungan yang teramat be-
sar, Aslan," kata Digory. "Aku melihat sungai
menuruni tebing-tebing, menjadi air terjun. Dan
di balik tebing itu ada bukit-bukit hijau tinggi

211
dengan hutan. Dan di balik semua itu daerah-
daerah lebih tinggi yang tampak hampir kelam.
Kemudian, jauh sekali, ada gunung-gunung ber-
salju yang bertumpuk—seperti lukisan Pegu-
nungan Alpen. Dan di belakang semua itu
tidak ada apa-apa kecuali cakrawala."
"Kau melihat dengan baik," kata sang singa.
"Sekarang daratan Narnia berakhir di mana
air terjun jatuh, dan sekali kau mencapai ujung
tertinggi tebing kau akan keluar dari Narnia
dan masuk ke Daerah Barat yang Liar. Kau
harus menjelajahi pegunungan itu sampai rae-
nemukan lembah hijau dengan danau biru yang
dipagari pegunungan es. Di ujung danau ada
bukit hijau yang curam. Di bagian atas bukit
itu ada taman. Di tengah taman itu terdapat
pohon. Petik sebuah apel dari pohon itu dan
bawalah kepadaku."
"Ya, Sir," kata Digory lagi. Dia sama sekali
tidak punya bayangan bagaimana akan me-
manjat tebing dan menemukan jalan melewati
seluruh pegunungan itu, tapi dia tidak ingin
mengatakan itu karena takut akan terdengar
seperti sedang membuat-buat alasan. Tapi dia
akhirnya berkata, "Aku berharap, Aslan, kau
tidak tergesa-gesa. Aku tidak akan mampu
pergi ke sana dan kembali dengan cepat."

212
"Anak Adam kecil, kau akan mendapat ban-
tuan," kata Aslan. Dia kemudian berputar
menghadap Kuda yang sepanjang waktu ini
berdiri diam di samping mereka, mengayun-
ayunkan ekornya untuk mengusir lalat, dan
mendengarkan dengan kepala dimiringkan ke
salah satu sisi karena percakapan itu agak
sulit dimengerti.
"Anakku," kata Aslan kepada Kuda, "apa-
kah kau mau menjadi kuda bersayap?"
Seharusnya kau melihat bagaimana si kuda
mengibaskan surainya dan betapa lubang hi-
dungnya mengembang, juga entakan pelan yang
dilakukannya dengan salah satu kaki belakang-
nya. Jelas sekali dia sangat ingin menjadi kuda
bersayap. Tapi dia hanya berkata:
"Kalau kauinginkan itu, Aslan—kalau kau
benar bersungguh-sungguh—aku tidak tahu
kenapa harus aku yang dipilih—aku bukanlah
kuda yang sangat pintar."
"Bersayaplah. Jadilah ayah untuk semua kuda
bersayap," aum Aslan dengan suara yang meng-
getarkan tanah. "Namamu kini Fledge."
Kuda itu mendadak melonjak, seperti yang
dilakukannya di hari-hari dulu yang melelahkan
ketika dia menarik kereta. Kemudian dia rae-
ringkik.

213
Dia meregangkan leher-
nya seolah ada lalat meng-
gigiti bahunya dan dia
ingin menggaruknya. Kemu-
dian, seperti ketika para he-
wan muncul dari tanah, keluar
dari bahu Fledge sayap-sayap
yang melebar dan
tumbuh, lebih besar
daripada sayap-sayap
elang, lebih besar
daripada sayap-sayap
angsa, lebih besar dari-
pada sayap-sayap malaikat
di jendela gereja. Sayap
Fledge berwarna cokelat kemerahan tembaga
dan berkilau. Dia mengibaskan kedua sayap
itu kuat-kuat dan melompat ke udara. Sekitar
enam meter di atas Aslan dan Digory dia
mendengus, meringkik, dan mengangkat kaki

214
depannya. Kemudian setelah mengelilingi me-
reka sekali, dia mendarat di bumi dengan
keempat kakinya, tampak canggung dan ter-
kejut, tapi luar biasa bahagia.
"Apakah menyenangkan rasanya, Fledge?"
tanya Aslan.
"Luar biasa rasanya, Aslan," kata Fledge.
"Apakah kau bersedia membawa putra Adam
kecil ini di punggungmu menuju lembah gunung
yang kuceritakan tadi?"
"Apa? Sekarang? Saat ini juga?" tanya Straw-
berry—atau Fledge, begitulah kita harus me-
manggilnya sekarang—"Hore! Ayolah, makhluk
kecil, aku sudah pernah membawa makhluk
sepertimu di punggungku. Dulu, dulu sekali.
Ketika ada lapangan hijau dan gula."
"Apa yang sedang dibisikkan dua putri
Hawa?" tanya Aslan, berbalik mendadak sekali
ke arah Polly dan istri si kusir, yang sudah
mulai akrab.
"Kalau Anda tidak keberatan, Sir," jawab
Ratu Helen (karena itulah nama Nelle si istri
kusir sekarang), "saya rasa gadis kecil ini juga
ingin pergi, kalau itu tidak menyusahkan."
"Bagaimana pendapat Fledge tentang hal
ini?" tanya sang singa.
"Oh, aku tidak keberatan harus membawa

215
dua orang, apalagi keduanya kecil," jawab
Fledge. "Tapi kuharap Gajah tidak mau ikut
juga."
Gajah sama sekali tidak berminat, lalu raja
baru Narnia membantu kedua anak itu menaiki
Fledge. Lebih tepatnya, dia mengangkat tubuh
Digory dengan kasar tapi meletakkan Polly
dengan lembut dan anggun di punggung kuda,
seolah gadis cilik itu terbuat dari keramik dan
mudah pecah. "Nah, mereka sudah siap, Straw-
berry—ah maksudku, Fledge. Ini benar-benar
tidak terduga."
"Jangan terbang terlalu tinggi," pesan Aslan.
"Jangan mencoba melewati puncak gunung-
gunung es. Awasi baik-baik lembah-lembah,
daerah-daerah hijau, terbanglah melewati tem-
pat-tempat itu. Akan selalu ada jalan tembus.
Dan sekarang, pergilah dengan restuku."
"Oh, Fledge!" kata Digory, mencondongkan
tubuh ke depan untuk menepuk lembut leher
mengilap kuda itu. "Ini menyenangkan. Ber-
peganglah erat padaku, Polly."
Detik berikutnya daratan berada jauh di
bawah mereka dan tampak berputar-putar ke-
tika Fledge, seperti burung dara raksasa, ber-
putar sekali-dua kali sebelum memulai pener-
bangan jauh ke arah baratnya. Saat mencoba

216
melihat ke bawah, Polly nyaris tidak bisa me-
lihat sang raja dan ratu, bahkan Aslan hanyalah
tampak seperti titik kuning cerah di hamparan
rumput hijau. Tak lama kemudian angin me-
nerpa wajah mereka dan sayap-sayap Fledge
mengepak dengan ritme teratur.
Seluruh Narnia, berbagai warna dari ladang,
bebatuan, bunga heather, dan beragam jenis
pohon terhampar di bawah mereka, sungai
meliuk melewatinya seperti pita perak. Belum-
belum mereka sudah bisa melihat bagian pun-
cak perbukitan rendah yang terletak di arah
utara di sebelah kanan mereka. Di balik per-
bukitan itu tanah perawan yang luas berlekuk-
lekuk naik-turun hingga bertemu horison. Di
sebelah kiri mereka pegunungannya lebih tinggi,
tapi terkadang ada celah di antara hutan ce-
mara yang memberimu pemandangan sekilas
daratan selatan yang terhampar setelahnya. Da-
ratan yang tampak begitu biru dan nun jauh
di sana.
"Pasti Archenland ada di sana," kata Polly.
"Ya, tapi lihat di depan!" kata Digory.
Karena kini tebing-tebing besar penghalang
berdiri di depan dan mereka nyaris dibutakan
sinar matahari yang berdansa di permukaan
air terjun besar. Di sinilah sungai menggeram

217
dan mengalir deras turun menuju Narnia dari
asalnya di daratan-daratan barat yang tinggi.
Mereka kini sudah terbang sangat tinggi se-
hingga gemuruh air terjun itu hanya bisa ter-
dengar sebagai suara pelan yang tipis, tapi
mereka belumlah cukup tinggi untuk bisa ter-
bang melewati bagian puncak tebing-tebing.
"Kita harus sedikit berzig-zag di sini," kata
Fledge. "Berpeganglah erat-erat."
Dia mulai terbang ke kiri dan ke kanan,
semakin tinggi pada setiap belokan. Udara
terasa kian mendingin dan mereka mendengar
pekikan elang-elang jauh di bawah mereka.
"Wah, lihat! Lihat ke belakang," kata Polly.
Di sana mereka bisa melihat seluruh lembah
Narnia terhampar hingga menyentuh kilauan
laut, tepat sebelum langit timur. Dan kini me-
reka sudah begitu tinggi sehingga bisa melihat
garis-garis tegas sosok pegunungan yang tampak
kecil di balik tanah perawan barat laut, juga
daratan yang tampak seperti bentangan pasir
jauh di selatan.
"Kalau saja ada seseorang yang bisa mem-
beritahu kita apa saja tempat-tempat itu," kata
Digory.
"Tapi kurasa tempat-tempat itu memang be-
lum ada," kata Polly. "Maksudku, belum ada

218
219
orang di sana, dan belum ada yang terjadi di
sana. Dunia ini baru dimulai hari ini."
"Memang, tapi orang-orang pasti akan sam-
pai ke sana," kata Digory. "Lalu mereka akan
punya sejarah, ya kan?"
"Yah, untunglah mereka belum punya sejarah
sekarang," kata Polly. "Karena tidak ada yang
bisa benar-benar mempelajari sejarah. Segala
pertempuran, tanggal-tanggal, dan hal-hal mem-
bosankan itu."
Kini mereka berada di atas tebing-tebing
dan dalam beberapa menit kemudian dataran
lembah Narnia sudah hilang dari jangkauan
pandangan. Mereka terbang di atas daerah liar
dengan perbukitan curam dan hutan-hutan ge-
lap, masih dengan mengikuti aliran sungai.
Sosok samar gunung-gunung yang luar biasa
besar muncul di depan. Tapi matahari kini
tepat setinggi mata para pengelana sehingga
mereka tidak bisa melihat dengan benar-benar
jelas ke arah sana. Tapi kemudian matahari
terbenam lebih rendah dan lebih rendah lagi
hingga langit barat menjelma menjadi kuali
raksasa penuh emas leleh. Akhirnya matahari
pun tenggelam di balik puncak bergerigi yang
berdiri membatasi cahaya, puncaknya tampak
setajam dan sedatar seolah potongan karton.

220
"Tidak terlalu hangat di atas sini," kata
Polly.
"Dan sayap-sayapku sudah mulai terasa
sakit," kata Fledge. "Tidak ada tanda-tanda
lembah dengan danau, seperti yang dikatakan
Aslan. Bagaimana kalau kita turun dan mencari
tempat yang enak untuk menginap? Sepertinya
kita tidak akan mencapai tempat itu malam
ini juga."
"Ya, lagi pula sepertinya ini waktunya makan
malam, kan?" kata Digory.
Jadi Fledge merendahkan terbangnya. Ketika
mereka sudah lebih dekat dengan daratan dan
berada di antara perbukitan, udara menghangat
dan setelah berjalan berjam-jam tanpa men-
dengar apa pun kecuali kepakan sayap Fledge,
senang rasanya bisa mendengar suara-suara da-
ratan yang familier lagi—suara percikan air
sungai di dasar bebatuannya dan derikan pe-
pohonan yang ditiup angin sepoi-sepoi. Wangi
hangat dan nyaman tanah, rumput, dan bunga
yang telah disinari mentari mencapai hidung
mereka. Akhirnya Fledge mendarat. Digory ber-
putar turun kemudian membantu Polly turun
dari punggung Fledge. Keduanya senang bisa
meregangkan kaki kaku mereka.
Lembah tempat mereka berada sekarang ber-

221
ada di tengah pegunungan. Tebing-tebing tinggi
bersalju, yang salah satunya tampak semerah
mawar karena memantulkan sinar matahari
terbenam, menjulang di atas mereka.
"Aku lapar," kata Digory.
"Kalau begitu, makanlah," kata Fledge me-
lahap semulut penuh rumput. Kemudian dia
mendongak—masih sambil mengunyah, ujung-
ujung rumput muncul di setiap sisi bibirnya
seperti kumis—dan berkata, "Ayolah, kalian
berdua. Tak usah malu-malu. Ada cukup ba-
nyak untuk kita semua."
"Tapi kami tidak bisa makan rumput," kata
Digory.
"H'm, h'm," kata Fledge berbicara dengan
mulut penuh. "Yah—h'm—kalau begitu aku
tidak tahu apa yang harus kalian makan. Pada-
hal rumput ini lezat sekali."
Polly dan Digory bertukar pandangan bi-
ngung.
"Yah, aku sih yakin seseorang mungkin su-
dah menyiapkan makanan kita," kata Digory.
"Aku yakin Aslan akan melakukan itu kalau
saja kau memintanya tadi," kata Fledge.
"Apakah tidak mungkin dia sudah tahu tan-
pa diminta?" tanya Polly.
"Aku tidak ragu dia pasti sudah tahu," kata

222
kuda itu (masih dengan mulut penuh). "Tapi
aku juga punya dugaan dia lebih suka bila
kau meminta terlebih dahulu."
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
tanya Digory.
"Aku yakin aku tidak tahu," kata Fledge.
"Kecuali kau mau mencoba rumput ini. Siapa
tahu kau akan menyukainya, lebih daripada
dugaanmu."
"Oh, jangan konyol," kata Polly, mengentak-
kan kaki. "Tentu saja manusia tidak bisa raa-
kan rumput, sama seperti kau tidak bisa makan
daging domba."
"Kumohon jangan sebut-sebut daging domba
atau semacamnya," kata Digory. "Kau bakal
membuat keadaan lebih buruk."
Digory bilang sebaiknya Polly pulang sendiri
dengan cincinnya supaya bisa makan di sana.
Dia sendiri tidak bisa melakukan itu karena
telah berjanji akan pergi langsung memenuhi
permintaan Aslan. Lagi pula kalau dia muncul
lagi di rumah, apa pun bisa terjadi untuk
mencegahnya kembali ke sini. Tapi Polly bilang
dia tidak akan meninggalkannya sendiri se-
hingga Digory pun memuji Polly baik sekali.
"Ah iya," kata Polly, "aku masih punya
kantong berisi sisa permen toffee di jaketku.

223
Pastinya itu akan lebih baik daripada tidak
sama sekali."
"Jauh lebih baik," kata Digory. "Tapi ber-
hati-hatilah memasukkan tangan ke sakumu,
jangan sampai cincinnya tersentuh."
Ini tindakan yang sulit dan butuh ketelitian
namun akhirnya mereka berhasil melakukannya.
Kantong kertas kecil itu sudah tergencet dan
lengket ketika mereka mengeluarkannya, jadi
sekarang mereka terpaksa merobek dan mem-
bersihkan kantong kertas yang menempel ke
permen, bukannya tinggal mengeluarkan permen
dari kantong. Beberapa orang dewasa (kau
tahu sendiri betapa mereka bisa begitu ributnya
hanya karena hal-hal seperti ini) akan lebih
memilih tidak makan malam sama sekali dari-
pada memakan permen-permen toffee itu. Ma-
sih ada sembilan permen di dalam kantong.
Digory-lah yang punya ide cemerlang untuk
membagi masing-masing empat dan menanam
toffee kesembilan. Dia bilang, "Kalau batang
besi dari lampu tiang berubah menjadi pohon
lampu kecil, bisa saja permen ini jadi pohon
toffee, kan?" Jadi mereka menggali lubang
kecil di tanah yang berumput itu dan menanam
permen tersebut. Kemudian mereka memakan
bagian masing-masing, melakukannya selama

224
mungkin yang mereka bisa. Makan malam ini
menyedihkan sekali, bahkan dengan semua ker-
tas yang mau tidak mau ikut termakan oleh
mereka.
Setelah menyelesaikan makan malamnya yang
luar biasa, Fledge berbaring. Kedua anak itu
menghampirinya dan berbaring di sisi yang
berbeda, bersender di tubuh hangat kuda ter-
sebut. Lalu ketika Fledge melebarkan sayapnya
di atas Digory dan Polly, mereka merasa cukup
nyaman dan hangat. Saat bintang-bintang muda
yang terang keluar di dunia baru itu, mereka
membicarakan segalanya: tentang betapa Digory
berharap mendapatkan sesuatu untuk ibunya
dan tentang bagaimana dia malah dikirim un-
tuk memenuhi permintaan Aslan. Kemudian
mereka akan saling mengulangi semua tanda

225
yang menunjukkan tempat yang mereka cari—
danau biru dan bukit dengan taman di atasnya.
Percakapan barulah memelan karena mereka
mulai mengantuk, ketika mendadak Polly du-
duk dengan mata terbuka lebar dan berkata,
"Sstt!"
Mereka bertiga memasang telinga setajam
mungkin.
"Mungkin hanya suara pohon yang ditiup
angin," kata Digory akhirnya.
"Aku tidak yakin," kata Fledge. "Yah pokok-
nya—tunggu! Suara itu terdengar lagi. Demi
Aslan, memang ada sesuatu."
Kuda itu bangkit dengan suara keras dan
lompatan besar, Digory dan Polly sudah lebih
dulu berdiri. Fledge berlari kecil ke sana
kemari, mengendus-endus dan meringkik. Kedua
anak itu berjingkat-jingkat ke kiri dan ke ka-
nan, memeriksa ke balik setiap semak dan
pohon. Mereka terus menduga mereka telah
melihat sesuatu, bahkan ada satu saat ketika
Polly yakin sekali dia telah melihat sosok gelap
tinggi berjalan cepat menjauh ke arah barat.
Tapi mereka tidak menemukan apa pun dan
akhirnya Fledge berbaring lagi dan kedua anak
itu kembali menyelimuti diri (kalau penggunaan
kata ini memang tepat) di bawah sayapnya.

226
Mereka pun langsung tertidur. Fledge terjaga
lebih lama, menggerakkan telinga maju-mundur
dalam kegelapan dan terkadang kulitnya geme-
tar sedikit seolah ada lalat mendarat di tubuh-
nya, tapi akhirnya dia pun terlelap.

227
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
BAB 13

Pertemuan Tak Terduga

B ANGUN, Digory, bangun, Fledge," ter-


dengar suara Polly. "Permen yang kita
tanam semalam sudah menjadi pohon toffee.
Pagi ini juga indah sekali."
Sinar rendah matahari pagi mengalir mem-
banjiri hutan, rerumputan tampak kelabu ka-
rena embun, dan sarang labah-labah seperti
perak. Tepat di sebelah mereka, berdiri pohon
kecil berbatang cokelat tua sekali, kira-kira
seukuran pohon apel. Dedaunannya keputihan
dan seperti kertas, seperti tanaman bernama
honesty. Pohon itu dipenuhi buah-buah cokelat
kecil yang kelihatan seperti kurma.
"Hore!" kata Digory. "Tapi aku akan bere-
nang dulu." Dia bergegas melewati satu atau
dua semak berbunga menuju tepi sungai. Apa-
kah kau pernah berenang di sungai gunung

228
yang mengalir deras seperti air terjun rendah
di atas bebatuan merah, biru, dan kuning
yang disinari matahari? Di laut rasanya juga
sama nyamannya, dalam beberapa hal malah
nyaris lebih baik. Tentu saja, dia harus ber-
pakaian lagi tanpa mengeringkan tubuh dulu,
tapi itu bukan masalah. Ketika dia kembali,
gantian Polly yang turun ke sungai dan bere-
nang. Setidaknya itulah yang dia bilang dia
lakukan, tapi kita tahu dia bukanlah perenang
yang baik dan mungkin lebih baik tidak terlalu
banyak bertanya. Fledge mengunjungi sungai
juga, tapi dia hanya berdiri di tengah aliran
air, menunduk cukup lama untuk meminum
air, kemudian mengibaskan surainya dan me-
ringkik beberapa kali.
Polly dan Digory kemudian sibuk dengan
pohon toffee. Buahnya lezat, tidak benar-benar
seperti toffee—yang pasti lebih lembut dan
berair—tapi seperti buah yang mengingatkan
kita akan toffee. Fledge juga mendapatkan
sarapan yang menyenangkan. Dia mencoba sa-
lah satu buah toffee dan menyukainya, tapi
berkata dia lebih ingin makan rumput pada
jam sepagi itu. Lalu dengan sedikit enggan
kedua anak itu naik kembali ke punggungnya
dan perjalanan hari kedua pun dimulai.

229
Perjalanan kali ini lebih ringan daripada
kemarin, sebagian karena semua orang merasa
begitu segar, dan sebagian karena matahari yang
telah terbit berada di belakang mereka, sebab
tentu saja, semua kelihatan lebih indah ketika
cahaya berada di belakangmu. Perjalanan itu
menyenangkan sekali. Gunung-gunung besar ber-
salju berdiri di atas mereka di setiap arah.
Lembah-lembahnya, jauh di bawah mereka,
tampak begitu hijau, dan semua aliran air yang
tercurah dari sungai es menuju sungai utama
tampak begitu biru, seolah mereka sedang terbang
di atas perhiasan raksasa. Mereka sebenarnya
ingin bagian petualangan ini berlangsung lebih
lama. Tapi tak lama kemudian mereka semua
mengendus-endus udara dan berkata, "Apa ini?"
dan "Apakah kau mencium sesuatu?" dan "Dari
mana asalnya?" Karena saat itu tercium wangi
surgawi, begitu hangat dan keemasan, yang
seolah berasal dari buah-buah paling lezat dan
bunga-bunga paling indah di dunia, mendatangi
mereka dari suatu tempat di depan.
"Wangi ini datang dari lembah dengan danau
itu," kata Fledge.
"Kau benar," kata Digory. "Dan lihat! Ada
bukit hijau di sisi jauh danau itu. Lihat, betapa
biru airnya."

230
"Pasti itu tempatnya," kata mereka bertiga.
Fledge terbang kian rendah dalam putaran
besar. Puncak-puncak berlapiskan es berdiri
semakin tinggi di atas mereka. Udara kian
terasa hangat dan manis setiap detiknya, begitu
manis sehingga hampir bisa membawa air mata
ke matamu. Fledge kini melayang dengan kedua
sayapnya terbentang diam di setiap sisi, kaki-
kakinya bersiap mencengkeram tanah. Bukit
hijau yang terjal berkelebat di sekeliling mereka.
Sedetik kemudian dia mendarat pada salah
satu tanjakannya, dengan agak canggung. Ke-

231
dua anak itu terjatuh dari pundak Fledge,
mendarat tanpa terluka pada rumput hangat
dan tebal, lalu berdiri sambil sedikit terengah.
Mereka berada di tiga perempat jalan menuju
puncak bukit, langsung memutuskan untuk me-
manjat ke sana. (Kurasa Fledge tidak akan
bisa melakukan ini tanpa kedua sayapnya untuk
menyeimbangkan tubuh dan memberinya ban-
tuan gerakan terbang sekali-sekali.) Di sekeliling
bagian paling atas bukit ada dinding tumbuhan
hijau yang tinggi. Di dalam dinding itu, pe-
pohonan tumbuh. Cabang-cabang pepohonan
itu bergantungan di atas dinding, dedaunan
yang terlihat di cabang-cabang tersebut tidak
hanya hijau, tapi juga biru dan keperakan saat
angin mengembus. Ketika para pengelana men-
capai puncak, mereka nyaris berjalan menge-
lilingi dinding hijau itu sebelum akhirnya me-
nemukan pintu gerbang: gerbangnya tinggi dan
terbuat dari emas, tertutup rapat, dan meng-
hadap ke arah timur.
Hingga saat ini kurasa Fledge dan Polly
berpikir mereka akan masuk ke sana bersama
Digory. Tapi pikiran mereka itu berubah. Kau
tidak akan pernah melihat tempat yang tampak
begitu tertutup. Hanya secara sekilas, kau akan
langsung bisa melihat tempat itu milik sese-

232
orang. Hanya orang bodoh yang bermimpi
masuk kecuali dia telah dikirim ke sana untuk
urusan yang sangat khusus. Digory sendiri lang-
sung mengerti teman-temannya tidak akan dan
tidak bisa masuk bersamanya. Dia melanjutkan
berjalan menghampiri gerbang sendirian.
Ketika dia sampai di sana dia melihat kata-
kata ditulis di emas dengan huruf-huruf perak.
Kata-katanya kira-kira seperti ini:

Masuklah melalui gerbang emas


atau tidak sama sekali,
Ambil buahku untuk orang lain
atau dirimu sendiri,
Karena bagi mereka yang mencuri
atau memanjat dindingku
Akan mengetahui isi hati mereka
dan menemukan pilu.

Ambil buahku untuk orang lain, kata Digory


kepada dirinya sendiri. Yah, itulah yang ingin
kulakukan. Kurasa itu berarti aku sama sekali
tidak boleh memakannya untuk diriku sendiri.
Aku tidak mengerti kata-kata di barisan ter-
akhir. Masuklah melalui gerbang emas. Yah,
siapa yang mau memanjat dinding kalau kita
bisa masuk lewat gerbang? Tapi bagaimana

233
cara membuka gerbang ini? Dia meletakkan
tangannya ke pintu gerbang dan daun pintunya
langsung berayun terbuka, menyajikan jalan
masuk, bergerak dengan engselnya tanpa suara
sedikit pun.
Kini begitu dia bisa melihat tempat di dalam-
nya, taman itu tampak semakin eksklusif dari-
pada apa pun yang pernah dilihatnya. Dia
berjalan masuk tanpa suara sambil melihat ke
sekelilingnya. Segalanya begitu senyap di dalam.
Bahkan air mancur yang berdiri di tengah
taman hanya menimbulkan suara samar. Wangi
yang menyenangkan mengelilinginya, tempat itu
begitu bahagia tapi juga sangat serius.
Dia langsung tahu yang mana pohon yang
benar, sebagian karena pohon itu berdiri tepat
di tengah-tengah taman, dan sebagian karena
apel-apel besar keperakan yang tumbuh di sana
begitu berkilauan serta menebarkan cahaya ter-
sendiri pada tempat-tempat berbayang yang
tidak tercapai sinar matahari. Dia berjalan
lurus menghampiri pohon tersebut, memetik
apel, kemudian memasukkannya ke saku dada
jaket Norfolk-nya. Tapi dia tidak bisa mencegah
dirinya memandangi buah itu dan mengendus-
nya sebelum memasukkannya ke saku.
Seharusnya dia tidak melakukan itu. Rasa

234
haus dan lapar yang mengerikan langsung me-
nguasainya dan dia jadi ingin sekali merasakan
buah tersebut. Cepat-cepat dia menyimpannya
ke saku, tapi masih banyak buah yang lain.
Apakah salah untuk mencicipi salah satunya?
Lagi pula, pikirnya, peringatan di gerbang itu
mungkin saja bukan benar-benar perintah, bisa
jadi itu hanya nasihat—dan siapa yang peduli
pada nasihat? Atau bahkan kalaupun itu me-
mang perintah, apakah memakan sebuah apel
bakal berarti melanggarnya? Dia telah me-
matuhi bagian tentang mengambil satu untuk
"orang lain".
Sementara berpikir tentang semua ini, ke-
betulan dia mendongak dan melihat ke antara
cabang-cabang yang menjulang hingga bagian
atas pohon itu. Di sana, pada cabang di atas
kepalanya, burung menakjubkan bersarang. Aku
menggunakan kata "bersarang" karena dia tam-
pak nyaris tertidur, tapi tidak juga. Segaris
tipis pada kelopak salah satu matanya terbuka.
Burung itu lebih besar daripada elang, dadanya
jingga, kepalanya dimahkotai bulu-bulu merah,
dan ekornya ungu.
"Dan ini jelas-jelas menunjukkan," kata
Digory setelahnya ketika dia menceritakan kisah
ini kepada orang lain, "bahwa kau tidak bisa

235
236
tidak terlalu berhati-hati di tempat-tempat ajaib
ini. Kau tidak akan pernah tahu apa yang
sedang memerhatikanmu." Tapi kurasa apa pun
yang terjadi Digory tidak akan mengambil apel
itu untuk dirinya sendiri. Hal-hal seperti Ja-
nganlah Kau Mencuri, menurutku tertanam
jauh lebih dalam di kepala anak-anak lelaki di
masa-masa itu daripada sekarang. Tetap saja,
kita tidak pernah bisa yakin.
Digory baru saja hendak berbalik menuju
gerbang masuk ketika dia berhenti dan melihat
ke sekeliling untuk yang terakhir kalinya. Dia
terkejut luar biasa. Dia tidaklah sendirian. Di
sana, hanya beberapa meter dari dirinya, berdiri
sang penyihir. Dia baru saja melempar sisa
bagian tengah apel yang dimakannya. Air buah
itu ternyata lebih gelap daripada dugaanmu
dan meninggalkan noda mengerikan di sekeli-
ling mulutnya. Digory langsung menebak dia
telah memanjat dinding tumbuhan. Dan dia
mulai melihat mungkin kalimat terakhir pada
gerbang tadi ternyata ada artinya, tentang men-
dapatkail keinginan hatimu dan mendapatkan
kepiluan di saat yang sama. Karena sang penyi-
hir tampak lebih kuat dan bangga daripada
sebelumnya, dan bahkan entah bagaimana, pe-
nuh kemenangan. Tapi wajahnya pucat seperti
mayat, seputih garam.

237
Semua hal itu berkelebat sekaligus dalam
kepala Digory, kemudian dia beranjak dan
berlari menuju gerbang secepat yang bisa di-
lakukannya. Sang penyihir mengikutinya. Segera
setelah dia berada di luar, gerbang tertutup
sendiri di belakangnya. "Cepat, naik ke kuda,
Polly! Ayo, Fledge." Sang penyihir telah me-
manjat dinding, atau melompatinya, dan sudah
berada dekat di belakangnya lagi.
"Tetap di situ," teriak Digory, berbalik untuk
bertatapan dengannya, "atau kami semua akan
menghilang. Jangan mendekat barang satu senti-
meter pun."
"Anak bodoh," kata sang penyihir. "Kenapa
kau lari dariku? Aku tidak bermaksud menya-
kitimu. Kalau kau tidak berhenti dan mende-
ngarkanku sekarang, kau akan kehilangan pe-
ngetahuan yang bisa membuatmu bahagia se-
umur hidup."
"Yah, aku tidak mau mendengarnya, trims,"
kata Digory. Padahal itu tidak benar.
"Aku tahu kesulitan apa yang membawamu
ke sini," sang penyihir melanjutkan. "Karena
akulah yang berada di dekatmu semalam di
hutan dan mendengar semua kegalauanmu. Kau
telah memetik buah di taman tadi. Kini kau
membawanya di sakumu. Dan kau akan mem-

238
bawanya kembali, tanpa merasakannya, kepada
si singa. Untuk dimakan olehnya, untuk diguna-
kan olehnya. Kau begitu polos! Apakah kau
tahu buah apa itu? Aku akan memberitahumu.
Buah itu apel kebeliaan, apel kehidupan. Aku
tahu, karena aku telah mencicipinya, dan aku
sudah merasakan begitu banyak perubahan
pada diriku sehingga aku tahu aku tidak akan
menua atau mati. Makan buah itu, Nak,
makanlah. Lalu kau dan aku akan bersama-
sama hidup selamanya, menjadi raja dan ratu
untuk seluruh dunia ini—atau duniamu, kalau
kita memutuskan kembali ke sana."
"Tidak, terima kasih," kata Digory, "aku
tidak tahu apakah aku akan sangat peduli
untuk hidup terus sementara semua orang yang
kukenal meninggal. Lebih baik aku hidup de-
ngan jangka waktu normal, mati, dan pergi ke
surga."
"Tapi bagaimana dengan ibumu, kau selalu
bersikap seolah sangat menyayanginya?"
"Apa hubungannya dia dengan semua ini?"
tanya Digory.
"Tidakkah kaulihat, bodoh, bahwa satu gi-
gitan apel itu saja bakal bisa menyembuhkan-
nya? Kau telah memilikinya di sakumu. Hanya
ada kita di sini dan sang singa jauh di tempat

239
lain. Gunakan sihirmu dan kembalilah ke
duniamu sendiri. Semenit kemudian kau bisa
berada di samping tempat tidur ibumu, mem-
berinya buah itu. Lima menit kemudian kau
akan melihat rona wajahnya kembali. Dia akan
berkata kepadamu rasa sakit yang dideritanya
telah hilang. Tak lama kemudian dia akan
bilang kepadamu dia merasa lebih kuat. Lalu
dia akan tertidur—pikirkan itu: berjam-jam ti-
dur nyenyak yang alami, tanpa rasa sakit,
tanpa obat-obatan. Hari berikutnya semua
orang akan berkata betapa luar biasa kesem-
buhannya. Tak lama setelah itu dia akan cukup
sehat kembali. Semua akan baik-baik lagi. Ru-
mahmu akan bahagia lagi. Kau akan kembali
menjadi seperti anak laki-laki lain."
"Oh!" Digory terperangah seolah dia telah
dilukai, dan meletakkan tangan di kepala. Ka-
rena kini dia tahu pilihan paling buruk ada di
hadapannya.
"Apa yang telah dilakukan sang singa
untukmu sehingga kau rela menjadi budaknya?"
tanya sang penyihir. "Apa yang bisa dilakukan-
nya padamu setelah kau kembali ke duniamu
sendiri? Dan apa yang akan ibumu pikir kalau
saja dia tahu kau bisa saja menghilangkan
rasa sakitnya, mengembalikan hidupnya, dan

240
menyelamatkan hati ayahmu dari rasa sedih,
tapi kau tidak melakukan itu—bahwa kau lebih
memilih memenuhi permintaan seekor binatang
liar di dunia asing yang bahkan tidak ada
hubungannya denganmu?"
"Me-menurutku dia bukan binatang liar,"
kata Digory dengan suara yang seolah tertahan.
"Dia—entahlah—"
"Kalau begitu dia sesuatu yang lebih buruk,"
kata sang penyihir. "Lihatlah apa yang belum-
belum sudah dilakukannya kepadamu, lihatlah
betapa dia telah membuatmu tidak berhati.
Itulah ulahnya kepada semua orang yang rnen-
dengarkannya. Kau menjadi anak lelaki yang
kejam dan tak berbelas kasih! Kau lebih me-
milih membiarkan ibumu sendiri mati dari-
pada—"
"Oh, diamlah," kata Digory sebal, masih
dengan suara yang sama. "Kaupikir aku tidak
menyadari itu? Tapi aku—aku sudah berjanji."
"Ah, tapi kau tidak tahu apa yang kaujanji-
kan. Dan tidak ada seorang pun di sini yang
bisa mencegahmu."
"Justru ibuku sendiri," kata Digory, agak
sulit baginya untuk mengucapkan kata-kata
itu, "tidak akan menyukainya—dia amat tegas
soal menepati janji—juga soal mencuri—dan

241
hal-hal seperti itu. Dia akan melarangku me-
lakukannya—langsung tanpa ragu-ragu—kalau
saja dia ada di sini."
"Tapi dia tidak akan pernah tahu," kata si
penyihir, berbicara dengan nada yang begitu
manis sehingga kau bakal terkejut seseorang
dengan wajah begitu kejam bisa berbicara se-
perti itu. "Kau tidak akan memberitahunya
bagaimana cara kau mendapatkan apel itu.
Ayahmu juga tidak perlu tahu. Tidak seorang
pun di duniamu perlu tahu apa pun tentang
seluruh cerita ini. Kau tidak perlu membawa
pulang gadis kecil itu pulang, ya kan?"
Di situlah sang penyihir membuat kesalahan
fatal. Tentu saja Digory tahu Polly bisa dengan
mudah pergi dengan cincinnya sendiri seperti
dirinya. Tapi tampaknya sang penyihir tidak
tahu soal itu. Dan kekejaman saran meninggal-
kan Polly di dunia itu mendadak membuat
segala hal yang sudah dikatakan sang penyihir
kepadanya terdengar begitu salah dan hampa.
Dan bahkan dalam selimut kabut kesedihan,
kepala Digory mendadak menjadi begitu jernih,
dan dia berkata (dengan nada suara yang
berbeda dan lebih keras):
"Tunggu dulu, sebenarnya apa pedulimu de-
ngan semua ini? Kenapa mendadak kau begitu

242
memerhatikan ibuku? Apa untungnya buatmu?
Apa permainanmu?"
"Bagus, Digory," bisik Polly di telinganya.
"Cepat! Kita harus pergi sekarang." Polly tidak
berani berkata apa-apa sepanjang argumen itu
karena, kau harus mengerti, bukan ibunya yang
sedang sekarat.
"Ayo naik kalau begitu," kata Digory, meng-
angkat Polly ke punggung Fledge kemudian
ikut naik ke sana secepat yang dia biasa. Sang
kuda terbang membentangkan sayapnya.
"Pergilah kalau begitu, dasar bodoh," teriak
sang penyihir. "Ingatlah aku, Nak, saat kau
berbaring tua, lemah, dan sekarat. Ingatlah
bagaimana kau membuang begitu saja kesem-
patan mendapatkan kemudaan abadi! Tidak
akan ada lagi tawaran itu untukmu."
Mereka sudah terlalu tinggi sehingga mereka
hanya bisa mendengar suara sang penyihir.
Namun sang penyihir pun tidak membuat wak-
tu untuk mendongak dan menatap kepergian
mereka. Mereka melihatnya berjalan ke arah
utara, menuruni turunan bukit.
Mereka memulai perjalanan itu pagi-pagi
sekali dan kejadian di taman tidaklah memakan
waktu lama, sehingga Fledge dan Polly sama-
sama berkata mereka dapat dengan mudah

243
tiba di Narnia sebelum malam menjelang.
Digory tidak mengucapkan apa-apa sepanjang
perjalanan pulang, Fledge dan Polly pun tidak
berani mengajaknya bicara. Digory merasa sa-
ngat sedih dan tidak selalu yakin dia telah
melakukan hal yang benar. Tapi setiap kali dia
mengingat air mata berkilau pada mata Aslan,
keraguan hilang dari hatinya.
Sepanjang hari Fledge terbang mantap dengan
sayap-sayap yang tidak lelah, menuju timur
dengan mengikuti aliran sungai, melalui pe-
gunungan dan melewati perbukitan yang di-
tutupi hutan liar, kemudian melintasi air terjun
besar, lalu turun, dan turun, menuju hutan-
hutan Narnia yang ditutupi bayangan tebing
raksasa, hingga akhirnya, ketika langit memerah
karena matahari terbenam di belakang mereka,
dia melihat tempat banyak makhluk berkumpul
di pinggir sungai. Dan tak lama kemudian dia
bisa melihat Aslan di antara makhluk-makhluk
itu. Fledge melayang turun, merentangkan ke-
empat kakinya, merapatkan sayap-sayap, dan
mendarat sambil berderap perlahan. Kemudian
dia berhenti. Digory dan Polly turun dari pung-
gungnya. Digory melihat semua hewan, dwarf,
satyr, nymph (=peri alam yang cantik), dan
makhluk-makhluk lain menyingkir ke kiri dan

244
kanan, mempersilakannya lewat. Dia berjalan
menghampiri Aslan, menyerahkan apel di saku-
nya kepada singa itu, lalu berkata:
"Aku membawakanmu apel yang kauminta,
Sir."

245
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

MR. Collection's
BAB 14
Penanaman Pohon

B AGUS sekali," kata Aslan dengan suara


yang menggetarkan bumi. Kemudian
Digory tahu semua penghuni Narnia telah men-
dengar kata-kata itu dan kisah tentang mereka
akan diceritakan dari orangtua ke anak di
dunia baru ini selama ratusan tahun dan mung-
kin selamanya. Tapi dia tidak terancam merasa
tinggi hati karena dia sama sekali tidak me-
mikirkannya kini, ketika berhadapan dengan
Aslan. Kali ini dia mendapati dirinya mampu
bertatapan langsung dengan sang singa. Dia
telah melupakan segala masalahnya dan merasa
sangat puas.
"Bagus sekali, Putra Adam," kata sang singa
lagi. "Karena buah ini kau telah merasa ke-
laparan, kehausan, dan kesedihan. Tiada tangan
lain selain tanganmu yang akan menumbuhkan

246
bibit pohon bakal pelindung Narnia. Lempar-
kan apel itu ke arah tepi sungai, di sana
tanahnya lembut."
Digory mematuhi perintah itu. Keadaan men-
jadi begitu sunyi sehingga kau bisa mendengar
suara jatuhnya yang pelan ketika apel itu men-
darat di lumpur.
"Lemparan yang bagus," kata Aslan. "Mari-
lah kita melanjutkan kepada penobatan Raja
Frank penguasa Narnia dan Helen ratunya."
Digory dan Polly kini menyadari kehadiran
pasangan suami-istri itu untuk pertama kalinya.
Mereka mengenakan baju yang unik dan indah,
dari bahu mereka jubah menggantung hingga
ke belakang mereka tempat empat dwarf me-
megangi ekor jubah sang raja, sementara empat
nymph sungai memegangi ekor jubah sang
ratu. Kepala mereka telanjang, tapi Helen telah
menggeraikan rambutnya dan ini benar-benar
membuat penampilannya jauh lebih cantik. Tapi
bukanlah tataan rambut maupun pakaian yang
membuat mereka begitu berbeda dengan diri
mereka yang dulu. Wajah mereka memiliki
ekspresi baru, terutama sang raja. Segala ke-
tajaman, kelicikan, dan aura menyebalkan yang
didapatnya selama menjadi kusir kereta sewaan
tampaknya telah lenyap. Keberanian dan ke-

247
baikan hati yang selalu dimilikinya kini lebih
mudah dilihat. Mungkin udara dunia muda
itu, atau bercakap-cakap dengan Aslan, atau
keduanya yang menyebabkan perubahan ini.
"Astaga," bisik Fledge ke Polly. "Majikan
lamaku telah berubah nyaris sebanyak diriku!
Wah, sekarang dia telah menjadi penguasa
sungguhan."
"Ya, tapi jangan berbisik begitu ke telinga-
ku," kata Polly. "Geli sekali."
"Sekarang," kata Aslan, "beberapa di antara
kalian bukalah jalinan yang telah kalian buat
dengan pepohonan itu dan marilah kita lihat
apa yang akan kita temukan di dalamnya."
Digory kini melihat empat pohon tumbuh
begitu dekat sehingga cabang-cabang keempat-
nya terpilin atau terikat satu sama lain dengan
simpul-simpul, membentuk semacam sangkar.
Dua gajah dengan belalai mereka dan beberapa
dwarf dengan kapak kecil mereka segera mem-
bukanya. Ada tiga benda di dalamnya. Salah
satunya pohon muda yang tampaknya terbuat
dari emas, dan yang kedua adalah pohon yang
sepertinya terbuat dari perak, tapi benda ketiga
adalah sesuatu yang menyedihkan dengan pa-
kaian berlumpur, duduk membungkuk di antara
kedua pohon itu.

248
"Ya ampun!" bisik Digory. "Paman Andrew!"
Untuk menjelaskan semuanya kita harus
mundur sedikit. Para hewan, kalau kau ingat,
telah berusaha menanam dan menyirami Pa-
man Andrew. Ketika siraman itu menyadar-
kannya, dia mendapati dirinya basah kuyup,
terkubur hingga pahanya di dalam tanah (yang
dengan cepat berubah menjadi lumpur) dan
dikelilingi lebih banyak hewan liar daripada
yang pernah diimpikannya seumur hidup.
Mungkin tidaklah mengejutkan bila dia mulai
berteriak dan menjerit. Kejadian ini bila dilihat
dari satu sisi adalah hal baik, karena ini akhir-
nya meyakinkan semua makhluk (bahkan Babi
Hutan) bahwa dia memang makhluk hidup.
Jadi mereka menggalinya lagi (keadaan celana
panjangnya kini sangat buruk). Segera setelah
kakinya bebas, dia mencoba melarikan diri
tapi satu libatan cepat belalai Gajah di se-
keliling pinggangnya langsung menggagalkan
usaha itu. Semua makhluk kini berpikir dia
harus ditahan di suatu tempat sampai Aslan
punya waktu untuk datang, melihatnya, dan
memberitahu mereka apa yang harus dilakukan
kepadanya. Jadi mereka membuat semacam
sangkar atau kurungan di sekelilingnya. Mereka

249
kemudian menawarkan apa pun yang ada di
benak mereka untuk makanannya.
Keledai mengumpulkan setumpuk tinggi per-
du berduri kemudian melemparkannya ke da-
lam sangkar, tapi Paman Andrew tidak tampak
peduli. Para tupai memborbardirnya dengan
hujan kacang-kacangan, tapi dia hanya me-
nutupi kepala dengan kedua tangannya dan
berusaha menghindar. Beberapa burung terbang
bolak-balik dengan rajin, menjatuhinya dengan
cacing-cacing. Beruang telah bersikap luar biasa
baik hati. Sore itu dia menemukan sarang
lebah liar dan bukannya memakannya sendirian
(padahal dia ingin sekali melakukan itu),

250
makhluk murah hati ini membawanya ke
Paman Andrew. Tapi tindakan ini ternyata
menjadi kegagalan yang paling parah. Beruang
menjatuhkan seluruh gumpalan lengket itu ke
lubang di atas sangkar dan sayangnya mengenai
Paman Andrew langsung di wajahnya (tidak
semua lebah di dalamnya sudah mati). Si
beruang, yang sama sekali tidak akan keberatan
bila wajahnya terbentur sarang lebah, tidak
bisa mengerti kenapa Paman Andrew langsung
tergopoh-gopoh mundur, terjatuh, kemudian ter-
duduk. Dan benar-benar nasib buruk ketika
dia menduduki tumpukan perdu berduri. "Yah,
lagi pula," seperti kata Babi Hutan, "sudah
cukup banyak madu masuk ke mulutnya dan
itu pasti ada gunanya." Mereka benar-benar
mulai menyukai piaraan aneh mereka dan ber-
harap Aslan akan mengizinkan mereka me-
meliharanya. Makhluk-makhluk yang lebih cer-
das kini cukup yakin bahwa setidaknya se-
bagian dari suara yang keluar dari mulut
piaraan mereka itu punya arti. Mereka me-
namakan dia Brendi karena dia sering sekali
menyuarakan itu.
Namun akhirnya mereka harus membiar-
kannya di dalam sangkar selama semalam.
Aslan sibuk sepanjang hari memberi pengarahan

251
kepada raja dan ratu baru, juga melakukan
hal-hal penting lain, dan tidak bisa mengurusi
"Brendi yang malang". Dengan segala kacang-
kacangan, buah pir, apel, dan pisang yang
dilemparkan kepadanya, Paman Andrew men-
dapatkan makan malam yang lumayan, tapi
tidak bisa dibilang dia melalui malam itu de-
ngan cukup nyaman.
"Bawa kemari makhluk itu," kata Aslan.
Salah satu gajah mengangkat Paman Andrew
dengan belalainya dan meletakkannya di depan
kaki sang singa. Paman Andrew terlalu ke-
takutan untuk bergerak.
"Aku mohon, Aslan," kata Polly, "bisakah
kau mengatakan sesuatu untuk—untuk mem-
buatnya lebih tenang? Kemudian bisakah kau
mengatakan sesuatu untuk mencegahnya datang
ke sini lagi?"
"Apakah menurutmu dia akan mau datang
ke sini lagi?" tanya Aslan.
"Yah, Aslan," kata Polly, "mungkin saja dia
mengirimkan orang lain. Dia begitu senang
melihat batang besi dari lampu tiang tumbuh
menjadi pohon lampu tiang, dan dia pikir—"
"Dia membuang tenaga memikirkan hal yang
percuma, Nak," kata Aslan. "Dunia ini berlim-
pah kehidupan selama beberapa hari ini karena

252
lagu yang kugunakan untuk membangunkannya
masih mengalun di udara dan bergemuruh di
tanah. Lagu itu akan berakhir tidak lama lagi.
Tapi aku tidak mengatakan itu pada pendosa
tua ini, aku juga tidak bisa menenangkannya,
dia telah membuat dirinya sendiri tak mampu
mendengar suaraku. Kalau aku berbicara pada-
nya, dia hanya akan mendengar auman dan
geraman. Oh, para putra Adam betapa pintar-
nya kalian mempertahankan diri kalian dari
segala yang mungkin berguna untuk kalian!
Tapi aku akan memberi satu-satunya hadiah
yang masih mampu diterimanya."
Aslan menundukkan kepala besarnya dengan
agak sedih, dan mengembuskan napasnya ke
wajah ketakutan si penyihir. "Tidurlah," kata-
nya. "Tidur dan terpisahlah selama beberapa
jam dari segala siksaan yang telah kautimpakan
pada dirimu sendiri." Paman Andrew langsung
berguling dengan mata terpejam dan mulai
bernapas teratur.
"Bawa dia ke sisi dan baringkan dia," kata
Aslan. "Sekarang, para dwarf! Tunjukkan ke-
ahlian pandai besi kalian. Perlihatkan kepadaku
dua mahkota untuk raja dan ratu kalian."
Sekelompok besar dwarf yang jumlahnya
bahkan tidak bisa kaubayangkan bergegas men-

253
dekati Pohon Emas. Mereka mencabuti seluruh
daunnya, bahkan beberapa cabangnya juga di-
patahkan, dengan kecepatan yang luar biasa.
Dan kini Digory dan Polly bisa melihat bahwa
bagian-bagian pohon itu tidak hanya tampak
seperti emas tapi memang emas lunak sung-
guhan. Pohon itu tentu saja tumbuh dari se-
tengah sovereign yang terjatuh dari saku Paman
Andrew ketika tubuhnya dibalikkan, seperti
juga pohon perak tumbuh dari setengah crown.
Seolah entah dari mana, tumpukan kayu kering
untuk bahan bakar, paron kecil, palu-palu,
tang penjepit besi, dan pengembus angin untuk
menjaga api tetap menyala muncul. Detik
berikutnya (betapa para dwarf itu menyukai
pekerjaan mereka!) api berkobar, pengembus
angin berembus, emas meleleh, dan palu

254
mengentak. Dua tikus tanah, yang diperintah
Aslan untuk menggali (pekerjaan yang paling
mereka sukai) sebelumnya di hari itu, menuang-
kan setumpuk batu berharga di kaki para
dwarf.
Di bawah jemari terampil para ahli besi
kecil itu, dua mahkota mulai terbentuk—bukan
benda-benda jelek dan berat seperti mahkota
Eropa, tapi ringan, halus, dan lingkaran ber-
bentuk indah yang benar-benar bisa kaukenakan
dan tampak lebih bagus saat dikenakan. Mah-
kota raja dihiasi batu-batu rubi, sedangkan
mahkota ratu dengan zamrud.
Ketika kedua mahkota itu telah didinginkan
di sungai, Aslan menyuruh Frank dan Helen
berlutut di depannya dan dia meletakkan mah-
kota di masing-masing kepala mereka. Kemu-
dian dia berkata, "Berdirilah, Raja dan Ratu
Narnia, ayah dan ibu banyak raja yang akan
ada di Narnia, Isles, dan Archenland. Bertindak-
lah adil, penuh ampun, dan berani. Doa-doa
ada bersama kalian."
Kemudian semua bersorak, menggongong,
meringkik, meniupkan belalai, atau mengepak-
ngepakkan sayap. Pasangan raja-ratu itu pun
berdiri tampak hikmat juga sedikit malu, tapi
kian tampak mulia dengan rasa malu mereka

255
itu. Dan sementara masih bersorak, Digory
mendengar suara dalam Aslan di sampingnya,
berkata:
"Lihat!"
Semua makhluk dalam kerumunan itu me-
noleh, kemudian semua menarik napas panjang
karena rasa takjub dan bahagia. Tak jauh dari
sana, berdiri menjulang hingga di atas kepala,
mereka melihat pohon yang pastinya tidak ada
di sana sebelumnya. Pohon itu pasti telah
tumbuh tanpa suara, namun semulus gerakan
bendera jika kau menariknya naik di tiang
bendera, sementara mereka semua disibukkan
acara penobatan. Cabang-cabangnya yang teren-
tang seolah menyebarkan cahaya dan bukannya
bayangan. Apel-apel perak mengintip keluar
seperti bintang di antara setiap daun. Tapi
wangi yang keluar dari pohon itulah, jauh
melebihi pemandangan yang ditampilkannya,
yang membuat semua makhluk menarik napas.
Selama beberapa saat tidak ada yang bisa
memikirkan hal lain.
"Putra Adam," kata Aslan, "kau telah ber-
tanam dengan baik. Dan kalian, para penghuni
Narnia, jadikanlah perhatian pertama kalian
untuk menjaga pohon ini, karena pohon ini
pelindung kalian. Penyihir yang telah kucerita-

256
257
kan kepada kalian telah pergi ke utara dunia,
dia akan terus tinggal di sana, semakin kuat
dengan sihir hitamnya. Tapi selama pohon itu
hidup, dia tidak akan pernah datang ke Narnia.
Dia tidak akan berani mendekat dalam jarak
seratus mil dari pohon itu, karena wanginya
yang tercium bagai kebahagiaan, kehidupan,
dan kesehatan bagi kalian, terasa seperti ke-
matian, ketakutan, dan kesedihan baginya."
Semua makhluk menatap lekat-lekat dalam
diam ke arah pohon itu ketika Aslan tiba-tiba
memutar kepalanya (menyebarkan berkas-berkas
cahaya keemasan dari surainya saat melakukan
itu) dan memaku mata besarnya pada Digory
dan Polly. "Ada apa, anak-anak?" tanyanya,
karena dia melihat mereka sedang berbisik-
bisik dan saling menyikut.
"Oh—Aslan, Sir," kata Digory, wajahnya
memerah, "Aku lupa memberitahumu. Sang
penyihir telah memakan salah satu apel itu,
apel yang sama dengan yang tumbuh dari
pohon itu." Dia tidak benar-benar mengatakan
semua yang ada dalam pikirannya, tapi Polly
langsung mengungkapkannya untuknya. (Digory
selalu lebih takut bersikap konyol daripada
Polly.)
"Jadi kami pikir, Aslan," kata Polly, "pasti

258
ada beberapa kesalahan dan dia tidak bisa
benar-benar terganggu dengan wangi apel-apel
itu."
"Kenapa kau berpikir begitu, Putri Hawa?"
tanya sang singa.
"Yah, dia sudah memakan sebuah."
"Nak," dia menjawab, "itulah sebabnya se-
gala hal lain kini menjadi sesuatu yang me-
nakutkan baginya. Itulah yang terjadi pada
orang-orang yang memetik dan memakan buah
pada saat yang salah dan dengan cara yang
salah. Buahnya berguna, tapi mereka membenci-
nya selamanya."
"Oh, begitu," kata Polly. "Dan kurasa karena
dia mengambilnya dengan cara yang salah buah
itu tidak akan berguna baginya. Maksudku
buah itu tidak akan membuatnya terus muda
dan semacamnya?"
"Sayang sekali," kata Aslan, menggeleng-
geleng. "Buahnya tetap akan berguna. Segala
hal selalu bekerja sesuai kodratnya. Dia telah
mendapatkan keinginan hatinya, dia memper-
oleh kekuatan tanpa kelemahan dan hari-hari
tak berakhir seperti dewi. Tapi perpanjangan
hari dengan hati yang jahat hanyalah perpan-
jangan penderitaan dan dia sudah mulai menge-
tahui itu. Setelah mendapatkan segala yang

259
mereka inginkan, mereka tidak selalu menyukai-
nya."
"Aku—aku hampir memakan buah itu juga,
Aslan," kata Digory. "Apakah aku akan—"
"Benar, Nak," kata Aslan. "Karena buah itu
selalu berfungsi—harus berfungsi—tapi buah itu
tidak akan berguna dengan baik bagi siapa pun
yang memetiknya karena keinginan sendiri. Kalau
ada penghuni Narnia yang tanpa diminta mencuri
apel dan menanamnya di sini untuk melindungi
Narnia, pohon yang tumbuh akan melindungi
Narnia. Tapi pohon itu akan melakukannya
dengan menjadikan Narnia kerajaan kuat dan
kejam seperti Charn, bukan tanah ramah yang
kuinginan. Dan sang penyihir membujukmu
untuk melakukan hal lain, anakku, benar kan?"
"Ya, Aslan. Dia membujukku membawa pu-
lang apel untuk ibuku."
"Mengertilah kalau begitu, apel itu memang
akan menyembuhkannya, tapi bukan demi ke-
bahagiaanmu ataupun kebahagiaannya. Akan
datang suatu hari ketika kalian berdua bakal
melihat ke belakang dan berkata lebih baik
mati karena penyakit itu."
Dan Digory tidak bisa mengatakan apa pun,
karena air mata telah membuatnya tersedak
dan dia telah melepaskan semua harapan me-

260
nyelamatkan nyawa ibunya. Namun di saat
yang sama dia tahu sang singa tahu apa yang
bakal terjadi, dan bahwa mungkin ada hal-hal
yang lebih buruk bahkan daripada kehilangan
seseorang yang kaucintai karena dijemput ke-
matian. Tapi kini Aslan berkata lagi, hampir
dengan bisikan:
"Itulah yang akan terjadi, Nak, dengan apel
curian. Bukan itu yang akan terjadi sekarang.
Yang akan kuberikan kepadamu sekarang akan
membawa kebahagiaan. Apel ini tidak akan
membawa kehidupan abadi di duniamu, tapi
akan menyembuhkan. Pergilah. Petikkan ibumu
sebuah apel dari pohon itu."
Selama beberapa saat Digory nyaris tidak
bisa mengerti. Seolah seluruh dunia telah jung-
kir balik dan tercampur baur. Kemudian, seperti
seseorang dalam mimpi, dia berjalan meng-
hampiri pohon itu. Raja dan Ratu Narnia
bersorak untuknya, para makhluk lain juga
berteriak menyemangati. Dia memetik apel dan
memasukkannya ke saku. Kemudian dia kem-
bali ke Aslan.
"Aku mohon," katanya, "bolehkah kami pu-
lang sekarang?" Dia lupa mengucapkan "terima
kasih", tapi dia merasakannya dan Aslan tahu
itu.

261
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

MR. Collection's
BAB 15

Akhir Kisah Ini


dan Awal Kisah-kisah Lain

K ALIAN tidak membutuhkan cincin saat


aku bersama kalian," kata suara Aslan.
Kedua anak itu mengejap-ngejapkan mata dan
mendongak. Mereka sekali lagi berada di Hutan
di Antara Dunia-dunia, Paman Andrew ber-
baring di rerumputan, masih terlelap. Aslan
berdiri di samping mereka.
"Mari," kata Aslan, "sudah tiba saatnya
bagi kalian untuk pulang. Tapi ada dua hal
yang terlebih dahulu harus diurus, peringatan
dan perintah. Lihat kemari, anak-anak."
Mereka mengikuti petunjuk Aslan dan melihat
lubang kecil di rerumputan dengan dasar yang
juga ditumbuhi rumput, hangat dan kering.
"Terakhir kali kalian ke sini," kata Aslan,
"lubang itu mata air, dan ketika kalian me-
lompat ke dalamnya kalian tiba di dunia tem-

262
pat matahari yang sekarat bersinar di atas
reruntuhan Charn. Tidak ada mata air seka-
rang. Dunia itu telah berakhir, seolah tidak
pernah ada. Biarlah ras Adam dan Hawa men-
dapat peringatan."
"Ya, Aslan," kata kedua anak itu bersama-
sama. Tapi Polly menambahkan, "Tapi kami
tidaklah separah dunia itu ya kan, Aslan?
"Belum, Putri Hawa," jawabnya. "Belum.
Tapi kalian akan menjadi seperti itu. Tidaklah
pasti apakah orang-orang jahat pada rasmu
tidak akan menemukan rahasia sedahsyat Kata
Kemalangan dan menggunakannya untuk meng-
hancurkan semua makhluk hidup. Dan tak
lama lagi, amat sebentar lagi, sebelum kalian
menjadi pria tua dan wanita tua, negara-negara
besar di dunia kalian akan dikuasai para tiran
yang tidak lebih peduli pada kebahagiaan, ke-
adilan, dan belas kasihan daripada Maharani
Jadis. Biarkan duniamu waspada. Itulah
peringatanku. Sekarang untuk perintahku. Se-
gera mungkin, ambillah cincin-cincin ajaib milik
pamanmu ini dan kuburkan supaya tidak ada
yang bisa menggunakannya lagi."
Digory dan Polly mendongak dan menatap
wajah sang singa saat dia mengucapkan kata-
kata ini. Dan mendadak (mereka tidak pernah

263
tahu pasti bagaimana semua itu bisa terjadi)
wajah itu menjelma menjadi lautan emas cair
dan mereka mengapung di dalamnya. Rasa
manis dan kekuatan yang begitu besar berputar-
putar di sekeliling mereka, di atas mereka,
dan memasuki mereka sehingga mereka merasa
tidak pernah benar-benar bahagia, bijaksana,
atau baik, atau bahkan hidup dan terjaga
sebelumnya. Dan kenangan momen itu selalu
tersimpan di dalam diri mereka, selamanya
sepanjang hidup keduanya. Kalau mereka me-
rasa sedih, takut, atau marah, kenangan akan
segala kebaikan keemasan itu dan perasaan
bahwa semua itu masih ada di sana, cukup
dekat, hanya di suatu belokan, atau di bela-
kang suatu pintu, akan kembali dan membuat
mereka merasa yakin, jauh di dalam hati,
bahwa segalanya baik-baik saja. Menit berikut-
nya mereka bertiga (Paman Andrew kini sudah
terbangun) datang terlontar ke dalam ke-
bisingan, panasnya, dan bau-bau pekat Lon-
don.
Mereka berada di trotoar di luar pintu depan
rumah Ketterley, dan kecuali sang penyihir, si
kuda, dan kusir kereta, segalanya masih persis
seperti saat mereka meninggalkannya. Ada 1am-
pu tiang yang salah satu tangannya menghilang,

264
ada puing kereta kuda sewaan, begitu juga
kerumunan orang. Semua orang masih ber-
bicara dan ada beberapa orang berlutut di
samping para petugas polisi yang terluka, me-
ngatakan hal-hal seperti, "Dia mulai siuman"
atau "Bagaimana perasaanmu sekarang, te-
man?" atau "Ambulans akan segera sampai di
sini."
Wow! pikir Digory. Sepertinya seluruh pe-
tualangan itu sama sekali tidak memakan
waktu.
Banyak orang di antara kerumunan itu me-
nengok kiri-kanan untuk mencari Jadis dan
kudanya. Tidak ada yang memerhatikan ke-
hadiran kedua anak itu karena tidak ada yang
melihat mereka pergi ataupun menyadari ke-
pulangan mereka. Sedangkan Paman Andrew,
dengan keadaan pakaiannya sekarang dan madu
yang berlepotan di wajahnya, tidak akan bisa
dikenali siapa pun. Untungnya pintu depan
terbuka dan sang pelayan wanita sedang berdiri
di depan pintu mengawasi yang terjadi (hari
ini benar-benar hari yang seru bagi gadis itu!)
jadi Digory dan Polly tidak mendapatkan ke-
sulitan mendorong paksa Paman Andrew se-
belum ada yang bertanya-tanya.
Paman Andrew berlari menaiki tangga men-

265
dahului Digory dan Polly dan awalnya kedua
anak itu khawatir dia akan langsung menuju
lotengnya dan berniat menyembunyikan sisa
cincin yang dia miliki. Tapi mereka tidak perlu
cemas. Yang sedang dia pikirkan adalah botol
di dalam lemari pakaiannya. Kemudian dia
langsung menghilang di dalam kamar tidurnya
dan mengunci pintu. Ketika keluar lagi (tidak
terlalu lama setelah itu), dia mengenakan
mantel mandi dan langsung menuju kamar
mandi.
"Bisakah kau mengambil cincin-cincin lain-
nya, Poll?" tanya Digory. "Aku mau menengok
ibuku."
"Oke. Sampai ketemu nanti," kata Polly,
kemudian dia berlari dengan langkah-langkah
berisik saat menaiki lantai loteng.
Digory diam sesaat untuk mengatur napas,
lalu dia berjalan pelan ke kamar ibunya. Dan
di sanalah ibunya berbaring, seperti yang sering
dia lihat sebelumnya, bersandar pada bantal.
Wajahnya kurus dan pucat yang bisa membuat-
mu menangis bila melihatnya. Digory menge-
luarkan apel kehidupan dari sakunya.
Dan seperti sang penyihir Jadis yang tampak
berbeda ketika kau melihatnya di dunia kita
dengan ketika kau melihatnya di dunianya

266
sendiri, buah dari taman gunung itu pun tam-
pak berbeda. Tentu saja ada berbagai macam
warna di kamar tidur itu, kain penutup tempat
tidur di ranjang, kertas dinding, sinar matahari
dari jendela, dan mantel tidur biru pucat yang
cantik milik Ibu. Tapi begitu Digory mengeluar-
kan apel yang dibawanya dari saku, semua
benda itu seolah nyaris tidak memiliki warna.
Semuanya, bahkan sinar matahari, tampak pu-
dar dan suram. (Kau harus ingat saat itu
musim panas sehingga walaupun hari sudah
malam, matahari belumlah terbenam.) Kilau
terang apel itu menebarkan cahaya-cahaya aneh
di langit-langit. Tidak ada hal lain yang lebih
menarik untuk dilihat, kau tidak akan mampu
melihat yang lain. Dan harum apel kebeliaan
membuatmu berpikir ada jendela di ruangan
itu yang membuka ke Surga.
"Oh, Sayang, cantik sekali," kata ibu Digory.
"Ibu mau memakannya, kan? Aku mohon,"
kata Digory.
"Aku tidak tahu apa kata dokter nanti,"
dia menjawab. "Tapi sungguh—aku hampir
merasa mampu memakannya."
Digory mengupas, memotong-motong, dan
memberikan apel itu kepada ibunya seiris demi
seiris. Dan tak lama setelah selesai memakan-

267
nya, ibu Digory tersenyum dan kepalanya kem-
bali terbenam ke bantal. Dia pun tertidur:
tidur sungguhan, yang alami dan lembut, tanpa
obat-obatan memuakkan itu, sesuatu yang
Digory sudah tahu, hal yang paling diinginkan-
nya di dunia ini. Digory pun kini yakin wajah
ibunya tampak agak berbeda. Dia membungkuk
dan mencium ibunya dengan sangat lembut,
kemudian pelan-pelan keluar dari kamar itu
dengan hati berdebar sambil membawa bagian
tengah apel tadi. Sepanjang hari itu, setiap
kali dia melihat benda-benda di sekitarnya dan
melihat betapa biasa dan tidak ajaibnya benda-
benda itu, dia nyaris tidak berani berharap.

268
Tapi ketika dia mengingat wajah Aslan, ha-
rapan pun muncul.
Malam itu dia mengubur bagian tengah apel
kehidupan di halaman belakang.
Pagi berikutnya ketika sang dokter melaku-
kan kunjungan rutin, Digory mencondongkan
tubuh di atas pagar tangga dan mendengarkan.
Dia mendengar sang dokter keluar bersama
Bibi Letty dan berkata:
"Miss Ketterley, ini kasus paling luar biasa
yang pernah kuketahui sepanjang karier ke-
dokteranku. Ini—ini seperti keajaiban. Aku ti-
dak akan memberitahu anak lelakinya apa
pun saat ini, kita tidak mau menimbulkan
harapan-harapan kosong. Tapi menurut pen-
dapatku—" Kemudian suaranya menjadi terlalu
pelan untuk didengar.
Siang itu dia turun ke taman dan menyiulkan
sinyal rahasia yang sudah disepakatinya ber-
sama Polly (gadis kecil itu belum bisa kembali
ke sana sejak kemarin).
"Bagaimana?" tanya Polly, melihat dari atas
dinding. "Maksudku, tentang ibumu?"
"Kurasa—kurasa semua akan baik-baik saja,"
kata Digory. "Tapi kalau kau tidak keberatan
aku belum terlalu ingin membicarakannya. Ba-
gaimana dengan cincin-cincinnya?"

269
"Aku sudah mendapatkan semuanya," kata
Polly. "Lihat, tenang saja, aku memakai sarung
tangan. Ayo kita kubur."
"Ya, ayo. Aku menandai tempat aku mengu-
bur sisa apel kemarin."
Kemudian Polly memanjat dinding dan me-
reka pergi ke tempat itu bersama-sama. Tapi
ternyata Digory tidak perlu menandai tempat
itu. Sesuatu sudah muncul dari dalamnya. Se-
suatu itu tidaklah tumbuh seperti pohon-pohon
baru di Narnia, di mana kau bisa melihatnya
benar-benar bertambah besar, tapi ada pucuk
yang tampak muncul di permukaan. Mereka
mengambil sekop dan mengubur semua cincin
ajaib, termasuk cincin milik mereka, mengeli-
lingi pucuk tersebut.
Sekitar seminggu setelah kejadian ini sudah
bisa dipastikan keadaan ibu Digory membaik.
Dua minggu kemudian dia sudah bisa duduk
di luar rumah di taman. Dan sebulan kemudian
seluruh rumah itu telah menjadi tempat yang
sama sekali berbeda. Bibi Letty melakukan
segalanya yang diinginkan ibu Digory. Jendela-
jendela dibuka, gorden-gorden lusuh disingkap-
kan untuk membuat ruangan lebih terang. Kini
juga ada bunga-bunga baru di mana pun, dan
lebih banyak makanan yang bisa disantap,

270
piano tua sudah diperbaiki, ibu Digory mulai
bernyanyi lagi juga melakukan permainan-
permainan bersama Digory dan Polly sehingga
Bibi Letty akan berkata, "Sungguh, Mabel,
kaulah bayi terbesar di antara kalian bertiga."
Ketika hal-hal memburuk, biasanya kau akan
mendapati hal-hal itu bertambah buruk selama
beberapa lama. Tapi sekalinya hal-hal membaik,
sering kali keadaan kian membaik dan mem-
baik. Setelah sekitar enam minggu kehidupan
indah ini berjalan, datanglah surat panjang
dari ayah Digory di India, yang mengabarkan
berita gembira. Paman buyut Ayah, Paman
Kirke, telah meninggal dan tampaknya ini ber-
arti ayah Digory menjadi kaya raya. Dia akan
pensiun dan pulang dari India untuk tinggal
terus. Lalu rumah besar di pedesaan, yang
telah didengar Digory sepanjang hidupnya na-
mun belum pernah dia lihat, akan menjadi
rumah mereka. Rumah besar dengan deretan
baju zirah, istal, rumah anjing, sungai, taman,
rumah kaca, kebun anggur, hutan, dan pegu-
nungan di belakangnya. Jadi Digory merasa
seyakin dirimu bahwa mereka semua akan
hidup bahagia selama-lamanya. Tapi mungkin
kau ingin tahu satu atau dua hal lagi.
Polly dan Digory seterusnya menjadi teman

271
baik dan hampir setiap liburan Polly akan
tinggal bersama keluarga Digory di rumah pe-
desaan mereka yang indah. Di sanalah dua
anak itu belajar berkuda, berenang, memerah
susu, memasak, dan mendaki gunung.
Di Narnia, para hewan hidup dalam ke-
damaian dan kebahagiaan. Sang penyihir atau-
pun musuh lain tidak datang mengacaukan
daratan tenteram itu selama ratusan tahun.
Raja Frank dan Ratu Helen juga anak-anak
mereka hidup bahagia di Narnia. Anak kedua
mereka menjadi Raja Archenland. Anak-anak
laki-laki menikahi nymph dan para anak perem-
puan menikahi dewa hutan dan dewa sungai.
Lampu tiang yang ditanam sang penyihir (se-
cara tak sengaja) bersinar siang dan malam di
hutan Narnia sehingga tempat lampu itu tum-
buh dinamakan Area Lentera. Dan ketika, ber-
tahun-tahun kemudian, anak lain dari dunia
kita datang ke Narnia pada suatu malam ber-
salju, dia mendapati cahaya lampu itu masih
menyala. Dan petualangan itu, dengan suatu
cara, berhubungan dengan petualangan-pe-
tualangan yang baru saja kuceritakan kepada-
mu.
Jadi begini. Pohon yang tumbuh dari bagian
tengah apel yang ditanam Digory di halaman

272
belakang, terus tumbuh dan berkembang men-
jadi pohon yang kokoh. Karena tumbuh di
tanah dunia kita, jauh dari suara nyanyian
Aslan dan udara bersih Narnia, pohon itu
tidak berbuah apel yang bisa menyembuhkan
wanita sekarat seperti ibu Digory. Tapi pohon
itu tetap menghasilkan apel-apel yang lebih
cantik daripada pohon apel mana pun di
Inggris, buah-buahnya pun sangat baik untuk
tubuhmu, walaupun tidak sepenuhnya ajaib.
Tapi di dalam dirinya, dalam sarinya, pohon
itu (bisa dibilang) tidak pernah melupakan
pohon lain di Narnia dari mana dirinya berasal.
Terkadang pohon itu akan bergerak secara
misterius walau tidak ada angin bertiup: kurasa
ketika ini terjadi ada angin kencang di Narnia
dan pohon di Inggris itu bergetar karena pada
saat itu pohon di Narnia sedang terguncang-
guncang dan berayun-ayun dalam tiupan angin
kencang barat daya. Apa pun yang sebenarnya
terjadi, akan dibuktikan kemudian bahwa masih
ada sihir di dalam batangnya. Karena ketika
Digory sudah berusia paro baya (dan dia telah
menjadi pria terpelajar yang terkenal, seorang
profesor dan petualang besar pada masa itu)
dan rumah tua Ketterley telah menjadi milik-
nya, ada badai besar di seluruh selatan Inggris

273
yang menumbangkan pohon tersebut. Dia tidak
tega sekadar memotong-motongnya dan men-
jadikannya kayu bakar, jadi dia menyuruh
orang membuat lemari pakaian dari kayu po-
hon itu, kemudian menaruhnya di rumah pe-
desaannya yang besar. Dan walaupun dia sen-
diri tidak menemukan kemampuan sihir pada
lemari pakaian tersebut, orang lain lebih berun-
tung. Itulah awalnya segala kedatangan dan
kepergian antara Narnia dan dunia kita, kisah
yang bisa karubaca di buku-buku lain dalam
seri ini.
Ketika Digory dan keluarganya datang untuk
tinggal di rumah besar di pedesaan, mereka
membawa Paman Andrew untuk tinggal ber-
sama mereka, karena ayah Digory berkata,
"Kita harus berusaha menjauhkan orang tua
itu dari masalah, lagi pula tidak adil Letty
yang malang harus selalu kerepotan menjaga-
nya." Paman Andrew tidak pernah mencoba
sihir apa pun lagi sepanjang hidupnya. Dia
telah mendapatkan pelajaran, dan sejalan de-
ngan bertambahnya usia, dia menjadi pria tua
yang lebih ramah dan tidak egois daripada
sebelumnya. Tapi dia selalu gemar menjamu
tamu di ruang biliar dan memberitahu mereka
cerita-cerita tentang wanita misterius, bang-

274
sawan dari bangsa asing, dengan siapa dia
berkeliling London. "Emosi wanita itu terlalu
meledak-ledak," dia akan berkata. "Tapi dia
wanita yang cantik sekali, Sir, cantik luar
biasa."

"Dukung Penulis dan Penerbit


dengan membeli buku versi cetaknya"

Nurul Huda Kariem MR.

a
MR. Collection's

275
Ikuti kelanjutan petualangan di
Narnia!

The Chronicles of Narnia #2


SANG SINGA, SANG PENYIHIR,
DAN LEMARI

"Itu lemari ajaib. Ada hutan di dalamnya, dan


di sana sedang hujan salju! Ayo, mari lihat,"
kata Lucy memohon.

Empat anak, Peter, Edmund, Susan, dan Lucy,


dievakuasi ke desa saat perang. Tapi, tak lama
kemudian mereka menemukan diri mereka
menghadapi bahaya yang sesungguhnya ketika
Lucy masuk ke dunia ajaib Narnia. Musim
salju dan Penyihir Putih adalah ancaman ter-
besar dan hanya keempat anak serta singa
agung, Aslan, yang bisa mematahkan kutukan
jahat itu.
CLIVE STAPLES LEWIS lahir di Belfast tahun 1898.
Dia pengajar Sastra Inggris di Magdalen
College, Oxford, kemudian menjadi Profesor
Sastra Abad Pertengahan dan Masa Renaisans
di Cambrige University. Dia tinggal di Cambrige
sampai wafat di tahun 1963. Dia menulis
berbagai buku kritik sastra, yang paling ter-
kenal adalah The Screwtape Letters, juga empat
novel dewasa. Ketujuh buku Chronicles of
Narnia adalah satu-satunya karya C.S. Lewis
untuk anak-anak.

PAULINE BAYNES membuat ilustrasi untuk seluruh


buku dalam seri The Chronicles of Narnia.
Diawali dengan Sang Singa, sang Penyihir, dan
Lemari di tahun 1949, kariernya sebagai ilustra-
tor pun kian berkembang.